SALAH KETIDAKTAHUAN BUKANLAH AKHIR

Karya: Muhammad Wafiyuddin (Peserta Lomba Cerpen DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)

Seperti halnya seorang siswa SMA yang masih ingin menikmati masa muda dengan hal yang ia suka dan melakukan segala hal karena kehendaknya sendiri untuk mencapai apa yang diinginkan. Tapi tidak demikian untuk Bayu. Dia adalah seseorang yang baik dan penurut dengan orang tuanya dan dia memiliki prestasi yang sangat banyak di bidang matematika di sekolahnya. Akan tetapi, jiwanya tidak pernah terbebas, bakatnya tidak pernah dikeluarkan, dan dia sangat tidak menikmati hidupnya. 

Setiap malam ia tidak pernah bisa tertidur nyeyak karena ia tidur lebih dari jam 12 karena harus belajar bersama orang tuanya. Orang tuanya ingin ia menjadi orang yang sukses di masa depan dengan cara mendidik Bayu dengan sebaik-baiknya.

Ayah: “Hari ini kamu sudah bisa mengerjakan soal ini jadi kamu istirahat dulu ya. Jaga kesehatan karena minggu depan kamu ada lomba lcc di Semarang. Ayah tinggal dulu”.

Bayu : “Iya ayah”.

 

Ayahnya keluar kamar meninggalkan Bayu yang sedang merapikan meja belajarnya. Terlihat jelas wajah lelah dari Bayu saat itu. Dia tidak terbiasa mengeluh dan berbicara hal yang negative karena ia tahu kalau itu akan membuatnya menjadi lebih buruk. Meletakkan tubuhnya di atas kasur merupakan hal yang sangat melegakan baginya walaupun kasurnya sedikit keras dan banyak bagian yang sobek belum dijahit.

Malam itu sangat dingin sampai terasa di tulang dan sendi Bayu. Menambah selimutnya dengan sarung berlapis dua sudahlah cukup untuk menjaga tubuhnya dari kedinginan malam itu. Suhu dingin tersebut membutuhkan banyak energi untuk memanaskan tubuh sehingga Bayu merasa kelaparan saat itu tetapi dia hanya bisa menahan perih perutnya karena makanan malam itu sudah habis. Hanya sabar yang bisa ia lakukan.

Tepat pukul 4 pagi ia terbangun untuk melakukan salat ke masjid. Tubuhnya sedikit tidak sehat karena terus bergadang akhir-akhir ini dan ditambah rasa lapar yang terus menyakiti perutnya. Lambungnya seolah berkata “Beri aku sebuah makanan walaupun hanya sebiji nasi. Itupun tidak apa-apa”. Akan tetapi, sebagai anak laki-laki dan kakak tertua dari 3 bersaudara ia harus kuat dan ia adalah harapan keluarga saat ini. Semua perjuangannya ini adalah untuk keluarganya dan masa depan adik-adiknya walaupun ia merasa kecewa karena ia tidak bisa melakukan hobinya tetapi malah melakukan hal yang tidak terlalu disukai. 

 

Azan berkumandang dengan indah dan dilanjutnya salat subuh dengan penuh kekhusyukan. Jamaah berjejer lurus dan rapi, jamaah laki-laki dewasa berada di depan dan laki-laki lebih muda berada di belakang. Salat wajib telah dilaksanakan dan dilanjutkan dengan tadarus Al-qur’an. Matahari telah terbit dan para jamaah meninggalkan masjid untuk melanjutkan aktifitas rutinnya begitupula dengan Bayu. Ia berjalan pulang bersama Ilham karena jalan rumahnya yang berdekatan.  Perbincangan hangat hangat antara keduanya berakhir di pertigaan jalan rumah masing-masing.

Ilham : “Sepertinya kita harus berpisah disini. Jaga kesehatan ya Bayu. Apapun pilihanmu dan seberapa rasa sakit serta pengorbananmu saat ini kamu harus niatkan karena Allah. Jika kamu sudah lelah jangan terlalu memaksakan diri karena tubuh juga memiliki hak sendiri dan kewajiban kita adalah memberikan hak tersebut”.

Bayu  : “Terimakasih ham”.

Ilham : “Aku pergi dulu ya, karena nanti aku harus kembali lagi ke pondok karena ada kegiatan malam ini. Assalamulaikum wr. wb”.

Bayu  : “Waalaikumsalam wr. wb”.

 

Pukul 06.30 Bayu sudah sampai di sekolah yang masih sangat sepi dan hanya ada satpam dan tukang kebun yang sedang membersihkan taman sekolah. Bayu langsung masuk kelas. Tas ia letakkan dan kemudia membersihkan papan tulis. Entah karena lelah ia langsung duduk dikursinya dan tidur di atas mejanya. 

Bayu  : “Ayah… ampun ayah… aku akan belajar dengan sungguh-sungguh. Aku tidak akan banyak main lagi”.

Ayah  : “Kamu tahu kondisi keluarga kita? Kita tidak punya apa-apa. Kita hanya punya kamu, Bayu. Nilai kamu menurun semester ini dan sekarang kamu sedang asik main dengan teman-temanmu. Sekarang pulang atau ayah pukul lagi kamu!!”.

Bayu   : “Iya ayah, aku akan pulang. Ampun ayah… Ampun… Ampun…”.

 

“Bayu bangun. Sudah ada guru yang datang!!”. Teman Bayu yang duduk disampingnya membangunkannya karena waktu jam belajar akan mulai dan guru juga sudah datang. Dengan cepat Bayu bangun dan membuka matanya dengan sangat lebar. Akan tetapi, karena bangun dengan cepat dan kondisi tubuh yang kurang sehat ia merasa sangat pusing. Selang beberapa menit ia tak sadarkan diri di pundak temannya.

Intan   : “Bay, bangun sudah ada guru. Bay… Bayu!!! Jangan bercanda”.

Reno   : “Sebentar Intan aku lihat dulu.” Setelah beberapa saat “Bayu tidak sadarkan diri, tubuhnya sangat dingin, dan napasnya juga tidak teratur. Teman-teman tolong bantu bawa Bayu ke UKS!!!”.

Guru   : “Ayo yang lain bantu Bayu ke UKS sekarang dan yang tidak ikut mengantar bisa belajar mandiri dahulu ya”.

 

Teman sekelasnya khawatir akan keadaan Bayu sampai lupa tetntang perintah untuk belajar mandiri di kelas. Mereka cemas akan kesehatannya. Di sisi lain, teman-teman yang mengantar ke UKS merasa sangat takut dan cemas karena kejadian ini adalah yang pertama kali bagi mereka. Guru yang mengajar saat itu juga bingung karena semakin lama napas Bayu semakin tidak menentu. Akhirnya dia menghubungi puskesmas terdekat agar datang ke sekolah secepat mungkin.

Ketika menunggu ambulan datang, mereka semua selalu berdoa agar Bayu tidak mengalami hal yang buruk. 20 menit kemudian ambulan datang bersama dengan tenaga medis. Mereka langsung memeriksa Bayu dan menyarankan untuk segera dibawa ke rumah sakit. Bayu dibawa ke rumah sakit dengan didampingi gurunya tersebut. Tidak pernah putus doa kepada Bayu waktu itu bahkan sampai di puskesmas. Perlakuan yang cepat yang dilakukan dokter ketika Bayu sampai membuatnya menjadi lebih baik walaupun harus menjalani pemeriksaan dan penanganan yang cukup lama. Akhirnya Bayu terselamatkan dan napasnya mulai teratur walaupun dia akan tidak sadarkan diri selama beberapa hari ini. Ini adalah kabar bagus tetapi guru masih sangat khawatir karena keadaan muridnya itu sampai ia tidak sadarkan diri selama beberapa hari ke depan.

Dokter: “Bu guru, bisa ikut saya sebentar saya ingin bahas tentang keadaan Bayu”.

Guru   : “Baik dok”.

 

Dalam ruangan yang rapi tersebut dokter ini melepaskan lelah dan penatnya serta melakukan konsultasi dengan pasiennya. Dokter tidak hanya belajar mengenai penyakit dan cara menyembuhkannya tetapi seorang dokter juga belajar mengenai psikologi sehingga mengetahui kondisi Bayu dalam psikologis.

Dokter: “Sebelumnya sebagai dokter saya ucapkan terimakasih telah membawa murid ibu ke rumah sakit sesegera munkin. Mungkin jika tidak dilakukan penanganan cepat mungkin dampak yang diterima akan semakin besar”.

Guru   : “Apakah ada masalah yang sangat besar dok?”

Dokter: “Mungkin bukan sebuah masalah besar karena ini merupakan kejadian yang sering dialami sebagian orang tetapi jika hal ini terus terjadi kemungkinan akan berdampak buruk bagi dirinya. Sebelumnya apakah ada masalah yang sedang dialami oleh Bayu atau kegiatan yang sedang dilakukannya saat ini?”.

Guru   : “Ada, dia akan mengikuti lomba LCC tingkat provinsi di Semarang minggu ini. Mungkin dia sangat kelelahan belajar untuk mempersiapkan lomba ini bahkan dalam kegiatan belajar di kelas dia juga selalu serius. Menurut berita yang saya dapat dari teman-temannya Bayu selalu bekerja keras sampai larut malam setiap harinya karena desakan orang tuanya.

Dokter: “Ada beban mental yang besar dalam diri Bayu sehingga berpengaruh terhadap kerja fungsi otak yang terganggu. Secara psikologis akan berdampak pada kesehatan seperti yang ibu tahu pada Bayu sekarang tetapi jika beban ini bertambah besar dan terus menerus membebani pikirannya bukan tidak mungkin masalah kejiwaan akan muncul”.

Guru   : “Jadi dok?”.

Dokter: “Cobalah untuk tidak berbicara tentang sesuatu hal yang membuat ia berfikir lebih keras dan cobalah untuk membuat dia lebih ceria. Mungkin mengajak liburan atau melakukan hobinya atau sebagainya yang bisa menumbuhkan semangatnya lagi dan yang paling penting saya ingin pihak sekolah berkomunikasi kepada keluarga mengenai masalah ini karena ini demi kebaikan Bayu!”.

Guru   : “Baik dok”.

 

Nasehat dokter adalah sebuah kenyataan dan itu benar adanya. Ibu guru merasa bahwa harus ada perubahan. Keluar dari ruang yang telah membuat hati dan pikirannya terbuka, ia berjalan menuju ruangan Bayu. Hanya sampai di depan pintu saja dan melihatnya dari kejauhan. Dalam hatinya “Sangat besar perjuangan dan rasa sakitmu, Bayu”. Ia pergi dari puskesmas menuju ke sekolah. Ia mengabari ke teman-teman kelas bahwa Bayu sudah lebih baik sekarang. Wajah bahagia terpancar jelas di semua murid itu setelah mendengarnya.

Di kursinya ia mengambil napas panjang dan menjernihkan otaknya karena seharian menjalani berbagai masalah. Ia mengambil telepon untuk menghibungi orang tua Bayu agar datang ke BK membahas tentang masalah yang dialami putra mereka. Bu guru sadar bahwa saat ini bukan waktu yang tepat tetapi jika menunggu Bayu pulang ditakutkan akan terjadi hal yang buruk pada Bayu selanjutnya. Mengakhiri telpon tersebut dan menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Tangannya memijat tangan yang lain dan anggota badan yang kelelahan sampai ia tertidur di kursinya.

Beberapa hari telah berlalu, ayah Bayu datang ke sekolah dan langsung menuju ruang BK. Hanya ada guru BK. Dia menyuruh ayah bayu untuk duduk dan menunggu agar guru yang mengantar Bayu datang ke ruang BK. Guru tersebut akhirnya datang dan mengobrol hangat dengan ayahnya Bayu mengenai kegiatan belajarnya, prestasinya, dan cita-citanya sampai pada suatu pembicaraan mengenai masalah yang dialami Bayu.

“Saya mengerti bahwa setiap orang tua ingin melihat anaknya sukses di masa depan dan itu adalah pemikiran yang benar. Akan tetapi, tidak bisa memaksakan anak untuk melakukan hal secara berlebihan. Jika anak terlalu tertekan dan lelah menjalani semua akan berdampak pada proses belajar dan hasilnya pak. Terlebih lagi jika beban ini memengaruhi psikologisnya maka akan berdampak pada mental dan kesehatan yang terganggu pak. Saya sebagai guru dari anak bapak menyarankan agar memberikan waktu untuk Bayu agar bisa menuangkan hobinya, belajar boleh tetapi jangan terlalu lama, dan berikan waktu istirahat yang cukup agar tubuhnya bisa kuat lagi belajar di pagi harinya. Bayu adalah siswa yang cerdas dan pintar saya yakin dia bisa sukses di masa depan. Bapak juga ingin seperti itu, kan? Semua itu penting tetapi kesehatan juga sangat penting bagi Bayu pak”. Penjelasan dari bu guru agar lebih memperhatikan kesehatan anaknya.

Ayahnya hanya bisa terdiam dan mengiyakan nasehat bu guru. Ia juga sadar bahwa ia selama ini terlalu menekan dan membebani Bayu agar menjadi seorang yang ia dambakan tetapi ini semua salah. Ia merenung di perjalanan pulang dari sekolah dan berjanji akan mendidik anaknya dengan cara yang baik dan benar tanpa membuat anaknya sakit lagi.

Mulai saat itu kedua orang tua Bayu mulai memperhatikan kesehatan Bayu dan perkembangan belajarnya di sekolah. Mereka selalu memberikan hal yang bisa mereka kasih walaupun hanya kecil kepada anaknya. Akhirnya Bayu dapat kembali menemukan jati dirinya yang sudah lama terpendam di hati paling dalam dan menorehkan prestasi demi prestasi selama masa sekolahnya. Kedua orang tuanya sangat bangga padanya dan pengalaman pahit atas kesalahan mereka menjadikannya pelajaran berharga untuk adik-adiknya Bayu agar menjadi orang lebih baik walaupun dengan keterbatasan. 

Selang beberapa tahun, Bayu menciptakan lapangan pekerjaan dan menjadi pemimpinnya dan ditemani Ilham sebagai wakilnya. Walaupun masih sangat muda usahanya tetapi mereka memiliki tujuan. Adik-adiknya juga mengikuti kesuksesan kakaknya di sekolahan sampai mereka lulus dan melanjutkan ke tingkat selanjutnya. Keberhasilan anak adalah keberhasilan orang tua dalam medidiknya. Tidak peduli seberapa miskinnya orang tua dia akan selalu kaya untuk masa depan anaknya walaupun terkadang tindakan mereka kurang tepat bagi anak mereka.

Loading

ALU SI PEJALAN KAKI

Karya: Salwa Fadhilah (Peserta Lomba Cerpen DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)

Semua tahu hidup bukanlah hal mudah. Hidup itu mahal dan tak ada tebusannya. Dibilang hidup mudah tidak salah. Hidup itu sulit itu juga benar. Perlu ambil jalan tengahnya bijak menjalani segala problema kehidupan. Negeri ini tak bisa lepas dari perkembangan peradaban. Manusia seperti diriku sudah mengarungi kehidupan selama 17 tahun. Alu, itulah namaku duduk di bangku SMA, terkena efek zonasi tapi untungnya bisa hemat ongkos pulang pergi. Jalan kaki, itulah kegiatan rutin setiap kali berangkat dan pulang sekolah. 

Pagi itu Ibu memberiku uang saku sepuluh ribu. Lebih dari cukup bagi pejalan kaki yang tidak butuh ongkos bensin sepeda motor. Mengenakan seragam putih abu-abu berdasi dan sabuk lalu mengucap salam dan berpamitan pada Ibu. Bapak berkaos putih masih berbaring di kasur lantai. Jadwal dinas Bapakku jam 9 pagi, tugasnya mencangkul dan menanam padi, meskipun tanggal merah tetap dinas pagi. Sudah hampir tiga tahun aku terbiasa menjadi anak sekolah jarak dekat. Melewati Gang Anyelir lokasi rumahku, rumah yang didirikan oleh almarhum Kakek, seorang guru SD yang difitnah dengan isu pemberontakan komunis oleh orang iri hati. Turun jabatan karena kedengkian teman yang honornya lebih rendah darinya kala itu. Menyebabkan Kakek menjadi petani yang sawahnya digarap Bapakku saat ini.

Halima teman karibku, kami berangkat sekolah bersama. Putri dari juragan tahu ini sangat mengerti diriku. Seperti biasa, berbekal tahu goreng lawuhe iwak (lauknya ikan) teri. Kami berjalan keluar gang. Saat sampai di perempatan Kalibagor tepat pukul 6.20 kini. Para pengamen lampu merah bersiap untuk beraksi. Musik kentongan mereka tata di sebelah papan besar bertuliskan “setiap orang/lembaga/badan hukum dilarang memberi uang/barang ke pengemis atau gelandangan”. Kulihat baju mereka sama seperti yang dipakai kemarin sore dan kemarin lusa. Entah dimana mereka tinggal dan menginap tapi di sebelah papan besar itulah tempat dinas mereka. Sungguh pemandangan yang sudah biasa namun luar biasa. Luar biasa mereka tetap mengamen setiap hari meski ada papan peringatan dilarang mengamen dan mengemis. Apakah sanksi yang tertulis di papan besar itu hanya sebagai bahan untuk menakut nakuti masyarakat ?

Aku dan Halima lanjut berjalan kaki hingga kami sampai di perempatan kedua, perempatan Kalimanggis. Dua Badut sedang berjoget di zebra cross, lalu salah satu berkeliling menarik uang sukarela. Keberadaan mereka belum lama di perempatan ini. Kira-kira baru satu bulan saja. Apa ini dampak PHK karena pandemi Covid 19? Kami menyeberang di depan badut yang berjoget itu, pandanganku mengarah pada Bapak pesepeda motor yang memboncengkan istri dan anaknya, Dilihat dari tampilan mereka, sepertinya mereka berasal dari keluarga dengan perekonomian menengah kebawah. Sang Ibu memberi koin seribu rupiah kepada anaknya yang sangat senang dan terhibur dengan para badut itu. Heran, tidak pernah kulihat orang berdasi yang memberikan uang pada pengamen perempatan, sesekali yang kulihat hanya masyarakat biasa yang kebetulan mengantongi uang recehan untuk diberikan kepada mereka. Atau karena rasa iba melihat badut lucu kepanasan di tengah jalan. Salah satu badut menghampiri anak kecil itu lalu menyodorkan kotak uang dan tidak lama lampu kuning bergeser ke lampu hijau. Badut bak bertopeng lucu itu membuka wajahnya masih segar baru mandi dan belum keringatan karena suasana masih pagi.

Sudah lima belas menit kami jalan kaki. Sampailah kami di pertigaan Kalipoh, dekat sekolah kami. Jangan heran, tak luput dari pengamen jalanan, disini tempat mangkal manusia silver yang menawarkan jasa foto atau hanya kamuflase menjadi patung hidup menunggu kotak uang di sampingnya diisi pengguna jalan. Tubuhnya dicat silver yang dibuat dari campuran bubuk sablon dan minyak goreng untuk membentuk cat metalik. Patung hidup, berkilau, entah dia pernah membersihkan cat ditubuhnya atau tidak sebab jam 6.30 dia pasti sudah siap memegang kotak bertuliskan : “sekali foto Rp1000,00” hingga aku pulang bersamaan dengan adzan magrib lelaki itu masih di pertigaan. Kalau yang satu ini sudah 1 tahun sebelum Covid-19 menyebar luas, dia sudah ada di sini. Gerbang sekolah terbuka di depan kami tak sabar mengikuti pelajaran hari ini, bertemu guru matematika favoritku Bapak Aswadi.

Pulang sekolah aku bergegas menuju ruang kelas Halima. Kali ini kami akan mampir ke perpustakaan daerah dahulu. Kulewati pertigaan tadi. Pak Silver sedang menyamar jadi patung pose flamingo (flamingo pose). Dari arah belakang kulihat Satpol PP dan Pak Polisi datang. Pak Silver melirik dan langsung ambil langkah seribu. Ternyata papan larangan memberi uang pada pengemis hendak dipasang dekat lampu merah. Pak Silver sudah ngumpet di warung rames yang berjarak 16 meter dari pertigaan. “Sudah berkali kali masih saja pengamen -pengamen itu datang dan masih saja ada orang yang tidak taat hukum, pasti papan larangan ini juga tidak cukup untuk menghentikan mereka” gumam Pak Polisi itu saat aku dan Halima lewat tepat di sebelahnya. 

Setiap orang pasti ingin jabatan tinggi seperti Pak polisi itu bukan? Gaji tetap, pangkat dan kehormatan. Namun, Tuhan menciptakan manusia beragam dan bersuku-suku, bahkan kemampuan sosial. Uang saku 10 ribuku saja pasti sudah membuat para pengamen di jalanan senang ketika kuberikan secara utuh. Memang mereka terkesan mengemis, tidak berusaha mencari pekerjaan layak lainnya. Tapi pandanglah sudut dari sisi mereka yang terbatas pendidikan dan biaya. Mendapat ongkos bermodal mejeng di perempatan saja sudah ada usaha. Tidak perlu kuliah sampai S-1 untuk dapat uang. 

Sampailah kami di perpustakaan daerah. Kali ini aku ingin membaca artikel ataupun berita lewat komputer yang tersedia. Sedangkan Halima melihat koleksi buku-buku baru untuk dipinjam. Tampak buku-buku tersusun rapi mulai dari fiksi nonfiksi, stok lama dan baru terbit pun ada. Komputer juga dipisahkan tempatnya sekira ada 10 komputer yang bisa dipakai masyarakat umum di sini. Di meja komputer aku lantas menyentuh keyboard, mengetik, klik google crome, klik detik.com, berita teratas “Warga Sleman Didenda Rp 50 Ribu Gegara Beri Duit Manusia Silver”(Minggu,28 Nov 2021). Berita itu berisi tiga warga Sleman yang membayar denda 50.000 karena sudah tertangkap basah memberikan uang pada manusia silver. Mereka terjaring dalam operasi yustisi Satpol PP DIY. Hasil sidang, hakim memutuskan para terdakwa masing-masing di denda Rp 50.000,00.

Dari perpustakaan daerah kami menuju jalan pulang, Pak badut melakukan free style. Alunan lagu hip hop di perempatan. Kali ini matahari bersinar terik. Mereka menyisih ke tepi jalan membuka topeng, terlihat wajah keringatan kostumnya pun sudah kusut dan berbau apek. Lantas aku bertanya sembari membeli es teh dekat perempatan. Aku bertanya berapa penghasilannya selama sehari dan alasan dia menjadi badut perempatan. Pak Badut itu menjawab dia sebenarnya badut acara ulang tahun anak -anak yang sepi panggilan karena larangan pesta saat PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) dan teman yang satunya adalah keponakannya yang masih nganggur setelah di PHK dari pabrik kayu. Penghasilan per hari mereka bisa mencapai 50-100 ribu bila ramai, kalau sepi minimal dapat 20 ribu saja.

Aku pulang ke rumah berganti baju dan mandi. Makan siang pakai telur Balado masakan Ibu memang sedap. Di meja makan Bapak bercerita bahwa besok akan dipasang papan larangan mengemis dan memberi uang pada pengemis sesuai perda di seluruh perempatan dan pertigaan. Razia kabarnya juga akan diadakan. Aku heran mengapa orang berbakat seperti mereka memainkan musik kenthongan, dance masih susah mendapat pekerjaan. Tapi kata Bapak mau bagaimana lagi mencari pekerjaan sulit kalau modal bakat saja, butuh sertifikat kalau mau kerja gaji tetap. Kalau tidak minimal punya lahan buat digarap sendiri.  

Esok hari aku berjalan-jalan keliling karena hari Sabtu. Pukul 8 pagi aku ingin membeli telur gulung dan martabak di depan sekolahku. Aku lewati perempatan Kalibagor, Kalimanggis, dan pertigaan Kalipoh. Nampak berbeda dari biasanya, hilang dari pandangan, pengamen di setiap perempatan atau pertigaan saat ini. Papan larangan besar  bertuliskan “Setiap orang yang melanggar ketentuan memberi uang dan/atau batang dalam bentuk apapun kepada gelandangan dan pengemis di tempat umum diancam dengan pidana kurungan paling lama 10 (sepuluh) hari dan/atau denda paing banyak Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah)” sudah terpasang disamping lampu merah. Entah para pengamen sedang melakukan apa sekarang, ambil job keliling atau menganggur di rumah. 

Setelah membeli martabak aku melihat Pak Silver sudah di posisinya. Lalu lintas ramai saat ini . Mungkin karena Sabtu weekend yang dinanti. Saat lampu merah banyak kendaraan berhenti, banyak pula orang tua yang membawa anak-anak mereka berjalan-jalan sambil membeli jajanan di kompleks jajanan dekat sekolahku ini. Sial, Satpol PP datang melakukan razia, Pak Silver yang sedang menyodorkan kotaknya mulai bergelagat siap berlari. Lampu kuning menyala Pak Silver masih menunggu Ibu penjual sayur mengeluarkan uang dari dompetnya, langsung Ia berlari ke tepi jalan setelah menerima upah. Aku menjerit keras sekali, menyaksikan kejadian di depan mataku. Naas, Truk warna kuning dari belakang menabrak Pak Silver, tubuh silvernya terpental. Polisi yang sedang patroli segera ke TKP menutupi tubuh Pak Silver yang berlumuran darah, tubuh Pak Silver dimasukkan ke dalam kantung jenazah dan diangkut dengan mobil polisi. Sedangkan di TKP diberi garis polisi. Bagaimana dengan truk kuning itu? Kabur dengan sangat kencang begitu saja.

Aku bergegas pulang dengan perasaan syok. Jantungku berdebar menyaksikan kecelakaan maut tadi. Kuceritakan semua pada Ibu dan Bapak masih dengan tangan gemetaran. Geram pada sopir truk yang tak punya rasa tanggung jawab sama sekali, meskipun nantinya pasti Polisi berhasil meringkusnya. Ini baru kejadian di kota tempat aku tinggal, diluar sana banyak berita beredar mengenai kasus bermunculannya para pengamen perempatan.

Sungguh miris melihat pemandangan saat ini. Laju pertumbuhan penduduk yag tinggi, pendapatan perkapita yang rendah memang pokok masalah negeri ini. Program KB tak luput, bantuan soial pun diberikan. Kartu pra kerja pun sudah tersedia. Permasalahannya masih saja terjadi kesalahan sasaran penerima bansos yang tidak menjangau beberapa keluarga tidak mampu. Informasi yang mereka dapat juga minim akan cara mendapatkan kartu pra kerja. Lapangan perkerjaan yang sedikit, apalagi pengurangan karyawan karena pandemi juga masih jadi persoalan. Rendahnya pendidikan dan kurangnya pemahaman aturan di masyarakat menimbulkan fenomena pelanggaran dan penyimpangan pada hukum. Kritik sosial juga sering dianggap sepi oleh aparatur negara. Pemerintah selain menciptakan hukum, mengatur dan mengawasi juga perlu memerhatikan masyarakat kecil yang butuh lebih banyak perhatian dan bantuan. Semoga fenomena maraknya pengamen di perempatan bisa diredam dan ditemukan solusi. Semua orang punya kebutuhan, namun cara mereka memenuhi kebutuhan hidup berbeda-beda.

 

Loading

SANTRI BUKAN SEMBARANG SANTRI

Karya: Danov Istighfarrahman (Peserta Lomba Cerpen DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

Kalau ada yang bilang sekolah di pesantren hanya untuk anak bodoh dan jalan terakhir untuk anak dengan NEM rendah saat kelulusan, bawa orangnya ke depanku. Karena aku tahu dengan pasti bukan seperti itu kenyataan yang ada. Namaku Dani, enam tahun terakhir di hidupku aku habiskan di pesantren. Aku adalah alumni dari salah satu pesantren terbesar di daerah Pati Jawa Tengah. Dua bulan yang lalu tepatnya aku lulus dari pesantren ini, tempat dimana aku menerima banyak sekali ilmu dari para Guru dan Kyai.

Almamaterku ini mempunyai anak didik aktif lebih dari 3000 santri. Sama sekali berbeda dengan pandangan orang awam yang menganggap pesantren sebagai tempat pendidikan jadul, katrok dan terbelakang. Pesantren ini sangat maju dengan berbagai fasilitas dan kualitas orang-orang yang ada di dalamnya. Santrinya? Jangan tanya, akupun berani disandingkan untuk bersaing dengan murid sekolah umum unggulan di kota-kota besar. Justru santri di pesantren memiliki banyak sekali keunggulan yang mungkin sebagian orang masih belum mengerti. Contoh saja di pesantrenku ini, jumlah mata pelajaran yang diterima santri dalam satu tahun pelajaran bisa mencapai 30 sampai 33 mata pelajaran, karena selain mata pelajaran umum yang wajib diberikan, ada juga mata palajaran pesantren seperti ilmu fiqih, ilmu tafsir, ilmu balaghoh dan lain sebagainya yang juga harus kita pelajari. Makanya jangan berani memandang anak pesantren sebelah mata, kami ini istimewa.

Selain sekolah dan belajar tentang ilmu agama, kegiatan ekstrakulikuler di pesantrenku cukup banyak. Aku yang memang suka berkegiatanpun tak melewatkan kesempatan itu. Mulai dari marching band, grup rebana, pramuka, PBB, science club, klub bahasa arab dan lain sebagainya aku ikuti. Tahun terakhir aku sempat mengikuti perkemahan santri se-Jawa Tengah di Jepara selama satu minggu. Tak diduga karena saat itu aku menjadi Pinsa (Pimpinan sangga) aku ditunjuk oleh panitia perkemahan mewakili pesantrenku untuk mengikuti Perkemahan Santri Nasional di Batam 3 bulan lagi bersama dengan santri-santri dari pesantren lain se-kabupaten Pati. Tentu saja aku sangat antusias, selain karena itu acara besar, itu juga mungkin menjadi kali pertamaku naik pesawat. Walaupun saat acara itu berlangsung statusku sudah lulus dari pesantren, namun Kyai tetap mengizinkan aku untuk berangkat mewakili pesantren ini.

*****

Hari ini aku akan tidur di pesantren, setelah dua bulan kelulusan tidak ada yang berubah di pesantren ini. Rutinitas santri yang padat dan diatur ketat oleh para pengurus masih tergambar nyata di memoriku. Bukan dalam rangka nostalgia, tapi aku dan beberapa teman seangkatanku malam ini harus tidur di pesantren karena besok adalah jadwal kami untuk mengikuti tes sebuah beasiswa masuk ke perguruan tinggi. Beasiswa dari Kementerian Agama RI bernama PBSB. Tahun ini ada sembilan alumni pesantrenku yang ikut tes program beasiswa ini. Kami semua mendaftar di PTN-PTN ternama di Indonesia. Beberapa mendaftar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ada yang mendaftar di UGM, UNAIR, dan lainnya. Aku sendiri bersama 3 teman mendaftar di IPB Bogor.

Pagi itu sebelum matahari menyapa aku dan teman lainnya sudah bersiap untuk berangkat. Tes dilaksanakan di Semarang dengan jarak tempuh kurang lebih 2,5 jam dari pesantren kami. Menggunakan kendaraan elf yang disiapkan oleh pihak pesantren, kami pun siap  berangkat dengan diantar satu TU dan juga supir. Tak lupa sebelum berangkat kami berpamitan dan meminta do’a ke Kyai agar diberi kelancaran dalam menjalani tes beasiswa ini. 

Obrolan-obrolan ringan di dalam kendaraan menemani perjalanan kami menuju ibukota Jawa Tengah. Ada yang memilih tidur, ada juga yang tidak menyia-nyiakan waktu dengan tetap belajar selagi masih ada kesempatan. Aku sendiri memilih istirahat untuk menyiapkan energi menjalani tes nanti. Sambil menatap ke luar kaca pikiranku membawaku pada kejadian empat bulan lalu saat aku dipanggil oleh kepala TU, Pak Munir namanya. “Assalamu’alaikum.. permisi” sapaku sambil membuka ruangan Pak Munir. Pak Munir dari balik mejanya menjawab “Wa’alaikumsalam.. Dani ya, sini duduk.” “Tempo hari kamu sempat menanyakan tentang beasiswa PBSB ya, kamu beneran mau ikut tes beasiswa itu?” “Iya bener pak” jawabku singkat. “Kamu harus bersyukur karena ada satu santri yang mengundurkan diri, jadi sekarang bapak bisa masukkan kamu untuk ikut tes beasiswa ini” Pak Munir menjelaskan makdusnya memanggilku kala itu. “Alhamdulillah..” spontan aku berucap syukur. “Yaudah, sekarang kamu ke atas temui Pak Anshori biar dibantu menyiapkan pendaftaran dan tesnya” ucap Pak Munir. “Iya pak” aku langsung bergegas menyalami sambil mencium tangan Pak Munir, ya sepeti itulah adat di pesantren kami, harus ta’dzim kepada yang lebih tua lebih-lebih kepada Guru dan Kyai.

Program beasiswa ini memang cukup diminati oleh para santri yang akan lulus, karena selain bisa kuliah dengan gratis di PTN-PTN unggulan, penerima beasiswa ini nantinya juga akan mendapatkan uang saku setiap bulannya dari Kemenag RI. Namun karena kuota peserta terbatas untuk setiap pesantren, pesantrenku menerapkan aturan hanya santri dengan ranking satu sampai tiga yang boleh mendaftar beasiswa ini. Kebetulan tahun terakhir itu aku tidak masuk tiga besar, aku mendapat ranking empat dan otomatis tidak bisa mendaftar beasiswa itu. Namun ternyata Allah berkehendak lain, apa yang manusia pikir mustahil hanyalah hal mudah bagi-Nya. Kesempatan yang sangat langka ini akan benar-benar aku manfaatkan. Aku akan habis-habisan dalam mengerjakan tes nanti.

Tak terasa kami sudah sampai di tempat tes. Sambil bersiap kami melihat betapa banyak santri-santri dari seluruh pesantren di Jawa Tengah yang datang dan ikut berjuang demi mendapatkan beasiswa ini, mungkin lebih dari 1000 santri. Aku menghela nafas mengumpulkan tekad yang sudah bulat untuk berjuang mati-matian hari ini. Begitu juga dengan teman-temanku, mereka semua terlihat sudah siap untuk melahap semua soal yang akan disodorkan nanti. Mungkin aku bukan santri unggulan di antara teman-temanku ini, tapi sekali lagi Allah sering punya rencana tak terduga untuk hamba-Nya.

Soal demi soal aku kerjakan, ada yang mudah pasti pula ada yang susah. Kebanyakan soal adalah kategori ilmu alam dan eksakta, karena memang jurusan yang aku pilih adalah Teknik. Tapi karena yang mengadakan beasiswa adalah Kementerian Agama pastinya ada juga soal tentang ilmu agama. Aku tak sempat menghitung jumlah soal yang diberikan. Tak tahu sudah berapa lembar kertas aku bolak-balik dan corat-coret. 

Sesi pertama berakhir dan kami diberikan waktu untuk ishoma. Setelah satu jam kami melanjutkan tes lagi sampai kurang lebih jam tiga sore waktu tespun berakhir. Apakah semua soal berhasil terjawab? “Bismillah aja lah..” harapku dalam hati. Setelah semua berkumpul, bapak TU yang mendampingi kami mengajak untuk shalat ashar, baru setelah itu kami jalan pulang. 

*****

Aku dan semua teman yang mengikuti tes sudah pulang ke rumah masing-masing dengan harap-harap cemas, apakah bisa lolos seleksi beasiswa PBSB itu. Dalam masa ini teman-teman seangkatan lainnya sedang hangat-hangatnya membahas tentang tes masuk Perguruan Tinggi. Teman seangkatanku di pesantren kurang lebih ada 550 santri, dan tradisi alumni pesantren kami memang kebanyakan melanjutkan kuliah. Lebih dari setengah dari mereka akan melanjutkan ke jenjang perkuliahan, sebagian kecil akan melanjutkan mondok di pesantren-pesantren salaf, dan sebagian lagi lebih memilih untuk langsung bekerja.

Pengumuman dijadwalkan dua bulan setelah tes dilaksanakan. Belakangan aku tahu bahwa kursi yang aku rebutkan di beasiswa PBSB itu adalah 1:400 orang. Jurusan yang aku daftar di IPB hanya membuka lowongan satu calon mahasiswa dari jalur masuk beasiswa ini. Sedangkan kurang lebih ada 400 alumni pesantren yang mendaftar di jurusan itu. Sekali lagi aku hanya bisa berdo’a karena ikhtiarku sudah selesai. 

Pengumuman beasiswa PBSB sudah mulai bermunculan. Ternyata pengumuman kelulusan tidak serempak satu waktu diumumkan, hal itu tergantung kampus yang bersangkutan. Beberapa kampus sudah mulai mengumumkan nama-nama yang lolos beasiswa ini. Usut punya usut ternyata IPB memang selalu menjadi kampus paling terakhir dalam mengumumkan kelulusan beasiswa PBSB. Hampir semua kampus sudah mengumumkan tinggal IPB dan UNAIR yang belum memberi pengumuman. Aku cukup dilema di masa ini, apakah ikut seleksi masuk Perguruan Tinggi lewat jalur mandiri atau cukup berdo’a saja menunggu hasil seleksi beasiswa PBSB. 

Akhirnya dengan beberapa pertimbangan bersama orang tua, aku memutuskan untuk mengikuti seleksi masuk UGM jalur mandiri. Persyaratan pendaftaran semua sudah selesai. Sore ini aku berangkat ke Semarang untuk menginap di kos kakakku yang kuliah di UNISULA. Besok dan lusa adalah pelaksanaan tes mandiri di Semarang.

Hari pertama tes mandiri aku diantar kakakku dengan motor karena memang aku belum hafal rute jalan di Semarang. Berbeda dengan kakakku yang sudah tiga tahun hidup disini, dia sudah hafal semua rute termasuk jalan-jalan pintas untuk menghindari macet. Tes hari pertama berjalan dengan lancar tanpa ada kendala. Berbeda dengan saat tes PBSB, tes kali ini hanya berlangsung setengah hari, karena tes akan dilakukan dua hari. Selesai tes hari itu aku dijemput kakakku lagi dan kembali ke kosnya untuk istirahat.

Tes mandiri hari ke dua aku berangkat sendiri. Selain karena kakakku ada acara lain, kemarin aku juga sudah menghafal rute jalan menuju tempat tes. Aku mengendarai motor dengan santai sambil menikmati suasana ramai di jalanan Semarang pagi itu. Jam-jam dimana orang dewasa berangkat kerja, anak-anak berangkat sekolah dan para pedagang yang sudah mulai menjajakan dagangannya. Kalau kata pembaca berita, kondisi jalanan di pagi itu ramai lancar.

Di tengah perjalanan hpku berdering karena ada telepon masuk, karena sudah beberapa kali masih berdering akhirnya aku menepi dan berhenti untuk mengangkat telfon itu. Kulihat di layar hp nomor yang tidak dikenal menelepon. Aku angkat telepon itu, dari ujung hp terdengar suara perempuan berbicara “Dani selamat ya, ini Mbak Titin.” “Mbak Titin siapa ya? Selamat kenapa mbak” jawabku bingung. “Selamat kamu lolos PBSB pengumumannya sudah ada barusan, ini Mbak Titin kakak kelas kamu di pesantren yang juga lolos PBSB di IPB dua tahun lalu” jelas perempuan dari balik hp yang baru ku tahu namanya Mbak Titin. Aku belum bisa mencerna semua penjelasan Mbak Titin saat itu. Aku masih terdiam memegang hp di pinggir jalanan Semarang yang ramai lalu lalang kendaraan. “Dani? Yaudah gitu aja selamat ya, udah buruan ke pesantren lagi sowan ke Kyai ya” ucap Mbak Titin lagi. “I.. iya mbak makasih” jawabku sambil menutup telepon.

Beberapa detik kemudian aku baru benar-benar sadar dengan pembicaraan di telepon barusan. Seketika hormon dopamin dalam tubuhku memuncak dan menciptakan perasaan bahagia yang teramat sangat, sulit untuk dijelaskan. Untuk beberapa detik aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, lanjut ke tempat tes? pulang ke kos kakak? telfon orang tua? otakku tidak bisa mencerna dengan baik kala itu. Tanggung dengan tes manditi UGM yang sudah setengah aku jalani, akhirnya aku memutuskan untuk lanjut ke tempat tes dan mengerjakan sisa tahapan tes tersebut.

Sepulang dari tes aku langsung menemui kakakku dan memberitahu kabar bahagia tadi. Kakakku ikut bangga mendengar kabar baik itu “Wih.. aku bisa pamerim ke temen-temenku nih. Adikku kuliah di IPB!!! Wow!” Tak lupa aku telepon bapak ibuku di rumah untuk berbagi kebahagiaan ini. Membuat orang tua bangga dan bahagia adalah salah satu cita-cita setiap anak. Walaupun ini hanya secuil langkah kecil di perjalanan hidupku, setidaknya aku pernah membuat mereka berdua bangga memilikiku di hidupnya.

Sebelum pulang ke rumah aku mengecek pengumuman resmi dari Kementerian Agama, karena memang aku belum melihat sama sekali, hanya kabar dari mbak Titin lewat telepon tadi pagi. Setelah aku cek ternyata benar pengumuman PBSB IPB sudah ada, dan namaku ada di situ. Dani Muhammad Rahman diterima di jurusan Teknik Mesin Pertanian IPB. Namun selain pengumuman nama-nama yang lolos, disitu juga ada pengumuman mengenai pelaksanaan matrikulasi. Ternyata sebelum masa perkuliahan reguler dimulai, para mahasiswa baru diwajibkan untuk mengikuti matrikulasi di IPB selama dua bulan. Tidak ada masalah dengan progrm matrikulasi itu, namun ternyata tanggal matrikulasi bertepatan dengan acara Perkemahan Santri Nasional di Batam yang juga aku idam-idamkan.

*****

Sepulangnya dari Semarang aku dan keluarga berdiskusi mengenai bentrok tanggal matrikulasi di IPB dan acara kemah di Batam. Tentu pilihan yang cukup sulit mengingat dua-duanya adalah kesempatan langka. Tiket pesawat dan semua persiapan berangkat kemah di Batam sudah siap. Namun melihat kepentingan jangka panjang dari dua hal itu, akhirnya aku memutuskan untuk tidak berangkat ke Batam dan memilih mengikuti tahapan matrikulasi di IPB. 

Besoknya aku bersama orang tua berencana ke pesantren untuk sowan ke Kyai. Mengucapkan terimakasih perihal kelulusan beasiswa PBSB, dan juga memberitahu pesantren untuk mencari penggantiku berangkat ke Batam mengikuti Perkemahan Santri Nasional. Dilanjutkan dengan beberapa obrolan ringan bersama Kyai. Setelah dirasa cukup aku dan orang tuaku berpamitan pulang ke rumah. Di sepanjang perjalanan aku banyak berpikir mengenai kuasa Allah yang memang tidak ada tandingannya. Rencana-rencana-Nya kerap kali membuat orang kaget dan seolah tidak siap menerimanya. Seperti bercanda tapi nyata dan tidak bisa dielakkan. Allah memang lebih tahu apa yang aku butuhkan, bukan yang aku inginkan.

Loading

SECERCAH ASA GADIS PESANTREN

Aku adalah si gadis pesantren, orang-orang memanggilku Luna. Ya itu namaku. Aku adalah gadis pesantren dari ujung timur pulau Jawa, pesantren kecil yang memiliki fasilitas jauh dari kata serba ada. Hidupku tak banyak berkembang, sebab rasa frustasiku masuk pesantren dengan kata paksa. Namun, aku sadar bahwa untuk menjadi manusia yang sejahtera harus bersusah mengepakkan sayap terlebih dahulu demi sebuah asa. Aku memiliki harapan, meskipun hanya secercah dan setitik cahaya terang dikegelapan malam, namun aku yakin bahwa gadis pesantren ini mampu menggapai asanya. Menjadi seorang Psikolog sukses merupakan suatu yang bermuluk pada kacamata orang lain. Mereka bilang jebolan pesantren pada akhirnya akan menjadi guru mengaji di surau, tak ada lain. Hanya sebatas itu. Namun, kembali lagi aku adalah gadis pesantren yang memiliki secercah asa. 

Beberapa bulan setelah kelulusanku dari pesantren, banyak tetangga yang berbondong datang kerumah untuk sekedar memberikan wejangan, dan isinya hampir semua merujuk pada profesi yang akan ku genggam sebagai jebolan pesantren. Guru mengaji. Aku semakin frustasi, mulai tidak percaya akan kemampuan diri. Mencari banyak informasi melalui teknologi yang beberapa tahun terabai karena batasan aturan pesantren. Aku menata niat untuk mengikuti ujian universitas. Memotivasi diri sendiri demi sebuah asa yang meraung ingin digenggam. Hal terberat diawal perjuangan adalah ketika meyakinkan dan merubah mindset orang tua. Siang malam tak hentinya aku berjuang, mempelajari materi yang rata-rata belum pernah kupelajari selama di pesantren. Ingin menangis, tapi aku ingat jangan menangis terlebih dahulu sebelum memulai perang. Pada ujian masuk universitas pertamaku, tulisan merah kulihat terpampang besar pada monitor yang menampilkan hasil ujianku. Ya gagal dipertama perjuangan. Tak mengapa, tokoh-tokoh yang sukses memimpin dunia bahkan beribu kali mengalami kegagalan. Kembali memotivasi diri, beberapa minggu kemudian aku mengikuti ujian universitas kembali namun yang kudapat tetap sama, yaitu sebuah kegagalan. Hingga aku semakin frustasi menyalahkan takdir yang kurasa sangat tidak adil. Apakah hanya karena lulusan pesantren tidak bisa menggapai mimpi yang kuidamkan sejak dahulu? Harapan tidak demikian, namun realita berkata demikian. Bingung, merasa tersesat, bahkan frustasi hingga tak terasa tubuh jatuh sakit. Ada pepatah yang mengatakan bahwa rasa sakit adalah manifestasi dari cinta Tuhan pada makhluknya. Dan pada hari setelah kepulihanku dari sakit, suatu keadaan membuat motivasiku hadir kembali. Restu kedua orang tua. Kini, aku telah menggenggam restu dari kedua orang tuaku, restu untukku meraih secercah asa yang nampak berkilau setinggi langit malam.

Nyatanya, realisasi tak semudah membayangkan. Sudah satu tahun aku tetap tak memiliki progres berarti. Gagal beberapa kali dalam ujian masuk universitas membuatku lelah batin dan pikiran, hingga berakhir pada sebuah toko busana dikawasan pasar. Mengapa? Karena aku menata niat kembali untuk menghidupi diri sendiri sembari menyusun strategi kembali mengikuti ujian universitas tahun ini, tahun lalu memang tidak beruntung dan tak ada yang mengetahui takdir esok bagaimana, berharap tahun ini keberuntungan menghampiri. Soal pekerjaan, hanya toko-toko dikawasan pasarlah yang menerima lulusan pesantren. Karena untuk bekerja di toko besar seperti departemen store harus lulusan sekolah umum bahkan lulusan sarjana. Tak mengapa, pelajaran hidup bisa kita dapatkan dari mana saja, mungkin dari hal ini aku akan dibekali lebih banyak sabar, ikhlas dan syukur. Hal yang paling kusukai adalah reuni bersama teman karena terhitung sejak kelulusan, ini merupakan reuni pertama. Terhitung setahun sudah. Bayangan akan keseruan reuni pupus seketika disaat semua teman yang berkumpul sudah resmi menjadi mahasiswa sejak satu tahun lalu, aku hanya menjadi pendengar ketika mereka menceritakan keseruan dan kesibukan menjadi mahasiswa. Ya miris, tapi tolong bukan saatnya mengasihani. Ada rasa iri yang merasuki relung hati, aku ikhlas, aku bersyukur, aku sabar. Namun tak bisa dipungkiri rasa iri dan penyesalan ikut merasuki memberikan rasa dalam hati.  

Tak terasa bulan ujian universitas kembali dimulai untuk tahun ini, aku sudah bersiap sejak setengah tahun lalu, untuk pekerjaan di toko aku sudah berpamitan untuk berhenti. Tak mengapa, demi asa, demi impian, demi cita-cita. Terkadang untuk suatu kesuksesan, harus merelakan sesuatu yang lain. Ujian masuk universitas pertama ditahun ini yang sudah kupersiapkan sejak setengah tahun lalu dimulai. Aku sudah terbiasa dengan soal rumit dalam ujian saat ini, persiapan matang membuatku lebih percaya diri dan yakin. Setelah proses ujian selesai, saat-saat penantian hasil kelulusan membuatku menciut akan rasa takut kegagalan kembali. Dan ternyata takdir memang benar tidak ada yang tahu, manusia hanya bisa berharap dan takdir tetap ditangan Yang Kuasa. Gagal adalah jawabannya. Aku baik, kegagalan pertama ditahun ini menjadi pelajaran bagiku, menjadi evaluasi sekiranya kurang apa untuk bisa berhasil. Kembali bangkit mengikuti segala macam ujian diberbagai universitas baik negeri maupun swasta tak menjadi masalah. Hingga kuhitung list ujian unversitas yang ku tempuh sudah mencapai angka 10. Delapan diantaranya aku gagal, kini harapan keberhasilan tinggal 2 saja di universitas yang berbeda, satu universitas masih dalam provinsi yang sama dan satu lagi universitas diluar provinsi. Semoga satu diantara dua tersebut adalah jatah keberhasilanku. Pengumuman kelulusan dua ujian tersebut dihari yang sama hanya berbeda waktu, di pengumuman salah satu universitas dari dua tersebut aku mendapati dengan jelas bahwa namaku terpampang diurutan paling atas, rasa tak percaya menghampiri hingga kubaca berulang kali untuk menemukan suatu kesalahan yang mungkin saja terjadi, dengan tangan gemetar, mata berair aku berlari ke ibuku. “Bu, aku berhasil..diurutan pertama. Alhamdulillah akhirnya berhasil”. Aku melihat ibu sangat bahagia bahkan air mata sempat menetes, sebuah harapan yang sangat susah digapai, pada akhirnya terealisasi. Untuk pengumuman universitas kedua dihari tersebut, mendapati bahwa aku gagal. Tak mengapa, karena doaku hanya satu, berikan aku satu keberhasilan diantara banyaknya kegagalan. Karena dari satu tersebut nanti akan menjadi kunci bagiku meraih kesuksesan tak terhingga. Aku berhasil. Syukur terus kupanjatkan pada Yang Kuasa. Pendengar utama tiada saing Tuhanku, Allah Ta’ala.

Hingga aku resmi menjadi mahasiswa disalah satu universitas diluar Provinsi tempatku tinggal selama ini. Psikologi berhasil kuraih, perjuangan bukan berakhir, melainkan segera dimulai dengan langkah yang berbeda, dengan status yang berbeda. Aku berhasil, dan akan berusaha untuk terus berhasil diantara banyaknya kegagalan menghampiri. Gadis pesantren ini berhasil membuktikan pada semua orang bahwa suatu kesuksesan tidak memandang latar belakang, baik usia, status sosial maupun latar pendidikan. Siapapun berhak untuk berhasil, siapapun berhak sukses, siapapun berhak meraih asa. Aku berhasil mewujudkan mimpi, aku berhasil membuktikan bahwa si gadis jebolan pesantren mampu bersaing menggapai cita-cita. Penyesalan masuk pesantren kini tak terasa lagi, aku bersyukur pesantren memberiku banyak pelajaran hidup. Karena disaat rasa bahagia menguasai, selalu terlintas wejangan andalan pesantren. Man Jadda Wa Jadda. 

Singsingkan lengan baju dan bersungguh-sungguhlah menggapai impian.

Karena kemuliaan tak akan bisa diraih dengan kemalasan.

Jangan bersilat kata dengan orang yang tak mengerti apa yang kau katakan.

Karena debat kusir adalah pangkal keburukan

~Syair Sayyid Ahmad Hasyimi~

Loading

SEHAT ITU SULIT

Karya: Muzdalifah (Peserta Lomba Cerpen DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

Ya, sehat itu memang betulan sulit! Selain mahal karena biaya yang dikeluarkan jika sudah terjangkit penyakit, menjaga kesehatan itu juga sulit! Contoh saja dari pengalaman Alsa.

Kina kini sedang duduk di kafetaria sekolahnya. Ia merasa miris dan iba bersamaan pada warga sekolah ini, banyak dari mereka yang memilih untuk tidak menggunakan masker lagi, menganggap covid sudah benar-benar hilang dari muka bumi.

“Alsa,” Kina memanggil sohibnya itu.

“Yo, kenapa, Na?” Alsa yang sudah selesai menghabiskan satu porsi bakso urat Mang Udin yang super nendang rasanya menoleh sebentar pada Kina.

“Kamu mau ikut-ikutan mereka, kah?”

“Ikutan apa?”

“Buka masker. Jangan ya, Sa? Kamu tahu corona belum bener-bener hilang, ‘kan?”

“Hm.. tapi engap ah. Buka bentaran aja kok, nanti aku pakai lagi,” Alsa mengibaskan tangannya, menyuruh Kina untuk tidak melebih-lebihkan.

Sedangkan Kina di tempatnya hanya menghela napas. Ia ingin sekali lagi menegur Alsa agar dia tidak menyesal nanti, tapi Kina tahu bahwa jawaban Alsa akan berakhir sama.

“Sa, kamu tadi janjinya mau pakai maskernya lagi, kan?” Melihat wajah Alsa yang belum tertutup masker, Kina menegur lagi.

“Gerah tahu! Lagian selama ini, kasus covid di daerah kita udah gak ada. Jadi chill aja, Na,” kata Alsa, Kina sudah tahu jawabannya akan berakhir seperti ini. Dia tahu bahwa sejak dulu, Alsa memang tipe yang selalu menggampangkan sesuatu.

“Sa, mending kamu aku paksa biar kamu terhindar, dari pada nanti dipaksa karantina, kan?”

“Na, aku kasih tahu aja nih ya, biasanya yang paling heboh tentang covid begini, adalah yang paling rentan terjangkit, hihihi.”

Menanggapi kalimat Alsa, Kina hanya memasang ekspresi tak suka dan lebih memilih untuk menyingkir dari sana.

***

Jam pulang sudah tiba, Kina yang biasanya pulang bersama Alsa, hari itu ia memilih pulang sendirian. Ia tidak mau mengambil risiko dan lebih menuruti apa kata pemerintah tentang upaya mencegah rantai penularan covid, toh juga untuk kebaikan kita,  kan? Siapa sih yang mau sakit dan dikarantina? Maaf nih, tapi Kina ogah betul!

Kina menatap jengah pada Alsa, Lala, dan Diva yang kini malah berkerumun bersama anak-anak kelasnya. Tinggal tunggu waktu aja deh, demikian maksud ekspresi Kina. Keseruan itu tidak membuatnya runtuh pendirian untuk mempertahankan masker dan sanitizer. Kina pun memilih pulang tanpa pamit kepada Alsa lebih dulu. 

Seminggu berikutnya, Alsa tidak masuk. Tapi yang membuat Kina janggal adalah ketidakhadiran Alsa tanpa keterangan. Bahkan, Sinta yang mengaku tinggal didekat rumah Alsa pun tidak memiliki informasi apa-apa mengenai sahabatnya itu. Chat darinya diabaikan dan Kina jadi tidak tenang mengikuti pelajaran. 

Ya, satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa penasaran ini adalah dengan mengunjunginya sendiri. Dan pulang sekolah itu, Kina mengambil keputusan untuk menghampiri rumah Alsa untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi.

Kina hampir saja masuk ke dalam halaman rumah Alsa kalau saja seorang Ibu-ibu ridak menegurnya, “jangan masuk ke sana, dek,” kata Ibu itu.

“Eh, kenapa?” Tanya Kina, heran.

“Penghuninya kena covid. Awalnya cuma si anak, tapi setelah dites, satu keluarga kena.”

Mendengar penuturan dari Ibu itu, matanya Kina melotot, jantungnya berdegup kencang, dan Kina panik setengah mati.

“Tadi malam baru dites, dan sekarang, petugas mau cari orang-orang yang sebelumya berkontak fisik dengan si penderita,” Ibu itu melanjutkan kalimatnya, menunggu Kina yang sepertinya shok berat, tapi kalimat selanjutnya malah membuat Kina makin terkejut bukan main.

“M-makasih infonya ya, bu,” kata Kina, sesopan mungkin walau gugup masih menyelimutinya.

Tak lama setelah kepergian Ibu tadi, dering ponsel Kina berbunyi, membuat si pemilik sadar dari lamunannya.

Tertera nama Alsa di sana, setelah di sambungkan, yang Kina pertama dengar adalah suara serak Alsa, “Na, kamu bisa ke RS yang ada di deket halte XXX?

“Alsa..”

“Maaf, Na, aku gak ikutin kata kamu. Virusnya berhasil masuk nih, hehehe. Kamu bener, aku ini emang bodoh,”

“Alsa. Kamu gak apa-apa?”

“Kata dokter, aku udah parah banget. Bahkan katanya kalau terjadi apa-apa sama aku, relain aja ya, Na?”

“Ngomong apa sih kamu? Aku ke sana sekarang,” Kina serta-merta bergegas menuju alamat yang tadi Alsa sebutkan. Mendengar kalimat terakhir Alsa, hatinya jadi tidak tenang. Kina tahu Alsa memang kepala batu, tapi Alsa tetap sahabatnya.

Sampai sana, Kina dipaksa melakukan beberapa pemeriksaan sebagai salah satu yang melakukan kontak dengan si penderita. Beruntung hasilnya negatif. Tapi sayangnya, tidak dengan Lala dan Diva yang ternyata hasilnya positif. 

Kina menunggu dengan gelisah, tapi sayangnya ia tidak diperbolehkan masuk, jadi mereka terpaksa bicara lewat video call.

“Gimana perasaan kamu?” Kina bertanya hati-hati, takut topik itu menjadi sensitif bagi Alsa.

“Kurang sih. Tapi lihat kamu di sini, jadi lebih baik,” Alsa tersenyum, dengan wajah pucatnya, membuat Kina meringis.

“Makasih ya, aku pikir kamu gak mau lihat mukaku lagi, yah kamu tahu… setelah apa yang aku bilang..” Alsa terlihat menunduk.

“Aku mau kamu jadiin ini pelajaran. Covid gak bakal hilang kalau semua warganya berpikiran kayak kamu, sehat itu emang sulit dan  pahit, tapi bukannya kalau udah sakit begini jadi makin sulit?” Kata Alsa, mendesah berat. “Cepet sembuh, Sa. Aku yakin kamu bakal berhasil ngelewatin ini semua.”

Alsa menarik bibir ke atas, membentuk senyuman, “makasih, Kina.”

Loading

SELAWAT SAKTI

Karya: Gansar Dewantara (Peserta Lomba Cerpen DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

               Selawat itu ditulis tangan dengan tinta hitam di kertas kuning. Kertas yang sama persis dengan kertas kitab-kitab di pesantren. Rangkaian pigura selawat sakti itu dari galih gaharu. Siapa saja yang masuk rumah itu pasti disambut wewangian khas nan alami. 

Hawa hapal betul dengan wewangian yang bersumber dari pigura itu. Sejak masih bocah ia kerap salat juga bersih-bersih di ruangan fasholatan[1]. Sore itu, Hawa penuh hati-hati membersihkan pigura yang membingkai selawat sakti. Kaca pigura yang sudah sedikit buram, berbintik-bintik hitam dan kayu berukir yang merangkai juga sudah berdebu. Ia pun lupa kapan terakhir mengelap pigura seukuran foto10 R itu. Namun, beberapa jenak kemudian, tangan Hawa tidak lagi bergerak-gerak di pigura itu, sorot pandangnya kosong.

Dulu, ketika emak Hawa masih ada, kerap kali mewanti-wanti kepadanya, “Kamu jangan teledor menjaga dan mengamalkan selawat itu, Nduk. Jika kamu sampai teledor hatimu pasti butek, hitam keruh, dan perilakumu pasti tak harum. Ingat itu, Nduk!”

Hawa ingat betul pesan itu. Kalimat keramat itu selalu diulang-ulang emaknya, hingga akhir sebelum ajal Emak tiba. Kini, hanya Hawa dan suaminya yang menempati rumah itu. Rumah peninggalan kakeknya. Dan rumah itu satu-satunya rumah yang selamat dari amukan api. 

Peristiwa kebakaran itu terjadi pada Maret tahun 1980. Tepatnya Sabtu pagi dan kala itu Hawa masih mengikuti pelajaran di kelas satu dasar. Api membeludak dari tungku salah satu rumah tetangga. Begitu cepat api itu meraksasa dan menjilati rumah itu. Lantas diantar angin kencang, dan kobaran api itu sangat ganas melahap rumah-rumah warga kampung Pilang yang masih banyak berbahan anyaman bambu dan kayu. Pun belum ada aliran listrik di kampung itu. Penduduk berhasil memadamkan api dengan alat seadanya, tetapi nyaris seluruh rumah di kampung Pilang gosong dan roboh, kecuali rumah kakek Hawa yang selamat.

Mungkin karena kelekar kakek Hawa yang sering ditanya orang-orang perihal punya amalan apa atau punya azimat apa sehingga rumahnya tak tersentuh amukan api? 

“Oooh, itu berkat selawat sakti.” 

Dalam hitungan jam, warga kampung Pilang dan kampung sebelah minta dituliskan selawat tersebut–supaya sekeluarga selamat dari marabahaya–kehendak warga kepada kakek Hawa.

“Saya bersedia menuliskan selawat sakti itu asalkan kalian harus sanggup mengamalkannya sembilan kali setiap hari, bagaimana?” pinta kakek Hawa sebagai syarat. Orang-orang yang datang di rumah kakek Hawa mengangguk.

“Kakek. Bukankah selawat itu yang ada di ruang fasholatan?” tanya Hawa kecil yang membaca tulisan tangan kakeknya.

“Iya, Nduk.”

“Kata Emak, wangi di rumah ini bersumber dari pigura selawat itu, benarkah, Kek?”

“Benar.” Kakek melempar senyum.

“Apa Kakek yang melaburi minyak wangi di pigura itu?”

“Tidak. Kakek, tidak pernah melaburi minyak wangi di pigura itu. Begini, lho, ceritanya: selawat itu pemberian Mbah Kiai Hasyim ketika kakek bersama teman-teman laskar Hizbullah siap berangkat jihad ke Surabaya. Mbah Kiai Hasyim membagikan selembar demi selembar selawat itu seraya berkata, ‘Selagi napas kita masih di kandung badan jangan sampai tidak mengamalkan selawat itu’. Hampir semua santri yang ikut bergerak ke Surabya diberi selembar bertuliskan selawat itu. Tapi ….” Kakek Hawa menjeda kisahnya. Air bening dan hangat merembas-melurik di pipi tirusnya. 

“Kala itu, para pahlawan dan rakyat biasa banyak yang gugur. Enam ribu lebih. Begitu juga pada serangan mendadak dari agresi militer Belanda tahap II di Malang tahun 1947. Dan kakek baru mudeng titah Mbah Kiai Hasyim ketika rombongan laskar Hizbullah sampai di Surakarta. Yakni mengamalkan. Bukan sekadar membaca. Sedangkan pigura itu awalnya membingkai bendera merah putih di Markas Hizbullah Malang. Ketika Markas Hizbullah Malang roboh dan pindah Markas ke Surakarta, kekek selamatkan pigura merah putih itu. Kemudian, tulisan selawat itu kakek taruh di badan bendera merah putih yang terbingkai di pigura itu,” lanjutnya.

 

Hawa tersadar ketika petir memekakkan telinganya. Ia menghentikan gerakan tangannya yang sudah melenceng, tidak pada kaca pigura, melainkan pada kaca meja. Ia bangkit ke teras–medongak–langit semakin gelap oleh mendung. Semoga Mas Rijal segera sampai sebelum hujan turun, harapnya dalam hati. 

Semenjak Rijal menduduki kepala staf di pemerintahan daerah, ia kerap pulang terlambat, tetapi masih sebatas di awal malam.

Hawa menutup jendela, pintu dan menyalakan lampu-lampu. Azan Magrib mengurungkannya melanjutkan bersih-bersih pigura. Ia meninggalkan pigura selawat sakti berikut alat pembersih di meja kaca ruang tamu–hendak menunaikan salat Magrib.

Dua jam berikutnya, Hawa rampung menyiapkan makan malam berikut segelas teh jahe panas untuk dirinya. Ia menyalakan tivi, di luar hujan sudah reda. Ia mengempaskan tubuhnya di sofa, kembali mengelap pigura itu. Terus mengelap. Cairan pembersih kaca ia tuang begitu banyak pada pigura. Gerakan tangannya menggosok sedikit ditekan dengat ritme cepat, tetapi belum tampak hasil yang memuaskan. 

Hawa mengganti kain beludru dengan sesobek rok jeans, kembali mengecrotkan cairan pembersih itu. Ia terus menggosok-gosok dengan gerakan naik-turun dan memutar-mutar. Bahkan, Hawa mengerok kaca dengan silet. Hanya sedikit yang bening kaca itu, tepat di bagian teraan titimansa penulisan dengan harakat Arab pegon. Jika diucapkan berbunyi: Tebuireng, Rabiul Awal, 1364 H. 

Hawa belum lega melihat hasil usaha melunturkan bintik-bintik hitam sejak sore tadi. Sementara di depannya, tivi itu masih saja mengoceh, memberitakan penceramah yang hobi mengujar kebencian. 

“Ceramah, kok, menghujat, mengujar kebencian. Jelas orang itu tidak menjaga salatnya,” gerundel Hawa.

Hawa membiarkan pigura dan perkakas pembersih di atas meja begitu saja. Ia bangkit menyibak gorden jendela. Mobil siapa malam-malam begini berhenti di depan, batinnya. Panah pandang mata Hawa melesat ke arah jam dinding yang kedua jarum berwarna putih bertumpang tindih di angka 9. Sepasang mata Hawa kembali fokus pada mobil itu. Dua kali klakson berbunyi, dan ternyata Rijal yang keluar dari mobil kempling[3] itu. Hawa bergegas membuka pintu.

“Mas, itu mobil punya siapa?” tanya Hawa setelah menutup pintu.

“Punyaku. Punya kita … lihat platnya saja masih putih,” jawab Rijal menyandarkan punggungnya di sofa. 

“Lha, motor, Mas?” selidik Hawa berlanjut ngeloyor ke dapur menyiapkan air panas untuk mandi suaminya. Rijal biasanya lebih memilih naik motor daripada mobil dinas, plat merah. 

***

 

Pukul dua puluh satu mereka berdua menikmati hidangan makan malam. Secangkir kopi jahe juga diseduh Hawa untuk suaminya.

“Dik,” 

“Iya, Mas.”

“Pigura di meja depan bukannya pigura selawat sakti?”

“Iya, Betul. Kenapa, Mas?”

“Kok, buram dan tidak wangi.”

“Tapi, masih bisa terbaca selawatnya, toh?”

“Kalau pembacanya tidak hapal selawat yang selalu kita baca setiap duduk tasyahud[2], ya, bacanya tersendat-sendat atau malah tidak bunyi. Sebab tertutup bintik-bintik hitam, buram,” komentar Rijal.

“Makanya itu, Mas. Sejak tadi sore aku bersihkan, aku kerok pakai silet juga. Tapi, hanya selarik yang bening, selebihnya tetap buram dan tidak wangi. Sebel!”

“Ganti kacanya saja,” saran Rijal.

Hawa tersedak dan batuk-batuk, lantas meminum air putih. 

“Apa, Mas lupa dengan pesan Emak?”

“Tidak. Dan apakah mengganti kaca yang sudah tidak layak dengan kaca yang baru itu perbuatan merusak? Aku rasa tidak. Malah, itu perbuatan menjaga.”

“Jika kita ganti kacanya, apakah akan kembali wangi?” Hawa balik tanya. Rijal hanya mendengus dan geleng-geleng.

 “Mas!” panggil Hawa dari depan kulkas

“Ya.” Rijal menghentikan gelas di depan mulutnya.

“Mas, kan sering balik dari kantor petang dan waktu Magrib masih di jalan karena macet, sampai rumah jamaah Isya sudah rampung, itu artinya ….”

“Tidak salat Magrib! Kamu Mendikte salatku, ya!” sahut Rijal keras.

“Bukan itu maksudku.”

“Lantas!”

“Selama ini, kita berdua selalu jamaah salat Isya dan jamaah salat Subuh, tetapi Magrib ….”

“Sudah, sudah! Aku tahu arah omonganmu!” bentak Rijal memotong kalimat istrinya, terus kabur keluar, menutup mobil dengan body cover.

Rampung menyelimuti mobil, Rijal berseru kepada Hawa untuk mengambilkan rokok dan kopi jahe yang belum sempat ia nikmati. 

“Mas, mobil itu kreditkah?” selidik Hawa seraya menaruh wedang dan sebungkus sigaret filter di meja, lantas ikut duduk di teras. Rijal menjawab setelah menyeruput wedang dan menyulut sebatang rokok.

“Semua surat-surat lengkap dengan faktur pembayaran lunas ada di tas hitamku.”

“Itu mobil mewah, lho Mas?”

“Iya, kenapa?” jawab Rijal sambil menikmati rokoknya, sorot matanya ke depan, fokus ke mobil.

“Mas, ti … tidak korupsi, kan?” tegur Hawa sedikit gemetar. Rijal terentak, matanya spontan mendelik ke arah istrinya.

“Asal kamu tahu, ya! Sudah sewajarnya, jika aku sebagai pimpinan staf di pemerintahan daerah yang juga punya wewenang mutlak untuk memutuskan kontraktor mana atau PT apa yang memenangkan tender proyek peremajaan jalan raya, cor beton dan pembangunan GOR Pusat daerah pada tahun ini. Sebagai rasa terima kasih kontraktor yang terpilih. Maka aku dikasih kompensasi berupa mobil mewah itu. Apa itu namanya korupsi, hah!”

“Tidak. Tetapi itu penyuapan,” protes Hawa.

“Penyuapan bagaimana! Itu aturan sah sejak zaman bahula. Coba kamu minta stempel ke kantor instansi pemerintah. Pasti kamu akan meninggalkan amplop, meskipun dua puluh ribu isinya!” kelit Rijal dengan dada naik-turun, “Sudah, sana masuk!”

Hawa membisu, melangkah masuk rumah dan hendak memberesi pigura berikut peralatan pembersih yang berserakan di meja. Namun, ia tercengang, kedua matanya nanap saat melihat kaca pigura itu kian banyak bintik-bitik hitam. Hitam yang gelap. Tidak terlihat lagi bendera merah putih dan selawat sakti.[*]

 

Kosa kata:

  1. Kamar / ruang khusus untuk salat di dalam rumah.
  2. Tasyahud (duduk tawaruk atau duduk di akhir salat )
  3. Kempling (mengkilat, anyar gres, terbaru)

 

Demak, 2021.

Loading

SELEPAS PETANG

Karya: Oktari Rosalia (Peserta Lomba DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

 

ndukga bole izin saja?”

Entah harus menjelaskan sampai berapa kali sampai ibu mengerti. Dunia malam saat ini sudah tidak segelap zamannya dan pertemananku tidak semengerikan yang ia kira, paling hanya beberapa orang yang merokok. Sambil merapihkan jaket jeans bekas almarhumah Mbak Fitri, dengan situasi rumah yang cukup menggajal hati untuk pergi, aku akan mencoba meyakinkan ibu untuk terakhir kalinya.

Mataku yang sayu dengan wajah yang setiap malam kemerahan ini meminta ibu untuk duduk di atas kasur depan lemari tempat aku merapihkan jaket.

buk, Putri udah sebesar ini, bisa jaga diri.”

Sunyi yang menjawab. Kedua mata kami saling bertemu, tidak ada jawaban dari ibu.

buk

Putri janji ga sampai jam dua belas sudah pulang”

Dengan terbatuk-batuk, entah karena usia atau karena sudah malam, ibu berdiri sambil menopangkan tangan kanannya pada bahuku dan mengambil syal biru tua temaram dengan renda-renda disetiap ujungnya. Kami berdiri berhadapan dan ia memakaikannya di leherku.

Tak banyak yang ia sampaikan, hanya petuah yang sama kunonya seperti syal ini. Bibirku masi datar dan mataku masi sayu, tidak banyak yang bisa aku ekspresikan. 

“Ini sudah larut malam nduk, sebenarnya pamali keluar malam-malam begini, apalagi kamu anak perempuan. Jaket sama syalnya jangan dilepas sampai pulang. Bajumu itu terlalu pendek, pamali.”

“Kalau naik motor pelan-pelan saja, apalagi kalau lewat jalan yang pohonnya besar-besar disana. Gelap, apalagi bunga-bunganya itu lagi mekar, takutnya ada yang tidak terlihat nanti ngikut kamu pulang.”

Dengan logat Kopeng, Jawa Tengah yang mendayu-dayu ibu kembali mengingatkan mengenai pamali. Hidupku di desa yang kuno ini memang tidak akan tenang apalagi tinggal dengan seorang ibu yang kuno. Tak banyak yang aku sampaikan pada ibu, rasanya hanya ingin segera pergi dan bertemu teman-temanku di pendopo seberang desa. 

Sambil menunggu dijemput Mas Arif, aku dan ibu duduk di lantai teras depan rumah. Mungkin karena lantai kami yang kotor, merasakan gatal-gatal sampai muncul ruam bukan hal yang besar, terlebih kini jam menunjukan pukul delapan malam. Kami terdiam, terlebih karena aku yang sempat teringat almarhumah Mbak Fitri. Kematiannya cukup ganjil dan orang desa kami mempercayai adanya penunggu pohon yang menempel padanya. Bahkan kepala desa kami berkata, penunggu ini marah dan mengambil Mbak Fitri dari kami, selamanya.

Bahkan mungkin penunggu itu masih ada dirumah kami. Setiap malam dan sebelum subuh, patokannya sampai ibu selesai solat subuh, kami pasti terbangun. Tertindih makhluk besar di dada dan terbangun sampai terbatuk-batuk. Terkadang makhluk ini bahkan sampai mencengkram kami atau melilit dada kami sampai tak ada udara yang bisa dihirup.

Assalamualaikum,”

Akhirnya Mas Arif datang. Hanya membayangkan semua ini saja cukup menyesakkan dan kami memutuskan untuk segera berangkat dengan moghe atau motor gedhe hitam yang knalpotnya saja bisa menghembuskan asap seperti kebakaran. Bukankah itu keren?

Melewati pohon-pohon besar dan aku mencium wangi-wangi bunga yang diperingatkan ibu tadi. Aku mulai merinding, hawanya jadi panas dingin, tidak karuan. Seperti yang pernah dialami ibu, aku, dan almarhumah Mbak Fitri. Tanganku mulai muncul kemerahan, gatal dan sedikit panas sampai kepunggung. Sedikit rasa sakit dan sesak dari dada sampai sakit kepala. Setidaknya aku masih bisa menahan.

Setelah sampai, ada Mas Fajar, Mas Saiful, Mas Ivan, dan Mbak Sela. Melihat mereka begitu akrab, bercanda, minum kopi, dan merokok bersama membuatku sedikit tenang karena mereka menyambutku dengan hangat.

Semakin malam, aku kira semakin mendingan karena sudah bercanda ria, tapi tawa diantara kami tidak mengubah keadaanku sama sekali. Aku benar-benar takut penunggu pohon mengikutiku sampai sini. Dalam hati aku membacakan ayat kursi dan banyak ber-istigfar.

Mungkin lebih tenang, tapi beberapa rasa sakit tidak kunjung hilang. Firasatku semakin memburuk.

drrrt…. ddrrrttt……

drrrt…… ddrrrrtttttt…

Telepon dari ibu yang pasti memintaku pulang. Memang hampir tengah malam, petang juga sudah lewat. Aku tidak ingin menjawab dulu, setidaknya aku pulang setelah Mas Arif menghabiskan puntung rokoknya yang terakhir.

drrrt…… ddrrrrtttttt…

Menyerah mengabaikan ibu, dan aku juga mulai tidak nyaman diantara asap rokok, aku beranjak ke luar sebentar.

“Asapnya astaga…, tolong stop dulu merokoknya aku mau bicara dengan ibu.,”

“Apa sih put hahahhaa”

Rasa panas dingin yang tidak mereda, emosi, dan gatal yang tidak kunjung membaik, sekarang asap-asap ini membuatku terbatuk-batuk tidak berhenti. Memutuskan keluar dari sini dengan alasan menjawab panggilan ibu sepertinya memang terbaik. 

bruk

Aku terjatuh. Entah kenapa yang tadinya sesak sekarang makin membuatku tidak bisa bernafas. Penunggu mana lagi yang marah pada keluarga kami sampai kami terkutuk seperti ini. Baru saja aku dapat kabar dari Pak Mardi, tetangga kami, ibu seperti kerasukan. Ia awalnya hanya batuk terus menerus, yang awalnya masih keluar dahak sekarang disertai darah. Yang lebih mengkhawatirkan adalah, ibu kesulitan bernafas. Banyak warga yang berasumsi munculnya suara penunggu yang marah, bunyinya nyaring.

Menyesal, sungguh. Berandai-andai seharusnya aku di rumah bersama ibu, mungkin aku dan ibu tidak akan mendapatkan kutukan Mbak Fitri.

Semakin dirasakan, semakin sakit, dan semuanya gelap

……

Tiba-tiba semuanya membaik, aku bangun dari tidurku yang terasa cukup lama. Entah yang mengerikan semua itu adalah mimpi atau bukan. Badanku terasa ringan. Langit-langit putih dan ruangan ini terasa asing. Banyak orang berlalu-lalang.

Ibu.

Aku bangun dan membabi buta mencari ibu. Banyak orang disini namun tidak satupun aku kenal dan tidak ada yang menyerupai ibu. Aku mulai lemas dan terjatuh.

Seseorang dengan pakaian serba biru dan jaket putih mendatangi aku. Bukan jaket rupanya, itu jas dokter. Ia meraih tanganku dan membantuku duduk di kursi hitam depan kamar tempatku bangun tadi. Dia menanyakan banyak hal dan aku hanya menjawab sebisaku karena aku masih pusing.

Setelah membuat semuanya jelas, ia menepuk pundakku, tersenyum.

“dek, saya dokter Eric yang menangani adek dan ibu adek sejak tadi malam. Adek tidak perlu kawatir ya, sekarang adek ada di puskesmas dan sudah mendapatkan penanganan. Tadi malam adek mengalami gejala-gejala asthma dek, pernah dengar?”

“tidak dok, saya dan ibu, dari desa memang kami sudah dikenal sebagai keluarga yang terkutuk. Ibu saya bagaimana ya dok?”

Wajahnya dan suaranya menenangkan, siapapun namanya tadi, ia membuatku lebih tenang. Kenapa orang takut dan sungkan ke puskesmas ya, dokternya dan perawatan disini saja sangat baik. Sebenarnya aku sedikit malu karena tidak tahu apa pun tentang penyakit, tapi dokter ini tidak menyudutkanku.

Setelah mendengarkan penjelasannya, aku semakin merasa terbuka. Ternyata selama ini yang kami sebut kutukan, ternyata adalah penyakit dan bisa diobati. Aku kira gatal dan ruam kemerahan itu wajar saja ketika kami sering duduk dilantai kotor, ternyata selain kotor, lantai dingin juga membuat seseorang mengalami alergi. Dimulai dari keluargaku yang alergi debu dan dingin, setiap kali bunga mekar dari pohon-pohon besar ternyata serbuk sarinya membuat kami semakin merasakan alerginya.

Kata dokter, lingkunganku dengan asap rokok yang banyak, aku sering pergi malam hari dengan baju pendek, dan naik motor mengebut, itu membuat angin dingin jadi memperparah alergi. Bahkan suara penunggu yang ditakuti tadi malam itu adalah suara batuk dari ibu, bunyinya seperti ngikkkkk…. ngikkk… penanda ibu sulit bernafas.

Masih banyak hal yang baru aku dapatkan dan aku berharap dengan pengetahuan baruku, warga desa tidak akan menyebut kami terkutuk oleh penunggu jin, terlebih karena selepas petang, banyak hal yang dapat memicu seseorang mendapatkan gejala-gejala penyakit, seperti aku dan asthma.

Loading

TASYAKURAN WISUDAWAN CSSMoRA

CSSMoRA UIN Walisongo pada tanggal 31 Mei 2022 mengadakan acara tasyakuran wisuda yang bertemakan “With the new day comes new strength and new thoughts. Loyalty !” “Dengan hari baru datang kekuatan baru dan pikiran baru” di Gazebo YPMI Al-firdaus,

Dengan serangkaian acara sebagai berikut :

Pembukaan, sambutan dari pengelola dan wisudawan, pemotongan tumpeng, lalu penyerahan kenang2an serta pelepasan wisuda,

Pada acara tasyakuran wisuda kali ini, terdiri dari 2 orang wisudawan dan 3 wisudawati yaitu: Andi Evan Nisastra,S.H , Nuril Fathoni Hamas,S.H , Sela Septi Andri,S.H , Naviatul Hasanah,S.H , dan Leli Nurlitasari,S.H dengan adanya tasyakuran ini besar harapan para wisudawan/i dapat menjadikan kegiatan tasyakuran wisuda ini sebagai kontemplasi khidmat atau pengabdian kepada masyarakat dan menjadi renungan untuk bahan motivasi semangat bagi mahasiswa aktif.

Dalam Acara ini KH. Ali Munir dan Pengelola PBSB memberi nasehat dan sedikit motivasi bahwa orang yang cerdas selalu belajar apa saja dan kepada siapa saja. Juga semoga para wisudawan dan Wisudawati menjadi orang yang shalih dan Aslah.

 

 

­-Red Badan Pengurus Harian

Loading

SELINGKUH

Karya: Rachmat Wardana ( Peserta Lomba Cerpen DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

Malam itu nyonya Atmaja sedang duduk di sofa ruang tamunya. Dengan secangkir kopi di tangan, dan dua gelas berisi bubuk kopi di meja. Dengan perasaan geram penuh kecemasan, nyonya Atmaja menyeruput dan menaruh secangkir kopinya ke meja.

Dengan mata yang selalu mengawasi jam dinding yang mendentangkan pukul sembilan malam, nyonya Atmaja menggigit jari-jari tangan kanannya dengan penuh kegemasan. Sedangkan, anak-anaknya yang berusia SMA dan SMP sudah berada di kamarnya masing-masing.

Nyonya Atmaja berdiri, mondar-mandir dengan kepala tertunduk, wajah cemas, dan jari-jari tangan kanan yang masih dihisapnya. Dan ia kembali duduk. Menyeruput kopinya kembali. Matanya terbuka, melotot serius, dan kembali hilang rasa kantuknya.

Ia lakukan hal itu berulang, menyuruput kopi, mengisap jari-jari tangan, berjalan mondar-mandir, dan kembali duduk.

Hingga nyonya Atmaja bosan memandang jam dinding dan melupakan waktu. Ia juga melupakan bahwa gelas-gelas kopinya telah kosong dan ia tak lagi menyeruput kopi. Dan terdengar suara mesin mobil berhenti di depan gerbang rumah. Nyonya Atmaja pun berjalan dan sedikit menyingkap gorden jendela. Dilihatnya mobil hitam besar yang berharga mahal.

Rasa cemas nyonya Atmaja akhirnya menurun dengan disertai rasa geram yang memuncak. Dibukakannya pintu rumah untuk menyambut seorang lelaki berusia empat puluh tahunan, yang tak lain adalah tuan Atmaja, suaminya.

Ditatapnya singkat wajah suaminya, dan diangkatnya tangan kanannya hingga mendarat dengan keras di wajah tuan Atmaja. “Akhirnya pulang juga kau lelaki bajingan!” geram nyonya Atmaja.

“Apa-apaan kamu! Suami pulang malah disambut dengan tamparan,” ucap kesal tuan Atmaja yang tak sengaja terdengar kedua anaknya yang SMA dan SMP yang ternyata belum tertidur.

“Sudah tidak perlu banyak bicara kamu! Langsung saja kamu akui kebejatan kamu!” 

Sontak anaknya nyonya Atmaja yang SMA menyuruh adiknya yang masih SMP untuk kembali ke kamarnya, “Kamu tidur sana, jangan dilihat. Itu masalah orang dewasa.” Tak mau berdebat dengan kakaknya, sang adik menuruti dan pergi ke kamar. Dengan tetap memerhatikan pertengkaran dari kamarnya di lantai atas.

“Apa? Apa? Gila kamu ini ya!” tunjuk tuan Atmaja kepada nyonya Atmaja.

“Jangan kamu kira saya tidak tahu!” ucap nyonya Atmaja sambil menunjuk-nunjuk wajah tuan atmaja. “Saya sudah tahu kebejatan tentang perselingkuhan kamu!” 

Tuan Atmaja membeku sedetik dan mengelak keras, “Perselingkuhan apa? Kamu jangan asal tuduh! Saya itu suami kamu dan ayah dari anak-anak kamu. Tidak akan saya selingkuh.”

Anaknya yang SMA diam-diam merekam dan menjadikannya status dengan emotikon sedih dalam statusnya di medsos. Sedangkan adiknya yang SMP, merekamnya dan menjadikannya status, “Anak gak tau adab! Ngebeberin masalah keluarga.”

“Tolol! Saya punya semua bukti tentang perselingkuhan kamu! Bukan cuma satu, tapi banyak foto dan video yang saya dapatkan ketika kamu disuapi dengan para selingkuhan kamu itu,” ucap nyonya Atmaja terengah-engah. “Dan saya sudah melaporkannya kepada KPK dan bersiap-siap saja kamu.”

“Masa bodoh! Kamu pasti berbohong. Mana mungkin seorang perempuan seperti kamu dapat melakukan itu,” penyataan tuan Atmaja yang meremehkan nyonya Atmaja.

Di lantai atas, anak mereka yang SMA mendapatkan panggilan telepon dari kekasih, ia merasa senang. Di lantai bawah, tuan dan nyonya Atmaja yang terkejut mendengar dering telepon itu terkejut dan menatap ke lantai atas. Pertengkaran mereka pun berhenti. Dan mereka bersama-sama masuk ke kamarnya yang kedap suara.

Masuk jam Sembilan pagi, sebagian orang sudah mulai beraktivitas, dan sebagian lagi bersiap-siap untuk beraktivitas. Dan tidak ada yang mempermasalahkan hal tersebut karena tiga orang dari Komisi Pemecatan Keluarga sudah mendatangi kediaman keluarga Atmaja, yang mana tuan Atmaja sedang bersiap-siap menuju balai kota tempatnya kerja.

Ketiga anggota KPK tersebut disambut oleh nyonya Atmaja, tidak dengan suami, ataupun kedua anaknya yang sudah berangkat sekolah sedari jam tujuh pagi.

“Selamat Pagi, nyonya! Benarkah ini rumah nyonya Atmaja yang kemarin sore hendak melaporkan masalah perselingkuhan?” tanya seorang anggota KPK muda dan berwajah cukup tampan yang membuat nyonya Atmaja tersipu senyum.

“Ya, saya yang telah melaporkan. Silakan tuan-tuan masuk,” ucap nyonya Atmaja mempersilakan ketiga orang tersebut masuk.

Tuan Atmaja masih melanjutkan sarapannya, dengan celana pendek dan kaus oblong, ia makan sendirian di meja makan. Sedangkan, istrinya, bersama tiga anggota KPK.

“Nyonya Atmaja, boleh kami melihat bukti yang hendak nyonya berikan?” pinta seorang anggota KPK yang bertubuh rada kurus, tetapi masih cukup tampan.

“Ya, saya akan berikan. Dan sampai sekarang masih ada di ponsel saya,” jawab nyonya Atmaja sambil memberikan ponselnya.

“Boleh tolong dibuka sandi layarnya, nyonya?”

“Oh, iya, maaf.”

“Apa hanya berupa foto-foto saja, nyonya?” tanya seorang anggota KPK yang cukup tua.

“Bentuk video ada, tetapi silakan dibuka yang foto-foto terlebih dahulu.”

Ketiga anggota KPK tersebut pun melihat-lihat foto-foto yang diberikan oleh nyonya Atmaja dengan ponsel dipegang oleh anggota yang tua. Seperti yang dilaporkan oleh nyonya Atmaja, mereka melihat foto tuan Atmaja yang sedang disuapi oleh orang lain. Satu-persatu foto mereka lihat, tuan Atmaja yang disuapi oleh berbagai orang dengan seragam yang berbeda. Bahkan, ada seorang yang mengenakan seragam batik menyuapinya.

Setelah selesai dengan semua foto-foto yang diberikan, akhirnya anggota yang tertua meminta video, “Bisa kita lanjut dengan videonya, nyonya?” dan ia menatap kepada anggota muda dan cukup tampan.

“Foto ini asli. Dan orang yang disuapi adalah benar Walikota Ini,” ucap anggota yang muda dan cukup tampan diam-diam menganalisis, yang ternyata adalah ahli IT.

“Ini, saya memiliki lima video dia sedang disuapi dan satu video dia sedang membawa daging,” ujar nyonya Atmaja sambil kembali memberikan ponselnya kepada anggota yang tua.

Mereka pun memutar video pertama, cukup lama mereka menonton, hingga akhirnya mereka melihat adegan Walikota Ini sedang disuapi, “Ah, ya. Banyak sekali yang ia makan. Apa perutnya muat memakan semua itu?” dan ketiga anggota KPK tertawa mendengar ucapannya yang ternyata adalah kelakar yang membuat nyonya Atmaja terdiam, bingung, tak mengerti apanya yang lucu.

Mereka menyelesaikan video pertama dengan akhir adegan bahwa tuan Atmaja berhasil memakan semua uang yang disuapi langsung ke mulutnya. Ketiga anggota KPK hanya menelan ludah melihat rekaman Walikota ini yang rakus karena dapat menghabiskan seluruh uang itu dalam waktu singkat.

“Video ini asli. Dan orang yang disuapi adalah benar Walikota Ini,” pernyataan anggota yang muda dan cukup tampan.

Mereka melanjutkan menonton video yang dijadikan bukti. “Video ini asli. Dan orang yang disuapi adalah benar Walikota Ini,” pernyataan yang terus diberikan oleh anggota yang muda dan cukup tampan pada setiap video yang mereka putar.

Dan pada video terakhir, “Video ini asli. Dan daging yang dibawa Walikota Ini sangat segar,” pernyataan yang membuat ketiga anggota KPK terbahak-bahak.

Seluruh bukti sudah diputar, dalam denting jam yang menunjukkan pukul setengah sebelas siang, nyonya Atmaja merasa geregetan akan hasil bukti dan laporan yang ia berikan.

“Baik nyonya, kami nyatakan bukti ini otentik dan kami butuh salinannya. Dan kami akan segera menuntaskan perselingkuhan suami nyonya terhadap orang-orang yang telah menyuapinya,” ujar anggota KPK yang tua. “Dan tolong buat laporannya,” pinta anggota yang tua kepada anggota yang rada kurus.

Dan tuan Atmaja yang hendak keluar rumah yang harus melewati ruang tamu terkejut melihat ada tiga orang tamu yang tidak ia tahu kedatangannya karena ia sibuk menghabiskan roti lapis uang sebanyak satu koper dan sibuk berlama-lama di kamar mandi yang jaraknya cukup jauh dengan ruang tamu. Dan sebenarnya ia terkejut atas seragam yang para tamunya gunakan dengan bertuliskan Komisi Pemecatan Keluarga. Kini ia menyadari bahwa istrinya tidak sekedar menggertak karena cemburu. 

Ketiga anggota KPK tersebut pun berdiri, memberikan hormat kepada Walikota Ini. “Selamat Siang, Bapak Walikota. Saya sarankan anda untuk tidak perlu lagi pergi ke Balai Kota. Hehe,” ledek anggota KPK yang tua.

“Apa maksud anda ini?” tanya tuan Atmaja.

“Ya, mau bagaimana pun, Bapak tidak akan mampu mengelak atas perselingkuhan Bapak, dan ini akan menjadi skandal perselingkuhan yang besar,” gertak anggota yang tua.

“Perselingkuhan apa! Jangan asal tuduh kalian!” bentak tuan Atmaja.

“He, bukankah nikmat ketika anda disuapi, mengunyah, dan menelan uang dari mereka-mereka itu?”

“Ya, memang nikmat. Dan perlu kalian ketahui,” tangan tuan Atmaja menunjuk-nunjuk, “yang saya lakukan adalah sebuah kewajiban yang berat yang sulit dilakukan oleh orang lain. Saya telah menyelamatkan harta masyarakat. Saya sudah mencegah para karyawan ataupun pegawai pemerintahan untuk menghamburkannya. Dengan saya memakannya, tentu tidak akan ada lagi penyelewengan dana. Dan tingkat korupsi akan berkurang.”

“Oh, begitu rupanya. Selamat kalau begitu Bapak telah menjadi seorang Walikota yang baik yang telah menyelamatkan harta masyarakat. Akan tetapi, istri Bapak telah cemburu melihat Bapak terus disuapini oleh banyak orang. Tentulah, kami sangat bersimpati dengannya. Padahal Bapak bisa memakannya sendiri tanpa perlu disuapi. Dan kami akan memproses pemecatan Bapak dari keluarga Ini.”

Tuan Atmaja hanya terdiam, menatap anggota KPK yang tua. Dan kemudian menatap ketiga anggota KPK yang berlalu pergi. Sedangkan, nyonya Atmaja menarik napas panjang, dengan kedua tangan di belakang punggung, dan menatap sinis tuan Atmaja dengan sepotong uang seratus ribu di bawah bibir. 

Loading

SANDAL YANG HILANG

Karya: A Muh Wahyu Zainuddin (Peserta Lomba Cerpen DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

Pada  suatu  malam,  aku  dan teman –teman  berkumpul  di sebuah  masjid  untuk  mempelajari pelajaran  yang  akan  di pelajari  besok  nanti. Di  samping  itu  aku  dan  teman-temanku bercanda  gurau dan  bercerita  tentang  pengalaman mereka saat liburan  bersama keluarganya.

   Waktu demi berjalan , tiba-tiba  ada  sesuatu  yang mengganjal dalam diri kami. Yah,siapa lagi kalau bukan kiyai kami yang  menyuruh semua santrinya  untuk berkumpul di masjid , jikalau ada suatu masalah atau hal-hal yang penting, biasanya pak kiyai menyuruh kami untuk  berkumpul di masjid.

Sesampainya pak kiyai di masjid dan duduk di kursinya, pak kiyai memberitahu suatu masalah di depan kami semua beliau berkata’’ Ada santri yang kehilanagn sandal, siapa yang memakai l sandal teman kalian?’’   beliau  bertanya  kepada kami semua  namun tidak ada yang  mau menjawabnya, kemudian beliau bertanya lagi” adakah di antara kalian yang  memakai   sandal temannya?’’ dan  tidak ada pun di anatara kami yang menjawabnya.

 

Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan dari pak kyai seolah-olah pak kyai berbicara di ruangan yang sunyi tanpa ada seseklai pun suara di dalamnya. Lalu kyai kami memukul meja dengan  hentakan keras dan bertanaya kerepada santri dengan nada yang sangat keras hingga suaranya terdengar  satu pesantren.Beliau berkata ‘’ saya tanya sekali lagi, kalau ada santri yang tidak jujur dan tidak menjawab, semua santri tidak boleh keluar dari masjid dan semua santri mengaji sambil berdiri sampai ada teman kalian yang mengaku’’ ujar kyai kami.

Dan kami para santri  mengambil air wudhu,pakaian sholat, dan al-qur’an kami untuk  persiapan mengaji di masjid. Sesampai di masjid kami para santri mengaji tepat di depan kyai kami dan kyai kami duduk di depan kami  dengan keadaan kepala tertunduk  dan mulut bergerak atau dengan kata lain beliau sedang berzikir.

Waktu demi waktu telah berjalan,  tepat pada pukul 02.00 malam WITA ( Waktu Indonesia Tengah)  tak ada satupun santri yang mengaku kepada kyai kami,kami semua tetap mengaji, ada kelakuan kamiyang unik di saat mengaji yang biasanya tidak terjadi,ada yang bercerita,tertidur sambil berdidri  dan terjatuh ,ada juga teman kami yang mengangkat kakinya agar tida ketiduran pada saat mengaj,dll.

Dan  pada akhirnya tepat pukul 02.45 kyai kami akhirnya menyuruh kami duduk dan berhenti mengaji,di saat itupun kyai kami memberikan  nasehat kepada kami  beliau berkata” Salah satu terhalangnya ilmu pengetahun adalah mengambil yang bukan haknya,maka agar ilmu pengetahuan itu bisa kita peroleh dan masuk dalam otak kita maka jangan pernah sesekali mengambil barang yang bukan haknya’’ kata kyai kami kepada para santrinya. Dan akhirnya kyai kami menyuruh kami keluar dari masjid dan  kamipun tertidur pulas karena kami menjalani hukuman pak kyai.  

Loading