JAGALAH DIRI, JANGAN KAU SAKITI

Katya: Yuli Rulina (Peserta Lomba Cerpen dalam rangka Dies Natalis Ke-14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

Sengatan terik matahari menyelinap masuk dari celah jendela, memaksa Dina untuk lekas beranjak meninggalkan tilam kecintaannya. Pagi hari sudah bersambut dengan perpisahan yang amat berat baginya. Setelah semalaman ia merelakan waktu istirahat malam untuk merampungkan tugas-tugas mata kuliah. Sudah sering sebenarnya ia seperti itu. Terhitung hanya dua jam tubuhnya merasakan empuk buntalan kapuk yang ada di pojok kamarnya. Sungguh melelahkan. Dua tahun sudah ia ‘menjabat’ sebagai mahasiswi namun tak tampak seperti kenyataannya. Kuliah dalam jaringan, ya, bukan di dalam kelas. Sebuah transisi proses pembelajaran baru semenjak Covid-19 mendunia. Virus yang merebak dengan kecepatan cahaya, tampak tak kasat mata, menyebarkan kepanikan merajalela. Beruntungnya, karantina telah menjadi finalis yang terpilih diantara solusi terbaik lainnya. Mencegah memang lebih baik daripada mengobati.

Perubahan tiba-tiba yang mengubah drastis rutinitas keseharian Dina. Pagi, siang, dan malam terasa tidak ada bedanya lagi. Dina merasa kelimpungan dalam mengatur waktu. Selama berkegiatan penuh di rumah seperti ini, Dina mencoba menyelaraskan antara membagi tugas pribadi dengan tugas pendidikannya. Seringnya juga Dina terjebak pada situasi dimana jadwal makan tidak teratur, jadwal tidur berantakan, sampai jadwal belajar pun tumpang tindih dengan kegiatan lainnya. Semua orang pasti merasakan hal yang sama juga, tidak hanya Dina. Mengerjakan segala aktivitas hanya di rumah, apapun itu, entah itu bekerja, belajar, berbelanja, hingga ujian praktek berenang saja, semua dikerjakan di rumah berbekal jaringan internet dan perangkat telekomunikasi. Lambat laun kebiasaan itu juga yang mulai menggerogoti kesehatan jasmaninya.

Kelas pagi siap menyambut awal hari Dina. Sedikit malas ia menyiapkan sebuah benda elektronik berlayar dengan bentuk persegi panjang dan memiliki dua sisi. Ia menekan tombol power, lalu seketika menyala layar di hadapannya. Sembari menunggu proses loading ia mengecek informasi mata perkuliahan pada grup WhatsApp di ponselnya. Rutinitasnya di setiap pagi, selalu seperti ini. Melihat ribuan pesan berisikan deadline tugas-tugas yang mau tak mau harus ia kerjakan, memicu denyutan dari dalam kepalanya. Tak amat peduli dengan rasa tersebut, ia memilih untuk beranjak sebentar untuk membuat segelas kopi. Kopi hangat di pagi hari mungkin akan dapat menenangkan dirinya saat ini, pikirnya. Merasa puas setelah ia sudah menenggak habis kopinya, seolah-olah kesulitan dalam hidupnya ikut mengalir bersama air kopi yang masuk ke dalam perutnya.

Kini ia harus menyelesaikan tugas-tugas yang telah diberikan. Ia mulai mengetik jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang tersusun rapi pada soal yang terpampang di layar. Berjam-jam Dina hanya duduk dan terus menatap layar membuat badannya seakan-akan telanjur kaku, matanya pun mulai memerah dan berair mengisyaratkan keringnya. Sebetulnya, ia juga merasakan punggungnya terasa panas dan pegal. Denyutan kepala yang sempat menghilang mulai menyerangnya lagi. Demi mengejar tenggat waktu pengumpulan tugas, melalaikan Dina dari keadaan tubuh yang teramat butuh akan istirahat. Jangan lupakan bahwa Dina melewatkan sarapan pagi tadi. Hanya berbekal segelas kopi ia memaksa seluruh organ tubuhnya untuk terus bekerja secara optimal. Serupa dengan kerja rodi, bukan. Kalau saja organ-organ itu bisa bicara, mungkin akan terjadi persatuan antar organ-organ untuk memperjuangkan hak kemerdekaannya.

Dina berhenti sejenak dari kegiatan ketik-mengetiknya. Niatnya ia ingin mengambil segelas air untuk meredakan dahaganya. Ketika ia hendak berdiri, ia merasa pusing sampai pandangannya sedikit menggelap dan kabur. Ditambah perutnya juga terasa kembung dan mual. Dirasa tubuhnya akan ambruk, segera ia berpegangan pada ujung meja. Ia masih berusaha untuk tetap kuat. Ia kembali terduduk, mencoba menetralkan rasa pusingnya. Setelah mereda, ia kembali berdiri dan berjalan pelan untuk mengambil segelas air. Berhasil ia mendapatkan segelas air dan meminumnya. Beberapa menit ia diam dan merenung. Segera ia mengambil ponsel, kemudian ia membuka aplikasi konsultasi kesehatan yang dari sebulan lalu ia pasang dalam rangka berjaga-jaga bila ia membutuhkannya suatu saat nanti. Sebab melihat kondisi sekarang yang tidak memungkinkannya untuk datang secara langsung di tempat layanan kesehatan.  Terjadi percakapan antara dirinya dengan seorang dokter di aplikasi tersebut. Ia menanyakan perihal kejadian yang baru saja terjadi. Selang beberapa menit berlalu, dokter menjelaskan penyebab perkara yang dialami Dina. 

Ya, Dina tengah mengalami kondisi yang bernama hipotensi ortostatik (HO). Kondisi yang terjadi, tekanan darah Dina terlalu rendah saat ia akan berdiri. Darah yang mengumpul di area perut dan kaki menyebabkan kadar darah untuk kembali ke jantung tidak tercukupi sehingga terjadi tekanan darah menurun. Bagaimana tidak, berjam-jam menghadap layar dengan posisi yang tidak berubah sama sekali, hanya jari yang berpindah-pindah dari satu tombol ke tombol yang lain. Dehidrasi juga menjadi pemicu terjadinya hal tersebut. Saat Dina merasa kehausan, sebenarnya itu sinyal dari tubuh yang tidak ia sadari. Di sisi lain, Dina sudah mengetahui penyebab dari rasa kembung dan mual yang dirasanya. Ia memang memiliki riwayat sakit maag genetik. Teringat ketika pagi tadi ia meminum segelas kopi. Minuman yang mengandung kafein termasuk dalam kategori yang memicu terjadinya cairan asam lambung naik ke atas kerongkongan (esofagus). Dina menyesal telah melupakan suatu hal penting pada dirinya sendiri.

Dina mulai menyadari kecerobohannya. Di saat bersamaan dengan kesadarannya itu, dering ponsel Dina nyaring terdengar. Melihat nama kontak yang tertera di layar ponselnya mampu menghangatkan hatinya. Adiknya Laras, menghubunginya. Diangkatnya telepon dari Laras. Terdengar nada khawatir dari ujung sambungan teleponnya. Laras mengaku merasakan kekhawatiran akan keadaaan Dina sekarang, entah mengapa muncul begitu saja. Dina yang mendengar pengakuan si adik merasa ingin menangis seketika. Ikatan batin persaudaraan tidak dapat disepelekan. Laras yang hanya terpaut umur satu tahun di bawah Dina juga tengah mengemban kewajiban sebagai mahasiswi. Laras memilih untuk berkuliah di luar kota dan mengekos di sana. Dina menetap di rumah yang ditinggalkan kedua orang tuanya setelah keduanya meninggal dunia. Dina merespon telepon Laras, ia mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Dina tidak ingin adiknya bertambah khawatir jika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kemudian, Laras menutup telepon setelah sebelumnya memberikan pesan dan doa terbaik untuk Dina.

Sekarang Dina memulai perbaikan pada pola kesehariannya. Mulai memperbaiki pola makan dan jam istirahatnya. Sarapan sudah rutin ia usahakan setiap akan mengawali pagi. Sesekali ia luangkan waktu untuk berolahraga, bukan olahraga berat memang, hanya pemanasan sebentar di pagi hari. Kegiatan itu cukup mengurangi datangnya rasa pusing ketika ia menghadap layar saat mengerjakan tugas kuliah. Ia memutuskan untuk tidak terlalu menempa diri sendiri terlalu keras untuk memenuhi kewajiban pendidikannya. Ia hanya takut akan tertinggal jika tidak menyelesaikannya dengan cepat. Dina sadar akan tanggung jawabnya sebagai kakak kepada Laras. Ia ingat pernah mendengar,”mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan”, sebuah hadis riwayat Imam Muslim. Orang yang kuat akan mampu berbuat lebih baik bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Dina harus kuat sebagai kakak agar bisa menjaga Laras. Hal terpenting yang sebenarnya adalah dirinya sendiri. Perhatikan dirimu sendiri lebih baik, baru akan bisa memperhatikan yang lain dengan baik pula.

Loading

CINTA DI BUMI PESANTREN

Karya: Zubaidah (Peserta Lomba Cerpen dalam rangka Dies Natalis Ke-14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

Bismillahirrahmanirrahim… iżā waqa’atil-wāqi’ah laisa liwaq’atihā kāżibah 

 

Surat Al waqiah menghiasi pagi di pondok pesantren nurud-dhalam rutinitas santri sebelum berangkat ke madrasah seluruh santri sholat dzuha berjamaah, mengingat pahala dan keutamaannya yang besar tak henti-hentinya kiai menganjurkan agar dilaksanakan secara Istiqomah. 

Cahaya mentari semakin bersinar terang para santri berlalu-lalang membawa kitab dan buku dalam genggamannya menuju kelasnya masing-masing sedangkan Aisyah masih mencari-cari bukunya di dalam kamar 

“ya Allah… Kemana lagi aku harus mencarinya?” Raut wajahnya gelisah melihat teman-temannya yang sudah berangkat semua kecuali Linda dan Zulfa 

“ai masih belum ketemu Tah, tinggal 5 menit lagi kita masuk” ujar Zulfa, dan aisyah deru nafasnya semakin memburu 

“kalian duluan ya nanti aku nyusul” namun kedua temennya masih setia menunggu Aisyah menyuruh mereka untuk berangkat saja akhirnya keduanyapun manut saja.. setelah buku mapelnya ditemukan 

“Alhamdulillah” Aisyah segera bangkit dan melangkah cepat 

“Aisyah mau kemana?” spontan langkahnya terhenti saat Aisyah mendengar nyiai memanggilnya 

“ke madrasah nyiai” ujar Aisyah  tubuhnya membungkuk sebagai rasa hormat santri kepada nyiai 

“oh iya sepulang sekolah kamu ke dhalem ya” 

engghi nyiai”.

waktu berputar hingga menjelang siang Aisyah ke dhalem memenuhi panggilan nyiai beliau sedang duduk di ruang tamu “nak cucian punya Gus Husain nanti diambil ya di kamarnya, dia baru datang dari pondoknya” 

‘Deg… Jantung.. oh jantung… Apa yang membuatmu berdetak 2 kali lipat hanya mendengar namanya saja’ bisiknya dalam hati “engghi nyiai saya pamit ke pondok dulu” Aisyah mundur sebelum balik badan nyiai tak boleh melihat raut wajahnya yang seketika berubah mendengar nama putranya 

“tunggu… Buatkan kopi dulu ya nak di depan dhalem ada temen-temennya Husain, nanti biar aku saja yang ngasih” 

“baik nyiai”

Aisyah menuangkan air hangat ke dalam mug dan mengaduknya pelan, aromanya tercium saat dituangkan kedalam cangkir.

“Husain, kamu bilang 2 tahun lagi kamu akan boyong dari pesantren Lirboyo, dan melanjutkan studimu di Mesir, bolehkah aku menanyakan sesuatu?” tanpa sengaja ia mendengar nama Husain disebut, Sejenak ia terhenti dan mendengarkan secara seksama perbincangan mereka

 

“Tanyakan saja” Aisyah tersenyum mendengar suara Gus Husain membuat hatinya berdebar ada sesuatu yang tidak biasa terjadi dalam lubuk hatinya ia ingin mendengar suaranya sepanjang waktu  

“aku penasaran aja istri idamanmu seperti apa sih? siapa tau kita bisa jadi saudara ipar wkwk” 

“Maksudmu kamu menjodoh-jodohkan aku dengan adikmu yang masih MTS itu” 

“ya elah Husain, nggak harus memandang usia kan? Hahaha” 

“ada-ada saja kau mam, persoalan itu belum aku pikirkan sama sekali” 

“Ayolah jawab kita-kita ini sudah bertunangan aku, faisal, roni, masak kamu betah amat jadi jomblo” 

“Tentunya……” Husain menggantungkan ucapannya “seperti Sitti Aisyah” Aisyah tertawa kecil seolah-olah dirinyalah yang dimaksud Gus Husain “Sitti Aisyah istri Rosulullah” lanjut Gus Husain membuat Aisyah sadar sepenuhnya ia mengkhayal terlampau jauh  hingga lupa ia terlalu berharap sesuatu yang amat muhal baginya 

‘ya Allah hanya sesaat aku mengharapkan hambamu… Secepat itu pula runtuh seketika dan merawat harapan selain dari pada-Mu sakitnya benar-benar nyata’ ia bergumam dalam hati hanya ia dan tuhanlah yang tau, Aisyah menganggap dirinya tidak ada apa-apanya karakter Sitti Aisyah istri Rosulullah tidak sedikitpun ada pada dirinya, Aisyah membalikkan badannya nampan sedari tadi ditangannya hampir terjatuh akibat terkejut dengan keberadaan nyiai yang secara tiba-tiba berada di depannya

“biar saya yang ngasih kopinya ya” 

“iya nyiai” Aisyah menyerahkan kopinya yang mulai dingin sedingin hatinya yang mulai membeku. 

“Husain Husain sini nak, Aisyah kamu jangan kemana-mana dulu” Aisyah mengangguk “iya mi, bentar ya temen-temen” Gus Husain kini berada didepan umminya “Ada apa mi?” 

“Nak ambilkan semua bajumu yang kotor ummi pusing yang mau ke kamarmu berantakan sekali nak” 

“ummi malu ah ada santriwati di sini… Biasa mi Kan baru Datang masih belum diberesin” 

“cepetan gih kasian Aisyah biar ummi yang ngasih kopinya ke temen-temen kamu”.

 

Aisyah berusaha menetralkan detak jantungnya yang naik turun ia mengikuti Gus Husain dari belakang dan menunggu diluar kamarnya Gus Husain menarik koper besar lalu pergi tanpa sepatah kata 

‘sadar Syah, kamu itu santri … tugasmu belajar, jatuh hati urusan nanti’ ia menghela nafas lalu pergi ke pondoknya.

 

Beberapa baju sudah dimasukkan ke dalam bak untuk segera dicuci barang-barang berharga dikantong baju dan celananya disimpan ke dalam lemari untuk diserahkan ke nyiai setelah bajunya kering nanti. Aisyah juga menemukan note berukuran kecil berisikan kata-kata “Man shabara zhafira.” (Siapa yang bersabar akan beruntung). “Man jadda wajada!” (Siapa bersungguh-sungguh akan berhasil). “Man Saara Ala Darbi Washala” adalah Barang siapa berjalan pada jalannya, maka dia akan sampai (pada tujuannya). Ada stimulus yang Aisyah rasakan setelah membaca selembar tulisan itu meski tak disampaikan langsung oleh Gus Husain ia mengambil hikmah dan dicerna oleh pikiran dan perasaanya bahwa kunci perjuangan berpegang teguh pada 3 mantra itu dengan begitu Aisyah berharap ia mendapatkan barokah ilmu selama ia mondok meskipun sibuk di dhalem dan kesempatan belajar tidak sama dengan Santri lainnya Akan ia perjuangkan untuk terus menimba ilmu.

“Ketahuilah mempelajari ilmu itu wajib hukumnya, apa dalilnya utlubul Ilmi minal Mahdi ilallahdi ingat !.Hingga akhir hayat bukan berhenti ketika sudah berkeluarga atau masa tua” itu lah yang disampaikan oleh ustadzah di sekolah.

Masa aliyah tinggal menghitung Minggu, putih abu-abu serasa baru kemaren Aisyah mengenakannya ia merenung dan bertanya-tanya, apa yang bisa ia lakukan sekarang selain memikirkan masa depan langkah apa yang harus ia ambil setelah lulus nanti mengabdi di pondok atau kuliah sedangkan kuliah biayanya tidak sedikit, finansial sangat tidak mendukung jika memilih kuliah, maka dengan keikhlasan hati ia putuskan untuk mengabdi di pondok hingga menunggu waktu hingga tiba pulang ke kampung halamannya.

 

“Aisyah….” 

“Engghi nyiai…”

“Panggilkan Husain ya nak… Dia belum sarapan”

“Engghi nyiai” Aisyah langsung bergegas memenuhi perintahnya 

“Gus dipanggil nyiai..” beliau sedang mengobrol bersama Ridlo teman kelas Aisyah saat SD   dia seorang tahfidul Qur’an suatu kebanggaan dan teramat bahagiannya orang tuanya kelak mendapatkan mahkota di surga-Nya yang membuat Aisyah heran bagaimana  mereka bisa kenal bahkan seakrab itu 

“tenang lur aku tidak akan memanggil dia selagi masih ditempat ini…” Ridlo tertawa dan melihat Aisyah yang masih setia berdiri di depan pintu  

“Saya nyusul Syah… Sampaikan ke ummi”

“Baik Gus” hanya itu yang bisa Aisyah katakan.

Aisyah kembali ke dapur dan menyiapkan makanan ke atas meja

“Setelah sarapan kita ngaji” 

“iya bi”

“kamu kapan balik pondok nak?”

“setelah pernikahan Ridlo bi” nyaris Aisyah terkejut

‘Ridlo mau menikah dengan siapa, beruntung sekali perempuan tersebut dipinang oleh takhfidul qur’an?’ Aisyah bertanya-tanya dalam hati siapakah calon istrinya.

Aisyah duduk di dalam menunggu mereka hingga selesai sarapan 

“Ridlo siapa nak?, abi kok nggak kenal yang tadi di kamarmu ya?”

“dia sudah pulang bi kami teman pondok bi, tapi tidak sekamar”

Sesaat semuanya terdiam 

“abi….”

“iya nak….”

“bi sekalipun aku putra abi dan ummi, aku…. Aku Sama seperti lainnya, merasakan yang Namanya sakit hati, cinta, rindu dan bahagia terhadap sosok lain yang tak terikat hubungan mahram dengan kita, apakah abi dan ummi melarang? Aku tidak macam-macam kok bi hanya ingin mencurahkan apa yang terpendam”

“kenapa kamu bilang seperti itu nak?”

“aku… hanya….”

“kamu nggak segan cerita hal itu ke abi?”

“segan bi, sangat segan maaf bi”

“tidak apa-apa nak kamu sudah dewasa kamu yang lebih tau dan lebih mengerti diri kamu sendiri”

“tapi bi…. Ada yang mendahuluiku dan akupun baru tau bi”

“serahkan semuanya kepada pemilik semesta nak… segalanya diatur oleh Allah”

Aisyah termangu mendengar pernyataan dari gus Husain mungkin dia tidak sadar bahwa masih ada santri yang mendengar curahan hatinya. Aisyah turut kasihan kepada gus Husain tanpa tau siapa perempuan yang dia maksud.

 

Sore itu “Aisyah saatnya kamu pulang”

“kenapa pak? Kalau memang ada perlu ya sudah aku pamit dulu ke nyiai tapi keperluan apa?”

“kamu pamit bareng bapak nak, karna kamu tidak akan balik lagi ke pondok”

“kenapa begitu pak aku betah sekali di pesantren ini kenapa harus berhenti”

Tanpa sepatah kata untuk mewakili jawaban dari pertanyaan Aisyah, bapaknya menyerahkan surat undangan pernikahan, kedua nama mempelai membuat Aisyah tak mampu berkata-kata jantungnya berdetak hebat ia tak mampu bernafas dengan teratur setelah membaca undangan yang tertera nama dirinya Sitti Aisyah & Fathur Ridho Al-farizy yang duduk Bersama gus Husain kemaren.

“kenapa bapak tidak minta persetujuan dariku pak” air matanya tumpah membanjiri kedua pipinya

“dia laki-laki yang baik, kamu masih meragukan pria yang sholeh seperti dia? Maaf nak keputusan bapak dan ibumu itu yang terbaik untuk mu ke depan” Aisyah pun tak kuasa ia hanya bisa pasrah mungkin awal yang ia rasakan saat ini teramat pahit baginya ia hanya bisa berharap esok suasana akan berdamai dengan hatinya sekalipun rasa masih tertuju pada dia gus Husain.

Pelukan berhamburan dari berbagai arah baju-baju di lemari bantu dikemas oleh teman-teman pondoknya ucapan selamat membuat Aisyah masih tidak percaya dengan apa yang dialami saat ini Aisyah dan bapaknya pamit saat sekeluarga berkumpul, nyiai turut merasa kehilangan 

“siapa lagi yang ummi suruh untuk cuci bajumu nak kalau Aisyah sudah boyong” nyiai menatap putranya 

“ummi kayak punya santri satu saja” gus Husain tersenyum tanpa sengaja pandangan mereka bertemu 

‘Ya Allah tidak ada kekuatan dan daya upaya selain dari-Mu aku ikhlas dan pasrah jika Aisyah cinta pertamaku bertemu dengan jodohnya yang telah engkau pilih semoga mereka bahagia dunia akhirat’ harapan dan do’a dari gus Husain penuh dengan keiklasan ia mampu menyembunyikan rasa cintanya dari keluarganya bahkan yang dicintainya kecuali kepada tuhannya

 

Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan 

Dalam hidup dan yang paling pahit 

Adalah berharap pada manusia 

~Ali bin Abi Tholib~

 

Loading

MANTINI

Karya: Eko Setyawan (Juara 3 Lomba Cerpen dalam rangka Dies Natalis Ke-14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

Jika saja takdir dapat diubah, maka tentu saja kau berharap untuk tak terlahir cantik, Mantini. Kecantikan bagimu hanya akan mendatangkan bencana. Dari wajah yang segar itu, terpancar cahaya kematian. Kematian entah untuk apa dan tentu hal itu tak pernah kau inginkan. Kematian yang begitu menyeramkan dan seluruhnya bermuara padamu. Muara dari segala sungai yang mengalir.

Sungai itu tak henti-hentinya mengalirkan air matamu, Mantini. Sungai yang jernih dengan riak kecil disertai suara air yang lembut. Bukan hanya air mata semata, sungai itu juga dialiri darah yang didaras dari kecantikanmu. Keduanya berbaur dan bercampur. Air mata dan darah begitu amis kau hidu. Suaramu terdengar sendu dan menyayat. Kidung Aja Geger kau tembangkan dengan harapan tiada lagi darah yang mengucur.

Kidung itu mengalun menyelimuti Alas Bangsri yang penuh dengan rimbun pohon. Kedamaian hidup terhampar. Namun di sana pula aroma kebencian dan kematian terus saja menguar. Kebencian itu begitu nyata, Mantini. Bersumber padamu. Semula seluruhnya biasa saja. Saban pagi, burung-burung masih meninggalkan sarangnya yang hangat. Kicauan yang saling bersahutan itu menandakan bahwa hutan itu masih asri. Matahari yang baru saja menampakkan dirinya juga mengiringi suara-suara itu.

Bunga-bunga berlomba untuk mekar. Embun membasahi seluruh lapisan daun, bunga, maupun rerumputan. Pagi yang begitu menyenangkan. Sebuah pagi dibalut dengan hawa dingin menyelimuti tubuhmu. Seolah memelukmu erat dan sesekali membuatmu bergidik. Udara dingin dan alam yang menyambut kebangkitanmu dari tapa atau barangkali tidurmu yang panjang. Kau terlahir dari rahim entah siapa, tapi orang-orang mengatakan bahwa kau adalah jelmaan Uma. Kau telah lahir, Mantini.

Tapi tak lama kemudian kau menyadari bahwa tak jauh dari tempatmu, amis darah tak henti-hentinya menusuk hidung. Darah dari dua jejaka yang mati karena saling mengalahkan. Dua jejaka yang saling beradu kuat untuk mendapatkanmu. Dan tentu kau tahu, mereka hanya berakhir dengan mengenaskan. Mereka mati tanpa memperoleh apa-apa.

Peristiwa yang selalu berulang di setiap paginya itu membuatmu tak nyaman. Dua orang mati dan nyawa mereka melayang sia-sia. Selalu saja ada mayat-mayat baru karenamu. Berduel demi menyuntingmu. Kau menyadari bahwa kecantikanmulah kematian-kematian itu berasal. Kau menyadari sepenuhnya karena warga berkasak-kusuk akan hal itu. Tapi siapa berani menganggu jelmaan Uma?

Warga menyematkan julukan itu padamu, Mantini. Dan sialnya, mereka semua mempercayai sepenuhnya. Seorang bayi mungil yang ditemukan di tepi Kali Bacin oleh Nyai Sumi tak lain adalah titisan Uma. Kepercayaan mereka atas apa yang dilakukan bermula ketika kali yang semua beraroma busuk karena saban hari digunakan untuk mandi para kerbau itu tiba-tiba menguarkan aroma wangi. Sihir mana yang bisa melakukan hal itu dalam sekejap jika bukan berasal dari jelmaan Uma, sang permaisuri Siwa?

Wajahmu saat itu memancarkan aura kebahagiaan. Kau juga sumber kebahagian Nyai Sumi. Ia janda yang hidup seorang diri dan tak punya anak seperti tertimpa rezeki dari langit. Bermula dari menemukanmu, sejak saat itulah simpul senyum di bibirnya tak pernah berubah. Saban hari, kebahagiaan selalu menyelimutinya. Kau hidup di tengah kebahagiaan dan kebahagiaan itu bersumber padamu.

Kau dibesarkan dengan cinta yang menyelimutimu. Cinta yang besar dari seorang perempuan yang berhati besar. Hari berganti hari dengan kebahagian yang terus menyusul. Tak ada yang dapat memadamkan cinta Nyai Sumi padamu. Kau dibesarkan dengan senyuman.

“Ini Mantini, anakku,” kata Nyai Sumi pada warga ketika warga berebut untuk menggendongmu. “Dewi Uma yang mengantarkannya untukku. Untuk menemani kesepianku,” lanjutnya dengan senyum bahagia.

Kerumunan warga mengangguk menyetujuinya. Di gendongan Nyai Sumi, wajahmu memancarkan cahaya. Warga pun turut bahagia memandangmu. Wajah yang kelak akan menyihir siapa pun yang melihatnya. Warga juga silih berganti berebut untuk dapat mengendongmu. Bukankah saat itu kau bisa merasakan detak jantung mereka, Mantini? Detak jantung yang begitu cepat dan berakhir dengan kebahagiaan. Bahagia karena dapat memelukmu dengan selembut-lembutnya.

Kecantikanmu tumbuh seiring kau beranjak dewasa. Kau sekarang jadi perawan seperti bunga yang mekar. Mekar begitu sempurna. Sebenarnya bersumber dari manakah kecantikanmu, Mantini?

“Kau begitu cantik, Nduk.” Nyai Sumi tak henti-hentinya memujimu. Pujian itu terlontar ketika saban sore ia menyisir rambutmu. Menyisir dengan hati-hati agar tak satu pun rambut lepas. Setelah itu ia mengelus rambutmu dengan begitu lembut.

Tapi siapa menyangka bahwa kecantikanmu adalah sumber utama dari kematian para jejaka yang saling beradu untuk memperebutkanmu. Di suatu pagi, ditemukan dua jejaka mati bersimbah darah. Mereka terkapar di jalan yang membelah Alas Bangsri di mana jalan itu adalah jalan menuju rumah Nyai Sumi. Diketahui bahwa mereka bertaruh dan bertarung agar dapat menyuntingmu. Meskipun belum tentu diterima, paling tidak mereka menyingkirkan saingannya terlebih dulu. Begitu pikir mereka sebelumnya. Itulah yang disampaikan orang tua mereka di hadapan Nyai Sumi. Sementara kau memilih untuk mendengarkannya dari balik pintu kamar.kau mendengar dengan jelas percakapan antara Nyai Sumi dengan mereka yang datang.

“Anakku berangkat untuk menyunting Mantini, Nyai,” kata salah satu orang tua jejaka yang mati.

“Anakku juga berkata begitu padaku, Nyai,” kata orang tua jejaka lain yang juga sama-sama mati.

 “Maafkan aku,” Nyai Sumi menghantarkan permintaan maaf. Raut wajahnya yang sebelumnya tenang begitu tampak cemas dan pasrah.

Suara pun berdengung. Warga tidak berani menyalahkan Nyai Sumi maupun Mantini. Siapa yang berani menyalahkan jelmaan Uma. Salah-salah malah mereka yang kena laknat. Orang tua kedua pemuda itu juga menyadari bahwa kematian itu memang kecerobohan anak-anak mereka. Tapi di sisi lain Nyai Sumi juga menyesali peristiwa yang telah terjadi. Ia meminta maaf dengan tulus.

Di pagi-pagi berikutnya, nyawa demi nyawa terus melayang. Di jalan yang membelah Alas Bangsri menuju rumah Nyai Sumi selalu saja terkapar dua pemuda. Ada yang mati ada yang sekarat dan berujung juga pada mati. Dua jejaka yang saling adu kuat dengan tujuan mengalahkan pesaing mereka untuk menyuntingmu, Mantini. Mereka memperebutkanmu.

Memang begitulah cara jejaka berpikir. Mereka tidak bisa berpikir panjang jika memperebutkan wanita cantik. Mereka akan berbuat semaunya meski harus menanggung risiko. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka sedang memperebutkan jelmaan Uma. Mereka tidak berpikir atas hal itu. Tentu saja warga menyalahkan jejaka-jejaka itu. Betapa bodohnya mereka.

Nahasnya, di hari ketujuh di mana kematian demi kematian itu terus terjadi, Nyai Sumi juga turut meyusul empat belas jejaka yang telah mati. Kau menemukan Nyai Sumi tak lagi bernapas. Ia seperti menanggung beban atas kematiaan para jejaka yang memperebutkan dirimu, Mantini. Kau sangat terpukul, bukan?

Begitulah kebahagian dan kematian bekerja. Mereka saling bersisian dan bekerja bergantian. Tidak saling mendahului tapi memang benar-benar beriringan. Hanya saja mereka bekerja menunggu giliran mereka. Hanya saja kita semua tidak tahu kapan hal itu terjadi. Bukan juga kita yang menentukan.

Tumpahkah seluruh air matamu, Mantini. Seluruhnya bermuara padamu. Kebahagiaan yang berasal darimu juga akan diakhiri dengan kematian yang juga sama-sama berasal dari dirimu. Kecantikan itu begitu mengerikan. Jika saja kau lahir kembali, tentu kau ingin lahir demikian. Kau tak ingin menanggung beban seperti sekarang. Mengapa kau tak berkata apa-apa selain menembangkan Kidung Aja Geger, Mantini?

Loading

MENGIDAM

Karya: Cinta Maulida Azbi (Juara 2 Lomba Cerpen dalam rangka Dies Natalis Ke-14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

Ibu hamil kalau mengidam, sukanya makan mangga muda, rujak, keripik ubi, rambutan, kadang-kadang bakso Pak Kumis. Namun, istriku lain cerita. Bila mencuci baju, dia mengidam makan deterjen. Bila nampak asbak rokok, dia mengidam makan abu rokok. Bila berkebun, dia mengidam makan tanah. Kata orang, istriku sudah kena kutuk. Itu karena dia memilih putus cinta dengan Imam, mantan pacarnya dan memutuskan kawin denganku gara-gara aku yang melamar lebih dulu ke orangtuanya. Namun, ada pula yang menduga, istriku sudah kena guna-guna yang dikirim si Imam karena masih patah hati dan tak terima pernikahan kami bahagia. 

Aku stres ampun-ampunan. Memikirkan cemana istriku bisa sembuh lagi. Penyakitnya apa aku tak tahu. Entah mau berobat kemana. Kalau berobat ke dukun, kata alim ulama nanti syirik, dosa besar, tak diampuni Tuhan, masuk neraka. Berobat ke Pak Mantri, beliau pun hanya geleng-geleng kepala, tak tahu jenis penyakit apa yang diderita istriku ini. Kalau kata orang-orang alim, baiknya istriku dirukiah saja, tetapi istriku tak siap menjalaninya.

Walaupun aku tak suka percaya pada hal-hal mistis, seperti guna-guna. Namun, karena cinta dan sayang pada istriku yang cantik, aku memilih jalan terakhir dengan percaya bahwa itu guna-guna dari Imam, mantan pacarnya. Aku berniat untuk meminta ampun pada Imam agar dia mencabut guna-guna itu. Namun, begitu datang ke rumahnya, rupanya rumah itu kosong. Kata tetangga-tetangganya, Imam sudah lama pindah.

Berminggu-minggu aku mencari tahu ke mana si Imam itu pindah. Bertanya dari mulut ke mulut. Hingga dapatlah informasi alamat barunya dari mamak si Imam. Untung saja, mamaknya mau berbaik hati mau memberikan alamat itu, karena kubilang aku sahabat lamanya. Setelah itu, langsung aku bongkar celengan, mengambil duit untuk memesan tiket kereta api ke Binjai, tempat si Imam bertapak sekarang.

Sempat salah alamat, tanya sana-sini, setelah lima jam baru aku dapat rumah si Imam. Saat mau masuk ke rumahnya, aku disambut oleh seorang wanita berbadan gemuk memakai jilbab biru, kupikir salah alamat lagi, tetapi saat kubilang, “Mau ketemu sama Pak Imam.” Dia mempersilakanku masuk dan menyuruhku menunggu karena katanya Imam masih bekerja, sebentar lagi mau pulang.

Begitu kulihat Imam pulang dan masuk ke rumahnya, barulah aku bersujud meminta ampun di depannya. Memohon-mohon meminta belas kasihan. Imam pun terheran-heran karena ada pria rambut kusut, bau keringat, penampilan acak-acakan macam gembel tiba-tiba datang entah dari mana memohon-mohon minta ampun hingga terucap kalimat dari bibirnya, “Kau ini kenapa?”

Akhirnya aku menjelaskan semuanya, kronologi-kronologi hingga istriku bisa mengidam yang aneh-aneh. Di akhir kalimat kuucapkan, “Tolonglah kau cabut guna-guna itu.”

  Imam tertawa terbahak-bahak mendengarnya sampai air ludahnya muncrat-muncrat ke wajahku. Kemudian di sela tawanya dia berkata, “Kau ini lucu. Lucu kau ni.”

Kini aku pula yang terheran-heran, orang kena musibah, istri kena penyakit aneh kenapa pula ditertawakan. Kupikir dia ini macam orang-orang jahat di film-film kartun yang suka ditonton kemanakan-kemanakanku. Tertawa jahat karena tahu korbannya memang benar-benar menderita.

“Begini, biar kujelaskan dulu. Kau salah paham. Aku tidak diputuskan oleh istrimu, tetapi aku yang memutuskannya. Jadi, untuk apa aku patah hati dan memasang guna-guna untuknya. Aku pun tak pernah memasangkan guna-guna ke orang. Haram. Dosa besar,” kata Imam sambil menyeruput kopi hangat yang baru saja diantarkan oleh wanita jilbab biru berbadan gemuk tadi.

-***-

Di tempat lain, malam dengan angin yang terasa sejuk. Tanah masih lembab dan setengahnya terkena genangan air. Daun-daun dari pohon mangga menampung butiran-butiran air. Kodok-kodok Bangkong bersuara kung kong kung kong masih tak puas dengan hujan yang turun sore tadi, berdoa hujan hendaknya datang lagi.

Seorang wanita memakai gaun pendek sambil mengatup jaketnya dengan erat pada tubuh yang perutnya mulai membuncit berdiri tak jauh dari pohon mangga. Tempat itu sepi dan cahaya hanya remang-remang yang didapat dari satu lampu jalan yang masih menyala. Tak lama kemudian, seorang pria datang dari kejauhan. Berlari untuk sampai ke tempat wanita itu berdiri.

“Maaf aku baru bisa datang sekarang. Kudengar kamu kurang sehat, ya?” ucap si pria tersebut kemudian si wanita membalasnya dengan anggukan lalu menyampaikan semua keluh kesahnya.

“Orang-orang bilang aku aneh, penyakitan, dan kena kutuk, karena suka ngidam yang aneh-aneh.”

“Tenang sayang, kamu jangan terlalu stres ya, orang-orang itu salah. Kamu gak kena kutuk atau semacamnya, kamu cuma kena gangguan pica*. Kamu ikut anjuranku ya, sayang.”

Wanita itu hanya mengangguk kemudian sang pria memeluk tubuh wanita tersbut.

“Sabar ya, Sayang. Setelah sumpah dokter, aku bakal menikahi kamu dan membawamu pergi dari suamimu itu.”

Gak apa-apa, Sayang. Aku akan menunggu.”  

-***-

*Gangguan Pica : Jenis gangguan kesehatan makanan berupa keinginan dan nafsu makan terhadap bukan makanan atau makanan yang tidak bergizi. Dapat terjadi pada anak-anak dan ibu hamil.

 

Tanjungbalai, 29 April 2021

Loading

HIDANGAN TERBAIK UNTUK PRESIDEN

Karya: Iqbal Hasyim (Juara 1 Lomba Cerpen dalam rang Dies Natalis Ke-14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

Gelombang suara yang dilahirkan pintu menjalar memenuhi ruangan. Cicak dan lalat juga dimasuki, dirasuki. Suara tak kenal bentuk, tak kenal siapa yang akan dihadapi. Bahkan Tuhan di arasy pun ia rasuki. Termasuk dan terutama nenek paruh baya yang satu giginya, terlipat-lipat kulitnya, sedang rambutnya yang mungkin rambut tersebut selamanya akan bermusim salju, dan sedang duduk di kursi yang sedang bergoyang, juga mendengarnya.

“Masuk,” lirih namun bahagia nenek itu berkata.

Ternyata di balik pintu itu tertera anak sang nenek yang membawa kedua anaknya: Satu bocah laki-laki dan dua anak perempuan yang nampak lebih muda dari si lelaki. Mereka berempat tampak bahagia.

“Terima kasih sekali bu, sudah mau bermain dengan anakku setiap bulan. Kami juga minta maaf bu tidak bisa menemani.”

Nenek itu memotong, “ndak kok nak, ini kemauanku sendiri. Mereka senang setiap bulan berlibur ke rumah ibu. Begitu pun ibu, nak, kesepian di sini. Apalagi mereka itu penerus bangsa, harus sering-sering bermain dengan orang luhur seperti ibumu ini. Apalagi ibumu sudah hampir mati”

“Wusss, jangan bilang begitu bu!”

Nenek itu tertawa lemah, namun berenergi.

Tak lama kemudian, setelah lama bercakap-cakap. Si ibu dari ketiga anak itu, melepaskan dengan lembut tangan ibunya yang sudah lunglai. Setelah salam dikatakan dan anak-anaknya dilepaskan, pecah canda-tawa nenek dan anak-anaknya dalam ruangan yang begitu sederhana itu. 

Anak tertua yang sedang tumbuh rasa ingin tahunya mendekati sang nenek. Kedua adik perempuannya menjauh, mencari beberapa mainan untuk dipreteli, mereka begitu bahagia. Kebebasan dan kesenangan dua anak berumur lima tahun sedang bersemi. 

“Kedua mata nenek kemana?” tanya si anak laki-laki yang sudah berada di bawah kaki sang nenek dengan lugunya.

Sang nenek lagi-lagi tersenyum tentram, “kamu sekarang umur berapa?”

Sambil menghitung jari di kedua tangan mungilnya, “… enam, tujuh. Tujuh tahun nek”

“Sudah waktunya, sini mendekat”

Anak itu naik ke haribaan sang nenek.

“Waktu aku sepantaranmu, mungkin empat tahun lebih atas…” Cicak dan lalat-lalat ikut terdiam, seakan tertarik mendengarkan.

***

“AKU TAK SEDANG BERDUSTA,” sejurus teriakannya itu, orang-orang yang lewat di warung besar itu tertarik melihat ke dalam. Warung itu semakin ramai. Biasanya penuh kesunyian, kini riuh karena kisah pria berkumis tebal yang berkoar-koar. Orang yang masuk mendengarkan kisahnya di warung itu tak enak sendiri jika tak memesan atau membeli sesuatu. Jadilah kerupuk, air panas untuk kopi, dan minyak untuk menggoreng gorengan, tandas dirangkul orang-orang yang kian lama-kian membanyak.

Aku hanya mendengarkan dengan getir perkataan pria berkumis tebal itu dalam diam di samping ayahku. Sepertinya, aku seakan tak ada di mata mereka.

“Waktu itu aku sedang di WC umum dekat bengkel pak Romlah. Beberapa menit berlalu, tepat setelah aku menyiram berakku dan membuka pintu. Aku berteriak histeris, sehisteris mungkin. Temanku sudah kehilangan kedua matanya. Apakah kau percaya? Kedua matanya?” pria itu serius menekan suara ketika mengucapkan kata mata, “Aku lihat dari kejauhan, seorang berambut panjang, bertopi fedora, terlihat jelas menggenggam kedua mata temanku. Berjalan santai. Aku tak kuasa mengejar. Tubuhku mantap gemetar”

“Bagaimana ekspresi temanmu itu?”

“Dia baik saja. Ditanya, tidak apa”

“Sekarang dia di mana?”

“Kembali ke Sumatera”

Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya dijawab dengan cepat. Memang tak tampak sisi dusta dari orang itu. Ditambah wajah takutnya di WC umum kala itu seakan masih lekat di wajahnya.

“SUDAH JELAS PAKAI HIPNOTIS,” kumis pria itu ikut bergetar.

Beberapa hari kemudian cerita itu makin kuat. Setelah di koran digital, koran lembaran, hingga koran berbicara di kotak besar yang disebut TV, mengabarkan tentang berita yang serupa, namun hanya korban-korbannya yang berbeda.

Kami makin takut. Anak-anak yang biasa di luar rumah, dikunci di dalam rumah. Yang di dalam rumah, makin tak berkutik di bawah kasurnya. Tapi tak semua. Aku salah satunya. Malah diajak keluar rumah oleh ayahku. Ke Surabaya, hanya untuk melihat sebuah penampilan teater Eska.

Aku adalah anak “rumah”, karena kekhawatiran ibuku yang begitu tebal. Ayahku malah sebaliknya, memberi kebebasan. Semenjak ibu wafat, tepatnya sehari yang lalu. Aku mungkin akan sering keluar rumah, bahkan mungkin sering ke luar kota. Seperti yang aku rasakan sekarang. Di balik isu si bajak mata, ayahku malah nekat mengajakku bermain ke luar kota. Andaikan ibuku masih duduk menjahit di rumah, habis kami berdua kena marah.   

Sekarang di ambang pintu bus aku menarik napas. Terkagum-kagum melihat bentuk mesin yang teramat besar sedang berada beberapa senti di depan bola mataku. Ayahku sudah naik ke bus beberapa belas detik yang lalu. Dan pada sekian belas detik kemudian, ayahku berteriak, mencariku. Dia kira aku sudah duduk manis di sampingnya. Aku tertegun dan cepat beranjak masuk. Kami berdua tertawa di dalam bus. Ayahku berkata bahwa masih banyak mesin-mesin besar lainnya selain mesin jahit yang ibu gunakan dan mesin yang aku naiki sekarang.

Perjalanan yang panjang. Aku tertidur tidak pulas sama sekali. Di tengah sadar dan tidak, aku melihat seorang berambut panjang kusut sampai ke belakang lutut, memakai jaket levis usang. Tak salah lagi, sayang aku tak sepenuhnya sadar. Bertopi fedora.

“… Mata… tidak akan sakit, cobalah sendiri,” hanya itu yang ku dengar dari deklamasi panjang yang aku lewatkan. Bus berhenti. Semua orang mencongkel matanya, tak mengaduh, tanpa ragu, tak ada desah sakit. Termasuk ayahku. Aku mencoba menghentikannya. Namun dia hanya berkata, “tak apa, ini demi negara nak”

Keempat jari ayah dimasukkan ke dalam kelopak matanya. Bulat hitamnya mendelik ke atas, sangat tinggi. Lalu setelah jari-jarinya menyelam, dia menariknya –dengan lembut. Tak ada suara aduh sedikit pun. Si pria fedora itu menghampiri orang di bus itu satu-persatu. Memasukkan semua bola berlendir itu ke dalam karung. Begitu dia hampir mendekati ayah, aku berlari keluar. Beruntung aku di dekat pintu.

Bulan mengiringi langkahku berlari. Di tengah hutan. Sepertinya pria fendora itu memang sengaja memberhentikan bus di dalam kesunyian, agar tak ada seorang pun yang tahu.

Bulan mulai bosan. Dia pergi ke balik awan. Kegelapan hutan mulai terasa. Aku tak bisa melihat apapun. Pria itu  terasa masih mengejarku. Suara sepatu tebalnya terus beradu angkuh dengan tanah. Senternya menembus kegelapan.

Tak lama kemudian, nasib malang t’lah tiba. Aku tersandung batu yang lumayan besar. Kedua mataku tertusuk ranting-ranting kayu yang berserakan menghadap ke langit. Berdarah-darah. Aku menjerit.

Pria itu datang. Berkilah panjang, “…bola mata itu tak sakit dicongkel nak. Yang sakit ketika kamu menusuk, mencolek tepat ke bola matamu. Jika hanya diambil tanpa harus mencolek, tak akan sakit”

“Kenapa kamu suka mengambil mata?” mataku mulai buram, darah terus bercucuran.

“Oh…ini akan aku hidangkan ke presiden. Dia mungkin akan suka makan mata rakyatnya. Andai rakyatnya tak punya mata, tak mungkinlah perselisihan terjadi. Rakyat Indonesia suka menilai sesuatu hanya dengan menggunakan mata. Aduh, tak perlulah aku banyak omong, lagi pula matamu sudah rusak. Presiden tak minat makan mata cacat seperti punyamu itu. Sepasang mata lagi, maka siap satu ruangan penuh mata untuk presiden. Hidangan terbaik untuk presiden”

“Tunggu!” dia tak menghiraukanku, lanjut meninggalkanku. “KAU APAKAN ORANG-ORANG ITU? APAKAH KAU MENGHIPNOTIS MEREKA?”

Dia berhenti, dan berpaling lagi menghadap wajahku, “Tidak nak. Aku hanya mendoktrin mereka dengan kenyataan yang ada. Empat menit cukup. Taukah kamu nak, aku hanyalah anak SD yang suka membaca hingga detik ini. Membaca buku, membaca keadaan” 

Akhirnya mataku tiba-tiba menggelap, tak ada setitik cahaya pun yang kuasa bertengger di mataku. 

“Bukankah dengan mengambil mata rakyat, mereka tidak bisa lagi membaca?”

Dia terkekeh lalu mengalihkan pembicaraan, “Jangan bilang siapa pun sampai kau punya cucu berumur tujuh tahun, tentang pertemuan ini, ya,” setelah perkataannya itu, aku tak tahu dia masih ada di sana atau tidak. Namun yang pasti, dia tak lagi menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Aku menjerit, tak ada seorang pun yang menjawab. Kecuali hanya lagu yang burung hantu bawakan, angin yang bertengkar dengan dedaunan.

Kala ulang tahun presiden tiba. Ketika seorang wakil rakyat itu siap memasuki tempat pesta ulang tahunnya. Lima meter di depan ruang pesta itu, bau amis tercium jelas. Di muka pintu tertempel sebuah surat. Dibacanya surat itu. Matanya terbelalak. Membuka pintu. Ribuan mata jebol keluar dari ruangan di balik pintu itu. Sehari kemudian dia ceritakan. Seluruh media meliput. Seluruh pelosok desa, kota, pedalaman berubah. Rakyat tanpa mata bahagia, seakan terbayar sudah mata yang presiden makan. Indonesia, operasi.

***

“Benar nek, tidak sakit. Ini, kedua bola mataku nek, untuk presiden”

Nenek paruh baya itu hanya tertawa lembut. Begitu lembut dan tentram.

Loading

SEBELUM HUJAN REDA

Karya: Matahari (Juara Favorit Lomba Cerpen dalam rangka Dies Natalis Ke-14 CSSMoRA UIN Walisongo)

 

“Kapan terakhir kali kamu berdoa?”

Lelaki di hadapanku tertawa ringan mendengar pertanyaan kelewat absurd itu. Dia bilang, doa terakhirnya barangkali adalah sesaat sebelum ia mengendarai motor untuk menjemputku tadi. Aku menuduhnya berdusta. Kalau dia benar-benar berdoa, seharusnya kami tidak terkurung hujan deras di sebuah emperan pertokoan yang tutup.

“Jangan-jangan kamu yang tadi tidak berdoa!” balasnya menuduhku. Kami berdua tertawa atas lelucon itu.

Sesaat kemudian, saat hening menjadi teman, aku menghela nafas panjang. Benar. Aku tidak berdoa sebelum pergi hari ini. Aku tidak berdoa saat bangun. Aku tidak berdoa sebelum tidur semalam. Aku bahkan tidak berdoa berhari-hari.

Aku jadi bertanya-tanya, kapan seseorang mulai berdoa dan kapan seseorang berhenti berdoa? Apakah karena dulu setiap malam ibu menyuruh anaknya berdoa sebelum tidur, maka ia berdoa? Apakah karena dulu setiap hari guru menyuruh muridnya berdoa sebelum belajar, maka ia berdoa?

Aku tak punya ibu yang menyuruhku berdoa setiap malam. Saat punya guru, ia pikir aku sudah hafal doa harian sehingga ia tak mengajariku. Aku berdoa setiap hari sampai kemudian entah di hari ke berapa aku merasa hambar. Bahkan kini, saat hujan yang katanya waktu doa dijawab Sang Pencipta, aku tak tergoda mengangkat tangan.

Hujan pun kian kuat. Atap seng berbunyi nyaring layaknya arena perjudian saat taruhan unggulam mereka hampir kalah. Udara dingin kian menusuk. Aku menghapus jarak antara aku dan lelaki yang telah kukenal kurang lebih enam bulan. Ia, lelaki dengan senyuman matahari itu, mengaminkan. Tangannya terbentang meraih bahuku.

“Wah, enak ya pacaran pas muda,” seorang perempuan dewasa akhir yang ikut berteduh berkomentar. Di sebelahnya, lelaki yang sama sepuh, barangkali suami, terlihat berpangku tangan dalam upaya menghangatkan dirinya sendiri.

“Duh, Buk! Jangan ngurusin orang,” suaminya menanggapi.

“Lihat, Pak! Anak muda jaman sekarang pacarannya blas bles blos saja. Kayak dunia milik berdua.”

Mereka berdebat. Si suami terlihat sungkan dengan perkataan istrinya. Akan tetapi, semua orang yang berteduh di emperan pertokoan itu terlihat setuju. Tatapan mata mereka menghakimi kami.

“Kamu mau pakai jaketku saja?” tawarnya berbisik. Tangannya rampak ragu memberikan kehangatan. Pelukannya tak seerat tadi.

“Iya,” jawabku risih dengan tatapan orang-orang.

Kami berdiri dengan jarak yang kecanggungan. Jarak kami tidak lebih dekat dari seorang anak yang memeluk kaki ibunya di depan toko  benang. Jarak kami tidak lebih mesra dari suami istri yang masih berdebat itu. Jarak kami, untungnya, tidak sesepi seorang laki-laki buta berpeci di toko paling ujung.

Aku maju satu langkah. Mengintip, karena rasa penasaran tak terbendung, pada lelaki buta berpeci haji di ujung lorong pertokoan. Usianya tak lagi muda. Tangannya yang telah keriput memegang tongkat dengan genggaman yang tremor. Bibirnya komat kamit layaknya orang suci tengah berzikir. Seolah bibir itu memang telah terlatih untuk selalu basah mengenang asma Allah.

“Kenapa?” lelaki matahari di sebelah ku bertanya.

“Aku baru saja berdoa.”

“Oh ya? Kau berdoa agar hujan reda?”

“Tidak juga.” Kerutan terbentuk di dahinya. Barangkali mencari berbagai macam opsi doa lain yang bisa kupanjatkan di situasi macam ini.

Hujan kian menggila. Angin kencang menerbangkan beberapa sampah. Semua orang merapat pada perlindungan terdekat yang bisa mereka gapai. Anak berlindung pada ibunya, perempuan berlindung pada lelakinya, anak muda berlindung pada kekuatan fisiknya. Aku tak bisa berhenti khawatir pada pria tua buta di ujung pertokoan yang tak punya sesuatu, bahkan dirinya sendiri, untuk melindungi.

“Yang, aku ke sana ya.”

Langkah lebih cepat ketimbang ucapanku. Langkahku besar dan cepat menuju lelaki tua itu. Jantungku berdetak cepat. Terlebih saat melihat sebuah terpal dengan pancang paku yang tajam terbang mengarah ke lelaki itu. Kilat petir melatari suara teriakan dan dentuman.

“Ustaz!” suaraku hilang ditelan situasi.

Alam bawah sadarku memaksaku bertindak. Meski pura-pura tak peduli, meski pura-pura tak kenal, tubuhku bergerak dengan sendirinya hendak meraih sosok itu. Aku tak bisa mengerdilkan perasaan kagum dan hormatku pada sosok buta yang memiliki mata air kasih sayang dan berkah ilmu dalam dirinya itu. Aku pun, seorang yang pernah  menyesap mata air itu. Di diriku mengalir percikan dirinya. Barangkali itu yang membuatku kalang kabut mengejar lelaki itu ini.

Terpal biru yang diterbangkan angin menyelimuti tubuh lelaki tua buta tanpa celah. Aku dan seorang tukang ojek mendekatinya. Tukang ojek itu dengan tergesa-gesa menarik terpal itu. Aku melihatnya terduduk dengan tongkat yang sudah tak lagi dalam genggaman. 

“Bapak tidak apa, Pak?” tanya tukang ojek itu sembari membantunya berdiri.

Tidak ada luka, tidak ada lebam. Syukurlah.

“Alina!” lelaki matahariku memanggil. Aku tak kuasa menahan rasa takutku. Bagaimana jika lelaki tua di hadapanku ini mengingat nama itu? Meski kemungkinannya sangat kecil, meski aku yakin beliau telah memiliki banyak murid-murid lain bernama Alina, jantungku tak bisa diajak kompromi.

“Kamu Alina? Alina Aisyah?” lelaki buta itu bertanya dengan suara yang sangat familiar.

Aku mengangguk meski aku tahu lelaki di depanku tak akan bisa tahu. “Bukan Pak, saya Alina Niswati.” Aku berbohong.

“Bapak ingat sekitar tiga tahun lalu Bapak punya santri namanya Alina Aisyah. Dia pintar, rajin ibadah, selalu taat dengan peraturan pesantren. Dia suka bantu-bantu di rumah Bapak. Setelah tamat dia belum ada lagi berkunjung ke pesantren. Tadi Bapak dengar ada yang panggil ustaz, suaranya mirip Alina. Rupanya salah orang.”

Aku tak lagi mengucapkan apa pun. Aku takut suara cempreng ini akan makin mengingatkan lelaki tua berpeci itu akan seorang santri polos yang kini hanya tinggal cerita. Aku menarik tangan pacarku sembari berlari kecil menuju motor yang terparkir.

Hujan sebentar lagi berhenti. Waktu istijabah doa sebentar lagi usai. Aku berdoa lagi, meski tidak mengangkat tangan. Aku berdoa lama dan khusuk sekali. Tak peduli bahwa aku tak lagi berkerudung. Tak peduli bahwa kini di tanganku ada tangan lelaki bukan muhrim yang diibaratkan bara api.

“Boleh aku tebak doamu, Alina Aisyah?” tanya lelaki matahari itu dengan nada mencemooh. Aku menggeleng. Aku ingin cepat menyudahi basa-basi ini dan kembali bersembunyi.

Di ujung jalan, sebuah mobil dengan lambang instansi pendidikan Islam terlihat mengarah pada lelaki tua yang tak lain dan tak bukan adalah pengasuh di pesantren itu. Si pengemudi turun dan membantu ustaz menaiki mobil. Motor kami telah lebih dulu membelah jalanan.

Doaku terkabul. Lelaki buta itu tak mengenaliku. Aku ingin berdoa lagi agar si pengendara mobil yang sekelas denganku enam tahun tak mengenaliku. Sayangnya hujan telah sempurna berhenti.

Sayangnya aku tak punya keberanian lagi untuk berdoa.

Loading