SELEPAS PETANG

Karya: Oktari Rosalia (Peserta Lomba DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

 

ndukga bole izin saja?”

Entah harus menjelaskan sampai berapa kali sampai ibu mengerti. Dunia malam saat ini sudah tidak segelap zamannya dan pertemananku tidak semengerikan yang ia kira, paling hanya beberapa orang yang merokok. Sambil merapihkan jaket jeans bekas almarhumah Mbak Fitri, dengan situasi rumah yang cukup menggajal hati untuk pergi, aku akan mencoba meyakinkan ibu untuk terakhir kalinya.

Mataku yang sayu dengan wajah yang setiap malam kemerahan ini meminta ibu untuk duduk di atas kasur depan lemari tempat aku merapihkan jaket.

buk, Putri udah sebesar ini, bisa jaga diri.”

Sunyi yang menjawab. Kedua mata kami saling bertemu, tidak ada jawaban dari ibu.

buk

Putri janji ga sampai jam dua belas sudah pulang”

Dengan terbatuk-batuk, entah karena usia atau karena sudah malam, ibu berdiri sambil menopangkan tangan kanannya pada bahuku dan mengambil syal biru tua temaram dengan renda-renda disetiap ujungnya. Kami berdiri berhadapan dan ia memakaikannya di leherku.

Tak banyak yang ia sampaikan, hanya petuah yang sama kunonya seperti syal ini. Bibirku masi datar dan mataku masi sayu, tidak banyak yang bisa aku ekspresikan. 

“Ini sudah larut malam nduk, sebenarnya pamali keluar malam-malam begini, apalagi kamu anak perempuan. Jaket sama syalnya jangan dilepas sampai pulang. Bajumu itu terlalu pendek, pamali.”

“Kalau naik motor pelan-pelan saja, apalagi kalau lewat jalan yang pohonnya besar-besar disana. Gelap, apalagi bunga-bunganya itu lagi mekar, takutnya ada yang tidak terlihat nanti ngikut kamu pulang.”

Dengan logat Kopeng, Jawa Tengah yang mendayu-dayu ibu kembali mengingatkan mengenai pamali. Hidupku di desa yang kuno ini memang tidak akan tenang apalagi tinggal dengan seorang ibu yang kuno. Tak banyak yang aku sampaikan pada ibu, rasanya hanya ingin segera pergi dan bertemu teman-temanku di pendopo seberang desa. 

Sambil menunggu dijemput Mas Arif, aku dan ibu duduk di lantai teras depan rumah. Mungkin karena lantai kami yang kotor, merasakan gatal-gatal sampai muncul ruam bukan hal yang besar, terlebih kini jam menunjukan pukul delapan malam. Kami terdiam, terlebih karena aku yang sempat teringat almarhumah Mbak Fitri. Kematiannya cukup ganjil dan orang desa kami mempercayai adanya penunggu pohon yang menempel padanya. Bahkan kepala desa kami berkata, penunggu ini marah dan mengambil Mbak Fitri dari kami, selamanya.

Bahkan mungkin penunggu itu masih ada dirumah kami. Setiap malam dan sebelum subuh, patokannya sampai ibu selesai solat subuh, kami pasti terbangun. Tertindih makhluk besar di dada dan terbangun sampai terbatuk-batuk. Terkadang makhluk ini bahkan sampai mencengkram kami atau melilit dada kami sampai tak ada udara yang bisa dihirup.

Assalamualaikum,”

Akhirnya Mas Arif datang. Hanya membayangkan semua ini saja cukup menyesakkan dan kami memutuskan untuk segera berangkat dengan moghe atau motor gedhe hitam yang knalpotnya saja bisa menghembuskan asap seperti kebakaran. Bukankah itu keren?

Melewati pohon-pohon besar dan aku mencium wangi-wangi bunga yang diperingatkan ibu tadi. Aku mulai merinding, hawanya jadi panas dingin, tidak karuan. Seperti yang pernah dialami ibu, aku, dan almarhumah Mbak Fitri. Tanganku mulai muncul kemerahan, gatal dan sedikit panas sampai kepunggung. Sedikit rasa sakit dan sesak dari dada sampai sakit kepala. Setidaknya aku masih bisa menahan.

Setelah sampai, ada Mas Fajar, Mas Saiful, Mas Ivan, dan Mbak Sela. Melihat mereka begitu akrab, bercanda, minum kopi, dan merokok bersama membuatku sedikit tenang karena mereka menyambutku dengan hangat.

Semakin malam, aku kira semakin mendingan karena sudah bercanda ria, tapi tawa diantara kami tidak mengubah keadaanku sama sekali. Aku benar-benar takut penunggu pohon mengikutiku sampai sini. Dalam hati aku membacakan ayat kursi dan banyak ber-istigfar.

Mungkin lebih tenang, tapi beberapa rasa sakit tidak kunjung hilang. Firasatku semakin memburuk.

drrrt…. ddrrrttt……

drrrt…… ddrrrrtttttt…

Telepon dari ibu yang pasti memintaku pulang. Memang hampir tengah malam, petang juga sudah lewat. Aku tidak ingin menjawab dulu, setidaknya aku pulang setelah Mas Arif menghabiskan puntung rokoknya yang terakhir.

drrrt…… ddrrrrtttttt…

Menyerah mengabaikan ibu, dan aku juga mulai tidak nyaman diantara asap rokok, aku beranjak ke luar sebentar.

“Asapnya astaga…, tolong stop dulu merokoknya aku mau bicara dengan ibu.,”

“Apa sih put hahahhaa”

Rasa panas dingin yang tidak mereda, emosi, dan gatal yang tidak kunjung membaik, sekarang asap-asap ini membuatku terbatuk-batuk tidak berhenti. Memutuskan keluar dari sini dengan alasan menjawab panggilan ibu sepertinya memang terbaik. 

bruk

Aku terjatuh. Entah kenapa yang tadinya sesak sekarang makin membuatku tidak bisa bernafas. Penunggu mana lagi yang marah pada keluarga kami sampai kami terkutuk seperti ini. Baru saja aku dapat kabar dari Pak Mardi, tetangga kami, ibu seperti kerasukan. Ia awalnya hanya batuk terus menerus, yang awalnya masih keluar dahak sekarang disertai darah. Yang lebih mengkhawatirkan adalah, ibu kesulitan bernafas. Banyak warga yang berasumsi munculnya suara penunggu yang marah, bunyinya nyaring.

Menyesal, sungguh. Berandai-andai seharusnya aku di rumah bersama ibu, mungkin aku dan ibu tidak akan mendapatkan kutukan Mbak Fitri.

Semakin dirasakan, semakin sakit, dan semuanya gelap

……

Tiba-tiba semuanya membaik, aku bangun dari tidurku yang terasa cukup lama. Entah yang mengerikan semua itu adalah mimpi atau bukan. Badanku terasa ringan. Langit-langit putih dan ruangan ini terasa asing. Banyak orang berlalu-lalang.

Ibu.

Aku bangun dan membabi buta mencari ibu. Banyak orang disini namun tidak satupun aku kenal dan tidak ada yang menyerupai ibu. Aku mulai lemas dan terjatuh.

Seseorang dengan pakaian serba biru dan jaket putih mendatangi aku. Bukan jaket rupanya, itu jas dokter. Ia meraih tanganku dan membantuku duduk di kursi hitam depan kamar tempatku bangun tadi. Dia menanyakan banyak hal dan aku hanya menjawab sebisaku karena aku masih pusing.

Setelah membuat semuanya jelas, ia menepuk pundakku, tersenyum.

“dek, saya dokter Eric yang menangani adek dan ibu adek sejak tadi malam. Adek tidak perlu kawatir ya, sekarang adek ada di puskesmas dan sudah mendapatkan penanganan. Tadi malam adek mengalami gejala-gejala asthma dek, pernah dengar?”

“tidak dok, saya dan ibu, dari desa memang kami sudah dikenal sebagai keluarga yang terkutuk. Ibu saya bagaimana ya dok?”

Wajahnya dan suaranya menenangkan, siapapun namanya tadi, ia membuatku lebih tenang. Kenapa orang takut dan sungkan ke puskesmas ya, dokternya dan perawatan disini saja sangat baik. Sebenarnya aku sedikit malu karena tidak tahu apa pun tentang penyakit, tapi dokter ini tidak menyudutkanku.

Setelah mendengarkan penjelasannya, aku semakin merasa terbuka. Ternyata selama ini yang kami sebut kutukan, ternyata adalah penyakit dan bisa diobati. Aku kira gatal dan ruam kemerahan itu wajar saja ketika kami sering duduk dilantai kotor, ternyata selain kotor, lantai dingin juga membuat seseorang mengalami alergi. Dimulai dari keluargaku yang alergi debu dan dingin, setiap kali bunga mekar dari pohon-pohon besar ternyata serbuk sarinya membuat kami semakin merasakan alerginya.

Kata dokter, lingkunganku dengan asap rokok yang banyak, aku sering pergi malam hari dengan baju pendek, dan naik motor mengebut, itu membuat angin dingin jadi memperparah alergi. Bahkan suara penunggu yang ditakuti tadi malam itu adalah suara batuk dari ibu, bunyinya seperti ngikkkkk…. ngikkk… penanda ibu sulit bernafas.

Masih banyak hal yang baru aku dapatkan dan aku berharap dengan pengetahuan baruku, warga desa tidak akan menyebut kami terkutuk oleh penunggu jin, terlebih karena selepas petang, banyak hal yang dapat memicu seseorang mendapatkan gejala-gejala penyakit, seperti aku dan asthma.

Loading

SELINGKUH

Karya: Rachmat Wardana ( Peserta Lomba Cerpen DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

Malam itu nyonya Atmaja sedang duduk di sofa ruang tamunya. Dengan secangkir kopi di tangan, dan dua gelas berisi bubuk kopi di meja. Dengan perasaan geram penuh kecemasan, nyonya Atmaja menyeruput dan menaruh secangkir kopinya ke meja.

Dengan mata yang selalu mengawasi jam dinding yang mendentangkan pukul sembilan malam, nyonya Atmaja menggigit jari-jari tangan kanannya dengan penuh kegemasan. Sedangkan, anak-anaknya yang berusia SMA dan SMP sudah berada di kamarnya masing-masing.

Nyonya Atmaja berdiri, mondar-mandir dengan kepala tertunduk, wajah cemas, dan jari-jari tangan kanan yang masih dihisapnya. Dan ia kembali duduk. Menyeruput kopinya kembali. Matanya terbuka, melotot serius, dan kembali hilang rasa kantuknya.

Ia lakukan hal itu berulang, menyuruput kopi, mengisap jari-jari tangan, berjalan mondar-mandir, dan kembali duduk.

Hingga nyonya Atmaja bosan memandang jam dinding dan melupakan waktu. Ia juga melupakan bahwa gelas-gelas kopinya telah kosong dan ia tak lagi menyeruput kopi. Dan terdengar suara mesin mobil berhenti di depan gerbang rumah. Nyonya Atmaja pun berjalan dan sedikit menyingkap gorden jendela. Dilihatnya mobil hitam besar yang berharga mahal.

Rasa cemas nyonya Atmaja akhirnya menurun dengan disertai rasa geram yang memuncak. Dibukakannya pintu rumah untuk menyambut seorang lelaki berusia empat puluh tahunan, yang tak lain adalah tuan Atmaja, suaminya.

Ditatapnya singkat wajah suaminya, dan diangkatnya tangan kanannya hingga mendarat dengan keras di wajah tuan Atmaja. “Akhirnya pulang juga kau lelaki bajingan!” geram nyonya Atmaja.

“Apa-apaan kamu! Suami pulang malah disambut dengan tamparan,” ucap kesal tuan Atmaja yang tak sengaja terdengar kedua anaknya yang SMA dan SMP yang ternyata belum tertidur.

“Sudah tidak perlu banyak bicara kamu! Langsung saja kamu akui kebejatan kamu!” 

Sontak anaknya nyonya Atmaja yang SMA menyuruh adiknya yang masih SMP untuk kembali ke kamarnya, “Kamu tidur sana, jangan dilihat. Itu masalah orang dewasa.” Tak mau berdebat dengan kakaknya, sang adik menuruti dan pergi ke kamar. Dengan tetap memerhatikan pertengkaran dari kamarnya di lantai atas.

“Apa? Apa? Gila kamu ini ya!” tunjuk tuan Atmaja kepada nyonya Atmaja.

“Jangan kamu kira saya tidak tahu!” ucap nyonya Atmaja sambil menunjuk-nunjuk wajah tuan atmaja. “Saya sudah tahu kebejatan tentang perselingkuhan kamu!” 

Tuan Atmaja membeku sedetik dan mengelak keras, “Perselingkuhan apa? Kamu jangan asal tuduh! Saya itu suami kamu dan ayah dari anak-anak kamu. Tidak akan saya selingkuh.”

Anaknya yang SMA diam-diam merekam dan menjadikannya status dengan emotikon sedih dalam statusnya di medsos. Sedangkan adiknya yang SMP, merekamnya dan menjadikannya status, “Anak gak tau adab! Ngebeberin masalah keluarga.”

“Tolol! Saya punya semua bukti tentang perselingkuhan kamu! Bukan cuma satu, tapi banyak foto dan video yang saya dapatkan ketika kamu disuapi dengan para selingkuhan kamu itu,” ucap nyonya Atmaja terengah-engah. “Dan saya sudah melaporkannya kepada KPK dan bersiap-siap saja kamu.”

“Masa bodoh! Kamu pasti berbohong. Mana mungkin seorang perempuan seperti kamu dapat melakukan itu,” penyataan tuan Atmaja yang meremehkan nyonya Atmaja.

Di lantai atas, anak mereka yang SMA mendapatkan panggilan telepon dari kekasih, ia merasa senang. Di lantai bawah, tuan dan nyonya Atmaja yang terkejut mendengar dering telepon itu terkejut dan menatap ke lantai atas. Pertengkaran mereka pun berhenti. Dan mereka bersama-sama masuk ke kamarnya yang kedap suara.

Masuk jam Sembilan pagi, sebagian orang sudah mulai beraktivitas, dan sebagian lagi bersiap-siap untuk beraktivitas. Dan tidak ada yang mempermasalahkan hal tersebut karena tiga orang dari Komisi Pemecatan Keluarga sudah mendatangi kediaman keluarga Atmaja, yang mana tuan Atmaja sedang bersiap-siap menuju balai kota tempatnya kerja.

Ketiga anggota KPK tersebut disambut oleh nyonya Atmaja, tidak dengan suami, ataupun kedua anaknya yang sudah berangkat sekolah sedari jam tujuh pagi.

“Selamat Pagi, nyonya! Benarkah ini rumah nyonya Atmaja yang kemarin sore hendak melaporkan masalah perselingkuhan?” tanya seorang anggota KPK muda dan berwajah cukup tampan yang membuat nyonya Atmaja tersipu senyum.

“Ya, saya yang telah melaporkan. Silakan tuan-tuan masuk,” ucap nyonya Atmaja mempersilakan ketiga orang tersebut masuk.

Tuan Atmaja masih melanjutkan sarapannya, dengan celana pendek dan kaus oblong, ia makan sendirian di meja makan. Sedangkan, istrinya, bersama tiga anggota KPK.

“Nyonya Atmaja, boleh kami melihat bukti yang hendak nyonya berikan?” pinta seorang anggota KPK yang bertubuh rada kurus, tetapi masih cukup tampan.

“Ya, saya akan berikan. Dan sampai sekarang masih ada di ponsel saya,” jawab nyonya Atmaja sambil memberikan ponselnya.

“Boleh tolong dibuka sandi layarnya, nyonya?”

“Oh, iya, maaf.”

“Apa hanya berupa foto-foto saja, nyonya?” tanya seorang anggota KPK yang cukup tua.

“Bentuk video ada, tetapi silakan dibuka yang foto-foto terlebih dahulu.”

Ketiga anggota KPK tersebut pun melihat-lihat foto-foto yang diberikan oleh nyonya Atmaja dengan ponsel dipegang oleh anggota yang tua. Seperti yang dilaporkan oleh nyonya Atmaja, mereka melihat foto tuan Atmaja yang sedang disuapi oleh orang lain. Satu-persatu foto mereka lihat, tuan Atmaja yang disuapi oleh berbagai orang dengan seragam yang berbeda. Bahkan, ada seorang yang mengenakan seragam batik menyuapinya.

Setelah selesai dengan semua foto-foto yang diberikan, akhirnya anggota yang tertua meminta video, “Bisa kita lanjut dengan videonya, nyonya?” dan ia menatap kepada anggota muda dan cukup tampan.

“Foto ini asli. Dan orang yang disuapi adalah benar Walikota Ini,” ucap anggota yang muda dan cukup tampan diam-diam menganalisis, yang ternyata adalah ahli IT.

“Ini, saya memiliki lima video dia sedang disuapi dan satu video dia sedang membawa daging,” ujar nyonya Atmaja sambil kembali memberikan ponselnya kepada anggota yang tua.

Mereka pun memutar video pertama, cukup lama mereka menonton, hingga akhirnya mereka melihat adegan Walikota Ini sedang disuapi, “Ah, ya. Banyak sekali yang ia makan. Apa perutnya muat memakan semua itu?” dan ketiga anggota KPK tertawa mendengar ucapannya yang ternyata adalah kelakar yang membuat nyonya Atmaja terdiam, bingung, tak mengerti apanya yang lucu.

Mereka menyelesaikan video pertama dengan akhir adegan bahwa tuan Atmaja berhasil memakan semua uang yang disuapi langsung ke mulutnya. Ketiga anggota KPK hanya menelan ludah melihat rekaman Walikota ini yang rakus karena dapat menghabiskan seluruh uang itu dalam waktu singkat.

“Video ini asli. Dan orang yang disuapi adalah benar Walikota Ini,” pernyataan anggota yang muda dan cukup tampan.

Mereka melanjutkan menonton video yang dijadikan bukti. “Video ini asli. Dan orang yang disuapi adalah benar Walikota Ini,” pernyataan yang terus diberikan oleh anggota yang muda dan cukup tampan pada setiap video yang mereka putar.

Dan pada video terakhir, “Video ini asli. Dan daging yang dibawa Walikota Ini sangat segar,” pernyataan yang membuat ketiga anggota KPK terbahak-bahak.

Seluruh bukti sudah diputar, dalam denting jam yang menunjukkan pukul setengah sebelas siang, nyonya Atmaja merasa geregetan akan hasil bukti dan laporan yang ia berikan.

“Baik nyonya, kami nyatakan bukti ini otentik dan kami butuh salinannya. Dan kami akan segera menuntaskan perselingkuhan suami nyonya terhadap orang-orang yang telah menyuapinya,” ujar anggota KPK yang tua. “Dan tolong buat laporannya,” pinta anggota yang tua kepada anggota yang rada kurus.

Dan tuan Atmaja yang hendak keluar rumah yang harus melewati ruang tamu terkejut melihat ada tiga orang tamu yang tidak ia tahu kedatangannya karena ia sibuk menghabiskan roti lapis uang sebanyak satu koper dan sibuk berlama-lama di kamar mandi yang jaraknya cukup jauh dengan ruang tamu. Dan sebenarnya ia terkejut atas seragam yang para tamunya gunakan dengan bertuliskan Komisi Pemecatan Keluarga. Kini ia menyadari bahwa istrinya tidak sekedar menggertak karena cemburu. 

Ketiga anggota KPK tersebut pun berdiri, memberikan hormat kepada Walikota Ini. “Selamat Siang, Bapak Walikota. Saya sarankan anda untuk tidak perlu lagi pergi ke Balai Kota. Hehe,” ledek anggota KPK yang tua.

“Apa maksud anda ini?” tanya tuan Atmaja.

“Ya, mau bagaimana pun, Bapak tidak akan mampu mengelak atas perselingkuhan Bapak, dan ini akan menjadi skandal perselingkuhan yang besar,” gertak anggota yang tua.

“Perselingkuhan apa! Jangan asal tuduh kalian!” bentak tuan Atmaja.

“He, bukankah nikmat ketika anda disuapi, mengunyah, dan menelan uang dari mereka-mereka itu?”

“Ya, memang nikmat. Dan perlu kalian ketahui,” tangan tuan Atmaja menunjuk-nunjuk, “yang saya lakukan adalah sebuah kewajiban yang berat yang sulit dilakukan oleh orang lain. Saya telah menyelamatkan harta masyarakat. Saya sudah mencegah para karyawan ataupun pegawai pemerintahan untuk menghamburkannya. Dengan saya memakannya, tentu tidak akan ada lagi penyelewengan dana. Dan tingkat korupsi akan berkurang.”

“Oh, begitu rupanya. Selamat kalau begitu Bapak telah menjadi seorang Walikota yang baik yang telah menyelamatkan harta masyarakat. Akan tetapi, istri Bapak telah cemburu melihat Bapak terus disuapini oleh banyak orang. Tentulah, kami sangat bersimpati dengannya. Padahal Bapak bisa memakannya sendiri tanpa perlu disuapi. Dan kami akan memproses pemecatan Bapak dari keluarga Ini.”

Tuan Atmaja hanya terdiam, menatap anggota KPK yang tua. Dan kemudian menatap ketiga anggota KPK yang berlalu pergi. Sedangkan, nyonya Atmaja menarik napas panjang, dengan kedua tangan di belakang punggung, dan menatap sinis tuan Atmaja dengan sepotong uang seratus ribu di bawah bibir. 

Loading

SANDAL YANG HILANG

Karya: A Muh Wahyu Zainuddin (Peserta Lomba Cerpen DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

Pada  suatu  malam,  aku  dan teman –teman  berkumpul  di sebuah  masjid  untuk  mempelajari pelajaran  yang  akan  di pelajari  besok  nanti. Di  samping  itu  aku  dan  teman-temanku bercanda  gurau dan  bercerita  tentang  pengalaman mereka saat liburan  bersama keluarganya.

   Waktu demi berjalan , tiba-tiba  ada  sesuatu  yang mengganjal dalam diri kami. Yah,siapa lagi kalau bukan kiyai kami yang  menyuruh semua santrinya  untuk berkumpul di masjid , jikalau ada suatu masalah atau hal-hal yang penting, biasanya pak kiyai menyuruh kami untuk  berkumpul di masjid.

Sesampainya pak kiyai di masjid dan duduk di kursinya, pak kiyai memberitahu suatu masalah di depan kami semua beliau berkata’’ Ada santri yang kehilanagn sandal, siapa yang memakai l sandal teman kalian?’’   beliau  bertanya  kepada kami semua  namun tidak ada yang  mau menjawabnya, kemudian beliau bertanya lagi” adakah di antara kalian yang  memakai   sandal temannya?’’ dan  tidak ada pun di anatara kami yang menjawabnya.

 

Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan dari pak kyai seolah-olah pak kyai berbicara di ruangan yang sunyi tanpa ada seseklai pun suara di dalamnya. Lalu kyai kami memukul meja dengan  hentakan keras dan bertanaya kerepada santri dengan nada yang sangat keras hingga suaranya terdengar  satu pesantren.Beliau berkata ‘’ saya tanya sekali lagi, kalau ada santri yang tidak jujur dan tidak menjawab, semua santri tidak boleh keluar dari masjid dan semua santri mengaji sambil berdiri sampai ada teman kalian yang mengaku’’ ujar kyai kami.

Dan kami para santri  mengambil air wudhu,pakaian sholat, dan al-qur’an kami untuk  persiapan mengaji di masjid. Sesampai di masjid kami para santri mengaji tepat di depan kyai kami dan kyai kami duduk di depan kami  dengan keadaan kepala tertunduk  dan mulut bergerak atau dengan kata lain beliau sedang berzikir.

Waktu demi waktu telah berjalan,  tepat pada pukul 02.00 malam WITA ( Waktu Indonesia Tengah)  tak ada satupun santri yang mengaku kepada kyai kami,kami semua tetap mengaji, ada kelakuan kamiyang unik di saat mengaji yang biasanya tidak terjadi,ada yang bercerita,tertidur sambil berdidri  dan terjatuh ,ada juga teman kami yang mengangkat kakinya agar tida ketiduran pada saat mengaj,dll.

Dan  pada akhirnya tepat pukul 02.45 kyai kami akhirnya menyuruh kami duduk dan berhenti mengaji,di saat itupun kyai kami memberikan  nasehat kepada kami  beliau berkata” Salah satu terhalangnya ilmu pengetahun adalah mengambil yang bukan haknya,maka agar ilmu pengetahuan itu bisa kita peroleh dan masuk dalam otak kita maka jangan pernah sesekali mengambil barang yang bukan haknya’’ kata kyai kami kepada para santrinya. Dan akhirnya kyai kami menyuruh kami keluar dari masjid dan  kamipun tertidur pulas karena kami menjalani hukuman pak kyai.  

Loading

SEPOTONG RINDU MENJUNTAI DOA

Karya: Resza Mustafa (Peserta Lomba Cerpen DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

Kapan lagi bisa mengaji dengan tenang, tanpa harus menghabiskan banyak uang buat beli bensin juga khawatir ban motor bocor. Cukup dengan mendengarkan secara gratis. Entah itu di kamar, maupun di teras, kini aku bisa memilih sesuka hati mana Kiai yang sedang ingin kusowani dan kitab yang maksud hati mau kupelajari.

“Bapak, ini teh hangat. Sama beberapa gorengan, Rasya taruh di di meja depan televisi ya!” seru anak gadisku, Rasya. Memberi tahu bahwa ada cemilan yang dapat kusantap sembari mengaji. 

Tidak mahal, sama sekali tidak! Beberapa waktu lalu, aku mendapat keberuntungan karena ada keponakan yang merasa; ponselnya sudah tidak lagi terpakai. Lalu, dia menilai sepertinya aku sosok yang pantas ditipi ponsel tersebut.

Beberapa hal yang kutahu, ponsel perlu diisi pulsa. Namun ada beberapa yang baru kutahu, setelah keponakan bilang bahwa di dalamnya juga terdapat radio. Radio! Ya, dan itu bisa difungsikan secara cuma-cuma, tanpa mengurus pulsa. 

“Ya Allah, sepenuh syukur kucecap secangkir teh hangat. Semoga hilang rasa kantuk dan malas demi tekad menuju ke jalan cahaya,” lirihku.

Aku bukan pemalas, dan orang tuaku dulu senantiasa mengajarkan giat semangat, serta kerja keras. Dalam hal apapun, termasuk mengaji dan membaca kitab. Malas tentu bukan pilihan bagi muslim yang baik. Kuambil buku tulis dan pena, di dekat cemilan.

Bersicepat kembali menuju teras. Kuambil ponsel dari saku, kemudian kuaktifkan. Aku melihat gambar di salah satu ruang layar, dengan tulisan di bawahnya, Saluran Radio. Kemudian kupencet. Tidak lupa, kutancapkan kabel alat pendengar, agar aplikasi dapat menangkap sinyal.

Segera sore nanti diputar siaran mengaji. Mengulas salah satu bab dari Minhajul Abidin, karangan Imam Al Ghazali. Siapapun Kiai yang membacakan, bagiku tidak masalah, utamanya adalah semua materi disampaikan lengkap dan terperinci.

Sore tiba, kali ini ulasan kitab disampaikan oleh Drs. Kiai Ahmad dari Tremas, Pacitan. Beliau membahas tentang beberapa jenis orang yang sebenarnya tertipu di dunia. Menurut terjemahan makna, ada empat jenis orang dan sepanjang hidup dia telah tertipu oleh urusan duniawi, hingga ridha Allah menjauhi mereka. Yaitu, ahli ilmu, ahli tasawuf, ahli amal, dan orang kaya raya.

Kiai Ahmad secara lebih rinci, menjelaskan tentang golongan orang kaya raya yang sepanjang hidup dia tertipu akibat urusan duniawinya. “Jenis awal itu, mereka semangat sekali ketika membangun masjid, sekolah, pondok, dan gedung dengan niat hanya untuk pamer,” jelas kudengar.

Aku pun mulai memperbaiki posisi duduk, agar ruang gerakku jadi lebih nyaman. “Ada dua alur yang membuat tertipu,” lanjut Kiai Ahmad, suaranya terdengar sedikit serak.

“Alur kesalahan pertama, mereka mencari dana pembangunan dengan cara dzolim. Semisal merampok, menyuap, alias hasil perbuatan haram. Andai bila ingin diampuni Allah, diwajibkan bagi mereka bertaubat dan dana dikembalikan ke yang memiliki hak,”

“Bila yang berhak menerima harta pengembalian sudah meninggal, bisa diganti dengan ahli waris atau bila ahli waris juga telah meninggal bisa digunakan sesuai kemaslahatan yang bisa dimanfaatkan lewat dana pengembalian. Bisa juga, diberikan ke masyarakat fakir miskin,” runtut, satu jalur dijelaskan. Kiai Ahmad mengurai dari kitab berbahasa Arab, kemudian diterjemahkan ke makna berbahasa Jawa.

Tuturan-tuturan Kiai Ahmad terus berlanjut. Siaran radio satu ini benar-benar sayang apabila dilewatkan. Sambil memejamkan mata, aku menambah daya konsentrasi. Sesekali mencatat bagian terpenting yang dijelaskan, atau katakanlah, beberapa yang sulit kuingat.

“Jalur kedua. Mengira hal itu sebagai tanda ikhlas, ketika nama mereka dicatat sebagai penyumbang, kemudian mereka meminta agar tidak perlu dicatat agar dikira iklas. Namun ketika namanya dicatat, dia justru merasa diremehkan,”

“Kemudian ada juga, mereka menyumbang dengan aturan namanya dicatat agar dilihat besaran sumbangannya. Padahal mau dicatat atau tidak, Allah tetap melihat dan mengetahui segala sesuatu,” sampai tiba-tiba.

“Radio Citra, akan segera kembali. Pendengar setia tetap di saluran ini ya, selamat sore,” benar saja, waktu pariwara tiba, dan memotong penjelasan Kiai Ahmad.

Aku membuka alat pendengar. Suara hembusan angin, mengubah suasana yang sebelumnya terdengar meriah karena suara radio, menjadi agak sepi.

“Pak! Rasya berangkat ke surau dulu,” dia menemuiku di teras.

Aku menoleh. Melihat Rasya sudah bersiap. “Oh iya, hati-hati ya. Bapak belum bisa ngantar, temenmu mana? Belum sampai ke sini,”

“Udah nunggu, itu di gang deket pos ronda,” jawab Rasya. Sekalian dia pamit, salim. Bergegas, dan tidak lupa mengucap salam.

“Ya, Allah. Terima kasih. Keihklasan Rasya adalah salah satu anugerah terindah dalam hidup Hamba,” Tuhan benar-benar Maha Pengasih, batinku. Melihat Rasya, berjalan semakin jauh dari pandangan.

Doa, bagiku bahasa terbaik yang pernah muncul di dunia ini. Kamus istimewanya, dinamai iman. Sedang perilaku paling manusiawi, tentu saja berahlak mulia.

Lantas kuambil lagi alat pendengar. Penjelasan Kiai Ahmad belum usai. Pasti akan sangat menarik.

“Mari kita lanjutkan tentang pembahasan alur kesalahan kedua,” Kiai Ahmad mengawali kembali. Tanpa mukadimah dan langsung ke arah penjelasan.

“Yaitu, mereka sudah berusaha mencari dana halal, tapi luput dalam beberapa hal. Dari sini, dibagi lagi menjadi dua jalur,”

“Pertama! Salah prioritas. Alias masih adanya unsur pamer, dan mencari pengalem. Contoh, tetangganya masih banyak yang kelaparan, tapi mereka masih semangat membangun masjid, dan lain-lain, supaya namanya diingat. Akhirnya jadi makruh. Padahal sebenarnya lebih utama harta tersebut disedekahkan ke tetangga fakir miskin, dengan niat yang benar-benar ikhlas,” 

“Kedua! Masjid dihias menggunakan ukir-ukiran indah. Padahal hal demikian kurang baik karena mengganggu kekhusyuan dan ketenangan hati mushallin (orang-orang yang salat). Akibatnya, pahala mushallin berkurang. Dikira menghias masjid perbuatan baik, padahal hanya membuahkan ketidakridhaan Allah karena fokusnya dari awal mencintai urusan dunia,” demikian kajian Kiai Ahmad selama satu sore penuh. Beliau mengakhiri ulasan Minhajul Abidin dengan doa-doa yang ikut serta kuamini dalam hati.

Sayup-sayup terdengar azan magrib dari surau tempat Rasya mengaji. Aku masuk ke rumah membawa semua perlengkapan di teras. Duduk di ruang tamu, aku mendongakkan pandangan. Kulihat foto Najwa, sepotong rindu membuncah di dada.

Aku masih ingat, saat aku dan dia saling duduk bermesraan menatap senja. Menyukai ilalang yang diterpa angin, menyeru ungkapan cinta.

Alangkah cantik dia, yang selalu kudoakan dalam setiap salat dan untaian tasbih. Kekasihku Najwa, akan kujaga selalu Rasya dan membuatmu bangga. Semoga kelak kita bertemu di surga.

Loading

SEWA RUMAH DIBAYAR KEPINGAN PEMAHAMAN

Karya: I Putu Heri Ramanda (Peserta Lomba Cerpen DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)

Di sebuah desa yang terletak di pinggiran kota besar, ada seorang saudagar telur yang kaya. Ia bernama Morento. Ia sering dipanggil Bos More oleh orang-orang sekitarnya. Suatu hari, usaha telurnya bangkrut. Ia kesulitan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan istri dan seorang anaknya yang masih kecil. Istrinya sering memarahinya untuk mencari nafkah. Sedangkan, istrinya sendiri hanya ibu rumah tangga yang enggan bekerja. Begitu juga ia yang gengsi untuk mencari pekerjaan. “Masak saya dulu seorang bos kini malah harus mencari pekerjaan yang turun kelas sih,” ujarnya. Setelah berpikir lama, ia mempunyai ide untuk menggunakan sisa tabungannya untuk membangun rumah. Lalu, ia bergegas membangun dua rumah yang unik di ladang warisan ayahnya. Kemudian, ia menyewakan rumahnya tersebut. 

 

Singkat cerita, rumahnya pun laku. Setelah beberapa bulan kemudian, penyewa rumah yang kedua pindah. Ia pun kebingungan dan mencari penyewa baru untuk rumah yang kedua. Selang beberapa hari, ada seorang pria bersama seorang istrinya dan dua anaknya yang masih kecil menyewa rumahnya. Ia pun merasa lega. 

 

Pada bulan pertama hingga ketiga, penyewa rumah yang kedua tersebut membayar lunas biaya sewa rumahnya. Namun, pada bulan yang keempat penyewa tersebut tidak melunasi karena masalah ekonominya. Morento memahami dan memberikan kelonggaran pada penyewa rumah yang kedua tersebut. Setelah satu bulan selanjutnya, penyewa tersebut tidak membayar sewa rumahnya. Morento kembali memberikan kelonggaran. Tetapi, hal itu terus berlangsung hingga empat bulan selanjutnya. Morento akhirnya kehilangan kesabarannya dan berbicara tegas pada penyewa rumah tersebut. Penyewa rumah terus mengulangi alasannya karena masalah ekonominya. Tanpa basa-basi Morento langsung menyuruh pergi penyewa rumah tersebut karena ia merasa sangat dirugikan. “Tuan saya mohon jangan usir saya dengan keluarga saya, apalagi saya sedang hamil besar,” ujar istri penyewa rumah tersebut sambil menangis. Hal ini membuat Morento diam sejenak dan berkata dalam benaknya, “Saya sebenarnya tidak tega mengusir kalian, tapi kalau saya tidak mengusir kalian, saya pasti rugi besar. Saya hanya mengandalkan hidup saya dan keluarga saya dari hasil sewa rumah ini. Belum lagi modal pembangunan rumah ini belum kembali.” Lalu Morento berkata dengan tegas, “Keputusan saya sudah bulat. Cepat bereskan barang-barang kalian dan pergi dari sini!” Istri penyewa rumah kembali berteriak memohon dengan lebih keras. Beberapa warga yang melihat hal tersebut langsung mendekati mereka. “Morento, Kau sungguh manusia yang kejam, tega mengusir seorang ibu hamil,” ujar salah satu warga. “Justru yang kejam itu mereka yang tidak memahami kesabaran seseorang,” jawab Morento sambil tersenyum. Perlawanan kata-kata semakin keras hingga mengundang perhatian warga yang lainnya. Secara kebetulan, kepala desa lewat di sana setelah acara rapat desa. Kepala desa menanyakan hal yang terjadi. Pihak penyewa rumah dan Morento menjelaskan. Setelah mendengar penjelasan dari kedua belah pihak, kepala desa langsung mendekati dan menepuk bahu sebelah kiri Morento. Kepala desa berkata, “Morento, tindakan yang Kau ambil sungguh tidak adil. Kau terlalu egois dan tidak mampu memahami penderitaan mereka. Apa yang akan Kau rasakan bila Kau menjadi mereka ? Engkau sungguh tidak beradab dan tidak paham tentang perikemanusiaan.” Lalu Morento menyahut sambil tersenyum, “Maaf, apakah tugas kepala desa itu berceramah?” Mendengar langsung kata-kata Morento tersebut, kepala desa menjadi emosi. “Hati-hati dengan perkataanmu! Saya bisa saja bersama warga yang lain mengusirmu dari desa ini.” “Setuju!” sahut para warga. Morento dengan tenang menjawab, “Baiklah, sebelum saya diusir dari desa ini, adakah yang bisa menjawab dan memberi contoh secara langsung tentang pengertian manusia yang adil dan beradab tersebut?” Semua warga terdiam dan beberapa melototi Morento. Tiba-tiba datang seorang saudagar kue yang kaya dan ia berkata, “Wahai Bapak penyewa rumah, dimana Kau bekerja dan berapa gajimu per bulan?” Sang penyewa rumah menjawab, “Saya bekerja sebagai seorang buruh pakan ternak. Dulu, gaji saya dua juta sebulan. Tapi, tempat saya bekerja kini terancam bangkrut. Kini, gaji saya sebulan hanya mencapai satu juta rupiah. Gaji saya itu hanya bisa untuk biaya kebutuhan saya bersama istri dan anak-anak saya. Istri saya sedang hamil besar dan tidak bisa bekerja juga.” Tanpa basa-basi saudagar kue yang kaya tersebut bertanya, “Berapa harga sewa rumah?” Penyewa rumah menjawab, “Tujuh ratus ribu rupiah per bulan.” “Di tempat saya, rata-rata gaji buruh pembuat kue mencapai dua setengah juta per bulan. Apakah saudara berminat bekerja di tempat saya?” ujar saudagar kue yang kaya. “Mau banget Pak,” ujar penyewa rumah dengan ekspresi senang. “Morento, untuk utang pembayaran sewa rumah bapak tersebut saya lunaskan,” ujar saudagar kue tersebut. “Oke Bos besar,” sahut Morento. “Terimakasih banyak Pak. Jika Bapak berkenan, bolehkah saya cicil dikit demi sedikit utang saya ke bapak dengan pemotongan sedikit gaji saya nanti?” tanya sang penyewa rumah. Saudagar kue tersebut menjawab, “Sama-sama. Tentu saja boleh. Tapi, ingat saudara harus disiplin membayar sewa rumah untuk bulan-bulan selanjutnya.” “Tentu saja Pak,” jawab penyewa rumah. Setelah itu, berdamailah Morento dengan si penyewa rumah tersebut. Semua warga kembali pulang dan melakukan aktivitas mereka masing-masing. Begitu pula kepala desa yang tidak jadi mengambil keputusan untuk mengusir Morento dari desa karena semua masalah telah diselesaikan dengan baik oleh saudagar kue yang kaya tersebut.

Loading

ANAK BAWANG BAIK DIPECAT BATIN

Karya: Siis Karisma (Peserta Lomba Cerpen DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

Tak disangka, anak seorang petani karet yang dulunya bekerja serabutan menggali tanah kuburan sudah menjadi lulusan S2 Universitas Ternama di kota. Ali, anaknya bapak Slamet. Ingat betul, si Ali ini sangat suka membeli nasi uduk bermodal uang dua ribu rupiah saja karena bapaknya sedang kesulitan uang. Karet hasil panennya sering dicuri. Tapi itu dulu, sekarang setelah lulusan S2 ia sudah menjadi anggota DPR RI. Gajinya lebih dari cukup untuk membelikan bapaknya Slamet dan Ibu Tirinya Inem rumah beserta isinya ditambah mobil putih yang sekarang digunakan untuk belanja solar dan dijual di depan rumahnya. Butuh waktu lima tahun bagi Ali untuk bisa membelikan itu semua.

Hari semakin larut, rumah lebar bercat kuning keemasan itu mulai mematikan lampunya.  Ali, yang masih tinggal bersama kedua orang tuanya sedang bingung membaca agenda terbaru dari teman se-DPRnya. Dua hari lagi ia akan kembali ke kota untuk mengikuti rapat yang menurut tema tertera, membahas RUU KHUP terbaru. Ali bukan kali pertama mengikuti ini, namun yang membuat bingung kenapa diubah terus dan Ali itu muak bertemu Bu Jaja. Yakin betul di benak Ali, jika Bu jaja membenci dia. Bahkan Bu Jaja menyebutnya anak bawang. Ali tertawa terbahak-bahak mendengar anak bawang, sebutan dari Bu Jaja untuknya. Anak bawang dari mananya. Bapaknya petani karet, bukan bawang.

Siang itu, pukul 10.00 pagi, semua sudah berkumpul.  Ini tepat di hari ke dua sesuai undangan dari teman se-DPRnya mengadakan rapat. Ali membaca serius perbab, perayat dann perhuruf. Keningnya mulai berkerut, ada banyak kesalahan dalam penulisan ejaan, tanda baca bahkan salah ketik di dalam RUU yang dibagikan barusan. Di benak Ali timbul tanda tanya, “Apakah ini baru diketik semalam? Seperti buru-buru. Ah, mungkin yang mengetik kebelet tidur atau dia hanya sempat mengcopy dari orang lain?” Ali tertawa sendiri dengan ucapan-ucapan yang timbul di benaknya. Ada-ada saja.

Bu Jaja. Sebagai ketua DPR sudah memulai rapat dari tadi. Namun semua sudah mulai ribut sana-sini. Bukan karena tak menghargai Bu Jaja, tapi karena beberapa mic tidak bisa dinyalakan. Padahal sewaktu rapat lima hari lalu masih baik-baik saja. Bahkan yang anehnya lagi, suara Bu Jaja bisa didengar sampai luar kantor sidang sangking besarnya. Seperti suara di bioskop. Ada banyak RUU yang sudah disebutkan oleh Bu Jaja dan perubahan-perubahan yang ada. Entah siapa yang mngubahnya, karena Ali sendiri tidak tahu. Ali menengok ke sebelahnya, ada Bu Lili. 

“Bu, kok RUUnya makin aneh” Ucap Ali.

Lili yang tadinya merapikan jilbab di depan kaca sedang yang sengaja di bawanya itu hanya menggeleng singkat, “Saya bahkan tidak mendengarkan. Saya tidak mengerti,  saya akan setuju saja. saya belum belajar semalam, mau mengejar kuliah S1.”

Ali terkejut bukan main “Ibu tamatan SMA?”

Lili menggangguk.

Ali manggut-manggut saja. Karena bukan itu pembahasan yang ingin diperdebatkan oleh Ali. Ali menoleh ke kanan, ada Pak Tano. Ingin rasanya ia menyekal bahu Pak Tono sedikit untuk memberi tahu kalau ilernya sudah sampai bahu. Ali mendehem pelan, bisa-bisanya mereka tidur padahal baru jam 10 pagi. Ali berkata pada benaknya, semoga di belakang orang yang dikenalnya. Menolehlah Ali ke belakang, dan ya dia mengenalnya. Hanya saja hanya ada nama yang tertra di meja tanpa orang. Orangnya tidak ada. Entah ke mana. Kemudian Ali menatap seseorang di depannya. Jasmin, teman sebayanya karena seumuran. Ali memanggil Jasmin pelan. 

“Min, saya mau…”

Jasmin menoleh dengan marah, matanya melotot kesal “Kamu diam saja. Saya lagi merekam, pasti nanti ada kejadian besar dan bisa viral”

Ali kaget mendengar penuturan Jasmin, pertanyaan di benaknya muncul. “Apakah Jasmin seorang cenayang?”

Ali hanya bisa pasrah, akhirnya ia berdebat dengan benaknya lagi. tak ada yang bisa di ajak berdebat. Bu Jaja hampir menyelesaikan RUU yang dibacanya. Semua DPR lain tampak tenang-tenang saja. Sedangkan Ali, yang sudah risau. Gerakanya ke sana dan ke mari ingin segera memberikan argumen. Bu Jaja menaruh kertas contekan untuk membacakan hasil RUU, lalu menatap audiens.

“Apa ada yang ingin berpendapat?”

Hening

“Akhirnya giliran saya” Benak Ali

“Saya Bu”

Bu Jaja menatapnya dingin, “Ada yang lain?”

Hening

“Saya Bu” Kata Ali sambil tersenyum.

Bu Jaja masih memasang muka es bercampur asam jawa, “Yang lain ada tidak yang ingin berpendapat?”

Hening

“Apa yang ingin kau katakan anak bawang!” Ucap Bu Jaja kesal.

Ali membenarkan dasinya, sambil  menatap tman se-DPRnya yang lain sambil tersenyum.

“Terima kasih atas kesempatannya. Izin senior. Saya ingin menyampaikan sanggahan terhadap RUU KHUP bahwa hukuman koruptor ini Bu. Permasalahannya karena hukumannya lebih rendah dibanding  UU Tipikor.”

BRAKKKKKK

“Bisa tidak kamu diam saja, kepala saya sudah pusing. Itu saja hukumannya sudah berat”

Ali terkejut dengan hentakan Bu Jaja, lebih terkejutnya lagi dengan kata “Itu saja hukumannya sudah berat.” Batin ali untuk kesekian kalinya berkata “Bu Jaja seperti terpaksa membuat perubahan di hukuman ini. berarti ada kemungkinan di ringakan lagi. apa ada saudaranya yang jadi koruptor ya?” 

Ali menatap Jasmin kesal, kamera gawainya menampilkan sinar yang terang sehinggal menyilaukan matanya. Tapi tetap, ia ingin membahas ini walau Jasmin sedari tadi merekamnya. “Tapi Bu. Ini terlalu ringan. Bagaimana jika kita membuat rancangan hukuman mati bagi terpidana koruptor. Atau bisa potong tangan saja , Bu. Atau a….”

Ali menatap mic-nya yang tiba-tiba mati.  Mengetuknya berapa kali, namun nihil. Tetap mati. Ia menatap mic Bu Lili. Lili menggeleng karena micnya juga mati sedari ia datang. Ali lalu menatap mic audien lain, semuanya berlampu hijau kecuali ia dan Lili yang berada disebalahnya.  

Sambil menarik kerah dan membuka kancing bajunya, Ali menatap kesal Bu Jaja yang saat ini malah tertawa cekikikan dengan Bu Mayang. 

“Ibu, ini kenapa mic saya dimatikan. Kan saya belum selesai bicara. Ibu tolong hargai sesama manusia. Apa Ibu bukan manusia?”

Hening

Bu Jaja masih mengobrol dengan Bu Mayang tanpa menghiraukan sorakan suara Ali. Teman se-DPRnya beberapa menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Jasmin masih merekam sedari tadi tanpa goyang. Sepertinya otot tangan Jasmin terlatih.

“IBU JAJA, TOLONG YA MIC SA…” Belum selesai Ali melanjutkan kata-katanya. Ia tiba-tiba ditarik oleh dua satpam. Badannya lebih kecil dari badan Ali. Namun yang membuatnya terkejut adalah kata-kata penghantarnya 

“Anda sudah melanggar aturan tenang saat rapat, ada dikeluarkan dari rapat sekarang. Silakan ikuti kami” Ujar satpam dengan tahi lalat di hidung.

Ali mengerutkan dahinya, “Saya melanggar dari mana ya. Saya kan…”

Tiba-tiba saja satpam dengan kumis sebelah kanan tebal dan bagian kirinya botak menyumpal mulut Ali dengan tangannya. Ali bisa mencium aroma sambal terasi dari tangan yang menyumpalnya. Kemudian, Ali hanya mengikuti arahan karena mulai mabuk aroma terasi dari tangan satpam. Saat sudah di pintu keluar, Ali mendengar ucapan yang membuatnya tertohok kesal.

“Baiklah, karena semuanya sudah setuju. RUU ini kita sahkan ya” 

Prok prok prok, tepuk tangan membahana di dalam ruang rapat. Ali menatap ngeri teman se-DPRnya. 

“Bapak Ali diam saja, besok bakal ada mahasiswa yang demo. Nanti baru diubah tu RUU” Ujar satpam yang menyupal mulutnya.

Ali segera mengambil napas banyak-banyak untuk mengeluarkan aroma terasi dari penciumannya.

“Kok gitu?”

“Iyalah,  nanti viral. Tu rekaman mba Jasmin pasti di sebarkan. Tunggu saja”

Ali manggut-manggut saja. Ia sangat mendukung jika Mahasiswa berdemo. Biar kapok Bu Jaja dan teman se-DPR lainnya.

“Tapi bapak dipecat ya?”

Ali kaget, “Kamu tahu dari mana saya dipecat?”

Satpam dengan tahi lalat di hidung itupun tersenyum kaku “Oh belum saja ternyata”

Ali hampir saja ingin memberikan bogeman keras ke pipi kanan satpam itu, namun ia urungkan karena mendengar panggilan dari Bi Nina.

“Den, dipanggil Ketua di kantornya. Siapin obat tetes mata ya den. Biar disangka nangis dan diampuni deh.”

Ali yang semakin pusing mendengar penuturan Bi Nina hanya merespon senyum gagu seprti orang lupa ingatan.

“Menyesal menjadi DPR, kukira enak ternyata ladang dosa. Gaya sosialita padahal gaji biasa saja. Heran kok mereka bisa liburan jelajah negara tiap bulan sedang saya hanya bisa menikati bioskop di kota” Batin Ali sambil berjalan mengarah ke parkiran. Ia meninggalkan ruang sidang dan juga meninggalkan kartu anggota DPRnya.

Batinnya berkata kembali, “Bagaimana Indonesia bisa maju kalau perwakilannya saja tidak maju. Tidak mementingkan rakyat tapi lebih penting uang dan kelas sosial. Peraturan dianggap wejengan semata tanpa ingin dipatuhi bahkan tak mengenal efek jera. Sanggahan dan masukan hanya formalitas untuk keputusan yang tidak bisa diganggu gugat.

“Saya memecat saya” Ucap batin Ali.

“Mending jadi pengusaha saja deh, gajinya gede hahaha”

Loading

SEANDAINYA VS KENYATAAN

Karya: Malisa Ladini (Peserta Lomba Cerpen DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)

Ada sebuah negara bernama “Seandainya”. Serasa sesak, kering-kerontang, dan gersang. Saat kita menyusuri negeri ini. Kemana kah hati nurani penghuni negeri ini? Negeri yang kata orang “elok rupawan”, bak gadis jelita yang memikat hati? Seperti hawa kecongkaan yang menelusup masuk ke dalam kehidupan yang berdampingan dengan alam, kesewenang-wenangan eksplorasi perut bumi menjadi panglima yang menghujam. Hingga lingkungan tak lagi riang. Jika mereka bisa menangis, pasti air matanya melebihi gelombang lautan.

Bak negeri yang kian lama kian usang. Di sinyalir masih ada satu kota yang masih terjaga. Itu pun sebagian kecil, sebab kini sudah didominasi oleh lingkungan yang rusak. Beberapa masyarakat yang tinggal di negara ini mempunyai keragaman berpikir, ada yang bermimpi mempunyai negara yang makmur seperti negara-negara yang lainnya. Meski tak semua, pasalnya hanya segelintir masyarakat saja yang masih mempunyai misi sama untuk membenahi negari ini. Sedangkan masyarakat yang lainnya acuh tak acuh terhadap kerusakan negaranya. Bahkan tak jarang pejabat yang diberi kepercayaan, mengkhianati bangsanya sendiri. Sebagian dari mereka rela mengeksploitasi kekayaan alam negaranya sendiri tanpa memperhitungkan keberadaan lingkungan berkelanjutan di masa yang akan datang. Mereka tega berpangku intan permata, berkalung emas dua puluh empat karat, mengejar barang branded, dan hidup bergelimang harta. Padahal di sisi lain banyak rakyat yang masih menderita kelaparan.

Salah satu Kota kecil yang ada negera Seandainya itu bernama “Kota Serakah”. Ini adalah kota yang menjadi bentuk cerminan kecil dari negara Seandainya itu. Hidup lah seorang anak bersama kakeknya.

“Kakek, kemana kah orangtuaku tinggal?” tanya Gesang kepada kakeknya di depan pintu rumahnya.

“Mereka telah tiada. Ayah ibumu meninggal saat terjadi banjir bandang lima belas tahun yang lalu. Saat itu kau masih bayi, dan mereka menitipkanmu kepadaku,” jawab Kakek sambil menahan manik matanya yang sudah diujung sudut lipatan bola mata yang kian sayu itu.

“Lalu mengapa mereka tak membawaku pergi bersama mereka Kek? Aku ingin tinggal dengan mereka,” jawab Gesang.

“Husss, syukuri lah bumi ini, syukuri lah negeri ini Nak. Kau lihat itu, jika masyarakat di kota ini semakin serakah, pasti kita akan bersama-sama menyusul ayah ibumu,” jawab kakek sambil mengusap rambut cucunya.

“Mungkinkah Kek? Kapan?” tanya Gesang dengan melototkan kedua mata.

“Saat semua lingkungan ini rusak, alam pun menghajar kita,” kata kakek sambil menunjuk ke arah luar rumah yang sangat panas.

Penduduk Kota Serakah hidup berdampingan dengan kerusakan lingkungan. Sebagian besar dari mereka menjadi seorang buruh. Ada yang menjadi buruh tekstil, buruh kayu, buruh tambang, dan sebagainya. Tak ada satu pun penduduk asli Kota Serakah yang menjadi seorang bos dari pabrik-pabrik itu. Semua hasil yang dihasilkan dari pabrik itu selalu dieksport ke luar negeri. Karena kebetulan pendiri dan bos dari pabrik itu semuanya adalah orang asing. Ironis, penduduk asli menjadi buruh oleh bos-bos orang asing. Seakan dijajah finansial negeri ini. Lalu kemana perginya ahli-ahli dalam negeri? Tak adakah anak bangsa yang pintar dan layak menjadi bos? Apakah sesungguhnya banyak yang pintar tapi tidak ada yang tulus untuk menjaga lingkungan bumi ini? Entahlah.

Ada hal lain yang tak kalah miris, terbentang panjang sebuah sungai bernama “Kali Galak”. Kali Galak adalah sungai yang kini telah menjadi keruh, kotor, berbau, dan dipenuhi dengan sampah. Memang sebagian aliran sungai itu telah bercampur dengan limbah pabrik. Sedangkan kawasan Kota Serakah itu sangat gersang dan panas. Hutan pun hanya tinggal beberapa petak. Penguasa pabrik kayu seringkali menebangi pohon di hutan tanpa perhitungan. Akibatnya berangsur-angsur Kota Serakah ini terasa sangat panas dan seringkali terjadi banjir bandang ketika hujan datang.

“Kek, mengapa Kakek setia dengan pekerjaan kakek sebagai seorang pelukis? Bukankah menjadi buruh seperti masyarakat setempat lebih menjajikan setiap bulan sudah pasti menerima gaji?” tanya Gesang sambil duduk di kamar tidurnya.

“Hemmm, jangan kau remehkan lukisan Kakek. Kakek selalu ingin bernostalgia dengan nuansa lingkungan hidup Kota Serakah ini lima puluh tahun yang lalu. Saat semuanya tak seperti sekarang. Dan satu lagi Gesang, kakek ingin kau dapat mengenyam pendidikan tinggi ke Kota Hidup. Sebagai satu-satunya jantung Negeri Seandainya ini,” jawab kakek sambil merebahkan tubuhnya yang mulai renta semampir di atas kasurnya yang mulai reot.

“Benarkah? Mengapa kakek ingin berpisah denganku?” jawab Gesang sambil memeluk kakek.

“Bukan itu maksudku, aku hanya ingin mendidikmu bagaimana bertahan hidup di Kota yang asing bagimu. Dan memberitahumu bagaimana menjadi seorang yang peduli terhadap lingkungan. Kau akan tahu betapa berbedanya Kota Hidup dengan Kota Serakah ini Gesang.”

Kakek terus menekuni pekerjaannya menjadi seorang pelukis. Lukisannya pun mengandung nilai-nilai masa lalu dan harapan-harapan bagi terjaganya lingkungan di masa yang akan datang. Sembari bersekolah, Gesang pun turut membantu pekerjaan kakeknya. Suatu hari, ia sangat penasaran dengan salah satu lukisan kakek. 

“Kek, ini lukisan apa? Ada sungai yang jernih mengalir di sepanjang sebuah kota, ada pepohonan yang beragam, bunga-bunga berwarna-warni, ada burung-burung yang sangat cantik. Apakah ini surga?”

“Wah, kau jeli sekali Gesang. Iya, bagi seorang utopian, mungkin itu surga.”

“Apa itu utopian kek?”

“Utopian itu seperti sebuah lambungan atau angan-angan, bagi seorang pemimpi itu surga. Tapi bagi seorang yang hidup, berpikir, dan peduli, itu kenyataan. Kau pilih yang mana Gesang? Pemimpi atau orang yang hidup?”

“Aku ingin menjadi orang hidup yang mewujudkan mimpi Kek, bagaimana?”

“Baik, pintar sekali kau. Bilamana kau tak lagi dapat melihat aku kelak saat maut mengambilu, kau harus ingat bahwa aku selalu hidup di hatimu. Kakek sudah tua Gesang, untuk itu ingat lah pesan kakek “Lingkungan yang indah, murni, menyediakan segalanya, dan penuh dengan rezeki adalah ciptaan Allah yang Maha Sempurna, tapi jika masanya datang suatu kerusakan yang mengerikan itu akan datang. Dimana lingkungan yang kau tinggali, bumi tempatmu berpijak ini, dan alam tempatmu menyadari akan marah dan mengamuk, kau harus tahu jika penyebabnya adalah etika manusianya sendiri.”

Etika manusia yang tak mau lagi peduli dan hanya memikirkan diri sendiri. 

Hari yang ditunggu telah tiba, Gesang telah lulus SMA dan harus meneruskan pendidikan tinggi ke Kota Hidup. Bertepatan dengan itu, rezeki besar datang dari Allah. Ada seorang pengoleksi lukisan datang membeli lukisan-lukisan kakek dengan harga yang sangat tinggi. Seorang dermawan itu menghargai karya kakek hingga ratusan juta. Tiba saatnya kakek harus melepaskan Gesang mengenyam pendidikan ke Kota Hidup.

“Tiba saatnya aku memenuhi mau kakek,” Kata Gesang sambil memeluk kakek dari belakang.

Kakek berbalik badan, “Gesang, kau pergi untuk belajar hidup. Meskipun kita tak bisa menampik ke depan kerusakan lingkungan semakin parah. Tapi minimal, selama kita hidup di bumi ini setidaknya kita telah memiliki rasa peduli lingkungan yang tinggi.”

“Iya Kek, Gesang akan penuhi keinginan kakek. Bolehkah Gesang tahu, apakah ketika kakek seumuran Gesang, lingkungan Kota Serakah ini sudah sedemikian parah?”

“Tidak Nak, dahulu masyarakat patuh pada presiden. Tak ada yang berani saling rampok hasil kekayaan alam Negeri Seandainya ini. Sungai Kali Galak yang membentang itu sangat jernih airnya. Kakek sering berenang bersama teman-teman kakek, memancing ikan yang bermacam-macam, dan tak sungkan ketika dahaga, kakek pun meminum air sungai yang sangat menyegarkan itu. Dahulu, hutan tak segundul ini, sangat asri, bahkan orangtua melarang anaknya bermain ke hutan, karena pepohonan yang sangat banyak dan rindang di hutan tentu akan menyusahkan anak-anak menentukan arah untuk kembali ke jalan pulang. Dan kau bisa lihat Gesang? Apa yang terjadi sekarang? Semua berkebalikan, bos-bos asing itu telah bersekongkol dengan pejabat-pejabat yang serakah untuk merampasi kekayaan alam negeri ini tanpa memikirkan kondisi lingkungan yang ada.”

Setelah percakapan itu berakhir, Gesang pun berangkat ke Kota Hidup untuk mengenyam pendidikan tinggi. Dia sangat tercengang sesampainya di sana. Pasalnya Kota Hidup terlihat benar-benar hidup, meskipun ada bangunan tinggi sebagai Perguruan Tinggi, tapi pepohonan masih tampak hijau dimana-mana. Terlihat sawah yang menghampar, ada banyak hutan lindung, dan sungai yang membentang di hilir begitu terlihat suci. Sangat jernih airnya, banyak ikan yang berwarna-warni. Semua ini mirip dengan cerita kakek di Kota Serakah lima puluh tahun yang lalu. Ironisnya Kota Hidup adalah satu-satunya kota yang masih terjaga keasliannya, lingkungannya, dan kebudayaan masyarakatnya. Sangat mencengangkan, Gesang pun tak habis pikir. Betapa serakahnya masyarakat yang tinggal di Kota Serakah yang semakin merusak lingkungan hidupnya sendiri. Dan betapa hidup masyarakat yang hidup di Kota Hidup dengan lingkungan yang terjaga sedemikian rupa. Ini bukan mimpi, ini nyata.

Tak lama kemudian, setelah Gesang menjalani studinya selama satu tahun lamanya. Dia mendapat kabar buruk jika kakeknya telah meninggal dunia. Gesang pun sangat kebingungan. Tapi dengan bekal uang saku dari penjualan lukisan kakek yang ternilai cukup banyak, dengan bantuan teman-teman kuliahnya dan dengan bimbingan dosen. Gesang pun memulai karirnya untuk membudidayakan buah-buahan di sebuah lahan. Sambil belajar, ia pun mempersiapkan dirinya untuk membuka lahan perkebunan buah-buahan.

Tak khayal, setelah lulus kuliah. Gesang telah siap dengan usahanya itu. Dengan tekun ia bekerja sebagai pembudidaya buah-buahan. Bukan hanya untuk mendapatkan rupiah, tapi Gesang selalu ingat pesan-pesan kakeknya untuk menjaga lingkungan hidup dengan baik. Sebagai manusia yang tinggal di bumi, Gesang mempunyai kesadaran untuk bertanggungjawab dengan lingkungan di bumi itu sendiri.

Banyak masyarakat setempat yang terbantu dengan perkebunan Gesang. Sebab diantara mereka dipekerjakan dengan upah yang sesuai dan jam kerja yang sesuai pula. Pasalnya, Gesang sangat miris dengan para buruh yang bekerja di pabrik-pabrik Kota Serakah. Dimana buruh digaji minim, dengan sistem lembur, dan kerja target. Padahal di lihat dari segi lingkungan, keberadaan pabrik itu menghasilkan limbah yang semakin lama dapat merusak lingkungan.

Setelah bertahun-tahun Gesang menekuni perkebunannya. Ia bermaksud pulang ke Kota Serakah. Usaha diplomasi yang panjang dan proses kerjasama yang rumit satu per satu dilakukan Gesang. Setelah melewati banyak langkah, Gesang pun melakukan perundingan.

Pejabat Perizinan berkata, “Proposalmu untuk membugar pabrik yang semula adalah beberapa pabrik kayu dan pabrik tekstil menjadi perkebunan tidak bisa begitu saja kami terima. Pasalnya kita harus rundingkan dahulu dengan pemilik pabrik sebelumnya. Jangan sampai investor asing semuanya menarik diri dari negeri ini.”

Gesang menjawab, “Baik, aku akan melaksanakan prosedur dan biaya pajak seperti pabrik sebelumnya. Toh aku dengar pabrik-pabrik itu tak lagi laris menghasilkan produk, bukan?”

Salah satu bos pabrik yang ada dalam rundingan itu menyaut, “Apa kau bilang? Hahaha, mungkinkah seorang kecil seperti dirimu bisa merealisasikan ide itu. hanya lelucon,” jawab bos itu seakan tak percaya.

Akhirnya Gesang mendapat persetujuan dari pemerintah untuk mengganti beberapa bangunan pabrik dan mengubahnya menjadi sawah dan perkebunan.

Gesang pun membugar pabrik dan membuka lahan baru menjadi beberapa hamparan sawah dan perkebunan. Selain itu buruh yang dahulu bekerja di pabrik, kini dipekerjakan Gesang di lahan-lahan itu. Meski tak semua pabrik dapat dibugar, minimal Gesang telah memulai langkah besar untuk mengubah “Kota Serakah” menjadi “Kota Berkah”. Selain itu Gesang juga mengambil langkah yang berani. Dengan tegas ia memberi ultimatum kepada bos-bos pabrik yang lain untuk mengelola limbah dengan baik. Sehingga Kali Galak tak lagi tercemar. Ia juga memberlakukan aturan kepada seluruh pekerjanya untuk bekerja bakti dan gotong royong membersihkan Kali Galak setiap hari Selasa

Sungguh berbeda, pasalnya bos-bos pabrik yang berasal dari luar negeri itu biasanya bersifat congkak dan kaku terhadap para buruh yang bekerja. Mereka pun dengan bantuan kongkalikong para pejabat negara yang berkepentingan seringkali mengeksploitasi kekayaan alam negeri tanpa berorientasi pada lingkungan dalam jangka panjang. Tapi Gesang seorang yatim piatu yang diasuh dan dididik oleh seorang pelukis kuno yang pemikirannya sanagat konservatif itu pun mampu membalikkan logika itu. Gesang sangat ramah dengan para pekerja yang mengurus kebunnya. Ia juga menularkan banyak ilmu kepada para pekerja, tentang bercocok tanam dan bertani yang baik untuk menghasilkan buah dan beras yang berkualitas. Tak sia-sia kakeknya menyekolahkannya hingga tinggi ke Kota Hidup. Kini ia benar-benar mengimplementasikan ilmunya sebagai seorang sarjana. Didikan kakeknya yang konservatif tapi mencintai lingkungan dipadu dengan basis keilmuan modern yang diperoleh dari Perguruan Tinggi berhasil membentuk pribadi yang pintar dan bertanggungjawab terhadap lingkungan.

Seandainya “Negara Seandainya” berubah menjadi “Negara Kenyataan”? Akankah negeri yang lingkungannya terlanjur rusak akan berubah menjadi hijau, asri, makmur, dan sejahtera? Sebab negeri dengan lingkungan hidup yang sehat, dengan jutaan rakyat yang sejahtera adalah harapan bagi setiap pemimpin dan negarawan sejati. Alam akan terus ramah kepada kita yang masih peduli terhadap bumi ini.

Loading

PESAN HIDUP DARI BOCAH PENJUAL KORAN

Karya: Ahmad Zubair (Peserta Lomba Cerpen DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)

Dari tadi pagi hujan mengguyur kota tanpa henti, udara yang biasanya sangat panas, hari ini terasa sangat dingin. Di jalanan hanya sesekali mobil yang lewat, hari ini hari libur membuat orang kota malas untuk keluar rumah.

Di perempatan jalan, Umar, seorang anak kecil berlari-lari menghampiri mobil yang berhenti di lampu merah, dia membiarkan tubuhnya terguyur air hujan, hanya saja dia begitu erat melindungi koran dagangannya dengan lembaran plastik. “Korannya bu !”seru Umar berusaha mengalahkan suara air hujan.

Dari balik kaca mobil si ibu menatap dengan kasihan, dalam hatinya dia merenung anak sekecil ini harus berhujan-hujan untuk menjual koran. Dikeluarkannya satu lembar dua puluh ribuan dari lipatan dompet dan membuka sedikit kaca mobil untuk mengulurkan lembaran uang. “Mau koran yang mana bu?”, tanya Umar dengan riang. “Nggak usah, ini buat kamu makan, kalau koran tadi pagi akujuga sudah baca”, jawab si ibu.

Si Umar kecil itu tampak terpaku, lalu diulurkan kembali uang dua puluh ribu yang dia terima, ”Terima kasih bu, saya menjual koran, kalau ibu mau beli koran silakan, tetapi kalau ibu memberikan secara cuma-cuma, mohon maaf saya tidak bisa menerimanya”, Umar berkata dengan muka penuh ketulusan.

Dengan geram si ibu menerima kembali pemberiannya, raut mukanya tampak kesal, dengan cepat dinaikkannya kaca mobil. Dari dalam mobil dia menggerutu ”Udah miskin sombong!”. Kakinya menginjak pedal gas karena lampu menunjukkan warna hijau. Meninggalkan Umar yang termenung penuh tandatanya. Umar berlari lagi ke pinggir, dia mencoba merapatkan tubuhnya dengan dinding ruko tempatnya berteduh.

Tangan kecilnya sesekali mengusap muka untuk menghilangkan butir-butir air yang masih menempel. Sambil termenung dia menatap nanar rintik-rintik hujan di depannya, ”Ya Tuhan, hari ini belum satu pun koranku yang laku”, gumamnya lemah.

Hari beranjak sore namun hujan belum juga reda, Umar masih saja duduk berteduh di emperan ruko, sesekali tampak tangannya memegangi perut yang sudah mulai lapar.Tiba-tiba didepannya sebuah mobil berhenti, seorang bapak dengan bersungut-sungut turun dari mobil menuju tempat sampah,”Tukang gorengan sialan, minyak kaya gini bisa bikin batuk”, dengan penuh kebencian dicampakkannya satu plastik gorengan ke dalam tong sampah, dan beranjak kembali masuk ke mobil. 

Umar dengan langkah cepat menghampiri laki-laki yang ada dimobil. ”Mohon maaf pak, bolehkah saya mengambil makanan yang baru saja bapak buang untuk saya makan”, pinta Umar dengan penuh harap. Pria itu tertegun, luar biasa anak kecil di depannya. Harusnya dia bisa saja mengambilnya dari tong sampah tanpa harus meminta ijin. Muncul perasaan belas kasihan dari dalam hatinya. “Nak, bapak bisa membelikan kamu makanan yang baru, kalau kamu mau” “Terima kasih pak, satu kantong gorengan itu rasanya sudah cukup bagi saya, boleh khan pak?”, tanya Umar sekali lagi. “Bbbbbooolehh”, jawab pria tersebut dengan tertegun. Umar berlari riang menuju tong sampah, dengan wajah sangat bahagia dia mulai makan gorengan, sesekali dia tersenyum melihatlaki-laki yang dari tadi masih memandanginya. 

Dari dalam mobil sang bapak memandangi terus Umar yang sedang makan. Dengan perasaan berkecamuk di dekatinya Umar. “Nak, bolehkah bapak bertanya, kenapa kamu harus memintaijinku untuk mengambil makanan yang sudah aku buang?”, dengan lembut pria itu bertanya dan menatap wajah anak kecil di depannya dengan penuh perasaan kasihan.

”Karena saya melihat bapak yang membuangnya, saya akan merasakan enaknya makanan halal ini kalau saya bisa meminta ijin kepada pemiliknya, meskipun buat bapak mungkin sudah tidak berharga, tapi bagi saya makanan ini sangat berharga, dan saya pantas untuk meminta ijin memakannya ”, jawab si anak sambil membersihkan bibirnya dari sisa minyak goreng.

Pria itu sejenak terdiam, dalam batinnya berkata, anak ini sangat luar biasa. ”Satu lagi nak, aku kasihan melihatmu, aku lihat kamu basahdan kedinginan, aku ingin membelikanmu makanan lain yang lebih layak, tetapi mengapa kamu menolaknya”.Si anak kecil tersenyum dengan manis,

”Maaf pak, bukan maksud saya menolak rejeki dari Bapak. Buat saya makan sekantong gorengan hari ini sudah lebih dari cukup. Kalau saya mencampakkan gorengan ini dan menerima tawaran makanan yang lain yang menurut Bapak lebih layak, maka sekantong gorengan itu menjadi mubazir, basah oleh air hujan dan hanya akan jadi makanan tikus.”

”Tapi bukankah kamu mensia-siakan peluang untuk mendapatkan yang lebih baik dan lebih nikmat dengan makan di restoran di mana aku yang akan mentraktirnya”, ujar sang laki-laki dengan nada agak tinggi karena merasa anak di depannya berfikir keliru.

Umar menatap wajah laki-laki didepannya dengan tatapan yangsangat teduh,”Bapak!, saya sudah sangat bersyukur atas berkah sekantonggorengan hari ini. Saya lapar dan bapak mengijinkan saya memakannya”, Umar memperbaiki posisi duduknya dan berkata kembali, ”Dan saya merasa berbahagia, bukankah bahagia adalah bersyukur dan merasa cukup atas anugerah hari ini,bukan menikmati sesuatu yang nikmat dan hebat hari ini tetapi menimbulkan keinginan dan kedahagaan untuk mendapatkannya kembali di kemudian hari.”

Umar berhenti berbicara sebentar, lalu diciumnya tangan laki-laki di depannya untuk berpamitan. Dengan suara lirih dan tulus Umar melanjutkan kembali,”Kalau hariini saya makan di restoran dan menikmati kelezatannya dan keesokan harinya sayamenginginkannya kembali sementara bapak tidak lagi mentraktir saya, maka sayasangat khawatir apakah saya masih bisa merasakan kebahagiaannya”.

Pria tersebut masih saja terpana, dia mengamati anak kecil di depannya yang sedang sibuk merapikan koran dan kemudian berpamitan pergi.”Ternyata bukan dia yang harus dikasihani, Harusnya aku yang layak dikasihani, karena aku jarang bisa berdamai dengan hari ini”

Loading

SEBELUM HUJAN REDA

Oleh: Matahari

“Kapan terakhir kali kamu berdoa?”

Lelaki di hadapanku tertawa ringan mendengar pertanyaan kelewat absurd itu. Dia bilang, doa terakhirnya barangkali adalah sesaat sebelum ia mengendarai motor untuk menjemputku tadi. Aku menuduhnya berdusta. Kalau dia benar-benar berdoa, seharusnya kami tidak terkurung hujan deras di sebuah emperan pertokoan yang tutup.

“Jangan-jangan kamu yang tadi tidak berdoa!” balasnya menuduhku. Kami berdua tertawa atas lelucon itu.

Sesaat kemudian, saat hening menjadi teman, aku menghela nafas panjang. Benar. Aku tidak berdoa sebelum pergi hari ini. Aku tidak berdoa saat bangun. Aku tidak berdoa sebelum tidur semalam. Aku bahkan tidak berdoa berhari-hari.

Aku jadi bertanya-tanya, kapan seseorang mulai berdoa dan kapan seseorang berhenti berdoa? Apakah karena dulu setiap malam ibu menyuruh anaknya berdoa sebelum tidur, maka ia berdoa? Apakah karena dulu setiap hari guru menyuruh muridnya berdoa sebelum belajar, maka ia berdoa?

Aku tak punya ibu yang menyuruhku berdoa setiap malam. Saat punya guru, ia pikir aku sudah hafal doa harian sehingga ia tak mengajariku. Aku berdoa setiap hari sampai kemudian entah di hari ke berapa aku merasa hambar. Bahkan kini, saat hujan yang katanya waktu doa dijawab Sang Pencipta, aku tak tergoda mengangkat tangan.

Hujan pun kian kuat. Atap seng berbunyi nyaring layaknya arena perjudian saat taruhan unggulam mereka hampir kalah. Udara dingin kian menusuk. Aku menghapus jarak antara aku dan lelaki yang telah kukenal kurang lebih enam bulan. Ia, lelaki dengan senyuman matahari itu, mengaminkan. Tangannya terbentang meraih bahuku.

“Wah, enak ya pacaran pas muda,” seorang perempuan dewasa akhir yang ikut berteduh berkomentar. Di sebelahnya, lelaki yang sama sepuh, barangkali suami, terlihat berpangku tangan dalam upaya menghangatkan dirinya sendiri.

“Duh, Buk! Jangan ngurusin orang,” suaminya menanggapi.

“Lihat, Pak! Anak muda jaman sekarang pacarannya blas bles blos saja. Kayak dunia milik berdua.”

Mereka berdebat. Si suami terlihat sungkan dengan perkataan istrinya. Akan tetapi, semua orang yang berteduh di emperan pertokoan itu terlihat setuju. Tatapan mata mereka menghakimi kami.

“Kamu mau pakai jaketku saja?” tawarnya berbisik. Tangannya rampak ragu memberikan kehangatan. Pelukannya tak seerat tadi.

“Iya,” jawabku risih dengan tatapan orang-orang.

Kami berdiri dengan jarak yang kecanggungan. Jarak kami tidak lebih dekat dari seorang anak yang memeluk kaki ibunya di depan toko  benang. Jarak kami tidak lebih mesra dari suami istri yang masih berdebat itu. Jarak kami, untungnya, tidak sesepi seorang laki-laki buta berpeci di toko paling ujung.

Aku maju satu langkah. Mengintip, karena rasa penasaran tak terbendung, pada lelaki buta berpeci haji di ujung lorong pertokoan. Usianya tak lagi muda. Tangannya yang telah keriput memegang tongkat dengan genggaman yang tremor. Bibirnya komat kamit layaknya orang suci tengah berzikir. Seolah bibir itu memang telah terlatih untuk selalu basah mengenang asma Allah.

“Kenapa?” lelaki matahari di sebelah ku bertanya.

“Aku baru saja berdoa.”

“Oh ya? Kau berdoa agar hujan reda?”

“Tidak juga.” Kerutan terbentuk di dahinya. Barangkali mencari berbagai macam opsi doa lain yang bisa kupanjatkan di situasi macam ini.

Hujan kian menggila. Angin kencang menerbangkan beberapa sampah. Semua orang merapat pada perlindungan terdekat yang bisa mereka gapai. Anak berlindung pada ibunya, perempuan berlindung pada lelakinya, anak muda berlindung pada kekuatan fisiknya. Aku tak bisa berhenti khawatir pada pria tua buta di ujung pertokoan yang tak punya sesuatu, bahkan dirinya sendiri, untuk melindungi.

“Yang, aku ke sana ya.”

Langkah lebih cepat ketimbang ucapanku. Langkahku besar dan cepat menuju lelaki tua itu. Jantungku berdetak cepat. Terlebih saat melihat sebuah terpal dengan pancang paku yang tajam terbang mengarah ke lelaki itu. Kilat petir melatari suara teriakan dan dentuman.

“Ustaz!” suaraku hilang ditelan situasi.

Alam bawah sadarku memaksaku bertindak. Meski pura-pura tak peduli, meski pura-pura tak kenal, tubuhku bergerak dengan sendirinya hendak meraih sosok itu. Aku tak bisa mengerdilkan perasaan kagum dan hormatku pada sosok buta yang memiliki mata air kasih sayang dan berkah ilmu dalam dirinya itu. Aku pun, seorang yang pernah  menyesap mata air itu. Di diriku mengalir percikan dirinya. Barangkali itu yang membuatku kalang kabut mengejar lelaki itu ini.

Terpal biru yang diterbangkan angin menyelimuti tubuh lelaki tua buta tanpa celah. Aku dan seorang tukang ojek mendekatinya. Tukang ojek itu dengan tergesa-gesa menarik terpal itu. Aku melihatnya terduduk dengan tongkat yang sudah tak lagi dalam genggaman. 

“Bapak tidak apa, Pak?” tanya tukang ojek itu sembari membantunya berdiri.

Tidak ada luka, tidak ada lebam. Syukurlah.

“Alina!” lelaki matahariku memanggil. Aku tak kuasa menahan rasa takutku. Bagaimana jika lelaki tua di hadapanku ini mengingat nama itu? Meski kemungkinannya sangat kecil, meski aku yakin beliau telah memiliki banyak murid-murid lain bernama Alina, jantungku tak bisa diajak kompromi.

“Kamu Alina? Alina Aisyah?” lelaki buta itu bertanya dengan suara yang sangat familiar.

Aku mengangguk meski aku tahu lelaki di depanku tak akan bisa tahu. “Bukan Pak, saya Alina Niswati.” Aku berbohong.

“Bapak ingat sekitar tiga tahun lalu Bapak punya santri namanya Alina Aisyah. Dia pintar, rajin ibadah, selalu taat dengan peraturan pesantren. Dia suka bantu-bantu di rumah Bapak. Setelah tamat dia belum ada lagi berkunjung ke pesantren. Tadi Bapak dengar ada yang panggil ustaz, suaranya mirip Alina. Rupanya salah orang.”

Aku tak lagi mengucapkan apa pun. Aku takut suara cempreng ini akan makin mengingatkan lelaki tua berpeci itu akan seorang santri polos yang kini hanya tinggal cerita. Aku menarik tangan pacarku sembari berlari kecil menuju motor yang terparkir.

Hujan sebentar lagi berhenti. Waktu istijabah doa sebentar lagi usai. Aku berdoa lagi, meski tidak mengangkat tangan. Aku berdoa lama dan khusuk sekali. Tak peduli bahwa aku tak lagi berkerudung. Tak peduli bahwa kini di tanganku ada tangan lelaki bukan muhrim yang diibaratkan bara api.

“Boleh aku tebak doamu, Alina Aisyah?” tanya lelaki matahari itu dengan nada mencemooh. Aku menggeleng. Aku ingin cepat menyudahi basa-basi ini dan kembali bersembunyi.

Di ujung jalan, sebuah mobil dengan lambang instansi pendidikan Islam terlihat mengarah pada lelaki tua yang tak lain dan tak bukan adalah pengasuh di pesantren itu. Si pengemudi turun dan membantu ustaz menaiki mobil. Motor kami telah lebih dulu membelah jalanan.

Doaku terkabul. Lelaki buta itu tak mengenaliku. Aku ingin berdoa lagi agar si pengendara mobil yang sekelas denganku enam tahun tak mengenaliku. Sayangnya hujan telah sempurna berhenti.

Sayangnya aku tak punya keberanian lagi untuk berdoa.

 

Identitas Penulis

Nama : Matahari

Instansi : Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi Agam

No HP/WA : 081927633962

Loading

DUNIA YANG KEJAM? BENARKAH?

Oleh: Sindi Putri Oktafiana

 

“Dunia begitu kejam.” Bukan kali ini saja kalimat itu terdengar, bahkan sejak puluhan abad silam telah terlontarkan dari bibir penduduk bumi. 

Bumi yang terdiam hanya menamatkan sembari menyimpan segala misteri yang entah kapan akan terkuat. Kalimat itu kedengarannya sudah biasa untuk dianggap sebagai suatu hal yang baru. Kegundahan yang menjelma rupanya telah merasuki satu persatu dari bagian hidupku, sembari melihat kopi yang butirannya mulai mengendap.

Setiap hari tingkah manusia semakin bergejolak, berbuat semena-mena tanpa beretika dan mengumbar kuasanya. Tangis sendu dari para korban dibungkam oleh kebiadaban. Diam. Mereka diam, karena seolah itu adalah jalan.

“Masih terpikirkan lagi ?” suara yang tiba-tiba datang membuyarkan seluruh lamunanku.

Sosok itu tampak berjalan ke arahku, meneguk kopi yang bahkan belum ku sentuh sejak tadi.

“Selalu saja.” ucapku mengeluh. Namun dia tak menghiraukan raut sosok yang berada didekatnya ini telah berubah menjadi masam.

“Kenapa Va ? Lebih baik jangan buat kalau hanya dianggurkan, dia telah menjadi dingin.” ucapnya sambil berlalu.

“Tapi tetap habis diminum kan?” tanyaku sambil menaikkan satu alis, seusai dia melenggang dan duduk berhadapan denganku.

“Emm… Kamu benar. Sudahlah relakan saja kopimu.”katanya. Sebelum akhirnya mengulik sekilas dari peristiwa yang masih aku diami.

“Bagaimana soal Shezani ?” Spontan ku tutup laptop yang sembari tadi masih tampak kosong di halaman word. Perlengkapan menulis telah tersimpan rapat dalam tas yang akan ku bawa pergi.

“Mau kemana hei ?!” Sudah biasa suara lantang itu terdengar, dia akan naik darah karena merasa tak dihargai. Itulah sifatnya, dan aku tak bisa mengubahnya. Pastinya ada sisi lain dari dirinya.

“Kamu tak mendengarkanku,? Bahkan aku baru saja sampai disini dan Kamu justru pergi.” Memang itu tidak pantas, aku pergi karena tebakannya benar. Walaupun selama ini kami tak pernah tinggal bersama, ikatan itu cukup kuat.

“Tinggallah disini sebentar. Aku akan segera kembali.” Ucapku sambil meneruskan langkah.

“Baiklah. Jangan berusaha menghindariku ya.” Langkahku berhasil terhenti. Dia memelukku amat erat, hangat. Hal ini yang selalu aku inginkan darinya. Ikatan saudara.

*****

Gedung-gedung menjulang tak dapat ku hitung lagi berapa meter tingginya, barangkali sudah menyundul ke atas sana. Polusi udara yang kian mengangkasa diderek oleh kawanan mega dengan raut kecewa. Gemericik bukan dari air bening yang memanjakan mata, melainkan mesin-mesin kendaraan yang bergesekan dengan aspal hitam kota.

Aku terpaku disini, terlilit oleh pikiran dan hati yang mengutuk diri. Bukan lagi pertama kalinya, pikiran ini terasa berat, runyam, memikirkan kejadian-kejadian yang semakin tak bisa dinalar. Ulah hantu ? Bukan. Sesamaku, sewujud denganku, itu kami. Manusia muka bumi. Jika bertanya apa masalahnya tentu itu sudah pasti berada. Media dengan cepatnya menjejerkan berita untuk dibaca. Teknologi yang semakin canggih menembus batas negara hingga dunia luar sana. Solusi ? Itu hal yang semakin tak pasti. Semakin dibuka, maka semakin dibungkus apik. Padahal hanyalah cakap angin semata. Seperti halnya kini yang terjadi.

“Benar jika hanya permainan yang fana, atau nanti akan terbangun dari mimpi.” ucapku sembari duduk di salah satu bangku panjang tepian jalan. Memang sepanjang jalan ditanami dengan pepohonan. “Ditujukan untuk menciptakan udara segar.” katanya demikian.

“Assalamu’alaikum, Bolehkan aku duduk disini Kak ?” Datangnya insan cilik itu tak terduga. Ku edarkan pandang ke segala arah. Lantas kembali ke arahnya, pada bocah yang belum ku jawab salam dan permintannya.

“Wa’alaikumusslama. Iya tentu, silahkan duduk.” Sembari menggeser duduk, lalu mempersilahkan dia.

Kami terdiam, hanyalah bunyi klakson dan langkah kaki orang-orang menyeberang saling berbenturan. Keramaian yang semakin bergejolak, ini melelahkan. Aku ingin ketenangan. Namun, bocah di sampingku tampak tenang mobil-mobil besar melintas kian kemari.

“Oh ya, nama adik siapa ?” tanyaku ingin mengisi kekosongan yang menghampiri.

“Daina. Kalau kakak siapa namanya ?” binar matanya benar-benar tak bisa dipercaya, memandangnya begitu dekat ternyata menenangkan. Aku terpukau, termenung beberapa saat sebelum akhirnya aku tersadar kembali.

“Namaku Adiva. Kamu boleh memanggilku Kak Iva.” ucapku disertai anggukan darinya.

*****

Menuruti tawaran anak kecil tak ada salahnya juga. Kami berjalan menyusuri jalan kecil, tempat ini tampak terasing. Laju kendaraan yang sedari tadi memekakan telinga perlahan memudar seiring kaki jauh melangkah. Rumah disini terlihat antik dengan tiang penopang dari kayu atau bambu. Beberapa sepeda motor butut tua berjejer rapi di masing-masing rumah penduduk. Para anak kecil berlarian membawa layangan menuju tanah lapang yang kiranya berada di depan sana.

Mataku terus menelisik kian kemari. Tak lupa ku dokumentasikan momen-momen ini. Pelataran hijau yang terhampar dengan senda-gurau anak-anak disana. Kesejukan dan kedamaian menerpa, menghanyutkanku turut larut bersukacita. Tawanya murni sejati, khas sekali. Keinginan akan waktu lebih dari apapun itu, bermain, pengajaran dan kasih sayang dari orang tua. Mereka adalah amanah dari tuhan yang harus dikasihi dan dijaga.

“Panti Asuhan Seribu Harapan.” batinku. Wajah tetap ku nampakkan dengan ekspresi yang biasa saja. Jujur ini pertama kalinya ku pijakkan kaki di tempat seperti ini, biasanya hanya membantu mempersiapkan donasi yang akan dibawa. Hatiku menjadi trenyuh.

“Ayo kak masuk. Pasti teman-teman akan senang bertemu dengan kakak baik.” Daina berucap dengan lengkungan manis yang tergambar di sudut pipiny. Mulanya kaki ini enggan untuk melangkah, akan tetapi rasa penasaran terus menghasut hingga berjumpa dengan mereka semua disini. Riuh rumah yang terdengar dari luar seketika hening, mereka diam menghentikan aktivitas bermainnya. Kemudian menyambar diri yang masih mematung di dekat pintu masuk.

Saling bergantian untuk menjabatku. Didikan disini dapat ku katakan baik, buktinya anak sekecil ini mengerti tentang sopan-santun bertemu dengan orang baru. Bahkan mereka berjejer rapi tanpa menyerobot untuk saling mendahului. Aku berbincang dengan pengurus panti sembari melihat mereka dengan keaktifannya. Mataku terhenti pada satu anak kecil yang terdiam di sudut taman dengan diary kecil beserta bolpoint dalam genggamannya.

“Assalamu’alaikum adik manis. Apa yang sedang kamu tulis ?”

“Wa’alaikumussalam Kak. Menulis, bagaimana rasanya ya punya orang tua ?” jawaban sekaligus pertanyaan yang berhasil membuat senyumanku memudar.

Aku tau dari obrolan sebelumnya. Kebanyakan dari mereka memang dibuang oleh orangtuanya. Miris. Hati ini teriris. Kelahiran yang seharusnya dinantikan. Kebahagiaan yang seharusnya dirasakan. Semuanya justru disia-siakan. Mereka ingin seperti anak-anak lain diluar sana dengan kasih sayang orang tuanya. Namun apa sebaliknya yang terjadi ? Akankah “Dunia begitu kejam” akan kembali terdengar ?

*****

“Sebentar lagi Rayyan akan datang.” ucap perempuan yang biasanya lantang itu menjadi lemah lembut. Kami memang memutuskan untuk berbaikan sejak kemarin.

Sementara jiwa yang diajak bicara masih diam menatap layar laptop, walau sebenarnya fokusku terbuncah karena perkatannya. Sebenarnya perempuan ini adalah kakakku, Dhafiyah namanya. Kini dirinya turut diam dan larut dalam keheningan.

“Assalamu’alaikum Kak Dhafiyah.” Ku hentikan aktivitas dan beralih pada arah suara itu. Setelahnya Rayyan menoleh ke arahku yang memasang muka datar.

“Wa’alaikumussalam.” Jawab Kak Dhafiyah, sementara aku menjawabnya lirih.

“Kalian berdua, bercakaplah. Kakak akan menjauh kesana.” Kak Dhafiyah memilih untuk menuju pojok kursi, mendengarkan tilawah dan merasakan sejuknya udara pekarangan samping rumah.

“Maaf Va.” ucapnya dengan menatapku lekat. Wajahnya dipenuhi dengan kecemasan. Ku mengambil nafas panjang kemudian menghembuskan secara perlahan.

“Maka lakukan itu. Kamu tidak ada alasan untuk mengelak.” Tuturku masih dengan muka datar.

“Aku tidak bisa Va, sementara kita…” ucapannya terhenti karena aku memotong pembicarannya dengan sengaja.

“Aku berhak memutuskan. Jangan lagi bicarakan soal kita. Berhenti untuk kabur dari masalah. Berhenti berlindung dibalik nama orang tuamu. Kamu tak mengerti kan bagaimana perasaan orang itu, terlebih dia sahabatku.” ucapku berusaha membendung air mata. Akhirnya aku berani untuk angkat bicara. Tidak seperti kemarin yang justru melamun dengan egoku.

“Nyawa anak itu telah hilang.” ucapnya dengan wajah menunduk, suaranya terdengar samar.

“Kamu…” ucapanku tercekat. Lidahku kelu. Apa maksud dari perkataannya barusan ?

“Va.” Panggil Kak Dhafiyah sembari menepuk pundakku pelan. Mataku tak berkedip sedikitpun, pikiran ini terasa amatlah runyam.

“Sekarang kamu pergi Ray. Tidak ada yang bisa dipercaya lagi. Begitu kejam.” Amarah ini meletup melihat kenyataan dan pelaku yang ada dihadapanku ini.

“Aku melakukan itu karena kita.” Rayyan berusaha mendekat ke arahku.

“Jaga ucapanmu. Hukum akan tetap diproses, nantikan itu. Sekarang pergi !” Suara lantang itu berasal dariku.

“Shezani, ku harap Kamu tenang disana. Maafkan aku yang tak bisa menjagamu.” batinku.

*****

Hari bertaut dengan waktu yang semakin mengudara. Kepingan-kepingan peristiwa beralunan saling bergandengan. Beberapa hal memang tak terduga kejadiannya. Lantas siapa yang akan disalahkan, dunia lagi ? Rasanya mustahil menyalahkan dunia yang padahal manusia sendiri yang berjalan mengelilinginya dan turut andil didalamnya. Rasa penyesalan hanyalah datang terakhir, setelahnya mengikhlaskan adalah salah satu keterpaksaan untuk benar-benar merelakan. Berat rasanya tertimpa masalah yang kita sendiri tak mengira akan datang semasanya. Seperti halnya kisah ini. Begitu singkat, rumit dan terjadi begitu saja.

“Va, hari ini Rayyan sudah dibebaskan.” ucap Kak Dhafiyah membawa berita yang sebenarnya kurang aku senangi. Bukan karena bahagia dalam penderitaan orang lain. Setelah apa yang dia lakukan kepada Shezani hingga membunuh darah dagingnya sendiri, apakah hukuman selama tiga tahun di bui itu pantas ? Rasanya sampai berbuih mulut ini untuk menegakkan hukum yang adil-seadilnya tetap saja percuma.

“Hm iya.” jawabku pelan, sambil beberapa saat kemudian menyesap kopi yang masih terasa panas.

“Apa kamu akan menemuinya ?” tanya Kak Dhafiyah. Ku turunkan gelas kopi dan beralih menekan kembali keyboard laptop.

“Kami sudah tidak bisa melanjutkan Kak. Agenda besar harus ku lakukan hari ini.” ucapku lalu besiap untuk berkemas.

“Jangan bilang kamu akan ikut demo akan kasus serupa yang terjadi akhir-akhir ini ?” tebak Kak Dhafiyah sekaligus bertanya.

“Tidak. Kami akan datang menemui mereka di pusat.” ucapku dengan penuh keyakinan.

“Mereka akan menentang Va, hal itu sia-sia.” ucap Kak Dhafiyah yang sama sekali tak melunturkan semangatku untuk segera bergegas

“Lebih sia-sia lagi apabila aku tetap berdiam diri. Kebenaran harus tegak, jangan sampai ternodai oleh tipu muslihat.” ucapku.

“Apakah hal ini karena Shezani ? Kamu dendam dan menuntut balas ?” tanya Kak Dhafiyah bertubi-tubi.

“Tidak ada dendam, pada siapapun itu. Namun, aku dan orang-orang yang sejalan denganku ingin mempertegas dan memberikan solusi.”

“Perjuangkan Va.”

“Terima kasih Kak.” Ucapku mengakhiri percakapan itu.

*****

Manusia tidak bisa hidup tanpa aturan. Lantas akan berbuat dengan sesuka hatinya dengan semena-mena tanpa takut akan mendapatkan hukuman yang selaras. Ketika hal itu terjadi, antara dua jenis yang berbeda saling menyalahkan untuk mendapatkan kemenangan dan dukungan berdasar suatu alasan. Bersembunyi dibalik kuasa dan uang. Aniaya, perdaya dengan semena-mena dibungkam dengan keduanya ? Bukan kami ingin merdeka sebebas-bebasnya, hanya satu. Dimuliakan. Sudah sepatutnya. Sudah selayaknya. Sudah sepantasnya. Pada kenyataannya saling menyalahkan tak cukup untuk menciptakan terselesainya permasalahan.

Kritik sudah patutnya untuk didengar. Peristiwa didepan mata tak layak untuk dibungkam. Jangan terus mengkoar-koarkan kata “Aku, dominasi, bebas” yang pada akhirnya jatuh pada kelalaian dan saling terus menyalahkan antara satu dengan yang lainnya. Disini, pada agama ini. Aturan dibuat bukan hanya sekedar diketahui, akan tetapi diyakini, dipatuhi dan dijalani. Jangan pernah lupa. Jangan pula terlena. Bagaimana cara untuk menjaga diri agar dimuliakan. Bagaimana cara untuk mengendalikan jiwa, pikiran dan hasrat. Kita manusia dan makhluk yang sempurna. Dikaruniai kelebihan yakni akal yang membedakan dengan makhluk lainnya.

Perkara “Dunia yang kejam.” Apakah kalian memahaminya sekarang ? Ibarat kita ini penggeraknya dan menyalahkan benda yang tidak tau apa-apa.

 

Desember 2021

Loading