Kendal — CSSMoRA UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan kegiatan Momen Keakraban (Mokrab) 2026 dengan mengusung tema “Build the Bond, Create the Memories” pada Sabtu–Ahad, 17–18 Oktober 2026, bertempat di Kampoeng Djowo Sekatul, Kendal, Jawa Tengah. Kegiatan ini diikuti oleh anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo Semarang dari angkatan 2023 (Adyara), 2024 (Abisatya), 2025 (Askara), dan 2026 (Arvantara).
Mokrab diselenggarakan sebagai ruang untuk mempererat silaturahmi, membangun keakraban lintas angkatan, serta menghadirkan kembali suasana kebersamaan di tengah keluarga besar CSSMoRA. Melalui kegiatan ini, para anggota diharapkan dapat saling mengenal lebih dekat, memperkuat komunikasi, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap organisasi.
Rangkaian kegiatan diawali dengan keberangkatan peserta menuju lokasi, dilanjutkan dengan registrasi dan pembukaan. Peserta kemudian mengikuti sesi Share to Care sebagai ruang perkenalan dan berbagi cerita. Suasana kebersamaan semakin terasa pada malam hari melalui pemutaran video perkenalan dan parodi angkatan, pentas seni, serta kegiatan api unggun dan barbeque (BBQ). Momen tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk berbagi pengalaman dan menciptakan kenangan bersama.
Pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan senam pagi, fun games, dan aktivitas smoke bomb. Setelah itu, peserta bersama-sama melaksanakan bersih-bersih, tukar kado, penyampaian pesan dan kesan, hingga penutupan. Beragam kegiatan tersebut dirancang untuk menghadirkan suasana yang santai, menyenangkan, sekaligus memperkuat interaksi antaranggota.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang rangkaian acara, mulai dari sesi perkenalan dan berbagi cerita hingga pentas seni, api unggun, dan fun games. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi anggota dari berbagai angkatan untuk membangun komunikasi dan mempererat hubungan dalam suasana yang hangat.
Fiki, anggota CSSMoRA angkatan 2026, menyampaikan rasa terima kasih kepada panitia yang telah mendampingi anggota sejak sebelum mereka resmi bergabung dengan CSSMoRA. “Senang banget rasanya bisa kenal sama kalian semua. Pesan buat kita semua, yuk tetap semangat dan terus berproses, karena perjalanan kita masih panjang banget!” tuturnya.
Sementara itu, Zuhrul selaku ketua pelaksana Mokrab CSSMoRA 2026 menilai kegiatan berjalan menyenangkan dan seru berkat antusiasme peserta. Menurutnya, semangat peserta membuat rangkaian acara terasa hidup dan berkesan, meskipun masih terdapat beberapa kekurangan dalam pelaksanaan rundown.
Melalui Mokrab 2026, CSSMoRA UIN Walisongo Semarang berharap silaturahmi dan rasa kekeluargaan antaranggota semakin erat. Kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkuat solidaritas, meningkatkan kepedulian, serta menciptakan lingkungan organisasi yang harmonis dan kompak. Semangat “Build the Bond, Create the Memories” diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan berakhir, tetapi terus tumbuh dalam perjalanan bersama di CSSMoRA.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI adalah sebuah teknologi yang sangat membantu siapapun yang membutuhkannya. Karna AI juga semua pekerjaan lebih ringan dan singkat. Kini, berbagai informasi dapat diakses dengan mudah dan cepat, tanpa harus menghabiskan waktu membaca buku. Bagi kalangan santri AI ini sangat bermanfaat, karena memudahkan pekerjaan, seperti mengakses materi-materi yang di perlukan, dan mencari kebenaran suatu informasi. Namun, ditengah kemudahan yang ditawarkan AI, patut di renungkan, bahwa dahulu santri untuk memahami suatu materi, atau mencari informasi, santri membaca buku, kitab, bahkan berdiskusi. Apakah adanya AI ini membantu atau justru memanjakan santri dalam berfikir, bahkan dapat mengurangi kemandirian mereka?
Perkembangan AI saat ini semakin pesat, banyak AI yang dapat digunakan oleh kalangan santri atau Masyarakat umum. Sebut saja ChatGPT, Claude, Gemini, Khan Academy, ScribeSense, dan lainnya. Saat ini penggunaan AI sangat tidak bisa dihindari, dengan meningkatnya kebutuhan akan informasi praktis. Kemudahan yang ditawarkan membuat sebagian orang ketergantungan kepada AI. Ketika seseorang terlalu bergantung pada jawaban tanpa memahami, mencari kebenaran akan informasi yang diberikan, maka berkurangnya kemandirian berfikir. Kebiasaan buruk ini juga berpotensi menumbuhkan sikap buruk lainnya, seperti malas dalam mencari pengetahuan. Jika terus dibiarkan, ketergantungan pada AI akan mengubah cara berfikir, melemahnya kemampuan komunikasi dan menganalisis. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi santri. Oleh karena itu, setiap jawaban AI perlu di periksa kembali kebenarannya, agar santri tetap kritis, memiliki kemampuan berfikir, dan dapat mempertanggungjawabkan ilmu tersebut.
Kondisi ini menjadi kekhawatiran, melihat adanya perubahan yg signifikan terhadap santri. Yang mana seharusnya berdiskusi, membaca, dan memahami kini hanya sebatas mengakses informasi dengan praktis dan cepat. Sebut saja tugas kuliah yang mana menjelaskan suatu kandungan ayat Al-Qur’an, santri langsung meminta AI memberikan penjelasan. Jika jawaban tersebut langsung di terima mentah-mentah, tanpa adanya mencari kebenaran informasi tersebut kepada guru, membaca buku, atau syarah. Maka berisiko hanya mengetahui hasil akhir, tanpa memahami proses penalaran. Akibatnya, santri kesulitan menjelaskan ulang dengan bahasa sendiri. Hal ini menjadi bukti, bahwa kemudahan yang diberikan teknologi AI perlu diimbangi dengan memeriksa kembali, berdiskusi, dan memahami ilmu secara mandiri. Oleh karena itu, setiap santri harus memiliki sikap bijak dalam memanfaatkan AI. Teknologi tidak dapat dihindari namun kita sebagai santri kita harus cakap dalam menggunakannya. AI sudah seharusnya menjadi alat bantu, tapi tidak menggantikan proses berfikir. Dengan tetap membaca buku, mencari kebenaran informasi, dan berdiskusi dengan guru, santri dapat memanfaatkan kemajuan teknologi tanpa kehilangan kemandirian belajar.
Pada akhirnya, kemajuan santri di era digital bukan hanya diukur dari seberapa cepat memperoleh jawaban, namun tentang bagaimana memahami, mencari kebenaran, dan mempertanggungjawabkan ilmu yang diperoleh. Santri boleh terbantu oleh AI, namun proses berfikir, membaca buku, berdiskusi dengan guru, tetap menjadi bagian penting dalam menuntut ilmu di era digital sekarang. Sebab, santri tidak hanya dituntut untuk menjadi generasi yang mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga generasi yang kritis, bijak, berilmu, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Teknologi boleh semakin canggih, tetapi kemandirian berpikir harus tetap terjaga. Maka sebaiknya menggunakan AI sebijak-bijaknya.
Menilik kehidupan pesantren melalui Atomic Habbit – James Clear
Berangkat dari sebuah pertanyaan mendasar, apa itu santri? Lalu mereka-reka jawaban dalam benak saya bahwa santri adalah pribadi yang harus terus mencari. Dalam hal ini, mencari pemahaman tentang ilmu agama.
Sedangkan menurut KBBI, santri adalah: 1. orang yg mendalami agama Islam; 2. orang yg beribadat dng sungguh-sungguh; orang yg saleh; pe·san·tri·ann pesantren.
Ada lagi pendapat para ahli yang memberikan definisi. Suharto (2011) menjelaskan kata santri asal mulanya merupakan bahasa India, yaitu shastri, yang berarti orang-orang yang paham tentang buku-buku suci tentang agama Hindu atau seorang sarjana yang dikatakan ahli dalam kitab Hindu.
Dan masih banyak lagi definisi, namun berangkat dari yang semula maka timbul pula perenungan bahwa pada nyatanya menuntut diri untuk paham itu jelas bukan perkara mudah dan menanamkan niat buat memahami jelas bukan hal yang sepele.
Beragam dera dan tantangan menghujam diri seorang santri, entah yang berasal dari luar maupun dari dalam. Ada rasa malas yang menjadi musuh utama dalam setiap kegiatan, ada jenuh yang menemani setiap rutinitas, ada rasa kantuk yang menyerang sewaktu pengajian, atau mumet dan kesal pada diri sendiri berhadapan dengan kitab yang tak kunjung dipahami (based on reality), bahkan barangkali pertanyaan yang terbesit menjadi hasutan keraguan: untuk apa sebenarnya segala hal itu dijalani.
Bagaimana pribadi dapat setia dalam pencariannya? Bagaimana caranya santri menetapkan rasa ingin tahu, seolah semuanya begitu gamblang, namun pada nyatanya jauh dan seolah tak terhingga?
Dalam pergumulan ini, saya teringat pada buku self improvement yang digandrungi muda-mudi akhir-akhir ini, yang penampakannya masih setia mengisi rak-rak terdepan Gramedia: Atomic Habbits karangan James Clear. Buku yang menyoal perilaku.
Clear meninjau bahwa tujuan dapat dicapai melalui langkah-langkah kecil yang dibiasakan. Percaya pada proses. Yakin pada ritme yang senantiasa diberlanjutkan.
Gagasannya menarik untuk dibawa ke lingkungan pesantren, tempat pengulangan bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan juga bagian dari struktur kehidupan bersama yang harus ditaati.
Dalam pembentukan identitasnya (menyoal identitas kental sekali dipaparkan pada bab awal buku Atomic Habbit), santri seharusnya sudah mafhum bahwa di jidatnya terdapat stempel abadi yang menyatakan dirinya santri, terbukti dengan dirinya tinggal di pondok pesantren, mempunyai seorang advisor yang membimbing perjalanan pahamnya, mencecap ajaran ruhani dari sang kyai, lalu tampilannya pun semakin menguatkan identitasnya, mulai dari cara berpakaiannya, bangga dengan sarungan dan peci yang tersandang di kepala, bukan hanya untuk menahan rambut menyentuh dahi sewaktu solat, lebih dari itu sebagai lambang siapa dirinya.
Timbul pula penasaran: benarkah identitas yang diyakininya sejalan dengan tindak-tanduknya itu? Benarkah kita memilih identitas sebagai santri?
Menurut buku Atomic Habbit, identitas berasal dari kebiasaan Anda. Anda tidak dilahirkan dengan keyakinan bawaan. Setiap keyakinan, termasuk tentang diri sendiri, dipelajari dan dikondisikan melalui pengalaman. Kebiasaan Anda tergantung pada bagaimana Anda mewujudkan identitas Anda.
Ketika merapikan tempat tidur setiap hari, Anda mewujudkan identitas orang yang terorganisasi. Ketika menulis tiap hari, Anda mewujudkan identitas orang yang atletis. Makin sering Anda mengulang suatu perilaku, makin sering Anda memperkuat identitas yang terkait dengan perilaku itu.
Dalam kenyataan, kata identitas awalnya diturunkan dari kata Latin essentitas yang berarti ada, dan identidem, yang berarti berulang. Jadi, identitas Anda secara harfiah adalah “ada yang diulang”. Ceramah James Clear dalam buku.
Bahwa diriku adalah apa yang aku lakukan, bukan apa yang aku katakan, itu mungkin sedangkal yang bisa saya tangkap. Maka sejalan dengan kehidupan pondok pesantren, sependek waktu saya mencicipi hidup di pondok, kehidupan pesantren itu dibangun oleh rangkaian kegiatan yang terus diulang.
Jadwal kehidupan dari sebermula terjaga sampai tidur kembali sudah ada. Pengajian pada waktu yang telah ditetapkan, salat berjamaah, pengajian kitab, mengulang hafalan, dan menaati beragam tata tertib yang berlaku. Semua itu menjadi bagian yang melekat dari laku keseharian santri, perlahan-lahan membentuk pola hidup yang diharapkan.
Santri tidak bisa menunggu keinginannya sendiri untuk berangkat mengaji, ada Asatidz atau bagian keamanan yang setia mengarahkan santri ke tempat pengajian. Ada jadwal yang mesti diikuti, dan tata tertib yang mengatur semua kegiatan sehari-harinya.
Lingkungan menyediakan semacam sistem yang memungkinkan kegiatan tertentu terus berlangsung. Dalam pengertian ini, rutinitas pesantren dapat dibaca sebagai ruang pembentukan kebiasaan.
Akan tetapi, apakah pengulangan dengan sendirinya menjadikan seseorang menghayati apa yang dilakukannya? Menjawab pertanyaan sebelumnya di atas, tidak semua memiliki keputusan nan berdaulat untuk menentukan sikapnya.
Boleh jadi si A datang ke pondok awalnya karena paksaan orangtua, sedangkan si B memang bermaksud ke pondok pesantren untuk menimba ilmu. Bayangkanlah si A dan si B telah mondok bersama, lalu pada suatu pengajian mereka duduk di hadapan guru yang sama, mendengarkan kitab yang sama, dan menjalani jadwal pengajian yang sama.
Santri pertama hadir karena takut mendapatkan hukuman apabila terlambat atau tidak mengikuti pengajian. Santri kedua hadir karena merasa bahwa pengajian merupakan bagian dari pencarian ilmu yang ingin ia jalani.
Dari luar, keduanya mungkin tampak serupa. Mereka sama-sama duduk, menyimak, membuka kitab, dan hadir di pengjian hingga selesai. Namun, apakah pengalaman keduanya juga serupa?
Hal ini membawa kita pada salah satu gagasan penting dalam Atomic Habits, yakni pembentukan kebiasaan yang berangkat dari identitas seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. Perubahan tidak hanya berkaitan dengan hasil yang ingin dicapai atau kegiatan yang dilakukan, tetapi juga dengan gambaran tentang diri yang hendak diwujudkan.
Dalam kehidupan santri, kita dapat mengajukan pertanyaan: apakah seseorang sekadar menjalankan kegiatan yang diwajibkan kepada seorang santri, atau perlahan-lahan mulai memahami dirinya sebagai seorang pencari ilmu?
Bertepatan dengan momentum Hari Santri Nasional ini, meminjam istilah Freud, superego saya mengajukan refleksi: sejauh mana engkau tercerabut dari akar pencarianmu?
Lalu saya merasa malu, seperti laku kocar-kacir beridentitas entah. Entah santri, entah siapa, yang pasti saya bagian dari yang merayakan hari ini, bahwa keberlanjutan nilai-nilai di pondok itu semoga melekat senantiasa bahkan setelah tidak tinggal di sana, di pondok, tapi melekat di hati, di perbuatan, di jidat.
Ada satu hal yang sampai hari ini masih membuatku berpikir “Mengapa terkadang kita harus menghabiskan waktu begitu lama untuk menjalani kehidupan yang tidak pernah kita inginkan?”
Aku pernah menghabiskan tujuh tahun hidupku hanya untuk menunggu satu hari, hari ketika aku tidak perlu lagi menjadi santri. Mungkin kalimat itu terdengar aneh, terlebih jika ditulis untuk memperingati Hari Santri Nasional. Ketika banyak orang mengenang kehidupan pesantren dengan penuh kebanggaan dan kerinduan, aku justru memiliki cerita yang berbeda. Bagiku, pesantren pernah menjadi tempat yang paling ingin kutinggalkan.
Semuanya bermula ketika usiaku baru sebelas tahun. Saat itu, orang tuaku memutuskan bahwa aku harus melanjutkan pendidikan di pesantren. Mereka ingin aku mendalami ilmu agama, sementara aku sendiri tidak pernah memiliki keinginan untuk menjadi santri. Aku membantah keputusan tersebut. Aku ingin bersekolah seperti teman-temanku, memiliki kebebasan, dan mempelajari hal-hal yang benar-benar kusukai.
Namun, keinginanku tidak mengubah keputusan mereka. Pada akhirnya, aku tetap mondok. Hari-hari di pesantren tidak selalu mudah. Ada aturan yang harus ditaati, kegiatan yang telah dijadwalkan, dan pelajaran agama yang sebenarnya tidak terlalu kusukai. Sementara itu, aku sering merasa iri melihat teman-temanku di luar pesantren yang tampak lebih bebas menjalani masa remajanya. Hampir setiap tahun aku meminta kepada orang tuaku agar diizinkan pindah sekolah. Namun, permintaan itu tidak pernah terwujud. Bukan berarti kehidupanku di pesantren sepenuhnya buruk. Aku memiliki teman-teman yang akrab dan banyak pengalaman bersama mereka. Akan tetapi, kedekatan dengan teman-teman tidak membuatku mampu menerima kehidupan sebagai santri. Aku tetap merasa bahwa pesantren bukanlah tempat yang kupilih untuk diriku sendiri. Aku menjalani hari-hari dengan satu keyakinan sederhana, semua ini pasti akan berakhir.
Selama tujuh tahun, aku tidak pernah benar-benar belajar mencintai kehidupan pesantren. Aku hanya belajar bertahan sambil menunggu hari ketika aku bisa meninggalkannya.
Di tengah kehidupan itu, aku menyimpan sebuah impian. Aku ingin melanjutkan pendidikan di Universitas Sumatera Utara (USU), tepatnya di jurusan Teknik Elektro. Sejak lama aku menyukai dunia teknologi dan ingin mempelajarinya lebih dalam. Bagiku, Teknik Elektro bukan sekadar jurusan. Ia menjadi simbol kebebasan untuk menentukan masa depan melalui pilihanku sendiri. Setelah bertahun-tahun menjalani pendidikan yang dipilihkan orang tua, aku berharap setidaknya dapat menentukan sendiri arah pendidikan tinggiku.
Namun, kenyataan kembali berkata lain. Orang tuaku memberitahukan bahwa kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk membiayai kuliah. Mereka menyarankanku untuk merantau saja. Aku bahkan belum sempat mendaftarkan diri ke USU. Sebelum perjuangan itu benar-benar dimulai, aku sudah harus menerima bahwa impianku belum dapat diwujudkan. Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika harus merelakan sesuatu bukan karena kita tidak mampu memperjuangkannya, melainkan karena keadaan tidak memberikan kesempatan. Sementara itu, pendidikan di pesantren belum sepenuhnya selesai. Sebelum penamatan, kami diwajibkan menjalani masa pengabdian. Masa tersebut sekaligus menjadi gap year bagiku.
Ketika teman-temanku mulai memasuki dunia perkuliahan, mengenakan almamater, dan menjalani kehidupan baru, aku masih berada di lingkungan pesantren. Sesekali aku bertanya kepada diriku sendiri, “Seharusnya aku juga sudah berada di sana, bukan?” Namun, aku tetap menjalankan pengabdian sebagai tanggung jawab yang harus kuselesaikan. Sama seperti tahuntahun sebelumnya, aku meyakinkan diri bahwa masa ini pun akan berlalu. Hingga akhirnya, hari yang kutunggu selama tujuh tahun benar-benar tiba. Hari penamatan. Aku merasakan kebahagiaan yang sulit dijelaskan. Setelah bertahun-tahun meminta pindah sekolah dan menjalani kehidupan yang tidak pernah kuinginkan, akhirnya aku dapat meninggalkan pesantren.
Kebebasan yang selama ini kunantikan akhirnya tiba.
Bagiku, penamatan bukan sekadar akhir pendidikan, melainkan kesempatan untuk memulai kehidupan yang benar-benar kuinginkan. Bahkan, saat itu aku berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku tidak ingin mondok lagi. Kupikir, kisahku sebagai santri telah selesai. Namun, persoalan pendidikan tinggi masih belum menemukan jawaban. Aku tetap ingin kuliah, sementara kondisi ekonomi keluarga belum memungkinkan. Karena itu, aku mulai mencari informasi beasiswa melalui internet. Sampai akhirnya aku menemukan kesempatan melalui program beasiswa LPDP. Aku mencoba mendaftar dengan memilih bidang agama, pilihan yang sebenarnya cukup jauh dari impianku untuk mempelajari Teknik Elektro. Keputusan itu tidak mudah. Ada kekecewaan yang harus kuterima ketika menyadari bahwa aku mungkin harus merelakan jurusan yang selama ini kuimpikan.
Tetapi aku mulai meyakinkan diri sendiri: “Tidak apa-apa jika bukan. Tidak apa-apa jika harus mengambil jurusan agama. Yang penting aku masih bisa kuliah.” Aku kemudian memilih UIN Walisongo Semarang karena memperkirakan peluang untuk melanjutkan pendidikan di sana cukup besar. Setelah mengikuti proses seleksi beasiswa, akhirnya aku dinyatakan lulus. Aku pun melanjutkan pendidikan di UIN Walisongo Semarang, mengambil jurusan Ilmu Hadis. Tentu ada kebahagiaan karena akhirnya menjadi mahasiswa. Namun, di balik itu masih tersimpan kekecewaan karena harus meninggalkan jurusan impian. Dan ternyata, kehidupan kembali memberiku kejutan. Bahkan setelah menjadi mahasiswa, aku masih harus mondok. Aku sangat kecewa. Dahulu aku membayangkan dunia perkuliahan sebagai awal kehidupan yang lebih bebas. Setelah tujuh tahun menjadi santri, aku berharap tidak perlu lagi menjalani kehidupan pondok.
Namun, kenyataan kembali membawaku pada kehidupan yang sama.
Jika dipikirkan, perjalanan hidupku terasa ironis. Aku tidak pernah ingin menjadi santri, tetapi menghabiskan tujuh tahun di pesantren. Aku ingin mempelajari Teknik Elektro, tetapi justru melanjutkan pendidikan di jurusan Ilmu Hadis. Aku ingin meninggalkan kehidupan pondok, tetapi setelah menjadi mahasiswa pun aku masih harus menjalaninya. Seolah-olah sejauh apa pun aku mencoba berjalan, kehidupan selalu membawaku kembali pada sesuatu yang dahulu ingin kuhindari. Namun, justru di bangku perkuliahan UIN Walisongo Semarang, cara pandangku perlahan mulai berubah. Aku bertemu dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang pendidikan. Dalam proses perkuliahan, aku mulai menyadari bahwa ilmu yang dahulu kupelajari dengan setengah hati ternyata memiliki manfaat yang tidak kecil. Ketika mempelajari Ilmu Hadis, aku tidak sepenuhnya memulai dari nol. Pengetahuan agama dan kebiasaan belajar yang terbentuk selama berada di pesantren ternyata menjadi bekal yang membantuku mengikuti perkuliahan. Interaksi dengan teman-teman dan dosen juga membuatku melihat pengalaman pesantren dari sudut pandang berbeda. Aku mulai menyadari bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan memperoleh dasar pendidikan agama seperti yang pernah kudapatkan.
Untuk pertama kalinya, aku mulai mempertanyakan kembali caraku memandang masa lalu. Selama tujuh tahun, aku hanya melihat pesantren sebagai tempat yang membatasi kebebasanku. Aku terlalu sibuk menunggu kapan semuanya berakhir, hingga hampir tidak pernah memikirkan apa yang sebenarnya telah kudapatkan. Namun, setelah memasuki dunia perkuliahan, aku mulai memahami bahwa pendidikan pesantren telah meninggalkan sesuatu dalam diriku. Bukan kerinduan. Sampai hari ini, aku tidak bisa mengatakan bahwa aku merindukan kehidupan pesantren. Aku juga tidak ingin berpura-pura bahwa tujuh tahun tersebut merupakan masa yang sepenuhnya menyenangkan. Tetapi aku mulai menghargai apa yang telah kudapatkan darinya. Aku juga mulai memahami alasan orang tuaku dahulu menginginkanku mendalami ilmu agama. Pada usia sebelas tahun, aku hanya melihat keputusan mereka sebagai sesuatu yang merampas kebebasanku. Kini, aku mulai mampu memahami harapan yang mereka titipkan melalui keputusan tersebut.
Bukan berarti kekecewaanku dahulu menjadi tidak berarti. Aku tetap percaya bahwa keinginan seorang anak untuk menentukan masa depannya perlu didengar. Namun, aku mulai belajar menerima bahwa pengalaman yang tidak kita inginkan pun dapat memberikan pelajaran berharga. Aku tetap boleh menyukai teknologi. Aku tetap boleh menyimpan keinginan untuk mempelajari Teknik Elektro. Aku juga boleh mengakui bahwa jurusan yang kutempuh sekarang bukanlah pilihan pertamaku. Namun, selama aku berada di sini, aku memiliki kesempatan untuk belajar dan bertumbuh.
Kini, ketika Hari Santri Nasional diperingati, aku memiliki cara pandang yang berbeda tentang makna menjadi santri. Bagiku, Hari Santri bukan hanya tentang mengenang perjuangan pesantren dan para santri dalam sejarah bangsa. Hari ini juga menjadi kesempatan untuk mengenang perjalanan pribadiku sebagai seseorang yang membutuhkan waktu begitu lama untuk menerima identitasnya sendiri. Aku mengingat seorang anak berusia sebelas tahun yang pernah membantah keputusan orang tuanya. Aku mengingat seorang remaja yang hampir setiap tahun meminta pindah sekolah. Aku juga mengingat seseorang yang begitu bahagia ketika akhirnya dapat meninggalkan pesantren. Namun, yang paling penting, aku mengingat bagaimana semua pengalaman itu perlahan membentuk diriku. Dahulu, aku menganggap identitas sebagai santri sebagai sesuatu yang dipaksakan kepadaku. Kini, aku mulai menerimanya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang tidak bisa kuhapus. Aku tidak harus berpura-pura bahwa sejak awal aku mencintai pesantren. Aku juga tidak harus mengubah masa laluku menjadi kisah yang sepenuhnya indah hanya agar terlihat pantas disebut sebagai seorang santri.
Sebab, menerima diri sendiri bukan berarti menyangkal kekecewaan yang pernah kita rasakan, melainkan berdamai dengan kenyataan bahwa semuanya telah menjadi bagian dari siapa diri kita hari ini.
Aku masih belum tahu apakah suatu hari nanti impianku mempelajari Teknik Elektro akan menemukan jalannya kembali. Mungkin ada kesempatan yang belum terlihat, mungkin pula kehidupanku akan terus bergerak ke arah yang berbeda. Namun, aku tidak ingin menganggap perjalanan ini sebagai kegagalan hanya karena tidak berjalan sesuai rencana.
Aku tidak pernah ingin menjadi santri. Selama tujuh tahun, aku bahkan tidak pernah benar-benar menerima diriku sebagai santri. Ketika penamatan tiba, aku merasa telah mendapatkan kebebasan yang selama ini kunantikan.
Namun, justru setelah menjadi mahasiswa di UIN Walisongo Semarang, aku mulai memahami bahwa menjadi santri bukanlah bagian dari diriku yang harus terus kutolak.
Barangkali, menjadi dewasa bukan selalu tentang mendapatkan kehidupan yang kita inginkan, melainkan tentang belajar menerima kehidupan yang telah kita jalani tanpa kehilangan keberanian untuk tetap bermimpi. Aku membutuhkan tujuh tahun untuk meninggalkan pesantren, tetapi justru setelah meninggalkannya, aku mulai belajar menerima identitas yang selama ini ingin kutinggalkan.
Aku tidak pernah memilih untuk menjadi santri. Tetapi hari ini, aku mulai memilih untuk berdamai dengan kenyataan bahwa aku adalah santri.
Selamat Hari Santri Nasional.
Dari seseorang yang dahulu menghitung hari untuk meninggalkan pesantren, tetapi baru memahami arti menjadi santri setelah duduk di bangku perkuliahan.
SEMARANG – Kominfo CSSMoRA UIN Walisongo menyelenggarakan kegiatan Main Session InfiniFriends Chapter 1 — Graphic Design pada Ahad, 4 Oktober 2026. Berlokasi di Gazebo Atas YPMI Al Firdaus, kegiatan ini diikuti oleh anggota InfiniFriends serta seluruh anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo.
Pelatihan ini bertujuan untuk mengasah kemampuan anggota dalam menggunakan perangkat lunak Adobe Photoshop untuk keperluan desain grafis. Rangkaian kegiatan diawali dengan pe
mbukaan, dilanjutkan dengan pemaparan materi serta praktik langsung.
Dipandu oleh Fatahul Irnanda, perwakilan InfiniBuddy dari Departemen Kominfinity, peserta diajak mengenal berbagai tools dasar, shortcut efisien pada Photoshop, hingga langsung mempraktikkannya dalam pembuatan karya desain.
Para peserta tampak sangat antusias mengikuti setiap sesi. Pengenalan dan pelatihan mendalam terkait Adobe Photoshop ini dinilai menjadi hal yang segar dan tergolong jarang diajarkan pada periode kepengurusan CSSMoRA sebelumnya.
“Kegiatannya seru banget, aku dapat ilmu baru dan akhirnya aku tahu sesusah apa Departemen Kominfo ngedit selama ini.” Aisyah, Anggota CSSMoRA UIN Walisongo
Melalui Main Session InfiniFriends Chapter 1 ini, diharapkan seluruh peserta yang antusias belajar desain grafis dapat terus mengasah keterampilan mereka secara konsisten dengan melatih dan mempraktikkan ilmu-ilmu yang telah didapatkan.
SEMARANG — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya persoalan api yang membakar kawasan hutan. Di balik kepulan asapnya, terdapat ancaman yang lebih luas terhadap lingkungan dan kualitas udara. Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam Ngopi CSSMoRA (Ngobrol Pintar) #1 yang digelar pada Sabtu (3/10/2026) di Gazebo YPMI Al-Firdaus.
Mengangkat tema “Di Balik Kabut Asap: Karhutla dan Ancaman Pencemaran Udara”, kegiatan ini menjadi ruang bagi anggota CSSMoRA UIN Walisongo Semarang untuk membicarakan persoalan lingkungan dari berbagai sudut pandang. Sebanyak 42 anggota aktif turut mengikuti kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB tersebut.
Diskusi menghadirkan M. Ridho Purnomo, S.T., fresh graduate Teknik Lingkungan, sebagai narasumber. Ia mengajak peserta memahami kebakaran hutan dan lahan tidak hanya sebagai peristiwa pembakaran, tetapi juga sebagai persoalan lingkungan yang dapat berdampak terhadap kualitas udara dan kehidupan masyarakat.
Penyampaian materi kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Sejumlah peserta turut menyampaikan pertanyaan dan pendapat terkait persoalan karhutla serta dampaknya. Suasana diskusi semakin berkembang ketika peserta dibagi menjadi dua kelompok untuk membahas pertanyaan yang telah diberikan oleh narasumber.
Masing-masing kelompok kemudian mempresentasikan hasil diskusinya. Kelompok lain diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan sehingga terjadi pertukaran gagasan antarpeserta. Meskipun materi yang disampaikan cukup saintis dan sempat membuat beberapa peserta mengalami kesulitan dalam memahami pembahasan, diskusi tetap berlangsung interaktif.
Bagi Khalifatus Saadah, anggota Departemen PSDM sekaligus penanggung jawab Ngopi 1, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga ruang untuk memperluas wawasan dan melihat isu yang sedang terjadi dari perspektif yang lebih beragam.
“Acara Ngopi merupakan salah satu kegiatan yang positif karena bisa menjadi wadah untuk menambah wawasan, bertukar pikiran, dan berdiskusi mengenai isu-isu yang sedang terjadi. Melalui topik yang kami angkat, kita bisa mendapatkan pengetahuan baru mengenai dampak karhutla terhadap lingkungan dan kualitas udara. Tentunya, dalam proses persiapannya masih ada beberapa kekurangan dan kendala, tetapi hal tersebut bisa menjadi bahan evaluasi agar kegiatan Ngopi selanjutnya dapat berjalan lebih baik,” ujar Khalifatus Saadah.
Sementara itu, Ziana Ayu selaku moderator Ngopi #1 menilai diskusi berjalan dalam suasana yang santai, tetapi tetap mampu mempertahankan pembahasan yang berbobot. Menurutnya, keterlibatan peserta menjadi salah satu hal yang membuat diskusi lebih hidup.
“Menurut saya, diskusi NGOPI kali ini berjalan baik. Suasananya santai dan cair, tetapi pembahasannya tetap berbobot. Para peserta aktif bertanya dan berani menyampaikan pendapat, sehingga tema karhutla dengan pendekatan triple bottom line terasa lebih hidup dan mudah dipahami. Begitu juga dengan pematerinya yang sangat antusias untuk menengahi dan membantu mengkritisi berbagai pendapat peserta,” ujar Ziana.
“Yang paling berkesan, semua pihak saling mendengarkan dan menghargai, sehingga banyak gagasan segar yang muncul dari diskusi ini,” lanjutnya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan closing statement dan sesi foto bersama. Meski berlangsung dalam waktu yang relatif singkat, Ngopi 1 meninggalkan ruang refleksi bagi peserta mengenai persoalan karhutla dan dampaknya terhadap lingkungan.
Melalui kegiatan ini, Ngopi CSSMoRA diharapkan tidak berhenti sebagai agenda untuk memenuhi program kerja. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bertukar pikiran, berbagi pengalaman, memperluas wawasan, serta membangun keberanian anggota untuk membicarakan berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
Ngopi CSSMoRA pun diharapkan dapat terus menjadi ruang diskusi yang menghadirkan pembahasan yang dekat dengan kehidupan, tetapi tetap kritis dan berbobot.
Tahukah kalian? kalau bicara soal sejarah Indonesia, peristiwa G30SPKI pada malam 30 September 1965 selalu berhasil bikin kita merinding sekaligus penasaran. Tragedi ini bukan sekadar bab kelam di buku pelajaran sekolah, melainkan titik balik besar yang mengubah arah perjalanan bangsa secara drastis. Bayangkan saja, di pertengahan dekade 1960-an, kondisi sosial dan politik Indonesia sedang sangat memanas di bawah sistem Demokrasi Terpimpin. Presiden Soekarno berusaha menyatukan berbagai kekuatan politik lewat doktrin Nasakom, tetapi persaingan di balik layar antara Partai Komunis Indonesia (PKI) dan pimpinan TNI Angkatan Darat justru makin tajam. Isu panas seputar usulan pembentukan Angkatan Kelima hingga rumor keberadaan Dewan Jenderal kian membakar kompor politik nasional hingga mencapai titik didih.
Puncaknya pecah pada dini hari 1 Oktober 1965, ketika sekelompok pasukan militer di bawah komando Letkol Untung mendatangi kediaman para perwira tinggi Angkatan Darat secara serentak. Dini hari itu berubah menjadi tragedi berdarah saat para perwira diculik dan dibunuh, meliputi Jenderal Ahmad Yani, R. Suprapto, M.T. Haryono, S. Parman, D.I. Pandjaitan, Sutoyo Siswomiharjo, serta seorang prajurit muda, Kapten Pierre Tendean. Jenderal A.H. Nasution memang berhasil meloloskan diri, tetapi putri kecilnya, Ade Irma Suryani, turut menjadi korban. Seluruh jenazah korban kemudian dimasukkan ke dalam sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, yang menjadi saksi bisu peristiwa kelam tersebut.
Kepanikan dan ketidakpastian politik dengan cepat diambil alih oleh Mayor Jenderal Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Panglima Kostrad. Dalam hitungan hari, obyek-obyek vital berhasil direbut kembali dan kendali keamanan nasional dipulihkan. Dampak politiknya bergerak cepat bagaikan efek domino: PKI secara resmi dibubarkan, terjadi pembersihan politik secara meluas, dan terbitnya Supersemar pada 11 Maret 1966 mengawali peralihan kekuasaan secara bertahap dari Presiden Soekarno ke Jenderal Soeharto. Peristiwa inilah yang memicu runtuhnya Orde Lama dan menandai lahirnya era Orde Baru yang berkuasa hingga lebih dari tiga dekade berikutnya.
Hingga hari ini, latar belakang peristiwa G30S masih menjadi topik hangat yang dikaji dari berbagai sudut pandang historiografi. Ada versi yang menempatkan kepemimpinan PKI sebagai dalang utama, ada yang melihatnya sebagai puncak konflik internal perwira Angkatan Darat, hingga spekulasi mengenai keterlibatan dinas intelijen asing di tengah sengitnya persaingan Perang Dingin. Bagi yang ingin menyelami sejarah ini secara komprehensif, beberapa rujukan penting yang sering menjadi acuan para sejarawan antara lain buku Sejarah Indonesia Modern 1200–2008 karya M.C. Ricklefs, penelitian Harold Crouch dalam The Army and Politics in Indonesia, analisis Benedict Anderson dan Ruth McVey dalam Cornell Paper, biografi Suharto: A Political Biography karya R.E. Elson, serta dokumen resmi penerbitan Sekretariat Negara RI (1994).
SEMARANG — Seluruh pengurus CSSMoRA Kabinet GRANADA mengadakan kegiatan upgrading pada Sabtu (19/9/2026). Sebagai upaya memperkuat pemahaman pengurus mengenai sistem kepengurusan GRANADA, kegiatan ini membahas berbagai aspek penting dalam pengelolaan organisasi.
Kegiatan yang berlokasi di YPMI Al-Firdaus tersebut diikuti oleh 29 pengurus CSSMoRA Kabinet GRANADA. Dalam kegiatan ini, para pengurus mengikuti rangkaian materi dan pembekalan yang disampaikan oleh sejumlah pemateri.
Materi pertama membahas mengenai kesekretariatan yang disampaikan oleh Nailul Muna selaku Sekretaris Umum Kabinet GRANADA. Materi tersebut membahas berbagai hal yang berkaitan dengan administrasi organisasi, seperti pembuatan surat, proposal kegiatan, notulensi rapat, dan berbagai kebutuhan administrasi lainnya.
Materi selanjutnya membahas mengenai kebendaharaan yang disampaikan oleh Faridhtul Khasanah selaku Bendahara Umum. Materi ini mencakup pembuatan Rencana Anggaran Biaya (RAB), pengajuan dana insidental, serta inventarisasi.
Materi ketiga mengenai kepanitiaan disampaikan oleh Muh. Ari Bahrul Alam selaku Ketua II. Dalam materi tersebut, ia membahas sistem pembentukan panitia serta pembuatan Lembar Pertanggungjawaban (LPJ) untuk seluruh program kerja yang menggunakan sistem kepanitiaan. LPJ menjadi bagian penting sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kegiatan yang telah diselenggarakan.
Materi kemudian ditutup oleh Dhimas Ricchie Pramono selaku Ketua III. Ia menyampaikan materi mengenai laporan bulanan sebagai bentuk evaluasi dan pertanggungjawaban terhadap program kerja yang tidak menggunakan sistem kepanitiaan. Dhimas menjelaskan bahwa setiap program kerja yang bersifat nonkepanitiaan tetap perlu memiliki laporan sebagai bentuk dokumentasi dan pertanggung jawaban kegiatan. Laporan bulanan tersebut akan dilaksanakan pada setiap akhir bulan dan mencakup perkembangan maupun pelaksanaan program kerja selama satu bulan.
Kegiatan upgrading ini juga mendapatkan respons positif dari para pengurus. Salah satunya oleh Dwi Okta Rahmadani selaku sekretaris menyampaikan bahwa materi-materi yang disampaikan sangat membantu dirinya dalam menjalankan tugas kepengurusan kedepannya.“Menurut saya pribadi sebagai sekretaris, ini sangat membantu mengenai surat-menyurat, kepanitiaan, dan kepemimpinan,” ujar Dwi Okta Rahmadani.
Hal serupa juga disampaikan oleh Ziana selaku delegasi dari Angkatan 2025.“Kesan saya selama mengikuti kegiatan upgrading ini, saya mendapatkan banyak pemahaman baru mengenai kepengurusan,” ujar Ziana Ayu.
Dengan adanya kegiatan upgrading ini, diharapkan para pengurus dapat menerapkan materi-materi yang telah disampaikan serta dapat menjalankan tugas dan program kerja Kabinet GRANADA secara lebih terarah, tertib, dan bertanggung jawab.
SEMARANG – Suasana keakraban dan semangat berorganisasi menyeruak di YPMI Al-Firdaus, Kota Semarang, selama dua hari beruntun pada Sabtu hingga Ahad (12–13/9/2026). Community of Santri Scholars Ministry of Religious Affairs (CSSMoRA) UIN Walisongo Semarang berkumpul untuk menggelar Musyawarah Kerja (Musker) tahunan. Perhelatan ini menjadi momentum krusial bagi pengurus dan anggota dalam merumuskan, mematangkan, serta menetapkan garis-garis besar program kerja yang akan menjadi kompas pergerakan organisasi selama satu periode ke depan.
Tak hanya dihadiri oleh anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo, kegiatan ini juga terasa istimewa dengan hadirnya delegasi perwakilan dari CSSMoRA Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS) dan CSSMoRA Universitas Negeri Semarang (UNNES). Kehadiran saudara seperjuangan antar-kampus ini menambah hangat atmosfer musyawarah, sekaligus memperkuat jalinan silaturahmi dan sinergi kolektif antar-instansi CSSMoRA di wilayah Semarang.
Rangkaian kegiatan diawali secara khidmat melalui prosesi pembukaan pada Sabtu pagi. Usai serangkaian pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars CSSMoRA, serta penyampaian sambutan-sambutan, dinamika organisasi mulai bergelora saat forum melangkah ke agenda Sidang Pleno 1.
Dalam ruang sidang yang penuh dialektika, para peserta dengan antusias membahas dan menguji rumusan agenda kegiatan serta Tata Tertib (Tatib) sidang. Diskusi hangat namun tetap beretika mewarnai proses pemilihan Presidium Sidang Tetap yang bertugas memandu jalannya persidangan, hingga akhirnya ditutup dengan penetapan urutan pemaparan program kerja bagi tiap-tiap departemen.
Memasuki Sidang Pleno 2, atmosfer persidangan menjadi kian hidup dan substansial. Satu per satu departemen maju ke hadapan forum untuk memaparkan rancangan program kerja unggulan yang telah dirancang. Berbagai gagasan inovatif, mulai dari penguatan kapasitas akademik, pemberdayaan sosial masyarakat, hingga optimalisasi media diuji secara kritis oleh para peserta. Pertanyaan, tanggapan, serta masukan konstruktif berseliweran di dalam ruang sidang, mencerminkan tingginya kepedulian para kader terhadap kemajuan organisasi.
Setelah melalui pembahasan maraton yang menyita energi dan pikiran, seluruh rangkaian sidang bermuara pada Sidang Paripurna. Diiringi ketukan palu presidium sidang yang mantap, forum secara resmi menetapkan dan mengesahkan seluruh rancangan program kerja dari tiap departemen menjadi ketetapan organisasi yang sah dan mengikat pada hari Ahad, 13 September 2026. Gemuruh tepuk tangan dan rasa lega memenuhi ruangan saat dokumen hasil musyawarah disahkan secara bersama.
Penutupan Musker 2026 di YPMI Al-Firdaus ini tak sekadar menjadi penanda berakhirnya proses persidangan, melainkan awal dari langkah nyata pergerakan CSSMoRA UIN Walisongo Semarang. Dengan program kerja yang kini telah disahkan, seluruh anggota berkomitmen untuk menjaga soliditas dan membawa nama baik mahasantri dalam berkontribusi nyata bagi kampus, masyarakat, dan bangsa.
SEMARANG – Menanggapi peristiwa bencana gempa di NTT dan dampak Karhutla terhadap hutan di Indonesia, Departemen P3M CSSMoRA UIN Walisongo kembali menggelar rangkaian aksi open donasi yang dimulai pada 16 September hingga 23 September 2026.
Open donasi yang bertajuk CSSMoRA Peduli ini menggalang dana melalui media sosial dengan penyebaran pamflet dan QRIS oleh anggota aktif maupun simpatisan sejak 16 September lalu. Pada puncaknya, para anggota kembali turun ke jalan. Aksi tersebut dilaksanakan di sekitar Bundaran Kalibanteng pada Ahad (20/9/2026).
Sebanyak 28 anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo berkumpul di Pondok YPMI Al-Firdaus untuk melanjutkan perjalanan menuju lampu merah Kalibanteng. Rombongan kemudian tiba di parkiran Museum Ronggowarsito dan membentuk kelompok yang masing-masing beranggotakan tujuh orang. Setiap kelompok tersebar di empat titik lampu merah Kalibanteng, yakni Jalan Siliwangi, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan MGR Sugiyopranoto, dan Jalan Walisongo.
NTT 2
NTT 2
NTT 1
NTT 4
Selain itu, Koordinator Departemen P3M Nur Ilhani menyampaikan beberapa pengarahan kepada para relawan aksi open donasi. Ia menekankan agar setiap relawan bersikap sopan dan santun, tidak memaksa, serta senantiasa tersenyum ketika menggalang dana.
Setiap kelompok membawa dua kotak donasi, poster open donasi, dan lembaran kode QRIS untuk memfasilitasi warga yang ingin berdonasi secara non-tunai. Gelaran aksi berlangsung dari pukul 14.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB dan mengumpulkan dana sebanyak Rp1.862.000, belum termasuk penggalangan dana yang terkumpul melalui QRIS.
“Jika digabungkan dengan yang terkumpul melalui pembayaran non-tunai, saat ini sudah berjumlah Rp2.500.000,” ujar Nur Ilhani ketika diwawancarai.
Uang yang terkumpul akan disalurkan kepada korban terdampak gempa di NTT bekerja sama dengan lembaga filantropi Islam Dompet Dhuafa. Sebagian dana juga akan digunakan untuk membantu restorasi hutan yang diinisiasi Ferry Irwandi melalui gerakan “Patungan untuk Hutan”.
“Uang tersebut insyaallah akan disalurkan pada tanggal 24 September 2026,” ujar Nur Ilhani.
Adapun respons masyarakat terhadap aksi para relawan cukup baik. Mulai dari pengendara roda empat hingga rombongan pengendara roda dua, banyak yang memberikan bantuan. Bahkan, tidak sedikit anak-anak kecil yang dibonceng orang tuanya turut menyodorkan lembaran uang.
Kegiatan seperti ini bukanlah hal yang baru bagi Departemen P3M CSSMoRA UIN Walisongo. Aksi galang dana menjadi salah satu bentuk kegiatan CSSMoRA Peduli dalam mengajak anggota untuk turut serta membantu masyarakat terdampak bencana.
“Aksi galang dana ini merupakan bentuk ikhtiar dari P3M lewat proker CSSMoRA Peduli. Jadi, tidak hanya menyuarakan lewat media online, tapi juga dibarengi dengan aksi turun ke jalan,” kata Nur Ilhani.