Lonjakan kasus positif virus Covid-19 di Indonesia terdeteksi mengalami peningkatan setiap harinya. Dari sekian lonjakan kasus positif terdapat pula penurunan angka kesembuhan dan kematian. Kurangnya kesadaran masyarakat akan bahaya virus Corona ini mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Dari Rumah UIN Walisongo untuk memberikan edukasi dan sosialisasi tentang Covid-19. Upaya pencegahan COVID-19 terutama dilakukan dengan menerapkan protokol Kesehatan secara disiplin termasuk 3M, yakni memakai masker dengan benar, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. “Karena saat ini kan obat belum tersedia, vaksin juga masih dalam proses uji klinis, jadi yang dapat kita tingkatkan saat ini adalah kesadaran dan disiplin masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan,” Ujar Hilma, mahasiswa KKN UIN Walisongo. Sosialisasi COVID-19 ini dilaksanakan pada selasa, 17 November 2020. Sosialisasi tersebut ditujukan kepada guru dan siswa MDTA Assa’idiyahagar senantiasa menggunakan masker baik saat di dalam maupun diluar ruangan saat melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar. Selain itu, mahasiswa juga turut membagikan masker dan face shield kepada guru dan siswa, serta menyediakan tempat cuci tangan beserta sabun dan handsanitizer di MDTA tersebut.Lanjutkan membaca MAHASISWA KKN UIN WALISONGO ADAKAN SOSIALISASI COVID-19
Tidak dapat dipungkiri di era digital saat ini dimana mekanik dan analog elektronik telah banyak diubah menjadi teknologi digital, membantu hampir segala lini kehidupan umat manusia menjadi serba cepat, mudah dan instan, tidak terkecuali digitalisasi dalam ilmu falak. Dengan menjamurnya smartphone dan gadget digital, ponsel sudah bisa dilengkapi dengan aplikasi waktu sholat. Jadi setiap kali waktu sholat tiba, ponsel akan berbunyi sebagai tanda bagi pemilik ponsel bahwa waktu shalat telah tiba. Termasuk juga kesukaran yang biasa saat mencoba menemukan arah kiblat kian memudar. Baik ponsel atau perangkat GPS, asal dilengkapi dengan kompas yang kompatibel untuk menemukan arah kiblat secara real-time, maka arah kiblat dapat dengan mudah ditemukan. Akan tetapi, maraknya aplikasi digital yang berkenaan dengan waktu shalat dan arah kiblat tidak ada lentera proses pembelajaran dan pengembangan ilmu falak ini. karena sejatinya digitalisasi hanya sebagai bentuk perubahan dari perhitungan ilmu falak untuk melihat hasilnya secara cepat. Proses pengkajian harus tetap dan harus terus dilaksanakan agar keilmuan tidak hilang dan berkembang. Selain itu juga, terwujud koreksi pada aplikasi smartphone yang pada akhirnya dapat mempengaruhi tingkat akurasi hasil yang diberikan. Sebagai upaya menjaga khazanah keilmuan dan upaya mencetak kader falak Sukabumi, mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang melakukan perhitungan arah kiblat yang diadakan di Pondok Modern Assalam Putri Sukabumi pada senin, 15 November 2020. “Kegiatan ini diadakan sebagai bagian dari upaya pengenalan pengetahuan ilmu falak sekaligus kaderisasi falak di daerah Sukabumi khususnya, dan daerah asal para santri umumnya,” Terang Hilma, penyelenggara kegiatan pelatihan. Kegiatan ini diikuti oleh 21 orang santriwati Pondok Modern Assalam dengan antusiasme yang penuh. Pelatihan perhitungan dan praktik pengecekan arah kiblat menggunakan metode perhitungan roshdul kiblat harian. “Metode roshdul kiblat harian dipilih karena ia merupakan metode yang paling sederhana, bebas biaya, namun memiliki akurasi yang tinggi dalam menentukan arah kiblat,” jelas Hilma.
Lamongan – Dewasa ini disiplin Ilmu Falak kian semarak digaungkan. Urgensi keberadaan Ilmu Falak yang berhenti terus disebarluaskan, larangan cakupan Ilmu Falak yang berhubungan erat dengan peribadatan umat Islam. Cakupan yang dimaksud adalah Arah Kiblat, Waktu Salat, Awal Bulan Kamariah, dan Gerhana. Menanggapi hal tersebut, Mahasiwa jurusan Ilmu Falak UIN Walisongo mengadakan pelatihan perhitungan waktu salat bersama PR. IPNU IPPNU desa Kranji, tempat dimana pengabdian Kuliah Kerja Nyata (KKN). Pelatihan perhitungan waktu yang diselenggarakan atas kerja sama dengan pengurus yang mengomel setempat. Syikma R. Jannah, selaku pihak yang mengadakan acara sekaligus pemateri, telah mempersiapkan dengan matang dan disambut hangat dengan ketua gembar-gembor.“Siap Mbak, program yang bagus, akan kami kordinir rekan-rekanita IPNU IPPNU Kranji”, jawab Rif’atul Jannah selaku Ketua PR. IPPNU Kranji. Gedung TPQ yang berada di tengah desa, sengaja dipilih sebagai lokasi kegiatan agar memudahkan akses untuk peserta mengikuti agenda tersebut. Perhitungan waktu pelatihan diikuti oleh kurang lebih 15 (lima belas) peserta yang berasal dari desa Kranji. Beberapa masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah, selain itu juga ada yang sedang menempuh bangku perkuliahan. Peserta antusias mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir, meski sempat ingin menyerah di tengah pelatihan karena tidak menemukan jawaban yang tepat ketika melakukan perhitungan terlebih dahulu kegaiatn yang dilaksanakan di malam hari.“Perhitungannya bikin pusing, tapi seru Mbak”, ungkap Kurnia Fitri, salah satu peserta. Pelatihan berlangsung selama hampir dua jam dan diakhiri dengan sesi tanya jawab soal astronomi.
Parigi, 13/11/2020, mengajak kelas Anak setingkat SD-SMP mengunjungi Perpustakaan sesuatu hal yang baru, mengapa saya mengatakan hal tersebut, yang biasanya kita melihat yang sering mengunjungi Perpustakaan dari kalangan Mahasiswa atau Dosen.
Disinilah peran saya sebagai Mahasiswa mengajak mereka mengunjungi Perpustakaan, tidak hanya mengujungi, terus duduk kemudian Gadget utama dengan mengkoneksikan WIFI Perpustakaan tetapi memerintahkan para adik-adik untuk mencari buku sesuai minat baca kemudian dibaca. Jika mereka bosan, saya persilahkan mereka untuk bermain bersama.
Bukankah wahyu pertama turun di muka bumi, memerintahkan umat Islam “ IQRA ” yang artinya Bacalah, sudah semestinya dari usia dini mulai dibiasakan untuk membaca walau sehari 1 halaman.
Kegiatan ini terus saya lakukan setiap hari jum’at dan sudah terlaksana sebanyak 4 kali.
“Saya sangat mendukung dan mengapresiasi proker tersebu,” kata Ibu Salmia, Jum’at 13/11/2020.
“Kami pihak Perpustakaan sangat senang jika ada yang ingin berkunjung + membaca Buku di Perpustakaan, setiap hari mengunjungi Perpustakaan malah lebih baik,” ujar Staf Perpustakaan.
Tetapi saya sendiri mampu melaksanakan proker ini seminggu sekali.
Parigi, 16/11/2020, belajar tanpa Guru, belajar tanpa ada pembimbing, ditambah pembelajaran dilakukan secara Daring, hal-hal tersebut yang dirasakan Siswa-Siswi SD sekarang, yang mana menyusahkan, menyulitkan Siswa-Siswi SD saat mengerjakan Tugas/PR yang diberikan oleh Gurunya. Tidak semua orang tua mampu membantu anaknya mengerjakan soal-soal tugas dari Sekolah.
Melihat kasus ini, saya berinisiatif membuka Bimbingan Belajar kepada Anak setingkat SD. Setidaknya membantu mereka dalam hal mengerjakan tugas yang diberikan oleh Gurunya. Tidak sebatas itu, saya juga menjelaskan, memahamkan materi-materi yang telah diberikan oleh Guru mereka.
Kegiatan Bimbingan Belajar, bertempat Masjid Nurul Ikhwan yang berada dilokasi tempat saya tinggal, dimulai dari Pukul 08.00 pagi sampai sebelum zuhur. Dari beberapa rumah orangtua yang saya kunjungi menawarkan proker tersebut hanya 4 murid yang saya dapatkan. Walaupun hanya 4 murid yang saya ajar, saya sangat bersyukur dan senang bisa berbagi Ilmu dan tentunya meringankan orangtua mereka dalam hal belajar secara online. Alhamdulillah kegiatan Bimbel berjalan Istiqomah, artinya berjalan terus menerus. Kegiatan Bimbel ini, dilaksanakan seminggu 4 kali pertemuan dimulai hari Senin-Kamis.
Aku masih berdiri di tempat yang sama seperti dulu. Lorong sepi, kumuh, pengap. Turun dari angkutan angkutan dengan bau asam, muka tertekuk, kumel. Menyedihkan.
Sudah tak berkembang, berapa kertas lamaran yang terkenal. Semuanya hanya akan masuk ke tong sampah perusahaan-perusahaan itu. Pekerja seperti apa yang mereka cari? Meskipun mereka mencari orang jenius seperti Steve Jobs, maaf, dia tak akan tertarik bekerja di perusahaan bergaji minim seperti itu.
Semua seakan tak masuk akal, tempat laundry saja mensyaratkan S1, untuk apa? Apa memang mereka merekomendasikan memperkerjakan ahli kimia untuk menakar detergen? Siapa?
Ku tarik ucapanku kala kuliah dulu, “semuanya akan mudah kalau ada gelar.” Realitanya tak sesederhana itu. Lulus kuliah, dapat kerjaan, kerjaan enak, duduk manis, tiap bulan dapat gaji. sekarang aku sadar, tempat ini sukses surga. Masih banyak manusia yang menatap nyalang karena lapar. Apa di surga ada?
Kampus menjamur, dimana-mana. Wisudawan populer di seluruh penjuru negeri. Sedang apa mereka sekarang?
Wisudawan dengan gelar SH tak menyerahkan penanganan. TAPI hanya satu kursi yang ada. Satu kursi itu terbeli satu dasawarsa lalu. Lantas, mereka kuliah untuk apa? Mengerjakan skripsi buat apa?
Langkahku terhenti, kaki bahkan sudah tak mampu lagi menopang beban tubuh ini. Rasanya sesak. Makhluk bodoh di tengah lorong sepi yang tak berguna. Itu aku.
Udara saja mempunyai tugas di dunia ini. Debu, bulan, pohon, udara, matahari, apa saja, kecuali ku. Sampahpun tak akan mengakui aku sebagai koloninya.
Para pemilik kampus harus bahagia, setidaknya tak semua manusia berwawasan setan sepertiku. Jika ‘iya’, kampus mereka kosong, siapa yang mau menghidupi?
Ku susuri lagi lorong pengap ini. Di ujung sana adalah rumah ibuku. Kupaksakan agar tak jatuh lagi. Merambat di dinding dingin berlumut akan lebih baik di tejungkal.
Pemandangan memuakkan akan selalu menyambutku kala pintu terbuka. Manusia hitam dengan perut buncit dengan santainya meniupkan asap rokoknya. Seluruh wanita di gubuk ini bahkan tak pernah terduduk senyaman dia. Aku muak memanggilnya ayah.
Aku rasa memang banyak sekali takdir yang takdir akan berubah sekeras apapun manusia berusaha. Dan aku punya banyak takdir buruk itu. Takdir yang menempel di bagai kerak.
Aku tahu apa yang mulai bisa berubah, yakni doa tidurku. Ku harap tak akan terbangun di bumi lagi besok. Walaupun di hari-hari sebelumnya doaku gagal karena selalu saja aku terbangun karena tangisan adikku yang meminta-minta telur mata sapi. Hari ini harus terkabul.
Hanya ingin mati, apa sesulit itu kah?
Ku lemparkan semua barang di tangan ke ranjang sempit nan reot. Menatap ke sisi kamar dengan malas. Suara-suara setan meraung di diriku. Kapan kamar ini akan menjadi luas? Perabotan nan lengkap siap memanjakan? Cukup, jangan lagi berteriak tentang kapan hidupku akan terasa seperti ratu.
Pintu kamarku terbuka oleh seorang wanita yang kulitnya tampak lebih kecoklatan dari biasanya. Dia datang menghampiriku.
“Jangan bertanya tentang hari ini. Masih tetap sama. Belum ada uang rokok untuk manusia buncit itu. ”
Wanita itu duduk di ranjang tanpa memulai kata. Hanya menatap ku -buah hatinya- dengan mata sendu. Terlihat dari jumlah kerutan yang tergeletak di wajahnya, harinya pasti sangat melelahkan.
Itulah hal lumrah yang selalu ku temukan setiap hari. Tak ada senyum di wajah yang dulu cantik itu. Dia terlihat terlalu keras bekerja, terlalu banyak berpikir. Namun ada hal yang berbeda, ada yang masih tertahan di bibirnya.
Aku pengaruh kursi di dekat meja kecil yang biasa kujadikan meja belajar sejak dulu. Ku memperlihatkan raut wajah, bibir yang tadi mengatup sempurna sekarang bergetar, udara mata menggantung di pelupuk. Sayangnya aku bukan anak yang romantis yang akan menghapus air mata itu. Tanganku hanya mampu terdiam di atas pangkuan. Ku biarkan ibu siap kalimatnya.
Setelah tarikan nafas yang panjang, ia mengangkat wajahnya dan memandangku lekat.
“Ibu tak pernah menuntut apapun darimu kan?” ku sipitkan mataku, lalu mengangguk –setidaknya ibuku tak pernah melakukannya secara sadar, jadi hitung saja apa yang ia sadari-.
“Maafkan ibu yang tak bisa mengantarkanmu meraih mimpimu.” Kalimat ini tak pernah ku dengar sebelumnya. Aku semakin penasaran dengan kalimat selanjutnya. “Menikahlah. Agar semua ini berakhir. ”
Seketika aku bangun dari dudukku. Menatap wajah ibuku kecewa. Inikah yang berat untuk berbicara? Memang, aku yakin ia telah memprediksikan reaksiku.
“Dengarkan ibu, tuan tanah itu benar-benar menginginkanmu, istri meninggal 3 bulan lalu, ia perlu pendamping.”
Ya, aku telah mendengar slentingan sebelumnya tentang tuan tanah yang umurnya hampir sebaya dengan ibuku itu menginginkanku. Tapi aku bahkan tak pernah berpikir bahwa ibuku akan benar-benar menanggapinya. Apa sekarang aku lah tumbal dari keluarga ini?
Diamlah setan, ibuku tadi mengatakan bahwa semuanya akan berakhir. Benar saja, semua akan berakhir jika aku menikah dengan tua bangka itu, bukan hanya kemiskinan ini, tapi juga hidupku.
Katanya kehidupan bagaikan roda. Di kasus ini milik, pemilik rodaku yang akan berputar dan berada di atas, hanya orang lain di sekitarku. Bagaimana dengan milikku? Hah, sepertinya rodanya kempes sekarang, sudah tak akan berputar lagi.
Jika hidup sering diibaratkan dengan roda yang terus berputar, kadang di atas dan kadang di bawah, aku sangat ingin menginjak-injak orang yang berkata seperti itu. Apa hanya rodaku yang tak mampu berputar?
Sekali lagi, siapa yang membuat perumpamaan itu? Kenapa hidupku tak seperti itu?
Nafasku masih berinterval senin kamis. Mataku memandang kosong ke sembarang tempat. Telepon genggam berada di tempat terawat sebelum jari-jariku yang mengendor rilisnya begitu saja. Layarnya terpecah, tak ku tunggu lagi. Lebih susah menyadarkan jiwaku lagi agar terbangun dari mimpi buruk. Lebih susah menenangkan akalku yang berontak, meronta, meminta kembali semua.
Telepon benar-benar menjalankan fungsinya dengan paripurna malam ini. Menghantarkan sebuah getaran angin yang membentuk bahasa penuh pilu. Aku terpaku. Tak ingin beranjak dari tempatku termangu. Mungkin aku salah mengartikan angin tadi. Otakku mungkin bisa saja salah menerjemahkan, aku adalah pelupa, kan? Oleh, aku selalu melakukan banyak hal sesuai jadwal, karena aku pelupa, kan?
Suasana purnama pukul sebelas ini terlampau sepi. Dentingan jam tangan kecilku di atas nakas bahkan terdengar seperti letupan senapan. Sorot lampu tidur benar-benar redup, cahayanya dingin. Gerakan kecil dari cicak jelas tertangkap inderaku, ini tak biasa. Kenapa bisa se-sepi ini? Dunia bahkan sengaja bergelagat ganjil, sadar, bagian laporan sudah pergi.
Semuanya serba tanggung. Terlalu mendadak. Tak ada aba-aba. Hatiku sedang mekar-mekarnya oleh cinta yang tersirami selama ribuan pagi. Daunnya hijau segar. Kelopak bunga telah menyempurnakan bentuknya. Aku belum siap akan kedatangan bahaya yang membawa pergi mekarnya.
Mungkin aku yang tidak menyadari sebuah tanda, biarkannya berlalu begitu saja. Terlalu menganggap biasa segalanya. Ku terhanyut pada rasa cinta yang membuncah, bahagianya tak terkira.
Peluk ciumnya di pagi hari adalah normal, namun satu yang berbeda, dia mengatakan banyak hal, berpesan banyak hal, berdiri dengan senyuman terlalu lama sebelum melambaikan tangan duduk di kursi baris kedua. Lantas membelah udara pagi, berpisah dari kekacauan romantis dan kecupan mesra.
Salahnya, mengapa tak ada yang terasa ganjil di benakku yang tengah bahagia dengan apa yang menjadi bahagianya. Sebuah kebahagiaan yang dinantikannya dengan sabar. Ku pikir itu cinta. Jelas aku menyesal atas kebahagiaan yang menutup semua pintu kepekaan.
Lalu apa yang bisa kulakukan jika aku menyadarinya? Aku juga tak akan mampu mencegahnya menjemput bahagia. Yang ku tahu dalam kebobrokan emosiku kala ini adalah mungkin aku bisa mengulur waktu bersama kami. Membiarkannya sedetik lebih lama dalam pelukanku, lampion menyuarakan salam perpisahan yang lebih patut. Aku tak suka hal yang tiba-tiba. Kehidupanku yang sistematis dirusak oleh kabar malam hari penyakit sakit. Dia datang tanpamembawa penawar. Bibit sakitnya sengaja disuntikkan di titik terlemah. Lalu pergi tanpa permisi yang layak.
Berulang kali aku mendengar berita tindakan terorisme. Pengeboman, penembakan, dan semua tindakkan yang merenggut senyum banyak wajah. Aku terlalu lemah untuk merasakannya sendiri, akuku. Mengapa harus merebut punyaku? Senyumku? Tega sekali kau menyuntikkanku racun dan membiarkan tergeletak di atas lantai dengan air mata yang meluber kemana-mana.
“Kami telah mendapat konfirmasi dari kejadian, nyonya. Kami, dari pihak kementrian luar negeri sudah memastikan bahwa jenazah itu adalah suami anda, ”tak ada sumpah serapaah saat aku mendengarnya tadi. Aku hanya terdiam, memastikan lagi dengan siapa aku bisa berbicara, meminta kejelasan.
Aku menerima segalanya untuk keraguanku, beberapa kali nomor resmi mengatakan hal yang sama. Aku ingin sekali tetap teguh dalam keraguanku, sebelum seseoranng yang selama beberapa jam terakhir bertukar udara dengan bungaku turut bertutur dengan kalimat yang tercekat menahan segalanya.
“Tuan sudah pergi nyonya,” suara sekretaris pintar serak, berat. Mulai saat itu, aku hanya bisa membisu. Antara mendengarkan penjelasan tentang peluru nyasar yang katanya berasal dari teroris, atau sedang berimajinasi sendiri merangkai cerita yang lebih layak.
Malam terlalu sepi sampai langkah kaki dari halaman rumah terdengar jelas di telingaku yang kebas.
Seseorang menhampiriku, menghambur meraih tubuhku dann menyalurkan kehangatan yaang tulus tanpa tara. Membisikkan kalimat-kalimat penenang yang bagai narkoba. Suara lembutnya membawaku menapak Bumi lagi, walau dalam kegamangan.
“Semua baik-baik saja, nak. Ikhlaskanlah, ikhlaskan, ”suara Ibu terlalu lembut dan menenangkan, membawaku kembali ke alam tidak sadar. Menyadari banyak potongan yang hilang. Aku yang harusnya paham dari awal. Aku baru sadar kalau aku pelupa. Hanya ada dua takdir untuk sebuah bunga yang mekar indah. Dipetik oleh pemiliknya, atau dibiarkannya layu dalam beberapa hari. Dan aku sadar, aku bukan pemiliknya yang bisa mengambil sebuah keputusan. Aku hanyalah penikmat yang dengan pasrah hanya bisa melihat keindahanku dipetik oleh penguasanya.
Sejak menyebarnya virus corona atau yang dikenal dengan istilah covid 19, pemerintah Indonesia memberlakukan social distancing (jaga jarak). Pemberlakuan peraturan baru ini berdampak pada kegiatan belajar mengajar. Pemerintah menetapkan kebijakan belajar dari rumah (Daring) yang bertujuan untuk mencegah penularan virus ini.
Sistem belajar daring ini membuat anak-anak harus belajar dari rumah masing-masing. Peran guru di sekolah harus digantikan oleh orang tua, sehingga membuat beberapa orang tua kesulitan saat mendampingi anak belajar di rumah. Untuk membantu anak-anak saat belajar di rumah, mahasiswi KKN UIN walisongo Semarang Melda Rahmaliatul Aulia mengadakan bimbingan belajar gratis.
Kegiatan bimbingan belajar ini dilaksanakan setiap hari Selasa dan Rabu dimulai sejak tanggal 6 Oktober dan berakhir tanggal 4 November 2020. Kegiatan ini dilaksanakan di rumah mahasiswi tersebut dan diikuti oleh beberapa anak TK dan SD.
“Saya mengadakan kegiatan bimbingan belajar ini, karena melihat beberapa orang tua yang sibuk bekerja kesulitan saat mendampingi anaknya saat proses belajar daring, dan saya berharap anak-anak bisa lebih bersemangat jika belajar bersama teman-temannya di satu tempat”, ujar Melda.
Sistem kegiatan ini adalah mendampingi siswa saat mengerjakan tugas dari sekolah, dan jika tidak ada tugas, maka kegiatan diisi dengan belajar bahasa inggris dan matematika.
“Terima Kasih sudah mengadakan kegiatan bimbingan belajar ini, saya merasa senang dan terbantu. Biasanya anak-anak sering menumpuk tugas yang diberikan guru, sehingga saat sudah dekat waktu pengumpulan, mereka sering mengeluh karena merasa capek mengerjakan tugas sekaligus, namun sejak diadakan kegiatan ini, tugas-tugas bisa dikerjakan secara berangsur-angsur dan tidak menumpuk di akhir, ujar bu Ana orang tua dari salah seorang siswa.”
Kegiatan yang diadakan dalam jangka waktu sebulan ini berjalan dengan lancar, dan ditutup dengan pembagian hadiah sebagai bentuk penghargaan atas semangat belajar siswa.
Lamongan – Pelatihan Perhitungan Waktu Sholat Fardu diadakan oleh Mahasiswa KKN UIN Walisongo yang bekerjasama dengan Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) Tarbiyatut Tholabah (TABAH) di gedung Madrasah ini diikuti 70 peserta dari kelas 10 sampai 12 pada Kamis (06/11).
Kegiatan yang mengarah pada perhitungan waktu sholat fardu ini membahas terkait bagaimana cara menghitung (hisab) bukan hanya pada tataran teori fiqh belaka.
Dalam pembukaan acara, ketua panitia Pelatihan Moh. Alfi Agus Salim mengatakan Beruntung sekali teman-teman yang dapat mengikuti pelatihan falak ini, karena tidak pasti ada setiap tahunnya.
“Teman-teman yang mengikuti kegiatan ini sangat beruntung karena tidak mesti dilaksanakan setiap tahun, oleh karenanya mohon diperhatikan dengan serius ketika narasumber sudah menyampaikan materi”, ucap Ketua Panitia.
Narasumber pelatihan Moh Fadllur Rohman, mengatakan bahwa urgensi mengetahui waktu sholat, utamanya sholat fardu itu berkonsekuensi pada keabsahan hukum sholat, sehingga sangat perlu dipelajari.
“Mengapa kita perlu mengetahui waktu sholat? Ya karena hal itu menjadi syarat sah sholat, tidak sah sholat itu apabila belum masuk waktunya, misalnya belum masuk waktu ashar kalian sudah melakukan sholat terlebih dahulu karena kondisi mendung awannya, padahal itu bisa dihitung waktunya”, jelas Mahasiswa Ilmu Falak tersebut.
Materi pelatihan perhitungan yang menggunakan kalkulator scientific yang terbilang hal baru bagi peserta ini tetap tidak membuat semangatnya turun. Sehingga dalam menghadapi hal tersebut narasumber terlebih dahulu menjelaskan bagaimana cara penggunaan kalkulator tersebut sebelum melangkah menghitung waktu sholat. Walaupun demikian, antusias peserta sangat tinggi dengan aktif dalam forum di tengah penyampaian materi perhitungan. (Fadlil)
Ahad (1/11), mahasiswa UIN Walisongo yang menjadi anggota kelompk 133 Kuliah Kerja Nyata Reguler Dari Rumah (KKN R DR) menggelar pelatihan penggunaan teleskop dan observasi benda langit. Acara yang merupakan buah dari kerjasama anggota kelompok 133 dengan Lembaga Falakiyyah PCNU Kabupaten Blitar ini dilaksanakan di Kantor Desa Kalipucung, Kabupaten Blitar.
Dilaksankan dengan menghadirkan dua pemateri, acara ini dimulai dengan pemaparan sejarah teleskop dan jenis-jenisnya oleh pemateri pertama, kemudian dilanjutkan dengan perakitan teleskop robotik Ioptron Cube dan praktek cara penggunaannya oleh pemateri kedua. Karena keadaan masih dihantui dengan adanya pandemi virus korona, acara dilaksanakan dengan memperhatikan protokol kesehatan dan ijin dari pemerintah setempat.
Pelatihan ini cukup menarik banyak peminat, karena di hadiri oleh sekitar 20 peserta dari remaja-remaja setempat. Bahkan beberapa anak kecil tampak antusias ikut meramaikan acara ini. “Acaranya cukup menarik dengan adanya teleskop dan penjelasannya yg jarang diketahui oleh orang pada umumnya, sehingga mendapat ilmu baru yg bermanfaat yaitu tentang ilmu teleskop”, ujar Risma mahasiswi IAIN Tulungagung turut serta meramaikan acara.
Selain pelatihan tentang sejarah dan cara penggunaan teleskop, acara juga dilengkapi dengan observasi benda langit. Namun, karena keadaan cuaca yang kurang mendukung pelaksanaan observasi digantikan dengan nonton bareng posisi benda langit secara live menggunakan aplikasi Stellarium.
“Meskipun gagal melaksanakan observasi karena cuaca yang kurang mendukung, acara ini saya rasa cukup sukses karena peserta nampak antusias memperhatikan materi dan aktif bertanya saat praktek penggunaan teleskop berlangsung.” Ujar Mu`amar, salah satu anggota kelompok 133 dan panitia pelaksanaan pelatihan tersebut.