BENTUK PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT, CSSMoRA UIN WALISONGO ADAKAN FALAK ROADSHOW

Roadshow falak
roadshowfalak2
Roadshowfalak3
previous arrow
next arrow

Cssmorawalisongo – Departemen Pemberdayaan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M) CSSMoRA UIN Walisongo periode 2023-2024, melaksanakan Falak Roadshow di Pondok Pesantren Assalam Kudus pada Sabtu (11/11/2023). Acara tersebut bertemakan “Langitkan Ilmu, Wujudkan Karya, Menuju Generasi Emas Indonesia” bertujuan untuk mengenalkan keilmuan Falak kepada masyarakat.
Kegiatan ini diikuti oleh 40 peserta yang terdiri dari santriwan dan santriwati kelas XII Pondok Pesantren Assalam, dengan tujuan pembekalan dan pemantapan perihal keilmuan Falak sebelum mereka lulus. Acara tersebut dimulai dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Quran, menyanyikan lagu Indonesia Raya serta Mars CSSMoRA dan sambutan-sambutan, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh beberapa narasumber.
Materi pertama membahas mengenai pengenalan Ilmu Falak berkenaan dengan pengertian falak dan astronomi, agar peserta dapat memahami dasar-dasar Ilmu Falak. yang dismpaikan langsung oleh koordinator P3M, yaitu Zaki Al-aziz.
Materi kedua disampaikan oleh Ilham Awaludin, anggota CSSMoRA UIN Walisongo, dengan pembahasan perhitungan waktu salat. Menurutnya, perhitungan waktu salat sangat penting untuk diketahui, karena hal tersebut berkaitan langsung dengan ibadah.
Selanjutnya, pada materi ketiga membahas praktek pengukuran arah kiblat yang dijelaskan oleh Daviq Nuruzzuhal, anggota CSSMoRA UIN Walisongo. Pada praktek tersebut, dijelaskan tata cara mengukur kiblat dengan empat alat, yaitu Teodolit, Istiwaa’in, Mizwala dan kiblat Tracker.
Acara tersebut diakhiri dengan kegiatan pengamatan benda langit sekaligus pemasangan teropong yang disampaikan oleh Munawir, anggota CSSMoRA UIN Walisongo. Namun, dikarenakan kondisi cuaca yang kurang mendukung membuat pengamatan langit menjadi kurang kondusif.
“Sangat disayangkan, pada malam ini cuacanya tidak begitu mendukung, sehingga kita kurang maksimal saat mengamati benda-benda langit” ujar Munawir.
Namun, kondisi tersebut tidak menurunkan semangat mereka untuk tetap melaksanakan pengamatan langit. “Tujuan inti Falak Roadshow yaitu agar Ilmu Falak lebih dikenal oleh khalayak umum, mengingat banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang Ilmu Falak, apapun kondisinya kita harus tetap semangat” ujar Wahyudi Arafah, ketua umum CSSMoRA UIN Walisongo.
Di setiap kesempatan, tentunya ada kebaikan. Teman-teman UIN Walisongo berharap semoga dengan adanya Falak Roadshow ini dapat meningkatkan pengetahuan mengenai Ilmu Falak tidak hanya dikalangan pelajar, tetapi juga masyarakat luas. Dengan demikian, terbentuklah kesadaran bahwa pentingnya pemahaman tentang Ilmu Falak dan pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari.

Loading

HASIL PENILAIAN SAYEMBARA LOGO TINGKAT INTERNAL DALAM RANGKA MEMPERINGATI DIES NATALIS KE-16 CSSMORA UIN WALISONGO SEMARANG

Dalam rangka memperingati Dies Natalis Ke-16, CSSMoRA UIN Walisongo menggelar lomba Sayembara Logo tingkat internal bagi anggotanya. Tujuan dari kegiatan ini adalah menciptakan identitas yang khas dan unik sebagai bagian dari perayaan Dies Natalis ke-16 ini. Tepat pada hari Jumat, tanggal 3 November 2023 di Kota Semarang, acara penilaian Sayembara Logo tingkat internal dilaksanakan. Penilaian ini dilakukan oleh Fajrullah, M.H., seorang juri yang berkompeten dalam bidangnya, dan juga merupakan alumni CSSMoRA UIN Walisongo Angk 2016.
Setelah melalui proses penilaian dari setiap logo yang ada, berikut adalah hasil yang telah ditetapkan oleh juri:

1. Alfin Khomsah Sabilal Hayat angkatan 2023, meraih total nilai sebesar 25,5
2. Muhammad Ais Nur Rizqi angkatan 2023 meraih total nilai sebesar 23,9
3. Zidni Ilmatun Nafi’ah angkatan 2023 meraih total nilai sebesar 21,5

Berdasarkan hasil penilaian tersebut, pemenang dari Sayembara Logo secara resmi diberikan kepada Alfin Khomsah Sabilal Hayat, mahasiswa angkatan 2023, yang meraih total nilai sebesar 25,5. Keputusan juri tentunya bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Acara Sayembara Logo ini juga telah mencerminkan prestasi dan kualitas karya yang dihasilkan oleh para peserta. Semua peserta telah menunjukkan dedikasi dan kreativitas yang luar biasa dalam menyumbangkan ide-ide dalam rangka memeriahkan Dies Natalis Ke-16 CSSMoRA UIN Walisongo.Harapannya acara ini dapat menjadi motivasi bagi semua anggota untuk terus berinovasi dan berkontribusi dalam peringatan Dies Natalis Ke-16 CSSMoRA UIN Walisongo.
-Red Masnunah Nurul Faizah

Loading

PENGUKURAN ARAH KIBLAT GEDUNG LABORATORIUM UIN WALISONGO BERSAMA TIM CSSMORA

CSSMoRA (Community Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) UIN Walisongo Bersama Prodi Jurusan Ilmu Falak UIN Walisongo menggelar adanya kegiatan Pengukuran Arah Kiblat Lab Terpadu Gedung Baru IsDB Kampus 3 UIN Walisongo yang dilaksanakan pada Kamis (09/12/2021) pukul 09.00 WIB.
Tim CSSMoRA mengadakan pengukuran arah kiblat bersama diberbagai titik yaitu di gedung baru UIN Walisongo, pengukuran dilakukan oleh kaprodi ilmu falak yang bekerjasama dengan anggota PBSB (Penerima beasiswa santri berprestasi) dari mulai angkatan 2018 sampai 2021, semua ikut berpastisipasi sekaligus belajar langsung dan mengaplikasikan teori yang telah didapat dibangku kuliah.
Dian Ika Ariyani, M. T., Selaku dosen pembimbing lapangan kegiatan ini menjelaskan “Pengukuran arah kiblat ini merupakan salah satu penerapan teori di lapangan dan ini sangat penting bagi anak-anak falak. Karena jarang sekali kegiatan praktek seperti ini”.
Salah satunya di gedung laboratorium terpadu UIN Walisongo, dengan anggota tim 3 orang. dengan menggunakan alat Mizwala salah satu instrument falak untuk pengukuran arah kiblat.
Dengan data lokasi :

lintang tempat 6ᴼ59’28”LS d

bujur tempat 110ᴼ20’45”BT

didapati bahwa:

Arah kiblat 65° 28′ 51” (UB)

Azimuth kiblat 294° 31′ 09”

Maka data ini yang lagsung di peraktekan dilapangan. Meskipun terdapat kendala dalam proses pengukuran dilapangan, namun hal ini tidak sama sekali mengurangi antusiasme peserta. Karina Aulia Purwanti, salah satu peserta berkomentar “Karena kurangnya alat pembantu yang dapat dimanfaatkan dalam proses pengukuran kemudian menyebabkan terkendala nya proses pengukuran arah kiblat di lapangan ini“.

 

-Red Karina Aulia Purwanti

Loading

PENGUKURAN ARAH KIBLAT DI GEDUNG ICT LIBRARY BARU KAMPUS 3 UIN WALISONGO

Kamis, 09 Desember 2021, Prodi Ilmu Falak bersama anggota aktif CSSMoRA mengadakan pengukuran di beberapa gedung baru di UIN Walisongo Semarang yang langsung didampingi oleh dosen Ilmu Falak. Acara tersebut dilaksanakan sebagai bentuk pengabdian mahasiswa falak dilingkungan sekitarnya.

Pengukuran dilaksanakan mulai jam 09.00 WIB – selesai. Pengukuran diikuti oleh 43 anggota CSSMoRA aktif dengan jumlah 8 gedung. Untuk mempermudah pengukuran, dibagi menjadi 8 kelompok sesuai dengan jumlah gedung yang akan diukur.

Pengukuran di gedung Gedung ICT Library dilakukan oleh kelompok 6 yang terdiri dari Riki, Sofi, Leli, Ani, Kholis dan Nadra dengan dosen pendampingnya bpk Muhammad Nurkhanif, M.S.I.

Alat yang digunakan di kelompok 6 yaitu istiwa’aini. Dengan menggunakan bayangan matahari dalam pengukuran arah kiblatnya. Adapun datanya sebagai berikut:

Lintang Tempat sebesar 6° 59′ 29″ LS ,

Bujur Tempat 110° 21′ 00″ BT ,

Lintang Kakbah 21° 25′ 21,17″,

Bujur Kakbah 39° 49′ 34,56″,

dan Waktu Bidik pukul 09.43 WIB.

Dari data-data tersebut, maka diperoleh hasil sebagai berikut :
Arah Kiblat = 65° 28′ 54″ Utara Barat
Azimuth Kiblat = 294° 31′ 6″
Azimuth Matahari = 124° 18′ 6″

Pengukuran pertama dilakukan diluar gedung, untuk mendapatkan bayangan matahari. Setelah dua kali pengukuran dan hasilnya sama, maka dilanjut dengan mengukur ke dalam gedung dengan hasil yang sudah ada. Mushola pertama yang diukur kiblatnya adalah mushola PTIPD lantai 1, kemudian dilanjut ke mushola Perpustakaan lantai 3.

Dari hasil pengukuruan kiblat tersebut, didapatkan hasil bahwa arah kiblat gedung ICT Library menghadap ke barat dengan miring ke arah selatan sebanyak 15 derajat.

Zaenal, salah satu staf TU di perpustakaan UIN Walisongo berterimakasih kepada tim yang sudah membantu untuk mengukur arah kiblat dengan akurat. “Saya sangat berterimakasih dan antusias dengan pengukuran arah kiblat ini, karena lebih mantab dalam beribadah, karena kita dalam salat menghadap kiblat dan harus semaksimal mungkin benar-benar mengdahapkan wajah kita ke kiblat“, ujarnya. “Staf-staf disini masih mantab dengan arah kiblat yang diukur sebelumnya, karena berpedoman bahwa kiblat itu menghadap ke barat dan menyerong ke utara sedikit, tapi dengan adanya pengukuran ulang ini semoga teman-teman staf yang kain bisa lebih mantab lagi dalam salatnya“, tambahnya saat diwawancarai.

 

-Red Ani Uswatun

Loading

PENGUKURAN ARAH KIBLAT KAMPUS UIN WALISONGO

Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Ilmu Falak UIN Walisongo  menggelar pengukuran arah kiblat di beberapa gedung Kampus Hijau UIN Walisongo Semarang pada hari Kamis, (9/12/2021).

Seluruh anggota aktif PBSB Ilmu Falak mengikuti kegiatan dengan dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai jumlah gedung yang akan diukur arah kiblatnya. Kelompok kami terdiri dari 3 orang dan bertugas mengukur arah kiblat di Mushola Gedung Planetarium.

Kami terlebih dahulu briefing bersama Pengelola PBSB UIN Walisongo, lalu dibagi kelompok dan menempatkan diri dengan masing-masing Dosen Pendamping. Kemudian kami ditugaskan membawa alat perhitungan arah kiblat di Lab Falak Fakultas Syariah dan hukum, kemudian kami berangkat per kelompok dan menuju gedung yang akan dihitung.

Kami menghitung arah kiblat dimulai pada pukul 10.40 WIB dengan menggunakan alat Mizwala, Istiwa Ain, dan Theodolite. Dalam mengukur arah kiblat, kami dibimbing oleh Dosen Pendamping yaitu Bapak Ahmad Fuad Al-Sahari, S.Hi. M.Si. Hasil perhitungan dari ketiga alat tersebut sama, hanya berbeda hasil di menitnya saja. Setelah arah kiblatnya dapat, kami menandai arah kiblat dengan stiker arah untuk memudahkan orang-orang dalam menentukan arah kiblat shalatnya.

Pengelola PBSB sangat antusias dengan kegiatan pengukuran arah kiblat ini, beliau mengikuti acara dari awal sampai akhir. Kemudian anggota baru PBSB  yaitu angkatan tahun 2021 mereka sangat senang mengikuti kegiatan ini karena menambah wawasan dan pengalaman mereka dalam mengukur arah kiblat dan tentunya sebagai pengenalan awal bagi mahasiswa PBSB baru dalam Praktikum Ilmu Falak.

 

-Red Isma Masripah

Loading

BERSAMA PRODI ILMU FALAK FSH, CSSMORA UIN WALISONGO ADAKAN PENGUKURAN ARAH KIBLAT

Community of Santri Scholars of Ministry of  Religious Affairs (CSSMoRA) UIN Walisongo menggelar adanya kegiatan Pengukuran Arah Kiblat Gedung Baru IsDB bersama Prodi Ilmu Falak Fakultas Syariah & Hukum di seluruh Musala Gedung Rektorat Kampus 3 UIN Walisongo Semarang yang meliputi Mushala Mini Lantai 1, Mushala Utama Lantai 2 dan Mushala Mini Lantai 3 pada hari Kamis (09/12/2021) Pukul 09.00 WIB.

Dalam pemberian pengarahan dari Pengelola PBSB (Proram Beasiswa Santri Berprestasi) sekaligus Ketua Jurusan Prodi Ilmu Falak Fakultas Syariah & Hukum UIN Walisongo, Dr. Moh. Hasan, M.Ag menyampaikan harapan besarnya atas nilai kemaslahatan yang akan tercapai atas terselenggarakannya kegiatan ini.

Ahmad Syifa’ul Anam, M,S.I selaku dosen pendamping lapangan saat proses pengukuran berlangsung turut memberikan komentar atas terselenggaranya kegiatan ini, “Saya sangat sepakat dan senang teman-teman bisa melakukan kegiatan ini untuk membantu teman-teman lain yang melakukan ibadah dengan lebih yakin dan lebih menentramkan karena sudah diukur oleh ahlinya. Semoga ini bisa menjadi pengalaman yang bagus untuk teman-teman bahwa pengukuran kiblat juga memiliki tantangan tersendiri dari faktor lapangan,perhitungan, konsep termasuk berbagai rintangan dan halangan. Maka saya ucapkan terima kasih dan sayasangat  mengapresiasi teman-teman falak, silahkan dikembangkan.”

Seluruh peserta pengukuran arah kiblat ini sangat bersemangat dan merasa antusias selama kegiatan berlangsung. Menurut Siti Arina Yusuf, salah satu peserta kegiatan ini mengaku sangat senang karena banyaknya pengetahuan baru yang ia peroleh. “Mudah-mudahan kegiatan seperti ini selanjutnya bisa terselenggara lagi agar kita semua dapat belajar bersama dalam praktik pengukuran arah kiblat di lapangan.”

-Red Maulida Inayah

Loading

CSSMORA UIN WALISONGO MENGUKUR ARAH KIBLAT DI 8 GEDUNG BARU DI KAMPUS UIN WALISONGO

Semarang-CSSMoRA UIN Walisongo Semarang mendapat kesempatan mengukur arah kiblat di 8 gedung baru kampus 3 UIN Walisongo Semarang (Gedung ICT Library, Planetarium, gedung rektorat, gedung perkuliahan fakultas syariah dan hukum, fakultas ilmu tarbiyah dan keguruan, fakultas sain dan teknologi, fakultas ilmu sosial dan humaniora, serta laboratorium terpadu) pada Kamis, 9 Desember 2021

Kegiatan tersebut diinisiasi langsung oleh bapak pengelola PBSB sekaligus kaprodi Ilmu Falak beserta jajaran dosen falak lainnya. Dalam pelaksanaannya, kaprodi ikut melibatkan mahasiswa CSSMoRA yang dibagi dalam 8 kelompok dengan masing-masing didampingi oleh 8 dosen falak.

Para mahasiswa sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini, sekaligus sebagai pengabdian dan juga pengaplikasian atas ilmu yang telah didapatkan. Dengan bantuan alat Mizwalah, Theodolit dan Istiwa’ain arah kiblat di 8 gedung baru tersebut bisa diketahui dengan menempel stiker arah sebagai penanda arah kiblatnya.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh bapak pengelola PBSB UIN Walisongo, Moh. Khasan, M. Ag didepan kantor Fakultas Syariah dan Hukum sekaligus briefing sebelum pengukuran dimulai. Dalam briefing kegiatan tersebut, pengelola PBSB berharap agar nantinya mahasiswa angkatan 2018 yang boleh dikatakan paling senior mampu merangkul adek-adek dibawahnya sehingga bisa mendapat pengalaman terkhusus buat mahasiswa baru semester 1.

Kegiatan tersebut ditutup yang ditandai dengan sesi foto bersama.

 

-Red Muh Fadhil

Loading

Lomba Kreativitas Al-azhar Cairo, Dua Mahasantri PBSB meraih juara

Parlemen Al-Azhar Kairo Gelar Lomba Kreativitas dan Seni, Mahasantri PBSB Torehkan Prestasi

Kairo, Ditpdpontren — Grand Syekh Al-Azhar Universitas Kairo Syekh Ahmad Thoyyib bersama Parlemen Kairo Al-Azhar gelar ajang lomba kreativitas dan pengembangan bakat.

Ajang lomba yang diselenggarakan pada 23 Juli 2020 dikhususkan bagi pelajar kalangan putri, baik itu mahasiswi Universitas Al-Azhar maupun Ma’had Al-Azhar.

Tak mau ketinggalan, mahasantri Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementerian Agama di Al-Azhar Kairo pun turut ambil peran dalam ajang yang digelar secara berani (dalam jaringan) serta pengiriman karya, Sayyidah Umi Kulsum dan Siti Jazilah yang berasal dari Pesantren Al- Hikmah 2 Sirampog Brebes Jawa Tengah.

Ketua Komunitas Santri Cendekiawan Kementerian Agama (CSSMoRA) Regional Kairo Egi Riyanto menerangkan, cabang lomba dan seni yang dilombakan cukup banyak, antara lain cabang tahfizhul Qur’an, musabaqah tilawatil Qur’an, puisi dan prosa bahasa Arab, gambar dan kaligrafi, kerajinan tangan, fotografi, menjahit-menjahit, bercerita, serta nasyid.

“Dua mahasantri putri PBSB ikut pada cabang seni Kaligrafi dan Nasyid. Saat diumumkan, berhasil meraih Juara 1 pada cabang yang diikutinya,” ujar Egi.

Kasubdit Pendidikan Pesantren Basnang Said melalui videoconference menuturkan, para mahasantri PBSB tentu sudah memiliki keterampilan dan kreativitas seni saat di pesantren.

“Pesantren dan kesenian bukanlah hal yang asing bagi para santri. Banyak pesantren yang membekali para santrinya dengan kegiatan pengembangan minat dan bakat semacam ini,” terang Basnang, Jum’at (11/09).

Saat dilaporkan, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Waryono mengapresiasi capaian ini.

Prestasi ini sangat membanggakan. Mahasantri PBSB di Al-Azhar Kairo mampu bersaing dengan para mahasiswi utusan lebih dari sepuluh negara yang ikut berlomba. Tidak hanya berprestasi dalam akademik, tapi juga non-akademik, tuturnya.

“Saya ucapkan selamat atas prestasi gemilang ini. Pertahankan nama baik Indonesia dan pesantren di kancah internasional”.

Waryono meminta seluruh mahasantri PBSB tetap menjaga proses dan prestasi belajarnya, berperan aktif dalam menjaga tradisi kepesantrenan, serta menjadi agen moderasi beragama di lingkungan kampus saat ini. Terlebih, mahasantri PBSB Kairo yang jauh dari keluarga agar tetap menjaga kesehatan dan keselamatan dengan menerapkan protokol kesehatan yang lebih baik.

“Saya berharap mahasantri PBSB Kairo menjadi duta bangsa dan agama yang menebar model keberagamaan yang ramah dan damai,” tutupnya. (Hery Irawan)

Loading

Mengenal Metode Penentuan Awal Puasa dan Lebaran di Belanda

Catatan Menjadi Muslim Indonesia di Belanda (part 12)

Menjelang hari raya Idul Fitri, pemerintah dan pengurus lembaga keislaman di tanah air, pada umumnya, disibukkan dengan ‘ijtihad’ menentukan kapan jatuhnya hari lebaran. Beberapa dari lembaga keislaman pun, sampai saat ini, masih menggunakan metode penentuan awal bulan kamariah yang berbeda-beda. Terlepas dari banyaknya metode aplikatif yang digunakan, dua ‘mazhab’ utama yang sering didengungkan adalah mazhab rukyatul hilal (melihat hilal) dan mazhab hisab (perhitungan), karena ada yang menggunakan metode rukyatul hilal, ada juga yang menggunakan metode hisab. Setiap dari penyokong ‘mazhab’ tersebut pun mengklaim bahwa mereka berpedoman pada landasan normatif hasil penafsiran ‘mereka’ terhadapt teks hisab-rukyat baik dari Al-Qur’an maupun Hadits.
Oleh karena adanya perbedaaan metode yang digunakan tersebut, penentuan awal bulan kamariah di Indonesia nampaknya masih akan terus berpotensi berbeda, mengingat sampai saat ini belum ada kesepakatan yang ‘benar-benar baku’ yang bisa dijadikan acuan dalam menentukan awal puasa dan lebaran. Sehingga akan sangat wajar jikalau masyarakat yang notabene nya adalah ‘pengikut’ kebijakan baik pemerintah maupun ormas di tanah air ini acap kali dibingungkan dengan berbagai keputusan yang dibuat oleh pemerintah dan sejumlah ormas yang terkadang keputusanya berbeda-beda.
Bagaimana dengan di Belanda? apakah perbedaan penentuan awal puasa dan lebaran seperti di Indonesia juga terjadi di negeri kincir angin tersebut? Metode apa yang digunakan pemerintah/tokoh Muslim di Belanda untuk menentukan awal puasa dan lebaran?

Sebagaimana Belanda adalah ‘negara sekuler’, pemerintah negeri tulip ini tidak mau terlalu banyak berkecimpung mempersoalkan hingga mengaitkan urusan keagamaan dengan urusan pemerintahan mereka. Seputar fatwa keagamaan, umat Islam di Belanda, umumnya lebih cenderung patuh mengikuti kebijakan yang dikeluarkan oleh ikatan tokoh ulama muslim eropa yang tergabung dalam ECFR (the European council for Fatwa and Research). ECFR sendiri adalah salah satu lembaga keislaman di eropa yang fokus pada ikhtiar mengeluarkan fatwa dan hasil riset keagamaan untuk mendukung kehidupan muslim di seantero eropa. Info lebih lanjut seputar EFCR bisa dibaca di : https://www.e-cfr.org/blog/2018/12/16/european-council-fatwa-research/

Sepanjang bacaan penulis, hampir tidak ada perbedaan mencolok yang terjadi di Belanda seputar penentuan awal puasa dan lebaran. Ini setidaknya dalam 10 tahun terakhir, setelah the European council for Fatwa and Research (ECFR) mengeluarkan resolusi Istanbul di sesi dialog ke-19 mereka yang dilaksanakan tanggal 30 Juni – 04 Juli 2009 di Istanbul, turkey. Dialog ke- 19 ini juga merupakan follow-up dari pembahasan sebelumnya di sesi 17 yang dilaksanakan di Sarajevo, Bosnia pada tahun 2007. Diantara persoalan utama yang dibahasa oleh para anggota ECFR adalah mengenai ikhtiar ‘penyeragaman’ metode penentuan awal puasa dan lebaran bagi masyarakat Muslim di eropa. Diantara rekomendasi yang dikeluarkan adalah:
The ECFR recommends its members, Imams and Islamic Scholars, both living in Muslim and non-Muslim societies, to endeavour to instill the culture of respecting definite outcomes of astronomical calculations when stating the impossibility of sighting the moon due to the waning of the moon. In this case people should not be urged to try to sight the moon and claims of sighting the moon should be rejected’.

Dari catatan diatas dapat dipahami bahwa, secara umum,ECFR merekomendasikan para imam dan muslim di eropa untuk menggunakan hisab / astronomical calculation (perhitungan astronomi) dalam hal penentuan awal waktu puasa dan lebaran. Kebijakan ini tentunya bukan karena mereka menolak seutuhnya metode rukyatul hilal. Saya melihat, rekomendasi ini dibuat pun bukan untuk serta-merta menolak pelaksanaan rukyatul hilal, tetapi lebih kepada ikhtiar yang dianggap lebih ‘maslahat’ dan ‘solutif’ dikarenakan kondisi ‘ufuk’ di sejumlah tempat di eropa, juga di Belanda, yang tidak cukup mendukung pelaksanaan rukyatul hilal.

K.H Nur Hasyim Subadi, ketua pengurus masjid Al-Hikmah di Den Haag yang juga merupakan Rais Syuriah PCINU Belanda, ketika saya wawancarai seputar penggunaan astronomical calculation (hisab) dalam menentukan awal puasa dan lebaran di Belanda pun membenarkan hal tersebut. ‘Oleh karena beberapa hal yang tidak memungkinkan untuk melakukan rukyatul hilal, kita (umat Islam Indonesia di Belanda) selain menunggu fatwa dari ECFR, juga ‘berijtihad’ menentukan awal puasa dan lebaran dengan menggunakan hisab (astronomical calculation)’ dan platform aplikasi perhitungan yang digunakan adalah ‘Moonsighting’ yang didirikan oleh Khalid Shaukat. (Lihat di: www.moonsighting.com)’, tegas pak kiai Hasyim.

Surat pemberitahuan Puasa dari Masjid Al-Hikmah, Den Haag tahun 2017 (Dok.pribadi)

Setiap kali menjelang awal puasa dan lebaran, sejumlah tokoh Muslim Indonesia di Belanda pun biasanya berkumpul di Masjid al-Hikmah untuk memutuskan awal waktu puasa dan lebaran, selain tentunya menunggu kabar (menyesuaikan) fatwa dari ECFR. Data perhitungan dari platform www.moonsighting.com ini pulalah yang dijadikan rujukan diskusi penentuan awal bulan kamariah. Setelah ditetapkan awal waktu puasa dan lebaran, informasi ini akan disebar ke seluruh umat Islam Indonesia di Belanda. KBRI di Den Haag pun biasanya akan mengikuti ketetapan waktu puasa dan lebaran sebagaimana yang ditetapkan para tokoh dan alim ulama masjid al-Hikmah Den Haag ini.

Ada catatan menarik lainya seputar waktu lebaran di Belanda, bahwasanya hari raya Idul fitri di Belanda tidaklah tercatat sebagai hari libur nasional. Perdebatan di parlemen seputar perlukah hari raya Idul Fitri dicatat sebagai salah satu hari libur nasional masih terus terjadi, yang konsekwensinya akan ada tambahan waktu libur cuti bagi semua masyarakat Belanda. Ada yang pro dan kontra itu pasti. Diantara partai yang ada di ‘garda terdepan’ menolak hari raya Idul Fitri ditetapkan sebagai hari libur nasional di Belanda adalah partij voor de Vrijheid (PVV), yang dipimpin oleh Geert Wilders. Namun, sekalipun Idul Fitri tidak tercatat sebagai hari libur nasional, umat Islam (pekerja) di Belanda tetap mendapatkan hak dan prioritas khusus untuk mengambil jatah cuti kerja dalam rangka merayakan hari raya kemenangan mereka setelah berpuasa Ramadhan.

Loading

Silaturahmi dari CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati

Keluarga CSSMoRA UIN Walisongo Semarang mendapat kunjungan dari saudara-saudara CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pertemuan antara dua CSSMoRA ini berlangsung di Gazebo YPMI Al-Firdaus, Ngaliyan, Semarang. Para mahasantri sangat senang dan antusias atas adanya acara yang diadakan Sabtu, 7 Maret 2020 ini.


Sekitar 60 orang mahasantri dari CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati melakukan perjalanan ke kota Semarang. Ini dilakukan demi menjalin silaturahmi antar anggota CSSMoRA yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Semarang. Idrian Wahid, Ketua CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengatakan, “Rihlah ini bukan hanya dalam rangka bertamasya. Tapi demi menjalin silaturahmi antar anggota CSSMoRA”.


Anggota CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati yang berada di Regional Barat tentu saja jarang bertemu dengan anggota CSSMoRA UIN Walisongo yang terletak di Regional Tengah. Dari situlah kemudian perlunya silaturahmi antar CSSMoRA Perguruan Tinggi Negeri ini perlu terus dilakukan. Ia juga menambahkan, “Harapannya adalah dengan kegiatan ini semoga para anggota CSSMoRA bisa saling mengenal dan membantu dalam mengabdi sebagai santri”.


Hal serupa juga disampaikan Zulfian Wanandi, anggota CSSMoRA UIN Walisongo, “Kegiatan semacam ini sangat bagus. Kita bisa mengenal lebih banyak lagi sesama anggota CSSMoRA. Menjalin silaturahmi dan berbicara banyak hal tentang CSSMoRA”.


Kegiatan yang dinamai TAYO (Tamasya Ayok) Ngabring Ulin Bareng Ngasah Kanya’ah ini diisi dengan sambutan Ketua Panitia Penyambutan oleh Zulfian Wanandi, Ketua CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati Bandung oleh Idrian Wahid, dan Pengelola PBSB (Penerima Beasiswa Santri Berprestasi) oleh Dr. Cucu Setiawan, S.Psi.I., M. Ag. Setelah sambutan-sambutan acara dilanjutkan dengan penampilan musik dari anggota CSSMoRA UIN Walisongo dan CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati. Kemudian dilanjut dengan memainkan permainan bersama demi menghangatkan suasana dan ditutup dengan ramah tamah.


Dr. Cucu Setiawan, S.Psi.I., M.Ag., Pengelola PBSB mengungkapkan dalam sambutannya, “Sejak saya disambut pertama kali, saya merasa tidak ada sekat di antara kita. Anak-anak CSSMoRA UIN Walisongo bagi saya juga adalah anak saya sebagaimana anak-anak CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati Bandung. CSSMoRA adalah keluarga bagi saya.”
(Evan)

Loading