Karya: Salwa Fadhilah (Peserta Lomba Cerpen DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)

Semua tahu hidup bukanlah hal mudah. Hidup itu mahal dan tak ada tebusannya. Dibilang hidup mudah tidak salah. Hidup itu sulit itu juga benar. Perlu ambil jalan tengahnya bijak menjalani segala problema kehidupan. Negeri ini tak bisa lepas dari perkembangan peradaban. Manusia seperti diriku sudah mengarungi kehidupan selama 17 tahun. Alu, itulah namaku duduk di bangku SMA, terkena efek zonasi tapi untungnya bisa hemat ongkos pulang pergi. Jalan kaki, itulah kegiatan rutin setiap kali berangkat dan pulang sekolah. 

Pagi itu Ibu memberiku uang saku sepuluh ribu. Lebih dari cukup bagi pejalan kaki yang tidak butuh ongkos bensin sepeda motor. Mengenakan seragam putih abu-abu berdasi dan sabuk lalu mengucap salam dan berpamitan pada Ibu. Bapak berkaos putih masih berbaring di kasur lantai. Jadwal dinas Bapakku jam 9 pagi, tugasnya mencangkul dan menanam padi, meskipun tanggal merah tetap dinas pagi. Sudah hampir tiga tahun aku terbiasa menjadi anak sekolah jarak dekat. Melewati Gang Anyelir lokasi rumahku, rumah yang didirikan oleh almarhum Kakek, seorang guru SD yang difitnah dengan isu pemberontakan komunis oleh orang iri hati. Turun jabatan karena kedengkian teman yang honornya lebih rendah darinya kala itu. Menyebabkan Kakek menjadi petani yang sawahnya digarap Bapakku saat ini.

Halima teman karibku, kami berangkat sekolah bersama. Putri dari juragan tahu ini sangat mengerti diriku. Seperti biasa, berbekal tahu goreng lawuhe iwak (lauknya ikan) teri. Kami berjalan keluar gang. Saat sampai di perempatan Kalibagor tepat pukul 6.20 kini. Para pengamen lampu merah bersiap untuk beraksi. Musik kentongan mereka tata di sebelah papan besar bertuliskan “setiap orang/lembaga/badan hukum dilarang memberi uang/barang ke pengemis atau gelandangan”. Kulihat baju mereka sama seperti yang dipakai kemarin sore dan kemarin lusa. Entah dimana mereka tinggal dan menginap tapi di sebelah papan besar itulah tempat dinas mereka. Sungguh pemandangan yang sudah biasa namun luar biasa. Luar biasa mereka tetap mengamen setiap hari meski ada papan peringatan dilarang mengamen dan mengemis. Apakah sanksi yang tertulis di papan besar itu hanya sebagai bahan untuk menakut nakuti masyarakat ?

Aku dan Halima lanjut berjalan kaki hingga kami sampai di perempatan kedua, perempatan Kalimanggis. Dua Badut sedang berjoget di zebra cross, lalu salah satu berkeliling menarik uang sukarela. Keberadaan mereka belum lama di perempatan ini. Kira-kira baru satu bulan saja. Apa ini dampak PHK karena pandemi Covid 19? Kami menyeberang di depan badut yang berjoget itu, pandanganku mengarah pada Bapak pesepeda motor yang memboncengkan istri dan anaknya, Dilihat dari tampilan mereka, sepertinya mereka berasal dari keluarga dengan perekonomian menengah kebawah. Sang Ibu memberi koin seribu rupiah kepada anaknya yang sangat senang dan terhibur dengan para badut itu. Heran, tidak pernah kulihat orang berdasi yang memberikan uang pada pengamen perempatan, sesekali yang kulihat hanya masyarakat biasa yang kebetulan mengantongi uang recehan untuk diberikan kepada mereka. Atau karena rasa iba melihat badut lucu kepanasan di tengah jalan. Salah satu badut menghampiri anak kecil itu lalu menyodorkan kotak uang dan tidak lama lampu kuning bergeser ke lampu hijau. Badut bak bertopeng lucu itu membuka wajahnya masih segar baru mandi dan belum keringatan karena suasana masih pagi.

Sudah lima belas menit kami jalan kaki. Sampailah kami di pertigaan Kalipoh, dekat sekolah kami. Jangan heran, tak luput dari pengamen jalanan, disini tempat mangkal manusia silver yang menawarkan jasa foto atau hanya kamuflase menjadi patung hidup menunggu kotak uang di sampingnya diisi pengguna jalan. Tubuhnya dicat silver yang dibuat dari campuran bubuk sablon dan minyak goreng untuk membentuk cat metalik. Patung hidup, berkilau, entah dia pernah membersihkan cat ditubuhnya atau tidak sebab jam 6.30 dia pasti sudah siap memegang kotak bertuliskan : “sekali foto Rp1000,00” hingga aku pulang bersamaan dengan adzan magrib lelaki itu masih di pertigaan. Kalau yang satu ini sudah 1 tahun sebelum Covid-19 menyebar luas, dia sudah ada di sini. Gerbang sekolah terbuka di depan kami tak sabar mengikuti pelajaran hari ini, bertemu guru matematika favoritku Bapak Aswadi.

Pulang sekolah aku bergegas menuju ruang kelas Halima. Kali ini kami akan mampir ke perpustakaan daerah dahulu. Kulewati pertigaan tadi. Pak Silver sedang menyamar jadi patung pose flamingo (flamingo pose). Dari arah belakang kulihat Satpol PP dan Pak Polisi datang. Pak Silver melirik dan langsung ambil langkah seribu. Ternyata papan larangan memberi uang pada pengemis hendak dipasang dekat lampu merah. Pak Silver sudah ngumpet di warung rames yang berjarak 16 meter dari pertigaan. “Sudah berkali kali masih saja pengamen -pengamen itu datang dan masih saja ada orang yang tidak taat hukum, pasti papan larangan ini juga tidak cukup untuk menghentikan mereka” gumam Pak Polisi itu saat aku dan Halima lewat tepat di sebelahnya. 

Setiap orang pasti ingin jabatan tinggi seperti Pak polisi itu bukan? Gaji tetap, pangkat dan kehormatan. Namun, Tuhan menciptakan manusia beragam dan bersuku-suku, bahkan kemampuan sosial. Uang saku 10 ribuku saja pasti sudah membuat para pengamen di jalanan senang ketika kuberikan secara utuh. Memang mereka terkesan mengemis, tidak berusaha mencari pekerjaan layak lainnya. Tapi pandanglah sudut dari sisi mereka yang terbatas pendidikan dan biaya. Mendapat ongkos bermodal mejeng di perempatan saja sudah ada usaha. Tidak perlu kuliah sampai S-1 untuk dapat uang. 

Sampailah kami di perpustakaan daerah. Kali ini aku ingin membaca artikel ataupun berita lewat komputer yang tersedia. Sedangkan Halima melihat koleksi buku-buku baru untuk dipinjam. Tampak buku-buku tersusun rapi mulai dari fiksi nonfiksi, stok lama dan baru terbit pun ada. Komputer juga dipisahkan tempatnya sekira ada 10 komputer yang bisa dipakai masyarakat umum di sini. Di meja komputer aku lantas menyentuh keyboard, mengetik, klik google crome, klik detik.com, berita teratas “Warga Sleman Didenda Rp 50 Ribu Gegara Beri Duit Manusia Silver”(Minggu,28 Nov 2021). Berita itu berisi tiga warga Sleman yang membayar denda 50.000 karena sudah tertangkap basah memberikan uang pada manusia silver. Mereka terjaring dalam operasi yustisi Satpol PP DIY. Hasil sidang, hakim memutuskan para terdakwa masing-masing di denda Rp 50.000,00.

Dari perpustakaan daerah kami menuju jalan pulang, Pak badut melakukan free style. Alunan lagu hip hop di perempatan. Kali ini matahari bersinar terik. Mereka menyisih ke tepi jalan membuka topeng, terlihat wajah keringatan kostumnya pun sudah kusut dan berbau apek. Lantas aku bertanya sembari membeli es teh dekat perempatan. Aku bertanya berapa penghasilannya selama sehari dan alasan dia menjadi badut perempatan. Pak Badut itu menjawab dia sebenarnya badut acara ulang tahun anak -anak yang sepi panggilan karena larangan pesta saat PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) dan teman yang satunya adalah keponakannya yang masih nganggur setelah di PHK dari pabrik kayu. Penghasilan per hari mereka bisa mencapai 50-100 ribu bila ramai, kalau sepi minimal dapat 20 ribu saja.

Aku pulang ke rumah berganti baju dan mandi. Makan siang pakai telur Balado masakan Ibu memang sedap. Di meja makan Bapak bercerita bahwa besok akan dipasang papan larangan mengemis dan memberi uang pada pengemis sesuai perda di seluruh perempatan dan pertigaan. Razia kabarnya juga akan diadakan. Aku heran mengapa orang berbakat seperti mereka memainkan musik kenthongan, dance masih susah mendapat pekerjaan. Tapi kata Bapak mau bagaimana lagi mencari pekerjaan sulit kalau modal bakat saja, butuh sertifikat kalau mau kerja gaji tetap. Kalau tidak minimal punya lahan buat digarap sendiri.  

Esok hari aku berjalan-jalan keliling karena hari Sabtu. Pukul 8 pagi aku ingin membeli telur gulung dan martabak di depan sekolahku. Aku lewati perempatan Kalibagor, Kalimanggis, dan pertigaan Kalipoh. Nampak berbeda dari biasanya, hilang dari pandangan, pengamen di setiap perempatan atau pertigaan saat ini. Papan larangan besar  bertuliskan “Setiap orang yang melanggar ketentuan memberi uang dan/atau batang dalam bentuk apapun kepada gelandangan dan pengemis di tempat umum diancam dengan pidana kurungan paling lama 10 (sepuluh) hari dan/atau denda paing banyak Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah)” sudah terpasang disamping lampu merah. Entah para pengamen sedang melakukan apa sekarang, ambil job keliling atau menganggur di rumah. 

Setelah membeli martabak aku melihat Pak Silver sudah di posisinya. Lalu lintas ramai saat ini . Mungkin karena Sabtu weekend yang dinanti. Saat lampu merah banyak kendaraan berhenti, banyak pula orang tua yang membawa anak-anak mereka berjalan-jalan sambil membeli jajanan di kompleks jajanan dekat sekolahku ini. Sial, Satpol PP datang melakukan razia, Pak Silver yang sedang menyodorkan kotaknya mulai bergelagat siap berlari. Lampu kuning menyala Pak Silver masih menunggu Ibu penjual sayur mengeluarkan uang dari dompetnya, langsung Ia berlari ke tepi jalan setelah menerima upah. Aku menjerit keras sekali, menyaksikan kejadian di depan mataku. Naas, Truk warna kuning dari belakang menabrak Pak Silver, tubuh silvernya terpental. Polisi yang sedang patroli segera ke TKP menutupi tubuh Pak Silver yang berlumuran darah, tubuh Pak Silver dimasukkan ke dalam kantung jenazah dan diangkut dengan mobil polisi. Sedangkan di TKP diberi garis polisi. Bagaimana dengan truk kuning itu? Kabur dengan sangat kencang begitu saja.

Aku bergegas pulang dengan perasaan syok. Jantungku berdebar menyaksikan kecelakaan maut tadi. Kuceritakan semua pada Ibu dan Bapak masih dengan tangan gemetaran. Geram pada sopir truk yang tak punya rasa tanggung jawab sama sekali, meskipun nantinya pasti Polisi berhasil meringkusnya. Ini baru kejadian di kota tempat aku tinggal, diluar sana banyak berita beredar mengenai kasus bermunculannya para pengamen perempatan.

Sungguh miris melihat pemandangan saat ini. Laju pertumbuhan penduduk yag tinggi, pendapatan perkapita yang rendah memang pokok masalah negeri ini. Program KB tak luput, bantuan soial pun diberikan. Kartu pra kerja pun sudah tersedia. Permasalahannya masih saja terjadi kesalahan sasaran penerima bansos yang tidak menjangau beberapa keluarga tidak mampu. Informasi yang mereka dapat juga minim akan cara mendapatkan kartu pra kerja. Lapangan perkerjaan yang sedikit, apalagi pengurangan karyawan karena pandemi juga masih jadi persoalan. Rendahnya pendidikan dan kurangnya pemahaman aturan di masyarakat menimbulkan fenomena pelanggaran dan penyimpangan pada hukum. Kritik sosial juga sering dianggap sepi oleh aparatur negara. Pemerintah selain menciptakan hukum, mengatur dan mengawasi juga perlu memerhatikan masyarakat kecil yang butuh lebih banyak perhatian dan bantuan. Semoga fenomena maraknya pengamen di perempatan bisa diredam dan ditemukan solusi. Semua orang punya kebutuhan, namun cara mereka memenuhi kebutuhan hidup berbeda-beda.

 

Share this post

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *