Happynest #1 Edisi Ngerujak, CSSMoRA UIN Walisongo Pererat Kebersamaan melalui Momen Santai

Semarang, 24 Oktober 2026 – CSSMoRA UIN Walisongo Semarang menggelar kegiatan Happynest #1 Edisi Ngerujak pada Sabtu (24/10/2026) pukul 15.00 WIB di Juras Kampus 3, UIN Walisongo Semarang. Kegiatan yang diikuti oleh 34 anggota aktif ini menjadi sarana refreshing sekaligus upaya mempererat hubungan dan rasa kekeluargaan antaranggota.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) ini berlangsung dalam suasana santai dan penuh keakraban. Acara diawali dengan berkumpulnya para anggota untuk berbincang sambil menikmati jajanan dan es teh yang telah disediakan panitia. Selanjutnya, panitia menyiapkan buah-buahan dan bumbu rujak untuk dinikmati bersama.

Setelah rujak siap, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil yang terdiri atas anggota dari berbagai angkatan. Setiap kelompok menikmati rujak bersama dalam satu nampan sambil berbagi cerita dan pengalaman. Pembagian kelompok lintas angkatan ini menjadi kesempatan bagi para anggota untuk saling mengenal lebih dekat tanpa sekat perbedaan angkatan.

Antusiasme peserta terlihat dari interaksi yang akrab, canda tawa, serta suasana hangat sepanjang kegiatan. Kesederhanaan acara justru menghadirkan pengalaman menyenangkan dan memperkuat ikatan kekeluargaan di lingkungan CSSMoRA UIN Walisongo Semarang.

Salah satu peserta, Lutfi dari angkatan 2026, mengungkapkan kesan positifnya terhadap kegiatan tersebut. “Acaranya seru banget, apalagi rujaknya josjis! Ketemu kakak-kakak CSSMoRA yang ramah dan baik, serta seru-seruan bareng. Pulang-pulang perut kenyang dan happy banget. Thank you buat panitia dan semua keluarga CSSMoRA yang udah bikin ngerujak jadi seberkesan ini! Gak sabar buat ikut Happynest lagi di next event!”

Melalui kegiatan Happynest #1 Edisi Ngerujak, diharapkan hubungan silaturahmi dan rasa kekeluargaan antaranggota CSSMoRA UIN Walisongo Semarang semakin erat. Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa kebersamaan dapat dibangun melalui hal-hal sederhana yang memberikan ruang bagi anggota untuk berinteraksi, berbagi cerita, dan menciptakan kenangan bersama.

Dengan terlaksananya kegiatan ini, Happynest diharapkan dapat terus menjadi wadah refreshing yang menyenangkan sekaligus memperkuat solidaritas dan menciptakan lingkungan organisasi yang hangat, harmonis, serta penuh rasa kekeluargaan.

Loading

Merayakan Kegagalan

Kalian tau gak? Tanggal 13 Oktober itu diperingati sebagai Hari Kegagalan Internasional (International Day for Failure). Hari itu ditemukan oleh sekelompok mahasiswa di Finland untuk menormalisasi kegagalan, mengubah mindset bahwa kegagalan bukanlah sesuatu yang harus ditutupi, melainkan bagian dari kehidupan yang juga perlu diterima, bahkan dirayakan.

Lucunya, setelah aku tau tentang Hari Kegagalan ini, aku malah excited nungguin Oktober untuk berburu perlombaan. Seolah nantangin, berharap semoga nasibku di bulan Oktober justru berbanding terbalik dengan hari peringatan itu. Siapa tau, Oktober malah menjadi bulan perayaan kemenangan untuk diriku sendiri.

Sayangnya, ternyata malah relate sama diriku.  Alih-alih merayakan kemenangan, aku kayaknya malah makin akrab sama kegagalan.

Entah kenapa, rasanya hampir semua yang kuusahakan tidak ada yang berbuah hasil seperti yang kuharapkan. Semua berantakan, banyak hal yang sudah kusanggupi ternyata tidak ada yang maksimal. Padahal, di bayangan otakku, aku bisa kokk handle semuanya. Nanti jam segini sampai segini aku ngerjain ini, terus ngerjain ini, lalu ini. Yahhh, itu hanya skenario otakku semua. Nyatanya?

Kalau dihitung-hitung dari segi waktu, kayaknya sempet aja dehh ngelakuin semuanya. Tapi aku lupa, otakku juga ada limitnyaa walaupun waktuku ada. Gak bisa dipaksain seharian full mengurus macam-macam hal yang bahkan satu sama lain gak ada sangkut pautnya, lalu berharap semuanya tetap berjalan maksimal.

Dan kegagalan ini juga berimbas ke ekspektasi orang-orang. Ketika mereka mengharapkan setinggi-tingginya ke kita, eh malah matahin ekspektasi mereka. Di hati ini pengen banget membayar “harga diri”, membuktikan kalau di next event akan memberikan yang terbaik. Eh, nyatanya gagal lagi.

Salahnya sihh, mungkin tanpa sadar niatku sudah mulai bergeser. Yang awalnya ikut lomba tujuannya untuk belajar dan mencari pengalaman, lama-kelamaan malah jadi ajang buat menuhin ekspektasi orang lain. Aku ingin buktiin bahwa kepercayaan mereka ke aku tidak salah, apalagi kepada orang-orang yang sudah begitu banyak support dan mendoakan.

Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, belum tentu mereka menuntut sebanyak itu. Bisa jadi aku sendiri yang terlalu sibuk membayangkan gimana kecewanya mereka ketika aku gagal.

Akhirnya, setiap ada kesempatan baru, aku bukan cuma membawa harapan untuk menang, tetapi juga beban dari kegagalan sebelumnya. Harus berhasil kali ini, harus bisa membuktikan sesuatu, harus bisa menebus kekalahan yang kemarin. Begitu terus sampai aku capek sendiri.

Jujur, capek cuiii.

Bukan capek ikut macem-macem lomba atau kegiatan, sampai sekarang aku masih senang kokk lakuinnya. Aku cuma capek sama perasaan yang datang setelah gagal. Merasa belum cukup berusaha, merasa seharusnya bisa lebih baik, dan merasa kembali mengecewakan orang-orang. Ternyata, aku sendiri yang paling sulit memaafkan kegagalanku.

Ada satu hal lagi yang cukup mengganggu pikiranku setiap kali gagal, yaitu tentang doa.

Aku rasa hampir setiap orang yang sedang memperjuangkan sesuatu pasti punya doa-doa yang diam-diam terus diulang. Begitu juga denganku. Sebelum perlombaan, saat persiapan, sampai menunggu pengumuman, selalu ada harapan yang kusampaikan kepada Allah. Aku juga minta doa orang tua, keluarga, guru-guru, teman-teman, dan siapa pun yang rasanya bisa kumintai doa.

Tapi nyatanya? Gagal lagi.

Kadang aku berpikir, kenapa yaaa, sudah berusaha, sudah berdoa, tapi hasilnya masih aja kayak gini?

Aku tau, kita diajarin untuk ikhtiar semaksimal mungkin, lalu tawakal kepada Allah. Aku juga tau bahwa tidak semua yang kita inginkan pasti itu yang terbaik untuk kita. Tapi ternyata, sebatas tau dan benar-benar menerima itu dua hal yang berbeda.

Ketika masih ada harapan, mudah bangett mengatakan kalau kita sudah menyerahkan semuanya kepada Allah. Tapi, ketika hasilnya tidak sesuai keinginan, baru terasa betapa sulitnya menerima sesuatu yang sebenarnya dari awal sudah kita serahkan kepada-Nya.

Sampai akhirnya aku mulai sadar bahwa mungkin ada yang perlu kuluruskan dari caraku memandang doa. Selama ini, tanpa kusadari, aku terlalu terpaku pada satu hasil yang kuminta. Seolah-olah setelah semua usaha dan doa itu, sudah semestinya aku mendapatkannya. Padahal, Allah tidak pernah menjanjikan bahwa setiap doa akan dijawab persis seperti skenario yang kita susun sendiri.

Aku jadi ingat QS. Al-Baqarah ayat 216:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Yappp, ayat yang sudah sering banget kudengar, kubaca, dan tau artinya. Tapi semakin ke sini, aku merasa ayat itu bukan cuma untuk dijadikan penghibur setelah kecewa. Dipikir-pikir, ada sesuatu yang jauh lebih sulit untuk dipraktikkan, yaitu mengakui bahwa pengetahuan kita tentang apa yang terbaik untuk diri sendiri memang sangat terbatas. Hanya Allah yang tau.

Aku bisa menganggap kemenangan sebagai hal terbaik karena sudah membayangkan kebahagiaan setelahnya. Sebaliknya, aku menganggap kegagalan sebagai sesuatu yang buruk karena hanya melihat bagian yang mengecewakan. Padahal, bisa jadi ada hal-hal yang belum mampu kulihat, atau hikmah yang belum mampu kupahami sekarang dari kegagalan itu.

Dari situ aku mulai belajar tentang husnuzan kepada Allah. Berprasangka baik bukan berarti harus selalu mencari-cari maksud atau alasan di balik setiap ketetapan-Nya. Kadang kita memang belum tau, tetapi ketidaktahuan itu seharusnya tidak membuat kita kehilangan kepercayaan kepada-Nya.

Karena, kalau aku hanya merasa Allah begitu baik ketika doaku terkabul sesuai keinginan, lalu bagaimana dengan doa-doa yang belum mendapatkan jawaban seperti yang kuharapkan?

Apa aku harus nunggu berhasil dulu untuk bisa bersyukur?

Di sisi lain, aku juga mulai memahami bahwa menerima takdir bukan berarti berhenti mengevaluasi diri. Ada muhasabah, melihat kembali apa yang sudah kita lakukan dan apa yang perlu diperbaiki. Yaaa, mungkin persiapanku memang belum maksimal, aku masih belum pandai manage waktu, atau aku terlalu banyak menyanggupi sesuatu. Itu semua perlu kuakui.

Kita bisa mengakui bahwa strategi kita keliru tanpa harus menganggap seluruh usaha sebelumnya sia-sia. Kita bisa gagal dalam suatu perlombaan tanpa harus merasa menjadi manusia yang gagal.

Sederhana yaaa kalau ditulis? Tapi untuk benar-benar meyakininya setelah berkali-kali kecewa, ternyata gak sesederhana itu.

Aku juga jadi mikir kembali makna sabar, ikhlas, syukur, qanaah, dan tawakal yang selama ini sering sekali kita dengar. Kadang mudah banget bilang ke orang lain, yang sabar yaaa, yang ikhlas, mungkin belum rezekinya. Aku sendiri juga sering bilang itu. Tapi ketika harus mengucapkan kalimat yang sama ke diri sendiri, ternyata rasanya beda.

Aku mulai paham bahwa sabar bukan berarti tidak boleh sedih, dan ikhlas bukan berarti harus langsung merasa baik-baik saja. Ada niat yang perlu diluruskan, ada harapan yang perlu ditata, dan ada hati yang perlu dilatih agar tidak terus-menerus menggantungkan kebahagiaan pada pencapaian. Begitu pula dengan qanaah, bukan berarti berhenti berusaha, tetapi belajar merasa cukup dengan apa yang Allah berikan tanpa kehilangan semangat untuk memperbaiki diri.

Dan tawakal? Mungkin justru di situlah ujian terbesarku. Aku bisa berusaha, aku bisa berdoa, tetapi apakah aku benar-benar bersedia menyerahkan hasilnya kepada Allah ketika hasil itu berbeda dari yang kuinginkan?

Aku rasa, selama ini aku terlalu sibuk belajar bagaimana caranya menang, sampai lupa belajar bagaimana caranya kalah tanpa kehilangan harapan.

Maka perlahan aku mulai mencoba berdamai.

Kembali lagi mengingat bahwa Allah tetap Maha Baik, bukan hanya ketika Dia memberiku apa yang kuminta, tetapi juga ketika Dia menetapkan sesuatu yang belum mampu kupahami.

Fyi, tulisan ini sebenarnya sudah kutulis sebelum pengumuman babak penyisihan OASE. Iya, sebelum pengumuman di tanggal 27 Oktober 2026. Aku bener-bener pesimis, bahkan sudah membayangkan kalau OASE ini akan jadi satu kegagalan lagi yang melengkapi cerita gagalnya Zahwa di Oktober ini. Rasanya pas banget kan? Nulis tentang merayakan kegagalan, lalu sepanjang Oktober benar-benar dihiasi dengan kegagalan demi kegagalan wkwk.

Tapi ternyata, Allah punya cerita lain.

Alhamdulillah, di tengah rasa pesimis itu, tim kami UIN Walisongo Semarang dinyatakan lolos ke babak 12 besar OASE dari 47 PTKI yang mengikuti babak penyisihan. Ya Allahhh, geterrr. Apalagi pencapaian ini sudah dinantikan kampus selama lima tahun terakhir.

Haha, hampir aja OASE ini kucatat di list kegagalanku, eh siapa sangka malah lolos. Tapi aku gak ingin menjadikan kelolosan ini sebagai alasan untuk baru bisa berdamai dengan kegagalan. Sebab, kalaupun hasilnya kemarin berbeda, semua yang sedang kupelajari tentang sabar, ikhlas, dan tawakal seharusnya tetap berlaku.

Tentu perjuangan kami belum selesai. Di babak berikutnya, kami akan berhadapan dengan sebelas regu lain dari berbagai PTKI yang pastinya juga punya persiapan dan ambisi besar untuk membawa pulang medali. Kalau mereka aja punya ambisi sebesar itu, masa kami enggak? Kami juga pengen menang dan membawa pulang kabar gembira untuk UIN Walisongo.

Karena itu, sekalian melalui tulisan ini, aku ingin meminta doa dari siapa pun yang membaca tulisanku ini. Mohon doakan kami bertiga agar Allah memudahkan segala persiapan dan perjuangan kami, memberikan ketenangan serta kelancaran ketika berlomba nanti. Doakan juga semoga kami bisa melangkah lebih jauh dan membawa pulang hasil yang membanggakan.

Kami akan tetap berusaha semaksimal mungkin, lalu bertawakal atas apa pun hasilnya. Semoga kalau berhasil, kami tidak lupa bersyukur. Dan kalau ternyata belum, semoga kami tetap bisa menerima ketetapan Allah dengan lapang dada.

Setelah semua yang terjadi, aku jadi memikirkan kembali Hari Kegagalan Internasional yang awalnya ingin kupatahkan dengan kemenangan.

Ternyata, Oktober memang memberiku cukup banyak kegagalan. Tetapi dari situ aku juga belajar bahwa tidak semua yang kita usahakan harus berakhir sesuai keinginan agar tetap punya arti. Ada kekurangan yang perlu diperbaiki, ekspektasi yang perlu dilepaskan, dan ketetapan Allah yang perlu diterima meskipun belum sepenuhnya kita pahami.

Aku belum bisa mengatakan bahwa sekarang aku sudah pandai menerima kegagalan. Mungkin nanti aku masih akan kecewa, nangis, atau kembali mempertanyakan kemampuanku sendiri. Tapi setidaknya, aku mulai belajar untuk tidak terlalu keras kepada diri sendiri.

Aku masih ingin mengikuti banyak perlombaan, masih ingin punya pencapaian yang membanggakan, dan masih ingin membuat orang-orang yang percaya kepadaku ikut bahagia. Aku masih punya ambisi, dan aku gak ingin kehilangan itu.

Hanya saja, sekarang aku ingin belajar agar ambisi tersebut tidak membuatku lupa bahwa nilai diriku tidak ditentukan oleh menang atau kalah.

Barangkali itulah arti merayakan kegagalan yang akhirnya mulai kupahami. Bukan karena kegagalan itu menyenangkan, bukan pula karena aku sudah menyerah mengejar kemenangan. Tetapi karena setelah berkali-kali gagal, aku akhirnya ingin berhenti memusuhi sesuatu yang memang menjadi bagian dari perjalanan hidup.

Aku masih ingin menang. Tapi aku tidak ingin lagi menunggu kemenangan untuk bisa berdamai dengan kegagalan.

Alhamdulillah untuk semua yang sudah terjadi sepanjang Oktober dan bahkan untuk bulan-bulan serta tahun-tahun sebelumnya, baik yang sesuai harapan maupun yang tidak. Dan bismillah untuk kesempatan yang masih Allah berikan.

Semoga setelah ini aku bisa terus belajar menjadi seseorang yang tidak hanya pandai berharap dan berusaha, tetapi juga semakin lapang dalam menerima apa pun yang Allah tetapkan.

Oleh: Zahwa Kamila

Loading

CORE 1: MENGENAL MAJALAH ZENITH DAN MEMPERSIAPKAN GENERASI BARU KRU ZENITH

image-slider-with-thumbnail1.jpeg
image-slider-with-thumbnail2.jpeg
image-slider-with-thumbnail3.jpeg
image-slider-with-thumbnail4.jpeg
image-slider-with-thumbnail5.jpeg
image-slider-with-thumbnail6.jpeg
image-slider-with-thumbnail7.jpeg
PlayPause
image-slider-with-thumbnail1.jpeg
image-slider-with-thumbnail2.jpeg
image-slider-with-thumbnail3.jpeg
image-slider-with-thumbnail4.jpeg
image-slider-with-thumbnail5.jpeg
image-slider-with-thumbnail6.jpeg
image-slider-with-thumbnail7.jpeg
previous arrow
next arrow

 

Semarang — Departemen Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan kegiatan CORE 1 pada Ahad, 25 Oktober 2026, bertempat di Gazebo Atas YPMI Al-Firdaus, Semarang. Kegiatan ini diikuti oleh anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo Semarang dari angkatan 2024 (Abisatya), 2025 (Askara), dan 2026 (Arvantara).

CORE 1 diselenggarakan sebagai wadah pengenalan Majalah Zenith sekaligus memberikan pemahaman mengenai proses penyusunannya, mulai dari perencanaan timeline hingga berbagai tips dan trik dalam menghasilkan karya jurnalistik. Kegiatan ini juga menjadi sarana sosialisasi perekrutan Kru Magang Media Zenith yang akan segera dibuka dengan kuota sebanyak 25 orang, yang sudah termasuk 7 anggota Departemen Jurnalistik.

Rangkaian kegiatan dimulai pukul 13.20 WIB dengan pembukaan yang dipandu oleh Dimas dan Rifat selaku pembawa acara. Acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars CSSMoRA yang dipandu oleh Salsa, pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Zainuri, serta sambutan dari Aldi selaku Kepala Departemen Jurnalistik dan Saja selaku Ketua Umum CSSMoRA UIN Walisongo Semarang. Rangkaian pembukaan kemudian diakhiri dengan pembacaan doa oleh Fahmi.

Memasuki sesi inti, kegiatan dipandu oleh Arifin selaku moderator dengan menghadirkan Nursodik, S.H.I., M.H., alumni CSSMoRA UIN Walisongo angkatan 2011 yang saat ini tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) di UIN Walisongo Semarang. Dalam sesi tersebut, narasumber memperkenalkan Majalah Zenith, membahas timeline penyusunan majalah, serta membagikan berbagai tips dalam proses penulisan dan pengelolaan media jurnalistik.

Untuk memperdalam pemahaman peserta, narasumber memberikan latihan berupa pencarian berita dari sumber yang kredibel dan analisis unsur 5W+1H. Dua peserta berkesempatan memaparkan hasil analisisnya, yaitu Zahwa dengan berita berjudul “Asap Karhutla RI Tersedot Topan Champi, Bisa Perparah Hujan?” dan Dhimas dengan berita “Keracunan MBG Tembus 43 Ribu Anak, Pemerintah Didesak Tetapkan Kejadian Luar Biasa”. Melalui latihan ini, peserta diajak memahami pentingnya ketepatan informasi dan kelengkapan unsur berita dalam penulisan jurnalistik.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Aisyah mengajukan pertanyaan mengenai keberpihakan dalam pemberitaan serta cara melakukan wawancara yang efektif terhadap narasumber. Sementara itu, Saja menanyakan perkembangan Media Zenith dari masa ke masa dan strategi pengelolaan timeline penyusunan majalah yang sebelumnya dilakukan dua kali dalam setahun atau setiap semester.

Antusiasme peserta terlihat melalui keterlibatan dalam latihan analisis berita dan sesi diskusi. Setelah sesi materi berakhir, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat kepada narasumber sebagai bentuk apresiasi atas ilmu dan pengalaman yang telah dibagikan.

oleh: Zahwa Kamila

Loading

Puisi

DITERPA HUJAN TANPA RUPA

Oleh: Zidan Ahmad Karim

Kabut tebal menyerang
Tak ada rupa, namun mampu membutakan
Menggelapkan sebagian dunia


Prihatin sekali
Hal ini terjadi di negeri tercinta yang kurang diayomi oleh kejujuran
Paras tua, muda, wanita, pria 
hampir tak terjamah netra


Matahari enggan menampakkan dirinya
Mungkin malu yang dirasa
Sebab, tebalnya asap menutupi sinarnya


Langkah kejujuran tak ada wujudnya 
karena habis dimakan ikan buntal
 berwajah tebal yang perutnya terisi oleh kebohongan


Bantuan yang seharusnya mendapat imbal pahala
 berbalik arah menuju perut neraka

Loading

Ketika “Ketawa Receh” Bikin Otak Lemot: Membongkar Fenomena Brainrot di Era Media Sosial

Niat awal cuma mau liat TikTok atau Reels 5 menit sebelum tidur biar pikiran agak rileks. Eh, pas ngeliat jam, tau-tau udah jam 2 pagi. Pas nonton emang ngakak banget liat video konyol tanpa alur, suara aneh yang diedit berlebihan, atau meme absurd yang mendadak lewat. Tapi pas bangun besoknya, badan kerasa capek, kepala berat, pikiran berkabut, gampang lupa, dan males banget pas harus fokus ngerjain tugas atau baca tulisan panjang.

Kondisi ini yang makin sering dinamain brainrot. Istilah ini bahkan resmi jadi Word of the Year 2024 versi Oxford karena penggunaannya melonjak drastis sampai 230%. Ini bukti nyata kalau kebiasaan makan “sampah digital” berdurasi pendek tiap hari beneran ngerusak daya pikir, fokus, dan kesehatan mental kamu secara perlahan.

Kenapa “Dopamin Murah” Bikin Otak Kecanduan?

Humor biasa yang punya alur cerita itu butuh proses mikir buat ngerti poin lucunya. Otak diajak mencerna konteks, memproses logika, baru ngelepas hormon bahagia alias dopamin secara bertahap.

Nah, video pendek humor absurd itu motong kompas proses berpikir tadi. Cuma dalam waktu 3–15 detik, otak kamu langsung dihantam kombinasi visual kencang, efek suara heboh, dan kejutan tanpa makna. Kamu ketawa refleks tanpa perlu mikir sama sekali.

Para ahli nyebut fenomena ini sebagai perburuan “dopamin murah”. Mirip kayak kebiasaan makan makanan cepat saji kaya gula tiap hari, otak yang terus-terusan diserbu dopamin instan bakal ngalamin penurunan sensitivitas. Akibatnya, ambang rangsang otak kamu makin tinggi. Aktivitas normal yang butuh proses dan kesabaran—kayak belajar, ngebaca buku, diskusi, atau ngerjain pekerjaan rumit—bakal berasa garing banget dan bikin kamu cepet gelisah atau bosan.

Ciri-Ciri Utama Kamu Udah Mulai Kena Brainrot

 

  1. Susah Fokus Tanpa Gangguan: Baru baca satu paragraf buku atau ngerjain tugas 5 menit, tangan udah refleks pengen ngeraih HP.
  2. Pikiran Berasa Berdebu: Sering merasa linglung, susah nyari kata-kata pas lagi ngobrol, atau gampang lupa hal-hal simpel yang baru aja kejadian.
  3. Nggak Sabaran saat Nonton Content: Nggak tahan nonton video berdurasi lebih dari 1 menit kalau kecepatan putarnya nggak diubah jadi 1.5x atau 2x.
  4. Dorongan Scroll Otomatis: Tangan sering scroll linimasa secara otomatis tanpa sadar apa yang sebenarnya lagi dicari.

Apa yang Terjadi Sama “CEO Otak” Kamu?

Otak manusia punya sifat neuroplastisitas, artinya struktur sarafnya bakal berubah ngikutin kebiasaan sehari-hari. Kalau tiap hari kamu latih otak buat pindah fokus tiap 10 detik sekali, kemampuan otak buat nahan fokus jangka panjang bakal mengikis habis.

Bagian otak yang paling menderita adalah Prefrontal Cortex. Bagian ini bertindak sebagai “CEO Otak” yang ngatur memori kerja, pengambilan keputusan, kendali emosi, dan pemikiran tingkat tinggi. Penelitian nunjukin kalau kebiasaan maraton video pendek secara berlebihan bisa nurunin kerapatan materi abu-abu di area ini. Begitu kinerja Prefrontal Cortex melorot, kamu bakal makin susah mengontrol impuls diri sendiri, gampang kepancing emosi, dan kemampuan analisis kamu merosot tajam.

Dampak Sosial: Saat Semua Hal Dianggep Cuma Becandaan

Efek brainrot nggak cuma ngerusak diri sendiri, tapi juga berdampak luas ke lingkungan sosial. Masyarakat mulai ngalamin tumpulnya daya kritis, di mana isu-isu krusial—kayak politik, krisis ekonomi, atau krisis lingkungan—cuma dianggap bahan lelucon dan dijadikan meme semata.

Ketika isu rumit dipangkas jadi potongan video pendek yang dangkal, empati dan pemahaman masyarakat ikut tergerus. Orang-orang jadi makin males nyari tahu fakta utuh, kurang toleran sama perbedaan pendapat, dan gampang banget termakan provokasi maupun berita bohong yang dikemas heboh.

Langkah Konkrit Ngatasin Brainrot Tanpa Hapus Medsos

  1. Ubah Layar HP Jadi Hitam-Putih: Matikan warna visual yang mencolok lewat pengaturan grayscale di gawai kamu. Tanpa warna-warni yang merangsang, otak bakal kerasa kurang tertarik buat scroll berjam-jam.
  2. Jalankan Puasa Dopamin Terjadwal: Bikin aturan tegas buat gak pegang HP 1 jam pertama setelah bangun tidur dan 2 jam sebelum tidur malam. Ini ngasih waktu buat reseptor dopamin melakukan pemulihan alami.
  3. Ciptakan Batas Fisik: Taruh charger atau HP di luar kamar atau di tempat yang susah dijangkau pas kamu lagi kerja atau mau tidur, biar nggak ada dorongan refleks buat ngeraihnya.
  4. Latih Ulang Atensi Secara Bertahap: Luangin waktu 20–30 menit sehari buat aktivitas beritme lambat tanpa gangguan layar sama sekali. Coba baca buku fisik, nulis jurnal, atau jalan kaki santai tanpa pake earphone.
  5. Kendalikan Algoritma Media Sosial: Aktif teken tombol “Tidak Tertarik” tiap kali lewat konten konyol yang nggak bermakna, dan mulailah ikuti akun-akun edukatif berdurasi panjang.

Sensasi tawa instan dari video pendek emang menghibur buat sesaat, tapi harganya terlalu mahal kalau harus dibayar pakai ketumpulan berpikir, hilangnya fokus, dan tumpulnya memori kamu. Merebut kembali kendali atas perhatian sendiri adalah kunci biar pikiran tetap tajam di tengah gempuran konten digital.

oleh : Dhimas Richie Pramono

Loading

Makan Sambil Scroll HP Bikin Otak “Lemot”? Ini Penjelasan Ilmiahnya!

Pernah nggak sih kamu ngerasa otak mendadak lemot, susah fokus, atau rasanya loading-nya lama banget. Habis makan siang sambil asyik scroll TikTok, Reels, atau balesin chat? Banyak yang mikir ini cuma rasa kantuk biasa habis makan atau sekadar mitos. Padahal secara sains dan medis, fenomena otak jadi “lemot” gara-gara makan sambil main HP itu beneran nyata dan ada penjelasan ilmiahnya!

Pertama, kita perlu tahu kalau otak manusia itu sebenarnya nggak bisa yang namanya multitasking sejati, apalagi untuk dua hal yang sama-sama butuh perhatian visual dan informasi. Waktu kamu menyuap makanan sambil menatap layar HP, otak kamu sebenarnya dipaksa buat lompat-lompat fokus (task switching) dalam hitungan milidetik. Pindah dari visual di layar, ke gerakan tangan, terus ke rasa makanan di mulut. Proses bongkar-pasang fokus yang super cepat ini bikin bagian depan otak kita, yang bertugas buat mikir dan fokus, bekerja ekstra keras dan kehabisan “bensin” (glukosa dan energi) dalam waktu singkat. Hasilnya? Otak jadi kelelahan kognitif dan rasanya kayak ada “sisa-sisa” konten HP yang masih nyangkut di pikiran, bikin otak jadi berat diajak mikir jernih.

Kedua, kebiasaan ini bikin sistem pencernaan dan otak kamu jadi nggak kompak lewat jalur yang namanya gut-brain axis. Asal kamu tahu, proses mencerna makanan yang bener itu justru dimulai dari otak, bukan dari lambung! Waktu kita ngeliat wujud makanan dan mencium aromanya secara sadar, otak bakal ngirim sinyal ke perut buat siap-siap ngeluarin asam lambung dan enzim pencernaan. Tapi kalau mata dan pikiran kita malah “nempel” ke layar HP, sinyal persiapan ini bakal terganggu. Lambung akhirnya dipaksa ngolah makanan dalam kondisi kaget dan belum siap. Efeknya, makanan tak tercerna dengan sempurna, perut gampang kembung, dan penyerapan nutrisi jadi nggak maksimal.

Enggak cuma itu, gara-gara keasyikan main HP, kita sering banget terjebak mindless eating, makan terlalu cepat, kurang mengunyah, atau makan porsi kebanyakan tanpa sadar karena otak nggak sempat memproses sinyal kenyang. Makan terlalu banyak secara mendadak ini bikin kadar gula darah melonjak drastis. Tubuh yang kaget bakal langsung menyemburkan hormon insulin dalam jumlah besar buat nurunin gula darah itu. Nah, efek dominonya adalah penurunan gula darah secara mendadak yang ekstrem (reactive hypoglycemia). Pas gula darah anjlok inilah otak kita mendadak kehilangan bahan bakar utamanya, yang akhirnya bikin kita ngantuk parah, linglung, dan otak terasa “lemot” banget (brain fog).

Dari sudut pandang hormon otak, kebiasaan ini juga bikin sistem dopamin (hormon kesenangan) kita jadi kacau. Makanan enak itu udah pasti ngasih kita dorongan dopamin alami. Kalau digabung sama konten HP yang penuh kejutan dan notifikasi, otak kita bakal dapet “suntikan” dopamin ganda sekaligus (double dopamine hit). Kalau kebiasaan ini diulang terus tiap hari, otak bakal bikin benteng pertahanan dengan nurunin sensitivitas reseptor dopaminnya. Dampaknya? Ambang batas kesenangan otak kamu jadi tinggi banget. Efek lanjutannya bikin kamu gampang bosan, susah fokus mendalam, dan merasa tugas-tugas yang butuh pemikiran tenang (kayak belajar, baca buku, atau ngerjain laporan) jadi kerasa berat banget dan bikin gampang gelisah.

Jadi, rasa lemot habis makan sambil main HP itu bukan tanda kalau otak kamu rusak permanen, melainkan sinyal kalau otak kamu lagi “overheat” dan kecapekan berat. Untungnya, kondisi ini bisa dibenerin kok. Caranya sederhana: coba jadiin meja makan sebagai area bebas HP. Nikmatin makanan kamu secara sadar (mindful eating), cium aromanya, rasain teksturnya, dan kunyah pelan-pelan. Dengan ngembaliin kebiasaan makan tanpa gangguan layar, kamu enggak cuma bikin pencernaan jadi lebih sehat, tapi juga bikin otak kamu tetep jernih, tajam, dan siap mikir cepat lagi sepanjang hari!

oleh: Dhimas Richie Pramono

Loading

MOKRAB CSSMoRA 2026: “BUILD THE BOND, CREATE THE MEMORIES”

mokrab 5
mokrab 3
mokrab
mokrab 4
previous arrow
next arrow

 

Kendal — CSSMoRA UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan kegiatan Momen Keakraban (Mokrab) 2026 dengan mengusung tema “Build the Bond, Create the Memories” pada Sabtu–Ahad, 17–18 Oktober 2026, bertempat di Kampoeng Djowo Sekatul, Kendal, Jawa Tengah. Kegiatan ini diikuti oleh anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo Semarang dari angkatan 2023 (Adyara), 2024 (Abisatya), 2025 (Askara), dan 2026 (Arvantara).

Mokrab diselenggarakan sebagai ruang untuk mempererat silaturahmi, membangun keakraban lintas angkatan, serta menghadirkan kembali suasana kebersamaan di tengah keluarga besar CSSMoRA. Melalui kegiatan ini, para anggota diharapkan dapat saling mengenal lebih dekat, memperkuat komunikasi, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap organisasi.

Rangkaian kegiatan diawali dengan keberangkatan peserta menuju lokasi, dilanjutkan dengan registrasi dan pembukaan. Peserta kemudian mengikuti sesi Share to Care sebagai ruang perkenalan dan berbagi cerita. Suasana kebersamaan semakin terasa pada malam hari melalui pemutaran video perkenalan dan parodi angkatan, pentas seni, serta kegiatan api unggun dan barbeque (BBQ). Momen tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk berbagi pengalaman dan menciptakan kenangan bersama.

Pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan senam pagi, fun games, dan aktivitas smoke bomb. Setelah itu, peserta bersama-sama melaksanakan bersih-bersih, tukar kado, penyampaian pesan dan kesan, hingga penutupan. Beragam kegiatan tersebut dirancang untuk menghadirkan suasana yang santai, menyenangkan, sekaligus memperkuat interaksi antaranggota.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang rangkaian acara, mulai dari sesi perkenalan dan berbagi cerita hingga pentas seni, api unggun, dan fun games. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi anggota dari berbagai angkatan untuk membangun komunikasi dan mempererat hubungan dalam suasana yang hangat.

Fiki, anggota CSSMoRA angkatan 2026, menyampaikan rasa terima kasih kepada panitia yang telah mendampingi anggota sejak sebelum mereka resmi bergabung dengan CSSMoRA. “Senang banget rasanya bisa kenal sama kalian semua. Pesan buat kita semua, yuk tetap semangat dan terus berproses, karena perjalanan kita masih panjang banget!” tuturnya.

Sementara itu, Zuhrul selaku ketua pelaksana Mokrab CSSMoRA 2026 menilai kegiatan berjalan menyenangkan dan seru berkat antusiasme peserta. Menurutnya, semangat peserta membuat rangkaian acara terasa hidup dan berkesan, meskipun masih terdapat beberapa kekurangan dalam pelaksanaan rundown.

Melalui Mokrab 2026, CSSMoRA UIN Walisongo Semarang berharap silaturahmi dan rasa kekeluargaan antaranggota semakin erat. Kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkuat solidaritas, meningkatkan kepedulian, serta menciptakan lingkungan organisasi yang harmonis dan kompak. Semangat “Build the Bond, Create the Memories” diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan berakhir, tetapi terus tumbuh dalam perjalanan bersama di CSSMoRA.

Loading

Ketika AI Menjawab Segalanya, Masihkah Santri Membutuhkan Proses Berpikir?

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI adalah sebuah teknologi yang sangat membantu siapapun yang membutuhkannya. Karna AI juga semua pekerjaan lebih ringan dan singkat. Kini, berbagai informasi dapat diakses dengan mudah dan cepat, tanpa harus menghabiskan waktu membaca buku. Bagi kalangan santri AI ini sangat bermanfaat, karena memudahkan pekerjaan, seperti mengakses materi-materi yang di perlukan, dan mencari kebenaran suatu informasi. Namun, ditengah kemudahan yang ditawarkan AI, patut di renungkan, bahwa dahulu santri untuk memahami suatu materi, atau mencari informasi, santri membaca buku, kitab, bahkan berdiskusi. Apakah adanya AI ini membantu atau justru memanjakan santri dalam berfikir, bahkan dapat mengurangi kemandirian mereka?

Perkembangan AI saat ini semakin pesat, banyak AI yang dapat digunakan oleh kalangan santri atau Masyarakat umum. Sebut saja ChatGPT, Claude, Gemini, Khan Academy, ScribeSense, dan lainnya. Saat ini penggunaan AI sangat tidak bisa dihindari, dengan meningkatnya kebutuhan akan informasi praktis. Kemudahan yang ditawarkan membuat sebagian orang ketergantungan kepada AI. Ketika seseorang terlalu bergantung pada jawaban tanpa memahami, mencari kebenaran akan informasi yang diberikan, maka berkurangnya kemandirian berfikir. Kebiasaan buruk ini juga berpotensi menumbuhkan sikap buruk lainnya, seperti malas dalam mencari pengetahuan. Jika terus dibiarkan, ketergantungan pada AI akan mengubah cara berfikir, melemahnya kemampuan komunikasi dan menganalisis. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi santri. Oleh karena itu, setiap jawaban AI perlu di periksa kembali kebenarannya, agar santri tetap kritis, memiliki kemampuan berfikir, dan dapat mempertanggungjawabkan ilmu tersebut.

Kondisi ini menjadi kekhawatiran, melihat adanya perubahan yg signifikan terhadap santri. Yang mana seharusnya berdiskusi, membaca, dan memahami kini hanya sebatas mengakses informasi dengan praktis dan cepat. Sebut saja tugas kuliah yang mana menjelaskan suatu kandungan ayat Al-Qur’an, santri langsung meminta AI memberikan penjelasan. Jika jawaban tersebut langsung di terima mentah-mentah, tanpa adanya mencari kebenaran informasi tersebut kepada guru, membaca buku, atau syarah. Maka berisiko hanya mengetahui hasil akhir, tanpa memahami proses penalaran. Akibatnya, santri kesulitan menjelaskan ulang dengan bahasa sendiri. Hal ini menjadi bukti, bahwa kemudahan yang diberikan teknologi AI perlu diimbangi dengan memeriksa kembali, berdiskusi, dan memahami ilmu secara mandiri. Oleh karena itu, setiap santri harus memiliki sikap bijak dalam memanfaatkan AI. Teknologi tidak dapat dihindari namun kita sebagai santri kita harus cakap dalam menggunakannya. AI sudah seharusnya menjadi alat bantu, tapi tidak menggantikan proses berfikir. Dengan tetap membaca buku, mencari kebenaran informasi, dan berdiskusi dengan guru, santri dapat memanfaatkan kemajuan teknologi tanpa kehilangan kemandirian belajar.

Pada akhirnya, kemajuan santri di era digital bukan hanya diukur dari seberapa cepat memperoleh jawaban, namun tentang bagaimana memahami, mencari kebenaran, dan mempertanggungjawabkan ilmu yang diperoleh. Santri boleh terbantu oleh AI, namun proses berfikir, membaca buku, berdiskusi dengan guru, tetap menjadi bagian penting dalam menuntut ilmu di era digital sekarang. Sebab, santri tidak hanya dituntut untuk menjadi generasi yang mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga generasi yang kritis, bijak, berilmu, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Teknologi boleh semakin canggih, tetapi kemandirian berpikir harus tetap terjaga. Maka sebaiknya  menggunakan AI sebijak-bijaknya.

 

by.okta

Loading

Menjadi Santri: Apakah Rutinitas atau Identitas?

Menilik kehidupan pesantren melalui Atomic Habbit – James Clear

Berangkat dari sebuah pertanyaan mendasar, apa itu santri? Lalu mereka-reka jawaban dalam benak saya bahwa santri adalah pribadi yang harus terus mencari. Dalam hal ini, mencari pemahaman tentang ilmu agama.

Sedangkan menurut KBBI, santri adalah: 1. orang yg mendalami agama Islam; 2. orang yg beribadat dng sungguh-sungguh; orang yg saleh; pe·san·tri·an n pesantren.

Ada lagi pendapat para ahli yang memberikan definisi. Suharto (2011) menjelaskan kata santri asal mulanya merupakan bahasa India, yaitu shastri, yang berarti orang-orang yang paham tentang buku-buku suci tentang agama Hindu atau seorang sarjana yang dikatakan ahli dalam kitab Hindu.

Dan masih banyak lagi definisi, namun berangkat dari yang semula maka timbul pula perenungan bahwa pada nyatanya menuntut diri untuk paham itu jelas bukan perkara mudah dan menanamkan niat buat memahami jelas bukan hal yang sepele.

Beragam dera dan tantangan menghujam diri seorang santri, entah yang berasal dari luar maupun dari dalam. Ada rasa malas yang menjadi musuh utama dalam setiap kegiatan, ada jenuh yang menemani setiap rutinitas, ada rasa kantuk yang menyerang sewaktu pengajian, atau mumet dan kesal pada diri sendiri berhadapan dengan kitab yang tak kunjung dipahami (based on reality), bahkan barangkali pertanyaan yang terbesit menjadi hasutan keraguan: untuk apa sebenarnya segala hal itu dijalani.

Bagaimana pribadi dapat setia dalam pencariannya? Bagaimana caranya santri menetapkan rasa ingin tahu, seolah semuanya begitu gamblang, namun pada nyatanya jauh dan seolah tak terhingga?

Dalam pergumulan ini, saya teringat pada buku self improvement yang digandrungi muda-mudi akhir-akhir ini, yang penampakannya masih setia mengisi rak-rak terdepan Gramedia: Atomic Habbits karangan James Clear. Buku yang menyoal perilaku.

Clear meninjau bahwa tujuan dapat dicapai melalui langkah-langkah kecil yang dibiasakan. Percaya pada proses. Yakin pada ritme yang senantiasa diberlanjutkan.

Gagasannya menarik untuk dibawa ke lingkungan pesantren, tempat pengulangan bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan juga bagian dari struktur kehidupan bersama yang harus ditaati.

Dalam pembentukan identitasnya (menyoal identitas kental sekali dipaparkan pada bab awal buku Atomic Habbit), santri seharusnya sudah mafhum bahwa di jidatnya terdapat stempel abadi yang menyatakan dirinya santri, terbukti dengan dirinya tinggal di pondok pesantren, mempunyai seorang advisor yang membimbing perjalanan pahamnya, mencecap ajaran ruhani dari sang kyai, lalu tampilannya pun semakin menguatkan identitasnya, mulai dari cara berpakaiannya, bangga dengan sarungan dan peci yang tersandang di kepala, bukan hanya untuk menahan rambut menyentuh dahi sewaktu solat, lebih dari itu sebagai lambang siapa dirinya.

Timbul pula penasaran: benarkah identitas yang diyakininya sejalan dengan tindak-tanduknya itu? Benarkah kita memilih identitas sebagai santri?

Menurut buku Atomic Habbit, identitas berasal dari kebiasaan Anda. Anda tidak dilahirkan dengan keyakinan bawaan. Setiap keyakinan, termasuk tentang diri sendiri, dipelajari dan dikondisikan melalui pengalaman. Kebiasaan Anda tergantung pada bagaimana Anda mewujudkan identitas Anda.

Ketika merapikan tempat tidur setiap hari, Anda mewujudkan identitas orang yang terorganisasi. Ketika menulis tiap hari, Anda mewujudkan identitas orang yang atletis. Makin sering Anda mengulang suatu perilaku, makin sering Anda memperkuat identitas yang terkait dengan perilaku itu.

Dalam kenyataan, kata identitas awalnya diturunkan dari kata Latin essentitas yang berarti ada, dan identidem, yang berarti berulang. Jadi, identitas Anda secara harfiah adalah “ada yang diulang”. Ceramah James Clear dalam buku.

Bahwa diriku adalah apa yang aku lakukan, bukan apa yang aku katakan, itu mungkin sedangkal yang bisa saya tangkap. Maka sejalan dengan kehidupan pondok pesantren, sependek waktu saya mencicipi hidup di pondok, kehidupan pesantren itu dibangun oleh rangkaian kegiatan yang terus diulang.

Jadwal kehidupan dari sebermula terjaga sampai tidur kembali sudah ada. Pengajian pada waktu yang telah ditetapkan, salat berjamaah, pengajian kitab, mengulang hafalan, dan menaati beragam tata tertib yang berlaku. Semua itu menjadi bagian yang melekat dari laku keseharian santri, perlahan-lahan membentuk pola hidup yang diharapkan.

Santri tidak bisa menunggu keinginannya sendiri untuk berangkat mengaji, ada Asatidz atau bagian keamanan yang setia mengarahkan santri ke tempat pengajian. Ada jadwal yang mesti diikuti, dan tata tertib yang mengatur semua kegiatan sehari-harinya.

Lingkungan menyediakan semacam sistem yang memungkinkan kegiatan tertentu terus berlangsung. Dalam pengertian ini, rutinitas pesantren dapat dibaca sebagai ruang pembentukan kebiasaan.

Akan tetapi, apakah pengulangan dengan sendirinya menjadikan seseorang menghayati apa yang dilakukannya? Menjawab pertanyaan sebelumnya di atas, tidak semua memiliki keputusan nan berdaulat untuk menentukan sikapnya.

Boleh jadi si A datang ke pondok awalnya karena paksaan orangtua, sedangkan si B memang bermaksud ke pondok pesantren untuk menimba ilmu. Bayangkanlah si A dan si B telah mondok bersama, lalu pada suatu pengajian mereka duduk di hadapan guru yang sama, mendengarkan kitab yang sama, dan menjalani jadwal pengajian yang sama.

Santri pertama hadir karena takut mendapatkan hukuman apabila terlambat atau tidak mengikuti pengajian. Santri kedua hadir karena merasa bahwa pengajian merupakan bagian dari pencarian ilmu yang ingin ia jalani.

Dari luar, keduanya mungkin tampak serupa. Mereka sama-sama duduk, menyimak, membuka kitab, dan hadir di pengjian hingga selesai. Namun, apakah pengalaman keduanya juga serupa?

Hal ini membawa kita pada salah satu gagasan penting dalam Atomic Habits, yakni pembentukan kebiasaan yang berangkat dari identitas seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. Perubahan tidak hanya berkaitan dengan hasil yang ingin dicapai atau kegiatan yang dilakukan, tetapi juga dengan gambaran tentang diri yang hendak diwujudkan.

Dalam kehidupan santri, kita dapat mengajukan pertanyaan: apakah seseorang sekadar menjalankan kegiatan yang diwajibkan kepada seorang santri, atau perlahan-lahan mulai memahami dirinya sebagai seorang pencari ilmu?

Bertepatan dengan momentum Hari Santri Nasional ini, meminjam istilah Freud, superego saya mengajukan refleksi: sejauh mana engkau tercerabut dari akar pencarianmu?

Lalu saya merasa malu, seperti laku kocar-kacir beridentitas entah. Entah santri, entah siapa, yang pasti saya bagian dari yang merayakan hari ini, bahwa keberlanjutan nilai-nilai di pondok itu semoga melekat senantiasa bahkan setelah tidak tinggal di sana, di pondok, tapi melekat di hati, di perbuatan, di jidat.

Mudah-mudahan. Aamiin.

 

Semarang, 16 Oktober 2026.

Ditulis oleh: Arifin Fatturrohman

 

Loading

Aku Tidak Pernah Ingin Menjadi Santri

Ada satu hal yang sampai hari ini masih membuatku berpikir “Mengapa terkadang kita harus menghabiskan waktu begitu lama untuk menjalani kehidupan yang tidak pernah kita inginkan?”

Aku pernah menghabiskan tujuh tahun hidupku hanya untuk menunggu satu hari, hari ketika aku tidak perlu lagi menjadi santri. Mungkin kalimat itu terdengar aneh, terlebih jika ditulis untuk memperingati Hari Santri Nasional. Ketika banyak orang mengenang kehidupan pesantren dengan penuh kebanggaan dan kerinduan, aku justru memiliki cerita yang berbeda. Bagiku, pesantren pernah menjadi tempat yang paling ingin kutinggalkan.

Semuanya bermula ketika usiaku baru sebelas tahun. Saat itu, orang tuaku memutuskan bahwa aku harus melanjutkan pendidikan di pesantren. Mereka ingin aku mendalami ilmu agama, sementara aku sendiri tidak pernah memiliki keinginan untuk menjadi santri. Aku membantah keputusan tersebut. Aku ingin bersekolah seperti teman-temanku, memiliki kebebasan, dan mempelajari hal-hal yang benar-benar kusukai.

Namun, keinginanku tidak mengubah keputusan mereka. Pada akhirnya, aku tetap mondok. Hari-hari di pesantren tidak selalu mudah. Ada aturan yang harus ditaati, kegiatan yang telah dijadwalkan, dan pelajaran agama yang sebenarnya tidak terlalu kusukai. Sementara itu, aku sering merasa iri melihat teman-temanku di luar pesantren yang tampak lebih bebas menjalani masa remajanya. Hampir setiap tahun aku meminta kepada orang tuaku agar diizinkan pindah sekolah. Namun, permintaan itu tidak pernah terwujud. Bukan berarti kehidupanku di pesantren sepenuhnya buruk. Aku memiliki teman-teman yang akrab dan banyak pengalaman bersama mereka. Akan tetapi, kedekatan dengan teman-teman tidak membuatku mampu menerima kehidupan sebagai santri. Aku tetap merasa bahwa pesantren bukanlah tempat yang kupilih untuk diriku sendiri. Aku menjalani hari-hari dengan satu keyakinan sederhana, semua ini pasti akan berakhir.

Selama tujuh tahun, aku tidak pernah benar-benar belajar mencintai kehidupan pesantren. Aku hanya belajar bertahan sambil menunggu hari ketika aku bisa meninggalkannya.

Di tengah kehidupan itu, aku menyimpan sebuah impian. Aku ingin melanjutkan pendidikan di Universitas Sumatera Utara (USU), tepatnya di jurusan Teknik Elektro. Sejak lama aku menyukai dunia teknologi dan ingin mempelajarinya lebih dalam. Bagiku, Teknik Elektro bukan sekadar jurusan. Ia menjadi simbol kebebasan untuk menentukan masa depan melalui pilihanku sendiri. Setelah bertahun-tahun menjalani pendidikan yang dipilihkan orang tua, aku berharap setidaknya dapat menentukan sendiri arah pendidikan tinggiku.

Namun, kenyataan kembali berkata lain. Orang tuaku memberitahukan bahwa kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk membiayai kuliah. Mereka menyarankanku untuk merantau saja. Aku bahkan belum sempat mendaftarkan diri ke USU. Sebelum perjuangan itu benar-benar dimulai, aku sudah harus menerima bahwa impianku belum dapat diwujudkan. Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika harus merelakan sesuatu bukan karena kita tidak mampu memperjuangkannya, melainkan karena keadaan tidak memberikan kesempatan. Sementara itu, pendidikan di pesantren belum sepenuhnya selesai. Sebelum penamatan, kami diwajibkan menjalani masa pengabdian. Masa tersebut sekaligus menjadi gap year bagiku.

Ketika teman-temanku mulai memasuki dunia perkuliahan, mengenakan almamater, dan menjalani kehidupan baru, aku masih berada di lingkungan pesantren. Sesekali aku bertanya kepada diriku sendiri, “Seharusnya aku juga sudah berada di sana, bukan?” Namun, aku tetap menjalankan pengabdian sebagai tanggung jawab yang harus kuselesaikan. Sama seperti tahuntahun sebelumnya, aku meyakinkan diri bahwa masa ini pun akan berlalu. Hingga akhirnya, hari yang kutunggu selama tujuh tahun benar-benar tiba. Hari penamatan. Aku merasakan kebahagiaan yang sulit dijelaskan. Setelah bertahun-tahun meminta pindah sekolah dan menjalani kehidupan yang tidak pernah kuinginkan, akhirnya aku dapat meninggalkan pesantren.

Kebebasan yang selama ini kunantikan akhirnya tiba.

Bagiku, penamatan bukan sekadar akhir pendidikan, melainkan kesempatan untuk memulai kehidupan yang benar-benar kuinginkan. Bahkan, saat itu aku berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku tidak ingin mondok lagi. Kupikir, kisahku sebagai santri telah selesai. Namun, persoalan pendidikan tinggi masih belum menemukan jawaban. Aku tetap ingin kuliah, sementara kondisi ekonomi keluarga belum memungkinkan. Karena itu, aku mulai mencari informasi beasiswa melalui internet. Sampai akhirnya aku menemukan kesempatan melalui program beasiswa LPDP. Aku mencoba mendaftar dengan memilih bidang agama, pilihan yang sebenarnya cukup jauh dari impianku untuk mempelajari Teknik Elektro. Keputusan itu tidak mudah. Ada kekecewaan yang harus kuterima ketika menyadari bahwa aku mungkin harus merelakan jurusan yang selama ini kuimpikan.

Tetapi aku mulai meyakinkan diri sendiri: “Tidak apa-apa jika bukan. Tidak apa-apa jika harus mengambil jurusan agama. Yang penting aku masih bisa kuliah.” Aku kemudian memilih UIN Walisongo Semarang karena memperkirakan peluang untuk melanjutkan pendidikan di sana cukup besar. Setelah mengikuti proses seleksi beasiswa, akhirnya aku dinyatakan lulus. Aku pun melanjutkan pendidikan di UIN Walisongo Semarang, mengambil jurusan Ilmu Hadis. Tentu ada kebahagiaan karena akhirnya menjadi mahasiswa. Namun, di balik itu masih tersimpan kekecewaan karena harus meninggalkan jurusan impian. Dan ternyata, kehidupan kembali memberiku kejutan. Bahkan setelah menjadi mahasiswa, aku masih harus mondok. Aku sangat kecewa. Dahulu aku membayangkan dunia perkuliahan sebagai awal kehidupan yang lebih bebas. Setelah tujuh tahun menjadi santri, aku berharap tidak perlu lagi menjalani kehidupan pondok.

Namun, kenyataan kembali membawaku pada kehidupan yang sama.

Jika dipikirkan, perjalanan hidupku terasa ironis. Aku tidak pernah ingin menjadi santri, tetapi menghabiskan tujuh tahun di pesantren. Aku ingin mempelajari Teknik Elektro, tetapi justru melanjutkan pendidikan di jurusan Ilmu Hadis. Aku ingin meninggalkan kehidupan pondok, tetapi setelah menjadi mahasiswa pun aku masih harus menjalaninya. Seolah-olah sejauh apa pun aku mencoba berjalan, kehidupan selalu membawaku kembali pada sesuatu yang dahulu ingin kuhindari. Namun, justru di bangku perkuliahan UIN Walisongo Semarang, cara pandangku perlahan mulai berubah. Aku bertemu dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang pendidikan. Dalam proses perkuliahan, aku mulai menyadari bahwa ilmu yang dahulu kupelajari dengan setengah hati ternyata memiliki manfaat yang tidak kecil. Ketika mempelajari Ilmu Hadis, aku tidak sepenuhnya memulai dari nol. Pengetahuan agama dan kebiasaan belajar yang terbentuk selama berada di pesantren ternyata menjadi bekal yang membantuku mengikuti perkuliahan. Interaksi dengan teman-teman dan dosen juga membuatku melihat pengalaman pesantren dari sudut pandang berbeda. Aku mulai menyadari bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan memperoleh dasar pendidikan agama seperti yang pernah kudapatkan.

Untuk pertama kalinya, aku mulai mempertanyakan kembali caraku memandang masa lalu. Selama tujuh tahun, aku hanya melihat pesantren sebagai tempat yang membatasi kebebasanku. Aku terlalu sibuk menunggu kapan semuanya berakhir, hingga hampir tidak pernah memikirkan apa yang sebenarnya telah kudapatkan. Namun, setelah memasuki dunia perkuliahan, aku mulai memahami bahwa pendidikan pesantren telah meninggalkan sesuatu dalam diriku. Bukan kerinduan. Sampai hari ini, aku tidak bisa mengatakan bahwa aku merindukan kehidupan pesantren. Aku juga tidak ingin berpura-pura bahwa tujuh tahun tersebut merupakan masa yang sepenuhnya menyenangkan. Tetapi aku mulai menghargai apa yang telah kudapatkan darinya. Aku juga mulai memahami alasan orang tuaku dahulu menginginkanku mendalami ilmu agama. Pada usia sebelas tahun, aku hanya melihat keputusan mereka sebagai sesuatu yang merampas kebebasanku. Kini, aku mulai mampu memahami harapan yang mereka titipkan melalui keputusan tersebut.

Bukan berarti kekecewaanku dahulu menjadi tidak berarti. Aku tetap percaya bahwa keinginan seorang anak untuk menentukan masa depannya perlu didengar. Namun, aku mulai belajar menerima bahwa pengalaman yang tidak kita inginkan pun dapat memberikan pelajaran berharga. Aku tetap boleh menyukai teknologi. Aku tetap boleh menyimpan keinginan untuk mempelajari Teknik Elektro. Aku juga boleh mengakui bahwa jurusan yang kutempuh sekarang bukanlah pilihan pertamaku. Namun, selama aku berada di sini, aku memiliki kesempatan untuk belajar dan bertumbuh.

Kini, ketika Hari Santri Nasional diperingati, aku memiliki cara pandang yang berbeda tentang makna menjadi santri. Bagiku, Hari Santri bukan hanya tentang mengenang perjuangan pesantren dan para santri dalam sejarah bangsa. Hari ini juga menjadi kesempatan untuk mengenang perjalanan pribadiku sebagai seseorang yang membutuhkan waktu begitu lama untuk menerima identitasnya sendiri. Aku mengingat seorang anak berusia sebelas tahun yang pernah membantah keputusan orang tuanya. Aku mengingat seorang remaja yang hampir setiap tahun meminta pindah sekolah. Aku juga mengingat seseorang yang begitu bahagia ketika akhirnya dapat meninggalkan pesantren. Namun, yang paling penting, aku mengingat bagaimana semua pengalaman itu perlahan membentuk diriku. Dahulu, aku menganggap identitas sebagai santri sebagai sesuatu yang dipaksakan kepadaku. Kini, aku mulai menerimanya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang tidak bisa kuhapus. Aku tidak harus berpura-pura bahwa sejak awal aku mencintai pesantren. Aku juga tidak harus mengubah masa laluku menjadi kisah yang sepenuhnya indah hanya agar terlihat pantas disebut sebagai seorang santri.

Sebab, menerima diri sendiri bukan berarti menyangkal kekecewaan yang pernah kita rasakan, melainkan berdamai dengan kenyataan bahwa semuanya telah menjadi bagian dari siapa diri kita hari ini.

Aku masih belum tahu apakah suatu hari nanti impianku mempelajari Teknik Elektro akan menemukan jalannya kembali. Mungkin ada kesempatan yang belum terlihat, mungkin pula kehidupanku akan terus bergerak ke arah yang berbeda. Namun, aku tidak ingin menganggap perjalanan ini sebagai kegagalan hanya karena tidak berjalan sesuai rencana.

Aku tidak pernah ingin menjadi santri. Selama tujuh tahun, aku bahkan tidak pernah benar-benar menerima diriku sebagai santri. Ketika penamatan tiba, aku merasa telah mendapatkan kebebasan yang selama ini kunantikan.

Namun, justru setelah menjadi mahasiswa di UIN Walisongo Semarang, aku mulai memahami bahwa menjadi santri bukanlah bagian dari diriku yang harus terus kutolak.

Barangkali, menjadi dewasa bukan selalu tentang mendapatkan kehidupan yang kita inginkan, melainkan tentang belajar menerima kehidupan yang telah kita jalani tanpa kehilangan keberanian untuk tetap bermimpi. Aku membutuhkan tujuh tahun untuk meninggalkan pesantren, tetapi justru setelah meninggalkannya, aku mulai belajar menerima identitas yang selama ini ingin kutinggalkan.

Aku tidak pernah memilih untuk menjadi santri. Tetapi hari ini, aku mulai memilih untuk berdamai dengan kenyataan bahwa aku adalah santri.

Selamat Hari Santri Nasional.

Dari seseorang yang dahulu menghitung hari untuk meninggalkan pesantren, tetapi baru memahami arti menjadi santri setelah duduk di bangku perkuliahan.

Aku bangga menjadi santri.

by : Dimas Daulay

Loading