Semarang, 9 Mei 2026 – Semangat kreativitas dan kebersamaan membuncah di kawasan bersejarah Kota Lama Semarang. Dua departemen CSSMoRA UIN Walisongo, yakni Departemen Kominfo dan Departemen PSDM, sukses menggelar kolaborasi program kerja bertajuk Cookies dan Happynest. Meski cuaca sempat berubah tak menentu, agenda ini justru meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta.
Program Cookies (CSSMoRA Open Opportunities for Knowledge in Editing Skill) yang digawangi oleh Departemen Kominfo hadir sebagai puncak dari rangkaian pelatihan desain grafis dan videografi yang telah dilaksanakan sebelumnya. Jika pada pertemuan lalu para anggota berfokus pada teori dan teknis di dalam ruangan, pada edisi “Cookies 4” ini mereka terjun langsung ke lapangan. Dibagi menjadi beberapa kelompok, para peserta ditantang untuk berburu footage video terbaik dengan latar arsitektur eksotis Kota Lama. Hasil karya kreatif mereka nantinya akan dikurasi, dan video terbaik berhak mendapatkan reward sebagai apresiasi atas ketajaman lensa dan kreativitas penyuntingan mereka.
Sembari mengejar momen melalui lensa kamera, Departemen PSDM turut menghadirkan warna melalui program Happynest. Sesuai namanya, kegiatan ini dirancang sederhana namun bermakna: bersenang-senang demi mempererat ikatan emosional antaranggota. Mengingat jati diri CSSMoRA sebagai organisasi yang berlandaskan kekeluargaan, Happynest menjadi ruang bagi setiap anggota untuk melepas penat dan tertawa bersama di tengah rutinitas akademik.
Rangkaian acara dimulai sejak sore hari saat cahaya matahari mulai melunak, memberikan pencahayaan alami yang sempurna bagi peserta Cookies untuk mengumpulkan bahan editing. Menjelang malam, suasana berpindah ke titik kumpul di sebuah angkringan hangat, tepat di samping bangunan bersejarah Rumah Pompa Kota Lama. Di sana, tawa mulai pecah saat sesi Happynest dimulai dengan berbagai permainan yang seru.
Namun, di tengah keriuhan tersebut, alam punya rencana lain. Hujan turun membasahi bumi Kota Lama, memaksa aktivitas di lapangan terbuka terhenti sejenak. Namun, benarlah pepatah bahwa hujan membawa berkah. Di tengah rintik tersebut, Panggung Wapres (Warung Apresiasi) hadir sebagai “penyelamat” keadaan.
Suasana yang awalnya riuh karena permainan fisik, seketika bertransformasi menjadi momen yang syahdu dan puitis. Dari lapangan terbuka, kebersamaan berpindah ke bawah naungan Panggung Wapres. Di bawah lampu panggung dan iringan melodi, seluruh anggota CSSMoRA menyatu dalam nyanyian. Mikrofon beralih dari satu tangan ke tangan lain, menyuarakan lagu-lagu yang membangkitkan nostalgia dan keakraban.
Hujan tidak membubarkan kami; ia justru menggiring kami untuk duduk lebih rapat dan bernyanyi lebih keras. Kolaborasi Cookies dan Happynest kali ini membuktikan bahwa kreativitas tidak hanya lahir dari layar monitor, dan kebahagiaan tidak melulu soal rencana yang sempurna. Terkadang, ia lahir dari nada-nada yang kita nyanyikan bersama di bawah rintik hujan.
Dalam perjalanan Bandung-Kadungora, menuju rumah kawan bernama Apci, saya ditemani seorang kawan perjalanan yang menolak bicara. Ialah Rapijali. Saya temukan waktu main ke Gramedia Merdeka Bandung. Sudah lama agaknya nama judul novel ini bertengger dalam sejumlah pilihan cerita yang ingin saya nikmati, namun belum jua dengan sangat serius saya tanggapi itu keinginan hati. Sehingga pada tanggal 29 Desember di akhir tahun 2025, tepatnya di hari senin, saya mulai memasuki semesta cerita yang dibangun Dee.
Dalam beberapa traveling acap-kali saya di temani oleh kawan bisu bernama buku. Perjalanan dari Bandung ke Kadungora buat tandang ke rumah Apci, bermaksud transit untuk melanjutkan rekreasi di Gunung Sagara. Ketika istirahat di rumah Apci Tatkala kawa-kawan memiringkan hape, lalu ngumpat-ngumpat, lalu mengernyit dahi dan berstrategi, itulah saatnya saya menyesap kopi mix suguhan Apci, sembari melanjutkan Hanca cerita Rapijali, pun dengan TWS yang menempel di pintu telinga— sayup merdu terdengar Kind of Blue nya Miles davis.
Ialah musik. Dee menceritakan kisah seorang gadis desa bernama Ping. Ia tumbuh dan kembang bersama seorang Kakek yang merupakan pemusik Rock n roll. Hidup di desa Cijulang, daerah pesisir Batu karas, Pangandaran. Bagi Ping semua bunyian yang mengalunkan perasaan adalah musik, termasuk ketika ia bersila di atas batu karang di tepi pantai— memejamkan mata, lalu mendengar ombak menghentak, angin mendesir, burung-burung bercericit.
Ping tidak pernah mengenyam sekolah musik atau belajar musik secara formil, rumahnya adalah studio rekaman yang disulap Kakek sebab Kakeknya punya band bernama D’Brehoh. Alat musik yang cukup lengkap, menjadi ruang kreatifitas bagi Ping. Uniknya dan mengejutkannya dan baru terungkap waktu sudah agak larut kedalam ceritanya, Ping adalah salah seorang yang memiliki kemampuan perfect pitch yaitu kemampuan mengenali nada musik tertentu (Do, Re, Mi, dll) hanya dari mendengar suara, tanpa bantuan alat atau nada pembanding. Contohnya dengar klakson, pintu berderit, atau suara orang bicara langsung tahu: “oh ini nadanya F♯”. Diperkirakan hanya 1 dari 10.000 orang yang punya kemampuan ini, Lho! Lalu, bagaimanakah perfect pitch ini menghantarkan Ping menuju simpul pencariannya.
Kakeknya Bernama Yuda Alexander meskipun sudah usia senja, tapi keren dan ganteng (Rock n roll style) membikin ia terasa sangat bohemian. Ping punya sahabat Bernama Oding, sudah lengket Bersama semenjak bayi, sehingga orang menjuluki mereka Poding (Ping dan Oding). Oding seorang atlet professional surf. Ia sudah suntuk mengikuti berbagai macam event internasional surfing. Ping semenjak kecil tidak sempat mendapatkan tangan-tangan kasih-sayang Ibu Bapak. Hanya kasih sayang kakeknya yang tak terbilang sebagai satu-satunya penyangga sentuhan Pendidikan cintanya itu.
Pada suatu hari di Pangandaran itu mereka itu Ping dan Kakeknya memancing di Sungai Cijulang, bertepatan Ketika Tambak Barramundil jebol membikin ikannya pada kabur sehingga warga lokal berburu-buru menangkap ikan di aliran Sungai cijulang. Ketika mancing itu, mereka berbincang perihal yang jarang: Kelanjutan sekolah Ping. Kakeknya sudah tahu semenjak awal Ping amat terpikat dan ingin menekuni musik. Di sekolah, Ping terbilang menjadi siswi teladan yang namanya sering bertengger di urutan papan atas kejuaraan kelas. Pun beberapakali turut serta dalam berbagai olimpiade sains di luar sekolah, tapi itu karena tuntutan Pendidikan dan keadaannya yang notabene bukan orang mampu, ikut lomba mesti di paksa-paksa oleh ibu guru, namun musik adalah kegiatan yang tulus ia berikan; waktu, tenaga, dan perasaannya. Dalam percakapan itu, Ping akan sekolah musik di Jakarta. Namun, Ping enggan. Ia merasa tidak perlu jauh-jauh ke luar kota. Baginya desa Cijulang dan Batu karas sudah cukup memberikan segalanya. Kebahagiaan dan senyuman. Kasih-sayang dan keluarga.
Ping amat terguncang oleh suatu peristiwa yang tidak bisa dibeberkan di sini. Terlalu banyak spoiler. Sudah banyak yang saya ceritakan. Singkat cerita Ping tiba di Kota Jakarta. Demikian mungkin yang dapat saya sampaikan mengenai konteks latar belakang dan serpihan kecil kisah Ping. Lalu, Kenapa Ping mesti ke Kota Jakarta? Hubungan privat dan emosional Ping dan Oding, culture shock yang di alami Ping Ketika pindah dari tanah priangan yang kental nuansa kedaerahan ke Ibukota tempat budaya luar singgah dan menetap, serta peremajaan Ping sebagai seseorang yang menaruh minat pada suatu bidang, pada suatu hal, dan jatuh- bangun memeluk erat impiannya itu. Silakan sodara baca jika sedang senggang ya. Ceritanya ternyata lebih kompleks. Bukan hanya menyoal persoalan ABG (Anak Baru Gede).
Sejalan dengan judul pertama trilogi Rapijali 1: Mencari, saya sedang dalam proses peremajaan itu. Usia mau dua puluh, usia yang pas untuk meromantisasi hidup. Kerap mencoba melihat tempat baru, bertemu orang baru, dan menyimpulkan apa sebetulnya yang sedang saya cari dan rasakan. Dalam hal ini adakah gemuruh pencarian itu, Apakah betul-betul bermaksud dan bertujuan pada satu Alamat. Sejauh mana pengembaraan, sejalan dengan peristiwa yang tidak disangka-sangka, demikian novel adalah serpihan kecil kisah manusiawi dengan segala getir dan bahagianya. Hidup berkesinambungan untuk terus berjalan dan menerimanya dengan tulus – lapang dada. Dee adalah seniman yang baik yang berhasil melukis polemik dan dialektika sesosok gadis yang diliputi tragedi— disertai keteguhan sikap seseorang yang mengetahui kemana ia akan berjalan.
Bukan sekedar novel remaja, yang Nampak remeh-temeh, haha-hihi, dipenuhi kesenangan anak muda, Rapijali 1: Mencari merupakan fragmen kecil mengenai realitas kehidupan pemuda-pemudi kita yang mungkin kelimpungan menentukan pijakan. Mengenal beragam kesenangan melalui hobi, keinginan dalam menekuninya, dan derasnya arus informasi dizaman ini. Lalu skenario Nasib amat misteri, entah siapa yang menentukan, apakah kaki ringkih ini yang terus berusaha berjalan atau sebenarnya berjalan di tempat, atau jalan-jalan ghaib yang membawa kita menuju penyimpulan yang mantap. Bagaimanakah masa depan itu? Entahlah.
Gaya Bahasa yang dekat dan ramah. Seperti biasanya, Dee selalu mampu membikin pembaca hanyut ke dalam semesta cerita. Ringan dan mudah dipahami, melalui ragam kata— Dee menggambar warna-warni kehidupan sosial daerah pesisir Jawa barat, seolah mata mampu saksikan bagaimana kearifan lokal daerah pesisir yang akrab dengan gemuruh ombak itu— beradu-padu melalui bunyi pop culture yaitu musik di rumah Yuda aleksander sang vokalis D’Brehoh. Kemudian tingkah-laku seorang gadis desa yang tiba-tiba sekolah di tempat elit, di metropolitan Bernama Jakarta. Agak canggung karena perbedaan budaya dan suasana. Lalu, di sanalah: usia tanggung menggebu-gebu; kehidupan sosial remaja yang diburu; keinginan, mimpi, asmara, dan labil.
Sejauh ini adalah sikap apresiatif dan amat subjektif dari saya pribadi. Sebagai kekaguman melihat seniman sepandai Dee melukis situasi, suasana, perasaan, karakterisasi, realitas sosial dan kritik sosial yang subtil ia sampaikan. Namun, bukan tanpa celah. Demikian, sebagai penggemar yang jujur, saya mesti berterus-terang. Ada beberapa hal yang mengganjal. Bagian awal di Cijulang terasa begitu kaya — Dee melukis denyut kehidupan pesisir Pangandaran dengan sangat hidup, seolah kita bisa mencium asin angin laut dan mendengar gemuruh ombak Batu Karas itu sendiri.
Namun begitu Ping mengangkat koper dan tiba di Jakarta, cerita seolah kehilangan napasnya sejenak — tergesa, kurang diberi ruang untuk menyaksikan Jakarta dan hiruk-pikuk kota besar itu. Lalu ada Oding — sahabat yang sudah lengket semenjak bayi, yang dijuluki separuh nama oleh orang-orang sekitar. Oding terasa hanya hadir sebagai penanda, bukan sebagai manusia yang utuh dengan segala lapisan perasaannya yang kompleks. Dan barangkali itulah konsekuensi yang harus diterima dengan lapang dada ketika sebuah cerita dibagi menjadi tiga: ada yang sengaja digantung, ada yang belum tuntas, ada pertanyaan yang memang tidak akan dijawab di sini — melainkan di halaman-halaman berikutnya yang belum saya buka.
Bagi saya, ini adalah permulaan yang menarik buat menyelam lebih dalam tentang musik sebagai sarana penerjemah rasa. Dalam rasa, kata bisa bersuara. Dalam nada, lirik menyampaikan kita. Dalam cerita ini, musik adalah sarana Ping dan mungkin umumnya remaja mengenal dan mencari kedalaman dirinya. Sehingga menuju tahun baru 2026, tepatnya pukul 22.55 di hari Rabu, 31 Desember 2025 saya menyelesaikan Rapijali 1: Mencari. Di rumah Apci, di Kadungora. Saya tutup buku itu ditemani lagunya Nadin: Rayuan Perempuan Gila. Dengan perasaan yang lebih utuh, dan pengembaraan yang belum jua berlabuh. Akankah saya mampu menjalani kisah pencarian saya sendiri. Entahlah.
Halo, apa kabar kalian? Huft, sepertinya sudah lama sekali ya tidak bertemu aku lewat kata-kata manis yang kubuat, hahaha. Semoga kalian tidak bosan dengan kata-kata yang banyak diulang ini.
Kali ini, yang kutulis bukanlah cerpen atau kutipan singkat yang biasa aku bagikan di platform media sosialku. Khusus di bulan ini, aku ingin menyampaikan surat kepada orang yang kusayangi sebagai bentuk apresiasi diri dan rasa terima kasih untuk mereka yang berhasil membuatku bertahan hidup sampai saat ini.
Tepat di bulan ini, di usiaku yang genap 20 tahun. Surat pertamaku teruntuk seseorang yang seharusnya ada. Namun naasnya, kita seolah dipaksa berduka seumur hidup oleh seseorang yang jiwanya bahkan masih ada dan berjalan di muka bumi ini. Di kehidupan yang cuma sekali ini, ternyata aku tidak seberuntung itu yaaah.
“Hari ini ingin sekali aku menyampaikan sebuah kalimat yang menjadi isi hatiku selama ini karena aku tidak bisa menyampaikannya secara langsung kepadanya. Aku menuliskan sebuah kata dengan penuh cinta dan dengan penuh harapan yang ditemani air mata.
Ayah, sebuah panggilan dari cinta pertama anak perempuan. Ayah, kini anak kecil yang selalu kau tenangkan hatinya saat ibu sedang memarahinya, anak kecil yang kau ajak mandi sungai bersama, anak kecil yang berlari-lari saat menunggu kau pulang hanya untuk bisa ikut naik motor dan berkeliling sebentar bersamamu, kini sudah dewasa.
Ayah, ada permintaan yang selama ini belum pernah terucapkan. Selama 20 tahun aku hidup, aku tidak pernah merasakan sholat diimami Ayah, aku tak pernah diucapkan ‘Selamat ulang tahun nak’. Aku tidak pernah mendengar Ayah mengucapkan ‘anak Ayah hebat’ hahhaha… ingin sekali aku merasakan itu, Yah.
Aku ingin sekali disayangi, dimanja, dan diberikan perhatian kecil seperti dulu lagi. Ayah, aku ingin sekali sholat berjamaah bersama keluarga kecil kita. Nantinya kita berdoa bersama, memohon kepada pemilik hidup dan mati dalam doa yang sama. Mungkin ini salah satu keinginan terbesarku yang tidak tahu kapan terwujudnya.
Tetapi jika suatu hari nanti Allah yang lebih dulu memanggilku, tolong Ayah ikut menyolatkanku dan melihatku untuk terakhir kalinya. Ayah, aku selalu berdoa semoga Allah memberikan umur yang panjang kepada kita semua agar anak kecil ini bisa melihatmu tersenyum tanpa beban sedikitpun. Mau bagaimanapun luka yang kau torehkan di hatiku, kau akan tetap menjadi Ayahku.”
Untuk Mamah, “maaf Mah, beribu maaf aku katakan padamu. Aku terlalu malu untuk meminta maaf padamu secara langsung. Aku belum bisa jadi anak yang kau inginkan, maaf aku masih jadi anak pembangkang di matamu, maaf kadang nada bicaraku membuat hatimu terluka, ucapanku yang membuatmu kecewa.
Tolong hidup lebih lama lagi ya Mah? Tolong bertahan sampai aku sukses, sampai aku bisa membuat dirimu bahagia. Kalau ga karena Mamah, mungkin aku ga akan semangat untuk terus menggapai apa yang aku impikan, Mah. Tolong doakan aku di setiap sujudmu, i love you malaikat tak bersayapku.”
Mama you are my favorite person.
Aku tumbuh dengan menyaksikan ibuku menangani semua rintangan yang dilemparkan pada hidupnya. Apa pun yang terjadi, dia selalu bangun di pagi hari, memastikan perutku tidak kosong saat beraktivitas, melakukan pekerjaan luar biasa untuk membesarkanku. Itu sebabnya aku tidak pernah lemah dalam hidup ini. Sekalipun kehidupan ini banyak kalahnya, aku selalu bangun untuk satu alasan lagi. Aku belajar dari orang terbaik dari kehidupan ini.
Dan untuk teman-temanku, kuucapkan banyak terima kasih. Tanpa kalian sadari, kehadiran kalian menumbuhkan semangat baru dan alasan untuk tetap hidupku. Semoga semesta tidak pernah lupa bahwa aku selalu ingin melihat teman baik seperti kalian memenangi banyak hal di hidup ini, entah itu mimpi ataupun harapan.
Fatherless is scary. Aku gapunya pembimbing di hidup, kadang aku harus jatuh dulu baru ngerti cara berdiri, harus salah dulu baru tau mana yang benar, harus salah jalan dulu biar sadar kalau jalan itu buntu. Capek? iya. Bingung? sering. Tetapi di situ aku banyak belajar menemukan arah sendiri, belajar bertahan meskipun sendirian. Dan pelan-pelan sadar, ternyata sejauh ini aku sudah lebih kuat dari yang aku kira.
Dan untuk jatuh cinta? hmmm, bukan karena aku tidak percaya pada cinta, tapi karena sejak kecil aku melihat bagaimana seseorang bisa pergi dari tanggung jawab yang seharusnya ia jaga. Kehilangan itu diam-diam mengajarkanku bahwa orang yang seharusnya tinggal pun bisa memilih untuk pergi.
Kadang aku takut menikah, bukan karena tidak ingin dicintai, tapi karena takut salah memilih. Takut suatu hari menemukan diriku berada di cerita yang sama, bersama seseorang yang akhirnya pergi seperti sosok yang dulu meninggalkanku. Aku hanya takut satu hal, anak yang suatu hari mungkin kulahirkan harus merasakan kosong yang sama seperti yang pernah kurasakan. Karena luka seperti itu tidak pernah benar-benar hilang, ia hanya belajar diam dan tinggal lebih dalam di hati.
P3M CSSMoRA UIN Walisongo kembali melaksanakan program kerja berupa roadshow yang terbagi menjadi dua kegiatan, yaitu Roadshow Falak dan Roadshow Teknologi Informasi (TI). Roadshow Falak sebelumnya telah diselenggarakan pada 1 November 2025 di MA Nurussalam Ngaliyan dengan tema “Eksplorasi Ilmu Falak Astronomi untuk Kebutuhan Ibadah”. Selanjutnya, Roadshow kedua, yaitu Roadshow TI, dilaksanakan pada Sabtu, 18 April 2026, di MA Al Asror Gunungpati. Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi kepada siswa agar mengenal dan memahami dasar penggunaan Canva. Dalam pelaksanaannya, P3M membuka open recruitment internal bagi anggota CSSMoRA UIN Walisongo agar dapat merasakan pengalaman pengabdian masyarakat melalui kegiatan berbagi ilmu. Peserta kegiatan ini adalah siswa dan siswi kelas XI MA Al Asror Gunungpati.
Kegiatan dibuka pada pukul 09.30 WIB oleh Zahra Fathinah selaku MC, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Salwa Inas Roidah, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars CSSMoRA yang dipandu oleh Faidlul Kamaliah. Sambutan kemudian disampaikan oleh Ketua P3M, M. Ais Nur Rizqi, yang memberikan motivasi kepada siswa untuk terus semangat belajar keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan sosial, salah satunya kemampuan editing. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kepala MA Al Asror Gunungpati, Bapak M. Busrol Karim, S.Pd.I., S.Kom., M.Pd., yang menyampaikan apresiasi atas kehadiran CSSMoRA sebagai wadah berbagi ilmu, pengalaman, dan diskusi bersama siswa, serta berharap ilmu yang diperoleh dapat menjadi bekal yang bermanfaat di masa depan.
Kegiatan inti berupa penyampaian materi dibagi menjadi dua sesi, yaitu materi teori Canva yang disampaikan oleh Zalwa Zalirah Ghazali dan materi praktik desain menggunakan Canva oleh Zahwa Kamila. Setelah sesi materi, siswa mengikuti praktik langsung agar lebih mudah memahami materi yang telah diberikan. Selama praktik, siswa terlihat antusias menuangkan imajinasi mereka dalam membuat desain, sementara tim CSSMoRA turut mendampingi ketika peserta mengalami kesulitan. Pemateri kemudian memberikan tantangan desain selama kurang lebih 20 menit, yang dilanjutkan dengan pengumuman pemenang dalam beberapa kategori, yaitu desain yang sesuai dengan materi, penempatan elemen terbaik, desain terbaik, serta siswa yang mampu menjawab pertanyaan dari pemateri.
Secara keseluruhan, kegiatan Roadshow TI berjalan dengan lancar, tertib, dan mendapat antusiasme dari para peserta. Diharapkan kegiatan ini dapat membantu meningkatkan kemampuan dasar desain siswa sehingga bisa menjadi bekal keterampilan yang bermanfaat di masa depan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana berbagi ilmu bagi teman-teman CSSMoRA. Semoga ke depannya P3M dapat terus mengajak lebih banyak anggota CSSMoRA untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan pengabdian masyarakat berikutnya.
Pada hari Sabtu, 18 April 2026, bertempat di YPMI Al-Firdaus, Semarang, telah dilaksanakan kegiatan COOKIES (CSSMoRA Open Opportunities for Knowledge in Editing Skills) yang diselenggarakan oleh Divisi Kominfo CSSMoRA UIN Walisongo Semarang. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan keterampilan dasar dalam bidang editing, khususnya bagi anggota CSSMoRA.
Acara dibuka oleh Ketua Divisi Kominfo, Kms. Abizar Al Ghifari. Dalam pembukaannya, ia menyampaikan bahwa COOKIES menjadi ruang belajar bersama agar anggota bisa mengembangkan kemampuan editing yang dibutuhkan dalam kegiatan organisasi maupun pengembangan diri.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Varas Aula Zakan Tazalla, anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo Semarang angkatan 2022 yang memiliki keahlian di bidang editing video dan desain grafis. Pada sesi ini, pemateri membahas penggunaan aplikasi CapCut, mulai dari pengenalan fitur, cara mengedit video, hingga teknik dasar yang bisa langsung diterapkan oleh peserta.
Penyampaian materi berlangsung dengan alur yang jelas dan mudah diikuti. Peserta juga diajak untuk memahami fungsi dari setiap fitur yang ada, sehingga tidak hanya mengetahui cara pakai, tetapi juga memahami kegunaannya dalam proses editing.
Di akhir kegiatan, sesi dilanjutkan dengan tanya jawab. Peserta aktif mengajukan pertanyaan terkait kendala saat editing maupun penggunaan fitur tertentu di CapCut. Diskusi berjalan dua arah dan membantu peserta memahami materi dengan lebih baik. Kegiatan COOKIES berjalan lancar dan memberikan pengalaman baru bagi anggota CSSMoRA, khususnya dalam meningkatkan keterampilan editing.
Sebuah refleksi dalam semangat International Women’s Day
Ngomongin soal peradaban, pendidikan hampir selalu jadi fondasi utamanya. Dari ruang-ruang belajar sederhana, seringkali lahir gagasan-gagasan besar yang akhirnya mengubah arah dunia.
Karena itu, ketika membahas pusat pendidikan tertua, kebanyakan dari kita langsung kepikiran Eropa. Entah itu Oxford, Bologna, atau mungkin Cambridge. Rasanya wajar. Nama-nama itu memang sudah sering muncul dalam sejarah pendidikan dunia, sampai-sampai kita merasa semuanya bermula dari sana.
Tapi siapa sangka, jauh sebelum itu semua, sudah berdiri sebuah pusat ilmu di Fez, Maroko. Dan yang lebih mengejutkan, yang membangunnya bukan raja, bukan pula ilmuwan laki-laki. Melainkan seorang Muslimah.
Namanya mungkin jarang kita dengar di dunia akademik sekarang, bahkan masih terasa asing bagi sebagian dari kita. Namun jejak yang ia tinggalkan tetap berdiri kokoh melintasi waktu, menembus generasi, dan terus memberi makna bagi dunia.
Dialah, Fatimah al-Fihri.
Awal Perjalanan Seorang Perempuan yang Mempunyai Mimpi Besar
Fatimah binti Muhammad al-Fihriya al-Qurashiyah lahir sekitar tahun 800 M di Kairouan, wilayah yang kini masuk ke dalam Tunisia tengah. Ia berasal dari keluarga kaya, keturunan bangsawan, menjunjung tinggi ilmu, serta memiliki jiwa sosial yang tinggi dan kepedulian terhadap sesama.
Pada masa Raja Idris II di awal abad ke-9 M, bersama keluarganya ia kemudian hijrah ke Fez, Maroko, sebuah kota yang saat itu berkembang pesat sebagai pusat peradaban Islam. Di kota itulah kehidupannya berubah.
Warisan yang Tidak Biasa
Setelah ayah, saudara laki-laki, dan suaminya wafat, Fatimah mewarisi harta yang cukup banyak. Namun alih-alih menggunakannya untuk kepentingan pribadi, ia justru melihat kebutuhan yang lebih besar di sekitarnya, yaitu masyarakat yang haus akan ilmu, tetapi belum memiliki ruang belajar yang memadai.
Dari situlah muncul satu keputusan besar. Fatimah bukan sekadar ingin mendirikan bangunan, tetapi menciptakan ruang yang menumbuhkan cahaya pengetahuan.
Dari Masjid menjadi Pusat Ilmu
Pada tahun 859 M, ia mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Al-Qarawiyyin sebagai bentuk penghormatan pada tanah asal keluarganya, Kairouan.
Awalnya memang hanya masjid, sekaligus pusat pendidikan dengan landasan nilai-nilai Islam. Tapi justru dari sanalah semuanya bermula.
Masjid itu perlahan berkembang. Tidak hanya menjadi tempat ibadah dan tempat belajar ilmu agama, tetapi juga menjadi tempat orang-orang mempelajari ilmu-ilmu rasional seperti matematika, fisika, astronomi hingga filsafat.
Seiring waktu, aktivitas belajar di Al-Qarawiyyin semakin berkembang dan terstruktur. Kurikulum mulai terbentuk, para ulama dan ilmuwan mulai mengajar, dan para pelajar datang dari berbagai penjuru.
Hingga akhirnya Al-Qarawiyyin dikenal luas sebagai pusat pendidikan tinggi yang dalam perkembangan modernnya diakui sebagai universitas.
Bahkan lembaga ini diakui oleh UNESCO dan Guinness World Records sebagai universitas tertua di dunia yang masih beroperasi hingga hari ini.
Bayangkan, sudah lebih dari 1.100 tahun! Berawal dari sebuah bangunan dan dedikasi untuk masyarakat, ia tetap hidup lintas zaman.
Bukan Sekadar Membangun, tetapi Menjaga Proses
Yang membuat kisah ini semakin kuat bukan hanya hasil akhirnya, tetapi juga prosesnya.
Fatimah tidak sekadar “menyumbang dana lalu selesai”.
Saat pembangunan Al-Qarawiyyin dimulai, ia tidak hanya sibuk mengatur atau mengawasi. Ia memilih sesuatu yang lebih dari itu, yaitu berpuasa sepanjang proses pembangunan dari peletakan batu pertama hingga bangunan itu benar-benar selesai.
Kebayang nggak sih?
Di saat orang lain mungkin fokus pada hasil akhir, Fatimah justru menjaga prosesnya, memastikan setiap langkahnya punya makna ibadah.
Para sejarawan seperti al-Nuwairi dan Ibn Abi Zar mencatat sikap Fatimah ini sebagai bukti ketulusan yang luar biasa. Bahwa apa yang ia bangun bukan sekadar bangunan. Tapi sesuatu yang lahir dari iman, niat, dan pengabdian yang sungguh-sungguh.
Dari Fez untuk Dunia
Dari Al-Qarawiyyin tumbuh dan berkembang banyak tokoh besar yang memberi pengaruh luas, bahkan melintasi peradaban.
Di sana pernah belajar atau terhubung dengan tradisi keilmuan tokoh seperti Ibnu Khaldun (1332–1406 M), seorang sejarawan, sosiolog, dan ekonom yang karyanya Muqaddimah menjadi rujukan penting dalam studi sejarah dan sosiologi modern.
Ada juga Al-Idrisi (1100–1165 M), ahli geografi dan kartografer yang peta-petanya digunakan dalam penjelajahan Eropa pada abad pertengahan.
Kemudian Ibnu Rusyd (1126–1198 M), yang dikenal di Barat sebagai Averroes, seorang filsuf dan dokter yang pemikirannya memberi pengaruh besar terhadap kebangkitan intelektual di Eropa.
Nama lain yang tak kalah penting adalah Musa bin Maimun (1135–1204 M), atau Maimonides, seorang filsuf dan dokter Yahudi yang dikenal luas dalam bidang hukum dan etika.
Tak hanya itu, ada pula Ibnu Arabi (1165–1240 M), tokoh sufi besar yang pemikirannya terus dipelajari hingga hari ini.
Bahkan jejak Al-Qarawiyyin juga sampai pada tokoh seperti Leo Africanus (1494–1554 M), seorang penjelajah yang mendokumentasikan Afrika Utara, serta Gerbert dari Aurillac (946–1003 M) yang kemudian dikenal sebagai Paus Sylvester II yang disebut-sebut pernah belajar di sana dan membawa pengetahuan angka Arab ke Eropa.
Tradisi keilmuan yang tumbuh di sana pun memberi pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu di Eropa.
Artinya, apa yang dibangun oleh Fatimah al-Fihri tidak hanya berdampak bagi masyarakat di sekitarnya, tetapi juga bagi dunia.
Ia tidak hanya membangun tempat. Ia membangun peradaban.
Refleksi untuk Hari Ini
Di momen International Women’s Day ini, kita masih sering mendengar tentang empowerment dan kesetaraan.
Namun, jauh sebelum semua itu menjadi wacana yang ramai diperbincangkan, Fatimah al-Fihri telah lebih dulu melakukannya.
Ia membuktikan satu hal yang seharusnya membuka mata kita:
Perempuan bukan sekadar “pengikut” dalam sejarah, melainkan pembentuk peradaban itu sendiri.
Karena itu, pertanyaannya hari ini bukan lagi:
Apakah perempuan bisa?
Sebab jawabannya sudah jelas bisa, dan telah terbukti sejak berabad-abad lalu.
Yang justru perlu kita tanyakan adalah:
Apa yang ingin kita bangun hari ini? Warisan seperti apa yang ingin kita tinggalkan?
Sebab bisa jadi, di antara kita, para Muslimah Gen Z, sedang tumbuh sosok-sosok baru yang akan mengubah dunia, seperti Fatimah al-Fihri pada masanya.
Jampi-jampi Februari.
Geura gede. Geura lumpat.
Rapal satu, ucap sekian.
Rapal ratu, ratap makian.
Tengok tahap tengah cacian,
Kata sembunyi dalam nyanyian.
Harap.
Harap.
Harap.
Terkembang.
Membusung—
Tengah dada,
Dalam dada,
Belah dada.
Semoga cepat kaya.
Semoga kayamu memberi cepat.
Cepatlah hidupmu.
Lambatkah gerakmu?
Napas satu.
Napas tak jemu.
Hirup lalu tanpa menyeru.
Nyala.
Membusung cinta.
Lembayung kita; Mendesir.
Angin, sampaikan air.
Tinggi, hampiri kami.
Kutukan kami.
Air! Turun?
Mengapa basahi?
Pohon tumbang.
Petir menyambar.
Banjir bandang.
Darimana saatnya.
Saatnya saya bersenda ria.
Kuncup mekar merana.
Mekar satu terbang terhingga.
Kita sudah sampai kan usia.
Usia cukup menerka kira.
Apa yang bersembunyi di balik muka.
Mukamu senyum senantiasa.
Adakah nyata.
Garis tulus terkembang tatkala. Kita.
Sendakan ria. Dalam untaian masa.
Inginkan saja terbang.
Lepas.
Menembus langit.
Cakrawala.
Hai, pemilik teguh!
Izinkan memeluk rapuh.
Saya tidak becus.
Tidak kerana tangguh.
Inginkan saja degup suara.
Suara-suara merdu. Terompet hari itu.
Tiap kali saya jauh.
Manis sekali hangat menghampiri.
Mengalir. Merambat. Merangkai suatu.
Suatu kata:
Hari.
Hati.
Kecil.
Teduh.
Teguh.
Haru.
Tangis.
Bisu.
SEMARANG- Ramadhan menjadi bulan yang dinanti-nanti, dimana manusia akan berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan. Tepat 11 Ramadhan 1447 H/1 Maret 2026 CSSMoRA melaksanakan sahur on the road. Acara ini berkoolaborasi dengan beberapa organisasi juga seperti HMJ Falak, IKSI, dan Warmindo 75. Di awali dengan open donasi dibuka sejak awal bulan Ramadhan hingga 9 Ramadhan. Dan terkumpul dana sebenar 2,5 yang nantinya akan dibelanjakan untuk konsumsi sahur on the road.
Sebelum berjalannya sahur on the road, semua panitia dan anggota yang terlibat membantu persiapan konsumsi. Mulai dari mengupas, memotong bumbu-bumbu, menyiapkan kotak untuk nasi, dan survei lokasi mana saja yang nantinya akan menjadi target pembagian sahur on the road agar tidak salah sasaran.
setelah persiapan selesai, dilanjutkan dengan breafing untuk bagaimana tata cara pembagian sahur on the road saat di jalan nanti. Di pimpin oleh bapak budi selaku owner dari warmindo 75 yang memberikan pesan “pada saat dijalan jaga perilaku kita, jangan sampai mengganggu pengguna jalan yang lain, dan hati-hati saat di jalan”. Dan pembagian sahur on the road siap dilaksanakan, mulai dari pasar karang ayu menuju ke arah lawing sewu, dilanjut kearah poncol, kemudian tugu muda dan berakhir di simpang lima.
Dari 170 nasi kotak, alhamdulillah habis dan dapat disalurkan dengan baik kepada tunawisma, pemulung, dan tukang becak yang berada di jalan-jalan.
Acara dilanjut dengan sahur bersama di depan kantor gubernur jateng sambil menikmati jalan dini hari yang masih sepi dan syahdu. Sebelum berakhirya sahur on the road dilanjut dengan penyampaikan kesan dan pesan dari setiap organisasi.
Nayla selaku ketua organisasi IKSI menyampaikan “alhamdulillah acara berjalan dengan lancer dan bisa mengikuti sotr dua kali berturut-turut dan senangnya sotr kali ini banyak organisasi yang ikut sehingga lebih rame, dan seru”.
Dilanjutkan dengan pipit selaku ketua dari HMJ Ilmu Falak “sebelumnya terimakasih kepada pihak-pihak yang telah mau bekerja sama dalam menyiapkan sotr ini sehingga mampu berjalan dengan baik. Terimakasih juga kepada ibu dan bapak yang mau mengawal kita selama dijalan dan membimbing kita, dan mohon maaf jika saya tidak bisa membantu dari awal hingg akhir.”
Dan yang terakhir Ais selaku ketua P3M CSSMoRA UIN Walisongo “sebelumnya terimakasih karena acara sotr pertama yang dilakukan oleh CSSMoRA ini sangat berkesan mengingat ada 3 organisasi yang ikut sehingga bisa saling mengenal dan semoga sahur yang kita bagikan bisa menjadi amal bagi kita semua.”
Dengan berakhirnya penyampaian Kesan pesan berahir pula acara sahur on the road 2026 dan ditutup dengan foto Bersama.
SEMARANG – Setelah sukses menggelar rangkaian kompetisi internal maupun eksternal, Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMoRA) UIN Walisongo resmi mencapai puncak perayaan Dies Natalis ke-18 pada Rabu (25/2). Acara yang menghadirkan Gus Rifqil Muslim sebagai pembicara utama ini berlangsung khidmat di Auditorium 2, Kampus 3 UIN Walisongo Semarang.
Mengusung tema “Narasi Santri di Era Digital: Membaca Ulang Tradisi Pesantren dalam Arus Disrupsi”, Gus Rifqil membedah tantangan santri dalam menjaga nilai luhur pesantren di tengah gempuran teknologi. Ia menekankan pentingnya menjaga hati kita tetap teduh di dunia digital yang gaduh.
”Setiap story adalah catatan, setiap komentar adalah saksi, dan setiap unggahan akan berdiri di hadapan Allah SWT karena adanya hukum eternity (keabadian digital). Santri bukanlah generasi yang takut teknologi, bukan pula yang mendewakannya. Santri adalah generasi yang memuliakan ilmu dengan menggunakan teknologi sebagai alat kebaikan,” ujar Gus Rifqil di hadapan ratusan peserta.
Sebelumnya, kemeriahan Dies Natalis telah diawali dengan Festival Dies Natalis CSSMoRA (FDC) pada 4–15 Desember 2025. Agenda rutin tahunan ini berhasil menyedot antusiasme 618 peserta dari seluruh penjuru Nusantara yang berkompetisi dalam empat cabang lomba: Musabaqoh Qiraatil Kutub (MQK), Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ), Musabaqoh Dai Muda (MDM), dan Solo Song.
Selain skala nasional, aspek kekeluargaan juga diperkuat melalui CSS Competition bagi anggota internal pada 6–7 Desember 2025. Berbagai cabang olahraga seperti badminton, futsal, gobak sodor hingga e-sport digelar di beberapa lokasi, termasuk GOR Prima Mijen dan Pondok Pesantren YPMI Al-Firdaus.
Rangkaian panjang perayaan ini sebenarnya telah dimulai sejak Oktober 2025 melalui sayembara desain logo yang diperuntukkan bagi anggota aktif. Kompetisi identitas visual tersebut menjadi pemantik semangat sebelum berlanjut ke ajang nasional, yakni Festival Dies Natalis CSSMoRA (FDC) pada 4–15 Desember 2025.
Ketua Panitia, Aufal Wafa, mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran seluruh rangkaian acara. Ia menjelaskan bahwa perpaduan lomba dan talkshow ini adalah upaya menyeimbangkan kreativitas dan pengayaan intelektual.
“Kami ingin Dies Natalis ini menjadi paket lengkap. Kompetisinya mengasah bakat, sementara talkshow bersama Gus Rifqil memberikan arah serta bekal pemikiran bagi kami sebagai santri di era disrupsi,” ungkapnya.
Puncak acara ditandai dengan prosesi pemotongan tumpeng bersama pengelola Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) UIN Walisongo, serta penampilan syahdu Tari Turi Putih oleh anggota CSSMoRA yang memukau audiens.
Rangkaian acara ditutup dengan sesi foto bersama dan dilanjutkan dengan buka puasa bersama anggota aktif. Dengan berakhirnya perayaan ke-18 ini, CSSMoRA UIN Walisongo berharap dapat terus menjadi wadah transformatif bagi santri untuk tetap relevan dengan zaman tanpa kehilangan jati diri kepesantrenannya.