Judul: Rapijali 1 Mencari
Penulis: Dee Lestari
Tahun terbit: 2021
Jumlah halaman: 350
Dalam perjalanan Bandung-Kadungora, menuju rumah kawan bernama Apci, saya ditemani seorang kawan perjalanan yang menolak bicara. Ialah Rapijali. Saya temukan waktu main ke Gramedia Merdeka Bandung. Sudah lama agaknya nama judul novel ini bertengger dalam sejumlah pilihan cerita yang ingin saya nikmati, namun belum jua dengan sangat serius saya tanggapi itu keinginan hati. Sehingga pada tanggal 29 Desember di akhir tahun 2025, tepatnya di hari senin, saya mulai memasuki semesta cerita yang dibangun Dee.
Dalam beberapa traveling acap-kali saya di temani oleh kawan bisu bernama buku. Perjalanan dari Bandung ke Kadungora buat tandang ke rumah Apci, bermaksud transit untuk melanjutkan rekreasi di Gunung Sagara. Ketika istirahat di rumah Apci Tatkala kawa-kawan memiringkan hape, lalu ngumpat-ngumpat, lalu mengernyit dahi dan berstrategi, itulah saatnya saya menyesap kopi mix suguhan Apci, sembari melanjutkan Hanca cerita Rapijali, pun dengan TWS yang menempel di pintu telinga— sayup merdu terdengar Kind of Blue nya Miles davis.
Ialah musik. Dee menceritakan kisah seorang gadis desa bernama Ping. Ia tumbuh dan kembang bersama seorang Kakek yang merupakan pemusik Rock n roll. Hidup di desa Cijulang, daerah pesisir Batu karas, Pangandaran. Bagi Ping semua bunyian yang mengalunkan perasaan adalah musik, termasuk ketika ia bersila di atas batu karang di tepi pantai— memejamkan mata, lalu mendengar ombak menghentak, angin mendesir, burung-burung bercericit.
Ping tidak pernah mengenyam sekolah musik atau belajar musik secara formil, rumahnya adalah studio rekaman yang disulap Kakek sebab Kakeknya punya band bernama D’Brehoh. Alat musik yang cukup lengkap, menjadi ruang kreatifitas bagi Ping. Uniknya dan mengejutkannya dan baru terungkap waktu sudah agak larut kedalam ceritanya, Ping adalah salah seorang yang memiliki kemampuan perfect pitch yaitu kemampuan mengenali nada musik tertentu (Do, Re, Mi, dll) hanya dari mendengar suara, tanpa bantuan alat atau nada pembanding. Contohnya dengar klakson, pintu berderit, atau suara orang bicara langsung tahu: “oh ini nadanya F♯”. Diperkirakan hanya 1 dari 10.000 orang yang punya kemampuan ini, Lho! Lalu, bagaimanakah perfect pitch ini menghantarkan Ping menuju simpul pencariannya.
Kakeknya Bernama Yuda Alexander meskipun sudah usia senja, tapi keren dan ganteng (Rock n roll style) membikin ia terasa sangat bohemian. Ping punya sahabat Bernama Oding, sudah lengket Bersama semenjak bayi, sehingga orang menjuluki mereka Poding (Ping dan Oding). Oding seorang atlet professional surf. Ia sudah suntuk mengikuti berbagai macam event internasional surfing. Ping semenjak kecil tidak sempat mendapatkan tangan-tangan kasih-sayang Ibu Bapak. Hanya kasih sayang kakeknya yang tak terbilang sebagai satu-satunya penyangga sentuhan Pendidikan cintanya itu.
Pada suatu hari di Pangandaran itu mereka itu Ping dan Kakeknya memancing di Sungai Cijulang, bertepatan Ketika Tambak Barramundil jebol membikin ikannya pada kabur sehingga warga lokal berburu-buru menangkap ikan di aliran Sungai cijulang. Ketika mancing itu, mereka berbincang perihal yang jarang: Kelanjutan sekolah Ping. Kakeknya sudah tahu semenjak awal Ping amat terpikat dan ingin menekuni musik. Di sekolah, Ping terbilang menjadi siswi teladan yang namanya sering bertengger di urutan papan atas kejuaraan kelas. Pun beberapakali turut serta dalam berbagai olimpiade sains di luar sekolah, tapi itu karena tuntutan Pendidikan dan keadaannya yang notabene bukan orang mampu, ikut lomba mesti di paksa-paksa oleh ibu guru, namun musik adalah kegiatan yang tulus ia berikan; waktu, tenaga, dan perasaannya. Dalam percakapan itu, Ping akan sekolah musik di Jakarta. Namun, Ping enggan. Ia merasa tidak perlu jauh-jauh ke luar kota. Baginya desa Cijulang dan Batu karas sudah cukup memberikan segalanya. Kebahagiaan dan senyuman. Kasih-sayang dan keluarga.
Ping amat terguncang oleh suatu peristiwa yang tidak bisa dibeberkan di sini. Terlalu banyak spoiler. Sudah banyak yang saya ceritakan. Singkat cerita Ping tiba di Kota Jakarta. Demikian mungkin yang dapat saya sampaikan mengenai konteks latar belakang dan serpihan kecil kisah Ping. Lalu, Kenapa Ping mesti ke Kota Jakarta? Hubungan privat dan emosional Ping dan Oding, culture shock yang di alami Ping Ketika pindah dari tanah priangan yang kental nuansa kedaerahan ke Ibukota tempat budaya luar singgah dan menetap, serta peremajaan Ping sebagai seseorang yang menaruh minat pada suatu bidang, pada suatu hal, dan jatuh- bangun memeluk erat impiannya itu. Silakan sodara baca jika sedang senggang ya. Ceritanya ternyata lebih kompleks. Bukan hanya menyoal persoalan ABG (Anak Baru Gede).
Sejalan dengan judul pertama trilogi Rapijali 1: Mencari, saya sedang dalam proses peremajaan itu. Usia mau dua puluh, usia yang pas untuk meromantisasi hidup. Kerap mencoba melihat tempat baru, bertemu orang baru, dan menyimpulkan apa sebetulnya yang sedang saya cari dan rasakan. Dalam hal ini adakah gemuruh pencarian itu, Apakah betul-betul bermaksud dan bertujuan pada satu Alamat. Sejauh mana pengembaraan, sejalan dengan peristiwa yang tidak disangka-sangka, demikian novel adalah serpihan kecil kisah manusiawi dengan segala getir dan bahagianya. Hidup berkesinambungan untuk terus berjalan dan menerimanya dengan tulus – lapang dada. Dee adalah seniman yang baik yang berhasil melukis polemik dan dialektika sesosok gadis yang diliputi tragedi— disertai keteguhan sikap seseorang yang mengetahui kemana ia akan berjalan.
Bukan sekedar novel remaja, yang Nampak remeh-temeh, haha-hihi, dipenuhi kesenangan anak muda, Rapijali 1: Mencari merupakan fragmen kecil mengenai realitas kehidupan pemuda-pemudi kita yang mungkin kelimpungan menentukan pijakan. Mengenal beragam kesenangan melalui hobi, keinginan dalam menekuninya, dan derasnya arus informasi dizaman ini. Lalu skenario Nasib amat misteri, entah siapa yang menentukan, apakah kaki ringkih ini yang terus berusaha berjalan atau sebenarnya berjalan di tempat, atau jalan-jalan ghaib yang membawa kita menuju penyimpulan yang mantap. Bagaimanakah masa depan itu? Entahlah.
Gaya Bahasa yang dekat dan ramah. Seperti biasanya, Dee selalu mampu membikin pembaca hanyut ke dalam semesta cerita. Ringan dan mudah dipahami, melalui ragam kata— Dee menggambar warna-warni kehidupan sosial daerah pesisir Jawa barat, seolah mata mampu saksikan bagaimana kearifan lokal daerah pesisir yang akrab dengan gemuruh ombak itu— beradu-padu melalui bunyi pop culture yaitu musik di rumah Yuda aleksander sang vokalis D’Brehoh. Kemudian tingkah-laku seorang gadis desa yang tiba-tiba sekolah di tempat elit, di metropolitan Bernama Jakarta. Agak canggung karena perbedaan budaya dan suasana. Lalu, di sanalah: usia tanggung menggebu-gebu; kehidupan sosial remaja yang diburu; keinginan, mimpi, asmara, dan labil.
Sejauh ini adalah sikap apresiatif dan amat subjektif dari saya pribadi. Sebagai kekaguman melihat seniman sepandai Dee melukis situasi, suasana, perasaan, karakterisasi, realitas sosial dan kritik sosial yang subtil ia sampaikan. Namun, bukan tanpa celah. Demikian, sebagai penggemar yang jujur, saya mesti berterus-terang. Ada beberapa hal yang mengganjal. Bagian awal di Cijulang terasa begitu kaya — Dee melukis denyut kehidupan pesisir Pangandaran dengan sangat hidup, seolah kita bisa mencium asin angin laut dan mendengar gemuruh ombak Batu Karas itu sendiri.
Namun begitu Ping mengangkat koper dan tiba di Jakarta, cerita seolah kehilangan napasnya sejenak — tergesa, kurang diberi ruang untuk menyaksikan Jakarta dan hiruk-pikuk kota besar itu. Lalu ada Oding — sahabat yang sudah lengket semenjak bayi, yang dijuluki separuh nama oleh orang-orang sekitar. Oding terasa hanya hadir sebagai penanda, bukan sebagai manusia yang utuh dengan segala lapisan perasaannya yang kompleks. Dan barangkali itulah konsekuensi yang harus diterima dengan lapang dada ketika sebuah cerita dibagi menjadi tiga: ada yang sengaja digantung, ada yang belum tuntas, ada pertanyaan yang memang tidak akan dijawab di sini — melainkan di halaman-halaman berikutnya yang belum saya buka.
Bagi saya, ini adalah permulaan yang menarik buat menyelam lebih dalam tentang musik sebagai sarana penerjemah rasa. Dalam rasa, kata bisa bersuara. Dalam nada, lirik menyampaikan kita. Dalam cerita ini, musik adalah sarana Ping dan mungkin umumnya remaja mengenal dan mencari kedalaman dirinya. Sehingga menuju tahun baru 2026, tepatnya pukul 22.55 di hari Rabu, 31 Desember 2025 saya menyelesaikan Rapijali 1: Mencari. Di rumah Apci, di Kadungora. Saya tutup buku itu ditemani lagunya Nadin: Rayuan Perempuan Gila. Dengan perasaan yang lebih utuh, dan pengembaraan yang belum jua berlabuh. Akankah saya mampu menjalani kisah pencarian saya sendiri. Entahlah.
Bandung, 28 Januari 2026
![]()








