Mengenal Astronomi Klasik Versi Kitab Khulashotul Wafiyyah

Siapa sangka kalau pengetahuan kita selama ini mengenai konsep heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya) ternyata memiliki sejarah panjang nan kelam. Dalam sejarah tercatat, perkembangan dari keyakinan geosentris menuju heliosentris nyatanya tidak semulus seperti yang kita bayangkan. Sebab, peralihan keyakinan tersebut melibatkan banyak pihak, mulai dari otoritas agama (gereja), masyarakat, hingga ilmuwan.

Pemahaman mengenai geosentris (bumi sebagai pusat semesta) ternyata juga sempat ilmuwan muslim anut pada masa itu. Di antara tokoh-tokoh terkenal yang menganut paham geosentris adalah Al-Khawarizmi, penemu angka nol dan perhitungan aljabar; Abi Yusuf Ya’qub Al-Kindi; Muhammad bin Jabir bin Sinan atau Al-Battani; serta Al-Farabi.

Di kitab ini kita akan diajak berkenalan dengan astronomi klasik oleh KH. Zubair Umar dan juga bagaimana cara menghitung arah kiblat, waktu salat hingga awal bulan.

Namun sebelum itu semua, terlebih dahulu KH. Zubair memulai dengan mengenalkan karakteristik dan hukum mempelajari  ilmu tersebut. Nama ilmu ini adalah ilmu hisab dan ru’yah, yang juga dikenal dengan ilmu falak dan miqat.

Karakteristik dan Hukum Mempelajari Ilmu Falak.

Ilmu Falak  merupakan salah satu cabang ilmu astronomi (al-Hay’ah). Dalam tradisi Arab, ilmu yang disebut “astronomi” oleh bangsa Yunani terbagi menjadi tiga cabang: washfi, thabi’i, dan amali.

  1. Ilmu astronomi (al-Washfi):
    Ilmu yang membahas keadaan benda-benda langit, seperti gerakan, titik terbit, cara pergerakan, ketinggian, penurunan, durasi siang dan malam, bulan, tahun, hilal, gerhana, dan sebagainya.
  2. Ilmu astronomi (al-Thabi’i):
    Ilmu yang mempelajari sifat benda-benda langit dari segi pengaruhnya terhadap peristiwa tertentu, sebab-musababnya, dan hukum-hukum yang terkait dengannya. Ilmu ini dikenal juga dengan nama ilmu astrologi atau ilmu peramalan (al-Ahkam). Dan ilmu astronomi jenis ini yang diharamkan dalam Islam.
  3. Ilmu astronomi (al-Amali):
    Ilmu yang mengajarkan cara mencapai pemahaman tentang kedua cabang ilmu sebelumnya dengan menggunakan alat seperti bola langit (astrolab), kuadran, tabel astronomi, logaritma, dan sebagainya. Ilmu inilah yang menjadi fokus dalam kitab ini.

Menurut KH. Zubair Umar,. Mempelajari ilmu astronomi dihukumi sebagai fardhu kifayah. Namun, dalam kondisi tertentu, ilmu ini bisa menjadi fardhu ‘ain. Misalnya, jika seseorang hendak bepergian ke daerah yang jauh dari ahli arah kiblat, maka memahami dalil-dalil kiblat menjadi wajib baginya.

KH. Zubair Umar mengutip dari pendapat Imam Ibnu Hajar dalam Fath al-Jawad yang menyatakan:
“Mempelajari dalil-dalil arah kiblat saat hendak bepergian ke tempat yang minim ahli penunjuk arah kiblat adalah fardhu ‘ain. Sedangkan di daerah yang banyak ahli penunjuk kiblat, hal ini menjadi fardhu kifayah.”

Ilmuwan Muslim dan Paham Geosentris

Dalam kitab Khulashotul Wafiyyah disebutkan bahwa paham geosentris pertama kali dipopulerkan oleh Ptolemaeus. Ia mengemukakan bahwa bumi adalah pusat alam semesta, dan seluruh benda langit bergerak mengelilinginya. Pendapat ini diterima luas oleh banyak kalangan pada masa itu, termasuk ilmuwan Muslim.

Namun, Pythagoras dari Italia yang hidup setelah masa Ptolemaeus memiliki pandangan berbeda. Ia berpendapat bahwa bintang-bintang dan benda langit lainnya bergerak dalam orbit masing-masing, dengan matahari sebagai pusat alam semesta.

Pandangan ini belum terkenal pada zamannya hingga munculnya tokoh-tokoh ilmuwan besar lainnya yang mendukung pandangan heliosentris ini.
Ilmuwan Muslim yang hidup di masa kejayaan peradaban Islam juga turut menganut pandangan geosentris yang diperkenalkan oleh Ptolemaeus. Di antara tokoh-tokoh terkenal yang menganut paham ini adalah:

  1. Al-Khawarizmi, penemu angka nol dan perhitungan aljabar, yang juga mengembangkan tabel-tabel astronomi berdasarkan model geosentris.
  2. Abi Yusuf Ya’qub Al-Kindi, filsuf besar yang menulis banyak karya tentang astronomi dan kosmologi.
  3. Al-Battani (Muhammad bin Jabir bin Sinan), yang menyempurnakan perhitungan gerak benda langit dan menghasilkan tabel astronomi akurat, bahkan menjadi rujukan ilmuwan Barat.
  4. Al-Farabi, filsuf dan ilmuwan Muslim yang membahas astronomi dalam konteks filsafat alam.

Para ilmuwan ini tidak hanya menerima pandangan Ptolemaeus, tetapi juga mengembangkannya melalui observasi dan perhitungan yang lebih rinci. Hasil karya mereka, seperti tabel astronomi dan metode perhitungan gerhana kemudian menjadi rujukan penting bagi peradaban Islam dan Eropa pada masa itu.

Kisah Copernicus dan Munculnya Paham Heliosentris

Setelah paham geosentris, kemudian muncullah seorang pria bernama Copernicus pada tahun 1530 Masehi. Ia mahir dalam ilmu matematika dan mengabdikan dirinya pada ilmu astronomi, pengamatan (rasyad), dan hikmah.

Selain itu, terdapat pula seorang pria dari Denmark bernama Tycho Brahe yang hidup pada tahun 1582 M, seorang ilmuwan lain dari Jerman bernama Kepler pada tahun 1645 M, dan seorang ilmuwan dari Italia bernama Galileo pada tahun 1649 M.

Mereka semua kembali kepada pandangan yang dianut oleh Pythagoras, yang berpendapat bahwa matahari adalah pusat dunia, sementara bumi dan benda-benda langit lainnya berputar mengelilinginya. Urutannya adalah Merkurius, Venus, kemudian bumi (yang diikuti oleh bulan), lalu Mars, Jupiter, dan Saturnus.

Mereka mendukung pandangan ini dengan menerapkannya pada kaidah-kaidah ilmu matematika dan menjadikan ilmu astronomi berdasarkan fondasi yang nyata. Ketika Copernicus mempublikasikan pendapatnya dalam sebuah kitab berjudul De Revolutionibus Orbium Coelestium (Pergerakan Benda-Benda Langit), ia dihadapkan pada sidang oleh Dewan Gereja Katolik di Roma.

Gereja memvonisnya sebagai sesat dan ateis. Mereka melarang penyebaran kitabnya dan mencegah orang untuk membacanya. Bahkan, jika memungkinkan, mereka akan membakar Copernicus bersama kitabnya. Meski demikian, kitab tersebut malah menjadi terkenal, dan pandangan Copernicus tersebar hingga akhirnya dikenal secara luas.

Perkembangan Ilmu Astronomi dan Penemuan Newton

Kemudian, mendekati abad ke-18, Isaac Newton menemukan prinsip gravitasi universal yang mengatur semua gerakan benda-benda langit. Ia menjelaskan dan menetapkan hukum-hukum tersebut secara rinci. Penemuan Newton ini kemudian diperkuat oleh ilmuwan Prancis bernama Laplace, yang memperkuat dan menyempurnakan teori-teori gravitasi melalui perhitungan matematis yang akurat.

Lalu, orang-orang mulai memperhatikan ilmu astronomi dengan lebih serius berdasarkan metode baru ini. Cara ini menjadi cara yang dikenal luas di kawasan Eropa dan disebut sebagai “sistem astronomi modern”, meskipun pada hakikatnya sistem ini adalah lanjutan dari apa yang sebelumnya dikenal sebagai “sistem lama”.

Tidak ada perbedaan besar antara sistem lama dan baru. Tentang gagasan bahwa bintang-bintang tetap (seperti rasi bintang dan bintang lainnya) adalah benda yang bersinar dengan cahaya sendiri.

Namun, sistem lama menyatakan bahwa bintang-bintang tetap berada di langit ke-8, sedangkan sistem baru menyatakan bahwa mereka tersebar di berbagai langit yang berjauhan satu sama lain.

Menurut sistem baru, bintang-bintang itu adalah matahari seperti matahari kita, dengan cahaya yang bersumber dari dirinya sendiri, dan sebagian bahkan lebih besar dari matahari kita.

Pada akhirnya, uraian panjang tersebut hanyalah sekelumit sapaan yang KH. Zubair jelaskan dalam mukaddimah. Di dalam kitabnya masih ada berbagai ilmu dan tata cara perhitungan tentang ilmu falak mulai dari urfi hingga hakiki.

Loading

Aturan Penulisan Artikel Divisi Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo

Aturan Penulisan Artikel Divisi Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisong

Divisi Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo memiliki tujuan untuk mendorong anggota-anggotanya dalam menghasilkan karya-karya ilmiah yang berkualitas. Untuk mencapai tujuan tersebut, kami telah menyusun aturan penulisan artikel yang jelas, agar proses pengiriman artikel ke platform kami dapat berjalan dengan lancar dan terorganisir. Aturan ini tidak hanya mencakup ketentuan umum dalam penulisan, tetapi juga panduan spesifik terkait berbagai kategori artikel yang dapat diajukan, serta pedoman khusus bagi penulisan turats yang lebih mendalam dan berbasis keilmuan Islam.

Ketentuan Umum Penulisan Artikel

Setiap artikel yang dikirimkan ke Divisi Jurnalistik CSSMoRA harus memenuhi beberapa ketentuan dasar. Salah satunya adalah orisinalitas artikel. Kami menekankan bahwa artikel yang dikirimkan harus merupakan karya asli dari penulisnya, tanpa unsur plagiasi atau saduran dari karya orang lain. Kami juga mengharapkan penulis untuk menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku. Gaya penulisan harus disesuaikan dengan tema atau rubrik yang dipilih oleh penulis, dan setiap artikel yang dikirimkan bertujuan untuk mengedukasi pembaca, memberikan informasi yang berguna, serta membahas isu-isu sosial, keislaman, pendidikan, kebangsaan, dan kepesantrenan.

 

Kategori Artikel yang Dapat Dikirimkan

Kami menerima berbagai kategori artikel yang dapat dipilih sesuai dengan minat dan keahlian penulis. Kategori ini mencakup Kajian Keilmuan, yang membahas topik-topik terkait keislaman atau kajian sosial-keilmuan dengan panjang artikel antara 700 hingga 1.000 kata. Penulis yang memilih kategori ini diharapkan dapat memberikan argumen yang kuat, didukung dengan data dan kutipan yang relevan.

Kategori berikutnya adalah Opini, di mana penulis dapat membahas isu-isu faktual seperti keislaman, pendidikan, sosial, politik, atau masalah lainnya. Artikel dalam kategori ini minimal memiliki panjang 600 kata dan disusun dengan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca.

Kami juga menerima artikel Resensi Buku yang bertema buku terkait keilmuan atau keislaman. Artikel ini minimal harus sepanjang 750 kata dan disertai dengan foto buku yang relevan. Untuk penulis yang lebih tertarik pada dunia motivasi atau generasi muda, kategori Inspirasi Milenial menawarkan ruang untuk penulisan artikel yang santai dan komunikatif dengan panjang 600 hingga 800 kata.

………..

Panduan Penulisan Artikel

Untuk memastikan kualitas dan konsistensi artikel yang kami terima, kami telah menetapkan beberapa panduan penulisan yang harus diikuti. Artikel harus ditulis dengan orisinalitas dan kredibilitas yang tinggi. Sumber-sumber yang digunakan dalam artikel harus valid, dan kutipan yang diambil dari karya orang lain harus dicantumkan dengan benar. Struktur artikel yang baik terdiri dari judul yang singkat dan menarik, pendahuluan yang menggugah minat pembaca, isi artikel yang mendalam dan berbobot, serta penutup yang memberikan kesimpulan dan rekomendasi.

Format penulisan juga harus sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, yaitu menggunakan font Times New Roman ukuran 12, spasi 1,5, dan margin standar (4-3-3-3). Kami juga meminta penulis untuk menggunakan gaya kutipan ilmiah yang telah ditentukan, seperti APA, MLA, atau Chicago.

Panduan Penulisan bernuansa Turats/Kitab Kuning

Selain artikel biasa, Divisi Jurnalistik CSSMoRA juga menerima artikel berbasis turats, yang merupakan karya-karya ilmiah yang lebih mendalam dan berkaitan dengan tradisi keilmuan Islam. Artikel dalam kategori ini harus mengangkat tema yang sesuai dengan tradisi ilmiah Islam Indonesia, seperti Ilmu al-Qur’an, Hadits, Fiqih, Tasawuf, Bahasa dan Sastra Arab, Aqidah, Filsafat, atau Sejarah Islam. Artikel harus ditulis dengan panjang minimal 5.000 kata (tidak termasuk pustaka dan lampiran) dan dapat ditulis dalam bahasa Arab atau aksara Pegon, sesuai dengan topik yang dibahas.

Penulisan Majalah Zenith

Divisi Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo juga menyelenggarakan sayembara penulisan majalah sebagai sarana untuk mendorong kreativitas dan kontribusi ilmiah dari anggotanya kru magang Juranalistik setelah melaksanakan pelatihan kepenulisan sebelumnya. Artikel yang diajukan dalam majalah ini harus relevan dengan tema yang telah ditetapkan Anggota Divisi Jurnalistik, dan penulis akan dinilai berdasarkan orisinalitas, kedalaman analisis, serta kesesuaian dengan tema yang diusung. Artikel terbaik akan mendapatkan penghargaan berupa publikasi di platform kami.

Hak dan Kewajiban Penulis

Setiap penulis yang artikelnya diterima berhak untuk mendapatkan feedback dari redaksi, dan artikel yang lolos seleksi akan dipublikasikan di website kami. Selain itu, penulis juga berhak atas penghargaan berupa apresiasi. Di sisi lain, penulis berkewajiban untuk membagikan artikel yang telah dimuat di media sosial pribadi mereka sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan dan eksistensi Divisi Jurnalistik CSSMoRA.

Penolakan Naskah

Kami memiliki kebijakan tegas terkait artikel yang tidak sesuai dengan standar kami. Artikel yang mengandung unsur SARA, hoaks, atau bertentangan dengan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan akan ditolak. Redaksi juga berhak untuk menyunting artikel tanpa mengubah substansi, jika diperlukan.

Publikasi dan Apresiasi

Artikel yang terpilih untuk dipublikasikan akan diterbitkan di media internal CSSMoRA. Selain itu, artikel yang lolos seleksi juga akan mendapatkan reward sesuai dengan kebijakan redaksi sebagai bentuk apresiasi terhadap karya penulis.

Kontak Redaksi

Bagi yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut terkait aturan penulisan artikel, dapat menghubungi kontak resmi Divisi Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo melalui email di 23020460084@student.walisongo.ac.id atau melalui WhatsApp di +62 822-5277-4568.

 

Loading

Malaikat Sapi Jantan: Fakta atau Fiksi di Balik Penjaga Arsy?

Ketika berbicara tentang penciptaan alam semesta, sains dan agama sering kali menawarkan sudut pandang yang berbeda namun sama-sama menakjubkan. Dalam tradisi Islam, salah satu narasi yang sering dikaji, terutama dalam kitab-kitab klasik, adalah tentang Arsy dan makhluk-makhluk penyangganya. Tema ini memang jarang dibahas secara populer, tetapi memiliki keunikan tersendiri yang layak direnungkan, terutama bagi kita yang ingin memahami tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.

Dalam kitab An-Nawadir karya Syekh Syihabbudin al-Qalyubi, terdapat penjelasan menarik tentang Arsy yang dikutip dari para ulama klasik seperti Wahab bin Munabbih, seorang tabi’in yang dikenal sebagai ahli sejarah, dan an-Nasafi, seorang ulama besar madzhab Hanafi. Penjelasan ini mengungkapkan hal-hal yang, jujur saja, bagi sebagian orang mungkin terdengar sulit dipercaya. Tapi di balik itu semua, ada pesan mendalam tentang keagungan Allah dan pentingnya rendah hati.

Apa Itu Arsy?

Arsy digambarkan sebagai kubah agung yang menaungi seluruh jagat raya. Bisa dibilang, Arsy adalah “puncak” ciptaan dalam hierarki kosmik, tempat semua catatan alam semesta tersimpan. Kalau kita ibaratkan dalam istilah modern, Arsy ini mirip dengan “database” besar yang mencatat segala sesuatu, mulai dari awal penciptaan hingga takdir setiap makhluk. Namun, hanya Allah yang sepenuhnya mengetahui keagungan dan fungsi detail dari Arsy ini.

Menurut riwayat, Arsy diciptakan oleh Allah 2000 tahun sebelum Kursi. Perbedaannya? Kursi adalah makhluk yang lebih kecil dari Arsy, tetapi tetap menjadi bagian dari struktur alam semesta yang tak terbayangkan oleh akal manusia.

Arsy ditopang oleh 360 pilar besar yang masing-masingnya memiliki jarak antar-pilar sejauh perjalanan 500 tahun. Tak hanya itu, setiap pilar diapit oleh ribuan kota, istana, dan malaikat. Para malaikat ini, dengan pakaian dari cahaya yang berganti setiap hari, menggambarkan betapa kompleks dan luar biasanya ciptaan Allah.

Malaikat Penyangga Arsy

Nah, ini bagian yang paling menarik. Dalam narasi klasik, disebutkan bahwa Arsy dipikul oleh empat malaikat dengan wujud yang sangat unik:

1. Malaikat pertama menyerupai manusia.

2. Malaikat kedua berbentuk seperti sapi jantan.

3. Malaikat ketiga menyerupai burung elang.

4. Malaikat keempat berbentuk seperti harimau.

Wujud-wujud ini bukan tanpa makna. Sebagian ulama menafsirkan bahwa bentuk malaikat ini melambangkan kekuatan, kecerdasan, dan kesempurnaan ciptaan Allah. Menariknya, setelah Kiamat, jumlah malaikat yang memikul Arsy akan bertambah menjadi delapan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an

وَّالْمَلَكُ عَلٰٓى اَرْجَاۤىِٕهَاۗ وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَىِٕذٍ ثَمٰنِيَةٌۗ

Para malaikat berada di berbagai penjurunya (langit). Pada hari itu delapan malaikat menjunjung ʻArasy (singgasana) Tuhanmu di atas mereka (Al-Haqqah : 17)

Dalam Tafsir Tahlili menerangkan bahwa Pada hari Kiamat, para malaikat berada di segenap penjuru langit. Delapan malaikat menjunjung ‘Arsy Allah di atas kepalanya. Persoalan malaikat dan ‘Arsy ini adalah persoalan yang gaib, tidak seorang pun yang mengetahuinya. Tidak dijelaskan bentuk ‘Arsy yang dipikul para malaikat itu, dan ke mana mereka membawanya. Oleh karena itu, kita menerima semuanya itu berdasarkan iman kita kepada Allah

Arsy dan Ular Raksasa

Namun, cerita tentang Arsy tidak berhenti di sana. Dalam salah satu riwayat, diceritakan bahwa Arsy sempat merasa sombong karena menganggap dirinya sebagai makhluk paling agung yang pernah diciptakan. Sebagai peringatan, Allah menciptakan seekor ular raksasa yang melilit Arsy. Ular ini digambarkan memiliki karakteristik luar biasa:

  • 70.000 sayap.
  • Setiap sayap memiliki 70.000 bulu.
  • Setiap bulu memiliki 70.000 wajah.
  • Setiap wajah memiliki 70.000 mulut,
  • dan setiap mulut memiliki 70.000 lidah

yang bertasbih dengan jumlah yang setara dengan semua tetesan hujan, butiran pasir, dan makhluk di alam semesta. Ular ini melingkari Arsy, mengingatkannya bahwa seagung apa pun makhluk, ia tetaplah ciptaan Allah yang harus tunduk dan patuh kepada-Nya.

Percaya atau Tidak?

Sebagian dari kita mungkin akan merasa kisah ini sulit dicerna akal. Wajar, karena tidak semua hal bisa kita pahami dengan logika manusia yang terbatas. Namun, sebagaimana dalam banyak tradisi Islam, cerita-cerita seperti ini mengajarkan kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, mengingat kebesaran-Nya, dan memahami bahwa ada banyak misteri alam semesta yang hanya Dia yang mengetahui.

Pada akhirnya, percaya atau tidak, semua kembali pada masing-masing individu. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengambil hikmah dari kisah-kisah ini dan menjadikannya sebagai pengingat untuk terus memperbaiki diri.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Loading

Wujudkan Pemimpin Kompeten, CSSMoRA UIN Walisongo & Unsiq Gelar KTPT

Dalam rangka mewujudkan pemimpin masa depan yang unggul dan kompeten, CSSMoRa UIN Walisongo Semarang dan CSSMoRa Universitas Sains dan Al-Quran (UNSIQ) Wonosobo meyelenggarakan Kaderisasi Tingkat Perguruan Tinggi(KTPT) 2024 yang bertempat di Yayasan Hidayatul Mubtadi-ien, Semarang (9-10 November 2024).

Kegiatan KTPT ini merupakan sebuah kegiatan wajib bagi seluruh mahasantri baru penerima Beasiswa Santri Berprestasi tahun 2024, yang tujannya adalah untuk memperkenalkan Oraganisasi CSSMoRa serta membangun sebuah solidarity untuk mencapai seuah prestasi, sesuai dengan tema yang diusung pada kegiatan kali ini yaitu “Menanam Visi Misi, Membangun Solidarity, untuk Mencapai Sebuah Prestasi”.

KTPT pada tahun ini, diikuti oleh 46 mahasantri dan merupakan kali keduan bagi CSSMoRa  UIN Walisongo Semarang kolaborasi dengan CSSMoRa Universitas Sains dan Al-Quran(UNSIQ) Wonosobo. Kegiatan ini berfokus pada pemaparan materi oleh beberapa narasumber yang berfokus pada Ke-CSSMoRa-an, Keorganisasian, Kebangsaan, Persidangan, dan Kepesantrenan.

Ketua Umum CSSMoRa Nasional Khidrian Afriansyah dan Kepala Dapartement PSDM Nasional Indana Zulfa turut hadir untuk memberikan sambutann sekaligus materi pada kegiatan kali ini. Dalam sambutannya Khidrian Afriansyah menyampaikan ucapan terimakasih kepada CSSMoRa UIN Walisongo Semarang yang besedia untuk berkolaborasi dengan CSSMoRa UNSIQ Wonosobo sekaligus menjadi tuan rumah penyelenggara KTPT 2024. Ia juga memaparkan bahwa kegiatan KTPT ini sangatlah penting bagi mahasantri penerima Beasiswa Santri Berprestasi(PBSB).

“Kegiatan KTPT ini merupakan langkah awal kalian untuk dapat meneruskan estafet kepemimpinan  yang ada di dalam organisasi CSSMoRa,” ujarnya.

Tak hanya itu, Ketumnas CSSMoRa ini juga berharap, agar nantinya seluruh anggota baru CSSMoRa UIN Walisongo Semarang dan UNSIQ Wonosobo turut aktif dalam kegiatan CSSMoRa baik tingkat perguruan tinggi maupun tingkat nasional.

“Saya berharap kepada seluruh anggota baru CSSMoRa Perguruan Tinggi(PT) ikut berpartisipasi aktif dalam seluruh kegiatan CSSMoRa PT dan Nasional,” imbuhnya.

Menyambut hal tersebut, perwakilan peserta dari  UNSIQ  menyampaikan rasa bangganya dapat bergabung dalam organisasi CSSMoRa. “ Menurut saya, CSSMoRa bukanlah sebuah organisasi semata, namun CSSMoRa merupakan sebuah keluarga. Walaupun kami berbeda kampus dan belum mengenal sebelumnya, tapi kami merasakan kehangatan dalam organisasi ini,” sambutnya.

Setelah KTPT 2024 berakhir, seluruh peserta kini resmi menjadi bagian dari CSSMoRA dan siap berperan aktif dalam organisasi. Mereka berkomitmen untuk mengemban nilai-nilai loyalitas tanpa batas, menjunjung tinggi integritas, dan terus berupaya menjadi kader berprestasi demi kemajuan CSSMoRa

Loading

الطغاة راحلون.. والثابتون باقون خالدون

لما اقتحم التتار بغداد وعاثوا فيها فسادا، كان في بغداد يومئذ يحيى بن يوسف الأنصاري رحمه الله،وكان رجلا ضريرا رفض أن يستسلم للتتار، وأمر أولاده أن يملؤوا بيته حجارة، ثم أخذ يرجم جنود التتار حتى هشم منهم جماعة، ثم لما اقتربوا منه قتل أحدهم بعكازه حتى تكالبوا عليه فلقي الله شهيدا رحمه الله.

في حين أن آلاف الناس سلموا أنفسهم للتتار، ووضعوا رقابهم تحت سيفهم البتار، حتى قتلوهم قتلة ذل وعار وشنار..

سبحان الله!!

ضرير ثبت حتى لقي الله شهيدا…. ومبصر سلم رقبته لذابحه!!

لأن الهمم لا علاقة لها بآفات البدن…إنما تعلو وتسفل حسب آفات الأرواح..

فأصحاب النفوس الكبار… يثبتون على فكرتهم ولو كان آخر أسلحتهم الأحجار…

وقصار الأنفاس مساكين…. لا هم يطالون موتة العز، ولا حياة المكرمين..

وهل يكيد الطاغية ويكبته إلا كبرياء المجاهد ولو كان وحده؟!!

لما اغتاظ العبيديون من ثبات الإمام الراغب النابلسي أمروا جلاده أن يسلخ جلده…فلم يمكنهم من لحظة تأوه أو تألم…إنما كان ينظر إلى سالخه وهو يقرأ قول الله تعالى:

“كان ذلك في الكتاب مسطورا”

فلم يتحمل جلاده ثباته فأغمد فيه السيف وقتله.

إن أهنأ اللحظات على المتجبرين شعورهم بيأس المقاومين لهم…وأتعس ساعاتهم عندما يفعلون الأفاعيل بالمصلحين ثم يفاجؤون بأصواتهم تخرج من تحت الأحجار تقول: أحد أحد!!

لا تمكن تتار العصر من نفسك…جاهدهم بما تستطيعه من حرف أو صوت أو عصا ولو كنت ضريرا كيحيى بن يوسف..

ولا تسلم لهم بيأسك وبؤسك فتمكنهم من عزيمتك وقوة نفسك…

فالتتار رغم كثرتهم خرجوا بعدها من بغداد…وبقيت سيرة الراغب النابلسي ويحيى بن يوسف نبراسا للبلاد والعباد..

فالطغاة راحلون… والثابتون باقون خالدون…ولو كره المجرمون.

Loading

KTPT 2024: Menanam Visi dan Misi, Membangun Solidaritas, Menuju Prestasi

Semarang, 9-10 November 2024 – Kaderisasi Tingkat Perguruan Tinggi (KTPT) 2024 yang diadakan oleh CSSMoRA UIN Walisongo dan CSSMoRA Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) sukses diselenggarakan di Yayasan Hidayatul Mubtadi-ien, Semarang. Acara ini merupakan tahap kaderisasi formal yang bertujuan untuk memperkenalkan CSSMoRA kepada mahasantri baru serta membentuk karakter kuat dalam menjalani perkuliahan dan tugas organisasi di kampus masing-masing.

KTPT tahun ini mengusung tema “Menanam Visi Misi, Membangun Solidarity, untuk Mencapai Sebuah Prestasi.” Melalui tema ini, kegiatan KTPT menitikberatkan pada pentingnya intelektualitas, karakter, dan integritas sebagai pondasi bagi para kader. Peserta diberikan berbagai pembekalan untuk memahami visi dan misi organisasi serta memperkuat solidaritas antaranggota, dengan harapan dapat membangun calon pemimpin masa depan yang berkualitas.

Dalam KTPT 2024, peserta dari UIN Walisongo dan UNSIQ mengikuti berbagai sesi materi wajib, seperti Keorganisasian, Ke-CSSMoRA-an, Kepesantrenan, Kebangsaan, dan Persidangan. Materi-materi ini disusun secara terencana untuk memperkaya pemahaman para peserta terkait peran mereka di dalam organisasi, serta membekali mereka dengan keterampilan yang relevan untuk kehidupan sehari-hari.

Marwan Aldi Pratama, anggota Divisi Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo, yang juga menjadi panitia acara, mengungkapkan kesannya, “Acara ini sangat meriah dan penuh manfaat. Selain memperluas jaringan, kami bisa bertemu dengan teman-teman dari perguruan tinggi lain, seperti UNSIQ. Melalui KTPT, kami belajar tentang keorganisasian dan kepemimpinan, sekaligus diarahkan menjadi pribadi yang tangguh dan berintegritas, tanpa melupakan nilai-nilai spiritual yang telah ditanamkan di pesantren.”

Marwan juga menyoroti bahwa KTPT menjadi momen penting untuk mempererat silaturahmi antar anggota CSSMoRA dari berbagai kampus. “Saya berharap acara ini memberikan kesan positif bagi peserta. Semoga mereka bisa menerapkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari dan berkomitmen mengembangkan CSSMoRA ke depannya,” ujarnya.

Perwakilan dari UNSIQ juga menyampaikan rasa bangganya bisa bergabung dalam KTPT 2024. “Saya merasa menemukan kekeluargaan dan kebersamaan di CSSMoRA. Walaupun berasal dari kampus berbeda, di sini kami merasa seperti keluarga besar. Semoga KTPT berikutnya lebih berkesan dan silaturahmi tetap terjaga,” ujar salah satu peserta dari UNSIQ.

Dengan berakhirnya KTPT 2024, seluruh peserta resmi menjadi bagian dari CSSMoRA dan siap berkontribusi aktif dalam organisasi. Mereka berkomitmen mengemban nilai-nilai loyalitas tanpa batas, menjunjung integritas, dan terus berusaha menjadi kader berprestasi demi kemajuan CSSMoRA dan masyarakat luas.

 

 

Loading

Menghindari Semangat Berlebihan dalam Beragama: Kalam Sheikh al-Fawzan dan Sheikh ibn Uthaymin

فلينظر الإنسان كل ساعة في أطرافه وأعضائه، وليتدبَّر أنها كيف تأكلُها الديدان لا محالة؟ وكيف تتفتَّت عظامها؟ فما على بدنه شيءٌ إلا وهو طُعْمةُ الدود، وما له من نفسه إلا العلمُ والعمل الخالص لوجه الله تعالى، وكذلك يتفكَّر في عذاب القبر وسؤال منكَر ونكير، وفي الحشر والنشر وأهوال القيامة، وقرْع النداء يوم العرض الأكبر، فأمثالُ هذه الأفكار هي التي تُجدِّد ذِكرَ الموت على قلبه، وتدعوه إلى الاستعداد له

Di era digital, kita seringkali melihat generasi muda sangat bersemangat dalam mencari kebenaran, termasuk dalam hal agama. Banyak dari kita ingin mendekat pada prinsip-prinsip agama yang benar, khususnya yang mengikuti jejak para sahabat Nabi dan generasi awal Islam, atau yang sering disebut “Salaf”. Namun, ada kalanya semangat berlebihan justru membawa kita ke arah yang salah.Jangan Sampai Semangat Berlebihan Jadi Penyebab Perpecahan

Sheikh al-Fawzan menjelaskan bahwa di zaman ini, muncul fenomena “ghulāt al-takfīr”, atau orang-orang yang sangat berlebihan dalam menganggap orang lain salah atau sesat. Mereka terlalu fokus pada hal-hal yang dianggap buruk dan terus mencari-cari kesalahan orang lain. Hal ini malah menyebabkan perpecahan dan memperlemah persatuan kaum Muslimin. Sheikh al-Fawzan memperingatkan bahwa semangat yang salah tempat, terutama dalam hal menganggap orang lain kafir, sesat, atau melakukan bid’ah, adalah tanda fitnah (keburukan) yang dapat membawa banyak dampak negatif bagi umat.

Bagi kita generasi muda, pesan ini sangat relevan. Di media sosial, kita sering melihat perdebatan sengit soal agama, bahkan tak jarang diiringi caci maki dan saling menyesatkan. Padahal, semangat dalam beragama seharusnya diarahkan untuk memperkuat iman dan menjaga ukhuwah, bukan mencari-cari aib atau kesalahan sesama Muslim.

Sheikh ibn Uthaymin mengingatkan bahwa “salafiyah” adalah mengikuti metode Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Salafiyah tidak seharusnya menjadi sebuah label eksklusif yang menyesatkan siapa pun yang tidak setuju. Beliau mengatakan bahwa dalam hal akidah dan amal ibadah, kita harus bersatu mengikuti jejak Rasul dan para sahabatnya. Namun, beliau menekankan bahwa beberapa orang justru menjadikan salafiyah sebagai kelompok yang terpisah dan menyesatkan siapa saja yang berbeda pendapat, bahkan dalam hal-hal yang sebenarnya masih terbuka untuk perbedaan (ijtihad).

Bagi generasi Z, pandangan ini penting. Jangan sampai label “salafiyah” menjadi alasan untuk merasa paling benar dan menyesatkan orang lain. Ingat, para ulama terdahulu juga berbeda pendapat dalam banyak hal, tetapi mereka tetap menjaga persaudaraan dan rasa hormat satu sama lain. Bahkan dalam masalah besar sekalipun, mereka tidak menyesatkan satu sama lain.

Salafiyah yang Hakiki adalah Kasih Sayang dan Persatuan

 

Sheikh ibn Uthaymin menyebutkan bahwa salafiyah sejati bukan hanya tentang akidah dan amalan, tapi juga tentang rasa kasih sayang, persatuan, dan cinta di antara sesama Muslim. Rasulullah menggambarkan orang-orang beriman layaknya satu tubuh: jika satu bagian tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan dampaknya. Inilah salafiyah yang hakiki – saling membantu, menguatkan, dan menjaga keharmonisan dalam umat.

Sebagai generasi yang tumbuh di era internet dan sosial media, kita harus berhati-hati dalam menggunakan kata-kata. Jangan sampai niat ingin berdakwah malah membuat kita jadi penyebab perpecahan. Mari belajar untuk lebih bijaksana dalam menyampaikan pendapat, mengedepankan kelembutan, dan tidak mudah menghakimi sesama Muslim.

Mengikuti salafiyah yang benar berarti menghidupkan kembali prinsip-prinsip kebaikan yang dicontohkan oleh Nabi dan sahabat-sahabatnya, terutama dalam menjaga persatuan dan kasih sayang. Bukan dengan label yang memecah-belah atau semangat berlebihan yang salah arah. Sheikh al-Fawzan dan Sheikh ibn Uthaymin mengingatkan kita untuk mengikuti ajaran Islam dengan semangat yang benar, dengan mengutamakan persaudaraan dan kasih sayang.

Bagi kita generasi Z, ini adalah tantangan sekaligus panggilan. Kita bisa menjadi generasi yang bijak dalam beragama, yang tidak mudah menyalahkan, dan yang memegang teguh prinsip-prinsip salafiyah dengan hati yang lapang. Seperti kata pepatah, “Berbeda itu biasa, tapi bersatu adalah luar biasa.” Mari jadikan semangat salafiyah sebagai pendorong untuk memperbaiki diri, mempererat persaudaraan,

Loading

Industrialisasi, Polusi Cahaya, dan Pudarnya Pesona Langit Malam

Pernahkah dewasa ini sekali-kali kita memperhatikan langit? Kemudian membandingkannya dengan pengamatan kita sewaktu kita masih kecil? Nampak ada yang berubah bukan?

Bintang yang waktu kita kecil terlihat berpendar di semua sudut langit sekarang sudah tak terlihat. Langit yang dulunya begitu indah dihiasi bintang-bintang gemerlap sekarang sudah jarang kita jumpai lagi.

Langit malam menyajikan kita pemandangan yang begitu memukau, seperti taburan Bintang-bintang, planet dan berbagai objek lainnya. Dahulu, semua orang bisa dengan mudah melihat berbagai objek langit dengan begitu mudah dengan kasat mata.

Namun dewasa ini jutaan orang di dunia tidak bisa lagi melihat beberapa objek langit termasuk galaksi Bimasakti tempat mereka tinggal sendiri. Bahkan, Kini 1 dari 3 penduduk bumi itu tidak pernah melihat bentangan galaksi Bima Sakti (Falchi, 2016).

Langit tanpa polusi cahaya

Langit dengan polusi cahaya

Sebenarnya ada banyak hal yang dapat memengaruhi mengapa galaksi Bima Sakti dan bintang-bintang lain sekarang sudah jarang terlihat. Namun faktor paling dominan penyebab tersekatnya keindahan langit malam dengan penglihatan kita adalah adanya light pollution (polusi cahaya) yang kian parah (Maryam, 2021).

Penggunaan Cahaya buatan yang meningkat dan meluas di malam hari  tidak hanya mengganggu pandangan kita tentang alam semesta,tetapi juga memengaruhi lingkungan, keamanan, konsumsi energi, dan Kesehatan kita.

 

Polusi Cahaya

Fakta yang sudah umum kita jumpai adalah bertebarannya cahaya-cahaya buatan di langit-langit kota tempat kita tinggal. Banyak pencahayaan yang digunakan secara berlebihan, tidak efisien, tidak terlindung dengan benar dan dalam banyak kasus, cahaya sama sekali tidak digunakan. Sering kali cahaya buatan itu tumpah ke langit dan tidak menerangi tempat yang dituju.

Polusi cahaya merupakan salah satu gejala perubahan lingkungan yang terhitung cepat dan luas. Di sebagian negara industry, adanya lampu buatan di berbagai tempat mengakibatkan kabut cahaya yang memenuhi langit malam sehingga mengaburkan cahaya alami dari Bintang dan objek langit lainnya.

Polusi cahaya sekarang ini telah membuat hal paling penting dari peradaban dan kebudayaan kita terkikis, menjadikan keindahan langit malam sebagai suatu asset yang langka dan mahal untuk di akses.

Selain berdampak pada kaburnya objek langit, polusi cahaya juga berdampak kehidupan satwa seperti penyu dan serangga, yang saat berkembangbiak harus menemukan tempat gelap. Atas dasar pemikiran itulah kemudian dideklarasikan Pertahanan Langit Malam dan Hak Atas Cahaya Bintang pada tahun 2007.

Deklarasi ini secara spesifik menyatakan bahwa “Langit malam yang tidak terpolusi yang memungkinkan kenikmatan dan kontemplasi cakrawala harus dianggap sebagai hak [manusia yang tidak dapat dicabut] yang setara dengan semua hak sosial-budaya dan lingkungan lainnya.

Deklarasi tersebut dikukuhkan pada acara “Starlight Conference” yang diselenggarakan di La Palma pada tahun 2007. Agenda terkait pelestarian langit malam gelap digalakan oleh UNESCO, International Astronomical Union (IAU), UN-World Tourism Organisation (UNWTO) dan Instituto de Astrofísica de Canarias (IAC), dengan dukungan dari beberapa program internasional dan konvensi seperti World Heritage Convention (WHC), Convention on Biological Diversity (CBD), Ramsar Convention on Wetlands, Convention on Migratory Species (CMS), Man and the Biosphere (MaB) Programme, dan European Landscape Convention.

 

Komponen Polusi Cahaya

Polusi cahaya memiliki beberapa komponen diantaranya adalah:

1. Skyglow (pendar cahaya malam)

Ini berasal dari cahaya buatan berlebih yang terpancar ke atas atau yang terpantul ke atas (pendaran sekunder) kemudian dihamburkan oleh aerosol seperti awan dan bulir air atau partikel kecil seperti polutan di atmosfer.

Sumber : https://bosscha.itb.ac.id/)

2. Glare

Glare atau silau adalah sensasi visual yang dialami seseorang ketika cahaya menyimpang, cahaya di bidang visual, lebih besar dari cahaya yang dapat diadaptasi oleh mata.

Sumber :https://bosscha.itb.ac.id/

3. Light Tresspass

Light trespass atau cahaya luber disebabkan oleh cahaya jatuh di tempat yang tidak dimaksudkan atau dibutuhkan sehingga paparan dalam jangka panjang dapat mengganggu kesehatan.

Sumber : https://bosscha.itb.ac.id/

4. Clutter

Clutter adalah pengelompokan sumber cahaya yang terang, membingungkan dan berlebihan.

Sumber : https://bosscha.itb.ac.id/

 

Industrialisasi penyebab polusi cahaya

industrialisasi secara umum adalah suatu kondisi perubahan sosial ekonomi dari agraris menjadi industri. Kondisi ini ditandai dengan adanya fokus terhadap kegiatan ekonomi yang beragam (spesialisasi) serta gaji dan penghasilan yang meningkat (Irfan & Laily, 2016).

Dengan berubahnya sosial ekonomi agraris menjadi industri, pembangunan mulai digalakkan di mana-mana. Sebab, dalam mengolah, memproduksi, dan memasarkan diperlukan adanya pembangunan infrastruktur yang memadai.

Dalam hal ini cahaya adalah salah satunya.  Cahaya reklame, iklan dan sorot lampu yang berlebih oleh pelaku industri untuk menarik pelanggan kerapkali membuat kabut cahaya di langit. Lampu buatan industri olahraga seperti stadion juga turut menyumbang sejumlah polusi cahaya.

Sumber :https://Specture.id/

Kemudian, dapat kita simpulkan bahwa semakin dunia menuju industrialisasi, polusi cahaya akan semakin bertambah. Area pegunungan, persawahan, dan hutan yang awalnya cukup gelap untuk menikmati langit perlahan mulai terganti dengan gedung industri.

Meskipun demikian, bukan berarti semua polusi cahaya disebabkan oleh industrialisasi. Perilaku sehari-hari masyarakat secara tidak langsung turut menyumbang polusi cahaya meski hanya sedikit. Penggunaan kap lampu dalam penyinaran dapat meminimalisasi terhamburnya cahaya ke tempat yang tidak perlu.

Mematikan lampu yang tidak digunakan juga merupakan pilihan paling bijak bagi kita yang belum tergerus arus industrialisasi. Jika bukan kesadaran kumulatif dari kita bersama, siapa lagi yang akan peduli dengan  pesona langit malam?

 

Artikel ini telah terbit di kolom Semesta Falak Majalah Justisia edisi 55 tahun 2024

 

 

Referensi :

Beik, Irfan.S, & Arsyianti, Laily.D,. Ekonomi Pembangunan Syari’ah. Depok: RajaGrafindo Persada, 2016

Maryam, S. (2021). Kecerlangan langit dan polusi cahaya. Buletin Cuaca Antariksa10(1), 20-22.

https://bosscha.itb.ac.id/id/publik/polusi-cahaya/

Loading

Kualitas vs Kuantitas dalam Membaca Al-Qur’an: Mana yang Lebih Utama?

Dalam tradisi Islam, membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang memiliki kedudukan sangat tinggi. Namun, di antara para ulama dan umat Islam pada umumnya, seringkali muncul pertanyaan: mana yang lebih utama, memperbanyak jumlah bacaan atau membaca dengan tartil dan tadabbur (merenungi maknanya)?

Ibnu Qayyim rahimahullah memberikan penjelasan yang menarik mengenai hal ini. Dalam bukunya Zaadul Ma’ad, beliau menguraikan bahwa kedua pendekatan tersebut memiliki keutamaan masing-masing. Menurut beliau, membaca dengan tartil (perlahan dan benar) serta penuh tadabbur lebih tinggi dan lebih agung pahalanya. Sebaliknya, memperbanyak jumlah bacaan menghasilkan pahala yang lebih banyak secara kuantitas, meskipun nilainya tidak sebesar bacaan dengan tadabbur.

Untuk memudahkan pemahaman, Ibnu Qayyim memberikan perumpamaan. Membaca Al-Qur’an dengan tadabbur diibaratkan seperti seseorang yang bersedekah dengan permata yang sangat berharga atau memerdekakan seorang budak yang nilainya sangat tinggi. Sedangkan memperbanyak bacaan tanpa tadabbur diumpamakan seperti seseorang yang bersedekah dengan sejumlah besar dirham atau memerdekakan banyak budak yang nilainya rendah. Kedua tindakan ini tentu mendapatkan pahala, namun ada perbedaan kualitas di antara keduanya.

A. Dalil dari Sunnah

Pentingnya membaca Al-Qur’an dengan tartil juga ditegaskan dalam berbagai riwayat. Salah satu contohnya adalah dalam Shahih Bukhari dari Qatadah, yang bertanya kepada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu tentang bagaimana Rasulullah ﷺ membaca Al-Qur’an. Anas menjawab bahwa Rasulullah ﷺ membacanya dengan tartil, yakni dengan memanjangkan bacaan, tidak terburu-buru.

Begitu juga dengan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu yang memberikan nasihat kepada seorang yang cepat dalam membaca Al-Qur’an. Ibnu Abbas berkata bahwa membaca satu surat dengan perlahan dan penuh pemahaman lebih ia sukai daripada membaca Al-Qur’an secara cepat berulang kali dalam semalam. Menurut beliau, jika seseorang tetap ingin memperbanyak bacaan, ia harus membacanya dengan cara yang bisa didengar oleh telinga dan diresapi oleh hati.

B. Menjaga Keindahan dan Keagungan Bacaan

Salah satu sahabat Nabi ﷺ, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, juga memberikan nasihat penting terkait cara membaca Al-Qur’an. Beliau memperingatkan agar tidak membaca Al-Qur’an dengan terburu-buru seperti membaca syair, atau membacanya secara asal-asalan seperti menebar kurma yang buruk. Abdullah bin Mas’ud menekankan pentingnya berhenti di hadapan ayat-ayat yang menakjubkan, menggerakkan hati, dan tidak terburu-buru untuk segera menyelesaikan surat.

Lebih lanjut, Abdullah bin Mas’ud juga mengingatkan bahwa ketika seseorang mendengar ayat yang dimulai dengan firman Allah يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا (Wahai orang-orang yang beriman), ia harus benar-benar memperhatikan dengan seksama, karena di dalam ayat itu pasti terdapat perintah yang baik atau larangan dari keburukan.

C. Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari

Sebuah kisah menarik juga datang dari Abdurrahman bin Abi Laila. Seorang wanita datang kepadanya ketika ia sedang membaca Surat Hud, dan bertanya bagaimana ia bisa membaca surat tersebut begitu cepat. Wanita itu berkata bahwa ia telah membaca surat Hud selama enam bulan, namun belum juga selesai. Kisah ini menunjukkan bahwa membaca dengan tadabbur mungkin memakan waktu lebih lama, tetapi hasilnya adalah pemahaman yang lebih mendalam.

Dari berbagai penjelasan ini, jelaslah bahwa kualitas bacaan Al-Qur’an lebih diutamakan daripada kuantitas. Namun, memperbanyak jumlah bacaan juga tetap memiliki nilai pahala tersendiri. Oleh karena itu, pilihan terbaik bagi seorang Muslim adalah menggabungkan kedua pendekatan ini, yaitu dengan membaca Al-Qur’an dalam jumlah yang banyak namun tetap menjaga tartil dan tadabbur dalam setiap bacaannya.

Sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Qayyim rahimahullah, setiap tindakan memiliki pahalanya masing-masing, namun membaca Al-Qur’an dengan penuh pemahaman akan lebih memberikan manfaat, baik secara spiritual maupun intelektual. Pada akhirnya, tujuan membaca Al-Qur’an bukanlah sekadar untuk menuntaskan bacaan, tetapi untuk meresapi setiap maknanya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Loading