Mimpiku Berada di Tanah Jawa

Oleh Dwi Okta R

“Kamu tidak boleh ke Jawa.”

Kalimat itu masih jelas terngiang di kepalaku sejak aku duduk di bangku MTs. Sejak saat itu, setiap kali teman-temanku sibuk merencanakan masa depan mereka, aku justru sibuk dengan hal yang sama berusaha meyakinkan orang tuaku agar mengizinkanku pergi mengejar mimpi yang selalu kusimpan dalam doa.

Namaku Selatan Bumingkara, tapi orang-orang memanggilku Ara. Aku 17 tahun, seorang santri angkatan 2024 yang menimba ilmu di Banda Aceh. Di tengah padatnya kehidupan pondok, ada satu mimpi yang tidak pernah benar-benar hilang sejak MTs yaitu melanjutkan pendidikan ke Jawa.

Saat ini pondokku sedang ramai dengan pendaftaran beasiswa berprestasi ke luar Sumatera. Aku dan teman-teman sibuk menyiapkan berkas, belajar bersama, dan saling menyemangati. Namun ada satu hal yang tidak kukatakan kepada ayah dan ibuku, beasiswa ini adalah jalan menuju luar Sumatera.

Aku takut mereka tidak mengizinkan.

“Ibu, Ayah, doakan Ara lulus ya,” kataku suatu malam.

“Iya nak, belajar dan ibadahnya jangan lupa ya,” jawab mereka lembut.

Sejak itu aku semakin sering berdoa dalam diam. Aku berharap Allah melembutkan hati orang tuaku, jika memang aku ditakdirkan untuk melangkah lebih jauh.

Malam pengumuman tahap pertama tiba.

Aku lolos.

Aku bersyukur, dan sejak itu aku semakin giat belajar. Tapi di balik itu, ada satu hal yang masih kusimpan rapat aku belum jujur kepada orang tuaku.

Hingga hari pengumuman tahap akhir datang. Aku sudah berusaha semampuku, bahkan belajar kisi-kisi dengan sungguh-sungguh. Aku yakin hasilnya akan baik.

Namun ternyata…

Aku tidak lolos.

Aku hanya diam.

Tidak ada tangisan berlebihan, tapi ada sesuatu yang berat di dadaku. Karena bagiku, ilmu tidak pernah terbatas pada satu tempat. Namun tetap saja, Jawa masih menjadi mimpi yang belum bisa kugapai.

“Bagaimana mungkin aku bisa ke Jawa tanpa alasan yang kuat…” batinku malam itu.

Aku mengambil wudu, lalu berdoa lebih lama dari biasanya. Dalam sujud, aku mencurahkan semuanya rasa kecewa, takut, dan pertanyaan yang bahkan tak mampu kujawab sendiri.

Keesokan harinya, satu hal terus menggangguku. Aku teringat bahwa aku belum jujur kepada ayah dan ibuku tentang beasiswa itu. Aku tidak ingin terus bersembunyi dalam keadaan seperti ini. Aku mencoba berdamai dengan diriku sendiri, perlahan menata pikiran agar lebih tenang. Setelah itu aku mulai mencari jalan lain untuk melanjutkan pendidikan.

Waktu pun berjalan.

Kini aku sudah menjalani dua semester kuliah di Sumatera Barat, jurusan Ilmu Hadits. Banyak hal yang telah kulewati, banyak pelajaran yang kudapatkan. Tanpa banyak orang tahu, aku masih mengikuti informasi beasiswa ke Jawa itu. Beberapa orang mendukungku untuk mencoba lagi, meski ada juga yang meragukanku. Tapi aku belajar satu hal aku tidak boleh kalah oleh pikiranku sendiri, dan juga tidak boleh kalah oleh pikiran orang lain.

Karena dorongan itu, aku akhirnya memberanikan diri untuk mendaftar kembali beasiswa ke Jawa. Aku tidak banyak bercerita kepada orang lain, bahkan beberapa teman tidak tahu bahwa aku mencoba lagi.

Hari itu aku pulang lebih malam setelah bermain bersama teman-teman. Aku bahkan tidak membawa ponsel.

“Sudah hampir malam, aku pulang dulu ya,” kataku.

Sesampainya di kamar, aku terkejut. Ponselku penuh dengan panggilan tak terjawab dan pesan ucapan selamat dari teman-temanku.

Tanganku gemetar saat membukanya.

Aku lolos ke Jawa.

Aku membaca ulang pesan itu berkali-kali, seolah takut salah lihat. Jantungku berdegup cepat. Aku tidak langsung percaya. Dengan tangan gemetar, aku bangkit dan berlari menuju ayah dan ibuku.

“Ayah… Ibu… Ara lolos ke Jawa!” suaraku bergetar.

Aku memeluk mereka erat. Air mata jatuh tanpa bisa kutahan.

Di saat itu, aku akhirnya benar-benar mengerti mimpi tidak selalu datang ketika kita ingin, tetapi ketika kita sudah cukup siap untuk menerimanya. Kadang Allah tidak menolak doa kita, hanya saja Ia sedang menundanya untuk waktu yang lebih baik agar kita tumbuh, belajar, dan menjadi pribadi yang lebih kuat sebelum sampai ke tujuan itu.

Loading

MAJALAH ZENITH EDISI 18

Oleh Kru Zenith 2025/2026

Puji syukur kehadirat Allah Swt. Yang telah melimpahkan Rahmat, taufik dan juga hidayah-Nya kepada kita semua. Tak lupa, Sholawat beriringkan salam senantiasa kami haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw, yang telah membimbing umat manusia menuju jalan kebenaran.

Dengan penuh rasa syukur dan bangga, Majalah Zenith kembali hadir menyapa para pembaca setia dalam Edisi ke-18. Pada edisi kali ini, kami mengangkat tema mengenai Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sebuah gagasan penting yang terus berkembang dalam upaya mewujudkan kesatuan penanggalan Hijriah di seluruh dunia. Tema ini kami hadirkan sebagai bentuk kontribusi dalam memperkaya wawasan keislaman, khususnya dalam bidang ilmu falak dan dinamika penetapan waktu dalam Islam.

Untuk memberikan sudut pandang yang komprehensif, kami menghadirkan narasumber-narasumber yang kompeten di bidangnya, yaitu Prof. Syamsul Anwar, Prof. Thomas Jamaluddin, serta Dr. Ing. Hafidz. Melalui pemaparan dan pemikiran para tokoh tersebut, kami berharap pembaca dapat memahami lebih dalam mengenai konsep, tantangan, serta urgensi penerapan KHGT dalam kehidupan umat Islam saat ini.

Kami menyadari bahwa setiap karya yang tersaji dalam majalah ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh tim redaksi, kontributor, serta pihak-pihak yang telah berperan dalam proses penyusunan Majalah Zenith edisi ini. Semoga setiap tulisan yang kami hadirkan mampu memberikan manfaat, memperluas wawasan, serta menginspirasi pembaca dalam menyikapi berbagai perkembangan keilmuan dan sosial keagamaan.

Kami menyadari bahwa majalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi peningkatan kualitas pada edisi-edisi berikutnya. Apabila pembaca memperoleh manfaat dari majalah ini, kami berharap pengetahuan tersebut dapat turut disebarluaskan kepada pihak lain yang membutuhkan.

Majalh dapat di unduh disini

Loading

MAJALAH ZENITH EDISI 13

Senandung puji dan syukur semoga senantiasa menjadi dzikir hati yang tak pernah berhenti. Alam dengan segala fenomena di dalamnya, seakan mau menunjukkan bahwa Sang Penciptanyalah yang benar-benar berkuasa atas segala. Sebagai manusia yang ber-Tuhan, pasti akan meyakini bahwa Tuhan mempunyai kehendak atas segala sesuatu. Tak terkecuali dengan terbitnya majalah Zenith edisi ke-XII ini. Setelah melalui berbagai tahapan penggarapan, serta setelah melewati segala bentuk kendala yang senantiasa turut serta, hingga akhirnya kami dapat menyajikan kembali kepada para pembaca setia majalah Zenith sebuah sajian nikmat dengan menu-menu segar di dalamnya.

Dalam setiap edisinya, majalah zenith selalu menyajikan bacaan tentang fenomena-fenomena yang menarik nan aktual. Tak terkecuali pada edisi ke-XII ini, pada edisi kali ini kami mengangkat sebuah tema besar, “Astrofotografi: Sebuah Solusi yang Menuai Kontroversi”. Sebuah terobosan baru dalam dunia falak yang baru-baru ini hangat dipergunjingkan. Dalam majalah ini pembaca akan diajak melanglang buana menelusuri sebuah era digitalisasi ilmu falak.

Banyak dari keperluan manusia saaat ini yang sudah bertransformasi dari dunia manual ke era digital. Tak terkecuali dengan ilmu falak. Ilmu falak yang berbasis ilmu astonomi praktis sarat dengan segala sesuatu yang menjadi piranti pendukung di dalamnya. Namun bagaimana jika pemanfaatan tekhnologi dianggap tidak sesuai bahkan bertentangan dengan Syar’i? Tentunya akan menjadi hal yang berbeda. Oleh karenanya dalam majalah ini pembaca akan disuguhkan berbagai macam wawasan dari berbagai sudut pandang. Sehingga lautan penasaran nantinya akan tercerahkan dengan tetesan pengetahuan.

Kami merasa bangga Zenith bisa tetap konsisten menyajikan kepada pembaca setia bacaan-bacaan renyah seputar Imu falak. Dengan adanya majalah Zenith diharapkan bisa menjadi rujukan serta penambah wawasan, khususnya seputar kajian-kajian ilmu falak dan astronomi. Bak penjaga wahyu, diharapkan juga majalah Zenith bisa menjaga dan melestarikan eksistensi khazanah keilmuan falak.

Tak lupa, untaian terima kasih tersampaikan kepada seluruh kru majalah Zenith serta kepada semua pihak yang turut mendukung atas terbitnya majalah ini. Tak luput juga pada para Tokoh yang telah berkenan mengirimkan karyanya kepada kru majalah Zenith. Akhirnya, majalah ini bisa sampai ke tangan pembaca semua. Selamat membaca, selamat membuka jendela dunia!

Majalah dapat diunduh disini

Loading

MAJALAH ZENITH EDISI 16

Lantunan puji syukur sudah sepatutnya kita panjatkan kepada Tuhan segenap alam yang menarik Bulan dan Matahari untuk senantiasa memberi manfaat kepada Bumi. Atas rahmat yang selalu dicurahkan, Tim Redaksi dikehendaki untuk menerbitkan majalah Zenith edisi ke XVI ini pada waktu yang telah ditentukan. Setelah melalui berbagai proses dan kendala, akhirnya majalah ini dapat kembali terbit dan menghadirkan sub bacaan-bacaan yang dapat memberikan informasi-informasi kepada pembaca perihal perkembangan Ilmu Falak.

Sebagaimana yang telah lalu, dalam setiap edisi yang diterbitkan, majalah Zenith senantiasa mencoba mengunggah fenomena-fenoma terkini tentang dunia ilmu falak yang sedang bersemi di Indonesia tak terkecuali untuk majalah edisi kali ini. Pada edisi XVI ini, Ttim Redaksi mencoba mengunggah sebuah tema tentang “Ilmu Falak menuju Unity Of Science di UIN Walisongo”. Hal ini selaras dengan dikenalnya UIN Walisongo sebagai pelopor program studi Ilmu Falak di perguruan tinggi Islam yang sekarang digadang-gadang tengah mengajukan visi sebagai Universitas Islam Riset Terdepan Berbasis pada Kesatuan Ilmu Pengetahuan untuk Kemanusiaan dan Peradaban. Sebuah cita-cita baru yang sedang di gagas untuk membawa Ilmu Falak sebagai ilmu pengetahuan yang perlu dilestarikan dan perlu dikembangkan agar senantiasa membumi di Indonesia.

Sejarah Ilmu Falak yang mulai berkembang sejalan dengan masuknya Islam di Indonesia memang masih berkutat pada masalah Arah Kiblat, Waktu Sholat, Gerhana Matahari dan Bulan, tentu membutuhkan pemikiran khusus dengan tahap-tahap yang berkelanjutan agar Ilmu Falak yang ada di Indonesia ini kembali pada tujuan awalnya yaitu sebagai Ilmu Astonomi Islam yang membahas perihal alam semesta beserta kejadian-kejadiannya tanpa mengesampingkan syariat yang ada didalamnya.

Sebagai promotor pegiat Ilmu Falak, UIN Walisongo Semarang tentu mendapat perhatian khusus, setidaknya sebagai rujukan perguruan tinggi lain dalam upaya pengembangan Ilmu Falak di tingkat universitas. Bagaimana kondisi kurikulum, dosen, serta sarana-prasarana yang ada di UIN Walisongo apakah sudah memenuhi standar pengembangan atau masih dalam tahap perbaikan. Dalam majalah ini disajikan berbagai fakta dan pendapat dari berbagai sudut pandang yang akan memberikan informasi dan wawasan bagi para pembaca mengenai perkembangan Ilmu Falak menuju Unity Of Science atau kesatuan ilmu pengetahuan. dengan demikian diharapkan akan dihapuskannya dikotomi ilmu pengetahuan antara ilmu agama dan ilmu umum, karena hakekat ilmu adalah satu kesatuan yang saling mendukung dan berkaitan.

Dengan terbitnya majalah Zenith edisi ke XVI ini, Tim Redaksi mengharapkan dapat menjadi rujukan dan wawasan bagi para pembaca untuk memahami dan melestarikan Ilmu Falak di Indonesia. Tak lupa ucapan terimakasih tersampaikan kepada segep kru majalah Zenith yang telah berupaya dan berusaha untuk menerbitkan majalah ini. Tidak hanya itu, ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada para tokoh dan segenap pembaca yang berkenan mengirimkan tulisan dan karyanya kepada kru majalah Zenith. Tentu kami menyadari majalah ini masih jauh dari kata baik, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat kami butuhkan guna perbaikan untuk majalah edisi selanjutnya. Selamat membaca…

Majalah dapat diunduh disini

Loading

KEGIATAN PENANAMAN BIBIT MANGROVE CSSMoRA UIN WALISONGO SEMARANG

Pada hari Minggu, 31 Mei 2026, Departemen Pengembangan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M) CSSMoRA UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan kegiatan penanaman bibit mangrove yang bertempat di Pantai Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 50 peserta yang terdiri dari anggota CSSMoRA UIN Walisongo Semarang serta mahasiswa umum.

Kegiatan ini terselenggara atas dukungan berbagai pihak, di antaranya Kelompok Tani Mangrove Lestari, Soto Sawah Mbak Tutik, Warmindo Pitulimo, dan Ulil selaku Alumni WSC. Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan dari awal hingga akhir.

Kegiatan diawali dengan pembukaan dan sambutan dari para narasumber. Sambutan pertama disampaikan oleh Awalul Farhan Yestra selaku penanggung jawab kegiatan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa program penanaman mangrove ini merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus wujud kepedulian terhadap lingkungan pesisir. Ia menjelaskan bahwa Pantai Mangunharjo merupakan salah satu kawasan yang rentan terhadap ancaman abrasi, sehingga diperlukan upaya nyata untuk membantu menjaga kelestarian lingkungan di wilayah tersebut. Selain itu, ia juga berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan kesadaran dan kepedulian lingkungan di kalangan mahasiswa, khususnya para peserta yang hadir.

Sambutan kedua disampaikan oleh Khafid selaku Ketua Kelompok Tani Mangrove Lestari. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa Kelompok Tani Mangrove Lestari telah berdiri sejak tahun 1998. Pembentukan kelompok tersebut dilatarbelakangi oleh kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi wilayah pesisir yang saat itu mengalami ancaman abrasi cukup serius. Berangkat dari kondisi tersebut, kelompok ini berupaya melakukan penanaman dan pelestarian mangrove secara berkelanjutan guna mengurangi dampak abrasi yang semakin meluas.

Beliau juga menyampaikan bahwa hingga saat ini kawasan mangrove yang telah berhasil ditanami dan dikelola mencapai kurang lebih 30 hektar. Sebagian besar pengembangan kawasan tersebut didukung oleh berbagai pihak, termasuk mahasiswa dan organisasi yang secara rutin melaksanakan kegiatan penanaman mangrove sebagai bentuk kontribusi terhadap pelestarian lingkungan pesisir.

Setelah sesi sambutan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman mangrove secara langsung di area pesisir Pantai Mangunharjo. Pada kegiatan ini, peserta bersama-sama menanam sebanyak 300 bibit mangrove yang telah disiapkan sebelumnya. Sebelum proses penanaman dimulai, peserta mendapatkan arahan singkat mengenai teknik penanaman yang benar agar bibit yang ditanam memiliki peluang tumbuh yang baik.

Proses penanaman berlangsung selama kurang lebih satu jam. Meskipun kondisi pantai pada saat itu sedang mengalami pasang, hal tersebut tidak mengurangi semangat para peserta untuk tetap mengikuti kegiatan hingga selesai. Dengan saling bekerja sama, seluruh bibit mangrove berhasil ditanam sesuai target yang telah ditentukan.

Secara keseluruhan, kegiatan penanaman mangrove ini berjalan dengan lancar dan penuh antusiasme. Kegiatan ini tidak hanya memberikan kontribusi nyata bagi pelestarian lingkungan pesisir, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi peserta untuk memahami pentingnya menjaga ekosistem mangrove sebagai benteng alami dalam mengurangi dampak abrasi dan menjaga keseimbangan lingkungan.

Loading

Mengamati Semesta dari Dekat: Keseruan Astro Observatory CSSMoRA UIN Walisongo

Di bawah hamparan langit malam yang menyimpan keindahan dan misteri, pada hari Sabtu hingga Minggu, 16–17 Mei 2026, Divisi P3M CSSMoRA UIN Walisongo Semarang berkolaborasi dengan Kawakib Institute menyelenggarakan kegiatan Astro Observatory. Kegiatan ini diikuti oleh 19 peserta dari kalangan mahasiswa UIN Walisongo Semarang dan bertempat di Lembah Nirwana. Mengusung tema “Menyikapi Tabir Langit Melalui Observasi Astronomi”, kegiatan ini bertujuan memberikan pengalaman langsung sekaligus memperkenalkan cara memahami fenomena langit melalui pendekatan ilmiah.

Rangkaian acara resmi dimulai pada pukul 16.00 WIB yang dipandu oleh Nur Ilhani selaku MC. Acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Arinal Haqqa. Selanjutnya, sambutan pertama disampaikan oleh Ketua CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, Asyraf Zofir Wafa, yang menyampaikan apresiasi kepada Kawakib Institute atas kolaborasi yang terjalin. Ia juga menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan lanjutan dari program astronomi sebelumnya, yaitu Astro Hiking dan Astro Camp.

Sambutan kedua disampaikan oleh Pembina Kawakib Institute, Dr. KH. M. Basthoni, S.H.I., M.H.I., yang mengapresiasi CSSMoRA atas kepercayaan yang kembali diberikan dalam kolaborasi ini. Ia juga berbagi pengalaman pada kegiatan sebelumnya serta berharap pelaksanaan kali ini dapat didukung oleh kondisi cuaca yang baik. Sambutan berikutnya disampaikan oleh alumni CSSMoRA, Unggul Suryo Ardi, M.H., yang menyampaikan bahwa materi astronomi seperti ini tidak selalu didapatkan di bangku kuliah, sehingga kegiatan ini menjadi kesempatan belajar yang berharga. Rangkaian pembukaan ditutup dengan doa.

Setelah sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan rangkaian ibadah, istirahat, serta persiapan menuju sesi inti pada malam hari. Memasuki malam hari, setelah pelaksanaan sholat Isya berjamaah, kegiatan inti dimulai dengan penyampaian materi.

Materi pertama disampaikan oleh Fiya Faridatul Afidah, S.H. mengenai pemasangan SQM (Sky Quality Meter) dan teknik pengambilan data langit. Peserta dikenalkan pada fungsi alat, cara pemasangan, serta bagaimana membaca data kualitas langit yang dihasilkan.

Materi kedua disampaikan oleh Malik Alfaqih, S.H. yang membahas astrofotografi dan teknik light painting. Dalam sesi ini, peserta mempelajari dasar pengambilan foto langit malam serta teknik kreatif untuk menghasilkan visual yang menarik.

Materi selanjutnya disampaikan oleh pembina Kawakib Institute mengenai pengoperasian Seestar dan teknik pengambilan objek-objek langit. Peserta diajak memahami cara menentukan objek yang akan diamati serta penggunaan alat observasi modern untuk mendukung proses tersebut.

Setelah seluruh materi disampaikan, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung di lapangan. Peserta mencoba mengoperasikan alat, melakukan pengamatan, serta mengambil data dan foto objek langit sesuai dengan materi yang telah dipelajari. Kegiatan malam berlangsung dengan suasana antusias dan penuh rasa ingin tahu.

Pada pagi hari, setelah sholat Subuh berjamaah dan sarapan bersama, kegiatan dilanjutkan dengan sesi pengolahan data hasil observasi yang kembali dipandu oleh Fiya Faridatul Afidah, S.H. Dalam sesi ini, peserta belajar memahami dan mengolah data yang telah dikumpulkan pada malam sebelumnya.

Menjelang akhir kegiatan, peserta melakukan persiapan untuk kembali. Acara kemudian ditutup dengan penutupan resmi dan kepulangan bersama.

Secara keseluruhan, kegiatan Astro Observatory berjalan dengan lancar dan memberikan pengalaman baru bagi peserta, baik dalam memahami teori maupun praktik observasi langit secara langsung

Loading

Satu Langkah Luar Biasa, Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo Sukses Rilis Buku & Majalah Baru

Pada hari Sabtu, 16 Mei 2026, bertempat di Pendopo Kwarcab Kota Semarang, telah dilaksanakan kegiatan launching Majalah Zenith dan buku yang diselenggarakan oleh Divisi Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo Semarang. Kegiatan ini menjadi momen penting sebagai hasil dari proses panjang penyusunan dan produksi karya jurnalistik oleh kru Majalah Zenith.

Acara diawali dengan pembukaan yang di dalamnya terdapat rangkaian sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh Kepala Departemen Jurnalistik, Muhamad Mahmud Sidik. Dalam sambutannya, ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh kru Majalah Zenith yang telah berkontribusi dari awal hingga akhirnya majalah dapat diterbitkan dan diluncurkan tepat waktu.

Sambutan kedua disampaikan oleh Ketua Umum CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, Asyraf Zofir Wafa. Ia memberikan apresiasi kepada kru Majalah Zenith dan Divisi Jurnalistik yang telah mengupayakan terbitnya majalah ini, serta berharap karya yang dihasilkan dapat terus berkembang dan memberi manfaat.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan prosesi launching yang ditandai secara simbolis melalui pemotongan tumpeng oleh Ketua Umum CSSMoRA UIN Walisongo Semarang. Momen ini menjadi tanda resmi diluncurkannya Majalah Zenith dan buku kepada publik.

Selanjutnya, diumumkan penghargaan Best Writer of the Year yang diberikan kepada dua penulis terbaik, yaitu Arifin Faturohman (anggota CSSMoRA angkatan 2025) dan Zahwa Kamila (anggota angkatan 2024). Penilaian didasarkan pada kontribusi mereka dalam pengiriman tulisan ke web CSSMoRA serta konsistensi sebagai peraih Best Writer bulanan.

Setelah rangkaian acara formal selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pentas seni dari kru Majalah Zenith. Penampilan dimulai dengan pembacaan puisi oleh Irfan dan Arifin, kemudian dilanjutkan dengan story telling oleh Saja. Selanjutnya, puisi berantai dibawakan oleh Zainudin, Surur, Alam, Tamam, dan Laode. Rangkaian pentas seni ditutup dengan penampilan menyanyi oleh Farida dan Tamam.

Sebagai penutup, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah berupa makan siang bersama yang diikuti oleh seluruh peserta. Suasana kegiatan berlangsung meriah dan penuh kebersamaan, didukung oleh antusiasme seluruh pihak yang terlibat.

Loading

Hujan Bukan Halangan: Kemeriahan Kolaborasi Cookies x Happynest CSSMoRA yang Berakhir Syahdu di Panggung Wapres

Semarang, 9 Mei 2026 – Semangat kreativitas dan kebersamaan membuncah di kawasan bersejarah Kota Lama Semarang. Dua departemen CSSMoRA UIN Walisongo, yakni Departemen Kominfo dan Departemen PSDM, sukses menggelar kolaborasi program kerja bertajuk Cookies dan Happynest. Meski cuaca sempat berubah tak menentu, agenda ini justru meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta.

 

​Program Cookies (CSSMoRA Open Opportunities for Knowledge in Editing Skill) yang digawangi oleh Departemen Kominfo hadir sebagai puncak dari rangkaian pelatihan desain grafis dan videografi yang telah dilaksanakan sebelumnya. Jika pada pertemuan lalu para anggota berfokus pada teori dan teknis di dalam ruangan, pada edisi “Cookies 4” ini mereka terjun langsung ke lapangan. Dibagi menjadi beberapa kelompok, para peserta ditantang untuk berburu footage video terbaik dengan latar arsitektur eksotis Kota Lama. Hasil karya kreatif mereka nantinya akan dikurasi, dan video terbaik berhak mendapatkan reward sebagai apresiasi atas ketajaman lensa dan kreativitas penyuntingan mereka.

​Sembari mengejar momen melalui lensa kamera, Departemen PSDM turut menghadirkan warna melalui program Happynest. Sesuai namanya, kegiatan ini dirancang sederhana namun bermakna: bersenang-senang demi mempererat ikatan emosional antaranggota. Mengingat jati diri CSSMoRA sebagai organisasi yang berlandaskan kekeluargaan, Happynest menjadi ruang bagi setiap anggota untuk melepas penat dan tertawa bersama di tengah rutinitas akademik.

​Rangkaian acara dimulai sejak sore hari saat cahaya matahari mulai melunak, memberikan pencahayaan alami yang sempurna bagi peserta Cookies untuk mengumpulkan bahan editing. Menjelang malam, suasana berpindah ke titik kumpul di sebuah angkringan hangat, tepat di samping bangunan bersejarah Rumah Pompa Kota Lama. Di sana, tawa mulai pecah saat sesi Happynest dimulai dengan berbagai permainan yang seru.

​Namun, di tengah keriuhan tersebut, alam punya rencana lain. Hujan turun membasahi bumi Kota Lama, memaksa aktivitas di lapangan terbuka terhenti sejenak. Namun, benarlah pepatah bahwa hujan membawa berkah. Di tengah rintik tersebut, Panggung Wapres (Warung Apresiasi) hadir sebagai “penyelamat” keadaan.

​Suasana yang awalnya riuh karena permainan fisik, seketika bertransformasi menjadi momen yang syahdu dan puitis. Dari lapangan terbuka, kebersamaan berpindah ke bawah naungan Panggung Wapres. Di bawah lampu panggung dan iringan melodi, seluruh anggota CSSMoRA menyatu dalam nyanyian. Mikrofon beralih dari satu tangan ke tangan lain, menyuarakan lagu-lagu yang membangkitkan nostalgia dan keakraban.

​Hujan tidak membubarkan kami; ia justru menggiring kami untuk duduk lebih rapat dan bernyanyi lebih keras. Kolaborasi Cookies dan Happynest kali ini membuktikan bahwa kreativitas tidak hanya lahir dari layar monitor, dan kebahagiaan tidak melulu soal rencana yang sempurna. Terkadang, ia lahir dari nada-nada yang kita nyanyikan bersama di bawah rintik hujan.

Loading

Buku, Musik dan puh

Judul: Rapijali 1 Mencari

Penulis: Dee Lestari

Tahun terbit: 2021

Jumlah halaman: 350

Dalam perjalanan Bandung-Kadungora, menuju rumah kawan bernama Apci, saya ditemani seorang kawan perjalanan yang menolak bicara. Ialah Rapijali. Saya temukan waktu main ke Gramedia Merdeka Bandung. Sudah lama agaknya nama judul novel ini bertengger dalam sejumlah pilihan cerita yang ingin saya nikmati, namun belum jua dengan sangat serius saya tanggapi itu keinginan hati. Sehingga pada tanggal 29 Desember di akhir tahun 2025, tepatnya di hari senin, saya mulai memasuki semesta cerita yang dibangun Dee.

Dalam beberapa traveling acap-kali saya di temani oleh kawan bisu bernama buku. Perjalanan dari Bandung ke Kadungora buat tandang ke rumah Apci, bermaksud transit untuk melanjutkan rekreasi di Gunung Sagara. Ketika istirahat di rumah Apci Tatkala kawa-kawan memiringkan hape, lalu ngumpat-ngumpat, lalu mengernyit dahi dan berstrategi, itulah saatnya saya menyesap kopi mix suguhan Apci, sembari melanjutkan Hanca cerita Rapijali, pun dengan TWS yang menempel di pintu telinga— sayup merdu terdengar Kind of Blue nya Miles davis.

Ialah musik. Dee menceritakan kisah seorang gadis desa bernama Ping. Ia tumbuh dan kembang bersama seorang Kakek yang merupakan pemusik Rock n roll. Hidup di desa Cijulang, daerah pesisir Batu karas, Pangandaran. Bagi Ping semua bunyian yang mengalunkan perasaan adalah musik, termasuk ketika ia bersila di atas batu karang di tepi pantai— memejamkan mata, lalu mendengar ombak menghentak, angin mendesir, burung-burung bercericit.

Ping tidak pernah mengenyam sekolah musik atau belajar musik secara formil, rumahnya adalah studio rekaman yang disulap Kakek sebab Kakeknya punya band bernama D’Brehoh. Alat musik yang cukup lengkap, menjadi ruang kreatifitas bagi Ping. Uniknya dan mengejutkannya dan baru terungkap waktu sudah agak larut kedalam ceritanya, Ping adalah salah seorang yang memiliki kemampuan perfect pitch yaitu kemampuan mengenali nada musik tertentu (Do, Re, Mi, dll) hanya dari mendengar suara, tanpa bantuan alat atau nada pembanding. Contohnya dengar klakson, pintu berderit, atau suara orang bicara langsung tahu: “oh ini nadanya F♯”. Diperkirakan hanya 1 dari 10.000 orang yang punya kemampuan ini, Lho! Lalu, bagaimanakah perfect pitch ini menghantarkan Ping menuju simpul pencariannya.

Kakeknya Bernama Yuda Alexander meskipun sudah usia senja, tapi keren dan ganteng (Rock n roll style) membikin ia terasa sangat bohemian. Ping punya sahabat Bernama Oding, sudah lengket Bersama semenjak bayi, sehingga orang menjuluki mereka Poding (Ping dan Oding). Oding seorang atlet professional surf. Ia sudah suntuk mengikuti berbagai macam event internasional surfing. Ping semenjak kecil tidak sempat mendapatkan tangan-tangan kasih-sayang Ibu Bapak. Hanya kasih sayang kakeknya yang tak terbilang sebagai satu-satunya penyangga sentuhan Pendidikan cintanya itu.

Pada suatu hari di Pangandaran itu mereka itu Ping dan Kakeknya memancing di Sungai Cijulang, bertepatan Ketika Tambak Barramundil jebol membikin ikannya pada kabur sehingga warga lokal berburu-buru menangkap ikan di aliran Sungai cijulang. Ketika mancing itu, mereka berbincang perihal yang jarang: Kelanjutan sekolah Ping. Kakeknya sudah tahu semenjak awal Ping amat terpikat dan ingin menekuni musik. Di sekolah, Ping terbilang menjadi siswi teladan yang namanya sering bertengger di urutan papan atas kejuaraan kelas. Pun beberapakali turut serta dalam berbagai olimpiade sains di luar sekolah, tapi itu karena tuntutan Pendidikan dan keadaannya yang notabene bukan orang mampu, ikut lomba mesti di paksa-paksa oleh ibu guru, namun musik adalah kegiatan yang tulus ia berikan; waktu, tenaga, dan perasaannya. Dalam percakapan itu, Ping akan sekolah musik di Jakarta. Namun, Ping enggan. Ia merasa tidak perlu jauh-jauh ke luar kota. Baginya desa Cijulang dan Batu karas sudah cukup memberikan segalanya. Kebahagiaan dan senyuman. Kasih-sayang dan keluarga.

Ping amat terguncang oleh suatu peristiwa yang tidak bisa dibeberkan di sini. Terlalu banyak spoiler. Sudah banyak yang saya ceritakan. Singkat cerita Ping tiba di Kota Jakarta. Demikian mungkin yang dapat saya sampaikan mengenai konteks latar belakang dan serpihan kecil kisah Ping. Lalu, Kenapa Ping mesti ke Kota Jakarta? Hubungan privat dan emosional Ping dan Oding, culture shock yang di alami Ping Ketika pindah dari tanah priangan yang kental nuansa kedaerahan ke Ibukota tempat budaya luar singgah dan menetap, serta peremajaan Ping sebagai seseorang yang menaruh minat pada suatu bidang, pada suatu hal, dan jatuh- bangun memeluk erat impiannya itu. Silakan sodara baca jika sedang senggang ya. Ceritanya ternyata lebih kompleks. Bukan hanya menyoal persoalan ABG (Anak Baru Gede).

Sejalan dengan judul pertama trilogi Rapijali 1: Mencari, saya sedang dalam proses peremajaan itu. Usia mau dua puluh, usia yang pas untuk meromantisasi hidup. Kerap mencoba melihat tempat baru, bertemu orang baru, dan menyimpulkan apa sebetulnya yang sedang saya cari dan rasakan. Dalam hal ini adakah gemuruh pencarian itu, Apakah betul-betul bermaksud dan bertujuan pada satu Alamat. Sejauh mana pengembaraan, sejalan dengan peristiwa yang tidak disangka-sangka, demikian novel adalah serpihan kecil kisah manusiawi dengan segala getir dan bahagianya. Hidup berkesinambungan untuk terus berjalan dan menerimanya dengan tulus – lapang dada. Dee adalah seniman yang baik yang berhasil melukis polemik dan dialektika sesosok gadis yang diliputi tragedi— disertai keteguhan sikap seseorang yang mengetahui kemana ia akan berjalan.

Bukan sekedar novel remaja, yang Nampak remeh-temeh, haha-hihi, dipenuhi kesenangan anak muda, Rapijali 1: Mencari merupakan fragmen kecil mengenai realitas kehidupan pemuda-pemudi kita yang mungkin kelimpungan menentukan pijakan. Mengenal beragam kesenangan melalui hobi, keinginan dalam menekuninya, dan derasnya arus informasi dizaman ini. Lalu skenario Nasib amat misteri, entah siapa yang menentukan, apakah kaki ringkih ini yang terus berusaha berjalan atau sebenarnya berjalan di tempat, atau jalan-jalan ghaib yang membawa kita menuju penyimpulan yang mantap. Bagaimanakah masa depan itu? Entahlah.

Gaya Bahasa yang dekat dan ramah. Seperti biasanya, Dee selalu mampu membikin pembaca hanyut ke dalam semesta cerita. Ringan dan mudah dipahami, melalui ragam kata— Dee menggambar warna-warni kehidupan sosial daerah pesisir Jawa barat, seolah mata mampu saksikan bagaimana kearifan lokal daerah pesisir yang akrab dengan gemuruh ombak itu— beradu-padu melalui bunyi pop culture yaitu musik di rumah Yuda aleksander sang vokalis D’Brehoh. Kemudian tingkah-laku seorang gadis desa yang tiba-tiba sekolah di tempat elit, di metropolitan Bernama Jakarta. Agak canggung karena perbedaan budaya dan suasana. Lalu, di sanalah: usia tanggung menggebu-gebu; kehidupan sosial remaja yang diburu; keinginan, mimpi, asmara, dan labil.

Sejauh ini adalah sikap apresiatif dan amat subjektif dari saya pribadi. Sebagai kekaguman melihat seniman sepandai Dee melukis situasi, suasana, perasaan, karakterisasi, realitas sosial dan kritik sosial yang subtil ia sampaikan. Namun, bukan tanpa celah. Demikian, sebagai penggemar yang jujur, saya mesti berterus-terang. Ada beberapa hal yang mengganjal. Bagian awal di Cijulang terasa begitu kaya — Dee melukis denyut kehidupan pesisir Pangandaran dengan sangat hidup, seolah kita bisa mencium asin angin laut dan mendengar gemuruh ombak Batu Karas itu sendiri.

Namun begitu Ping mengangkat koper dan tiba di Jakarta, cerita seolah kehilangan napasnya sejenak — tergesa, kurang diberi ruang untuk menyaksikan Jakarta dan hiruk-pikuk kota besar itu. Lalu ada Oding — sahabat yang sudah lengket semenjak bayi, yang dijuluki separuh nama oleh orang-orang sekitar. Oding terasa hanya hadir sebagai penanda, bukan sebagai manusia yang utuh dengan segala lapisan perasaannya yang kompleks. Dan barangkali itulah konsekuensi yang harus diterima dengan lapang dada ketika sebuah cerita dibagi menjadi tiga: ada yang sengaja digantung, ada yang belum tuntas, ada pertanyaan yang memang tidak akan dijawab di sini — melainkan di halaman-halaman berikutnya yang belum saya buka.

Bagi saya, ini adalah permulaan yang menarik buat menyelam lebih dalam tentang musik sebagai sarana penerjemah rasa. Dalam rasa, kata bisa bersuara. Dalam nada, lirik menyampaikan kita. Dalam cerita ini, musik adalah sarana Ping dan mungkin umumnya remaja mengenal dan mencari kedalaman dirinya. Sehingga menuju tahun baru 2026, tepatnya pukul 22.55 di hari Rabu, 31 Desember 2025 saya menyelesaikan Rapijali 1: Mencari. Di rumah Apci, di Kadungora. Saya tutup buku itu ditemani lagunya Nadin: Rayuan Perempuan Gila. Dengan perasaan yang lebih utuh, dan pengembaraan yang belum jua berlabuh. Akankah saya mampu menjalani kisah pencarian saya sendiri. Entahlah.

Bandung, 28 Januari 2026

Loading

Puncak 20th MDPL

Halo, apa kabar kalian? Huft, sepertinya sudah lama sekali ya tidak bertemu aku lewat kata-kata manis yang kubuat, hahaha. Semoga kalian tidak bosan dengan kata-kata yang banyak diulang ini.

Kali ini, yang kutulis bukanlah cerpen atau kutipan singkat yang biasa aku bagikan di platform media sosialku. Khusus di bulan ini, aku ingin menyampaikan surat kepada orang yang kusayangi sebagai bentuk apresiasi diri dan rasa terima kasih untuk mereka yang berhasil membuatku bertahan hidup sampai saat ini.

Tepat di bulan ini, di usiaku yang genap 20 tahun. Surat pertamaku teruntuk seseorang yang seharusnya ada. Namun naasnya, kita seolah dipaksa berduka seumur hidup oleh seseorang yang jiwanya bahkan masih ada dan berjalan di muka bumi ini. Di kehidupan yang cuma sekali ini, ternyata aku tidak seberuntung itu yaaah.

“Hari ini ingin sekali aku menyampaikan sebuah kalimat yang menjadi isi hatiku selama ini karena aku tidak bisa menyampaikannya secara langsung kepadanya. Aku menuliskan sebuah kata dengan penuh cinta dan dengan penuh harapan yang ditemani air mata.

Ayah, sebuah panggilan dari cinta pertama anak perempuan. Ayah, kini anak kecil yang selalu kau tenangkan hatinya saat ibu sedang memarahinya, anak kecil yang kau ajak mandi sungai bersama, anak kecil yang berlari-lari saat menunggu kau pulang hanya untuk bisa ikut naik motor dan berkeliling sebentar bersamamu, kini sudah dewasa.

Ayah, ada permintaan yang selama ini belum pernah terucapkan. Selama 20 tahun aku hidup, aku tidak pernah merasakan sholat diimami Ayah, aku tak pernah diucapkan ‘Selamat ulang tahun nak’. Aku tidak pernah mendengar Ayah mengucapkan ‘anak Ayah hebat’ hahhaha… ingin sekali aku merasakan itu, Yah.

Aku ingin sekali disayangi, dimanja, dan diberikan perhatian kecil seperti dulu lagi. Ayah, aku ingin sekali sholat berjamaah bersama keluarga kecil kita. Nantinya kita berdoa bersama, memohon kepada pemilik hidup dan mati dalam doa yang sama. Mungkin ini salah satu keinginan terbesarku yang tidak tahu kapan terwujudnya.

Tetapi jika suatu hari nanti Allah yang lebih dulu memanggilku, tolong Ayah ikut menyolatkanku dan melihatku untuk terakhir kalinya. Ayah, aku selalu berdoa semoga Allah memberikan umur yang panjang kepada kita semua agar anak kecil ini bisa melihatmu tersenyum tanpa beban sedikitpun. Mau bagaimanapun luka yang kau torehkan di hatiku, kau akan tetap menjadi Ayahku.”

Untuk Mamah, “maaf Mah, beribu maaf aku katakan padamu. Aku terlalu malu untuk meminta maaf padamu secara langsung. Aku belum bisa jadi anak yang kau inginkan, maaf aku masih jadi anak pembangkang di matamu, maaf kadang nada bicaraku membuat hatimu terluka, ucapanku yang membuatmu kecewa.

Tolong hidup lebih lama lagi ya Mah? Tolong bertahan sampai aku sukses, sampai aku bisa membuat dirimu bahagia. Kalau ga karena Mamah, mungkin aku ga akan semangat untuk terus menggapai apa yang aku impikan, Mah. Tolong doakan aku di setiap sujudmu, i love you malaikat tak bersayapku.”

Mama you are my favorite person.

Aku tumbuh dengan menyaksikan ibuku menangani semua rintangan yang dilemparkan pada hidupnya. Apa pun yang terjadi, dia selalu bangun di pagi hari, memastikan perutku tidak kosong saat beraktivitas, melakukan pekerjaan luar biasa untuk membesarkanku. Itu sebabnya aku tidak pernah lemah dalam hidup ini. Sekalipun kehidupan ini banyak kalahnya, aku selalu bangun untuk satu alasan lagi. Aku belajar dari orang terbaik dari kehidupan ini.

Dan untuk teman-temanku, kuucapkan banyak terima kasih. Tanpa kalian sadari, kehadiran kalian menumbuhkan semangat baru dan alasan untuk tetap hidupku. Semoga semesta tidak pernah lupa bahwa aku selalu ingin melihat teman baik seperti kalian memenangi banyak hal di hidup ini, entah itu mimpi ataupun harapan.

Fatherless is scary. Aku gapunya pembimbing di hidup, kadang aku harus jatuh dulu baru ngerti cara berdiri, harus salah dulu baru tau mana yang benar, harus salah jalan dulu biar sadar kalau jalan itu buntu. Capek? iya. Bingung? sering. Tetapi di situ aku banyak belajar menemukan arah sendiri, belajar bertahan meskipun sendirian. Dan pelan-pelan sadar, ternyata sejauh ini aku sudah lebih kuat dari yang aku kira.

Dan untuk jatuh cinta? hmmm, bukan karena aku tidak percaya pada cinta, tapi karena sejak kecil aku melihat bagaimana seseorang bisa pergi dari tanggung jawab yang seharusnya ia jaga. Kehilangan itu diam-diam mengajarkanku bahwa orang yang seharusnya tinggal pun bisa memilih untuk pergi.

Kadang aku takut menikah, bukan karena tidak ingin dicintai, tapi karena takut salah memilih. Takut suatu hari menemukan diriku berada di cerita yang sama, bersama seseorang yang akhirnya pergi seperti sosok yang dulu meninggalkanku. Aku hanya takut satu hal, anak yang suatu hari mungkin kulahirkan harus merasakan kosong yang sama seperti yang pernah kurasakan. Karena luka seperti itu tidak pernah benar-benar hilang, ia hanya belajar diam dan tinggal lebih dalam di hati.

Semarang, 21 April 2026

Loading