Dalam rangka meningkatkan kemampuan anggota di bidang desain grafis, Departemen Kominfo CSSMoRA UIN Walisongo Semarang mengadakan pelatihan bertajuk COOKIES (CSSMoRA Open Opportunities for Knowledge in Editing Skills). Kegiatan ini menjadi wadah bagi para anggota untuk belajar dan mengasah keterampilan desain secara praktis dan menyenangkan.
Pelatihan COOKIES kali ini menghadirkan Alfin Khomsah Sabilalhayat, demisioner Kominfo periode 2024, sebagai pemateri. Dalam penyampaiannya, Alfin menegaskan bahwa kemampuan desain bukanlah bakat bawaan, melainkan keterampilan yang dapat diasah melalui latihan dan eksplorasi.
“Desain bukanlah suatu skill yang diperoleh sejak lahir, namun seni dalam mendesain dapat dilatih dengan seringnya kalian bereksperimen,” Ujar Alfin.
Pada sesi pelatihan ini, Canva menjadi platform utama yang digunakan. Pemateri menjelaskan secara runtut tahapan dalam mendesain, mulai dari konsep awal, pemilihan elemen tulisan, warna, hingga gambar yang cocok.
Salah satu anggota Kominfo menyampaikan bahwa kegiatan COOKIES akan dilaksanakan secara rutin setiap bulan dengan menghadirkan topik dan pengalaman baru di setiap sesinya. Ia juga mengimbau seluruh peserta untuk bergabung dalam grup WhatsApp untuk mendapatkan update, serta monitoring langsung bersama tim Kominfo dan desainer ahli.
“Di setiap sesi pertemuan, kami akan memonitoring hasil dari pelatihan COOKIES. Harapannya agar kegiatan ini menjadi wadah untuk menumbuhkan skill baru pada anggota,” ujar Syarif, salah satu anggota Kominfo.
Sesi perdana pelatihan COOKIES ini dilaksanakan pada 18 Oktober 2025, dan rencananya akan dilanjutkan pada bulan berikutnya, yaitu November 2025. Dengan semangat belajar dan berkreasi, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan desainer-desainer muda yang kreatif di lingkungan CSSMoRA UIN Walisongo Semarang.
Aku Izzuddin, seorang pemuda yang dulu berjalan tanpa kompas, dikendalikan oleh maunya sendiri. Jujur saja, aku bingung atau mungkin tak peduli tentang arah yang benar. Keluargaku? Mereka seperti punya dunia masing-masing. Aku merasa sendirian, sampai akhirnya satu keputusan gila muncul di kepala: Aku harus pergi.
Tekadku bulat: Aku ingin jalan hidup baru, aturan baru. Yang paling penting, aku ingin mulai mencari dan mengenali Sang Pencipta.
Meninggalkan hiruk-pikuk kota, aku tiba di tempat asing, Desa Pamangkih Seberang, Kalimantan Selatan. Di sana berdiri sederhana sebuah kompleks: Pondok Pesantren Al-Muhajirin.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Silakan masuk, untuk mondok ya?” sambut seorang petugas dengan logat Banjar yang hangat.
Sejak saat itu, aku resmi menjadi santri. Pondok non-formal ini didirikan pada 6 Agustus 2014, berdiri di atas tanah wakaf seluas 11 hektar. Pondok ini lahir dari rahim Yayasan Gotong Royong Muhajirin, yang digagas oleh KH. Mukhtar H.S., penerus pengasuh terdahulu, Ibnul Amin. Konon, Al-Muhajirin ini didirikan sebagai solusi karena asrama di pondok induk sudah terlalu tua dan sesak.
Belajar di Bawah Lima Tiang
Sistem di sini disebut Salafiyah Terpadu. Aku belajar bahwa pondok ini punya cita-cita besar: melahirkan generasi Muslim yang bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, mandiri, dan berwawasan luas, semua harus berpijak pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Misinya, yang kulihat dalam rutinitas harian yang super padat, adalah membentuk pribadi sholeh, menyiapkan khairu ummah (umat terbaik), membangun jiwa kepemimpinan, dan yang paling keren, mengajarkan ilmu agama dan umum secara seimbang.
Semboyan pondok “Siap belajar dan siap mengajar, siap dipimpin dan siap memimpin,” benar-benar menampar cara berpikirku yang dulu lurus tanpa tujuan. Di sini, aku dipaksa memegang erat Panca Jiwa: Keikhlasan, Kesederhanaan, Kemandirian, Kebersamaan, dan Keterbukaan. Aku, yang dulunya digerakkan oleh nafsu, kini harus berjalan berpegangan pada lima tiang ini.
Pertemuan di Musholla Sambutan dari ‘Kakak’
Suatu malam setelah Isya, aku duduk merenung sendirian. Tiba-tiba, seorang guru, yang akrab dipanggil Kakak oleh para santri, menghampiriku.
“Kenapa, Nak? Ada keluhan atau ada yang mau ditanyakan, kah?” tanyanya lembut.
“Alhamdulillah, tidak ada, Kak. Cuma rindu saja dengan orang tua,” jawabku jujur.
Aku, si Izzuddin yang dulu cuek pada orang tua, kini harus merasakan perihnya rindu. Izun panggilan lain diriku sosok yang sedang mati-matian melawan gejolak di kepala. Aku lahir di era digital, tetapi koneksi yang nyata baru kudapatkan di sini.
Aku memperhatikan gerak-gerik guru itu, dan mungkin inilah yang akan kucontoh. Ia lantas menjelaskan kenapa mereka dipanggil ‘Kakak’.
“Supaya santri dan guru mengajarnya lebih akrab. Bila ada masalah, baik masalah keluarga atau masalah pelajaran, tidak ada lagi rasa sungkan (canggung) sama guru, karena sudah merasa akrab. Itu di antara alasan guru-guru di sini dipanggil Kakak,” jelasnya.
Aku tertegun. Di sini ada kasih sayang dan perhatian yang tulus.
Guru itu kemudian membahas kepindahanku, dari Ketapang ke Pamangkih.
“Itu termasuk daripada hijrah juga sebenarnya. Nabi kita hijrah dari Mekkah menuju Madinah, itu namanya hijrah. Kalau kita menuntut ilmu, itu maknanya hijrah kita. Makanya kita berbuat baik, jangan lagi berbuat yang tidak baik. Hijrah itu menjauh dari yang tidak baik. Biasanya kita main-main yang tidak baik, kalau kita sudah mondok, jadi hijrah kita daripada main yang tidak baik itu,” ulasnya.
Kontemplasi di Lahan Datar
Aku, yang besar di kota, dulu gampang bosan dengan apa pun yang tidak menggugah jiwa. Di lahan datar seluas 60 hektar ini, yang katanya bebas banjir, kebosanan itu hilang. Aku tidak lagi bermain petak umpet, tapi bersembunyi dari godaan malas. Aku tidak lagi bermain polisi-polisian, tapi sibuk belajar etika Islam yang keren.
Dulu, aku membaca kalimat Pak Tua Pram: “Terpelajar sudah harus bijak, bahkan sejak dalam pikiran.” Aku bingung artinya. Apa itu terpelajar? Apa itu bijak?
Kini, di antara lebih dari 5.500 santri, dengan 120 dewan guru yang membimbing, aku mulai menemukan jawabannya.
Malam itu, di kamar asrama yang padat, sambil membawa kitab untuk muthola’ah (belajar mandiri), sebuah renungan menusuk:
Ternyata masih ada orang yang tidak bisa melihat dan merasakan kasih sayang orang tuanya sejak lahir.
Sedangkan aku? Aku yang melihat, bahkan bisa merasakan kasih sayang orang tua, malah lupa, bahkan tidak bersyukur. Aku tidak ada hentinya mengeluh dan menyalahkan mereka.
Ayah, Ibu, maafkan Izun. Aku sangat merindukan kalian. Jujur, aku ingin memeluk dan mencium kening lembut kalian. Aku rindu suara dan senyum canda kalian.
“Kalau memang rindu, doakan orang tua supaya sehat, panjang umur, rezeki lancar, sehingga kita tamat dan berhasil, orang tua melihat kita sukses,” kata guruku waktu itu.
Kini, aku berdiri di persimpangan. Apakah aku akan teguh pada niat hijrah ini, ataukah akan kalah dengan hawa nafsu yang lama?
Dengan lima pilar jiwa di dada, dan cita-cita mulia pondok sebagai pegangan, aku memilih untuk terus melangkah.
Aku adalah Izun, seorang Muhajirin (orang yang berhijrah), mencari pijakan pasti, yang tidak sedikit pun goyah, di tanah yang telah memilihku.
Pergulatan di Jam Muthola’ah
Kehidupan di Al-Muhajirin memang dinamis, namun ketat aturannya. Pagi disambut salat berjemaah, siang dengan pelajaran formal dan agama. Malam adalah waktu krusial: Jam Muthola’ah.
Inilah medan pertempuranku. Aku, si pemuda yang gampang bosan, kini harus duduk berjam-jam membawa kitab di musholla, merenungi pelajaran agama dan umum yang seimbang. Otakku yang dulu lebih mudah menangkap distorsi musik cadas Kurt Cobain atau lirik The Beatles kini dipaksa berdamai dengan nalar fikih dan logika Nahwu.
Pernah, saat membaca istighfar, rasanya cuma formalitas, tak menyentuh perasaan. Pikiranku berkelana, teringat Izun yang lama sosok yang kumatikan ketika aku memutuskan berhijrah. Aku takut Izun yang sekarang akan kalah dengan nafsu, seperti kakakku yang akhirnya dipenjara. Luka itu, kabar itu, adalah sakit yang paling membekas setelah kepergian Nenek.
“Apakah aku akan bertahan dengan Niatku, atau sebaliknya, aku kalah dengan Hawa Nafsuku?” Bisikan ini selalu datang.
Nasihat di Lapangan
Suatu sore, aku mencoba menikmati kompleks 11 hektar yang terasa melegakan, jauh dari keramaian kota. Sebagian lahan masih kosong, sebagian lagi digunakan untuk perkebunan (49 Ha milik yayasan) dan lapangan olahraga.
Aku melihat seorang Kakak guru, yang dulu menyambutku.
“Lagi apa, Din?” Sapa beliau, memanggilku Udin.
“Lagi merenung, Kak,” jawabku.
“Jangan berlama-lama. Besok kita main bola. Tapi ingat, jangan sampai lupa bangun Subuh dan berjemaah. Bawa kitabnya, ya,” perintahnya ringan.
Gerak-gerik beliau mengingatkanku pada visi pondok: “Mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan umum secara seimbang menuju ulama yang berjiwa besar dan intelektual.” Di sini, guru tidak hanya mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi juga bagaimana menjadi manusia yang dinamis dan seimbang, sesuai motto: Berfikir dinamis, Berakhlakul karimah.
Aku teringat ceramahnya tentang Konjungsi Kausalitas Nur Muhammad, tentang cinta yang melampaui nalar. Di sini, aku mulai mengerti bahwa cinta yang paling hebat adalah yang mendasari Keikhlasan, salah satu dari Panca Jiwa.
Epilog: Memeluk Keterbukaan
Waktu berjalan cepat. Tak terasa, senja pun menyapa. Azan berkumandang.
Setiap hari, aku melihat lebih dari 65 santri berdesakan di empat asrama yang memang padat, tua, dan butuh renovasi. Keterbatasan fisik ini adalah realita yang dihadapi KH. Barmawi sebagai pengasuh, dan seluruh elemen pondok.
Namun, keterbatasan itu diimbangi dengan kekayaan spiritual dan interaksi yang manusiawi.
Di sebuah malam, aku membulatkan tekad untuk mempraktikkan Panca Jiwa terakhir: Keterbukaan. Aku menghampiri seorang Kakak guru dan mencurahkan semua kegelisahanku: rindu orang tua, penyesalan, cerita kakakku di penjara, dan ketakutan akan kegagalan.
Guru itu mendengarkan dengan sabar. “Bilanya kita rindu itu akan orang tua, dan orang tuanya sudah meninggal, kirimkan Fatihah, kita baca Quran, terimakan. Tapi kalau memang masih hidup, doakan orang tua supaya sehat, panjang umur, dan rezeki lancar.”
“Itu diantaranya cara kita berbakti,” tambahnya.
Air mataku menetes. Aku tidak lagi mengeluh dan menyalahkan. Aku mulai fokus pada kewajibanku: berbuat baik dan belajar.
Kini, aku adalah Izun, seorang pemuda yang menemukan arahnya, bukan karena kebetulan, melainkan karena keputusan berhijrah. Aku telah menjadi lebih dinamis, jujur, dan utuh.
Pondok Pesantren Al-Muhajirin bukan sekadar sekolah, melainkan laboratorium spiritual, tempat jiwa-jiwa lelah menemukan pijakan yang kuat, berlandaskan Keikhlasan, Kemandirian, dan Kebersamaan.
Aku, si Muhajirin, akhirnya pulang. Bukan ke rumah fisik, melainkan ke rumah jiwa.
Mengusung tema “Merawat Tradisi Literasi, Membangun Genarasi dengan Inspirasi”, CSSMoRA UIN Walisongo gelar pelatihan jurnalistik di Mirae Asset Sekuritas Indonesia Semarang, Sabtu 11 Oktober 2025. Diikuti 32 peserta, kegiatan ini bertujuan untuk melatih dan memperkuat ketrampilan menulis, khususnya dalam rangka mempersiapkan penyusunan Majalah Zenith edisi terbaru.
Kegiatan ini terbagi menjadi 3 Sesi, yaitu penyampaian materi, menulis bersama, dan liputan. Sesi pertama diawali dengan penyampaian materi oleh Dr. Muhammad Nurkhanif, M.S.I. yang dipandu oleh saudara Marwan Aldi Pratama. Materi pertama ini mengkaji seputar tanggapan saintifik atas gagasan KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal). Topik ini tentunya sangat penting sebagai landasan informasi dalam penulisan majalah Zenith terbaru yang akan mengangkat topik serupa. Materi kedua disampaikan oleh Muhammad Daviq Nuruzzuhal dan dipandu oleh saudara Ahmad Misbakhus Surur, yang mengupas seluk beluk penulisan majalah. Kajian ini menjadi modal pokok bagi para kru dalam penulisan majalah nantinya.
Sesi selanjutnya adalah menulis bersama, yang mana seluruh peserta diminta menuliskan sebuah cerpen yang nantinya akan dikodifikasi dalam bentuk buku ber-ISBN. Sesi ini berdurasi sekitar 2 jam, namun terasa menyenangkan dan para peserta terlihat sangat antusias menuliskan karya terbaiknya.
Kegiatan ini dipungkasi dengan liputan di 2 tempat, yaitu Kota Lama dan Stasiun Tawang Semarang. Para peserta dibagi dalam beberapa kelompok yang nantinya akan melakukan wawancara seputar tema yang telah ditentukan. Hasil dari wawancara ini ditulis dalam bentuk artikel yang nantinya akan diupload di website CSSMoRA UIN Walisongo. Inilah sesi yang ditunggu-tunggu karena disamping mengerjakan tugas, para peserta juga dapat menikmati suasana malam Kota Semarang yang indah dan syahdu.
Koordinator Divisi Jurnalistik, Muhammad Mahmud Sidiq menyampaikan harapannya;
“Melalui kegiatan ini, semoga kita dapat terus bertumbuh dan membuahkan lebih banyak lagi karya yang dapat bermanfaat bagi semua orang”.
Sebagai wujud mempererat tali persaudaraan antaranggota, CSSMoRA UIN Walisongo Semarang kembali menyelenggarakan kegiatan tahunan bertajuk Momen Keakraban (MOKRAB) CSSMoRA 2025. Acara berlangsung pada 4–5 Oktober 2025 di Kampoeng Djowo Sekatul, Kabupaten Semarang, dengan suasana penuh kehangatan, tawa, dan kebersamaan.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo. Hadir pula Asyraf Zofir Wafa selaku Ketua Umum CSSMoRA dan Dhimas Richie Pramono sebagai Ketua Panitia Pelaksana. Selama dua hari pelaksanaan, MOKRAB menjadi ruang interaksi yang menyenangkan bagi para anggota untuk saling mengenal lebih dekat sekaligus melepas penat dari rutinitas perkuliahan dan organisasi.
Rangkaian acara dimulai dengan sesi pembukaan yang meriah, dilanjutkan dengan “Share to Care”, di mana para peserta saling memperkenalkan diri dan berbagi kisah serta pengalaman pribadi yang menginspirasi. Malam harinya, suasana makin hangat dengan penayangan video perkenalan, video parodi, dan pentas seni dari setiap angkatan. Beragam penampilan kreatif memeriahkan malam itu, mulai dari musik, drama, hingga pertunjukan humor khas mahasiswa. Puncak keakraban terasa ketika seluruh peserta berkumpul di sekitar api unggun sembari menikmati kegiatan bakar-bakar bersama, menjadi simbol eratnya ikatan kekeluargaan di antara anggota CSSMoRA.
Memasuki hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan serangkaian fun games yang dirancang untuk memperkuat kerja sama, komunikasi, dan kekompakan tim. Gelak tawa dan keceriaan mengiringi setiap permainan, menutup seluruh rangkaian kegiatan dengan kesan mendalam dan penuh semangat positif.
Dalam sambutannya, Bapak Ahmad Munif, M.S.I., selaku Pengelola Beasiswa PBSB UIN Walisongo Semarang, menyampaikan harapannya:
“Melalui kegiatan seperti ini, saya berharap setiap anggota dapat saling mengenal lebih jauh, menumbuhkan kekompakan, serta menyatukan chemistry antaranggota CSSMoRA.”
Sementara itu, Asyraf Zofir Wafa, Ketua Umum CSSMoRA UIN Walisongo, turut menambahkan:
“Semoga MOKRAB 2025 menjadi momentum untuk mempererat keakraban dan memperkuat solidaritas keluarga besar CSSMoRA.”
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar dan penuh antusiasme. MOKRAB CSSMoRA 2025 bukan sekadar ajang rekreasi, tetapi juga momentum berharga untuk menumbuhkan rasa memiliki, memperkokoh kebersamaan, dan memperkuat pondasi organisasi dalam mewujudkan visi serta misi CSSMoRA UIN Walisongo Semarang ke depan.
Dengan memadukan tradisi keilmuan pesantren dan teknologi modern, Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Tengah menyelenggarakan pelatihan digitalisasi Ilmu Falak berbasis WhatsApp Bot di Pondok Pesantren Al-Hikmah 2 Benda , Brebes, pada Sabtu-Minggu, 27-28 September 2025. Acara ini dihadiri oleh lebih dari 100 orang peserta dari berbagai daerah di Jawa Tengah maupun luar kota.
Acara ini merupakan realisasi dari salah satu program kerja PWNU Jawa Tengah, yaitu Falakiyah Goes to Pesantren. Program ini dimaksudkan sebagai upaya untuk menghidupkan kembali tradisi keilmuan pesantren, khususnya dibidang Ilmu Falak.
“Ilmu Falak basicnya adalah dari pesantren. Sementara saat ini pesantren-pesantren yang mempelajari Ilmu Falak masih belum banyak. Sebagai upaya menghidupkan kembali keilmuan falak di pesantren, maka dibuatlah program Falakiyah Goes to Pesantren,” ungkap H. Muhammad Basthoni, Ketua Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Tengah.
Acara ini secara resmi dibuka oleh K. Ma’rufin Sudibyo selaku wakil sekretaris Lembaga Falakiyah PBNU. Kemudian acara dilanjut dengan seminar mengenai Dinamika Penetapan Awal Bulan Hijriah di Indonesia dan Asia Tenggara oleh Prof. KH. Ahmad Izzuddin, M.Ag. dan diteruskan dengan pelatihan digitalisasi Ilmu Falak.
Materi yang diangkat dalam pelatihan kali ini adalah tentang Artificial Intelligence (AI) dan WhatsApp Bot. Pada materi yang pertama, peserta diperkenalkan tentang apa itu Chat Bot AI dan pemrograman JavaScript, yang disampaikan oleh Fika Afhamul Fuscha. Dan materi kedua, yang menjadi puncak temanya disampaikan oleh Nuril Fathoni Hamas, yaitu mengenai integrasi pemrogramam awal bulan kitab Irsyadul Murid berbasis javaScript dengan WhatsApp Bot. Melalui materi ini, kajian-kajian klasik mengenai hisab awal bulan atau ibadah yang lainnya dapat beriringan dengan teknologi yang semakin berkembang saat ini, terutama bagi generasi muda yang seringkali lebih mengandalkan AI.
Acara berlangsung dengan lancar dan didukung oleh antusiasme peserta yang berpartisipasi dari awal hingga akhir. Banyak dari mereka yang bersemangat untuk belajar dan memperhatikan arahan hingga akhirnya mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang diharapkan.
“Berakhirnya acara ini bukan menjadi akhir dari kita mencari ilmu, tetapi sebagai awal dari kita membuka lembaran ilmu-ilmu yang baru,” tutup Gus Nasyar.
Acara ditutup dengan sambutan dan doa dari H. Muhammad Basthoni, selaku ketua LF PWNU Jateng dan Gus Nasyar Alamuddin sebagai perwakilan pengasuh PP. Al-Hikmah 2 Benda. Dalam sambutannya, mereka berharap apa yang didapatkan dalam pelatihan ini, dapat memberikan manfaat bagi semua kalangan dan dapat terus dikembangkan.
Membuka babak baru perjalanan organisasi di periode 2025/2026, CSSMoRA UIN Walisongo kembali menggelar Musyawarah Kerja tahunan di Gazebo YPMI Al-Firdaus pada hari Sabtu, 20 September 2025. Acara ini menjadi langkah awal penting bagi kepengurusan baru untuk merancang dan merumuskan program kerja yang inovatif demi langkah baru yang lebih visioner.
Musyawarah kerja CSSMoRA UIN Walisongo adalah kegiatan tahunan CSSMoRA UIN Walisongo periode 2025/2026 guna membahas rancangan program kerja dari masing-masing departemen selama satu periode kepengurusan. Musyawarah kerja atau yang biasa disebut Musyker ini, bukan hanya sekedar membahas rancangan program kerja di setiap tahunnya, tetapi juga wadah untuk menghidupkan semangat kebersamaan sekaligus menyatukan semua gagasan dan ide dari para anggota untuk menghasilkan keputusan yang disepakati dan siap dijalankan selama satu periode kepengurusan.
Acara ini dihadiri oleh seluruh anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo, termasuk anggota baru CSSMoRA dan turut mengundang dua orang delegasi dari CSSMoRA Universitas Wahid Hasyim, Universitas Negeri Semarang, dan Moragister UIN Walisongo.
Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars CSSMoRA, dan dilanjut dengan sambutan-sambutan dari ketua pelaksana, ketua umum CSSMoRA UIN Walisongo, dan ketua umum CSSMoRA Nasional. Kemudian dilanjutkan acara inti, yaitu sidang pleno, sidang pleno II, dan sidang paripurna.
Jumlah departemen di periode ini masih sama dengan tahun kemarin, yaitu sebanyak enam departemen. Setiap departemen maju ke depan untuk memaparkan program kerja masing-masing sesuai dengan urutan yang telah disepakati. Pemaparan pertama oleh Departemen Jurnalistik, dilanjut dengan Departemen Komunikasi dan Informasi (Kominfo), Pengembangan Sumber Daya Ekonomi (PSDE), Pemberdayaan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M), Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM), dan terakhir dari Badan Pengurus Harian (BPH).
Di periode ini, ada beberapa program kerja dan inovasi baru dari periode sebelumnya. Diantaranya, yaitu Narahari, Lomba Poster Nasional, Mangrove Ceria CSSMoRA, dan CSSMoRA HappyNest.
“Di periode ini ada beberapa tambahan program kerja di beberapa departemen dan beberapa perubahan nama dan konsep yang sedikit berbeda dengan periode sebelumya, yang mana itu menjadi salah satu bentuk evaluasi kami, pengurus periode ini dari masukan-masukan di Mubes kemarin,” ujar Asyraf, ketua umum CSSMoRA UIN Walisongo.
Salah satunya adalah CSSMoRA HappyNest, program kerja PSDM yang bertujuan untuk mempererat hubungan antar anggota melalui kegiatan santai, menyenangkan, sekaligus tetap memberi nilai positif. Proker ini juga menjadi salah satu jawaban dari masukan untuk Departemen PSDM di Mubes kemarin, agar mengadakan kegiatan baru yang lebih santai dan rutin.
Acara ini berlangsung hangat, dengan para anggota aktif yang aktif memberikan kritik, saran , dan masukan agar program kerja lebih terarah dan berdampak luas. Selain itu, ada untaian harapan yang disampaikan oleh para anggota dan demisioner pengurus sebelumnya.
“Dengan adanya proker dan inovasi yang telah kita sepakati tadi, harapannya semoga CSSMoRA bisa lebih baik, lebih solid, kekeluargaannya semakin erat, dan CSSMoRA dapat lebih berdampak, baik di internal anggota maupun di masyarakat,” ujar salah satu demosioner pengurus CSSMoRA periode 2024/2025.
Acara ini di akhiri dengan ketuk palu dari presidium, dan menjadi tanda bahwasanya musyawarah program kerja CSSMoRa UIN Walisongo telah disepakati. Dan menjadi pembuka langkah awal yang baik untuk mengemban amanah.
Tim Kreatif : Ust. Muhammad Bushairi Dewan Asatidz Pondok Pesantren Al Muhajirin Pemangkih Seberang
Penulis / Editor: Ahmad Zaki Anshari. (Awardee PBSB 2023 asal Pondok Pesantren Al Muhajirin Pemangkih Seberang)
Anak-anakku yang saya cintai dan muliakan,
Hidup di pesantren bukanlah perjalanan yang mudah. Tidak semua orang mampu bertahan melewati tahun-tahun panjang di balik dinding-dinding asrama, dalam disiplin waktu yang ketat, dalam keseharian yang penuh dengan ujian kesabaran. Namun, justru di situlah letak kemuliaannya.
Saya teringat betul enam tahun yang lalu, ketika kalian pertama kali melangkahkan kaki ke gerbang pesantren. Ada air mata perpisahan dengan orang tua. Ada keraguan, ada rasa takut akan kesendirian. Ada juga rasa canggung, bahkan gentar, saat membayangkan hidup di dunia baru yang jauh dari kenyamanan rumah. Tetapi hari ini, kalian mampu membuktikan sesuatu yang luar biasa: bahwa kalian sanggup bertahan, meniti setiap tangga ujian, hingga sampai pada titik akhir perjalanan ini.
Jejak Pengorbanan Santri
Saya tahu, anak-anakku, betapa berat perjuangan itu. Ada santri yang dulu saya lihat menangis di pojok masjid, melawan rasa rindu yang begitu dalam kepada orang tuanya. Ada yang tersenyum di depan teman-temannya, padahal hatinya menjerit ingin dipeluk oleh ibu atau ayahnya. Ada juga yang tertatih-tatih memahami pelajaran, menghafal ayat demi ayat, atau menahan kantuk demi menyelesaikan murojaah.
Namun, dari setiap tetes air mata itulah lahir kekuatan. Dari setiap luka batin itu tumbuh kesabaran. Dari setiap keterbatasan lahirlah tekad. Dan hari ini, kalian semua berdiri sebagai saksi nyata bahwa kesabaran selalu berbuah kemenangan.
Sanad Keilmuan: Tali Emas yang Menyambung ke Rasulullah ﷺ
Pesantren bukan sekadar tempat belajar kitab kuning, bukan sekadar ruang untuk menghafal dan mengulang. Pesantren adalah mata rantai keilmuan. Kalian belajar dari para guru, guru kalian belajar dari para kiai, para kiai belajar dari ulama terdahulu, dan begitu seterusnya hingga sampai kepada Rasulullah ﷺ.
Setiap kali kalian berjabat tangan dengan guru, sejatinya tangan itu tersambung dalam barisan panjang ulama salaf, hingga menyentuh tangan Sayyidina Umar bin Khattab, hingga sampai kepada Rasulullah ﷺ. Maka jangan pernah meremehkan satu ayat yang kalian hafalkan, satu doa yang kalian lafalkan, atau satu pelajaran yang kalian terima dari kiai. Semua itu adalah bagian dari sanad emas yang akan menjadi wasilah keselamatan di dunia dan akhirat.
Birrul Walidain: Jalan Terindah Menuju Ridha Allah
Anak-anakku, ilmu setinggi apapun tidak akan bernilai tanpa birrul walidain. Tidak ada wasilah yang lebih ampuh, tidak ada doa yang lebih tajam, tidak ada amal yang lebih mendekatkan kepada Allah selain doa dan ridha kedua orang tua. Jika orang tuamu tersenyum melihatmu, maka senyum itu lebih berharga daripada segala ijazah akademis. Jika orang tuamu bahagia dengan keberadaanmu, maka kebahagiaan itu lebih tinggi nilainya daripada segala harta dunia.
Oleh karena itu, kelak setelah kalian meninggalkan Pondok Pesantren Al Muhajirin Pemangkih Seberang ini, jangan pernah lupa satu hal: hidupmu harus selalu menghadirkan kebahagiaan untuk orang tuamu.
Santri Sebagai Cahaya Umat
Anak-anakku, dunia hari ini membutuhkan santri. Negeri ini membutuhkan generasi pesantren. Bukan hanya untuk menjadi akademisi, guru, dosen, atau pejabat, tapi untuk menjadi pribadi yang membawa cahaya. Santri harus hadir dengan akhlak, bukan hanya dengan ilmu. Santri harus membawa kedamaian, bukan hanya kepandaian.
Kelak ketika orang melihatmu, mereka harus berkata: “Subhanallah, siapa yang mendidik anak ini? Siapa orang tuanya? Siapa gurunya?” Itulah cita-cita yang paling mulia: menjadikan setiap orang yang melihatmu teringat kepada Allah, bersyukur kepada orang tuamu, dan mendoakan guru-gurumu.
Pesan Perpisahan: Jadilah Bendera di Puncak Menara Ilmu
Kalian adalah bendera yang dikibarkan oleh pesantren ini. Guru-guru kalian ibarat pengibar bendera yang dengan penuh hati-hati menaikkannya. Dan kelak, ketika kalian berada di puncak, para guru tidak akan segan-segan memberikan hormat kepada kalian.
Maka jangan pernah mengecewakan doa-doa yang sudah dipanjatkan untukmu. Jangan pernah mengkhianati tetesan air mata ibu dan jerih payah ayah. Jangan pernah mengotori nama baik pesantren yang telah membesarkanmu.
Harapan untuk Santri Pondok Pesantren Al Muhajirin Pemangkih Seberang
Khusus untuk kalian, santri Pondok Pesantren Al Muhajirin Pemangkih Seberang, ketahuilah bahwa kalian adalah bagian dari mata rantai panjang perjuangan ulama di tanah Kalimantan. Pesantren ini lahir dari doa para pendiri, dari keringat para guru, dari pengorbanan para orang tua. Kalian adalah penerus risalah itu.
Kelak, dunia akan berubah, zaman akan berputar. Tetapi selama kalian tetap teguh pada prinsip ilmu, akhlak, dan pengabdian, maka kalian akan menjadi generasi yang mampu memberi cahaya bagi umat, bangsa, dan agama.
Anak-anakku,
Perjalanan kita di pesantren mungkin berakhir di sini, tetapi doa, cinta, dan harapan tidak akan pernah berhenti. Jadilah pribadi yang selalu berjalan dengan ilmu, bernapas dengan akhlak, dan bersujud dengan penuh penghambaan kepada Allah.
Selamat melangkah ke jalan yang lebih panjang. Selamat menjemput masa depan dengan iman, ilmu, dan amal.
Mudah-mudahan kalian semua kelak menjadi generasi Qurrota A’yun bagi orang tua, kebanggaan bagi pesantren, penerus perjuangan para ulama, dan hamba Allah yang diridai dunia dan akhirat.
CSSMoRA UIN Walisongo Semarang melaksanakan kegiatan Rukyatul Hilal dalam rangka penentuan awal bulan Ramadhan pada Jumat, 28 Februari 2025. Kegiatan ini bekerja sama dengan Program Studi Ilmu Falak dan dilakukan secara serentak di tiga lokasi, yaitu Observatorium UIN Walisongo, Pantai Mangunharjo Mangkang, dan Pantai Indah Kemangi Kendal.
Rukyat ini menjadi sarana pembelajaran langsung bagi anggota aktif CSSMoRA dalam memahami dan mempraktikkan metode pengamatan hilal. Kehadiran anggota mencapai lebih dari 65 persen dari total anggota aktif. Meskipun belum memenuhi target partisipasi 80 persen, kegiatan tetap berjalan lancar dan memberikan pengalaman penting dalam bidang keilmuan falak.
Tidak tersedianya subsidi dari pengelola menjadi salah satu kendala utama yang memengaruhi kehadiran anggota. Untuk itu, diperlukan rencana pendanaan alternatif agar pelaksanaan rukyat mendatang dapat menjangkau lebih banyak peserta dan berjalan lebih maksimal.
CSSMoRA UIN Walisongo Semarang menggelar kegiatan Momen Keakraban (Mokrab) pada Sabtu–Ahad, 12–13 Oktober 2024, yang bertempat di Promas Greenland, Kendal. Kegiatan ini diikuti oleh anggota aktif CSSMoRA dari berbagai angkatan, mengusung tema “Tanam Suka Cita, Pupuk Kebersamaan, Hasilkan Kekeluargaan untuk CSSMoRA Berjaya.”
Mokrab menjadi ruang interaksi informal yang dirancang untuk mempererat hubungan antaranggota, memperkuat ikatan solidaritas, serta memperkenalkan anggota baru dalam suasana hangat dan bersahabat. Rangkaian kegiatan mencakup games, sharing session, dan berbagai agenda kebersamaan lainnya.
Tingkat partisipasi kegiatan ini mencapai lebih dari 85 persen dari total anggota aktif, mencerminkan semangat kekeluargaan yang terbangun di antara para peserta. Meskipun proses pencarian tempat sempat menemui kendala akibat banyaknya organisasi lain yang mengadakan acara serupa di waktu yang berdekatan, panitia berhasil melaksanakan kegiatan secara optimal.
Ke depan, pelaksanaan Mokrab dapat dipersiapkan lebih dini untuk mengantisipasi hambatan teknis dan memastikan ketersediaan lokasi yang sesuai. Antusiasme dan kebersamaan dalam kegiatan ini menjadi pengingat akan pentingnya merawat nilai-nilai kekeluargaan dalam tubuh organisasi.
CSSMoRA UIN Walisongo Semarang melalui Divisi Pengembangan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M) menyelenggarakan kegiatan Webinar Nasional pada Ahad, 24 November 2024, secara daring melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan ini dirancang sebagai sarana edukasi yang terbuka untuk masyarakat umum, dengan tujuan memperluas jangkauan keilmuan di luar lingkup internal organisasi.
Webinar ini menghadirkan pemateri yang kompeten di bidangnya, dengan bahasan yang berkaitan langsung dengan dunia kepesantrenan dan isu-isu sosial keagamaan kontemporer. Audiens yang hadir berasal dari berbagai latar belakang, termasuk mahasiswa, santri, dan masyarakat umum. Antusiasme peserta tercermin dari diskusi aktif selama sesi berlangsung.
Namun, pelaksanaan kegiatan tidak lepas dari catatan evaluasi. Kurangnya koordinasi awal antara panitia dan pemateri mengakibatkan substansi materi lebih banyak menyasar peserta dari kalangan santri saja, padahal webinar ini bersifat nasional. Hal ini menunjukkan pentingnya briefing teknis yang lebih matang agar narasi penyampaian lebih inklusif dan sesuai dengan target peserta.
Meski begitu, kegiatan dinilai berhasil karena mampu menarik lebih dari 50 peserta dari luar CSSMoRA, sesuai dengan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa CSSMoRA mampu menghadirkan forum diskusi publik secara daring dengan jangkauan luas dan manfaat nyata.