Tahukah kalian? kalau bicara soal sejarah Indonesia, peristiwa G30SPKI pada malam 30 September 1965 selalu berhasil bikin kita merinding sekaligus penasaran. Tragedi ini bukan sekadar bab kelam di buku pelajaran sekolah, melainkan titik balik besar yang mengubah arah perjalanan bangsa secara drastis. Bayangkan saja, di pertengahan dekade 1960-an, kondisi sosial dan politik Indonesia sedang sangat memanas di bawah sistem Demokrasi Terpimpin. Presiden Soekarno berusaha menyatukan berbagai kekuatan politik lewat doktrin Nasakom, tetapi persaingan di balik layar antara Partai Komunis Indonesia (PKI) dan pimpinan TNI Angkatan Darat justru makin tajam. Isu panas seputar usulan pembentukan Angkatan Kelima hingga rumor keberadaan Dewan Jenderal kian membakar kompor politik nasional hingga mencapai titik didih.
Puncaknya pecah pada dini hari 1 Oktober 1965, ketika sekelompok pasukan militer di bawah komando Letkol Untung mendatangi kediaman para perwira tinggi Angkatan Darat secara serentak. Dini hari itu berubah menjadi tragedi berdarah saat para perwira diculik dan dibunuh, meliputi Jenderal Ahmad Yani, R. Suprapto, M.T. Haryono, S. Parman, D.I. Pandjaitan, Sutoyo Siswomiharjo, serta seorang prajurit muda, Kapten Pierre Tendean. Jenderal A.H. Nasution memang berhasil meloloskan diri, tetapi putri kecilnya, Ade Irma Suryani, turut menjadi korban. Seluruh jenazah korban kemudian dimasukkan ke dalam sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, yang menjadi saksi bisu peristiwa kelam tersebut.
Kepanikan dan ketidakpastian politik dengan cepat diambil alih oleh Mayor Jenderal Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Panglima Kostrad. Dalam hitungan hari, obyek-obyek vital berhasil direbut kembali dan kendali keamanan nasional dipulihkan. Dampak politiknya bergerak cepat bagaikan efek domino: PKI secara resmi dibubarkan, terjadi pembersihan politik secara meluas, dan terbitnya Supersemar pada 11 Maret 1966 mengawali peralihan kekuasaan secara bertahap dari Presiden Soekarno ke Jenderal Soeharto. Peristiwa inilah yang memicu runtuhnya Orde Lama dan menandai lahirnya era Orde Baru yang berkuasa hingga lebih dari tiga dekade berikutnya.
Hingga hari ini, latar belakang peristiwa G30S masih menjadi topik hangat yang dikaji dari berbagai sudut pandang historiografi. Ada versi yang menempatkan kepemimpinan PKI sebagai dalang utama, ada yang melihatnya sebagai puncak konflik internal perwira Angkatan Darat, hingga spekulasi mengenai keterlibatan dinas intelijen asing di tengah sengitnya persaingan Perang Dingin. Bagi yang ingin menyelami sejarah ini secara komprehensif, beberapa rujukan penting yang sering menjadi acuan para sejarawan antara lain buku Sejarah Indonesia Modern 1200–2008 karya M.C. Ricklefs, penelitian Harold Crouch dalam The Army and Politics in Indonesia, analisis Benedict Anderson dan Ruth McVey dalam Cornell Paper, biografi Suharto: A Political Biography karya R.E. Elson, serta dokumen resmi penerbitan Sekretariat Negara RI (1994).
SEMARANG — Seluruh pengurus CSSMoRA Kabinet GRANADA mengadakan kegiatan upgrading pada Sabtu (19/9/2026). Sebagai upaya memperkuat pemahaman pengurus mengenai sistem kepengurusan GRANADA, kegiatan ini membahas berbagai aspek penting dalam pengelolaan organisasi.
Kegiatan yang berlokasi di YPMI Al-Firdaus tersebut diikuti oleh 29 pengurus CSSMoRA Kabinet GRANADA. Dalam kegiatan ini, para pengurus mengikuti rangkaian materi dan pembekalan yang disampaikan oleh sejumlah pemateri.
Materi pertama membahas mengenai kesekretariatan yang disampaikan oleh Nailul Muna selaku Sekretaris Umum Kabinet GRANADA. Materi tersebut membahas berbagai hal yang berkaitan dengan administrasi organisasi, seperti pembuatan surat, proposal kegiatan, notulensi rapat, dan berbagai kebutuhan administrasi lainnya.
Materi selanjutnya membahas mengenai kebendaharaan yang disampaikan oleh Faridhtul Khasanah selaku Bendahara Umum. Materi ini mencakup pembuatan Rencana Anggaran Biaya (RAB), pengajuan dana insidental, serta inventarisasi.
Materi ketiga mengenai kepanitiaan disampaikan oleh Muh. Ari Bahrul Alam selaku Ketua II. Dalam materi tersebut, ia membahas sistem pembentukan panitia serta pembuatan Lembar Pertanggungjawaban (LPJ) untuk seluruh program kerja yang menggunakan sistem kepanitiaan. LPJ menjadi bagian penting sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kegiatan yang telah diselenggarakan.
Materi kemudian ditutup oleh Dhimas Ricchie Pramono selaku Ketua III. Ia menyampaikan materi mengenai laporan bulanan sebagai bentuk evaluasi dan pertanggungjawaban terhadap program kerja yang tidak menggunakan sistem kepanitiaan. Dhimas menjelaskan bahwa setiap program kerja yang bersifat nonkepanitiaan tetap perlu memiliki laporan sebagai bentuk dokumentasi dan pertanggung jawaban kegiatan. Laporan bulanan tersebut akan dilaksanakan pada setiap akhir bulan dan mencakup perkembangan maupun pelaksanaan program kerja selama satu bulan.
Kegiatan upgrading ini juga mendapatkan respons positif dari para pengurus. Salah satunya oleh Dwi Okta Rahmadani selaku sekretaris menyampaikan bahwa materi-materi yang disampaikan sangat membantu dirinya dalam menjalankan tugas kepengurusan kedepannya.“Menurut saya pribadi sebagai sekretaris, ini sangat membantu mengenai surat-menyurat, kepanitiaan, dan kepemimpinan,” ujar Dwi Okta Rahmadani.
Hal serupa juga disampaikan oleh Ziana selaku delegasi dari Angkatan 2025.“Kesan saya selama mengikuti kegiatan upgrading ini, saya mendapatkan banyak pemahaman baru mengenai kepengurusan,” ujar Ziana Ayu.
Dengan adanya kegiatan upgrading ini, diharapkan para pengurus dapat menerapkan materi-materi yang telah disampaikan serta dapat menjalankan tugas dan program kerja Kabinet GRANADA secara lebih terarah, tertib, dan bertanggung jawab.
SEMARANG – Suasana keakraban dan semangat berorganisasi menyeruak di YPMI Al-Firdaus, Kota Semarang, selama dua hari beruntun pada Sabtu hingga Ahad (12–13/9/2026). Community of Santri Scholars Ministry of Religious Affairs (CSSMoRA) UIN Walisongo Semarang berkumpul untuk menggelar Musyawarah Kerja (Musker) tahunan. Perhelatan ini menjadi momentum krusial bagi pengurus dan anggota dalam merumuskan, mematangkan, serta menetapkan garis-garis besar program kerja yang akan menjadi kompas pergerakan organisasi selama satu periode ke depan.
Tak hanya dihadiri oleh anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo, kegiatan ini juga terasa istimewa dengan hadirnya delegasi perwakilan dari CSSMoRA Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS) dan CSSMoRA Universitas Negeri Semarang (UNNES). Kehadiran saudara seperjuangan antar-kampus ini menambah hangat atmosfer musyawarah, sekaligus memperkuat jalinan silaturahmi dan sinergi kolektif antar-instansi CSSMoRA di wilayah Semarang.
Rangkaian kegiatan diawali secara khidmat melalui prosesi pembukaan pada Sabtu pagi. Usai serangkaian pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars CSSMoRA, serta penyampaian sambutan-sambutan, dinamika organisasi mulai bergelora saat forum melangkah ke agenda Sidang Pleno 1.
Dalam ruang sidang yang penuh dialektika, para peserta dengan antusias membahas dan menguji rumusan agenda kegiatan serta Tata Tertib (Tatib) sidang. Diskusi hangat namun tetap beretika mewarnai proses pemilihan Presidium Sidang Tetap yang bertugas memandu jalannya persidangan, hingga akhirnya ditutup dengan penetapan urutan pemaparan program kerja bagi tiap-tiap departemen.
Memasuki Sidang Pleno 2, atmosfer persidangan menjadi kian hidup dan substansial. Satu per satu departemen maju ke hadapan forum untuk memaparkan rancangan program kerja unggulan yang telah dirancang. Berbagai gagasan inovatif, mulai dari penguatan kapasitas akademik, pemberdayaan sosial masyarakat, hingga optimalisasi media diuji secara kritis oleh para peserta. Pertanyaan, tanggapan, serta masukan konstruktif berseliweran di dalam ruang sidang, mencerminkan tingginya kepedulian para kader terhadap kemajuan organisasi.
Setelah melalui pembahasan maraton yang menyita energi dan pikiran, seluruh rangkaian sidang bermuara pada Sidang Paripurna. Diiringi ketukan palu presidium sidang yang mantap, forum secara resmi menetapkan dan mengesahkan seluruh rancangan program kerja dari tiap departemen menjadi ketetapan organisasi yang sah dan mengikat pada hari Ahad, 13 September 2026. Gemuruh tepuk tangan dan rasa lega memenuhi ruangan saat dokumen hasil musyawarah disahkan secara bersama.
Penutupan Musker 2026 di YPMI Al-Firdaus ini tak sekadar menjadi penanda berakhirnya proses persidangan, melainkan awal dari langkah nyata pergerakan CSSMoRA UIN Walisongo Semarang. Dengan program kerja yang kini telah disahkan, seluruh anggota berkomitmen untuk menjaga soliditas dan membawa nama baik mahasantri dalam berkontribusi nyata bagi kampus, masyarakat, dan bangsa.
SEMARANG – Menanggapi peristiwa bencana gempa di NTT dan dampak Karhutla terhadap hutan di Indonesia, Departemen P3M CSSMoRA UIN Walisongo kembali menggelar rangkaian aksi open donasi yang dimulai pada 16 September hingga 23 September 2026.
Open donasi yang bertajuk CSSMoRA Peduli ini menggalang dana melalui media sosial dengan penyebaran pamflet dan QRIS oleh anggota aktif maupun simpatisan sejak 16 September lalu. Pada puncaknya, para anggota kembali turun ke jalan. Aksi tersebut dilaksanakan di sekitar Bundaran Kalibanteng pada Ahad (20/9/2026).
Sebanyak 28 anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo berkumpul di Pondok YPMI Al-Firdaus untuk melanjutkan perjalanan menuju lampu merah Kalibanteng. Rombongan kemudian tiba di parkiran Museum Ronggowarsito dan membentuk kelompok yang masing-masing beranggotakan tujuh orang. Setiap kelompok tersebar di empat titik lampu merah Kalibanteng, yakni Jalan Siliwangi, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan MGR Sugiyopranoto, dan Jalan Walisongo.
NTT 2
NTT 2
NTT 1
NTT 4
Selain itu, Koordinator Departemen P3M Nur Ilhani menyampaikan beberapa pengarahan kepada para relawan aksi open donasi. Ia menekankan agar setiap relawan bersikap sopan dan santun, tidak memaksa, serta senantiasa tersenyum ketika menggalang dana.
Setiap kelompok membawa dua kotak donasi, poster open donasi, dan lembaran kode QRIS untuk memfasilitasi warga yang ingin berdonasi secara non-tunai. Gelaran aksi berlangsung dari pukul 14.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB dan mengumpulkan dana sebanyak Rp1.862.000, belum termasuk penggalangan dana yang terkumpul melalui QRIS.
“Jika digabungkan dengan yang terkumpul melalui pembayaran non-tunai, saat ini sudah berjumlah Rp2.500.000,” ujar Nur Ilhani ketika diwawancarai.
Uang yang terkumpul akan disalurkan kepada korban terdampak gempa di NTT bekerja sama dengan lembaga filantropi Islam Dompet Dhuafa. Sebagian dana juga akan digunakan untuk membantu restorasi hutan yang diinisiasi Ferry Irwandi melalui gerakan “Patungan untuk Hutan”.
“Uang tersebut insyaallah akan disalurkan pada tanggal 24 September 2026,” ujar Nur Ilhani.
Adapun respons masyarakat terhadap aksi para relawan cukup baik. Mulai dari pengendara roda empat hingga rombongan pengendara roda dua, banyak yang memberikan bantuan. Bahkan, tidak sedikit anak-anak kecil yang dibonceng orang tuanya turut menyodorkan lembaran uang.
Kegiatan seperti ini bukanlah hal yang baru bagi Departemen P3M CSSMoRA UIN Walisongo. Aksi galang dana menjadi salah satu bentuk kegiatan CSSMoRA Peduli dalam mengajak anggota untuk turut serta membantu masyarakat terdampak bencana.
“Aksi galang dana ini merupakan bentuk ikhtiar dari P3M lewat proker CSSMoRA Peduli. Jadi, tidak hanya menyuarakan lewat media online, tapi juga dibarengi dengan aksi turun ke jalan,” kata Nur Ilhani.
Kalimat itu masih jelas terngiang di kepalaku sejak aku duduk di bangku MTs. Sejak saat itu, setiap kali teman-temanku sibuk merencanakan masa depan mereka, aku justru sibuk dengan hal yang sama berusaha meyakinkan orang tuaku agar mengizinkanku pergi mengejar mimpi yang selalu kusimpan dalam doa.
Namaku Selatan Bumingkara, tapi orang-orang memanggilku Ara. Aku 17 tahun, seorang santri angkatan 2024 yang menimba ilmu di Banda Aceh. Di tengah padatnya kehidupan pondok, ada satu mimpi yang tidak pernah benar-benar hilang sejak MTs yaitu melanjutkan pendidikan ke Jawa.
Saat ini pondokku sedang ramai dengan pendaftaran beasiswa berprestasi ke luar Sumatera. Aku dan teman-teman sibuk menyiapkan berkas, belajar bersama, dan saling menyemangati. Namun ada satu hal yang tidak kukatakan kepada ayah dan ibuku, beasiswa ini adalah jalan menuju luar Sumatera.
Aku takut mereka tidak mengizinkan.
“Ibu, Ayah, doakan Ara lulus ya,” kataku suatu malam.
“Iya nak, belajar dan ibadahnya jangan lupa ya,” jawab mereka lembut.
Sejak itu aku semakin sering berdoa dalam diam. Aku berharap Allah melembutkan hati orang tuaku, jika memang aku ditakdirkan untuk melangkah lebih jauh.
Malam pengumuman tahap pertama tiba.
Aku lolos.
Aku bersyukur, dan sejak itu aku semakin giat belajar. Tapi di balik itu, ada satu hal yang masih kusimpan rapat aku belum jujur kepada orang tuaku.
Hingga hari pengumuman tahap akhir datang. Aku sudah berusaha semampuku, bahkan belajar kisi-kisi dengan sungguh-sungguh. Aku yakin hasilnya akan baik.
Namun ternyata…
Aku tidak lolos.
Aku hanya diam.
Tidak ada tangisan berlebihan, tapi ada sesuatu yang berat di dadaku. Karena bagiku, ilmu tidak pernah terbatas pada satu tempat. Namun tetap saja, Jawa masih menjadi mimpi yang belum bisa kugapai.
“Bagaimana mungkin aku bisa ke Jawa tanpa alasan yang kuat…” batinku malam itu.
Aku mengambil wudu, lalu berdoa lebih lama dari biasanya. Dalam sujud, aku mencurahkan semuanya rasa kecewa, takut, dan pertanyaan yang bahkan tak mampu kujawab sendiri.
Keesokan harinya, satu hal terus menggangguku. Aku teringat bahwa aku belum jujur kepada ayah dan ibuku tentang beasiswa itu. Aku tidak ingin terus bersembunyi dalam keadaan seperti ini. Aku mencoba berdamai dengan diriku sendiri, perlahan menata pikiran agar lebih tenang. Setelah itu aku mulai mencari jalan lain untuk melanjutkan pendidikan.
Waktu pun berjalan.
Kini aku sudah menjalani dua semester kuliah di Sumatera Barat, jurusan Ilmu Hadits. Banyak hal yang telah kulewati, banyak pelajaran yang kudapatkan. Tanpa banyak orang tahu, aku masih mengikuti informasi beasiswa ke Jawa itu. Beberapa orang mendukungku untuk mencoba lagi, meski ada juga yang meragukanku. Tapi aku belajar satu hal aku tidak boleh kalah oleh pikiranku sendiri, dan juga tidak boleh kalah oleh pikiran orang lain.
Karena dorongan itu, aku akhirnya memberanikan diri untuk mendaftar kembali beasiswa ke Jawa. Aku tidak banyak bercerita kepada orang lain, bahkan beberapa teman tidak tahu bahwa aku mencoba lagi.
Hari itu aku pulang lebih malam setelah bermain bersama teman-teman. Aku bahkan tidak membawa ponsel.
“Sudah hampir malam, aku pulang dulu ya,” kataku.
Sesampainya di kamar, aku terkejut. Ponselku penuh dengan panggilan tak terjawab dan pesan ucapan selamat dari teman-temanku.
Tanganku gemetar saat membukanya.
Aku lolos ke Jawa.
Aku membaca ulang pesan itu berkali-kali, seolah takut salah lihat. Jantungku berdegup cepat. Aku tidak langsung percaya. Dengan tangan gemetar, aku bangkit dan berlari menuju ayah dan ibuku.
“Ayah… Ibu… Ara lolos ke Jawa!” suaraku bergetar.
Aku memeluk mereka erat. Air mata jatuh tanpa bisa kutahan.
Di saat itu, aku akhirnya benar-benar mengerti mimpi tidak selalu datang ketika kita ingin, tetapi ketika kita sudah cukup siap untuk menerimanya. Kadang Allah tidak menolak doa kita, hanya saja Ia sedang menundanya untuk waktu yang lebih baik agar kita tumbuh, belajar, dan menjadi pribadi yang lebih kuat sebelum sampai ke tujuan itu.
Puji syukur kehadirat Allah Swt. Yang telah melimpahkan Rahmat, taufik dan juga hidayah-Nya kepada kita semua. Tak lupa, Sholawat beriringkan salam senantiasa kami haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw, yang telah membimbing umat manusia menuju jalan kebenaran.
Dengan penuh rasa syukur dan bangga, Majalah Zenith kembali hadir menyapa para pembaca setia dalam Edisi ke-18. Pada edisi kali ini, kami mengangkat tema mengenai Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sebuah gagasan penting yang terus berkembang dalam upaya mewujudkan kesatuan penanggalan Hijriah di seluruh dunia. Tema ini kami hadirkan sebagai bentuk kontribusi dalam memperkaya wawasan keislaman, khususnya dalam bidang ilmu falak dan dinamika penetapan waktu dalam Islam.
Untuk memberikan sudut pandang yang komprehensif, kami menghadirkan narasumber-narasumber yang kompeten di bidangnya, yaitu Prof. Syamsul Anwar, Prof. Thomas Jamaluddin, serta Dr. Ing. Hafidz. Melalui pemaparan dan pemikiran para tokoh tersebut, kami berharap pembaca dapat memahami lebih dalam mengenai konsep, tantangan, serta urgensi penerapan KHGT dalam kehidupan umat Islam saat ini.
Kami menyadari bahwa setiap karya yang tersaji dalam majalah ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh tim redaksi, kontributor, serta pihak-pihak yang telah berperan dalam proses penyusunan Majalah Zenith edisi ini. Semoga setiap tulisan yang kami hadirkan mampu memberikan manfaat, memperluas wawasan, serta menginspirasi pembaca dalam menyikapi berbagai perkembangan keilmuan dan sosial keagamaan.
Kami menyadari bahwa majalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi peningkatan kualitas pada edisi-edisi berikutnya. Apabila pembaca memperoleh manfaat dari majalah ini, kami berharap pengetahuan tersebut dapat turut disebarluaskan kepada pihak lain yang membutuhkan.
Senandung puji dan syukur semoga senantiasa menjadi dzikir hati yang tak pernah berhenti. Alam dengan segala fenomena di dalamnya, seakan mau menunjukkan bahwa Sang Penciptanyalah yang benar-benar berkuasa atas segala. Sebagai manusia yang ber-Tuhan, pasti akan meyakini bahwa Tuhan mempunyai kehendak atas segala sesuatu. Tak terkecuali dengan terbitnya majalah Zenith edisi ke-XII ini. Setelah melalui berbagai tahapan penggarapan, serta setelah melewati segala bentuk kendala yang senantiasa turut serta, hingga akhirnya kami dapat menyajikan kembali kepada para pembaca setia majalah Zenith sebuah sajian nikmat dengan menu-menu segar di dalamnya.
Dalam setiap edisinya, majalah zenith selalu menyajikan bacaan tentang fenomena-fenomena yang menarik nan aktual. Tak terkecuali pada edisi ke-XII ini, pada edisi kali ini kami mengangkat sebuah tema besar, “Astrofotografi: Sebuah Solusi yang Menuai Kontroversi”. Sebuah terobosan baru dalam dunia falak yang baru-baru ini hangat dipergunjingkan. Dalam majalah ini pembaca akan diajak melanglang buana menelusuri sebuah era digitalisasi ilmu falak.
Banyak dari keperluan manusia saaat ini yang sudah bertransformasi dari dunia manual ke era digital. Tak terkecuali dengan ilmu falak. Ilmu falak yang berbasis ilmu astonomi praktis sarat dengan segala sesuatu yang menjadi piranti pendukung di dalamnya. Namun bagaimana jika pemanfaatan tekhnologi dianggap tidak sesuai bahkan bertentangan dengan Syar’i? Tentunya akan menjadi hal yang berbeda. Oleh karenanya dalam majalah ini pembaca akan disuguhkan berbagai macam wawasan dari berbagai sudut pandang. Sehingga lautan penasaran nantinya akan tercerahkan dengan tetesan pengetahuan.
Kami merasa bangga Zenith bisa tetap konsisten menyajikan kepada pembaca setia bacaan-bacaan renyah seputar Imu falak. Dengan adanya majalah Zenith diharapkan bisa menjadi rujukan serta penambah wawasan, khususnya seputar kajian-kajian ilmu falak dan astronomi. Bak penjaga wahyu, diharapkan juga majalah Zenith bisa menjaga dan melestarikan eksistensi khazanah keilmuan falak.
Tak lupa, untaian terima kasih tersampaikan kepada seluruh kru majalah Zenith serta kepada semua pihak yang turut mendukung atas terbitnya majalah ini. Tak luput juga pada para Tokoh yang telah berkenan mengirimkan karyanya kepada kru majalah Zenith. Akhirnya, majalah ini bisa sampai ke tangan pembaca semua. Selamat membaca, selamat membuka jendela dunia!
Lantunan puji syukur sudah sepatutnya kita panjatkan kepada Tuhan segenap alam yang menarik Bulan dan Matahari untuk senantiasa memberi manfaat kepada Bumi. Atas rahmat yang selalu dicurahkan, Tim Redaksi dikehendaki untuk menerbitkan majalah Zenith edisi ke XVI ini pada waktu yang telah ditentukan. Setelah melalui berbagai proses dan kendala, akhirnya majalah ini dapat kembali terbit dan menghadirkan sub bacaan-bacaan yang dapat memberikan informasi-informasi kepada pembaca perihal perkembangan Ilmu Falak.
Sebagaimana yang telah lalu, dalam setiap edisi yang diterbitkan, majalah Zenith senantiasa mencoba mengunggah fenomena-fenoma terkini tentang dunia ilmu falak yang sedang bersemi di Indonesia tak terkecuali untuk majalah edisi kali ini. Pada edisi XVI ini, Ttim Redaksi mencoba mengunggah sebuah tema tentang “Ilmu Falak menuju Unity Of Science di UIN Walisongo”. Hal ini selaras dengan dikenalnya UIN Walisongo sebagai pelopor program studi Ilmu Falak di perguruan tinggi Islam yang sekarang digadang-gadang tengah mengajukan visi sebagai Universitas Islam Riset Terdepan Berbasis pada Kesatuan Ilmu Pengetahuan untuk Kemanusiaan dan Peradaban. Sebuah cita-cita baru yang sedang di gagas untuk membawa Ilmu Falak sebagai ilmu pengetahuan yang perlu dilestarikan dan perlu dikembangkan agar senantiasa membumi di Indonesia.
Sejarah Ilmu Falak yang mulai berkembang sejalan dengan masuknya Islam di Indonesia memang masih berkutat pada masalah Arah Kiblat, Waktu Sholat, Gerhana Matahari dan Bulan, tentu membutuhkan pemikiran khusus dengan tahap-tahap yang berkelanjutan agar Ilmu Falak yang ada di Indonesia ini kembali pada tujuan awalnya yaitu sebagai Ilmu Astonomi Islam yang membahas perihal alam semesta beserta kejadian-kejadiannya tanpa mengesampingkan syariat yang ada didalamnya.
Sebagai promotor pegiat Ilmu Falak, UIN Walisongo Semarang tentu mendapat perhatian khusus, setidaknya sebagai rujukan perguruan tinggi lain dalam upaya pengembangan Ilmu Falak di tingkat universitas. Bagaimana kondisi kurikulum, dosen, serta sarana-prasarana yang ada di UIN Walisongo apakah sudah memenuhi standar pengembangan atau masih dalam tahap perbaikan. Dalam majalah ini disajikan berbagai fakta dan pendapat dari berbagai sudut pandang yang akan memberikan informasi dan wawasan bagi para pembaca mengenai perkembangan Ilmu Falak menuju Unity Of Science atau kesatuan ilmu pengetahuan. dengan demikian diharapkan akan dihapuskannya dikotomi ilmu pengetahuan antara ilmu agama dan ilmu umum, karena hakekat ilmu adalah satu kesatuan yang saling mendukung dan berkaitan.
Dengan terbitnya majalah Zenith edisi ke XVI ini, Tim Redaksi mengharapkan dapat menjadi rujukan dan wawasan bagi para pembaca untuk memahami dan melestarikan Ilmu Falak di Indonesia. Tak lupa ucapan terimakasih tersampaikan kepada segep kru majalah Zenith yang telah berupaya dan berusaha untuk menerbitkan majalah ini. Tidak hanya itu, ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada para tokoh dan segenap pembaca yang berkenan mengirimkan tulisan dan karyanya kepada kru majalah Zenith. Tentu kami menyadari majalah ini masih jauh dari kata baik, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat kami butuhkan guna perbaikan untuk majalah edisi selanjutnya. Selamat membaca…
Pada hari Sabtu, 16 Mei 2026, bertempat di Pendopo Kwarcab Kota Semarang, telah dilaksanakan kegiatan launching Majalah Zenith dan buku yang diselenggarakan oleh Divisi Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo Semarang. Kegiatan ini menjadi momen penting sebagai hasil dari proses panjang penyusunan dan produksi karya jurnalistik oleh kru Majalah Zenith.
Acara diawali dengan pembukaan yang di dalamnya terdapat rangkaian sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh Kepala Departemen Jurnalistik, Muhamad Mahmud Sidik. Dalam sambutannya, ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh kru Majalah Zenith yang telah berkontribusi dari awal hingga akhirnya majalah dapat diterbitkan dan diluncurkan tepat waktu.
Sambutan kedua disampaikan oleh Ketua Umum CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, Asyraf Zofir Wafa. Ia memberikan apresiasi kepada kru Majalah Zenith dan Divisi Jurnalistik yang telah mengupayakan terbitnya majalah ini, serta berharap karya yang dihasilkan dapat terus berkembang dan memberi manfaat.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan prosesi launching yang ditandai secara simbolis melalui pemotongan tumpeng oleh Ketua Umum CSSMoRA UIN Walisongo Semarang. Momen ini menjadi tanda resmi diluncurkannya Majalah Zenith dan buku kepada publik.
Selanjutnya, diumumkan penghargaan Best Writer of the Year yang diberikan kepada dua penulis terbaik, yaitu Arifin Faturohman (anggota CSSMoRA angkatan 2025) dan Zahwa Kamila (anggota angkatan 2024). Penilaian didasarkan pada kontribusi mereka dalam pengiriman tulisan ke web CSSMoRA serta konsistensi sebagai peraih Best Writer bulanan.
Setelah rangkaian acara formal selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pentas seni dari kru Majalah Zenith. Penampilan dimulai dengan pembacaan puisi oleh Irfan dan Arifin, kemudian dilanjutkan dengan story telling oleh Saja. Selanjutnya, puisi berantai dibawakan oleh Zainudin, Surur, Alam, Tamam, dan Laode. Rangkaian pentas seni ditutup dengan penampilan menyanyi oleh Farida dan Tamam.
Sebagai penutup, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah berupa makan siang bersama yang diikuti oleh seluruh peserta. Suasana kegiatan berlangsung meriah dan penuh kebersamaan, didukung oleh antusiasme seluruh pihak yang terlibat.
Dalam perjalanan Bandung-Kadungora, menuju rumah kawan bernama Apci, saya ditemani seorang kawan perjalanan yang menolak bicara. Ialah Rapijali. Saya temukan waktu main ke Gramedia Merdeka Bandung. Sudah lama agaknya nama judul novel ini bertengger dalam sejumlah pilihan cerita yang ingin saya nikmati, namun belum jua dengan sangat serius saya tanggapi itu keinginan hati. Sehingga pada tanggal 29 Desember di akhir tahun 2025, tepatnya di hari senin, saya mulai memasuki semesta cerita yang dibangun Dee.
Dalam beberapa traveling acap-kali saya di temani oleh kawan bisu bernama buku. Perjalanan dari Bandung ke Kadungora buat tandang ke rumah Apci, bermaksud transit untuk melanjutkan rekreasi di Gunung Sagara. Ketika istirahat di rumah Apci Tatkala kawa-kawan memiringkan hape, lalu ngumpat-ngumpat, lalu mengernyit dahi dan berstrategi, itulah saatnya saya menyesap kopi mix suguhan Apci, sembari melanjutkan Hanca cerita Rapijali, pun dengan TWS yang menempel di pintu telinga— sayup merdu terdengar Kind of Blue nya Miles davis.
Ialah musik. Dee menceritakan kisah seorang gadis desa bernama Ping. Ia tumbuh dan kembang bersama seorang Kakek yang merupakan pemusik Rock n roll. Hidup di desa Cijulang, daerah pesisir Batu karas, Pangandaran. Bagi Ping semua bunyian yang mengalunkan perasaan adalah musik, termasuk ketika ia bersila di atas batu karang di tepi pantai— memejamkan mata, lalu mendengar ombak menghentak, angin mendesir, burung-burung bercericit.
Ping tidak pernah mengenyam sekolah musik atau belajar musik secara formil, rumahnya adalah studio rekaman yang disulap Kakek sebab Kakeknya punya band bernama D’Brehoh. Alat musik yang cukup lengkap, menjadi ruang kreatifitas bagi Ping. Uniknya dan mengejutkannya dan baru terungkap waktu sudah agak larut kedalam ceritanya, Ping adalah salah seorang yang memiliki kemampuan perfect pitch yaitu kemampuan mengenali nada musik tertentu (Do, Re, Mi, dll) hanya dari mendengar suara, tanpa bantuan alat atau nada pembanding. Contohnya dengar klakson, pintu berderit, atau suara orang bicara langsung tahu: “oh ini nadanya F♯”. Diperkirakan hanya 1 dari 10.000 orang yang punya kemampuan ini, Lho! Lalu, bagaimanakah perfect pitch ini menghantarkan Ping menuju simpul pencariannya.
Kakeknya Bernama Yuda Alexander meskipun sudah usia senja, tapi keren dan ganteng (Rock n roll style) membikin ia terasa sangat bohemian. Ping punya sahabat Bernama Oding, sudah lengket Bersama semenjak bayi, sehingga orang menjuluki mereka Poding (Ping dan Oding). Oding seorang atlet professional surf. Ia sudah suntuk mengikuti berbagai macam event internasional surfing. Ping semenjak kecil tidak sempat mendapatkan tangan-tangan kasih-sayang Ibu Bapak. Hanya kasih sayang kakeknya yang tak terbilang sebagai satu-satunya penyangga sentuhan Pendidikan cintanya itu.
Pada suatu hari di Pangandaran itu mereka itu Ping dan Kakeknya memancing di Sungai Cijulang, bertepatan Ketika Tambak Barramundil jebol membikin ikannya pada kabur sehingga warga lokal berburu-buru menangkap ikan di aliran Sungai cijulang. Ketika mancing itu, mereka berbincang perihal yang jarang: Kelanjutan sekolah Ping. Kakeknya sudah tahu semenjak awal Ping amat terpikat dan ingin menekuni musik. Di sekolah, Ping terbilang menjadi siswi teladan yang namanya sering bertengger di urutan papan atas kejuaraan kelas. Pun beberapakali turut serta dalam berbagai olimpiade sains di luar sekolah, tapi itu karena tuntutan Pendidikan dan keadaannya yang notabene bukan orang mampu, ikut lomba mesti di paksa-paksa oleh ibu guru, namun musik adalah kegiatan yang tulus ia berikan; waktu, tenaga, dan perasaannya. Dalam percakapan itu, Ping akan sekolah musik di Jakarta. Namun, Ping enggan. Ia merasa tidak perlu jauh-jauh ke luar kota. Baginya desa Cijulang dan Batu karas sudah cukup memberikan segalanya. Kebahagiaan dan senyuman. Kasih-sayang dan keluarga.
Ping amat terguncang oleh suatu peristiwa yang tidak bisa dibeberkan di sini. Terlalu banyak spoiler. Sudah banyak yang saya ceritakan. Singkat cerita Ping tiba di Kota Jakarta. Demikian mungkin yang dapat saya sampaikan mengenai konteks latar belakang dan serpihan kecil kisah Ping. Lalu, Kenapa Ping mesti ke Kota Jakarta? Hubungan privat dan emosional Ping dan Oding, culture shock yang di alami Ping Ketika pindah dari tanah priangan yang kental nuansa kedaerahan ke Ibukota tempat budaya luar singgah dan menetap, serta peremajaan Ping sebagai seseorang yang menaruh minat pada suatu bidang, pada suatu hal, dan jatuh- bangun memeluk erat impiannya itu. Silakan sodara baca jika sedang senggang ya. Ceritanya ternyata lebih kompleks. Bukan hanya menyoal persoalan ABG (Anak Baru Gede).
Sejalan dengan judul pertama trilogi Rapijali 1: Mencari, saya sedang dalam proses peremajaan itu. Usia mau dua puluh, usia yang pas untuk meromantisasi hidup. Kerap mencoba melihat tempat baru, bertemu orang baru, dan menyimpulkan apa sebetulnya yang sedang saya cari dan rasakan. Dalam hal ini adakah gemuruh pencarian itu, Apakah betul-betul bermaksud dan bertujuan pada satu Alamat. Sejauh mana pengembaraan, sejalan dengan peristiwa yang tidak disangka-sangka, demikian novel adalah serpihan kecil kisah manusiawi dengan segala getir dan bahagianya. Hidup berkesinambungan untuk terus berjalan dan menerimanya dengan tulus – lapang dada. Dee adalah seniman yang baik yang berhasil melukis polemik dan dialektika sesosok gadis yang diliputi tragedi— disertai keteguhan sikap seseorang yang mengetahui kemana ia akan berjalan.
Bukan sekedar novel remaja, yang Nampak remeh-temeh, haha-hihi, dipenuhi kesenangan anak muda, Rapijali 1: Mencari merupakan fragmen kecil mengenai realitas kehidupan pemuda-pemudi kita yang mungkin kelimpungan menentukan pijakan. Mengenal beragam kesenangan melalui hobi, keinginan dalam menekuninya, dan derasnya arus informasi dizaman ini. Lalu skenario Nasib amat misteri, entah siapa yang menentukan, apakah kaki ringkih ini yang terus berusaha berjalan atau sebenarnya berjalan di tempat, atau jalan-jalan ghaib yang membawa kita menuju penyimpulan yang mantap. Bagaimanakah masa depan itu? Entahlah.
Gaya Bahasa yang dekat dan ramah. Seperti biasanya, Dee selalu mampu membikin pembaca hanyut ke dalam semesta cerita. Ringan dan mudah dipahami, melalui ragam kata— Dee menggambar warna-warni kehidupan sosial daerah pesisir Jawa barat, seolah mata mampu saksikan bagaimana kearifan lokal daerah pesisir yang akrab dengan gemuruh ombak itu— beradu-padu melalui bunyi pop culture yaitu musik di rumah Yuda aleksander sang vokalis D’Brehoh. Kemudian tingkah-laku seorang gadis desa yang tiba-tiba sekolah di tempat elit, di metropolitan Bernama Jakarta. Agak canggung karena perbedaan budaya dan suasana. Lalu, di sanalah: usia tanggung menggebu-gebu; kehidupan sosial remaja yang diburu; keinginan, mimpi, asmara, dan labil.
Sejauh ini adalah sikap apresiatif dan amat subjektif dari saya pribadi. Sebagai kekaguman melihat seniman sepandai Dee melukis situasi, suasana, perasaan, karakterisasi, realitas sosial dan kritik sosial yang subtil ia sampaikan. Namun, bukan tanpa celah. Demikian, sebagai penggemar yang jujur, saya mesti berterus-terang. Ada beberapa hal yang mengganjal. Bagian awal di Cijulang terasa begitu kaya — Dee melukis denyut kehidupan pesisir Pangandaran dengan sangat hidup, seolah kita bisa mencium asin angin laut dan mendengar gemuruh ombak Batu Karas itu sendiri.
Namun begitu Ping mengangkat koper dan tiba di Jakarta, cerita seolah kehilangan napasnya sejenak — tergesa, kurang diberi ruang untuk menyaksikan Jakarta dan hiruk-pikuk kota besar itu. Lalu ada Oding — sahabat yang sudah lengket semenjak bayi, yang dijuluki separuh nama oleh orang-orang sekitar. Oding terasa hanya hadir sebagai penanda, bukan sebagai manusia yang utuh dengan segala lapisan perasaannya yang kompleks. Dan barangkali itulah konsekuensi yang harus diterima dengan lapang dada ketika sebuah cerita dibagi menjadi tiga: ada yang sengaja digantung, ada yang belum tuntas, ada pertanyaan yang memang tidak akan dijawab di sini — melainkan di halaman-halaman berikutnya yang belum saya buka.
Bagi saya, ini adalah permulaan yang menarik buat menyelam lebih dalam tentang musik sebagai sarana penerjemah rasa. Dalam rasa, kata bisa bersuara. Dalam nada, lirik menyampaikan kita. Dalam cerita ini, musik adalah sarana Ping dan mungkin umumnya remaja mengenal dan mencari kedalaman dirinya. Sehingga menuju tahun baru 2026, tepatnya pukul 22.55 di hari Rabu, 31 Desember 2025 saya menyelesaikan Rapijali 1: Mencari. Di rumah Apci, di Kadungora. Saya tutup buku itu ditemani lagunya Nadin: Rayuan Perempuan Gila. Dengan perasaan yang lebih utuh, dan pengembaraan yang belum jua berlabuh. Akankah saya mampu menjalani kisah pencarian saya sendiri. Entahlah.