Ada-Ada Saja

Karya; Arifin Faturohman

Desir hatiku berkata ada. Apa yang merasa. Kemudian bulu kudukmu terangkat dan merinding dibuatnya. Ialah angin saja; memberi kabar menerpa kulitku dan katakan ada. Meski tak nampak ia kasat mata. Mesti ada terasa melalui mata lainnya yang diam-diam memata-matai. Siapakah, gerangan yang bikin terperanjat perasa tak nampak? Nampaklah ia mengendap-endap di bagian-bagian terlupakan hari-hari. Sudah, ingin merinding saja meski angin tak ada…

Semarang, 2025

Loading

Sendal Ghasab

Selesai menyembah, menunduk dan memelas. Dalam batin berucap harapan. Merintih. Telapak tangan lebih tinggi dari kepala, tetap terbuka walau bergetar. Dari setiap sudut musholla terdengar desisan yakin.

amin, amin, amin”.

Banyak keinginan yang muncul saat hati lupa menconcong justru hilang kala jiwa terjatuh dalam khusu’. Namun kaulah lemah, tidak dapat berbuat apa-apa selain memohon, menuntut, mengembangkan, merusak, dan bergerak tidak konsisten. Rupanya ia sedang dirundung keinginan, sampai-sampai do’a yang ia panjatkan penuh dengan duka dan harapan. Lirih terdengar dari telinga sendiri: aku memohon ampun kepada-Mu, tidak ada kekuatan selain kekuatan-Mu. Pujian-pujian itu jangan pernah kau luput sekalipun dalam do’a. Kaki melipat bertumpuk, tubuh membungkuk, kepala menunduk, roh terpuruk. Semua sama melakukan apa yang kini sedang menimpa, bertingkah serupa, namun bertingkat sesuai taqwa. Hanya kekasih pilihan yang mampu berlama-lama, lupa akan semua hal dunia, terpecah menjadi pemikir sacral, kotor, aneh, menyendiri. Tidak selamanya terbayang seperti itu, ada pula yang hidup seperti manusia pada umumnya. Menyukai harta, kebersihan, dan cinta akan kenyamanan. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang. Harta? Mungkin sedikit rupiah yang diberikan secara malar setiap bulannya yang sedang ia damba-dambakan. Namun jika ia benar-benar menginginkannya, barapa banyak yang ia sebutkan dalam do’anya. Sedangkan untuk makan saja, dua ribu lima ratus sudah mendapatkan mie dan sop tahu. Tak jarang diberi bonus sambal untuk mereka yang menyukai.

Ia sendirian sekarang. Teman-temannya sudah selesai membaca wirid, sholat sunah, bahkan mereka yang mengobrol setelah jama’ah, sudah membubarkan diri. Tejo, santri yang sudah lama mukim dipesantren, masih khusu’ dengan harapan-harapannya. Harapan yang sama dengan teman-temannya, tetapi lebih memaksa, terlihat dari caranya berdo’a dengan tanggannya yang tinggi memohon. “Robbanaatinafiddunya khasanah, wa fiil akhirati khasanah….”, kalimat terakhir yang lumrah penutup do’a sudah keluar dari mulutnya, bertanda ia akan selesai.

Nampak Tejo sudah merasa cukup. Ia berdiri sejenak melihat ke sekeliling musholla lalu berjalan pergi. Tidak terlalu lama ia pasrah, berdiri dan berjalan mendekati pejuang lainnya. Tawa persahabatan seketika tumbuh saat sudah berkumpul. Lelucon-lelucon sederhana terdengar sangat menarik. Timpa-menimpa kekurangan tidak menjadi masalah serius. 

Perut terasa lapar. Tejo beranjak cepat menyusul bau harum yang sudah tercium. Jauh dari kata mewah makanan yang tersedia, tetap nikmat saat dibalut dengan syukur. Rela, menikmati, dan terkadang membantai dengan gerutu yang tidak ada akhirnya, namun tetap saja mereka memakan apa yang disediakan. Keberkahan berkumpul dalam satu wadah, melahap bersama sambil mulut kadang berucap. Sudah menjadi kebiasaan, kondisi bagaimanapun juga menjadi lawakan seketika. Ada yang berdesis pelan, membisik rancangan, diam-diam meraba lauk teman tanpa pengawasan. Risih rupanya mulut si Tejo sampai berkata,

“haduh, kiamat sudah dekat, tanda-tanda yang ada bisa kita lihat sekarang, tinggal siap-siap menyambutnya dengan keimanan.”

Nadanya biasa namun mengandung kejanggalan. Udin, satu lagi pejuang pintar. Alisnya mengernyit, tangannya berhenti memuluk, matanya menatap Tejo tidak biasa, mengundang tanya pada kepala yang semula hanya tenang.

“Kamu siapa?”, tanya Udin.

Bukan sebuah lelucon, namun hentakan keras kepada Tejo.

“Saya naming kawula.”, jawab Tejo.

“Ya sudah, pangkatmu hanya hamba, untuk apa kau mengatur terjadinya kiamat?”  

Tentu saja, kita sebagai hamba tidak sepatutnya berkata tentang hari kiamat, sekalipun tanda-tanda sudah bisa dilihat. Tuhan Maha Kuasa atas segala rancangan-Nya. Tidak akan terlambat sedetikpun, dan tidak bisa ditebak sampai kapanpun. Berangkali Tejo hanya sedang melamun karena sebelumnya ia terbang dalam ambang do’a. Sampai-sampai kalimat itu keluar dengan ringannya.

Belum selesai makan, terhenti pada pulukan terakhir karena mendengar teriakan dari depan.

“Jo…..Tejo! Timbali Mbah Yai!”

Seketika Tejo beranjak lari ke depan tanpa mencuci tangannya. Wajahnya risau, bibirnya bergetar. Ragu. Pikirannya bertanya-tanya ada apa sebenarnya samapai Mbah Yai memangilnya. Sedikit bayangan picik: mungkin aja, Allah telah mengabulkan do’anya lewat Mbah Yai. Mungkin saja, Mbah Yai tahu bahwa dirinya sudah tidak memiliki uang sekarang. Tejo melihat ke arah barisan sandal yang berantakan. Ia mengambil sandal japit hijau untuk kaki kirinya, dan biru untuk kaki kanannya. Ia memakainya tanpa peduli itu milik siapa. Sudah tiga tahun ia hidup di pesantren tanpa memiliki sendal. Korban ghasaban sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Tak segan, sandal milik anak baru yang masih bersih dan bermerek juga ia sikat. Ada dua kemungkinan di sini: ia yang memang tidak memiliki uang, atau rasa kepemilikannya yang sudah melambung tinggi. Dalil lumrah “Semua milik Allah, semua hanya titipan Allah” menjadi pedomannya sampai saat ini. Mungkin jika suatu saat jempol Tejo hilang dimakan tikus, teman-temannya akan berteriak, “jempol itu juga milik Allah, titipan Allah”.

Mbah Yai, siapa yang tidak kenal beliau. Pengasuh pesantren dengan santri ribuan, dan masyarakat yang semuanya menanamkan cinta kepadanya, menumbuhkan bunga-bunga takdzim dan segan. Mbah Yai terlihat rapih dengan jubah dan sorban yang melingkar di kepalanya. 

Sedikit terbirit Langkah Tejo. Sampai keringat masih saja bercucur Ketika sudah sampai di hadapan Mbah Yai. Barangkali keringat itu bukan karena langkahnya yang cepat, tetapi karena sekarang ia sedang berhadapan dengan orang yang paling ia takuti.

“Antar saya ke maqam.”

Kalimat sederhana itu seketika dibalas dengan kepatuhan

Dari kejauhan maqam sudah terlihat ramai. Rupanya ada acara resmi yang dihadiri para Kyai di desa. Tejo berjalan hati-hati di belakang Mbah Yai, tanpa berani sejajar, apalagi mendahului. Semua orang menunduk ketika Mbah Yai melintas. Mereka yang duduk bahkan rela berdiri demi menghormati Mbah Yai.

“Nitip sendal, yo.”

Lagi-lagi kalimat sederhana yang keluar dari mulut Mbah Yai langsung dibalas dengan satu kata 

“Enggih.”

Tahlil dimulai. Kalimat demi kalimat pembawa acara berterbangan dari toa masjid. Para hadirin duduk tenang. Ibu-ibu yang hadir selalu saja begitu, masih saja mengobrol walau sudah diperingatkan sebelumnya. Obrolannya berhenti hanya di saat menjawab salam saja. Bahkan masih ada yang berkeliling mencari jajanan untuk anaknya. Pedagang yang ikut serta tidak berani berani berteriak lantang menawari. Tapi tetap saja ibu-ibu yang menawar harga membuat pedagang itu harus lantang berkata “Tidak”, karena tawaran harga yang diajukan mencapai setengah harga pasar. Tidak tanggung-tanggung memang ibu-ibu jika sudah menyukai barang, terlebih jika yang meminta anaknya. Jangankan menurunkan harga pasar, menurunkan harga diri penjualnya pun bisa saja akan ia lakukan.

Tidak terlalu lama tahlil berlangsung. Masyarakat yang sudah mendapatkan jatah berkat mulai beranjak dari tempatnya. Tejo harus Bersiap-siap. Sebentar lagi, Mbah Yai akan keluar dan pulang ke rumah. Ia merapihkan sandal Mbah Yai yang semula menghadap maqam ia putar siap pakai. Ia harus sabar menunggu, berdiri di sebelah sandal agar tidak tertukar, atau bahkan diambil orang.

Dari dalam, Mbah Yai sudah meninggalkan tempat duduknya. Jama’ah yang sudah lama menunggu berbaris bergantian menunggu kesempatan mencium tangan Mbah Yai. Semakin banyak jama’ah yang berdesakan menunggu giliran. Tejo tersengol dari tempatnya. Ia berusaha kembali ke tempatnya semula, namun jama’ah dengan cepat mengisi jarak demi jarak yang kosong. Sedikit saja Tejo mundur, di depannya sudah ada orang lain yang mengisi. Ia hanya perlu berdo’a agar sandal Mbah Yai tidak hilang. 

Seiring waktu berjalan, jama’ah sudah mulai mengikis. Tejo sudah bisa kembali dan mengecek apakah sandal Mbah Yai masih ada? Ia memasang mata tajam-tajam dari kejauhan. Namun Tejo tidak melihat sandal Mbah Yai di tempat semula. Ia berusaha mencari kemana sandal itu berpindah. Sekali lagi kesialan itu datang, Mbah Yai sudah berdiri memanggil Tejo sebelum sandalnya ketemu. Tejo hanya menunduk sambil sesekali menelan ludah. 

“Sendal saya mana? Ayo pulang.”

Belum ada jawaban di kepala Tejo. Ia tersenyum kaku menatap tanah. Tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia berusaha menjawab dengan terbata-bata,

“Anu, Mbah, eh……sandalnya, anu.”

“Yang saya tanya sandal saya, bukan sandal si Anu.”

“Anu, sandalnya hilang.”

“Heh?” Mbah Yai terkejut mendengar jawaban Tejo. Namun setelah itu, senyuman terlukis di wajah Mbah Yai. Melihat wajah Tejo yang pucat dan keringat yang bercucur deras, Mbah Yai merasa kasihan. Ia memberikan seratus ribu rupiah kepada Tejo untuk dibelikan sandal baru di warung terdekat.

Segera Tejo meluncur ke penjual sandal. Ia memilih sandal yang paling bagus karena memang uang yang diberikan Mbah Yai cukup besar. Tejo memberikan uang itu setelah penjual selesai membungkus sandal. Tanpa mau menerima, penjual itu berkata senang jika dagangannya bisa bermanfaat bagi santri, terlebih untuk Mbah Yai. Tidak mau dimarahi Mbah Yai, Tejo mencoba memberikan lagi uang itu ke penjual dengan sedikit paksaan yang dibalut tawa dan pujian, namun tetap saja penjual itu menolak. Ya sudahlah, Tejo tidak mau membuat Mbah Yai lebih lama menunggu. Ia hanya dapat berterima kasih kepada penjual itu, sembari mendo’akan agar dangangannya laris dan bermanfaat.

Dengan takdzim Tejo Menyusun sandal di depan Mbah Yai, lalu mengembalikan uang yang diberikan kepadanya. Mbah Yai heran, uangnya masih utuh. Tejo menjelaskan kenapa uang yang diberikan Mbah Yai tidak berkurang sedikitpun. Setelah mendengar penjelasan Tejo yang sedikit tidak jelas, Mbah Yai berkata, 

“ya sudah, uang itu untuk kamu saja.”

Writter : Taufiq Ridlo

Loading

BANGKIT DARI REBAH

Karya; siti nurrahmi dwinta

Raga rapuh menahan letih,
sementara jalan membentang tanpa tepi.
Harapan seperti janji semesta,
berbisik lirih agar tak berhenti.

Kadang ingin menyerah,
namun jejak sudah tertanam
di pusaran waktu yang tak bisa diputar.

Tenanglah, wahai raga,
rebahlah bila perlu,
asal jangan hilang arah.

Bangkitlah, seteguh tongkat
yang menancap kokoh di bumi.
Biarkan harapan mekar,
menjelma bunga nyata
dari mimpi yang pernah kita titipkan pada langit.

Loading

Komang: Perjalanan Mencari Kebenaran

Pelajar berkepentingan memetik apapun sebagai pembelajaran. Darimana? Dari apapun, di manapun. Menunaikan titah pendidikan kepada para pemeluknya:

“Belajarlah, dimanapun, dengan apa pun, kepada siapapun”. 

Sidang pembaca yang budiman, kuceritai mengenai apa yang kurasai terhadap yang satu ini. Ini adalah Film Komang (2025), disutradarai oleh Naya Anindita dan dibintangi oleh Kiesha Alvaro sebagai Raim (Ode) dan Aurora Ribero sebagai Komang (Ade). Sebuah perjalanan spiritual yang dialami Ade Komang—tokoh utama perempuan film itu menuju yang paling romantis. Bercerita tentang perjalanan hubungan meniti perasaan, akankah berujung sejati?  

Raim Laode, La pada namanya bermakna “La ilaha illallah”, nampak betul dari namanya saja ia dilahirkan sebagai pemeluk agama yang taat. Dan Komang seorang perempuan Hindu asal Bali yang kemudian menetap di Sulawesi pun besar dan tumbuh kembang di keluarga yang betul-betul menghayati keyakinannya sebagaimana yang telah diajarkan Ibunya. Lalu, pada suatu pertunjukan stand up comedy bertemulah mereka untuk pertama kali.  

Mula-mula yang ingin kusampaikan adalah keindahan melalui pluralisme. Yang satu ini bukan melulu mengenai gemasnya romansa anak muda, laki-perempuan dan persoalan receh yang membersamainya. Lebih dari itu adalah pluralisme. Ciamik! Betul Indonesia dengan kemajemukan dan telah ditampilkan dengan indah melalui film, yaitu di Kota BauBau, Sulawesi Tenggara. Perbedaan berdampingan! Sangat dekat dan saling menghargai. Saling mencintai, tidak saling membenci.  

Lalu, Cinta adalah Perjalanan Spirituil. Di sana sangat intim dan jenaka, sangat romantis nan mistis. Aku percaya, Bung, percaya betul terhadap perasaan dan kelembutan nurani. Maka saling mencintailah mereka, Ode dan Ade lalu, dijalinlah suatu ikatan tidak pasti yang khalayak menamainya pacaran.  

Hubungan mesti berlanjut. Berlanjut senang-senang saja atau kau ikat melalui ikatan sakral bernama pernikahan? Jika sudah cinta jangan melulu ucapnya, buktikan pula melalui sikap. Maka keyakinan cinta diuji di sini.

“Maka jangan kau menjalani keyakinan dengan ragu, jika begitu kau menjalani keraguan bukan keyakinan,” ucap bapaknya Neneng dalam film itu.  

Sedang perasaan serumit itu, apalagi manusia! Dengan segala kegamangan dan ikatan yang membersamainya. Ode merantau ke Ibu Kota untuk menjemput rezekinya. Di lain sisi, ada pula laki-laki lain yang mendambakan Ade sebagai partner hidupnya, mapan, tampan, seiman pula. Keyakinan Ode dan Ade diuji di sini. Jarak dan kecurigaan memuncak di antaranya, hingga suatu hari kabar duka datang kepada Ode yang sedang berkarier di Ibu Kota mengenai kepulangan Bapaknya. Remuk redam hatinya. Patah hati seorang perantau adalah kabar kepulangan orangtua di rumah.  

Di kampung halaman, di masa berkabung, Ode tentu saja bertemu dengan kasihnya. Ia merasakan penghiburan sejati dan merasai perasaan itu tak mungkin padam. Memuncak! 

Perdebatan sengit terjadi antara Ode dan Ade.

“Hanya itu usahamu? Memperjuangkanku?!” ucap Ade.

Mereka berdua akhirnya hanya mampu menangis— suatu ungkapan paling nyata emosional manusia. Ode berkata:

“Satu takdir, tak mungkin bisa ditulis oleh dua pena.”  

Keesokan harinya, Ode bertandang ke rumah Ade untuk menyatakan maksud kepada Ibunya Ade, ditolak ia dengan pernyataan yang tak mungkin ia bantah. Sebelum keberangkatan Ode menuju Jakarta untuk kembali berkarier, berpesan sepuhnya:

“Rejeki, Jodoh dan mati di tangan Tuhan. … Dan untuk jodoh, doakanlah ia.”  

Kembalilah Ode ke Ibu Kota. Sukseslah ia berkarier sebagai seniman. Dan apa yang terjadi selanjutnya – hidayah itu tiba; keajaiban takdir yang wajib Saudara saksikan sendiri.  

Buatku ini bukan hanya sekadar tontonan, ini adalah dakwah yang tiba kepadaku. Kekuatan film ini terletak pada kedalaman emosi yang berhasil disampaikan oleh para aktor, terutama Aurora Ribero (Komang) dan Ayu Laksmi (Meme/Ibu Komang). Momen-momen intim di BauBau dan Bali terasa otentik dan sangat menyentuh.  

Namun, sebagai sebuah karya sinema yang membawa nama besar Raim Laode, terdapat beberapa catatan yang perlu diperhatikan:  

Aspek Teknis Pemeran: Meskipun chemistry antar tokoh utama terasa, penampilan Kiesha Alvaro (Raim) di beberapa adegan masih terasa kurang matang dalam menyampaikan dialek Buton yang kental dan khas.  

Transisi Alur: Penggunaan latar stand-up comedy di awal terasa sedikit terpisah dengan isu besar pluralisme dan perjuangan cinta. Transisi antara segmen komedi Raim di Jakarta dengan drama keluarga di BauBau terkadang kurang mulus.  

Visual: Meskipun sinematografi Robert Cauble indah dalam menangkap lanskap Sulawesi Tenggara, beberapa adegan drama di ruang tertutup terasa kurang dinamis dan kurang maksimal secara visual.  

Terlepas dari catatan teknis, pesan yang disampaikan film ini—bahwa keberanian, ketulusan, dan doa adalah upaya tertinggi dalam menjemput takdir—sangat menggetarkan. Aku berkeyakinan mengenai dua nama mula-mula di antara yang 99 merebak ia di keseharian, dan indah sekali agama. ⚘️  

Selepas menyaksikan film ini di salah satu mall di Tasikmalaya – dalam perjalanan pulang – aku teringat sebuah ucapan dalang edan: 

“Menikah adalah nasib, mencintai adalah takdir. Kau bisa berencana menikah dengan siapa, tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa.” ~ Sujiwo Tejo.  

Tasikmalaya, 2025 

 

Writter : Arifin Faturohman

Loading

“Intersellar” : Menembus Batas Ruang dan Waktu

    • Judul          : Interstellar
    • Sutradara  : Christoper Nolan
    • Produser   : Emma Thomas; Christoper Nolan;  Lynda Obst
    • Durasi       : 169 menit

Interstellar adalah sebuah film fiksi ilmiah yang menceritakan bahwa bumi dimasa depan akan mengalami ketidakseimbangan ekosistem akibat badai debu yang menerjang daratan. Semua makhluk hidup bergantung hanya kepada hasil pertanian—termasuk Cooper,  mantan pilot NASA yang tinggal bersama kedua anak dan ayah mertuanya. Anak perempuannya yang bernama Murph, percaya bahwa dirumah mereka terdapat sosok tak kasat mata yang berusaha berkomunikasi dengan mereka melalui debu-debu yang membentuk sebuah pola. Namun, ternyata pola-pola tersebut menuntun Murph dan ayahnya ke pangkalan rahasia milik NASA.

Disana mereka bertemu dengan Profesor Brand, ia mengungkapkan kepada Cooper bahwa perjuangan manusia bertahan hidup dalam keadaan yang amat mengerikan ini adalah kesia-siaan. Ia mengungkapkan dua rencananya dan menawarkan kerja sama kepada Cooper. Rencana yang pertama, menciptakan penggerak anti gravitasi untuk mendorong permukiman diluar angkasa. Rencana yang kedua, menerbangkan embrio beku untuk menetap di planet baru yang layak huni. Akhirnya Cooper menerima tawaran dari Profesor Brand untuk menjalankan rencana kedua meskipun keputusannya ini sangat mengecewakan Murph. Pada misi ini ia ditemani tiga astronot lainnya, yaitu Dr. Amelia Brand, Dr. Romily dan Dr. Doyle.

Mereka menuju tiga planet yang berpotensi layak huni berdasarkan laporan astronot sebelumnya yang kini tak kunjung kembali ke bumi. Planet pertama yang mereka kunjungi adalah planet air. Waktu di planet ini berjalan amat lambat yang mana satu jam disana setara dengan tujuh jam di bumi. Misi di planet ini berakhir dengan bencana dan mereka kehilangan salah satu anggota timnya. Planet kedua yaitu planet es, pada misi ini mereka mengalami sebuah konflik yang hampir merenggut nyawa mereka akibat astronot sebelumnya tidak jujur dalam menyampaikan kondisi planet tersebut. Dengan persediaan bekal yang semakin menipis, Copper memutuskan untuk menuju ke planet ketiga yang mana untuk menuju kesana mereka harus masuk kedalam sebuah lubang hitam berbahaya.

Akibat perbedaan waktu yang terlampau jauh, Murph dan kakak laki-lakinya kini sudah dewasa. Murph bergabung dengan NASA dan membantu Profesor Brand untuk menyelesaikan persoalan yang bertahun-tahun tak kunjung selesai mengenai bagaimana manusia secara masal dapat keluar dari tarikan gravitasi. Profesor Brand semakin tua dan jatuh sakit, ia hanya berharap rencana keduanya berhasil dan menusia dapat merintis kehidupan baru di planet yang lebih baik dari bumi.

Setelah masuk kedalam lubang hitam tersebut Cooper berada disebuah tempat yang memungkinkan ia berinteraksi dengan berbagai titik di masa lalu. Cooper mengirimkan kode morse untuk bisa berkomunikasi dengan Murph yang akhirnya dapat membantu Murph menyelesaikan persoalan terkait misi penyelamatan manusia. Setelah berhasil membantu menyelesaikan persoalan tersebut, Cooper diselamatkan dan dibawa kembali ke bumi. Ia akhirnya bertemu kembali dengan putrinya yang kini telah lanjut usia. Copeer hanya mengucapkan kata-kata perpisahan sebelum akhirnya kembali ke luar angkasa untuk berusaha membangun sebuah kehidupan baru di planet ketiga.

 

Written : Aisyah Cahya Maharani

Loading

Permulaan Puncak Tantangan

Mt. Guntur

07 Safar – 09 Safar 1447 H

Sebuah ajakan yang begitu mendadak dari seorang sahabat from Bungbulang Pakidulan Garut.

“Pin! Besok muncak ka Guntur?! Yu!”

“Gas!” jawabku tanpa banyak cingcong. Jika terlalu banyak wacana tanpa aksi, acap kali tidak terealisasi. Maka, perjalanan ini bermula dengan persiapan satu hari namun InsyaAllah safety. Ialah Ragib, seorang kawan dari Priangan Timur yang kutemui di bawah naungan lembaga pendidikan yang sama: Pondok Cipasung dan madrasah aliyah tercinta. Ini adalah perjalanan menuju puncak tantangan yang kedua kalinya bersama Mas Gib—begitu aku akrab menyapanya.

Maka, pada hari Jumat, 07 Safar 1447 H, setelah sidang Jumat yang dimuliakan Allah SWT, aku memulai keberangkatan dari Bandung menuju Kadungora, Garut. Adalah titik kumpul di sebuah rumah kepunyaan Orangtua Ficky, di pinggir jalan provinsi yang menghubungkan Kota Bandung dan Kabupaten Garut. Di luar Nagreg.

Semalam sebelum keberangkatan, kami—aku dan Mas Gib—menghubungi Ficky.

“Sudikah sobat menampung kami? Yang hendak mendaki puncak tantangan, dan kau pun ikut dalam perjalanan, wahai Sahabat.”

Kira-kira begitulah maksudnya, meski jelas bertuturnya tidak seperti demikian, lebih pakai dialek Sunda Priangan Timur.

Ficky yang baik hati mengizinkan, bahkan gembira dengan kedatangan aku dan Mas Gib. Ia yang belum pernah sekalipun mendaki gunung agak ragu dan nyaris tidak ikut, namun kami meyakinkan bahwa ini akan menyenangkan dan aman dengan doa Ibu, aamiin, mudah-mudahan. Maka ikutlah Ficky nantinya.

Aku tiba di kediaman Ficky pada pukul 16.30 senja hari. Disambut oleh Ficky dengan senyum terkembang dan oleh ibunya Ficky yang amat penyayang. Aku segera disuguhi air kopi dan berceritalah kita—aku dan Ficky—hingga sore berpamitan dan malam menghampiri. Mas Gib kabarnya masih dalam perjalanan dari Bungbulang dan sudah tiba di daerah Cisurupan. Setelah cukup banyak berbincang-bincang, Ficky di panggil ibunya dan dimintai menghampirinya ke dapur dan aku meminjam jamban untuk berseka.

Ketika aku bersiap-siap jamaah Magrib, sebuah kabar gembira tiba-tiba, tiba! ponsel ramai berbunyi. Pada sebuah grup WhatsApp orang-orang berkicau mengenai kabar keputusan seleksi Beasiswa PBSB yang sedang aku dan Ficky hadapi. Aku memilih Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam di UIN Walisongo Semarang, sedangkan Ficky memilih Prodi Perbankan Syariah Islam di UIN Raden Fatah Palembang. Setelah kami gagal di penyisihan SBMPTN (Seleksi Besar Menuju Pengangguran Tingkat Negara), Ficky mengambil jalur mandiri di UNPAD dan lolos, sedang aku membulatkan keputusan untuk gap year.

Ficky sedang mengobrol dengan ibunya di dapur, aku menanyai mereka, ke mana arah kiblat? Katanya ke arah jalan. Hatiku berdesir tidak karu-karuan, dan itulah detik-detik aku membuka pengumuman beasiswa—apakah aku lolos dan lanjut studi atau aku kembali mondok dan menunda masa studi.

Keputusanku sudah bulat ketika akan membuka pengumuman. Aku ingin bersujud dan bersyukur atas segala keputusan takdir, segala ketentuan Tuhan. Aku serahkan semuanya, dan kulangitkan kalimat pujian, kumerendah di hadapan Yang Maha Tinggi.

Dan tibalah, aku membuka situs pendaftaran PBSB dari Kemenag. Hasilnya, Kawan, sebuah ucapan robot mengatakan bahwa aku LOLOS dan berhak mendapatkan Beasiswa PBSB, melanjutkan studi di UIN Walisongo Semarang. Betapa hatiku membuncah, bibirku terus merapal tahmid, dan kusungkurkan badanku di haribaan kasih sayang Tuhan, mataku berkaca-kaca. Dan aku mantap berkeyakinan bahwa Tuhan mendengar setiap doa hamba-Nya yang memuji-Nya (سمع الله لمن حمده).

Segera kukabari Ibu dan Bapak di Bandung bahwa anaknya lolos beasiswa dan akan melanjutkan pendidikan tinggi di Semarang. Bukan main bahagia, bukan kepalang, kita bersyukur. Kukabari pula Akang di Pondok Cipasung—guruku yang membimbing dan memotivasi dari awal masa pendaftaran hingga tiba pengumuman kelulusan. Ia menjawab dan menyelamatiku, lalu mendoakanku. Ah, Akang, aku teringat guru-guruku di Pondok.

Setelah itu adzan Magrib berkumandang. Aku bergegas menuju masjid bersama Ficky, sedang kawanku yang begitu berbakti kepada orang tuanya itu belum membuka pengumuman keputusan beasiswa. Di jalan menuju masjid sudah gatal mulutku bercerita, dan tak mungkin kututupi garis mukaku yang amat berbahagia. Kuceritakan mengenai pengumuman dan bukan main ia girang bukan buatan. Ia malah heran kenapa aku tidak sampai menangis. Di sepanjang jalan menuju masjid aku terus bersyukur dan mulutku tak lepas-lepas mengucap kalimat toyyibah.

Selepas rawatib Maghrib, Ficky begitu dahsyat merapal doa, amat khusyuk. Boleh jadi ia memohon sembari matanya berkaca-kaca, entahlah, aku di belakangnya. Kami beranjak pulang ke rumah. Tibalah saatnya kawanku, simpai keramat anak bungsu, menggelar sejadah, membuka handphone, meluncur menuju situs milik Kemenag, berdoa lagi, dan—“Selamat Saudara/i dinyatakan LOLOS dan berhak mendapatkan Beasiswa PBSB.” Bukan main euforia kami! Erat kami berpelukan, lalu Ficky bersujud, bersyukur, melangitkan puji atas pemberian-Nya yang kita pinta.

Padahal di jalan selepas jamaah, aku sudah overthinking duluan—bagaimana jika karibku tidak lolos dan hanya aku?! Mesti aku minta maaf. Namun itu hanyalah purbasangka. Sam’i Allahu liman hamidah.

Menjelang Isya, kawanku Mas Gib tiba. Ia bergaya layaknya seorang backpacker bermotor tua. Sama sepertiku, Mas Gib merupakan penunggang Bebek Jadul Astrea Grand keluaran tahun 90-an. Kami bersalaman. Ficky dan Ragib berpelukan. Aku tidak berpelukan, memang itulah pertalian persahabatan. But, not my style, hahaha.

Mas Gib membawa oleh-oleh keripik singkong khas kadaharan Bungbulang. Mamah Ficky yang baik hati menyuguhi Mas Gib secangkir teh panas. Kami bercakap-cakap, reuni kecil-kecilan, dan tak kuasa membagi bahagia mengenai kabar kelanjutan studiku dan Ficky. Sebagaimana seorang habib: mencintai dan dicintai.

Mas Gib turut bersuka cita dan nampak raut wajah bangga melihat sahabat mendapat kemenangan kecil dari kehidupan. Seorang guru pernah berkata bahwa habib/habaib tidak melulu terkait jalinan nasab para dzurriyah, namun sebutan bagi seseorang yang ikut berbahagia jika melihatku bahagia, ikut sedih melihatku sedih, rela dan ikhlas merogoh harta demi seseorang itu. Dan pertalianku dengan kawan-kawan di asrama bolehlah kukatakan pertalian para habaib. Solidaritas tanpa batas!

Adzan Isya berkumandang. Kami beranjak menuju masjid. Selepas jamaah, tak henti-henti kami berceloteh, “Anjir, asli Co! Mahasiswa nih?!”

Di rumah, Mamah Ficky yang baik hati telah menyiapkan makan malam. Sungguh entah ke sekian kalinya aku disuguhi makan oleh keluarga Ficky. Tidak sungkan kami lahap memakan hidangan, terutama Mas Gib. Ia mengambil nasi porsi kuli, haha memang aneh, perutnya kecil tapi makannya banyak. Itulah orang-orang tertentu yang diberkahi bakat makan.

Selepas makan malam, tentu saja membakar kretek. Tuhan, cabutlah kenikmatan enaknya merokok pada diriku. Aamiin. Tapi masih enak euy, terutama di momen semacam ini. Aku meminjam korek pada A Feri, kakak Ficky, yang dulu juga sempat mondok di pondok Cipasung. Kami sedikit shaering mengenai rencana jalur pendakian. A Fery pernah muncak ke Guntur juga.

Lalu, Aku dan Mas Gib mampir ke toko peralatan outdoor untuk menyewa beberapa peralatan yang belum lengkap. Beranjak pulang dari toko peralatan outdoor, aku dan Mas Gib rada berselisih paham mengenai jalur pendakian. Mas Gib ingin via Cikahuripan, sedangkan aku ingin via Citiis. Aku melihat info bahwa Cikahuripan termasuk wilayah cagar alam yang notabene tidak boleh diinjakkan kaki manusia. Namun, info resmi dan regulasi pemerintah mengenai jalur itu masih simpang siur.

Menurut Mas Gib, banyak kawan yang juga ke Guntur via Cikahuripan dan tidak apa-apa. Okei, aku ikut ke Cikahuripan soalnya Mas Gib leader-nya dan lebih dulu muncak ketimbang aku. Tiba di rumah Ficky, kami bakar rokok lagi, dan mencari info lebih lanjut mengenai jalur pendakian yang resmi di internet. Akhirnya, Mas Gib berkeputusan mengambil jalur Citiis saja. Sebab kita menghormati alam, meski perusak alam.

Ficky bergabung. Kita pun merencanakan perjalanan besok. Ngantuk. Ke WC, dan tidur.

Dini Hari, Sabtu, 08 Safar 1447 H

Sekitar pukul 3-an, Mas Gib lebih dulu terbangun oleh alarm hapeku yang bunyinya kayak tonggeret. Sebetulnya kami bertiga semalam sebelum tidur, setelah mendengar kajian Pak Fahrudin Faiz, kesulitan buat terlelap dan bikin badan jadi deep sleep. Entah oleh nyamuk, atau posisi yang juga tidak menemui titik wenak. Namun, semua berusaha! Merem saja walau badannya guling-gasah tidak mau diam. Aku pun tahu mereka belum tidur. Namun biarlah kita sama-sama berusaha, sebab besok perlu energi terbarukan untuk menaklukkan puncak tantangan.

Beranjak dari ranjang, kami bertiga ke WC umum. Ya! Beneran WC umum, karena rumah Ficky pinggir jalan provinsi, otomatis banyak para musafir yang kebelet, maka dibuatlah WC umum di rumah itu. Ficky lah penunggu WC itu, ia bisa menghasilkan ratusan ribu rupiah jika sedang musim mudik.

Setelah bebersih dan berpakaian tebal, Ficky telah menyeduh susu jahe. Kami sarapan, memanaskan mesin motor: Neng Asti motorku, dan Bruno milik Mas Gib, a.k.a Astrea Grand 90-an. Berpamitan kepada Mamah Ficky yang baik hati, lalu gasskeun!

Basecamp Bang Ucok — Jalur Citiis

Kami tiba di basecamp Bang Ucok jalur pendakian via Citiis sekitar pukul setengah 5-an, walau rada kesasar dan tetap kembali ke jalan yang benar. Begitulah, kawan, untuk menemukan jalan yang benar memang suka tersesat dulu.

Di basecamp, kami bertemu dengan rombongan asal Cikarang. Kami laksanakan perintah Subuh terlebih dulu di mushola sederhana yang terbuat dari bilik rotan. Sungguh Subuhan yang romantis; begitu dingin airnya, begitu asri suasananya, mudah-mudahan khusyuk ibadahnya dan diterima. Aamiin.

Sang leader mengisi registrasi, menyewa headlamp sebab kemarin lupa tidak nyewa, maklum manusia. Bahkan topi adventure lupa kita bawa. Padahal kita bertiga berencana pakai topi itu supaya kece. Mas Gib berencana menyewa di toko outdoor tapi lupa. Ficky sudah menyiapkannya di rumah tapi lupa tidak dibawa. Dan aku! Sudah membawanya hingga parkiran tapi lupa tidak dibawa summit. Aish! Sungguh, padahal belum tua. Kata Aa, ciri-ciri orang tua ada tiga: yang pertama mudah lupa, yang kedua dan ketiga lupa lagi.

Setelah Bang Ucok menjelaskan rute-rute trek pendakian, kami berangkat.

Subuh rebun, sebuah hari mula-mula. Langit mengaburkan awan, nun di ujung sana siluet mega kuning nampak indah. Gunung-gunung menjulang nampak jelas, pagi yang asri. Mas Gib memotret panorama kaki Gunung Guntur dan pegunungan Garut yang hendak disambut sunrise. Ah, untung ada IP.

Lalu sang leader itu memutar playlist The Changcuters. Aroma petualangan merebak mengitari alam raya pikiranku.

Dari pos ke pos

Menuju pos 1, jalurnya masih terbilang landai, penuh pasir putih, vegetasi alam bak hutan sabana kecil-kecilan. Di bawah sini sudah terlihat jelas puncak Guntur yang gagah perkasa itu. Di kejauhan nampak kilatan blitz, mungkin pendaki yang menggelar tenda dan sedang menangkap sunrise.

Beberapa percabangan untuk mencapai pos 1, aku sebagai anak IPS yang tidak serius belajar geografi rada bingung membaca arahan peta dari Bang Ucok. Untung ada Ficky. Meskipun ia follower alias pendaki pemula, otaknya lebih encer dariku dan dari Mas Gib, haha. Jadi, navigatornya siapa saja dah, yang penting yakin dan berada di bawah tanggung jawab leader.

Selanjutnya vegetasi alam mulai padat. Memasuki hutan geledegan, mengitari jalan setapak, dan melewati aliran air semacam curug kecil-kecilan. Tibalah di pos penjagaan. Biasanya setelah beres muncak dan kembali ke basecamp kita menyerahkan simaksi untuk lapor bahwa perjalanan telah selesai, tapi itu nanti.

Kami melanjutkan perjalanan dengan sedikit beristirahat, paling lama lima menit untuk minum dan sedikit mengatur napas. Mas Gib sudah beberapa kali menyundut rokok, aku engap dan tidak rokok-an sambil jalan, Ficky beberapa kali mengemut permen Kiss. Muach.

Track pendakian ini mulai terasa olahraganya, badanku mulai timbul butir keringat. Jaket, glove, dan headlamp kulepas. Sudah mau nanjak dan curam. Fire!

Tiba di pos 1 ficky bertanya di manakah pos nya? Kami menjawab pos di trek pendakian tidak melulu seperti pos ronda, namun hanya penunjuk batas antar jarak yang telah di tempuh. Kita rehat sejenak, melepas dahaga dan makan logistik ringan dulu ye kan, Mas Gib dan aku melahap protein dari sosis dan Ficky memakan roti tape.

Kami melanjutkan perjalanan dan mulai terjal, batuan besar dan jalur yang curam. Kali ini aku sudah mulai tidak berceloteh dan lebih fokus mengelola napas. Kita pun jadi sedikit bercakap-cakap. Trek terbilang sepi, mungkin karena kita nyubuh dan bukan weekend.

Singkat kata kita tiba-tiba saja tiba di pos 2, beberapa kali spot pemandangan ketinggian sudah terasa, beberapa kali diam sejenak untuk sekedar mengucap pujian atas karunia penglihatan dan hamparan bumi dan pasak pegunungan yang begitu megah. Beberapa kali dilanda capek, nyangsang di bawah pohon rindang, peluh mulai mengalir dan matari mulai naik dan terik. Alhamdulillah cerah.

Mas Gib memotret momen-momen kami menemukan spot Subhanallah. Ficky mulai merasakan tubuhnya di olahraga.

Tiba-tiba pula kita tiba di pos 3, entah kenapa tidak terasa. Sebuah pos yang akan menghantarkan kita menuju puncak ketinggian Mt. Guntur. Di pos 3 kita berkepentingan buat laporan kembali kepada Bapak penjaga pos dan diberikan semacam arahan serta instruksi bahwa trek berikutnya merupakan batuan dan pasir yang licin. Pintar-pintar perlu mengambil arah jalan serta pastikan keselamatan.

Selepas itu kita rehat sejenak, minum lagi, makan sikit-sikit, dan Mas Gib bakar rokok dulu ye kan. Ialah licin sehingga membikin beberapa kali tergelincir—hilang tumpuan, hilang pijakan untuk berdiri. Itulah trek Mt. Guntur: dua kali melangkah terasa satu kali melangkah, sebab kerikil semua!

Dan, Kawan, pada perjalanan itulah aku berorasi layaknya seorang aktivis yang rindu perlawanan. Emm, ya karena treknya sepi, ya supaya nggak jenuh aku yapping haha. “Bahwa perjalanan ini tidak ada apa-apanya ketimbang perjalanan menuju puncak tantangan kehidupan! Ayo, Kawan-kawan, bersemangatlah untuk mendaki puncak tantangan yang tidak seberapa ini!” Sekian orasiku ketika Ficky ngos-ngosan di bawah pohon dan Mas Gib sedang rokok-an.

Hampir tiba, ya! Hampir tiba kita di puncak pertama Mt. Guntur, lantas hamparan pasak gunung terlihat jelas di ketinggian ini, nun di ujung berdiri gagah puncak Cikuray. Aku menunggu dulu Ficky mengelola napas dengan baik dan benar, serta Mas Gib yang asyik foto-an. Dan Inilah, Kawan, tiba pula! Kami di puncak pertama Mt. Guntur.

Rada ngaso dulu ye kan, lalu bertemu pendaki lainnya, rada bahas sana-bahas sini, minum lagi, oiya! Fofotoan, ya! Kita kenyangkan hasrat mengabadikan momen ini walau sesungguhnya tidak ada yang abadi di alam yang fana ini. Betapapun fana, kita bersyukur Mas Gib menyandang iPhone. Setelah kenyang semua, sampai penuh galerinya, perjalanan kita lanjutkan menuju tugu Mt. Guntur yang terkenal di FYP TikTok itu.

Bahwa aa-aa tadi yang pas-pasan di jalan menyarankan untuk mengambil jalur dakian ke kanan, sebab kalau ke kiri bukan main licin dan banyak kerikil. Okeh, nuhun a sarannya. Kami naik-naik ke puncak gunung, benar! Tinggi-tinggi sekali, seperti kenaikan pajak negeri ini! (dimulai dari Pati ya, mbak). Maka tibalah tiga orang sahabat itu di salah satu puncak ketinggian Priangan Timur.

Mas Gib sudah duluan sih, lagi asyik ngaso. Kita bertiga langsung diem dulu dan menikmati teriknya matahari yang tidak seberapa dengan matahari di Yaumul Ba’ats, lalu memandang sekeliling 360 derajat, senang sekali sebab telah sampai di puncak tantangan kali ini. Dengan selamat dan anggota tubuh yang masih lengkap.

Tentu saja, ada iPhone, masa! Iya, tidak fofotoan. Mula-mulanya sendiri-sendiri dulu, lalu datanglah rombongan pendaki safety dari Cianjur yang berjaket gopcore dan berkacamata renang. Tentu saja sebagai sesama manusia yang juga beragama Islam kita mesti bersilaturahmi dan saling membantu, maka bergantianlah kita saling memfotokan rombongan masing-masing. Berpamitan, dan kembali pulang.

____________________________________________________________________

Pulang

Kuceritai kau Kawan, mengenai perjalanan pulang. Bahwa kerap kudengar perjalanan hiking bukanlah perjalanan menuju puncak tetapi perjalanan pulang dengan selamat.

Tentu saja, Ketika turun dari tugu Mt. Guntur menuju pos 3 terasa begitu mudah dan ringan kaki. Berbeda Ketika naik tadi. Namun, tetap Ketika turun perlu ketelitian mendaratkan kaki untuk bertumpu dengan baik dan yoi, sebab kalau-kalau gelincir maka terpeleset dan jatuh. Beberapa kami jatuh karena hilang tujuan, eh, hilang tumpuan maksudnya.

Tiba di pos 3 pada sekitar pukul dua belas Tengah hari. Bersiap-siap untuk memasak konsumsi. Menyalakan kompor portable yang Mas Gib sewa di Kadungora, memasak air menggunakan panci butut milik Ficky, lalu menyeduh mi instan. Biar instan kita kenyang semua, tak perlu lah kuceritai bagaimana prosesi memasak mi instan sebab kau sudah pada tahu semua.

Sebagaimana adat kebiasaan perokok senior, maka membakar signature lah Mas Gib dan Aku setelah makan, memesan kopi hitan dan susu putih serta berceloteh kesana-kemari. Sedang Ficky menjadi perokok pasif di pojokan, tapi tetap ikut dalam suatu wacana yang kita perbincangkan. Ya, mengenai isu konservasi, global warming dan lingkungan tanah adat yang digusur kita jadikan mosi diskusi kala itu. Haha, hoaks.

Waktu dzuhur telah tiba. Aku ke mushola dan tidak sengaja tertidur lama di sana. Setelah bangun aku memesan kopi hitam lagi, sedang Ficky dan Mas Gib tidur pula di mushola sehingga rencana turun ke basecamp pukul 1 melebar dan entah kapan. Sehingga aku membaca bukunya Pak Quraish Shihab sembari ngopi item pada suasana alam di siang hari.

Maka, ba’da ashar kami beneran turun ke basecamp. Hampir, kita tersesat Ketika di percabangan Ficky memilih Langkah yang keliru, semakin dalam semakin semakin asing jalur yang kita lalui, sehingga kita putar balik dan memilih jalan yang benar, yang lurus dan tidak dimurkai. Lagi-lagi perlu tersesat untuk menemukan jalan yang benar.

Sungguh perjalanan turun yang menyenangkan, terutama Ketika di vegetasi sabana, Ketika senja dan langit mengaburkan jingga, suasananya macam di movie lion king, kitapun dengan membahana menyanyikan awing mawek sepanjang perjalanan di sabana. Seperti tiga orang gila kurang kerjaan, woi! Orang gila ga punya kerjaan!

Tiba di basecamp kami istirahat cukup lama. Mas Gib ikut ngecas ke mbak-mbak sesame pengguna Iphone. Fofotoan juga dengan tunggangan kita, Bebek Jadul 90an lalu menyapa Zein seorang karib yang beralamat di Cipanas Garut melalui Personal Chat Whatssap, dekat betul dengan Mt. Guntur rumah orangtuanya itu, ya jelasnya dia belum punya rumah. kami berencana mampir untuk menguatkan silaturahmi dan ikut mandi sebab sudah sangat bau tidak karu-karuan. Zen menyambut kabar kami mau mampir selayaknya seorang habib. Ia pun sama sahabat yang kami temukan di bawah naungan pondok cipasung.

Tiba di kediaman Zen, mendengar suaranya menggelegar melalui toa mushola depan rumahnya itu. Ia sedang adzan. Kita tiba bertepatan pada waktu maghrib, sehingga langsung menuju mushola dan bertemu Zen di sana.

Setelah magriban, kita dipersila masuk kedalam rumah orangtuanya itu. Disambut layaknya tamu, menyalami mamah Zein yang baik hati lalu disuguhi martabak manis dan telur, sungguh varian lengkap! Kami makan tanpa sungkan Ketika mamahnya Zen undur diri, kami ke kamarnya Zen lalu makan martabak di sana sambil ngopi item, lengkap masing-masing satu cangkir. Kami berceritalah kepada Zen mengenai apa yang telah terjadi pada diri masing-masing selepas menunaikan sekolah formal di Aliyah dan non-formal di pondok Cipasung, ya meskipun belum lama namun jelas sudah banyak perubahan di sana-sini.

Mas Gib bercerita mengenai kelanjutan studinya yang melanjutkan D3 di Unsil, Aku dan Ficky yang merantau serta Zen yang akan berangkat Ke Jepang tahun depan untuk studinya, serta bagaimana ia kemudian menjalin pertauatan dengan Perempuan, hehe, asmara-asrama remaja, Dewasa! Oiya Mas Gib baru putus dengan pacarnya, tapi silaturahminya tidak putus kok, hehe. aku dan ficky menjadi jomblo syuhada. Aamiin, mudah-mudahan.

Setelah ngalor-ngidul kesana kemari, satu persatu izin mandi meminjam kamar mandi zen, aku sih minta sampo juga ya. Terus deh kita isya’an dan berencana pamit undur diri untuk Kembali ke kediaman mamah Ficky. Tapi ternyata Kawan, mamah Zein yang baik hati telah menyuguhkan makanan yang perlu kita santap, sungguh demikian kita sulit menolak nasi. Maka makanlah kita dengan lahap. Setelah kenyang semua barulah kita pamit undur diri dan memohon maaf kepada mamahnya Zein sebab datang tak di undang pulang sangat cepat. Sudah makan, sudah mandi, sudah ngopi, sudah segalanya, sungguh sangat enak, jadi ingin Kembali bertandang hehe. Sebelum mangkat kami fotoan dulu ye kan, kapan lagi coba kita bakal berjumpa sebab masing-masing telah memilih jalan yang berbeda.

Pulanglah kita menuju rumah mamah Ficky di antara Kota Bandung dan Kabupaten Garut. Aku pegal mengendalikan Asti, maka kuserahkan sementara kepada Ficky, ia yang pengalamannya lebih aktif mengendarai motor metik sungguh amat berhati-hati mengendarai Asti membikin aku gregetan.

Alhamdulillah kita tiba di rumah mamah ficky pada sekitar pukul 10 malam dan badan kami amat lesu, ingin segera merebahkan badan menuju belaian Kasur. Maka tidurlah Kawan, besok petualangan baru mungkin menanti.

Semarang, 16 Agustus 2025

Writer : Arifin Faturohman

 

Loading

Rahasia Kebahagiaan di Balik Kesederhanaan

 

Di sebuah desa yang kecil Bernama Desa Pawindan, terdapat sebuah keluarga yang sederhana. Xaquilla Pratama adalah anak pertama dari pernikahan Diana Aprilia dan Kadit Waluyo, suaminya yang telah meninggal dunia. Sejak Ayahnya tiada, kehidupan mereka menjadi semakin rumit. Diana bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka, tetapi dalam perjalanan mencapai kebutuhan itu membutuhkan perjuangan yang pelik.

Xaviera merupakan gadis yang selalu ceria, namun kondisi hidup yang serba kekurangan membuatnya merasa tertekan. Dia adalah satu-satunya cucu yang miskin dari keturunan ayahnya. Keluarga dari pihak ayahnya berkecukupan. Mereka sering mengunjungi nenek dari pihak ayah, namun setiap kali mereka datang, Xaviera dan ibunya selalu terasingkan karena keluarga dari ayahnya tidak suka dengan kehadiran mereka.

Tante Moli, kakak perempuan ayahnya, adalah yang paling keras dalam memperlakukan mereka. Dia sering berkata kasar kepada Xaviera dan Diana, menyebut mereka sebagai beban dan menyalahkan mereka atas kemiskinan yang mereka alami.

“Kalian hanya datang untuk meminta-minta,” kata Tante Moli dengan nada mengejek.

Perkataan-perkataan seperti itu membuat Xaviera menjadi pribadi yang pemarah. Dia sering melampiaskan kemarahannya kepada ibunya, merasa bahwa kebahagiaan hanya bisa dicapai dengan kekayaan.

Namun, suatu hari, kehidupan mereka mulai berubah. Diana menerima kabar bahwa ia diterima bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pekerjaan ini memberikan harapan baru bagi mereka, meskipun perjalanan menuju kebahagiaan masih panjang.

Hari itu, Diana membawa Xaviera mengunjungi neneknya yang sednag sakit. Sesampainya di rumah nenek, mereka disambut dengan pandangan dingin dari keluarga besarnya. Tante Moli tidak bisa menahan diri untuk memberikan komentar sinis.

“Lihat siapa yang datang, si miskin yang hanya tahu minta-minta,” ujarnya dengan tawa mengejek.

Xaviera merasa hatinya terbakar.

“stop tante, sudah berapa kali tante menghina kami. Apa tante tidak sadar pekerjaan yang Ayahku kasih kepada tante, harusnya ibu yang menggantikannya, bukan tante,” ucapnya dengan nada kesal.

“Apa? Kamu berani berkata seperti itu? memang ya, sudah miskin tak ada akhlak pula,” ujar Moli membalas Xaviera.

Diana berusaha menenangkan Xaviera.

“Sabar, Nak. Kita kesini untuk menjenguk nenek, bukan untuk bertengkar,” bisik Diana sambil memegang tangan Xaviera dengan lembut.

Meskipun keadaanya demikian, Diana berusaha menahan diri. Namun, dalam hatinya dia bersumpah untuk membuktikan bahwa mereka bisa hidup bahagia tanpa harus menjadi kaya raya. Mereka menemui nenek yang terbaring lemah di tempat tidur. Nenek tersenyum melihat kedatangan mereka, meskipun senyuman itu tampak terpaksa.

Waktu berlalu, Diana berusaha keras setiap harinya untuk mencari pekerjaan. Dulu Diana pernah kuliah di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) namun, sempat terhenti karena berpindah tempat. Tiga tahunn yang lalu mereka tinggal di Manado bersama Kadit yang bekerja sebagai kepala sekolah dan Diana sebagai guru honorer. Karena Kadit telah meninggal dunia mereka harus berpindah ke sebuah desa dimana Kadit telah menyiapkan rumah untuk keluarga kecilnya dulu yaitu di desa Pawindan.

Pagi yang sangat cerah, Diana menghampiri setiap sekolah yang ada di desa Pawindan. Dengan semangat yang membara, ia yakin bahwa hari ini adalah hari keberuntungannya. Ia berharap semoga doa dan harapannya tercapai hari ini.

“Ya Tuhan, setiap malam aku berdoa. Aku tahu Engkau Yag Maha Kaya, maka berilah hamba rezeki pekerjaa hari ini,” ucap Diana dengan sepenuh hati. Langkahnya penuh harap, meskipun di balik senyumnya tersimpan kekhawatiran akan masa depan.

Diana selalu mengajarkan Xaviera untuk tidak pernah putus asa dalam menghadapi hidup. Meskipun keadaan sangat sulit, mereka tetap teguh dan saling menguatkan. Hari itu, Diana tidak hanya mencari pekerjaan untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk masa depan Xaviera. Dia ingin memberikan yang terbaik bagi putrinya, berharap suatu hari Xaviera bisa meraih cita-citanya tanpa harus merasakan pahitnya kemiskinan seperti yang dialaminya.

Tidak lama setelah ia berjalan beberapa menit, Diana melihat sebuah pengumuman yang menyatakan bahwa sekolah tersebut sedang membutuhkan guru baru.

“Permisi, Pak. Apakah benar di sini membutuhkan guru baru?” tanya Diana.

“Benar, Bu. Mari saya langsung wawancara,” jawab kepala sekolah yang sedang berdiri di depan gerbang.

Diana disambut dengan hangat di SDN 5 Pawindan. Semua tes yang diberikan oleh kepala sekolah dikerjakan dengan baik, dan akhirnya Diana diterima sebagai guru kelas di sekolah tersebut.

“Terimakasih Tuhan,” Diana berbisik dalam hatinya.

Ketika sore tiba, Diana pulang dengan langkah ringan. Sesampainya di rumah, dia disambut oleh Xaviera yang penuh rasa ingin tahu. Dengan bangga, Diana menceritakan kabar baik itu. Xaviera merasakan kebahagiaan yang tulus dalam kebersamaan mereka. Dalam hati, Xaviera tahu bahwa kebahagiaan mereka tidak hanya datang dari pencapaian materi, tetapi dari cinta, dukungan, dan harapan yang mereka bagi bersama. Hari itu mereka merayakan kemenangan kecil yang menjadi landasan bagi kebahagiaan yang lebih besar di masa depan.

Setiap hari Diana mengajar di sekolah itu hingga ia diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Gaji yang diterima cukup untuk membuat kehidupan mereka lebih stabil. Meskipun masih banyak yang harus mereka lunasi, mereka tidak putus asa dan belajar untuk selalu bersyukur. Mereka tidak lagi merasa kekurangan. Xaviera mulai melihat perubahan dalam hidup mereka. Ibunya terlihat lebih bahagia, dan hal itu membuatnya berpikir ulang tentang makna kebahagiaan.

Suatu sore, saat mereka sedang duduk di ruang tamu, Xaviera berkata kepada ibunya, “Bu, aku merasa ada yang berubah dalam hidup kita. Apa ibu juga merasa begitu? apa ibu merasa lebih Bahagia,”

Diana tersenyum, memandang putrinya dengan kasih sayang.

“Kebahagiaan itu bukan tentang seberapa banyak uang yang kita miliki, Nak. Kebahagiaan itu ada di hati kita, bagaimana kita mensyukuri apa yang kita punya dan menjalani hidup dengan penuh kasih sayang.”

Kata-kata ibunya menggugah hati Xaviera. Dia mulai menyadari bahwa selama ini dia telah salah menilai kebahagiaan. Dia mulai berubah, menjadi lebih sabar dan lebih menghargai hal-hal kecil dalam hidupnya.

Suatu hari, nenek mereka meninggal dunia. Keluarga besar berkumpul untuk pemakaman. Di tengah kesedihan, Xaviera melihat sesuatu yang berbeda. Dia melihat bahwa meskipun mereka tidak memiliki segalanya, dia dan ibunya memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh keluarga besar mereka yaitu cinta dan kebersamaan.

Setelah pemakaman, Tante Moli menghampiri mereka.

“Kalian tetap saja miskin, tapi setidaknya kalian punya pekerjaan sekarang,” katanya dengan nada meremehkan.

Xaviera tidak marah. Dia memandang Tante Moli dengan senyum tenang.

“Kebahagiaan bukan tentang seberapa banyak uang yang kita punya, tante. Menciptakan kebahagiaan bukan dengan hal tersebut, namun kebahagiaan tercipta di dalam hati kita.”

Kehidupan terus berjalan, Xaviera kini tumbuh menjadi seorang yang bijaksana. Dia belajar dari pengalaman hidupnya bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa dibeli dengan uang. Kebahagiaan tidak diciptakan dari uang saja, karena terciptanya kebahagiaan itu dari hati. Bagaimana kita bisa mensyukuri apa yang kita miliki dan berbagai kasih sayang dengan orang-orang di sekitar kita. Meskipun banyak tantangan yang mereka hadapi, Xaviera dan Diana tidak lagi merasa tertekan oleh kemiskinan. Mereka menemukan kebahagiaan dalam kebersamaan, cinta, dan pengharapan. Dan itu yang membuat hidup mereka benar-benar Bahagia.

Loading

Melihat Tuhan Bekerja

Mereka menghalangi jalan. Lima orang memakai kaus hitam dan memakai celana jeans sobek yang dihiasi aksesoris rantai di dekat saku. Sablon logo tulisan berbentuk kupu-kupu menghiasi kaos kumal mereka, di bawah logo tersebut tertulis “Slank Nggak Ada Matinya“.

Mereka terlihat masih muda, mungkin sekitar 17 tahun. Berperawakan tinggi dan ramping. Salah satu dari  lima orang tersebut berjalan dari pematang jalan menuju ke tengah. Pelan tapi pasti. Matanya memicing. Tak berselang lama, terlihat sebuah truk. Mereka menyebutnya lempengan. Yang berarti truk yang memuat kontainer dari pelabuhan tetapi sedang kosong muatannya. Ia Terlihat melambaikan tangan, yang satunya lagi berteriak, seraya menelungkupkan kedua telapak tangannya di atas kepala, seperti sedang memohon, dan sisanya melihat rekannya dari tepi jalan sembari bersua dengan rokok bekasnya.

Aku  tidak menahu tujuan mereka. Tampaknya datang dari jauh, namun seperti tanpa bekal apa pun. Makanan? Hei, itu bukan yang mereka butuhkan, anak-anak itu percaya, mereka tidak akan mati hanya karena makanan. Imunitas tubuh anak-anak itu kuat, mampu bertahan dalam kondisi apa pun. Mereka hanya butuh Tuhan, titik. Walaupun kenyataannya mereka tak menjalankan kewajiban kepada Tuhan. Toh, Tuhan pun masih mengasihani mereka. Buktinya mereka hidup sampai sekarang.

” Ini mas makanannya.”

“Makasih mbak,” ujarku pada penjual makanan yang menyajikan seporsi nasi padang. Warung ini tidak besar, halamannya pun tidak terlalu luas, hanya sekitar lima kali enam meter, dan terletak di selatan jalan pantura. Perutku sudah berbunyi, perlahan kulahap makananku sembari menatap jalan beraspal tebal yang berdebu. Truk-truk besar lalu lalang, membawa berbagai muatan: pasir, mebel, besi, motor, ah tak perlu kusebutkan semua, kalian pasti sudah tahu sendiri jalur pantura, ‘kan?  Namun yang paling menarik perhatianku adalah mereka berlima. Memutar kembali masa-masa itu. Andaikan saja aku lebih dewasa, andaikan saja bapak tahu, mungkin saja semua tidak terjadi.

****

“Sesok sido melu, Mar?” (besok jadi ikut, Mar?). Tanpa basa basi aku pun mengangguk menerima ajakan temanku.

Bapak di rumah, bekerja sebagai guru dan mengajar di madrasah merupakan profesinya. Bapak adalah insan yang amat takut dengan Tuhannya. Pernah suatu malam, kulihat Bapak duduk bersimpuh sendirian di kamar –perlu kau tahu, rumah kami memang tidak ada tempat khusus untuk ibadah— kudengar dia seperti sedang cegukan disertai tetesan air yang menurutku laksana butiran-butiran embun pagi. Saat bapak telah tidur, aku pun memegang sajadah yang dipakai Bapak. Basah. Memang benar, Bapak menangis.

Bapak tidak menahu jika aku jarang shalat, puasa, dan ibadah-ibadah lainnya. Padahal beliau adalah tokoh masyarakat. Buat apa? Aku  percaya Tuhan, tetapi nyatanya tidak shalat pun aku masih hidup, aku masih bisa makan, lalu untuk apa sembahyang? Pikirku.

Bapak juga tidak tahu jika aku sering pergi ke suatu tempat yang jauh, dengan dalih mengikuti pengajian. Konser nampaknya lebih cocok untukku. Hanya di dalam konser seorang Martoyo mendapatkan kesenangan, dan hanya di dalam konser seorang Martoyo menjadi dirinya sendiri. Bukan seseorang yang sedang menyelinap dari dirinya sendiri dan menjadi sosok lain sebab itu yang diinginkan Bapak.

“Le, kowe arep neng ndi?” (Nak, kamu mau kemana?) Dengan logat jawanya yang khas, dia bertanya padaku yang sedang mengenakan kemeja abu-abu lengan panjang, sarung yang asal-asalan kupakai sehingga lipatan yang terdapat di perut terlihat menggelembung. Tak lupa aksesoris kepala yang kujinjing sembari menuju pintu rumah.

“Biasa pak, Bapak hanya bisa terdiam. Sebenarnya aku tidak ingin memakai kemeja dan sarung, aku seorang Martoyo hanya menjadikan kemeja sebagai baju penyamaran hobiku. aku mengenakan kaus hitam yang sudah dipotong lengannya, sehingga hanya menyisakan lubang besar di kedua sisi kaos. Jika dipakai, bahu sampai bawah ketiak akan terlihat. Tidak kuketahui namanya, tapi aku biasa menamainya singlet. Sesaat setelah keluar dari pintu, temanku datang menjemput menggunakan motor alfa klasik yang suaranya menggelegar. Dengan motor itu kami melaju menuju tempat ‘ganti baju’. Rumah Santo.

Aku bersiap.  Di rumah Santo, aku duduk di kursi kayu yang berada di teras rumahnya, rehat sejenak menanti jam keberangkatan. Aku yang notabene seorang Martoyo juga butuh istirahat. Martoyo juga seperti kalian; manusia biasa. Santo menyeduh kopi, dua cangkir, santo menyodorkan salah satunya ke arahku.

“To, kowe Percoyo pengeran?” (to, kamu percaya Tuhan?) tanyaku padanya. Dan seperti biasa, Santo tidak peduli. Dia hanya diam tak bergeming seraya menyeruput kopinya. Berarti dia belum berubah. Santo lebih dari aku, lebih bodoh. Dia bahkan tidak tahu Tuhan itu apa, hidupnya tidak teratur sama sepertiku, hanya saja aku masih percaya pada tuhan. Tuhan tidak pernah marah padaku, kenapa? Karena aku seorang Martoyo percaya Dia. Aku juga yakin Tuhan tidak akan berani marah pada Martoyo. Dia Maha Pengasih, ‘kan?

Malam telah larut, kami yang berangkat telah sampai di jalan raya. Berjalan kaki menuju jalan raya agaknya cukup memakan tenaga. Juga angin malam yang berhembus turut mengelus-elus kulit kami yang hanya berlekatkan singlet. Dingin, tapi kami terbiasa. Jarak antara rumah Santo dan jalan raya cukup dekat hanya sekitar 15 menit. Meski hanya 15 menit, malam ini ritme waktu sepertinya berubah, terasa lama, kemudian perasaan tak mengenakkan mulai muncul. Ah, mungkin cuma perasaan. Biarkan saja. Aku seorang Martoyo, tidak akan takut dengan perasaan.

Sampai hal itu terjadi.

Mataku mengerjap kerjap mencari tahu apa yang sedang terjadi, yang tersisa dari sebuah memori otak sekarang hanyalah suara klakson yang nyaring, dan seberkas sorot yang menyilaukan dengan aku yang berdiri di depan mereka. Perlahan kudapati aku seorang Martoyo terkapar di atas aspal. Perlahan juga kudapati aku seorang Martoyo tidak bisa bergerak. Di pelupuk matanya sekarang hanyalah noda darah yang mengalir, di ikuti seberkas masa lalu yang disertai penyesalan. Di dalam hati, aku seorang Martoyo berkata, “apakah Tuhan marah pada Martoyo?”

Di tengah kejadian, aku seorang Martoyo mendengar suara sepeda dengan pria paruh  baya berpeci putih di atasnya yang dengan segera mengulurkan tangannya di depan pelupuk mataku. Bapak. Ia nampaknya sudah curiga padaku sedari berangkat, dan dengan sengaja mengikutiku lalu menemukan seorang Martoyo yang tergeletak tak berdaya. Sejak saat itu aku bukanlah seorang Martoyo, tetapi aku hanyalah Martoyo.

                                                                            ******

PUAAK MANDEEK! “ (pak berhenti!)

Braak!

Uhuk.. Uhuk..  Aku tersedak, mendengar suara barusan sontak saja membuat terkejut semua orang termasuk aku yang sedang mengisi perut. Aku tahu apa yang terjadi. Kerumunan pun tak terhindarkan. Bagai semut mengerubungi tetesan sirup. Perlahan aku menerobos kerumunan dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dan benar saja, tergeletak salah satu dari mereka berlima –yang berjalan ke tengah jalan— darah mengalir kesana kemari, dan ia tak bergerak. Temannya hanya memegangi sembari meminta tolong, yang satunya lagi berteriak histeris.

Orang yang mengerubungi pun hanya berbisik bisik tak karuan, sibuk memotret kejadian seakan dirinya adalah reporter televisi yang digaji. Tak ada yang menelepon polisi, ambulans, atau semacam bantuan lainnya. Yang ada hanyalah tatapan sinis dari mata yang sok suci. Sedangkan aku sendiri, hanya berdiri mematung menatap mereka sambil menggerayangi sisa-sia makanan di sela-sela gusi dengan jari. Aku tak mau tahu nasib mereka, aku tak peduli. Hanya penasaran saja bagaimana Tuhan bekerja, apakah Tuhan mengasihaninya? Jika benar, aku ingin melihat langsung, bagaimana kasih sayang-Nya bekerja?.

 

 

Cerpen ini telah terbit di Majalah Al Irsyad edisi 12 tahun 2021. Penulis adalah orang yang problematik, yang terancam kena gangguan jiwa kalau tidak menulis.

 

 

 

 

 

Loading

Aturan Penulisan Artikel Divisi Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo

Aturan Penulisan Artikel Divisi Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisong

Divisi Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo memiliki tujuan untuk mendorong anggota-anggotanya dalam menghasilkan karya-karya ilmiah yang berkualitas. Untuk mencapai tujuan tersebut, kami telah menyusun aturan penulisan artikel yang jelas, agar proses pengiriman artikel ke platform kami dapat berjalan dengan lancar dan terorganisir. Aturan ini tidak hanya mencakup ketentuan umum dalam penulisan, tetapi juga panduan spesifik terkait berbagai kategori artikel yang dapat diajukan, serta pedoman khusus bagi penulisan turats yang lebih mendalam dan berbasis keilmuan Islam.

Ketentuan Umum Penulisan Artikel

Setiap artikel yang dikirimkan ke Divisi Jurnalistik CSSMoRA harus memenuhi beberapa ketentuan dasar. Salah satunya adalah orisinalitas artikel. Kami menekankan bahwa artikel yang dikirimkan harus merupakan karya asli dari penulisnya, tanpa unsur plagiasi atau saduran dari karya orang lain. Kami juga mengharapkan penulis untuk menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku. Gaya penulisan harus disesuaikan dengan tema atau rubrik yang dipilih oleh penulis, dan setiap artikel yang dikirimkan bertujuan untuk mengedukasi pembaca, memberikan informasi yang berguna, serta membahas isu-isu sosial, keislaman, pendidikan, kebangsaan, dan kepesantrenan.

 

Kategori Artikel yang Dapat Dikirimkan

Kami menerima berbagai kategori artikel yang dapat dipilih sesuai dengan minat dan keahlian penulis. Kategori ini mencakup Kajian Keilmuan, yang membahas topik-topik terkait keislaman atau kajian sosial-keilmuan dengan panjang artikel antara 700 hingga 1.000 kata. Penulis yang memilih kategori ini diharapkan dapat memberikan argumen yang kuat, didukung dengan data dan kutipan yang relevan.

Kategori berikutnya adalah Opini, di mana penulis dapat membahas isu-isu faktual seperti keislaman, pendidikan, sosial, politik, atau masalah lainnya. Artikel dalam kategori ini minimal memiliki panjang 600 kata dan disusun dengan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca.

Kami juga menerima artikel Resensi Buku yang bertema buku terkait keilmuan atau keislaman. Artikel ini minimal harus sepanjang 750 kata dan disertai dengan foto buku yang relevan. Untuk penulis yang lebih tertarik pada dunia motivasi atau generasi muda, kategori Inspirasi Milenial menawarkan ruang untuk penulisan artikel yang santai dan komunikatif dengan panjang 600 hingga 800 kata.

………..

Panduan Penulisan Artikel

Untuk memastikan kualitas dan konsistensi artikel yang kami terima, kami telah menetapkan beberapa panduan penulisan yang harus diikuti. Artikel harus ditulis dengan orisinalitas dan kredibilitas yang tinggi. Sumber-sumber yang digunakan dalam artikel harus valid, dan kutipan yang diambil dari karya orang lain harus dicantumkan dengan benar. Struktur artikel yang baik terdiri dari judul yang singkat dan menarik, pendahuluan yang menggugah minat pembaca, isi artikel yang mendalam dan berbobot, serta penutup yang memberikan kesimpulan dan rekomendasi.

Format penulisan juga harus sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, yaitu menggunakan font Times New Roman ukuran 12, spasi 1,5, dan margin standar (4-3-3-3). Kami juga meminta penulis untuk menggunakan gaya kutipan ilmiah yang telah ditentukan, seperti APA, MLA, atau Chicago.

Panduan Penulisan bernuansa Turats/Kitab Kuning

Selain artikel biasa, Divisi Jurnalistik CSSMoRA juga menerima artikel berbasis turats, yang merupakan karya-karya ilmiah yang lebih mendalam dan berkaitan dengan tradisi keilmuan Islam. Artikel dalam kategori ini harus mengangkat tema yang sesuai dengan tradisi ilmiah Islam Indonesia, seperti Ilmu al-Qur’an, Hadits, Fiqih, Tasawuf, Bahasa dan Sastra Arab, Aqidah, Filsafat, atau Sejarah Islam. Artikel harus ditulis dengan panjang minimal 5.000 kata (tidak termasuk pustaka dan lampiran) dan dapat ditulis dalam bahasa Arab atau aksara Pegon, sesuai dengan topik yang dibahas.

Penulisan Majalah Zenith

Divisi Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo juga menyelenggarakan sayembara penulisan majalah sebagai sarana untuk mendorong kreativitas dan kontribusi ilmiah dari anggotanya kru magang Juranalistik setelah melaksanakan pelatihan kepenulisan sebelumnya. Artikel yang diajukan dalam majalah ini harus relevan dengan tema yang telah ditetapkan Anggota Divisi Jurnalistik, dan penulis akan dinilai berdasarkan orisinalitas, kedalaman analisis, serta kesesuaian dengan tema yang diusung. Artikel terbaik akan mendapatkan penghargaan berupa publikasi di platform kami.

Hak dan Kewajiban Penulis

Setiap penulis yang artikelnya diterima berhak untuk mendapatkan feedback dari redaksi, dan artikel yang lolos seleksi akan dipublikasikan di website kami. Selain itu, penulis juga berhak atas penghargaan berupa apresiasi. Di sisi lain, penulis berkewajiban untuk membagikan artikel yang telah dimuat di media sosial pribadi mereka sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan dan eksistensi Divisi Jurnalistik CSSMoRA.

Penolakan Naskah

Kami memiliki kebijakan tegas terkait artikel yang tidak sesuai dengan standar kami. Artikel yang mengandung unsur SARA, hoaks, atau bertentangan dengan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan akan ditolak. Redaksi juga berhak untuk menyunting artikel tanpa mengubah substansi, jika diperlukan.

Publikasi dan Apresiasi

Artikel yang terpilih untuk dipublikasikan akan diterbitkan di media internal CSSMoRA. Selain itu, artikel yang lolos seleksi juga akan mendapatkan reward sesuai dengan kebijakan redaksi sebagai bentuk apresiasi terhadap karya penulis.

Kontak Redaksi

Bagi yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut terkait aturan penulisan artikel, dapat menghubungi kontak resmi Divisi Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo melalui email di 23020460084@student.walisongo.ac.id atau melalui WhatsApp di +62 822-5277-4568.

 

Loading

Bedah Esai #2: How to Write a Perfect Essay

IMG-20240526-WA0113
IMG-20240526-WA0129
IMG-20240526-WA0119
IMG-20240526-WA0103
previous arrow
next arrow

Pada hari Minggu, 19 Mei 2024, pukul 08.30 WIB, telah diselenggarakan Ngobrol Pintar atau Ngopi bertajuk “Bedah Esai #2: How to Write a Perfect Essay” di Gazebo YPMI Al-Firdaus. Acara ini merupakan bagian dari program kerja Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) CSSMoRA UIN Walisongo Semarang. Ngobrol Pintar atau Ngopi dilaksanakan secara rutin untuk mengupas isu-isu terkini, baik yang terjadi dikalangan mahasiswa, nasional dan internasional.

Setelah memahami teori pada pertemuan sebelumnya, kali ini para peserta diajak untuk mempraktekkan ilmu yang telah mereka peroleh. Seperti yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi, “Satu ons praktek lebih berharga, dari satu ton teori”. Acara dimulai dengan pembukaan dengan memberi pengantar mengenai praktek kepenulisan oleh moderator yakni Masnunah Nurul Faizah (Anggota CSSMoRA 2023). Ngobrol kali ini dihadiri oleh anggota CSSMoRA, mulai dari angkatan 2021 sampai 2023.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh M. Fajri Kholili Zain, S.H., peraih wisudawan terbaik S1 Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo Tahun 2023. Dalam presentasinya, Fajri memberikan panduan tentang cara menulis esai yang sempurna. Beliau menekankan pentingnya praktik langsung dalam menulis untuk mengasah skill kepenulisan. Fajri juga berbagi berbagai teknik untuk membuat esai yang terstruktur dan menarik. Beliau berpesan pula bahwa berlatih secara konsisten akan sangat mempengaruhi gaya kepenulisan kita menjadi lebih baik. Seperti yang beliau sampaikan bahwasannya,

“Yang terpenting bukan apa yang dibicarakan, tetapi bagaimana cara membicarakannya. Penullis juga harus menawarkan daya tarik bagi pembaca. Hal ini bisa disajikan dalam cara argumentasi yang dapat menyakinkan dan mengajak pembaca”

Peserta diajak untuk langsung mempraktekkan menulis esai step by step, dari judul hingga kesimpulan. Setiap sesinya, peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan hasil kerjanya dengan kerangka teori yang telah disampaikan, kemudian satu per satu dikoreksi oleh Fajri.

Setelah sesi praktek, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi. Peserta sangat antusias dalam mengajukan argumen mereka. Hal ini terlihat dari banyaknya peserta yang mengacungkan tangan ketika sesi diskusi dibuka. Banyak dari mereka yang berbagi hasil esai mereka yang pernah dibuat dan meminta masukan dari pemateri, yang dijawab dengan antusias oleh Fajri. Kegiatan ini berjalan dengan lancar dan diharapkan seluruh anggota CSSMoRA dapat menerapkannya dalam kepenulisan yang akan dibuat, sehingga ilmu yang didapat bermanfaat. Penutupan acara dilakukan dengan kesimpulan singkat dari moderator, diikuti dengan sesi foto bersama.

Loading