Di sebuah desa yang kecil Bernama Desa Pawindan, terdapat sebuah keluarga yang sederhana. Xaquilla Pratama adalah anak pertama dari pernikahan Diana Aprilia dan Kadit Waluyo, suaminya yang telah meninggal dunia. Sejak Ayahnya tiada, kehidupan mereka menjadi semakin rumit. Diana bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka, tetapi dalam perjalanan mencapai kebutuhan itu membutuhkan perjuangan yang pelik.
Xaviera merupakan gadis yang selalu ceria, namun kondisi hidup yang serba kekurangan membuatnya merasa tertekan. Dia adalah satu-satunya cucu yang miskin dari keturunan ayahnya. Keluarga dari pihak ayahnya berkecukupan. Mereka sering mengunjungi nenek dari pihak ayah, namun setiap kali mereka datang, Xaviera dan ibunya selalu terasingkan karena keluarga dari ayahnya tidak suka dengan kehadiran mereka.
Tante Moli, kakak perempuan ayahnya, adalah yang paling keras dalam memperlakukan mereka. Dia sering berkata kasar kepada Xaviera dan Diana, menyebut mereka sebagai beban dan menyalahkan mereka atas kemiskinan yang mereka alami.
“Kalian hanya datang untuk meminta-minta,” kata Tante Moli dengan nada mengejek.
Perkataan-perkataan seperti itu membuat Xaviera menjadi pribadi yang pemarah. Dia sering melampiaskan kemarahannya kepada ibunya, merasa bahwa kebahagiaan hanya bisa dicapai dengan kekayaan.
Namun, suatu hari, kehidupan mereka mulai berubah. Diana menerima kabar bahwa ia diterima bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pekerjaan ini memberikan harapan baru bagi mereka, meskipun perjalanan menuju kebahagiaan masih panjang.
Hari itu, Diana membawa Xaviera mengunjungi neneknya yang sednag sakit. Sesampainya di rumah nenek, mereka disambut dengan pandangan dingin dari keluarga besarnya. Tante Moli tidak bisa menahan diri untuk memberikan komentar sinis.
“Lihat siapa yang datang, si miskin yang hanya tahu minta-minta,” ujarnya dengan tawa mengejek.
Xaviera merasa hatinya terbakar.
“stop tante, sudah berapa kali tante menghina kami. Apa tante tidak sadar pekerjaan yang Ayahku kasih kepada tante, harusnya ibu yang menggantikannya, bukan tante,” ucapnya dengan nada kesal.
“Apa? Kamu berani berkata seperti itu? memang ya, sudah miskin tak ada akhlak pula,” ujar Moli membalas Xaviera.
Diana berusaha menenangkan Xaviera.
“Sabar, Nak. Kita kesini untuk menjenguk nenek, bukan untuk bertengkar,” bisik Diana sambil memegang tangan Xaviera dengan lembut.
Meskipun keadaanya demikian, Diana berusaha menahan diri. Namun, dalam hatinya dia bersumpah untuk membuktikan bahwa mereka bisa hidup bahagia tanpa harus menjadi kaya raya. Mereka menemui nenek yang terbaring lemah di tempat tidur. Nenek tersenyum melihat kedatangan mereka, meskipun senyuman itu tampak terpaksa.
Waktu berlalu, Diana berusaha keras setiap harinya untuk mencari pekerjaan. Dulu Diana pernah kuliah di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) namun, sempat terhenti karena berpindah tempat. Tiga tahunn yang lalu mereka tinggal di Manado bersama Kadit yang bekerja sebagai kepala sekolah dan Diana sebagai guru honorer. Karena Kadit telah meninggal dunia mereka harus berpindah ke sebuah desa dimana Kadit telah menyiapkan rumah untuk keluarga kecilnya dulu yaitu di desa Pawindan.
Pagi yang sangat cerah, Diana menghampiri setiap sekolah yang ada di desa Pawindan. Dengan semangat yang membara, ia yakin bahwa hari ini adalah hari keberuntungannya. Ia berharap semoga doa dan harapannya tercapai hari ini.
“Ya Tuhan, setiap malam aku berdoa. Aku tahu Engkau Yag Maha Kaya, maka berilah hamba rezeki pekerjaa hari ini,” ucap Diana dengan sepenuh hati. Langkahnya penuh harap, meskipun di balik senyumnya tersimpan kekhawatiran akan masa depan.
Diana selalu mengajarkan Xaviera untuk tidak pernah putus asa dalam menghadapi hidup. Meskipun keadaan sangat sulit, mereka tetap teguh dan saling menguatkan. Hari itu, Diana tidak hanya mencari pekerjaan untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk masa depan Xaviera. Dia ingin memberikan yang terbaik bagi putrinya, berharap suatu hari Xaviera bisa meraih cita-citanya tanpa harus merasakan pahitnya kemiskinan seperti yang dialaminya.
Tidak lama setelah ia berjalan beberapa menit, Diana melihat sebuah pengumuman yang menyatakan bahwa sekolah tersebut sedang membutuhkan guru baru.
“Permisi, Pak. Apakah benar di sini membutuhkan guru baru?” tanya Diana.
“Benar, Bu. Mari saya langsung wawancara,” jawab kepala sekolah yang sedang berdiri di depan gerbang.
Diana disambut dengan hangat di SDN 5 Pawindan. Semua tes yang diberikan oleh kepala sekolah dikerjakan dengan baik, dan akhirnya Diana diterima sebagai guru kelas di sekolah tersebut.
“Terimakasih Tuhan,” Diana berbisik dalam hatinya.
Ketika sore tiba, Diana pulang dengan langkah ringan. Sesampainya di rumah, dia disambut oleh Xaviera yang penuh rasa ingin tahu. Dengan bangga, Diana menceritakan kabar baik itu. Xaviera merasakan kebahagiaan yang tulus dalam kebersamaan mereka. Dalam hati, Xaviera tahu bahwa kebahagiaan mereka tidak hanya datang dari pencapaian materi, tetapi dari cinta, dukungan, dan harapan yang mereka bagi bersama. Hari itu mereka merayakan kemenangan kecil yang menjadi landasan bagi kebahagiaan yang lebih besar di masa depan.
Setiap hari Diana mengajar di sekolah itu hingga ia diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Gaji yang diterima cukup untuk membuat kehidupan mereka lebih stabil. Meskipun masih banyak yang harus mereka lunasi, mereka tidak putus asa dan belajar untuk selalu bersyukur. Mereka tidak lagi merasa kekurangan. Xaviera mulai melihat perubahan dalam hidup mereka. Ibunya terlihat lebih bahagia, dan hal itu membuatnya berpikir ulang tentang makna kebahagiaan.
Suatu sore, saat mereka sedang duduk di ruang tamu, Xaviera berkata kepada ibunya, “Bu, aku merasa ada yang berubah dalam hidup kita. Apa ibu juga merasa begitu? apa ibu merasa lebih Bahagia,”
Diana tersenyum, memandang putrinya dengan kasih sayang.
“Kebahagiaan itu bukan tentang seberapa banyak uang yang kita miliki, Nak. Kebahagiaan itu ada di hati kita, bagaimana kita mensyukuri apa yang kita punya dan menjalani hidup dengan penuh kasih sayang.”
Kata-kata ibunya menggugah hati Xaviera. Dia mulai menyadari bahwa selama ini dia telah salah menilai kebahagiaan. Dia mulai berubah, menjadi lebih sabar dan lebih menghargai hal-hal kecil dalam hidupnya.
Suatu hari, nenek mereka meninggal dunia. Keluarga besar berkumpul untuk pemakaman. Di tengah kesedihan, Xaviera melihat sesuatu yang berbeda. Dia melihat bahwa meskipun mereka tidak memiliki segalanya, dia dan ibunya memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh keluarga besar mereka yaitu cinta dan kebersamaan.
Setelah pemakaman, Tante Moli menghampiri mereka.
“Kalian tetap saja miskin, tapi setidaknya kalian punya pekerjaan sekarang,” katanya dengan nada meremehkan.
Xaviera tidak marah. Dia memandang Tante Moli dengan senyum tenang.
“Kebahagiaan bukan tentang seberapa banyak uang yang kita punya, tante. Menciptakan kebahagiaan bukan dengan hal tersebut, namun kebahagiaan tercipta di dalam hati kita.”
Kehidupan terus berjalan, Xaviera kini tumbuh menjadi seorang yang bijaksana. Dia belajar dari pengalaman hidupnya bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa dibeli dengan uang. Kebahagiaan tidak diciptakan dari uang saja, karena terciptanya kebahagiaan itu dari hati. Bagaimana kita bisa mensyukuri apa yang kita miliki dan berbagai kasih sayang dengan orang-orang di sekitar kita. Meskipun banyak tantangan yang mereka hadapi, Xaviera dan Diana tidak lagi merasa tertekan oleh kemiskinan. Mereka menemukan kebahagiaan dalam kebersamaan, cinta, dan pengharapan. Dan itu yang membuat hidup mereka benar-benar Bahagia.
Falak science, or Islamic astronomy, is a field concerned with the observation and study of celestial bodies such as the sun, moon, and stars. In Islam, this knowledge plays a crucial role in determining prayer times and the beginning of Islamic months, including Ramadan and Eid. However, differences in methods used to determine the start of these months often lead to disagreements and conflicts.
Historically, two primary methods have been used: rukyat (direct observation) and hisab (astronomical calculations). Nahdlatul Ulama (NU) follows the rukyat method, adhering to the Prophet’s hadith that mandates visually sighting the moon before confirming a new month. Conversely, Muhammadiyah employs the hisab method, based on the wujudul hilal principle, which determines the start of a month purely through mathematical calculations without requiring direct moon sighting.
This methodological divergence has existed since the colonial era. During that time, rukyat was predominantly practiced by the Muslim community, whereas the Dutch colonial government relied on a fixed calendar system. Differences in regional altitudes also impacted moon sighting results, leading to variations in the declaration of Eid. This challenge persists today, where disparities in moon sighting continue to result in different Eid celebrations within the same country.
Modern astronomical advancements, including telescopes and digital tools, have significantly improved moon observation. Technologies such as computer programs and satellite imagery have enhanced the accuracy of astronomical calculations. Nevertheless, challenges remain, such as weather conditions obstructing observations and differing interpretations of imkan rukyat (visibility criteria for the crescent moon).
From a social perspective, varying Eid dates sometimes create the perception of disunity among Muslims. However, Islam regards differences as a form of divine mercy, and they should not be a source of division. As a country guided by Pancasila, Indonesia has made efforts to accommodate diverse perspectives in determining Islamic holidays. Government initiatives to unify differing viewpoints through consultation and consensus-building deserve recognition.
To bridge the gap in determining the start of Islamic months, several steps can be taken, including fostering dialogue between Islamic organizations, enhancing public literacy in astronomy, and promoting a standardized Hijri calendar. By doing so, the distinctions between hisab and rukyat can be managed wisely, ensuring they contribute to intellectual diversity rather than discord within the Muslim community.
The Importance of Falak Science in Modern Society
Beyond its role in determining religious observances, falak science has broader implications for society. It intersects with meteorology, navigation, and even space exploration. In the past, Muslim scholars such as Al-Battani and Al-Zarqali made significant contributions to the development of astronomical tables, which were later used by European scientists in their research.
In the modern era, falak science is essential for satellite technology, global positioning systems (GPS), and timekeeping. The precise calculations used in hisab are also applied in determining solar and lunar eclipses, planetary movements, and the synchronization of time zones. These applications highlight the continued relevance of Islamic astronomy in scientific advancements.
Bridging Traditional and Modern Approaches
As scientific advancements continue to evolve, there is a growing need to bridge traditional and modern approaches to falak science. While rukyat remains an essential practice rooted in Islamic traditions, integrating modern astronomical tools can enhance accuracy and reliability. Efforts to standardize criteria for moon sighting across different regions can help reduce inconsistencies in determining important Islamic dates.
Collaboration between religious scholars and astronomers is crucial in fostering a balanced approach. Establishing a unified Islamic calendar based on agreed scientific principles could promote harmony within the Muslim community while preserving the authenticity of traditional methods.
Encouraging Public Awareness and Education
Increasing public awareness and education about falak science can also play a significant role in addressing misconceptions. Many people are unaware of the complexities involved in moon sighting and its scientific basis. Educational programs, seminars, and workshops can help enhance understanding and appreciation of both rukyat and hisab methodologies.
Incorporating falak science into the educational curriculum, particularly in Islamic schools and universities, can equip future generations with the knowledge and skills necessary to engage with both religious and scientific perspectives. The use of digital platforms and social media can further facilitate the dissemination of information on the importance of accurate moon sighting practices.
Falak science remains a vital field that bridges religion and science, offering insights into celestial phenomena while playing a fundamental role in Islamic traditions. Although differences in determining the Islamic calendar persist, fostering dialogue, embracing technological advancements, and promoting education can help create a more unified approach. By acknowledging the value of both traditional and modern methodologies, the Muslim community can ensure that falak science continues to be a source of knowledge, unity, and progress.
Pada Sabtu–Minggu, 24–25 Mei 2025, telah diselenggarakan kegiatan Astrocamp bertajuk “Tafakur Alam di Pelukan Malam” di kawasan Kebun Teh Medini, Kendal, Jawa Tengah. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, Kawakib Institute, dan Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Tengah, dengan jumlah peserta sebanyak 40 orang yang berasal dari mahasiswa, masyarakat umum, serta perwakilan dari Lembaga Falakiyah PWNU NTB.
Acara dibuka pada Sabtu malam pukul 19.30 WIB. Dalam sambutannya, Dr. H. M. Basthoni, M.H. menekankan pentingnya tafakur atas ciptaan Tuhan melalui langit malam serta menghargai perjuangan para ilmuwan falak terdahulu. Sementara itu, Ilham Awaludin dari CSSMoRA menyampaikan harapannya agar sinergi antar lembaga ini terus terjalin untuk menyebarluaskan ilmu falak ke berbagai kalangan.
Sesi materi dimulai dengan pengenalan teleskop Seestar oleh Moh Mailan Nahdhoh, S.H. Teleskop ini memadukan sistem manual dan teknologi AI, sehingga gambar langit dapat langsung diolah dalam perangkat. Peserta pun langsung mencoba mengoperasikan teleskop ini.
Selanjutnya, M. Nur Iskandar Fajri, M.H. memberikan pelatihan astrofotografi dan light painting dengan smartphone, sambil menjelaskan pengaturan penting seperti ISO dan shutter speed agar hasil foto langit tampak maksimal.
Malam hari menjadi puncak antusiasme peserta. Langit cerah menghadirkan pemandangan Milky Way yang menakjubkan, disertai kegiatan bakar-bakar santai. Salah satu peserta, Danial Alexa, mengungkapkan “Saya sangat senang, karena ini kali pertama saya melakukan astrofotografi dan mendapatkan hasil yang sangat bagus.”
Kegiatan ditutup dengan pengamatan fajar menjelang subuh, mengajak peserta merenung dalam suasana yang hening dan penuh makna.Astrocamp ini bukan hanya sarana belajar dan observasi langit, tetapi juga media tafakur, kebersamaan, dan refleksi spiritual dalam keindahan alam malam yang tenang.
Cssmorawalisongo.org – Ahmad Agil Tsabata resmi dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Program Studi Ilmu Falak S1 pada Wisuda Tahun 2025. Mahasiswa kelahiran Jember, 29 Desember 2003 ini berhasil menyelesaikan studinya tepat waktu dengan hasil yang membanggakan, menunjukkan dedikasi tinggi terhadap akademik, organisasi, dan pengabdian.
Wawancara dilakukan secara daring melalui WhatsApp (24 /05/2025), mengingat kesibukan dan jarak yang tidak memungkinkan untuk bertemu langsung. Dalam perbincangan hangat tersebut, Agil mengungkapkan bahwa capaian ini adalah buah dari perjuangan panjang dan penuh tanggung jawab.
“Ini adalah sebuah kehormatan sekaligus pengingat bahwa gelar ‘terbaik’ bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar,” ujar Agil.
Ia menjelaskan bahwa selama kuliah, ia memegang teguh prinsip kedisiplinan, konsistensi dalam belajar, serta manajemen waktu yang seimbang antara kuliah, organisasi, pekerjaan, dan kehidupan pribadi. Bagi Agil, konsistensi kecil justru lebih berdampak besar dibandingkan usaha yang besar tapi sesaat.
Salah satu tantangan terbesar selama masa kuliah justru datang dari dalam diri sendiri.
“Yang paling berat itu berdamai dengan diri sendiri. Kadang kita ragu, lelah, merasa tidak mampu, bahkan sempat merasa salah jurusan seperti saya di awal-awal. Tapi dari situ saya belajar, jangan jadikan itu beban. Ambil jeda, renungi, lalu bangkit lagi. Kesulitan itu pintu menuju versi diri yang lebih kuat,” jelasnya.
Agil menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada kedua orang tua, para dosen, teman-teman seperjuangan, khususnya teman sekamar di pondok YPMI Al-Firdaus, serta para alumni Nurul Jadid di Semarang yang banyak berdiskusi dengannya selama proses penyusunan skripsi.
Setelah wisuda, Agil berencana kembali ke kampung halamannya di Jember untuk melaksanakan tanggung jawab pengabdian. Ke depan, ia juga berencana melanjutkan studi S2 di UIN Kiai Haji Ahmad Siddiq Jember, mengambil bidang yang lebih spesifik di Hukum Keluarga Islam.
Kepada mahasiswa lainnya, Agil menitipkan pesan penuh semangat,
“Jangan menyerah pada kegagalan, karena di dalam setiap proses pasti ada pembelajaran. Cari mentor, dan pandai-pandailah bergaul dengan orang-orang positif. Jaga keseimbangan antara akademik, kehidupan pribadi, dan organisasi. Jangan tumbang karena hal apa pun.”
Kisah perjuangan Ahmad Agil Tsabata membuktikan bahwa ketekunan, ketulusan, dan keberanian untuk terus melangkah mampu menghantarkan seseorang mencapai puncak prestasi. Namun baginya, puncak ini hanyalah titik awal dari tanggung jawab yang lebih besar kepada masyarakat dan ilmu pengetahuan.
cssmorauinws.org– Ketegangan sudah terasa bahkan sebelum moderator mengucapkan sepatah kata. Aula tempat debat digelar seolah berubah menjadi arena pertarungan ide, bukan hanya antara dua pasang calon ketua CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, tetapi juga antara dua cara pandang dalam memajukan organisasi.
Sabtu, 17 Mei 2025, dua paslon dari angkatan 2023 resmi beradu gagasan dalam Debat KPU CSSMoRA UIN Walisongo. Asyraf Zofir Wafa dari Bengkulu, tampil sebagai Paslon nomor 1, membawa semangat konsolidasi internal lewat Talkshow sebagai program unggulannya. Di seberangnya, Paslon nomor 2, Wika Winanta dari Riau, menjanjikan gairah baru lewat Volunteer sebagai program unggulan, yaitu sebuah gerakan pengabdian kepada masyarakat.
Debat yang dihelat Komisi Pemilihan Umum CSSMoRA ini dihadiri oleh pengelola Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB), Ahmad Munif, serta perwakilan Ketua Umum CSSMoRA Nasional. Dua panelis senior, Wali Cosara dan Hesti Suci Cahyani, tampil tajam dalam menguji ketegasan visi dan kesiapan teknis masing-masing kandidat.
Para kandidat beradu visi dan cara pandang. Bukan hanya soal program, perbedaan mencolok tampak dari cara kedua paslon memandang peran CSSMoRA ke depan. “Saya mempunyai visi yaitu mewujudkan CSSMoRA yang kokoh dalam kebersamaan, berlandaskan nilai kekeluargaan, serta bertumpu pada pondasi keadilan dan kedisiplinan” ujar Asyraf.
Sementara itu, Wika menyentil pentingnya CSSMoRA untuk keluar dari zona nyaman. “Menjadikan CSSMoRA sebagai rumah yang teduh bagi jiwa-jiwa berilmu, tempat tumbuhnya semangat, berkembangnya prestasi, dan bertemunya asa santri dalam satu ikatan kekeluargaan, yang berdaya, berkarya, dan bermakna” ujar Wika.
Acara debat berlangsung tegang namun penuh gelak tawa. Momen tegang sekaligus mengundang tawa terjadi ketika salah satu panelis Hesti, melempar pertanyaan tentang alasan mengapa mereka harus dipilih? Jawaban kedua paslon menunjukkan ketegasan, namun dengan gaya berbeda. Asyraf menjawab iya layak dipilih karena lebih tau mengenai CSSMoRA, sementara Wika menjawab bahwa ia berhak dipilih karena sebagai sekretaris 2 yang termasuk BPH lebih mengeri tentang persoalan CSSMoRA UIN Walisongo dan satu-satunya perempuan pertama yang mencalonkan dirinya sebagai Ketua.
Namun suasana tak melulu serius. Di sela-sela argumen tajam, canda tawa sesekali muncul, membuktikan bahwa debat ini bukan semata tentang menang atau kalah, melainkan tentang kematangan gagasan dan sportivitas.
Debat ini bukan akhir, melainkan titik awal dari partisipasi aktif para anggota CSSMoRA dalam menentukan arah gerakan. Siapa yang layak memimpin? Program siapa yang lebih menjawab tantangan zaman? KPU CSSMoRA UIN Walisongo 2025 memberi Anda kesempatan untuk memilih, bukan sekadar menyaksikan.
Satu hal yang pasti, CSSMoRA UIN Walisongo sedang menulis sejarahnya sendiri. Dan Anda adalah bagian dari pena yang menentukan paragraf berikutnya.
Semarang — Dalam rangka menjalankan program divisi Pengabdian Masyarakat dan Pemberdayaan Pesantren (P3M), CSSMORA UIN Walisongo mengadakan roadshow bertajuk “Desain Bukan Cuma Gaya, Tapi Cara Menyampaikan Makna” di Pondok Pesantren Ar-Rois Cendekia Semarang pada Ahad, (4/5/2025)
Kegiatan ini bertujuan tidak hanya mengenalkan teknik desain grafis, tetapi juga menanamkan pemahaman bahwa desain memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan dan makna yang mendalam. Para peserta, yang merupakan santri dari Ponpes Ar-Rois Cendekia, diajak memahami bahwa visual bukan sekadar ornamen, melainkan medium komunikasi yang efektif, terlebih di era digital.
Dalam sambutannya, pengajar Ponpes Ar-Rois Cendekia, Andi Maulana, S.H., M.H., menyampaikan pentingnya sinergi antara visual dan makna. “Di era digital ini, keindahan visual harus selaras dengan konten yang bermakna, agar pesan dakwah, edukasi, maupun informasi dapat tersampaikan secara efektif,” ujarnya ketika menyampaikan sambutan. Ia juga menekankan bahwa meskipun Canva adalah alat yang mudah digunakan, kekuatan desain tetap terletak pada bagaimana elemen-elemen visual disusun secara naratif dan bermakna.
Materi disampaikan oleh Alfin Khomsah Sabilal H., yang membuka sesi dengan penjelasan teori mengenai prinsip desain bermakna, seperti pemilihan warna simbolis, pemanfaatan ruang (layout), serta keseimbangan visual yang mengarahkan perhatian pembaca. Usai teori, para santri langsung diajak praktik membuat poster bertema “Selamat Idul Adha” menggunakan Canva.
Dalam sesi praktik, santri diminta mengeksplorasi fitur-fitur lanjutan Canva, mulai dari ilustrasi, animasi ringan, hingga pemilihan palet warna yang sesuai dengan tema hari raya. Suasana pelatihan terasa hidup, dipenuhi diskusi seru, tawa ringan, namun tetap fokus dalam menyempurnakan desain masing-masing. Semangat mereka mencerminkan antusiasme tinggi dalam belajar dan berkreasi.
Di akhir kegiatan, panitia menilai hasil karya para santri berdasarkan tiga aspek: kreativitas, kejelasan pesan, dan penerapan makna visual. Tiga desain terbaik kemudian dipresentasikan langsung oleh pembuatnya dan mendapatkan apresiasi serta hadiah menarik dari panitia.
Ketua Umum CSSMORA UIN Walisongo, Muhammad Ilham Awaludin, menyampaikan harapannya atas terselenggaranya kegiatan ini. “Kami berharap pelatihan ini dapat membantu para santri dalam tugas-tugas sekolah, sekaligus menjadi bekal keterampilan yang berguna di era digital ke depan.”
Roadshow ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Pengabdian P3M CSSMORA UIN Walisongo tahun akademik 2024/2025, dan direncanakan akan dilanjutkan ke beberapa pesantren dan sekolah lainnya di masa mendatang.
Mereka menghalangi jalan. Lima orang memakai kaus hitam dan memakai celana jeans sobek yang dihiasi aksesoris rantai di dekat saku. Sablon logo tulisan berbentuk kupu-kupu menghiasi kaos kumal mereka, di bawah logo tersebut tertulis “Slank NggakAda Matinya“.
Mereka terlihat masih muda, mungkin sekitar 17 tahun. Berperawakan tinggi dan ramping. Salah satu dari lima orang tersebut berjalan dari pematang jalan menuju ke tengah. Pelan tapi pasti. Matanya memicing. Tak berselang lama, terlihat sebuah truk. Mereka menyebutnya lempengan. Yang berarti truk yang memuat kontainer dari pelabuhan tetapi sedang kosong muatannya. Ia Terlihat melambaikan tangan, yang satunya lagi berteriak, seraya menelungkupkan kedua telapak tangannya di atas kepala, seperti sedang memohon, dan sisanya melihat rekannya dari tepi jalan sembari bersua dengan rokok bekasnya.
Aku tidak menahu tujuan mereka. Tampaknya datang dari jauh, namun seperti tanpa bekal apa pun. Makanan? Hei, itu bukan yang mereka butuhkan, anak-anak itu percaya, mereka tidak akan mati hanya karena makanan. Imunitas tubuh anak-anak itu kuat, mampu bertahan dalam kondisi apa pun. Mereka hanya butuh Tuhan, titik. Walaupun kenyataannya mereka tak menjalankan kewajiban kepada Tuhan. Toh, Tuhan pun masih mengasihani mereka. Buktinya mereka hidup sampai sekarang.
” Ini mas makanannya.”
“Makasih mbak,” ujarku pada penjual makanan yang menyajikan seporsi nasi padang. Warung ini tidak besar, halamannya pun tidak terlalu luas, hanya sekitar lima kali enam meter, dan terletak di selatan jalan pantura. Perutku sudah berbunyi, perlahan kulahap makananku sembari menatap jalan beraspal tebal yang berdebu. Truk-truk besar lalu lalang, membawa berbagai muatan: pasir, mebel, besi, motor, ah tak perlu kusebutkan semua, kalian pasti sudah tahu sendiri jalur pantura, ‘kan? Namun yang paling menarik perhatianku adalah mereka berlima. Memutar kembali masa-masa itu. Andaikan saja aku lebih dewasa, andaikan saja bapak tahu, mungkin saja semua tidak terjadi.
****
“Sesok sido melu, Mar?” (besok jadi ikut, Mar?). Tanpa basa basi aku pun mengangguk menerima ajakan temanku.
Bapak di rumah, bekerja sebagai guru dan mengajar di madrasah merupakan profesinya. Bapak adalah insan yang amat takut dengan Tuhannya. Pernah suatu malam, kulihat Bapak duduk bersimpuh sendirian di kamar –perlu kau tahu, rumah kami memang tidak ada tempat khusus untuk ibadah— kudengar dia seperti sedang cegukan disertai tetesan air yang menurutku laksana butiran-butiran embun pagi. Saat bapak telah tidur, aku pun memegang sajadah yang dipakai Bapak. Basah. Memang benar, Bapak menangis.
Bapak tidak menahu jika aku jarang shalat, puasa, dan ibadah-ibadah lainnya. Padahal beliau adalah tokoh masyarakat. Buat apa? Aku percaya Tuhan, tetapi nyatanya tidak shalat pun aku masih hidup, aku masih bisa makan, lalu untuk apa sembahyang? Pikirku.
Bapak juga tidak tahu jika aku sering pergi ke suatu tempat yang jauh, dengan dalih mengikuti pengajian. Konser nampaknya lebih cocok untukku. Hanya di dalam konser seorang Martoyo mendapatkan kesenangan, dan hanya di dalam konser seorang Martoyo menjadi dirinya sendiri. Bukan seseorang yang sedang menyelinap dari dirinya sendiri dan menjadi sosok lain sebab itu yang diinginkan Bapak.
“Le, kowe arep neng ndi?” (Nak, kamu mau kemana?) Dengan logat jawanya yang khas, dia bertanya padaku yang sedang mengenakan kemeja abu-abu lengan panjang, sarung yang asal-asalan kupakai sehingga lipatan yang terdapat di perut terlihat menggelembung. Tak lupa aksesoris kepala yang kujinjing sembari menuju pintu rumah.
“Biasa pak,” Bapak hanya bisa terdiam. Sebenarnya aku tidak ingin memakai kemeja dan sarung, aku seorang Martoyo hanya menjadikan kemeja sebagai baju penyamaran hobiku. aku mengenakan kaus hitam yang sudah dipotong lengannya, sehingga hanya menyisakan lubang besar di kedua sisi kaos. Jika dipakai, bahu sampai bawah ketiak akan terlihat. Tidak kuketahui namanya, tapi aku biasa menamainya singlet. Sesaat setelah keluar dari pintu, temanku datang menjemput menggunakan motor alfa klasik yang suaranya menggelegar. Dengan motor itu kami melaju menuju tempat ‘ganti baju’. Rumah Santo.
Aku bersiap. Di rumah Santo, aku duduk di kursi kayu yang berada di teras rumahnya, rehat sejenak menanti jam keberangkatan. Aku yang notabene seorang Martoyo juga butuh istirahat. Martoyo juga seperti kalian; manusia biasa. Santo menyeduh kopi, dua cangkir, santo menyodorkan salah satunya ke arahku.
“To, kowe Percoyo pengeran?” (to, kamu percaya Tuhan?) tanyaku padanya. Dan seperti biasa, Santo tidak peduli. Dia hanya diam tak bergeming seraya menyeruput kopinya. Berarti dia belum berubah. Santo lebih dari aku, lebih bodoh. Dia bahkan tidak tahu Tuhan itu apa, hidupnya tidak teratur sama sepertiku, hanya saja aku masih percaya pada tuhan. Tuhan tidak pernah marah padaku, kenapa? Karena aku seorang Martoyo percaya Dia. Aku juga yakin Tuhan tidak akan berani marah pada Martoyo. Dia Maha Pengasih, ‘kan?
Malam telah larut, kami yang berangkat telah sampai di jalan raya. Berjalan kaki menuju jalan raya agaknya cukup memakan tenaga. Juga angin malam yang berhembus turut mengelus-elus kulit kami yang hanya berlekatkan singlet. Dingin, tapi kami terbiasa. Jarak antara rumah Santo dan jalan raya cukup dekat hanya sekitar 15 menit. Meski hanya 15 menit, malam ini ritme waktu sepertinya berubah, terasa lama, kemudian perasaan tak mengenakkan mulai muncul. Ah, mungkin cuma perasaan. Biarkan saja. Aku seorang Martoyo, tidak akan takut dengan perasaan.
Sampai hal itu terjadi.
Mataku mengerjap kerjap mencari tahu apa yang sedang terjadi, yang tersisa dari sebuah memori otak sekarang hanyalah suara klakson yang nyaring, dan seberkas sorot yang menyilaukan dengan aku yang berdiri di depan mereka. Perlahan kudapati aku seorang Martoyo terkapar di atas aspal. Perlahan juga kudapati aku seorang Martoyo tidak bisa bergerak. Di pelupuk matanya sekarang hanyalah noda darah yang mengalir, di ikuti seberkas masa lalu yang disertai penyesalan. Di dalam hati, aku seorang Martoyo berkata, “apakah Tuhan marah pada Martoyo?”
Di tengah kejadian, aku seorang Martoyo mendengar suara sepeda dengan pria paruh baya berpeci putih di atasnya yang dengan segera mengulurkan tangannya di depan pelupuk mataku. Bapak. Ia nampaknya sudah curiga padaku sedari berangkat, dan dengan sengaja mengikutiku lalu menemukan seorang Martoyo yang tergeletak tak berdaya. Sejak saat itu aku bukanlah seorang Martoyo, tetapi aku hanyalah Martoyo.
******
“PUAAK MANDEEK! “ (pak berhenti!)
Braak!
Uhuk.. Uhuk.. Aku tersedak, mendengar suara barusan sontak saja membuat terkejut semua orang termasuk aku yang sedang mengisi perut. Aku tahu apa yang terjadi. Kerumunan pun tak terhindarkan. Bagai semut mengerubungi tetesan sirup. Perlahan aku menerobos kerumunan dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dan benar saja, tergeletak salah satu dari mereka berlima –yang berjalan ke tengah jalan— darah mengalir kesana kemari, dan ia tak bergerak. Temannya hanya memegangi sembari meminta tolong, yang satunya lagi berteriak histeris.
Orang yang mengerubungi pun hanya berbisik bisik tak karuan, sibuk memotret kejadian seakan dirinya adalah reporter televisi yang digaji. Tak ada yang menelepon polisi, ambulans, atau semacam bantuan lainnya. Yang ada hanyalah tatapan sinis dari mata yang sok suci. Sedangkan aku sendiri, hanya berdiri mematung menatap mereka sambil menggerayangi sisa-sia makanan di sela-sela gusi dengan jari. Aku tak mau tahu nasib mereka, aku tak peduli. Hanya penasaran saja bagaimana Tuhan bekerja, apakah Tuhan mengasihaninya? Jika benar, aku ingin melihat langsung, bagaimana kasih sayang-Nya bekerja?.
Cerpen ini telah terbit di Majalah Al Irsyad edisi 12 tahun 2021. Penulis adalah orang yang problematik, yang terancam kena gangguan jiwa kalau tidak menulis.
Kementerian Agama Republik Indonesia beserta dua ormas besar Islam, yakni NU dan Muhammadiyah, secara resmi menetapkan 1 Syawal 1446 H pada hari Senin, 31 Maret 2025. Penetapan tersebut didasari oleh kondisi hilal di seluruh Indonesia yang masih berada di bawah ufuk.
Menteri Agama Republik Indonesia, Nasarudin Umar, memaparkan bahwa dalam penentuan awal bulan Hijriah, pemerintah menggunakan kriteria yang telah disepakati oleh Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yakni ketika hilal mencapai ketinggian 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Namun, data hilal pada tanggal 29 Maret 2025 atau 29 Ramadan 1446 H menunjukkan bahwa hilal masih di bawah ufuk sehingga tidak mungkin terlihat oleh perukyat.
“Pertama, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama menggunakan kriteria visibilitas hilal MABIMS dalam menentukan awal bulan Kamariah yang mensyaratkan ketinggian hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Adapun posisi hilal hari ini di seluruh Indonesia masih di bawah ufuk dengan ketinggian berkisar minus 3 derajat 15 menit 47 detik, ya, sampai dengan 1 derajat 4 menit 57 detik, ya, dan sudut elongasi 1 derajat 12 menit 89 detik, ya, hingga 1 derajat 36 menit 38 detik.”
“Dengan demikian, secara hisab, data hilal pada hari ini belum memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS. Kedua, pada hari ini, Sabtu, 29 Maret 2025, yang bertepatan dengan tanggal 29 Ramadan 1446 Hijriah, telah masuk laporan dari para petugas rukyah di berbagai daerah di Indonesia yang telah melaksanakan pengamatan hilal, dan tim penerima laporan rukyah di pusat telah mengonfirmasi bahwa hilal tidak terlihat,” ungkapnya dalam konferensi pers.
Berdasarkan hal tersebut, pemerintah kemudian menetapkan bahwa dilakukan istikmal dan disepakati bahwa 1 Syawal 1446 H jatuh pada Senin, 31 Maret 2025.
“Oleh karenanya, berdasarkan hisab posisi hilal wilayah Indonesia yang tidak memenuhi kriteria MABIMS serta tidak adanya laporan hilal terlihat, maka disepakati bahwa tanggal 1 Syawal tahun 1446 Hijriah jatuh pada hari Senin, tanggal 31 Maret 2025 Masehi. Dengan demikian, terjadi istikmal. Jadi, disempurnakan menjadi 30 hari puasa kita pada hari ini,” imbuh Nasarudin Umar saat konferensi pers.
Senada dengan pemerintah, NU dan Muhammadiyah juga menetapkan awal Idul Fitri pada hari Senin, 31 Maret 2025. Hal tersebut diungkapkan oleh masing-masing ormas melalui pemberitahuan resminya. Muhammadiyah dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 1/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1446 Hijriah dan NU melalui ikhbar resminya pada surat nomor 3797/PB.01/A.1.01/.47/99/3/2025.
Siapa sangka kalau pengetahuan kita selama ini mengenai konsep heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya) ternyata memiliki sejarah panjang nan kelam. Dalam sejarah tercatat, perkembangan dari keyakinan geosentris menuju heliosentris nyatanya tidak semulus seperti yang kita bayangkan. Sebab, peralihan keyakinan tersebut melibatkan banyak pihak, mulai dari otoritas agama (gereja), masyarakat, hingga ilmuwan.
Pemahaman mengenai geosentris (bumi sebagai pusat semesta) ternyata juga sempat ilmuwan muslim anut pada masa itu. Di antara tokoh-tokoh terkenal yang menganut paham geosentris adalah Al-Khawarizmi, penemu angka nol dan perhitungan aljabar; Abi Yusuf Ya’qub Al-Kindi; Muhammad bin Jabir bin Sinan atau Al-Battani; serta Al-Farabi.
Di kitab ini kita akan diajak berkenalan dengan astronomi klasik oleh KH. Zubair Umar dan juga bagaimana cara menghitung arah kiblat, waktu salat hingga awal bulan.
Namun sebelum itu semua, terlebih dahulu KH. Zubair memulai dengan mengenalkan karakteristik dan hukum mempelajari ilmu tersebut. Nama ilmu ini adalah ilmu hisab dan ru’yah, yang juga dikenal dengan ilmu falak dan miqat.
Karakteristik dan Hukum Mempelajari Ilmu Falak.
Ilmu Falak merupakan salah satu cabang ilmu astronomi (al-Hay’ah). Dalam tradisi Arab, ilmu yang disebut “astronomi” oleh bangsa Yunani terbagi menjadi tiga cabang: washfi, thabi’i, dan amali.
Ilmu astronomi (al-Washfi):
Ilmu yang membahas keadaan benda-benda langit, seperti gerakan, titik terbit, cara pergerakan, ketinggian, penurunan, durasi siang dan malam, bulan, tahun, hilal, gerhana, dan sebagainya.
Ilmu astronomi (al-Thabi’i):
Ilmu yang mempelajari sifat benda-benda langit dari segi pengaruhnya terhadap peristiwa tertentu, sebab-musababnya, dan hukum-hukum yang terkait dengannya. Ilmu ini dikenal juga dengan nama ilmu astrologi atau ilmu peramalan (al-Ahkam). Dan ilmu astronomi jenis ini yang diharamkan dalam Islam.
Ilmu astronomi (al-Amali):
Ilmu yang mengajarkan cara mencapai pemahaman tentang kedua cabang ilmu sebelumnya dengan menggunakan alat seperti bola langit (astrolab), kuadran, tabel astronomi, logaritma, dan sebagainya. Ilmu inilah yang menjadi fokus dalam kitab ini.
Menurut KH. Zubair Umar,. Mempelajari ilmu astronomi dihukumi sebagai fardhu kifayah. Namun, dalam kondisi tertentu, ilmu ini bisa menjadi fardhu ‘ain. Misalnya, jika seseorang hendak bepergian ke daerah yang jauh dari ahli arah kiblat, maka memahami dalil-dalil kiblat menjadi wajib baginya.
KH. Zubair Umar mengutip dari pendapat Imam Ibnu Hajar dalam Fath al-Jawad yang menyatakan: “Mempelajari dalil-dalil arah kiblat saat hendak bepergian ke tempat yang minim ahli penunjuk arah kiblat adalah fardhu ‘ain. Sedangkan di daerah yang banyak ahli penunjuk kiblat, hal ini menjadi fardhu kifayah.”
Ilmuwan Muslim dan Paham Geosentris
Dalam kitab Khulashotul Wafiyyah disebutkan bahwa paham geosentris pertama kali dipopulerkan oleh Ptolemaeus. Ia mengemukakan bahwa bumi adalah pusat alam semesta, dan seluruh benda langit bergerak mengelilinginya. Pendapat ini diterima luas oleh banyak kalangan pada masa itu, termasuk ilmuwan Muslim.
Namun, Pythagoras dari Italia yang hidup setelah masa Ptolemaeus memiliki pandangan berbeda. Ia berpendapat bahwa bintang-bintang dan benda langit lainnya bergerak dalam orbit masing-masing, dengan matahari sebagai pusat alam semesta.
Pandangan ini belum terkenal pada zamannya hingga munculnya tokoh-tokoh ilmuwan besar lainnya yang mendukung pandangan heliosentris ini.
Ilmuwan Muslim yang hidup di masa kejayaan peradaban Islam juga turut menganut pandangan geosentris yang diperkenalkan oleh Ptolemaeus. Di antara tokoh-tokoh terkenal yang menganut paham ini adalah:
Al-Khawarizmi, penemu angka nol dan perhitungan aljabar, yang juga mengembangkan tabel-tabel astronomi berdasarkan model geosentris.
Abi Yusuf Ya’qub Al-Kindi, filsuf besar yang menulis banyak karya tentang astronomi dan kosmologi.
Al-Battani (Muhammad bin Jabir bin Sinan), yang menyempurnakan perhitungan gerak benda langit dan menghasilkan tabel astronomi akurat, bahkan menjadi rujukan ilmuwan Barat.
Al-Farabi, filsuf dan ilmuwan Muslim yang membahas astronomi dalam konteks filsafat alam.
Para ilmuwan ini tidak hanya menerima pandangan Ptolemaeus, tetapi juga mengembangkannya melalui observasi dan perhitungan yang lebih rinci. Hasil karya mereka, seperti tabel astronomi dan metode perhitungan gerhana kemudian menjadi rujukan penting bagi peradaban Islam dan Eropa pada masa itu.
Kisah Copernicus dan Munculnya Paham Heliosentris
Setelah paham geosentris, kemudian muncullah seorang pria bernama Copernicus pada tahun 1530 Masehi. Ia mahir dalam ilmu matematika dan mengabdikan dirinya pada ilmu astronomi, pengamatan (rasyad), dan hikmah.
Selain itu, terdapat pula seorang pria dari Denmark bernama Tycho Brahe yang hidup pada tahun 1582 M, seorang ilmuwan lain dari Jerman bernama Kepler pada tahun 1645 M, dan seorang ilmuwan dari Italia bernama Galileo pada tahun 1649 M.
Mereka semua kembali kepada pandangan yang dianut oleh Pythagoras, yang berpendapat bahwa matahari adalah pusat dunia, sementara bumi dan benda-benda langit lainnya berputar mengelilinginya. Urutannya adalah Merkurius, Venus, kemudian bumi (yang diikuti oleh bulan), lalu Mars, Jupiter, dan Saturnus.
Mereka mendukung pandangan ini dengan menerapkannya pada kaidah-kaidah ilmu matematika dan menjadikan ilmu astronomi berdasarkan fondasi yang nyata. Ketika Copernicus mempublikasikan pendapatnya dalam sebuah kitab berjudul De Revolutionibus Orbium Coelestium (Pergerakan Benda-Benda Langit), ia dihadapkan pada sidang oleh Dewan Gereja Katolik di Roma.
Gereja memvonisnya sebagai sesat dan ateis. Mereka melarang penyebaran kitabnya dan mencegah orang untuk membacanya. Bahkan, jika memungkinkan, mereka akan membakar Copernicus bersama kitabnya. Meski demikian, kitab tersebut malah menjadi terkenal, dan pandangan Copernicus tersebar hingga akhirnya dikenal secara luas.
Perkembangan Ilmu Astronomi dan Penemuan Newton
Kemudian, mendekati abad ke-18, Isaac Newton menemukan prinsip gravitasi universal yang mengatur semua gerakan benda-benda langit. Ia menjelaskan dan menetapkan hukum-hukum tersebut secara rinci. Penemuan Newton ini kemudian diperkuat oleh ilmuwan Prancis bernama Laplace, yang memperkuat dan menyempurnakan teori-teori gravitasi melalui perhitungan matematis yang akurat.
Lalu, orang-orang mulai memperhatikan ilmu astronomi dengan lebih serius berdasarkan metode baru ini. Cara ini menjadi cara yang dikenal luas di kawasan Eropa dan disebut sebagai “sistem astronomi modern”, meskipun pada hakikatnya sistem ini adalah lanjutan dari apa yang sebelumnya dikenal sebagai “sistem lama”.
Tidak ada perbedaan besar antara sistem lama dan baru. Tentang gagasan bahwa bintang-bintang tetap (seperti rasi bintang dan bintang lainnya) adalah benda yang bersinar dengan cahaya sendiri.
Namun, sistem lama menyatakan bahwa bintang-bintang tetap berada di langit ke-8, sedangkan sistem baru menyatakan bahwa mereka tersebar di berbagai langit yang berjauhan satu sama lain.
Menurut sistem baru, bintang-bintang itu adalah matahari seperti matahari kita, dengan cahaya yang bersumber dari dirinya sendiri, dan sebagian bahkan lebih besar dari matahari kita.
Pada akhirnya, uraian panjang tersebut hanyalah sekelumit sapaan yang KH. Zubair jelaskan dalam mukaddimah. Di dalam kitabnya masih ada berbagai ilmu dan tata cara perhitungan tentang ilmu falak mulai dari urfi hingga hakiki.