Karya: Matahari (Juara Favorit Lomba Cerpen dalam rangka Dies Natalis Ke-14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

“Kapan terakhir kali kamu berdoa?”

Lelaki di hadapanku tertawa ringan mendengar pertanyaan kelewat absurd itu. Dia bilang, doa terakhirnya barangkali adalah sesaat sebelum ia mengendarai motor untuk menjemputku tadi. Aku menuduhnya berdusta. Kalau dia benar-benar berdoa, seharusnya kami tidak terkurung hujan deras di sebuah emperan pertokoan yang tutup.

“Jangan-jangan kamu yang tadi tidak berdoa!” balasnya menuduhku. Kami berdua tertawa atas lelucon itu.

Sesaat kemudian, saat hening menjadi teman, aku menghela nafas panjang. Benar. Aku tidak berdoa sebelum pergi hari ini. Aku tidak berdoa saat bangun. Aku tidak berdoa sebelum tidur semalam. Aku bahkan tidak berdoa berhari-hari.

Aku jadi bertanya-tanya, kapan seseorang mulai berdoa dan kapan seseorang berhenti berdoa? Apakah karena dulu setiap malam ibu menyuruh anaknya berdoa sebelum tidur, maka ia berdoa? Apakah karena dulu setiap hari guru menyuruh muridnya berdoa sebelum belajar, maka ia berdoa?

Aku tak punya ibu yang menyuruhku berdoa setiap malam. Saat punya guru, ia pikir aku sudah hafal doa harian sehingga ia tak mengajariku. Aku berdoa setiap hari sampai kemudian entah di hari ke berapa aku merasa hambar. Bahkan kini, saat hujan yang katanya waktu doa dijawab Sang Pencipta, aku tak tergoda mengangkat tangan.

Hujan pun kian kuat. Atap seng berbunyi nyaring layaknya arena perjudian saat taruhan unggulam mereka hampir kalah. Udara dingin kian menusuk. Aku menghapus jarak antara aku dan lelaki yang telah kukenal kurang lebih enam bulan. Ia, lelaki dengan senyuman matahari itu, mengaminkan. Tangannya terbentang meraih bahuku.

“Wah, enak ya pacaran pas muda,” seorang perempuan dewasa akhir yang ikut berteduh berkomentar. Di sebelahnya, lelaki yang sama sepuh, barangkali suami, terlihat berpangku tangan dalam upaya menghangatkan dirinya sendiri.

“Duh, Buk! Jangan ngurusin orang,” suaminya menanggapi.

“Lihat, Pak! Anak muda jaman sekarang pacarannya blas bles blos saja. Kayak dunia milik berdua.”

Mereka berdebat. Si suami terlihat sungkan dengan perkataan istrinya. Akan tetapi, semua orang yang berteduh di emperan pertokoan itu terlihat setuju. Tatapan mata mereka menghakimi kami.

“Kamu mau pakai jaketku saja?” tawarnya berbisik. Tangannya rampak ragu memberikan kehangatan. Pelukannya tak seerat tadi.

“Iya,” jawabku risih dengan tatapan orang-orang.

Kami berdiri dengan jarak yang kecanggungan. Jarak kami tidak lebih dekat dari seorang anak yang memeluk kaki ibunya di depan toko  benang. Jarak kami tidak lebih mesra dari suami istri yang masih berdebat itu. Jarak kami, untungnya, tidak sesepi seorang laki-laki buta berpeci di toko paling ujung.

Aku maju satu langkah. Mengintip, karena rasa penasaran tak terbendung, pada lelaki buta berpeci haji di ujung lorong pertokoan. Usianya tak lagi muda. Tangannya yang telah keriput memegang tongkat dengan genggaman yang tremor. Bibirnya komat kamit layaknya orang suci tengah berzikir. Seolah bibir itu memang telah terlatih untuk selalu basah mengenang asma Allah.

“Kenapa?” lelaki matahari di sebelah ku bertanya.

“Aku baru saja berdoa.”

“Oh ya? Kau berdoa agar hujan reda?”

“Tidak juga.” Kerutan terbentuk di dahinya. Barangkali mencari berbagai macam opsi doa lain yang bisa kupanjatkan di situasi macam ini.

Hujan kian menggila. Angin kencang menerbangkan beberapa sampah. Semua orang merapat pada perlindungan terdekat yang bisa mereka gapai. Anak berlindung pada ibunya, perempuan berlindung pada lelakinya, anak muda berlindung pada kekuatan fisiknya. Aku tak bisa berhenti khawatir pada pria tua buta di ujung pertokoan yang tak punya sesuatu, bahkan dirinya sendiri, untuk melindungi.

“Yang, aku ke sana ya.”

Langkah lebih cepat ketimbang ucapanku. Langkahku besar dan cepat menuju lelaki tua itu. Jantungku berdetak cepat. Terlebih saat melihat sebuah terpal dengan pancang paku yang tajam terbang mengarah ke lelaki itu. Kilat petir melatari suara teriakan dan dentuman.

“Ustaz!” suaraku hilang ditelan situasi.

Alam bawah sadarku memaksaku bertindak. Meski pura-pura tak peduli, meski pura-pura tak kenal, tubuhku bergerak dengan sendirinya hendak meraih sosok itu. Aku tak bisa mengerdilkan perasaan kagum dan hormatku pada sosok buta yang memiliki mata air kasih sayang dan berkah ilmu dalam dirinya itu. Aku pun, seorang yang pernah  menyesap mata air itu. Di diriku mengalir percikan dirinya. Barangkali itu yang membuatku kalang kabut mengejar lelaki itu ini.

Terpal biru yang diterbangkan angin menyelimuti tubuh lelaki tua buta tanpa celah. Aku dan seorang tukang ojek mendekatinya. Tukang ojek itu dengan tergesa-gesa menarik terpal itu. Aku melihatnya terduduk dengan tongkat yang sudah tak lagi dalam genggaman. 

“Bapak tidak apa, Pak?” tanya tukang ojek itu sembari membantunya berdiri.

Tidak ada luka, tidak ada lebam. Syukurlah.

“Alina!” lelaki matahariku memanggil. Aku tak kuasa menahan rasa takutku. Bagaimana jika lelaki tua di hadapanku ini mengingat nama itu? Meski kemungkinannya sangat kecil, meski aku yakin beliau telah memiliki banyak murid-murid lain bernama Alina, jantungku tak bisa diajak kompromi.

“Kamu Alina? Alina Aisyah?” lelaki buta itu bertanya dengan suara yang sangat familiar.

Aku mengangguk meski aku tahu lelaki di depanku tak akan bisa tahu. “Bukan Pak, saya Alina Niswati.” Aku berbohong.

“Bapak ingat sekitar tiga tahun lalu Bapak punya santri namanya Alina Aisyah. Dia pintar, rajin ibadah, selalu taat dengan peraturan pesantren. Dia suka bantu-bantu di rumah Bapak. Setelah tamat dia belum ada lagi berkunjung ke pesantren. Tadi Bapak dengar ada yang panggil ustaz, suaranya mirip Alina. Rupanya salah orang.”

Aku tak lagi mengucapkan apa pun. Aku takut suara cempreng ini akan makin mengingatkan lelaki tua berpeci itu akan seorang santri polos yang kini hanya tinggal cerita. Aku menarik tangan pacarku sembari berlari kecil menuju motor yang terparkir.

Hujan sebentar lagi berhenti. Waktu istijabah doa sebentar lagi usai. Aku berdoa lagi, meski tidak mengangkat tangan. Aku berdoa lama dan khusuk sekali. Tak peduli bahwa aku tak lagi berkerudung. Tak peduli bahwa kini di tanganku ada tangan lelaki bukan muhrim yang diibaratkan bara api.

“Boleh aku tebak doamu, Alina Aisyah?” tanya lelaki matahari itu dengan nada mencemooh. Aku menggeleng. Aku ingin cepat menyudahi basa-basi ini dan kembali bersembunyi.

Di ujung jalan, sebuah mobil dengan lambang instansi pendidikan Islam terlihat mengarah pada lelaki tua yang tak lain dan tak bukan adalah pengasuh di pesantren itu. Si pengemudi turun dan membantu ustaz menaiki mobil. Motor kami telah lebih dulu membelah jalanan.

Doaku terkabul. Lelaki buta itu tak mengenaliku. Aku ingin berdoa lagi agar si pengendara mobil yang sekelas denganku enam tahun tak mengenaliku. Sayangnya hujan telah sempurna berhenti.

Sayangnya aku tak punya keberanian lagi untuk berdoa.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *