Semarang — Departemen Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) CSSMoRA UIN Walisongo kembali menunjukkan komitmennya dalam menebar kebaikan melalui kegiatan bertajuk Aksi Peduli Sesama yang dilaksanakan pada Minggu, 9 Maret 2025, di Panti Asuhan Al-Hikmah, Bringin, Ngaliyan. Kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 20 anak binaan panti sebagai penerima manfaat.
Acara dimulai pada sore hari dengan rangkaian kegiatan yang dirancang penuh makna dan kehangatan. Setelah pembukaan secara resmi, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Umum CSSMoRA UIN Walisongo, Koordinator Departemen P3M, serta perwakilan pengelola Panti Asuhan Al-Hikmah. Dalam sambutannya, mereka menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini serta harapan agar tali silaturahmi dapat terus terjalin.
Doa pun dipanjatkan bersama, memohon keberkahan atas acara yang digelar dan kebahagiaan bagi seluruh peserta. Suasana kemudian menjadi lebih meriah ketika para anggota Departemen P3M mengajak anak-anak bermain bersama sembari menunggu waktu berbuka. Dipandu oleh Dina dan Nuna, permainan yang menitikberatkan pada kekompakan dan fokus ini disambut dengan antusiasme tinggi oleh anak-anak. Tawa ceria pun mengisi halaman panti, menciptakan momen kebersamaan yang hangat dan penuh keceriaan.
Begitu bedug Maghrib terdengar, seluruh peserta bersama-sama menyantap hidangan berbuka yang telah disiapkan. Suasana penuh kekeluargaan terasa begitu kental dalam momen ini. Sebagai penutup, dilakukan penyerahan bingkisan secara simbolis kepada anak-anak panti, sebagai bentuk kepedulian dan cinta kasih dari keluarga besar CSSMoRA UIN Walisongo.
Kegiatan berjalan dengan lancar dan penuh keakraban. Lebih dari sekadar acara seremonial, aksi ini menjadi wujud nyata dari semangat solidaritas sosial yang dijunjung tinggi oleh CSSMoRA. Harapannya, kegiatan ini dapat menumbuhkan rasa empati, memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, serta mengajarkan arti syukur kepada seluruh pihak yang terlibat.
Dengan semangat Berbagi dan Menginspirasi, CSSMoRA UIN Walisongo berkomitmen untuk terus menebar manfaat dan menjadi bagian dari perubahan sosial yang lebih baik.
Sebagai bentuk rasa syukur atas usia ke tujuh belas, Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMoRA) UIN Walisongo sukses menyelenggarakan rangkaian kegiatan Dies Natalis dengan tema “Meniti Jalan Pengabdian, Meraih Keberkahan Bersama CSSMoRA Meraih Masa Depan.” Kegiatan ini memiliki beberapa rangkaian kegiatan yang terlaksana, diantaranya:
1. Sayembara logo harlah ke tujuh belas yang diikuti oleh seluruh anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo.
2. Festival Dies Natalis CSSMoRA (FDC), kegiatan ini diselenggarakan untuk umum dengan ketentuan peserta maksimal berusia 25 tahun. FDC memiliki tida cabang lomba, yakni Musabaqah Qiro’atul Kutub (MQK), Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), dan Musabaqah Da’i Muda (MDM) yang semua dilakukan secara online. Kegiatan FDC ini berhasil menembus tiga ratus lebih peserta dari seluruh Indonesia.
3. CSSMoRA Bersholawat menjadi puncak acara pada perayaan tersebut. Gus Apang (Ashfal Maulana), Abah Budi Harjono, dan tim hadroh JQH UIN Walisongo menjadi bintang tamu yang menyita perhatian khalayak umum. Terbukti dari peserta malam itu bukan hanya dari kalangan mahasiswa, namun juga warga sekitar kampus UIN Walisongo turut hadir meramaikan malam puncak yang diadakan di auditorium II UIN Walisongo.
Sebagai penutup, seluruh anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo mempererat ikatan kebersamaan melalui kegiatan rihlah. Saloka Theme Park merupakan destinasi pilihan seluruh anggota.
Pada Sabtu–Minggu, 24–25 Mei 2025, telah diselenggarakan kegiatan Astrocamp bertajuk “Tafakur Alam di Pelukan Malam” di kawasan Kebun Teh Medini, Kendal, Jawa Tengah. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, Kawakib Institute, dan Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Tengah, dengan jumlah peserta sebanyak 40 orang yang berasal dari mahasiswa, masyarakat umum, serta perwakilan dari Lembaga Falakiyah PWNU NTB.
Acara dibuka pada Sabtu malam pukul 19.30 WIB. Dalam sambutannya, Dr. H. M. Basthoni, M.H. menekankan pentingnya tafakur atas ciptaan Tuhan melalui langit malam serta menghargai perjuangan para ilmuwan falak terdahulu. Sementara itu, Ilham Awaludin dari CSSMoRA menyampaikan harapannya agar sinergi antar lembaga ini terus terjalin untuk menyebarluaskan ilmu falak ke berbagai kalangan.
Sesi materi dimulai dengan pengenalan teleskop Seestar oleh Moh Mailan Nahdhoh, S.H. Teleskop ini memadukan sistem manual dan teknologi AI, sehingga gambar langit dapat langsung diolah dalam perangkat. Peserta pun langsung mencoba mengoperasikan teleskop ini.
Selanjutnya, M. Nur Iskandar Fajri, M.H. memberikan pelatihan astrofotografi dan light painting dengan smartphone, sambil menjelaskan pengaturan penting seperti ISO dan shutter speed agar hasil foto langit tampak maksimal.
Malam hari menjadi puncak antusiasme peserta. Langit cerah menghadirkan pemandangan Milky Way yang menakjubkan, disertai kegiatan bakar-bakar santai. Salah satu peserta, Danial Alexa, mengungkapkan “Saya sangat senang, karena ini kali pertama saya melakukan astrofotografi dan mendapatkan hasil yang sangat bagus.”
Kegiatan ditutup dengan pengamatan fajar menjelang subuh, mengajak peserta merenung dalam suasana yang hening dan penuh makna.Astrocamp ini bukan hanya sarana belajar dan observasi langit, tetapi juga media tafakur, kebersamaan, dan refleksi spiritual dalam keindahan alam malam yang tenang.
Cssmorawalisongo.org – Ahmad Agil Tsabata resmi dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Program Studi Ilmu Falak S1 pada Wisuda Tahun 2025. Mahasiswa kelahiran Jember, 29 Desember 2003 ini berhasil menyelesaikan studinya tepat waktu dengan hasil yang membanggakan, menunjukkan dedikasi tinggi terhadap akademik, organisasi, dan pengabdian.
Wawancara dilakukan secara daring melalui WhatsApp (24 /05/2025), mengingat kesibukan dan jarak yang tidak memungkinkan untuk bertemu langsung. Dalam perbincangan hangat tersebut, Agil mengungkapkan bahwa capaian ini adalah buah dari perjuangan panjang dan penuh tanggung jawab.
“Ini adalah sebuah kehormatan sekaligus pengingat bahwa gelar ‘terbaik’ bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar,” ujar Agil.
Ia menjelaskan bahwa selama kuliah, ia memegang teguh prinsip kedisiplinan, konsistensi dalam belajar, serta manajemen waktu yang seimbang antara kuliah, organisasi, pekerjaan, dan kehidupan pribadi. Bagi Agil, konsistensi kecil justru lebih berdampak besar dibandingkan usaha yang besar tapi sesaat.
Salah satu tantangan terbesar selama masa kuliah justru datang dari dalam diri sendiri.
“Yang paling berat itu berdamai dengan diri sendiri. Kadang kita ragu, lelah, merasa tidak mampu, bahkan sempat merasa salah jurusan seperti saya di awal-awal. Tapi dari situ saya belajar, jangan jadikan itu beban. Ambil jeda, renungi, lalu bangkit lagi. Kesulitan itu pintu menuju versi diri yang lebih kuat,” jelasnya.
Agil menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada kedua orang tua, para dosen, teman-teman seperjuangan, khususnya teman sekamar di pondok YPMI Al-Firdaus, serta para alumni Nurul Jadid di Semarang yang banyak berdiskusi dengannya selama proses penyusunan skripsi.
Setelah wisuda, Agil berencana kembali ke kampung halamannya di Jember untuk melaksanakan tanggung jawab pengabdian. Ke depan, ia juga berencana melanjutkan studi S2 di UIN Kiai Haji Ahmad Siddiq Jember, mengambil bidang yang lebih spesifik di Hukum Keluarga Islam.
Kepada mahasiswa lainnya, Agil menitipkan pesan penuh semangat,
“Jangan menyerah pada kegagalan, karena di dalam setiap proses pasti ada pembelajaran. Cari mentor, dan pandai-pandailah bergaul dengan orang-orang positif. Jaga keseimbangan antara akademik, kehidupan pribadi, dan organisasi. Jangan tumbang karena hal apa pun.”
Kisah perjuangan Ahmad Agil Tsabata membuktikan bahwa ketekunan, ketulusan, dan keberanian untuk terus melangkah mampu menghantarkan seseorang mencapai puncak prestasi. Namun baginya, puncak ini hanyalah titik awal dari tanggung jawab yang lebih besar kepada masyarakat dan ilmu pengetahuan.
cssmorauinws.org– Ketegangan sudah terasa bahkan sebelum moderator mengucapkan sepatah kata. Aula tempat debat digelar seolah berubah menjadi arena pertarungan ide, bukan hanya antara dua pasang calon ketua CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, tetapi juga antara dua cara pandang dalam memajukan organisasi.
Sabtu, 17 Mei 2025, dua paslon dari angkatan 2023 resmi beradu gagasan dalam Debat KPU CSSMoRA UIN Walisongo. Asyraf Zofir Wafa dari Bengkulu, tampil sebagai Paslon nomor 1, membawa semangat konsolidasi internal lewat Talkshow sebagai program unggulannya. Di seberangnya, Paslon nomor 2, Wika Winanta dari Riau, menjanjikan gairah baru lewat Volunteer sebagai program unggulan, yaitu sebuah gerakan pengabdian kepada masyarakat.
Debat yang dihelat Komisi Pemilihan Umum CSSMoRA ini dihadiri oleh pengelola Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB), Ahmad Munif, serta perwakilan Ketua Umum CSSMoRA Nasional. Dua panelis senior, Wali Cosara dan Hesti Suci Cahyani, tampil tajam dalam menguji ketegasan visi dan kesiapan teknis masing-masing kandidat.
Para kandidat beradu visi dan cara pandang. Bukan hanya soal program, perbedaan mencolok tampak dari cara kedua paslon memandang peran CSSMoRA ke depan. “Saya mempunyai visi yaitu mewujudkan CSSMoRA yang kokoh dalam kebersamaan, berlandaskan nilai kekeluargaan, serta bertumpu pada pondasi keadilan dan kedisiplinan” ujar Asyraf.
Sementara itu, Wika menyentil pentingnya CSSMoRA untuk keluar dari zona nyaman. “Menjadikan CSSMoRA sebagai rumah yang teduh bagi jiwa-jiwa berilmu, tempat tumbuhnya semangat, berkembangnya prestasi, dan bertemunya asa santri dalam satu ikatan kekeluargaan, yang berdaya, berkarya, dan bermakna” ujar Wika.
Acara debat berlangsung tegang namun penuh gelak tawa. Momen tegang sekaligus mengundang tawa terjadi ketika salah satu panelis Hesti, melempar pertanyaan tentang alasan mengapa mereka harus dipilih? Jawaban kedua paslon menunjukkan ketegasan, namun dengan gaya berbeda. Asyraf menjawab iya layak dipilih karena lebih tau mengenai CSSMoRA, sementara Wika menjawab bahwa ia berhak dipilih karena sebagai sekretaris 2 yang termasuk BPH lebih mengeri tentang persoalan CSSMoRA UIN Walisongo dan satu-satunya perempuan pertama yang mencalonkan dirinya sebagai Ketua.
Namun suasana tak melulu serius. Di sela-sela argumen tajam, canda tawa sesekali muncul, membuktikan bahwa debat ini bukan semata tentang menang atau kalah, melainkan tentang kematangan gagasan dan sportivitas.
Debat ini bukan akhir, melainkan titik awal dari partisipasi aktif para anggota CSSMoRA dalam menentukan arah gerakan. Siapa yang layak memimpin? Program siapa yang lebih menjawab tantangan zaman? KPU CSSMoRA UIN Walisongo 2025 memberi Anda kesempatan untuk memilih, bukan sekadar menyaksikan.
Satu hal yang pasti, CSSMoRA UIN Walisongo sedang menulis sejarahnya sendiri. Dan Anda adalah bagian dari pena yang menentukan paragraf berikutnya.
Semarang — Dalam rangka menjalankan program divisi Pengabdian Masyarakat dan Pemberdayaan Pesantren (P3M), CSSMORA UIN Walisongo mengadakan roadshow bertajuk “Desain Bukan Cuma Gaya, Tapi Cara Menyampaikan Makna” di Pondok Pesantren Ar-Rois Cendekia Semarang pada Ahad, (4/5/2025)
Kegiatan ini bertujuan tidak hanya mengenalkan teknik desain grafis, tetapi juga menanamkan pemahaman bahwa desain memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan dan makna yang mendalam. Para peserta, yang merupakan santri dari Ponpes Ar-Rois Cendekia, diajak memahami bahwa visual bukan sekadar ornamen, melainkan medium komunikasi yang efektif, terlebih di era digital.
Dalam sambutannya, pengajar Ponpes Ar-Rois Cendekia, Andi Maulana, S.H., M.H., menyampaikan pentingnya sinergi antara visual dan makna. “Di era digital ini, keindahan visual harus selaras dengan konten yang bermakna, agar pesan dakwah, edukasi, maupun informasi dapat tersampaikan secara efektif,” ujarnya ketika menyampaikan sambutan. Ia juga menekankan bahwa meskipun Canva adalah alat yang mudah digunakan, kekuatan desain tetap terletak pada bagaimana elemen-elemen visual disusun secara naratif dan bermakna.
Materi disampaikan oleh Alfin Khomsah Sabilal H., yang membuka sesi dengan penjelasan teori mengenai prinsip desain bermakna, seperti pemilihan warna simbolis, pemanfaatan ruang (layout), serta keseimbangan visual yang mengarahkan perhatian pembaca. Usai teori, para santri langsung diajak praktik membuat poster bertema “Selamat Idul Adha” menggunakan Canva.
Dalam sesi praktik, santri diminta mengeksplorasi fitur-fitur lanjutan Canva, mulai dari ilustrasi, animasi ringan, hingga pemilihan palet warna yang sesuai dengan tema hari raya. Suasana pelatihan terasa hidup, dipenuhi diskusi seru, tawa ringan, namun tetap fokus dalam menyempurnakan desain masing-masing. Semangat mereka mencerminkan antusiasme tinggi dalam belajar dan berkreasi.
Di akhir kegiatan, panitia menilai hasil karya para santri berdasarkan tiga aspek: kreativitas, kejelasan pesan, dan penerapan makna visual. Tiga desain terbaik kemudian dipresentasikan langsung oleh pembuatnya dan mendapatkan apresiasi serta hadiah menarik dari panitia.
Ketua Umum CSSMORA UIN Walisongo, Muhammad Ilham Awaludin, menyampaikan harapannya atas terselenggaranya kegiatan ini. “Kami berharap pelatihan ini dapat membantu para santri dalam tugas-tugas sekolah, sekaligus menjadi bekal keterampilan yang berguna di era digital ke depan.”
Roadshow ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Pengabdian P3M CSSMORA UIN Walisongo tahun akademik 2024/2025, dan direncanakan akan dilanjutkan ke beberapa pesantren dan sekolah lainnya di masa mendatang.
Kementerian Agama Republik Indonesia beserta dua ormas besar Islam, yakni NU dan Muhammadiyah, secara resmi menetapkan 1 Syawal 1446 H pada hari Senin, 31 Maret 2025. Penetapan tersebut didasari oleh kondisi hilal di seluruh Indonesia yang masih berada di bawah ufuk.
Menteri Agama Republik Indonesia, Nasarudin Umar, memaparkan bahwa dalam penentuan awal bulan Hijriah, pemerintah menggunakan kriteria yang telah disepakati oleh Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yakni ketika hilal mencapai ketinggian 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Namun, data hilal pada tanggal 29 Maret 2025 atau 29 Ramadan 1446 H menunjukkan bahwa hilal masih di bawah ufuk sehingga tidak mungkin terlihat oleh perukyat.
“Pertama, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama menggunakan kriteria visibilitas hilal MABIMS dalam menentukan awal bulan Kamariah yang mensyaratkan ketinggian hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Adapun posisi hilal hari ini di seluruh Indonesia masih di bawah ufuk dengan ketinggian berkisar minus 3 derajat 15 menit 47 detik, ya, sampai dengan 1 derajat 4 menit 57 detik, ya, dan sudut elongasi 1 derajat 12 menit 89 detik, ya, hingga 1 derajat 36 menit 38 detik.”
“Dengan demikian, secara hisab, data hilal pada hari ini belum memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS. Kedua, pada hari ini, Sabtu, 29 Maret 2025, yang bertepatan dengan tanggal 29 Ramadan 1446 Hijriah, telah masuk laporan dari para petugas rukyah di berbagai daerah di Indonesia yang telah melaksanakan pengamatan hilal, dan tim penerima laporan rukyah di pusat telah mengonfirmasi bahwa hilal tidak terlihat,” ungkapnya dalam konferensi pers.
Berdasarkan hal tersebut, pemerintah kemudian menetapkan bahwa dilakukan istikmal dan disepakati bahwa 1 Syawal 1446 H jatuh pada Senin, 31 Maret 2025.
“Oleh karenanya, berdasarkan hisab posisi hilal wilayah Indonesia yang tidak memenuhi kriteria MABIMS serta tidak adanya laporan hilal terlihat, maka disepakati bahwa tanggal 1 Syawal tahun 1446 Hijriah jatuh pada hari Senin, tanggal 31 Maret 2025 Masehi. Dengan demikian, terjadi istikmal. Jadi, disempurnakan menjadi 30 hari puasa kita pada hari ini,” imbuh Nasarudin Umar saat konferensi pers.
Senada dengan pemerintah, NU dan Muhammadiyah juga menetapkan awal Idul Fitri pada hari Senin, 31 Maret 2025. Hal tersebut diungkapkan oleh masing-masing ormas melalui pemberitahuan resminya. Muhammadiyah dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 1/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1446 Hijriah dan NU melalui ikhbar resminya pada surat nomor 3797/PB.01/A.1.01/.47/99/3/2025.
Divisi Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo memiliki tujuan untuk mendorong anggota-anggotanya dalam menghasilkan karya-karya ilmiah yang berkualitas. Untuk mencapai tujuan tersebut, kami telah menyusun aturan penulisan artikel yang jelas, agar proses pengiriman artikel ke platform kami dapat berjalan dengan lancar dan terorganisir. Aturan ini tidak hanya mencakup ketentuan umum dalam penulisan, tetapi juga panduan spesifik terkait berbagai kategori artikel yang dapat diajukan, serta pedoman khusus bagi penulisan turats yang lebih mendalam dan berbasis keilmuan Islam.
Ketentuan Umum Penulisan Artikel
Setiap artikel yang dikirimkan ke Divisi Jurnalistik CSSMoRA harus memenuhi beberapa ketentuan dasar. Salah satunya adalah orisinalitas artikel. Kami menekankan bahwa artikel yang dikirimkan harus merupakan karya asli dari penulisnya, tanpa unsur plagiasi atau saduran dari karya orang lain. Kami juga mengharapkan penulis untuk menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku. Gaya penulisan harus disesuaikan dengan tema atau rubrik yang dipilih oleh penulis, dan setiap artikel yang dikirimkan bertujuan untuk mengedukasi pembaca, memberikan informasi yang berguna, serta membahas isu-isu sosial, keislaman, pendidikan, kebangsaan, dan kepesantrenan.
Kategori Artikel yang Dapat Dikirimkan
Kami menerima berbagai kategori artikel yang dapat dipilih sesuai dengan minat dan keahlian penulis. Kategori ini mencakup Kajian Keilmuan, yang membahas topik-topik terkait keislaman atau kajian sosial-keilmuan dengan panjang artikel antara 700 hingga 1.000 kata. Penulis yang memilih kategori ini diharapkan dapat memberikan argumen yang kuat, didukung dengan data dan kutipan yang relevan.
Kategori berikutnya adalah Opini, di mana penulis dapat membahas isu-isu faktual seperti keislaman, pendidikan, sosial, politik, atau masalah lainnya. Artikel dalam kategori ini minimal memiliki panjang 600 kata dan disusun dengan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca.
Kami juga menerima artikel Resensi Buku yang bertema buku terkait keilmuan atau keislaman. Artikel ini minimal harus sepanjang 750 kata dan disertai dengan foto buku yang relevan. Untuk penulis yang lebih tertarik pada dunia motivasi atau generasi muda, kategori Inspirasi Milenial menawarkan ruang untuk penulisan artikel yang santai dan komunikatif dengan panjang 600 hingga 800 kata.
………..
Panduan Penulisan Artikel
Untuk memastikan kualitas dan konsistensi artikel yang kami terima, kami telah menetapkan beberapa panduan penulisan yang harus diikuti. Artikel harus ditulis dengan orisinalitas dan kredibilitas yang tinggi. Sumber-sumber yang digunakan dalam artikel harus valid, dan kutipan yang diambil dari karya orang lain harus dicantumkan dengan benar. Struktur artikel yang baik terdiri dari judul yang singkat dan menarik, pendahuluan yang menggugah minat pembaca, isi artikel yang mendalam dan berbobot, serta penutup yang memberikan kesimpulan dan rekomendasi.
Format penulisan juga harus sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, yaitu menggunakan font Times New Roman ukuran 12, spasi 1,5, dan margin standar (4-3-3-3). Kami juga meminta penulis untuk menggunakan gaya kutipan ilmiah yang telah ditentukan, seperti APA, MLA, atau Chicago.
Panduan Penulisan bernuansa Turats/Kitab Kuning
Selain artikel biasa, Divisi Jurnalistik CSSMoRA juga menerima artikel berbasis turats, yang merupakan karya-karya ilmiah yang lebih mendalam dan berkaitan dengan tradisi keilmuan Islam. Artikel dalam kategori ini harus mengangkat tema yang sesuai dengan tradisi ilmiah Islam Indonesia, seperti Ilmu al-Qur’an, Hadits, Fiqih, Tasawuf, Bahasa dan Sastra Arab, Aqidah, Filsafat, atau Sejarah Islam. Artikel harus ditulis dengan panjang minimal 5.000 kata (tidak termasuk pustaka dan lampiran) dan dapat ditulis dalam bahasa Arab atau aksara Pegon, sesuai dengan topik yang dibahas.
Penulisan Majalah Zenith
Divisi Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo juga menyelenggarakan sayembara penulisan majalah sebagai sarana untuk mendorong kreativitas dan kontribusi ilmiah dari anggotanya kru magang Juranalistik setelah melaksanakan pelatihan kepenulisan sebelumnya. Artikel yang diajukan dalam majalah ini harus relevan dengan tema yang telah ditetapkan Anggota Divisi Jurnalistik, dan penulis akan dinilai berdasarkan orisinalitas, kedalaman analisis, serta kesesuaian dengan tema yang diusung. Artikel terbaik akan mendapatkan penghargaan berupa publikasi di platform kami.
Hak dan Kewajiban Penulis
Setiap penulis yang artikelnya diterima berhak untuk mendapatkan feedback dari redaksi, dan artikel yang lolos seleksi akan dipublikasikan di website kami. Selain itu, penulis juga berhak atas penghargaan berupa apresiasi. Di sisi lain, penulis berkewajiban untuk membagikan artikel yang telah dimuat di media sosial pribadi mereka sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan dan eksistensi Divisi Jurnalistik CSSMoRA.
Penolakan Naskah
Kami memiliki kebijakan tegas terkait artikel yang tidak sesuai dengan standar kami. Artikel yang mengandung unsur SARA, hoaks, atau bertentangan dengan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan akan ditolak. Redaksi juga berhak untuk menyunting artikel tanpa mengubah substansi, jika diperlukan.
Publikasi dan Apresiasi
Artikel yang terpilih untuk dipublikasikan akan diterbitkan di media internal CSSMoRA. Selain itu, artikel yang lolos seleksi juga akan mendapatkan reward sesuai dengan kebijakan redaksi sebagai bentuk apresiasi terhadap karya penulis.
Kontak Redaksi
Bagi yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut terkait aturan penulisan artikel, dapat menghubungi kontak resmi Divisi Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo melalui email di 23020460084@student.walisongo.ac.id atau melalui WhatsApp di +62 822-5277-4568.
Ketika berbicara tentang penciptaan alam semesta, sains dan agama sering kali menawarkan sudut pandang yang berbeda namun sama-sama menakjubkan. Dalam tradisi Islam, salah satu narasi yang sering dikaji, terutama dalam kitab-kitab klasik, adalah tentang Arsy dan makhluk-makhluk penyangganya. Tema ini memang jarang dibahas secara populer, tetapi memiliki keunikan tersendiri yang layak direnungkan, terutama bagi kita yang ingin memahami tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.
Dalam kitab An-Nawadir karya Syekh Syihabbudin al-Qalyubi, terdapat penjelasan menarik tentang Arsy yang dikutip dari para ulama klasik seperti Wahab bin Munabbih, seorang tabi’in yang dikenal sebagai ahli sejarah, dan an-Nasafi, seorang ulama besar madzhab Hanafi. Penjelasan ini mengungkapkan hal-hal yang, jujur saja, bagi sebagian orang mungkin terdengar sulit dipercaya. Tapi di balik itu semua, ada pesan mendalam tentang keagungan Allah dan pentingnya rendah hati.
Apa Itu Arsy?
Arsy digambarkan sebagai kubah agung yang menaungi seluruh jagat raya. Bisa dibilang, Arsy adalah “puncak” ciptaan dalam hierarki kosmik, tempat semua catatan alam semesta tersimpan. Kalau kita ibaratkan dalam istilah modern, Arsy ini mirip dengan “database” besar yang mencatat segala sesuatu, mulai dari awal penciptaan hingga takdir setiap makhluk. Namun, hanya Allah yang sepenuhnya mengetahui keagungan dan fungsi detail dari Arsy ini.
Menurut riwayat, Arsy diciptakan oleh Allah 2000 tahun sebelum Kursi. Perbedaannya? Kursi adalah makhluk yang lebih kecil dari Arsy, tetapi tetap menjadi bagian dari struktur alam semesta yang tak terbayangkan oleh akal manusia.
Arsy ditopang oleh 360 pilar besar yang masing-masingnya memiliki jarak antar-pilar sejauh perjalanan 500 tahun. Tak hanya itu, setiap pilar diapit oleh ribuan kota, istana, dan malaikat. Para malaikat ini, dengan pakaian dari cahaya yang berganti setiap hari, menggambarkan betapa kompleks dan luar biasanya ciptaan Allah.
Malaikat Penyangga Arsy
Nah, ini bagian yang paling menarik. Dalam narasi klasik, disebutkan bahwa Arsy dipikul oleh empat malaikat dengan wujud yang sangat unik:
1. Malaikat pertama menyerupai manusia.
2. Malaikat kedua berbentuk seperti sapi jantan.
3. Malaikat ketiga menyerupai burung elang.
4. Malaikat keempat berbentuk seperti harimau.
Wujud-wujud ini bukan tanpa makna. Sebagian ulama menafsirkan bahwa bentuk malaikat ini melambangkan kekuatan, kecerdasan, dan kesempurnaan ciptaan Allah. Menariknya, setelah Kiamat, jumlah malaikat yang memikul Arsy akan bertambah menjadi delapan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an
Para malaikat berada di berbagai penjurunya (langit). Pada hari itu delapan malaikat menjunjung ʻArasy (singgasana) Tuhanmu di atas mereka (Al-Haqqah : 17)
Dalam Tafsir Tahlili menerangkan bahwa Pada hari Kiamat, para malaikat berada di segenap penjuru langit. Delapan malaikat menjunjung ‘Arsy Allah di atas kepalanya. Persoalan malaikat dan ‘Arsy ini adalah persoalan yang gaib, tidak seorang pun yang mengetahuinya. Tidak dijelaskan bentuk ‘Arsy yang dipikul para malaikat itu, dan ke mana mereka membawanya. Oleh karena itu, kita menerima semuanya itu berdasarkan iman kita kepada Allah
Arsy dan Ular Raksasa
Namun, cerita tentang Arsy tidak berhenti di sana. Dalam salah satu riwayat, diceritakan bahwa Arsy sempat merasa sombong karena menganggap dirinya sebagai makhluk paling agung yang pernah diciptakan. Sebagai peringatan, Allah menciptakan seekor ular raksasa yang melilit Arsy. Ular ini digambarkan memiliki karakteristik luar biasa:
70.000 sayap.
Setiap sayap memiliki 70.000 bulu.
Setiap bulu memiliki 70.000 wajah.
Setiap wajah memiliki 70.000 mulut,
dan setiap mulut memiliki 70.000 lidah
yang bertasbih dengan jumlah yang setara dengan semua tetesan hujan, butiran pasir, dan makhluk di alam semesta. Ular ini melingkari Arsy, mengingatkannya bahwa seagung apa pun makhluk, ia tetaplah ciptaan Allah yang harus tunduk dan patuh kepada-Nya.
Percaya atau Tidak?
Sebagian dari kita mungkin akan merasa kisah ini sulit dicerna akal. Wajar, karena tidak semua hal bisa kita pahami dengan logika manusia yang terbatas. Namun, sebagaimana dalam banyak tradisi Islam, cerita-cerita seperti ini mengajarkan kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, mengingat kebesaran-Nya, dan memahami bahwa ada banyak misteri alam semesta yang hanya Dia yang mengetahui.
Pada akhirnya, percaya atau tidak, semua kembali pada masing-masing individu. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengambil hikmah dari kisah-kisah ini dan menjadikannya sebagai pengingat untuk terus memperbaiki diri.
Dalam rangka mewujudkan pemimpin masa depan yang unggul dan kompeten, CSSMoRa UIN Walisongo Semarang dan CSSMoRa Universitas Sains dan Al-Quran (UNSIQ) Wonosobo meyelenggarakan Kaderisasi Tingkat Perguruan Tinggi(KTPT) 2024 yang bertempat di Yayasan Hidayatul Mubtadi-ien, Semarang (9-10 November 2024).
Kegiatan KTPT ini merupakan sebuah kegiatan wajib bagi seluruh mahasantri baru penerima Beasiswa Santri Berprestasi tahun 2024, yang tujannya adalah untuk memperkenalkan Oraganisasi CSSMoRa serta membangun sebuah solidarity untuk mencapai seuah prestasi, sesuai dengan tema yang diusung pada kegiatan kali ini yaitu “Menanam Visi Misi, Membangun Solidarity, untuk Mencapai Sebuah Prestasi”.
KTPT pada tahun ini, diikuti oleh 46 mahasantri dan merupakan kali keduan bagi CSSMoRa UIN Walisongo Semarang kolaborasi dengan CSSMoRa Universitas Sains dan Al-Quran(UNSIQ) Wonosobo. Kegiatan ini berfokus pada pemaparan materi oleh beberapa narasumber yang berfokus pada Ke-CSSMoRa-an, Keorganisasian, Kebangsaan, Persidangan, dan Kepesantrenan.
Ketua Umum CSSMoRa Nasional Khidrian Afriansyah dan Kepala Dapartement PSDM Nasional Indana Zulfa turut hadir untuk memberikan sambutann sekaligus materi pada kegiatan kali ini. Dalam sambutannya Khidrian Afriansyah menyampaikan ucapan terimakasih kepada CSSMoRa UIN Walisongo Semarang yang besedia untuk berkolaborasi dengan CSSMoRa UNSIQ Wonosobo sekaligus menjadi tuan rumah penyelenggara KTPT 2024. Ia juga memaparkan bahwa kegiatan KTPT ini sangatlah penting bagi mahasantri penerima Beasiswa Santri Berprestasi(PBSB).
“Kegiatan KTPT ini merupakan langkah awal kalian untuk dapat meneruskan estafet kepemimpinan yang ada di dalam organisasi CSSMoRa,” ujarnya.
Tak hanya itu, Ketumnas CSSMoRa ini juga berharap, agar nantinya seluruh anggota baru CSSMoRa UIN Walisongo Semarang dan UNSIQ Wonosobo turut aktif dalam kegiatan CSSMoRa baik tingkat perguruan tinggi maupun tingkat nasional.
“Saya berharap kepada seluruh anggota baru CSSMoRa Perguruan Tinggi(PT) ikut berpartisipasi aktif dalam seluruh kegiatan CSSMoRa PT dan Nasional,” imbuhnya.
Menyambut hal tersebut, perwakilan peserta dari UNSIQ menyampaikan rasa bangganya dapat bergabung dalam organisasi CSSMoRa. “ Menurut saya, CSSMoRa bukanlah sebuah organisasi semata, namun CSSMoRa merupakan sebuah keluarga. Walaupun kami berbeda kampus dan belum mengenal sebelumnya, tapi kami merasakan kehangatan dalam organisasi ini,” sambutnya.
Setelah KTPT 2024 berakhir, seluruh peserta kini resmi menjadi bagian dari CSSMoRA dan siap berperan aktif dalam organisasi. Mereka berkomitmen untuk mengemban nilai-nilai loyalitas tanpa batas, menjunjung tinggi integritas, dan terus berupaya menjadi kader berprestasi demi kemajuan CSSMoRa