Ahmad Zaki Anshari Al-Banjari lahir di Kalimantan Selatan pada 29 Maret 2003, adalah seorang penulis yang memadukan Dirosat Islamiyah dengan nilai-nilai Sosial Kemasyarakatan. Sebagai mahasiswa Double Degree Ilmu Falak di UIN Walisongo Semarang dan Syari'ah dan Sastra Arab di Safwa University. Penulis memiliki minat mendalam terhadap alam semesta dan keindahannya.
Pengalamannya yang luas dalam dunia pendidikan, termasuk sebagai pengajar di madrasah diniyah dan pondok pesantren, serta perannya sebagai Pembina IV di Yayasan Ma'had Al Islamy Hidayatul Amin Batu Tangga, telah membentuknya menjadi pendidik yang inspiratif. Penulis dikenal mampu menggabungkan ilmu pengetahuan Dirosat Islamiyah dengan kearifan lokal, menginspirasi generasi muda untuk mencapai potensi terbaik mereka.
Dalam beberapa tulisannya, corak penulis mengkomunikasikan konsep-konsep kompleks dengan cara yang mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Dengan semangat sebagai pembelajar seumur hidup, saya terus berinovasi dalam dunia pendidikan dan senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Keahlian penulis dalam mengelola program pendidikan dan meningkatkan kualitas pembelajaran membuat penulis dipilih sebagai manajer pendidikan yang adaptif dan kreatif.
Aspek penting Sirah Nabawiyyah yang jarang disentuh: benarkah Rasulullah hidup dalam kemiskinan? Fakta Penelitian Menguak Total Kekayaan Beliau Setara Rp 1,41 Triliun
Ahmad bin Ali al-Maqrizi (w. 845 H) dan Dr. Abdul Fattah Samman mencatat dengan rinci aset kekayaan Rasulullah dalam karya mereka yang berjilid-jilid.
Dari penelitian itu tampak jelas satu pesan besar, Beliau Nabi Muhammad adalah hartawan yang zuhud. Dan zuhud, sebagaimana diajarkan Rasulullah, tidak identik dengan kemiskinan, tetapi kebebasan hati dari ketergantungan pada harta.
Selama ini, kisah hidup Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallamseringkali diceritakan dengan penekanan pada kesederhanaan, bahkan kemiskinan. Namun, sebuah kajian keilmuan mendalam telah menyingkap fakta yang mengejutkan, sekaligus meluruskan pemahaman kita tentang konsep zuhud yang sebenarnya.
Dalam sebuah disertasi yang luar biasa, Dr. Abdul Fattah As-Samman mengangkat sebuah ilmu yang ia sebut al-iqtishad an-nabawi (ekonomi Nabi). Karya ini kemudian dibukukan menjadi Kitab Amwalun Nabi setebal 560 halaman.
Berdasarkan penelitian tersebut, yang menyimpulkan dari berbagai nash, dalil, dan bukti otentik yang dihimpun dari kitab-kitab “kuning” para ulama, terungkap sebuah kesimpulan yang tegas: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah seorang yang kaya raya
Kajian tersebut mengakhiri studinya dengan perhitungan bahwa nilai kekayaan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dari hasil usaha beliau totalnya mencapai angka fantastis: 1217 kg emas.
Sumber penghasilan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam datang dari jalur yang beragam, Penghasilan utama beliau diperoleh melalui jalur bisnis karena beliau adalah seorang pedagang yang ulung, dari warisan yang diterima dari kedua orang tua dan dari Khadijah, dari berbagai hasil rampasan perang, serta berbagai hadiah dari raja-raja maupun dari para sahabat dan lainnya.
Selain itu, harta beliau juga berupa tanah yang tersebar di berbagai tempat, seperti tanah Sab’ah (hadiah dari Mukhairiq), tanah dari Bani Nadhir, benteng Khaibar, separuh dari tanah Fadak, dan sepertiga dari Wadil Qura. Beliau juga memiliki barang-barang pribadi seperti pedang, baju besi, busur, anak panah, dan tameng.
Lantas, mengapa kita sering mendengar beliau hidup sederhana? Jawabannya terletak pada konsep zuhud. Data ekonomi kenabian menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.memang kaya raya, tetapi kekayaan itu tidak berdiam lama di tangannya
Fakta mencengangkan lainnya dari diri nabi muhammad ialah infaq beliau nilainya lebih dari 1251 kg emas. Beliau juga tercatat mewakafkan lima belas lahan tanah yang nilai masing-masingnya lebih dari 25 kg emas.
Penulis kitab Amwalun Nabi menjelaskan kaidah beliau dalam berinfaq yaitu untuk diri sendiri, istri dan keluarga, orang-orang yang menjadi tanggungan, mantan budak, pembantu, sahabat, tamu, hingga para muallaf dan bahkan orang-orang musyrik.
Inilah yang menjadi pesan utama dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bukanlah seorang yang miskin. Beliau adalah hartawan yang zuhud. Kajian ini mampu memberikan materi tambahan nilai berkenaan dengan persoalan-persoalan mendasar, seperti masalah aqidah, sirah nabawiyah, hadits, maupun pemikiran dakwah yang kesemuanya disandarkan kepada dalil-dalil yang shahih dan sirah yang otentik.
Kekayaan yang beliau miliki adalah alat, bukan tujuan, sehingga beliau selalu bebas dari ketergantungan terhadap harta. Inilah definisi sempurna dari zuhud. Kebenaran ini ditegaskan oleh qaul sekian banyak ulama umat, seperti Imam Taqiyuddin As-Subki, Imam Al-Hafizh Tajuddin As-Subki, Imam An-Nasafi, hingga Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaili.
Membedah Ilmu Falak dalam “Class of CSSMORA” Kabinet Navantar
Semarang – CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, di bawah naungan Kabinet Navantara. sukses menggelar edisi perdana “Class of CSSMoRA” (CoC) dengan fokus mendalam pada “Perhitungan Awal Waktu Salat”. Acara yang berlangsung hangat dan komunikatif ini dilaksanakan pada Jumat, 31 Oktober 2025, bertempat di YPMI Al-Firdaus, tepat Ba’da Ngaji hingga selesai, menghadirkan Pemantik ahli, Dhimas Richie Pramono.
Kegiatan ini merupakan jawaban atas kebutuhan nyata para anggota baru, khususnya angkatan 2025, dalam menghadapi tantangan keilmuan di bangku perkuliahan.
Mengurai Benang Kusut Perhitungan Salat
Nurziah Rahman, salah satu panitia pelaksana, menjelaskan bahwa CoC Falak ini lahir dari inisiatif untuk menjawab kebingungan anggota baru. “Berangkat dari pertanyaan Kami Kakak Kakak Senior ke Adek Tingkatnya, apa yang sekarang dihadapi, apa yang berat di perkuliahan, apa yang belum dipahami. Makanya dari situ kami mengambil tema ini,” ujar Nurziah.
Meskipun tema ilmu falak umumnya terkesan rumit, namun fokus pada perhitungan awal waktu salat dipilih karena topik inilah yang dirasakan paling sulit oleh anggota 2025.
“Melihat dari pernyataan teman-teman Angatan 2025 itu, ya mereka sampai saat ini tuh yang belum terlalu dipahami itu tentang perhitungan awal-awal waktu salat ini. Karena ya itu ribetnya itu beda ya sama arah kiblat,” kata Nurziah, menjelaskan alasan pemilihan tema yang spesifik tersebut.
Tujuan utama CoC ini adalah menjadi fondasi bagi anggota untuk memperdalam keilmuan di kejuruannya masing-masing. Nurziah juga menegaskan bahwa ke depannya, CoC akan berlanjut dan mencakup keempat jurusan yang ada di CSSMoRA, tidak hanya Ilmu Falak.
Menariknya, CoC ini tidak hanya diikuti oleh mahasiswa Ilmu Falak, tetapi juga oleh peserta dari program studi lain. Kehadiran lintas jurusan ini dipandang sebagai kesempatan emas untuk memperluas manfaat ilmu falak ke ranah yang lebih luas.
Asyraf Zafir Wafa, Ketua Umum CSSMoRA UIN Walisongo, mengungkapkan motivasinya sebagai pemimpin: “Kadang mereka butuh suasana yang lebih enjoy, teman yang lebih bisa menggunakan bahasa-bahasa yang sederhana, agar ilmu itu bisa masuk ke dalam pikiran mereka sendiri.”
Mengenai manfaat bagi peserta non-Falak, Ketua Umum menaruh harapan besar:
“Minimal dia mendapatkan manfaat itu berupa apa? Mungkin dari pembelajaran malam hari ini mungkin teman-teman misal dari Jurusan teknologi informasi mereka akan lebih banyak bertanya oh kira-kira bisa enggak nih ilmu falak ini disandingkan dengan teknologi atau misalkan nanti buat aplikasi,” jelas Asyraf.
Menurutnya, manfaat yang didapat bukan sekadar pengenalan, tetapi juga pemicu ide untuk mengembangkan ilmu falak ke ranah teknologi, sosial, dan filsafat. Ketua Umum pun menilai kegiatan ini “Sangat membantu” karena terbukti mampu menyampaikan materi perhitungan salat yang rumit dengan bahasa sederhana dan mudah diterima oleh anggota.
Catatan Evaluasi: Peka dan Berkelanjutan
Menutup wawancara, Ketua Umum Asyraf Zafir Wafa menyampaikan harapannya untuk panitia agar terus meningkatkan sensitivitas terhadap kebutuhan anggota. “Harapannya kepada semua panitia mungkin mereka bisa lebih membaca lagi apa yang dibutuhkan oleh teman-teman anggota dari CSSMoRA,” pesannya.
Meskipun CoC ini adalah yang pertama, Nurziah Rahman mengonfirmasi bahwa kegiatan serupa akan terus berlanjut. Tidak menutup kemungkinan akan ada review ulang materi falak atau tema lain dari mata kuliah yang dirasa sulit, sesuai dengan permintaan dan kebutuhan anggota CSSMoRA.
Aku Izzuddin, seorang pemuda yang dulu berjalan tanpa kompas, dikendalikan oleh maunya sendiri. Jujur saja, aku bingung atau mungkin tak peduli tentang arah yang benar. Keluargaku? Mereka seperti punya dunia masing-masing. Aku merasa sendirian, sampai akhirnya satu keputusan gila muncul di kepala: Aku harus pergi.
Tekadku bulat: Aku ingin jalan hidup baru, aturan baru. Yang paling penting, aku ingin mulai mencari dan mengenali Sang Pencipta.
Meninggalkan hiruk-pikuk kota, aku tiba di tempat asing, Desa Pamangkih Seberang, Kalimantan Selatan. Di sana berdiri sederhana sebuah kompleks: Pondok Pesantren Al-Muhajirin.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Silakan masuk, untuk mondok ya?” sambut seorang petugas dengan logat Banjar yang hangat.
Sejak saat itu, aku resmi menjadi santri. Pondok non-formal ini didirikan pada 6 Agustus 2014, berdiri di atas tanah wakaf seluas 11 hektar. Pondok ini lahir dari rahim Yayasan Gotong Royong Muhajirin, yang digagas oleh KH. Mukhtar H.S., penerus pengasuh terdahulu, Ibnul Amin. Konon, Al-Muhajirin ini didirikan sebagai solusi karena asrama di pondok induk sudah terlalu tua dan sesak.
Belajar di Bawah Lima Tiang
Sistem di sini disebut Salafiyah Terpadu. Aku belajar bahwa pondok ini punya cita-cita besar: melahirkan generasi Muslim yang bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, mandiri, dan berwawasan luas, semua harus berpijak pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Misinya, yang kulihat dalam rutinitas harian yang super padat, adalah membentuk pribadi sholeh, menyiapkan khairu ummah (umat terbaik), membangun jiwa kepemimpinan, dan yang paling keren, mengajarkan ilmu agama dan umum secara seimbang.
Semboyan pondok “Siap belajar dan siap mengajar, siap dipimpin dan siap memimpin,” benar-benar menampar cara berpikirku yang dulu lurus tanpa tujuan. Di sini, aku dipaksa memegang erat Panca Jiwa: Keikhlasan, Kesederhanaan, Kemandirian, Kebersamaan, dan Keterbukaan. Aku, yang dulunya digerakkan oleh nafsu, kini harus berjalan berpegangan pada lima tiang ini.
Pertemuan di Musholla Sambutan dari ‘Kakak’
Suatu malam setelah Isya, aku duduk merenung sendirian. Tiba-tiba, seorang guru, yang akrab dipanggil Kakak oleh para santri, menghampiriku.
“Kenapa, Nak? Ada keluhan atau ada yang mau ditanyakan, kah?” tanyanya lembut.
“Alhamdulillah, tidak ada, Kak. Cuma rindu saja dengan orang tua,” jawabku jujur.
Aku, si Izzuddin yang dulu cuek pada orang tua, kini harus merasakan perihnya rindu. Izun panggilan lain diriku sosok yang sedang mati-matian melawan gejolak di kepala. Aku lahir di era digital, tetapi koneksi yang nyata baru kudapatkan di sini.
Aku memperhatikan gerak-gerik guru itu, dan mungkin inilah yang akan kucontoh. Ia lantas menjelaskan kenapa mereka dipanggil ‘Kakak’.
“Supaya santri dan guru mengajarnya lebih akrab. Bila ada masalah, baik masalah keluarga atau masalah pelajaran, tidak ada lagi rasa sungkan (canggung) sama guru, karena sudah merasa akrab. Itu di antara alasan guru-guru di sini dipanggil Kakak,” jelasnya.
Aku tertegun. Di sini ada kasih sayang dan perhatian yang tulus.
Guru itu kemudian membahas kepindahanku, dari Ketapang ke Pamangkih.
“Itu termasuk daripada hijrah juga sebenarnya. Nabi kita hijrah dari Mekkah menuju Madinah, itu namanya hijrah. Kalau kita menuntut ilmu, itu maknanya hijrah kita. Makanya kita berbuat baik, jangan lagi berbuat yang tidak baik. Hijrah itu menjauh dari yang tidak baik. Biasanya kita main-main yang tidak baik, kalau kita sudah mondok, jadi hijrah kita daripada main yang tidak baik itu,” ulasnya.
Kontemplasi di Lahan Datar
Aku, yang besar di kota, dulu gampang bosan dengan apa pun yang tidak menggugah jiwa. Di lahan datar seluas 60 hektar ini, yang katanya bebas banjir, kebosanan itu hilang. Aku tidak lagi bermain petak umpet, tapi bersembunyi dari godaan malas. Aku tidak lagi bermain polisi-polisian, tapi sibuk belajar etika Islam yang keren.
Dulu, aku membaca kalimat Pak Tua Pram: “Terpelajar sudah harus bijak, bahkan sejak dalam pikiran.” Aku bingung artinya. Apa itu terpelajar? Apa itu bijak?
Kini, di antara lebih dari 5.500 santri, dengan 120 dewan guru yang membimbing, aku mulai menemukan jawabannya.
Malam itu, di kamar asrama yang padat, sambil membawa kitab untuk muthola’ah (belajar mandiri), sebuah renungan menusuk:
Ternyata masih ada orang yang tidak bisa melihat dan merasakan kasih sayang orang tuanya sejak lahir.
Sedangkan aku? Aku yang melihat, bahkan bisa merasakan kasih sayang orang tua, malah lupa, bahkan tidak bersyukur. Aku tidak ada hentinya mengeluh dan menyalahkan mereka.
Ayah, Ibu, maafkan Izun. Aku sangat merindukan kalian. Jujur, aku ingin memeluk dan mencium kening lembut kalian. Aku rindu suara dan senyum canda kalian.
“Kalau memang rindu, doakan orang tua supaya sehat, panjang umur, rezeki lancar, sehingga kita tamat dan berhasil, orang tua melihat kita sukses,” kata guruku waktu itu.
Kini, aku berdiri di persimpangan. Apakah aku akan teguh pada niat hijrah ini, ataukah akan kalah dengan hawa nafsu yang lama?
Dengan lima pilar jiwa di dada, dan cita-cita mulia pondok sebagai pegangan, aku memilih untuk terus melangkah.
Aku adalah Izun, seorang Muhajirin (orang yang berhijrah), mencari pijakan pasti, yang tidak sedikit pun goyah, di tanah yang telah memilihku.
Pergulatan di Jam Muthola’ah
Kehidupan di Al-Muhajirin memang dinamis, namun ketat aturannya. Pagi disambut salat berjemaah, siang dengan pelajaran formal dan agama. Malam adalah waktu krusial: Jam Muthola’ah.
Inilah medan pertempuranku. Aku, si pemuda yang gampang bosan, kini harus duduk berjam-jam membawa kitab di musholla, merenungi pelajaran agama dan umum yang seimbang. Otakku yang dulu lebih mudah menangkap distorsi musik cadas Kurt Cobain atau lirik The Beatles kini dipaksa berdamai dengan nalar fikih dan logika Nahwu.
Pernah, saat membaca istighfar, rasanya cuma formalitas, tak menyentuh perasaan. Pikiranku berkelana, teringat Izun yang lama sosok yang kumatikan ketika aku memutuskan berhijrah. Aku takut Izun yang sekarang akan kalah dengan nafsu, seperti kakakku yang akhirnya dipenjara. Luka itu, kabar itu, adalah sakit yang paling membekas setelah kepergian Nenek.
“Apakah aku akan bertahan dengan Niatku, atau sebaliknya, aku kalah dengan Hawa Nafsuku?” Bisikan ini selalu datang.
Nasihat di Lapangan
Suatu sore, aku mencoba menikmati kompleks 11 hektar yang terasa melegakan, jauh dari keramaian kota. Sebagian lahan masih kosong, sebagian lagi digunakan untuk perkebunan (49 Ha milik yayasan) dan lapangan olahraga.
Aku melihat seorang Kakak guru, yang dulu menyambutku.
“Lagi apa, Din?” Sapa beliau, memanggilku Udin.
“Lagi merenung, Kak,” jawabku.
“Jangan berlama-lama. Besok kita main bola. Tapi ingat, jangan sampai lupa bangun Subuh dan berjemaah. Bawa kitabnya, ya,” perintahnya ringan.
Gerak-gerik beliau mengingatkanku pada visi pondok: “Mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan umum secara seimbang menuju ulama yang berjiwa besar dan intelektual.” Di sini, guru tidak hanya mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi juga bagaimana menjadi manusia yang dinamis dan seimbang, sesuai motto: Berfikir dinamis, Berakhlakul karimah.
Aku teringat ceramahnya tentang Konjungsi Kausalitas Nur Muhammad, tentang cinta yang melampaui nalar. Di sini, aku mulai mengerti bahwa cinta yang paling hebat adalah yang mendasari Keikhlasan, salah satu dari Panca Jiwa.
Epilog: Memeluk Keterbukaan
Waktu berjalan cepat. Tak terasa, senja pun menyapa. Azan berkumandang.
Setiap hari, aku melihat lebih dari 65 santri berdesakan di empat asrama yang memang padat, tua, dan butuh renovasi. Keterbatasan fisik ini adalah realita yang dihadapi KH. Barmawi sebagai pengasuh, dan seluruh elemen pondok.
Namun, keterbatasan itu diimbangi dengan kekayaan spiritual dan interaksi yang manusiawi.
Di sebuah malam, aku membulatkan tekad untuk mempraktikkan Panca Jiwa terakhir: Keterbukaan. Aku menghampiri seorang Kakak guru dan mencurahkan semua kegelisahanku: rindu orang tua, penyesalan, cerita kakakku di penjara, dan ketakutan akan kegagalan.
Guru itu mendengarkan dengan sabar. “Bilanya kita rindu itu akan orang tua, dan orang tuanya sudah meninggal, kirimkan Fatihah, kita baca Quran, terimakan. Tapi kalau memang masih hidup, doakan orang tua supaya sehat, panjang umur, dan rezeki lancar.”
“Itu diantaranya cara kita berbakti,” tambahnya.
Air mataku menetes. Aku tidak lagi mengeluh dan menyalahkan. Aku mulai fokus pada kewajibanku: berbuat baik dan belajar.
Kini, aku adalah Izun, seorang pemuda yang menemukan arahnya, bukan karena kebetulan, melainkan karena keputusan berhijrah. Aku telah menjadi lebih dinamis, jujur, dan utuh.
Pondok Pesantren Al-Muhajirin bukan sekadar sekolah, melainkan laboratorium spiritual, tempat jiwa-jiwa lelah menemukan pijakan yang kuat, berlandaskan Keikhlasan, Kemandirian, dan Kebersamaan.
Aku, si Muhajirin, akhirnya pulang. Bukan ke rumah fisik, melainkan ke rumah jiwa.
Tim Kreatif : Ust. Muhammad Bushairi Dewan Asatidz Pondok Pesantren Al Muhajirin Pemangkih Seberang
Penulis / Editor: Ahmad Zaki Anshari. (Awardee PBSB 2023 asal Pondok Pesantren Al Muhajirin Pemangkih Seberang)
Anak-anakku yang saya cintai dan muliakan,
Hidup di pesantren bukanlah perjalanan yang mudah. Tidak semua orang mampu bertahan melewati tahun-tahun panjang di balik dinding-dinding asrama, dalam disiplin waktu yang ketat, dalam keseharian yang penuh dengan ujian kesabaran. Namun, justru di situlah letak kemuliaannya.
Saya teringat betul enam tahun yang lalu, ketika kalian pertama kali melangkahkan kaki ke gerbang pesantren. Ada air mata perpisahan dengan orang tua. Ada keraguan, ada rasa takut akan kesendirian. Ada juga rasa canggung, bahkan gentar, saat membayangkan hidup di dunia baru yang jauh dari kenyamanan rumah. Tetapi hari ini, kalian mampu membuktikan sesuatu yang luar biasa: bahwa kalian sanggup bertahan, meniti setiap tangga ujian, hingga sampai pada titik akhir perjalanan ini.
Jejak Pengorbanan Santri
Saya tahu, anak-anakku, betapa berat perjuangan itu. Ada santri yang dulu saya lihat menangis di pojok masjid, melawan rasa rindu yang begitu dalam kepada orang tuanya. Ada yang tersenyum di depan teman-temannya, padahal hatinya menjerit ingin dipeluk oleh ibu atau ayahnya. Ada juga yang tertatih-tatih memahami pelajaran, menghafal ayat demi ayat, atau menahan kantuk demi menyelesaikan murojaah.
Namun, dari setiap tetes air mata itulah lahir kekuatan. Dari setiap luka batin itu tumbuh kesabaran. Dari setiap keterbatasan lahirlah tekad. Dan hari ini, kalian semua berdiri sebagai saksi nyata bahwa kesabaran selalu berbuah kemenangan.
Sanad Keilmuan: Tali Emas yang Menyambung ke Rasulullah ﷺ
Pesantren bukan sekadar tempat belajar kitab kuning, bukan sekadar ruang untuk menghafal dan mengulang. Pesantren adalah mata rantai keilmuan. Kalian belajar dari para guru, guru kalian belajar dari para kiai, para kiai belajar dari ulama terdahulu, dan begitu seterusnya hingga sampai kepada Rasulullah ﷺ.
Setiap kali kalian berjabat tangan dengan guru, sejatinya tangan itu tersambung dalam barisan panjang ulama salaf, hingga menyentuh tangan Sayyidina Umar bin Khattab, hingga sampai kepada Rasulullah ﷺ. Maka jangan pernah meremehkan satu ayat yang kalian hafalkan, satu doa yang kalian lafalkan, atau satu pelajaran yang kalian terima dari kiai. Semua itu adalah bagian dari sanad emas yang akan menjadi wasilah keselamatan di dunia dan akhirat.
Birrul Walidain: Jalan Terindah Menuju Ridha Allah
Anak-anakku, ilmu setinggi apapun tidak akan bernilai tanpa birrul walidain. Tidak ada wasilah yang lebih ampuh, tidak ada doa yang lebih tajam, tidak ada amal yang lebih mendekatkan kepada Allah selain doa dan ridha kedua orang tua. Jika orang tuamu tersenyum melihatmu, maka senyum itu lebih berharga daripada segala ijazah akademis. Jika orang tuamu bahagia dengan keberadaanmu, maka kebahagiaan itu lebih tinggi nilainya daripada segala harta dunia.
Oleh karena itu, kelak setelah kalian meninggalkan Pondok Pesantren Al Muhajirin Pemangkih Seberang ini, jangan pernah lupa satu hal: hidupmu harus selalu menghadirkan kebahagiaan untuk orang tuamu.
Santri Sebagai Cahaya Umat
Anak-anakku, dunia hari ini membutuhkan santri. Negeri ini membutuhkan generasi pesantren. Bukan hanya untuk menjadi akademisi, guru, dosen, atau pejabat, tapi untuk menjadi pribadi yang membawa cahaya. Santri harus hadir dengan akhlak, bukan hanya dengan ilmu. Santri harus membawa kedamaian, bukan hanya kepandaian.
Kelak ketika orang melihatmu, mereka harus berkata: “Subhanallah, siapa yang mendidik anak ini? Siapa orang tuanya? Siapa gurunya?” Itulah cita-cita yang paling mulia: menjadikan setiap orang yang melihatmu teringat kepada Allah, bersyukur kepada orang tuamu, dan mendoakan guru-gurumu.
Pesan Perpisahan: Jadilah Bendera di Puncak Menara Ilmu
Kalian adalah bendera yang dikibarkan oleh pesantren ini. Guru-guru kalian ibarat pengibar bendera yang dengan penuh hati-hati menaikkannya. Dan kelak, ketika kalian berada di puncak, para guru tidak akan segan-segan memberikan hormat kepada kalian.
Maka jangan pernah mengecewakan doa-doa yang sudah dipanjatkan untukmu. Jangan pernah mengkhianati tetesan air mata ibu dan jerih payah ayah. Jangan pernah mengotori nama baik pesantren yang telah membesarkanmu.
Harapan untuk Santri Pondok Pesantren Al Muhajirin Pemangkih Seberang
Khusus untuk kalian, santri Pondok Pesantren Al Muhajirin Pemangkih Seberang, ketahuilah bahwa kalian adalah bagian dari mata rantai panjang perjuangan ulama di tanah Kalimantan. Pesantren ini lahir dari doa para pendiri, dari keringat para guru, dari pengorbanan para orang tua. Kalian adalah penerus risalah itu.
Kelak, dunia akan berubah, zaman akan berputar. Tetapi selama kalian tetap teguh pada prinsip ilmu, akhlak, dan pengabdian, maka kalian akan menjadi generasi yang mampu memberi cahaya bagi umat, bangsa, dan agama.
Anak-anakku,
Perjalanan kita di pesantren mungkin berakhir di sini, tetapi doa, cinta, dan harapan tidak akan pernah berhenti. Jadilah pribadi yang selalu berjalan dengan ilmu, bernapas dengan akhlak, dan bersujud dengan penuh penghambaan kepada Allah.
Selamat melangkah ke jalan yang lebih panjang. Selamat menjemput masa depan dengan iman, ilmu, dan amal.
Mudah-mudahan kalian semua kelak menjadi generasi Qurrota A’yun bagi orang tua, kebanggaan bagi pesantren, penerus perjuangan para ulama, dan hamba Allah yang diridai dunia dan akhirat.
Divisi Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo memiliki tujuan untuk mendorong anggota-anggotanya dalam menghasilkan karya-karya ilmiah yang berkualitas. Untuk mencapai tujuan tersebut, kami telah menyusun aturan penulisan artikel yang jelas, agar proses pengiriman artikel ke platform kami dapat berjalan dengan lancar dan terorganisir. Aturan ini tidak hanya mencakup ketentuan umum dalam penulisan, tetapi juga panduan spesifik terkait berbagai kategori artikel yang dapat diajukan, serta pedoman khusus bagi penulisan turats yang lebih mendalam dan berbasis keilmuan Islam.
Ketentuan Umum Penulisan Artikel
Setiap artikel yang dikirimkan ke Divisi Jurnalistik CSSMoRA harus memenuhi beberapa ketentuan dasar. Salah satunya adalah orisinalitas artikel. Kami menekankan bahwa artikel yang dikirimkan harus merupakan karya asli dari penulisnya, tanpa unsur plagiasi atau saduran dari karya orang lain. Kami juga mengharapkan penulis untuk menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku. Gaya penulisan harus disesuaikan dengan tema atau rubrik yang dipilih oleh penulis, dan setiap artikel yang dikirimkan bertujuan untuk mengedukasi pembaca, memberikan informasi yang berguna, serta membahas isu-isu sosial, keislaman, pendidikan, kebangsaan, dan kepesantrenan.
Kategori Artikel yang Dapat Dikirimkan
Kami menerima berbagai kategori artikel yang dapat dipilih sesuai dengan minat dan keahlian penulis. Kategori ini mencakup Kajian Keilmuan, yang membahas topik-topik terkait keislaman atau kajian sosial-keilmuan dengan panjang artikel antara 700 hingga 1.000 kata. Penulis yang memilih kategori ini diharapkan dapat memberikan argumen yang kuat, didukung dengan data dan kutipan yang relevan.
Kategori berikutnya adalah Opini, di mana penulis dapat membahas isu-isu faktual seperti keislaman, pendidikan, sosial, politik, atau masalah lainnya. Artikel dalam kategori ini minimal memiliki panjang 600 kata dan disusun dengan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca.
Kami juga menerima artikel Resensi Buku yang bertema buku terkait keilmuan atau keislaman. Artikel ini minimal harus sepanjang 750 kata dan disertai dengan foto buku yang relevan. Untuk penulis yang lebih tertarik pada dunia motivasi atau generasi muda, kategori Inspirasi Milenial menawarkan ruang untuk penulisan artikel yang santai dan komunikatif dengan panjang 600 hingga 800 kata.
………..
Panduan Penulisan Artikel
Untuk memastikan kualitas dan konsistensi artikel yang kami terima, kami telah menetapkan beberapa panduan penulisan yang harus diikuti. Artikel harus ditulis dengan orisinalitas dan kredibilitas yang tinggi. Sumber-sumber yang digunakan dalam artikel harus valid, dan kutipan yang diambil dari karya orang lain harus dicantumkan dengan benar. Struktur artikel yang baik terdiri dari judul yang singkat dan menarik, pendahuluan yang menggugah minat pembaca, isi artikel yang mendalam dan berbobot, serta penutup yang memberikan kesimpulan dan rekomendasi.
Format penulisan juga harus sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, yaitu menggunakan font Times New Roman ukuran 12, spasi 1,5, dan margin standar (4-3-3-3). Kami juga meminta penulis untuk menggunakan gaya kutipan ilmiah yang telah ditentukan, seperti APA, MLA, atau Chicago.
Panduan Penulisan bernuansa Turats/Kitab Kuning
Selain artikel biasa, Divisi Jurnalistik CSSMoRA juga menerima artikel berbasis turats, yang merupakan karya-karya ilmiah yang lebih mendalam dan berkaitan dengan tradisi keilmuan Islam. Artikel dalam kategori ini harus mengangkat tema yang sesuai dengan tradisi ilmiah Islam Indonesia, seperti Ilmu al-Qur’an, Hadits, Fiqih, Tasawuf, Bahasa dan Sastra Arab, Aqidah, Filsafat, atau Sejarah Islam. Artikel harus ditulis dengan panjang minimal 5.000 kata (tidak termasuk pustaka dan lampiran) dan dapat ditulis dalam bahasa Arab atau aksara Pegon, sesuai dengan topik yang dibahas.
Penulisan Majalah Zenith
Divisi Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo juga menyelenggarakan sayembara penulisan majalah sebagai sarana untuk mendorong kreativitas dan kontribusi ilmiah dari anggotanya kru magang Juranalistik setelah melaksanakan pelatihan kepenulisan sebelumnya. Artikel yang diajukan dalam majalah ini harus relevan dengan tema yang telah ditetapkan Anggota Divisi Jurnalistik, dan penulis akan dinilai berdasarkan orisinalitas, kedalaman analisis, serta kesesuaian dengan tema yang diusung. Artikel terbaik akan mendapatkan penghargaan berupa publikasi di platform kami.
Hak dan Kewajiban Penulis
Setiap penulis yang artikelnya diterima berhak untuk mendapatkan feedback dari redaksi, dan artikel yang lolos seleksi akan dipublikasikan di website kami. Selain itu, penulis juga berhak atas penghargaan berupa apresiasi. Di sisi lain, penulis berkewajiban untuk membagikan artikel yang telah dimuat di media sosial pribadi mereka sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan dan eksistensi Divisi Jurnalistik CSSMoRA.
Penolakan Naskah
Kami memiliki kebijakan tegas terkait artikel yang tidak sesuai dengan standar kami. Artikel yang mengandung unsur SARA, hoaks, atau bertentangan dengan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan akan ditolak. Redaksi juga berhak untuk menyunting artikel tanpa mengubah substansi, jika diperlukan.
Publikasi dan Apresiasi
Artikel yang terpilih untuk dipublikasikan akan diterbitkan di media internal CSSMoRA. Selain itu, artikel yang lolos seleksi juga akan mendapatkan reward sesuai dengan kebijakan redaksi sebagai bentuk apresiasi terhadap karya penulis.
Kontak Redaksi
Bagi yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut terkait aturan penulisan artikel, dapat menghubungi kontak resmi Divisi Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo melalui email di 23020460084@student.walisongo.ac.id atau melalui WhatsApp di +62 822-5277-4568.
Ketika berbicara tentang penciptaan alam semesta, sains dan agama sering kali menawarkan sudut pandang yang berbeda namun sama-sama menakjubkan. Dalam tradisi Islam, salah satu narasi yang sering dikaji, terutama dalam kitab-kitab klasik, adalah tentang Arsy dan makhluk-makhluk penyangganya. Tema ini memang jarang dibahas secara populer, tetapi memiliki keunikan tersendiri yang layak direnungkan, terutama bagi kita yang ingin memahami tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.
Dalam kitab An-Nawadir karya Syekh Syihabbudin al-Qalyubi, terdapat penjelasan menarik tentang Arsy yang dikutip dari para ulama klasik seperti Wahab bin Munabbih, seorang tabi’in yang dikenal sebagai ahli sejarah, dan an-Nasafi, seorang ulama besar madzhab Hanafi. Penjelasan ini mengungkapkan hal-hal yang, jujur saja, bagi sebagian orang mungkin terdengar sulit dipercaya. Tapi di balik itu semua, ada pesan mendalam tentang keagungan Allah dan pentingnya rendah hati.
Apa Itu Arsy?
Arsy digambarkan sebagai kubah agung yang menaungi seluruh jagat raya. Bisa dibilang, Arsy adalah “puncak” ciptaan dalam hierarki kosmik, tempat semua catatan alam semesta tersimpan. Kalau kita ibaratkan dalam istilah modern, Arsy ini mirip dengan “database” besar yang mencatat segala sesuatu, mulai dari awal penciptaan hingga takdir setiap makhluk. Namun, hanya Allah yang sepenuhnya mengetahui keagungan dan fungsi detail dari Arsy ini.
Menurut riwayat, Arsy diciptakan oleh Allah 2000 tahun sebelum Kursi. Perbedaannya? Kursi adalah makhluk yang lebih kecil dari Arsy, tetapi tetap menjadi bagian dari struktur alam semesta yang tak terbayangkan oleh akal manusia.
Arsy ditopang oleh 360 pilar besar yang masing-masingnya memiliki jarak antar-pilar sejauh perjalanan 500 tahun. Tak hanya itu, setiap pilar diapit oleh ribuan kota, istana, dan malaikat. Para malaikat ini, dengan pakaian dari cahaya yang berganti setiap hari, menggambarkan betapa kompleks dan luar biasanya ciptaan Allah.
Malaikat Penyangga Arsy
Nah, ini bagian yang paling menarik. Dalam narasi klasik, disebutkan bahwa Arsy dipikul oleh empat malaikat dengan wujud yang sangat unik:
1. Malaikat pertama menyerupai manusia.
2. Malaikat kedua berbentuk seperti sapi jantan.
3. Malaikat ketiga menyerupai burung elang.
4. Malaikat keempat berbentuk seperti harimau.
Wujud-wujud ini bukan tanpa makna. Sebagian ulama menafsirkan bahwa bentuk malaikat ini melambangkan kekuatan, kecerdasan, dan kesempurnaan ciptaan Allah. Menariknya, setelah Kiamat, jumlah malaikat yang memikul Arsy akan bertambah menjadi delapan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an
Para malaikat berada di berbagai penjurunya (langit). Pada hari itu delapan malaikat menjunjung ʻArasy (singgasana) Tuhanmu di atas mereka (Al-Haqqah : 17)
Dalam Tafsir Tahlili menerangkan bahwa Pada hari Kiamat, para malaikat berada di segenap penjuru langit. Delapan malaikat menjunjung ‘Arsy Allah di atas kepalanya. Persoalan malaikat dan ‘Arsy ini adalah persoalan yang gaib, tidak seorang pun yang mengetahuinya. Tidak dijelaskan bentuk ‘Arsy yang dipikul para malaikat itu, dan ke mana mereka membawanya. Oleh karena itu, kita menerima semuanya itu berdasarkan iman kita kepada Allah
Arsy dan Ular Raksasa
Namun, cerita tentang Arsy tidak berhenti di sana. Dalam salah satu riwayat, diceritakan bahwa Arsy sempat merasa sombong karena menganggap dirinya sebagai makhluk paling agung yang pernah diciptakan. Sebagai peringatan, Allah menciptakan seekor ular raksasa yang melilit Arsy. Ular ini digambarkan memiliki karakteristik luar biasa:
70.000 sayap.
Setiap sayap memiliki 70.000 bulu.
Setiap bulu memiliki 70.000 wajah.
Setiap wajah memiliki 70.000 mulut,
dan setiap mulut memiliki 70.000 lidah
yang bertasbih dengan jumlah yang setara dengan semua tetesan hujan, butiran pasir, dan makhluk di alam semesta. Ular ini melingkari Arsy, mengingatkannya bahwa seagung apa pun makhluk, ia tetaplah ciptaan Allah yang harus tunduk dan patuh kepada-Nya.
Percaya atau Tidak?
Sebagian dari kita mungkin akan merasa kisah ini sulit dicerna akal. Wajar, karena tidak semua hal bisa kita pahami dengan logika manusia yang terbatas. Namun, sebagaimana dalam banyak tradisi Islam, cerita-cerita seperti ini mengajarkan kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, mengingat kebesaran-Nya, dan memahami bahwa ada banyak misteri alam semesta yang hanya Dia yang mengetahui.
Pada akhirnya, percaya atau tidak, semua kembali pada masing-masing individu. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengambil hikmah dari kisah-kisah ini dan menjadikannya sebagai pengingat untuk terus memperbaiki diri.
لما اقتحم التتار بغداد وعاثوا فيها فسادا، كان في بغداد يومئذ يحيى بن يوسف الأنصاري رحمه الله،وكان رجلا ضريرا رفض أن يستسلم للتتار، وأمر أولاده أن يملؤوا بيته حجارة، ثم أخذ يرجم جنود التتار حتى هشم منهم جماعة، ثم لما اقتربوا منه قتل أحدهم بعكازه حتى تكالبوا عليه فلقي الله شهيدا رحمه الله.
في حين أن آلاف الناس سلموا أنفسهم للتتار، ووضعوا رقابهم تحت سيفهم البتار، حتى قتلوهم قتلة ذل وعار وشنار..
سبحان الله!!
ضرير ثبت حتى لقي الله شهيدا…. ومبصر سلم رقبته لذابحه!!
لأن الهمم لا علاقة لها بآفات البدن…إنما تعلو وتسفل حسب آفات الأرواح..
فأصحاب النفوس الكبار… يثبتون على فكرتهم ولو كان آخر أسلحتهم الأحجار…
وقصار الأنفاس مساكين…. لا هم يطالون موتة العز، ولا حياة المكرمين..
وهل يكيد الطاغية ويكبته إلا كبرياء المجاهد ولو كان وحده؟!!
لما اغتاظ العبيديون من ثبات الإمام الراغب النابلسي أمروا جلاده أن يسلخ جلده…فلم يمكنهم من لحظة تأوه أو تألم…إنما كان ينظر إلى سالخه وهو يقرأ قول الله تعالى:
“كان ذلك في الكتاب مسطورا”
فلم يتحمل جلاده ثباته فأغمد فيه السيف وقتله.
إن أهنأ اللحظات على المتجبرين شعورهم بيأس المقاومين لهم…وأتعس ساعاتهم عندما يفعلون الأفاعيل بالمصلحين ثم يفاجؤون بأصواتهم تخرج من تحت الأحجار تقول: أحد أحد!!
لا تمكن تتار العصر من نفسك…جاهدهم بما تستطيعه من حرف أو صوت أو عصا ولو كنت ضريرا كيحيى بن يوسف..
ولا تسلم لهم بيأسك وبؤسك فتمكنهم من عزيمتك وقوة نفسك…
فالتتار رغم كثرتهم خرجوا بعدها من بغداد…وبقيت سيرة الراغب النابلسي ويحيى بن يوسف نبراسا للبلاد والعباد..
Semarang, 9-10 November 2024 – Kaderisasi Tingkat Perguruan Tinggi (KTPT) 2024 yang diadakan oleh CSSMoRA UIN Walisongo dan CSSMoRA Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) sukses diselenggarakan di Yayasan Hidayatul Mubtadi-ien, Semarang. Acara ini merupakan tahap kaderisasi formal yang bertujuan untuk memperkenalkan CSSMoRA kepada mahasantri baru serta membentuk karakter kuat dalam menjalani perkuliahan dan tugas organisasi di kampus masing-masing.
KTPT tahun ini mengusung tema “Menanam Visi Misi, Membangun Solidarity, untuk Mencapai Sebuah Prestasi.” Melalui tema ini, kegiatan KTPT menitikberatkan pada pentingnya intelektualitas, karakter, dan integritas sebagai pondasi bagi para kader. Peserta diberikan berbagai pembekalan untuk memahami visi dan misi organisasi serta memperkuat solidaritas antaranggota, dengan harapan dapat membangun calon pemimpin masa depan yang berkualitas.
Dalam KTPT 2024, peserta dari UIN Walisongo dan UNSIQ mengikuti berbagai sesi materi wajib, seperti Keorganisasian, Ke-CSSMoRA-an, Kepesantrenan, Kebangsaan, dan Persidangan. Materi-materi ini disusun secara terencana untuk memperkaya pemahaman para peserta terkait peran mereka di dalam organisasi, serta membekali mereka dengan keterampilan yang relevan untuk kehidupan sehari-hari.
Marwan Aldi Pratama, anggota Divisi Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo, yang juga menjadi panitia acara, mengungkapkan kesannya, “Acara ini sangat meriah dan penuh manfaat. Selain memperluas jaringan, kami bisa bertemu dengan teman-teman dari perguruan tinggi lain, seperti UNSIQ. Melalui KTPT, kami belajar tentang keorganisasian dan kepemimpinan, sekaligus diarahkan menjadi pribadi yang tangguh dan berintegritas, tanpa melupakan nilai-nilai spiritual yang telah ditanamkan di pesantren.”
Marwan juga menyoroti bahwa KTPT menjadi momen penting untuk mempererat silaturahmi antar anggota CSSMoRA dari berbagai kampus. “Saya berharap acara ini memberikan kesan positif bagi peserta. Semoga mereka bisa menerapkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari dan berkomitmen mengembangkan CSSMoRA ke depannya,” ujarnya.
Perwakilan dari UNSIQ juga menyampaikan rasa bangganya bisa bergabung dalam KTPT 2024. “Saya merasa menemukan kekeluargaan dan kebersamaan di CSSMoRA. Walaupun berasal dari kampus berbeda, di sini kami merasa seperti keluarga besar. Semoga KTPT berikutnya lebih berkesan dan silaturahmi tetap terjaga,” ujar salah satu peserta dari UNSIQ.
Dengan berakhirnya KTPT 2024, seluruh peserta resmi menjadi bagian dari CSSMoRA dan siap berkontribusi aktif dalam organisasi. Mereka berkomitmen mengemban nilai-nilai loyalitas tanpa batas, menjunjung integritas, dan terus berusaha menjadi kader berprestasi demi kemajuan CSSMoRA dan masyarakat luas.
فلينظر الإنسان كل ساعة في أطرافه وأعضائه، وليتدبَّر أنها كيف تأكلُها الديدان لا محالة؟ وكيف تتفتَّت عظامها؟ فما على بدنه شيءٌ إلا وهو طُعْمةُ الدود، وما له من نفسه إلا العلمُ والعمل الخالص لوجه الله تعالى، وكذلك يتفكَّر في عذاب القبر وسؤال منكَر ونكير، وفي الحشر والنشر وأهوال القيامة، وقرْع النداء يوم العرض الأكبر، فأمثالُ هذه الأفكار هي التي تُجدِّد ذِكرَ الموت على قلبه، وتدعوه إلى الاستعداد له
Di era digital, kita seringkali melihat generasi muda sangat bersemangat dalam mencari kebenaran, termasuk dalam hal agama. Banyak dari kita ingin mendekat pada prinsip-prinsip agama yang benar, khususnya yang mengikuti jejak para sahabat Nabi dan generasi awal Islam, atau yang sering disebut “Salaf”. Namun, ada kalanya semangat berlebihan justru membawa kita ke arah yang salah.Jangan Sampai Semangat Berlebihan Jadi Penyebab Perpecahan
Sheikh al-Fawzan menjelaskan bahwa di zaman ini, muncul fenomena “ghulāt al-takfīr”, atau orang-orang yang sangat berlebihan dalam menganggap orang lain salah atau sesat. Mereka terlalu fokus pada hal-hal yang dianggap buruk dan terus mencari-cari kesalahan orang lain. Hal ini malah menyebabkan perpecahan dan memperlemah persatuan kaum Muslimin. Sheikh al-Fawzan memperingatkan bahwa semangat yang salah tempat, terutama dalam hal menganggap orang lain kafir, sesat, atau melakukan bid’ah, adalah tanda fitnah (keburukan) yang dapat membawa banyak dampak negatif bagi umat.
Bagi kita generasi muda, pesan ini sangat relevan. Di media sosial, kita sering melihat perdebatan sengit soal agama, bahkan tak jarang diiringi caci maki dan saling menyesatkan. Padahal, semangat dalam beragama seharusnya diarahkan untuk memperkuat iman dan menjaga ukhuwah, bukan mencari-cari aib atau kesalahan sesama Muslim.
Sheikh ibn Uthaymin mengingatkan bahwa “salafiyah” adalah mengikuti metode Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Salafiyah tidak seharusnya menjadi sebuah label eksklusif yang menyesatkan siapa pun yang tidak setuju. Beliau mengatakan bahwa dalam hal akidah dan amal ibadah, kita harus bersatu mengikuti jejak Rasul dan para sahabatnya. Namun, beliau menekankan bahwa beberapa orang justru menjadikan salafiyah sebagai kelompok yang terpisah dan menyesatkan siapa saja yang berbeda pendapat, bahkan dalam hal-hal yang sebenarnya masih terbuka untuk perbedaan (ijtihad).
Bagi generasi Z, pandangan ini penting. Jangan sampai label “salafiyah” menjadi alasan untuk merasa paling benar dan menyesatkan orang lain. Ingat, para ulama terdahulu juga berbeda pendapat dalam banyak hal, tetapi mereka tetap menjaga persaudaraan dan rasa hormat satu sama lain. Bahkan dalam masalah besar sekalipun, mereka tidak menyesatkan satu sama lain.
Salafiyah yang Hakiki adalah Kasih Sayang dan Persatuan
Sheikh ibn Uthaymin menyebutkan bahwa salafiyah sejati bukan hanya tentang akidah dan amalan, tapi juga tentang rasa kasih sayang, persatuan, dan cinta di antara sesama Muslim. Rasulullah menggambarkan orang-orang beriman layaknya satu tubuh: jika satu bagian tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan dampaknya. Inilah salafiyah yang hakiki – saling membantu, menguatkan, dan menjaga keharmonisan dalam umat.
Sebagai generasi yang tumbuh di era internet dan sosial media, kita harus berhati-hati dalam menggunakan kata-kata. Jangan sampai niat ingin berdakwah malah membuat kita jadi penyebab perpecahan. Mari belajar untuk lebih bijaksana dalam menyampaikan pendapat, mengedepankan kelembutan, dan tidak mudah menghakimi sesama Muslim.
Mengikuti salafiyah yang benar berarti menghidupkan kembali prinsip-prinsip kebaikan yang dicontohkan oleh Nabi dan sahabat-sahabatnya, terutama dalam menjaga persatuan dan kasih sayang. Bukan dengan label yang memecah-belah atau semangat berlebihan yang salah arah. Sheikh al-Fawzan dan Sheikh ibn Uthaymin mengingatkan kita untuk mengikuti ajaran Islam dengan semangat yang benar, dengan mengutamakan persaudaraan dan kasih sayang.
Bagi kita generasi Z, ini adalah tantangan sekaligus panggilan. Kita bisa menjadi generasi yang bijak dalam beragama, yang tidak mudah menyalahkan, dan yang memegang teguh prinsip-prinsip salafiyah dengan hati yang lapang. Seperti kata pepatah, “Berbeda itu biasa, tapi bersatu adalah luar biasa.” Mari jadikan semangat salafiyah sebagai pendorong untuk memperbaiki diri, mempererat persaudaraan,