SEANDAINYA VS KENYATAAN

Karya: Malisa Ladini (Peserta Lomba Cerpen DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)

Ada sebuah negara bernama “Seandainya”. Serasa sesak, kering-kerontang, dan gersang. Saat kita menyusuri negeri ini. Kemana kah hati nurani penghuni negeri ini? Negeri yang kata orang “elok rupawan”, bak gadis jelita yang memikat hati? Seperti hawa kecongkaan yang menelusup masuk ke dalam kehidupan yang berdampingan dengan alam, kesewenang-wenangan eksplorasi perut bumi menjadi panglima yang menghujam. Hingga lingkungan tak lagi riang. Jika mereka bisa menangis, pasti air matanya melebihi gelombang lautan.

Bak negeri yang kian lama kian usang. Di sinyalir masih ada satu kota yang masih terjaga. Itu pun sebagian kecil, sebab kini sudah didominasi oleh lingkungan yang rusak. Beberapa masyarakat yang tinggal di negara ini mempunyai keragaman berpikir, ada yang bermimpi mempunyai negara yang makmur seperti negara-negara yang lainnya. Meski tak semua, pasalnya hanya segelintir masyarakat saja yang masih mempunyai misi sama untuk membenahi negari ini. Sedangkan masyarakat yang lainnya acuh tak acuh terhadap kerusakan negaranya. Bahkan tak jarang pejabat yang diberi kepercayaan, mengkhianati bangsanya sendiri. Sebagian dari mereka rela mengeksploitasi kekayaan alam negaranya sendiri tanpa memperhitungkan keberadaan lingkungan berkelanjutan di masa yang akan datang. Mereka tega berpangku intan permata, berkalung emas dua puluh empat karat, mengejar barang branded, dan hidup bergelimang harta. Padahal di sisi lain banyak rakyat yang masih menderita kelaparan.

Salah satu Kota kecil yang ada negera Seandainya itu bernama “Kota Serakah”. Ini adalah kota yang menjadi bentuk cerminan kecil dari negara Seandainya itu. Hidup lah seorang anak bersama kakeknya.

“Kakek, kemana kah orangtuaku tinggal?” tanya Gesang kepada kakeknya di depan pintu rumahnya.

“Mereka telah tiada. Ayah ibumu meninggal saat terjadi banjir bandang lima belas tahun yang lalu. Saat itu kau masih bayi, dan mereka menitipkanmu kepadaku,” jawab Kakek sambil menahan manik matanya yang sudah diujung sudut lipatan bola mata yang kian sayu itu.

“Lalu mengapa mereka tak membawaku pergi bersama mereka Kek? Aku ingin tinggal dengan mereka,” jawab Gesang.

“Husss, syukuri lah bumi ini, syukuri lah negeri ini Nak. Kau lihat itu, jika masyarakat di kota ini semakin serakah, pasti kita akan bersama-sama menyusul ayah ibumu,” jawab kakek sambil mengusap rambut cucunya.

“Mungkinkah Kek? Kapan?” tanya Gesang dengan melototkan kedua mata.

“Saat semua lingkungan ini rusak, alam pun menghajar kita,” kata kakek sambil menunjuk ke arah luar rumah yang sangat panas.

Penduduk Kota Serakah hidup berdampingan dengan kerusakan lingkungan. Sebagian besar dari mereka menjadi seorang buruh. Ada yang menjadi buruh tekstil, buruh kayu, buruh tambang, dan sebagainya. Tak ada satu pun penduduk asli Kota Serakah yang menjadi seorang bos dari pabrik-pabrik itu. Semua hasil yang dihasilkan dari pabrik itu selalu dieksport ke luar negeri. Karena kebetulan pendiri dan bos dari pabrik itu semuanya adalah orang asing. Ironis, penduduk asli menjadi buruh oleh bos-bos orang asing. Seakan dijajah finansial negeri ini. Lalu kemana perginya ahli-ahli dalam negeri? Tak adakah anak bangsa yang pintar dan layak menjadi bos? Apakah sesungguhnya banyak yang pintar tapi tidak ada yang tulus untuk menjaga lingkungan bumi ini? Entahlah.

Ada hal lain yang tak kalah miris, terbentang panjang sebuah sungai bernama “Kali Galak”. Kali Galak adalah sungai yang kini telah menjadi keruh, kotor, berbau, dan dipenuhi dengan sampah. Memang sebagian aliran sungai itu telah bercampur dengan limbah pabrik. Sedangkan kawasan Kota Serakah itu sangat gersang dan panas. Hutan pun hanya tinggal beberapa petak. Penguasa pabrik kayu seringkali menebangi pohon di hutan tanpa perhitungan. Akibatnya berangsur-angsur Kota Serakah ini terasa sangat panas dan seringkali terjadi banjir bandang ketika hujan datang.

“Kek, mengapa Kakek setia dengan pekerjaan kakek sebagai seorang pelukis? Bukankah menjadi buruh seperti masyarakat setempat lebih menjajikan setiap bulan sudah pasti menerima gaji?” tanya Gesang sambil duduk di kamar tidurnya.

“Hemmm, jangan kau remehkan lukisan Kakek. Kakek selalu ingin bernostalgia dengan nuansa lingkungan hidup Kota Serakah ini lima puluh tahun yang lalu. Saat semuanya tak seperti sekarang. Dan satu lagi Gesang, kakek ingin kau dapat mengenyam pendidikan tinggi ke Kota Hidup. Sebagai satu-satunya jantung Negeri Seandainya ini,” jawab kakek sambil merebahkan tubuhnya yang mulai renta semampir di atas kasurnya yang mulai reot.

“Benarkah? Mengapa kakek ingin berpisah denganku?” jawab Gesang sambil memeluk kakek.

“Bukan itu maksudku, aku hanya ingin mendidikmu bagaimana bertahan hidup di Kota yang asing bagimu. Dan memberitahumu bagaimana menjadi seorang yang peduli terhadap lingkungan. Kau akan tahu betapa berbedanya Kota Hidup dengan Kota Serakah ini Gesang.”

Kakek terus menekuni pekerjaannya menjadi seorang pelukis. Lukisannya pun mengandung nilai-nilai masa lalu dan harapan-harapan bagi terjaganya lingkungan di masa yang akan datang. Sembari bersekolah, Gesang pun turut membantu pekerjaan kakeknya. Suatu hari, ia sangat penasaran dengan salah satu lukisan kakek. 

“Kek, ini lukisan apa? Ada sungai yang jernih mengalir di sepanjang sebuah kota, ada pepohonan yang beragam, bunga-bunga berwarna-warni, ada burung-burung yang sangat cantik. Apakah ini surga?”

“Wah, kau jeli sekali Gesang. Iya, bagi seorang utopian, mungkin itu surga.”

“Apa itu utopian kek?”

“Utopian itu seperti sebuah lambungan atau angan-angan, bagi seorang pemimpi itu surga. Tapi bagi seorang yang hidup, berpikir, dan peduli, itu kenyataan. Kau pilih yang mana Gesang? Pemimpi atau orang yang hidup?”

“Aku ingin menjadi orang hidup yang mewujudkan mimpi Kek, bagaimana?”

“Baik, pintar sekali kau. Bilamana kau tak lagi dapat melihat aku kelak saat maut mengambilu, kau harus ingat bahwa aku selalu hidup di hatimu. Kakek sudah tua Gesang, untuk itu ingat lah pesan kakek “Lingkungan yang indah, murni, menyediakan segalanya, dan penuh dengan rezeki adalah ciptaan Allah yang Maha Sempurna, tapi jika masanya datang suatu kerusakan yang mengerikan itu akan datang. Dimana lingkungan yang kau tinggali, bumi tempatmu berpijak ini, dan alam tempatmu menyadari akan marah dan mengamuk, kau harus tahu jika penyebabnya adalah etika manusianya sendiri.”

Etika manusia yang tak mau lagi peduli dan hanya memikirkan diri sendiri. 

Hari yang ditunggu telah tiba, Gesang telah lulus SMA dan harus meneruskan pendidikan tinggi ke Kota Hidup. Bertepatan dengan itu, rezeki besar datang dari Allah. Ada seorang pengoleksi lukisan datang membeli lukisan-lukisan kakek dengan harga yang sangat tinggi. Seorang dermawan itu menghargai karya kakek hingga ratusan juta. Tiba saatnya kakek harus melepaskan Gesang mengenyam pendidikan ke Kota Hidup.

“Tiba saatnya aku memenuhi mau kakek,” Kata Gesang sambil memeluk kakek dari belakang.

Kakek berbalik badan, “Gesang, kau pergi untuk belajar hidup. Meskipun kita tak bisa menampik ke depan kerusakan lingkungan semakin parah. Tapi minimal, selama kita hidup di bumi ini setidaknya kita telah memiliki rasa peduli lingkungan yang tinggi.”

“Iya Kek, Gesang akan penuhi keinginan kakek. Bolehkah Gesang tahu, apakah ketika kakek seumuran Gesang, lingkungan Kota Serakah ini sudah sedemikian parah?”

“Tidak Nak, dahulu masyarakat patuh pada presiden. Tak ada yang berani saling rampok hasil kekayaan alam Negeri Seandainya ini. Sungai Kali Galak yang membentang itu sangat jernih airnya. Kakek sering berenang bersama teman-teman kakek, memancing ikan yang bermacam-macam, dan tak sungkan ketika dahaga, kakek pun meminum air sungai yang sangat menyegarkan itu. Dahulu, hutan tak segundul ini, sangat asri, bahkan orangtua melarang anaknya bermain ke hutan, karena pepohonan yang sangat banyak dan rindang di hutan tentu akan menyusahkan anak-anak menentukan arah untuk kembali ke jalan pulang. Dan kau bisa lihat Gesang? Apa yang terjadi sekarang? Semua berkebalikan, bos-bos asing itu telah bersekongkol dengan pejabat-pejabat yang serakah untuk merampasi kekayaan alam negeri ini tanpa memikirkan kondisi lingkungan yang ada.”

Setelah percakapan itu berakhir, Gesang pun berangkat ke Kota Hidup untuk mengenyam pendidikan tinggi. Dia sangat tercengang sesampainya di sana. Pasalnya Kota Hidup terlihat benar-benar hidup, meskipun ada bangunan tinggi sebagai Perguruan Tinggi, tapi pepohonan masih tampak hijau dimana-mana. Terlihat sawah yang menghampar, ada banyak hutan lindung, dan sungai yang membentang di hilir begitu terlihat suci. Sangat jernih airnya, banyak ikan yang berwarna-warni. Semua ini mirip dengan cerita kakek di Kota Serakah lima puluh tahun yang lalu. Ironisnya Kota Hidup adalah satu-satunya kota yang masih terjaga keasliannya, lingkungannya, dan kebudayaan masyarakatnya. Sangat mencengangkan, Gesang pun tak habis pikir. Betapa serakahnya masyarakat yang tinggal di Kota Serakah yang semakin merusak lingkungan hidupnya sendiri. Dan betapa hidup masyarakat yang hidup di Kota Hidup dengan lingkungan yang terjaga sedemikian rupa. Ini bukan mimpi, ini nyata.

Tak lama kemudian, setelah Gesang menjalani studinya selama satu tahun lamanya. Dia mendapat kabar buruk jika kakeknya telah meninggal dunia. Gesang pun sangat kebingungan. Tapi dengan bekal uang saku dari penjualan lukisan kakek yang ternilai cukup banyak, dengan bantuan teman-teman kuliahnya dan dengan bimbingan dosen. Gesang pun memulai karirnya untuk membudidayakan buah-buahan di sebuah lahan. Sambil belajar, ia pun mempersiapkan dirinya untuk membuka lahan perkebunan buah-buahan.

Tak khayal, setelah lulus kuliah. Gesang telah siap dengan usahanya itu. Dengan tekun ia bekerja sebagai pembudidaya buah-buahan. Bukan hanya untuk mendapatkan rupiah, tapi Gesang selalu ingat pesan-pesan kakeknya untuk menjaga lingkungan hidup dengan baik. Sebagai manusia yang tinggal di bumi, Gesang mempunyai kesadaran untuk bertanggungjawab dengan lingkungan di bumi itu sendiri.

Banyak masyarakat setempat yang terbantu dengan perkebunan Gesang. Sebab diantara mereka dipekerjakan dengan upah yang sesuai dan jam kerja yang sesuai pula. Pasalnya, Gesang sangat miris dengan para buruh yang bekerja di pabrik-pabrik Kota Serakah. Dimana buruh digaji minim, dengan sistem lembur, dan kerja target. Padahal di lihat dari segi lingkungan, keberadaan pabrik itu menghasilkan limbah yang semakin lama dapat merusak lingkungan.

Setelah bertahun-tahun Gesang menekuni perkebunannya. Ia bermaksud pulang ke Kota Serakah. Usaha diplomasi yang panjang dan proses kerjasama yang rumit satu per satu dilakukan Gesang. Setelah melewati banyak langkah, Gesang pun melakukan perundingan.

Pejabat Perizinan berkata, “Proposalmu untuk membugar pabrik yang semula adalah beberapa pabrik kayu dan pabrik tekstil menjadi perkebunan tidak bisa begitu saja kami terima. Pasalnya kita harus rundingkan dahulu dengan pemilik pabrik sebelumnya. Jangan sampai investor asing semuanya menarik diri dari negeri ini.”

Gesang menjawab, “Baik, aku akan melaksanakan prosedur dan biaya pajak seperti pabrik sebelumnya. Toh aku dengar pabrik-pabrik itu tak lagi laris menghasilkan produk, bukan?”

Salah satu bos pabrik yang ada dalam rundingan itu menyaut, “Apa kau bilang? Hahaha, mungkinkah seorang kecil seperti dirimu bisa merealisasikan ide itu. hanya lelucon,” jawab bos itu seakan tak percaya.

Akhirnya Gesang mendapat persetujuan dari pemerintah untuk mengganti beberapa bangunan pabrik dan mengubahnya menjadi sawah dan perkebunan.

Gesang pun membugar pabrik dan membuka lahan baru menjadi beberapa hamparan sawah dan perkebunan. Selain itu buruh yang dahulu bekerja di pabrik, kini dipekerjakan Gesang di lahan-lahan itu. Meski tak semua pabrik dapat dibugar, minimal Gesang telah memulai langkah besar untuk mengubah “Kota Serakah” menjadi “Kota Berkah”. Selain itu Gesang juga mengambil langkah yang berani. Dengan tegas ia memberi ultimatum kepada bos-bos pabrik yang lain untuk mengelola limbah dengan baik. Sehingga Kali Galak tak lagi tercemar. Ia juga memberlakukan aturan kepada seluruh pekerjanya untuk bekerja bakti dan gotong royong membersihkan Kali Galak setiap hari Selasa

Sungguh berbeda, pasalnya bos-bos pabrik yang berasal dari luar negeri itu biasanya bersifat congkak dan kaku terhadap para buruh yang bekerja. Mereka pun dengan bantuan kongkalikong para pejabat negara yang berkepentingan seringkali mengeksploitasi kekayaan alam negeri tanpa berorientasi pada lingkungan dalam jangka panjang. Tapi Gesang seorang yatim piatu yang diasuh dan dididik oleh seorang pelukis kuno yang pemikirannya sanagat konservatif itu pun mampu membalikkan logika itu. Gesang sangat ramah dengan para pekerja yang mengurus kebunnya. Ia juga menularkan banyak ilmu kepada para pekerja, tentang bercocok tanam dan bertani yang baik untuk menghasilkan buah dan beras yang berkualitas. Tak sia-sia kakeknya menyekolahkannya hingga tinggi ke Kota Hidup. Kini ia benar-benar mengimplementasikan ilmunya sebagai seorang sarjana. Didikan kakeknya yang konservatif tapi mencintai lingkungan dipadu dengan basis keilmuan modern yang diperoleh dari Perguruan Tinggi berhasil membentuk pribadi yang pintar dan bertanggungjawab terhadap lingkungan.

Seandainya “Negara Seandainya” berubah menjadi “Negara Kenyataan”? Akankah negeri yang lingkungannya terlanjur rusak akan berubah menjadi hijau, asri, makmur, dan sejahtera? Sebab negeri dengan lingkungan hidup yang sehat, dengan jutaan rakyat yang sejahtera adalah harapan bagi setiap pemimpin dan negarawan sejati. Alam akan terus ramah kepada kita yang masih peduli terhadap bumi ini.

Loading

FALAK NUSANTARA EDISI SULAWESI

Semarang, CSSMoRA – Organisasi Penerima Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) atau lebih dikenal dengan CSSMoRA  mengadakan acara NGOPI Ke-20 (Ngobrol Pintar) tentang hal hal yang berkaitan dengan dunia astronomi dan falak  pada hari Minggu, 01 Mei 2022.

Pada kesempatan kali ini NGOPI ke 20 yang diadakan oleh organisasi CSSMoRA UIN Walisongo mengusung tema Falak Nusantara Edisi Sulawesi dan dilakukan secara Online  melalui via Google meet dengan menyajikan Narasumber yang kapasitas dan kredibilitasnya tidak diragukan lagi dalam hal Ilmu Hai’ah  atau ilmu Falak, beliau adalah Muhammad Syarief Hidayatullah, S.H.I, M.HI (Alumni CSSMoRa UIN Walisongo Semarang 2010, Aktif di Lajnah Falakiyah Alkhairaat Madinatul Ilmi Dolo serta merupakan Sekprodi di Pascasarjana (S2) HKI UIN Datokarama Palu).

Dalam pembahasan materi, Narasumber membahas dan menerangkan historiografi falak di tanah Sulawesi terutama Astrologi yang berbalut  kearifan lokal budaya masyarakat Sulawesi terutama bugis, beliau mengatakan bahwa masyarakat Sulawesi lebih familiar dengan penanggalan sistem Qamariyah, salah satu kearifan local Masyarakat Sulawesi yakni mereka mempunyai cara tersendiri dalam menentukan awal bulan yakni diantaranya menggunakan cara Mapalau Weso, Mapap Baja, dan acuan kilat/gerimis pada tanggal 29.

Pada acara ini para peserta juga sangat antusias. Hal ini terbukti adanya diskusi menarik dan saling tukar pertanyaan dan pendapat antara peserta dan penyaji. Dengan adanya diskusi falak atau acara NGOPI ini besar harapan semoga Khazanah Islam khususnya Falak di Nusantara tetap eksis, berkembang dan terus bisa menyesuaikan dengan adat masyarakat serta zaman.

Red Departemen Hubungan Dalam

Loading

BAKTI SOSIAL RAMADHAN BERKAH

Marhaban ya Ramadhan. Ditengah bulan suci ramadhan tahun ini, mahasiswa CSSMoRA UIN Walisongo Semarang mengisi kegiatan ramadhan dengan berbagai aktifitas kebaikan diantaranya adalah berbagi kebahagiaan bersama anak-anak panti asuhan Sapuan Yaminah. Kegiatan ini berupa penyaluran infaq dan shodaqoh seperti uang tunai, pakaian, buku, dan berbagai barang bermanfaat lainnya. Infaq dan shodaqoh yang diberikan tidak hanya dari anggota CSSMoRA UIN Walisongo, tetapi terbuka juga untuk setiap masyarakat yang ingin berbagi di bulan Ramadhan ini.

 

Pengumpulan donasi di mulai dari tanggal 15 april s/d 25 april 2022. Setiap orang yang ingin mendonasikan barang bisa menghubungi contact person yang ada, untuk kemudian menyepakati  pengiriman barang tersebut. Dan untuk donasi berupa uang bisa secara langsung di berikan kepada

panitia atau bisa juga melalui transfer bank yang disediakan panitia, seperti BRI, BNI, BSI, shopeepay ataupun DANA.

 

Ucapan terima kasih diucapkan segenap panitia dan keluarga besar CSSMoRA UIN Walisongo atas partisipasi donatur yang telah ikut berbagi untuk panti asuhan Sapuan Yaminah. Total donasi yang berhasil dikumpulkan oleh CSSMoRA UIN Walisongo Semarang uang tunai sebesar Rp 1.200.000-, 1 buah al-Qur’an, 1 buah poster bacaan harian, 1 buah buku bacaan, 4 buah majalah, 3 buah tas, dan 7 kardus pakaian. Donasi tersebut telah kami salurkan kepada panti asuhan Sapuan Yaminah.

semoga kebaikan bapak/Ibu dan teman-teman semua di bulan ramadhan ini mendapat keberkahan yang berlipat ganda dan balasan kebaikan pula dari Allah SWT.

 

-Red Departemen Hubungan Luar

Loading

FALAK NUSANTARA EDISI JAWA

Semarang, CSSMoRA  Organisasi Penerima Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) atau lebih dikenal dengan CSSmoRa mengadakan acara NGOPI Ke-19 (Ngobrol Pintar) tentang hal hal yang berkaitan dengan dunia astronomi dan falak pada hari Minggu, 24, April ,2022.

Pada kesempatan kali ini NGOPI ke 19 yang diadakan oleh organisasi CSSMoRa mengusung tema Falak Nusantara Edisi Jawa dan dilakukan secara Online melalui via Google meet dengan menyajikan Narasumber yang kapasitas dan kredibiitasnya tidak diragukan lagi dalam hal Ilmu Hai’ah atau ilmu Falak, beliau adalah Alfan Maghfuri, M.HI (Alumni CSSMoRa UIN Walisongo Semarang 2014 serta Sekertaris Lembaga Falakiyah PCNU Bojonegoro masa khidmat 2019-2024).

Dalam pembahasan materi, Narasumber membahas dan menerangkan historiografi falak di tanah Jawa dengan membagi beberapa tahap, yakni : tahap sebelum era hakiki, tahap haqiqi taqribi, tahap era haqiqi taqribi, tahap era kontemporer. “jadi ada beberapa hal yang harus kita tekankan dalam falak di tanah Jawa yakni Tahap tahap historiografi falak itu sendiri dengan melihat tokoh tokoh falak pada zamanya atau turots turots yang dikarang oleh beliau-belliau” Ujarnya
Pada acara ini para peserta juga sangat antusias. Hal ini terbukti adanya diskusi menarik dan saling tukar pertanyaan dan pendapat antara peserta dan penyaji. Dengan adanya diskusi falak atau acara NGOPI ini besar harapan semoga Khazanah Islam khususnya Falak di Nusantara tetap eksis dan tidak terlupakan.

 

-Red Departemen Hubungan Dalam

Loading

KAJIAN FALAK CSSMoRA

Kajian Falak CSSMoRA telah terlaksana secara online via g meet, kegiatan ini dimulai pada tanggal 26 September 2021 dan diakhiri pada tanggal 23 April 2022. Kajian Falak CSSMoRA (KFC) merupakan pengembangan skill yang ditujukan kepada umum dengan materi-materi yang sangat menyenangkan, yang bisa membuat otak dan kepala berfikir lebih cepat dan lebih semangat. kegiatan ini diisi oleh pemateri-pemateri yang kece dari anggota CSSMoRA aktif 2017 dan 2018. Pada materi-materi yang di diskusikan di bagi menjadi beberapa pertemuan agar mempermudah mengolah informasi berat kepada system kerja otak manusia.

Kajian Falak CSSMoRA (KFC) dilaksanakan sebanyak 7 kali pertemuan dengan 3 materi yaitu : pengenalan ilmu falak, menghitung awal waktu sholat dan perhitungan awal bulan qomariyah. Saat melaksanakan KFC ini, para partisipan sangat antusias karena dimulai saat masih pandemic, jadi sangat membantu dalam pengenalan falak bagi mahasiswa yang belum mendalam mengetahui falak atau mengulang materi yang lalu.

Meteri pertama disebut KFC#1 yang terlaksana pada tanggal 26 September 2021. Di materi pengenalan ilmu falak diisi oleh pemateri dari CSSMoRA UIN WS angkatan 2018, yaitu kk Nuril Fathoni Hamas,yang di moderator oleh Muh. Fadhil anggota CSSMoRA UIN WS angakatan 2019. pada materi ini peserta diberi pengertian mengenai ruang lingkup falak dan sejarahnya serta apa saja yang dibahas dalam ilmu ini. Materi pertama di habiskan dalam sekali pertemuan, karena masih berupa abstrak dari apa yang akan dijelaskan pada materi selanjutnya.

Pada materi kedua yang disebut KFC#2 yang terlaksana pada tanggal 09 Oktober 2021 dengan pembahasan perhitungan awal waktu sholat, materi ini diisi oleh pemateri dari CSSMoRA UIN WS angkatan 2017, kk Nur Imani Surur. Pada materi ini, dibagi menjadi 2 kali pertemuan, pertemuan pertama di moderator oleh Firginita Wirna Mokoginta anggota CSSMoRA UIN WS angakatan 2019, membahas mengenai  bagaimana cara mencari awal waktu sholat subuh, zuhur dan ashar. Kemudian, pada pertemuan kedua di moderator oleh Afifah Mulya Alamsyah anggota CSSMoRA UIN WS angakatan 2019, pada tanggal 17 Oktober 2021 melanjutkan mencari awal waktu sholat maghrib, isya, dhuha dan Tanya jawab mengenai perhitunganya. Di materi kedua ini juga peserta di minta untuk menyiapkan alat perhitungan seperti kalkulator scintefic.

Pada materi ketiga yang disebut KFC#3 yang terlaksana pada tanggal 09 April 2022 dengan membahas perhitungan awal bulan qomariyah, materi ini diisi oleh CSSMoRA UIN WS angkatan 2017, kk Muammar Khamdani. Pada materi ini, dibagi menjadi 4 pertemuan. Dimana pertemuan pertama yang di moderator oleh Afifah Mulya Alamsyah anggota CSSMoRA UIN WS angkatan 2019, membahas mengenai perkenalan hisab awal bulan qomariyah dan menghitung perkiraan akhir bulan Romadhan yang pada kesempatan tersebut, kita sedang dalam bulan itu. Kemudian pada pertemuan kedua, yang di moderator oleh Ahmad Farhan Makmur anggota CSSMoRA UIN WS angakatan 2021, yang dilaksanakan tanggal 16 April 2022 melanjutkan materi pertama,pada pertemuan ini, membahas ijtima’ akhir romadhan hingga posisi dan keadaan hilal. Kemudian, pada pertemuan ketiga, yang dimoderator oleh Julia Natasya anggota CSSMoRA UIN WS angakatan 2021 yang dilaksanakan tanggal 23 April 2022 yang melanjutkan materi kedua, posisi dan keadaan hilal hingga selesai.

Red Departemen Hubungan Luar

Loading

RAMADHAN BERKAH – BUKA BERSAMA CSSMoRA UIN WALISONGO

Semarang, CSSMoRa- Organisasi Penerima Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) atau lebih dikenal dengan CSSmoRa  mengadakan serangkaian acara di bulan Ramadhan ini. Dan salah satu acara yang diadakan adalah buka bersama dengan pengelola PBSB UIN Walisongo Semarang pada hari Senin, 18, April ,2022.

Acara bukber kali ini bertempat di gedung IsDB Fakultas Syariah dan Hukum  dan mengusung tema Menyambung tali silaturahmi dengan refleksi CSSmoRa. Acara bukber kali ini juga dihadiri oleh bapak pengelola pengelola PBSB UIN Walisongo Semarang yaitu Bapak Ahmad Munif M,Si. Dalam sabutannya beliau berpesan dan memberikan segilintir nasehat dan semangat motivasi kepada  anggota atau mahasantri PBSB UIN Walisongo Semarang.”Sebagai mahasiswa yang  telah diberikan fasilitas lebih dan bahkan dibiayai penuh oleh kemenag seharusnya amanah yang telah diberikan ini dimaksimal dan diemban dengan penuh  semangat oleh kalian. Bagimana caranya.? Salah satunya adalah lulus dengan waktu yang telah ditentukan” ujarnya.

Bukber kali ini dimulai sejak 16.30 WIB dengan serangkaian acara berupa : Pembukaan, Sambutan,  Doa Khotmil Quran bersama, dan Dialog interaktif dengan pengelola PBSB UIN Walisongo Semarang. Para anggota CSSmoRa pun sangat antusias dalam dialog interaktif tersebut. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa pertanyaan yang dilontarkan anggota kepada bpihak pengelola yang  salah satunya adalah  pertanyaan dari saudara hamjan ranselengo yang bertanya tentang kepengelolaan PBSB kedepannya dengan pertimbangan adanya prodi baru PBSB. Pertanyaan ini kemudian ditanggapi secara jelas oleh pengelola PBSB bapak Amad Munif M,Si. “untuk masalah pengelolaan PBSB kedepannya akan disiapkan dan segera didiskusikan oleh bapak dekan”. Ujarnya .

Dengan adanya dialog interaktif yang dibungkus dengan buka bersama ini, besar harapan dapat lebih mempererat silaturahim antara pengelola dan anggota CSSmoRa serta dapat menjadi wadah aspirasi atau kritik antara pengelola dan angoota demi terciptanya sebuah reflaksi dan muhasabah yang dapat mengantarkan PBSB UIN Walisongo menjadi lebih baik.

-Red Panitia Buka Bersama

 

Loading

PENGEMBANGAN SKILL CSSMORA DENGAN TEMA KARYA TULIS ILMIAH

Cssmora UIN Walisongo pada hari Minggu, 17 April 2022 pukul 08.30 WIB mengadakan acara PSC (pengembangan skill cssmora)  yang bertempat di depan kampus 3 UIN Walisongo dan di moderatori oleh  saudari Siti Qurrotul A’yuni selaku anggota CSSmora angkatan 2021, dengan Narasumber yang luar biasa dan sangat kompeten yaitu saudari  Karina Aulia Purwanti yang  merupakan anggota cssmora angkatan 2018, PSC kali ini mengambil tema Karya Tulis Ilmiah
Pada kesempatan tersebut, Narasumber memberikan separtah dua patah kata tentang apa itu karya tulis ilmiah, beliau menjelaskan bahwa karya tulis ilmiah itu merupakan suatu tulisan yang memuat kajian dengan menggunakan kaidah keilmuannya atau metode penulisan. KTI itu bisa berupa makalah, paper,artikel, skripsi dan yang lainnya, bisa diambil contoh misalkan makalah. Dimana seyogyanya makalah yang baik itu harus terdiri dari  latar belakang, pendahuluan, pembahasan, kesimpulan, serta daftar pustaka. Narasumber juga mewanti wanti agar kita sebagai mahasiswa menjauhi semua hal yang berbau plagiarisme karena hakikat daripada mahasiswa adalah menulis dan berkarya tanpa adanya plagiarisme. Dalam karya tulis ilmiah metode yang seharusnya dijadikan patokan adalah logic dan emphiris.

Di akhir acara Narasumber berpesan bahwa “menulis adalah sebuah kebiasaan bukan sebuah bakat, sehingga jika kalian ingin bisa dan mahir menulis maka perbanyak lah menulis. Namun menulis tanpa membaca adalah sebuah hal yang nihil. Oleh karenanya, sembari menulis usahakan dibarengi dengam membaca”

-Red Departemen Hubungan Dalam

Loading

FALAK NUSANTARA EDISI SUMATERA – NGOBROL PINTAR #18

CSSMoRA UIN Walisongo Semarang mengadakan rutinan Ngopi (Ngobrol pintar) ke 18, acara tersebut merupakan program kerja dari DHD (Departemen Hubungan Dalam). Adapun tema pada Ngopi kali ini, kami mengangkat tema “Falak Nusantara Edisi Sumatera”. Tema tersebut diambil mengingat betapa pentingnya mempelajari Ilmu Falak Nusantara terutama di daerah khusus Sumatera. Sehingga kita bisa mendapatkan wawasan tentang Falak Nusantara.

Pemateri kali ini merupakan alumni CSSMoRA angkatan 2013, yang berasal dari Sumatera (Jambi) yaitu kak Unggu Suryo Ardi yang tentunya sangat paham dalam ilmu Falak terutama Falak Nusantara di Sumatera, karena beliau juga mengambil jurusan ilmu Falak di Universitas UIN Walisongo.

Kak Unggul juga memberikan closing statement nya yang berupa motivasi-motivasi kepada adek-adeknya supaya tetap semangat dan juga meningkatkan semangat membaca terutama mencari literasi-literasi dalam membaca, karena wawasan itu sangat penting bagi kita semua yang akan menjadi bekal untuk kedepannya. Dan kak Unggul juga memberikan semangat dalam menghadapi setiap masalah. Ketika nanti akan mendapatkan jenjang di semester akhir. Dan mendorong mahasiswa yang terus semangat dalam dunia pendidikan.

Beliau menyampaikan materi Falak Nusantara kepada peserta Ngopi terutama Falak Nusantara di Sumatera mulai dari tokoh-tokoh Falak yang mengembangkan Falak di Sumatera dan teori pengetahuan tentang wawasan Falak tentunya. Hal tersebut juga memberikan banyak pengetahuan kepada peserta dan menambahkan lebih dalam tentang Falak tersebut, dan memberikan wadah supaya bisa terus semangat dalam belajar.

Peserta merasa senang bisa berdiskusi langsung kepada kak Unggul. Karena telah memberikan begitu banyak motivasi tentang membaca belajar dan tidak hanya itu, dalam Ngopi tersebut peserta juga mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan wawasan tentang Falak Nusantara, Terutama Falak Nusantara di Sumatera.

 

-Red Departemen Hubungan Dalam

Loading

PESAN HIDUP DARI BOCAH PENJUAL KORAN

Karya: Ahmad Zubair (Peserta Lomba Cerpen DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)

Dari tadi pagi hujan mengguyur kota tanpa henti, udara yang biasanya sangat panas, hari ini terasa sangat dingin. Di jalanan hanya sesekali mobil yang lewat, hari ini hari libur membuat orang kota malas untuk keluar rumah.

Di perempatan jalan, Umar, seorang anak kecil berlari-lari menghampiri mobil yang berhenti di lampu merah, dia membiarkan tubuhnya terguyur air hujan, hanya saja dia begitu erat melindungi koran dagangannya dengan lembaran plastik. “Korannya bu !”seru Umar berusaha mengalahkan suara air hujan.

Dari balik kaca mobil si ibu menatap dengan kasihan, dalam hatinya dia merenung anak sekecil ini harus berhujan-hujan untuk menjual koran. Dikeluarkannya satu lembar dua puluh ribuan dari lipatan dompet dan membuka sedikit kaca mobil untuk mengulurkan lembaran uang. “Mau koran yang mana bu?”, tanya Umar dengan riang. “Nggak usah, ini buat kamu makan, kalau koran tadi pagi akujuga sudah baca”, jawab si ibu.

Si Umar kecil itu tampak terpaku, lalu diulurkan kembali uang dua puluh ribu yang dia terima, ”Terima kasih bu, saya menjual koran, kalau ibu mau beli koran silakan, tetapi kalau ibu memberikan secara cuma-cuma, mohon maaf saya tidak bisa menerimanya”, Umar berkata dengan muka penuh ketulusan.

Dengan geram si ibu menerima kembali pemberiannya, raut mukanya tampak kesal, dengan cepat dinaikkannya kaca mobil. Dari dalam mobil dia menggerutu ”Udah miskin sombong!”. Kakinya menginjak pedal gas karena lampu menunjukkan warna hijau. Meninggalkan Umar yang termenung penuh tandatanya. Umar berlari lagi ke pinggir, dia mencoba merapatkan tubuhnya dengan dinding ruko tempatnya berteduh.

Tangan kecilnya sesekali mengusap muka untuk menghilangkan butir-butir air yang masih menempel. Sambil termenung dia menatap nanar rintik-rintik hujan di depannya, ”Ya Tuhan, hari ini belum satu pun koranku yang laku”, gumamnya lemah.

Hari beranjak sore namun hujan belum juga reda, Umar masih saja duduk berteduh di emperan ruko, sesekali tampak tangannya memegangi perut yang sudah mulai lapar.Tiba-tiba didepannya sebuah mobil berhenti, seorang bapak dengan bersungut-sungut turun dari mobil menuju tempat sampah,”Tukang gorengan sialan, minyak kaya gini bisa bikin batuk”, dengan penuh kebencian dicampakkannya satu plastik gorengan ke dalam tong sampah, dan beranjak kembali masuk ke mobil. 

Umar dengan langkah cepat menghampiri laki-laki yang ada dimobil. ”Mohon maaf pak, bolehkah saya mengambil makanan yang baru saja bapak buang untuk saya makan”, pinta Umar dengan penuh harap. Pria itu tertegun, luar biasa anak kecil di depannya. Harusnya dia bisa saja mengambilnya dari tong sampah tanpa harus meminta ijin. Muncul perasaan belas kasihan dari dalam hatinya. “Nak, bapak bisa membelikan kamu makanan yang baru, kalau kamu mau” “Terima kasih pak, satu kantong gorengan itu rasanya sudah cukup bagi saya, boleh khan pak?”, tanya Umar sekali lagi. “Bbbbbooolehh”, jawab pria tersebut dengan tertegun. Umar berlari riang menuju tong sampah, dengan wajah sangat bahagia dia mulai makan gorengan, sesekali dia tersenyum melihatlaki-laki yang dari tadi masih memandanginya. 

Dari dalam mobil sang bapak memandangi terus Umar yang sedang makan. Dengan perasaan berkecamuk di dekatinya Umar. “Nak, bolehkah bapak bertanya, kenapa kamu harus memintaijinku untuk mengambil makanan yang sudah aku buang?”, dengan lembut pria itu bertanya dan menatap wajah anak kecil di depannya dengan penuh perasaan kasihan.

”Karena saya melihat bapak yang membuangnya, saya akan merasakan enaknya makanan halal ini kalau saya bisa meminta ijin kepada pemiliknya, meskipun buat bapak mungkin sudah tidak berharga, tapi bagi saya makanan ini sangat berharga, dan saya pantas untuk meminta ijin memakannya ”, jawab si anak sambil membersihkan bibirnya dari sisa minyak goreng.

Pria itu sejenak terdiam, dalam batinnya berkata, anak ini sangat luar biasa. ”Satu lagi nak, aku kasihan melihatmu, aku lihat kamu basahdan kedinginan, aku ingin membelikanmu makanan lain yang lebih layak, tetapi mengapa kamu menolaknya”.Si anak kecil tersenyum dengan manis,

”Maaf pak, bukan maksud saya menolak rejeki dari Bapak. Buat saya makan sekantong gorengan hari ini sudah lebih dari cukup. Kalau saya mencampakkan gorengan ini dan menerima tawaran makanan yang lain yang menurut Bapak lebih layak, maka sekantong gorengan itu menjadi mubazir, basah oleh air hujan dan hanya akan jadi makanan tikus.”

”Tapi bukankah kamu mensia-siakan peluang untuk mendapatkan yang lebih baik dan lebih nikmat dengan makan di restoran di mana aku yang akan mentraktirnya”, ujar sang laki-laki dengan nada agak tinggi karena merasa anak di depannya berfikir keliru.

Umar menatap wajah laki-laki didepannya dengan tatapan yangsangat teduh,”Bapak!, saya sudah sangat bersyukur atas berkah sekantonggorengan hari ini. Saya lapar dan bapak mengijinkan saya memakannya”, Umar memperbaiki posisi duduknya dan berkata kembali, ”Dan saya merasa berbahagia, bukankah bahagia adalah bersyukur dan merasa cukup atas anugerah hari ini,bukan menikmati sesuatu yang nikmat dan hebat hari ini tetapi menimbulkan keinginan dan kedahagaan untuk mendapatkannya kembali di kemudian hari.”

Umar berhenti berbicara sebentar, lalu diciumnya tangan laki-laki di depannya untuk berpamitan. Dengan suara lirih dan tulus Umar melanjutkan kembali,”Kalau hariini saya makan di restoran dan menikmati kelezatannya dan keesokan harinya sayamenginginkannya kembali sementara bapak tidak lagi mentraktir saya, maka sayasangat khawatir apakah saya masih bisa merasakan kebahagiaannya”.

Pria tersebut masih saja terpana, dia mengamati anak kecil di depannya yang sedang sibuk merapikan koran dan kemudian berpamitan pergi.”Ternyata bukan dia yang harus dikasihani, Harusnya aku yang layak dikasihani, karena aku jarang bisa berdamai dengan hari ini”

Loading

PANTAI KARTINI JEPARA DISELIMUTI MENDUNG, HILAL KELIHATAN?

Jepara 1/4/22, Telah berdiri alat-alat untuk memantau gerak matahari yang telah menghadap barat untuk melaksankan rukyatul hilal, beberapa teleskopdan teodolit sudah memenuhi tempat pengamatan, yang diikuti oeleh banyak sekali organ masyrakat seperti pelajar, mahasiswa, dan juga lembaga-lembaga falak itu sendiri.

Dalam pemantaun sendiri pantai Kartini diselimuti oleh mendung yang menjadi faktor gagalnya melihat hilal dihari tersebut, dan kemenag jepara menetapkan bahwa sanya hilal tidak terlihat dikarenakan tertutupi oleh awan dan hasil lanjutnya akan ditetapkan disidang isbat.

Ditahun ini terdapat perbedaan yang sangat besar ketika melaksanakan rukyatul hilal yaitu kriteria Neo MABIMS (Mentri Agama Brune Darusslam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang berubah dari tinggi hilal yang awalnya 2˚ menjadi 3˚, elongasi 3˚ atau umur bulan mininal 8 jam menjadi 6˚.

“Kriteria Neo MABIMS ini sudah didiskusikan panjanng sejak tahun 2017 yang melalui uji coba dan tahun ini bau diterapkan, dan perubahan ini terjadi  karena dikriteria sebelumnya sangat susah dilihatnya hilal, meskipun ada beberapa laporan yang telah melihat hilal”, ujar Ahmad Munif selaku Kepala Jurusan Ilmu Falak Uin Walisongo semrang, dan harpan beliau kepada mahasiswa atau pun pelajar ilmu Falak sekiranya memperdalam dan selalu dikaji, agar ilmu falak semakin berkembang dan tidak hilang termakan oleh zaman.

-Red Wahyudi (CSSMoRA UIN Walisongo 2018)

Loading