WAYANG KULIT, SEBUAH PERJUANGAN UNTUK TETAP EKSIS DI ERA MILENIAL

Sudah bukan rahasia lagi apabila kesenian tradisional indonesia mulai ditinggalkan generasi muda negri ini,dan masuknya berbagai kebudayaan luar melalui berbagai media. Saat ini banyak anak-anak muda kurang mengenal kesenian tradissional seperti karawitan, gamelan, dan khususnya pertunjukan wayang kulit. Anak muda lebih senang dengan kesenian dan kebudayaan luar yang tidak jelas dari mana asalnya.

Di masa sekarang ataupun masa yang akan datang tanggung jawab untuk mengembangkan fan melestarikan warisan leluhur tersebut bukan lagi ditentukan sepenuhnya oleh pemerintah, tetapi oleh masyarakat khususnya anak-anak muda, dalam hal ini harus ikut andil menjadi pelaku seni, pecinta seni, pekerja seni dan pemerhati seni agar kesenian dan budaya tersebut tidak hilang tertelan zaman.

Sayangnya, dunia pewayangan saat ini menghadapi tantangan besar dalam menjangkau khlayak generasi muda. Perlu strategi penyesuaian agar wayang tetap bisa dinikmati khalayak luas, khususnya generasi milenial.

Nama Ki Seno Nugroho dalang yang berhasil memikat generasi milenial mencintai wayang kulit, ki Seno lahir di Yogyakarta, 23 Agustus ki seno memang tumbuh ditengah keluarga dalang ayah dan kakeknya merupakan dalang kondang di Yogyakarta.

“kakek dan ayah saya seorang dalang. Waktu kecil, saya suka ikut bapak dalang, tapi belum ada ketertarikan. Hanya melihat wayang saja” ujar Ki Seno saat bercerota mengenai perjalanan hidupnya dalam video yang ia unggah ke kanal youtube resminya.

Semua berubah ketika beliau menginjak di bangku sekolah menengah pertama. Saat itu, ayahnya mengajak ki seno untuk menonton pertunjukan wayang Ki Manteb Soedharsono melihat kepiawaian Ki manteb dalam pementasan wayang yang luar biasa, sepulang dari pementasan Ki Manteb Ki seno merasa terpecut bahwa beliau pun juga bisa. Sejak saat itu beliau mulai tekun belajar dirumah. Beliau juga rajin menabung demi menonton pertunjukan Ki Manteb ketika sedang mendalang ke Yogyakarta.

Seno lantas masuk Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) jurusan pedalangan. Di sanalah ia membentuk grup cikal bakal Wargo Laras, kelompok yang setia mengiringi pertunjukan wayangnya hingga kini. Sembari latihan, Seno terus mencari jati dirinya sebagai seorang dalang. Kagum dengan sederet dalang kondang Indonesia, Seno akhirnya mengombinasikan berbagai gaya di dalam pertunjukannya.

Sembari latihan, Seno terus mencari jati dirinya sebagai seorang dalang. Kagum dengan sederet dalang kondang Indonesia, Seno akhirnya mengombinasikan berbagai gaya di dalam pertunjukannya. Dalam perjalanan pencarian jati diri tersebut, Seno menyadari bahwa wayang harus dapat diterima oleh semua kalangan. Ia pun berupaya untuk mengubah citra wayang sebagai pertunjukan dengan sastra sulit menjadi perhelatan berbahasa sederhana.

Menurut Seno, dalam satu pertunjukan wayang ada sejumlah aspek, yaitu tuntunan, tontonan, dan tatanan. Untuk menggaet anak muda, ia mencoba membuat aspek tuntunan tidak berbelit-belit agar anak muda tidak cepat bosan. Gaya wayangan mendapat apresiasi dari kalangan anak muda Beliau hanya menyederhanakan saja, karena di dalam wayang atau sebuah seni tradisi itu syarat akan bahasa jawa kuno, bahasa kawi, dan bahasa indah dan sangat sulit ditangkap oleh kaum milenial. Sangat sulit dimengerti, harus belajar bahasa jadi beliau menyederhanakan agar mudah dipahami, dalam setiap dialog menggunakan bahasa yang bisa diterima bukan hanya orang tua tetapi juga bisa diterima oleh anak muda. Banyak yang mengatakan apakah itu tidak menyalahi aturan kalau dalam bahasa wayangnya pakem, menurut beliau tidak menyalahi pakem, menyalahi pakem itu contohnya ketika petruk anaknya werkudara itu baru sudah menyalahi pakem bahkan merusaknya.

Beliau membuat cerita yang tokohnya punokawan, sehingga mudah diterima oleh anak muda karena lebih asik dan punokawan di ibaratkan suara hati masyarakat, suara hati anak muda. Ki Seno membuat tokoh bagong orangnya nakal, istilahnya mbeling dalam bahasa jawa karena itu adalah sifat anak muda dalam proses pencarian jati diri.

Ki Seno juga lihai membaca karakter anak muda sehingga mereka membuka diri untuk memulai mencintai wayang kembali. Menurut Ki Seno anak muda harus berani, karena dari tokoh bagong anak muda bisa meniru keberanianya, misalnya ketika bagong berani dengan seorang raja berani mengomentari dan melawan tapi dengan dasar bahwa bagong itu benar dan betul-betul benar.

Dalam setiap pagelaran wayang beliau ketika ada konteks “kowe ojo wani karo iki” kamu jangan berai sama ini, ini adalah sesembahanmu, tokoh bagong memang sadar dan mengakui bahwa raja tersebut adalah sesembahanya dan bagong merasa menjadi bawahanya, sebagai rakyat kecil, tetapi ketika raja tersebut salah maka bagong berani menyalahkanya, itulah pelajaran yang bisa diambil oleh anak muda dari tokoh bagong akan keberanianya untuk mengkritik kepada pemimpin yang salah.

Banyak anak muda yang tertarik melihat wayang Ki Seno karena terasa konstekstual dengan kondisi saat ini, “ saya hanya melihat berita,membuat sebuah cerita yang konteksnya hampir sama, alangkah baiknya sebagi seniman kita mengkritisi tetapi membuat suasana menjadi redam dan damai” tutur beliau dalam sebuah video wawancara yang di unggah oleh kanal youtube BKN PDI Perjuangan. Sesungguhnya cerita wayang sangat enak dan pas sekali jika dikontekstualkan dengan keadaan sekarang, karena dalam penokohan wayang sangat banyak sekali yang menggambarkan dengan perwatakan orang-orang zaman sekarang.

Ki Seno juga membuat akun Youtube resmi dengan nama Dalang Seno yang kini sudah mencapai 657 ribu subscriber. Di sana, ki Seno kerap menampilkan live streaming pertunjukanya sehingga dapat dinikmati langsung oleh masyarakat Indonesia tanpa harus hadir secara langsung. Berkat teknologi tersebut, Ki Seno dianggap sebagai salah satu seniman yang bisa mempertahankan eksistensi di tengah masa pandemi covid 19.

Sayangnya beliau sangat cepat sekali meninggalkan kita, ketika mendengar kabar Ki Seno Nugroho meninggal dunia pada 3 November, 2020 di RS PKU Muhammadiyah Gamping Yogyakarta, haru pun menyelimuti bahwa bangsa ini telah kehilangan sosok dalang yang fenomenal, kita kehilangan ikon kesenian wayang kulit. Dalang yang membuat pembaruan dan keluwesan dalam memberikan hiburan yang mendidik.

 

-Red M. Nasrulloh (CSSMoRA UIN Walisongo 2018)

Loading

MAHASISWA KKN UIN WALISONGO SEMARANG AJARKAN ANAK TPQ MEMBACA KITAB ALA PESANTREN

Mahasiswa KKN MITDR (Mandiri Inisiatif Terprogram Dari Rumah)  ke-13 kelompok 28 di kelurahan Wonolopo kecamatan Mijen Kota Semarang telah mempersiapkan berbagai program kegiatan selama 45 hari kedepan. Salah satunya adalah pendampingan belajar TPQ di dusun Krajan Kidul RT 03 RW 06 Kelurahan Wonolopo.

Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) merupakan salah satu upaya dalam membekali ilmu-ilmu agama pada anak-anak yang mekanisme pembelajarannya dengan pengenalan dan penanaman dasar agama sebagai upaya membangun jiwa yang insani.

Kegiatan mengajar yang dilakukan oleh kelompok 28 KKN MITDR ini di roling dengan tujuan semua anggota kelompok dapat kebagian andil dalam pengajaran. Jadwal ngaji di TPQ Al-Hidayah ini pada hari Senin sampai Jum’at setiap ba’da sholat maghrib dengan jumlah 15 anak dengan 2 pengajar.

Selama 45 hari kedepan peran guru dalam kegiatan belajar mengajar di TPQ ini diwakilkan pada kelompok KKN 28 di dusun Krajan Kidul. Berbagai materi yang diajarkan diantaranya baca tulis Al-Qur’an, baca tulis kitab, bahasa Arab, do’a-do’a, dan akhlaq.

Pada setaip hari Rabu yang mana jadwal ngaji nya adalah ngaji kitab, kitab yang dikaji adalah kitab fiqih Safinah an-Najah. Metode pembelajarannya dimulai dengan menulis setiap fashal (bab) kemudian dibaca bersama-sama, di terangkan lalu tanya jawab.

Antusias anak-anak TPQ perlu diacungi jempol sebab terlihat dari respon mereka dalam belajar yang sangat semangat dalam setiap pembahasan. Terlebih setelah mengetahui sedikit apa itu mubtada’, dan khabar mereka mencoba-coba sebuah kalimat sehingga terjadi semacam permainan untuk memberi pertanyaan pada sebuah kalimat seperti mana yang dinamakan mubtada’ dan mana yang khobar, dan setelah beberapa pancingan akan pertanyaan mereka sediki-sedikit sudah mulai faham sehingga memudhkan dalam membaca dan menulis makna gandul atau pegon.

Pada pembahasan bab tanda-tanda baligh kemarin, pertanyaan yang mereka ajukan sangat asyik dan menggelitik setelah disinggung mengenai mimpi basah. Memang terdengar sedikit saru, namun dalam pembelajaran setidaknya sebuah istilah yang kurang jelas sebaiknya di gamblangkan supaya para murid dapat memahami materi sepenuhnya dan memahaminya hingga akhirnya pada saat masanya nanti mereka tidak bingung dalam menghadapi fase peralihan dari anak-anak menuju tahap usia remaja, dan juga nantinya pada mereka sudah menjadi orang tua dapat memberikan pengarahan dan pengetahuan mengenai baligh

 

Tujuan pembelajaran ini adalah memberikan sebuah ilmu yang kami dapat selama di pesantren dan pada kesempatan ini kami berkesempatan untuk berbagi, ini merupakan sebuah zakatnya ilmu yaitu dengan berbagi atau mengajarkannya. Mengingat sangat penting memahami isi kitab lebih-lebih Al-Qur’an tidak langsung secara leterleg, dalam memahami sebuah kalimat kita harus tahu susunan kalimat tesebut. Harapan kami semoga para murid TPQ Al-Hidayah dapat mengamalkan apa yang telah didapat selama menimba ilmu agama di TPQ hingga akhirnya jiwa mereka terbentengi dengan nilai-nilai agama dan semoga mereka tidak sampai terpengaruh hal-hal yang jauh dari agama.

 

-Red Faried Muhammad Hidayat (CSSMoRA UIN Walisonogo 2018)

Loading

MENGUKUR ARAH KIBLAT, APA BISA MENJADI PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT?

Mesjid Nurul Wardani, sebuah tempat ibadah umat muslim yang berlokasikan di desa Wonolopo kecamatan Mijen, tempat ibadah yang di jadikan tempat Diskusi Falak oleh Mahasiswa KKN MIT DR 13 kelompok 28, pada tanggal 11/02/22. Diskusi yang berlangsung membahas apa itu ilmu Falak, sejarahnya, dan objek-objek kajian ilmu Falak (arah kiblat, awal waktu sholat, awal bulan qomariyah, dan Gerhana).

Diskusi kali ini lebih fokus mengkaji tentang arah kiblat, pentingnya arah kiblat, dan kenapa harus menghadap kakbah sebagai kiblat?. Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwasanya ketika beribada khususnya sholat juga diperintah menghadap kiblat dimana itu kekhusyuaan dalam dan membantu seseorang hamba dekat dengan tuhannya karena telah menaati perintahnya, walau hanya sebatas menghadap kiblat (ka’bah).

Dalam diskusi tersebut disampaikan bahwasanya “menurut beberapa ulama jika kita berada di Masjidil Haram maka kira diwajibkan menghadap ke Ka’bahnya langsung, dan  jika berada jauh dari Mekkah maka kita diharuskan menghadap kearah Makkah, dan kemelencengan yang di tolelir oleh sebagian ulama ialah 2-3 derajat, melebihi itu maka diusakan diluruskan”. Cakap Dimas (anggota CSSMoRA angkatan 2018) selaku Pemateri Diskusi Falak yang telah terlaksanaka.

Dalam prakteknya kemarin beberapa masjid di Desa Wonolopo memiliki kemelencengan 8-12 derajat dari arah kiblat, dan disini tim KKN MIT DR ke 13 kelompok 28 melakukan cek akurasi kepada masjid-mesjid sekitar setelah diskusi dilaksanakan, agar sholat yang dilakssanakan dimesjid bisa sesuai dengan anjuran agama.

Hingga akhirnya diskusi berjalan dengan lancar dan diikuti oleh kelompok 28, warga, dan salah satu pengurus masjid yang sekalian menjadi saksi pengukuran arah kiblat, dimana beliau juga dosen di salah satu fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang.

-Red Wahyudi (CSSMoRA UIN Walisongo 2018)

Loading

PENGEMBANGAN SKILL CSSMORA KE 4 DENGAN MATERI GRAMMAR

Pengembangan Skill CSSMoRA (PSC#4) kali ini memasuki pertemuan ke 4 dengan tema yang diangkat “Grammar” dimana seperti kegiatan sebelumnya, kegiatan diselenggarakan secara online melalui google meet, 05/02/2022

Dalam diskusi kali ini, dipimpin oleh kak Ayu Fitri Damayanti yang merupakan alumni CSSMoRA UIN Walisongo angkatan 2017, dimana beliau ketika wisuda S1 di UIN Walisongo mendapatkan predikat skripsi terbaik dan menggunakan bahasa Inggris. Kak Ayu mengawali diskusi nya dengan pengenalan grammar dimulai dari definisi grammar, dasar tata bahasa (etimologi, sintaks, orthographi), komponen grammar (noun, sentence, be, adjective, verb, pronoun, determiner, preposition, adverb).

Ketika diskusi berlangsung, para peserta sangat antusias karena materi grammar ini merupakan hal yang akan diujikan, salah satunya pada tes TOEFL di UIN Walisongo.

Menurut kak Ayu Fitri, untuk bisa grammar, kita harus mengetahui dasar-dasar dari grammar itu sendiri, kemudian bisa dibiasakan dengan menonton film barat tanpa subtitle, hafalan baik v1, v2, maupun v3 dan pembiasaan, karena kita bisa karena terbiasa.

Melalui PSC kali ini diharapkan para anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo bisa saling sharing ilmu dan saling belajar, terutama yang berkaitan dengan bahasa Inggris dimana bahasa Inggris merupakan bahasa internasional.

-Red Departemen Hubungan Dalam

Loading

PENGETAHUAN KEPENULISAN DALAM KEGIATAN NGOBROL PINTAR #17

Semarang, Jumat 30 Januari 2022. CSSMoRA UIN Walisongo Semarang mengadakan rutinan Ngopi (Ngobrol Pintar) ke 17, acara tersebut merupakan salah satu proker dari DHD (Departemen Hubungan Dalam) yang mana pada Ngopi kali ini mengambil tema “Secangkir Wawasan dengan Pengetahuan Kepenulisan”. Tema tersebut diambil, mengingat pentingnya kita sebagai mahasiswa mengetahui teknik-teknik dalam kepenulisan, baik dalam kepenulisan makalah, jurnal, ataupun skripsi dan tesis.

Pemateri kali ini merupakan alumni CSSMoRA angkatan 2012 yaitu Kak Salapudin yang tentunya juga aktif dalam dunia kepenulisan. Saat menyampaikan materi dan pengalamannya, Kak Salaf juga memberikan motivasi kepada adek-adeknya supaya tidak bermalas-malasan dalam hal menulis. Karena banyak sekali presentase manusia di Indonesia terutama, yang tidak suka dengan menulis dan membaca. Oleh karena itu, dalam penyampaian materi dan diskusinya Kak Salapudin sangat-sangat mendorong supaya menjadi mahasiswa yang aktif dalam hal apapun terutama dalam dunia literasi.

Menulis itu bukan hal yang susah, bukan hal yang berat juga, apapun yang ada dipikiran kita bisa kita tulis. Entah curahan hati, pengetahuan, dsb. Semuanya ditulis. Menulis tidak harus yang diterbitkan lalu menjadi buku yang dikenal banyak orang, tidak harus seperti itu. Pertama, menulislah untuk diri kita sendiri, semakin kamu merasa kurang dengan tulisan itu, menulislah untuk orang lain supaya memberikan manfat lewat hasil tulisan kita” ujar Kak Salapudin dalam penyampaian materinya.

Para peserta juga banyak yang merasa tertarik dan merasa senang bisa berdiskusi langsung dengan kak Salapudin. Sehingga para peserta juga merasa mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang luar biasa, terutama dalam penulisan makalah yang sering kali digunakan setiap kuliah.

-Red Departemen Hubungan Dalam

Loading

PENGEMIS TUA YANG MENCARI BUNGA DI PASAR

Karya: Yogi Dwi Pradana (Peserta Lomba Cerpen dalam rangka Dies Natalis Ke-14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

Penjual di pasar banyak yang uring-uringan sendiri. Mereka sangat merasakan dampak adanya Pandemi Covid-19. Orang yang belanja di pasar semakin berkurang. Orang-orang takut keluar rumah. Penghasilan penjual di pasar menurun drastis. Ditambah banyaknya pengemis yang silih berganti untuk meminta-minta membuat penjual di pasar semakin memuncak amarahnya. Terkadang penjual di pasar melampiaskan emosi dengan mengumpati pengemis yang datang meminta-minta. 

Yu Jinem, seorang yang telah berjualan di pasar selama 10 tahun sampai hafal dalam satu hari silih berganti ada kurang lebih 5 pengemis yang datang kepadanya. Yu Jinem adalah penjual yang ramah, jarang sekali Yu Jinem terlihat cemberut. Namun, suatu ketika, saat dagangannya; bayam, kenikir, kelapa parutan belum laku sama sekali, Yu Jinem membentak seorang pengemis laki-laki yang masih kecil menenteng kencrengan. Pengemis yang dibentak Yu Jinem pergi dengan wajah yang tak enak—tapi, tetap diam. 

Setelah pengemis laki-laki yang masih kecil itu pergi, Yu Jinem duduk. Yu Jinem merasa bersalah. Yu Jinem mengamati penjual di sekelilingnya. Terlihat di mata kepala Yu Jinem hanya ada satu sampai dua orang yang sedang berbelanja. Hal itu membuat Yu Jinem agaknya menerima bahwa saat ini pasar sedang sepi. Yu Jinem merasa bersalah telah membentak pengemis laki-laki yang masih kecil tadi. 

“Yu?” Yu Sendot menggerak-gerakkan tangan di hadapan Yu Jinem. 

Yu Jinem tak menyahut. Yu Sendot memperhatikan Yu Jinem yang masih melamun. Yu Sendot segera menyentuh pundak Yu Jinem. Yu Jinem kaget. 

“Astagfirullah,” Yu Jinem istigfar. 

“Ada apa to, Yu? Masih pagi kok sudah melamun,” tanya Yu Sendot. 

“Tidak ada apa-apa kok, Yu. Tadi aku cuma merasa bersalah saja telah membentak pengemis laki-laki kecil yang datang ke mari,” jelas Yu Jinem. 

“Oalah, Yu. Aku juga sering sebal juga sebenarnya sama pengemis-pengemis yang datang silih berganti. Tapi, mau tak mau aku tak sampai hati bila tak memberi, meski hanya kadang memberi 200 perak saja. Pengemis itu datang sering tidak terduga soalnya, Yu. Kalau memberi satu pengemis seribu atau dua ribu kan ya bisa tekor kita,” tambah Yu Sendot. 

Ada seorang perempuan datang ke lapak milik Yu Sendot. Yu Sendot meninggalkan Yu Jinem. 

“Silakan, Bu, mau beli ayam yang bagian apa?” tanya Yu Sendot.

“Cuma mau beli yang bagian usus sepuluh ribu saja ya, Bu,” jawab pembeli. 

“Oh baik, Bu,” Yu Sendot mengambil usus dan mulai menimbang. 

Yu Jinem masih menunggu pelanggan pertama di lapak jualannya. Yu Jinem mengambil segelas teh yang sudah dingin. Yu Jinem menyeruput dan berharap segera datang pelanggan yang pertama. 

Tiba-tiba ada seorang perempuan tua datang mendekat ke lapak milik Yu Jinem. Yu Jinem berdiri, memperhatikan betul perempuan yang mendekat itu. Yu Jinem hampir hafal semua pelanggan yang sering belanja di lapak jualan miliknya. Yu Jinem kembali mengamati, perempuan tua itu semakin dekat ke lapaknya. 

“Eh, Ibu, silakan dipilih. Bayam dan kenikirnya masih segar, baru diambil dari kebun tadi pagi. Ini parutan kelapa juga masih segar. Silakan-silakan, Bu,” ucap ramah Yu Jinem. 

Perempuan tua itu mengangguk. Perempuan tua itu memilih bayam. Sesekali perempuan itu membolak-balik bayam untuk mendapatkan yang terbaik. Perempuan tua itu menyisihkan dua tangkai bayam. Perempuan tua itu memilih parutan kelapa yang sudah diwadahkan dalam plastik bening. Perempuan tua itu hanya mengambil satu plastik parutan kelapa dan menyisihkan di dekat dua tangkai bayam yang sudah dipilih.

Perempuan tua itu menenteng dua tangkai bayam dan satu plastik bening berisi parutan kelapa di tangan kanan. Yu Jinem tersenyum, akhirnya ada juga pelanggan yang membeli dagangannya. 

“Sudah, Bu?” tanya Yu Jinem. 

“Sudah,” jawab perempuan tua. 

“Jadi semuanya tujuh ribu saja, Bu,” ucap Yu Jinem tersenyum. 

“Saya bayar dengan bunga ya,” jawab perempuan tua. 

“Maksudnya, Bu?” tanya Yu Jinem.

“Ya, dengan bunga utang yang pernah kamu pinjam dulu,” jawab perempuan tua. 

Perempuan tua itu pergi meninggalkan lapak Yu Jinem. Perempuan itu mendekat ke lapak milik Yu Sendot. Yu Sendot masih melayani pembeli yang lain. 

“Ini ususnya, Bu,” Yu Sendot memberikan usus kepada pembeli. 

Pembeli itu menerima usus dan menyerahkan uang sepuluh ribu kepada Yu Sendot. Yu Sendot mengibas-ibaskan uang di ayam potong dagangannya. Yu Sendot mengucapkan, “Laris manis tanjung kimpul, dagangan laris duit ngumpul.” 

“Silakan, Bu, mau yang bagian apa?” tanya Yu Sendot. 

“Bagian dada satu kilo saja,” jawab perempuan tua. 

“Baik, Bu,” Yu Sendot menyiapkan daging yang bagian dada. Yu Sendot memotong-motong daging yang belum terpotong. 

Yu Jinem masih memperhatikan Yu Sendot memotong-motong daging. Yu Sendot memotong daging dengan raut wajah yang bungah. Perempuan tua itu masih menunggu. Setelah selesai memotong, Yu Sendot menimbang daging yang dipesan oleh perempuan tua itu. Setelah dirasa timbangan sesuai, Yu Sendot memasukkan daging ke dalam plastik hitam gelap. 

“Ini, Bu,” Yu Sendot menyerahkan satu plastik hitam yang berisi daging. 

Perempuan tua itu menerima. Perempuan itu membalikkan badan dan berjalan. 

“Bu, Bu, mau ke mana?” tanya Yu Sendot. 

“Pulang,” jawab perempuan tua. 

“Itu belum dibayar, semua jadi tiga puluh lima ribu,” jelas Yu Sendot. 

“Saya bayar dengan bunga utang yang dulu pernah kamu pinjam,” jawab perempuan tua. 

“Utang yang mana? Saya belum pernah utang kepada Anda,” Yu Sendot bingung. 

Yu Sendot berjalan mendekat. Yu Sendot mengambil kembali satu plastik hitam yang berisi daging. 

Yu Jinem yang melihat peristiwa itu langsung berjalan mendekat. Yu Jinem menghampiri Yu Sendot dan perempuan tua itu. 

“Yu Sendot, berikan daging itu kepadanya, biar aku yang bayar,” ucap Yu Jinem. 

Yu Sendot diam. Yu Jinem mengambil satu plastik hitam yang berisi daging dan memberikan kepada perempuan tua. Perempuan tua itu menerima daging yang kembali diberikan melalui Yu Jinem. 

Perempuan itu membalikkan badan dengan tangan kanan menenteng dua tangkai bayam dan satu plastik putih berisi parutan kelapa, sedangkan di tangan kiri membawa satu plastik hitam yang berisi daging. Yu Sendot kembali ke lapaknya. Yu Jinem berjalan menuju lapak miliknya sendiri. Yu Jinem mengambil uang dari toples kaleng roti. 

Yu Jinem berjalan menuju lapak milik Yu Sendot. Yu Jinem mempercepat langkah karena sudah melihat raut wajah Yu Sendot yang tak enak. 

“Ini uang untuk membayar daging perempuan tua tadi, Yu,” ucap Yu Jinem. 

“Tidak usah, Yu. Aku dari tadi belum melihat pelanggan yang datang sama sekali di lapakmu, tak tega aku bila harus menerima uang darimu,” jawab Yu Sendot. 

“Tak apa, Yu, ambillah uang ini,” Yu Jinem memberikan uang kepada Yu Sendot. 

“Baiklah, Yu, kalau memaksa. Terima kasih ya, Yu,” ucap Yu Sendot. 

Yu Sendot memasukkan uang pemberian Yu Jinem ke dalam sebuah laci kayu kecil. Yu Jinem masih duduk di area lapak milik Yu Sendot. 

“Tadi itu siapa, Yu?” tanya Yu Sendot. 

“Perempuan tua itu adalah orang baik, Yu,” jawab Yu Jinem. 

“Baik apanya, orang belanja tidak mau bayar kok dibilang baik. Kamu ini gimana sih, Yu?” tanya Yu Sendot. 

“Dia baik, Yu. Dulu, dia adalah seorang yang baik hati meminjami uang orang-orang di pasar dengan bunga yang sangat rendah. Namun, aku sendiri juga tak tahu, mengapa sekarang dia menjadi seperti itu,” jelas Yu Jinem. 

“Kamu pernah meminjam uang padanya, Yu?” tanya Yu Sendot. 

“Pernah,” jawab Yu Jinem. 

Yu Sendot baru tahu jika orang yang baru saja tidak ingin membayar saat membeli daging di lapaknya dulu adalah orang kaya. Yu Sendot masih dengan raut wajah yang sinis ketika mengingat perempuan tua itu. 

“Aku balik ke lapakku dulu ya, Yu,” ucap Yu Jinem. 

“Iya, Yu,” jawab Yu Sendot. 

Yu Jinem dan Yu Sendot kembali menunggu pembeli datang. Terlihat hari sudah mulai siang, pengunjung pasar semakin sedikit. 

Perempuan tua yang tadi datang ke lapak milik Yu Jinem dan Yu Sendot sudah sampai di parkiran. Perempuan tua itu tak mengenakan kendaraan dan tidak diantar oleh siapa pun. Namun, perempuan tua itu mendekat ke arah tukang parkir. 

Kang Miswar, tukang parkir yang telah mengabdi selama 25 tahun di pasar. Dia belum juga diangkat sebagai pegawai negeri seperti pekerja-pekerja pasar yang banyak masuk berita karena diangkat menjadi pegawai negeri karena telah mengabdi. Namun, Kang Miswar tetap setia untuk menjadi tukang parkir di pasar. 

Kang Miswar melihat perempuan itu berjalan mendekat ke arahnya. Kang Miswar malah balik yang berjalan mendekat. 

“Eh, Ibu. Apa kabar, Bu?” tanya Kang Miswar. 

“Baik,” jawab perempuan tua. 

“Alhamdulillah,” ucap Kang Miswar. 

“Minta uang dua puluh ribu buat ngojek,” ucap perempuan tua. 

“Oh iya-iya, Bu,” jawab Kang Miswar merogoh saku. 

Kang Miswar tak banyak tanya, ia langsung memberikan uang dengan nominal dua puluh ribu yang terdiri dari uang dua ribuan, lima ribuan, dan sepuluh ribuan—hasil dari parkir. Perempuan tua itu menerima uang pemberian Kang Miswar. 

Perempuan tua itu berjalan. Meninggalkan area parkir yang dijaga Kang Miswar. Kang Miswar tersenyum memperhatikan perempuan tua itu. Perempuan tua itu langsung menuju pangkalan ojek yang ada di sebelah kiri pintu utama pasar. Melihat perempuan tua yang mendekat, salah seorang tukang ojek itu bersiap untuk mengantar. Tukang ojek itu memberikan helm kepada perempuan tua. Tukang ojek sudah siap di atas motor. Perempuan tua itu juga sudah naik di atas motor. Perempuan itu berkata, “Itung-itung ini semua bunga utang dari kalian dulu yang meminjam uang padaku.” Tukang ojek tak terlalu jelas mendengar ucapan perempuan tua yang sedang diboncengnya. Namun, hanya terdengar samar-samar bahwa ada kata ‘utang’. Di dalam pikiran tukang ojek hanya berpikir, semoga perempuan tua itu membayar jasanya dan tidak mengutang padanya. 

 

Bantul, 7 Desember 2021. 

Loading

DI BAWAH REMBULAN YANG HANYUT

Karya: Yuanda Envita (Peserta Lomba Cerpen dalam rangka Dies Natalis Ke-14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

Masa remaja merupakan masa dimana pencarian jati diri dimulai. Seorang anak yang mulai beralih menjadi dewasa akan mempertanyakan segala sesuatu tentang dirinya. Bagaimana dirinya? Apa perannya bagi orang lain? Seperti apa ia di masa depan?

Banyak sekali kasus terjadi dimana para remaja kehilangan kebahagiaannya sebagai seorang remaja. Mereka kehilangan kepercayaan diri. Kehilangan sesuatu yang amat berarti bagi diri mereka. Bahkan tak sempat memikirkan bagaimana nasib mereka di masa yang akan datang. Banyak sekali remaja melalui masa yang begitu sulit. Bahkan, terkadang untuk melampiaskan rasa sakit akibat kesulitan itu, remaja bisa berbuat hal-hal di luar dugaan. Kekerasan, seks bebas, alkohol, narkoba, hingga bunuh diri. Isu ini terus berlanjut di kalangan para remaja yang kehilangan jati dirinya atau bahkan telah kehilangan jati diri mereka sebelum mereka menemukannya. 

Pencarian jati diri dimulai ketika seorang remaja laki-laki telah kehilangan kepercayaannya terhadap dunia. Ia bahkan tak dapat mengerti apa yang dimaksud dengan “percaya”. Ia tak mengerti dengan arti kehidupan yang dijalaninya. Apa tujuannya hidup? Apa tujuannya memiliki sebuah nama? Apa yang membuat orang lain dapat menghargai dirinya? Ia tak pernah menemukan jawabannya.

Ketika itu, ia hanya berjalan dengan langkah kecil di pinggir jalan sebuah kota. Malam hari merupakan waktu dimana para “iblis” beraktivitas. Malam itu, saat remaja laki-laki itu berjalan tanpa arah yang jelas, datang seorang laki-laki dengan rambut panjang dan penampilan serba hitam.

“Hei, kenapa seorang anak muda berjalan-jalan tengah malam begini? Kabur dari rumah? Bertengkar dengan orang tuamu?” tanya laki-laki serba hitam itu.

Remaja laki-laki itu terdiam. Tatapannya terlihat kosong. Wajahnya sendiri terlihat sendu dengan mata yang sayu. 

“Siapa namamu?” tanya laki-laki serba hitam itu.

“Gibran,” jawab remaja laki-laki itu.

Remaja laki-laki itu bernama Gibran. Dilihat dari wajahnya, kemungkinan ia berusia 15 atau 16 tahun. Dengan kata lain, ia adalah seorang siswa Sekolah Menengah Atas. Besok merupakan hari Senin. Tentu saja saat menjelang hari Senin, para murid menyiapkan seragam sekolahnya dan berbagai atribut untuk upacara. Selain itu, biasanya mereka akan mengerjakan tugas di rumah. Lalu, apa yang dilakukan Gibran pada tengah malam meskipun besok adalah hari Senin?

“Hei, kalau kamu tidak memiliki tujuan, bagaimana jika ikut denganku?” ajak laki-laki serba hitam itu.

Gibran hanya terdiam. Kini, ia menatap kendaraan yang berlalu-lalang. Malam semakin larut, tapi jalan masih ramai dengan kendaraan. Suaranya bising, membuat Gibran merasa terganggu. Ia tak memiliki tujuan. Ke mana ia setelah ini? Bagaimana ia istirahat nanti? Bagaimana keadaan selanjutnya? Rasanya ia tak memiliki apa pun. Tujuan hidup? Ya, rasanya ia pun tak pernah memiliki jawaban atas pertanyaan itu.

Berpikir tentang siapa dirinya dan apa perannya dalam kehidupannya sendiri membuat Gibran semakin kebingungan. Usianya masih muda, tapi rasa lelahnya mungkin melebihi seorang manusia yang berusia lebih dari 100 tahun. Rasanya ia ingin mengakhiri rasa lelah itu. Namun, untuk mengakhiri rasa lelah itu, apakah ia harus mengakhiri hidupnya terlebih dahulu?

Wajah Gibran terlihat pucat. Tampaknya ia ingin menolak ajakan laki-laki serba hitam itu. Namun, malam semakin larut dan udara semakin dingin. Setiap embusan angin membuat tubuhnya menggigil dan semakin lama tubuhnya semakin lemas. Oleh karena itu, ia pun mengangguk. Dengan penuh rasa terpaksa, ia menerima tawaran laki-laki serba hitam itu.

“Naiklah!”

Laki-laki serba hitam itu meminta Gibran menaiki motornya. Gibran mengikuti perintah itu dan mereka segera meluncur ke sebuah tempat yang mungkin akan jauh dari bayangan Gibran. Sekitar 15 menit kemudian, mereka akhirnya sampai. Tempat itu adalah sebuah rumah yang bentuknya lebih mirip dengan gudang. Oleh karena itu, mari kita panggil tempat itu sebagai gudang. Gudang itu berada di ujung gang yang gelap dan terisolasi dari pemukiman penduduk. Gibran melihat sekitar. Udara semakin dingin.

“Masuklah!” pinta laki-laki serba hitam itu.

Laki-laki serba hitam itu memasuki gudang itu. Gibran mengikutinya dari belakang. Di dalam gudang itu, terlihat banyak sekali orang berkumpul. Laki-laki, perempuan, mereka semua remaja. Di bawah sinar rembulan yang pucat, ditutupi oleh atap yang hampir ambruk, di sebuah gudang, orang-orang dengan tubuh lunglai itu mulai berhalusinasi. Terlihat dengan jelas wajah penuh keceriaan dari orang-orang tersebut. Beberapa dari mereka bahkan begitu bersemangat sampai melompat-lompat.

Gibran sangat terkejut dengan pemandangan mengerikan yang membuat tubuhnya menggigil. Wajahnya semakin pucat. 

“Mereka ….”

Ucapannya terputus. Laki-laki serba hitam itu pun tersenyum kecil dan menepuk pundak Gibran. “Mereka para pemakai. Lihatlah wajah bahagia mereka!”

Orang-orang di hadapan Gibran merupakan para “pemakai” dan “pecandu” obat-obat terlarang, yaitu narkoba. Gibran melangkah mundur. Ia tak bisa lebih dekat dengan orang-orang itu. Namun, langkah Gibran dicegah oleh laki-laki serba hitam itu.

“Jangan pergi! Mereka bukan orang jahat. Mereka hanya orang-orang putus asa yang kehilangan jalan hidupnya. Mereka hanya melarikan diri. Tenang saja, mereka tidak akan menyakiti orang lain.”

Gibran menggeleng. Wajahnya ketakutan. “Melarikan diri bukan berarti mereka harus memakai barang haram itu, bukan?”

Salah seorang gadis yang termasuk “pemakai” itu menghampiri Gibran. Wajahnya dipenuhi dengan senyum yang merekah. Gadis itu pun menawarkan barang haram itu pada Gibran.

“Bagaimana jika kamu mencobanya? Ini memiliki efek yang cukup kuat. Kamu akan selalu bahagia dan lupa dengan masalahmu jika mencoba ini. Ayolah! Coba sekali saja.”

Gibran memandang barang haram itu.

Beberapa hari telah berlalu, menyisakan rasa manis bagi beberapa orang dan pahit bagi yang lainnya. Di sebuah sekolah, pada pagi hari yang sejuk dan sunyi, seorang gadis hanya berdiri menatap sebuah bangku yang kosong. Hari masih cukup gelap, tapi gadis itu telah berada di sebuah kelas yang masih kosong.

“Gibran, di mana kamu?”

Wajah gadis itu tampak sedih. Tidak, ekspresinya tidak hanya menyiratkan sebuah kesedihan. Sedih, takut, gusar, khawatir, semuanya terlihat jelas. Pandangannya begitu dalam saat melihat bangku kosong itu. Hatinya gelisah selama beberapa hari ini.

Tanpa ia sadari, seseorang telah memasuki kelas itu. Kini, kelas yang sunyi itu telah ditempati oleh dua orang. 

“Rania, kamu masih memikirkan Gibran?”

Gadis berwajah sedih itu bernama Rania. Ia adalah sahabat Gibran. Mereka telah bersahabat dari saat masih Sekolah Dasar. Ia sangat dekat dengan Gibran. Mereka selalu bersama. Tak pernah terpikir dalam benak Rania bahwa Gibran akan menghilang begitu saja.

“Tak ada kabar darinya. Ponselnya tak bisa dihubungi. Orang tuanya pun tak tahu keberadaannya. Gibran tak pernah seperti ini sebelumnya,” ucap Rania pada gadis yang berdiri di sampingnya.

Gadis yang berdiri di samping Rania itu pun ikut memandang bangku kosong tempat duduk Gibran. “Gibran pasti akan kembali,” ucapnya.

Di sisi lain, Gibran diajak laki-laki serba hitam itu ke sebuah tempat untuk membeli minuman. Gibran mengikutinya karena ketidaktahuannya tentang minuman yang dimaksud oleh laki-laki serba hitam itu.

Setelah sampai di tempat itu, Gibran dikejutkan dengan pemandangan berbagai macam botol berisi minuman keras itu. “Jangan bilang kita akan membeli minuman-minuman itu!”

Laki-laki serba hitam itu tak mendengarkan ucapan Gibran. Ia menghampiri laki-laki lain yang duduk di atas sebuah kotak dan memberinya uang. Laki-laki yang duduk di atas kotak itu langsung menyambar uang itu dan menghitungnya.

“Seperti biasa. Aku dan kawan-kawanku akan berpesta malam ini,” ucap laki-laki serba hitam itu.

Setelah selesai menghitung, laki-laki yang duduk di atas kotak itu memasukkan uangnya ke dalam saku bajunya. “Ambil minumannya dan pergilah!” ucapnya.

Laki-laki serba hitam itu pun langsung mengambil sekotak besar yang berisi banyak sekali botol-botol minuman keras. Setelah itu, ia mengajak Gibran pulang dan meminta Gibran untuk membawa kotak berisi minuman keras itu. Namun, Gibran menolaknya.

“Kalau begitu, pulanglah dengan berjalan kaki,” ucap laki-laki serba hitam itu dan ia pun mengendarainya motornya meninggalkan Gibran. 

Gibran pun berjalan kaki. Di hari yang cukup terik, Gibran melihat para siswa dan siswi yang baru pulang sekolah dengan tatapan yang tak dapat didefinisikan. Ia pun menunduk. Ia tak tahu lagi harus bagaimana. Di satu sisi, ia ingin melanjutkan sekolahnya. Di sini lain, ia tahu bahwa itu semua tak ada gunanya.

Ketika ia terus melangkah pulang, tiba-tiba seorang gadis menatapnya dengan mata berbinar. Terlihat berbinar dan membuatnya langsung berlari menghadiri Gibran yang berjalan sambil tertunduk itu. Gadis itu adalah Rania.

Dengan cepat, Rania langsung memeluk Gibran dari belakang dan membuat Gibran terkejut. “Siapa itu?”

Rania hanya diam. Ia hanya terus memeluk Gibran dengan pelukan yang amat erat. Tanpa ia sadari, air matanya mengalir. Gibran dapat merasakan detak jantung Rania yang begitu kencang dan cepat. Kemudian, ia menyentuh tangan Rania dan melepaskan pelukan itu. Gibran menoleh.

“Rania ….”

Wajah Gibran berubah. Seolah melihat air di padang pasir, itulah ekspresi yang dapat didefinisikan dari wajah Gibran saat ini. Wajahnya terlihat senang, lega, dan ada sedikit rasa kerinduan yang dalam.

“Gibran, di mana kamu selama ini? Kenapa tidak masuk sekolah?” tanya Rania.

Gibran, merupakan seorang laki-laki yang selama ini selalu dekat dengan Rania. Mereka berdua selalu jujur satu sama lain. Tak pernah sekali pun Gibran berbohong pada Rania atau sebaliknya. Namun, kali ini, Gibran mungkin akan membohongi Rania untuk yang pertama kalinya.

“Aku …. Aku pindah sekolah,” ucapnya sambil melihat ke arah lain.

Rania tahu bahwa Gibran berbohong. Belum pernah sekali pun Gibran memandang ke arah lain saat berbicara dengannya. Belum pernah sekali pun Gibran terlihat segugup itu.

“Kamu membohongiku, bukan?”

Gibran terdiam dan menunduk. Sudah pasti Rania dapat mengalahkannya. Gibran sangat tidak mahir dalam berbohong. Saat ini, hatinya dipenuhi dengan rasa bersalah.

“Kamu tinggal di mana?” tanya Rania lagi.

Gibran menelan ludahnya. “Di sebuah gudang bersama teman-teman baruku,” ucapnya.

Rania tersenyum. Ia pun meminta Gibran untuk mengajaknya ke sana. Namun, Gibran tidak mengizinkannya. Dengan segala kekuatan yang dimilikinya, Rania terus memaksan Gibran. Pada akhirnya, Gibran mengalah.

Mereka akhirnya berjalan kaki menuju gudang itu. Gibran merasa tidak enak hati mengajak Rania ke tempat yang sangat berbahaya seperti gudang itu. Namun, wajah Rania sendiri terlihat tidak peduli dengan apa pun yang akan terjadi dengannya.

“Kupikir kamu telah menghilang dari dunia ini,” ucap Rania. 

“Apa kamu khawatir jika aku menghilang?” tanya Gibran.

Rania mengangguk. “Tentu saja.”

Mereka akhirnya sampai. Di sana, Rania tidak terlihat terkejut dengan keadaan yang ada. Gibran sendiri telah terkejut melihat keadaan yang kacau di gudang itu. Di sana, beberapa orang terlihat sudah mabuk berat. Beberapa lagi telah memuntahkan isi perutnya, kemungkinan karena terlalu banyak minum. Gibran tak kuat melihat keadaan itu dan memilih keluar. Rania mengikutinya.

Gibran kembali berjalan ke sebuah taman yang tak jauh dari gudang itu dan Rania hanya membuntutinya. Rania sedari kecil memang terlihat seperti bayangan Gibran. Ke mana pun Gibran pergi, Rania akan membuntutinya. Meski begitu, Gibran selalu menerima kehadiran Rania dan Rania pun tak pernah malu jika diejek karena terus membuntuti Gibran.

Mereka akhirnya berhenti di sebuah taman kecil. Di sana, Gibran menaiki ayunan anak-anak yang sudah reot. Rania duduk di ayunan yang ada di samping Gibran. Mereka bermain ayunan. Tanpa disadari, langit telah kehilangan warna birunya. Tanpa disadari, matahari telah bersembunyi lagi. Mereka bermain dalam diam.

Setelah lama hening, Rania memulai pembicaraan.

“Bisa kamu jelaskan padaku, Gibran?” tanya Rania.

Gibran melihat bulan yang telah datang. Bulan itu terlihat pucat, menggantung di langit gelap, dan keadannya mengenaskan. Bulan itu sendirian. Tak ada satu pun bintang yang terlihat menemaninya.

“Jelaskan tentang apa?”

Rania menarik napas kuat-kuat dan mengembuskannya perlahan-lahan. “Alasanmu kabur dari rumah. Bisa kamu jelaskan padaku kenapa kamu kabur dari rumah?”

Gibran terdiam cukup lama setelah mendengar pertanyaan itu. Dalam kebisuan yang cukup lama itu, ia terus menghela napas. 

“Menurutmu kenapa aku kabur dari rumah?” tanya Gibran dengan memberi teka-teki pada Rania.

Rania menghela napas. “Gibran, kumohon jawab pertanyaanku dengan sungguh-sungguh,” pinta Rania dengan wajah lelah.

Gibran tersenyum kecil. “Apa kamu mulai tidak sabar menghadapiku?”

Rania menggeleng. “Aku hanya ingin kamu pulang dan kembali kepada orang tuamu. Aku yakin mereka sangat khawatir.”

Ucapan Rania membuat Gibran menghentikan senyumnya.

“Mereka merampas kameraku. Itu adalah satu-satunya barang berharga yang kumiliki dan kudapatkan dari jerih payahku sendiri. Dengan keegoisan mereka sebagai orang dewasa, mereka merampas impianku dan membuangnya jauh-jauh sampai aku tak bisa menemukannya lagi. Memaksaku menekuni buku-buku ekonomi yang tak sedikit pun kupahami. Memintaku untuk menjadi penerus mereka dan mengurus perusahaan. Aku sama sekali tidak merasakan kehidupan yang mereka berikan padaku. Apa yang terjadi dengan hidupku? Aku hanya ingin bebas. Aku hanya ingin melihat dunia dari sudut pandangku, tapi mereka membuatku buta. Bahkan mereka melumpuhkan kakiku agar bisa terus mengendalikanku. Jadi, untuk apa aku kembali ke neraka tak berujung itu?”

Rania mengerti. Gibran selalu mengikuti apa yang selalu diminta orang tuanya. Tak pernah sekali pun Gibran marah atau menentangnya. Baru kali ini saja Rania melihat Gibran terlihat sangat putus asa.

“Aku tahu. Tindakan mereka benar-benar tidak pantas. Meski begitu, niat mereka baik. mereka hanya ingin kamu menjadi orang yang berhasil di masa depan. Itu cita-cita setiap orang tua pada anaknya. Kita sebagai anak mungkin belum dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang tua, tapi orang tua pernah merasakan apa yang kita rasakan saat ini.”

Gibran tertawa pahit. “Berhasil di masa depan? Itu ucapan yang sungguh egois, Rania. Apa mereka tidak percaya dengan kemampuanku sendiri? Aku ingin berhasil dengan caraku sendiri. Aku tidak ingin menjadi budak yang selalu dipenjara. Keinginanku saat ini hanyalah ingin hidup bebas dari neraka itu. Maka dari itu, jangan paksa aku untuk kembali ke sana.”

Rania berhenti bermain ayunan itu dan kemudian berdiri di hadapan Gibran. Wajahnya tampak sedih. 

“Kalau begitu, jangan menyerah! Kamu laki-laki, bukan? Kamu seharusnya percaya pada dirimu sendiri. Sungguh, aku tidak mengenalmu saat ini. Gibran, sahabat masa kecilku, bukanlah orang yang muram sepertimu. Aku di sini, di hadapanmu, Gibran. Kamu bisa mengandalkanku. Bagaimana pun juga, aku ingin membantumu sebagai seorang sahabat.”

“Meskipun aku dalam masalah besar?”

Rania mengangguk.

“Apa yang akan kamu lakukan untukku?”

Rania mencubit pipi Gibran. “Aku akan menjagamu. Aku benci seorang Gibran yang muram dan bergaul dengan orang-orang yang tidak baik itu. Maka dari itu, aku akan selalu menemanimu dan selalu berada di sisimu. Aku akan duduk mendengar setiap kisah yang kamu ucapkan. Aku akan mengajarkan sesuatu yang tidak kamu mengerti.”

Gibran hanya menatap wajah Rania yang terlihat begitu serius. Ia kemudian menunduk. Lalu, bagaimana jika semua yang dilakukan Rania untuknya hanya sia-sia belaka? Untuk mewujudkan semua itu, apa ia harus kembali ke rumahnya? Apa ia harus kembali bertemu dengan orang tuanya dan mengakui kesalahannya karena kabur dari rumah?

Gibran menepis tangan Rania. “Tidak bisa. Aku tidak akan pulang ke rumah itu. Aku memiliki teman-teman baru yang sama-sama bermasalah sepertiku.”

“Kamu benar-benar tidak ingin pulang dan lebih memilih orang-orang itu?” tanya Rania.

Gibran mengangguk. “Ya. Kamu tidak akan pernah bisa mengerti, Rania.”

Mata Rania berkaca-kaca. Di bawah sinar rembulan itu, wajahnya terlihat seperti seseorang yang telah kehilangan sesuatu yang berharga dari dirinya.

“Apa yang tidak kumengerti? Jika kamu tidak mengatakannya, apa aku bisa mengerti?”

Gibran menunduk. “Rania, kamu mungkin berpikir bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak baik. Kenyataannya, mereka hanya kehilangan masa depan mereka. Kurasa aku mungkin lebih nyaman berada di dekat mereka daripada harus menjadi budak di rumahku sendiri.”

Rania menampar Gibran. Angin di sekitar mereka menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Gibran terlihat terkejut. Pipinya merah karena tamparan itu.

“Kupikir kamu bisa berpikir dewasa, tapi pemikiranmu seperti anak-anak. Saat ini, kamu mungkin menganggap mereka sebagai orang yang tidak beruntung. Kemudian, kamu akan memahami pemikiran mereka dan merasa menjadi satu dengan mereka. Setelah itu, kamu akan mulai mencoba hidup seperti mereka dengan mencoba-coba barang-barang yang dapat merusak masa depan itu. Jika kamu tidak menganggapku sebagai sahabat lagi, silakan kembali ke tempat itu dan lupakan saja diriku.”

Rania pergi. Ia tak kuasa menahan tangisnya. Ia pergi bukan karena marah pada Gibran, tapi karena malu harus menangis di hadapan Gibran. Mereka sama-sama lemah. Mereka hanya remaja yang masih terombang-ambing. Jika Rania benar-benar meninggalkan Gibran saat ini, maka Gibran akan semakin kacau. Gibran mungkin akan menjadi seorang pecandu alkohol dan narkoba. Gibran akan melakukan apa pun demi mendapatkan barang itu, bahkan dengan mencuri dan merampok. Jika semua kesenangan yang ia dapatkan dari barang haram itu telah hilang sepenuhnya dari diri Gibran, mungkin Gibran akan mengakhiri hidupnya. Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Rania.

“Lalu, aku harus apa sekarang?” tanya Gibran.

Rania yang baru berjalan beberapa langkah terhenti dengan pertanyaan Gibran. Gibran menghampirinya dan berdiri di samping Rania. 

“Aku harus apa?” tanya Gibran sambil menatap Rania.

Rania menoleh, menatap Gibran dengan tatapan yang begitu dalam. Mereka saling bertatapan. Di tengah air matanya yang mengalir, sebuah senyum merekah dari wajah Rania. “Bagaimana jika kamu pulang ke rumahmu terlebih dahulu?” 

Gibran menggeleng. “Aku sudah mengatakan jika aku tidak ingin kembali ke sana.”

“Aku tahu, tapi bagaimana pun juga kamu harus kembali ke sana. Kamu hanya punya dua pilihan, Gibran. Rumah orang tuamu atau gudang itu. Kupikir pilihan yang paling tepat di sini adalah kembali ke rumahmu. Jika kamu bertahan di gudang itu dengan berpikir bahwa kamu tidak akan terpengaruh oleh perilaku buruk mereka, maka kamu salah. Bagaimana pun juga, sekuat apa pun pendirianmu, kamu masih akan terpengaruh oleh lingkungan tempatmu tinggal. Kamu akan mencoba barang-barang itu. Kamu akan merusak dirimu sendiri. Pada akhirnya, kamu akan benar-benar kehilangan hidup yang begitu berharga.”

Gibran masih menatap Rania. “Lalu, bagaimana jika aku kembali ke rumah?”

Rania menghapus air matanya. “Kamu mungkin akan dipaksa mempelajari buku-buku ekonomi yang tidak kamu mengerti. Namun, kamu tenang saja. Kamu hanya perlu mempelajarinya dan menguasainya dengan baik. Aku berjanji akan membantumu. Setelah kamu melakukannya dengan baik, kamu bisa meminta imbalan pada orang tuamu, yaitu mengembalikan kameramu dan kamu bisa bebas melakukan apa pun dalam hidupmu. Tidak salah jika kamu ingin melakukan apa yang kamu inginkan. Tidak salah juga jika kamu melakukan apa yang orang tuamu inginkan. Semua tergantung pada dirimu. Yang pasti, jangan hanya berdiam diri dan lakukanlah sesuatu yang baik.”

Gibran menyentuh tangan Rania. “Apa kamu bisa mengantarku pulang?”

Rania tersenyum dan mengangguk. Mereka akhirnya kembali ke rumah Gibran. Rasanya, Gibran kembali mendapatkan kepercayaannya terhadap dunia. Ia tak lagi merasa sendiri. Tanpa ia sadari, ada orang yang benar-benar memikirkannya. Maka dari itu, ia pun mencoba melakukan apa yang diminta oleh orang yang sangat peduli padanya itu.

Setelah sampai di depan rumah, Gibran kehilangan keberaniannya. Rania dapat membaca itu dengan jelas dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Gibran pun memberanikan diri dan memasuki rumahnya.

Saat orang tua Gibran melihat Gibran kembali bersama Rania, mereka dengan cepat memeluk Gibran dan bersyukur melihat Gibran baik-baik saja.

“Ke mana saja kamu? Ibu sangat khawatir,” ucap ibu Gibran.

Gibran hanya diam dalam pelukan orang tuanya. Rasanya itu merupakan pelukan hangat yang lama sekali tak ia dapatkan. Pada akhirnya, seorang anak akan kembali pada orang tuanya. Pada akhirnya, sekeras-kerasnya orang tua pada anak, itu adalah suatu upaya mereka dalam mencintai anaknya.

“Ayah, Ibu, aku minta maaf. Aku ingin jujur pada kalian,” ucap Gibran.

“Apa yang ingin kamu katakan pada kami, Nak?” tanya ayah Gibran.

  Gibran melihat Rania. Rania pun memandang Gibran sambil menganggukkan kepalanya. 

“Aku kabur karena kalian mengambil kameraku. Aku membenci hal itu dan menjadi marah. Kemudian, selama kabur ini, aku tinggal di sebuah gudang yang dipenuhi dengan orang-orang seusiaku yang telah pupus harapannya akan masa depan. Aku melihat mereka minum alkohol dan memakai narkoba. Beberapa dari mereka yang sudah tidak sanggup membeli narkoba dan alkohol pun menyerah dan membunuh dirinya sendiri. Aku bersumpah bahwa aku tidak memakai sedikit pun barang itu. Aku minta maaf sudah merepotkan kalian.”

Orang tua Gibran saling bertatapan dan akhirnya tersenyum. Ibu Gibran mengelus kepala Gibran dengan sangat lembut. “Itu salah kami, Gibran. Kami tahu bahwa kamu memberontak seperti ini karena paksaan kami dan juga karena kami merebut barang berhargamu. Ibu minta maaf. Mulai saat ini, kami tidak akan memaksamu lagi. Kamu bebas melakukan apa saja. Kamu bebas memilih pekerjaan apa pun di masa depan. Asalkan tindakan dan pekerjaanmu baik, kami akan mendukungmu.”

Wajah Gibran terlihat cerah. “Benarkah?”

Ayah dan ibunya mengangguk. Gibran memeluk mereka berdua. Rasanya hangat. Rasanya, tak ada lagi yang perlu ia takutkan. Gibran juga sangat berterima kasih pada Rania yang telah membantunya melalui masa sulitnya.

“Apa aku boleh minta tolong pada kalian?” tanya Rania, memecah kehangatan pelukan keluarga itu.

“Minta tolong apa?” tanya Gibran.

“Aku melihat sendiri bagaimana putus asanya mereka. Mereka memiliki ketergantungan yang begitu parah pada barang-barang haram itu. Aku ingin membantu mereka kembali ke jalan yang cerah seperti Gibran, tapi aku tidak memiliki kekuatan yang cukup. Jadi, bisakah aku meminta bantuan pada Paman dan Bibi terkait masalah ini?”

Beberapa hari kemudian, gudang tempat tinggal sementara Gibran saat masa pelariannya itu didatangi oleh orang-orang berseragam. Orang-orang berseragam itu menangkap para remaja itu. Para remaja yang telah kehilangan arah itu pun dibawa dan direhabilitasi karena kecanduan mereka tehadap narkoba.

“Rania, apa ini membuatmu senang?” tanya Gibran.

Rania mengangguk. “Ya, tentu saja. Aku bersyukur masih memiliki orang tua dan teman yang peduli padaku. Aku masih bisa bersekolah. Aku punya rumah yang layak. Aku masih bisa merasakan hangat matahari. Aku bahagia dan bersyukur dengan kehidupanku saat ini dan aku tak ingin bahagia sendirian. Aku ingin mereka berhenti menggunakan barang-barang haram itu dan mulai melangkah menuju cahaya.”

Remaja, merupakan masa-masa yang begitu sulit. Sedikit saja salah bimbingan, remaja bisa kehilangan arah dan tujuannya menjalani hidup. Kenakalan remaja menjadi hal yang umum di berbagai negara. Remaja hanya membutuhkan perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Orang tua harus percaya pada anak mereka sendiri. Percaya bahwa sang anak mampu melakukan hal yang terbaik bagi dirinya sendiri. 

Kenakalan remaja, mungkin ini isu yang begitu panas di berbagai belahan dunia. Sebagai remaja, hal pertama yang dapat kita lakukan untuk menghindari kenakalan-kenakalan yang berkembang di kalangan para remaja adalah dengan mendekatkan diri dengan Tuhan dan juga orang tua. Kita juga harus cerdas mencari teman dan lingkungan pergaulan. 

“Apa yang akan kamu lakukan mulai saat ini, Gibran?” tanya Rania.

“Tentu saja aku akan belajar sungguh-sungguh. Setelah kupikirkan lagi, mungkin aku akan menerima permintaan orang tuaku dan meneruskan cita-cita mereka sebagai seorang pengusaha. Aku akan menjadi pengusaha sukses dan membangun perusahaan di negara-negara lain. Kemudian, aku akan berkeliling dunia dan mengabadikan kisahku dengan kameraku.”

Rania tertawa kecil. “Itu ide yang hebat.”

Gibran menggenggam tangan Rania. “Kamu ikut denganku, bukan?”

Rania tersenyum malu-malu. “Boleh saja.”

Loading

SEMBRONO

Karya: Yuditeha (Peserta Lomba Cerpen dalam rangka Dies Natalis Ke-14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

 

Setidaknya ada tiga orang mati selama dua hari ini. Sangat mungkin jumlah itu masih bertambah karena bisa saja ada peristiwa kematian lain yang tidak saya ketahui. Ketiga orang yang mati itu karena terjangkiti wabah yang hampir setahun ini melanda bumi dan belum ditemukan penangkalnya.

Ketiga orang yang mati itu antara lain, pertama seorang dokter yang bekerja di rumah sakit khusus menangani orang-orang yang tertular wabah tersebut. Dia dikenal sebagai dokter yang baik, dedikasinya perihal kesehatan masyarakat sudah tak perlu diragukan lagi. Dia memang pantas mendapat julukan dokter teladan. Dokter itu sangat tertib dan profesional. Dia patuh terhadap semua protokol kesehatan. Kesadaran itu selalu dijaga terlebih karena dia menyadari wilayah tugasnya di area yang rentan tertular wabah. 

Namun laku kehidupan ini rupanya memang bukan kuasa manusia, karena kelalaian bisa saja terjadi pada siapa pun, termasuk  dokter itu. Dia tertular wabah justru tidak sedang bertugas di rumah sakit, dan tidak juga sedang menangani pasien. Dokter itu tertular wabah dari salah satu tetangganya yang pada suatu hari berkunjung ke rumahnya. Tanpa menaruh curiga dia menyambut antusias ketika tetangganya itu mengajaknya berjabat tangan.

Kedua, pimpinan sebuah organisasi sosial yang rajin melakukan kegiatan amal. Giat menggalang dana yang hasilnya disalurkan kepada siapa pun yang membutuhkan, terkhusus yang ada hubungannya dengan bencana. Terlebih akhir-akhir ini, perhatian dan kepedulian organisasinya terhadap bencana wabah cukup besar dan patut diberi apresiasi. Bahkan organisasi itu berhasil menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. 

Lagi-lagi misteri hidup tidak bisa diterka manusia. Pimpinan organisasi itu tertular wabah bukan pada saat dirinya sedang melakukan pengabdian. Dia terjangkiti wabah pada suatu hari, usai makan siang dia pergi keluar untuk membeli rokok di toko yang kebetulan tidak pernah dia kunjungi sebelumnya. Pada saat dia dan si penjual sedang serah terima uang dan rokok itulah awalnya.

Ketiga, seorang pejabat kota yang tugas kesehariannya cukup berat. Pejabat itu termasuk lelaki yang humanis dan dicintai rakyatnya. Menurutnya, menjadi pejabat bukan untuk gagah-gagahan. Baginya menjadi pejabat adalah menjadi abdi masyarakat, melayani dengan sebaik-baiknya apa yang dibutuhkan warganya. Untuk mendukung pendapatnya itu, tidak tanggung-tanggung, dia mengutip semboyan yang dulu dicetuskan Ki Hajar Dewantara, ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Bahkan yang paling ganas dia pernah berkata, jika ada pejabat yang tidak bisa berlaku seperti itu bukan saja harus dipecat tetapi layak dibuang ke kotak sampah. 

Sehebat-hebatnya manusia adakalanya tak bisa menghalau kesialan, termasuk pejabat itu. Dia tertular wabah justru dari anak buahnya yang sedang dipanggil untuk diberi pengarahan sekaligus surat peringatan (dirumahkan sementara) karena dianggap tidak mempunyai human interest yang memadai. Pada saat mereka sedang membubuhkan tanda tangan di dokumen kesepakatan itu dengan menggunakan bolpoin yang sama.

Meski nasib ketiga lelaki itu malang tetapi aku setuju jika mereka disebut sebagai lelananging jagad, yang kira-kira artinya lelaki yang bukan sekadar bagus fisik dan rupawan, tetapi lebih merujuk kepada mempunyai jiwa satria dan sifat kemuliaan. 

Sebenarnya saya jarang keluar rumah, lebih tepatnya malas keluar, terlebih sekadar bertemu dengan orang-orang untuk omong kosong belaka. Bisa saja saya bertemu dan berbincang dengan seseorang jika pertemuan itu saya anggap penting, setidaknya ada sesuatu hal yang perlu dibicarakan. Alasan lain mengapa saya jarang keluar rumah tentu saja karena saya seorang pengarang yang kesehariannya bergelut dengan teks, baik pada saat menulis maupun membaca. Menurut saya, dua kegiatan itu sama-sama memerlukan waktu yang tidak sebentar dan butuh situasi yang hening. Karenanya saya suka ketenangan, dan ketenangan itu bisa dicapai salah satunya tidak berhubungan dengan orang banyak. Pertanyaannya, mengapa saya yang jarang keluar rumah ini bisa tahu perihal diri orang-orang itu dengan detail, termasuk tentang sakit dan kematiannya? Kini saya akan ceritakan, bagaimana saya bisa mengetahui itu semua.

Belum lama ini saya mendapat pesan dari seorang perempuan yang dulu pernah intim dengan saya, katakanlah dia mantan pacar saya. Sebenarnya saya masih mencintainya tapi saya tidak tahu mengapa saya masih mencintainya. Tapi jika saya harus memberi alasan, saya hanya bisa mengatakan, dengan dialah pertama kali saya melakukan dosa terkait perempuan. Dulu saya sering melumat bibirnya yang dalam penglihatan saya bisa selalu berwarna merah stroberi, meski tidak sedang memakai gincu. Sudah tak terhitung berapa kali saya telah merabai payudaranya yang dalam bayangan saya selalu bisa tegak lurus, tidak lembek seperti jengger jago. Dan karena dialah saya berani menyatakan diri telah menjadi lelananging jagad. Perlu saya katakan, sebutan lelananging jagad untuk saya ini berbeda dengan arti yang sebenarnya. Bolehlah saya mengartikannya sendiri. Ketika keperjakaan saya telah menjebol keperawanan perempuan, saat itulah seorang lelaki bisa disebut lelananging jagad.

Sayangnya, nasib hubungan saya dengan perempuan itu tidak berlanjut. Dia lebih memilih bersama lelaki lain dengan alasan klise, harta. Dia benar, senyatanya saya melarat. Memang saya penulis, tapi sepertinya penulis yang terus berjuang. Untuk menghidupi diri sendiri saja sudah kepayahan. 

Dalam pesannya, perempuan itu ingin bertemu saya. Usai membaca pesan itu langsung saya terbayang buah stroberi, kelapa gading, dan taman juwita miliknya. Karena itu gegas saya menuju ke tempat yang dia tentukan. Ketika bertemu dengannya entah mengapa justru kemuliaan saya mengemuka oleh keluh yang dia katakan. Pikir saya, tidak ada jalan lain harus mengeluarkan kepandaian saya tentang pemahaman-pemahaman yang biasa saya pikirkan ketika menulis. Setelah itu kesedihannya sembuh. Dia mengecup pipi saya dan mengucap terima kasih, sebelum akhirnya berlalu dari hadapan saya. Saya pulang dengan perasaan ringan. Saat itu saya merasa lelaku saya telah mendekati arti lelananging jagad yang seharusnya.

Apa yang saya lakukan dan apa yang terjadi usai pertemuan dengan perempuan itu tidak jelas saya ingat. Saya baru memahami semuanya ketika saya bertemu dengan dokter yang baik, pejabat yang gigih, dan pimpinan organisasi yang pemurah itu di sini. Di tempat ini pula mereka menceritakan perihal diri mereka kepada saya, termasuk tentang bagaimana mereka terjangkiti wabah dan akhirnya sekarang mati.***

Loading

JAGALAH DIRI, JANGAN KAU SAKITI

Katya: Yuli Rulina (Peserta Lomba Cerpen dalam rangka Dies Natalis Ke-14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

Sengatan terik matahari menyelinap masuk dari celah jendela, memaksa Dina untuk lekas beranjak meninggalkan tilam kecintaannya. Pagi hari sudah bersambut dengan perpisahan yang amat berat baginya. Setelah semalaman ia merelakan waktu istirahat malam untuk merampungkan tugas-tugas mata kuliah. Sudah sering sebenarnya ia seperti itu. Terhitung hanya dua jam tubuhnya merasakan empuk buntalan kapuk yang ada di pojok kamarnya. Sungguh melelahkan. Dua tahun sudah ia ‘menjabat’ sebagai mahasiswi namun tak tampak seperti kenyataannya. Kuliah dalam jaringan, ya, bukan di dalam kelas. Sebuah transisi proses pembelajaran baru semenjak Covid-19 mendunia. Virus yang merebak dengan kecepatan cahaya, tampak tak kasat mata, menyebarkan kepanikan merajalela. Beruntungnya, karantina telah menjadi finalis yang terpilih diantara solusi terbaik lainnya. Mencegah memang lebih baik daripada mengobati.

Perubahan tiba-tiba yang mengubah drastis rutinitas keseharian Dina. Pagi, siang, dan malam terasa tidak ada bedanya lagi. Dina merasa kelimpungan dalam mengatur waktu. Selama berkegiatan penuh di rumah seperti ini, Dina mencoba menyelaraskan antara membagi tugas pribadi dengan tugas pendidikannya. Seringnya juga Dina terjebak pada situasi dimana jadwal makan tidak teratur, jadwal tidur berantakan, sampai jadwal belajar pun tumpang tindih dengan kegiatan lainnya. Semua orang pasti merasakan hal yang sama juga, tidak hanya Dina. Mengerjakan segala aktivitas hanya di rumah, apapun itu, entah itu bekerja, belajar, berbelanja, hingga ujian praktek berenang saja, semua dikerjakan di rumah berbekal jaringan internet dan perangkat telekomunikasi. Lambat laun kebiasaan itu juga yang mulai menggerogoti kesehatan jasmaninya.

Kelas pagi siap menyambut awal hari Dina. Sedikit malas ia menyiapkan sebuah benda elektronik berlayar dengan bentuk persegi panjang dan memiliki dua sisi. Ia menekan tombol power, lalu seketika menyala layar di hadapannya. Sembari menunggu proses loading ia mengecek informasi mata perkuliahan pada grup WhatsApp di ponselnya. Rutinitasnya di setiap pagi, selalu seperti ini. Melihat ribuan pesan berisikan deadline tugas-tugas yang mau tak mau harus ia kerjakan, memicu denyutan dari dalam kepalanya. Tak amat peduli dengan rasa tersebut, ia memilih untuk beranjak sebentar untuk membuat segelas kopi. Kopi hangat di pagi hari mungkin akan dapat menenangkan dirinya saat ini, pikirnya. Merasa puas setelah ia sudah menenggak habis kopinya, seolah-olah kesulitan dalam hidupnya ikut mengalir bersama air kopi yang masuk ke dalam perutnya.

Kini ia harus menyelesaikan tugas-tugas yang telah diberikan. Ia mulai mengetik jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang tersusun rapi pada soal yang terpampang di layar. Berjam-jam Dina hanya duduk dan terus menatap layar membuat badannya seakan-akan telanjur kaku, matanya pun mulai memerah dan berair mengisyaratkan keringnya. Sebetulnya, ia juga merasakan punggungnya terasa panas dan pegal. Denyutan kepala yang sempat menghilang mulai menyerangnya lagi. Demi mengejar tenggat waktu pengumpulan tugas, melalaikan Dina dari keadaan tubuh yang teramat butuh akan istirahat. Jangan lupakan bahwa Dina melewatkan sarapan pagi tadi. Hanya berbekal segelas kopi ia memaksa seluruh organ tubuhnya untuk terus bekerja secara optimal. Serupa dengan kerja rodi, bukan. Kalau saja organ-organ itu bisa bicara, mungkin akan terjadi persatuan antar organ-organ untuk memperjuangkan hak kemerdekaannya.

Dina berhenti sejenak dari kegiatan ketik-mengetiknya. Niatnya ia ingin mengambil segelas air untuk meredakan dahaganya. Ketika ia hendak berdiri, ia merasa pusing sampai pandangannya sedikit menggelap dan kabur. Ditambah perutnya juga terasa kembung dan mual. Dirasa tubuhnya akan ambruk, segera ia berpegangan pada ujung meja. Ia masih berusaha untuk tetap kuat. Ia kembali terduduk, mencoba menetralkan rasa pusingnya. Setelah mereda, ia kembali berdiri dan berjalan pelan untuk mengambil segelas air. Berhasil ia mendapatkan segelas air dan meminumnya. Beberapa menit ia diam dan merenung. Segera ia mengambil ponsel, kemudian ia membuka aplikasi konsultasi kesehatan yang dari sebulan lalu ia pasang dalam rangka berjaga-jaga bila ia membutuhkannya suatu saat nanti. Sebab melihat kondisi sekarang yang tidak memungkinkannya untuk datang secara langsung di tempat layanan kesehatan.  Terjadi percakapan antara dirinya dengan seorang dokter di aplikasi tersebut. Ia menanyakan perihal kejadian yang baru saja terjadi. Selang beberapa menit berlalu, dokter menjelaskan penyebab perkara yang dialami Dina. 

Ya, Dina tengah mengalami kondisi yang bernama hipotensi ortostatik (HO). Kondisi yang terjadi, tekanan darah Dina terlalu rendah saat ia akan berdiri. Darah yang mengumpul di area perut dan kaki menyebabkan kadar darah untuk kembali ke jantung tidak tercukupi sehingga terjadi tekanan darah menurun. Bagaimana tidak, berjam-jam menghadap layar dengan posisi yang tidak berubah sama sekali, hanya jari yang berpindah-pindah dari satu tombol ke tombol yang lain. Dehidrasi juga menjadi pemicu terjadinya hal tersebut. Saat Dina merasa kehausan, sebenarnya itu sinyal dari tubuh yang tidak ia sadari. Di sisi lain, Dina sudah mengetahui penyebab dari rasa kembung dan mual yang dirasanya. Ia memang memiliki riwayat sakit maag genetik. Teringat ketika pagi tadi ia meminum segelas kopi. Minuman yang mengandung kafein termasuk dalam kategori yang memicu terjadinya cairan asam lambung naik ke atas kerongkongan (esofagus). Dina menyesal telah melupakan suatu hal penting pada dirinya sendiri.

Dina mulai menyadari kecerobohannya. Di saat bersamaan dengan kesadarannya itu, dering ponsel Dina nyaring terdengar. Melihat nama kontak yang tertera di layar ponselnya mampu menghangatkan hatinya. Adiknya Laras, menghubunginya. Diangkatnya telepon dari Laras. Terdengar nada khawatir dari ujung sambungan teleponnya. Laras mengaku merasakan kekhawatiran akan keadaaan Dina sekarang, entah mengapa muncul begitu saja. Dina yang mendengar pengakuan si adik merasa ingin menangis seketika. Ikatan batin persaudaraan tidak dapat disepelekan. Laras yang hanya terpaut umur satu tahun di bawah Dina juga tengah mengemban kewajiban sebagai mahasiswi. Laras memilih untuk berkuliah di luar kota dan mengekos di sana. Dina menetap di rumah yang ditinggalkan kedua orang tuanya setelah keduanya meninggal dunia. Dina merespon telepon Laras, ia mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Dina tidak ingin adiknya bertambah khawatir jika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kemudian, Laras menutup telepon setelah sebelumnya memberikan pesan dan doa terbaik untuk Dina.

Sekarang Dina memulai perbaikan pada pola kesehariannya. Mulai memperbaiki pola makan dan jam istirahatnya. Sarapan sudah rutin ia usahakan setiap akan mengawali pagi. Sesekali ia luangkan waktu untuk berolahraga, bukan olahraga berat memang, hanya pemanasan sebentar di pagi hari. Kegiatan itu cukup mengurangi datangnya rasa pusing ketika ia menghadap layar saat mengerjakan tugas kuliah. Ia memutuskan untuk tidak terlalu menempa diri sendiri terlalu keras untuk memenuhi kewajiban pendidikannya. Ia hanya takut akan tertinggal jika tidak menyelesaikannya dengan cepat. Dina sadar akan tanggung jawabnya sebagai kakak kepada Laras. Ia ingat pernah mendengar,”mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan”, sebuah hadis riwayat Imam Muslim. Orang yang kuat akan mampu berbuat lebih baik bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Dina harus kuat sebagai kakak agar bisa menjaga Laras. Hal terpenting yang sebenarnya adalah dirinya sendiri. Perhatikan dirimu sendiri lebih baik, baru akan bisa memperhatikan yang lain dengan baik pula.

Loading

CINTA DI BUMI PESANTREN

Karya: Zubaidah (Peserta Lomba Cerpen dalam rangka Dies Natalis Ke-14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

Bismillahirrahmanirrahim… iżā waqa’atil-wāqi’ah laisa liwaq’atihā kāżibah 

 

Surat Al waqiah menghiasi pagi di pondok pesantren nurud-dhalam rutinitas santri sebelum berangkat ke madrasah seluruh santri sholat dzuha berjamaah, mengingat pahala dan keutamaannya yang besar tak henti-hentinya kiai menganjurkan agar dilaksanakan secara Istiqomah. 

Cahaya mentari semakin bersinar terang para santri berlalu-lalang membawa kitab dan buku dalam genggamannya menuju kelasnya masing-masing sedangkan Aisyah masih mencari-cari bukunya di dalam kamar 

“ya Allah… Kemana lagi aku harus mencarinya?” Raut wajahnya gelisah melihat teman-temannya yang sudah berangkat semua kecuali Linda dan Zulfa 

“ai masih belum ketemu Tah, tinggal 5 menit lagi kita masuk” ujar Zulfa, dan aisyah deru nafasnya semakin memburu 

“kalian duluan ya nanti aku nyusul” namun kedua temennya masih setia menunggu Aisyah menyuruh mereka untuk berangkat saja akhirnya keduanyapun manut saja.. setelah buku mapelnya ditemukan 

“Alhamdulillah” Aisyah segera bangkit dan melangkah cepat 

“Aisyah mau kemana?” spontan langkahnya terhenti saat Aisyah mendengar nyiai memanggilnya 

“ke madrasah nyiai” ujar Aisyah  tubuhnya membungkuk sebagai rasa hormat santri kepada nyiai 

“oh iya sepulang sekolah kamu ke dhalem ya” 

engghi nyiai”.

waktu berputar hingga menjelang siang Aisyah ke dhalem memenuhi panggilan nyiai beliau sedang duduk di ruang tamu “nak cucian punya Gus Husain nanti diambil ya di kamarnya, dia baru datang dari pondoknya” 

‘Deg… Jantung.. oh jantung… Apa yang membuatmu berdetak 2 kali lipat hanya mendengar namanya saja’ bisiknya dalam hati “engghi nyiai saya pamit ke pondok dulu” Aisyah mundur sebelum balik badan nyiai tak boleh melihat raut wajahnya yang seketika berubah mendengar nama putranya 

“tunggu… Buatkan kopi dulu ya nak di depan dhalem ada temen-temennya Husain, nanti biar aku saja yang ngasih” 

“baik nyiai”

Aisyah menuangkan air hangat ke dalam mug dan mengaduknya pelan, aromanya tercium saat dituangkan kedalam cangkir.

“Husain, kamu bilang 2 tahun lagi kamu akan boyong dari pesantren Lirboyo, dan melanjutkan studimu di Mesir, bolehkah aku menanyakan sesuatu?” tanpa sengaja ia mendengar nama Husain disebut, Sejenak ia terhenti dan mendengarkan secara seksama perbincangan mereka

 

“Tanyakan saja” Aisyah tersenyum mendengar suara Gus Husain membuat hatinya berdebar ada sesuatu yang tidak biasa terjadi dalam lubuk hatinya ia ingin mendengar suaranya sepanjang waktu  

“aku penasaran aja istri idamanmu seperti apa sih? siapa tau kita bisa jadi saudara ipar wkwk” 

“Maksudmu kamu menjodoh-jodohkan aku dengan adikmu yang masih MTS itu” 

“ya elah Husain, nggak harus memandang usia kan? Hahaha” 

“ada-ada saja kau mam, persoalan itu belum aku pikirkan sama sekali” 

“Ayolah jawab kita-kita ini sudah bertunangan aku, faisal, roni, masak kamu betah amat jadi jomblo” 

“Tentunya……” Husain menggantungkan ucapannya “seperti Sitti Aisyah” Aisyah tertawa kecil seolah-olah dirinyalah yang dimaksud Gus Husain “Sitti Aisyah istri Rosulullah” lanjut Gus Husain membuat Aisyah sadar sepenuhnya ia mengkhayal terlampau jauh  hingga lupa ia terlalu berharap sesuatu yang amat muhal baginya 

‘ya Allah hanya sesaat aku mengharapkan hambamu… Secepat itu pula runtuh seketika dan merawat harapan selain dari pada-Mu sakitnya benar-benar nyata’ ia bergumam dalam hati hanya ia dan tuhanlah yang tau, Aisyah menganggap dirinya tidak ada apa-apanya karakter Sitti Aisyah istri Rosulullah tidak sedikitpun ada pada dirinya, Aisyah membalikkan badannya nampan sedari tadi ditangannya hampir terjatuh akibat terkejut dengan keberadaan nyiai yang secara tiba-tiba berada di depannya

“biar saya yang ngasih kopinya ya” 

“iya nyiai” Aisyah menyerahkan kopinya yang mulai dingin sedingin hatinya yang mulai membeku. 

“Husain Husain sini nak, Aisyah kamu jangan kemana-mana dulu” Aisyah mengangguk “iya mi, bentar ya temen-temen” Gus Husain kini berada didepan umminya “Ada apa mi?” 

“Nak ambilkan semua bajumu yang kotor ummi pusing yang mau ke kamarmu berantakan sekali nak” 

“ummi malu ah ada santriwati di sini… Biasa mi Kan baru Datang masih belum diberesin” 

“cepetan gih kasian Aisyah biar ummi yang ngasih kopinya ke temen-temen kamu”.

 

Aisyah berusaha menetralkan detak jantungnya yang naik turun ia mengikuti Gus Husain dari belakang dan menunggu diluar kamarnya Gus Husain menarik koper besar lalu pergi tanpa sepatah kata 

‘sadar Syah, kamu itu santri … tugasmu belajar, jatuh hati urusan nanti’ ia menghela nafas lalu pergi ke pondoknya.

 

Beberapa baju sudah dimasukkan ke dalam bak untuk segera dicuci barang-barang berharga dikantong baju dan celananya disimpan ke dalam lemari untuk diserahkan ke nyiai setelah bajunya kering nanti. Aisyah juga menemukan note berukuran kecil berisikan kata-kata “Man shabara zhafira.” (Siapa yang bersabar akan beruntung). “Man jadda wajada!” (Siapa bersungguh-sungguh akan berhasil). “Man Saara Ala Darbi Washala” adalah Barang siapa berjalan pada jalannya, maka dia akan sampai (pada tujuannya). Ada stimulus yang Aisyah rasakan setelah membaca selembar tulisan itu meski tak disampaikan langsung oleh Gus Husain ia mengambil hikmah dan dicerna oleh pikiran dan perasaanya bahwa kunci perjuangan berpegang teguh pada 3 mantra itu dengan begitu Aisyah berharap ia mendapatkan barokah ilmu selama ia mondok meskipun sibuk di dhalem dan kesempatan belajar tidak sama dengan Santri lainnya Akan ia perjuangkan untuk terus menimba ilmu.

“Ketahuilah mempelajari ilmu itu wajib hukumnya, apa dalilnya utlubul Ilmi minal Mahdi ilallahdi ingat !.Hingga akhir hayat bukan berhenti ketika sudah berkeluarga atau masa tua” itu lah yang disampaikan oleh ustadzah di sekolah.

Masa aliyah tinggal menghitung Minggu, putih abu-abu serasa baru kemaren Aisyah mengenakannya ia merenung dan bertanya-tanya, apa yang bisa ia lakukan sekarang selain memikirkan masa depan langkah apa yang harus ia ambil setelah lulus nanti mengabdi di pondok atau kuliah sedangkan kuliah biayanya tidak sedikit, finansial sangat tidak mendukung jika memilih kuliah, maka dengan keikhlasan hati ia putuskan untuk mengabdi di pondok hingga menunggu waktu hingga tiba pulang ke kampung halamannya.

 

“Aisyah….” 

“Engghi nyiai…”

“Panggilkan Husain ya nak… Dia belum sarapan”

“Engghi nyiai” Aisyah langsung bergegas memenuhi perintahnya 

“Gus dipanggil nyiai..” beliau sedang mengobrol bersama Ridlo teman kelas Aisyah saat SD   dia seorang tahfidul Qur’an suatu kebanggaan dan teramat bahagiannya orang tuanya kelak mendapatkan mahkota di surga-Nya yang membuat Aisyah heran bagaimana  mereka bisa kenal bahkan seakrab itu 

“tenang lur aku tidak akan memanggil dia selagi masih ditempat ini…” Ridlo tertawa dan melihat Aisyah yang masih setia berdiri di depan pintu  

“Saya nyusul Syah… Sampaikan ke ummi”

“Baik Gus” hanya itu yang bisa Aisyah katakan.

Aisyah kembali ke dapur dan menyiapkan makanan ke atas meja

“Setelah sarapan kita ngaji” 

“iya bi”

“kamu kapan balik pondok nak?”

“setelah pernikahan Ridlo bi” nyaris Aisyah terkejut

‘Ridlo mau menikah dengan siapa, beruntung sekali perempuan tersebut dipinang oleh takhfidul qur’an?’ Aisyah bertanya-tanya dalam hati siapakah calon istrinya.

Aisyah duduk di dalam menunggu mereka hingga selesai sarapan 

“Ridlo siapa nak?, abi kok nggak kenal yang tadi di kamarmu ya?”

“dia sudah pulang bi kami teman pondok bi, tapi tidak sekamar”

Sesaat semuanya terdiam 

“abi….”

“iya nak….”

“bi sekalipun aku putra abi dan ummi, aku…. Aku Sama seperti lainnya, merasakan yang Namanya sakit hati, cinta, rindu dan bahagia terhadap sosok lain yang tak terikat hubungan mahram dengan kita, apakah abi dan ummi melarang? Aku tidak macam-macam kok bi hanya ingin mencurahkan apa yang terpendam”

“kenapa kamu bilang seperti itu nak?”

“aku… hanya….”

“kamu nggak segan cerita hal itu ke abi?”

“segan bi, sangat segan maaf bi”

“tidak apa-apa nak kamu sudah dewasa kamu yang lebih tau dan lebih mengerti diri kamu sendiri”

“tapi bi…. Ada yang mendahuluiku dan akupun baru tau bi”

“serahkan semuanya kepada pemilik semesta nak… segalanya diatur oleh Allah”

Aisyah termangu mendengar pernyataan dari gus Husain mungkin dia tidak sadar bahwa masih ada santri yang mendengar curahan hatinya. Aisyah turut kasihan kepada gus Husain tanpa tau siapa perempuan yang dia maksud.

 

Sore itu “Aisyah saatnya kamu pulang”

“kenapa pak? Kalau memang ada perlu ya sudah aku pamit dulu ke nyiai tapi keperluan apa?”

“kamu pamit bareng bapak nak, karna kamu tidak akan balik lagi ke pondok”

“kenapa begitu pak aku betah sekali di pesantren ini kenapa harus berhenti”

Tanpa sepatah kata untuk mewakili jawaban dari pertanyaan Aisyah, bapaknya menyerahkan surat undangan pernikahan, kedua nama mempelai membuat Aisyah tak mampu berkata-kata jantungnya berdetak hebat ia tak mampu bernafas dengan teratur setelah membaca undangan yang tertera nama dirinya Sitti Aisyah & Fathur Ridho Al-farizy yang duduk Bersama gus Husain kemaren.

“kenapa bapak tidak minta persetujuan dariku pak” air matanya tumpah membanjiri kedua pipinya

“dia laki-laki yang baik, kamu masih meragukan pria yang sholeh seperti dia? Maaf nak keputusan bapak dan ibumu itu yang terbaik untuk mu ke depan” Aisyah pun tak kuasa ia hanya bisa pasrah mungkin awal yang ia rasakan saat ini teramat pahit baginya ia hanya bisa berharap esok suasana akan berdamai dengan hatinya sekalipun rasa masih tertuju pada dia gus Husain.

Pelukan berhamburan dari berbagai arah baju-baju di lemari bantu dikemas oleh teman-teman pondoknya ucapan selamat membuat Aisyah masih tidak percaya dengan apa yang dialami saat ini Aisyah dan bapaknya pamit saat sekeluarga berkumpul, nyiai turut merasa kehilangan 

“siapa lagi yang ummi suruh untuk cuci bajumu nak kalau Aisyah sudah boyong” nyiai menatap putranya 

“ummi kayak punya santri satu saja” gus Husain tersenyum tanpa sengaja pandangan mereka bertemu 

‘Ya Allah tidak ada kekuatan dan daya upaya selain dari-Mu aku ikhlas dan pasrah jika Aisyah cinta pertamaku bertemu dengan jodohnya yang telah engkau pilih semoga mereka bahagia dunia akhirat’ harapan dan do’a dari gus Husain penuh dengan keiklasan ia mampu menyembunyikan rasa cintanya dari keluarganya bahkan yang dicintainya kecuali kepada tuhannya

 

Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan 

Dalam hidup dan yang paling pahit 

Adalah berharap pada manusia 

~Ali bin Abi Tholib~

 

Loading