SEBELUM HUJAN REDA

Oleh: Matahari

“Kapan terakhir kali kamu berdoa?”

Lelaki di hadapanku tertawa ringan mendengar pertanyaan kelewat absurd itu. Dia bilang, doa terakhirnya barangkali adalah sesaat sebelum ia mengendarai motor untuk menjemputku tadi. Aku menuduhnya berdusta. Kalau dia benar-benar berdoa, seharusnya kami tidak terkurung hujan deras di sebuah emperan pertokoan yang tutup.

“Jangan-jangan kamu yang tadi tidak berdoa!” balasnya menuduhku. Kami berdua tertawa atas lelucon itu.

Sesaat kemudian, saat hening menjadi teman, aku menghela nafas panjang. Benar. Aku tidak berdoa sebelum pergi hari ini. Aku tidak berdoa saat bangun. Aku tidak berdoa sebelum tidur semalam. Aku bahkan tidak berdoa berhari-hari.

Aku jadi bertanya-tanya, kapan seseorang mulai berdoa dan kapan seseorang berhenti berdoa? Apakah karena dulu setiap malam ibu menyuruh anaknya berdoa sebelum tidur, maka ia berdoa? Apakah karena dulu setiap hari guru menyuruh muridnya berdoa sebelum belajar, maka ia berdoa?

Aku tak punya ibu yang menyuruhku berdoa setiap malam. Saat punya guru, ia pikir aku sudah hafal doa harian sehingga ia tak mengajariku. Aku berdoa setiap hari sampai kemudian entah di hari ke berapa aku merasa hambar. Bahkan kini, saat hujan yang katanya waktu doa dijawab Sang Pencipta, aku tak tergoda mengangkat tangan.

Hujan pun kian kuat. Atap seng berbunyi nyaring layaknya arena perjudian saat taruhan unggulam mereka hampir kalah. Udara dingin kian menusuk. Aku menghapus jarak antara aku dan lelaki yang telah kukenal kurang lebih enam bulan. Ia, lelaki dengan senyuman matahari itu, mengaminkan. Tangannya terbentang meraih bahuku.

“Wah, enak ya pacaran pas muda,” seorang perempuan dewasa akhir yang ikut berteduh berkomentar. Di sebelahnya, lelaki yang sama sepuh, barangkali suami, terlihat berpangku tangan dalam upaya menghangatkan dirinya sendiri.

“Duh, Buk! Jangan ngurusin orang,” suaminya menanggapi.

“Lihat, Pak! Anak muda jaman sekarang pacarannya blas bles blos saja. Kayak dunia milik berdua.”

Mereka berdebat. Si suami terlihat sungkan dengan perkataan istrinya. Akan tetapi, semua orang yang berteduh di emperan pertokoan itu terlihat setuju. Tatapan mata mereka menghakimi kami.

“Kamu mau pakai jaketku saja?” tawarnya berbisik. Tangannya rampak ragu memberikan kehangatan. Pelukannya tak seerat tadi.

“Iya,” jawabku risih dengan tatapan orang-orang.

Kami berdiri dengan jarak yang kecanggungan. Jarak kami tidak lebih dekat dari seorang anak yang memeluk kaki ibunya di depan toko  benang. Jarak kami tidak lebih mesra dari suami istri yang masih berdebat itu. Jarak kami, untungnya, tidak sesepi seorang laki-laki buta berpeci di toko paling ujung.

Aku maju satu langkah. Mengintip, karena rasa penasaran tak terbendung, pada lelaki buta berpeci haji di ujung lorong pertokoan. Usianya tak lagi muda. Tangannya yang telah keriput memegang tongkat dengan genggaman yang tremor. Bibirnya komat kamit layaknya orang suci tengah berzikir. Seolah bibir itu memang telah terlatih untuk selalu basah mengenang asma Allah.

“Kenapa?” lelaki matahari di sebelah ku bertanya.

“Aku baru saja berdoa.”

“Oh ya? Kau berdoa agar hujan reda?”

“Tidak juga.” Kerutan terbentuk di dahinya. Barangkali mencari berbagai macam opsi doa lain yang bisa kupanjatkan di situasi macam ini.

Hujan kian menggila. Angin kencang menerbangkan beberapa sampah. Semua orang merapat pada perlindungan terdekat yang bisa mereka gapai. Anak berlindung pada ibunya, perempuan berlindung pada lelakinya, anak muda berlindung pada kekuatan fisiknya. Aku tak bisa berhenti khawatir pada pria tua buta di ujung pertokoan yang tak punya sesuatu, bahkan dirinya sendiri, untuk melindungi.

“Yang, aku ke sana ya.”

Langkah lebih cepat ketimbang ucapanku. Langkahku besar dan cepat menuju lelaki tua itu. Jantungku berdetak cepat. Terlebih saat melihat sebuah terpal dengan pancang paku yang tajam terbang mengarah ke lelaki itu. Kilat petir melatari suara teriakan dan dentuman.

“Ustaz!” suaraku hilang ditelan situasi.

Alam bawah sadarku memaksaku bertindak. Meski pura-pura tak peduli, meski pura-pura tak kenal, tubuhku bergerak dengan sendirinya hendak meraih sosok itu. Aku tak bisa mengerdilkan perasaan kagum dan hormatku pada sosok buta yang memiliki mata air kasih sayang dan berkah ilmu dalam dirinya itu. Aku pun, seorang yang pernah  menyesap mata air itu. Di diriku mengalir percikan dirinya. Barangkali itu yang membuatku kalang kabut mengejar lelaki itu ini.

Terpal biru yang diterbangkan angin menyelimuti tubuh lelaki tua buta tanpa celah. Aku dan seorang tukang ojek mendekatinya. Tukang ojek itu dengan tergesa-gesa menarik terpal itu. Aku melihatnya terduduk dengan tongkat yang sudah tak lagi dalam genggaman. 

“Bapak tidak apa, Pak?” tanya tukang ojek itu sembari membantunya berdiri.

Tidak ada luka, tidak ada lebam. Syukurlah.

“Alina!” lelaki matahariku memanggil. Aku tak kuasa menahan rasa takutku. Bagaimana jika lelaki tua di hadapanku ini mengingat nama itu? Meski kemungkinannya sangat kecil, meski aku yakin beliau telah memiliki banyak murid-murid lain bernama Alina, jantungku tak bisa diajak kompromi.

“Kamu Alina? Alina Aisyah?” lelaki buta itu bertanya dengan suara yang sangat familiar.

Aku mengangguk meski aku tahu lelaki di depanku tak akan bisa tahu. “Bukan Pak, saya Alina Niswati.” Aku berbohong.

“Bapak ingat sekitar tiga tahun lalu Bapak punya santri namanya Alina Aisyah. Dia pintar, rajin ibadah, selalu taat dengan peraturan pesantren. Dia suka bantu-bantu di rumah Bapak. Setelah tamat dia belum ada lagi berkunjung ke pesantren. Tadi Bapak dengar ada yang panggil ustaz, suaranya mirip Alina. Rupanya salah orang.”

Aku tak lagi mengucapkan apa pun. Aku takut suara cempreng ini akan makin mengingatkan lelaki tua berpeci itu akan seorang santri polos yang kini hanya tinggal cerita. Aku menarik tangan pacarku sembari berlari kecil menuju motor yang terparkir.

Hujan sebentar lagi berhenti. Waktu istijabah doa sebentar lagi usai. Aku berdoa lagi, meski tidak mengangkat tangan. Aku berdoa lama dan khusuk sekali. Tak peduli bahwa aku tak lagi berkerudung. Tak peduli bahwa kini di tanganku ada tangan lelaki bukan muhrim yang diibaratkan bara api.

“Boleh aku tebak doamu, Alina Aisyah?” tanya lelaki matahari itu dengan nada mencemooh. Aku menggeleng. Aku ingin cepat menyudahi basa-basi ini dan kembali bersembunyi.

Di ujung jalan, sebuah mobil dengan lambang instansi pendidikan Islam terlihat mengarah pada lelaki tua yang tak lain dan tak bukan adalah pengasuh di pesantren itu. Si pengemudi turun dan membantu ustaz menaiki mobil. Motor kami telah lebih dulu membelah jalanan.

Doaku terkabul. Lelaki buta itu tak mengenaliku. Aku ingin berdoa lagi agar si pengendara mobil yang sekelas denganku enam tahun tak mengenaliku. Sayangnya hujan telah sempurna berhenti.

Sayangnya aku tak punya keberanian lagi untuk berdoa.

 

Identitas Penulis

Nama : Matahari

Instansi : Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi Agam

No HP/WA : 081927633962

Loading

DUNIA YANG KEJAM? BENARKAH?

Oleh: Sindi Putri Oktafiana

 

“Dunia begitu kejam.” Bukan kali ini saja kalimat itu terdengar, bahkan sejak puluhan abad silam telah terlontarkan dari bibir penduduk bumi. 

Bumi yang terdiam hanya menamatkan sembari menyimpan segala misteri yang entah kapan akan terkuat. Kalimat itu kedengarannya sudah biasa untuk dianggap sebagai suatu hal yang baru. Kegundahan yang menjelma rupanya telah merasuki satu persatu dari bagian hidupku, sembari melihat kopi yang butirannya mulai mengendap.

Setiap hari tingkah manusia semakin bergejolak, berbuat semena-mena tanpa beretika dan mengumbar kuasanya. Tangis sendu dari para korban dibungkam oleh kebiadaban. Diam. Mereka diam, karena seolah itu adalah jalan.

“Masih terpikirkan lagi ?” suara yang tiba-tiba datang membuyarkan seluruh lamunanku.

Sosok itu tampak berjalan ke arahku, meneguk kopi yang bahkan belum ku sentuh sejak tadi.

“Selalu saja.” ucapku mengeluh. Namun dia tak menghiraukan raut sosok yang berada didekatnya ini telah berubah menjadi masam.

“Kenapa Va ? Lebih baik jangan buat kalau hanya dianggurkan, dia telah menjadi dingin.” ucapnya sambil berlalu.

“Tapi tetap habis diminum kan?” tanyaku sambil menaikkan satu alis, seusai dia melenggang dan duduk berhadapan denganku.

“Emm… Kamu benar. Sudahlah relakan saja kopimu.”katanya. Sebelum akhirnya mengulik sekilas dari peristiwa yang masih aku diami.

“Bagaimana soal Shezani ?” Spontan ku tutup laptop yang sembari tadi masih tampak kosong di halaman word. Perlengkapan menulis telah tersimpan rapat dalam tas yang akan ku bawa pergi.

“Mau kemana hei ?!” Sudah biasa suara lantang itu terdengar, dia akan naik darah karena merasa tak dihargai. Itulah sifatnya, dan aku tak bisa mengubahnya. Pastinya ada sisi lain dari dirinya.

“Kamu tak mendengarkanku,? Bahkan aku baru saja sampai disini dan Kamu justru pergi.” Memang itu tidak pantas, aku pergi karena tebakannya benar. Walaupun selama ini kami tak pernah tinggal bersama, ikatan itu cukup kuat.

“Tinggallah disini sebentar. Aku akan segera kembali.” Ucapku sambil meneruskan langkah.

“Baiklah. Jangan berusaha menghindariku ya.” Langkahku berhasil terhenti. Dia memelukku amat erat, hangat. Hal ini yang selalu aku inginkan darinya. Ikatan saudara.

*****

Gedung-gedung menjulang tak dapat ku hitung lagi berapa meter tingginya, barangkali sudah menyundul ke atas sana. Polusi udara yang kian mengangkasa diderek oleh kawanan mega dengan raut kecewa. Gemericik bukan dari air bening yang memanjakan mata, melainkan mesin-mesin kendaraan yang bergesekan dengan aspal hitam kota.

Aku terpaku disini, terlilit oleh pikiran dan hati yang mengutuk diri. Bukan lagi pertama kalinya, pikiran ini terasa berat, runyam, memikirkan kejadian-kejadian yang semakin tak bisa dinalar. Ulah hantu ? Bukan. Sesamaku, sewujud denganku, itu kami. Manusia muka bumi. Jika bertanya apa masalahnya tentu itu sudah pasti berada. Media dengan cepatnya menjejerkan berita untuk dibaca. Teknologi yang semakin canggih menembus batas negara hingga dunia luar sana. Solusi ? Itu hal yang semakin tak pasti. Semakin dibuka, maka semakin dibungkus apik. Padahal hanyalah cakap angin semata. Seperti halnya kini yang terjadi.

“Benar jika hanya permainan yang fana, atau nanti akan terbangun dari mimpi.” ucapku sembari duduk di salah satu bangku panjang tepian jalan. Memang sepanjang jalan ditanami dengan pepohonan. “Ditujukan untuk menciptakan udara segar.” katanya demikian.

“Assalamu’alaikum, Bolehkan aku duduk disini Kak ?” Datangnya insan cilik itu tak terduga. Ku edarkan pandang ke segala arah. Lantas kembali ke arahnya, pada bocah yang belum ku jawab salam dan permintannya.

“Wa’alaikumusslama. Iya tentu, silahkan duduk.” Sembari menggeser duduk, lalu mempersilahkan dia.

Kami terdiam, hanyalah bunyi klakson dan langkah kaki orang-orang menyeberang saling berbenturan. Keramaian yang semakin bergejolak, ini melelahkan. Aku ingin ketenangan. Namun, bocah di sampingku tampak tenang mobil-mobil besar melintas kian kemari.

“Oh ya, nama adik siapa ?” tanyaku ingin mengisi kekosongan yang menghampiri.

“Daina. Kalau kakak siapa namanya ?” binar matanya benar-benar tak bisa dipercaya, memandangnya begitu dekat ternyata menenangkan. Aku terpukau, termenung beberapa saat sebelum akhirnya aku tersadar kembali.

“Namaku Adiva. Kamu boleh memanggilku Kak Iva.” ucapku disertai anggukan darinya.

*****

Menuruti tawaran anak kecil tak ada salahnya juga. Kami berjalan menyusuri jalan kecil, tempat ini tampak terasing. Laju kendaraan yang sedari tadi memekakan telinga perlahan memudar seiring kaki jauh melangkah. Rumah disini terlihat antik dengan tiang penopang dari kayu atau bambu. Beberapa sepeda motor butut tua berjejer rapi di masing-masing rumah penduduk. Para anak kecil berlarian membawa layangan menuju tanah lapang yang kiranya berada di depan sana.

Mataku terus menelisik kian kemari. Tak lupa ku dokumentasikan momen-momen ini. Pelataran hijau yang terhampar dengan senda-gurau anak-anak disana. Kesejukan dan kedamaian menerpa, menghanyutkanku turut larut bersukacita. Tawanya murni sejati, khas sekali. Keinginan akan waktu lebih dari apapun itu, bermain, pengajaran dan kasih sayang dari orang tua. Mereka adalah amanah dari tuhan yang harus dikasihi dan dijaga.

“Panti Asuhan Seribu Harapan.” batinku. Wajah tetap ku nampakkan dengan ekspresi yang biasa saja. Jujur ini pertama kalinya ku pijakkan kaki di tempat seperti ini, biasanya hanya membantu mempersiapkan donasi yang akan dibawa. Hatiku menjadi trenyuh.

“Ayo kak masuk. Pasti teman-teman akan senang bertemu dengan kakak baik.” Daina berucap dengan lengkungan manis yang tergambar di sudut pipiny. Mulanya kaki ini enggan untuk melangkah, akan tetapi rasa penasaran terus menghasut hingga berjumpa dengan mereka semua disini. Riuh rumah yang terdengar dari luar seketika hening, mereka diam menghentikan aktivitas bermainnya. Kemudian menyambar diri yang masih mematung di dekat pintu masuk.

Saling bergantian untuk menjabatku. Didikan disini dapat ku katakan baik, buktinya anak sekecil ini mengerti tentang sopan-santun bertemu dengan orang baru. Bahkan mereka berjejer rapi tanpa menyerobot untuk saling mendahului. Aku berbincang dengan pengurus panti sembari melihat mereka dengan keaktifannya. Mataku terhenti pada satu anak kecil yang terdiam di sudut taman dengan diary kecil beserta bolpoint dalam genggamannya.

“Assalamu’alaikum adik manis. Apa yang sedang kamu tulis ?”

“Wa’alaikumussalam Kak. Menulis, bagaimana rasanya ya punya orang tua ?” jawaban sekaligus pertanyaan yang berhasil membuat senyumanku memudar.

Aku tau dari obrolan sebelumnya. Kebanyakan dari mereka memang dibuang oleh orangtuanya. Miris. Hati ini teriris. Kelahiran yang seharusnya dinantikan. Kebahagiaan yang seharusnya dirasakan. Semuanya justru disia-siakan. Mereka ingin seperti anak-anak lain diluar sana dengan kasih sayang orang tuanya. Namun apa sebaliknya yang terjadi ? Akankah “Dunia begitu kejam” akan kembali terdengar ?

*****

“Sebentar lagi Rayyan akan datang.” ucap perempuan yang biasanya lantang itu menjadi lemah lembut. Kami memang memutuskan untuk berbaikan sejak kemarin.

Sementara jiwa yang diajak bicara masih diam menatap layar laptop, walau sebenarnya fokusku terbuncah karena perkatannya. Sebenarnya perempuan ini adalah kakakku, Dhafiyah namanya. Kini dirinya turut diam dan larut dalam keheningan.

“Assalamu’alaikum Kak Dhafiyah.” Ku hentikan aktivitas dan beralih pada arah suara itu. Setelahnya Rayyan menoleh ke arahku yang memasang muka datar.

“Wa’alaikumussalam.” Jawab Kak Dhafiyah, sementara aku menjawabnya lirih.

“Kalian berdua, bercakaplah. Kakak akan menjauh kesana.” Kak Dhafiyah memilih untuk menuju pojok kursi, mendengarkan tilawah dan merasakan sejuknya udara pekarangan samping rumah.

“Maaf Va.” ucapnya dengan menatapku lekat. Wajahnya dipenuhi dengan kecemasan. Ku mengambil nafas panjang kemudian menghembuskan secara perlahan.

“Maka lakukan itu. Kamu tidak ada alasan untuk mengelak.” Tuturku masih dengan muka datar.

“Aku tidak bisa Va, sementara kita…” ucapannya terhenti karena aku memotong pembicarannya dengan sengaja.

“Aku berhak memutuskan. Jangan lagi bicarakan soal kita. Berhenti untuk kabur dari masalah. Berhenti berlindung dibalik nama orang tuamu. Kamu tak mengerti kan bagaimana perasaan orang itu, terlebih dia sahabatku.” ucapku berusaha membendung air mata. Akhirnya aku berani untuk angkat bicara. Tidak seperti kemarin yang justru melamun dengan egoku.

“Nyawa anak itu telah hilang.” ucapnya dengan wajah menunduk, suaranya terdengar samar.

“Kamu…” ucapanku tercekat. Lidahku kelu. Apa maksud dari perkataannya barusan ?

“Va.” Panggil Kak Dhafiyah sembari menepuk pundakku pelan. Mataku tak berkedip sedikitpun, pikiran ini terasa amatlah runyam.

“Sekarang kamu pergi Ray. Tidak ada yang bisa dipercaya lagi. Begitu kejam.” Amarah ini meletup melihat kenyataan dan pelaku yang ada dihadapanku ini.

“Aku melakukan itu karena kita.” Rayyan berusaha mendekat ke arahku.

“Jaga ucapanmu. Hukum akan tetap diproses, nantikan itu. Sekarang pergi !” Suara lantang itu berasal dariku.

“Shezani, ku harap Kamu tenang disana. Maafkan aku yang tak bisa menjagamu.” batinku.

*****

Hari bertaut dengan waktu yang semakin mengudara. Kepingan-kepingan peristiwa beralunan saling bergandengan. Beberapa hal memang tak terduga kejadiannya. Lantas siapa yang akan disalahkan, dunia lagi ? Rasanya mustahil menyalahkan dunia yang padahal manusia sendiri yang berjalan mengelilinginya dan turut andil didalamnya. Rasa penyesalan hanyalah datang terakhir, setelahnya mengikhlaskan adalah salah satu keterpaksaan untuk benar-benar merelakan. Berat rasanya tertimpa masalah yang kita sendiri tak mengira akan datang semasanya. Seperti halnya kisah ini. Begitu singkat, rumit dan terjadi begitu saja.

“Va, hari ini Rayyan sudah dibebaskan.” ucap Kak Dhafiyah membawa berita yang sebenarnya kurang aku senangi. Bukan karena bahagia dalam penderitaan orang lain. Setelah apa yang dia lakukan kepada Shezani hingga membunuh darah dagingnya sendiri, apakah hukuman selama tiga tahun di bui itu pantas ? Rasanya sampai berbuih mulut ini untuk menegakkan hukum yang adil-seadilnya tetap saja percuma.

“Hm iya.” jawabku pelan, sambil beberapa saat kemudian menyesap kopi yang masih terasa panas.

“Apa kamu akan menemuinya ?” tanya Kak Dhafiyah. Ku turunkan gelas kopi dan beralih menekan kembali keyboard laptop.

“Kami sudah tidak bisa melanjutkan Kak. Agenda besar harus ku lakukan hari ini.” ucapku lalu besiap untuk berkemas.

“Jangan bilang kamu akan ikut demo akan kasus serupa yang terjadi akhir-akhir ini ?” tebak Kak Dhafiyah sekaligus bertanya.

“Tidak. Kami akan datang menemui mereka di pusat.” ucapku dengan penuh keyakinan.

“Mereka akan menentang Va, hal itu sia-sia.” ucap Kak Dhafiyah yang sama sekali tak melunturkan semangatku untuk segera bergegas

“Lebih sia-sia lagi apabila aku tetap berdiam diri. Kebenaran harus tegak, jangan sampai ternodai oleh tipu muslihat.” ucapku.

“Apakah hal ini karena Shezani ? Kamu dendam dan menuntut balas ?” tanya Kak Dhafiyah bertubi-tubi.

“Tidak ada dendam, pada siapapun itu. Namun, aku dan orang-orang yang sejalan denganku ingin mempertegas dan memberikan solusi.”

“Perjuangkan Va.”

“Terima kasih Kak.” Ucapku mengakhiri percakapan itu.

*****

Manusia tidak bisa hidup tanpa aturan. Lantas akan berbuat dengan sesuka hatinya dengan semena-mena tanpa takut akan mendapatkan hukuman yang selaras. Ketika hal itu terjadi, antara dua jenis yang berbeda saling menyalahkan untuk mendapatkan kemenangan dan dukungan berdasar suatu alasan. Bersembunyi dibalik kuasa dan uang. Aniaya, perdaya dengan semena-mena dibungkam dengan keduanya ? Bukan kami ingin merdeka sebebas-bebasnya, hanya satu. Dimuliakan. Sudah sepatutnya. Sudah selayaknya. Sudah sepantasnya. Pada kenyataannya saling menyalahkan tak cukup untuk menciptakan terselesainya permasalahan.

Kritik sudah patutnya untuk didengar. Peristiwa didepan mata tak layak untuk dibungkam. Jangan terus mengkoar-koarkan kata “Aku, dominasi, bebas” yang pada akhirnya jatuh pada kelalaian dan saling terus menyalahkan antara satu dengan yang lainnya. Disini, pada agama ini. Aturan dibuat bukan hanya sekedar diketahui, akan tetapi diyakini, dipatuhi dan dijalani. Jangan pernah lupa. Jangan pula terlena. Bagaimana cara untuk menjaga diri agar dimuliakan. Bagaimana cara untuk mengendalikan jiwa, pikiran dan hasrat. Kita manusia dan makhluk yang sempurna. Dikaruniai kelebihan yakni akal yang membedakan dengan makhluk lainnya.

Perkara “Dunia yang kejam.” Apakah kalian memahaminya sekarang ? Ibarat kita ini penggeraknya dan menyalahkan benda yang tidak tau apa-apa.

 

Desember 2021

Loading

PENGENALAN WARNA DAN FONT DALAM DESAIN GRAFIS (PSC #5)

Pengembangan Skill CSSMoRA (PSC) sudah terlaksana sampai saat ini sebanyak 5 kali. Pada kesempatan kali ini PSC 5 membahas kembali terkait desain namun dengan tema yang berbeda dari sebelumnya. Pada kesempatan kalo ini tema yang dibahas yaitu mengenai “Permainan Warna dan Pemilihan Font dalam Desain”.

PSC 5 kali ini dilakukan secara offline dan bertempat di Gazebo YPMI Al Firdaus pada Sabtu, 26 Maret 2022 pukul 13.00 WIB dan berakhir pada pukul 16.00 WIB dengan pemateri yaitu kak Andi Evan Nisastra (Anggota CSSMoRA angkatan 2018).

Selama diskusi berjalan para peserta sangat antusias dalam mengikuti kegiatan karena tema pembahasan kali ini sangat menarik.
Menurut kak evan (pemateri PSC 5), untuk membuat desain yang baik harus memperhatikan penggunaan dan kolaborasi warna serta pemilihan font tulisan yang benar supaya desain yang kita buat akan enak dipandang dan memiliki nilai estetika yang tinggi.

Berbeda dengan PSC yang membahas tentang desain sebelumnya, pada kesempatan kali ini pemateri meminta kepada seluruh peserta yang hadir untuk membuat desain flayer PSC 5. Para peserta PSC 5 terdiri dari angkatan 2018, 2019, dan 2021. Semua peserta yang hadir setelah membuat desain flayer PSC 5 oleh pemateri diminta untuk mempresentasikan hasil desainnya kepada teman-teman yang lainnya.

Melalui PSC kali ini diharapkan para anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo dapat membuat desain kegiatan serta bisa saling berbagi informasi dan saling belajar. Dengan semakin banyaknya para ahli desain yang dimiliki oleh CSSMoRA diharapkan media sosial CSSMoRA akan semakin aktif lagi.

 

-Red Departemen Hubungan Dalam

Loading

PENGENALAN DESAIN PADA PSC 5

Pengembangan Skill CSSMoRA (PSC) sudah terlaksana sampai saat ini sebanyak 5 kali. Pada kesempatan kali ini PSC 5 membahas kembali terkait desain namun dengan tema yang berbeda dari sebelumnya. Pada kesempatan kalo ini tema yang dibahas yaitu mengenai “Permainan Warna dan Pemilihan Font dalam Desain”.

PSC 5 kali ini dilakukan secara offline dan bertempat di Gazebo YPMI Al Firdaus pada Sabtu, 26 Maret 2022 pukul 13.00 WIB dan berakhir pada pukul 16.00 WIB dengan pemateri yaitu kak Andi Evan Nisastra (Anggota CSSMoRA angkatan 2018).

Selama diskusi berjalan para peserta sangat antusias dalam mengikuti kegiatan karena tema pembahasan kali ini sangat menarik.
Menurut kak evan (pemateri PSC 5), untuk membuat desain yang baik harus memperhatikan penggunaan dan kolaborasi warna serta pemilihan font tulisan yang benar supaya desain yang kita buat akan enak dipandang dan memiliki nilai estetika yang tinggi.

Berbeda dengan PSC yang membahas tentang desain sebelumnya, pada kesempatan kali ini pemateri meminta kepada seluruh peserta yang hadir untuk membuat desain flayer PSC 5. Para peserta PSC 5 terdiri dari angkatan 2018, 2019, dan 2021. Semua peserta yang hadir setelah membuat desain flayer PSC 5 oleh pemateri diminta untuk mempresentasikan hasil desainnya kepada teman-teman yang lainnya.

Melalui PSC kali ini diharapkan para anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo dapat membuat desain kegiatan serta bisa saling berbagi informasi dan saling belajar. Dengan semakin banyaknya para ahli desain yang dimiliki oleh CSSMoRA diharapkan media sosial CSSMoRA akan semakin aktif lagi.

Salah satu karya anggota CSSMoRA UIN Walisongo
Salah satu karya anggota CSSMoRA UIN Walisongo

 

 

-Red Departemen Hubungan Dalam

Loading

MEMPERKUAT PERSAUDARAAN MELALUI ROMANTISME CSSMORA

Semarang, telah terlaksana moment keakraban (mokrab) pada tanggal 12 Maret 2022 di gedung PPP Mangkang. Yang mana acara ini merupakan program kerja dari Departemen Hubungan Dalam guna untuk mempererat tali silaturahmi antar anggota CSSMoRA.
Mokrab ini merupakan agenda tahunan, yang mana pada tahun lalu acara ini dilakukan secara daring, dan Alhamdulillah tahun ini bisa dilaksanakan secara offline.
Acara ini dibuka oleh bapak Dr. Moh. Khasan M.ag selaku pengelola PBSB, dan pada kesempatan kali ini selain memberikan sambutan beliau juga berpamitan, karena akan mengemban amanah baru selaku Wakil Dekan III di fakultas FISIP UIN Walisongo. Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada CSSMoRA karena telah membersamai beliau selama beberapa tahun terakhir.
Pada kesempatan kali ini, Ani Uswatun selaku ketua panitia mengatakan “Alhamdulillah, acara Mokrab tahun ini sangat luar biasa. Ditengah2 keterbatasan SDM, tp tmn2 tetap sangat berantusias dan sangat2 semangat sekali dalam mengikuti acara mokrab. Harapannya semoga dengan adanya acara mokrab bisa lebih mendekatkan dan melekatkan loyalitas serta solidaritas teman-teman CSSMoRA UIN Walisongo”.
Hamjan A Ranselengo selaku ketua umum CSSMoRA UIN Walisongo juga menanggapi bahwa “Acara mokrab kemarin sungguh terlaksana dengan meriah dan dikuti dengan penuh antusias oleh seluruh anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo sehingga patut untuk di aprisiasi, tidak hanya itu acara mokrab ini juga bisa di bilang merupakan moment untuk merekatkan dan mengeratkan tali persaudaraan antar sesama anggota CSSMoRA UIN Walisongo. Banyak sekali hal menarik yang bisa di dapat dari acara mokrab tersebut seperti games yang difokuskan untuk melatih kekompakan dan kebersamaan anggota css, lomba” yang berguna untuk mengeluarkan ide ide kreatif semua anggota. tidak hanya kedekatan antar sesama anggota saja tetapi bersama pengelola dan alumni juga bisa harmonis. Harapannya semoga budaya dan tradisi mokrab ini bisa di pertahankan kedepannya mengingat banyak sekali yang kita dapatkan dari acara ini”
Dari panitia juga sangat berharap, dengan adanya acara mokrab dapat saling mempererat tali kekeluargaan CSSMoRA UIN Walisongo Semarang.

 

Loading

SYUKURAN WISUDA PERIODE FEBRUARI

Semarang, 23 Februari 2022. Alhamdulillah telah terlaksana tasyakuran wisuda CSSMoRA UIN Walisongo Semarang yang kedua dalam periode kepengurusan kali ini  via Google Meet, yang mana tasyakuran kali ini digabung dengan wisuda yang sebelumnya dengan. Yang mana pada tasyakuran kali ini ada 15 wisudawan wisudawati yang terdiri dari 4 wisudawan periode sebelumnya dan di perolehnya wisudawan terbaik oleh Nada Dhiya Ulhaq S.H (CSSMoRA angkatan 2017), dan pada periode kali ini ada 11 wisudawan dengan Wali Cosara,S.H (CSSMoRA angkatan 2018)  sebagai lulusan 7 semester pada tahun 2021.

Pak Moh Khasan,M.Ag  selaku pengelola PBSB UIN Walisongo Semarang berharap agar kedepannya para wisudawan dapat mengamalkan ilmunya dengan baik,  yang akan melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya ataupun kembali untuk melaksanakan pengabdian.
Hamjan A Ranselengo selaku ketua umum CSSMoRA UIN Walisongo juga berharap meskipun telah selesai pendidikan nya tidak akan pernah lupa pada CSSMoRA dan teman teman lainnya
Harapannya semoga ilmu yang di dapatkan barokah manfaat bagi semua orang.

 

-Red Badan Pengurus Harian

Loading

APAKAH PENGHIJAUAN SEBATAS MENANAM ATAU PAMER KEGIATAN SAJA?

Oleh: Wahyudi (CSSMoRA UIN Walisongo 2018)

Slogan-slogan yang menyebar dimana-mana, baik itu sebagai tagline-tagline instansi yang dikira paling menjaga alam, ucapan-ucapan pejabat yang sedang pansos kepada publik, bahkan poster-poster yang tertempel di tiang listrik yang bersandingan dengan iklan sedot wc (hahaha tawa outor), yang berisikan tentang ‘Satu Pohon Satu Jiwa’ atau ‘Go Green For Our Future’ dan sejenis kalimat penyemangat atau imbuhan motivasi utnuk menanam, menjaga dan merawat satu buah pohon, apakah itu cukup untuk meningkatkan keasadaran untuk menyelamatkan satu pohon?, atau bisakah merubah hati penebang-penebang pohon liar yang dibenaknya hanya uang dan uang?, atau konglomerat-konglomerat yang berdalil, tapi nyatanya menjajal bumi?, Tentu tidak!.

Dan juga Go Green bukan hanya tentang menanam. Apa gunanya menanam tapi lingkungan tidak dijaga, sampah dibuang sembarang, atau limbah-limbah pabrik yang disebar secara liar yang secara nyata mempengaruhi ekosistem sungai, hutan atau tanah bahkan lautan sekalipun. Jadi bisa disimpulkan Go Green itu bukan hanya menanam dan menyuarakan tagline-tagline penghijauan, tetapi juga tentang kesadaran, tentang hati yang berdalih menjaga bumi bukan antipati yang ditinggikan untuk memuaskan naluri yang pastinya akan mati.

Dewasa ini aksi-aksi go Green yang disuarakan menjadi tren terkhusus bagi kelompok-kelompok pecinta alam, peduli lingkungan, atau front-front pembela pohon dan hutan, dan banyak lagi kelompok-kelompok seperti itu. Hal tersebut tak akan lepas dari kondisi bumi yang dituding semakin menua dan semakin rusak, dan sudah jelas pelaku utamanya hewan yang berakal dan memiliki segunung nafsu untuk memuaskan diri sendiri atau kompeninya, iyaps, siapa lagi kalo bukan manusia. Dilansir dari National Geographic Indonesia, bahwasanya suhu di antartika semakin meningkat sepanjang sejarah diawal tahun 2020, dimana akibat di antartika salah satu gletser yaitu Pine Island mengalami penyusutan dan akhirnya runtuh. Hal yang dikhawatirkan akibat dari pencairan gletser tersebut menghasilkan air dalam jumlah besar ke samudra.

Terlepas dari itu masih ada lagi akibat nyata dari global warming yaitu laut mengalami kenaikan suhu pula, yang berdampak dan berakibatkan kepada ekosistem lautan khusunya ratusan ribu kerang terpanggang dan mati di Selandia baru. Diperkirakan pada tahun 2100, perubahan iklim ini akan menjadi kepunahan terumbu karang di seluruh dunia. Dan manuasia akan mengalami dampak baik itu secara langsung ataupun tidak. Itu beberapa alasan yang menyebabkan go Green dilaksanakan untuk mencegah global Warming, dan ini juga termasuk imbauhan untuk meminimalisir pembangunan rumah kaca yang membuat ozon dibumi semakin menipis, dan termasuk salah satu penyebab Global Warming.

Dengan harapan bumi dapat kembali dan memjlih melalui upaya Go Green yang selalu di suarakan dapat menjadikan bumi kembali menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi seluruh makhluk, bukan hanya manusia. Baik dimasa sekarang dan juga dimasa depan yang akan datang. Dan dalam rangka untuk membantu penerapan dengan aksi Go Green, perlu diketahui prinsip- prinsip utama yang menjadi dasarnya, disini terdapat 3 prinsip dasar, yaitu:

Reduce

Adalah upaya untuk melakukan penghematann sumber ,daya energi. Reduce dapat diartikan juga sebagai pengurangan dalam memamkai benda tertentu dengan bertujuan untuk pengurangan produksi sampah. Dengan dipahami prinsip ini, manusia dapat selektif dalm kegiatan sehari-seharinya. Contoh yang sangat muda untuk dilakukan seperti mematikan listrik jikalau tidak sedang digunakan, sedangkan untuk mengurangi limbah sampah dapat dihindari menggunakan kantong sekali pakai.

Reuse

Adalah upaya pemanfaatan kembali barang-barang lawas. Jadi maksudnya iyalah barang-barang yang masih berfungsi sesuai dengan fungsi sebaiknya dimanfaatkan lagi ddan jangan langsung di buang. Kebanyakan orang tidak menykai dengan hal-hal seperti ini karena terlihat tidak berkelas, dan juga dianggap kolot dan tertinggal zaman akibat dari perubahan zaman. Tetapi dengan melakukan upaya Reuse barang-barang yang sudah lawas dan using, ini memberikan keuntungan ganda. Pertama ini sebagai upaya peduli terhadap lingkungan sekitar. Yang kedua, dari kehematan anda sangat karena tak perlu membeli barang-barang yang baru.

Recycle

Berbeda dengan dua dengan lainnya Recycle adalah istilah yang sangat popular, dimana Recycle memiliki arti melakukan pendauran ulang pada sebuah barang sehingga bisa bermanfaat dan digunakan kembali. Dan jenis barang-barang seperti sangat mudah didapatkan dimanapun karena barang-barang seperti ini disebut sampah. Dengan sebuah nilai seni, kreatifitas, barang bekas dapat diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat lagi seperti pot tanaman , hiasan pada rumah, dan banyak lagi lainnya. Contoh yang sering kita jumpai seperti botol-botol plastic yang langsung dibuang setelah habis isinya. Padahal kalo dilihat dari penilitian sampah plastic adalah sampah yang paling lama diurai oleh tanah, yang dampaknya sangat nyata di depan mata kita seperti rusaknya sirkulasi tanah dan hutan, terganggunya ekosistem di sungai dan lautan, berbeda hal jika kita melakukan daur ulang dimana kita bisa menyelamatkan tanah dan bumi kita.

Dari beberapa hal di atas kita dapat mengambil tindakan sebagai wujud kepedulian kita terhadap bumi. Tidak perlu dengan tindakan yang langsung besar seperti penanaman seribu, sejuta, atau pun semiliar pohon. Cukup dengan menyadari hal-hal kecil disamping dan sekeliling kita, seperti mengurangi sampah plastik, mematikan listrik ketika tidak dipakai, menghemat pemakaian air, memilah sampah dan lakukan daur ulang,kurang penggunaan dalam tisu, dan mungkin menanam pohon di sekeliling rumah kita.

Peduli lingkungan bukan dari orang lain, kembali Kediri kita dan pahami dengan menelaah lagi tindakan kita dilingkungan sudah betul atau tidak. “Bukan dari saya, bukan dari orang sekitar anda, dan tentunya itu dari diri anda sendiri”.

 

SEMANGAT RUSDA IMUT, MUACH

Loading

SINGKAT WAKTU

oleh: Ghina Zahra (Peserta Lomba Cerpen Dies Natalis ke-14 CSSMoRA UIN Walisongo)

Kisah ini menceritakan tentang pertemuan antara murid kls 10 dan kls 11.Mereka dipertemukan oleh organisasi yang mereka ikuti yakni OSIS,ya OSIS lah yang membuat kedua insan ini bersatu.Hari selasa di sekolah mereka diadakan pemilihan ketua/wakil ketua OSIS,Sebuah pertemuan yang menjadi awal dari hubungan mereka.Sebut saja namanya fadly dan fuji,fadly adalah siswa kls 11 sedangkan fuji adalah siswi kls 10.Pertemuan mereka bisa dibilang singkat,karna hanya perlu waktu sehari semalam untuk mereka saling kenal dan mengubah status mereka menjadi PACARAN.Awalnya mereka ragu untuk memilih pacaran tetapi hari demi hari kehangatan pun hadir didalam hubungan mereka walaupun banyak perbedaan pendapat yang sering terjadi.Namanya juga pacaran sama kakel jadi ya kita gabisa liat DIA di kls,cuman bisa ketemu di jam istirahat yang singkat.

Suatu hari fadly menghampiri fuji yang sedang duduk di taman sekolah sambil membawa minum untuknya.

Fadly:”hi sayang”

Fuji:”hi,tumben kamu nyamperin aku”

Fadly:”ya kan aku pacar kamu jadi bolehlah aku nyamperin kamu disini”

Fuji:”oh iya fad,ada yang mau aku omongin sama kamu”

Fadly:”apa sayangku”

Fuji:”kamu jawab jujur ya fadly bintang pratama!”

Fadly:”iya fuji prasetya anaknya bapak reynald prasetya”

Fuji:”ihh apaan sih,oke janji dulu kamu akan jawab jujur”

Fadly:”oke aku janji,memang mau tanya apa sih”

Fuji:”aku denger isu kamu deket sama kk adel”

Fadly:”adel?putri adelia maksud kamu?”

Fuji:”iya kk adel”

Fadly:”mana ada fuji ku,aku cuman temenan sama dia”

Fuji:”fad,plis jawab jujur!”

Fadly:”aku jujur,ya memang gaada hubungan apa apa fuji”

Fuji:”yaudah aku masuk kls dulu”

Fadly:”fuj,serius aku gaada hubungan apa apa”

Fuji pun pergi dari sana dan msuk ke kelasnya.

Bel pulang pun berbunyi fuji yang biasanya pulang bareng fadly sekarang dia memilih untuk pulang sendiri tanpa fadly

Fadly:”hi sayang,ayo naik panas ini.kita ke cafe dulu ya”

Fuji:”aku udah suruh supir buat jemput jadi kamu duluan saja fad”

Fadly:”hi fuj fujii kamu kok beda sekarang,coba ngomong ada apa?sini sini”

Fuji:”ngga gapapa aku cuman mau sendiri saja dulu”

Fadly:”ayolah fuj,jangan kaya anak kecil”

Fuji:”memang aku anak kecil kan toh aku kan adek kelas kamu”

Fadly:”fujii ayo ngomong ada apa?”

Fuji:”fad,aku cape tahu ga kayak gini terus”

Fadly:”yaudah kita ngobrol di cafe biasa ya,sekarang kamu naik dulu oke”

Merekapun pergi ke cafe untuk membicarakan masalah yang terjadi

Fadly:”ada apa fuj?ayo cerita”

Fuji:”aku cape fad kaya gini terus,kita cuman punya waktu bentar buat ketemu.ya aku tahu kamu sibuk,banyak urusan yang harus kamu urus.tapi kayak coba kamu luangin sedikit saja fad waktu kamu”

Fadly:”fuji,aku juga cape kayak gini terus.dan kl aku boleh jujur aku juga cape dituduh deket sama teman sekelas itu fuj,cobalah kamu ngertiin perasaan aku.aku sudah berusaha buat jaga hati aku buat kamu tapi kamu selalu saja mikir kalo aku ada hubungan sama adel.”

Fuji:”aku minta maaf kalo selama ini sikap aku buat kamu ganyaman dan buat kamu risih”

Fadly:”sekarang mau kamu bagaimana?aku cuman butuh kejelasan saat ini dari kamu”

Fuji:”kita putus”

Fadly:”what?why?fuji hubungan kita ini masih baru fuj!”

Fuji:”kita terlalu cepat ngambil keputusan fad,sehari semalem waktu kita buat saling kenal.dan semua itu menurut aku gacukup fad”

Fadly:”ya aku salah terlalu cepat ngambil keputusan aku minta maaf,jadi mulai sekarang kita putus.kalo itu mau kamu aku ngikut saja tapi kalo suatu saat kamu butuh sama aku dateng saja karna dihati  aku cuman ada kamu makasih buat waktunya walau hanya sebentar tapi gapapa ini bisa jadi pelajaran buat aku untuk ga terlalu cepet ambil keputusan.sekali aku minta maaf semoga kamu bahagia tanpa aku,yaudah supir kamu sudah dateng.see you fuj”

Fuji:”aku juga minta maaf,kalo kamu masih butuh sama aku dateng saja,aku pergi dulu see you!”

Fadly:”iyaa,see you”

Loading

SKIZOFERNIA

oleh: Ni Pt Elisa Juniantari Dewi (Peserta Lomba Cerpen Dies Natalis ke-14 CSSMoRA UIN Walisongo)

Tumbuh bersama ilusi, Tanpa mengenal adanya realita. Pernahkah kalian mengalami itu? Atau kalian  menginginkan hidup seperti itu? 

Skizofrenia, Penyakit gangguan mental yang menyebabkan kita mengalami halusinasi berkepanjangan. Disaat kamu mengidap penyakit tersebut maka yang akan kamu rasakan adalah mengalami delusi, kekacauan dalam berfikir, mengasingkan diri hingga kemungkinan besarnya yang lain merupakan perubahan perilaku. Penyakit ini juga bukan sembarang penyakit, Dikatakan bahwa yang mengidap penyakit ini banyak yang meninggal di usia muda.

Namanya juga penyakit, Baik itu kecil maupun besar. Tetap saja berbahaya. Apalagi kalau tidak ada penanganan sama sekali untuk mencegahnya. 

‘Selamat pagi!!.’

Sesuatu menyembul keluar dari samping bahuku, bersama dengan lengkungan hangat yang menghiasi matanya. Bentuknya seperti kelinci namun bukan juga di kategorikan seperti itu. Rupanya lebih mirip seperti Doraemon namun versi kelincinya. 

“Pagi.” Balasku sambil ikut tersenyum padanya. Mendekat ke arah nakas di dekatku lalu membuka laci paling atas dengan tujuan mengambil sebuah plastik khusus berisi beberapa tablet di dalamnya. “Kau mau meminum itu lagi?.” Tanya doraemon versi kelinci itu. Aku hanya merespon dengan menganggukkan kepala.”Kau sakit?” Tanyanya lagi. Tangan yang tadinya hendak mengambil tablet dari tepatnya kini terhenti karena pertanyaan tersebut.

Jika boleh jujur, Aku sendiri bingung bagaimana hal di sampingku itu tercipta. Namun tidak bisa di pungkiri, Bahwa faktanya yang menciptakannya adalah aku sendiri. 

Kalau tidak di beritahu oleh orang tuaku juga mungkin saja aku akan terus beranggapan bahwa hal yang di pundakku ini ‘nyata’ sedangkan yang  di sekitarnya adalah ilusi. Awalnya memang tidak semudah itu aku menaruh kepercayaan bahwa opiniku ini salah namun lama kelamaan akupun dapat membuka pikiranku. Aku mulai terapi dan minum obat-obatan yang sudah dianjurkan. 

Walaupun efeknya sangat lamban untuk dirasakan atau mungkin sekarang masih belum ada efek apapun namun keyakinan dari orang tuaku bahwa aku akan sembuhpun membuatku percaya bahwa aku akan sembuh nantinya. Terkadang terbesit pertanyaan di kepalaku, Apa yang terjadi dengan ku jika Sasa -Makhluk menyerupai kelinci itu–  menghilang dari hidupku ini? Masih sanggupkah aku menjalani hari?  

Dia hanya sesuatu yang ku buat dari imajinasiku jadi cepat atau lambat aku harus siap saat dirinya menghilang. Sama halnya denganku yang manusia biasa ini, cepat atau lambat pasti harus kembali ke tempat sang pencipta. 

Mari jauhkan pikiran ke arah yang lebih menyenangkan dulu. Jika memang perpisahan akan datang maka mengabadikan kenangan adalah solusinya. Jadi aku berencana untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan sampai waktu perpisahanku dengannya menjemput. 

“Hey, Sasa. Ingin melakukan sesuatu yang menyenangkan?.” Tanyaku dengan maksud menghindari pertanyaannya tadi. 

Makhluk tersebut mengerutkan keningnya, “Sesuatu seperti apa itu?.” Tanyanya balik. Aku terkekeh sebentar lalu mengambil sebuah buku gambar serta pensil warna. “Sesuatu seperti ini!!.” Seru ku girang. 

“Mari kita menggambar!.” Ajak ku. Dia terlihat senang dengan tangannya yang di tepuk terus olehnya. “Ayo! Sasa suka menggambar!.” Racaunya senang. 

Kami menggambar diri kami sendiri, lebih tepatnya jika di lihat oleh orang lain. Akulah yang menggambar diriku dengannya. Benar kata orang, Kenyataan itu menyakitkan. 

Pensil warna menari-nari menghias kertas yang tadinya hanya berisi coretan hitam. Sedikit demi sedikit terisi oleh warna. Namun faktanya, jika tidak ada warna putih maka warna – warna tadi tidak mungkin bisa  ada keberadaanya. 

Sama seperti keberadaan sasa sekarang. Mungkin jika aku tidak pernah tau mengenainya, aku tidak bisa membedakan dunia yang nyata ataupun yang tidak. Karena dirinya juga aku tidak merasakan kesepian selama ini. Begitu berpengaruh kehadirannya untukku, terlintas terus pertanyaan kesanggupanku tanpa ada dirinya. 

Aku menepuk kedua pipiku, ‘Sadarlah! Ini saatnya bersenang-senang, bukan untuk merana ataupun memikirkan nasibku kelak.’ batinku. 

“Ada apa? Kau baik-baik sajakan?.” Tanya sasa padaku. Aku meliriknya, “Ya, Aku baik-baik saja haha… ” Ujarku sambil tertawa hambar. 

Singkatnya. Hari sudah berganti tahun, dan aku sudah di diagnosis sembuh dari penyakit tersebut. Umurkupun sudah mencapai kepala 3 sekarang. Tapi ingatan tentang sosok kecil itu masih bersamaku. Tidak ada lagi suara serta sosok yang selalu menemaniku itu. Walaupun aku sudah mulai beradaptasi dengan dunia luar entah kenapa aku masih merasa kosong.  

Mataku tak sengaja melihat bulan yang sudah berganti tugas dengan matahari, sinarnya menerpa wajah sayuku. Tak sengaja kenangan bersamanya melintas. Saat itu bulan purnama bersinar penuh di langit, sama seperti yang ku lihat hari ini.  

Kami duduk di teras sambil menatap langit. Kakinya diayunkannya olehnya, “Tidakkah bulannya cantik?” Ucapnya membelah keheningan di antara kami. Aku menoleh padanya, sedikit bingung dengan maksud dari ucapannya. Bukankah bulan memang cantik mengapa sosok di sampingnya itu bertanya lagi soal itu?, Heranku saat itu.

Tidak mau berfikir panjang lagi, aku mengangguk mengiyakannya. “Begitulah” Gumamku sambil menatap bulan lagi. Tangannya menyentuh tanganku, “Ada kata yang harus aku katakan padamu” Ujarnya dengan tatapan serius padaku. Aku terkekeh pelan, “Apa itu? Katakan saja” Ucapku. 

“Aku tidak mengetahui apa itu perasaan namun entah mengapa aku merasa kita akan berpisah dan tidak akan bertemu lagi, jadi aku ingin mengucapkan ini padamu.terima kasih karena telah menjadi temanku dan maaf karena sudah membelenggumu selama  ini” Jelasnya sambil menatapku. Air mataku jatuh saat itu, Kesedihan yang ku bendung sedemikian mungkin jadi hancur karena ucapannya. Dari sejak itu, indraku yang mulanya hanya meyakini ilusi sekarang malah beralih pada kenyataan. 

Tiba-tiba pintu ruang kerjaku di buka oleh seseorang yang tidak lain adalah keponakanku sendiri. “Bibi!!” Serunya sambil berlari menghampiriku. “Aku ada hadiah buat bibi!” Ucapnya dengan girang, “Apa itu?” Tanyaku sambil tersenyum tipis. Dia menyodorkan tangan dengan benda yang di genggamannya itu.

Aku terkejut saat melihat benda yang di pegangnya. “Tadaaa!!  Boneka kelinci ini untuk bibi!  Namanya sasa, jaga baik-baik loh ya!  Awas aja sampai rusak, nanti aku gak mau ketemu bibi lagi” Ujarnya dengan girang dan tidak lupa dengan pipinya yang sengaja di kembungkan. 

Aku terdiam menatap boneka tersebut. Melihat tidak ada reaksi yang kunjung aku berikan pada keponakanku, awalnya dia ingin membuka suaranya untuk menanyakanku soal boneka pemberiannya tersebut namun terhenti saat adikku yang merupakan ibunya memanggilnya untuk makan terlebih dahulu. Alhasih boneka tersebut dengan paksa diberikannya padaku.  

Saat pintuku tertutup lagi. Tanganku bergemetar, Air mataku lagi-lagi tidak bisa di bendung. “Aku.. ” Aku menjeda kalimatku. “Aku juga sangat berterima kasih padamu karena telah hadir dalam hidupku. Terima kasih sudah membantuku bangkit dari keterpurukan. Terima kasih telah menjadi teman pertamaku. Terima kasih karena telah mengajarkanku banyak hal. Terima kasih untuk semuanya.” Ucapku sambil memeluk erat boneka tersebut seolah-olah sasalah yang berada di pelukanku sekarang.

Terkadang, Penyakitpun dapat mengajarkan kita suatu hal.

Loading

SOROT

oleh: Luluk Agustin (Peserta Lomba Cerpen Dies Natalis CSSMoRA UIN Walisongo)

Kamera ponsel terus merekam tangan kanan pemuda yang menggenggam sesuatu, pemuda itu berjalan mendekati tukang eskrim yang ada di seberang jalan.

“Pak, tos dulu!” Faisal—si pemuda—mengajak bapak penjual es  krim fist bumb, penjual es krim tersenyum dan menuruti kemauan Faisal. Faisal membalik tangannya, membuka genggaman tangan dan menampakkan lembaran uang seratus ribu “Rejeki buat Bapak,” lagi, bapak penjual eskrim tersenyum, malu-malu dia menerima lembaran uang itu. sorot kamera dari ponsel di tangan kiri Faisal terus merekap raut wajah bahagia dari sang Bapak. Ia tak sadar, seseorang memerhatikan interaksi mereka.

“Makasih ya, Mas!” Bapak penjual es krim tersenyum dengan tulus, matanya sedikit berkaca-kaca, baginya uang sebesar itu sangat berharga.

“Sama-sama Pak!” Faisal mematikan rekaman di ponselnya, memasukkannya dalam kantong celana.

“Mas, lain kali kalau mau ngasih orang itu yang ikhlas.” Greysha—orang yang memerhatikan interaksi Faisal dengan Bapak penjual es krim—terang-terangan menegur Faisal.

“Memangnya tampang saya ini gak ikhlas Mbak?” Tanya Faisal sedikit kesal

“Kalau ikhlas kan gak perlu divideo gitu, pasti mau buat konten. Cih!” Greysha menampilkan raut wajah seperti mengejek Faisal

“Lagian wajah saya gak kelihatan kok, orang gak akan tahu saya siapa di video itu!” Dengan mantap Faisal menjawab, mengira bahwa argumennya akan membungkam perempuan berambut abu-abu di depannya.

“Wajah Masnya emang gak kelihatan, tapi wajah Bapaknya kelihatan. Emangnya Mas udah minta izin untuk merekam? Memangnya mas gak memikirkan gimana perasaan Bapaknya, beliau risih, gak nyaman, malu, dan semacamnya? Mas pernah mikir sampai situ gak?” Masih dengan wajah judesnya, Greysha menampar Faisal dengankata-kata.

“Gak papa kok Mbak, saya gak papa!” Bapak penjual eskrim yang sebelumya hanya mendengarkan perdebatan dua muda-mudi di depannya ikut bersuara.

“Tuh, Bapaknya aja gak papa!” Faisal yang mendapat pembelaan merasa bahwa yang dia lakukan sudah benar.

“Tapi Pak, Bapak punya hak untuk menolak kalau Bapak memang benar-benar tidak merasa nyaman.” Greysha berbicara lembut dengan Bapak penjual eskrim. Faisal sudah membuka mulutnya, siap berbicara menanggapi argument Greysha, “Pak, saya beli es krimnya tujuh ya, kasian adik-adik saya udah nungguin.” Lanjut Greysha sembari melirik enam bocah di seberang jalan.

Dengan cekatan bapak penjual es krim itu menyajikan es krim pesanan Greysha, dia memanggil dua anak laki-laki untuk membawa beberapa es krim yang lain. Mengeluarkan uang dengan nominal besar dan mengatakan kembaliannya untuk bapak itu. Semua itu tidak luput dari perhatian Faisal, dalam hati dia juga mencibir. Sama saja, nominal yang aku beri masih lebih besar.

Setelah perembuan berambut abu-abu itu pergi, Faisal meminta maaf karena kelancangannya. Diam-diam dia juga memikirkan dan membenarkan apa yang gadis abu-abu itu katakan.

Faisal Jalvey, vlogger yang lebih sering menerima pujian karena konten-kontennya yang bermanfaat di akun utamanya. Di akun fake yang ia gunakan untuk mengunggah konten-konten berbagi juga selalu mendapat pujian. Dia nyaris tak pernah mendapat kritikan dan selalu mengabaikan kritikan yang meurutnya tak mendidik. Namun kali ini, ada perempuan yang berani mengkritiknya secara langsung dan suara gadis abu-abu itu masih terngiyang di telinganya.

Masih sedikit kesal, Faisal melempar kacamatanya ke dasbor mobil, memijat alisnya perlahan. Suara gadis itu membuatnya pusing. Ia merasa taka da yang slah dengan apa yang dia lakukan, dia menganggap bahwa gadis itu hanya iri.

Di antara kemacetan yang semakin membuatnya pusing, Faisal tak sengaja melihat ke kursi penumpang. Ada nasi kotak titipan mamanya yang harus dia bagikan. Ia menghela napas berat, masih sedikit ketar-ketir bertemu dengan orang yang seperti gadis itu. ia memutar otak, berusaha menentukan lokasi yang cocok tapi tak terlalau ramai.

Ting!

Di layar ponselnya tertera nama “Mama” 

Mama <3|

Sal, jangan lupa nasi kotaknya dibagiin!

|Anda

Iya, Mama cantik <3

Faisal melemparkan ponselnya bergabung dengan kacamata hitam miliknya. Kemudian keluar dari jalur utama dan berbalik menuju danau dekat sekolahnya dulu. Dia berencana membagikan nasi kotak buatan mamanya ke pedagang yang ada di sana.

Sampai di danau, dia buru-buru mengambil dua kantong palstik besar yang berisi nasi kotak. Menyusuri jalanan menuju taman sekitar danau, sesekali berhenti membagikan nasi itu ke pedagang yang ia lewati. Tanpa ada kamera atau ponsel yang merekam, bahkan Faisal tidak sadar itu hingga di dekat pintu masuk sebelah utara dia bertemu penjual balom. 

“Makasih ya Mas nasinya, ini gak difoto atau divideo gitu Mas?” Penjual balon yang sudah lanjut usia itu bertanya, Faisal terperangah. Itukah dampak dari yang selama ini ia lakukan?

“Eh! Gak kok Bu,” Faisal tersenyum kikuk, ia baru sadar jika ponselnya tertinggal di mobil.

“Alhamdulillah kalau gitu. Soalnya saya ini kadang risih Mas kalau di soting gitu, malu sebenarnya. Tapi karena lebih mementingkan perut, ya kesampingkan dulu rasa malunya. Hebat lho Masnya ini, masih muda tapi kalau ngasih orang gak di soting. Sekali lagi makasih ya Mas!” Ibu itu bercerita dengan wajah penuh kelegaan, ia tak perlu mengesampingkan rasa malu untuk mengisi perut.

Sedangkan Faisal, dia merasa tertampar dua kali. Tak ingin pembahasan itu semakin larut, dia pamit undur diri. Buru-buru ingin segera mandi air dingin untuk menyegarkan otaknya. 

Melewati jalanan yang lenggang, Faisal sesekali memijat alis dan pengkal hidungnya. Hari ini benar-benar membuatnya pusing. Ia terkejut saat tiba-tiba di depannya ada kucing pincang yang menyebrang. Di jalanan satu arah itu Faisal membanting kemudinya ke kiri, tapi karena jalanan licin mobilnya jadi berputar dan terbalik. Ia masih sadar, tapi tak bisa bergerak karena sabuk pengamannya susah dilepas.

Di sisi lain, Greysha yang baru keluar dari toko makanan hewan melihat kecelakaan itu. Ia mengeram kesal, banyak orang yang berkerumun menyaksikan dan merekam dengan ponsel tanpa mau membantu korban. Setelah memasukkan makanan kucing, dia pergi ke kerumunan itu.

“Mbak, Mas, Pak, Bu! Kalau gak mau nolongin jangan di rekam, gak sopan. Bisa melanggar undang-undang etika lho. Tolong dimatikan kameranya, daripada buat ngerekam mending telpon polisi atau ambulan” setelah mengatakan itu, Greysha langsung berlari menuju mobil yang terbalik. Ia sedikit heran, taka da yang mau membantunya.

Ada suara ketukan kaca dari dalam, berarti korban masih sadar. 

Seat beltnya gak bisa dibuka,” Faisal memberi tahu Greysha, dia menunjuk laci dasbhor. Greysha yang maham, menemukan guntung di mobil. Memotong seat belt itu. mengeluarkan Faisal dari mobil yang terbalik.

Orang-orang yang berada di pinggir jalan tadi mendekat, siap dengan kamera ponsel masing-masing.

“Nunduk dulu!” Pinta Greysha, Faisal yang kebingunan di paksa menunduk oleh Greysha. Kepalanya tertutupi jaket putih yang sebelumnya Greysha kenakan.

“Ini Mas Faisal, vloger  yang terkenal itu kan? Kok bisa kecelakaan sih Mas?” Tanya seorang perempuan yang terus saja merekam kejadian hari itu.

“Mbak! Masih gak paham ya yang saya bilang tadi. Ini kprban masih syok lho, jangan ditanya yang aneh-aneh dulu. Daripada ganggu mending pergi sana!” Greysha sudah sangat kesal, mulutnya memang pedas dan kasar kalau berbicara, berbanding terbalik dengan wajah dan penampilannya yang terkesan imut.

Orang-orang yang menonton segera bubar. Tak mau kena semprot untuk ketiga kalinya. Greysha menuntun Faisal duduk di salah satu kursi pinggir jalan, meninggalkannya sebentar untuk mengambil minum. Saat kembali, ia melihat Faisal celingukan seperti mencari sesuatu.

“Nyari apa Mas, ponselnya Mas ada di saya. Ini minum dulu biar tenang. Saya udah telpon polisi dan mereka menuju kemari.” 

“Makasih ya, btw untuk yang tadi pagi, maaf.”

“Aman aja, saya juga minta maaf, nih mulut gak bisa direm soalnya,”

Mereka mengobrol santai, Greysha membanu Faisal membersihkan luka-lukanya dengan tisu. Kucing yang Faisal hindari tiba-tiba lewat di depan mereka seakan tak berdosa, menggoyang-goyangkan ekor panjangnya meskipun jalannya sedikit pincang. Greysha mengeluarkan botol dari tas kecil yang terselempang di tubuhnya. Memberi makan kucing itu dengan pellet kucing di dalam botol.

Faisal yang menyaksikan itu semakin merasa kecil di hadapan gadis yang sempat ia maki-maki dalam hati. Perkataan gadis itu tentang kamera benar adanya. Faisal mengalami sendiri tadi, bagaimana orang tidak benar-benar perduli ingin menolong dan hanya numpang eksis.

Tak lama, polisi dating, meminta Greysha untuk mengantarkan Faisal ke rumah sakit dan membawanya ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.

Loading