HIDANGAN TERBAIK UNTUK PRESIDEN

Karya: Iqbal Hasyim (Juara 1 Lomba Cerpen dalam rang Dies Natalis Ke-14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

Gelombang suara yang dilahirkan pintu menjalar memenuhi ruangan. Cicak dan lalat juga dimasuki, dirasuki. Suara tak kenal bentuk, tak kenal siapa yang akan dihadapi. Bahkan Tuhan di arasy pun ia rasuki. Termasuk dan terutama nenek paruh baya yang satu giginya, terlipat-lipat kulitnya, sedang rambutnya yang mungkin rambut tersebut selamanya akan bermusim salju, dan sedang duduk di kursi yang sedang bergoyang, juga mendengarnya.

“Masuk,” lirih namun bahagia nenek itu berkata.

Ternyata di balik pintu itu tertera anak sang nenek yang membawa kedua anaknya: Satu bocah laki-laki dan dua anak perempuan yang nampak lebih muda dari si lelaki. Mereka berempat tampak bahagia.

“Terima kasih sekali bu, sudah mau bermain dengan anakku setiap bulan. Kami juga minta maaf bu tidak bisa menemani.”

Nenek itu memotong, “ndak kok nak, ini kemauanku sendiri. Mereka senang setiap bulan berlibur ke rumah ibu. Begitu pun ibu, nak, kesepian di sini. Apalagi mereka itu penerus bangsa, harus sering-sering bermain dengan orang luhur seperti ibumu ini. Apalagi ibumu sudah hampir mati”

“Wusss, jangan bilang begitu bu!”

Nenek itu tertawa lemah, namun berenergi.

Tak lama kemudian, setelah lama bercakap-cakap. Si ibu dari ketiga anak itu, melepaskan dengan lembut tangan ibunya yang sudah lunglai. Setelah salam dikatakan dan anak-anaknya dilepaskan, pecah canda-tawa nenek dan anak-anaknya dalam ruangan yang begitu sederhana itu. 

Anak tertua yang sedang tumbuh rasa ingin tahunya mendekati sang nenek. Kedua adik perempuannya menjauh, mencari beberapa mainan untuk dipreteli, mereka begitu bahagia. Kebebasan dan kesenangan dua anak berumur lima tahun sedang bersemi. 

“Kedua mata nenek kemana?” tanya si anak laki-laki yang sudah berada di bawah kaki sang nenek dengan lugunya.

Sang nenek lagi-lagi tersenyum tentram, “kamu sekarang umur berapa?”

Sambil menghitung jari di kedua tangan mungilnya, “… enam, tujuh. Tujuh tahun nek”

“Sudah waktunya, sini mendekat”

Anak itu naik ke haribaan sang nenek.

“Waktu aku sepantaranmu, mungkin empat tahun lebih atas…” Cicak dan lalat-lalat ikut terdiam, seakan tertarik mendengarkan.

***

“AKU TAK SEDANG BERDUSTA,” sejurus teriakannya itu, orang-orang yang lewat di warung besar itu tertarik melihat ke dalam. Warung itu semakin ramai. Biasanya penuh kesunyian, kini riuh karena kisah pria berkumis tebal yang berkoar-koar. Orang yang masuk mendengarkan kisahnya di warung itu tak enak sendiri jika tak memesan atau membeli sesuatu. Jadilah kerupuk, air panas untuk kopi, dan minyak untuk menggoreng gorengan, tandas dirangkul orang-orang yang kian lama-kian membanyak.

Aku hanya mendengarkan dengan getir perkataan pria berkumis tebal itu dalam diam di samping ayahku. Sepertinya, aku seakan tak ada di mata mereka.

“Waktu itu aku sedang di WC umum dekat bengkel pak Romlah. Beberapa menit berlalu, tepat setelah aku menyiram berakku dan membuka pintu. Aku berteriak histeris, sehisteris mungkin. Temanku sudah kehilangan kedua matanya. Apakah kau percaya? Kedua matanya?” pria itu serius menekan suara ketika mengucapkan kata mata, “Aku lihat dari kejauhan, seorang berambut panjang, bertopi fedora, terlihat jelas menggenggam kedua mata temanku. Berjalan santai. Aku tak kuasa mengejar. Tubuhku mantap gemetar”

“Bagaimana ekspresi temanmu itu?”

“Dia baik saja. Ditanya, tidak apa”

“Sekarang dia di mana?”

“Kembali ke Sumatera”

Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya dijawab dengan cepat. Memang tak tampak sisi dusta dari orang itu. Ditambah wajah takutnya di WC umum kala itu seakan masih lekat di wajahnya.

“SUDAH JELAS PAKAI HIPNOTIS,” kumis pria itu ikut bergetar.

Beberapa hari kemudian cerita itu makin kuat. Setelah di koran digital, koran lembaran, hingga koran berbicara di kotak besar yang disebut TV, mengabarkan tentang berita yang serupa, namun hanya korban-korbannya yang berbeda.

Kami makin takut. Anak-anak yang biasa di luar rumah, dikunci di dalam rumah. Yang di dalam rumah, makin tak berkutik di bawah kasurnya. Tapi tak semua. Aku salah satunya. Malah diajak keluar rumah oleh ayahku. Ke Surabaya, hanya untuk melihat sebuah penampilan teater Eska.

Aku adalah anak “rumah”, karena kekhawatiran ibuku yang begitu tebal. Ayahku malah sebaliknya, memberi kebebasan. Semenjak ibu wafat, tepatnya sehari yang lalu. Aku mungkin akan sering keluar rumah, bahkan mungkin sering ke luar kota. Seperti yang aku rasakan sekarang. Di balik isu si bajak mata, ayahku malah nekat mengajakku bermain ke luar kota. Andaikan ibuku masih duduk menjahit di rumah, habis kami berdua kena marah.   

Sekarang di ambang pintu bus aku menarik napas. Terkagum-kagum melihat bentuk mesin yang teramat besar sedang berada beberapa senti di depan bola mataku. Ayahku sudah naik ke bus beberapa belas detik yang lalu. Dan pada sekian belas detik kemudian, ayahku berteriak, mencariku. Dia kira aku sudah duduk manis di sampingnya. Aku tertegun dan cepat beranjak masuk. Kami berdua tertawa di dalam bus. Ayahku berkata bahwa masih banyak mesin-mesin besar lainnya selain mesin jahit yang ibu gunakan dan mesin yang aku naiki sekarang.

Perjalanan yang panjang. Aku tertidur tidak pulas sama sekali. Di tengah sadar dan tidak, aku melihat seorang berambut panjang kusut sampai ke belakang lutut, memakai jaket levis usang. Tak salah lagi, sayang aku tak sepenuhnya sadar. Bertopi fedora.

“… Mata… tidak akan sakit, cobalah sendiri,” hanya itu yang ku dengar dari deklamasi panjang yang aku lewatkan. Bus berhenti. Semua orang mencongkel matanya, tak mengaduh, tanpa ragu, tak ada desah sakit. Termasuk ayahku. Aku mencoba menghentikannya. Namun dia hanya berkata, “tak apa, ini demi negara nak”

Keempat jari ayah dimasukkan ke dalam kelopak matanya. Bulat hitamnya mendelik ke atas, sangat tinggi. Lalu setelah jari-jarinya menyelam, dia menariknya –dengan lembut. Tak ada suara aduh sedikit pun. Si pria fedora itu menghampiri orang di bus itu satu-persatu. Memasukkan semua bola berlendir itu ke dalam karung. Begitu dia hampir mendekati ayah, aku berlari keluar. Beruntung aku di dekat pintu.

Bulan mengiringi langkahku berlari. Di tengah hutan. Sepertinya pria fendora itu memang sengaja memberhentikan bus di dalam kesunyian, agar tak ada seorang pun yang tahu.

Bulan mulai bosan. Dia pergi ke balik awan. Kegelapan hutan mulai terasa. Aku tak bisa melihat apapun. Pria itu  terasa masih mengejarku. Suara sepatu tebalnya terus beradu angkuh dengan tanah. Senternya menembus kegelapan.

Tak lama kemudian, nasib malang t’lah tiba. Aku tersandung batu yang lumayan besar. Kedua mataku tertusuk ranting-ranting kayu yang berserakan menghadap ke langit. Berdarah-darah. Aku menjerit.

Pria itu datang. Berkilah panjang, “…bola mata itu tak sakit dicongkel nak. Yang sakit ketika kamu menusuk, mencolek tepat ke bola matamu. Jika hanya diambil tanpa harus mencolek, tak akan sakit”

“Kenapa kamu suka mengambil mata?” mataku mulai buram, darah terus bercucuran.

“Oh…ini akan aku hidangkan ke presiden. Dia mungkin akan suka makan mata rakyatnya. Andai rakyatnya tak punya mata, tak mungkinlah perselisihan terjadi. Rakyat Indonesia suka menilai sesuatu hanya dengan menggunakan mata. Aduh, tak perlulah aku banyak omong, lagi pula matamu sudah rusak. Presiden tak minat makan mata cacat seperti punyamu itu. Sepasang mata lagi, maka siap satu ruangan penuh mata untuk presiden. Hidangan terbaik untuk presiden”

“Tunggu!” dia tak menghiraukanku, lanjut meninggalkanku. “KAU APAKAN ORANG-ORANG ITU? APAKAH KAU MENGHIPNOTIS MEREKA?”

Dia berhenti, dan berpaling lagi menghadap wajahku, “Tidak nak. Aku hanya mendoktrin mereka dengan kenyataan yang ada. Empat menit cukup. Taukah kamu nak, aku hanyalah anak SD yang suka membaca hingga detik ini. Membaca buku, membaca keadaan” 

Akhirnya mataku tiba-tiba menggelap, tak ada setitik cahaya pun yang kuasa bertengger di mataku. 

“Bukankah dengan mengambil mata rakyat, mereka tidak bisa lagi membaca?”

Dia terkekeh lalu mengalihkan pembicaraan, “Jangan bilang siapa pun sampai kau punya cucu berumur tujuh tahun, tentang pertemuan ini, ya,” setelah perkataannya itu, aku tak tahu dia masih ada di sana atau tidak. Namun yang pasti, dia tak lagi menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Aku menjerit, tak ada seorang pun yang menjawab. Kecuali hanya lagu yang burung hantu bawakan, angin yang bertengkar dengan dedaunan.

Kala ulang tahun presiden tiba. Ketika seorang wakil rakyat itu siap memasuki tempat pesta ulang tahunnya. Lima meter di depan ruang pesta itu, bau amis tercium jelas. Di muka pintu tertempel sebuah surat. Dibacanya surat itu. Matanya terbelalak. Membuka pintu. Ribuan mata jebol keluar dari ruangan di balik pintu itu. Sehari kemudian dia ceritakan. Seluruh media meliput. Seluruh pelosok desa, kota, pedalaman berubah. Rakyat tanpa mata bahagia, seakan terbayar sudah mata yang presiden makan. Indonesia, operasi.

***

“Benar nek, tidak sakit. Ini, kedua bola mataku nek, untuk presiden”

Nenek paruh baya itu hanya tertawa lembut. Begitu lembut dan tentram.

Loading

SEBELUM HUJAN REDA

Karya: Matahari (Juara Favorit Lomba Cerpen dalam rangka Dies Natalis Ke-14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

“Kapan terakhir kali kamu berdoa?”

Lelaki di hadapanku tertawa ringan mendengar pertanyaan kelewat absurd itu. Dia bilang, doa terakhirnya barangkali adalah sesaat sebelum ia mengendarai motor untuk menjemputku tadi. Aku menuduhnya berdusta. Kalau dia benar-benar berdoa, seharusnya kami tidak terkurung hujan deras di sebuah emperan pertokoan yang tutup.

“Jangan-jangan kamu yang tadi tidak berdoa!” balasnya menuduhku. Kami berdua tertawa atas lelucon itu.

Sesaat kemudian, saat hening menjadi teman, aku menghela nafas panjang. Benar. Aku tidak berdoa sebelum pergi hari ini. Aku tidak berdoa saat bangun. Aku tidak berdoa sebelum tidur semalam. Aku bahkan tidak berdoa berhari-hari.

Aku jadi bertanya-tanya, kapan seseorang mulai berdoa dan kapan seseorang berhenti berdoa? Apakah karena dulu setiap malam ibu menyuruh anaknya berdoa sebelum tidur, maka ia berdoa? Apakah karena dulu setiap hari guru menyuruh muridnya berdoa sebelum belajar, maka ia berdoa?

Aku tak punya ibu yang menyuruhku berdoa setiap malam. Saat punya guru, ia pikir aku sudah hafal doa harian sehingga ia tak mengajariku. Aku berdoa setiap hari sampai kemudian entah di hari ke berapa aku merasa hambar. Bahkan kini, saat hujan yang katanya waktu doa dijawab Sang Pencipta, aku tak tergoda mengangkat tangan.

Hujan pun kian kuat. Atap seng berbunyi nyaring layaknya arena perjudian saat taruhan unggulam mereka hampir kalah. Udara dingin kian menusuk. Aku menghapus jarak antara aku dan lelaki yang telah kukenal kurang lebih enam bulan. Ia, lelaki dengan senyuman matahari itu, mengaminkan. Tangannya terbentang meraih bahuku.

“Wah, enak ya pacaran pas muda,” seorang perempuan dewasa akhir yang ikut berteduh berkomentar. Di sebelahnya, lelaki yang sama sepuh, barangkali suami, terlihat berpangku tangan dalam upaya menghangatkan dirinya sendiri.

“Duh, Buk! Jangan ngurusin orang,” suaminya menanggapi.

“Lihat, Pak! Anak muda jaman sekarang pacarannya blas bles blos saja. Kayak dunia milik berdua.”

Mereka berdebat. Si suami terlihat sungkan dengan perkataan istrinya. Akan tetapi, semua orang yang berteduh di emperan pertokoan itu terlihat setuju. Tatapan mata mereka menghakimi kami.

“Kamu mau pakai jaketku saja?” tawarnya berbisik. Tangannya rampak ragu memberikan kehangatan. Pelukannya tak seerat tadi.

“Iya,” jawabku risih dengan tatapan orang-orang.

Kami berdiri dengan jarak yang kecanggungan. Jarak kami tidak lebih dekat dari seorang anak yang memeluk kaki ibunya di depan toko  benang. Jarak kami tidak lebih mesra dari suami istri yang masih berdebat itu. Jarak kami, untungnya, tidak sesepi seorang laki-laki buta berpeci di toko paling ujung.

Aku maju satu langkah. Mengintip, karena rasa penasaran tak terbendung, pada lelaki buta berpeci haji di ujung lorong pertokoan. Usianya tak lagi muda. Tangannya yang telah keriput memegang tongkat dengan genggaman yang tremor. Bibirnya komat kamit layaknya orang suci tengah berzikir. Seolah bibir itu memang telah terlatih untuk selalu basah mengenang asma Allah.

“Kenapa?” lelaki matahari di sebelah ku bertanya.

“Aku baru saja berdoa.”

“Oh ya? Kau berdoa agar hujan reda?”

“Tidak juga.” Kerutan terbentuk di dahinya. Barangkali mencari berbagai macam opsi doa lain yang bisa kupanjatkan di situasi macam ini.

Hujan kian menggila. Angin kencang menerbangkan beberapa sampah. Semua orang merapat pada perlindungan terdekat yang bisa mereka gapai. Anak berlindung pada ibunya, perempuan berlindung pada lelakinya, anak muda berlindung pada kekuatan fisiknya. Aku tak bisa berhenti khawatir pada pria tua buta di ujung pertokoan yang tak punya sesuatu, bahkan dirinya sendiri, untuk melindungi.

“Yang, aku ke sana ya.”

Langkah lebih cepat ketimbang ucapanku. Langkahku besar dan cepat menuju lelaki tua itu. Jantungku berdetak cepat. Terlebih saat melihat sebuah terpal dengan pancang paku yang tajam terbang mengarah ke lelaki itu. Kilat petir melatari suara teriakan dan dentuman.

“Ustaz!” suaraku hilang ditelan situasi.

Alam bawah sadarku memaksaku bertindak. Meski pura-pura tak peduli, meski pura-pura tak kenal, tubuhku bergerak dengan sendirinya hendak meraih sosok itu. Aku tak bisa mengerdilkan perasaan kagum dan hormatku pada sosok buta yang memiliki mata air kasih sayang dan berkah ilmu dalam dirinya itu. Aku pun, seorang yang pernah  menyesap mata air itu. Di diriku mengalir percikan dirinya. Barangkali itu yang membuatku kalang kabut mengejar lelaki itu ini.

Terpal biru yang diterbangkan angin menyelimuti tubuh lelaki tua buta tanpa celah. Aku dan seorang tukang ojek mendekatinya. Tukang ojek itu dengan tergesa-gesa menarik terpal itu. Aku melihatnya terduduk dengan tongkat yang sudah tak lagi dalam genggaman. 

“Bapak tidak apa, Pak?” tanya tukang ojek itu sembari membantunya berdiri.

Tidak ada luka, tidak ada lebam. Syukurlah.

“Alina!” lelaki matahariku memanggil. Aku tak kuasa menahan rasa takutku. Bagaimana jika lelaki tua di hadapanku ini mengingat nama itu? Meski kemungkinannya sangat kecil, meski aku yakin beliau telah memiliki banyak murid-murid lain bernama Alina, jantungku tak bisa diajak kompromi.

“Kamu Alina? Alina Aisyah?” lelaki buta itu bertanya dengan suara yang sangat familiar.

Aku mengangguk meski aku tahu lelaki di depanku tak akan bisa tahu. “Bukan Pak, saya Alina Niswati.” Aku berbohong.

“Bapak ingat sekitar tiga tahun lalu Bapak punya santri namanya Alina Aisyah. Dia pintar, rajin ibadah, selalu taat dengan peraturan pesantren. Dia suka bantu-bantu di rumah Bapak. Setelah tamat dia belum ada lagi berkunjung ke pesantren. Tadi Bapak dengar ada yang panggil ustaz, suaranya mirip Alina. Rupanya salah orang.”

Aku tak lagi mengucapkan apa pun. Aku takut suara cempreng ini akan makin mengingatkan lelaki tua berpeci itu akan seorang santri polos yang kini hanya tinggal cerita. Aku menarik tangan pacarku sembari berlari kecil menuju motor yang terparkir.

Hujan sebentar lagi berhenti. Waktu istijabah doa sebentar lagi usai. Aku berdoa lagi, meski tidak mengangkat tangan. Aku berdoa lama dan khusuk sekali. Tak peduli bahwa aku tak lagi berkerudung. Tak peduli bahwa kini di tanganku ada tangan lelaki bukan muhrim yang diibaratkan bara api.

“Boleh aku tebak doamu, Alina Aisyah?” tanya lelaki matahari itu dengan nada mencemooh. Aku menggeleng. Aku ingin cepat menyudahi basa-basi ini dan kembali bersembunyi.

Di ujung jalan, sebuah mobil dengan lambang instansi pendidikan Islam terlihat mengarah pada lelaki tua yang tak lain dan tak bukan adalah pengasuh di pesantren itu. Si pengemudi turun dan membantu ustaz menaiki mobil. Motor kami telah lebih dulu membelah jalanan.

Doaku terkabul. Lelaki buta itu tak mengenaliku. Aku ingin berdoa lagi agar si pengendara mobil yang sekelas denganku enam tahun tak mengenaliku. Sayangnya hujan telah sempurna berhenti.

Sayangnya aku tak punya keberanian lagi untuk berdoa.

Loading

PENANTIAN TAK BERUJUNG

Oleh: Fadly Rahmadi (CSSMoRA UIN Walisongo 2018)

Lelah letih sudah langkah kaki

Lemah lunglai ayunan tangan ini

Berjalan tak sampai, berayun tak henti

Tapi yang di cari seolah riap di telan bumi

 

Ditemani mentari timur di awal pagi

Ku duduk sendiri di pelabuhan purnama ini

Hempaskan lelah letihnya kedua kaki

Debu menempel di sekujur tubuh

Berbulir air mata dan butiran peluh

Perjalanan yang panjang dan sangat jauh

 

Cuitan burung-burung camar menggema

Membuatku iri tapi apa daya tak terkata

Sekiranya aku punya sayap seperti mereka

Mungkin sudah lama kusinggah di sana

Seperti mereka dan teman-teman lainnya

 

Dalam khayal aku pikirkan

Kita arungi bahtera kehidupan ini dengan senyuman

Kita bumbui pahit getir ini dengan madu manisan

Lama bentarnya kapal berlayar pada waktunya akan berlabuh juga di dermaga

 

Hmmm,

Kuhempaskan pandanganku ke seberang jauh

Ingin rasanya aku meneriakkan penungguanku

Akan tetapi lidah terasa ngilu

Dan ingin rasanya aku jerit raungkan kerinduanku

Namun mulutku diam membisu

Aku hanya bisa menunggumu di tepian dengan memandangi kapal-kapal yang simpang siur berlayar dan berlabuh

Berharap dikau muncul bersama kapal itu

Dan akan kutunggu, kutunggu sampai air laut tak lagi membiru

 

Oh pencarian yang berubah jadi kekecewaan

Masihkah dikau setia dalam cintamu?

Atau kah sudah pudar diterpa hembusan bayu?

Loading

PUTIH-HITAM

oleh: Harlianor (CSSMoRA UIN Walisongo 2017)

Apakah  putih selalu bertutur bersih, hai manusia yang diciptakan berkepala tunggal?

Hingga si hitam terus kau kecam, disisihkan di sudut terasing nan kelam

Mengapa bertingkah seolah makhluk tersuci,?

Menempatkan warna pelangi di ruang terkunci, berteriak lantang “jangan mendekat”

“Akulah makhluk terbaik Tuhan, akulah sang khalifah yang dijanjikan”

Berkoar-koar kobarkan api peperangan, menebas setiap tumbal yang mencoba melawan

Ayolah, kawan. Mari duduk melingkar sebentar..

Bukankah tak semua putih indah diraba,?

Bukankah langit lebih indah jika biru rupanya,?

Bukankah rerimbun pepohonan lebih damai kala hijau menjalar?

Lalu, mengapa kau dustakan indahnya keberagaman?

Sang Maha Kuasa ciptakan hitam tuk sempurnakan kilaumu, jika kau mengerti teori

Namun, jika nuranimu masih berfungsi;

Ia hadirkan hitam tuk dampingi bersihmu

Aku, kau, dia, kita, mereka

Hanyalah semata kata ganti belaka

Loading

ASA PEMUDA

oleh: Afifah Mulya Alamsyah (CSSMoRA UIN Walisongo 2019)

Embun pagi menggenang di pucuk keladi

Riak air bersama gelombang

Hujan turun jatuh ke bumi

Langit menatap tanpa ekspresi

 

Langkah kaki terus menapak

Liku lembah mencapai puncak

Lewati duri belukar yang liar

Penuh peluh kesah dan gundah

Namun kaki tetap melangkah

 

Berayun perlahan kiri dan kanan

Menuju jalan yang tak berujung

Tanpa lelah terus mencari

Tanpa menyerah terus bermimpi

Jerit derita tak terhiraukan

Darah membara membakar ego

Api semangat yang terus berkobar

 

Mengejar mimpi

Sembari melatih diri

Menemukan jadi keberadaan ini

 

Terus mencoba melangkah

Perbaiki arah dan tujuan

Membawa pembaharuan

Menciptakan inovasi kreatif

 

Membangun asa

Meraih cita

 

Meski tinggi gunung yang didaki

Meski jauh jalan yang ditempuh

Meski luas samudera membentang

 

Langkah penuh gairah dan ambisi

Semangat membara bagai kobar api

Kan tetap menyala dalam jiwa

 

Hingga tercipta asa dan mimipi yang jadi nyata

Membuahkan hasil perjalanan

Memetik hasil penantian

 

Karna aku pemuda

Karna kamu pemuda

Karna kita pemuda

 

Jangan menyerah

Teruslah melangkah

Hingga tiba diujung perjalanan dan penantian

Kan kau peroleh hasil yang memuaskan

Loading

KAMIS MERINDU

By: Ahmad Agil Tsabata (CSSMoRA 2021)

“aku merindukan sabtu”. bisik kamis dengan sendu. matahari, yang menjadi tanda permunculannya, baru tampak sebatas mata saat kamis keluhkan rindu. sinarnya, hanya bisa menampakkan siluet berwarna biru.

nampak sekali murung mukanya siang ini. ditambah batuk kecil yang terdengar seperti kakek-kakek dengan tenggorokan penuh dahak, melewati tekak, dan ditelan kembali untuk nantinya terbebas sebagai berak.

mendung matanya perlahan mengembunkan hujan, mengalir perlahan di pipi kiri kanan, berhenti sejenak disamping bibir, lalu menggelepai dibawah dagu, sebelum akhirnya menetes diatas batu.

aku hanya berdiri saja di jalan ini

sebentar lagi kamis akan pergi

kami memang sudah sering berpapasan

hanya kali ini saja dia ungkapkan perasaan

“tapi aku masih merindukan sabtu”

ujarnya lagi sebelum benar benar berlalu

aku berjalan saja maju kedepan

tanpa peduli apa yang terjadi dibelakang

langkah kedua, aku melihat sabtu diarah berlawanan

kutolehkan kepala, tak kudapati kamis diseberang

karena untuk bisa melepas rindu,

kau harus berani melompati waktu

 

 

Loading

KAU, AKU DAN KITA

By: Mohammad Agil Tsabata (CSSMORA UIN WALISONGO 2021)

jawabanmu ketika ditanya tentang aku:
“pohon jati yang menggugurkan daun satu satu, berhemat di musim kemarau. kering. tak lagi disenangi bahkan oleh ulat bulu.”

jawabanku ketika ditanya tentang kau:
“melati yang baunya sampai pada pengemis di pojok sana. pulang membawa karangan bunga untuk istrinya.”

jawabannya ketika ditanya tentang kita:
“jangan kau tanyakan sesuatu yang jawabannya tidak menyenangkanmu.”

Loading

KEMBALI, TERPERANGKAP

Oleh: Umi Latifah

Hamparan sawah yang terbentang luas seolah tanpa batas yang ku lalui adalah salah satu alasan kesukaanku berplesir menggunakan kereta. Hanya saja aku benci suaranya. Headset tersumpal di telingaku sejak ku lewati gerbang tiket, menghalau bising yang terkadang membuatku mual.

Duniaku secara tak sadar adalah satu kesatuan yang terpisah dari ruang dan waktu makhluk lain. Seperti ada selaput pelindung bening yang memisahkan ku. Setidaknya itu yang terbayang olehku kala kehadiranku sungguh-sungguh tak berarti apa-apa diantara ribuan penumpang kereta yang memadati peron, bahkan saat masuk gerbong.

Di tanganku ada novel karya Isabel Abedi. Warnanya kelam, ku pikir isinya juga. Setengah isinya sudah ku lahap selama perjalanan ini.

Di telingaku terdengar musik klasik, karya Bethoven. Bukan perpaduan yang pas dengan novel dark romance.

Kali ini, aku menempuh perjalanan dari Semarang ke Surabaya. Tidak ada tujuan tertentu, aku hanya menyukai sensasi perjalanan yang panjang. Bahkan aku masih terus bermimpi mengelilingi Indonesia dengan kereta.

“Apa yang ingin kamu lihat dari dalam kereta? Hanya hamparan sawah dan hutan,” celetuk kakakku ketika dia membaca memo yang tertempel di dinding kamarku. Semua rencana perjalananku tertulis disana.

Dia benar, apa yang kulihat sekarang hanyalah hamparan sawah. Dan memang hanya itu yang ku cari. Sumber ketenanganku.

Kembali ku tundukkan pandanganku ke buku yang ke pegang. Setengahnya lagi harus habis ketika kereta sampai di Surabaya. Paragraf demi paragrafnya kuselami. Terkadang senyumanku terbit beberapa detik, lalu tenggelam di detik berikutnya karena perubahan suasana hati tokoh yang sangat memengaruhiku.

Namun di paragraf pertama halaman 400, aku merasakan ada yang ganjil, huruf-huruf yang ku baca terlihat acak-acakan, aku sama sekali tak mampu membacanya. Sengatku, aku  bukanlah penderita disleksia. Ku fokuskan lagi mataku, namun di detik itu pula musik berhenti terdengar di telingaku. Awalnya ku pikir baterai gawaiku yang habis. Ku coba melihatnya.

Entah apa yang terjadi sekarang, satu persatu barang yanng ada di tanganku musnah. Menghilang layaknya cahaya yang meredup. Masih tetap sadar, aku. Seketika aku berdiri dari kursiku. Ku edarkan pandanganku ke sekeliling. Orang lain duduk seperti biasanya.

Ku dudukkan kembali tubuhku dan mengamati orang yang duduk di samping dan depanku. Mereka adalah keluarga baru dengan satu anak balita, tebakku. Apakah mereka sama sekali tak melihat apa yang kualami barusan? Padahal hal itu jelas terpampang di dekat mereka.

Aku mulai panik, ini kali pertama dalam hidupku. Ada hal ajaib yang terjadi padaku. Yang ada di otakku sekarang adalah apakah kereta yang ku naiki salah? Apakah seharusnya kereta ini menuju Hogwarts? Apakah ada Harry Potter atau Hermione sedang duduk di salah satu gerbong? Apa aku sebenarnya adalah keturunan penyihir juga?

Tak tahan dengan bayangan konyolku, aku berdiri lagi, mengamati sekitar. Detik berikutnya, tubuhku bergetar hebat. Semua gambarang tentang kereta yang melaju cepat dengan penumpang yang memenuhi gerbong, lenyap. Hanya tersisa gerbong gelap dengan bau karat menyengat.

Aku kehilangan akalku. Ku tarik nafasku perlahan. Seketika aku tertunduk lesu. Bahkan nafaskupun raib. Tak ada udara yang bisa ku  hirup. Bahkan mungkin aku tak memerlukannya. Setelah ku sadari itu. Aku bahkan bisa tetap bergerak semestinya tanpa Oksigen. Dimana sebenarnya aku sekarang?

Langkah gontaiku membawaku keluar dari kereta. Dari luar, keadaan lebih menyesakkan, kereta seperti pernah terbakar sebelumnya. Teronggok di stasiun yang sangat sepi, di dekatnya, terdapat sejenis monumen rendah. Terlihat seperti nisan, pada dasarnya.

Ada deretan nama yang terukir di atasnya. Dan aku menemukan namaku. “Natasha,” bisikku mengeja namaku sendiri. Badanku terasa kebas, jika memang aku masih memilikinya.

“22 Juni 2018 – Kecelakaan kereta memakan korban sebanyak 150 nyawa.”

Aku mundur selangkah. Mataku menggenang. Aku mulai sadar tentang apa yan terjadi padaku. Tentang eksistensiku. Aku yang sebenarnya tak berpijak ke Bumi lagi.

Bagai adegan dalam film. Tiba-tiba sekarang aku terduduk di peron dengan banyak orang berlalu lalang, ramai. Persis seperti adegan yang terjadi beberapa saat lalu. Musik Bethoven mengalun di telingaku, buku gubahan Isabel Abedi di tanganku.

Ku kumpulkan semua potongan teka-tekinya. Dan dengan yakin aku tahu apa yang sedang ku alami sekarang. Semua ini adalah memori sebelum kejadian tragis yang belum bisa ku lepaskan. Air mataku turun, namun tak jatuh, air itu kembali naik ke atas. Semua kejadian kembali terulang.

AKU TERPERANGKAP

-Terulang-

Loading

Menyelam Sesaat

SATU hari akhirat sebanding dengan seribu tahun di dunia. Ayat ini membuat Khatib al-Baghdadi merenung, apakah seribu tahun ini berlaku untuk orang kafir saja ataukah juga untuk orang beriman? Ia masih merenunginya.

Sewaktu hendak mandi sunnah Jum’at, Khatib al-Baghdadi turun ke sungai. Istrinya berpesan untuk mandi lama-lama, biar setelah mandi bisa langsung mencicipi makanan yang sedang ia masak. Ia pun menyelam ke dalam sungai. Usai menyelam, keajaiban terjadi. Pakaian dan handuknya hilang. Kondisi di sekitar sungai juga berubah drastis.

Ia lalu berjalan menuju rumah, tapi rumahnya hilang entah kemana. Istrinya juga hilang. Ia pun menuju masjid untuk Jum’atan dengan pakaian pemberian dari orang.

Di Masjid, rupanya tuan khatib tidak hadir. Khatib al-Baghdadi pun maju menjadi khatib dadakan. Usai sholat Jum’at, masyarakat banyak yang menyukainya. Khutbah yang ia sampaikan memukau. Ia kemudian di tokohkan di masyarakat yang asing baginya.

Hingga akhirnya ia hidup di lingkungan istana. Raja menghadiahi Khatib al-Baghdadi seorang gadis cantik untuk dijadikan istri. Dari pernikahan ini ia mempunyai beberapa anak.

Kehidupannya berjalan dengan damai. Hidupnya bahagia bersama istri dan anak-anaknya, hingga ia juga punya banyak cucu. Semua keluarganya dihormati orang. Dan kehidupan ini berjalan sekitar 50 tahun setelah ia mandi di sungai yang saat itu baju dan handuknya hilang.

Di suatu Jum’at yang lain, ia rindu mandi di sungai. Karena sejak 50 tahun terakhir ia mandi di istana. Ia pun turun lagi ke sungai dan menyelam. Usai menyelam, ia dapati pakaian dan handuknya dulu ada di batang. Kondisi sekitar pun kembali seperti dulu, tak ada perubahan. Lalu ia menuju rumahnya. Ia dapati rumahnya masih ada, dan istrinya yang sedang memasak pun ada. Istri bilang, “Kok mandinya sebentar, ini masih belum matang masakannya”.

Khatib al-Baghdadi langsung mengucap Subhanallah walhamdulillah, karena telah menjadikan waktu menyelam sekejap terasa 50 tahun. Ia pun menyimpulkan, di padang mahsyar yang terik itu hanya sebentar bagi orang yang beriman, dan lama bagi orang kafir dan pendosa.

 

Semarang, 5 September 2020

Nur Hidayatullah

 

Dikutip dari kitab An-Nawadir karya Syekh Syihabuddin al-Qalyubi.

Loading