Cerita Gadis dan Kopiku

Oleh: Umi Latifah

Langit sore bulan Desember hampir selalu gelap. Udara yang tertahan selama menemui waktu untuk bebas dan kembali bermuara di lautan. Bereuni sembari membagi kenangan selama menjelajah langit, bermetamorfosis menjadi sebuah salju yang indah dan luruh kembali menjadi butiran udara yang jatuh ke Bumi. Begitu juga kami yang mengumbar cerita dari banyak topik selama jauh satu sama lain. Daftar cerita yang perlu didengar mengular, kami butuh lebih dari secangkir kopi.

Tempat sakit ini adalah pilihanku. Termasuk mejanya. Aku suka sudut ini, dan tempatku selalu disini. Melihat pemandangan yang sama di tempat ini nyatanya tak membuatku bosan.

Kopi kedua sudah tinggal ampas. Satu cerita persatu menemui ujung. Bersama tenggelamnya cahaya, tenggelam pula kisah pertemuan kami.

Akan ku ulas lagi percakapan kami di sore hari. Di seruputan pertama, dia bercerita tentang bagaimana rasanya berebutan kursi di hari pertama masuk sekolah. Dia bertemu denganmu pagi itu, di kelas 12 A, di bangku paling depan. Kalian ingin duduk di tempat yang sama, namun dia sama batunya denganmu. Dia hanya ingin aku yang duduk dengannya. Pagi itu juga aku memilih untuk duduk di bangku belakang karena jengah dengan kalian. Bel berdentang kalian diam. Duduk berdampingan, walau punggung saling.

Saat itu, aku benci dirimu yang bahkan tak mau mengalah pada makhluk yang bernama Gadis. Kau sungguh jauh dari kriteria lelaki lakilaki yang lembut. Jelas saja, pikiran yang menggelayut di otakku, kau sedang memainkan peran agar mendapat perhatian dari sahabatku. Ya, Gadis sahabatku, kau tahu itu.

Gadis memiliki paras ayu, terlalu lembut untuk bisa diajak berdebat. Namun kau berhasil membuat waajahnya merah padam di pagi yang cerah. Kau pada sama saja.

Seruputaan kedua, dia bercerita tentang kebiasaanmu melirik pekerjaan Gadis di buku tugas, lalu tersenyum sinis tanpa sebab. Lagi-lagi kau mengalihkan perhatiannya. Tak pernah ada orang yang memperlakukan Gadis seperti itu. Aku pernah berpikir jika kau terlampau aneh. Cara yang kau gunakan sedikit berbahaya untuk hanya mendapatkan perhatian.

Ku mulai merasakan perbedaan sikap Gadis pada satu bulan pertama setelah mengenalmu. Dia lebih sensitif dan sering uring-uringan. Menyalahkan banyak nyawa padahal kau biang keladinya. Mungkin hanya sekedar robekan kertas, namun mampu menyulut emosinya, jika itu karenamu. Sungguh, membuat manusia selembut kapas dan memiliki program emosi menjadi sedikit demi sedikit warna. Di bulan selanjutnya, aku mulai kagum dengan caramu.

Semua cerita masa SMA mengalir begitu saja dari bibir Gadis. Memori tentangmu sungguh mengakar dalam otaknya. Jelas ku tahu, terlampau unik hingga berada di posisi itu.

Sempat aku cemburu pada hadirmu dalam otak Gadis. Dia bahkan sering lupa ulang tahunku. Tapi dia ingat hari pertama menghantammu dengan bola kasti. Ini disengaja. Kau tertidur ketika tugas kelompok permeja harus segera diberlakukan. Malam itu, dia mengumpat di grup chat kami karena ia harus begadang semalaman demi meyelesaikan tugas dengan porsi dua kepala dan empat tangan. Pagi harinya, aku menemaninya berdiri di depan gerbang, tanpa tahu apa alasannya. Lima menit kemudian rasa anehku terjawab saat dengan lancarnya Gadis menghantam tubuh kurusmu dengan bola kasti yang ia dapat dari gudang rumah. Sungguh, ku kira dia akan memainkan itu bersama kami di jam istirahat.

Bahkan dia ingat tentang kau yang hadir di promnight. Apa warna dasimu, bajumu, sepatumu, banyak hal yang ia ingat tentangmu. Jelas, Gadis tak lagi sama seperti dulu. Ku sadar, dia mulai menginginkanmu. Ingin bisa berbincang denganmu. Namun aku salah persepsi dari awal tentangmu. Kau memang seperti itu, berbicara seperti itu, bertingkah seperti itu, selalu. Pada itu. Kecuali aku. Naasnya, kau juga menarik perhatianku.

Aku figuran dalam ceritamu dengan Gadis. Hanya tokoh yang ada di samping Gadis dengan seribu kebungkaman.

Sore ini, menyadari banyak hal tentang perasaanku sendiri. Pada posisi, aku pernah ingin ada di posisi Gadis yang bisa kau jahili dengan santai. Kau tatap matanya dengan santai. Segalanya yang biasa saja. Kau bahkan terlampau ramah pada banyak makhluk, termasuk kucing di kantin sekolah yang sering menggelayuti kakiku. Alasanmu diam kepadaku sungguh ingin ku tahu.

Sore ini, aku juga menyadari, bahwa aku juga memiliki kisah yang berbeda denganmu, aku sebagai tokoh utama di cerita itu. Cerita atas kebungkamanmu padaku. Yang hanya saling menatap tanpa mengumbar kata. Bahkan di saat-saat terakhir di promnight itu, kau hanya ada di kejauhan. Bergurau dengan teman-temanmu. Ekor mataku mengikutimu, bahkan kau tahu itu, kau juga membalasku.

Lebih dari apapun, aku megagumimu. Namun sayang, surat ini surat cinta. Rasa kagumku lebih aneh dari yang kau bisa kira. Ku mungkin menginginkan deskripsi yang pasti dari kebungkaman selain kata cinta.

Sampai di seruputan kopi terakhir Gadis, ceritaku tentangmu hanya aku yang tahu. Kebungkamanmu, hanya aku yang memendamnya. Bahkan pertemuan terakhir kita yang hanya berujung dalam diam lalu lalu juga tetap bertengger di daerah tersembunyi. Kau memainkan peran dengan apik. Mengundangku tanpa sapa. Tapi aku dengan suka rela sampai di depanmu.

Seminggu yang lalu itu cukup lucu jika ku ingat sekarang. Kita membiarkan uap kopi habis, meninggalkan kopi tanpa minat. Ku tahu, kau hanya mencari alasan untuk mengembalikanku ke radarmu. Berkelebat di sekelilingmu.

Jika kau mau tahu tentang perasaanku, aku hanya akan tetap berdiam di kebingunganmu. Membiarkan rasamu menguap seperti kopi kita sore itu. Sebuah akhir yang kau ciptakan sendiri. Akhir unik tanpa awalan. Jika orang lain terpesona pada humorismu tingkah, aku akan bertanya sekarang, kenapa kau tak memesonaku dengan cara yanng sama agar aku tak merasa kau berbeda? Kau ingin berbeda.

Mulutku, tetap setia tak mengumbar tentangmu. Gadis yang kau ubah dengan pesonamu itu adalah sahabatku. pesonamu yang tak kau tunjukkan padaku, namun mengikatku. (Semarang)

Loading

Pintuku Tak Pernah Terbuka

oleh: Fajri Zulia Ramdhani

Aku kehilangan 2/3 ruas hati, setelah kembali dari kebun bunga miskin semerbak

ilalang tinggi mengahalang pandang, tanah busuk tengik menyeruak

aku berjalan jejak di setapak yang dibangun dusta

tak bertepi, hilang ujung dan aku buntu

 

Lusa lalu 3/7 kamu datang tok tok mengetuk pintu

ya ya, kubuka perlahan dan kau menyeruak mendobrak

kepemilikanku terampas, kamu jadi kuasa entah sejak ketukan pertama atau sejak tawa kita bersama

saat itu aku kehilangan alasan menggugat, rupawanmu menyihir sadarku

 

Sejak 4/5 drap drap, aku dihentak akibat tak setia

oh Tuhan.. kau telah menjajah banyak rumah, menyihir si empunya untuk biarkanmu haha hihi semaunya

tapi dasar sudah mabuk.

segala kita jadi sibuk, yang lalu lupa sudah halah halah

aku percaya saja

dan biarkanmu masih, menguasai apa saja dan merusak yang mana saja

 

Yah sudah kadung biarlah. Selesai tercabik akibat buta, tuli, dan mau saja

aku menangis tersedu di jalan buntu

kembali aku sudah tak ingat arah, pergi lagi entah jurang mengarah

 

Menyesal mau bagaimana, titut titut bel pintu sudah tak lagi kurisau

biar saja

aku butuh waktu menambal hilang, memintal peka, memaku rambu-rambu agar tak lagi ditilang karena hilang

entah katanya dia orang setia yang tak mungkin mendua, atau jujur inginkan dua sejak tak punya satu

tetap saja pintuku tak terbuka

apa yang tersisa dari 1/3? Jika kubiarkan semua, yang mana sisa?

Jadi kini, pintuku tak pernah terbuka

Loading

TERIMA NASKAH

TERIMA NASKAH
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam Loyalitas Tanpa Batas

CSSMoRA UIN WALISONGO mengajak teman-teman untuk mengirimkan naskah esai, opini, artikel, puisi, cerpen dan cerbung.
Naskah-naskah yang diterima akan dipublikasikan di www.cssmorawalisongo.org . Yuuk asah literasimu.

Syarat-syaratnya:

ESAI, OPINI, ARTIKEL  > Tema apa saja, tidak mengandung SARA, ujaran kebencian, dan yang terpenting bisa dinikmati dengan asyik tanpa berpotensi bikin pusing dan panas hati pembaca. / Pendek tulisan antara 1,5 – 2 halaman, Times New Romans, Size 12, Spasi 1.

CERPEN, CERBUNG > Berbahasa Indonesia yang baik dan benar. / Pendek tulisan 3 – 4 halaman, Times New Romans, Size 12, Spasi 1.

PUISI > Berbahasa Indonesia. / Times New /Romans, Size 12.

KIRIMKAN NASKAH KE :
Email : csswalisongo@gmail.com
Wa: 082292407779 (Firginita Wirna)

Beri subjek email NASKAH_ESAI / OPINI / ARTIKEL / PUISI / CERPEN / CERBUNG_NAMA PENULIS

Jika sudah mengirim karya, silahkan Konfirmasi ke (082292407779)

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam Loyalitas Tanpa Batas

Loading

Lomba Kreativitas Al-azhar Cairo, Dua Mahasantri PBSB meraih juara

Parlemen Al-Azhar Kairo Gelar Lomba Kreativitas dan Seni, Mahasantri PBSB Torehkan Prestasi

Kairo, Ditpdpontren — Grand Syekh Al-Azhar Universitas Kairo Syekh Ahmad Thoyyib bersama Parlemen Kairo Al-Azhar gelar ajang lomba kreativitas dan pengembangan bakat.

Ajang lomba yang diselenggarakan pada 23 Juli 2020 dikhususkan bagi pelajar kalangan putri, baik itu mahasiswi Universitas Al-Azhar maupun Ma’had Al-Azhar.

Tak mau ketinggalan, mahasantri Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementerian Agama di Al-Azhar Kairo pun turut ambil peran dalam ajang yang digelar secara berani (dalam jaringan) serta pengiriman karya, Sayyidah Umi Kulsum dan Siti Jazilah yang berasal dari Pesantren Al- Hikmah 2 Sirampog Brebes Jawa Tengah.

Ketua Komunitas Santri Cendekiawan Kementerian Agama (CSSMoRA) Regional Kairo Egi Riyanto menerangkan, cabang lomba dan seni yang dilombakan cukup banyak, antara lain cabang tahfizhul Qur’an, musabaqah tilawatil Qur’an, puisi dan prosa bahasa Arab, gambar dan kaligrafi, kerajinan tangan, fotografi, menjahit-menjahit, bercerita, serta nasyid.

“Dua mahasantri putri PBSB ikut pada cabang seni Kaligrafi dan Nasyid. Saat diumumkan, berhasil meraih Juara 1 pada cabang yang diikutinya,” ujar Egi.

Kasubdit Pendidikan Pesantren Basnang Said melalui videoconference menuturkan, para mahasantri PBSB tentu sudah memiliki keterampilan dan kreativitas seni saat di pesantren.

“Pesantren dan kesenian bukanlah hal yang asing bagi para santri. Banyak pesantren yang membekali para santrinya dengan kegiatan pengembangan minat dan bakat semacam ini,” terang Basnang, Jum’at (11/09).

Saat dilaporkan, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Waryono mengapresiasi capaian ini.

Prestasi ini sangat membanggakan. Mahasantri PBSB di Al-Azhar Kairo mampu bersaing dengan para mahasiswi utusan lebih dari sepuluh negara yang ikut berlomba. Tidak hanya berprestasi dalam akademik, tapi juga non-akademik, tuturnya.

“Saya ucapkan selamat atas prestasi gemilang ini. Pertahankan nama baik Indonesia dan pesantren di kancah internasional”.

Waryono meminta seluruh mahasantri PBSB tetap menjaga proses dan prestasi belajarnya, berperan aktif dalam menjaga tradisi kepesantrenan, serta menjadi agen moderasi beragama di lingkungan kampus saat ini. Terlebih, mahasantri PBSB Kairo yang jauh dari keluarga agar tetap menjaga kesehatan dan keselamatan dengan menerapkan protokol kesehatan yang lebih baik.

“Saya berharap mahasantri PBSB Kairo menjadi duta bangsa dan agama yang menebar model keberagamaan yang ramah dan damai,” tutupnya. (Hery Irawan)

Loading

Lalu Aku Kagum

Lalu aku kagum

Pada senyum yg tak luntur meski diterpa nelangsa

Pada kebaikan yg tak henti kau berikan pada si penoreh luka

Pada tekad yang tak goyah meski kau diam2 menangis tak berdaya

Kuberi jarak, berharap kau mendekat agar bisa ku peluk erat

Kau pilih diam, dan aku memutuskan untuk membangun sekat

Jangan tanya traumaku

Aku tak sekuat itu menggenggam api

Aku lari dari penjahat hati

Aku tak setangguh itu menanggung lara

Aku kabur dari pembunuh rasa

Aku tak tahan

Maka, jika lelah kembalilah pulang

Hati selalu tau dan memilih tempat ternyaman

Ngaliyan, 29/12

Rohadatul ‘Aisy Idra

Anggota CSSMoRA 2017 UIN Walisongo

Alumni Angkatan 20 PP Diniyyah Pasia, Agam

Loading

Purnama Terakhir

Oleh: Umi Latifah

Air yang turun dari talang adalah hal yang paling menyenangkan kala ku kecil. Bermain hujan-hujanan, menengadah di bawahnya seolah berada di air terjun yang mengalir deras, semakin deras. Berlari kesana kemari menembus ribuan tetes hujan yang menghujam Bumi. Hujan dalah shower raksasa bagi anak seusia itu.

Hujan malam ini turun terlalu deras. Tampiasnya membasahi beranda yang menjadi tempatku memandang Bulan purnama. Menghitungnya sebagai tanda keberhasilanku. Membawanya selalu ada di sisiku, dalam jangkauan radarku.

Tampias itu seolah tahu bahwa waktuku telah usai, sengaja ikut lari bersama angin membasahi segalanya, sampai aku tak lagi bisa duduk termenung, lantas tersenyum. Dia tahu bahwa semua akan berakhir, hitungan purnamaku selesai di angka 36. Itu terlalu banyak. Rasa menyiksanya terlalu dalam.

Purnama yang ku lihat terakhir kali terlalu terang, aku tak sanggup melupakan keindahnya. Sekarang aku tak punya lagi. Keindahan yang terlalu indah untuk ku biarkan pergi. Ku tahu air mata tak akan menahannya pergi. Ku putuskan untuk tak membuangnya sia-sia. Cukup hariku ke depan yang menjadi korban, jangan air mataku yang ku rasa mahal.

Hembusan nafasmu terdengar berat. Kau sadar telah menyakiti manusia yang sekarang hanya bisa mematung memandang jendela kaca yang terhantam air hujan. Membiarkan pikiranku berlari kesana-kemari dengan kenangan. Sesekali terhenyak karena kilat, ku tahan agar tak berhambur mencari perlindungan padamu dengan meremas jari sekencang-kencangnya. Kau membiarkan itu, kau tahu apa yang sedang ku hadapi dengan para kilat dan petir itu.

Suara ponsel berdering berkali-kali, jam dinding berdentang sejam sekali. Kita tetap setia dengan kebisuan.

Menantang rasa sakit dengan kalimat, “semua tak nyata,” itu adalah kalimat pertamaku sejak pengakuanmu.

Kau menghela nafas lagi, mungkin kau sebal mengulang kalimatmu untuk yang kesekian kalinya, aku terlalu bebal untuk mau mengakui yang ku dengar  sendiri. Atau kau mungkin juga kesal atas kebisuanku, dan kau merasa tak berharga karena setetespun air mata tak melewati hulunya.

Tiga puluh enam purnama bukan waktu yang singkat untuk bisa diakhiri dengan alasan konyol yang datang dari mulut bijakmu yang bertahun ku damba. Ditambah baru saja saat purnama ke 35 yang lalu kau mengajakku untuk menikmati purnama bersama. Dari saat itu aku pikir aku tak perlu lagi menghitung purnama, semua purnama adalah milikku, milik kita.

Gaun putih sudah setengah jadi, kau tega membakar harapannya di depanku malam ini. bahkan udara dalam ruangan ini mengakui ada banyak penyesalan dalam setiap tarikan nafasmu, bahkan tergurat jelas dari sorotan matamu yang sayu. Kau tak perlu menyangkal itu. Jika kau menarik kalimatmu tadi, mungkin aku akan mempertimbangkan itu. Tetapi mengapa kau tak kunjung mengungkapkannya?

Sekali lagi kutatap lekat wajahmu yang dihiasi kumis tipis yang menjadi kesukaanku. Bahu tegap yang menjadi sandaran ternyamanku. Ah, setiap inci darimu yang terbalut kulit cerah itu favoritku. Termasuk jarimu yang terampil memtik senar gitar sembari menyenandungkan lagu indah.

Aku yakin air mataku tak akan tumpah jika kau tak mengatakan kalimat sederhana dari dua kata itu, “maafkan aku,” sedetik kemudian aku tergugu. Tak mampu lagi menahan sesak yang menusuk jantung. Itu artinya kau sangat berharga untukku, bahkan sebelum hitungan purnamaku dimulai. Kalimat itu sudah jelas mengakhiri semuanya secara mutlak. Aku kalah.

Ratusan purnama telah berlalu dengan rasa terpendamku padamu. Lalu kau hadir mengakhiri hitungan purnama kesendirianku. Membuatku menghitung purnama untuk alasan yang lain. Akhirnya kau menyadari keberadaanku. Harapanku  membumbung terlalu tinggi untukmu.

“Kenapa? Kenapa nggak cinta? Sejak kapan?” kalimat bodoh lagi yang bisa menyusup keluar. Hatiku meronta, meminta alasan selain itu. Mungkin sebuah penjelasan yang lebih rasional dari sekedar ingin membuat sebuah komitmen dengan orang yang sangat mencintaimu. Kau pernah berpikir jika itu akan berhasil jika kau menerima cinta daripada meminta cinta.

Jika sudut pandangnya ku balik, aku adalah sang peminta cinta, jiwaku mengelak, aku tak serendah itu. Aku selama ini menantimu dalam diam, mengagumimu dengan hormat, tanpa ada rayuan cinta bak pelacur. Tangisku pecah. Kau menggores egoku terlalu lebar. Pembuluh darah seakan terpotong-potong mengeluarkan semua cairannya, deras.

Manusia yang sangat kukagumi menjatuhkanku dalam jurang yang sangat dalam, rasa cinta yang awalnya madu berubah menjadi racun yang menghitamkan seluruh darahku. Tak bisakah dulu kau tak menjadikanku bahan percobaan tentang komitmen dan istilah-istilah lain dalam hubungan untuk memperindah sebuah kalimat memaksakan untuk cinta?

Kau bangkit dari kursi. Meninggalkanku mengulang jawaban yang sudah terungkap sejak di menit pertama yang sengaja ku lupakan.

“sejak awal,” otakku menjawab otomatis saat pintu rumah tertutup meninggalkan jejakmu.

Loading

Mayat Kosong

Pikir benar yang begitu liar

Pikir benak yang begitu liar
Bertanya-tanya kepada akal!
Tentang hari-hari tanpa jasad
Dikala perbaringan yang gelap
Ketika jiwa tak lagi selaras makna dunia
Insan kotor didekap dalam hamba
Lisan rapuh berkata dalam diam,
Sedang yang lain mulai bercakap
Disaat pekat menyelimuti dengan riang
Akankah tubuh ini melawan?!
Sekali lagi menerka nerka
Apa mungkin sebongkah mayat ini selamat?

Belu, 23 Juli 2020
Yudi

Loading

Mengenal Metode Penentuan Awal Puasa dan Lebaran di Belanda

Catatan Menjadi Muslim Indonesia di Belanda (part 12)

Menjelang hari raya Idul Fitri, pemerintah dan pengurus lembaga keislaman di tanah air, pada umumnya, disibukkan dengan ‘ijtihad’ menentukan kapan jatuhnya hari lebaran. Beberapa dari lembaga keislaman pun, sampai saat ini, masih menggunakan metode penentuan awal bulan kamariah yang berbeda-beda. Terlepas dari banyaknya metode aplikatif yang digunakan, dua ‘mazhab’ utama yang sering didengungkan adalah mazhab rukyatul hilal (melihat hilal) dan mazhab hisab (perhitungan), karena ada yang menggunakan metode rukyatul hilal, ada juga yang menggunakan metode hisab. Setiap dari penyokong ‘mazhab’ tersebut pun mengklaim bahwa mereka berpedoman pada landasan normatif hasil penafsiran ‘mereka’ terhadapt teks hisab-rukyat baik dari Al-Qur’an maupun Hadits.
Oleh karena adanya perbedaaan metode yang digunakan tersebut, penentuan awal bulan kamariah di Indonesia nampaknya masih akan terus berpotensi berbeda, mengingat sampai saat ini belum ada kesepakatan yang ‘benar-benar baku’ yang bisa dijadikan acuan dalam menentukan awal puasa dan lebaran. Sehingga akan sangat wajar jikalau masyarakat yang notabene nya adalah ‘pengikut’ kebijakan baik pemerintah maupun ormas di tanah air ini acap kali dibingungkan dengan berbagai keputusan yang dibuat oleh pemerintah dan sejumlah ormas yang terkadang keputusanya berbeda-beda.
Bagaimana dengan di Belanda? apakah perbedaan penentuan awal puasa dan lebaran seperti di Indonesia juga terjadi di negeri kincir angin tersebut? Metode apa yang digunakan pemerintah/tokoh Muslim di Belanda untuk menentukan awal puasa dan lebaran?

Sebagaimana Belanda adalah ‘negara sekuler’, pemerintah negeri tulip ini tidak mau terlalu banyak berkecimpung mempersoalkan hingga mengaitkan urusan keagamaan dengan urusan pemerintahan mereka. Seputar fatwa keagamaan, umat Islam di Belanda, umumnya lebih cenderung patuh mengikuti kebijakan yang dikeluarkan oleh ikatan tokoh ulama muslim eropa yang tergabung dalam ECFR (the European council for Fatwa and Research). ECFR sendiri adalah salah satu lembaga keislaman di eropa yang fokus pada ikhtiar mengeluarkan fatwa dan hasil riset keagamaan untuk mendukung kehidupan muslim di seantero eropa. Info lebih lanjut seputar EFCR bisa dibaca di : https://www.e-cfr.org/blog/2018/12/16/european-council-fatwa-research/

Sepanjang bacaan penulis, hampir tidak ada perbedaan mencolok yang terjadi di Belanda seputar penentuan awal puasa dan lebaran. Ini setidaknya dalam 10 tahun terakhir, setelah the European council for Fatwa and Research (ECFR) mengeluarkan resolusi Istanbul di sesi dialog ke-19 mereka yang dilaksanakan tanggal 30 Juni – 04 Juli 2009 di Istanbul, turkey. Dialog ke- 19 ini juga merupakan follow-up dari pembahasan sebelumnya di sesi 17 yang dilaksanakan di Sarajevo, Bosnia pada tahun 2007. Diantara persoalan utama yang dibahasa oleh para anggota ECFR adalah mengenai ikhtiar ‘penyeragaman’ metode penentuan awal puasa dan lebaran bagi masyarakat Muslim di eropa. Diantara rekomendasi yang dikeluarkan adalah:
The ECFR recommends its members, Imams and Islamic Scholars, both living in Muslim and non-Muslim societies, to endeavour to instill the culture of respecting definite outcomes of astronomical calculations when stating the impossibility of sighting the moon due to the waning of the moon. In this case people should not be urged to try to sight the moon and claims of sighting the moon should be rejected’.

Dari catatan diatas dapat dipahami bahwa, secara umum,ECFR merekomendasikan para imam dan muslim di eropa untuk menggunakan hisab / astronomical calculation (perhitungan astronomi) dalam hal penentuan awal waktu puasa dan lebaran. Kebijakan ini tentunya bukan karena mereka menolak seutuhnya metode rukyatul hilal. Saya melihat, rekomendasi ini dibuat pun bukan untuk serta-merta menolak pelaksanaan rukyatul hilal, tetapi lebih kepada ikhtiar yang dianggap lebih ‘maslahat’ dan ‘solutif’ dikarenakan kondisi ‘ufuk’ di sejumlah tempat di eropa, juga di Belanda, yang tidak cukup mendukung pelaksanaan rukyatul hilal.

K.H Nur Hasyim Subadi, ketua pengurus masjid Al-Hikmah di Den Haag yang juga merupakan Rais Syuriah PCINU Belanda, ketika saya wawancarai seputar penggunaan astronomical calculation (hisab) dalam menentukan awal puasa dan lebaran di Belanda pun membenarkan hal tersebut. ‘Oleh karena beberapa hal yang tidak memungkinkan untuk melakukan rukyatul hilal, kita (umat Islam Indonesia di Belanda) selain menunggu fatwa dari ECFR, juga ‘berijtihad’ menentukan awal puasa dan lebaran dengan menggunakan hisab (astronomical calculation)’ dan platform aplikasi perhitungan yang digunakan adalah ‘Moonsighting’ yang didirikan oleh Khalid Shaukat. (Lihat di: www.moonsighting.com)’, tegas pak kiai Hasyim.

Surat pemberitahuan Puasa dari Masjid Al-Hikmah, Den Haag tahun 2017 (Dok.pribadi)

Setiap kali menjelang awal puasa dan lebaran, sejumlah tokoh Muslim Indonesia di Belanda pun biasanya berkumpul di Masjid al-Hikmah untuk memutuskan awal waktu puasa dan lebaran, selain tentunya menunggu kabar (menyesuaikan) fatwa dari ECFR. Data perhitungan dari platform www.moonsighting.com ini pulalah yang dijadikan rujukan diskusi penentuan awal bulan kamariah. Setelah ditetapkan awal waktu puasa dan lebaran, informasi ini akan disebar ke seluruh umat Islam Indonesia di Belanda. KBRI di Den Haag pun biasanya akan mengikuti ketetapan waktu puasa dan lebaran sebagaimana yang ditetapkan para tokoh dan alim ulama masjid al-Hikmah Den Haag ini.

Ada catatan menarik lainya seputar waktu lebaran di Belanda, bahwasanya hari raya Idul fitri di Belanda tidaklah tercatat sebagai hari libur nasional. Perdebatan di parlemen seputar perlukah hari raya Idul Fitri dicatat sebagai salah satu hari libur nasional masih terus terjadi, yang konsekwensinya akan ada tambahan waktu libur cuti bagi semua masyarakat Belanda. Ada yang pro dan kontra itu pasti. Diantara partai yang ada di ‘garda terdepan’ menolak hari raya Idul Fitri ditetapkan sebagai hari libur nasional di Belanda adalah partij voor de Vrijheid (PVV), yang dipimpin oleh Geert Wilders. Namun, sekalipun Idul Fitri tidak tercatat sebagai hari libur nasional, umat Islam (pekerja) di Belanda tetap mendapatkan hak dan prioritas khusus untuk mengambil jatah cuti kerja dalam rangka merayakan hari raya kemenangan mereka setelah berpuasa Ramadhan.

Loading

Silaturahmi dari CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati

Keluarga CSSMoRA UIN Walisongo Semarang mendapat kunjungan dari saudara-saudara CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pertemuan antara dua CSSMoRA ini berlangsung di Gazebo YPMI Al-Firdaus, Ngaliyan, Semarang. Para mahasantri sangat senang dan antusias atas adanya acara yang diadakan Sabtu, 7 Maret 2020 ini.


Sekitar 60 orang mahasantri dari CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati melakukan perjalanan ke kota Semarang. Ini dilakukan demi menjalin silaturahmi antar anggota CSSMoRA yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Semarang. Idrian Wahid, Ketua CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengatakan, “Rihlah ini bukan hanya dalam rangka bertamasya. Tapi demi menjalin silaturahmi antar anggota CSSMoRA”.


Anggota CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati yang berada di Regional Barat tentu saja jarang bertemu dengan anggota CSSMoRA UIN Walisongo yang terletak di Regional Tengah. Dari situlah kemudian perlunya silaturahmi antar CSSMoRA Perguruan Tinggi Negeri ini perlu terus dilakukan. Ia juga menambahkan, “Harapannya adalah dengan kegiatan ini semoga para anggota CSSMoRA bisa saling mengenal dan membantu dalam mengabdi sebagai santri”.


Hal serupa juga disampaikan Zulfian Wanandi, anggota CSSMoRA UIN Walisongo, “Kegiatan semacam ini sangat bagus. Kita bisa mengenal lebih banyak lagi sesama anggota CSSMoRA. Menjalin silaturahmi dan berbicara banyak hal tentang CSSMoRA”.


Kegiatan yang dinamai TAYO (Tamasya Ayok) Ngabring Ulin Bareng Ngasah Kanya’ah ini diisi dengan sambutan Ketua Panitia Penyambutan oleh Zulfian Wanandi, Ketua CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati Bandung oleh Idrian Wahid, dan Pengelola PBSB (Penerima Beasiswa Santri Berprestasi) oleh Dr. Cucu Setiawan, S.Psi.I., M. Ag. Setelah sambutan-sambutan acara dilanjutkan dengan penampilan musik dari anggota CSSMoRA UIN Walisongo dan CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati. Kemudian dilanjut dengan memainkan permainan bersama demi menghangatkan suasana dan ditutup dengan ramah tamah.


Dr. Cucu Setiawan, S.Psi.I., M.Ag., Pengelola PBSB mengungkapkan dalam sambutannya, “Sejak saya disambut pertama kali, saya merasa tidak ada sekat di antara kita. Anak-anak CSSMoRA UIN Walisongo bagi saya juga adalah anak saya sebagaimana anak-anak CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati Bandung. CSSMoRA adalah keluarga bagi saya.”
(Evan)

Loading