Karya: Danov Istighfarrahman (Peserta Lomba Cerpen DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

Kalau ada yang bilang sekolah di pesantren hanya untuk anak bodoh dan jalan terakhir untuk anak dengan NEM rendah saat kelulusan, bawa orangnya ke depanku. Karena aku tahu dengan pasti bukan seperti itu kenyataan yang ada. Namaku Dani, enam tahun terakhir di hidupku aku habiskan di pesantren. Aku adalah alumni dari salah satu pesantren terbesar di daerah Pati Jawa Tengah. Dua bulan yang lalu tepatnya aku lulus dari pesantren ini, tempat dimana aku menerima banyak sekali ilmu dari para Guru dan Kyai.

Almamaterku ini mempunyai anak didik aktif lebih dari 3000 santri. Sama sekali berbeda dengan pandangan orang awam yang menganggap pesantren sebagai tempat pendidikan jadul, katrok dan terbelakang. Pesantren ini sangat maju dengan berbagai fasilitas dan kualitas orang-orang yang ada di dalamnya. Santrinya? Jangan tanya, akupun berani disandingkan untuk bersaing dengan murid sekolah umum unggulan di kota-kota besar. Justru santri di pesantren memiliki banyak sekali keunggulan yang mungkin sebagian orang masih belum mengerti. Contoh saja di pesantrenku ini, jumlah mata pelajaran yang diterima santri dalam satu tahun pelajaran bisa mencapai 30 sampai 33 mata pelajaran, karena selain mata pelajaran umum yang wajib diberikan, ada juga mata palajaran pesantren seperti ilmu fiqih, ilmu tafsir, ilmu balaghoh dan lain sebagainya yang juga harus kita pelajari. Makanya jangan berani memandang anak pesantren sebelah mata, kami ini istimewa.

Selain sekolah dan belajar tentang ilmu agama, kegiatan ekstrakulikuler di pesantrenku cukup banyak. Aku yang memang suka berkegiatanpun tak melewatkan kesempatan itu. Mulai dari marching band, grup rebana, pramuka, PBB, science club, klub bahasa arab dan lain sebagainya aku ikuti. Tahun terakhir aku sempat mengikuti perkemahan santri se-Jawa Tengah di Jepara selama satu minggu. Tak diduga karena saat itu aku menjadi Pinsa (Pimpinan sangga) aku ditunjuk oleh panitia perkemahan mewakili pesantrenku untuk mengikuti Perkemahan Santri Nasional di Batam 3 bulan lagi bersama dengan santri-santri dari pesantren lain se-kabupaten Pati. Tentu saja aku sangat antusias, selain karena itu acara besar, itu juga mungkin menjadi kali pertamaku naik pesawat. Walaupun saat acara itu berlangsung statusku sudah lulus dari pesantren, namun Kyai tetap mengizinkan aku untuk berangkat mewakili pesantren ini.

*****

Hari ini aku akan tidur di pesantren, setelah dua bulan kelulusan tidak ada yang berubah di pesantren ini. Rutinitas santri yang padat dan diatur ketat oleh para pengurus masih tergambar nyata di memoriku. Bukan dalam rangka nostalgia, tapi aku dan beberapa teman seangkatanku malam ini harus tidur di pesantren karena besok adalah jadwal kami untuk mengikuti tes sebuah beasiswa masuk ke perguruan tinggi. Beasiswa dari Kementerian Agama RI bernama PBSB. Tahun ini ada sembilan alumni pesantrenku yang ikut tes program beasiswa ini. Kami semua mendaftar di PTN-PTN ternama di Indonesia. Beberapa mendaftar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ada yang mendaftar di UGM, UNAIR, dan lainnya. Aku sendiri bersama 3 teman mendaftar di IPB Bogor.

Pagi itu sebelum matahari menyapa aku dan teman lainnya sudah bersiap untuk berangkat. Tes dilaksanakan di Semarang dengan jarak tempuh kurang lebih 2,5 jam dari pesantren kami. Menggunakan kendaraan elf yang disiapkan oleh pihak pesantren, kami pun siap  berangkat dengan diantar satu TU dan juga supir. Tak lupa sebelum berangkat kami berpamitan dan meminta do’a ke Kyai agar diberi kelancaran dalam menjalani tes beasiswa ini. 

Obrolan-obrolan ringan di dalam kendaraan menemani perjalanan kami menuju ibukota Jawa Tengah. Ada yang memilih tidur, ada juga yang tidak menyia-nyiakan waktu dengan tetap belajar selagi masih ada kesempatan. Aku sendiri memilih istirahat untuk menyiapkan energi menjalani tes nanti. Sambil menatap ke luar kaca pikiranku membawaku pada kejadian empat bulan lalu saat aku dipanggil oleh kepala TU, Pak Munir namanya. “Assalamu’alaikum.. permisi” sapaku sambil membuka ruangan Pak Munir. Pak Munir dari balik mejanya menjawab “Wa’alaikumsalam.. Dani ya, sini duduk.” “Tempo hari kamu sempat menanyakan tentang beasiswa PBSB ya, kamu beneran mau ikut tes beasiswa itu?” “Iya bener pak” jawabku singkat. “Kamu harus bersyukur karena ada satu santri yang mengundurkan diri, jadi sekarang bapak bisa masukkan kamu untuk ikut tes beasiswa ini” Pak Munir menjelaskan makdusnya memanggilku kala itu. “Alhamdulillah..” spontan aku berucap syukur. “Yaudah, sekarang kamu ke atas temui Pak Anshori biar dibantu menyiapkan pendaftaran dan tesnya” ucap Pak Munir. “Iya pak” aku langsung bergegas menyalami sambil mencium tangan Pak Munir, ya sepeti itulah adat di pesantren kami, harus ta’dzim kepada yang lebih tua lebih-lebih kepada Guru dan Kyai.

Program beasiswa ini memang cukup diminati oleh para santri yang akan lulus, karena selain bisa kuliah dengan gratis di PTN-PTN unggulan, penerima beasiswa ini nantinya juga akan mendapatkan uang saku setiap bulannya dari Kemenag RI. Namun karena kuota peserta terbatas untuk setiap pesantren, pesantrenku menerapkan aturan hanya santri dengan ranking satu sampai tiga yang boleh mendaftar beasiswa ini. Kebetulan tahun terakhir itu aku tidak masuk tiga besar, aku mendapat ranking empat dan otomatis tidak bisa mendaftar beasiswa itu. Namun ternyata Allah berkehendak lain, apa yang manusia pikir mustahil hanyalah hal mudah bagi-Nya. Kesempatan yang sangat langka ini akan benar-benar aku manfaatkan. Aku akan habis-habisan dalam mengerjakan tes nanti.

Tak terasa kami sudah sampai di tempat tes. Sambil bersiap kami melihat betapa banyak santri-santri dari seluruh pesantren di Jawa Tengah yang datang dan ikut berjuang demi mendapatkan beasiswa ini, mungkin lebih dari 1000 santri. Aku menghela nafas mengumpulkan tekad yang sudah bulat untuk berjuang mati-matian hari ini. Begitu juga dengan teman-temanku, mereka semua terlihat sudah siap untuk melahap semua soal yang akan disodorkan nanti. Mungkin aku bukan santri unggulan di antara teman-temanku ini, tapi sekali lagi Allah sering punya rencana tak terduga untuk hamba-Nya.

Soal demi soal aku kerjakan, ada yang mudah pasti pula ada yang susah. Kebanyakan soal adalah kategori ilmu alam dan eksakta, karena memang jurusan yang aku pilih adalah Teknik. Tapi karena yang mengadakan beasiswa adalah Kementerian Agama pastinya ada juga soal tentang ilmu agama. Aku tak sempat menghitung jumlah soal yang diberikan. Tak tahu sudah berapa lembar kertas aku bolak-balik dan corat-coret. 

Sesi pertama berakhir dan kami diberikan waktu untuk ishoma. Setelah satu jam kami melanjutkan tes lagi sampai kurang lebih jam tiga sore waktu tespun berakhir. Apakah semua soal berhasil terjawab? “Bismillah aja lah..” harapku dalam hati. Setelah semua berkumpul, bapak TU yang mendampingi kami mengajak untuk shalat ashar, baru setelah itu kami jalan pulang. 

*****

Aku dan semua teman yang mengikuti tes sudah pulang ke rumah masing-masing dengan harap-harap cemas, apakah bisa lolos seleksi beasiswa PBSB itu. Dalam masa ini teman-teman seangkatan lainnya sedang hangat-hangatnya membahas tentang tes masuk Perguruan Tinggi. Teman seangkatanku di pesantren kurang lebih ada 550 santri, dan tradisi alumni pesantren kami memang kebanyakan melanjutkan kuliah. Lebih dari setengah dari mereka akan melanjutkan ke jenjang perkuliahan, sebagian kecil akan melanjutkan mondok di pesantren-pesantren salaf, dan sebagian lagi lebih memilih untuk langsung bekerja.

Pengumuman dijadwalkan dua bulan setelah tes dilaksanakan. Belakangan aku tahu bahwa kursi yang aku rebutkan di beasiswa PBSB itu adalah 1:400 orang. Jurusan yang aku daftar di IPB hanya membuka lowongan satu calon mahasiswa dari jalur masuk beasiswa ini. Sedangkan kurang lebih ada 400 alumni pesantren yang mendaftar di jurusan itu. Sekali lagi aku hanya bisa berdo’a karena ikhtiarku sudah selesai. 

Pengumuman beasiswa PBSB sudah mulai bermunculan. Ternyata pengumuman kelulusan tidak serempak satu waktu diumumkan, hal itu tergantung kampus yang bersangkutan. Beberapa kampus sudah mulai mengumumkan nama-nama yang lolos beasiswa ini. Usut punya usut ternyata IPB memang selalu menjadi kampus paling terakhir dalam mengumumkan kelulusan beasiswa PBSB. Hampir semua kampus sudah mengumumkan tinggal IPB dan UNAIR yang belum memberi pengumuman. Aku cukup dilema di masa ini, apakah ikut seleksi masuk Perguruan Tinggi lewat jalur mandiri atau cukup berdo’a saja menunggu hasil seleksi beasiswa PBSB. 

Akhirnya dengan beberapa pertimbangan bersama orang tua, aku memutuskan untuk mengikuti seleksi masuk UGM jalur mandiri. Persyaratan pendaftaran semua sudah selesai. Sore ini aku berangkat ke Semarang untuk menginap di kos kakakku yang kuliah di UNISULA. Besok dan lusa adalah pelaksanaan tes mandiri di Semarang.

Hari pertama tes mandiri aku diantar kakakku dengan motor karena memang aku belum hafal rute jalan di Semarang. Berbeda dengan kakakku yang sudah tiga tahun hidup disini, dia sudah hafal semua rute termasuk jalan-jalan pintas untuk menghindari macet. Tes hari pertama berjalan dengan lancar tanpa ada kendala. Berbeda dengan saat tes PBSB, tes kali ini hanya berlangsung setengah hari, karena tes akan dilakukan dua hari. Selesai tes hari itu aku dijemput kakakku lagi dan kembali ke kosnya untuk istirahat.

Tes mandiri hari ke dua aku berangkat sendiri. Selain karena kakakku ada acara lain, kemarin aku juga sudah menghafal rute jalan menuju tempat tes. Aku mengendarai motor dengan santai sambil menikmati suasana ramai di jalanan Semarang pagi itu. Jam-jam dimana orang dewasa berangkat kerja, anak-anak berangkat sekolah dan para pedagang yang sudah mulai menjajakan dagangannya. Kalau kata pembaca berita, kondisi jalanan di pagi itu ramai lancar.

Di tengah perjalanan hpku berdering karena ada telepon masuk, karena sudah beberapa kali masih berdering akhirnya aku menepi dan berhenti untuk mengangkat telfon itu. Kulihat di layar hp nomor yang tidak dikenal menelepon. Aku angkat telepon itu, dari ujung hp terdengar suara perempuan berbicara “Dani selamat ya, ini Mbak Titin.” “Mbak Titin siapa ya? Selamat kenapa mbak” jawabku bingung. “Selamat kamu lolos PBSB pengumumannya sudah ada barusan, ini Mbak Titin kakak kelas kamu di pesantren yang juga lolos PBSB di IPB dua tahun lalu” jelas perempuan dari balik hp yang baru ku tahu namanya Mbak Titin. Aku belum bisa mencerna semua penjelasan Mbak Titin saat itu. Aku masih terdiam memegang hp di pinggir jalanan Semarang yang ramai lalu lalang kendaraan. “Dani? Yaudah gitu aja selamat ya, udah buruan ke pesantren lagi sowan ke Kyai ya” ucap Mbak Titin lagi. “I.. iya mbak makasih” jawabku sambil menutup telepon.

Beberapa detik kemudian aku baru benar-benar sadar dengan pembicaraan di telepon barusan. Seketika hormon dopamin dalam tubuhku memuncak dan menciptakan perasaan bahagia yang teramat sangat, sulit untuk dijelaskan. Untuk beberapa detik aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, lanjut ke tempat tes? pulang ke kos kakak? telfon orang tua? otakku tidak bisa mencerna dengan baik kala itu. Tanggung dengan tes manditi UGM yang sudah setengah aku jalani, akhirnya aku memutuskan untuk lanjut ke tempat tes dan mengerjakan sisa tahapan tes tersebut.

Sepulang dari tes aku langsung menemui kakakku dan memberitahu kabar bahagia tadi. Kakakku ikut bangga mendengar kabar baik itu “Wih.. aku bisa pamerim ke temen-temenku nih. Adikku kuliah di IPB!!! Wow!” Tak lupa aku telepon bapak ibuku di rumah untuk berbagi kebahagiaan ini. Membuat orang tua bangga dan bahagia adalah salah satu cita-cita setiap anak. Walaupun ini hanya secuil langkah kecil di perjalanan hidupku, setidaknya aku pernah membuat mereka berdua bangga memilikiku di hidupnya.

Sebelum pulang ke rumah aku mengecek pengumuman resmi dari Kementerian Agama, karena memang aku belum melihat sama sekali, hanya kabar dari mbak Titin lewat telepon tadi pagi. Setelah aku cek ternyata benar pengumuman PBSB IPB sudah ada, dan namaku ada di situ. Dani Muhammad Rahman diterima di jurusan Teknik Mesin Pertanian IPB. Namun selain pengumuman nama-nama yang lolos, disitu juga ada pengumuman mengenai pelaksanaan matrikulasi. Ternyata sebelum masa perkuliahan reguler dimulai, para mahasiswa baru diwajibkan untuk mengikuti matrikulasi di IPB selama dua bulan. Tidak ada masalah dengan progrm matrikulasi itu, namun ternyata tanggal matrikulasi bertepatan dengan acara Perkemahan Santri Nasional di Batam yang juga aku idam-idamkan.

*****

Sepulangnya dari Semarang aku dan keluarga berdiskusi mengenai bentrok tanggal matrikulasi di IPB dan acara kemah di Batam. Tentu pilihan yang cukup sulit mengingat dua-duanya adalah kesempatan langka. Tiket pesawat dan semua persiapan berangkat kemah di Batam sudah siap. Namun melihat kepentingan jangka panjang dari dua hal itu, akhirnya aku memutuskan untuk tidak berangkat ke Batam dan memilih mengikuti tahapan matrikulasi di IPB. 

Besoknya aku bersama orang tua berencana ke pesantren untuk sowan ke Kyai. Mengucapkan terimakasih perihal kelulusan beasiswa PBSB, dan juga memberitahu pesantren untuk mencari penggantiku berangkat ke Batam mengikuti Perkemahan Santri Nasional. Dilanjutkan dengan beberapa obrolan ringan bersama Kyai. Setelah dirasa cukup aku dan orang tuaku berpamitan pulang ke rumah. Di sepanjang perjalanan aku banyak berpikir mengenai kuasa Allah yang memang tidak ada tandingannya. Rencana-rencana-Nya kerap kali membuat orang kaget dan seolah tidak siap menerimanya. Seperti bercanda tapi nyata dan tidak bisa dielakkan. Allah memang lebih tahu apa yang aku butuhkan, bukan yang aku inginkan.

Share this post

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *