KEMBALI, TERPERANGKAP

Oleh: Umi Latifah

Hamparan sawah yang terbentang luas seolah tanpa batas yang ku lalui adalah salah satu alasan kesukaanku berplesir menggunakan kereta. Hanya saja aku benci suaranya. Headset tersumpal di telingaku sejak ku lewati gerbang tiket, menghalau bising yang terkadang membuatku mual.

Duniaku secara tak sadar adalah satu kesatuan yang terpisah dari ruang dan waktu makhluk lain. Seperti ada selaput pelindung bening yang memisahkan ku. Setidaknya itu yang terbayang olehku kala kehadiranku sungguh-sungguh tak berarti apa-apa diantara ribuan penumpang kereta yang memadati peron, bahkan saat masuk gerbong.

Di tanganku ada novel karya Isabel Abedi. Warnanya kelam, ku pikir isinya juga. Setengah isinya sudah ku lahap selama perjalanan ini.

Di telingaku terdengar musik klasik, karya Bethoven. Bukan perpaduan yang pas dengan novel dark romance.

Kali ini, aku menempuh perjalanan dari Semarang ke Surabaya. Tidak ada tujuan tertentu, aku hanya menyukai sensasi perjalanan yang panjang. Bahkan aku masih terus bermimpi mengelilingi Indonesia dengan kereta.

“Apa yang ingin kamu lihat dari dalam kereta? Hanya hamparan sawah dan hutan,” celetuk kakakku ketika dia membaca memo yang tertempel di dinding kamarku. Semua rencana perjalananku tertulis disana.

Dia benar, apa yang kulihat sekarang hanyalah hamparan sawah. Dan memang hanya itu yang ku cari. Sumber ketenanganku.

Kembali ku tundukkan pandanganku ke buku yang ke pegang. Setengahnya lagi harus habis ketika kereta sampai di Surabaya. Paragraf demi paragrafnya kuselami. Terkadang senyumanku terbit beberapa detik, lalu tenggelam di detik berikutnya karena perubahan suasana hati tokoh yang sangat memengaruhiku.

Namun di paragraf pertama halaman 400, aku merasakan ada yang ganjil, huruf-huruf yang ku baca terlihat acak-acakan, aku sama sekali tak mampu membacanya. Sengatku, aku  bukanlah penderita disleksia. Ku fokuskan lagi mataku, namun di detik itu pula musik berhenti terdengar di telingaku. Awalnya ku pikir baterai gawaiku yang habis. Ku coba melihatnya.

Entah apa yang terjadi sekarang, satu persatu barang yanng ada di tanganku musnah. Menghilang layaknya cahaya yang meredup. Masih tetap sadar, aku. Seketika aku berdiri dari kursiku. Ku edarkan pandanganku ke sekeliling. Orang lain duduk seperti biasanya.

Ku dudukkan kembali tubuhku dan mengamati orang yang duduk di samping dan depanku. Mereka adalah keluarga baru dengan satu anak balita, tebakku. Apakah mereka sama sekali tak melihat apa yang kualami barusan? Padahal hal itu jelas terpampang di dekat mereka.

Aku mulai panik, ini kali pertama dalam hidupku. Ada hal ajaib yang terjadi padaku. Yang ada di otakku sekarang adalah apakah kereta yang ku naiki salah? Apakah seharusnya kereta ini menuju Hogwarts? Apakah ada Harry Potter atau Hermione sedang duduk di salah satu gerbong? Apa aku sebenarnya adalah keturunan penyihir juga?

Tak tahan dengan bayangan konyolku, aku berdiri lagi, mengamati sekitar. Detik berikutnya, tubuhku bergetar hebat. Semua gambarang tentang kereta yang melaju cepat dengan penumpang yang memenuhi gerbong, lenyap. Hanya tersisa gerbong gelap dengan bau karat menyengat.

Aku kehilangan akalku. Ku tarik nafasku perlahan. Seketika aku tertunduk lesu. Bahkan nafaskupun raib. Tak ada udara yang bisa ku  hirup. Bahkan mungkin aku tak memerlukannya. Setelah ku sadari itu. Aku bahkan bisa tetap bergerak semestinya tanpa Oksigen. Dimana sebenarnya aku sekarang?

Langkah gontaiku membawaku keluar dari kereta. Dari luar, keadaan lebih menyesakkan, kereta seperti pernah terbakar sebelumnya. Teronggok di stasiun yang sangat sepi, di dekatnya, terdapat sejenis monumen rendah. Terlihat seperti nisan, pada dasarnya.

Ada deretan nama yang terukir di atasnya. Dan aku menemukan namaku. “Natasha,” bisikku mengeja namaku sendiri. Badanku terasa kebas, jika memang aku masih memilikinya.

“22 Juni 2018 – Kecelakaan kereta memakan korban sebanyak 150 nyawa.”

Aku mundur selangkah. Mataku menggenang. Aku mulai sadar tentang apa yan terjadi padaku. Tentang eksistensiku. Aku yang sebenarnya tak berpijak ke Bumi lagi.

Bagai adegan dalam film. Tiba-tiba sekarang aku terduduk di peron dengan banyak orang berlalu lalang, ramai. Persis seperti adegan yang terjadi beberapa saat lalu. Musik Bethoven mengalun di telingaku, buku gubahan Isabel Abedi di tanganku.

Ku kumpulkan semua potongan teka-tekinya. Dan dengan yakin aku tahu apa yang sedang ku alami sekarang. Semua ini adalah memori sebelum kejadian tragis yang belum bisa ku lepaskan. Air mataku turun, namun tak jatuh, air itu kembali naik ke atas. Semua kejadian kembali terulang.

AKU TERPERANGKAP

-Terulang-

Share this post

Tinggalkan Balasan