MENGIDAM

Karya: Cinta Maulida Azbi (Juara 2 Lomba Cerpen dalam rangka Dies Natalis Ke-14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

Ibu hamil kalau mengidam, sukanya makan mangga muda, rujak, keripik ubi, rambutan, kadang-kadang bakso Pak Kumis. Namun, istriku lain cerita. Bila mencuci baju, dia mengidam makan deterjen. Bila nampak asbak rokok, dia mengidam makan abu rokok. Bila berkebun, dia mengidam makan tanah. Kata orang, istriku sudah kena kutuk. Itu karena dia memilih putus cinta dengan Imam, mantan pacarnya dan memutuskan kawin denganku gara-gara aku yang melamar lebih dulu ke orangtuanya. Namun, ada pula yang menduga, istriku sudah kena guna-guna yang dikirim si Imam karena masih patah hati dan tak terima pernikahan kami bahagia. 

Aku stres ampun-ampunan. Memikirkan cemana istriku bisa sembuh lagi. Penyakitnya apa aku tak tahu. Entah mau berobat kemana. Kalau berobat ke dukun, kata alim ulama nanti syirik, dosa besar, tak diampuni Tuhan, masuk neraka. Berobat ke Pak Mantri, beliau pun hanya geleng-geleng kepala, tak tahu jenis penyakit apa yang diderita istriku ini. Kalau kata orang-orang alim, baiknya istriku dirukiah saja, tetapi istriku tak siap menjalaninya.

Walaupun aku tak suka percaya pada hal-hal mistis, seperti guna-guna. Namun, karena cinta dan sayang pada istriku yang cantik, aku memilih jalan terakhir dengan percaya bahwa itu guna-guna dari Imam, mantan pacarnya. Aku berniat untuk meminta ampun pada Imam agar dia mencabut guna-guna itu. Namun, begitu datang ke rumahnya, rupanya rumah itu kosong. Kata tetangga-tetangganya, Imam sudah lama pindah.

Berminggu-minggu aku mencari tahu ke mana si Imam itu pindah. Bertanya dari mulut ke mulut. Hingga dapatlah informasi alamat barunya dari mamak si Imam. Untung saja, mamaknya mau berbaik hati mau memberikan alamat itu, karena kubilang aku sahabat lamanya. Setelah itu, langsung aku bongkar celengan, mengambil duit untuk memesan tiket kereta api ke Binjai, tempat si Imam bertapak sekarang.

Sempat salah alamat, tanya sana-sini, setelah lima jam baru aku dapat rumah si Imam. Saat mau masuk ke rumahnya, aku disambut oleh seorang wanita berbadan gemuk memakai jilbab biru, kupikir salah alamat lagi, tetapi saat kubilang, “Mau ketemu sama Pak Imam.” Dia mempersilakanku masuk dan menyuruhku menunggu karena katanya Imam masih bekerja, sebentar lagi mau pulang.

Begitu kulihat Imam pulang dan masuk ke rumahnya, barulah aku bersujud meminta ampun di depannya. Memohon-mohon meminta belas kasihan. Imam pun terheran-heran karena ada pria rambut kusut, bau keringat, penampilan acak-acakan macam gembel tiba-tiba datang entah dari mana memohon-mohon minta ampun hingga terucap kalimat dari bibirnya, “Kau ini kenapa?”

Akhirnya aku menjelaskan semuanya, kronologi-kronologi hingga istriku bisa mengidam yang aneh-aneh. Di akhir kalimat kuucapkan, “Tolonglah kau cabut guna-guna itu.”

  Imam tertawa terbahak-bahak mendengarnya sampai air ludahnya muncrat-muncrat ke wajahku. Kemudian di sela tawanya dia berkata, “Kau ini lucu. Lucu kau ni.”

Kini aku pula yang terheran-heran, orang kena musibah, istri kena penyakit aneh kenapa pula ditertawakan. Kupikir dia ini macam orang-orang jahat di film-film kartun yang suka ditonton kemanakan-kemanakanku. Tertawa jahat karena tahu korbannya memang benar-benar menderita.

“Begini, biar kujelaskan dulu. Kau salah paham. Aku tidak diputuskan oleh istrimu, tetapi aku yang memutuskannya. Jadi, untuk apa aku patah hati dan memasang guna-guna untuknya. Aku pun tak pernah memasangkan guna-guna ke orang. Haram. Dosa besar,” kata Imam sambil menyeruput kopi hangat yang baru saja diantarkan oleh wanita jilbab biru berbadan gemuk tadi.

-***-

Di tempat lain, malam dengan angin yang terasa sejuk. Tanah masih lembab dan setengahnya terkena genangan air. Daun-daun dari pohon mangga menampung butiran-butiran air. Kodok-kodok Bangkong bersuara kung kong kung kong masih tak puas dengan hujan yang turun sore tadi, berdoa hujan hendaknya datang lagi.

Seorang wanita memakai gaun pendek sambil mengatup jaketnya dengan erat pada tubuh yang perutnya mulai membuncit berdiri tak jauh dari pohon mangga. Tempat itu sepi dan cahaya hanya remang-remang yang didapat dari satu lampu jalan yang masih menyala. Tak lama kemudian, seorang pria datang dari kejauhan. Berlari untuk sampai ke tempat wanita itu berdiri.

“Maaf aku baru bisa datang sekarang. Kudengar kamu kurang sehat, ya?” ucap si pria tersebut kemudian si wanita membalasnya dengan anggukan lalu menyampaikan semua keluh kesahnya.

“Orang-orang bilang aku aneh, penyakitan, dan kena kutuk, karena suka ngidam yang aneh-aneh.”

“Tenang sayang, kamu jangan terlalu stres ya, orang-orang itu salah. Kamu gak kena kutuk atau semacamnya, kamu cuma kena gangguan pica*. Kamu ikut anjuranku ya, sayang.”

Wanita itu hanya mengangguk kemudian sang pria memeluk tubuh wanita tersbut.

“Sabar ya, Sayang. Setelah sumpah dokter, aku bakal menikahi kamu dan membawamu pergi dari suamimu itu.”

Gak apa-apa, Sayang. Aku akan menunggu.”  

-***-

*Gangguan Pica : Jenis gangguan kesehatan makanan berupa keinginan dan nafsu makan terhadap bukan makanan atau makanan yang tidak bergizi. Dapat terjadi pada anak-anak dan ibu hamil.

 

Tanjungbalai, 29 April 2021

Share this post

Tinggalkan Balasan