Ketika Kehidupan Menjadi Sulit, Ingatlah Bahwa Allah Akan Membuat Keajaiban
Lanjutkan membaca Ketika Kehidupan Menjadi Sulit, Ingatlah Bahwa Allah Akan Membuat Keajaiban
![]()
Ketika Kehidupan Menjadi Sulit, Ingatlah Bahwa Allah Akan Membuat Keajaiban
Lanjutkan membaca Ketika Kehidupan Menjadi Sulit, Ingatlah Bahwa Allah Akan Membuat Keajaiban
![]()
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak dari kita yang sering berdoa tanpa menyadari sepenuhnya makna dan tujuan dari doa tersebut. Kadang, doa hanya diucapkan untuk meminta hal-hal duniawi yang fana, tanpa memikirkan dampaknya bagi kehidupan di akhirat. Padahal, seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, segala harta benda dan kenikmatan dunia tidak akan menemani kita ke dalam kubur, kecuali hisab (pertanggungjawaban) dari Allah SWT. Oleh karena itu, kita diajak untuk merenungkan dan memilih doa yang benar-benar bermanfaat bagi kehidupan kita, baik di dunia maupun di akhirat.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa Allah akan menghisab setiap hal, hingga celak mata yang kita pakai. Artinya, setiap harta dan kenikmatan duniawi akan dipertanyakan dari mana asalnya dan untuk apa kita menggunakannya. Maka dari itu, orang yang bijak dalam berdoa tidak hanya meminta harta atau kekayaan, melainkan merenungkan apa yang benar-benar berguna bagi kehidupan di alam kubur.
Salah satu pelajaran berharga dari Habib Ali Habsyi adalah tentang bagaimana kita harus menyusun doa. Seorang pemuda pernah meminta doa dari Habib Ali agar dicintai oleh Allah SWT. Ketika ditanya mengapa ia meminta doa tersebut, sang pemuda menceritakan sebuah peristiwa yang menggugah hatinya: ia melihat seorang preman yang sangat garang dan berwajah sangar bermain dengan anaknya. Sang preman, yang mungkin ditakuti oleh orang-orang sekitarnya, justru tertawa riang saat anaknya menarik-narik jenggotnya. Pemuda itu lalu mengaitkan peristiwa ini dengan cinta Allah kepada hamba-Nya. Seperti preman yang memaklumi ulah anaknya karena cinta, Allah SWT juga memaafkan kesalahan hamba-Nya yang dicintai, dan bahkan memberikan ampunan serta balasan berlipat atas ketaatan mereka.
Cinta yang Hakiki: Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya
Salah satu hal terindah yang diberikan oleh Allah dalam kehidupan ini adalah cinta. Namun, tidak semua bentuk cinta itu sama. Ada cinta yang berakhir dengan kekecewaan, dan ada juga cinta yang tidak pernah lekang oleh waktu—yaitu cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Cinta inilah yang tidak memiliki masa kadaluwarsa dan tidak akan membuat kita kecewa.
Ustadzah Halimah Alaydrus mengajarkan bahwa cinta sejati tidak selalu dimulai dengan sesuatu yang instan, tetapi sering melalui tahapan-tahapan. Cinta yang murni memang sulit dijelaskan sebabnya, tetapi cinta yang berasal dari nafsu biasanya jelas memiliki tanda-tanda. Misalnya, ketika seseorang mengaku jatuh cinta setelah sering bertemu, saling mengirim pesan hingga larut malam, atau bahkan memiliki ketertarikan fisik yang kuat, maka cinta tersebut lebih condong pada nafsu, bukan cinta karena Allah.
Dalam Islam, memandang yang bukan mahram dengan perasaan suka adalah sesuatu yang dilarang. Allah SWT memerintahkan agar kita menundukkan pandangan terhadap lawan jenis yang bukan mahram. Jika seseorang sengaja mencari-cari alasan untuk bertemu dengan orang yang disukainya, hal itu sudah menjadi bukti bahwa cintanya bukan karena Allah, melainkan karena dorongan nafsu yang dihembuskan oleh setan.
Sebagaimana dijelaskan oleh Ustadzah Halimah, cinta yang murni adalah cinta yang tak didasarkan pada pertemuan atau ketertarikan fisik semata. Cinta yang seperti ini tidak hanya membangun hubungan yang penuh berkah di dunia, tetapi juga akan bermanfaat bagi kehidupan di akhirat.
Pesan ini mengajarkan kita bahwa dalam hidup, kita harus bijak dalam berdoa dan mencintai. Jangan sampai doa-doa kita hanya terfokus pada hal-hal duniawi yang tidak memiliki makna di akhirat. Pikirkan apa yang benar-benar bermanfaat bagi kehidupan setelah mati, dan fokuslah pada doa yang mendekatkan kita kepada Allah SWT.
Selain itu, belajar mencintai dengan tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Cinta yang didasari oleh cinta kepada Allah adalah cinta yang sejati, yang tidak akan pernah membawa kita pada kekecewaan. Sebaliknya, cinta yang hanya didorong oleh nafsu akan mudah pudar dan sering kali membawa dampak buruk.
Maka, marilah kita belajar untuk mencintai dan dicintai oleh Allah dengan mengikuti ajaran-ajaran yang telah disampaikan oleh para ulama dan guru kita. Cinta yang sejati adalah cinta yang berlandaskan pada ketakwaan, dan cinta ini akan membawa kita kepada kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat.
Di kutip dari buku Ustadzah Halimah Alaydrus Lanjutkan membaca Merenungi Esensi Doa dan kemurnian Cinta dalam Kehidupan
![]()
Pesan untuk hatimu, jika kamu memahaminya maka itu untukmu, “Dan bagi kalian di bumi ada tempat tinggal dan kesenangan hingga waktu yang ditentukan”.
Saya merasa yakin bahwa siapa yang merasakan kebahagiaan sejati dan menikmatinya di dunia, maka dia akan mendapatkannya di akhirat, di mana terdapat keabadian dan kenikmatan yang tak terputus (“Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka, dan mereka juga bergembira dengan orang-orang yang belum menyusul mereka dari belakang mereka, bahwa tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidak akan bersedih hati”)
Kapan pun kita menyadari bahwa kita, manusia, baik raja, menteri, pelayan, besar atau kecil, hanyalah hari-hari yang terus berlalu, setiap hari berlalu mengurangi umur kita, begitu seterusnya hingga kita akan berpisah, baik satu per satu atau berkelompok. Kita hanyalah tamu, dan setiap tamu pasti akan pergi menuju tempat yang lebih indah.
Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berkata: Beramallah untuk negeri yang kekal, Ridwan penjaganya, tetangganya adalah Ahmad, dan Allah Yang Maha Pengasih yang membangunnya. Tanahnya emas, misiknya adalah tanahnya, dan za’faran adalah rumput yang tumbuh di sana. Sungainya adalah susu yang murni dan madu, dan anggurnya mengalir sebagai minuman lezat. Burung-burung terbang di dahan-dahannya, bertasbih kepada Allah dengan terang-terangan di tempat tinggalnya. Siapa yang membeli rumah di surga Firdaus, maka dia akan memakmurkannya dengan rukuk dalam kegelapan malam yang tersembunyi, atau memberi makan orang miskin di hari kelaparan yang memuncak kelaparan. Jiwa ini menginginkan dunia, padahal dia tahu bahwa keselamatan ada dalam meninggalkan dunia.
Semua rencana dan pemikiran kita akan berubah, kita akan naik di atas semua kekurangan, kita akan mengangkat kemanusiaan dan perasaan kita. Kita akan melampaui hal-hal sepele dengan cinta, kelapangan hati, ketenangan, dan rasa ridha yang luar biasa yang Allah tanamkan di setiap sel tubuh kita. Kita akan merasakan ketenangan dan berkah dalam gerakan, diam, dan pikiran kita, meskipun ada tantangan duniawi yang menghadang. Namun, kita akan melewatinya dengan ridha sepenuhnya dan percaya kepada Allah, hidup dengan tenang dan harmonis, menikmati hidup untuk Allah, dan di jalan Allah dalam perjalanan sementara yang stabil dan menyenangkan hingga waktu yang Allah ketahui.
Ketahuilah bahwa sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan pada kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Itulah kemenangan yang besar.
Mari kita saling menggenggam tangan, orang tua kita mengasihi yang muda, dan yang muda menghormati yang tua, seolah-olah kita berada dalam satu hati yang sama.
Carilah Allah, renungkanlah kerajaan-Nya, renungkanlah Al-Qur’an-Nya, ambillah pelajaran dari kisah-kisah yang ada di dalamnya, dan bersujudlah serta dekatkan diri kepada-Nya. Saat itu, kamu akan menemukan Allah. Kemudian berkah akan turun kepadamu, kamu akan dilindungi oleh kasih-Nya, dan segala sesuatu akan mencintaimu.
Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya yang dia dengar, penglihatannya yang dia lihat, tangannya yang dia gunakan untuk berbuat.”
Ketika kamu merasakan keberadaan Allah dalam setiap urusan hidupmu, kamu akan memahami makna yang dalam dari ungkapan ini: “Barang siapa menemukan Allah, apa yang dia hilangkan? Dan barang siapa kehilangan Allah, apa yang dia temukan?”
![]()