DUNIA CERITA

Karya: Ahmad Agil Tsabata (CSSMoRA UIN Walisongo 2021)

 

Haruskah aku kembali,

memasuki dunia yang awalnya hanya milikku?

Aku dilahirkan oleh seorang pengarang yang masa keemasannya sudah berlalu, tertinggal dalam masa dan tempat yang ia sendiri tidak tahu. Seperti roda yang berjalan terus dan bekasnya suatu saat bisa terhapus oleh hujan dan angin, begitu jugalah nama ayah akhirnya hilang dari dunia kepengarangan, terhapus oleh perjalanan waktu. Masa lalu mengisahkan bagaimana ia menjadi guru bagi pengarang yang lahir sesudahnya. Gaungnya terdengar ke segalapenjuru, membuat bibir pendengarnya berdecak dan mengeluarkan puji sanjungan. Dialah ayahku, lebih tepatnya ayah penaku, yang melahirkan aku.

Kisahku dahulu kala  dimulai ketika ayah pindah ke tempat tinggal yang baru. Kesulitan-kesulitan datang terus menerus seperti hujan mengguyur tanah gersang, menjadikannya lumpur yang tidak semua orang bisa menginjaknya. Harta kekayaan yang dimiliki sudah habis untuk mengobati puteri satu-satunya, Ara, yang terkena penyakit lupus. Ara yang dulunya sehat mulai kurus kering, rambut yang menjadi mahkotanya satupersatu runtuh bagai daun kering jatuh dari tangkainya.Kegiatan mengarang yang tekun dilakoni ayah perlahan-lahan berkurang karena lebih sering menemani Ara di rumah sakit. Uang yang diperoleh dari hasil mengarang juga mulai habis. Vonis dokter tentang usia Ara membuat ayah tidak berfikir lain kecuali tentang kesembuhan. Buat apa jadi pengarang besar kalau tidak ada anak yang ikut merasakan? Dengan mengharap kesembuhan, ayah mengubah benda-benda dalam rumahnya menjadi uang. Kursi, lemari, meja, hingga pisau dapurpun ayah jual. Rumah tempat menyimpan banyak kenangan, yang dibangun oleh jerih payah pikiran dan ribuan goresan pena, akhirnya dijual juga.

Biaya yang mahal untuk membayar kematian Ara, puteri yang dicintainya.

Ayah meninggalkan rumah tepat dua jam setelah pemakaman Ara.Dia tidak ingin terlalu lama mengenang masa-masa ketika Aramasih hidup. Ayah meninggalkan kota yang telah membesarkan namanya sekaligus menghancurkan hidupnya. Bersama dengan istrinya, ayah sekarang tinggal di pinggiran kota P. Ada tempat sewa kost yang tidak terlalu menguras biaya. Ayah menyewa tempat ini dengan sisa uang penjualan rumah. Dan disinilah aku dilahirkan, dalam kamar kost berukuran tiga kali empat meter, lewat buah pikiran yang menetes berjalan ke ujung pena dan tergores di atas kertas, dalam buku bersampul merah.

___________ *** ___________

Dimanapun seorang pengarang tinggal, kehidupannya tidak akan jauh dari kertas dan pena, dari cerita dan legenda. Begitu pula dengan ayah. Kematian Ara tidak membuat ayah berhenti mengarang dan menggantung pena. Siang hari ayah kerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup pribadi dan istrinya, malam hari ayah menulis cerita. Mengarang, bagi ayah, adalah anggur yang sekali diminum akan membuat peminumnya ingin minum lagi. Mengarang memberikan ketenangan tersendiri yang hanya ayah dapat merasakannya tanpa orang lain dapat mengerti. Membuat ayah lebih hidup, membuat lupa akan sekelilingnya seperdelapan detik setelah mulai menggoreskan pena.

Aku, oleh ayah, digambarkan sebagai pemuda yang permukaannya terlihat teguh namun lemah dan keropos didalam. Dalam buku kecil ini aku hanya hidup seorang diri tanpa ada satupun orang dapat aku ajak bicara, bahkan untuk sekedar melihat aku, tak adaseorangpun. Aku dilahirkan bukan untuk menikmati hidup, melainkan untuk dinikmati oleh sekian banyak mata pembaca. Rumah yang aku tempati dalam dunia ini cukup luas, dengan hamparan rumput hijau sebagai halamannya. Pohon karet berjejer disebelah kanan rumah seperti deretan anak sekolah dasar saat mengikuti upacara bendera. Tidak ada burung yang berkicau saat aku bangun dari ranjang tempat tidur, juga tidak ada satupun serangga mengganggu, karena memang akulah satu-satunya hewan bergerak yang hidup di dunia ini, dunia cerita.

Ayahku, si pengarang itu, hendak menggambarkan keadaan hidupnya melalui aku. Kehidupan ayah yang hancur dikisahkan dalam cerita ini dengan aku sebagai tokoh utamanya. Sebuah kehidupan sunyi yang harus aku jalani tanpa sedikitpun aku bisa mengelak. Bahkan untuk diratapi, kehidupan ini sungguh sangat tidak layak. Apa yang dapat dilakukan oleh aku yang seperti ini, aku hanya sebuah goresan pena yang tindak-tanduknya diatur oleh si pengarang, oleh ayahku.

Sebulan lebih telah berlalu. Ayah yang kian hari kian bosan dengan hidupnya sendiri mulai menyudahi ceritaku. Di akhir cerita yang ditulis ayah, tetap aku hidup sendiri. Disodorkannya cerita ini pada ibu -istri ayah- yang kebetulan malam itu sedang duduk di tepi ranjang. Butuh dua hari bagi ibu untuk menuntaskan ceritaku. Cerita yang cukup panjang dan sangat tidak menyenangkan.

“Ceritamu ini, mas, apa tidak terlalu sunyi?” Samar-samar aku dengar perkataan ibu. Ayah mengatakan bahwa ceritaku adalah gambaran dari hidup yang dia rasakan. Kebahagiaannya terkikis sejak ditinggalkan Ara.

“Biarlah pemuda dalam cerita itu yang mewakili. Dengan melihat dia orang akan tahu bagaimana keadaanku.” Lanjut ayah. Aku sepenuhnya mengerti mengapa ayah perbuat ini. Ayah sudah tidak bisa kembali pada kehidupannya yang lalu, saat kebahagiaan mengalir deras menerpa dirinya.

Ayah kemudian menyerahkan duniaku pada ibu untuk dijaga dan dirawat. Bagai mendapat oasis ditengah gurun pasir, aku dirawat dengan penuh cinta kasih seperti merawat anak yang lahir dari rahim sendiri. Ruang dalam hati ibu yang sebelumnya ditempati Ara, kini aku tempati. Dari tangan ibulah aku mulai merasakan kebahagiaan. Tangan ibu dengan lincah memberikan warna dalam duniaku, dan terasa lebih berwarna dengan hadirnya seorang perempuan yang lahir dari buah pikiran ibu.

Pertemuanku dengan perempuan ini bermula ketika pada suatu siang dia datang berkunjung kerumah. Parasnya yang cantik mampu menahan arah pandangan mata, seolah aku tidak lagi dapat memfungsikannya dengan baik.Gaun coklat yang dia kenakan terlihat  cocok dengan warna kulitnya. Ah, sepertinya dia cocok dengan warna apa saja.Sempurna, kesan pertama yang terbersit dalam hati saat aku melihatnya. Matanya sebening embun, dan kebeningannya dijaga oleh bulu mata yang lentik dan tebal, melindunginya dari debu dan angin. Bukan berlebihan ungkapanku tentang dia, memang begitulah perawakannya. Permunculannya menampakkan bahwa dia adalah perempuan yang teguh dan kokoh, tapi sinar matanya berisyarat lain. Dari matanya aku pahami bahwa dia sedang mencari sesuatu yang aku tak mengerti. Matanya lebih banyak berkata daripada bibirnya. Dan tentang bentuk fisiknya yang lain tak perlu aku ceritakan panjang lebar disini. Agak sulit untuk mengatakannya. Kosa kata yang aku ketahui tidak cukup mewakili.Disinilah kemudian dia tinggal, di rumahku, dalam duniaku. Hanya berdua, seperti Adam dan Hawa pada awal permunculannya.

Belum ada akhir untuk hidup yang aku jalani karena ibu tidak sempat menuliskannya. Ibu lebih dulu meninggalkan aku dan ayah, kembali pada pencipta yang sebenarnya.

Dalam duniaku masih ada beberapa lembar kosong yang belum sempat diisi ibu, sementara ayah tidak juga menuliskan akhir untuk ceritaku karena hidupnya sudah sama sekali kosong. Kini ayah hanya tinggal sendiri. Anak dan istrinya sudah lebih dulu pergi menjalani kehidupan baru, sembari menanti untuk berkumpil kembali. Penantian yang akan terasa sangat lama mengingat usia kehidupan yang masih muda.

Ayah memilih untuk tidak menerbitkan ceritaku dan menyerahkan aku pada kenalannya sesama pengarang sambil menitip pesan, “Bacalah cerita ini, dan tuliskan untukku akhir cerita pada halaman-halaman kosong dibelakang. Jika kau tidak mau menuliskannya, berikan saja pada pengarang lain yang kau kenal dan sampaikan juga pesanku ini padanya.”

Begitulah aku berpindah dari satu tangan pengarang ke tangan pengarang yang lain. Entah sudah berapa tangan memegang duniaku, dan berapa pasang mata telah mengetahui kisahku. Dari tangan-tangan mereka aku peroleh sedikit demi sedikit kebahagiaan lain yang aku rasakan berbeda dari kebahagiaan yang didapat dari tangan ibu. Sekalipun berbeda, tetap itu aku rasakan sebagai karunia yang patut aku syukuri.

Tetap aku hanya tinggal berdua dengan si mata bening sekalipin beberapa tangan telah menambahkan warnabaru untukku. Hingga pada suatu ruang dan waktu yang tidak ku ketahui, aku berada di tangan pengarang yang sentuhan jarinya teramat kasar. Dia menambahkan satu tokoh dalam duniaku. Seorang pemuda yang perawakannya lebih tegap tiba-tiba hadir ditengah-tengah kami. Dari pengarang itu kemudian aku mengenal warna baru, hitam pekat. Warna itu lebih mendominasi duniaku. Warna yang sedikit demi sedikit mengikis kebahagiaan yang aku rasakan. Banyak halaman kosong dihabiskan oleh si pengarang untuk menceritakan orang baru ini. Orang yang tak pernah sekalipun aku undang dan datangnya tidak pernah aku harapkan.

Sebelum ceritaku benar benar berakhir dan sebelum halaman terakhir diisi dengan cerita yang mungkin tidak aku senangi, melalui sebuah celah kecil aku keluar dari dunia yang awalnya hanya aku seorang didalamnya. Dengan bekal seadanya dan dengan hati yang sudah tanpa isi, aku keluar menuju dunia yang benar-benar nyata, meninggalkan si mata bening dan orang baru itu. Dunia baru ini berbeda dengan dunia yang aku tempati sebelumnya. Banyak benda dan makhluk baru yang tidak pernah aku kenal. Pernah suatu ketika aku tidur di pinggir jalan dan tiba-tiba seonggok makhluk kecil bersayap mengganggu tidurku. Tanpa sedikitpun belas kasih, dengan perasaan terhina karena disakiti, makhluk kecil itupun aku lenyapkan. Belakangan aku ketahui kalau makhluk kecil itu disebut nyamuk dan memang biasa mengganggu orang tidur. Ah, dunia ini memang aneh. Tapi itu bukan masalah untukku, karena tujuanku disini hanya satu: melenyapkan ayah orang baru yang menyusup ke duniaku sebelum dia sempat menulis cerita di lembar terakhir.

Setelah beberapa hari mencari, dia -ayah orang baru itu- aku dapati sedang duduk di pinggiran taman kota. Pandangannya tertuju pada pohon palm yang berderet didepannya. Nampaknya dia tidak menyadari sedang aku amati. Dengan langkah pelan aku mendekatinya dari belakang. Dia tetap pada duduknya. Berbekal belati yang aku bawa dari duniaku sebelumnya, aku tusuk punggungnya dari belakang. Dada dan leher juga aku tusuk. Tiga tusukan yang membuat dia merengang nyawa seketika. Aku mendengar suara mengorok saat lehernya aku tusuk, darah muncrat dari tenggorokan dan membasahi tanganku. Baju yang aku pakai juga tak luput dari percikan darahnya. Tangan yang telah melahirkan orang baru itu kemudian aku potong dan aku lemparkan ke tengah jalan, tergilas oleh benda beroda delapan -aku tidak tahu namanya- yang kebetulan lewat. Hancur. Remuk.

Sekarang buku bersampul merah, yang sebelumnya adalah dunia tempat aku tinggal, telah berada ditanganku. Aku buka halaman terakhir, sudah terisi setengah. Aku tidak membaca tulisan diatasnya karena memang aku tidak suka. Ku lihat percikan darah juga mengenai halaman terakhir. Sekarang, apa yang harus aku tulis?

Loading

AKU CERDAS, AKU BODOH

Karya: Nadra Maharotul (CSSMoRA UIN Walisongo 2021)

 

(Bagian 1)

Aku adalah seorang mahasiswa yang sangat cerdas.

Bagaimana tidak? Aku merupakan lulusan pesantren yang sehari-harinya mengaji kitab klasik. Hafalan Al-Qur’an sudah kugenggam, bait-bait nazam pun sudah ada di luar kepala. Diriku terlihat cerdas sekali, apalagi jikalau dibandingkan dengan teman-teman yang ada di lingkungan perguruan tinggiku.

Aku adalah seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri Walisongo. Pelajaran- pelajaran yang diberikan oleh Dosen kepadaku rasanya sangatlah dangkal. Bagiku, itu hanyalah sekadar megnulang kembali pelajaran yang sudah kukuasai di pesantrenku sebelumnya.

Di saat teman-temanku memberikan presentasi terhadap sebuah materi keagamaan, aku pasti akan langsung menyeletuk dalam hati, “Bodoh sekali dia! Pelajaran semudah ini saja masih banyak salahnya.”

Ya. Mereka semua bodoh. Akulah yang paling cerdas.

Aku bicara begini bukan tanpa bukti. Karena setiap kali para Dosen memberi kami tugas, teman-temanku biasanya akan berulang kali memperbincangkan soal tugas tersebut di grup WhatsApp. Mereka mengeluh kesulitan, tugas yang diberikan tidak masuk akal, ini lah, itu lah, banyak bacot deh!

Berkebalikan dengan mereka, aku selalu dapat mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dengan sangat cepat. Tentu saja, aku tidak akan mengumbarkan soal kelihaianku dalam mengerjakan tugas di grup WhatsApp. Yang ada, nanti teman-temanku malah bertanya padaku terkait tugas mereka. Urus saja tugas kalian masing-masing, lah! Sudah mahasiswa kok masih manja. Belajar sendiri dong, kalau belum paham!

Pokoknya, aku pintar. Aku cerdas. Aku brilian.

Dan aku bangga bisa menjadi orang yang seperti ini.

(Bagian 2)

Aku adalah seorang mahasiswa yang sangat jauh dari kata cerdas.

Bagaimana tidak? Aku belum pernah seumur-umur mengenal apa itu kitab klasik. Tatkala Dosen memberikanku materi berbahasa Arab yang diambil dari kitab klasik, aku merasa pusing bukan main. Seakan aku bertanya, “Ini apa-apaan sih?”

Aku adalah seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri Walisongo. Pelajaran- pelajaran yang diberikan oleh Dosen kepadaku rasanya sangatlah sukar. Bagiku, semua itu rasanya mustahil untuk bisa dipelajari dan dikuasai.

Di saat teman-temanku memberikan presentasi terhadap sebuah materi keagamaan, aku pasti akan bertanya-tanya di dalam hati, “Kok mereka bisa paham sih, dengan pelajaran sulit seperti ini?”

Ya. Mereka semua terkesan sangat pintar.

Dan aku mungkin adalah yang paling bodoh di antara mereka.

Aku bicara begini bukan tanpa bukti. Karena setiap kali para Dosen memberi kami tugas, teman-temanku akan langsung mengerjakannya dengan cepat lantas mengumpulkan tugas mereka. Tidak ada satu pun dari mereka yang terlihat kesulitan. Ini tidak masuk akal!

Berkebalikan dengan mereka, aku sama sekali tidak kuasa untuk mengerjakan tugas yang diberikan. Berkali-kali aku minta diajarkan kembali oleh teman-temanku yang sudah paham, namun tetap saja rasanya sulit bagiku untuk mengerti.

Yang paling kesal, kalau sudah ada salah satu temanku yang berkata, “Kamu itu bodoh banget sih! Begini saja tidak bisa. Nggak cocok kamu kuliah di UIN!”

Pokoknya, aku merasa diriku sangat bodoh. Aku tak bisa apa-apa. Aku imbesil.

Dan aku terus berharap bahwa suatu saat nanti, aku bisa menguasai materi-materi yang diajarkan kepadaku.

Loading

MANTINI

Karya: Eko Setyawan (Juara 3 Lomba Cerpen dalam rangka Dies Natalis Ke-14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

Jika saja takdir dapat diubah, maka tentu saja kau berharap untuk tak terlahir cantik, Mantini. Kecantikan bagimu hanya akan mendatangkan bencana. Dari wajah yang segar itu, terpancar cahaya kematian. Kematian entah untuk apa dan tentu hal itu tak pernah kau inginkan. Kematian yang begitu menyeramkan dan seluruhnya bermuara padamu. Muara dari segala sungai yang mengalir.

Sungai itu tak henti-hentinya mengalirkan air matamu, Mantini. Sungai yang jernih dengan riak kecil disertai suara air yang lembut. Bukan hanya air mata semata, sungai itu juga dialiri darah yang didaras dari kecantikanmu. Keduanya berbaur dan bercampur. Air mata dan darah begitu amis kau hidu. Suaramu terdengar sendu dan menyayat. Kidung Aja Geger kau tembangkan dengan harapan tiada lagi darah yang mengucur.

Kidung itu mengalun menyelimuti Alas Bangsri yang penuh dengan rimbun pohon. Kedamaian hidup terhampar. Namun di sana pula aroma kebencian dan kematian terus saja menguar. Kebencian itu begitu nyata, Mantini. Bersumber padamu. Semula seluruhnya biasa saja. Saban pagi, burung-burung masih meninggalkan sarangnya yang hangat. Kicauan yang saling bersahutan itu menandakan bahwa hutan itu masih asri. Matahari yang baru saja menampakkan dirinya juga mengiringi suara-suara itu.

Bunga-bunga berlomba untuk mekar. Embun membasahi seluruh lapisan daun, bunga, maupun rerumputan. Pagi yang begitu menyenangkan. Sebuah pagi dibalut dengan hawa dingin menyelimuti tubuhmu. Seolah memelukmu erat dan sesekali membuatmu bergidik. Udara dingin dan alam yang menyambut kebangkitanmu dari tapa atau barangkali tidurmu yang panjang. Kau terlahir dari rahim entah siapa, tapi orang-orang mengatakan bahwa kau adalah jelmaan Uma. Kau telah lahir, Mantini.

Tapi tak lama kemudian kau menyadari bahwa tak jauh dari tempatmu, amis darah tak henti-hentinya menusuk hidung. Darah dari dua jejaka yang mati karena saling mengalahkan. Dua jejaka yang saling beradu kuat untuk mendapatkanmu. Dan tentu kau tahu, mereka hanya berakhir dengan mengenaskan. Mereka mati tanpa memperoleh apa-apa.

Peristiwa yang selalu berulang di setiap paginya itu membuatmu tak nyaman. Dua orang mati dan nyawa mereka melayang sia-sia. Selalu saja ada mayat-mayat baru karenamu. Berduel demi menyuntingmu. Kau menyadari bahwa kecantikanmulah kematian-kematian itu berasal. Kau menyadari sepenuhnya karena warga berkasak-kusuk akan hal itu. Tapi siapa berani menganggu jelmaan Uma?

Warga menyematkan julukan itu padamu, Mantini. Dan sialnya, mereka semua mempercayai sepenuhnya. Seorang bayi mungil yang ditemukan di tepi Kali Bacin oleh Nyai Sumi tak lain adalah titisan Uma. Kepercayaan mereka atas apa yang dilakukan bermula ketika kali yang semua beraroma busuk karena saban hari digunakan untuk mandi para kerbau itu tiba-tiba menguarkan aroma wangi. Sihir mana yang bisa melakukan hal itu dalam sekejap jika bukan berasal dari jelmaan Uma, sang permaisuri Siwa?

Wajahmu saat itu memancarkan aura kebahagiaan. Kau juga sumber kebahagian Nyai Sumi. Ia janda yang hidup seorang diri dan tak punya anak seperti tertimpa rezeki dari langit. Bermula dari menemukanmu, sejak saat itulah simpul senyum di bibirnya tak pernah berubah. Saban hari, kebahagiaan selalu menyelimutinya. Kau hidup di tengah kebahagiaan dan kebahagiaan itu bersumber padamu.

Kau dibesarkan dengan cinta yang menyelimutimu. Cinta yang besar dari seorang perempuan yang berhati besar. Hari berganti hari dengan kebahagian yang terus menyusul. Tak ada yang dapat memadamkan cinta Nyai Sumi padamu. Kau dibesarkan dengan senyuman.

“Ini Mantini, anakku,” kata Nyai Sumi pada warga ketika warga berebut untuk menggendongmu. “Dewi Uma yang mengantarkannya untukku. Untuk menemani kesepianku,” lanjutnya dengan senyum bahagia.

Kerumunan warga mengangguk menyetujuinya. Di gendongan Nyai Sumi, wajahmu memancarkan cahaya. Warga pun turut bahagia memandangmu. Wajah yang kelak akan menyihir siapa pun yang melihatnya. Warga juga silih berganti berebut untuk dapat mengendongmu. Bukankah saat itu kau bisa merasakan detak jantung mereka, Mantini? Detak jantung yang begitu cepat dan berakhir dengan kebahagiaan. Bahagia karena dapat memelukmu dengan selembut-lembutnya.

Kecantikanmu tumbuh seiring kau beranjak dewasa. Kau sekarang jadi perawan seperti bunga yang mekar. Mekar begitu sempurna. Sebenarnya bersumber dari manakah kecantikanmu, Mantini?

“Kau begitu cantik, Nduk.” Nyai Sumi tak henti-hentinya memujimu. Pujian itu terlontar ketika saban sore ia menyisir rambutmu. Menyisir dengan hati-hati agar tak satu pun rambut lepas. Setelah itu ia mengelus rambutmu dengan begitu lembut.

Tapi siapa menyangka bahwa kecantikanmu adalah sumber utama dari kematian para jejaka yang saling beradu untuk memperebutkanmu. Di suatu pagi, ditemukan dua jejaka mati bersimbah darah. Mereka terkapar di jalan yang membelah Alas Bangsri di mana jalan itu adalah jalan menuju rumah Nyai Sumi. Diketahui bahwa mereka bertaruh dan bertarung agar dapat menyuntingmu. Meskipun belum tentu diterima, paling tidak mereka menyingkirkan saingannya terlebih dulu. Begitu pikir mereka sebelumnya. Itulah yang disampaikan orang tua mereka di hadapan Nyai Sumi. Sementara kau memilih untuk mendengarkannya dari balik pintu kamar.kau mendengar dengan jelas percakapan antara Nyai Sumi dengan mereka yang datang.

“Anakku berangkat untuk menyunting Mantini, Nyai,” kata salah satu orang tua jejaka yang mati.

“Anakku juga berkata begitu padaku, Nyai,” kata orang tua jejaka lain yang juga sama-sama mati.

 “Maafkan aku,” Nyai Sumi menghantarkan permintaan maaf. Raut wajahnya yang sebelumnya tenang begitu tampak cemas dan pasrah.

Suara pun berdengung. Warga tidak berani menyalahkan Nyai Sumi maupun Mantini. Siapa yang berani menyalahkan jelmaan Uma. Salah-salah malah mereka yang kena laknat. Orang tua kedua pemuda itu juga menyadari bahwa kematian itu memang kecerobohan anak-anak mereka. Tapi di sisi lain Nyai Sumi juga menyesali peristiwa yang telah terjadi. Ia meminta maaf dengan tulus.

Di pagi-pagi berikutnya, nyawa demi nyawa terus melayang. Di jalan yang membelah Alas Bangsri menuju rumah Nyai Sumi selalu saja terkapar dua pemuda. Ada yang mati ada yang sekarat dan berujung juga pada mati. Dua jejaka yang saling adu kuat dengan tujuan mengalahkan pesaing mereka untuk menyuntingmu, Mantini. Mereka memperebutkanmu.

Memang begitulah cara jejaka berpikir. Mereka tidak bisa berpikir panjang jika memperebutkan wanita cantik. Mereka akan berbuat semaunya meski harus menanggung risiko. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka sedang memperebutkan jelmaan Uma. Mereka tidak berpikir atas hal itu. Tentu saja warga menyalahkan jejaka-jejaka itu. Betapa bodohnya mereka.

Nahasnya, di hari ketujuh di mana kematian demi kematian itu terus terjadi, Nyai Sumi juga turut meyusul empat belas jejaka yang telah mati. Kau menemukan Nyai Sumi tak lagi bernapas. Ia seperti menanggung beban atas kematiaan para jejaka yang memperebutkan dirimu, Mantini. Kau sangat terpukul, bukan?

Begitulah kebahagian dan kematian bekerja. Mereka saling bersisian dan bekerja bergantian. Tidak saling mendahului tapi memang benar-benar beriringan. Hanya saja mereka bekerja menunggu giliran mereka. Hanya saja kita semua tidak tahu kapan hal itu terjadi. Bukan juga kita yang menentukan.

Tumpahkah seluruh air matamu, Mantini. Seluruhnya bermuara padamu. Kebahagiaan yang berasal darimu juga akan diakhiri dengan kematian yang juga sama-sama berasal dari dirimu. Kecantikan itu begitu mengerikan. Jika saja kau lahir kembali, tentu kau ingin lahir demikian. Kau tak ingin menanggung beban seperti sekarang. Mengapa kau tak berkata apa-apa selain menembangkan Kidung Aja Geger, Mantini?

Loading

MENGIDAM

Karya: Cinta Maulida Azbi (Juara 2 Lomba Cerpen dalam rangka Dies Natalis Ke-14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

Ibu hamil kalau mengidam, sukanya makan mangga muda, rujak, keripik ubi, rambutan, kadang-kadang bakso Pak Kumis. Namun, istriku lain cerita. Bila mencuci baju, dia mengidam makan deterjen. Bila nampak asbak rokok, dia mengidam makan abu rokok. Bila berkebun, dia mengidam makan tanah. Kata orang, istriku sudah kena kutuk. Itu karena dia memilih putus cinta dengan Imam, mantan pacarnya dan memutuskan kawin denganku gara-gara aku yang melamar lebih dulu ke orangtuanya. Namun, ada pula yang menduga, istriku sudah kena guna-guna yang dikirim si Imam karena masih patah hati dan tak terima pernikahan kami bahagia. 

Aku stres ampun-ampunan. Memikirkan cemana istriku bisa sembuh lagi. Penyakitnya apa aku tak tahu. Entah mau berobat kemana. Kalau berobat ke dukun, kata alim ulama nanti syirik, dosa besar, tak diampuni Tuhan, masuk neraka. Berobat ke Pak Mantri, beliau pun hanya geleng-geleng kepala, tak tahu jenis penyakit apa yang diderita istriku ini. Kalau kata orang-orang alim, baiknya istriku dirukiah saja, tetapi istriku tak siap menjalaninya.

Walaupun aku tak suka percaya pada hal-hal mistis, seperti guna-guna. Namun, karena cinta dan sayang pada istriku yang cantik, aku memilih jalan terakhir dengan percaya bahwa itu guna-guna dari Imam, mantan pacarnya. Aku berniat untuk meminta ampun pada Imam agar dia mencabut guna-guna itu. Namun, begitu datang ke rumahnya, rupanya rumah itu kosong. Kata tetangga-tetangganya, Imam sudah lama pindah.

Berminggu-minggu aku mencari tahu ke mana si Imam itu pindah. Bertanya dari mulut ke mulut. Hingga dapatlah informasi alamat barunya dari mamak si Imam. Untung saja, mamaknya mau berbaik hati mau memberikan alamat itu, karena kubilang aku sahabat lamanya. Setelah itu, langsung aku bongkar celengan, mengambil duit untuk memesan tiket kereta api ke Binjai, tempat si Imam bertapak sekarang.

Sempat salah alamat, tanya sana-sini, setelah lima jam baru aku dapat rumah si Imam. Saat mau masuk ke rumahnya, aku disambut oleh seorang wanita berbadan gemuk memakai jilbab biru, kupikir salah alamat lagi, tetapi saat kubilang, “Mau ketemu sama Pak Imam.” Dia mempersilakanku masuk dan menyuruhku menunggu karena katanya Imam masih bekerja, sebentar lagi mau pulang.

Begitu kulihat Imam pulang dan masuk ke rumahnya, barulah aku bersujud meminta ampun di depannya. Memohon-mohon meminta belas kasihan. Imam pun terheran-heran karena ada pria rambut kusut, bau keringat, penampilan acak-acakan macam gembel tiba-tiba datang entah dari mana memohon-mohon minta ampun hingga terucap kalimat dari bibirnya, “Kau ini kenapa?”

Akhirnya aku menjelaskan semuanya, kronologi-kronologi hingga istriku bisa mengidam yang aneh-aneh. Di akhir kalimat kuucapkan, “Tolonglah kau cabut guna-guna itu.”

  Imam tertawa terbahak-bahak mendengarnya sampai air ludahnya muncrat-muncrat ke wajahku. Kemudian di sela tawanya dia berkata, “Kau ini lucu. Lucu kau ni.”

Kini aku pula yang terheran-heran, orang kena musibah, istri kena penyakit aneh kenapa pula ditertawakan. Kupikir dia ini macam orang-orang jahat di film-film kartun yang suka ditonton kemanakan-kemanakanku. Tertawa jahat karena tahu korbannya memang benar-benar menderita.

“Begini, biar kujelaskan dulu. Kau salah paham. Aku tidak diputuskan oleh istrimu, tetapi aku yang memutuskannya. Jadi, untuk apa aku patah hati dan memasang guna-guna untuknya. Aku pun tak pernah memasangkan guna-guna ke orang. Haram. Dosa besar,” kata Imam sambil menyeruput kopi hangat yang baru saja diantarkan oleh wanita jilbab biru berbadan gemuk tadi.

-***-

Di tempat lain, malam dengan angin yang terasa sejuk. Tanah masih lembab dan setengahnya terkena genangan air. Daun-daun dari pohon mangga menampung butiran-butiran air. Kodok-kodok Bangkong bersuara kung kong kung kong masih tak puas dengan hujan yang turun sore tadi, berdoa hujan hendaknya datang lagi.

Seorang wanita memakai gaun pendek sambil mengatup jaketnya dengan erat pada tubuh yang perutnya mulai membuncit berdiri tak jauh dari pohon mangga. Tempat itu sepi dan cahaya hanya remang-remang yang didapat dari satu lampu jalan yang masih menyala. Tak lama kemudian, seorang pria datang dari kejauhan. Berlari untuk sampai ke tempat wanita itu berdiri.

“Maaf aku baru bisa datang sekarang. Kudengar kamu kurang sehat, ya?” ucap si pria tersebut kemudian si wanita membalasnya dengan anggukan lalu menyampaikan semua keluh kesahnya.

“Orang-orang bilang aku aneh, penyakitan, dan kena kutuk, karena suka ngidam yang aneh-aneh.”

“Tenang sayang, kamu jangan terlalu stres ya, orang-orang itu salah. Kamu gak kena kutuk atau semacamnya, kamu cuma kena gangguan pica*. Kamu ikut anjuranku ya, sayang.”

Wanita itu hanya mengangguk kemudian sang pria memeluk tubuh wanita tersbut.

“Sabar ya, Sayang. Setelah sumpah dokter, aku bakal menikahi kamu dan membawamu pergi dari suamimu itu.”

Gak apa-apa, Sayang. Aku akan menunggu.”  

-***-

*Gangguan Pica : Jenis gangguan kesehatan makanan berupa keinginan dan nafsu makan terhadap bukan makanan atau makanan yang tidak bergizi. Dapat terjadi pada anak-anak dan ibu hamil.

 

Tanjungbalai, 29 April 2021

Loading

HIDANGAN TERBAIK UNTUK PRESIDEN

Karya: Iqbal Hasyim (Juara 1 Lomba Cerpen dalam rang Dies Natalis Ke-14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

Gelombang suara yang dilahirkan pintu menjalar memenuhi ruangan. Cicak dan lalat juga dimasuki, dirasuki. Suara tak kenal bentuk, tak kenal siapa yang akan dihadapi. Bahkan Tuhan di arasy pun ia rasuki. Termasuk dan terutama nenek paruh baya yang satu giginya, terlipat-lipat kulitnya, sedang rambutnya yang mungkin rambut tersebut selamanya akan bermusim salju, dan sedang duduk di kursi yang sedang bergoyang, juga mendengarnya.

“Masuk,” lirih namun bahagia nenek itu berkata.

Ternyata di balik pintu itu tertera anak sang nenek yang membawa kedua anaknya: Satu bocah laki-laki dan dua anak perempuan yang nampak lebih muda dari si lelaki. Mereka berempat tampak bahagia.

“Terima kasih sekali bu, sudah mau bermain dengan anakku setiap bulan. Kami juga minta maaf bu tidak bisa menemani.”

Nenek itu memotong, “ndak kok nak, ini kemauanku sendiri. Mereka senang setiap bulan berlibur ke rumah ibu. Begitu pun ibu, nak, kesepian di sini. Apalagi mereka itu penerus bangsa, harus sering-sering bermain dengan orang luhur seperti ibumu ini. Apalagi ibumu sudah hampir mati”

“Wusss, jangan bilang begitu bu!”

Nenek itu tertawa lemah, namun berenergi.

Tak lama kemudian, setelah lama bercakap-cakap. Si ibu dari ketiga anak itu, melepaskan dengan lembut tangan ibunya yang sudah lunglai. Setelah salam dikatakan dan anak-anaknya dilepaskan, pecah canda-tawa nenek dan anak-anaknya dalam ruangan yang begitu sederhana itu. 

Anak tertua yang sedang tumbuh rasa ingin tahunya mendekati sang nenek. Kedua adik perempuannya menjauh, mencari beberapa mainan untuk dipreteli, mereka begitu bahagia. Kebebasan dan kesenangan dua anak berumur lima tahun sedang bersemi. 

“Kedua mata nenek kemana?” tanya si anak laki-laki yang sudah berada di bawah kaki sang nenek dengan lugunya.

Sang nenek lagi-lagi tersenyum tentram, “kamu sekarang umur berapa?”

Sambil menghitung jari di kedua tangan mungilnya, “… enam, tujuh. Tujuh tahun nek”

“Sudah waktunya, sini mendekat”

Anak itu naik ke haribaan sang nenek.

“Waktu aku sepantaranmu, mungkin empat tahun lebih atas…” Cicak dan lalat-lalat ikut terdiam, seakan tertarik mendengarkan.

***

“AKU TAK SEDANG BERDUSTA,” sejurus teriakannya itu, orang-orang yang lewat di warung besar itu tertarik melihat ke dalam. Warung itu semakin ramai. Biasanya penuh kesunyian, kini riuh karena kisah pria berkumis tebal yang berkoar-koar. Orang yang masuk mendengarkan kisahnya di warung itu tak enak sendiri jika tak memesan atau membeli sesuatu. Jadilah kerupuk, air panas untuk kopi, dan minyak untuk menggoreng gorengan, tandas dirangkul orang-orang yang kian lama-kian membanyak.

Aku hanya mendengarkan dengan getir perkataan pria berkumis tebal itu dalam diam di samping ayahku. Sepertinya, aku seakan tak ada di mata mereka.

“Waktu itu aku sedang di WC umum dekat bengkel pak Romlah. Beberapa menit berlalu, tepat setelah aku menyiram berakku dan membuka pintu. Aku berteriak histeris, sehisteris mungkin. Temanku sudah kehilangan kedua matanya. Apakah kau percaya? Kedua matanya?” pria itu serius menekan suara ketika mengucapkan kata mata, “Aku lihat dari kejauhan, seorang berambut panjang, bertopi fedora, terlihat jelas menggenggam kedua mata temanku. Berjalan santai. Aku tak kuasa mengejar. Tubuhku mantap gemetar”

“Bagaimana ekspresi temanmu itu?”

“Dia baik saja. Ditanya, tidak apa”

“Sekarang dia di mana?”

“Kembali ke Sumatera”

Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya dijawab dengan cepat. Memang tak tampak sisi dusta dari orang itu. Ditambah wajah takutnya di WC umum kala itu seakan masih lekat di wajahnya.

“SUDAH JELAS PAKAI HIPNOTIS,” kumis pria itu ikut bergetar.

Beberapa hari kemudian cerita itu makin kuat. Setelah di koran digital, koran lembaran, hingga koran berbicara di kotak besar yang disebut TV, mengabarkan tentang berita yang serupa, namun hanya korban-korbannya yang berbeda.

Kami makin takut. Anak-anak yang biasa di luar rumah, dikunci di dalam rumah. Yang di dalam rumah, makin tak berkutik di bawah kasurnya. Tapi tak semua. Aku salah satunya. Malah diajak keluar rumah oleh ayahku. Ke Surabaya, hanya untuk melihat sebuah penampilan teater Eska.

Aku adalah anak “rumah”, karena kekhawatiran ibuku yang begitu tebal. Ayahku malah sebaliknya, memberi kebebasan. Semenjak ibu wafat, tepatnya sehari yang lalu. Aku mungkin akan sering keluar rumah, bahkan mungkin sering ke luar kota. Seperti yang aku rasakan sekarang. Di balik isu si bajak mata, ayahku malah nekat mengajakku bermain ke luar kota. Andaikan ibuku masih duduk menjahit di rumah, habis kami berdua kena marah.   

Sekarang di ambang pintu bus aku menarik napas. Terkagum-kagum melihat bentuk mesin yang teramat besar sedang berada beberapa senti di depan bola mataku. Ayahku sudah naik ke bus beberapa belas detik yang lalu. Dan pada sekian belas detik kemudian, ayahku berteriak, mencariku. Dia kira aku sudah duduk manis di sampingnya. Aku tertegun dan cepat beranjak masuk. Kami berdua tertawa di dalam bus. Ayahku berkata bahwa masih banyak mesin-mesin besar lainnya selain mesin jahit yang ibu gunakan dan mesin yang aku naiki sekarang.

Perjalanan yang panjang. Aku tertidur tidak pulas sama sekali. Di tengah sadar dan tidak, aku melihat seorang berambut panjang kusut sampai ke belakang lutut, memakai jaket levis usang. Tak salah lagi, sayang aku tak sepenuhnya sadar. Bertopi fedora.

“… Mata… tidak akan sakit, cobalah sendiri,” hanya itu yang ku dengar dari deklamasi panjang yang aku lewatkan. Bus berhenti. Semua orang mencongkel matanya, tak mengaduh, tanpa ragu, tak ada desah sakit. Termasuk ayahku. Aku mencoba menghentikannya. Namun dia hanya berkata, “tak apa, ini demi negara nak”

Keempat jari ayah dimasukkan ke dalam kelopak matanya. Bulat hitamnya mendelik ke atas, sangat tinggi. Lalu setelah jari-jarinya menyelam, dia menariknya –dengan lembut. Tak ada suara aduh sedikit pun. Si pria fedora itu menghampiri orang di bus itu satu-persatu. Memasukkan semua bola berlendir itu ke dalam karung. Begitu dia hampir mendekati ayah, aku berlari keluar. Beruntung aku di dekat pintu.

Bulan mengiringi langkahku berlari. Di tengah hutan. Sepertinya pria fendora itu memang sengaja memberhentikan bus di dalam kesunyian, agar tak ada seorang pun yang tahu.

Bulan mulai bosan. Dia pergi ke balik awan. Kegelapan hutan mulai terasa. Aku tak bisa melihat apapun. Pria itu  terasa masih mengejarku. Suara sepatu tebalnya terus beradu angkuh dengan tanah. Senternya menembus kegelapan.

Tak lama kemudian, nasib malang t’lah tiba. Aku tersandung batu yang lumayan besar. Kedua mataku tertusuk ranting-ranting kayu yang berserakan menghadap ke langit. Berdarah-darah. Aku menjerit.

Pria itu datang. Berkilah panjang, “…bola mata itu tak sakit dicongkel nak. Yang sakit ketika kamu menusuk, mencolek tepat ke bola matamu. Jika hanya diambil tanpa harus mencolek, tak akan sakit”

“Kenapa kamu suka mengambil mata?” mataku mulai buram, darah terus bercucuran.

“Oh…ini akan aku hidangkan ke presiden. Dia mungkin akan suka makan mata rakyatnya. Andai rakyatnya tak punya mata, tak mungkinlah perselisihan terjadi. Rakyat Indonesia suka menilai sesuatu hanya dengan menggunakan mata. Aduh, tak perlulah aku banyak omong, lagi pula matamu sudah rusak. Presiden tak minat makan mata cacat seperti punyamu itu. Sepasang mata lagi, maka siap satu ruangan penuh mata untuk presiden. Hidangan terbaik untuk presiden”

“Tunggu!” dia tak menghiraukanku, lanjut meninggalkanku. “KAU APAKAN ORANG-ORANG ITU? APAKAH KAU MENGHIPNOTIS MEREKA?”

Dia berhenti, dan berpaling lagi menghadap wajahku, “Tidak nak. Aku hanya mendoktrin mereka dengan kenyataan yang ada. Empat menit cukup. Taukah kamu nak, aku hanyalah anak SD yang suka membaca hingga detik ini. Membaca buku, membaca keadaan” 

Akhirnya mataku tiba-tiba menggelap, tak ada setitik cahaya pun yang kuasa bertengger di mataku. 

“Bukankah dengan mengambil mata rakyat, mereka tidak bisa lagi membaca?”

Dia terkekeh lalu mengalihkan pembicaraan, “Jangan bilang siapa pun sampai kau punya cucu berumur tujuh tahun, tentang pertemuan ini, ya,” setelah perkataannya itu, aku tak tahu dia masih ada di sana atau tidak. Namun yang pasti, dia tak lagi menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Aku menjerit, tak ada seorang pun yang menjawab. Kecuali hanya lagu yang burung hantu bawakan, angin yang bertengkar dengan dedaunan.

Kala ulang tahun presiden tiba. Ketika seorang wakil rakyat itu siap memasuki tempat pesta ulang tahunnya. Lima meter di depan ruang pesta itu, bau amis tercium jelas. Di muka pintu tertempel sebuah surat. Dibacanya surat itu. Matanya terbelalak. Membuka pintu. Ribuan mata jebol keluar dari ruangan di balik pintu itu. Sehari kemudian dia ceritakan. Seluruh media meliput. Seluruh pelosok desa, kota, pedalaman berubah. Rakyat tanpa mata bahagia, seakan terbayar sudah mata yang presiden makan. Indonesia, operasi.

***

“Benar nek, tidak sakit. Ini, kedua bola mataku nek, untuk presiden”

Nenek paruh baya itu hanya tertawa lembut. Begitu lembut dan tentram.

Loading

SEBELUM HUJAN REDA

Karya: Matahari (Juara Favorit Lomba Cerpen dalam rangka Dies Natalis Ke-14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

“Kapan terakhir kali kamu berdoa?”

Lelaki di hadapanku tertawa ringan mendengar pertanyaan kelewat absurd itu. Dia bilang, doa terakhirnya barangkali adalah sesaat sebelum ia mengendarai motor untuk menjemputku tadi. Aku menuduhnya berdusta. Kalau dia benar-benar berdoa, seharusnya kami tidak terkurung hujan deras di sebuah emperan pertokoan yang tutup.

“Jangan-jangan kamu yang tadi tidak berdoa!” balasnya menuduhku. Kami berdua tertawa atas lelucon itu.

Sesaat kemudian, saat hening menjadi teman, aku menghela nafas panjang. Benar. Aku tidak berdoa sebelum pergi hari ini. Aku tidak berdoa saat bangun. Aku tidak berdoa sebelum tidur semalam. Aku bahkan tidak berdoa berhari-hari.

Aku jadi bertanya-tanya, kapan seseorang mulai berdoa dan kapan seseorang berhenti berdoa? Apakah karena dulu setiap malam ibu menyuruh anaknya berdoa sebelum tidur, maka ia berdoa? Apakah karena dulu setiap hari guru menyuruh muridnya berdoa sebelum belajar, maka ia berdoa?

Aku tak punya ibu yang menyuruhku berdoa setiap malam. Saat punya guru, ia pikir aku sudah hafal doa harian sehingga ia tak mengajariku. Aku berdoa setiap hari sampai kemudian entah di hari ke berapa aku merasa hambar. Bahkan kini, saat hujan yang katanya waktu doa dijawab Sang Pencipta, aku tak tergoda mengangkat tangan.

Hujan pun kian kuat. Atap seng berbunyi nyaring layaknya arena perjudian saat taruhan unggulam mereka hampir kalah. Udara dingin kian menusuk. Aku menghapus jarak antara aku dan lelaki yang telah kukenal kurang lebih enam bulan. Ia, lelaki dengan senyuman matahari itu, mengaminkan. Tangannya terbentang meraih bahuku.

“Wah, enak ya pacaran pas muda,” seorang perempuan dewasa akhir yang ikut berteduh berkomentar. Di sebelahnya, lelaki yang sama sepuh, barangkali suami, terlihat berpangku tangan dalam upaya menghangatkan dirinya sendiri.

“Duh, Buk! Jangan ngurusin orang,” suaminya menanggapi.

“Lihat, Pak! Anak muda jaman sekarang pacarannya blas bles blos saja. Kayak dunia milik berdua.”

Mereka berdebat. Si suami terlihat sungkan dengan perkataan istrinya. Akan tetapi, semua orang yang berteduh di emperan pertokoan itu terlihat setuju. Tatapan mata mereka menghakimi kami.

“Kamu mau pakai jaketku saja?” tawarnya berbisik. Tangannya rampak ragu memberikan kehangatan. Pelukannya tak seerat tadi.

“Iya,” jawabku risih dengan tatapan orang-orang.

Kami berdiri dengan jarak yang kecanggungan. Jarak kami tidak lebih dekat dari seorang anak yang memeluk kaki ibunya di depan toko  benang. Jarak kami tidak lebih mesra dari suami istri yang masih berdebat itu. Jarak kami, untungnya, tidak sesepi seorang laki-laki buta berpeci di toko paling ujung.

Aku maju satu langkah. Mengintip, karena rasa penasaran tak terbendung, pada lelaki buta berpeci haji di ujung lorong pertokoan. Usianya tak lagi muda. Tangannya yang telah keriput memegang tongkat dengan genggaman yang tremor. Bibirnya komat kamit layaknya orang suci tengah berzikir. Seolah bibir itu memang telah terlatih untuk selalu basah mengenang asma Allah.

“Kenapa?” lelaki matahari di sebelah ku bertanya.

“Aku baru saja berdoa.”

“Oh ya? Kau berdoa agar hujan reda?”

“Tidak juga.” Kerutan terbentuk di dahinya. Barangkali mencari berbagai macam opsi doa lain yang bisa kupanjatkan di situasi macam ini.

Hujan kian menggila. Angin kencang menerbangkan beberapa sampah. Semua orang merapat pada perlindungan terdekat yang bisa mereka gapai. Anak berlindung pada ibunya, perempuan berlindung pada lelakinya, anak muda berlindung pada kekuatan fisiknya. Aku tak bisa berhenti khawatir pada pria tua buta di ujung pertokoan yang tak punya sesuatu, bahkan dirinya sendiri, untuk melindungi.

“Yang, aku ke sana ya.”

Langkah lebih cepat ketimbang ucapanku. Langkahku besar dan cepat menuju lelaki tua itu. Jantungku berdetak cepat. Terlebih saat melihat sebuah terpal dengan pancang paku yang tajam terbang mengarah ke lelaki itu. Kilat petir melatari suara teriakan dan dentuman.

“Ustaz!” suaraku hilang ditelan situasi.

Alam bawah sadarku memaksaku bertindak. Meski pura-pura tak peduli, meski pura-pura tak kenal, tubuhku bergerak dengan sendirinya hendak meraih sosok itu. Aku tak bisa mengerdilkan perasaan kagum dan hormatku pada sosok buta yang memiliki mata air kasih sayang dan berkah ilmu dalam dirinya itu. Aku pun, seorang yang pernah  menyesap mata air itu. Di diriku mengalir percikan dirinya. Barangkali itu yang membuatku kalang kabut mengejar lelaki itu ini.

Terpal biru yang diterbangkan angin menyelimuti tubuh lelaki tua buta tanpa celah. Aku dan seorang tukang ojek mendekatinya. Tukang ojek itu dengan tergesa-gesa menarik terpal itu. Aku melihatnya terduduk dengan tongkat yang sudah tak lagi dalam genggaman. 

“Bapak tidak apa, Pak?” tanya tukang ojek itu sembari membantunya berdiri.

Tidak ada luka, tidak ada lebam. Syukurlah.

“Alina!” lelaki matahariku memanggil. Aku tak kuasa menahan rasa takutku. Bagaimana jika lelaki tua di hadapanku ini mengingat nama itu? Meski kemungkinannya sangat kecil, meski aku yakin beliau telah memiliki banyak murid-murid lain bernama Alina, jantungku tak bisa diajak kompromi.

“Kamu Alina? Alina Aisyah?” lelaki buta itu bertanya dengan suara yang sangat familiar.

Aku mengangguk meski aku tahu lelaki di depanku tak akan bisa tahu. “Bukan Pak, saya Alina Niswati.” Aku berbohong.

“Bapak ingat sekitar tiga tahun lalu Bapak punya santri namanya Alina Aisyah. Dia pintar, rajin ibadah, selalu taat dengan peraturan pesantren. Dia suka bantu-bantu di rumah Bapak. Setelah tamat dia belum ada lagi berkunjung ke pesantren. Tadi Bapak dengar ada yang panggil ustaz, suaranya mirip Alina. Rupanya salah orang.”

Aku tak lagi mengucapkan apa pun. Aku takut suara cempreng ini akan makin mengingatkan lelaki tua berpeci itu akan seorang santri polos yang kini hanya tinggal cerita. Aku menarik tangan pacarku sembari berlari kecil menuju motor yang terparkir.

Hujan sebentar lagi berhenti. Waktu istijabah doa sebentar lagi usai. Aku berdoa lagi, meski tidak mengangkat tangan. Aku berdoa lama dan khusuk sekali. Tak peduli bahwa aku tak lagi berkerudung. Tak peduli bahwa kini di tanganku ada tangan lelaki bukan muhrim yang diibaratkan bara api.

“Boleh aku tebak doamu, Alina Aisyah?” tanya lelaki matahari itu dengan nada mencemooh. Aku menggeleng. Aku ingin cepat menyudahi basa-basi ini dan kembali bersembunyi.

Di ujung jalan, sebuah mobil dengan lambang instansi pendidikan Islam terlihat mengarah pada lelaki tua yang tak lain dan tak bukan adalah pengasuh di pesantren itu. Si pengemudi turun dan membantu ustaz menaiki mobil. Motor kami telah lebih dulu membelah jalanan.

Doaku terkabul. Lelaki buta itu tak mengenaliku. Aku ingin berdoa lagi agar si pengendara mobil yang sekelas denganku enam tahun tak mengenaliku. Sayangnya hujan telah sempurna berhenti.

Sayangnya aku tak punya keberanian lagi untuk berdoa.

Loading

MATRIKULASI MAHASANTRI BARU CSSMORA UIN WALISONGO 2021

Hallo sahabat loyalitas tanpa batas, kali ini CSSMoRA UIN Walisongo Semarang mengadakan acara matrikulasi untuk menyambut mahasiswa baru PBSB angkatan 2021. Matrikulasi tersebut dilaksanakan selama dua hari yaitu pada tanggal 16-17 desember 2021 di Kampus 3 UIN Walisongo Semarang dan di ikuti oleh 10 orang anggota baru Penerima Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) 2021 sebagai peserta dan 10 orang anggota PBSB dari angkatan 2019 sebagai penitia sekaligus peserta acara matrikulasi tersebut.

Acara matrikulasi ini merupakan kegiatan untuk memenuhi kompetensi peserta didik agar kesenjangan antara subtansi dan pengalaman belajar dari kurikulum yang berbeda dapat terpenuhi sesuai kompetensi yang harus dikelola satuan pendidikan secara terencana, terarah, terprogram dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam sambutan bapak Dr. Moh Khasan M.Ag. selaku pengelola PBSB UIN Walisongo Semarang, beliau menyampaikan bahwa “Acara matrikulasi ini dibuat untuk memberikan pembekalan kepada mahasiswa baru, khususnya terkait dengan kebijakan dan adminitrasi baik dari kemenag dan fakultas.

Adapun acara matrikulasi mahasiswa baru PBSB UIN Walisongo Semarang ini di buka langsung oleh Dekan Fakultas Syariah dan Hukum yaitu bapak Dr. KH. Arja Imroni M.Ag. Beliau menyampaikan bahwa “10 orang yang lolos seleksi PBSB ini adalah proses dari hasil kompetensi yang luar biasa. Kewajibannya adalah belajar karena semua sudah di back up oleh Kementrian Agama Republik Indonesia, maka tanggung jawab kita dari amanah itu adalah belajar dengan sebaik-sebaiknya.


Tidak hanya itu beliau juga menyampaikan bahwa tujuan dari matrikulasi ini adalah untuk memberikan pembekalan kepada mahasiswa untuk sukses study di Ilmu Falak meskipun sudah ada PBAK.

-Red Inayah

 

Loading

MENCETAK PENERUS CSSMoRA DI MASA AKAN DATANG DALAM KTPT CSSMORA UINWS, UNWAHAS DAN MA PATI

Kaderisasi Tingkat Perguruan Tinggi disingkat KTPT adalah kaderisasi wajib tingkat pertama yang dilaksanakan secara formal, sistematis, dan terencana pada tingkat Perguruan Tinggi. KTPT dilaksanakan untuk mengenalkan CSSMoRA dan membentuk karakter yang baik bagi mahasantri baru dalam perkuliahan dan menjalankan tugas dalam CSSMoRA di Perguruan Tinggi. Sehubungan dengan hal tersebut, CSSMoRA UIN Walisongo menyelenggarakan kegiatan KTPT pada hari Sabtu-Minggu tanggal 18-19 Desember 2021 yang bertempat di gedung PKB Mangkang. KTPT kali ini mengangkat tema “Cerdas Berintelektual, Berkarakter dan Berintegritas ”.

Pada tahun ini, KTPT dilaksanakan sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan, dalam pelaksanaannya mencakup tiga Perguruan Tinggi, yaitu UIN Walisongo, Universitas Wahid Hasyim dan Ma’had Aly Maslakhul Huda Pati. Adapun jumlah dari masing-masing Perguruan Tinggi, UIN Walisongo dengan jumlah peserta 10 orang, UNWAHAS 10 orang dan MA Pati 15 orang dengan 11 orang melaksanakan secara offline dan 4 orang lainnya secara virtual.

Dalam sambutan dan sekaligus membuka acara KTPT, Bpk Moh Khasan, M.Ag sebagai pengelola PBSB UIN Walisongo menyampaikan pesan dan harapannya “mahasiswa PBSB harus prestasi akademik maupun non akademik. Dengan adanya kegiatan KTPT ini semoga menjadi kegiatan yang bisa menginspirasi semua anggota CSSMoRA“.

Mahasiswa PBSB berbeda dengan mahasiswa yang lain. Dengan fasilitas-fasilitas yang didapatkan tentunya harus membawakan hasil yang bagus. Kaderisasi ini berjenjang, bukan hanya sampai disini saja, masih ada kaderisasi lanjutan juga. Jadi teman-teman semua harus tetap semangat dan buktikan dengan prestasi-prestasi kalian“, ujar Bpk Ubbadul Adzkiya, S.EI.,MA selaku pengelola PBSB UNWAHAS.

Dalam pembahasan materinya, KTPT tersebut mencakup 5 materi wajib, yaitu Keorganisasian, Ke CSSMoRA-an, Kepesantrenan, Kebangsaan dan Materi Persidangan. Melalui materi-materi tersebut, diharapkan para peserta KTPT bisa benar-benar menyerap ilmu dan menerapkannya dikehidupan sehari-hari, terlebih juga untuk CSSMoRA sebagai organisasi dengan jargonnya loyalitas tanpa batas.

Pada Penutupan Kegiatan para peserta KTPT UIN Walisongo dikukuhkan oleh Hamjan A Ranselengo (Ketua CSSMoRA UIN Walisongo), Universitas Wahid Hasyim dikukuhkan oleh Firginita Wirna (Anggota PSDM Nasional), dan MA Maslakul Huda Pati dikukuhkan oleh Wahyudi (Kadep Kominfo Nasional). dengan pengukuhan ini bahwa para peserta resmi menjadi kader CSSMoRA kedepannya.

Zaki Al-Aziz, sebagai salah satu peserta KTPT dari UIN Walisongo mengatakan “Sangat meriah dan menarik, di pertemukan sama teman-teman yang berasal dari PT lain dan berdasarkan berdasarkan dengan pembelajaran yang berbeda-beda, ada yang kampus formal seperti UIN, ada yang kampus kepesantrenan berbentuk Ma’had Aly, kami juga bertemu sama teman yang berbeda PT tapi berdasarkan asal yang sama. Di situ juga kami di didik untuk menjadi pribadi yang tangguh tegas serta tanpa melupakan spiritual pesantrennya”.

Ada senang dan sedihnya, karena saya merasa betul-betul kekeluargaannya, kekompakannya dan kebersamaannya ada di CSSMoRA. Kami dari rumah yang berbeda dan disini kami disatukan jadi seperti rumah ke dua kami. Semoga KTPT selanjutnya lebih berkesan lagi dan bisa kolaborasi lagi dan juga silaturahminya semoga selalu terjaga dan kompak” celetuk Wahyudi, sebagai salah satu peserta dari CSSMoRA UNWAHAS.

Saya mewakili dari teman-teman CSSMoRA Ma’had Aly Pesantren Maslakhul Huda Pati, mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada pengurus CSSMoRA UIN Walisongo, yang telah memperkenankan kami untuk ikut serta dalam Acara Kaderisasi tingkat perguruan tinggi ( KTPT ), pesan dari kami semoga dengan adanya event ini bisa mempererat komunikasi kita kedepannya, terutama dalam bidang keorganisasian, dan kesannya kami bisa ber-isitifadah banyak dengan pemateri tentang ke-CSSMoRAan, dan dapat bertemu dengan teman-teman CSSMoRA CSSMoRA UIN Walisongo dan UNWAHAS“, imbuh Ahdad Alwi salah satu peserta dari CSSMoRA Ma’had Aly Maslakhul Huda Pati.

-Red Ani Uswatun

Loading

PENANTIAN TAK BERUJUNG

Oleh: Fadly Rahmadi (CSSMoRA UIN Walisongo 2018)

Lelah letih sudah langkah kaki

Lemah lunglai ayunan tangan ini

Berjalan tak sampai, berayun tak henti

Tapi yang di cari seolah riap di telan bumi

 

Ditemani mentari timur di awal pagi

Ku duduk sendiri di pelabuhan purnama ini

Hempaskan lelah letihnya kedua kaki

Debu menempel di sekujur tubuh

Berbulir air mata dan butiran peluh

Perjalanan yang panjang dan sangat jauh

 

Cuitan burung-burung camar menggema

Membuatku iri tapi apa daya tak terkata

Sekiranya aku punya sayap seperti mereka

Mungkin sudah lama kusinggah di sana

Seperti mereka dan teman-teman lainnya

 

Dalam khayal aku pikirkan

Kita arungi bahtera kehidupan ini dengan senyuman

Kita bumbui pahit getir ini dengan madu manisan

Lama bentarnya kapal berlayar pada waktunya akan berlabuh juga di dermaga

 

Hmmm,

Kuhempaskan pandanganku ke seberang jauh

Ingin rasanya aku meneriakkan penungguanku

Akan tetapi lidah terasa ngilu

Dan ingin rasanya aku jerit raungkan kerinduanku

Namun mulutku diam membisu

Aku hanya bisa menunggumu di tepian dengan memandangi kapal-kapal yang simpang siur berlayar dan berlabuh

Berharap dikau muncul bersama kapal itu

Dan akan kutunggu, kutunggu sampai air laut tak lagi membiru

 

Oh pencarian yang berubah jadi kekecewaan

Masihkah dikau setia dalam cintamu?

Atau kah sudah pudar diterpa hembusan bayu?

Loading

PUTIH-HITAM

oleh: Harlianor (CSSMoRA UIN Walisongo 2017)

Apakah  putih selalu bertutur bersih, hai manusia yang diciptakan berkepala tunggal?

Hingga si hitam terus kau kecam, disisihkan di sudut terasing nan kelam

Mengapa bertingkah seolah makhluk tersuci,?

Menempatkan warna pelangi di ruang terkunci, berteriak lantang “jangan mendekat”

“Akulah makhluk terbaik Tuhan, akulah sang khalifah yang dijanjikan”

Berkoar-koar kobarkan api peperangan, menebas setiap tumbal yang mencoba melawan

Ayolah, kawan. Mari duduk melingkar sebentar..

Bukankah tak semua putih indah diraba,?

Bukankah langit lebih indah jika biru rupanya,?

Bukankah rerimbun pepohonan lebih damai kala hijau menjalar?

Lalu, mengapa kau dustakan indahnya keberagaman?

Sang Maha Kuasa ciptakan hitam tuk sempurnakan kilaumu, jika kau mengerti teori

Namun, jika nuranimu masih berfungsi;

Ia hadirkan hitam tuk dampingi bersihmu

Aku, kau, dia, kita, mereka

Hanyalah semata kata ganti belaka

Loading