Puji syukur kehadirat Allah yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan juga anugerahnya kepada kita semua. Shalawat serta salam tak lupa kami haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad, yang selalu menjadi wasilah kami dalam doa. Setelah sekian lama pengerjaan Zenith terhenti, akhirnya pada periode kepengurusan 2024-2025, divisi jurnalistik kembali dibentuk dalam rangka untuk kembali menerbitkan majalah Zenith edisi ke 17.
Selanjutnya, rasa terima kasih kami sampaikan kepada pihak-pihak yang mendukung dan berkontribusi dalam pengerjaan Majalah Zenith. khususnya, kepada teman-teman divisi jurnalistik, segenap penulis, dan juga teman-teman CSSMoRA yang yang turut berkontribusi dalam tebitnya majalah ini.
Ucapan terima kasih juga kami ucapkan kepada para tokoh yang telah bersedia kami wawancarai khususnya Pak Dr. M. Basthoni, Prof Thomas Djamalludin, Dr Kassim Bahali dan juga para allumni yang senantiasa membimbing dan memberikan sumbangsih pemikirannya dalam rangka terbitnya majalah Zenith.
Sebagai mana edisi-edisi sebelumnya, majalah Zenith senantiasa hadir dengan ciri khas pembahasan ilmu falaknya. Pada edisi ke 17 ini tim redaksi mengusung judul “Dinamika Penentuan Awal Waktu Subuh”. Hal yang melatarbelakangi tema tersebut adalah permasalahan mengenai awal waktu subuh yang ramai sekitar tahun 2010 ternyata belum mencapai kesepakatan kriteria hingga kini.
Perbedaan yang masih terjadi berimplikasi pada perbedaan waktu salat antara pemerintah dan kelompok lain. Meski demikian, belum banyak tulisan yang membahas secara spesifik masalah ini.
Sehingga sebagian masyarakat belum sepenuhnya menyadari bahwa ternyata kriteria waktu subuh yang mereka anut ternyata memiliki perbedaan. Kriteria yang umum dan dipakai oleh pemerintah adalah ketinggian matahari -20°. Sedangkan ormas Muhammadiyah menganut -18° senada dengan negara Malaysia yang telah mengubah dari -20° ke -18°.
Majalah Zenith kali ini akan membahas akar perbedaan dari kriteria tersebut berdasarkan kajian dan wawancara dengan para pakar. Harapannya majalah edisi 17 ini akan memberikan manfaat dan juga pengetahuan baru kepada mahasiswa dan juga masyarakat terkait realita serta dinamika penentuan kriteria waktu subuh yang sempat ramai di Indonesia.
Kami sadar bahwa majalah ini masih banyak kekurangan, maka dari itu kritik dan saran akan sangat membantu demi terciptanya kualitas majalah yang lebih baik lagi ke depannya. Sebaliknya jikalau pembaca mendapatkan manfaat kami sangat berharap teman-teman yang membaca bisa membagikan pengetahuannya kepada siapapun yang membutuhkan.
Semarang — Menyadari pentingnya literasi ekonomi digital di era yang serba online, Divisi Pengembangan Sumber Daya Ekonomi (PSDE) CSSMoRA UIN Walisongo menyelenggarakan pelatihan bertajuk “Affiliate TikTok dan Trik Marketing Produk Digital” pada Kamis, 1 Mei 2025, bertempat di YPMI Al-Firdaus. Acara ini dimulai sejak pukul 09.00 WIB dan berlangsung hingga selesai.
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan wawasan dan keterampilan praktis kepada mahasiswa dalam menggali potensi penghasilan melalui dunia digital, khususnya dengan memanfaatkan platform media sosial seperti TikTok. Fokus utama pelatihan ini adalah strategi menjadi afiliator serta kiat menciptakan dan memasarkan produk digital yang relevan dan bernilai.
Hadir sebagai pemateri, Fairjil Humam, seorang praktisi muda yang telah berkiprah dalam dunia digital marketing dan afiliasi membawakan materi dengan gaya interaktif dan komunikatif. Dalam sesi tersebut, Fairjil membahas tiga poin penting, yaitu:
Teknik dasar menjadi afiliator pemula, termasuk pemahaman alur kerja afiliasi dan platform yang bisa dimanfaatkan.
Tips menyusun ide dan membuat produk digital yang memiliki nilai jual serta berkelanjutan.
Trik memasarkan produk digital secara efektif di media sosial, dengan menitikberatkan pada potensi TikTok sebagai platform viral dan berdaya jangkau tinggi.
Peserta yang hadir merupakan mahasiswa dari berbagai jurusan dan latar belakang, namun semuanya memiliki ketertarikan yang sama terhadap dunia wirausaha digital. Antusiasme peserta terasa dalam sesi tanya jawab yang berlangsung hidup, dengan berbagai pertanyaan seputar praktik afiliasi, pengalaman pribadi, hingga kendala lapangan.
Selain menjadi ajang belajar, kegiatan ini juga menjadi ruang inspiratif yang mendorong semangat kewirausahaan mahasiswa. Harapannya, para peserta dapat mulai memanfaatkan aktivitas media sosial tidak sekadar untuk hiburan, melainkan sebagai sarana produktif yang mampu mendatangkan penghasilan nyata.
Kegiatan ini menjadi salah satu langkah nyata PSDE CSSMoRA dalam mencetak generasi muda yang melek teknologi, adaptif terhadap perubahan, dan mandiri secara ekonomi.
Semarang — Departemen Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) CSSMoRA UIN Walisongo kembali menunjukkan komitmennya dalam menebar kebaikan melalui kegiatan bertajuk Aksi Peduli Sesama yang dilaksanakan pada Minggu, 9 Maret 2025, di Panti Asuhan Al-Hikmah, Bringin, Ngaliyan. Kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 20 anak binaan panti sebagai penerima manfaat.
Acara dimulai pada sore hari dengan rangkaian kegiatan yang dirancang penuh makna dan kehangatan. Setelah pembukaan secara resmi, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Umum CSSMoRA UIN Walisongo, Koordinator Departemen P3M, serta perwakilan pengelola Panti Asuhan Al-Hikmah. Dalam sambutannya, mereka menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini serta harapan agar tali silaturahmi dapat terus terjalin.
Doa pun dipanjatkan bersama, memohon keberkahan atas acara yang digelar dan kebahagiaan bagi seluruh peserta. Suasana kemudian menjadi lebih meriah ketika para anggota Departemen P3M mengajak anak-anak bermain bersama sembari menunggu waktu berbuka. Dipandu oleh Dina dan Nuna, permainan yang menitikberatkan pada kekompakan dan fokus ini disambut dengan antusiasme tinggi oleh anak-anak. Tawa ceria pun mengisi halaman panti, menciptakan momen kebersamaan yang hangat dan penuh keceriaan.
Begitu bedug Maghrib terdengar, seluruh peserta bersama-sama menyantap hidangan berbuka yang telah disiapkan. Suasana penuh kekeluargaan terasa begitu kental dalam momen ini. Sebagai penutup, dilakukan penyerahan bingkisan secara simbolis kepada anak-anak panti, sebagai bentuk kepedulian dan cinta kasih dari keluarga besar CSSMoRA UIN Walisongo.
Kegiatan berjalan dengan lancar dan penuh keakraban. Lebih dari sekadar acara seremonial, aksi ini menjadi wujud nyata dari semangat solidaritas sosial yang dijunjung tinggi oleh CSSMoRA. Harapannya, kegiatan ini dapat menumbuhkan rasa empati, memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, serta mengajarkan arti syukur kepada seluruh pihak yang terlibat.
Dengan semangat Berbagi dan Menginspirasi, CSSMoRA UIN Walisongo berkomitmen untuk terus menebar manfaat dan menjadi bagian dari perubahan sosial yang lebih baik.
Sebagai bentuk rasa syukur atas usia ke tujuh belas, Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMoRA) UIN Walisongo sukses menyelenggarakan rangkaian kegiatan Dies Natalis dengan tema “Meniti Jalan Pengabdian, Meraih Keberkahan Bersama CSSMoRA Meraih Masa Depan.” Kegiatan ini memiliki beberapa rangkaian kegiatan yang terlaksana, diantaranya:
1. Sayembara logo harlah ke tujuh belas yang diikuti oleh seluruh anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo.
2. Festival Dies Natalis CSSMoRA (FDC), kegiatan ini diselenggarakan untuk umum dengan ketentuan peserta maksimal berusia 25 tahun. FDC memiliki tida cabang lomba, yakni Musabaqah Qiro’atul Kutub (MQK), Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), dan Musabaqah Da’i Muda (MDM) yang semua dilakukan secara online. Kegiatan FDC ini berhasil menembus tiga ratus lebih peserta dari seluruh Indonesia.
3. CSSMoRA Bersholawat menjadi puncak acara pada perayaan tersebut. Gus Apang (Ashfal Maulana), Abah Budi Harjono, dan tim hadroh JQH UIN Walisongo menjadi bintang tamu yang menyita perhatian khalayak umum. Terbukti dari peserta malam itu bukan hanya dari kalangan mahasiswa, namun juga warga sekitar kampus UIN Walisongo turut hadir meramaikan malam puncak yang diadakan di auditorium II UIN Walisongo.
Sebagai penutup, seluruh anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo mempererat ikatan kebersamaan melalui kegiatan rihlah. Saloka Theme Park merupakan destinasi pilihan seluruh anggota.
Di era digital seperti sekarang, media sosial menjadi bagian penting dalam kehidupan kita. Namun, bagaimana Islam memandang penggunaan media sosial? Ada beberapa hal penting yang harus kita perhatikan agar tetap menjaga etika dan akhlak sebagai muslim.
1. Kebebasan Berpendapat dalam Islam
Islam mengajarkan kita untuk menyampaikan pendapat dengan santun dan penuh hikmah. Kebebasan berbicara bukan berarti bebas menyebar ujaran kebencian atau fitnah. Di media sosial, kita harus bijak memilih kata agar tidak menyinggung atau menyakiti orang lain. Dalam Surah An-Nahl: 125 telah disampaikan :
Artinya : “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.” (QS an-Nahl: 125)
2. Larangan Menyebar Hoax dan Fitnah Digital
Menyebarkan berita palsu (hoax) atau fitnah bertentangan dengan prinsip Islam yang mengedepankan kejujuran dan keadilan. Kita harus selalu memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya agar tidak merugikan orang lain. Allah swt. yang berkaitan dengan berita bohong atau hoax yang telah disampaikan dalam Surah al-Hujurat yang berbunyi:
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.
3. Tanggung Jawab Akhlak Muslim di Dunia Maya
Seorang Muslim tidak hanya bertanggung jawab atas perilakunya di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya. Ruang digital adalah bagian dari kehidupan yang tak terpisahkan, sehingga akhlak tetap harus dijaga.
Dalam Islam, setiap kata yang diketik dan dibagikan akan dipertanggungjawabkan, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka, akhlak bukan hanya soal adab di dunia fisik, tetapi juga cerminan iman di dunia digital.
4. Dakwah Positif di Media Sosial
Media sosial merupakan sarana strategis untuk menyebarkan nilai-nilai Islam secara positif. Dalam genggaman tangan, seorang Muslim bisa berdakwah melalui konten yang menginspirasi, mengedukasi, dan menyejukkan hati.
Dakwah di era digital tidak harus berupa ceramah panjang, namun bisa melalui kutipan Al-Qur’an, hadis, atau pengalaman spiritual yang menggugah.
Yang terpenting adalah niat dan konsistensi untuk menebarkan kebaikan, menjauhi perdebatan yang tidak bermanfaat, serta tidak terjebak dalam konten viral yang melanggar etika. Dengan begitu, kehadiran Muslim di dunia maya bukan hanya aktif, tapi juga membawa manfaat dan keberkahan bagi sesama
Di era digital yang serba cepat ini, kecanggihan media sosial tak seharusnya menghapus batasan moral yang diajarkan dalam Islam. Justru, platform-platform tersebut dapat menjadi ladang amal yang luas jika digunakan dengan niat yang benar dan sikap yang bertanggung jawab.
Islam tidak menolak teknologi, tetapi hadir untuk membingkai penggunaannya dengan nilai-nilai luhur seperti kejujuran, kesantunan, dan tanggung jawab sosial.
Setiap unggahan, komentar, hingga informasi yang dibagikan bukan hanya cerminan diri, tetapi juga bagian dari amanah dakwah yang harus dijaga. Maka, mari jadikan setiap klik sebagai jalan menuju keberkahan, bukan sekadar eksistensi, tetapi kontribusi nyata untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Di sebuah desa yang kecil Bernama Desa Pawindan, terdapat sebuah keluarga yang sederhana. Xaquilla Pratama adalah anak pertama dari pernikahan Diana Aprilia dan Kadit Waluyo, suaminya yang telah meninggal dunia. Sejak Ayahnya tiada, kehidupan mereka menjadi semakin rumit. Diana bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka, tetapi dalam perjalanan mencapai kebutuhan itu membutuhkan perjuangan yang pelik.
Xaviera merupakan gadis yang selalu ceria, namun kondisi hidup yang serba kekurangan membuatnya merasa tertekan. Dia adalah satu-satunya cucu yang miskin dari keturunan ayahnya. Keluarga dari pihak ayahnya berkecukupan. Mereka sering mengunjungi nenek dari pihak ayah, namun setiap kali mereka datang, Xaviera dan ibunya selalu terasingkan karena keluarga dari ayahnya tidak suka dengan kehadiran mereka.
Tante Moli, kakak perempuan ayahnya, adalah yang paling keras dalam memperlakukan mereka. Dia sering berkata kasar kepada Xaviera dan Diana, menyebut mereka sebagai beban dan menyalahkan mereka atas kemiskinan yang mereka alami.
“Kalian hanya datang untuk meminta-minta,” kata Tante Moli dengan nada mengejek.
Perkataan-perkataan seperti itu membuat Xaviera menjadi pribadi yang pemarah. Dia sering melampiaskan kemarahannya kepada ibunya, merasa bahwa kebahagiaan hanya bisa dicapai dengan kekayaan.
Namun, suatu hari, kehidupan mereka mulai berubah. Diana menerima kabar bahwa ia diterima bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pekerjaan ini memberikan harapan baru bagi mereka, meskipun perjalanan menuju kebahagiaan masih panjang.
Hari itu, Diana membawa Xaviera mengunjungi neneknya yang sednag sakit. Sesampainya di rumah nenek, mereka disambut dengan pandangan dingin dari keluarga besarnya. Tante Moli tidak bisa menahan diri untuk memberikan komentar sinis.
“Lihat siapa yang datang, si miskin yang hanya tahu minta-minta,” ujarnya dengan tawa mengejek.
Xaviera merasa hatinya terbakar.
“stop tante, sudah berapa kali tante menghina kami. Apa tante tidak sadar pekerjaan yang Ayahku kasih kepada tante, harusnya ibu yang menggantikannya, bukan tante,” ucapnya dengan nada kesal.
“Apa? Kamu berani berkata seperti itu? memang ya, sudah miskin tak ada akhlak pula,” ujar Moli membalas Xaviera.
Diana berusaha menenangkan Xaviera.
“Sabar, Nak. Kita kesini untuk menjenguk nenek, bukan untuk bertengkar,” bisik Diana sambil memegang tangan Xaviera dengan lembut.
Meskipun keadaanya demikian, Diana berusaha menahan diri. Namun, dalam hatinya dia bersumpah untuk membuktikan bahwa mereka bisa hidup bahagia tanpa harus menjadi kaya raya. Mereka menemui nenek yang terbaring lemah di tempat tidur. Nenek tersenyum melihat kedatangan mereka, meskipun senyuman itu tampak terpaksa.
Waktu berlalu, Diana berusaha keras setiap harinya untuk mencari pekerjaan. Dulu Diana pernah kuliah di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) namun, sempat terhenti karena berpindah tempat. Tiga tahunn yang lalu mereka tinggal di Manado bersama Kadit yang bekerja sebagai kepala sekolah dan Diana sebagai guru honorer. Karena Kadit telah meninggal dunia mereka harus berpindah ke sebuah desa dimana Kadit telah menyiapkan rumah untuk keluarga kecilnya dulu yaitu di desa Pawindan.
Pagi yang sangat cerah, Diana menghampiri setiap sekolah yang ada di desa Pawindan. Dengan semangat yang membara, ia yakin bahwa hari ini adalah hari keberuntungannya. Ia berharap semoga doa dan harapannya tercapai hari ini.
“Ya Tuhan, setiap malam aku berdoa. Aku tahu Engkau Yag Maha Kaya, maka berilah hamba rezeki pekerjaa hari ini,” ucap Diana dengan sepenuh hati. Langkahnya penuh harap, meskipun di balik senyumnya tersimpan kekhawatiran akan masa depan.
Diana selalu mengajarkan Xaviera untuk tidak pernah putus asa dalam menghadapi hidup. Meskipun keadaan sangat sulit, mereka tetap teguh dan saling menguatkan. Hari itu, Diana tidak hanya mencari pekerjaan untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk masa depan Xaviera. Dia ingin memberikan yang terbaik bagi putrinya, berharap suatu hari Xaviera bisa meraih cita-citanya tanpa harus merasakan pahitnya kemiskinan seperti yang dialaminya.
Tidak lama setelah ia berjalan beberapa menit, Diana melihat sebuah pengumuman yang menyatakan bahwa sekolah tersebut sedang membutuhkan guru baru.
“Permisi, Pak. Apakah benar di sini membutuhkan guru baru?” tanya Diana.
“Benar, Bu. Mari saya langsung wawancara,” jawab kepala sekolah yang sedang berdiri di depan gerbang.
Diana disambut dengan hangat di SDN 5 Pawindan. Semua tes yang diberikan oleh kepala sekolah dikerjakan dengan baik, dan akhirnya Diana diterima sebagai guru kelas di sekolah tersebut.
“Terimakasih Tuhan,” Diana berbisik dalam hatinya.
Ketika sore tiba, Diana pulang dengan langkah ringan. Sesampainya di rumah, dia disambut oleh Xaviera yang penuh rasa ingin tahu. Dengan bangga, Diana menceritakan kabar baik itu. Xaviera merasakan kebahagiaan yang tulus dalam kebersamaan mereka. Dalam hati, Xaviera tahu bahwa kebahagiaan mereka tidak hanya datang dari pencapaian materi, tetapi dari cinta, dukungan, dan harapan yang mereka bagi bersama. Hari itu mereka merayakan kemenangan kecil yang menjadi landasan bagi kebahagiaan yang lebih besar di masa depan.
Setiap hari Diana mengajar di sekolah itu hingga ia diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Gaji yang diterima cukup untuk membuat kehidupan mereka lebih stabil. Meskipun masih banyak yang harus mereka lunasi, mereka tidak putus asa dan belajar untuk selalu bersyukur. Mereka tidak lagi merasa kekurangan. Xaviera mulai melihat perubahan dalam hidup mereka. Ibunya terlihat lebih bahagia, dan hal itu membuatnya berpikir ulang tentang makna kebahagiaan.
Suatu sore, saat mereka sedang duduk di ruang tamu, Xaviera berkata kepada ibunya, “Bu, aku merasa ada yang berubah dalam hidup kita. Apa ibu juga merasa begitu? apa ibu merasa lebih Bahagia,”
Diana tersenyum, memandang putrinya dengan kasih sayang.
“Kebahagiaan itu bukan tentang seberapa banyak uang yang kita miliki, Nak. Kebahagiaan itu ada di hati kita, bagaimana kita mensyukuri apa yang kita punya dan menjalani hidup dengan penuh kasih sayang.”
Kata-kata ibunya menggugah hati Xaviera. Dia mulai menyadari bahwa selama ini dia telah salah menilai kebahagiaan. Dia mulai berubah, menjadi lebih sabar dan lebih menghargai hal-hal kecil dalam hidupnya.
Suatu hari, nenek mereka meninggal dunia. Keluarga besar berkumpul untuk pemakaman. Di tengah kesedihan, Xaviera melihat sesuatu yang berbeda. Dia melihat bahwa meskipun mereka tidak memiliki segalanya, dia dan ibunya memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh keluarga besar mereka yaitu cinta dan kebersamaan.
Setelah pemakaman, Tante Moli menghampiri mereka.
“Kalian tetap saja miskin, tapi setidaknya kalian punya pekerjaan sekarang,” katanya dengan nada meremehkan.
Xaviera tidak marah. Dia memandang Tante Moli dengan senyum tenang.
“Kebahagiaan bukan tentang seberapa banyak uang yang kita punya, tante. Menciptakan kebahagiaan bukan dengan hal tersebut, namun kebahagiaan tercipta di dalam hati kita.”
Kehidupan terus berjalan, Xaviera kini tumbuh menjadi seorang yang bijaksana. Dia belajar dari pengalaman hidupnya bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa dibeli dengan uang. Kebahagiaan tidak diciptakan dari uang saja, karena terciptanya kebahagiaan itu dari hati. Bagaimana kita bisa mensyukuri apa yang kita miliki dan berbagai kasih sayang dengan orang-orang di sekitar kita. Meskipun banyak tantangan yang mereka hadapi, Xaviera dan Diana tidak lagi merasa tertekan oleh kemiskinan. Mereka menemukan kebahagiaan dalam kebersamaan, cinta, dan pengharapan. Dan itu yang membuat hidup mereka benar-benar Bahagia.
Falak science, or Islamic astronomy, is a field concerned with the observation and study of celestial bodies such as the sun, moon, and stars. In Islam, this knowledge plays a crucial role in determining prayer times and the beginning of Islamic months, including Ramadan and Eid. However, differences in methods used to determine the start of these months often lead to disagreements and conflicts.
Historically, two primary methods have been used: rukyat (direct observation) and hisab (astronomical calculations). Nahdlatul Ulama (NU) follows the rukyat method, adhering to the Prophet’s hadith that mandates visually sighting the moon before confirming a new month. Conversely, Muhammadiyah employs the hisab method, based on the wujudul hilal principle, which determines the start of a month purely through mathematical calculations without requiring direct moon sighting.
This methodological divergence has existed since the colonial era. During that time, rukyat was predominantly practiced by the Muslim community, whereas the Dutch colonial government relied on a fixed calendar system. Differences in regional altitudes also impacted moon sighting results, leading to variations in the declaration of Eid. This challenge persists today, where disparities in moon sighting continue to result in different Eid celebrations within the same country.
Modern astronomical advancements, including telescopes and digital tools, have significantly improved moon observation. Technologies such as computer programs and satellite imagery have enhanced the accuracy of astronomical calculations. Nevertheless, challenges remain, such as weather conditions obstructing observations and differing interpretations of imkan rukyat (visibility criteria for the crescent moon).
From a social perspective, varying Eid dates sometimes create the perception of disunity among Muslims. However, Islam regards differences as a form of divine mercy, and they should not be a source of division. As a country guided by Pancasila, Indonesia has made efforts to accommodate diverse perspectives in determining Islamic holidays. Government initiatives to unify differing viewpoints through consultation and consensus-building deserve recognition.
To bridge the gap in determining the start of Islamic months, several steps can be taken, including fostering dialogue between Islamic organizations, enhancing public literacy in astronomy, and promoting a standardized Hijri calendar. By doing so, the distinctions between hisab and rukyat can be managed wisely, ensuring they contribute to intellectual diversity rather than discord within the Muslim community.
The Importance of Falak Science in Modern Society
Beyond its role in determining religious observances, falak science has broader implications for society. It intersects with meteorology, navigation, and even space exploration. In the past, Muslim scholars such as Al-Battani and Al-Zarqali made significant contributions to the development of astronomical tables, which were later used by European scientists in their research.
In the modern era, falak science is essential for satellite technology, global positioning systems (GPS), and timekeeping. The precise calculations used in hisab are also applied in determining solar and lunar eclipses, planetary movements, and the synchronization of time zones. These applications highlight the continued relevance of Islamic astronomy in scientific advancements.
Bridging Traditional and Modern Approaches
As scientific advancements continue to evolve, there is a growing need to bridge traditional and modern approaches to falak science. While rukyat remains an essential practice rooted in Islamic traditions, integrating modern astronomical tools can enhance accuracy and reliability. Efforts to standardize criteria for moon sighting across different regions can help reduce inconsistencies in determining important Islamic dates.
Collaboration between religious scholars and astronomers is crucial in fostering a balanced approach. Establishing a unified Islamic calendar based on agreed scientific principles could promote harmony within the Muslim community while preserving the authenticity of traditional methods.
Encouraging Public Awareness and Education
Increasing public awareness and education about falak science can also play a significant role in addressing misconceptions. Many people are unaware of the complexities involved in moon sighting and its scientific basis. Educational programs, seminars, and workshops can help enhance understanding and appreciation of both rukyat and hisab methodologies.
Incorporating falak science into the educational curriculum, particularly in Islamic schools and universities, can equip future generations with the knowledge and skills necessary to engage with both religious and scientific perspectives. The use of digital platforms and social media can further facilitate the dissemination of information on the importance of accurate moon sighting practices.
Falak science remains a vital field that bridges religion and science, offering insights into celestial phenomena while playing a fundamental role in Islamic traditions. Although differences in determining the Islamic calendar persist, fostering dialogue, embracing technological advancements, and promoting education can help create a more unified approach. By acknowledging the value of both traditional and modern methodologies, the Muslim community can ensure that falak science continues to be a source of knowledge, unity, and progress.
Pada Sabtu–Minggu, 24–25 Mei 2025, telah diselenggarakan kegiatan Astrocamp bertajuk “Tafakur Alam di Pelukan Malam” di kawasan Kebun Teh Medini, Kendal, Jawa Tengah. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, Kawakib Institute, dan Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Tengah, dengan jumlah peserta sebanyak 40 orang yang berasal dari mahasiswa, masyarakat umum, serta perwakilan dari Lembaga Falakiyah PWNU NTB.
Acara dibuka pada Sabtu malam pukul 19.30 WIB. Dalam sambutannya, Dr. H. M. Basthoni, M.H. menekankan pentingnya tafakur atas ciptaan Tuhan melalui langit malam serta menghargai perjuangan para ilmuwan falak terdahulu. Sementara itu, Ilham Awaludin dari CSSMoRA menyampaikan harapannya agar sinergi antar lembaga ini terus terjalin untuk menyebarluaskan ilmu falak ke berbagai kalangan.
Sesi materi dimulai dengan pengenalan teleskop Seestar oleh Moh Mailan Nahdhoh, S.H. Teleskop ini memadukan sistem manual dan teknologi AI, sehingga gambar langit dapat langsung diolah dalam perangkat. Peserta pun langsung mencoba mengoperasikan teleskop ini.
Selanjutnya, M. Nur Iskandar Fajri, M.H. memberikan pelatihan astrofotografi dan light painting dengan smartphone, sambil menjelaskan pengaturan penting seperti ISO dan shutter speed agar hasil foto langit tampak maksimal.
Malam hari menjadi puncak antusiasme peserta. Langit cerah menghadirkan pemandangan Milky Way yang menakjubkan, disertai kegiatan bakar-bakar santai. Salah satu peserta, Danial Alexa, mengungkapkan “Saya sangat senang, karena ini kali pertama saya melakukan astrofotografi dan mendapatkan hasil yang sangat bagus.”
Kegiatan ditutup dengan pengamatan fajar menjelang subuh, mengajak peserta merenung dalam suasana yang hening dan penuh makna.Astrocamp ini bukan hanya sarana belajar dan observasi langit, tetapi juga media tafakur, kebersamaan, dan refleksi spiritual dalam keindahan alam malam yang tenang.
Cssmorawalisongo.org – Ahmad Agil Tsabata resmi dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Program Studi Ilmu Falak S1 pada Wisuda Tahun 2025. Mahasiswa kelahiran Jember, 29 Desember 2003 ini berhasil menyelesaikan studinya tepat waktu dengan hasil yang membanggakan, menunjukkan dedikasi tinggi terhadap akademik, organisasi, dan pengabdian.
Wawancara dilakukan secara daring melalui WhatsApp (24 /05/2025), mengingat kesibukan dan jarak yang tidak memungkinkan untuk bertemu langsung. Dalam perbincangan hangat tersebut, Agil mengungkapkan bahwa capaian ini adalah buah dari perjuangan panjang dan penuh tanggung jawab.
“Ini adalah sebuah kehormatan sekaligus pengingat bahwa gelar ‘terbaik’ bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar,” ujar Agil.
Ia menjelaskan bahwa selama kuliah, ia memegang teguh prinsip kedisiplinan, konsistensi dalam belajar, serta manajemen waktu yang seimbang antara kuliah, organisasi, pekerjaan, dan kehidupan pribadi. Bagi Agil, konsistensi kecil justru lebih berdampak besar dibandingkan usaha yang besar tapi sesaat.
Salah satu tantangan terbesar selama masa kuliah justru datang dari dalam diri sendiri.
“Yang paling berat itu berdamai dengan diri sendiri. Kadang kita ragu, lelah, merasa tidak mampu, bahkan sempat merasa salah jurusan seperti saya di awal-awal. Tapi dari situ saya belajar, jangan jadikan itu beban. Ambil jeda, renungi, lalu bangkit lagi. Kesulitan itu pintu menuju versi diri yang lebih kuat,” jelasnya.
Agil menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada kedua orang tua, para dosen, teman-teman seperjuangan, khususnya teman sekamar di pondok YPMI Al-Firdaus, serta para alumni Nurul Jadid di Semarang yang banyak berdiskusi dengannya selama proses penyusunan skripsi.
Setelah wisuda, Agil berencana kembali ke kampung halamannya di Jember untuk melaksanakan tanggung jawab pengabdian. Ke depan, ia juga berencana melanjutkan studi S2 di UIN Kiai Haji Ahmad Siddiq Jember, mengambil bidang yang lebih spesifik di Hukum Keluarga Islam.
Kepada mahasiswa lainnya, Agil menitipkan pesan penuh semangat,
“Jangan menyerah pada kegagalan, karena di dalam setiap proses pasti ada pembelajaran. Cari mentor, dan pandai-pandailah bergaul dengan orang-orang positif. Jaga keseimbangan antara akademik, kehidupan pribadi, dan organisasi. Jangan tumbang karena hal apa pun.”
Kisah perjuangan Ahmad Agil Tsabata membuktikan bahwa ketekunan, ketulusan, dan keberanian untuk terus melangkah mampu menghantarkan seseorang mencapai puncak prestasi. Namun baginya, puncak ini hanyalah titik awal dari tanggung jawab yang lebih besar kepada masyarakat dan ilmu pengetahuan.