Mengenal Astronomi Klasik Versi Kitab Khulashotul Wafiyyah

Siapa sangka kalau pengetahuan kita selama ini mengenai konsep heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya) ternyata memiliki sejarah panjang nan kelam. Dalam sejarah tercatat, perkembangan dari keyakinan geosentris menuju heliosentris nyatanya tidak semulus seperti yang kita bayangkan. Sebab, peralihan keyakinan tersebut melibatkan banyak pihak, mulai dari otoritas agama (gereja), masyarakat, hingga ilmuwan.

Pemahaman mengenai geosentris (bumi sebagai pusat semesta) ternyata juga sempat ilmuwan muslim anut pada masa itu. Di antara tokoh-tokoh terkenal yang menganut paham geosentris adalah Al-Khawarizmi, penemu angka nol dan perhitungan aljabar; Abi Yusuf Ya’qub Al-Kindi; Muhammad bin Jabir bin Sinan atau Al-Battani; serta Al-Farabi.

Di kitab ini kita akan diajak berkenalan dengan astronomi klasik oleh KH. Zubair Umar dan juga bagaimana cara menghitung arah kiblat, waktu salat hingga awal bulan.

Namun sebelum itu semua, terlebih dahulu KH. Zubair memulai dengan mengenalkan karakteristik dan hukum mempelajari  ilmu tersebut. Nama ilmu ini adalah ilmu hisab dan ru’yah, yang juga dikenal dengan ilmu falak dan miqat.

Karakteristik dan Hukum Mempelajari Ilmu Falak.

Ilmu Falak  merupakan salah satu cabang ilmu astronomi (al-Hay’ah). Dalam tradisi Arab, ilmu yang disebut “astronomi” oleh bangsa Yunani terbagi menjadi tiga cabang: washfi, thabi’i, dan amali.

  1. Ilmu astronomi (al-Washfi):
    Ilmu yang membahas keadaan benda-benda langit, seperti gerakan, titik terbit, cara pergerakan, ketinggian, penurunan, durasi siang dan malam, bulan, tahun, hilal, gerhana, dan sebagainya.
  2. Ilmu astronomi (al-Thabi’i):
    Ilmu yang mempelajari sifat benda-benda langit dari segi pengaruhnya terhadap peristiwa tertentu, sebab-musababnya, dan hukum-hukum yang terkait dengannya. Ilmu ini dikenal juga dengan nama ilmu astrologi atau ilmu peramalan (al-Ahkam). Dan ilmu astronomi jenis ini yang diharamkan dalam Islam.
  3. Ilmu astronomi (al-Amali):
    Ilmu yang mengajarkan cara mencapai pemahaman tentang kedua cabang ilmu sebelumnya dengan menggunakan alat seperti bola langit (astrolab), kuadran, tabel astronomi, logaritma, dan sebagainya. Ilmu inilah yang menjadi fokus dalam kitab ini.

Menurut KH. Zubair Umar,. Mempelajari ilmu astronomi dihukumi sebagai fardhu kifayah. Namun, dalam kondisi tertentu, ilmu ini bisa menjadi fardhu ‘ain. Misalnya, jika seseorang hendak bepergian ke daerah yang jauh dari ahli arah kiblat, maka memahami dalil-dalil kiblat menjadi wajib baginya.

KH. Zubair Umar mengutip dari pendapat Imam Ibnu Hajar dalam Fath al-Jawad yang menyatakan:
“Mempelajari dalil-dalil arah kiblat saat hendak bepergian ke tempat yang minim ahli penunjuk arah kiblat adalah fardhu ‘ain. Sedangkan di daerah yang banyak ahli penunjuk kiblat, hal ini menjadi fardhu kifayah.”

Ilmuwan Muslim dan Paham Geosentris

Dalam kitab Khulashotul Wafiyyah disebutkan bahwa paham geosentris pertama kali dipopulerkan oleh Ptolemaeus. Ia mengemukakan bahwa bumi adalah pusat alam semesta, dan seluruh benda langit bergerak mengelilinginya. Pendapat ini diterima luas oleh banyak kalangan pada masa itu, termasuk ilmuwan Muslim.

Namun, Pythagoras dari Italia yang hidup setelah masa Ptolemaeus memiliki pandangan berbeda. Ia berpendapat bahwa bintang-bintang dan benda langit lainnya bergerak dalam orbit masing-masing, dengan matahari sebagai pusat alam semesta.

Pandangan ini belum terkenal pada zamannya hingga munculnya tokoh-tokoh ilmuwan besar lainnya yang mendukung pandangan heliosentris ini.
Ilmuwan Muslim yang hidup di masa kejayaan peradaban Islam juga turut menganut pandangan geosentris yang diperkenalkan oleh Ptolemaeus. Di antara tokoh-tokoh terkenal yang menganut paham ini adalah:

  1. Al-Khawarizmi, penemu angka nol dan perhitungan aljabar, yang juga mengembangkan tabel-tabel astronomi berdasarkan model geosentris.
  2. Abi Yusuf Ya’qub Al-Kindi, filsuf besar yang menulis banyak karya tentang astronomi dan kosmologi.
  3. Al-Battani (Muhammad bin Jabir bin Sinan), yang menyempurnakan perhitungan gerak benda langit dan menghasilkan tabel astronomi akurat, bahkan menjadi rujukan ilmuwan Barat.
  4. Al-Farabi, filsuf dan ilmuwan Muslim yang membahas astronomi dalam konteks filsafat alam.

Para ilmuwan ini tidak hanya menerima pandangan Ptolemaeus, tetapi juga mengembangkannya melalui observasi dan perhitungan yang lebih rinci. Hasil karya mereka, seperti tabel astronomi dan metode perhitungan gerhana kemudian menjadi rujukan penting bagi peradaban Islam dan Eropa pada masa itu.

Kisah Copernicus dan Munculnya Paham Heliosentris

Setelah paham geosentris, kemudian muncullah seorang pria bernama Copernicus pada tahun 1530 Masehi. Ia mahir dalam ilmu matematika dan mengabdikan dirinya pada ilmu astronomi, pengamatan (rasyad), dan hikmah.

Selain itu, terdapat pula seorang pria dari Denmark bernama Tycho Brahe yang hidup pada tahun 1582 M, seorang ilmuwan lain dari Jerman bernama Kepler pada tahun 1645 M, dan seorang ilmuwan dari Italia bernama Galileo pada tahun 1649 M.

Mereka semua kembali kepada pandangan yang dianut oleh Pythagoras, yang berpendapat bahwa matahari adalah pusat dunia, sementara bumi dan benda-benda langit lainnya berputar mengelilinginya. Urutannya adalah Merkurius, Venus, kemudian bumi (yang diikuti oleh bulan), lalu Mars, Jupiter, dan Saturnus.

Mereka mendukung pandangan ini dengan menerapkannya pada kaidah-kaidah ilmu matematika dan menjadikan ilmu astronomi berdasarkan fondasi yang nyata. Ketika Copernicus mempublikasikan pendapatnya dalam sebuah kitab berjudul De Revolutionibus Orbium Coelestium (Pergerakan Benda-Benda Langit), ia dihadapkan pada sidang oleh Dewan Gereja Katolik di Roma.

Gereja memvonisnya sebagai sesat dan ateis. Mereka melarang penyebaran kitabnya dan mencegah orang untuk membacanya. Bahkan, jika memungkinkan, mereka akan membakar Copernicus bersama kitabnya. Meski demikian, kitab tersebut malah menjadi terkenal, dan pandangan Copernicus tersebar hingga akhirnya dikenal secara luas.

Perkembangan Ilmu Astronomi dan Penemuan Newton

Kemudian, mendekati abad ke-18, Isaac Newton menemukan prinsip gravitasi universal yang mengatur semua gerakan benda-benda langit. Ia menjelaskan dan menetapkan hukum-hukum tersebut secara rinci. Penemuan Newton ini kemudian diperkuat oleh ilmuwan Prancis bernama Laplace, yang memperkuat dan menyempurnakan teori-teori gravitasi melalui perhitungan matematis yang akurat.

Lalu, orang-orang mulai memperhatikan ilmu astronomi dengan lebih serius berdasarkan metode baru ini. Cara ini menjadi cara yang dikenal luas di kawasan Eropa dan disebut sebagai “sistem astronomi modern”, meskipun pada hakikatnya sistem ini adalah lanjutan dari apa yang sebelumnya dikenal sebagai “sistem lama”.

Tidak ada perbedaan besar antara sistem lama dan baru. Tentang gagasan bahwa bintang-bintang tetap (seperti rasi bintang dan bintang lainnya) adalah benda yang bersinar dengan cahaya sendiri.

Namun, sistem lama menyatakan bahwa bintang-bintang tetap berada di langit ke-8, sedangkan sistem baru menyatakan bahwa mereka tersebar di berbagai langit yang berjauhan satu sama lain.

Menurut sistem baru, bintang-bintang itu adalah matahari seperti matahari kita, dengan cahaya yang bersumber dari dirinya sendiri, dan sebagian bahkan lebih besar dari matahari kita.

Pada akhirnya, uraian panjang tersebut hanyalah sekelumit sapaan yang KH. Zubair jelaskan dalam mukaddimah. Di dalam kitabnya masih ada berbagai ilmu dan tata cara perhitungan tentang ilmu falak mulai dari urfi hingga hakiki.

Loading

URGENSI MEMPELAJARI ILMU FALAK

Ilmu falak? ya ilmu falak, mungkin diantara kita bertanya-bertanya ilmu apa itu kok baru tau ada ilmu yang begituan, kok seram amat namanya pasti sulit ni……begitulah kira-kira pandangan ketika seseorang mendengar nama ilmu falak pertama kalinya, ya memang nama ilmu falak ini tidak begitu familiar ditelinga kita wajar saja pandangan orang demikian terhadap ilmu falak ini. Lalu timbul pertanyaan dibenak kita apa sih ilmu falak itu sebenarnya? kenapa orang yang mau mengkaji ilmu falak ini begitu sedikit? Apa betul ilmu ini sangat sulit untuk dikuasai sehingga orang yang ahli dalam bidang ini pun menjadi langkah?.

Ilmu yang cenderung dianggap sulit oleh orang-orang, sehingga yang menguasainya pun sangat sedikit sehingga mengakibatkan  ilmu ini menjadi langkah, bagaimana tidak karena ilmu falak ini termasuk rumpun ilmu matematik yang menjadi momok tersendiri bagi para penuntut ilmu, padahal sejatinya ilmu ini sangat dibutuhkan sekali dalam kehidupan sehari-hari terlebih lagi dalam hal ibadah karena pada dasarnya pokok pembahasan ilmu falak ini berkaitan erat dengan penentuan arah kiblat, penentuan awal waktu sholat, penentuan awal bulan, dan juga penentuan gerhana baik itu gerhana matahari maupun gerhana bulan,

Dengan mempelajari dan menguasai ilmu ini, kita dapat mengetahui kapan seharusnya kita melaksanakan sholat, kita juga dapat mengetahui arah kiblat yang benar sehingga sholat kita menjadi sah, karena menghadap kiblat merupakan salah satu syarat dari sahnya sholat, kita juga bisa mengetahui kapan seharusnya kita memulai puasa dan kapan seharusnya kita mengakhiri puasa sehingga tidak ada lagi perdebatan yang terjadi setiap tahunnya, kita juga bisa mengetahui kapan waktunya kita melaksanakan sholat sunnah gerhana dan masih banyak lagi.

Walaupun jurusan ini terkesan sangat spesifik, jangan takut akan peluang kerja untuk masa yang akan datang, disini kita tidak hanya terbatas belajar astronomi ataupun benda langit saja, tetapi kita nantinya juga bakal mengkaji hukum islam, artinya peluang kerja dari jurusan ini tidak terbatas disatu bidang saja. Terlebih lagi lulusan ilmu falak di Indonesia terbilang masih langkah, hal ini disebabkan jurusan tersebut hanya tersedia di beberapa kampus saja, oleh karenanya kita akan punya keahlian spesifik sebagai modal untuk bersaing didunia kerja.

Muhammad Muhaimin Thohri

Loading

Kegiatan Pengamatan Rukyatul Hilal 1 Ramadhan 2024: Kolaborasi CSSMoRA UIN Walisongo Semarang dan Kemenag Kabupaten Kendal dalam Penentuan Awal Puasa

kendal2
kendal1
kendal3
kendal4
kendal5
previous arrow
next arrow


Pada hari Ahad, tanggal 10 Maret 2024 CSSMoRA UIN Walisongo Semarang dan Kemenag Kabupaten Kendal mengadakan kegiatan pengamatan Rukyatul Hilal untuk penentuan 1 Ramadhan (awal puasa ) yang berada di pelabuhan Kendal, Berdasarkan pengamatan anggota rukyah CSSMoRA UIN Walisongo Semarang dan beberapa pelaksana rukyat hilal tidak mengidentifikasi keterlihatan hilal, dikarenakan cuaca sangat mendung. Hal tersebut juga didukung oleh data hisab dari tim hisab CSSMoRA yang mengatakan bahwa tinggi hilal masih di bawah standar kriteria visibilitas hilal MABIMS, yang mana hilal masih berada di ketinggian 1 derajat serta lamanya hilal diatas ufuk hanya berkisar 3 menit 22 detik, kemungkinan juga hilal sangat susah dilihat oleh pengamat.

CSSMoRA UIN Walisongo Semarang mendelegasikan anggotanya ke beberapa titik rukyah. Salah satunya berlokasi di Kendal yang berjumlah 22 mahasiswa dari Prodi Ilmu Falak, Prodi Teknologi Informasi. HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) prodi Ilmu Falak juga turut hadir dalam kegiatan ini. Perlu di ketahui bahwasanya seluruh anggota CSSMoRA UIN Walisongo telah dibagi dan di sebarkan untuk melaksanakan rukyatul hilal di berbagai daerah jawa tengah yang telah ditetapkan menjadi objek titik pelaksanaan Rukyatul hilal penentuan 1 Ramadhan 2024 diantaranya yaitu Pantai Kartini Jepara , Observatorium UIN Walisongo Semarang, Pantai Mangunharjo Mangkang dan Pelabuhan Kendal.

Pengamatan hilal di Pelabuhan Kendal sangat ramai pengunjungnya (peminatnya), hal ini dapat dilihat dari banyaknya pengamat yang hadir. kegiatan ini juga dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Kendal, Ir Sugiono, M.T., Kepala Kantor Kendal, Dr. Mahrus, Pengurus MUI Kendal, Ketua PCNU Kendal, Dr. h.Mukh. Mustakim, S.Ag., M.S.I., Ketua LDII Kabupaten Kendal HM Santoso Abdul Manan, S.E, dan Para pemimpin organisasi keagamaan lainnya, tim LFNU ( Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama’), Tim Badan Rukyah Kabupaten Kendal, Ulil Abshor, S.H.,Sy., M.h., Dosen UIN Walisongo Semarang , dan para pemimpin pondok pesantren Kendal .

Esensi dari kegiatan ini selain untuk melaksanakan hisab rukyah bulan Ramadhan sesuai dengan rencana kerja tahunan CSSMoRA UIN Walisongo, juga mengajak anggota CSSMoRA untuk aktif terlibat dalam melaksanakan rukyatul hilal di lapangan. Muhaimin Thohri, sebagai ketua pelaksana kegiatan rukyah di Pelabuhan Kendal, mengungkapkan bahwa

“kegiatan ini bukan hanya bagian dari agenda pengurus, tetapi juga melibatkan pembentukan beberapa tim rukyah yang akan bergerak ke lapangan untuk melakukan rukyat dan mengajak anggota untuk berpartisipasi langsung.”

Selain itu, ia berharap kegiatan ini dapat memberikan pengalaman dan pemahaman yang lebih mendalam kepada para peserta, sebagai kesempatan untuk belajar, mengamati, dan melakukan penelitian tentang hilal bersama CSSMoRA UIN Walisongo. Dalam wawancara setelah pelaksanaan rukyat, Muhaimin Thohri menambahkan bahwa harapannya adalah agar kegiatan ini dapat memberikan pengalaman dan wawasan baru bagi semua peserta.

Oleh: Muhammad Ais Nur Rizqi

Loading

BENTUK PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT, CSSMoRA UIN WALISONGO ADAKAN FALAK ROADSHOW

Roadshow falak
roadshowfalak2
Roadshowfalak3
previous arrow
next arrow

Cssmorawalisongo – Departemen Pemberdayaan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M) CSSMoRA UIN Walisongo periode 2023-2024, melaksanakan Falak Roadshow di Pondok Pesantren Assalam Kudus pada Sabtu (11/11/2023). Acara tersebut bertemakan “Langitkan Ilmu, Wujudkan Karya, Menuju Generasi Emas Indonesia” bertujuan untuk mengenalkan keilmuan Falak kepada masyarakat.
Kegiatan ini diikuti oleh 40 peserta yang terdiri dari santriwan dan santriwati kelas XII Pondok Pesantren Assalam, dengan tujuan pembekalan dan pemantapan perihal keilmuan Falak sebelum mereka lulus. Acara tersebut dimulai dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Quran, menyanyikan lagu Indonesia Raya serta Mars CSSMoRA dan sambutan-sambutan, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh beberapa narasumber.
Materi pertama membahas mengenai pengenalan Ilmu Falak berkenaan dengan pengertian falak dan astronomi, agar peserta dapat memahami dasar-dasar Ilmu Falak. yang dismpaikan langsung oleh koordinator P3M, yaitu Zaki Al-aziz.
Materi kedua disampaikan oleh Ilham Awaludin, anggota CSSMoRA UIN Walisongo, dengan pembahasan perhitungan waktu salat. Menurutnya, perhitungan waktu salat sangat penting untuk diketahui, karena hal tersebut berkaitan langsung dengan ibadah.
Selanjutnya, pada materi ketiga membahas praktek pengukuran arah kiblat yang dijelaskan oleh Daviq Nuruzzuhal, anggota CSSMoRA UIN Walisongo. Pada praktek tersebut, dijelaskan tata cara mengukur kiblat dengan empat alat, yaitu Teodolit, Istiwaa’in, Mizwala dan kiblat Tracker.
Acara tersebut diakhiri dengan kegiatan pengamatan benda langit sekaligus pemasangan teropong yang disampaikan oleh Munawir, anggota CSSMoRA UIN Walisongo. Namun, dikarenakan kondisi cuaca yang kurang mendukung membuat pengamatan langit menjadi kurang kondusif.
“Sangat disayangkan, pada malam ini cuacanya tidak begitu mendukung, sehingga kita kurang maksimal saat mengamati benda-benda langit” ujar Munawir.
Namun, kondisi tersebut tidak menurunkan semangat mereka untuk tetap melaksanakan pengamatan langit. “Tujuan inti Falak Roadshow yaitu agar Ilmu Falak lebih dikenal oleh khalayak umum, mengingat banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang Ilmu Falak, apapun kondisinya kita harus tetap semangat” ujar Wahyudi Arafah, ketua umum CSSMoRA UIN Walisongo.
Di setiap kesempatan, tentunya ada kebaikan. Teman-teman UIN Walisongo berharap semoga dengan adanya Falak Roadshow ini dapat meningkatkan pengetahuan mengenai Ilmu Falak tidak hanya dikalangan pelajar, tetapi juga masyarakat luas. Dengan demikian, terbentuklah kesadaran bahwa pentingnya pemahaman tentang Ilmu Falak dan pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari.

Loading

FENOMENA RASHDUL KIBLAT, KKN MMK KELOMPOK 22 MENGADAKAN PELATIHAN ARAH KIBLAT

Oleh: Firginita Wirna Mokoginta (Mahasiswa KKN MMK Kelompok 22 UIN Walisongo Semarang)

Getasan – Sabtu, 16 Juli 2022 pukul 15.30 WIB mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Mandiri Misi Khusus (KKN MMK) Kelompok 22 Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang mengadakan pelatihan arah kiblat dalam rangka fenomena Rashdul Kiblat Global. Kegiatan ini diselenggarakan di masjid  Islamic Training Center Dusun Deplongan, Desa Wates, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang yang diikuti oleh remaja masjid Deplongan dan mahasiswa KKN MMK kelompok 22.

Fenomena rashdul kiblat / istiwa ‘azm  merupakan sebuah fenomena dimana matahari berada di titik zenith ka’bah atau tepat berada di atas ka,bah. Fenomena ini menunjukan waktu dimana bayangan benda yang terkena sinar matahari menunjukkan arah kiblat. Pada saat ini, sudut-sudut deklinasi matahari sama dengan nilai koordinat lintang ka’bah yang berada di kota Mekkah. Peristiwa ini terjadi 2 kali dalam setahun, pada bulan Mei dan Juli. Bulan Mei terjadi pada tanggal 27 dan pada pukul 12.18 WAS / 16.18 WIB, dan bulan Juli pada tanggal 15 dan v16 pada pukul 12.27 WAS / 16.27 WIB. Adapun beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengukuran arah kiblat dalam fenomena rasdhul kiblat ialah:’

  1. Tegak lurus, benda patokan harus tegak lurus dengan permukaan bumi atau gunakan bandul.
  2. Rata, Permukaan dasar harus datar dan rata.
  3. Waktu, perhatikan waktu bisa dilihat pada jam BMKG atau https://jam.bmkg.go.id/jam.BMKG

 

Narasumber dalam kegiatan ini yaitu Imroatur Rosyidah, Ani Uswatun Hasanah dan Firginita Wirna Mokoginta. Merupakan anggota kelompok 22 KKN MMK dengan jurusan Ilmu Falak. Pelatihan arah kiblat dibuka dengan materi-materi ringan seputar arah kiblat dan penjelasan pengukuran arah kiblat dalam fenomena rashdul kiblat. Materi selanjutnya diisi langsung dengan praktek penggunaan alat pengukur arah kiblat, disini menggunakan kiblat tracker RHI karya bapak Muthoha Arkanuddin dan mizwalah karya Bapak Hendro Setyanto. kegiatan berjalan dengan baik, para remaja masjid dan mahasiswa KKN MMK sangat antusias dalam mendengarkan dan mencoba menggunakan alat ukur kiblat.

 

Pengukuran arah kiblat dalam fenomena rashdul kiblat ini tentunya menggunakan cahaya matahari, yang akan dilihat arahnya melalui bayangan yang muncul melalui benda tegak lurus, permukaan datar dan waktu yang sesuai dengan yang ditetapkan. Namun, cuacanya mendung dan tidak mendukung untuk melakukan pengukuran arah kiblat dalam fenomena rashdul kiblat, sehingga kami melakukannya di dalam ruangan dengan menjelaskan cara-cara penggunaan alat ukur kiblat dengan bantuan flashlight handphone.

 

 

Pelatihan ini sangat di apresiasi oleh remaja masjid deplongan, Menurut Hasan selaku ketua remaja masjid deplongan  “kami sangat mengapresiasi kegiatan ini, terlebih pengalaman ini menjadi pengalaman pertama kami bagi rekan-rekan remaja masjid. Sangat disayangkan cuaca yang mendung hingga tidak dapat terlihat sinar matahari atau bayangannya, namun kegiatan ini akan menjadi pengalaman yang membekas bagi rekan-rekan remaja masjid”.

 

“Mengenai acara Pelatihan Arah Kiblat yang bertepatan dengan fenomena rasydul kiblat ini sangat penting untuk dilaksanakan. Tujuannya agar masyarakat secara umum dapat mempraktikkan penentuan arah kiblat baik menggunakan alat atau secara sederhana. Kemudian, Remaja Masjid bisa meneruskan dan mengembangkannya di waktu kemudian”. Ujar Sulton selaku koordinator kelompok 22 KKN MMK.

 

 

Loading

FALAK NUSANTARA EDISI SUMATERA – NGOBROL PINTAR #18

CSSMoRA UIN Walisongo Semarang mengadakan rutinan Ngopi (Ngobrol pintar) ke 18, acara tersebut merupakan program kerja dari DHD (Departemen Hubungan Dalam). Adapun tema pada Ngopi kali ini, kami mengangkat tema “Falak Nusantara Edisi Sumatera”. Tema tersebut diambil mengingat betapa pentingnya mempelajari Ilmu Falak Nusantara terutama di daerah khusus Sumatera. Sehingga kita bisa mendapatkan wawasan tentang Falak Nusantara.

Pemateri kali ini merupakan alumni CSSMoRA angkatan 2013, yang berasal dari Sumatera (Jambi) yaitu kak Unggu Suryo Ardi yang tentunya sangat paham dalam ilmu Falak terutama Falak Nusantara di Sumatera, karena beliau juga mengambil jurusan ilmu Falak di Universitas UIN Walisongo.

Kak Unggul juga memberikan closing statement nya yang berupa motivasi-motivasi kepada adek-adeknya supaya tetap semangat dan juga meningkatkan semangat membaca terutama mencari literasi-literasi dalam membaca, karena wawasan itu sangat penting bagi kita semua yang akan menjadi bekal untuk kedepannya. Dan kak Unggul juga memberikan semangat dalam menghadapi setiap masalah. Ketika nanti akan mendapatkan jenjang di semester akhir. Dan mendorong mahasiswa yang terus semangat dalam dunia pendidikan.

Beliau menyampaikan materi Falak Nusantara kepada peserta Ngopi terutama Falak Nusantara di Sumatera mulai dari tokoh-tokoh Falak yang mengembangkan Falak di Sumatera dan teori pengetahuan tentang wawasan Falak tentunya. Hal tersebut juga memberikan banyak pengetahuan kepada peserta dan menambahkan lebih dalam tentang Falak tersebut, dan memberikan wadah supaya bisa terus semangat dalam belajar.

Peserta merasa senang bisa berdiskusi langsung kepada kak Unggul. Karena telah memberikan begitu banyak motivasi tentang membaca belajar dan tidak hanya itu, dalam Ngopi tersebut peserta juga mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan wawasan tentang Falak Nusantara, Terutama Falak Nusantara di Sumatera.

 

-Red Departemen Hubungan Dalam

Loading

MENGUKUR ARAH KIBLAT, APA BISA MENJADI PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT?

Mesjid Nurul Wardani, sebuah tempat ibadah umat muslim yang berlokasikan di desa Wonolopo kecamatan Mijen, tempat ibadah yang di jadikan tempat Diskusi Falak oleh Mahasiswa KKN MIT DR 13 kelompok 28, pada tanggal 11/02/22. Diskusi yang berlangsung membahas apa itu ilmu Falak, sejarahnya, dan objek-objek kajian ilmu Falak (arah kiblat, awal waktu sholat, awal bulan qomariyah, dan Gerhana).

Diskusi kali ini lebih fokus mengkaji tentang arah kiblat, pentingnya arah kiblat, dan kenapa harus menghadap kakbah sebagai kiblat?. Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwasanya ketika beribada khususnya sholat juga diperintah menghadap kiblat dimana itu kekhusyuaan dalam dan membantu seseorang hamba dekat dengan tuhannya karena telah menaati perintahnya, walau hanya sebatas menghadap kiblat (ka’bah).

Dalam diskusi tersebut disampaikan bahwasanya “menurut beberapa ulama jika kita berada di Masjidil Haram maka kira diwajibkan menghadap ke Ka’bahnya langsung, dan  jika berada jauh dari Mekkah maka kita diharuskan menghadap kearah Makkah, dan kemelencengan yang di tolelir oleh sebagian ulama ialah 2-3 derajat, melebihi itu maka diusakan diluruskan”. Cakap Dimas (anggota CSSMoRA angkatan 2018) selaku Pemateri Diskusi Falak yang telah terlaksanaka.

Dalam prakteknya kemarin beberapa masjid di Desa Wonolopo memiliki kemelencengan 8-12 derajat dari arah kiblat, dan disini tim KKN MIT DR ke 13 kelompok 28 melakukan cek akurasi kepada masjid-mesjid sekitar setelah diskusi dilaksanakan, agar sholat yang dilakssanakan dimesjid bisa sesuai dengan anjuran agama.

Hingga akhirnya diskusi berjalan dengan lancar dan diikuti oleh kelompok 28, warga, dan salah satu pengurus masjid yang sekalian menjadi saksi pengukuran arah kiblat, dimana beliau juga dosen di salah satu fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang.

-Red Wahyudi (CSSMoRA UIN Walisongo 2018)

Loading

PENGUKURAN ARAH KIBLAT GEDUNG LABORATORIUM UIN WALISONGO BERSAMA TIM CSSMORA

CSSMoRA (Community Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) UIN Walisongo Bersama Prodi Jurusan Ilmu Falak UIN Walisongo menggelar adanya kegiatan Pengukuran Arah Kiblat Lab Terpadu Gedung Baru IsDB Kampus 3 UIN Walisongo yang dilaksanakan pada Kamis (09/12/2021) pukul 09.00 WIB.
Tim CSSMoRA mengadakan pengukuran arah kiblat bersama diberbagai titik yaitu di gedung baru UIN Walisongo, pengukuran dilakukan oleh kaprodi ilmu falak yang bekerjasama dengan anggota PBSB (Penerima beasiswa santri berprestasi) dari mulai angkatan 2018 sampai 2021, semua ikut berpastisipasi sekaligus belajar langsung dan mengaplikasikan teori yang telah didapat dibangku kuliah.
Dian Ika Ariyani, M. T., Selaku dosen pembimbing lapangan kegiatan ini menjelaskan “Pengukuran arah kiblat ini merupakan salah satu penerapan teori di lapangan dan ini sangat penting bagi anak-anak falak. Karena jarang sekali kegiatan praktek seperti ini”.
Salah satunya di gedung laboratorium terpadu UIN Walisongo, dengan anggota tim 3 orang. dengan menggunakan alat Mizwala salah satu instrument falak untuk pengukuran arah kiblat.
Dengan data lokasi :

lintang tempat 6ᴼ59’28”LS d

bujur tempat 110ᴼ20’45”BT

didapati bahwa:

Arah kiblat 65° 28′ 51” (UB)

Azimuth kiblat 294° 31′ 09”

Maka data ini yang lagsung di peraktekan dilapangan. Meskipun terdapat kendala dalam proses pengukuran dilapangan, namun hal ini tidak sama sekali mengurangi antusiasme peserta. Karina Aulia Purwanti, salah satu peserta berkomentar “Karena kurangnya alat pembantu yang dapat dimanfaatkan dalam proses pengukuran kemudian menyebabkan terkendala nya proses pengukuran arah kiblat di lapangan ini“.

 

-Red Karina Aulia Purwanti

Loading

PENGUKURAN ARAH KIBLAT DI GEDUNG ICT LIBRARY BARU KAMPUS 3 UIN WALISONGO

Kamis, 09 Desember 2021, Prodi Ilmu Falak bersama anggota aktif CSSMoRA mengadakan pengukuran di beberapa gedung baru di UIN Walisongo Semarang yang langsung didampingi oleh dosen Ilmu Falak. Acara tersebut dilaksanakan sebagai bentuk pengabdian mahasiswa falak dilingkungan sekitarnya.

Pengukuran dilaksanakan mulai jam 09.00 WIB – selesai. Pengukuran diikuti oleh 43 anggota CSSMoRA aktif dengan jumlah 8 gedung. Untuk mempermudah pengukuran, dibagi menjadi 8 kelompok sesuai dengan jumlah gedung yang akan diukur.

Pengukuran di gedung Gedung ICT Library dilakukan oleh kelompok 6 yang terdiri dari Riki, Sofi, Leli, Ani, Kholis dan Nadra dengan dosen pendampingnya bpk Muhammad Nurkhanif, M.S.I.

Alat yang digunakan di kelompok 6 yaitu istiwa’aini. Dengan menggunakan bayangan matahari dalam pengukuran arah kiblatnya. Adapun datanya sebagai berikut:

Lintang Tempat sebesar 6° 59′ 29″ LS ,

Bujur Tempat 110° 21′ 00″ BT ,

Lintang Kakbah 21° 25′ 21,17″,

Bujur Kakbah 39° 49′ 34,56″,

dan Waktu Bidik pukul 09.43 WIB.

Dari data-data tersebut, maka diperoleh hasil sebagai berikut :
Arah Kiblat = 65° 28′ 54″ Utara Barat
Azimuth Kiblat = 294° 31′ 6″
Azimuth Matahari = 124° 18′ 6″

Pengukuran pertama dilakukan diluar gedung, untuk mendapatkan bayangan matahari. Setelah dua kali pengukuran dan hasilnya sama, maka dilanjut dengan mengukur ke dalam gedung dengan hasil yang sudah ada. Mushola pertama yang diukur kiblatnya adalah mushola PTIPD lantai 1, kemudian dilanjut ke mushola Perpustakaan lantai 3.

Dari hasil pengukuruan kiblat tersebut, didapatkan hasil bahwa arah kiblat gedung ICT Library menghadap ke barat dengan miring ke arah selatan sebanyak 15 derajat.

Zaenal, salah satu staf TU di perpustakaan UIN Walisongo berterimakasih kepada tim yang sudah membantu untuk mengukur arah kiblat dengan akurat. “Saya sangat berterimakasih dan antusias dengan pengukuran arah kiblat ini, karena lebih mantab dalam beribadah, karena kita dalam salat menghadap kiblat dan harus semaksimal mungkin benar-benar mengdahapkan wajah kita ke kiblat“, ujarnya. “Staf-staf disini masih mantab dengan arah kiblat yang diukur sebelumnya, karena berpedoman bahwa kiblat itu menghadap ke barat dan menyerong ke utara sedikit, tapi dengan adanya pengukuran ulang ini semoga teman-teman staf yang kain bisa lebih mantab lagi dalam salatnya“, tambahnya saat diwawancarai.

 

-Red Ani Uswatun

Loading

PENGUKURAN ARAH KIBLAT KAMPUS UIN WALISONGO

Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Ilmu Falak UIN Walisongo  menggelar pengukuran arah kiblat di beberapa gedung Kampus Hijau UIN Walisongo Semarang pada hari Kamis, (9/12/2021).

Seluruh anggota aktif PBSB Ilmu Falak mengikuti kegiatan dengan dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai jumlah gedung yang akan diukur arah kiblatnya. Kelompok kami terdiri dari 3 orang dan bertugas mengukur arah kiblat di Mushola Gedung Planetarium.

Kami terlebih dahulu briefing bersama Pengelola PBSB UIN Walisongo, lalu dibagi kelompok dan menempatkan diri dengan masing-masing Dosen Pendamping. Kemudian kami ditugaskan membawa alat perhitungan arah kiblat di Lab Falak Fakultas Syariah dan hukum, kemudian kami berangkat per kelompok dan menuju gedung yang akan dihitung.

Kami menghitung arah kiblat dimulai pada pukul 10.40 WIB dengan menggunakan alat Mizwala, Istiwa Ain, dan Theodolite. Dalam mengukur arah kiblat, kami dibimbing oleh Dosen Pendamping yaitu Bapak Ahmad Fuad Al-Sahari, S.Hi. M.Si. Hasil perhitungan dari ketiga alat tersebut sama, hanya berbeda hasil di menitnya saja. Setelah arah kiblatnya dapat, kami menandai arah kiblat dengan stiker arah untuk memudahkan orang-orang dalam menentukan arah kiblat shalatnya.

Pengelola PBSB sangat antusias dengan kegiatan pengukuran arah kiblat ini, beliau mengikuti acara dari awal sampai akhir. Kemudian anggota baru PBSB  yaitu angkatan tahun 2021 mereka sangat senang mengikuti kegiatan ini karena menambah wawasan dan pengalaman mereka dalam mengukur arah kiblat dan tentunya sebagai pengenalan awal bagi mahasiswa PBSB baru dalam Praktikum Ilmu Falak.

 

-Red Isma Masripah

Loading