Pengembangan Skill CSSMoRA (PSC) sudah terlaksana sampai saat ini sebanyak 5 kali. Pada kesempatan kali ini PSC 5 membahas kembali terkait desain namun dengan tema yang berbeda dari sebelumnya. Pada kesempatan kalo ini tema yang dibahas yaitu mengenai “Permainan Warna dan Pemilihan Font dalam Desain”.
PSC 5 kali ini dilakukan secara offline dan bertempat di Gazebo YPMI Al Firdaus pada Sabtu, 26 Maret 2022 pukul 13.00 WIB dan berakhir pada pukul 16.00 WIB dengan pemateri yaitu kak Andi Evan Nisastra (Anggota CSSMoRA angkatan 2018).
Selama diskusi berjalan para peserta sangat antusias dalam mengikuti kegiatan karena tema pembahasan kali ini sangat menarik.
Menurut kak evan (pemateri PSC 5), untuk membuat desain yang baik harus memperhatikan penggunaan dan kolaborasi warna serta pemilihan font tulisan yang benar supaya desain yang kita buat akan enak dipandang dan memiliki nilai estetika yang tinggi.
Berbeda dengan PSC yang membahas tentang desain sebelumnya, pada kesempatan kali ini pemateri meminta kepada seluruh peserta yang hadir untuk membuat desain flayer PSC 5. Para peserta PSC 5 terdiri dari angkatan 2018, 2019, dan 2021. Semua peserta yang hadir setelah membuat desain flayer PSC 5 oleh pemateri diminta untuk mempresentasikan hasil desainnya kepada teman-teman yang lainnya.
Melalui PSC kali ini diharapkan para anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo dapat membuat desain kegiatan serta bisa saling berbagi informasi dan saling belajar. Dengan semakin banyaknya para ahli desain yang dimiliki oleh CSSMoRA diharapkan media sosial CSSMoRA akan semakin aktif lagi.
Hallo sahabat loyalitas tanpa batas, kali ini CSSMoRA UIN Walisongo Semarang mengadakan acara matrikulasi untuk menyambut mahasiswa baru PBSB angkatan 2021. Matrikulasi tersebut dilaksanakan selama dua hari yaitu pada tanggal 16-17 desember 2021 di Kampus 3 UIN Walisongo Semarang dan di ikuti oleh 10 orang anggota baru Penerima Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) 2021 sebagai peserta dan 10 orang anggota PBSB dari angkatan 2019 sebagai penitia sekaligus peserta acara matrikulasi tersebut.
Acara matrikulasi ini merupakan kegiatan untuk memenuhi kompetensi peserta didik agar kesenjangan antara subtansi dan pengalaman belajar dari kurikulum yang berbeda dapat terpenuhi sesuai kompetensi yang harus dikelola satuan pendidikan secara terencana, terarah, terprogram dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam sambutan bapak Dr. Moh Khasan M.Ag. selaku pengelola PBSB UIN Walisongo Semarang, beliau menyampaikan bahwa “Acara matrikulasi ini dibuat untuk memberikan pembekalan kepada mahasiswa baru, khususnya terkait dengan kebijakan dan adminitrasi baik dari kemenag dan fakultas.”
Adapun acara matrikulasi mahasiswa baru PBSB UIN Walisongo Semarang ini di buka langsung oleh Dekan Fakultas Syariah dan Hukum yaitu bapak Dr. KH. Arja Imroni M.Ag. Beliau menyampaikan bahwa “10 orang yang lolos seleksi PBSB ini adalah proses dari hasil kompetensi yang luar biasa. Kewajibannya adalah belajar karena semua sudah di back up oleh Kementrian Agama Republik Indonesia, maka tanggung jawab kita dari amanah itu adalah belajar dengan sebaik-sebaiknya.”
Tidak hanya itu beliau juga menyampaikan bahwa tujuan dari matrikulasi ini adalah untuk memberikan pembekalan kepada mahasiswa untuk sukses study di Ilmu Falak meskipun sudah ada PBAK.
Hamparan sawah yang terbentang luas seolah tanpa batas yang ku lalui adalah salah satu alasan kesukaanku berplesir menggunakan kereta. Hanya saja aku benci suaranya. Headset tersumpal di telingaku sejak ku lewati gerbang tiket, menghalau bising yang terkadang membuatku mual.
Duniaku secara tak sadar adalah satu kesatuan yang terpisah dari ruang dan waktu makhluk lain. Seperti ada selaput pelindung bening yang memisahkan ku. Setidaknya itu yang terbayang olehku kala kehadiranku sungguh-sungguh tak berarti apa-apa diantara ribuan penumpang kereta yang memadati peron, bahkan saat masuk gerbong.
Di tanganku ada novel karya Isabel Abedi. Warnanya kelam, ku pikir isinya juga. Setengah isinya sudah ku lahap selama perjalanan ini.
Di telingaku terdengar musik klasik, karya Bethoven. Bukan perpaduan yang pas dengan novel dark romance.
Kali ini, aku menempuh perjalanan dari Semarang ke Surabaya. Tidak ada tujuan tertentu, aku hanya menyukai sensasi perjalanan yang panjang. Bahkan aku masih terus bermimpi mengelilingi Indonesia dengan kereta.
“Apa yang ingin kamu lihat dari dalam kereta? Hanya hamparan sawah dan hutan,” celetuk kakakku ketika dia membaca memo yang tertempel di dinding kamarku. Semua rencana perjalananku tertulis disana.
Dia benar, apa yang kulihat sekarang hanyalah hamparan sawah. Dan memang hanya itu yang ku cari. Sumber ketenanganku.
Kembali ku tundukkan pandanganku ke buku yang ke pegang. Setengahnya lagi harus habis ketika kereta sampai di Surabaya. Paragraf demi paragrafnya kuselami. Terkadang senyumanku terbit beberapa detik, lalu tenggelam di detik berikutnya karena perubahan suasana hati tokoh yang sangat memengaruhiku.
Namun di paragraf pertama halaman 400, aku merasakan ada yang ganjil, huruf-huruf yang ku baca terlihat acak-acakan, aku sama sekali tak mampu membacanya. Sengatku, aku bukanlah penderita disleksia. Ku fokuskan lagi mataku, namun di detik itu pula musik berhenti terdengar di telingaku. Awalnya ku pikir baterai gawaiku yang habis. Ku coba melihatnya.
Entah apa yang terjadi sekarang, satu persatu barang yanng ada di tanganku musnah. Menghilang layaknya cahaya yang meredup. Masih tetap sadar, aku. Seketika aku berdiri dari kursiku. Ku edarkan pandanganku ke sekeliling. Orang lain duduk seperti biasanya.
Ku dudukkan kembali tubuhku dan mengamati orang yang duduk di samping dan depanku. Mereka adalah keluarga baru dengan satu anak balita, tebakku. Apakah mereka sama sekali tak melihat apa yang kualami barusan? Padahal hal itu jelas terpampang di dekat mereka.
Aku mulai panik, ini kali pertama dalam hidupku. Ada hal ajaib yang terjadi padaku. Yang ada di otakku sekarang adalah apakah kereta yang ku naiki salah? Apakah seharusnya kereta ini menuju Hogwarts? Apakah ada Harry Potter atau Hermione sedang duduk di salah satu gerbong? Apa aku sebenarnya adalah keturunan penyihir juga?
Tak tahan dengan bayangan konyolku, aku berdiri lagi, mengamati sekitar. Detik berikutnya, tubuhku bergetar hebat. Semua gambarang tentang kereta yang melaju cepat dengan penumpang yang memenuhi gerbong, lenyap. Hanya tersisa gerbong gelap dengan bau karat menyengat.
Aku kehilangan akalku. Ku tarik nafasku perlahan. Seketika aku tertunduk lesu. Bahkan nafaskupun raib. Tak ada udara yang bisa ku hirup. Bahkan mungkin aku tak memerlukannya. Setelah ku sadari itu. Aku bahkan bisa tetap bergerak semestinya tanpa Oksigen. Dimana sebenarnya aku sekarang?
Langkah gontaiku membawaku keluar dari kereta. Dari luar, keadaan lebih menyesakkan, kereta seperti pernah terbakar sebelumnya. Teronggok di stasiun yang sangat sepi, di dekatnya, terdapat sejenis monumen rendah. Terlihat seperti nisan, pada dasarnya.
Ada deretan nama yang terukir di atasnya. Dan aku menemukan namaku. “Natasha,” bisikku mengeja namaku sendiri. Badanku terasa kebas, jika memang aku masih memilikinya.
“22 Juni 2018 – Kecelakaan kereta memakan korban sebanyak 150 nyawa.”
Aku mundur selangkah. Mataku menggenang. Aku mulai sadar tentang apa yan terjadi padaku. Tentang eksistensiku. Aku yang sebenarnya tak berpijak ke Bumi lagi.
Bagai adegan dalam film. Tiba-tiba sekarang aku terduduk di peron dengan banyak orang berlalu lalang, ramai. Persis seperti adegan yang terjadi beberapa saat lalu. Musik Bethoven mengalun di telingaku, buku gubahan Isabel Abedi di tanganku.
Ku kumpulkan semua potongan teka-tekinya. Dan dengan yakin aku tahu apa yang sedang ku alami sekarang. Semua ini adalah memori sebelum kejadian tragis yang belum bisa ku lepaskan. Air mataku turun, namun tak jatuh, air itu kembali naik ke atas. Semua kejadian kembali terulang.
Nafasku masih berinterval senin kamis. Mataku memandang kosong ke sembarang tempat. Telepon genggam berada di tempat terawat sebelum jari-jariku yang mengendor rilisnya begitu saja. Layarnya terpecah, tak ku tunggu lagi. Lebih susah menyadarkan jiwaku lagi agar terbangun dari mimpi buruk. Lebih susah menenangkan akalku yang berontak, meronta, meminta kembali semua.
Telepon benar-benar menjalankan fungsinya dengan paripurna malam ini. Menghantarkan sebuah getaran angin yang membentuk bahasa penuh pilu. Aku terpaku. Tak ingin beranjak dari tempatku termangu. Mungkin aku salah mengartikan angin tadi. Otakku mungkin bisa saja salah menerjemahkan, aku adalah pelupa, kan? Oleh, aku selalu melakukan banyak hal sesuai jadwal, karena aku pelupa, kan?
Suasana purnama pukul sebelas ini terlampau sepi. Dentingan jam tangan kecilku di atas nakas bahkan terdengar seperti letupan senapan. Sorot lampu tidur benar-benar redup, cahayanya dingin. Gerakan kecil dari cicak jelas tertangkap inderaku, ini tak biasa. Kenapa bisa se-sepi ini? Dunia bahkan sengaja bergelagat ganjil, sadar, bagian laporan sudah pergi.
Semuanya serba tanggung. Terlalu mendadak. Tak ada aba-aba. Hatiku sedang mekar-mekarnya oleh cinta yang tersirami selama ribuan pagi. Daunnya hijau segar. Kelopak bunga telah menyempurnakan bentuknya. Aku belum siap akan kedatangan bahaya yang membawa pergi mekarnya.
Mungkin aku yang tidak menyadari sebuah tanda, biarkannya berlalu begitu saja. Terlalu menganggap biasa segalanya. Ku terhanyut pada rasa cinta yang membuncah, bahagianya tak terkira.
Peluk ciumnya di pagi hari adalah normal, namun satu yang berbeda, dia mengatakan banyak hal, berpesan banyak hal, berdiri dengan senyuman terlalu lama sebelum melambaikan tangan duduk di kursi baris kedua. Lantas membelah udara pagi, berpisah dari kekacauan romantis dan kecupan mesra.
Salahnya, mengapa tak ada yang terasa ganjil di benakku yang tengah bahagia dengan apa yang menjadi bahagianya. Sebuah kebahagiaan yang dinantikannya dengan sabar. Ku pikir itu cinta. Jelas aku menyesal atas kebahagiaan yang menutup semua pintu kepekaan.
Lalu apa yang bisa kulakukan jika aku menyadarinya? Aku juga tak akan mampu mencegahnya menjemput bahagia. Yang ku tahu dalam kebobrokan emosiku kala ini adalah mungkin aku bisa mengulur waktu bersama kami. Membiarkannya sedetik lebih lama dalam pelukanku, lampion menyuarakan salam perpisahan yang lebih patut. Aku tak suka hal yang tiba-tiba. Kehidupanku yang sistematis dirusak oleh kabar malam hari penyakit sakit. Dia datang tanpamembawa penawar. Bibit sakitnya sengaja disuntikkan di titik terlemah. Lalu pergi tanpa permisi yang layak.
Berulang kali aku mendengar berita tindakan terorisme. Pengeboman, penembakan, dan semua tindakkan yang merenggut senyum banyak wajah. Aku terlalu lemah untuk merasakannya sendiri, akuku. Mengapa harus merebut punyaku? Senyumku? Tega sekali kau menyuntikkanku racun dan membiarkan tergeletak di atas lantai dengan air mata yang meluber kemana-mana.
“Kami telah mendapat konfirmasi dari kejadian, nyonya. Kami, dari pihak kementrian luar negeri sudah memastikan bahwa jenazah itu adalah suami anda, ”tak ada sumpah serapaah saat aku mendengarnya tadi. Aku hanya terdiam, memastikan lagi dengan siapa aku bisa berbicara, meminta kejelasan.
Aku menerima segalanya untuk keraguanku, beberapa kali nomor resmi mengatakan hal yang sama. Aku ingin sekali tetap teguh dalam keraguanku, sebelum seseoranng yang selama beberapa jam terakhir bertukar udara dengan bungaku turut bertutur dengan kalimat yang tercekat menahan segalanya.
“Tuan sudah pergi nyonya,” suara sekretaris pintar serak, berat. Mulai saat itu, aku hanya bisa membisu. Antara mendengarkan penjelasan tentang peluru nyasar yang katanya berasal dari teroris, atau sedang berimajinasi sendiri merangkai cerita yang lebih layak.
Malam terlalu sepi sampai langkah kaki dari halaman rumah terdengar jelas di telingaku yang kebas.
Seseorang menhampiriku, menghambur meraih tubuhku dann menyalurkan kehangatan yaang tulus tanpa tara. Membisikkan kalimat-kalimat penenang yang bagai narkoba. Suara lembutnya membawaku menapak Bumi lagi, walau dalam kegamangan.
“Semua baik-baik saja, nak. Ikhlaskanlah, ikhlaskan, ”suara Ibu terlalu lembut dan menenangkan, membawaku kembali ke alam tidak sadar. Menyadari banyak potongan yang hilang. Aku yang harusnya paham dari awal. Aku baru sadar kalau aku pelupa. Hanya ada dua takdir untuk sebuah bunga yang mekar indah. Dipetik oleh pemiliknya, atau dibiarkannya layu dalam beberapa hari. Dan aku sadar, aku bukan pemiliknya yang bisa mengambil sebuah keputusan. Aku hanyalah penikmat yang dengan pasrah hanya bisa melihat keindahanku dipetik oleh penguasanya.