TRANSPARANSI DANA CSSMoRA UIN WALISONGO SEMARANG

Pada hari Selasa, 24 Desember 2025, telah dilaksanakan kegiatan Transparansi Dana CSSMoRA UIN Walisongo Semarang yang diselenggarakan secara daring melalui platform Google Meet. Kegiatan ini diinisiasi oleh Departemen Badan Pengurus Harian (BPH) sebagai bentuk keterbukaan dan pertanggungjawaban pengurus terhadap pengelolaan dana organisasi yang telah digunakan selama setengah periode kepengurusan CSSMoRA UIN Walisongo Semarang berjalan.

Kegiatan diawali dengan pembukaan acara, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Umum CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, Asyraf Zofir Wafa. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan secara langsung bahwa, “kegiatan transparansi dana ini sangat penting sebagai bentuk keterbukaan pengurus kepada seluruh anggota terkait penggunaan dana organisasi. Dana merupakan hal yang cukup sensitif, sehingga perlu disampaikan secara jelas dan terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman. Oleh karena itu, saya berharap seluruh anggota dapat menyimak kegiatan ini dengan baik.”

Setelah sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan rangkaian utama berupa penyampaian laporan transparansi dana per departemen. Masing-masing bendahara departemen memaparkan secara rinci penggunaan dana yang telah dikelola, mulai dari alokasi anggaran, realisasi penggunaan dana, hingga sisa anggaran yang masih tersedia. Penyampaian dilakukan secara sistematis dan bergantian sesuai urutan departemen, sehingga seluruh peserta dapat memahami kondisi keuangan organisasi secara menyeluruh.

Usai seluruh bendahara departemen menyampaikan laporan keuangan, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pada sesi ini, para anggota diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, klarifikasi, maupun tanggapan terkait laporan dana yang telah dipaparkan. Sesi diskusi berlangsung secara terbuka dan interaktif, sebagai upaya membangun kepercayaan serta memperkuat prinsip akuntabilitas dalam organisasi.

Setelah rangkaian transparansi dana selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan Krisantif Form (Kritik dan Saran Aktif). Dalam sesi ini, dibacakan berbagai kritik, saran, dan masukan yang telah disampaikan oleh anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo Semarang kepada jajaran pengurus. Masukan tersebut menjadi bahan evaluasi bersama guna meningkatkan kinerja, komunikasi, serta tata kelola organisasi ke depannya.

Sebagai penutup, pengurus menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota yang telah berpartisipasi dan berkontribusi aktif dalam kegiatan ini. Kegiatan transparansi dana berlangsung dengan tertib, terbuka, dan penuh rasa tanggung jawab, serta diharapkan dapat memperkuat kepercayaan dan kebersamaan antara pengurus dan anggota CSSMoRA UIN Walisongo Semarang.

Loading

Aksi Peduli CSSMoRA UIN Walisongo: Berbagi Kasih Bersama Panti Asuhan dan Pesantren Yatim Tahfidhul Qur’an Al-Yasiroh

Departemen Pengembangan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M) CSSMoRA UIN Walisongo melaksanakan Aksi Peduli di Panti Asuhan dan Pesantren Yatim Tahfidhul Qur’an Al-Yasiroh, Gunungpati, Sabtu (20/12/2025).

Kegiatan ini merupakan kegiatan sosial yang betujuan untuk meningkatkan rasa kepedulian dan solidaritas generasi muda terhadap masyarakat yang membutuhkan, baik dari segi finansial maupun lainnya. Pada kesempatan kali ini, 14 orang anggota CSSMoRA UIN Walisongo hadir untuk membersamai anak-anak di Panti Asuhan dan Pesantren Yatim Al-Yasiroh, serta dihadiri oleh Bapak dan Ibu pengasuh panti.

Kegiatan dibuka dengan pembacaan al-Fatihah, kemudian dilanjut dengan sambutan dari pengasuh, H. Sutrisno dan koordinator departemen P3M, Muhammad Ais Nur Rizqi. Selanjutnya acara dilanjut dengan pembacaan Yasin dan Tahlil, serta doa bersama. Kemudian ditutup dengan pemberian sembako dan makan bersama.

Anggota yang hadir duduk melingkar bersama anak-anak panti. Membagikan sekotak makanan dan segelas minuman secara bergilir, berdoa, dan dilanjut dengan menyantap makanan yang telah tersaji. Tak hanya itu, mereka juga mengobrol dengan anak-anak dan menanyakan keseharian anak-anak, baik ketika di panti maupun di sekolah.

Selanjutnya, H. Sutrisno, selaku pengasuh panti menyampaikan terimakasih serta harapannya sebelum anggota CSSMoRA UIN Walisongo pamit undur diri.

“Terimakasih kepada CSSMoRA UIN Walisongo yang telah datang ke tempat kami. Kami terima semua pemberian untuk anak-anak kami. Semoga silaturahmi ini tidak berheti disini saja, tetapi juga untuk seterusnya. Semoga CSSMoRA UIN Walisongo terus bermanfaat untuk masyarakat dan semoga diperlancar semua urusannya,” ujarnya.

“Terimakasih juga pak, telah mengizinkan dan menerima kami disini. Saya harap, sedikit dari apa yang kami berikan dapat bermanfaatuntuk anak-anak yang ada disini,” balas Ais Nur Rizqi, koordinator P3M CSSMoRA UIN Walisongo.

Dengan senyuman yang indah, anak-anak juga turut mengucapkan terimakasih.

“Anak-anak senang kalian datang kesini. Adanya kalian disini dapat memotivasi mereka untuk terus belajar dan mencari ilmu,” tambah Hj. Rofi’atun, ibu pengasuh.

Satu per satu anggota berpamitan kepada bapak dan ibu pengasuh, serta anak-anak panti.

Dengan adanya kegiatan ini diharapkan agar generasi muda dapat terus menebar kebermanfaatan untuk sesama dan masyarakat sekitar.

Loading

Ada-Ada Saja

Karya; Arifin Faturohman

Desir hatiku berkata ada. Apa yang merasa. Kemudian bulu kudukmu terangkat dan merinding dibuatnya. Ialah angin saja; memberi kabar menerpa kulitku dan katakan ada. Meski tak nampak ia kasat mata. Mesti ada terasa melalui mata lainnya yang diam-diam memata-matai. Siapakah, gerangan yang bikin terperanjat perasa tak nampak? Nampaklah ia mengendap-endap di bagian-bagian terlupakan hari-hari. Sudah, ingin merinding saja meski angin tak ada…

Semarang, 2025

Loading

Krisis Fiqh Ekologi di Balik Bencana Sumatra

Banjir bandang yang hari ini melanda Sumatra bukan hanya menenggelamkan rumah dan jalan, tetapi juga menenggelamkan kesadaran kita. Musibah ini bukan sekadar “air kiriman”, bukan pula takdir yang turun begitu saja tanpa sebab. Di balik arus deras yang menyapu desa, ada arus kelalaian yang sudah lama menggerus akal sehat dan adab umat manusia kepada lingkungan, termasuk umat Islam di negeri ini. Ini sebenarnya teguran keras karena banyak hal yang tidak kita jaga dengan benar. Hari ini kita bisa lihat sendiri bagaimana kesadaran kita terhadap alam sudah hilang, padahal menjaga alam adalah bagian dari tugas kita sebagai manusia.

Segelintir dari kita malah sibuk menyalahkan cuaca ekstrem atau berkata, “Ini adalah ujian dari Allah.” Benar, setiap bencana adalah ujian. Banjir ini memang ujian, tetapi ujian dalam agama selalu membawa peringatan: apa yang telah kalian perbuat, wahai manusia?

Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa kerusakan di darat dan laut muncul “karena ulah tangan manusia”:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Ar-Rum: 41)

Artinya, manusia bukan hanya objek bencana, tetapi juga bisa menjadi penyebabnya.

Di sinilah letak krisis kita: fiqh ekologi yang sekarat dalam praktiknya.

Fiqh Ekologi yang Tidak Lagi Menyentuh Tanah

Kita sebenarnya tahu bahwa Allah memerintahkan makhluk-Nya untuk tidak berbuat kerusakan di muka, لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ. Kita lupa bahwa memelihara bumi juga merupakan amanah bagi kita sebagai khalīfah fil-arḍh. Tanpa lingkungan yang sehat, ibadah dan kehidupan sosial pun akan terancam. Lalu mengapa ayat dan hadis tentang menjaga alam tidak tercermin dalam kebijakan dan keputusan pembangunan masa kini?

Hutan di hulu DAS ditebang tanpa henti, bukit digerus alat berat, sungai dipaksa menelan limbah, dan tanah kehilangan daya serapnya. Ketika akhirnya datang banjir bandang, masyarakat kecil yang tidak pernah menyentuh izin tambang justru menjadi korban pertama.

Pertanyaannya sederhana tetapi menampar kita:
Jika syariat memerintahkan manusia menjaga lingkungan, di manakah fiqh ekologi kita ketika izin-izin tambang diteken dan pohon-pohon terakhir di hulu hilang?

Kita tidak menunjuk siapa pun secara khusus, tetapi kita semua tahu bahwa kerusakan ekosistem tidak terjadi dalam satu malam dan tidak mungkin dilakukan oleh masyarakat biasa.

Jadi Sebenarnya Ini Bencana Alam atau Bencana Moral?

Saking seringnya terjadi bencana di negeri ini, kita jadinya menormalisasi tragedi sebagai “bencana alam”, padahal sebagian besar adalah bencana moral hasil pilihan manusia yang lebih mengutamakan keuntungan jangka pendek daripada kelangsungan hidup jangka panjang.

Dalam agama kita, ada konsep amanah dan tanggung jawab bersama. Tapi ketika tambang dibuka seluas-luasnya seolah alam ini tidak pernah lelah, ketika pengawasan sekadar formalitas semata, dan hutan dihitung hanya sebagai angka dalam laporan ekonomi, amanah itu perlahan hilang. Bukan karena kita tidak paham, hanya saja tampaknya kepentingan lain terasa lebih menguntungkan daripada menjaga bumi yang kita pijak sendiri.

Di titik ini, fiqh ekologi bukan sekadar krisis teori, tetapi krisis moral.

Ketika Korban Bukan Pelaku

Tragedi Sumatra memperlihatkan satu kenyataan pahit bahwa mereka yang mengalami kerusakan rumah, keluarga yang hilang, dan bahkan harapan mereka untuk hidup sangat kecil, bukanlah orang-orang yang merusak hutan. Tetapi mereka selalu menjadi pihak yang paling cepat diminta bersabar, paling sering dinasihati, dan tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

Di manakah keadilan ekologis yang selama ini kita banggakan dalam ajaran Islam?

Keadilan bukan hanya tentang menghukum pelaku, tetapi juga mencegah segala hal yang menghasilkan kerusakan sejak awal.

Menghidupkan Kembali Fiqh Ekologi yang Pernah Kita Kubur

Fiqh ekologi sebenarnya bukan konsep yang rumit. Ia hanyalah cara pandang yang mengingatkan kita bahwa ketika membangun, membuat kebijakan, atau mengambil sumber daya alam, kita tidak boleh lupa bahwa bumi ini bukan sekadar aset ekonomi, terutama bagi sekelompok manusia yang tidak pernah kenyang mengeruk sumber daya alam di negeri ini. Alam ini adalah amanah dari Allah untuk kita. Tempat kita hidup, tumbuh, dan kembali.

Tragedi Sumatra mestinya membuat kita sebagai umat Islam berhenti sejenak, merenung, dan saling bertanya:

  • Apakah fiqh ekologi sudah menjadi dasar dalam keputusan-keputusan besar terhadap lingkungan?
  • Apakah pembangunan yang dibangga-banggakan sekarang ini ikut menjaga ciptaan Allah, atau justru merusaknya?
  • Dan apakah ajaran ini selama ini hanya kita biarkan jadi tulisan tanpa wujud tindakan?

Fiqh ekologi hanya akan hidup ketika ia dijadikan dasar tindakan, bukan sekadar teks indah yang berulang dibacakan setiap kali bencana telah terjadi.

Saatnya Mendengar Teriakan Alam

Banjir bandang di Sumatra menjadi pengingat yang tidak bisa diabaikan. Jika fiqh ekologi tidak kita hidupkan kembali, kita akan terus mengulang kesalahan yang sama. Islam mengajarkan kita membaca ayat, baik yang tertulis maupun yang hadir dalam peristiwa. Dan mungkin, lewat bencana ini, alam sedang menyampaikan sesuatu kepada mereka yang selama ini menutup mata dan telinga dari jeritan bumi.

Saatnya kita menghidupkan kembali fiqh ekologi yang selama ini dikubur dengan sengaja. Karena menjaga bumi adalah bagian dari ibadah.

Pray for Sumatra

Mari kita sisipkan doa dan sisihkan harta untuk saudara-saudara kita di Sumatra.

Semoga mereka diberi kekuatan menghadapi ujian ini, dan semoga siapa pun yang pernah merusak alam dilembutkan hatinya, dikembalikan menjadi manusia yang lebih baik, lebih peduli, dan lebih amanah terhadap bumi yang Allah titipkan kepada kita.

Writter by : Zahwa Kamila

Loading

KUNJUNGAN INDUSTRI CSSMoRA UIN WALISONGO SEMARANG PT.Marimas Putra Kencana

Pada hari Jumat, 19 Desember 2025, telah dilaksanakan kegiatan Kunjungan Industri CSSMoRA UIN Walisongo Semarang ke PT. Marimas Putra Kencana. Kegiatan ini diinisiasi oleh Departemen Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo Semarang sebagai agenda edukatif yang bertujuan untuk menambah wawasan anggota mengenai dunia industri, khususnya industri makanan dan minuman, sekaligus sebagai kegiatan rekreatif bersama menjelang masa liburan semester ganjil.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan serta pengenalan perusahaan oleh pihak PT. Marimas Putra Kencana. Dalam sesi ini, peserta mendapatkan penjelasan umum mengenai profil perusahaan, sejarah berdirinya PT. Marimas, visi dan misi perusahaan, serta gambaran proses produksi dan standar mutu yang diterapkan dalam setiap produk yang dihasilkan.

Setelah sesi pengenalan, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan langsung ke area pabrik. Para peserta diajak melihat secara langsung proses produksi berbagai produk PT. Marimas Putra Kencana, mulai dari tahap pengolahan bahan baku, proses produksi, pengemasan, hingga distribusi produk. Peserta juga mendapatkan penjelasan terkait penerapan standar kebersihan, keamanan pangan, serta sistem kerja yang diterapkan di lingkungan pabrik.

Usai kunjungan ke area produksi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi mencicipi (icip-icip) produk baru dari PT. Marimas Putra Kencana. Sesi ini disambut antusias oleh peserta dan menjadi salah satu bagian yang menarik karena memberikan pengalaman langsung dalam mengenal inovasi produk perusahaan. Selanjutnya, kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama sebagai bentuk dokumentasi, serta dilanjutkan dengan kesempatan bagi peserta untuk berbelanja berbagai produk PT. Marimas Putra Kencana di store penjualan yang tersedia.

Secara keseluruhan, kegiatan kunjungan industri ini berlangsung dengan lancar, tertib, dan penuh antusiasme. Kegiatan ini memberikan pengalaman baru yang berharga bagi anggota CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, baik dalam menambah wawasan tentang dunia industri maupun mempererat kebersamaan antaranggota dalam suasana yang edukatif dan rekreatif.

Loading

Divisi Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo adakan Kunjungan ke Suara Merdeka

Pada hari Selasa, tanggal 16 Desember 2025, bertempat di Kantor Suara Merdeka Semarang, telah dilaksanakan kegiatan kunjungan oleh anggota CSSMoRA UIN Walisongo Semarang yang terdiri dari Kru Majalah Zenith serta anggota CSSMoRA lainnya. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari upaya pengembangan wawasan dan kapasitas anggota, khususnya dalam bidang jurnalistik, kepenulisan, dan pengelolaan media.

Kegiatan kunjungan diawali dengan sambutan dan penerimaan dari pihak Suara Merdeka, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai sejarah berdirinya Suara Merdeka sebagai salah satu media cetak terbesar dan berpengaruh di Jawa Tengah. Dalam pemaparan tersebut dijelaskan pula perjalanan Suara Merdeka dalam menghadapi dinamika dunia pers, mulai dari media cetak hingga adaptasi di era digital.

Selanjutnya, peserta mendapatkan penjelasan mengenai proses penerbitan berita di Suara Merdeka, mulai dari tahapan pencarian isu, peliputan di lapangan, penulisan berita, proses penyuntingan (editing), hingga berita tersebut layak untuk diterbitkan. Tidak hanya itu, peserta juga diberikan edukasi terkait teknik menulis berita yang baik dan benar, penentuan sudut pandang (angle), penyusunan lead, serta perbedaan karakter penulisan antara berita dan majalah.

Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung secara aktif dan interaktif. Para peserta antusias mengajukan pertanyaan seputar dunia jurnalistik, tantangan media massa saat ini, etika pemberitaan, serta tips dan strategi dalam mengembangkan media mahasiswa agar tetap relevan dan berkualitas. Pihak Suara Merdeka memberikan tanggapan dan penjelasan secara terbuka serta komunikatif, sehingga suasana diskusi berjalan hidup dan edukatif.

Secara keseluruhan, kegiatan kunjungan ini berlangsung dengan lancar dan memberikan pengalaman serta wawasan yang berharga bagi anggota CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, khususnya Kru Majalah Zenith, dalam memahami praktik jurnalistik secara langsung di lingkungan media profesional.

 

Loading

Banjir dan Longsor Sumatera: Bukan Sekedar Bencana Alam!

Banjir bandang dan tanah longsor tengah melanda berbagai wilayah di Sumatera. Air datang tiba-tiba, tanah runtuh tanpa aba-aba, rumah rusak, lahan pertanian hilang, dan aktivitas pendidikan terganggu. Dalam situasi seperti ini, kita sering menyebutnya sebagai bencana alam—sebuah istilah yang terdengar wajar, namun kita jarang merenungkannya lebih dalam.

Padahal, di balik setiap bencana, selalu ada pertanyaan penting:

mengapa bencana ini terus berulang, bahkan semakin parah?

Apakah semata karena hujan yang terlalu deras, atau ada faktor lain yang ikut berperan?

Bukan Sekadar Soal Nama

Dalam aturan negara, bencana alam didefinisikan sebagai peristiwa yang disebabkan oleh faktor-faktor alam, seperti hujan ekstrem, gempa bumi, atau letusan gunung api. Dari definisi ini, banjir dan longsor memang tampak sebagai bagian dari risiko alamiah wilayah Indonesia, termasuk Sumatera.

Namun, perkembangan ilmu lingkungan menunjukkan bahwa alam tidak pernah bekerja sendirian. Cara manusia mengelola hutan, tanah, dan sungai sangat menentukan apakah turunnya hujan merupakan sebuah “rahmat” atau justru sebuah “laknat”.

Di sinilah muncul istilah “bencana ekologi”. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan bencana yang terjadi karena alam kehilangan keseimbangannya akibat aktivitas manusia. Alam tetap berperan sebagaimana mestinya, tetapi manusia telah mengubah kondisi lingkungan sedemikian rupa sehingga bencana menjadi lebih mudah terjadi dan dampaknya jauh lebih besar.

Dengan kata lain, bencana ekologi bukan berarti alam yang “bersalah”, melainkan

alam dipaksa menanggung akibat dari tindakan manusia yang salah.

Sumatera dan Lingkungan yang Kian Rentan

Sumatera sejatinya dianugerahi hutan yang luas dan subur. Selama ratusan tahun, bahkan mungkin ribuan tahun, hutan-hutan ini berfungsi sebagai penjaga air dan tanah. Ketika hujan turun, hutan menyerap air, menahannya, lalu melepaskannya perlahan ke sungai.

 

Namun, dalam beberapa dekade terakhir, banyak kawasan hutan di Sumatera beralih fungsi. Pembukaan lahan untuk perkebunan, pertambangan, dan permukiman membuat tutupan hutan berkurang drastis. Lereng-lereng yang dahulu hijau kini menjadi terbuka, dan daerah resapan air semakin menyempit.

Para ahli sering menyebut hutan sebagai “spons alami”. Ketika spons ini hilang, air hujan tidak lagi terserap, tetapi langsung mengalir deras di permukaan. Sungai cepat meluap, tanah menjadi rapuh, dan longsor pun mudah terjadi. Dalam kondisi lingkungan seperti ini, hujan yang seharusnya biasa saja (bahkan suatu keberkahan) bisa berubah menjadi ancaman datangnya bencana.

Apa Kata Para Ahli?

Pandangan ini bukan sekadar asumsi. Emil Salim, pakar lingkungan hidup Indonesia, menyebut bahwa banyak bencana di negeri ini sebenarnya adalah bencana akibat ulah manusia. Alam hanya bereaksi atas kerusakan yang diciptakan manusia sendiri.

Hal serupa disampaikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dalam berbagai pernyataannya, BNPB menegaskan bahwa sebagian besar bencana di Indonesia saat ini adalah bencana hidrometeorologi—seperti banjir dan longsor—yang sangat dipengaruhi oleh kerusakan lingkungan, terutama hutan dan daerah aliran sungai.

Prof. Dwikorita Karnawati, pakar geologi dan Kepala BMKG, juga menjelaskan bahwa longsor sangat berkaitan dengan hilangnya vegetasi di lereng. Menurutnya, hujan deras hanyalah pemicu. Tanpa kerusakan lingkungan, hujan tidak melulu menjadi bencana.

Sementara itu, WALHI secara konsisten mengingatkan bahwa banjir bandang dan longsor di Sumatera berkaitan erat dengan deforestasi, tata ruang yang buruk, serta eksploitasi alam yang berlebihan. Banyak wilayah terdampak parah justru berada di kawasan yang sebelumnya mengalami kerusakan hutan besar-besaran.

Semua pandangan ini mengarah pada satu kesimpulan:

bencana tidak datang tiba-tiba, melainkan tumbuh dari proses panjang yang kita abaikan.

Menimbang Status: Alam, Ekologi, dan Tanggung Jawab

Dalam membahas banjir dan longsor, kita perlu jujur bahwa faktor alam memang ada. Sumatera memiliki curah hujan tinggi dan wilayah berbukit. Hujan deras adalah bagian dari siklus alam yang tidak bisa kita kendalikan. Namun, hujan seperti ini sudah ada sejak dulu, dan tidak selalu berujung pada bencana besar.

Masalahnya muncul ketika lingkungan tidak lagi mampu menahan beban alam. Hutan berkurang, sungai rusak, dan tanah kehilangan kekuatannya. Dalam kondisi ini, air hujan kehilangan tempat untuk meresap dan mengalir dengan aman. Ia berubah menjadi aliran deras yang merusak, sementara tanah yang rapuh menjadi mudah runtuh.

Jika kita bandingkan, faktor alam bersifat tetap dan tidak bisa diubah. Sebaliknya, kondisi lingkungan sepenuhnya berada dalam kendali manusia.

Ketika kerusakan lingkungan menjadi penentu utama besarnya dampak bencana, maka menyebutnya sebagai bencana alam semata menjadi kurang tepat.

Lebih adil jika kita menyebut banjir bandang dan longsor di Sumatera sebagai bencana ekologi yang dipicu oleh hujan deras.

Cara kita menyebut bencana ini penting, karena ini akan menentukan cara kita bersikap. Jika semua dianggap sebagai kehendak alam, kita cenderung pasrah. Namun, jika kita sadar bahwa bencana juga lahir dari sikap manusia, maka ada tanggung jawab dalam diri kita untuk berbenah.

Penutup: Amanah Ilmu dan Kesadaran Bersama

Bagi mahasiswa dan santri, bencana bukan sekadar peristiwa alam, tetapi juga peringatan moral. Dalam ajaran Islam, manusia diberi amanah sebagai penjaga bumi (waliyyullah fil ardhli). Merusak lingkungan berarti mengkhianati amanah tersebut.

Kesalehan hari ini tidak cukup hanya ditunjukkan dalam ibadah personal, tetapi juga dalam cara kita memperlakukan alam. Menjaga lingkungan adalah bagian dari menjaga kehidupan, dan menjaga kehidupan adalah inti dari nilai kemanusiaan dan keimanan.

Jika relasi manusia dengan alam tidak segera dibenahi, banjir dan longsor akan terus berulang. Namun, jika kita mulai belajar dari bencana, memperbaiki kebijakan, dan membangun kesadaran bersama,

alam akan kembali menjadi “sahabat”, bukan “alat peringatan darurat”.

 

Written by : Ahmad Misbakhus Surur

 

Loading

Peduli Sesama, Departemen P3M CSSMoRA UIN Walisongo Gelar Penggalangan Dana untuk Korban Erupsi Gunung Semeru dan Bencana Banjir di Sumatera

Semarang, 30 November 2025 – Dalam rangka membantu korban erupsi gunung Semeru di Lumajang dan bencana banjir bandang yang melanda beberapa wilayah Sumatera, Departemen P3M CSSMoRA UIN Walisongo menyelenggarakan kegiatan penggalangan dana pada hari Minggu, 30 November 2025 di beberapa titik keramaian di Kota Semarang yakni sekitar bundaran Kalibanteng.

Kegiatan ini, yang selanjutnya disebut dengan ‘open donasi’ digagas sebagai bentuk nyata kepedulian kami terhadap warga terdampak yang mengalami kesulitan akibat kehilangan tempat tinggal dan bahkan terbatasnya akses terhadap kebutuhan pokok.

Sebelum aksi berlangsung, Kepala Departemen P3M, M. Ais Nur Rizqi memberikan pengarahan kepada semua relawan aksi open donasi mengenai metode dan pembagian tim untuk beberapa titik. “Dari 26 orang, akan kami bagi menjadi 4 titik. Masing masing titik tersebut yakni Jalan Siliwangi, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan MGR Sugiyopranoto, dan Jalan Walisongo,” ujarnya.

Tak hanya itu, Ketua Umum CSSMoRA UIN Walisongo, Asyraf Zofir Wafa yang turut hadir dan membersamai aksi ini menambahkan bahwa keselamatan anggota juga tidak kalah penting mengingat jalan-jalan tersebut merupakan titik keramaian di kota Semarang. Ia menekankan untuk selalu berhati-hati saat melakukan aksi.

Aksi open donasi dimulai pada pukul 14.00 WIB, diawali dengan apel dan koordinasi di Museum Ranggawarsita di sekitaran bundaran Kalibanteng. Kemudian setiap tim bergerak menuju titik pembagian masing masing dengan membawa kotak donasi, poster peduli sesama, dan juga lembaran kode QRIS untuk memfasilitasi warga yang ingin berdonasi secara cassless atau non-tunai.

Upaya penggalangan dana yang dilakukan pada sore hari itu menghasilkan respon posituf dari warga sekitar. Banyak pengendara yang memberikan dukungan dan menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu saudara-saudara yang tertimpa musibah. Hasil aksi turun ke jalan ini berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 5.138.900, ditambah donasi melalui QRIS sebesar Rp 834.614.

Selanjutnya, per hari Rabu, 3 Desember 2025 terdapat beberapa pemasukan tambahan dari teman-teman CSSMoRA MA (Ma’had Aly) Pati dan MAKJ (Ma’had Aly Kebon Jambu) sehingga dana total mencapai Rp 10.050.000. Dengan total akhir tersebut, aksi open donasi resmi ditutup agar dana yang terkumpul dapat segera dimanfaatkan kepada yang membutuhkan.

Seluruh dana yang terkumpul nantinya akan diserahkan kepada Yayasan Dompet Dhuafa untuk wilayah Lumajang, Duta Damai Regional Sumatera Barat, dan Gerakan Peduli Sumatera untuk wilayah Aceh dan Sumatera Utara yang saat ini berada di dekat lokasi bencana untuk memastikan bantuan diterima secara langsung oleh masyarakat terdampak. Tim penyalur tersebut akan mengonfirmasi dan memberikan laporan dokumentasi setelah bantuan disalurkan.

Dengan adanya kegiatan open donasi ini, diharapkan semakin banyak pihak yang tergerak untuk turut membantu sesama dan memperkuat solidaritas kemanusiaan bagi masyarakat terdampak bencana.

Loading

CSSMoRA LEARNING SESSION

Pada hari Sabtu, 29 November 2025, bertempat di Teater FSH UIN Walisongo Semarang, telah dilaksanakan kegiatan CSSMoRA Learning Session sebagai agenda pengenalan dan pelatihan bagi anggota CSSMoRA UIN Walisongo Semarang dalam memahami dasar-dasar pasar modal. Kegiatan ini mengusung tema “Fundamental Pasar Modal: Cara Memulai, Mengelola Risiko, dan Menghindari Kesalahan Umum.”

Acara diawali dengan dengan pembukaan, dan dalam  sambutan yang disampaikan  oleh Ketua Umum CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, Asyraf Zofir Wafa, yang dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa kegiatan ini penting agar anggota memiliki pemahaman yang tepat mengenai investasi dan pengelolaan risiko. Ia menegaskan bahwa “Di era sekarang, kita selalu berhadapan dengan inflasi. Karena itu, memahami investasi bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Harapannya, kegiatan ini dapat membuka wawasan teman-teman untuk lebih siap dalam mengelola keuangan dan mengambil keputusan yang cerdas di pasar modal.” Ujarnya.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan pada sesi inti yaitu penyampaian materi oleh Viola Wulan Azzahro, anggota CSSMoRA UIN Walisongo Semarang yang berprestasi dalam berbagai kompetisi di bidang pasar modal. Sebagai pembuka, Viola terlebih dahulu menyampaikan contoh nyata mengenai inflasi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari kenaikan harga barang – barang, perubahan nilai tukar, hingga dampaknya terhadap daya beli masyarakat. Dari contoh tersebut, ia menekankan bahwa ketidakstabilan ekonomi menjadikan literasi investasi semakin penting bagi generasi muda.

Kemudian materi dilanjutkan dengan menjelaskan konsep dasar pasar modal, jenis-jenis instrumen investasi, serta langkah-langkah praktis untuk mulai berinvestasi secara aman. Ia juga menguraikan berbagai strategi pengelolaan risiko, seperti diversifikasi portofolio, mengenali profil risiko investor, serta pentingnya berpikir jangka panjang. Selain itu, peserta diberikan pemahaman mengenai kesalahan-kesalahan umum investor pemula seperti ikut-ikutan tren tanpa analisis, hingga keliru membaca pergerakan pasar. Penjelasan tersebut diperkaya dengan contoh studi kasus sederhana agar peserta lebih mudah memahami alur berpikir dalam pengambilan keputusan investasi.

Kegiatan diakhiri dengan penegasan kembali poin-poin penting mengenai literasi keuangan di kalangan mahasiswa dan dorongan agar anggota CSSMoRA lebih bijak serta siap dalam mengambil keputusan investasi di masa mendatang. Secara keseluruhan, acara berlangsung dengan lancar, komunikatif, dan memberikan wawasan baru yang bermanfaat bagi seluruh peserta.

Loading

Aspek penting Sirah Nabawiyyah yang jarang disentuh: benarkah Rasulullah hidup dalam kemiskinan? Fakta Penelitian Menguak Total Kekayaan Beliau Setara Rp 1,41 Triliun

Aspek penting Sirah Nabawiyyah yang jarang disentuh: benarkah Rasulullah hidup dalam kemiskinan? Fakta Penelitian Menguak Total Kekayaan Beliau Setara Rp 1,41 Triliun

Ahmad bin Ali al-Maqrizi (w. 845 H) dan Dr. Abdul Fattah Samman mencatat dengan rinci aset kekayaan Rasulullah dalam karya mereka yang berjilid-jilid.

Dari penelitian itu tampak jelas satu pesan besar, Beliau Nabi Muhammad adalah hartawan yang zuhud. Dan zuhud, sebagaimana diajarkan Rasulullah, tidak identik dengan kemiskinan, tetapi kebebasan hati dari ketergantungan pada harta.

Selama ini, kisah hidup Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallamseringkali diceritakan dengan penekanan pada kesederhanaan, bahkan kemiskinan. Namun, sebuah kajian keilmuan mendalam telah menyingkap fakta yang mengejutkan, sekaligus meluruskan pemahaman kita tentang konsep zuhud yang sebenarnya.

Dalam sebuah disertasi yang luar biasa, Dr. Abdul Fattah As-Samman mengangkat sebuah ilmu yang ia sebut al-iqtishad an-nabawi (ekonomi Nabi). Karya ini kemudian dibukukan menjadi Kitab Amwalun Nabi setebal 560 halaman.

Berdasarkan penelitian tersebut, yang menyimpulkan dari berbagai nash, dalil, dan bukti otentik yang dihimpun dari kitab-kitab “kuning” para ulama, terungkap sebuah kesimpulan yang tegas: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah seorang yang kaya raya

Kajian tersebut mengakhiri studinya dengan perhitungan bahwa nilai kekayaan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dari hasil usaha beliau totalnya mencapai angka fantastis: 1217 kg emas.

Sumber penghasilan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam datang dari jalur yang beragam, Penghasilan utama beliau diperoleh melalui jalur bisnis karena beliau adalah seorang pedagang yang ulung, dari warisan yang diterima dari kedua orang tua dan dari Khadijah, dari berbagai hasil rampasan perang, serta berbagai hadiah dari raja-raja maupun dari para sahabat dan lainnya.

Selain itu, harta beliau juga berupa tanah yang tersebar di berbagai tempat, seperti tanah Sab’ah (hadiah dari Mukhairiq), tanah dari Bani Nadhir, benteng Khaibar, separuh dari tanah Fadak, dan sepertiga dari Wadil Qura. Beliau juga memiliki barang-barang pribadi seperti pedang, baju besi, busur, anak panah, dan tameng.

Lantas, mengapa kita sering mendengar beliau hidup sederhana? Jawabannya terletak pada konsep zuhud. Data ekonomi kenabian menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.memang kaya raya, tetapi kekayaan itu tidak berdiam lama di tangannya

Fakta mencengangkan lainnya dari diri nabi muhammad ialah infaq beliau nilainya lebih dari 1251 kg emas. Beliau juga tercatat mewakafkan lima belas lahan tanah yang nilai masing-masingnya lebih dari 25 kg emas.

Penulis kitab Amwalun Nabi menjelaskan kaidah beliau dalam berinfaq yaitu untuk diri sendiri, istri dan keluarga, orang-orang yang menjadi tanggungan, mantan budak, pembantu, sahabat, tamu, hingga para muallaf dan bahkan orang-orang musyrik.

Inilah yang menjadi pesan utama dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bukanlah seorang yang miskin. Beliau adalah hartawan yang zuhud. Kajian ini mampu memberikan materi tambahan nilai berkenaan dengan persoalan-persoalan mendasar, seperti masalah aqidah, sirah nabawiyah, hadits, maupun pemikiran dakwah yang kesemuanya disandarkan kepada dalil-dalil yang shahih dan sirah yang otentik.

Kekayaan yang beliau miliki adalah alat, bukan tujuan, sehingga beliau selalu bebas dari ketergantungan terhadap harta. Inilah definisi sempurna dari zuhud. Kebenaran ini ditegaskan oleh qaul sekian banyak ulama umat, seperti Imam Taqiyuddin As-Subki, Imam Al-Hafizh Tajuddin As-Subki, Imam An-Nasafi, hingga Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaili.

Loading