KAJIAN FALAK CSSMORA #1

KFC#1­-Kajian Falak CSSMoRA atau sering disebut dengan KFC, #1 artinya yang pertama diselenggarakan pada periode kepengurusan tahun 2021-2022 oleh Departemen Hubungan Luar yang nantinya akan berlanjut terus. KFC ini dilaksanakan pada Minggu, 26 September 2021 secara daring via Google Meet.

KFC merupakan suatu kajian tentang ilmu falak dibidang hisab, rukyah, perhitungan dan lain-lain. Kajian ini sebagai wadah bagi anggota CSSMoRA dan masyarakat umum yang ingin menggali, menggeluti dan belajar secara mendalam terkait ilmu falak. Kegiatan KFC#1 ini mengangkat tema “Pengenalan Ilmu Falak dan Pengenalan Kalkulator Scientific” dengan narasumber Nuril Fathoni Hamas (CSSMoRA UIN Walisongo angkatan 2018) dan moderator Firginita Wirna Mokoginta (CSSMoRA UIN Wakisongo angkatan 2019). Mengapa mengambil tema tesebut?

“Terkait KFC#1 bisa dimulai dengan pengenalan ilmu falak dan pengenalan kalkulator, agar bisa jadi wawasan baru untuk mahasiswa dan masyrakat umum yang baru mulai belajar ilmu falak. Bagaimana dengan yang sudah pernah belajar? Dengan materi ini, mahasiswa atau masyarakat umum yang sudah pernah belajar ilmu falak bisa review atau mengingat kembali pelajaran yang sudah diajarkan”, ucap salah satu anggota Departemen Hubungan Luar.

Kegiatan KFC berjalan dengan lancar, dilaksanakan tepat waktu dan para peserta sangat antusias dan interaktif dalam diskusi. Penyampaian materi sangat jelas dan mudah dipahami. Banyak harapan para mahasiswa dan masyarakat umum terkait kelanjutan materi dari KFC ini. Adapun beberapa saran dan pesan dari beberapa peserta yang ditulis dalam presensi google form.

materi yang diberikan sangat baik Narasumber ternyata efektif karena materi dan pembahasan tersebut sangat komprehensif. Kritik dan saran dari saya, terimakasih atas kajian dan materi yang bermanfaat, salam sukses untuk panitia”

“Semoga kedepannya acara KFC bisa menjadi rutinan agar para mahasiswa khususnya prodi ilmu Falak khususnya bisa belajar dan tau lebih tentang ilmu Falak”

Materi ini ditutup dengan hukum mempelajari ilmu falak. Sebagimana yang disampaikan pemateri.

“ sesuatu yang membuat segala bentuk kewajiban tidak menjadi sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu (hal) itu wajib hukumnya”.

 

 

-Red W

Loading

NGOBROL PINTAR #16

Ngobrol Pintar (Ngopi) CSSMoRA kali ini mengangkat tema “Mahasiswa Muda Berwirausaha” dengan narasumber Ibu Anis Fitria, S.E.I, M.S.I. yang berlangsung pada Jum’at 24 September 2021 Pukul 19.30 WIB secara online lewat Via Gmeet.
Ngopi kali ini sudah menginjak seri ke-16 yang merupakan salah satu program kerja Departemen Hubungan Dalam CSSMoRA UIN Walisongo yang dilaksanakan dua bulan dalam sekali sebagai wadah berbagi pengalaman ataupun tempat bertukar pikiran.
“Kita berharap dengan adanya Ngopi ini, para peserta baik anggota CSSMoRa maupun masyarakat lain mampu mendapatkan ilmu, serta tempat bersosial agar jangkauan pengetahuan dan relasi semakin luas,” kata Nadia, penanggung jawab kegiatan Ngopi.
Acara ngopi tersebut dihadiri langsung oleh ketua umum CSSMoRA UIN Walisongo, Hamjan A Ranselengo dan beberapa anggota aktif CSSMoRA lainnya yang dibuka langsung oleh Muh Fadhil selaku moderator yang kemudian dilanjut dengan pemaparan materi oleh narasumber selama satu jam penuh lalu dilengkapi dengan sesi akhir yaitu diskusi yang mana antusias para peserta sangatlah aktif.
Dalam pemaparannya, Ibu Anis berharap kepada teman-teman mahasiswa yang memiliki niat berwirausaha, maka mulailah dan jangan takut gagal.
“Jangan takut gagal karena tidak selamanya kegagalan itu bersama kita, Allah itu maha adil kok, ada waktunya kita gagal. Maka habiskanlah jatah gagalmu di masa muda,” kata pemilik usaha Owner Ranis Handmade tersebut.
Acara tersebut ditutup tepat pukul 21.00 WIB yang ditandai dengan sesi foto bersama.

 

-Red F

 

Loading

KEMBALI, TERPERANGKAP

Oleh: Umi Latifah

Hamparan sawah yang terbentang luas seolah tanpa batas yang ku lalui adalah salah satu alasan kesukaanku berplesir menggunakan kereta. Hanya saja aku benci suaranya. Headset tersumpal di telingaku sejak ku lewati gerbang tiket, menghalau bising yang terkadang membuatku mual.

Duniaku secara tak sadar adalah satu kesatuan yang terpisah dari ruang dan waktu makhluk lain. Seperti ada selaput pelindung bening yang memisahkan ku. Setidaknya itu yang terbayang olehku kala kehadiranku sungguh-sungguh tak berarti apa-apa diantara ribuan penumpang kereta yang memadati peron, bahkan saat masuk gerbong.

Di tanganku ada novel karya Isabel Abedi. Warnanya kelam, ku pikir isinya juga. Setengah isinya sudah ku lahap selama perjalanan ini.

Di telingaku terdengar musik klasik, karya Bethoven. Bukan perpaduan yang pas dengan novel dark romance.

Kali ini, aku menempuh perjalanan dari Semarang ke Surabaya. Tidak ada tujuan tertentu, aku hanya menyukai sensasi perjalanan yang panjang. Bahkan aku masih terus bermimpi mengelilingi Indonesia dengan kereta.

“Apa yang ingin kamu lihat dari dalam kereta? Hanya hamparan sawah dan hutan,” celetuk kakakku ketika dia membaca memo yang tertempel di dinding kamarku. Semua rencana perjalananku tertulis disana.

Dia benar, apa yang kulihat sekarang hanyalah hamparan sawah. Dan memang hanya itu yang ku cari. Sumber ketenanganku.

Kembali ku tundukkan pandanganku ke buku yang ke pegang. Setengahnya lagi harus habis ketika kereta sampai di Surabaya. Paragraf demi paragrafnya kuselami. Terkadang senyumanku terbit beberapa detik, lalu tenggelam di detik berikutnya karena perubahan suasana hati tokoh yang sangat memengaruhiku.

Namun di paragraf pertama halaman 400, aku merasakan ada yang ganjil, huruf-huruf yang ku baca terlihat acak-acakan, aku sama sekali tak mampu membacanya. Sengatku, aku  bukanlah penderita disleksia. Ku fokuskan lagi mataku, namun di detik itu pula musik berhenti terdengar di telingaku. Awalnya ku pikir baterai gawaiku yang habis. Ku coba melihatnya.

Entah apa yang terjadi sekarang, satu persatu barang yanng ada di tanganku musnah. Menghilang layaknya cahaya yang meredup. Masih tetap sadar, aku. Seketika aku berdiri dari kursiku. Ku edarkan pandanganku ke sekeliling. Orang lain duduk seperti biasanya.

Ku dudukkan kembali tubuhku dan mengamati orang yang duduk di samping dan depanku. Mereka adalah keluarga baru dengan satu anak balita, tebakku. Apakah mereka sama sekali tak melihat apa yang kualami barusan? Padahal hal itu jelas terpampang di dekat mereka.

Aku mulai panik, ini kali pertama dalam hidupku. Ada hal ajaib yang terjadi padaku. Yang ada di otakku sekarang adalah apakah kereta yang ku naiki salah? Apakah seharusnya kereta ini menuju Hogwarts? Apakah ada Harry Potter atau Hermione sedang duduk di salah satu gerbong? Apa aku sebenarnya adalah keturunan penyihir juga?

Tak tahan dengan bayangan konyolku, aku berdiri lagi, mengamati sekitar. Detik berikutnya, tubuhku bergetar hebat. Semua gambarang tentang kereta yang melaju cepat dengan penumpang yang memenuhi gerbong, lenyap. Hanya tersisa gerbong gelap dengan bau karat menyengat.

Aku kehilangan akalku. Ku tarik nafasku perlahan. Seketika aku tertunduk lesu. Bahkan nafaskupun raib. Tak ada udara yang bisa ku  hirup. Bahkan mungkin aku tak memerlukannya. Setelah ku sadari itu. Aku bahkan bisa tetap bergerak semestinya tanpa Oksigen. Dimana sebenarnya aku sekarang?

Langkah gontaiku membawaku keluar dari kereta. Dari luar, keadaan lebih menyesakkan, kereta seperti pernah terbakar sebelumnya. Teronggok di stasiun yang sangat sepi, di dekatnya, terdapat sejenis monumen rendah. Terlihat seperti nisan, pada dasarnya.

Ada deretan nama yang terukir di atasnya. Dan aku menemukan namaku. “Natasha,” bisikku mengeja namaku sendiri. Badanku terasa kebas, jika memang aku masih memilikinya.

“22 Juni 2018 – Kecelakaan kereta memakan korban sebanyak 150 nyawa.”

Aku mundur selangkah. Mataku menggenang. Aku mulai sadar tentang apa yan terjadi padaku. Tentang eksistensiku. Aku yang sebenarnya tak berpijak ke Bumi lagi.

Bagai adegan dalam film. Tiba-tiba sekarang aku terduduk di peron dengan banyak orang berlalu lalang, ramai. Persis seperti adegan yang terjadi beberapa saat lalu. Musik Bethoven mengalun di telingaku, buku gubahan Isabel Abedi di tanganku.

Ku kumpulkan semua potongan teka-tekinya. Dan dengan yakin aku tahu apa yang sedang ku alami sekarang. Semua ini adalah memori sebelum kejadian tragis yang belum bisa ku lepaskan. Air mataku turun, namun tak jatuh, air itu kembali naik ke atas. Semua kejadian kembali terulang.

AKU TERPERANGKAP

-Terulang-

Loading

Menyelam Sesaat

SATU hari akhirat sebanding dengan seribu tahun di dunia. Ayat ini membuat Khatib al-Baghdadi merenung, apakah seribu tahun ini berlaku untuk orang kafir saja ataukah juga untuk orang beriman? Ia masih merenunginya.

Sewaktu hendak mandi sunnah Jum’at, Khatib al-Baghdadi turun ke sungai. Istrinya berpesan untuk mandi lama-lama, biar setelah mandi bisa langsung mencicipi makanan yang sedang ia masak. Ia pun menyelam ke dalam sungai. Usai menyelam, keajaiban terjadi. Pakaian dan handuknya hilang. Kondisi di sekitar sungai juga berubah drastis.

Ia lalu berjalan menuju rumah, tapi rumahnya hilang entah kemana. Istrinya juga hilang. Ia pun menuju masjid untuk Jum’atan dengan pakaian pemberian dari orang.

Di Masjid, rupanya tuan khatib tidak hadir. Khatib al-Baghdadi pun maju menjadi khatib dadakan. Usai sholat Jum’at, masyarakat banyak yang menyukainya. Khutbah yang ia sampaikan memukau. Ia kemudian di tokohkan di masyarakat yang asing baginya.

Hingga akhirnya ia hidup di lingkungan istana. Raja menghadiahi Khatib al-Baghdadi seorang gadis cantik untuk dijadikan istri. Dari pernikahan ini ia mempunyai beberapa anak.

Kehidupannya berjalan dengan damai. Hidupnya bahagia bersama istri dan anak-anaknya, hingga ia juga punya banyak cucu. Semua keluarganya dihormati orang. Dan kehidupan ini berjalan sekitar 50 tahun setelah ia mandi di sungai yang saat itu baju dan handuknya hilang.

Di suatu Jum’at yang lain, ia rindu mandi di sungai. Karena sejak 50 tahun terakhir ia mandi di istana. Ia pun turun lagi ke sungai dan menyelam. Usai menyelam, ia dapati pakaian dan handuknya dulu ada di batang. Kondisi sekitar pun kembali seperti dulu, tak ada perubahan. Lalu ia menuju rumahnya. Ia dapati rumahnya masih ada, dan istrinya yang sedang memasak pun ada. Istri bilang, “Kok mandinya sebentar, ini masih belum matang masakannya”.

Khatib al-Baghdadi langsung mengucap Subhanallah walhamdulillah, karena telah menjadikan waktu menyelam sekejap terasa 50 tahun. Ia pun menyimpulkan, di padang mahsyar yang terik itu hanya sebentar bagi orang yang beriman, dan lama bagi orang kafir dan pendosa.

 

Semarang, 5 September 2020

Nur Hidayatullah

 

Dikutip dari kitab An-Nawadir karya Syekh Syihabuddin al-Qalyubi.

Loading

JENDELA GERBANG DUNIA

Banyak orang bilang Jendela adalah gerbang dunia, Pribahasa yang mungkin akan banyak sekali penafsiran nya, saya gak tau siapa yang mencetuskan pribahasa ini. Mungkin ketika dia membuka jendela, nampak keindahan, padang rumput yang luas, burung berkicauan, pasir pantai yang indah, dan deburan ombak yang memecah belah laut.

Namun yang kulihat dibalik jendela ku ini.. Kini hanya tembok beton dan bata, hanya ruang sempit pemisah antara satu rumah dengan rumah lain, kadang dunia begitu indah dan kejam, bagai orang yang melihat jendela dengan sudut pandangnya masing-masing. Namun tidak perlu berganti jendela untuk melihat dunia, tapi kita bisa memilih jendela mana yang akan kita buka.

-Goresan Pena Karina Aulia Purwanti (CSSMoRA UIN Walisongo 2018)

Loading

KUNJUNGAN ISTIMEWA CSSMoRA UNWAHAS KEPADA CSSMoRA UIN WALISONGO

Semarang-CSSMoRA UIN Walisongo mendapat kunjungan istimewa dari 10 mahasantri yang merupakan angkatan pertama CSSMoRA Universitas Wahid Hasyim Semarang (UNWAHAS) dalam rangka silaturahmi antar anggota CSS yang berlangsung di Gazebo YPMI Al-Firdaus, Ngaliyan, Semarang pada Minggu (19/09/2021).
Kedatangan mereka disambut langsung oleh ketua umum CSSMoRA UIN Walisongo dan beberapa anggota aktif lainnya yang ada di Semarang sekitar pukul 13.00 WIB.
Kegiatan tersebut bersifat diskusi santai yang dibuka langsung oleh ketua umum CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, Hamjan A Ranselengo yang diawali perkenalan antar anggota CSSMoRA satu sama lain. Usai sesi perkenalan, kegiatan dilanjutkan dengan Share to Care dengan masing-masing anggota yang dibagi dalam 4 kelompok kecil sekaligus makan siang bersama.
Selaku ketua CSSMoRA UIN Walisongo, Hamjan berharap komunikasi dan silaturahmi ini terus terjaga.
“Semoga dengan kunjungan ini lebih mempererat tali persaudaraan kita serta jangan lupa bahwa kita adalah keluarga besar dalam naungan CSSMoRA sehingga ketika mengalami kesulitan maka jangan sungkan untuk memberitahu kami” ungkap mahasiswa prodi Ilmu Falak UIN Walisongo tersebut.
Wahyudi, anggota CSSMoRA UNWAHAS mengungkapkan kunjungan tersebut sangat berkesan baginya.
“Saya sangat merasakan kekompakan, kekeluargaan dan kebersamaan yang sangat erat dari kegiatan ini, sehingga harapan kami semoga CSSMoRA UIN Walisongo dan CSSMoRA UNWAHAS bisa terus berkolaborasi sebab kami masih baru dan butuh bimbingan dari teman-teman CSSMoRA UIN Walisongo” kata mahasiswa UNWAHAS asal Makassar.
Acara kunjungan tersebut kemudian diakhiri dengan foto bersama.

-Red F

Loading

LAKSANA MEREKA

Kutipan pena: asharii

Aku siap menangis sembari menari
Menikmati sedih yang kuracik sendiri
Memainkan lakon dengan kasih
Hingga engkau abai, ini sebatas halusinasi
Tuturku mungkin dianggap limpahan birahi
Tapi nyatanya ini ucapan hati

Bisakah kita menjadi adam hawa suatu hari
Memerankan ali fatima dengan cinta suci
Ataukah sebatas rama sinta yang menjadi dongeng masa kini?

Semarang, 17 September 2021

Loading

TASYAKURAN WISUDA

Tasyakuran wisuda merupakan kegiatan tahunan yang diadakan oleh BPH (Badan Pengurus Harian) CSSMoRA UIN Walisongo. Acara tasyakuran wisuda berlangsung pada hari Jumat, 10 September 2021 pada pukul 19.30 WIB yang dilaksanakan secara virtual.
Acara ini diikuti oleh 14 wisudawan, 3 diantaranya merupakan anggota CSSMoRA angkatan 2016 dan 11 lainnya merupakan anggota CSSMoRA angkatan 2017. Acara ini dihadiri oleh pengelola PBSB UIN Walisongo, bpk Moh Hasan, M. Ag dan bpk Ahmad Munif, M. SI, anggota pasif CSSMoRA angkatan 2017 dan anggota aktif CSSMoRA.
Hamjan selaku ketua umum CSSMoRA UIN Walisongo mengatakan “meskipun acara ini diadakan secara virtual, tapi diharapkan semuanya bisa berjalan dengan lancar dan menjadi motivasi sekaligus pengingat kepada kita semua untuk bisa segera menyelesaikan studi S1 secepat dan sebaik mungkin”.
Tasyakuran wisuda kali ini sangat membanggakan untuk para anggota CSSMoRA, pasalnya salah dua diantara wisudawan mendapat penghargaan sebagai wisudawan terbaik fakultas yang diraih oleh Kak Rohadatul ‘Aisy, S.H dan wisudawan dengan penghargaan skripsi terbaik fakultas yang diraih oleh Kak Ayu F Damayanti, S.H.
“Dengan penghargaan tersebut, diharapkan bisa memberi motivasi dan semangat tersendiri untuk anggota CSSMoRA yang lainnya. Meskipun belum bisa melaksanakan kuliah tatap muka, kalian harus tetap semangat dan jangan malas-malasan. Jangan sampai menjadikan daring sebagai alasan untuk tidak bisa memahami materi dengan baik, sebisa mungkin kalian mengikuti perkuliahan dengan maksimal dan mencari bahan-bahan lain untuk menambah wawasan”, ujar bpk Moh Hasan, M. Ag dalam sambutannya.
Para anggota sangat berantusi dalam acara tasyakuran wisuda, terlebih bagi anggota CSSMoRA 2021 yang belum bisa bertemu dengan para wisudawan dan anggota CSSMoRA lainnya. Akan tetapi dengan acara ini mereka bisa mengenal sedikit banyak anggota CSSMoRA dan para wisudawan juga bisa sedikit tau anggota baru CSSMoRA.
Meskipun berlangsung secara virtual, acara tasyakuran wisuda kali ini tetap terasa syakralnya. Moh Fadhil selaku ketua panitia mengatakan “alhamdulillah acaranya dapat berjalan dengan baik walaupun dari panitia sempat mendapatkan beberapa kendala terkait waktu pelaksanaan tapi karena kekompakan dari teman-teman panitia alhamdulillah semua bisa teratasi dengan baik. Dan tak lupa juga kami ucapkan selamat menempuh perjalanan selanjutnya buat kakak-kakak, semoga ilmunya barokah, amin ya robbal alamin”.
Acara tasyakuran wisuda selesai pada pukul 21.15 WIB dan diakhiri dengan foto bersama via Zoom Cloud Meeting.

Redaksi Ani

Loading

PENGENALAN TOEFL (PSC#1)

Pengembangan Skill CSSMoRA yang disingkat PSC. Salah satu Program kerja Departemen Hubungan Dalam, Kegiatan ini guna untuk menambah, melatih soft skill anggota CSSMoRA UIN Walisongo dalam bahasa, desain grafis dan lain-lain. PSC#1 atau Pengembangan Skill CSSMoRA pada pertemuan pertama ini membahas mengenai pengenalan TOEFL (Test Of English as a Foreign Language), yang dilaksanakan via Google Meet pada Sabtu, 04 September 2021.

Kegiatan PSC ini seperti diskusi santai antara anggota CSSMoRA dengan pemateri, dengan harapan sebagai awal persiapan  bagi para Anggota CSSMoRA dalam melaksanakan tes TOEFL.

Tes TOEFL merupakan pra-syarat penentuan kelulusan mahasiswa UIN Walisongo, tes ini harus selesai sebelum ujian akhir bagi mahasiswa. UIN Walisongo dalam test TOEFL menggunakan paper best test, namun dalam keadaan pandemic sekarang sangat susah untuk melakukan test TOEFL dengan paper best test sehingga dialihkan melalui test online. Jenis TOEFL yang diterapkan UIN Walisongo yaitu Institutional TOEFL Test. Dimana test ini diatur oleh institusi tersebut, dan hasil serta sertifikat TOEFL hanya dapat digunakan di institusi itu sendiri.

“kegiatan ini sebagai gambaran serta bekal buat Anggota CSSMoRA, agar tidak kaget jika mengikuti test TOEFL” ungkap Inayah selaku moderator dan anggota Departemen Hubungan Dalam.

Dengan membiasakan berbicara berbahasa Inggris, kita harus melatih dan membperbanyak kosakata (vocabulary) dalam bahasa Inggris. Review  kembali kosakata tersebut agar tidak lupa dan semakin mudah digunakan. Bisa dimulai dengan kosakata keseharian. Dengan kita berada dilingkungan berbahasa Inggris secara tidak langsung kita bisa paham dan bisa berbahasa Inggris perlahan-lahan.

Tips sukses dalam tes TOEFL sebagaimana ucap Rohadatul ‘Aisy Idra selaku pemateri dalam kegiatan ini dan wistuda TERBAIK Fakultas Syariah dan Hukum pada bulan Agustus 2021.

“Meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, bisa dengan mennton film yang berbahasa Inggris dengan subtitle Inggris, belajar lewat aplikasi bahasa Inggris, mendengarkan lagu bahasa Inggris dan masih banyak lagi”.

Kegiatan ini ditutup dengan sesi foto bersama via Google Meet.

Redaksi W

Loading

PERTANYAAN SEKATA

Sepenggal kata selalu ingin bertanya-tanya tentang persandingannya yang entah sejak kapan dipercayai manusia kepada benda dan realita tata bahasa. Bahwa sepasang bahasa asal mulanya terlanjur didatangkan dari kepala seseorang yang tak pernah dikenalnya.

Kalau saja daun-daun yang gugur itu tak pernah bernama, akankah tetap ia diingat dan digugat oleh angin dan pepohonan di hutan itu ?

Kalau saja bunga-bunga mekar itu mungkin bernama dengan berbeda dari yang dikenal warna-warni sunyi, bisakah ia dilengkapi kesederhanaan kata agar kekal indahnya ?

Bisa saja mati dan mata bagai melai yang melata mencari cara arti dan arta dengan bersebati tanpa bata ?

 

by: Andi Evan Nisastra

Loading