HIDANGAN TERBAIK UNTUK PRESIDEN

Karya: Iqbal Hasyim (Juara 1 Lomba Cerpen dalam rang Dies Natalis Ke-14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

Gelombang suara yang dilahirkan pintu menjalar memenuhi ruangan. Cicak dan lalat juga dimasuki, dirasuki. Suara tak kenal bentuk, tak kenal siapa yang akan dihadapi. Bahkan Tuhan di arasy pun ia rasuki. Termasuk dan terutama nenek paruh baya yang satu giginya, terlipat-lipat kulitnya, sedang rambutnya yang mungkin rambut tersebut selamanya akan bermusim salju, dan sedang duduk di kursi yang sedang bergoyang, juga mendengarnya.

“Masuk,” lirih namun bahagia nenek itu berkata.

Ternyata di balik pintu itu tertera anak sang nenek yang membawa kedua anaknya: Satu bocah laki-laki dan dua anak perempuan yang nampak lebih muda dari si lelaki. Mereka berempat tampak bahagia.

“Terima kasih sekali bu, sudah mau bermain dengan anakku setiap bulan. Kami juga minta maaf bu tidak bisa menemani.”

Nenek itu memotong, “ndak kok nak, ini kemauanku sendiri. Mereka senang setiap bulan berlibur ke rumah ibu. Begitu pun ibu, nak, kesepian di sini. Apalagi mereka itu penerus bangsa, harus sering-sering bermain dengan orang luhur seperti ibumu ini. Apalagi ibumu sudah hampir mati”

“Wusss, jangan bilang begitu bu!”

Nenek itu tertawa lemah, namun berenergi.

Tak lama kemudian, setelah lama bercakap-cakap. Si ibu dari ketiga anak itu, melepaskan dengan lembut tangan ibunya yang sudah lunglai. Setelah salam dikatakan dan anak-anaknya dilepaskan, pecah canda-tawa nenek dan anak-anaknya dalam ruangan yang begitu sederhana itu. 

Anak tertua yang sedang tumbuh rasa ingin tahunya mendekati sang nenek. Kedua adik perempuannya menjauh, mencari beberapa mainan untuk dipreteli, mereka begitu bahagia. Kebebasan dan kesenangan dua anak berumur lima tahun sedang bersemi. 

“Kedua mata nenek kemana?” tanya si anak laki-laki yang sudah berada di bawah kaki sang nenek dengan lugunya.

Sang nenek lagi-lagi tersenyum tentram, “kamu sekarang umur berapa?”

Sambil menghitung jari di kedua tangan mungilnya, “… enam, tujuh. Tujuh tahun nek”

“Sudah waktunya, sini mendekat”

Anak itu naik ke haribaan sang nenek.

“Waktu aku sepantaranmu, mungkin empat tahun lebih atas…” Cicak dan lalat-lalat ikut terdiam, seakan tertarik mendengarkan.

***

“AKU TAK SEDANG BERDUSTA,” sejurus teriakannya itu, orang-orang yang lewat di warung besar itu tertarik melihat ke dalam. Warung itu semakin ramai. Biasanya penuh kesunyian, kini riuh karena kisah pria berkumis tebal yang berkoar-koar. Orang yang masuk mendengarkan kisahnya di warung itu tak enak sendiri jika tak memesan atau membeli sesuatu. Jadilah kerupuk, air panas untuk kopi, dan minyak untuk menggoreng gorengan, tandas dirangkul orang-orang yang kian lama-kian membanyak.

Aku hanya mendengarkan dengan getir perkataan pria berkumis tebal itu dalam diam di samping ayahku. Sepertinya, aku seakan tak ada di mata mereka.

“Waktu itu aku sedang di WC umum dekat bengkel pak Romlah. Beberapa menit berlalu, tepat setelah aku menyiram berakku dan membuka pintu. Aku berteriak histeris, sehisteris mungkin. Temanku sudah kehilangan kedua matanya. Apakah kau percaya? Kedua matanya?” pria itu serius menekan suara ketika mengucapkan kata mata, “Aku lihat dari kejauhan, seorang berambut panjang, bertopi fedora, terlihat jelas menggenggam kedua mata temanku. Berjalan santai. Aku tak kuasa mengejar. Tubuhku mantap gemetar”

“Bagaimana ekspresi temanmu itu?”

“Dia baik saja. Ditanya, tidak apa”

“Sekarang dia di mana?”

“Kembali ke Sumatera”

Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya dijawab dengan cepat. Memang tak tampak sisi dusta dari orang itu. Ditambah wajah takutnya di WC umum kala itu seakan masih lekat di wajahnya.

“SUDAH JELAS PAKAI HIPNOTIS,” kumis pria itu ikut bergetar.

Beberapa hari kemudian cerita itu makin kuat. Setelah di koran digital, koran lembaran, hingga koran berbicara di kotak besar yang disebut TV, mengabarkan tentang berita yang serupa, namun hanya korban-korbannya yang berbeda.

Kami makin takut. Anak-anak yang biasa di luar rumah, dikunci di dalam rumah. Yang di dalam rumah, makin tak berkutik di bawah kasurnya. Tapi tak semua. Aku salah satunya. Malah diajak keluar rumah oleh ayahku. Ke Surabaya, hanya untuk melihat sebuah penampilan teater Eska.

Aku adalah anak “rumah”, karena kekhawatiran ibuku yang begitu tebal. Ayahku malah sebaliknya, memberi kebebasan. Semenjak ibu wafat, tepatnya sehari yang lalu. Aku mungkin akan sering keluar rumah, bahkan mungkin sering ke luar kota. Seperti yang aku rasakan sekarang. Di balik isu si bajak mata, ayahku malah nekat mengajakku bermain ke luar kota. Andaikan ibuku masih duduk menjahit di rumah, habis kami berdua kena marah.   

Sekarang di ambang pintu bus aku menarik napas. Terkagum-kagum melihat bentuk mesin yang teramat besar sedang berada beberapa senti di depan bola mataku. Ayahku sudah naik ke bus beberapa belas detik yang lalu. Dan pada sekian belas detik kemudian, ayahku berteriak, mencariku. Dia kira aku sudah duduk manis di sampingnya. Aku tertegun dan cepat beranjak masuk. Kami berdua tertawa di dalam bus. Ayahku berkata bahwa masih banyak mesin-mesin besar lainnya selain mesin jahit yang ibu gunakan dan mesin yang aku naiki sekarang.

Perjalanan yang panjang. Aku tertidur tidak pulas sama sekali. Di tengah sadar dan tidak, aku melihat seorang berambut panjang kusut sampai ke belakang lutut, memakai jaket levis usang. Tak salah lagi, sayang aku tak sepenuhnya sadar. Bertopi fedora.

“… Mata… tidak akan sakit, cobalah sendiri,” hanya itu yang ku dengar dari deklamasi panjang yang aku lewatkan. Bus berhenti. Semua orang mencongkel matanya, tak mengaduh, tanpa ragu, tak ada desah sakit. Termasuk ayahku. Aku mencoba menghentikannya. Namun dia hanya berkata, “tak apa, ini demi negara nak”

Keempat jari ayah dimasukkan ke dalam kelopak matanya. Bulat hitamnya mendelik ke atas, sangat tinggi. Lalu setelah jari-jarinya menyelam, dia menariknya –dengan lembut. Tak ada suara aduh sedikit pun. Si pria fedora itu menghampiri orang di bus itu satu-persatu. Memasukkan semua bola berlendir itu ke dalam karung. Begitu dia hampir mendekati ayah, aku berlari keluar. Beruntung aku di dekat pintu.

Bulan mengiringi langkahku berlari. Di tengah hutan. Sepertinya pria fendora itu memang sengaja memberhentikan bus di dalam kesunyian, agar tak ada seorang pun yang tahu.

Bulan mulai bosan. Dia pergi ke balik awan. Kegelapan hutan mulai terasa. Aku tak bisa melihat apapun. Pria itu  terasa masih mengejarku. Suara sepatu tebalnya terus beradu angkuh dengan tanah. Senternya menembus kegelapan.

Tak lama kemudian, nasib malang t’lah tiba. Aku tersandung batu yang lumayan besar. Kedua mataku tertusuk ranting-ranting kayu yang berserakan menghadap ke langit. Berdarah-darah. Aku menjerit.

Pria itu datang. Berkilah panjang, “…bola mata itu tak sakit dicongkel nak. Yang sakit ketika kamu menusuk, mencolek tepat ke bola matamu. Jika hanya diambil tanpa harus mencolek, tak akan sakit”

“Kenapa kamu suka mengambil mata?” mataku mulai buram, darah terus bercucuran.

“Oh…ini akan aku hidangkan ke presiden. Dia mungkin akan suka makan mata rakyatnya. Andai rakyatnya tak punya mata, tak mungkinlah perselisihan terjadi. Rakyat Indonesia suka menilai sesuatu hanya dengan menggunakan mata. Aduh, tak perlulah aku banyak omong, lagi pula matamu sudah rusak. Presiden tak minat makan mata cacat seperti punyamu itu. Sepasang mata lagi, maka siap satu ruangan penuh mata untuk presiden. Hidangan terbaik untuk presiden”

“Tunggu!” dia tak menghiraukanku, lanjut meninggalkanku. “KAU APAKAN ORANG-ORANG ITU? APAKAH KAU MENGHIPNOTIS MEREKA?”

Dia berhenti, dan berpaling lagi menghadap wajahku, “Tidak nak. Aku hanya mendoktrin mereka dengan kenyataan yang ada. Empat menit cukup. Taukah kamu nak, aku hanyalah anak SD yang suka membaca hingga detik ini. Membaca buku, membaca keadaan” 

Akhirnya mataku tiba-tiba menggelap, tak ada setitik cahaya pun yang kuasa bertengger di mataku. 

“Bukankah dengan mengambil mata rakyat, mereka tidak bisa lagi membaca?”

Dia terkekeh lalu mengalihkan pembicaraan, “Jangan bilang siapa pun sampai kau punya cucu berumur tujuh tahun, tentang pertemuan ini, ya,” setelah perkataannya itu, aku tak tahu dia masih ada di sana atau tidak. Namun yang pasti, dia tak lagi menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Aku menjerit, tak ada seorang pun yang menjawab. Kecuali hanya lagu yang burung hantu bawakan, angin yang bertengkar dengan dedaunan.

Kala ulang tahun presiden tiba. Ketika seorang wakil rakyat itu siap memasuki tempat pesta ulang tahunnya. Lima meter di depan ruang pesta itu, bau amis tercium jelas. Di muka pintu tertempel sebuah surat. Dibacanya surat itu. Matanya terbelalak. Membuka pintu. Ribuan mata jebol keluar dari ruangan di balik pintu itu. Sehari kemudian dia ceritakan. Seluruh media meliput. Seluruh pelosok desa, kota, pedalaman berubah. Rakyat tanpa mata bahagia, seakan terbayar sudah mata yang presiden makan. Indonesia, operasi.

***

“Benar nek, tidak sakit. Ini, kedua bola mataku nek, untuk presiden”

Nenek paruh baya itu hanya tertawa lembut. Begitu lembut dan tentram.

Loading

SEBELUM HUJAN REDA

Karya: Matahari (Juara Favorit Lomba Cerpen dalam rangka Dies Natalis Ke-14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

“Kapan terakhir kali kamu berdoa?”

Lelaki di hadapanku tertawa ringan mendengar pertanyaan kelewat absurd itu. Dia bilang, doa terakhirnya barangkali adalah sesaat sebelum ia mengendarai motor untuk menjemputku tadi. Aku menuduhnya berdusta. Kalau dia benar-benar berdoa, seharusnya kami tidak terkurung hujan deras di sebuah emperan pertokoan yang tutup.

“Jangan-jangan kamu yang tadi tidak berdoa!” balasnya menuduhku. Kami berdua tertawa atas lelucon itu.

Sesaat kemudian, saat hening menjadi teman, aku menghela nafas panjang. Benar. Aku tidak berdoa sebelum pergi hari ini. Aku tidak berdoa saat bangun. Aku tidak berdoa sebelum tidur semalam. Aku bahkan tidak berdoa berhari-hari.

Aku jadi bertanya-tanya, kapan seseorang mulai berdoa dan kapan seseorang berhenti berdoa? Apakah karena dulu setiap malam ibu menyuruh anaknya berdoa sebelum tidur, maka ia berdoa? Apakah karena dulu setiap hari guru menyuruh muridnya berdoa sebelum belajar, maka ia berdoa?

Aku tak punya ibu yang menyuruhku berdoa setiap malam. Saat punya guru, ia pikir aku sudah hafal doa harian sehingga ia tak mengajariku. Aku berdoa setiap hari sampai kemudian entah di hari ke berapa aku merasa hambar. Bahkan kini, saat hujan yang katanya waktu doa dijawab Sang Pencipta, aku tak tergoda mengangkat tangan.

Hujan pun kian kuat. Atap seng berbunyi nyaring layaknya arena perjudian saat taruhan unggulam mereka hampir kalah. Udara dingin kian menusuk. Aku menghapus jarak antara aku dan lelaki yang telah kukenal kurang lebih enam bulan. Ia, lelaki dengan senyuman matahari itu, mengaminkan. Tangannya terbentang meraih bahuku.

“Wah, enak ya pacaran pas muda,” seorang perempuan dewasa akhir yang ikut berteduh berkomentar. Di sebelahnya, lelaki yang sama sepuh, barangkali suami, terlihat berpangku tangan dalam upaya menghangatkan dirinya sendiri.

“Duh, Buk! Jangan ngurusin orang,” suaminya menanggapi.

“Lihat, Pak! Anak muda jaman sekarang pacarannya blas bles blos saja. Kayak dunia milik berdua.”

Mereka berdebat. Si suami terlihat sungkan dengan perkataan istrinya. Akan tetapi, semua orang yang berteduh di emperan pertokoan itu terlihat setuju. Tatapan mata mereka menghakimi kami.

“Kamu mau pakai jaketku saja?” tawarnya berbisik. Tangannya rampak ragu memberikan kehangatan. Pelukannya tak seerat tadi.

“Iya,” jawabku risih dengan tatapan orang-orang.

Kami berdiri dengan jarak yang kecanggungan. Jarak kami tidak lebih dekat dari seorang anak yang memeluk kaki ibunya di depan toko  benang. Jarak kami tidak lebih mesra dari suami istri yang masih berdebat itu. Jarak kami, untungnya, tidak sesepi seorang laki-laki buta berpeci di toko paling ujung.

Aku maju satu langkah. Mengintip, karena rasa penasaran tak terbendung, pada lelaki buta berpeci haji di ujung lorong pertokoan. Usianya tak lagi muda. Tangannya yang telah keriput memegang tongkat dengan genggaman yang tremor. Bibirnya komat kamit layaknya orang suci tengah berzikir. Seolah bibir itu memang telah terlatih untuk selalu basah mengenang asma Allah.

“Kenapa?” lelaki matahari di sebelah ku bertanya.

“Aku baru saja berdoa.”

“Oh ya? Kau berdoa agar hujan reda?”

“Tidak juga.” Kerutan terbentuk di dahinya. Barangkali mencari berbagai macam opsi doa lain yang bisa kupanjatkan di situasi macam ini.

Hujan kian menggila. Angin kencang menerbangkan beberapa sampah. Semua orang merapat pada perlindungan terdekat yang bisa mereka gapai. Anak berlindung pada ibunya, perempuan berlindung pada lelakinya, anak muda berlindung pada kekuatan fisiknya. Aku tak bisa berhenti khawatir pada pria tua buta di ujung pertokoan yang tak punya sesuatu, bahkan dirinya sendiri, untuk melindungi.

“Yang, aku ke sana ya.”

Langkah lebih cepat ketimbang ucapanku. Langkahku besar dan cepat menuju lelaki tua itu. Jantungku berdetak cepat. Terlebih saat melihat sebuah terpal dengan pancang paku yang tajam terbang mengarah ke lelaki itu. Kilat petir melatari suara teriakan dan dentuman.

“Ustaz!” suaraku hilang ditelan situasi.

Alam bawah sadarku memaksaku bertindak. Meski pura-pura tak peduli, meski pura-pura tak kenal, tubuhku bergerak dengan sendirinya hendak meraih sosok itu. Aku tak bisa mengerdilkan perasaan kagum dan hormatku pada sosok buta yang memiliki mata air kasih sayang dan berkah ilmu dalam dirinya itu. Aku pun, seorang yang pernah  menyesap mata air itu. Di diriku mengalir percikan dirinya. Barangkali itu yang membuatku kalang kabut mengejar lelaki itu ini.

Terpal biru yang diterbangkan angin menyelimuti tubuh lelaki tua buta tanpa celah. Aku dan seorang tukang ojek mendekatinya. Tukang ojek itu dengan tergesa-gesa menarik terpal itu. Aku melihatnya terduduk dengan tongkat yang sudah tak lagi dalam genggaman. 

“Bapak tidak apa, Pak?” tanya tukang ojek itu sembari membantunya berdiri.

Tidak ada luka, tidak ada lebam. Syukurlah.

“Alina!” lelaki matahariku memanggil. Aku tak kuasa menahan rasa takutku. Bagaimana jika lelaki tua di hadapanku ini mengingat nama itu? Meski kemungkinannya sangat kecil, meski aku yakin beliau telah memiliki banyak murid-murid lain bernama Alina, jantungku tak bisa diajak kompromi.

“Kamu Alina? Alina Aisyah?” lelaki buta itu bertanya dengan suara yang sangat familiar.

Aku mengangguk meski aku tahu lelaki di depanku tak akan bisa tahu. “Bukan Pak, saya Alina Niswati.” Aku berbohong.

“Bapak ingat sekitar tiga tahun lalu Bapak punya santri namanya Alina Aisyah. Dia pintar, rajin ibadah, selalu taat dengan peraturan pesantren. Dia suka bantu-bantu di rumah Bapak. Setelah tamat dia belum ada lagi berkunjung ke pesantren. Tadi Bapak dengar ada yang panggil ustaz, suaranya mirip Alina. Rupanya salah orang.”

Aku tak lagi mengucapkan apa pun. Aku takut suara cempreng ini akan makin mengingatkan lelaki tua berpeci itu akan seorang santri polos yang kini hanya tinggal cerita. Aku menarik tangan pacarku sembari berlari kecil menuju motor yang terparkir.

Hujan sebentar lagi berhenti. Waktu istijabah doa sebentar lagi usai. Aku berdoa lagi, meski tidak mengangkat tangan. Aku berdoa lama dan khusuk sekali. Tak peduli bahwa aku tak lagi berkerudung. Tak peduli bahwa kini di tanganku ada tangan lelaki bukan muhrim yang diibaratkan bara api.

“Boleh aku tebak doamu, Alina Aisyah?” tanya lelaki matahari itu dengan nada mencemooh. Aku menggeleng. Aku ingin cepat menyudahi basa-basi ini dan kembali bersembunyi.

Di ujung jalan, sebuah mobil dengan lambang instansi pendidikan Islam terlihat mengarah pada lelaki tua yang tak lain dan tak bukan adalah pengasuh di pesantren itu. Si pengemudi turun dan membantu ustaz menaiki mobil. Motor kami telah lebih dulu membelah jalanan.

Doaku terkabul. Lelaki buta itu tak mengenaliku. Aku ingin berdoa lagi agar si pengendara mobil yang sekelas denganku enam tahun tak mengenaliku. Sayangnya hujan telah sempurna berhenti.

Sayangnya aku tak punya keberanian lagi untuk berdoa.

Loading

MATRIKULASI MAHASANTRI BARU CSSMORA UIN WALISONGO 2021

Hallo sahabat loyalitas tanpa batas, kali ini CSSMoRA UIN Walisongo Semarang mengadakan acara matrikulasi untuk menyambut mahasiswa baru PBSB angkatan 2021. Matrikulasi tersebut dilaksanakan selama dua hari yaitu pada tanggal 16-17 desember 2021 di Kampus 3 UIN Walisongo Semarang dan di ikuti oleh 10 orang anggota baru Penerima Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) 2021 sebagai peserta dan 10 orang anggota PBSB dari angkatan 2019 sebagai penitia sekaligus peserta acara matrikulasi tersebut.

Acara matrikulasi ini merupakan kegiatan untuk memenuhi kompetensi peserta didik agar kesenjangan antara subtansi dan pengalaman belajar dari kurikulum yang berbeda dapat terpenuhi sesuai kompetensi yang harus dikelola satuan pendidikan secara terencana, terarah, terprogram dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam sambutan bapak Dr. Moh Khasan M.Ag. selaku pengelola PBSB UIN Walisongo Semarang, beliau menyampaikan bahwa “Acara matrikulasi ini dibuat untuk memberikan pembekalan kepada mahasiswa baru, khususnya terkait dengan kebijakan dan adminitrasi baik dari kemenag dan fakultas.

Adapun acara matrikulasi mahasiswa baru PBSB UIN Walisongo Semarang ini di buka langsung oleh Dekan Fakultas Syariah dan Hukum yaitu bapak Dr. KH. Arja Imroni M.Ag. Beliau menyampaikan bahwa “10 orang yang lolos seleksi PBSB ini adalah proses dari hasil kompetensi yang luar biasa. Kewajibannya adalah belajar karena semua sudah di back up oleh Kementrian Agama Republik Indonesia, maka tanggung jawab kita dari amanah itu adalah belajar dengan sebaik-sebaiknya.


Tidak hanya itu beliau juga menyampaikan bahwa tujuan dari matrikulasi ini adalah untuk memberikan pembekalan kepada mahasiswa untuk sukses study di Ilmu Falak meskipun sudah ada PBAK.

-Red Inayah

 

Loading

MENCETAK PENERUS CSSMoRA DI MASA AKAN DATANG DALAM KTPT CSSMORA UINWS, UNWAHAS DAN MA PATI

Kaderisasi Tingkat Perguruan Tinggi disingkat KTPT adalah kaderisasi wajib tingkat pertama yang dilaksanakan secara formal, sistematis, dan terencana pada tingkat Perguruan Tinggi. KTPT dilaksanakan untuk mengenalkan CSSMoRA dan membentuk karakter yang baik bagi mahasantri baru dalam perkuliahan dan menjalankan tugas dalam CSSMoRA di Perguruan Tinggi. Sehubungan dengan hal tersebut, CSSMoRA UIN Walisongo menyelenggarakan kegiatan KTPT pada hari Sabtu-Minggu tanggal 18-19 Desember 2021 yang bertempat di gedung PKB Mangkang. KTPT kali ini mengangkat tema “Cerdas Berintelektual, Berkarakter dan Berintegritas ”.

Pada tahun ini, KTPT dilaksanakan sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan, dalam pelaksanaannya mencakup tiga Perguruan Tinggi, yaitu UIN Walisongo, Universitas Wahid Hasyim dan Ma’had Aly Maslakhul Huda Pati. Adapun jumlah dari masing-masing Perguruan Tinggi, UIN Walisongo dengan jumlah peserta 10 orang, UNWAHAS 10 orang dan MA Pati 15 orang dengan 11 orang melaksanakan secara offline dan 4 orang lainnya secara virtual.

Dalam sambutan dan sekaligus membuka acara KTPT, Bpk Moh Khasan, M.Ag sebagai pengelola PBSB UIN Walisongo menyampaikan pesan dan harapannya “mahasiswa PBSB harus prestasi akademik maupun non akademik. Dengan adanya kegiatan KTPT ini semoga menjadi kegiatan yang bisa menginspirasi semua anggota CSSMoRA“.

Mahasiswa PBSB berbeda dengan mahasiswa yang lain. Dengan fasilitas-fasilitas yang didapatkan tentunya harus membawakan hasil yang bagus. Kaderisasi ini berjenjang, bukan hanya sampai disini saja, masih ada kaderisasi lanjutan juga. Jadi teman-teman semua harus tetap semangat dan buktikan dengan prestasi-prestasi kalian“, ujar Bpk Ubbadul Adzkiya, S.EI.,MA selaku pengelola PBSB UNWAHAS.

Dalam pembahasan materinya, KTPT tersebut mencakup 5 materi wajib, yaitu Keorganisasian, Ke CSSMoRA-an, Kepesantrenan, Kebangsaan dan Materi Persidangan. Melalui materi-materi tersebut, diharapkan para peserta KTPT bisa benar-benar menyerap ilmu dan menerapkannya dikehidupan sehari-hari, terlebih juga untuk CSSMoRA sebagai organisasi dengan jargonnya loyalitas tanpa batas.

Pada Penutupan Kegiatan para peserta KTPT UIN Walisongo dikukuhkan oleh Hamjan A Ranselengo (Ketua CSSMoRA UIN Walisongo), Universitas Wahid Hasyim dikukuhkan oleh Firginita Wirna (Anggota PSDM Nasional), dan MA Maslakul Huda Pati dikukuhkan oleh Wahyudi (Kadep Kominfo Nasional). dengan pengukuhan ini bahwa para peserta resmi menjadi kader CSSMoRA kedepannya.

Zaki Al-Aziz, sebagai salah satu peserta KTPT dari UIN Walisongo mengatakan “Sangat meriah dan menarik, di pertemukan sama teman-teman yang berasal dari PT lain dan berdasarkan berdasarkan dengan pembelajaran yang berbeda-beda, ada yang kampus formal seperti UIN, ada yang kampus kepesantrenan berbentuk Ma’had Aly, kami juga bertemu sama teman yang berbeda PT tapi berdasarkan asal yang sama. Di situ juga kami di didik untuk menjadi pribadi yang tangguh tegas serta tanpa melupakan spiritual pesantrennya”.

Ada senang dan sedihnya, karena saya merasa betul-betul kekeluargaannya, kekompakannya dan kebersamaannya ada di CSSMoRA. Kami dari rumah yang berbeda dan disini kami disatukan jadi seperti rumah ke dua kami. Semoga KTPT selanjutnya lebih berkesan lagi dan bisa kolaborasi lagi dan juga silaturahminya semoga selalu terjaga dan kompak” celetuk Wahyudi, sebagai salah satu peserta dari CSSMoRA UNWAHAS.

Saya mewakili dari teman-teman CSSMoRA Ma’had Aly Pesantren Maslakhul Huda Pati, mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada pengurus CSSMoRA UIN Walisongo, yang telah memperkenankan kami untuk ikut serta dalam Acara Kaderisasi tingkat perguruan tinggi ( KTPT ), pesan dari kami semoga dengan adanya event ini bisa mempererat komunikasi kita kedepannya, terutama dalam bidang keorganisasian, dan kesannya kami bisa ber-isitifadah banyak dengan pemateri tentang ke-CSSMoRAan, dan dapat bertemu dengan teman-teman CSSMoRA CSSMoRA UIN Walisongo dan UNWAHAS“, imbuh Ahdad Alwi salah satu peserta dari CSSMoRA Ma’had Aly Maslakhul Huda Pati.

-Red Ani Uswatun

Loading

PENANTIAN TAK BERUJUNG

Oleh: Fadly Rahmadi (CSSMoRA UIN Walisongo 2018)

Lelah letih sudah langkah kaki

Lemah lunglai ayunan tangan ini

Berjalan tak sampai, berayun tak henti

Tapi yang di cari seolah riap di telan bumi

 

Ditemani mentari timur di awal pagi

Ku duduk sendiri di pelabuhan purnama ini

Hempaskan lelah letihnya kedua kaki

Debu menempel di sekujur tubuh

Berbulir air mata dan butiran peluh

Perjalanan yang panjang dan sangat jauh

 

Cuitan burung-burung camar menggema

Membuatku iri tapi apa daya tak terkata

Sekiranya aku punya sayap seperti mereka

Mungkin sudah lama kusinggah di sana

Seperti mereka dan teman-teman lainnya

 

Dalam khayal aku pikirkan

Kita arungi bahtera kehidupan ini dengan senyuman

Kita bumbui pahit getir ini dengan madu manisan

Lama bentarnya kapal berlayar pada waktunya akan berlabuh juga di dermaga

 

Hmmm,

Kuhempaskan pandanganku ke seberang jauh

Ingin rasanya aku meneriakkan penungguanku

Akan tetapi lidah terasa ngilu

Dan ingin rasanya aku jerit raungkan kerinduanku

Namun mulutku diam membisu

Aku hanya bisa menunggumu di tepian dengan memandangi kapal-kapal yang simpang siur berlayar dan berlabuh

Berharap dikau muncul bersama kapal itu

Dan akan kutunggu, kutunggu sampai air laut tak lagi membiru

 

Oh pencarian yang berubah jadi kekecewaan

Masihkah dikau setia dalam cintamu?

Atau kah sudah pudar diterpa hembusan bayu?

Loading

PUTIH-HITAM

oleh: Harlianor (CSSMoRA UIN Walisongo 2017)

Apakah  putih selalu bertutur bersih, hai manusia yang diciptakan berkepala tunggal?

Hingga si hitam terus kau kecam, disisihkan di sudut terasing nan kelam

Mengapa bertingkah seolah makhluk tersuci,?

Menempatkan warna pelangi di ruang terkunci, berteriak lantang “jangan mendekat”

“Akulah makhluk terbaik Tuhan, akulah sang khalifah yang dijanjikan”

Berkoar-koar kobarkan api peperangan, menebas setiap tumbal yang mencoba melawan

Ayolah, kawan. Mari duduk melingkar sebentar..

Bukankah tak semua putih indah diraba,?

Bukankah langit lebih indah jika biru rupanya,?

Bukankah rerimbun pepohonan lebih damai kala hijau menjalar?

Lalu, mengapa kau dustakan indahnya keberagaman?

Sang Maha Kuasa ciptakan hitam tuk sempurnakan kilaumu, jika kau mengerti teori

Namun, jika nuranimu masih berfungsi;

Ia hadirkan hitam tuk dampingi bersihmu

Aku, kau, dia, kita, mereka

Hanyalah semata kata ganti belaka

Loading

ASA PEMUDA

oleh: Afifah Mulya Alamsyah (CSSMoRA UIN Walisongo 2019)

Embun pagi menggenang di pucuk keladi

Riak air bersama gelombang

Hujan turun jatuh ke bumi

Langit menatap tanpa ekspresi

 

Langkah kaki terus menapak

Liku lembah mencapai puncak

Lewati duri belukar yang liar

Penuh peluh kesah dan gundah

Namun kaki tetap melangkah

 

Berayun perlahan kiri dan kanan

Menuju jalan yang tak berujung

Tanpa lelah terus mencari

Tanpa menyerah terus bermimpi

Jerit derita tak terhiraukan

Darah membara membakar ego

Api semangat yang terus berkobar

 

Mengejar mimpi

Sembari melatih diri

Menemukan jadi keberadaan ini

 

Terus mencoba melangkah

Perbaiki arah dan tujuan

Membawa pembaharuan

Menciptakan inovasi kreatif

 

Membangun asa

Meraih cita

 

Meski tinggi gunung yang didaki

Meski jauh jalan yang ditempuh

Meski luas samudera membentang

 

Langkah penuh gairah dan ambisi

Semangat membara bagai kobar api

Kan tetap menyala dalam jiwa

 

Hingga tercipta asa dan mimipi yang jadi nyata

Membuahkan hasil perjalanan

Memetik hasil penantian

 

Karna aku pemuda

Karna kamu pemuda

Karna kita pemuda

 

Jangan menyerah

Teruslah melangkah

Hingga tiba diujung perjalanan dan penantian

Kan kau peroleh hasil yang memuaskan

Loading

PENGUKURAN ARAH KIBLAT GEDUNG LABORATORIUM UIN WALISONGO BERSAMA TIM CSSMORA

CSSMoRA (Community Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) UIN Walisongo Bersama Prodi Jurusan Ilmu Falak UIN Walisongo menggelar adanya kegiatan Pengukuran Arah Kiblat Lab Terpadu Gedung Baru IsDB Kampus 3 UIN Walisongo yang dilaksanakan pada Kamis (09/12/2021) pukul 09.00 WIB.
Tim CSSMoRA mengadakan pengukuran arah kiblat bersama diberbagai titik yaitu di gedung baru UIN Walisongo, pengukuran dilakukan oleh kaprodi ilmu falak yang bekerjasama dengan anggota PBSB (Penerima beasiswa santri berprestasi) dari mulai angkatan 2018 sampai 2021, semua ikut berpastisipasi sekaligus belajar langsung dan mengaplikasikan teori yang telah didapat dibangku kuliah.
Dian Ika Ariyani, M. T., Selaku dosen pembimbing lapangan kegiatan ini menjelaskan “Pengukuran arah kiblat ini merupakan salah satu penerapan teori di lapangan dan ini sangat penting bagi anak-anak falak. Karena jarang sekali kegiatan praktek seperti ini”.
Salah satunya di gedung laboratorium terpadu UIN Walisongo, dengan anggota tim 3 orang. dengan menggunakan alat Mizwala salah satu instrument falak untuk pengukuran arah kiblat.
Dengan data lokasi :

lintang tempat 6ᴼ59’28”LS d

bujur tempat 110ᴼ20’45”BT

didapati bahwa:

Arah kiblat 65° 28′ 51” (UB)

Azimuth kiblat 294° 31′ 09”

Maka data ini yang lagsung di peraktekan dilapangan. Meskipun terdapat kendala dalam proses pengukuran dilapangan, namun hal ini tidak sama sekali mengurangi antusiasme peserta. Karina Aulia Purwanti, salah satu peserta berkomentar “Karena kurangnya alat pembantu yang dapat dimanfaatkan dalam proses pengukuran kemudian menyebabkan terkendala nya proses pengukuran arah kiblat di lapangan ini“.

 

-Red Karina Aulia Purwanti

Loading

PERMANTAP INTERNAL SEKALIGUS MENJALIN HUBUNGAN ANTAR 3 CSSMoRA PT DALAM STUDY BANDING

Yogyakarta, 20 Desember 2021 CSSMoRA UIN Walisongo mengadakan acara study banding dengan CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga dan Universitas Gajah Mada tepatnya di Pondok pesantren LSQ Ar-Rahma Yogyakarta

Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja Departemen Hubungan Luar CSSMoRA UIN Walisongo dan diikut sertakan dalam agenda Dies natalis ke-14 CSSMoRA UIN Walisongo dan menjadi agenda penutup.

Kegiatan ini diharapkan bisa memperkuat keorganisasian dan tak lupa juga sebagai media yang mempertemukan ketiga CSSMoRa itu dengan tujuan agar hubungan mereka tetap terjalin dengan erat, serta rihlah/refreshing untuk anggota altif CSSMoRA UIN Walisongo.

Kegiatan itu diawali dengan pembukaan oleh MC, Ani Uswatun Hasanah (CSS UIN WS 2019). Dan diikuti beberapa sambutan dari ketua umum CSSMoRA UIN WS dan UIN SUKA, Hamjan A Ranselengo dan Hamada Hafidzu. Kemudian terakhir ditutup dengan sambutan pengelola PBSB UIN WS, yang diwakili oleh sekretaris jurusan Ilmu Falak, Bapak Ahmad Munif, M, Si

“Saya mendapat banyak referensi proker buat kedepannya dari acara ini sekaligus menambah relasi, menurut saya acara seperti sangat penting diadakan dan harapannya semoga bisa terulang tiap tahun agar anggotanya tetap solid,” Ungkap Miftahul Kirom CSS UGM 2021.

Dalam sambutannya, ketua umum CSSMoRA UIN Walisongo, Hamjan A Ranselengo mengatakan

“Study banding ini sangat penting karena kita bisa menyambung silaturahmi untuk memper erat kekeluargaan antar CSSMoRA salain itu kita bisa berbagi ide dan pengalaman dengan pt lain terkait kecssmoraan dan sebagai bahan evaluasi bagi kita depannya dalam menjalankan roda kepengurusan CSSMoRA UIN Walisongo,” Kata pria 20 tahun tersebut.

Setelah pemaparan program kerja dengan tiga perguruan tinggi, perjalanan selanjutnya menuju pantai Goa Cemara.

Pantai Goa Cemara – disini panitia study banding melaksanakan lomba-lomba sebagai hiburan guna mempererat persaudaraan antar angkatan yang dibagi dalam beberapa kelompok. perlombaan ini terbagi menjadi dua lomba, pertama lomba voli air dan kedua estafet air. sebelum memasuki perlombaan diwajibkan untuk setiap kelompok menyiapkan jargon/yel-yel kelompok.

Kegiatan ini kemudian diakhiri dengan sesi foto dan makan bersama.

-Red Departemen Hubungan Luar

Loading

PENGUKURAN ARAH KIBLAT DI GEDUNG ICT LIBRARY BARU KAMPUS 3 UIN WALISONGO

Kamis, 09 Desember 2021, Prodi Ilmu Falak bersama anggota aktif CSSMoRA mengadakan pengukuran di beberapa gedung baru di UIN Walisongo Semarang yang langsung didampingi oleh dosen Ilmu Falak. Acara tersebut dilaksanakan sebagai bentuk pengabdian mahasiswa falak dilingkungan sekitarnya.

Pengukuran dilaksanakan mulai jam 09.00 WIB – selesai. Pengukuran diikuti oleh 43 anggota CSSMoRA aktif dengan jumlah 8 gedung. Untuk mempermudah pengukuran, dibagi menjadi 8 kelompok sesuai dengan jumlah gedung yang akan diukur.

Pengukuran di gedung Gedung ICT Library dilakukan oleh kelompok 6 yang terdiri dari Riki, Sofi, Leli, Ani, Kholis dan Nadra dengan dosen pendampingnya bpk Muhammad Nurkhanif, M.S.I.

Alat yang digunakan di kelompok 6 yaitu istiwa’aini. Dengan menggunakan bayangan matahari dalam pengukuran arah kiblatnya. Adapun datanya sebagai berikut:

Lintang Tempat sebesar 6° 59′ 29″ LS ,

Bujur Tempat 110° 21′ 00″ BT ,

Lintang Kakbah 21° 25′ 21,17″,

Bujur Kakbah 39° 49′ 34,56″,

dan Waktu Bidik pukul 09.43 WIB.

Dari data-data tersebut, maka diperoleh hasil sebagai berikut :
Arah Kiblat = 65° 28′ 54″ Utara Barat
Azimuth Kiblat = 294° 31′ 6″
Azimuth Matahari = 124° 18′ 6″

Pengukuran pertama dilakukan diluar gedung, untuk mendapatkan bayangan matahari. Setelah dua kali pengukuran dan hasilnya sama, maka dilanjut dengan mengukur ke dalam gedung dengan hasil yang sudah ada. Mushola pertama yang diukur kiblatnya adalah mushola PTIPD lantai 1, kemudian dilanjut ke mushola Perpustakaan lantai 3.

Dari hasil pengukuruan kiblat tersebut, didapatkan hasil bahwa arah kiblat gedung ICT Library menghadap ke barat dengan miring ke arah selatan sebanyak 15 derajat.

Zaenal, salah satu staf TU di perpustakaan UIN Walisongo berterimakasih kepada tim yang sudah membantu untuk mengukur arah kiblat dengan akurat. “Saya sangat berterimakasih dan antusias dengan pengukuran arah kiblat ini, karena lebih mantab dalam beribadah, karena kita dalam salat menghadap kiblat dan harus semaksimal mungkin benar-benar mengdahapkan wajah kita ke kiblat“, ujarnya. “Staf-staf disini masih mantab dengan arah kiblat yang diukur sebelumnya, karena berpedoman bahwa kiblat itu menghadap ke barat dan menyerong ke utara sedikit, tapi dengan adanya pengukuran ulang ini semoga teman-teman staf yang kain bisa lebih mantab lagi dalam salatnya“, tambahnya saat diwawancarai.

 

-Red Ani Uswatun

Loading