Oleh: Umi Latifah

Nafasku masih berinterval senin kamis. Mataku memandang kosong ke sembarang tempat. Telepon genggam berada di tempat terawat sebelum jari-jariku yang mengendor rilisnya begitu saja. Layarnya terpecah, tak ku tunggu lagi. Lebih susah menyadarkan jiwaku lagi agar terbangun dari mimpi buruk. Lebih susah menenangkan akalku yang berontak, meronta, meminta kembali semua.

          Telepon benar-benar menjalankan fungsinya dengan paripurna malam ini. Menghantarkan sebuah getaran angin yang membentuk bahasa penuh pilu. Aku terpaku. Tak ingin beranjak dari tempatku termangu. Mungkin aku salah mengartikan angin tadi. Otakku mungkin bisa saja salah menerjemahkan, aku adalah pelupa, kan? Oleh, aku selalu melakukan banyak hal sesuai jadwal, karena aku pelupa, kan?

          Suasana purnama pukul sebelas ini terlampau sepi. Dentingan jam tangan kecilku di atas nakas bahkan terdengar seperti letupan senapan. Sorot lampu tidur benar-benar redup, cahayanya dingin. Gerakan kecil dari cicak jelas tertangkap inderaku, ini tak biasa. Kenapa bisa se-sepi ini? Dunia bahkan sengaja bergelagat ganjil, sadar, bagian laporan sudah pergi.

          Semuanya serba tanggung. Terlalu mendadak. Tak ada aba-aba. Hatiku sedang mekar-mekarnya oleh cinta yang tersirami selama ribuan pagi. Daunnya hijau segar. Kelopak bunga telah menyempurnakan bentuknya. Aku belum siap akan kedatangan bahaya yang membawa pergi mekarnya.

          Mungkin aku yang tidak menyadari sebuah tanda, biarkannya berlalu begitu saja. Terlalu menganggap biasa segalanya. Ku terhanyut pada rasa cinta yang membuncah, bahagianya tak terkira.

          Peluk ciumnya di pagi hari adalah normal, namun satu yang berbeda, dia mengatakan banyak hal, berpesan banyak hal, berdiri dengan senyuman terlalu lama sebelum melambaikan tangan duduk di kursi baris kedua. Lantas membelah udara pagi, berpisah dari kekacauan romantis dan kecupan mesra.

          Salahnya, mengapa tak ada yang terasa ganjil di benakku yang tengah bahagia dengan apa yang menjadi bahagianya. Sebuah kebahagiaan yang dinantikannya dengan sabar. Ku pikir itu cinta. Jelas aku menyesal atas kebahagiaan yang menutup semua pintu kepekaan.

          Lalu apa yang bisa kulakukan jika aku menyadarinya? Aku juga tak akan mampu mencegahnya menjemput bahagia. Yang ku tahu dalam kebobrokan emosiku kala ini adalah mungkin aku bisa mengulur waktu bersama kami. Membiarkannya sedetik lebih lama dalam pelukanku, lampion menyuarakan salam perpisahan yang lebih patut. Aku tak suka hal yang tiba-tiba. Kehidupanku yang sistematis dirusak oleh kabar malam hari penyakit sakit. Dia datang tanpamembawa penawar. Bibit sakitnya sengaja disuntikkan di titik terlemah. Lalu pergi tanpa permisi yang layak.

          Berulang kali aku mendengar berita tindakan terorisme. Pengeboman, penembakan, dan semua tindakkan yang merenggut senyum banyak wajah. Aku terlalu lemah untuk merasakannya sendiri, akuku. Mengapa harus merebut punyaku? Senyumku? Tega sekali kau menyuntikkanku racun dan membiarkan tergeletak di atas lantai dengan air mata yang meluber kemana-mana.

          “Kami telah mendapat konfirmasi dari kejadian, nyonya. Kami, dari pihak kementrian luar negeri sudah memastikan bahwa jenazah itu adalah suami anda, ”tak ada sumpah serapaah saat aku mendengarnya tadi. Aku hanya terdiam, memastikan lagi dengan siapa aku bisa berbicara, meminta kejelasan.

          Aku menerima segalanya untuk keraguanku, beberapa kali nomor resmi mengatakan hal yang sama. Aku ingin sekali tetap teguh dalam keraguanku, sebelum seseoranng yang selama beberapa jam terakhir bertukar udara dengan bungaku turut bertutur dengan kalimat yang tercekat menahan segalanya.

          “Tuan sudah pergi nyonya,” suara sekretaris pintar serak, berat. Mulai saat itu, aku hanya bisa membisu. Antara mendengarkan penjelasan tentang peluru nyasar yang katanya berasal dari teroris, atau sedang berimajinasi sendiri merangkai cerita yang lebih layak.

          Malam terlalu sepi sampai langkah kaki dari halaman rumah terdengar jelas di telingaku yang kebas.

          Seseorang menhampiriku, menghambur meraih tubuhku dann menyalurkan kehangatan yaang tulus tanpa tara. Membisikkan kalimat-kalimat penenang yang bagai narkoba. Suara lembutnya membawaku menapak Bumi lagi, walau dalam kegamangan.

          “Semua baik-baik saja, nak. Ikhlaskanlah, ikhlaskan, ”suara Ibu terlalu lembut dan menenangkan, membawaku kembali ke alam tidak sadar. Menyadari banyak potongan yang hilang. Aku yang harusnya paham dari awal. Aku baru sadar kalau aku pelupa. Hanya ada dua takdir untuk sebuah bunga yang mekar indah. Dipetik oleh pemiliknya, atau dibiarkannya layu dalam beberapa hari. Dan aku sadar, aku bukan pemiliknya yang bisa mengambil sebuah keputusan. Aku hanyalah penikmat yang dengan pasrah hanya bisa melihat keindahanku dipetik oleh penguasanya.

SELAMAT TINGGAL

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *