Halo, apa kabar kalian? Huft, sepertinya sudah lama sekali ya tidak bertemu aku lewat kata-kata manis yang kubuat, hahaha. Semoga kalian tidak bosan dengan kata-kata yang banyak diulang ini.
Kali ini, yang kutulis bukanlah cerpen atau kutipan singkat yang biasa aku bagikan di platform media sosialku. Khusus di bulan ini, aku ingin menyampaikan surat kepada orang yang kusayangi sebagai bentuk apresiasi diri dan rasa terima kasih untuk mereka yang berhasil membuatku bertahan hidup sampai saat ini.
Tepat di bulan ini, di usiaku yang genap 20 tahun. Surat pertamaku teruntuk seseorang yang seharusnya ada. Namun naasnya, kita seolah dipaksa berduka seumur hidup oleh seseorang yang jiwanya bahkan masih ada dan berjalan di muka bumi ini. Di kehidupan yang cuma sekali ini, ternyata aku tidak seberuntung itu yaaah.
“Hari ini ingin sekali aku menyampaikan sebuah kalimat yang menjadi isi hatiku selama ini karena aku tidak bisa menyampaikannya secara langsung kepadanya. Aku menuliskan sebuah kata dengan penuh cinta dan dengan penuh harapan yang ditemani air mata.
Ayah, sebuah panggilan dari cinta pertama anak perempuan. Ayah, kini anak kecil yang selalu kau tenangkan hatinya saat ibu sedang memarahinya, anak kecil yang kau ajak mandi sungai bersama, anak kecil yang berlari-lari saat menunggu kau pulang hanya untuk bisa ikut naik motor dan berkeliling sebentar bersamamu, kini sudah dewasa.
Ayah, ada permintaan yang selama ini belum pernah terucapkan. Selama 20 tahun aku hidup, aku tidak pernah merasakan sholat diimami Ayah, aku tak pernah diucapkan ‘Selamat ulang tahun nak’. Aku tidak pernah mendengar Ayah mengucapkan ‘anak Ayah hebat’ hahhaha… ingin sekali aku merasakan itu, Yah.
Aku ingin sekali disayangi, dimanja, dan diberikan perhatian kecil seperti dulu lagi. Ayah, aku ingin sekali sholat berjamaah bersama keluarga kecil kita. Nantinya kita berdoa bersama, memohon kepada pemilik hidup dan mati dalam doa yang sama. Mungkin ini salah satu keinginan terbesarku yang tidak tahu kapan terwujudnya.
Tetapi jika suatu hari nanti Allah yang lebih dulu memanggilku, tolong Ayah ikut menyolatkanku dan melihatku untuk terakhir kalinya. Ayah, aku selalu berdoa semoga Allah memberikan umur yang panjang kepada kita semua agar anak kecil ini bisa melihatmu tersenyum tanpa beban sedikitpun. Mau bagaimanapun luka yang kau torehkan di hatiku, kau akan tetap menjadi Ayahku.”
Untuk Mamah, “maaf Mah, beribu maaf aku katakan padamu. Aku terlalu malu untuk meminta maaf padamu secara langsung. Aku belum bisa jadi anak yang kau inginkan, maaf aku masih jadi anak pembangkang di matamu, maaf kadang nada bicaraku membuat hatimu terluka, ucapanku yang membuatmu kecewa.
Tolong hidup lebih lama lagi ya Mah? Tolong bertahan sampai aku sukses, sampai aku bisa membuat dirimu bahagia. Kalau ga karena Mamah, mungkin aku ga akan semangat untuk terus menggapai apa yang aku impikan, Mah. Tolong doakan aku di setiap sujudmu, i love you malaikat tak bersayapku.”
Mama you are my favorite person.
Aku tumbuh dengan menyaksikan ibuku menangani semua rintangan yang dilemparkan pada hidupnya. Apa pun yang terjadi, dia selalu bangun di pagi hari, memastikan perutku tidak kosong saat beraktivitas, melakukan pekerjaan luar biasa untuk membesarkanku. Itu sebabnya aku tidak pernah lemah dalam hidup ini. Sekalipun kehidupan ini banyak kalahnya, aku selalu bangun untuk satu alasan lagi. Aku belajar dari orang terbaik dari kehidupan ini.
Dan untuk teman-temanku, kuucapkan banyak terima kasih. Tanpa kalian sadari, kehadiran kalian menumbuhkan semangat baru dan alasan untuk tetap hidupku. Semoga semesta tidak pernah lupa bahwa aku selalu ingin melihat teman baik seperti kalian memenangi banyak hal di hidup ini, entah itu mimpi ataupun harapan.
Fatherless is scary. Aku gapunya pembimbing di hidup, kadang aku harus jatuh dulu baru ngerti cara berdiri, harus salah dulu baru tau mana yang benar, harus salah jalan dulu biar sadar kalau jalan itu buntu. Capek? iya. Bingung? sering. Tetapi di situ aku banyak belajar menemukan arah sendiri, belajar bertahan meskipun sendirian. Dan pelan-pelan sadar, ternyata sejauh ini aku sudah lebih kuat dari yang aku kira.
Dan untuk jatuh cinta? hmmm, bukan karena aku tidak percaya pada cinta, tapi karena sejak kecil aku melihat bagaimana seseorang bisa pergi dari tanggung jawab yang seharusnya ia jaga. Kehilangan itu diam-diam mengajarkanku bahwa orang yang seharusnya tinggal pun bisa memilih untuk pergi.
Kadang aku takut menikah, bukan karena tidak ingin dicintai, tapi karena takut salah memilih. Takut suatu hari menemukan diriku berada di cerita yang sama, bersama seseorang yang akhirnya pergi seperti sosok yang dulu meninggalkanku. Aku hanya takut satu hal, anak yang suatu hari mungkin kulahirkan harus merasakan kosong yang sama seperti yang pernah kurasakan. Karena luka seperti itu tidak pernah benar-benar hilang, ia hanya belajar diam dan tinggal lebih dalam di hati.
Jampi-jampi Februari.
Geura gede. Geura lumpat.
Rapal satu, ucap sekian.
Rapal ratu, ratap makian.
Tengok tahap tengah cacian,
Kata sembunyi dalam nyanyian.
Harap.
Harap.
Harap.
Terkembang.
Membusung—
Tengah dada,
Dalam dada,
Belah dada.
Semoga cepat kaya.
Semoga kayamu memberi cepat.
Cepatlah hidupmu.
Lambatkah gerakmu?
Napas satu.
Napas tak jemu.
Hirup lalu tanpa menyeru.
Nyala.
Membusung cinta.
Lembayung kita; Mendesir.
Angin, sampaikan air.
Tinggi, hampiri kami.
Kutukan kami.
Air! Turun?
Mengapa basahi?
Pohon tumbang.
Petir menyambar.
Banjir bandang.
Darimana saatnya.
Saatnya saya bersenda ria.
Kuncup mekar merana.
Mekar satu terbang terhingga.
Kita sudah sampai kan usia.
Usia cukup menerka kira.
Apa yang bersembunyi di balik muka.
Mukamu senyum senantiasa.
Adakah nyata.
Garis tulus terkembang tatkala. Kita.
Sendakan ria. Dalam untaian masa.
Inginkan saja terbang.
Lepas.
Menembus langit.
Cakrawala.
Hai, pemilik teguh!
Izinkan memeluk rapuh.
Saya tidak becus.
Tidak kerana tangguh.
Inginkan saja degup suara.
Suara-suara merdu. Terompet hari itu.
Tiap kali saya jauh.
Manis sekali hangat menghampiri.
Mengalir. Merambat. Merangkai suatu.
Suatu kata:
Hari.
Hati.
Kecil.
Teduh.
Teguh.
Haru.
Tangis.
Bisu.
Aku pertama kali mati pada usia tujuh belas tahun.
Dan orang yang membunuhku adalah gadis yang
kucintai.
Aku tidak tahu itu saat pertama kali melihatnya. Waktu
itu ia hanya seorang gadis di halte bus dengan mata yang
terlihat seperti menyimpan terlalu banyak hujan.
Namanya Sena.
Dan sejak hari itu, hidupku berhenti berjalan lurus.
Aku bertemu Sena di sore yang biasa saja. Hujan baru
berhenti. Kota masih bau tanah basah. Ia duduk di
sampingku tanpa permisi, memegang amplop cokelat.
“Ini milikmu,” katanya.
Aku mengira ia salah orang.
Tapi namaku tertulis jelas di depan amplop itu.
Tanganku dingin saat membukanya.
Undangan pemakaman.
Namaku.
Tanggal tiga hari lagi.
Aku menoleh. Bangku di sampingku kosong.
Sena menghilang.
Aku membaca undangan itu sampai hurufnya terasa
bergerak. Jantungku berdetak terlalu keras untuk
sesuatu yang mungkin hanya lelucon.
Tapi tubuhku tidak percaya ini lelucon.
Tubuh selalu lebih jujur daripada pikiran.
Malam itu aku tidak pulang. Aku duduk di halte sampai
lampu jalan mati satu per satu. Setiap bus yang lewat
terdengar seperti hitungan mundur.
Aku merasa sedang menunggu diriku sendiri mati.
Keesokan harinya aku kembali.
Dan Sena benar-benar ada di sana.
Duduk di posisi yang sama. Baju yang sama. Rambut
basah yang sama.
“Aku menunggumu,” katanya pelan.
“Kemarin kamu menghilang,” kataku.
Ia tersenyum pahit.
“Kemarin sudah selesai. Ini hari pertama lagi.”
Dunia terasa miring.
“Apa maksudmu?”
“Kamu sudah mati,” katanya.
“Dan setiap kali kamu mati, waktu kembali ke halte ini.”
Aku tertawa pendek.
“Aku berharap itu lelucon,” katanya.
“Tapi aku sudah melihatmu mati tiga puluh dua kali.”
Tangannya gemetar saat menyentuh lenganku.
“Aku lelah menguburmu.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari ancaman
kematian.
Aku ingin pergi.
Tapi ada bagian dalam diriku yang percaya pada gadis ini
tanpa alasan.
“Kalau aku mati… kenapa kamu masih di sini?”
“Karena aku menolak dunia di mana kamu tidak ada.”
Cinta sering datang bukan karena kebahagiaan, tapi
karena seseorang melihat luka kita dan memilih tinggal.
Sena tinggal.
Selalu tinggal.
Dan aku jatuh cinta pada seseorang yang sudah
melihatku mati berkali-kali.
Kami menghabiskan hari-hari berikutnya seperti pencuri
waktu.
Naik bus tanpa tujuan.
Makan di warung kecil yang hampir tutup.
Berbaring di atap gedung sambil menghitung lampu
kota.
Setiap tawa terasa seperti perpisahan yang menunda
diri.
Setiap sentuhan terasa seperti janji yang rapuh.
Sena selalu menangis setelah kami tertawa.
Seolah kebahagiaan adalah hutang yang harus segera
dibayar.
Malam sebelum tanggal kematianku, ia bertanya:
“Kalau ada cara menyelamatkanmu… tapi aku yang harus
mati… kamu mau?”
Aku tidak menjawab.
Karena cinta bukan soal siapa yang hidup.
Cinta adalah siapa yang tidak sanggup ditinggal.
Dan aku tidak sanggup kehilangan dia.
“Tidak,” kataku.
Ia tersenyum sedih.
“Aku sudah tahu kamu akan jawab begitu.”
Tanggal 14 datang dengan sunyi.
Kami berdiri di halte tempat semuanya dimulai.
Tangannya dingin di genggamanku.
“Aku capek,” katanya.
“Aku tahu.”
Bus datang dari kejauhan.
Dan di detik itu aku melihat keputusan di matanya.
Sena mendorongku mundur.
Ia melangkah ke jalan.
Aku berlari.
Terlambat.
Bus menghantam tubuhnya.
Suara itu seperti dunia patah.
Ia terbaring di aspal.
Darah di sekitarnya terlihat terlalu merah untuk menjadi
nyata.
Ia tersenyum padaku.
“Akhirnya… kamu hidup…”
Tangannya dingin saat kugenggam.
“Jangan pergi,” kataku.
“Tolong jangan…”
Air matanya jatuh.
“Aku sudah hidup ribuan kali untukmu… biarkan aku
istirahat…”
Dan ia berhenti bernapas.
Aku hidup.
Dan itu terasa seperti hukuman.
Pemakamannya sepi.
Aku berdiri sendirian di depan batu nisan dengan
namanya.
Sena.
Angin terasa seperti bisikan yang menolak berhenti.
Aku membuka amplop cokelat yang kutemukan di
sakuku.
Tulisan tangannya:
“Kalau kamu membaca ini, berarti aku berhasil.
Tapi kamu tidak akan bahagia.
Karena cinta kita tidak pernah selesai dengan adil.”
Di dalam amplop ada foto kami.
Foto yang tidak pernah kami ambil.
Kami berdiri lebih tua. Rambut beruban. Tertawa.
Di belakang foto tertulis:
” Masa depan yang kucuri untukmu.”
Saat itu aku mengerti.
Sena tidak menyelamatkanku.
Ia mencuri hidup dari garis waktu lain.
Dan menggantinya dengan kematiannya.
Untuk selamanya.
Aku tumbuh.
Aku bekerja.
Aku menikah.
Aku punya anak.
Aku tertawa.
Dan setiap kali tertawa… aku mendengar suara bus.
Kebahagiaan terasa seperti mencuri sesuatu yang bukan
milikku.
Aku hidup di atas kematian seseorang yang mencintaiku
terlalu banyak.
Di usia tujuh puluh tiga, aku kembali ke halte itu.
Bangku sudah diganti. Jalan diperlebar.
Tapi angin masih sama.
Aku duduk.
Dan seorang gadis datang.
Basah oleh hujan.
Mata penuh kenangan.
Ia menyodorkan amplop cokelat.
Tanganku gemetar.
Undangan pemakaman.
Namaku.
Tanggal besok.
Aku menatapnya.
“Sena?”
Ia tersenyum.
“Aku tidak pernah benar-benar pergi,” katanya pelan.
“Kamu hanya meminjam hidup dariku.”
Air mataku jatuh.
“Aku siap,” bisikku.
Ia duduk di sampingku.
Kami menunggu bus bersama.
Tanpa takut.
Beberapa orang bilang mereka melihat seorang lelaki tua
tersenyum di halte malam itu sebelum sebuah bus
kehilangan kendali.
Di kursi penumpang, ada gadis yang menggenggam
tangannya.
Keduanya tertawa.
Seperti akhirnya pulang.
Dan di jalan yang kosong setelahnya, tertinggal satu
amplop cokelat tanpa nama.
Kosong.
Siklus selesai.
Cinta menang bukan karena hidup
tapi karena akhirnya berhenti.
Kuceritai sepersekian mungil fragmen kepala orang bernama Jayon. Jayon adalah manusia berumur 20 tahun ke atas. Sudah cukup lama dia megang KTP. Orang macam apa Jayon? Dia yang bilang, “Orang belajar! Jangan diganggu!”
Orang rumit, ternyata. Berkerut dahi waktu simak ceramah Jayon—walau dia kekeh menamai itu sebagai sharing session. Namun saya lebih merasa macam jamaah tabligh sugro—tidak akbar dong—sebab saya sendirian yang menyimak.
Sebab utama yang dapat saya ambil dari potongan-potongan cerita Jayon ialah yang paling banyak menyoal krisis eksistensial. Katanya ada yang namanya fase Emerging Adulthood. Ini adalah masa yang sangat “bertenaga” karena ente punya kebebasan untuk memilih, namun juga sering kali penuh kecemasan karena banyaknya pilihan. Di usia 20-an, kendali ada di tangan ente.
Mengutip psikolog Dr. Meg Jay, “80% dari momen penentu hidup terjadi pada usia 35 tahun, namun keputusan-keputusan menuju ke sana dibuat di usia 20-an.” Buset, pakai acara ngutip jurnal ilmiah—mau presentasi lu.
Yang keren dari Jayon, ternyata dia orang belajar beneran. Betul-betul kepo sama diri sendiri.
Apa kemudian yang membentuk saudara sehingga ibadah macam orang mau meninggal besok? Wahai Jayon yang terhormat (bertanya dengan nada so-fun).
Karena menyoal krisis eksistensial, maka mesti berkaitan sama krisis spiritual. Pernah elu ngerasa kepengen dilihat? Ada teknologi yang bikin elu punya ruang validatif yang amat terorganisir. Tergerak betul motif macam itu. Dengan embel social branding, pede aja dengan apa yang lu suka—bagikan saja, post aja—yang penting tidak merasa bintang, star, kelabakan star syndrome.
Dalam psikologi, ini disebut dengan Spotlight Effect—seolah ada lampu sorot yang mengikutimu dalam setiap proses itu.
Oiya, sebelum lebih jauh bahas ke sana, perlu gue ceritain daya tarik ritus peribadatan dulu ya. Karena berkenaan eksis, gue mesti lebih dulu spirit gue.
Jadi, awalnya karena merasa bodoh. Dulu, waktu TK nenek gue meninggal, otomatis perlu diperlakukan secara baik dan benar—upacara kematiannya—sesuai agama yang kita anut. Waktu salat jenazah, gue nggak tahu cara baca doanya. Waktu tahlilan juga. Dari sana gue mikir, agama tuh salah satu medium ngedoain orang yang kita sayangi, nggak sih? CMIIW.
Belum. Itu masih jauh dari penyimpulan-penyimpulan kenapa gue harus eksis di atas bumi. Lu pernah mikir nggak, apa tujuan elu mondar-mandir di bumi Priangan? Pastinya bukan cuma buat ngasih makan si Morris, kucing lu doang? Bisa jadi buat nonton One Piece? Buat makan nasi Padang juga? Elu mah random, Yon.
Emang dari kecil cita-cita hidup gue tuh kepengen genrenya comedy. Cuman kita kan bukan arsitek ya, yang bisa ngebangun blueprint kehidupan sesuai yang diidamkan. Ada aja kejadian yang bikin kelanjutan genre hidup gue beralih ke tragedy. Boleh jadi baper aja sih, atau kebanyakan lihat orang yang kelihatannya lebih senang.
Selain di usia 18–25, yang paling krusial juga di usia 0–5. Karena dikit aja punya luka atau kejadian traumatis, susah tuh buat disembuhin waktu dewasa. Bahasa kerennya mah Golden Age. Secara biologis dan neurologis, inilah masa paling krusial.
Elu punya trauma di masa pertumbuhan paling pertama, Yon?
Oke. Bisa dikata orang tua kebanyakan nyari duit. Alasannya ya nyari duit buat gue seorang—nggak ada yang lain. Buat biaya sekolah gue, buat makan gue, buat beli baju baru tiap lebaran, dan lain-lain keuangan. Padahal yang gue mau cuma jalan-jalan ke Ganesha di hari Minggu, naik delman di Dago, atau main ke kebun binatangnya. Sederhana sih.
Tapi kalau elu beneran kepo sama diri sendiri, nggak boleh denial. Cari sumber penyakit. Coba korek akar masalahnya kenapa sekarang elu kebentuk jadi beginian. Boleh jadi elu waktu kecil pernah mengalami peristiwa traumatis, atau mungkin kasih sayangnya tidak terpenuhi dengan baik.
Lanjut lagi. Kenapa elu salat mulu?
Orang rajin. Orang mah tahu kewajiban sama kebutuhan. Cuman namanya perjalanan spiritual, awalnya malah pelampiasan—pelarian mungkin ya. Agak berat ini. Pelan-pelan, Yon. Santai aja. Kalau belum enak, kagak usah dah. Aman-aman.
Jadi, gue shock waktu denger kakak gue masuk bui. Berita itu menjadi headline selama seminggu berturut-turut di rumah gue. Lah buset, temen smackdown gue itu, eh malah bikin gue beneran kena mental. Lu tahu kan sosok adik yang mengidolakan kakaknya, yang ngintilin ke mana pun kakaknya pergi? Figur yang dilihat adek, tetiba kagak ada angin kagak ada ujan ngasih kita kejutan. Yang nyesek mah lihat Ami (sebutan buat nyokap) nangis.
Jadi seolah ada beban peran dalam diri gue: bahwa kakak udah gagal, udah bikin kecewa orang tua. Makanya gue yang harus buktiin kalau orang tua nggak gagal ngedidik anak—buktinya gue salat.
Eh, tapi namanya perjalanan ya. Semakin larut, gue mikir, anjir kok gue kayak pecandu narkoba. Datang ke Tuhan buat cari tenangnya. Orang kan hirup ganja juga nyari tenangnya—biar rileks dan ketawa-ketawa. Niat gue meleset tuh. Enak banget wiridan ratusan kali, yang dicari tenangnya.
Untungnya, Ami ngebuang gue ke pondok pesantren. Beneran! Sakit bener waktu pertama ditinggal orang tua di pondok. Kek jahat bener dah. Gue-nya nangis, Aminya juga nangis. Lah, dia yang ninggalin, dia yang berat ninggalin.
Tapi beneran tuh, di sana perasaan gue lebih terbuka, lebih terasa. Dapet kenang-kenangan dari pondok sama yang namanya “abdi”, “pengabdian”. Di masa SMP, gue terbilang siswa yang seneng baca—dan jadi bikin liar isi kepala. Liar beneran, bertanya yang tidak-tidak. Sampai di pondok, kebebasan itu harus ditundukkan. Jadi bentuk pengabdian. Jadi Din Islam.
Jadi waktu salat tuh harus bersikap macam abid, macam hamba sahaya kepada tuannya. Nah ini, gue waktu salat masih aja ngerasa gede. Mana kepala sulit banget diatur.
So, di pondok gue punya spirit yang dapet ritual, sehingga menjadi spiritual. Ibadahnya bertujuan, nggak kosong. Bukan ada udang di balik batu, tapi emang mesti jadi pengabdian—sarana penghayatan.
Menyoal konsistensi, Yon—sambil juga dijawab perihal eksistensi—namanya orang kan nggak selamanya energinya power full. Ada kalanya naik, sering kalinya turun. Setelah ente merasa sudah tahu apa yang harus dilakukan, ente betulan bisa jaga konsistensi itu, Yon?
Gue juga sering mengalami amnesia berkali-kali. Tak terhitung berapa kali gue lupa sama diri sendiri. Krisis identitas. Banyak tuh jadi anjing yang menggonggong seenak jidat, lalu melipir di tiang listrik kemudian mengangkat kaki belakang dan kencing. Ya, kek hewan lah.
Banyak juga jadi tumbuhan yang tumbuh aja—hidup, tapi diam saja. Nggak ada tuh pergerakan. Seringnya karena malas.
Lu udah belajar kan rupa-rupa penyakit hati? Dan salah satu yang paling mendera hati, yang paling mudah bikin orang macam gue gelincir, ya malas. Enak bener tuh temenan sama setan malas. Udah bestie dari kecil sama si setan! Malas, sampai pernah gue bikin tugas karangan Bahasa Indonesia tokoh utamanya malas.
Satu, dua, tiga—duar! Kalau udah terhitung tiga detik gue belum beranjak buat mengemban kehidupan dan malah lanjut mainan hape buat scroll atau segala macam, fiks gue kalah.
Dan itu sering banget terjadi. Di usia ini, elu harusnya nggak boleh bingung memberikan penilaian bahwa waktu bergulir bermanfaat atau sia-sia belaka tanpa arti. Bernilai ibadah atau malah mudarat.
Kan udah ngerti, udah usia mukallaf. Sedang masa pendidikan usia muda. Kalau selamanya elu nunda-nunda kewajiban, katanya hidup adalah perjalanan—iya! Elunya berjalan di tempat!
Makanya hidup perlu punya advisor.
Ente punya advisor, Yon?
Siapa pun yang bisa ngingetin gue buat kembali hidup, itu guru bagi gue. Itu advisor gue. Penasihat gue. Entah lewat buku, pengajian, video YouTube, waktu ngopi, bahkan FYP Instagram.
Pernah denger waktu kajian, kalau hati bakal mati kalau diantepin mulu—nggak dikasih makanan selama lebih dari tiga hari. Maksudnya nggak dapet ilmu dan hikmah.
Bersyukur pernah mengalami tradisi keilmuan pesantren. Ada doktrin yang terus nempel bahwa ilmu mesti terus dicintai, dihidupkan, bagaimanapun caranya. Sehingga tatkala amnesia, tahu caranya buat ingat.
Caranya? Dari tadi ngomongin hidup, hidup, hidup—emang apa sih hidup?
Ada peribahasa, “Hidup segan, mati tak mau.” Pernah ngerasa kelewat paham bisa bikin elu ngerasa hampa? Oh my God, untuk apa ini semua?!
Untuk apa aku dilahirkan namun dihantui perasaan dan bayangan mencekam kalau kakak tiba-tiba kokang senjata lalu menyerah atas hidupnya? Untuk apa mendera belajar jika tidak dapat apresiasi dari orang yang paling pengen gue banggakan? Untuk apa ibadah rajin kalau nggak sanggup nerima stigma dari orang dengan pandangan gue saleh—padahal lagi ampun-ampunan nutupin aib segede gaban. Kalau kata orang Sunda, tijongkang gue kalau aibnya dibuka.
Buat apa gue hidup jika tidak layak dicintai? Ah buset, kebanyakan dengerin Bhaskara.
Belum lagi pikiran melanglang buana jauh ke depan—tentang masa depan, tentang bayangan kesuksesan atau melarat. Padahal gue adanya di hari ini.
Inilah GTA. Dapet diagnosis dari dai kondang. Kata beliau, gue: GTA = Galau Tiada Akhir. Lebih mengkhawatirkan kalau gue GALFOK = Gagal Fokus. Iya juga ya, fokus gue ke mana sih selama ini? Lah, nggak tahu. Makanya tazkiyyatun nafs berkali-kali.
Kalau ente pergi ke tenaga ahli buat konsul, ujung-ujungnya juga dapet nasihat supaya berani hidup. Ya nggak salah juga. Tapi sedari awal elu punya pegangan iman, kenapa nggak lu pakai pendekatan spiritual supaya lu lebih mengenal penyakit mental—atau penyakit hati—yang mungkin belum juga elu sadari?
Sumber segala penyakit dan kesembuhan kan datang dari stimulus otak lu sendiri. Elu ngerasa capek banget padahal nggak ngangkat beban lebih dari 50 ton. Kejauhan, Yon. Maksudnya, capek karena otak lu penuh mikirin yang nggak perlu. Badan lu ikut letih.
Tahu kan metode afirmatif dalam psikologi? Kalau lu ngucapin beragam kalimat positif yang membangun sehari tiga kali, bakalan bikin dampak amat baik dan berbeda buat diri. Lah, gue wirid tiap pagi–petang, Al-Ma’tsurat. Kalau aja gue renungkan dan paham artinya—lah buset—kalimat support semua itu.
Gue-nya aja yang amnesia. Lupa semua. Kagak mau ngartiin. Males memaknai. Enggan merenungi.
Yon, sukses itu apa? Goals hidup ente apa? Apa yang mau dicapai?
Beneran dah, gue belum siap mati. Tapi berkali-kali dipaksa buat berani hidup. Buktinya gue bangun tidur mulu. Hidup lagi—hidup lagi.
Lantas, kenapa pengalaman adalah guru terbaik? Karena nggak neko-neko. Detik itu terjadi, detik itu sedang mengalami. Balik lagi ke diri sendiri: memaknainya bagaimana? Apakah bisa mengambil pelajaran, atau lewat doang kayak FYP TikTok elu berkali-kali?
Masa lalu kan udahan. Udah kelewat. Udah nggak bisa balik ke sana. Masa depan belum tentu—belum tentu kejadian, belum tentu sampai ke sana, dan sesuai dengan apa yang lu harapkan, lu inginkan.
Tapi—mengalami. Elu sekarang sedang mengalami yang sekarang elu lakukan.
Elu bisa bikin to do list melakukan kelakuan yang keren, yang berisi, yang bernilai, yang berarti, dan jadi bekal ngadepin big boss-nya kehidupan—ya, mati.
Kok ente ngomongin mati sih, Yon?
Oke. Sebelum ke sana, kita setuju ya konsep kehidupan setelah ini. Kita masih seiman ya. Mudah-mudahan terus temenan dalam iman sampai hari-hari berikutnya.
Yang jadi soal: kenapa anak muda nggak aware tentang kematian?
Yang pasti, gue lihat di masjid-masjid jami’ adalah bapak-bapak ubanan yang di rumahnya pakai kaos oblong dan sarungan, terus miara burung. Kenapa anak mudanya jarang, atau sedikit yang kelihatan?
Apa perlu dengerin dulu “O, Tuan” baru aware? Emang waktunya lumrah di usia senja? Iya sih, data statistiknya lansia yang paling banyak. Tapi bukan berarti tebakannya kita nggak bakal koid di usia muda.
Nggak ada bocorannya kapan, di mana, lagi ngapain. Itu kan misteri sekali. Orang kepleset pisang aja bisa koid. Beberapa rock star keselek ludah sendiri koid. Bahkan cerita paling nyeleneh: orang nahan kencing demi menjaga sopan santun sampai mati—mati dalam arti harfiah.
Lantas, pikiran kita masih belum sampai ke sana. Masih enak jalan-jalan di atas bumi, ngirup oksigen, makan Gacoan, nonton anime, dan lain-lain yang menyenangkan.
Yang mesti jadi perhatian itu cara kita memandangnya. Orang yang putus asa—hatinya mati—nggak pantes mati secara harfiah. Orang yang berani hidup sudah sepantasnya takut mati, tapi punya upaya untuk mempersiapkan itu, bagaimanapun keadaannya.
Orang yang nggak segan-segan buat hidup sudah sewajarnya takut mati. Makanya hidupnya penuh ingatan yang terpatri. Kembali lagi—kembali lagi. Kembali kepada asali. Anjai.
Bukan berarti goals hidup gue mati. Buset. Gue cuma pengen tiap detik bergulir terasa bermakna. Punya arti. Tidak mengutuk hari ini. Tidak merasa kurang. Syukuran aja udah—syukuran atas segala pemberian.
Tatkala makan sama si Zen, kok kek ada yang kurang ya? Kerupuk? Bukan. Kecap? Bukan. Oiya—rasa syukur.
Balik lagi ke eksistensi. Elu pernah merasa perlu banget validasi? Perhatian orang? Sama satu lagi: someone to talk?
Gue kan udah mesti menjalankan kewajiban sesuai yang tertera dalam KTP. Kata kartu itu, gue itu harus dikenal sebagai pelajar/mahasiswa. Bahkan kalau pun gue nggak post kehidupan dalam SW/SG, status gue dalam KTP tetap sama sebagai pembelajar.
Ruang media sosial mestinya jadi ruang interaksi menyenangkan buat berbagi. Semuanya sudah serba scroll down dan slide. Kita bisa dikenal sesuai dengan keinginan dan minat kita.
Tapi jangan salah. Syaitonirrojim, musuh kita bersama, bukan berarti tidak melakukan pergerakan di sana. Ini yang mesti jadi perhatian.
Niat gue berkali-kali meleset ngunggah sesuatu di sana. Terfana betul dengan jumlah like dan respons orang—padahal tidak begitu berarti apa-apa buat pertumbuhan gue. Malah buat gue—yang notabene Gen Z—dunia yang kerasa banget duniawinya ya di sana, di dalam sosial media. Yang bikin semakin gue minum, semakin bikin haus.
Pun yang berada dalam hati gue tatkala lihat postingan orang—betapa penuhnya sangkaan dan tatapan gue yang menghinakan dan merendahkan.
Oke, I see. Itu berarti yang berada dalam laman media kaca.
Lalu, pernah punya pacar, Yon? Atau pengen gitu—yang nanya how your day?
Di pondok gue pernah denger, “Aafatul ‘ilmi an-nisaa.” CMIIW kalau gue salah. Cuman ini nih yang berat bener di zaman disrupsi, di zaman post-truth.
Sebagai pribadi yang tidak terpenuhi kasih sayangnya waktu kecil, sering pula hati dan pikiran kosong tidak terisi, serta pergaulan sosial anak muda kita yang sudah melumrahkan ekspresi relationship di muka publik, bikin gue makin ina-inu-ini. Ini apa ya?! Ini gimana ya?!
Banyak gue minta advice ke senior atau ke kawan yang lebih punya pengalaman—yang gue percaya, yang punya argumen kuat bawa nama ajaran.
Yang pada akhirnya pada simpul kebenaran: bahwa perasaan itu fitrah adanya. Dan berkali-kali disampaikan bahwa manusia berpasang-pasangan. Alamiahnya begitu. Dan yang keliru adalah menanggapi gemuruh perasaan itu.
Walaupun semua yang ngerti bicara soal niat—kalau niatnya udah lurus ke atas, hubungannya bakalan dijagain semesta—lah buset, niat gue mengkol mulu. Jangankan asmara, yang lain aja niatnya masih mampir ke sana-kemari.
Gue yang udah kenalan sama diri sendiri punya pengetahuan kalau gue nggak bakalan sanggup jalin relasi istimewa di masa ini. Mainannya hati. Gue dari dulu hidup pakai hati. Mana sanggup ngebimbing perasaan sampai menuju fitrahnya di pelaminan.
Di usia ini, nggak bisa fokus gue diarahin. Ada aja satu prioritas baru—wah, mampus gue ngebaginya. Ngebagi waktu buat studi sama organisasi aja kepayahan. Apalagi cewek. Gila apa.
Bukan berarti gue mati hati. Atau lu anggap gue nggak pernah mencintai. Kelebihan lu anggap gue homo. Kacau. Di umur ini, nggak sampai hati gue pakai diksi sakral bernama cinta.
Emang menurut lo sendiri, apa itu cinta?
Balik lagi ke tradisi kepesantrenan. Waktu dulu bandongan Barzanji, gue ditegor sama ustaz: “Antum kalau suka sama akhwat, mesti ingat berkali-kali. Kesemsem, lihat ini-itu—eh dia mulu. Itu tanda antum mencintai. Adakah ingatannya macam itu terhadap Sang Penghulu, Prophet Muhammad SAW? Atau bahkan melihat ciptaan-Nya, barang tentu mengingat Yang Mencipta?”
Deg. Dari sana gue dapet definisinya cinta: mengingat berkali-kali.
Menyoal someone to talk. Gue masih bisa curhat ke Ami. Bisa minta advice ke murobbi. Kalau yang ngertiin peremajaan gue, masih banyak teman yang sefrekuensi. Kalau ribet banget isi kepala, masih banyak tenaga ahli.
Kertas diary aja masih kosong melompong. Punya laptop ada Word-nya. Hape ada Notes. Diri sendiri aja jarang diajak ngobrol dan dimengerti.
Nggak bisa ngandelin makhluk? Ya curhat aja sama big boss yang punya semesta. Kan yang paling mendengar—bahkan sebelum gue berucap.
Jadi, Yon—lu udah siap menaklukkan dunia?
Gue udah siap bangun dari kasur, berhenti scroll, dan melihat matahari terbit.
Yon, kelihatannya lu kek orang yang sudah paham hidup.
barangkali kita diciptakan
bukan untuk saling memiliki,
melainkan untuk saling menahan
agar tak benar-benar jatuh.
ada hidup yang diselamatkan
oleh hal-hal yang tak pernah disebut pahlawan:
sebuah tulisan yang tak sengaja dibaca,
suara yang datang di malam paling sepi,
atau sikap baik
yang nyaris dilupakan setelah dilakukan.
kita sering merasa tak berarti apa-apa,
padahal bagi seseorang
kita adalah jeda
di antara keinginannya untuk bertahan
atau mengakhiri segalanya.
maka jangan jahat,
sebab bisa jadi hari ini
ia sedang mengumpulkan sisa sisa
dirinya
agar tetap bisa bernapas.
bisa jadi dunia sudah terlalu kejam,
dan tanpa kita sadari
kita adalah satu-satunya tempat
ia menitipkan kepercayaan.
jangan jahat,
karena di antara banyak tangan
yang pernah melukai,
ia memilih tanganmu
sebagai alasan
untuk tetap hidup.
dan bila suatu hari
kau merasa kecil,
ingatlah—
sering kali
yang paling kecil
adalah yang paling menyelamatkan.
Apa aku bisa melakukannya?
Tentu , bahkan yang lebih tinggi dari bukit ini
Bukankah aku terlalu kecil untuk sampai diatas sana ?
Di dewasa mu nanti, kabarkan padaku keberhasilanmu
Tidak ada yang tidak mungkin , kesayanganku…
Tuan , aku berhasil
Aku menaklukan puncak itu, bahkan jauh lebih tinggi
indah nian diatas sana, sebagaimana yang kau ceritakan
Kesayanganmu ini Kembali dengan selamat
Aku membawa kabar yang kau minta
kan ku bawa kemana kabar ini ?
Tanah itu tak menjawab ku tuan
Tanah itu hanya menghancurkan ku
Bangunlah tuan, dekaplah jiwa atma
Sebentar saja..
Sudah lama rupanya , tapi atma tak jua rela
Kesayanganmu tak cukup dewasa untuk menerima perpisahan
Ia masih saja terduduk dibawah sinar purnama
Hingga langit pun ikut menangisi dukanya
Kesayanganmu akan baik-baik saja, percayalah
Ia hanya Lelah dan butuh rehat sejenak
Dunia tak seindah disaat kau masih mendekapnya
Gadis itu tersenyum ketika angin tak segan meniup wajahnya. Berjalan di atas tanah negara yang maju dengan cara nyaris tidak bersuara. Gedung-gedung saling berlomba, namun tertata rapi seperti pikiran yang tak pernah lelah bekerja. Berlapis kaca dan berdekatan, seolah-olah mereka saling percaya bahwa merekalah yang membuat terlihat sebagai kemajuan negara.
Gadis itu terus berjalan di antara gedung-gedung sunyi. Ya, gedung tanpa asap penyebab polusi, tanpa mesin berisik, dan tanpa orang-orang berlumur keringat. Inilah negara saat ini, sunyi dan tak bersuara.
“Selamat datang,” terdengar suara robot ketika pintu terbuka otomatis saat gadis itu mendekat ke apartemennya. Seluruh sudut apartemen itu sudah mengenali pemiliknya. Gadis itu sudah merancang berbagai teknologi untuk ia manfaatkan di kehidupannya. Namanya Feisa. Gadis lulusan teknologi informasi dan sudah menginjak umur seperempat abad, yang punya kebiasaan ambisius dengan banyak teknologi yang diciptakannya.
Feisa segera menuju ke dapur saat rasa haus menghampirinya, mengambil lalu menaruh gelas di dispenser yang secara otomatis mengisinya sampai penuh. Duduk di atas kursi, lalu meneguknya. Air yang sudah masuk ke kerongkongan membuat dahi Feisa mengernyit.
“Sudah kesekian kali aku merasakan rasa aneh di air minum ini,” gumam Feisa.
Awalnya ia kira mesinnya rusak. Namun setelah mengeceknya, semuanya berjalan baik. Begitu pula dengan shower di kamar mandinya, airnya mengalir deras dan suhunya stabil, namun air yang keluar keruh.
Ia menampung air dengan gayung kecil yang tersedia di kamar mandinya. Mengamati, airnya tidak coklat, namun keruh keabuan, seperti awan yang hendak turun hujan. Diendusnya, tidak ada bau, netral, namun janggal.
Sore di hari itu hendak menghilang. Feisa segera menuju jendela dan mengklik tombol penutup otomatis gorden. Sembari menutup sempurna, Feisa memandang keluar dari ketinggian apartemen. Kota ini tampak rapi. Gedung-gedung tidak bercerobong, tidak ada asap hitam, dan tidak ada suara mesin yang dulu biasanya dituduh sebagai biang kerusakan.
Feisa segera membuka panel dinding dan memanggil data laporan pemakaian di apartemennya. Grafiknya muncul, semuanya hijau: energi stabil, penyaring air otomatis berjalan baik, semuanya sempurna.
“Seharusnya tidak begini,” gumamnya lagi.
Keesokan harinya.
Setelah menjadi dewasa, hal yang menjadi kesukaannya adalah kesendirian. Angin yang sama seperti sore kemarin datang lagi menyentuh wajahnya. Namun kini, Feisa duduk di kursi depan kafe tempat ia membeli kopi yang digenggamnya saat ini.
Feisa mengambil ponsel dan membukanya. Notifikasi muncul, terdapat satu pesan dari sahabat dekatnya, Noynoy.
“Fei, ke sini dong, cekin dispenser di rumahku, airnya nggak enak.” Begitulah kira-kira isi pesan dari Noynoy. Feisa hanya membalas pesannya bahwa ia juga merasakan hal yang sama.
Feisa kembali memikirkan hal janggal itu lagi. Otaknya menolak untuk mengabaikannya. Di kepalanya banyak hal muncul secara tersusun, bukan tuduhan, melainkan kemungkinan. Bukankah sesuatu yang rapi itu hal yang paling sulit dicurigai? Sesuatu yang tenang itu memungkinkan banyak kemunculan? Dan sesuatu yang paling sunyi itu sering kali bekerja paling keras?
Angin bertiup menenangkan. Gedung-gedung sunyi berjejeran. Manusia tidak perlu lagi bekerja keras untuk kehidupan. Namun kota ini terlalu sempurna, untuk air yang tak lagi jernih.
Feisa sudah sampai di apartemennya. Sore sudah mulai menghilang. Namun rasa aneh di dalam air belum juga larut. Setelah mengklik penutup gorden otomatis, Feisa kembali membuka panel dindingnya. Bukan lagi membuka grafik hijau yang menenangkan, namun kali ini ia membuka jalur air—jalur dari mana air masuk lalu keluar.
“Air masuk, kemudian dipakai… dan yap! Keluar,” gumam Feisa sambil mengamati jalur air di panel dindingnya.
Feisa tersenyum. Ia tahu apa penyebabnya. Sambil berjalan ke dekat sofa di ruang tamu apartemennya, jari Feisa mengklik tombol di jam tangan yang ia pakai. Sofa itu terbelah karena perintah majikannya, menampakkan tangga sempit yang membawa Feisa ke ruang tersembunyi.
Ruang itu jauh lebih sunyi dari apartemennya. Tidak banyak orang tahu kalau ruangan yang berlapis panel bening itu adalah tempat awal mula semuanya berubah.
Gadis itu berdiri di depan wadah besar yang saat ini terisi penuh oleh air. Warnanya keabuan, sama seperti air yang keluar dari kran. Menit demi menit berlalu. Ia melihat sesuatu di dalam wadah air itu perlahan menurun ke dalam dasar, menghasilkan lapisan tipis yang tertinggal diam.
“Semua ini bukan rusak, namun butuh waktu untuk tenang,” ucapnya.
Misi dimulai, dengan semua pengetahuan dan idenya. Feisa kembali berkarya, bergulat dengan alat kerja yang menjadi teman setianya. Ia membuat lapisan batu alam halus. Mirip seperti konsep sungai, ia gunakan untuk tempat endapan turun dan memperlambat aliran. Teknologi itu bekerja dengan belajar dari alam, bukan menguasainya.
Jam demi jam semakin berlalu. Kini teknologi yang Feisa buat sudah di depan mata. Wadah berlapis kaca tebal, yang disengaja agar pemilik bisa tahu ke mana endapan itu terpisah. Lapisan batu dan serat alami ikut berpartisipasi di dalamnya.
Setelah semuanya terpasang, Feisa kembali melihat wadah utama penampungan air. Butuh waktu lumayan lama, namun ia menciptakannya seperti alam yang bekerja: perlahan dan tidak tergesa-gesa.
Feisa tersenyum. Semuanya berhasil. Airnya kini jernih dan tidak ada lagi drama rasa aneh di dalamnya. Ia segera mengambil ponsel di sakunya, membuat panggilan. Kemudian suara laki-laki terdengar dari balik ponselnya.
“Apa kabar, Bos?” ucap laki-laki itu.
“Kabar baik. Buatkan pertemuan. Ada yang perlu kita kerjakan untuk masalah kota kita akhir-akhir ini,” jawab Feisa.
“Baik, Bos. Laksanakan.”
Feisa segera menutup teleponnya. Air di apartemennya kini kembali normal, namun belum dengan yang lain. Feisa bukan orang yang banyak dikenal. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang. Namun dengan kerja kerasnya di balik layar, ia banyak membuat perubahan.
Besok Feisa akan kembali memulai misinya. Bukan hanya untuk apartemen, namun untuk seluruh kota yang terkena dampak oleh kesunyian dunia ini.
Dunia ini memang sudah berubah. Tidak ada mesin berisik dan asap tebal yang menjadi biang kerusakan. Namun kesunyian teknologi justru paling bekerja keras mengambil dan mengubah sumber daya alam.
Teknologi butuh banyak air untuk pendinginan, sedangkan air yang dikeluarkan lebih panas dari suhu awalnya. Air itu kembali ke sungai, ke tempat di mana warga mengambil air untuk kehidupannya. Air itu tidak salah, namun perlu ruang jeda sebelum akhirnya ia keluar ke pemukiman.
Teknologi yang Feisa buat ia beri nama “Ruang Jeda”, tempat di mana air perlu untuk tenang sebelum akhirnya dikeluarkan.
Lalu bagaimana dengan endapan yang dihasilkan? Endapan bukan kegagalan, namun pertanggungjawaban. Seharusnya manusia tidak hanya menikmati kepraktisan yang dibuat teknologi, namun juga harus merawatnya.
Feisa pikir, hidup hanya sekadar air keruh. Selama ini kita mengira asap tebal dan mesin berisiklah yang paling merugikan. Namun siapa sangka? Yang kita sebut kemajuan justru yang paling banyak mencuri kenyamanan.
Layaknya orang lain,
Kulihat wajah yang hampir tak kukenal
Mencintai diri sendiri,
Merayakan diri,
Kata mereka
Tapi rasanya seperti perlahan menghilangkan diri sendiri
Halo, aku yang masih di bawah kursi
Masih disanakah kau?
Aku bertanya lama,
Tapi jawaban seakan tak penting dijawab
Mungkin tertumbuk bising,
dari orang lain
Desir hatiku berkata ada. Apa yang merasa. Kemudian bulu kudukmu terangkat dan merinding dibuatnya. Ialah angin saja; memberi kabar menerpa kulitku dan katakan ada. Meski tak nampak ia kasat mata. Mesti ada terasa melalui mata lainnya yang diam-diam memata-matai. Siapakah, gerangan yang bikin terperanjat perasa tak nampak? Nampaklah ia mengendap-endap di bagian-bagian terlupakan hari-hari. Sudah, ingin merinding saja meski angin tak ada…