Semarang, cssmorawalisongo.org. – Menjelajah ilmu astronomi dengan alat tradisional, Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) CSSMoRA UIN Walisongo menggelar Class of CSSMoRA (COC) yang membahas rubuk mujayyab, alat perhitungan klasik yang dahulu digunakan ulama dalam menentukan waktu shalat dan arah kiblat. Bertempat di Balai Latihan Kerja (BLK) YPMI Al-Firdaus (27/10), acara ini menghadirkan Muhammad Mahfudz Ustukhry sebagai pemateri, yang menyampaikan materi dengan cara yang menarik hingga membuat peserta antusias mendalami cara-cara tradisional yang kini mulai jarang dikenal.
Rubuk mujayyab adalah alat astronomi tradisional yang berfungsi dalam penentuan waktu shalat dan arah kiblat. Alat ini terdiri dari beberapa bagian utama: busur derajat yang berfungsi untuk mengukur sudut, alidade sebagai pengarah atau penunjuk yang bisa digerakkan pada busur, skala sinus untuk mempercepat perhitungan sudut, lubang pandang sebagai tempat mengamati objek, dan tali gantung atau plumb line untuk menjaga akurasi pengukuran.
Dalam sesi tersebut, Mahfudz menjelaskan setiap bagian dari rubuk mujayyab dengan bahasa yang sederhana, membuat peserta lebih mudah memahami cara penggunaannya. Dengan pembawaan yang santai dan interaktif, Mahfudz berhasil membuat materi yang terbilang kompleks menjadi menarik. Meski demikian, waktu yang terbatas membuat beberapa peserta berharap akan adanya pelatihan tambahan agar pemahaman mereka terhadap alat ini lebih mendalam.
Mahfudz, yang memperoleh pengetahuan ini dari pondok pesantren melalui kitab gurunya, menyatakan antusiasmenya untuk berbagi lebih lanjut tentang metode-metode perhitungan tradisional yang kini mulai jarang dikenal masyarakat modern. Ia berharap generasi muda dapat menjaga dan melestarikan ilmu klasik ini sebagai bagian dari kekayaan tradisi keilmuan Islam.
Pernahkah dewasa ini sekali-kali kita memperhatikan langit? Kemudian membandingkannya dengan pengamatan kita sewaktu kita masih kecil? Nampak ada yang berubah bukan?
Bintang yang waktu kita kecil terlihat berpendar di semua sudut langit sekarang sudah tak terlihat. Langit yang dulunya begitu indah dihiasi bintang-bintang gemerlap sekarang sudah jarang kita jumpai lagi.
Langit malam menyajikan kita pemandangan yang begitu memukau, seperti taburan Bintang-bintang, planet dan berbagai objek lainnya. Dahulu, semua orang bisa dengan mudah melihat berbagai objek langit dengan begitu mudah dengan kasat mata.
Namun dewasa ini jutaan orang di dunia tidak bisa lagi melihat beberapa objek langit termasuk galaksi Bimasakti tempat mereka tinggal sendiri. Bahkan, Kini 1 dari 3 penduduk bumi itu tidak pernah melihat bentangan galaksi Bima Sakti (Falchi, 2016).
Langit tanpa polusi cahaya
Langit dengan polusi cahaya
Sebenarnya ada banyak hal yang dapat memengaruhi mengapa galaksi Bima Sakti dan bintang-bintang lain sekarang sudah jarang terlihat. Namun faktor paling dominan penyebab tersekatnya keindahan langit malam dengan penglihatan kita adalah adanya light pollution (polusi cahaya) yang kian parah (Maryam, 2021).
Penggunaan Cahaya buatan yang meningkat dan meluas di malam hari tidak hanya mengganggu pandangan kita tentang alam semesta,tetapi juga memengaruhi lingkungan, keamanan, konsumsi energi, dan Kesehatan kita.
Polusi Cahaya
Fakta yang sudah umum kita jumpai adalah bertebarannya cahaya-cahaya buatan di langit-langit kota tempat kita tinggal. Banyak pencahayaan yang digunakan secara berlebihan, tidak efisien, tidak terlindung dengan benar dan dalam banyak kasus, cahaya sama sekali tidak digunakan. Sering kali cahaya buatan itu tumpah ke langit dan tidak menerangi tempat yang dituju.
Polusi cahaya merupakan salah satu gejala perubahan lingkungan yang terhitung cepat dan luas. Di sebagian negara industry, adanya lampu buatan di berbagai tempat mengakibatkan kabut cahaya yang memenuhi langit malam sehingga mengaburkan cahaya alami dari Bintang dan objek langit lainnya.
Polusi cahaya sekarang ini telah membuat hal paling penting dari peradaban dan kebudayaan kita terkikis, menjadikan keindahan langit malam sebagai suatu asset yang langka dan mahal untuk di akses.
Selain berdampak pada kaburnya objek langit, polusi cahaya juga berdampak kehidupan satwa seperti penyu dan serangga, yang saat berkembangbiak harus menemukan tempat gelap. Atas dasar pemikiran itulah kemudian dideklarasikan Pertahanan Langit Malam dan Hak Atas Cahaya Bintang pada tahun 2007.
Deklarasi ini secara spesifik menyatakan bahwa “Langit malam yang tidak terpolusi yang memungkinkan kenikmatan dan kontemplasi cakrawala harus dianggap sebagai hak [manusia yang tidak dapat dicabut] yang setara dengan semua hak sosial-budaya dan lingkungan lainnya.
Deklarasi tersebut dikukuhkan pada acara “Starlight Conference” yang diselenggarakan di La Palma pada tahun 2007. Agenda terkait pelestarian langit malam gelap digalakan oleh UNESCO, International Astronomical Union (IAU), UN-World Tourism Organisation (UNWTO) dan Instituto de Astrofísica de Canarias (IAC), dengan dukungan dari beberapa program internasional dan konvensi seperti World Heritage Convention (WHC), Convention on Biological Diversity (CBD), Ramsar Convention on Wetlands, Convention on Migratory Species (CMS), Man and the Biosphere (MaB) Programme, dan European Landscape Convention.
Komponen Polusi Cahaya
Polusi cahaya memiliki beberapa komponen diantaranya adalah:
1. Skyglow (pendar cahaya malam)
Ini berasal dari cahaya buatan berlebih yang terpancar ke atas atau yang terpantul ke atas (pendaran sekunder) kemudian dihamburkan oleh aerosol seperti awan dan bulir air atau partikel kecil seperti polutan di atmosfer.
Sumber : https://bosscha.itb.ac.id/)
2. Glare
Glare atau silau adalah sensasi visual yang dialami seseorang ketika cahaya menyimpang, cahaya di bidang visual, lebih besar dari cahaya yang dapat diadaptasi oleh mata.
Light trespass atau cahaya luber disebabkan oleh cahaya jatuh di tempat yang tidak dimaksudkan atau dibutuhkan sehingga paparan dalam jangka panjang dapat mengganggu kesehatan.
Sumber : https://bosscha.itb.ac.id/
4. Clutter
Clutter adalah pengelompokan sumber cahaya yang terang, membingungkan dan berlebihan.
Sumber : https://bosscha.itb.ac.id/
Industrialisasi penyebab polusi cahaya
industrialisasi secara umum adalah suatu kondisi perubahan sosial ekonomi dari agraris menjadi industri. Kondisi ini ditandai dengan adanya fokus terhadap kegiatan ekonomi yang beragam (spesialisasi) serta gaji dan penghasilan yang meningkat (Irfan & Laily, 2016).
Dengan berubahnya sosial ekonomi agraris menjadi industri, pembangunan mulai digalakkan di mana-mana. Sebab, dalam mengolah, memproduksi, dan memasarkan diperlukan adanya pembangunan infrastruktur yang memadai.
Dalam hal ini cahaya adalah salah satunya. Cahaya reklame, iklan dan sorot lampu yang berlebih oleh pelaku industri untuk menarik pelanggan kerapkali membuat kabut cahaya di langit. Lampu buatan industri olahraga seperti stadion juga turut menyumbang sejumlah polusi cahaya.
Sumber :https://Specture.id/
Kemudian, dapat kita simpulkan bahwa semakin dunia menuju industrialisasi, polusi cahaya akan semakin bertambah. Area pegunungan, persawahan, dan hutan yang awalnya cukup gelap untuk menikmati langit perlahan mulai terganti dengan gedung industri.
Meskipun demikian, bukan berarti semua polusi cahaya disebabkan oleh industrialisasi. Perilaku sehari-hari masyarakat secara tidak langsung turut menyumbang polusi cahaya meski hanya sedikit. Penggunaan kap lampu dalam penyinaran dapat meminimalisasi terhamburnya cahaya ke tempat yang tidak perlu.
Mematikan lampu yang tidak digunakan juga merupakan pilihan paling bijak bagi kita yang belum tergerus arus industrialisasi. Jika bukan kesadaran kumulatif dari kita bersama, siapa lagi yang akan peduli dengan pesona langit malam?
Artikel ini telah terbit di kolom Semesta Falak Majalah Justisia edisi 55 tahun 2024
Referensi :
Beik, Irfan.S, & Arsyianti, Laily.D,. Ekonomi Pembangunan Syari’ah. Depok: RajaGrafindo Persada, 2016
Maryam, S. (2021). Kecerlangan langit dan polusi cahaya. Buletin Cuaca Antariksa, 10(1), 20-22.
Dalam rangka memperkenalkan ilmu falak kepada santri-santri madrasah, CSSMoRA UIN Walisongo mengadakan program roadshow falak. Kegiatan tersebut bertempat di MA Qosim AL-Hadi, Mijen, Semarang pada Sabtu, (19/10/2024).
Program roadshow falak merupakan sebuah program dari divisi P3M yang bertujuan untuk mengenalkan ilmu falak kepada santri pondok pesantren maupun siswa madrasah. Output dari program ini diharapkan dapat mengedukasi siswa terkait bidang ilmu falak sehingga peminat semakin banyak.
Roadshow falak kali ini diikuti oleh 26 siswa madrasah Qosim Al-Hadi yang berfokus pada praktek dan pengenalan materi pengantar ilmu falak, arah kiblat dan waktu salat. Alat yang digunakan dalam praktek kali ini terdiri dari 3 macam; Teodolit, Mizwala dan Istiwaaini. Ketiganya merupakan alat untuk mengukur arah kiblat berbasis sinar matahari.
Koordinator departemen P3M, Ahmad Munawir, memaparkan bahwa tujuan kegiatan ini adalah untuk mengenalkan ilmu falak di madrasah dan pesantren.
“Tujuan roadshow pada pada kali ini untuk mengenalkan ilmu falak pada siswa-siswa sehingga ilmu falak bisa berkembang luas di madrasah, pesantren dan masyarakat,” ujarnya.
Tak hanya itu, ia juga berharap agar kegiatan seperti ini bisa diterima oleh civitas madrasah dan pondok pesantren sehingga bisa saling mendukung.
“Harapannya kegitanan ini bisa diterima dengan baik sehingga kita bisa saling mendukung,” imbuhnya.
Menyambut hal tersebut, Perwakilan dari MA Qosim Al-Hadi, Abdullah Nafi’ Berharap bahwa kegiatan semacam ini jangan hanya sekali, ia meminta kepada tim roadshow falak CSSMoRA untuk jangan kapok untuk datang kembali.
“sebelumnya dulu sudah pernah ada yang datang untuk sosialisasi ilmu falak dari CSSMoRA disini, dan kami sangat terbuka. Kami berharap agar kegiatan oleh tim CSSMoRA tidak kapok untuk datang Kembali,” ucapnya saat mengisi sambutan. Acara ditutup dengan pembagian hadiah kepada peserta roadshow yang paling aktif sekaligus mengakhiri kegiatan roadshow di MA Qosim Al-Hadi.
Semarang, cssmorawalisongo.org – Upgrading Pengurus CSSMoRA UIN Walisongo Periode 2024-2025 dilaksanakan di Ruang Teater Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo, (27/09). Acara tersebut mengusung tema “Meningkatkan Solidaritas Demi Terciptanya CSSMoRA yang Berkualitas”, kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengurus baru dalam menjalankan roda organisasi dengan lebih baik lagi.
Acara tersebut dimulai pada pukul 08.30 WIB-selesai, dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars CSSMoRA, Sambutan ketua panitia, sambutan Ketua Umum CSSMoRA UIN Walisongo, sambutan Pengelola PBSB, do’a dan terakhir penutup.
Setelah beberapa rangkaian acara selesai, kemudian dilanjut dengan sesi diskusi oleh beberapa narasumber, materi pertama yaitu mengenai keorganisasian yang disampaikan oleh Nuril Fathoni Hamas, S.H.
“Organisasi adalah sekelompok orang yang bekerjasama dalam struktur dan koordinasi tertentu dalam mencapai serangkaian tujuan tertentu. CSSMoRA sebagai organisasi yang mewadahi santri penerima beasiswa santri berprestasi (PBSB) Kemenag RI di seluruh Indonesia. CSSMoRA bergerak dalam bidang sosial kepesantrenan dan memegang teguh pancasila. Organisasi berfungsi sebagai sarana pengembangan kepribadian. sarana mencapai tujuan dengan cara bekerjasama. sarana mengakomodasi berbagai potensi., dan sarana pendidikan kemasyarakatan,” ucap Nuril.
Materi ke dua membahas terkait Time Management yang disampaikan oleh Wali Cosara, M.H. “Manajemen waktu yang efektif sangat penting untuk meningkatkan produktivitas dan mencapai keseimbangan antara organisasi dan kehidupan pribadi. Dengan mengidentifikasi prioritas, merencanakan dengan baik, dan mengelola gangguan anda dapat mencapai tujuan anda dengan lebih efisien,” ucap Wali.
Setelah narasumber ke dua selesai menyampaikan materi, acara selanjutnya ialah istirahat dan salat jum’at bersama bagi yang menunaikan. Acara dilanjut dengan pembahasan materi ke tiga yaitu mengenai “Administrasi dan Kesekretariatan”, yang disampaikan oleh Syikma R. Jannah, S.H.
“Administrasi keorganisasian merupakan kegiatan penyusunan dan pencatatan data serta informasi secara sistematis dalam suatu organisasi. Berfungsi sebagai penyedia keterangan agar mempermudah untuk mendapatkan informasi agenda sebelumnya, dokumentasi (history) kegiatan, dan lain-lain. Lebih lengkap ketentuan dan contoh, ada di PPN yang telah dibagikan. Pun juga dipersilakan bertanya lebih lanjut melalui kontak (085749926002) atau lewat media sosial saya,” ucap Syikma.
Kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga sore tersebut diakhiri dengan do’a bersama dan sesi foto seluruh pengurus. Diharapkan, hasil dari upgrading ini mampu memperkuat kerja sama antaranggota dan menghasilkan program kerja yang lebih berkualitas dalam masa kepengurusan periode 2024-2025.
Upgrading Pengurus CSSMoRA ( Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) UIN Walisongo Periode 2024-202
Semarang, 27 September 2024 – CSSMoRA UIN Walisongo mengadakan dua kegiatan penting, yakni Upgrading Pengurus CSSMoRA periode 2024-2025 dan pengarahan dari pengelola Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB), Bapak Ustadz Ahmad Munif, M.S.I. Acara ini bertujuan untuk memperkuat organisasi, meningkatkan manajemen diri, dan mengembangkan potensi mahasiswa.
Kegiatan Upgrading Pengurus CSSMoRA mengusung tema “Meningkatkan Solidaritas Demi Terciptanya CSSMoRA yang Berkualitas”, sebagai langkah awal mempersiapkan pengurus baru untuk lebih siap menjalankan tugas organisasi dan membangun solidaritas yang kuat. Ketua Umum CSSMoRA UIN Walisongo, Ilham Awaludin, menekankan pentingnya proses ini sebagai momentum untuk meningkatkan kemampuan diri. “Upgrading ini harus benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan diri. Jangan sampai setelah acara ini kita malah mengalami downgrade, karena itu tentu tidak sejalan dengan tujuan kita,” ungkapnya.
Sambutan dan Pengarahan Pengelola PBSB
Ustadz Ahmad Munif, M.S.I., selaku pengelola Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) UIN Walisongo, memberikan motivasi kepada mahasiswa penerima beasiswa agar memanfaatkan masa perkuliahan dengan maksimal, baik dalam aspek akademik, organisasi, maupun pengembangan diri. “Masa perkuliahan adalah waktu yang berharga untuk belajar dan berkembang. Dengan memanfaatkan waktu dengan baik, kalian bisa mencapai kesuksesan dalam studi dan mempersiapkan diri untuk masa depan yang gemilang,” ujarnya.
Beliau juga memberikan beberapa tips penting yang dapat diimplementasikan oleh para mahasiswa, di antaranya:
1. Manajemen Waktu yang Efektif – Membuat jadwal harian, memanfaatkan aplikasi pengingat, menghindari multitasking, dan memprioritaskan tugas.
2. Meningkatkan Produktivitas Belajar – Mengikuti perkuliahan secara aktif, membentuk kelompok belajar, dan memanfaatkan waktu luang untuk memperdalam pemahaman materi.
3. Menjaga Keseimbangan dan Kesehatan – Menjaga pola tidur, mengonsumsi makanan sehat, berolahraga secara teratur, dan meluangkan waktu untuk beristirahat.
4. Memanfaatkan Peluang yang Tersedia – Mengikuti organisasi kemahasiswaan, seminar, serta mencari pengalaman magang.
5. Membuat Rencana Masa Depan – Menetapkan tujuan karier yang SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound).
Ustadz Ahmad Munif menekankan bahwa disiplin diri dan komitmen adalah kunci utama dalam menjalani masa perkuliahan. Mahasiswa harus mampu mengatur waktu dan prioritas agar dapat mencapai keberhasilan dalam studi dan mempersiapkan diri untuk dunia kerja.
Acara ini diadakan di Gedung Prof. Dr. Ahmad Qodri Abdillah Azizy, MA, PhD, Fakultas Syari’ah dan Hukum, Ruang Teater IsDB (Islamic Development Bank). Kegiatan tersebut menghadirkan tiga narasumber ahli di bidangnya:
1. Nuril Fathoni Hamas, S.H – Awardee PBSB
yang menyampaikan materi tentang Keorganisasian, memberikan wawasan mendalam tentang cara menjalankan organisasi secara efektif, membangun tim yang solid, dan mencapai tujuan bersama.
2. Wali Cosara, M.H – Awardee PBSB yang membawakan materi tentang Time Management, menekankan pentingnya manajemen waktu yang baik untuk menjaga keseimbangan antara tanggung jawab akademik, organisasi, dan kehidupan pribadi.
3. Syikma R. Jannah, S.H – Awardee PBSB yang menjelaskan pentingnya tata kelola administrasi yang rapi dan terstruktur dalam organisasi, karena hal ini akan mempengaruhi kelancaran operasional dan akuntabilitas pengurus.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, diharapkan pengurus CSSMoRA UIN Walisongo periode 2024-2025 sekaligus mahasiswa penerima Beasiswa Santri Berprestasi dapat lebih siap menghadapi tantangan akademik, organisasi, dan kehidupan sehari-hari. Solidaritas yang kuat, manajemen waktu yang baik, serta pemanfaatan peluang yang tersedia menjadi modal penting bagi mereka untuk mencapai kesuksesan.
Acara ini diakhiri dengan ajakan kepada peserta untuk lebih aktif dalam mengambil peran dan tanggung jawab, serta mempraktikkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam tradisi Islam, membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang memiliki kedudukan sangat tinggi. Namun, di antara para ulama dan umat Islam pada umumnya, seringkali muncul pertanyaan: mana yang lebih utama, memperbanyak jumlah bacaan atau membaca dengan tartil dan tadabbur (merenungi maknanya)?
Ibnu Qayyim rahimahullah memberikan penjelasan yang menarik mengenai hal ini. Dalam bukunya Zaadul Ma’ad, beliau menguraikan bahwa kedua pendekatan tersebut memiliki keutamaan masing-masing. Menurut beliau, membaca dengan tartil (perlahan dan benar) serta penuh tadabbur lebih tinggi dan lebih agung pahalanya. Sebaliknya, memperbanyak jumlah bacaan menghasilkan pahala yang lebih banyak secara kuantitas, meskipun nilainya tidak sebesar bacaan dengan tadabbur.
Untuk memudahkan pemahaman, Ibnu Qayyim memberikan perumpamaan. Membaca Al-Qur’an dengan tadabbur diibaratkan seperti seseorang yang bersedekah dengan permata yang sangat berharga atau memerdekakan seorang budak yang nilainya sangat tinggi. Sedangkan memperbanyak bacaan tanpa tadabbur diumpamakan seperti seseorang yang bersedekah dengan sejumlah besar dirham atau memerdekakan banyak budak yang nilainya rendah. Kedua tindakan ini tentu mendapatkan pahala, namun ada perbedaan kualitas di antara keduanya.
A. Dalil dari Sunnah
Pentingnya membaca Al-Qur’an dengan tartil juga ditegaskan dalam berbagai riwayat. Salah satu contohnya adalah dalam Shahih Bukhari dari Qatadah, yang bertanya kepada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu tentang bagaimana Rasulullah ﷺ membaca Al-Qur’an. Anas menjawab bahwa Rasulullah ﷺ membacanya dengan tartil, yakni dengan memanjangkan bacaan, tidak terburu-buru.
Begitu juga dengan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu yang memberikan nasihat kepada seorang yang cepat dalam membaca Al-Qur’an. Ibnu Abbas berkata bahwa membaca satu surat dengan perlahan dan penuh pemahaman lebih ia sukai daripada membaca Al-Qur’an secara cepat berulang kali dalam semalam. Menurut beliau, jika seseorang tetap ingin memperbanyak bacaan, ia harus membacanya dengan cara yang bisa didengar oleh telinga dan diresapi oleh hati.
B. Menjaga Keindahan dan Keagungan Bacaan
Salah satu sahabat Nabi ﷺ, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, juga memberikan nasihat penting terkait cara membaca Al-Qur’an. Beliau memperingatkan agar tidak membaca Al-Qur’an dengan terburu-buru seperti membaca syair, atau membacanya secara asal-asalan seperti menebar kurma yang buruk. Abdullah bin Mas’ud menekankan pentingnya berhenti di hadapan ayat-ayat yang menakjubkan, menggerakkan hati, dan tidak terburu-buru untuk segera menyelesaikan surat.
Lebih lanjut, Abdullah bin Mas’ud juga mengingatkan bahwa ketika seseorang mendengar ayat yang dimulai dengan firman Allah يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا (Wahai orang-orang yang beriman), ia harus benar-benar memperhatikan dengan seksama, karena di dalam ayat itu pasti terdapat perintah yang baik atau larangan dari keburukan.
C. Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari
Sebuah kisah menarik juga datang dari Abdurrahman bin Abi Laila. Seorang wanita datang kepadanya ketika ia sedang membaca Surat Hud, dan bertanya bagaimana ia bisa membaca surat tersebut begitu cepat. Wanita itu berkata bahwa ia telah membaca surat Hud selama enam bulan, namun belum juga selesai. Kisah ini menunjukkan bahwa membaca dengan tadabbur mungkin memakan waktu lebih lama, tetapi hasilnya adalah pemahaman yang lebih mendalam.
Dari berbagai penjelasan ini, jelaslah bahwa kualitas bacaan Al-Qur’an lebih diutamakan daripada kuantitas. Namun, memperbanyak jumlah bacaan juga tetap memiliki nilai pahala tersendiri. Oleh karena itu, pilihan terbaik bagi seorang Muslim adalah menggabungkan kedua pendekatan ini, yaitu dengan membaca Al-Qur’an dalam jumlah yang banyak namun tetap menjaga tartil dan tadabbur dalam setiap bacaannya.
Sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Qayyim rahimahullah, setiap tindakan memiliki pahalanya masing-masing, namun membaca Al-Qur’an dengan penuh pemahaman akan lebih memberikan manfaat, baik secara spiritual maupun intelektual. Pada akhirnya, tujuan membaca Al-Qur’an bukanlah sekadar untuk menuntaskan bacaan, tetapi untuk meresapi setiap maknanya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Perayaan maulid Nabi Muhammad ﷺ telah menjadi praktik yang umum di banyak negara Muslim. Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah:
Apakah perayaan ini maulid memiliki dasar dalam agama Islam, ataukah itu merupakan bid’ah?
Bid’ah, dalam terminologi agama, berarti inovasi dalam urusan agama yang tidak memiliki dasar dalam Al-Qur’an, Sunnah, atau praktik generasi awal umat Islam, yaitu para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. mengapa sebagian ulama dan Filsafat Islam menganggap perayaan maulid nabi sebagai bid’ah.
Pertama-tama, tidak ada satu ayat pun dari Kitab Allah (Al-Qur’an) yang menyebutkan atau menganjurkan perayaan maulid. Begitu pula, tidak ada satu hadits pun yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ yang membahas atau mengisyaratkan pentingnya memperingati hari kelahiran beliau, baik hadits yang shahih maupun yang dha’if. Selain itu, tidak ditemukan satu pun atsar dari para sahabat yang menunjukkan bahwa mereka merayakan maulid nabi. Hal ini menjadi argumen utama dalam menyatakan bahwa perayaan maulid tidak memiliki landasan dari sumber-sumber utama agama Islam.
Jika kita melihat sejarah kehidupan Nabi Muhammad ﷺ sendiri, beliau tidak pernah merayakan hari kelahirannya, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Demikian pula, tidak ada satu pun dari sahabat atau keluarga beliau yang mengadakan perayaan maulid untuk menghormati Nabi ﷺ semasa hidup beliau. Ini merupakan indikasi yang kuat bahwa perayaan maulid bukanlah bagian dari tradisi yang diajarkan atau dipraktikkan oleh generasi awal umat Islam.
Para sahabat terdekat Rasulullah ﷺ, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali رضي الله عنهم, tidak pernah merayakan maulid nabi selama masa pemerintahan mereka. Abu Bakar memerintah selama dua tahun dan tidak pernah mengadakan perayaan tersebut, meskipun beliau dikenal sebagai sahabat terdekat Rasulullah ﷺ dan orang yang paling jujur serta terpercaya dalam umat Islam. Umar, yang memerintah selama sepuluh tahun, juga tidak merayakan maulid nabi, meskipun beliau dikenal sebagai al-Faruq yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Demikian pula, Utsman yang memerintah selama 13 tahun dan Ali selama empat tahun, tidak pernah memperingati maulid nabi.
Jika perayaan maulid adalah sebuah kebaikan, mengapa para sahabat yang merupakan generasi terbaik umat tidak melakukannya? Bahkan, generasi setelah sahabat, yaitu para tabi’in, dan generasi setelah mereka, yaitu tabi’ut tabi’in, tidak pernah merayakan maulid nabi. Ini menunjukkan bahwa perayaan tersebut bukan bagian dari amalan agama yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ atau dipraktikkan oleh generasi awal umat Islam yang dikenal sebagai generasi terbaik.
Keempat imam besar dalam fiqih Islam, yaitu Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad, juga tidak merayakan maulid nabi. Jika memang ada dalil yang mendukung perayaan ini, tentu para ulama besar ini akan melakukannya dan menyampaikannya kepada umat. Fakta bahwa mereka tidak melakukannya menunjukkan bahwa mereka tidak menganggap perayaan maulid sebagai bagian dari ajaran Islam yang sahih.
Salah satu argumen yang sering dikemukakan oleh pendukung perayaan maulid adalah bahwa Nabi Muhammad ﷺ lahir pada hari Senin, dan beliau berpuasa pada hari Senin sebagai bentuk syukur atas hari kelahirannya. Namun, jika dalil ini benar dan relevan untuk mendukung perayaan maulid, tentu para sahabat dan para ulama awal akan menjadikannya sebagai dasar untuk merayakan maulid. Kenyataannya, mereka tidak melakukannya, yang menunjukkan bahwa pemahaman ini dianggap keliru oleh generasi awal umat.
Imam Malik رحمه الله pernah berkata, “Apa yang tidak dianggap sebagai agama pada masa Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, maka tidak akan dianggap sebagai agama hari ini.” Ini menunjukkan prinsip dasar dalam agama Islam bahwa apa yang tidak dilakukan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya dalam urusan agama, tidak boleh dianggap sebagai bagian dari agama. Oleh karena itu, jika perayaan maulid tidak ada pada masa mereka, maka hal itu tidak bisa dianggap sebagai bagian dari ajaran Islam.
Selain itu, Al-Qur’an menjelaskan bahwa Allah telah menyempurnakan agama ini pada masa Rasulullah ﷺ. Dalam surah Al-Ma’idah ayat 3, Allah berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu menjadi agamamu.” Ini menunjukkan bahwa semua ajaran agama telah disampaikan oleh Rasulullah ﷺ sebelum beliau wafat. Jika perayaan maulid adalah bagian dari agama, tentu hal itu sudah disampaikan dan diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ.
Rasulullah ﷺ juga telah memperingatkan umatnya dari mengada-adakan perkara baru dalam agama. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah رضي الله عنها, Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan kami yang bukan bagian darinya, maka itu tertolak.” Ini menjadi landasan bagi banyak ulama untuk menolak perayaan maulid sebagai amalan yang tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ.
Akhirnya, kita bertanya kepada mereka yang merayakan maulid: Apakah amalan ini merupakan ketaatan atau kemaksiatan? Jika mereka mengatakan bahwa itu adalah ketaatan yang mendatangkan pahala, maka kita harus menanyakan: Apakah Nabi Muhammad ﷺ mengetahui tentang amalan ini? Jika beliau mengetahuinya, mengapa beliau tidak menyampaikannya kepada umat? Apakah mungkin generasi sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in tidak mengetahui tentang kebaikan ini dan meninggalkannya, sementara generasi belakangan justru menemukannya?
perayaan maulid nabi tidak memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an, Sunnah, atau praktik generasi awal umat Islam. Para ulama yang mendukungnya sering kali mengandalkan pendapat ulama-ulama yang melakukan kesalahan dalam memahami dalil. Oleh karena itu, bagi mereka yang ingin mengikuti ajaran Islam yang murni, sudah sepatutnya mereka meninggalkan amalan ini dan mengikuti jejak para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in dalam menjaga kemurnian agama. Semoga Allah memberi kita semua petunjuk menuju jalan yang lurus.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak dari kita yang sering berdoa tanpa menyadari sepenuhnya makna dan tujuan dari doa tersebut. Kadang, doa hanya diucapkan untuk meminta hal-hal duniawi yang fana, tanpa memikirkan dampaknya bagi kehidupan di akhirat. Padahal, seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, segala harta benda dan kenikmatan dunia tidak akan menemani kita ke dalam kubur, kecuali hisab (pertanggungjawaban) dari Allah SWT. Oleh karena itu, kita diajak untuk merenungkan dan memilih doa yang benar-benar bermanfaat bagi kehidupan kita, baik di dunia maupun di akhirat.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa Allah akan menghisab setiap hal, hingga celak mata yang kita pakai. Artinya, setiap harta dan kenikmatan duniawi akan dipertanyakan dari mana asalnya dan untuk apa kita menggunakannya. Maka dari itu, orang yang bijak dalam berdoa tidak hanya meminta harta atau kekayaan, melainkan merenungkan apa yang benar-benar berguna bagi kehidupan di alam kubur.
Salah satu pelajaran berharga dari Habib Ali Habsyi adalah tentang bagaimana kita harus menyusun doa. Seorang pemuda pernah meminta doa dari Habib Ali agar dicintai oleh Allah SWT. Ketika ditanya mengapa ia meminta doa tersebut, sang pemuda menceritakan sebuah peristiwa yang menggugah hatinya: ia melihat seorang preman yang sangat garang dan berwajah sangar bermain dengan anaknya. Sang preman, yang mungkin ditakuti oleh orang-orang sekitarnya, justru tertawa riang saat anaknya menarik-narik jenggotnya. Pemuda itu lalu mengaitkan peristiwa ini dengan cinta Allah kepada hamba-Nya. Seperti preman yang memaklumi ulah anaknya karena cinta, Allah SWT juga memaafkan kesalahan hamba-Nya yang dicintai, dan bahkan memberikan ampunan serta balasan berlipat atas ketaatan mereka.
Cinta yang Hakiki: Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya
Salah satu hal terindah yang diberikan oleh Allah dalam kehidupan ini adalah cinta. Namun, tidak semua bentuk cinta itu sama. Ada cinta yang berakhir dengan kekecewaan, dan ada juga cinta yang tidak pernah lekang oleh waktu—yaitu cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Cinta inilah yang tidak memiliki masa kadaluwarsa dan tidak akan membuat kita kecewa.
Ustadzah Halimah Alaydrus mengajarkan bahwa cinta sejati tidak selalu dimulai dengan sesuatu yang instan, tetapi sering melalui tahapan-tahapan. Cinta yang murni memang sulit dijelaskan sebabnya, tetapi cinta yang berasal dari nafsu biasanya jelas memiliki tanda-tanda. Misalnya, ketika seseorang mengaku jatuh cinta setelah sering bertemu, saling mengirim pesan hingga larut malam, atau bahkan memiliki ketertarikan fisik yang kuat, maka cinta tersebut lebih condong pada nafsu, bukan cinta karena Allah.
Dalam Islam, memandang yang bukan mahram dengan perasaan suka adalah sesuatu yang dilarang. Allah SWT memerintahkan agar kita menundukkan pandangan terhadap lawan jenis yang bukan mahram. Jika seseorang sengaja mencari-cari alasan untuk bertemu dengan orang yang disukainya, hal itu sudah menjadi bukti bahwa cintanya bukan karena Allah, melainkan karena dorongan nafsu yang dihembuskan oleh setan.
Sebagaimana dijelaskan oleh Ustadzah Halimah, cinta yang murni adalah cinta yang tak didasarkan pada pertemuan atau ketertarikan fisik semata. Cinta yang seperti ini tidak hanya membangun hubungan yang penuh berkah di dunia, tetapi juga akan bermanfaat bagi kehidupan di akhirat.
Pesan ini mengajarkan kita bahwa dalam hidup, kita harus bijak dalam berdoa dan mencintai. Jangan sampai doa-doa kita hanya terfokus pada hal-hal duniawi yang tidak memiliki makna di akhirat. Pikirkan apa yang benar-benar bermanfaat bagi kehidupan setelah mati, dan fokuslah pada doa yang mendekatkan kita kepada Allah SWT.
Selain itu, belajar mencintai dengan tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Cinta yang didasari oleh cinta kepada Allah adalah cinta yang sejati, yang tidak akan pernah membawa kita pada kekecewaan. Sebaliknya, cinta yang hanya didorong oleh nafsu akan mudah pudar dan sering kali membawa dampak buruk.
Maka, marilah kita belajar untuk mencintai dan dicintai oleh Allah dengan mengikuti ajaran-ajaran yang telah disampaikan oleh para ulama dan guru kita. Cinta yang sejati adalah cinta yang berlandaskan pada ketakwaan, dan cinta ini akan membawa kita kepada kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat.