Hujan Bukan Halangan: Kemeriahan Kolaborasi Cookies x Happynest CSSMoRA yang Berakhir Syahdu di Panggung Wapres

Semarang, 9 Mei 2026 – Semangat kreativitas dan kebersamaan membuncah di kawasan bersejarah Kota Lama Semarang. Dua departemen CSSMoRA UIN Walisongo, yakni Departemen Kominfo dan Departemen PSDM, sukses menggelar kolaborasi program kerja bertajuk Cookies dan Happynest. Meski cuaca sempat berubah tak menentu, agenda ini justru meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta.

 

​Program Cookies (CSSMoRA Open Opportunities for Knowledge in Editing Skill) yang digawangi oleh Departemen Kominfo hadir sebagai puncak dari rangkaian pelatihan desain grafis dan videografi yang telah dilaksanakan sebelumnya. Jika pada pertemuan lalu para anggota berfokus pada teori dan teknis di dalam ruangan, pada edisi “Cookies 4” ini mereka terjun langsung ke lapangan. Dibagi menjadi beberapa kelompok, para peserta ditantang untuk berburu footage video terbaik dengan latar arsitektur eksotis Kota Lama. Hasil karya kreatif mereka nantinya akan dikurasi, dan video terbaik berhak mendapatkan reward sebagai apresiasi atas ketajaman lensa dan kreativitas penyuntingan mereka.

​Sembari mengejar momen melalui lensa kamera, Departemen PSDM turut menghadirkan warna melalui program Happynest. Sesuai namanya, kegiatan ini dirancang sederhana namun bermakna: bersenang-senang demi mempererat ikatan emosional antaranggota. Mengingat jati diri CSSMoRA sebagai organisasi yang berlandaskan kekeluargaan, Happynest menjadi ruang bagi setiap anggota untuk melepas penat dan tertawa bersama di tengah rutinitas akademik.

​Rangkaian acara dimulai sejak sore hari saat cahaya matahari mulai melunak, memberikan pencahayaan alami yang sempurna bagi peserta Cookies untuk mengumpulkan bahan editing. Menjelang malam, suasana berpindah ke titik kumpul di sebuah angkringan hangat, tepat di samping bangunan bersejarah Rumah Pompa Kota Lama. Di sana, tawa mulai pecah saat sesi Happynest dimulai dengan berbagai permainan yang seru.

​Namun, di tengah keriuhan tersebut, alam punya rencana lain. Hujan turun membasahi bumi Kota Lama, memaksa aktivitas di lapangan terbuka terhenti sejenak. Namun, benarlah pepatah bahwa hujan membawa berkah. Di tengah rintik tersebut, Panggung Wapres (Warung Apresiasi) hadir sebagai “penyelamat” keadaan.

​Suasana yang awalnya riuh karena permainan fisik, seketika bertransformasi menjadi momen yang syahdu dan puitis. Dari lapangan terbuka, kebersamaan berpindah ke bawah naungan Panggung Wapres. Di bawah lampu panggung dan iringan melodi, seluruh anggota CSSMoRA menyatu dalam nyanyian. Mikrofon beralih dari satu tangan ke tangan lain, menyuarakan lagu-lagu yang membangkitkan nostalgia dan keakraban.

​Hujan tidak membubarkan kami; ia justru menggiring kami untuk duduk lebih rapat dan bernyanyi lebih keras. Kolaborasi Cookies dan Happynest kali ini membuktikan bahwa kreativitas tidak hanya lahir dari layar monitor, dan kebahagiaan tidak melulu soal rencana yang sempurna. Terkadang, ia lahir dari nada-nada yang kita nyanyikan bersama di bawah rintik hujan.

Loading

Kegiatan Edukasi Desain Canva dalam Roadshow TI CSSMoRA di MA Al Asror Gunungpati

P3M CSSMoRA UIN Walisongo kembali melaksanakan program kerja berupa roadshow yang terbagi menjadi dua kegiatan, yaitu Roadshow Falak dan Roadshow Teknologi Informasi (TI). Roadshow Falak sebelumnya telah diselenggarakan pada 1 November 2025 di MA Nurussalam Ngaliyan dengan tema “Eksplorasi Ilmu Falak Astronomi untuk Kebutuhan Ibadah”. Selanjutnya, Roadshow kedua, yaitu Roadshow TI, dilaksanakan pada Sabtu, 18 April 2026, di MA Al Asror Gunungpati. Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi kepada siswa agar mengenal dan memahami dasar penggunaan Canva. Dalam pelaksanaannya, P3M membuka open recruitment internal bagi anggota CSSMoRA UIN Walisongo agar dapat merasakan pengalaman pengabdian masyarakat melalui kegiatan berbagi ilmu. Peserta kegiatan ini adalah siswa dan siswi kelas XI MA Al Asror Gunungpati.

Kegiatan dibuka pada pukul 09.30 WIB oleh Zahra Fathinah selaku MC, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Salwa Inas Roidah, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars CSSMoRA yang dipandu oleh Faidlul Kamaliah. Sambutan kemudian disampaikan oleh Ketua P3M, M. Ais Nur Rizqi, yang memberikan motivasi kepada siswa untuk terus semangat belajar keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan sosial, salah satunya kemampuan editing. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kepala MA Al Asror Gunungpati, Bapak M. Busrol Karim, S.Pd.I., S.Kom., M.Pd., yang menyampaikan apresiasi atas kehadiran CSSMoRA sebagai wadah berbagi ilmu, pengalaman, dan diskusi bersama siswa, serta berharap ilmu yang diperoleh dapat menjadi bekal yang bermanfaat di masa depan.

Kegiatan inti berupa penyampaian materi dibagi menjadi dua sesi, yaitu materi teori Canva yang disampaikan oleh Zalwa Zalirah Ghazali dan materi praktik desain menggunakan Canva oleh Zahwa Kamila. Setelah sesi materi, siswa mengikuti praktik langsung agar lebih mudah memahami materi yang telah diberikan. Selama praktik, siswa terlihat antusias menuangkan imajinasi mereka dalam membuat desain, sementara tim CSSMoRA turut mendampingi ketika peserta mengalami kesulitan. Pemateri kemudian memberikan tantangan desain selama kurang lebih 20 menit, yang dilanjutkan dengan pengumuman pemenang dalam beberapa kategori, yaitu desain yang sesuai dengan materi, penempatan elemen terbaik, desain terbaik, serta siswa yang mampu menjawab pertanyaan dari pemateri.

Secara keseluruhan, kegiatan Roadshow TI berjalan dengan lancar, tertib, dan mendapat antusiasme dari para peserta. Diharapkan kegiatan ini dapat membantu meningkatkan kemampuan dasar desain siswa sehingga bisa menjadi bekal keterampilan yang bermanfaat di masa depan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana berbagi ilmu bagi teman-teman CSSMoRA. Semoga ke depannya P3M dapat terus mengajak lebih banyak anggota CSSMoRA untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan pengabdian masyarakat berikutnya.

Loading

Dari Kompetisi hingga Talkshow: Semarak Puncak Dies Natalis ke-18 CSSMoRA UIN Walisongo Bedah Tradisi Pesantren di Era Digital

​SEMARANG – Setelah sukses menggelar rangkaian kompetisi internal maupun eksternal, Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMoRA) UIN Walisongo resmi mencapai puncak perayaan Dies Natalis ke-18 pada Rabu (25/2). Acara yang menghadirkan Gus Rifqil Muslim sebagai pembicara utama ini berlangsung khidmat di Auditorium 2, Kampus 3 UIN Walisongo Semarang.

​Mengusung tema “Narasi Santri di Era Digital: Membaca Ulang Tradisi Pesantren dalam Arus Disrupsi”, Gus Rifqil membedah tantangan santri dalam menjaga nilai luhur pesantren di tengah gempuran teknologi. Ia menekankan pentingnya menjaga hati kita tetap teduh di dunia digital yang gaduh.

​”Setiap story adalah catatan, setiap komentar adalah saksi, dan setiap unggahan akan berdiri di hadapan Allah SWT karena adanya hukum eternity (keabadian digital). Santri bukanlah generasi yang takut teknologi, bukan pula yang mendewakannya. Santri adalah generasi yang memuliakan ilmu dengan menggunakan teknologi sebagai alat kebaikan,” ujar Gus Rifqil di hadapan ratusan peserta.

​Sebelumnya, kemeriahan Dies Natalis telah diawali dengan Festival Dies Natalis CSSMoRA (FDC) pada 4–15 Desember 2025. Agenda rutin tahunan ini berhasil menyedot antusiasme 618 peserta dari seluruh penjuru Nusantara yang berkompetisi dalam empat cabang lomba: Musabaqoh Qiraatil Kutub (MQK), Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ), Musabaqoh Dai Muda (MDM), dan Solo Song.

​Selain skala nasional, aspek kekeluargaan juga diperkuat melalui CSS Competition bagi anggota internal pada 6–7 Desember 2025. Berbagai cabang olahraga seperti badminton, futsal, gobak sodor hingga e-sport digelar di beberapa lokasi, termasuk GOR Prima Mijen dan Pondok Pesantren YPMI Al-Firdaus.

Rangkaian panjang perayaan ini sebenarnya telah dimulai sejak Oktober 2025 melalui sayembara desain logo yang diperuntukkan bagi anggota aktif. Kompetisi identitas visual tersebut menjadi pemantik semangat sebelum berlanjut ke ajang nasional, yakni Festival Dies Natalis CSSMoRA (FDC) pada 4–15 Desember 2025.

​Ketua Panitia, Aufal Wafa, mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran seluruh rangkaian acara. Ia menjelaskan bahwa perpaduan lomba dan talkshow ini adalah upaya menyeimbangkan kreativitas dan pengayaan intelektual.
“Kami ingin Dies Natalis ini menjadi paket lengkap. Kompetisinya mengasah bakat, sementara talkshow bersama Gus Rifqil memberikan arah serta bekal pemikiran bagi kami sebagai santri di era disrupsi,” ungkapnya.

​Puncak acara ditandai dengan prosesi pemotongan tumpeng bersama pengelola Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) UIN Walisongo, serta penampilan syahdu Tari Turi Putih oleh anggota CSSMoRA yang memukau audiens.

Rangkaian acara ditutup dengan sesi foto bersama dan dilanjutkan dengan buka puasa bersama anggota aktif. Dengan berakhirnya perayaan ke-18 ini, CSSMoRA UIN Walisongo berharap dapat terus menjadi wadah transformatif bagi santri untuk tetap relevan dengan zaman tanpa kehilangan jati diri kepesantrenannya.

Loading

Ada-Ada Saja

Karya; Arifin Faturohman

Desir hatiku berkata ada. Apa yang merasa. Kemudian bulu kudukmu terangkat dan merinding dibuatnya. Ialah angin saja; memberi kabar menerpa kulitku dan katakan ada. Meski tak nampak ia kasat mata. Mesti ada terasa melalui mata lainnya yang diam-diam memata-matai. Siapakah, gerangan yang bikin terperanjat perasa tak nampak? Nampaklah ia mengendap-endap di bagian-bagian terlupakan hari-hari. Sudah, ingin merinding saja meski angin tak ada…

Semarang, 2025

Loading

Krisis Fiqh Ekologi di Balik Bencana Sumatra

Banjir bandang yang hari ini melanda Sumatra bukan hanya menenggelamkan rumah dan jalan, tetapi juga menenggelamkan kesadaran kita. Musibah ini bukan sekadar “air kiriman”, bukan pula takdir yang turun begitu saja tanpa sebab. Di balik arus deras yang menyapu desa, ada arus kelalaian yang sudah lama menggerus akal sehat dan adab umat manusia kepada lingkungan, termasuk umat Islam di negeri ini. Ini sebenarnya teguran keras karena banyak hal yang tidak kita jaga dengan benar. Hari ini kita bisa lihat sendiri bagaimana kesadaran kita terhadap alam sudah hilang, padahal menjaga alam adalah bagian dari tugas kita sebagai manusia.

Segelintir dari kita malah sibuk menyalahkan cuaca ekstrem atau berkata, “Ini adalah ujian dari Allah.” Benar, setiap bencana adalah ujian. Banjir ini memang ujian, tetapi ujian dalam agama selalu membawa peringatan: apa yang telah kalian perbuat, wahai manusia?

Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa kerusakan di darat dan laut muncul “karena ulah tangan manusia”:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Ar-Rum: 41)

Artinya, manusia bukan hanya objek bencana, tetapi juga bisa menjadi penyebabnya.

Di sinilah letak krisis kita: fiqh ekologi yang sekarat dalam praktiknya.

Fiqh Ekologi yang Tidak Lagi Menyentuh Tanah

Kita sebenarnya tahu bahwa Allah memerintahkan makhluk-Nya untuk tidak berbuat kerusakan di muka, لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ. Kita lupa bahwa memelihara bumi juga merupakan amanah bagi kita sebagai khalīfah fil-arḍh. Tanpa lingkungan yang sehat, ibadah dan kehidupan sosial pun akan terancam. Lalu mengapa ayat dan hadis tentang menjaga alam tidak tercermin dalam kebijakan dan keputusan pembangunan masa kini?

Hutan di hulu DAS ditebang tanpa henti, bukit digerus alat berat, sungai dipaksa menelan limbah, dan tanah kehilangan daya serapnya. Ketika akhirnya datang banjir bandang, masyarakat kecil yang tidak pernah menyentuh izin tambang justru menjadi korban pertama.

Pertanyaannya sederhana tetapi menampar kita:
Jika syariat memerintahkan manusia menjaga lingkungan, di manakah fiqh ekologi kita ketika izin-izin tambang diteken dan pohon-pohon terakhir di hulu hilang?

Kita tidak menunjuk siapa pun secara khusus, tetapi kita semua tahu bahwa kerusakan ekosistem tidak terjadi dalam satu malam dan tidak mungkin dilakukan oleh masyarakat biasa.

Jadi Sebenarnya Ini Bencana Alam atau Bencana Moral?

Saking seringnya terjadi bencana di negeri ini, kita jadinya menormalisasi tragedi sebagai “bencana alam”, padahal sebagian besar adalah bencana moral hasil pilihan manusia yang lebih mengutamakan keuntungan jangka pendek daripada kelangsungan hidup jangka panjang.

Dalam agama kita, ada konsep amanah dan tanggung jawab bersama. Tapi ketika tambang dibuka seluas-luasnya seolah alam ini tidak pernah lelah, ketika pengawasan sekadar formalitas semata, dan hutan dihitung hanya sebagai angka dalam laporan ekonomi, amanah itu perlahan hilang. Bukan karena kita tidak paham, hanya saja tampaknya kepentingan lain terasa lebih menguntungkan daripada menjaga bumi yang kita pijak sendiri.

Di titik ini, fiqh ekologi bukan sekadar krisis teori, tetapi krisis moral.

Ketika Korban Bukan Pelaku

Tragedi Sumatra memperlihatkan satu kenyataan pahit bahwa mereka yang mengalami kerusakan rumah, keluarga yang hilang, dan bahkan harapan mereka untuk hidup sangat kecil, bukanlah orang-orang yang merusak hutan. Tetapi mereka selalu menjadi pihak yang paling cepat diminta bersabar, paling sering dinasihati, dan tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

Di manakah keadilan ekologis yang selama ini kita banggakan dalam ajaran Islam?

Keadilan bukan hanya tentang menghukum pelaku, tetapi juga mencegah segala hal yang menghasilkan kerusakan sejak awal.

Menghidupkan Kembali Fiqh Ekologi yang Pernah Kita Kubur

Fiqh ekologi sebenarnya bukan konsep yang rumit. Ia hanyalah cara pandang yang mengingatkan kita bahwa ketika membangun, membuat kebijakan, atau mengambil sumber daya alam, kita tidak boleh lupa bahwa bumi ini bukan sekadar aset ekonomi, terutama bagi sekelompok manusia yang tidak pernah kenyang mengeruk sumber daya alam di negeri ini. Alam ini adalah amanah dari Allah untuk kita. Tempat kita hidup, tumbuh, dan kembali.

Tragedi Sumatra mestinya membuat kita sebagai umat Islam berhenti sejenak, merenung, dan saling bertanya:

  • Apakah fiqh ekologi sudah menjadi dasar dalam keputusan-keputusan besar terhadap lingkungan?
  • Apakah pembangunan yang dibangga-banggakan sekarang ini ikut menjaga ciptaan Allah, atau justru merusaknya?
  • Dan apakah ajaran ini selama ini hanya kita biarkan jadi tulisan tanpa wujud tindakan?

Fiqh ekologi hanya akan hidup ketika ia dijadikan dasar tindakan, bukan sekadar teks indah yang berulang dibacakan setiap kali bencana telah terjadi.

Saatnya Mendengar Teriakan Alam

Banjir bandang di Sumatra menjadi pengingat yang tidak bisa diabaikan. Jika fiqh ekologi tidak kita hidupkan kembali, kita akan terus mengulang kesalahan yang sama. Islam mengajarkan kita membaca ayat, baik yang tertulis maupun yang hadir dalam peristiwa. Dan mungkin, lewat bencana ini, alam sedang menyampaikan sesuatu kepada mereka yang selama ini menutup mata dan telinga dari jeritan bumi.

Saatnya kita menghidupkan kembali fiqh ekologi yang selama ini dikubur dengan sengaja. Karena menjaga bumi adalah bagian dari ibadah.

Pray for Sumatra

Mari kita sisipkan doa dan sisihkan harta untuk saudara-saudara kita di Sumatra.

Semoga mereka diberi kekuatan menghadapi ujian ini, dan semoga siapa pun yang pernah merusak alam dilembutkan hatinya, dikembalikan menjadi manusia yang lebih baik, lebih peduli, dan lebih amanah terhadap bumi yang Allah titipkan kepada kita.

Writter by : Zahwa Kamila

Loading

Banjir dan Longsor Sumatera: Bukan Sekedar Bencana Alam!

Banjir bandang dan tanah longsor tengah melanda berbagai wilayah di Sumatera. Air datang tiba-tiba, tanah runtuh tanpa aba-aba, rumah rusak, lahan pertanian hilang, dan aktivitas pendidikan terganggu. Dalam situasi seperti ini, kita sering menyebutnya sebagai bencana alam—sebuah istilah yang terdengar wajar, namun kita jarang merenungkannya lebih dalam.

Padahal, di balik setiap bencana, selalu ada pertanyaan penting:

mengapa bencana ini terus berulang, bahkan semakin parah?

Apakah semata karena hujan yang terlalu deras, atau ada faktor lain yang ikut berperan?

Bukan Sekadar Soal Nama

Dalam aturan negara, bencana alam didefinisikan sebagai peristiwa yang disebabkan oleh faktor-faktor alam, seperti hujan ekstrem, gempa bumi, atau letusan gunung api. Dari definisi ini, banjir dan longsor memang tampak sebagai bagian dari risiko alamiah wilayah Indonesia, termasuk Sumatera.

Namun, perkembangan ilmu lingkungan menunjukkan bahwa alam tidak pernah bekerja sendirian. Cara manusia mengelola hutan, tanah, dan sungai sangat menentukan apakah turunnya hujan merupakan sebuah “rahmat” atau justru sebuah “laknat”.

Di sinilah muncul istilah “bencana ekologi”. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan bencana yang terjadi karena alam kehilangan keseimbangannya akibat aktivitas manusia. Alam tetap berperan sebagaimana mestinya, tetapi manusia telah mengubah kondisi lingkungan sedemikian rupa sehingga bencana menjadi lebih mudah terjadi dan dampaknya jauh lebih besar.

Dengan kata lain, bencana ekologi bukan berarti alam yang “bersalah”, melainkan

alam dipaksa menanggung akibat dari tindakan manusia yang salah.

Sumatera dan Lingkungan yang Kian Rentan

Sumatera sejatinya dianugerahi hutan yang luas dan subur. Selama ratusan tahun, bahkan mungkin ribuan tahun, hutan-hutan ini berfungsi sebagai penjaga air dan tanah. Ketika hujan turun, hutan menyerap air, menahannya, lalu melepaskannya perlahan ke sungai.

 

Namun, dalam beberapa dekade terakhir, banyak kawasan hutan di Sumatera beralih fungsi. Pembukaan lahan untuk perkebunan, pertambangan, dan permukiman membuat tutupan hutan berkurang drastis. Lereng-lereng yang dahulu hijau kini menjadi terbuka, dan daerah resapan air semakin menyempit.

Para ahli sering menyebut hutan sebagai “spons alami”. Ketika spons ini hilang, air hujan tidak lagi terserap, tetapi langsung mengalir deras di permukaan. Sungai cepat meluap, tanah menjadi rapuh, dan longsor pun mudah terjadi. Dalam kondisi lingkungan seperti ini, hujan yang seharusnya biasa saja (bahkan suatu keberkahan) bisa berubah menjadi ancaman datangnya bencana.

Apa Kata Para Ahli?

Pandangan ini bukan sekadar asumsi. Emil Salim, pakar lingkungan hidup Indonesia, menyebut bahwa banyak bencana di negeri ini sebenarnya adalah bencana akibat ulah manusia. Alam hanya bereaksi atas kerusakan yang diciptakan manusia sendiri.

Hal serupa disampaikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dalam berbagai pernyataannya, BNPB menegaskan bahwa sebagian besar bencana di Indonesia saat ini adalah bencana hidrometeorologi—seperti banjir dan longsor—yang sangat dipengaruhi oleh kerusakan lingkungan, terutama hutan dan daerah aliran sungai.

Prof. Dwikorita Karnawati, pakar geologi dan Kepala BMKG, juga menjelaskan bahwa longsor sangat berkaitan dengan hilangnya vegetasi di lereng. Menurutnya, hujan deras hanyalah pemicu. Tanpa kerusakan lingkungan, hujan tidak melulu menjadi bencana.

Sementara itu, WALHI secara konsisten mengingatkan bahwa banjir bandang dan longsor di Sumatera berkaitan erat dengan deforestasi, tata ruang yang buruk, serta eksploitasi alam yang berlebihan. Banyak wilayah terdampak parah justru berada di kawasan yang sebelumnya mengalami kerusakan hutan besar-besaran.

Semua pandangan ini mengarah pada satu kesimpulan:

bencana tidak datang tiba-tiba, melainkan tumbuh dari proses panjang yang kita abaikan.

Menimbang Status: Alam, Ekologi, dan Tanggung Jawab

Dalam membahas banjir dan longsor, kita perlu jujur bahwa faktor alam memang ada. Sumatera memiliki curah hujan tinggi dan wilayah berbukit. Hujan deras adalah bagian dari siklus alam yang tidak bisa kita kendalikan. Namun, hujan seperti ini sudah ada sejak dulu, dan tidak selalu berujung pada bencana besar.

Masalahnya muncul ketika lingkungan tidak lagi mampu menahan beban alam. Hutan berkurang, sungai rusak, dan tanah kehilangan kekuatannya. Dalam kondisi ini, air hujan kehilangan tempat untuk meresap dan mengalir dengan aman. Ia berubah menjadi aliran deras yang merusak, sementara tanah yang rapuh menjadi mudah runtuh.

Jika kita bandingkan, faktor alam bersifat tetap dan tidak bisa diubah. Sebaliknya, kondisi lingkungan sepenuhnya berada dalam kendali manusia.

Ketika kerusakan lingkungan menjadi penentu utama besarnya dampak bencana, maka menyebutnya sebagai bencana alam semata menjadi kurang tepat.

Lebih adil jika kita menyebut banjir bandang dan longsor di Sumatera sebagai bencana ekologi yang dipicu oleh hujan deras.

Cara kita menyebut bencana ini penting, karena ini akan menentukan cara kita bersikap. Jika semua dianggap sebagai kehendak alam, kita cenderung pasrah. Namun, jika kita sadar bahwa bencana juga lahir dari sikap manusia, maka ada tanggung jawab dalam diri kita untuk berbenah.

Penutup: Amanah Ilmu dan Kesadaran Bersama

Bagi mahasiswa dan santri, bencana bukan sekadar peristiwa alam, tetapi juga peringatan moral. Dalam ajaran Islam, manusia diberi amanah sebagai penjaga bumi (waliyyullah fil ardhli). Merusak lingkungan berarti mengkhianati amanah tersebut.

Kesalehan hari ini tidak cukup hanya ditunjukkan dalam ibadah personal, tetapi juga dalam cara kita memperlakukan alam. Menjaga lingkungan adalah bagian dari menjaga kehidupan, dan menjaga kehidupan adalah inti dari nilai kemanusiaan dan keimanan.

Jika relasi manusia dengan alam tidak segera dibenahi, banjir dan longsor akan terus berulang. Namun, jika kita mulai belajar dari bencana, memperbaiki kebijakan, dan membangun kesadaran bersama,

alam akan kembali menjadi “sahabat”, bukan “alat peringatan darurat”.

 

Written by : Ahmad Misbakhus Surur

 

Loading

CSSMoRA LEARNING SESSION

Pada hari Sabtu, 29 November 2025, bertempat di Teater FSH UIN Walisongo Semarang, telah dilaksanakan kegiatan CSSMoRA Learning Session sebagai agenda pengenalan dan pelatihan bagi anggota CSSMoRA UIN Walisongo Semarang dalam memahami dasar-dasar pasar modal. Kegiatan ini mengusung tema “Fundamental Pasar Modal: Cara Memulai, Mengelola Risiko, dan Menghindari Kesalahan Umum.”

Acara diawali dengan dengan pembukaan, dan dalam  sambutan yang disampaikan  oleh Ketua Umum CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, Asyraf Zofir Wafa, yang dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa kegiatan ini penting agar anggota memiliki pemahaman yang tepat mengenai investasi dan pengelolaan risiko. Ia menegaskan bahwa “Di era sekarang, kita selalu berhadapan dengan inflasi. Karena itu, memahami investasi bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Harapannya, kegiatan ini dapat membuka wawasan teman-teman untuk lebih siap dalam mengelola keuangan dan mengambil keputusan yang cerdas di pasar modal.” Ujarnya.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan pada sesi inti yaitu penyampaian materi oleh Viola Wulan Azzahro, anggota CSSMoRA UIN Walisongo Semarang yang berprestasi dalam berbagai kompetisi di bidang pasar modal. Sebagai pembuka, Viola terlebih dahulu menyampaikan contoh nyata mengenai inflasi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari kenaikan harga barang – barang, perubahan nilai tukar, hingga dampaknya terhadap daya beli masyarakat. Dari contoh tersebut, ia menekankan bahwa ketidakstabilan ekonomi menjadikan literasi investasi semakin penting bagi generasi muda.

Kemudian materi dilanjutkan dengan menjelaskan konsep dasar pasar modal, jenis-jenis instrumen investasi, serta langkah-langkah praktis untuk mulai berinvestasi secara aman. Ia juga menguraikan berbagai strategi pengelolaan risiko, seperti diversifikasi portofolio, mengenali profil risiko investor, serta pentingnya berpikir jangka panjang. Selain itu, peserta diberikan pemahaman mengenai kesalahan-kesalahan umum investor pemula seperti ikut-ikutan tren tanpa analisis, hingga keliru membaca pergerakan pasar. Penjelasan tersebut diperkaya dengan contoh studi kasus sederhana agar peserta lebih mudah memahami alur berpikir dalam pengambilan keputusan investasi.

Kegiatan diakhiri dengan penegasan kembali poin-poin penting mengenai literasi keuangan di kalangan mahasiswa dan dorongan agar anggota CSSMoRA lebih bijak serta siap dalam mengambil keputusan investasi di masa mendatang. Secara keseluruhan, acara berlangsung dengan lancar, komunikatif, dan memberikan wawasan baru yang bermanfaat bagi seluruh peserta.

Loading

Mengkritisi KUHAP terbaru yang kontroversial melalui Ngopi Edisi November 2025

Pada hari Ahad, 23 November 2025, Divisi PSDM (Pengembangan Sumber Daya Manusia) CSSMoRA UIN Walisongo Semarang telah melaksanakan kegiatan Ngopi (Ngobrol Pintar), yaitu program diskusi hangat dalam forum yang diperuntukkan bagi seluruh anggota CSSMoRA. Pelatihan ini berlangsung di Gazebo YPMI Al-Firdaus dan dimulai pada pukul 10.00 WIB hingga selesai. Kegiatan terselenggara dengan lancar dan mendapat partisipasi yang antusias dari para anggota yang hadir.

Ngopi merupakan salah satu program unggulan Divisi PSDM dalam upaya menambah wawasan dan mempertajam pemikiran kritis anggota CSSMoRA, khususnya dalam ranah hukum di dalam KUHAP.  Program ini menunjukkan komitmen Divisi PSDM dalam memberikan ruang pengembangan diri bagi anggota serta menjawab kebutuhan mahasiswa terhadap wawasan anggota CSSMoRA dan kemampuan berfikir kritis.

Pada Ngopi kali ini, Divisi PSDM menghadirkan M. Wafi Ahdillah sebagai narasumber. Beliau dikenal sebagai praktisi hukum perdata. Dalam sesi materi, narasumber memberikan penjelasan mendalam mengenai sejarah hukum, dasar-dasar hukum,bagaimana hukum itu terbentuk hingga pembahasan KUHAP terbaru. Selain pemaparan materi, peserta juga diajak untuk berdiskusi langsung tentang pasal-pasal dalam KUHAP yang kontroversial. Hal ini bertujuan agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu untuk mengkritik isi KUHAP yang disahkan.

Kegiatan berlangsung secara interaktif. Peserta diberi kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, serta melakukan konsultasi secara langsung dengan narasumber. Banyak peserta yang merasa terbuka dan bertambah wawasannya, karena dapat memahami dan mengkritisi  isi KUHAP terbaru.

Divisi PSDM sebagai penyelenggara berharap bahwa melalui Ngopi ini, kemampuan anggota dalam memahami isu-isu yang beredar dapat meningkat. Dengan adanya Ngopi , diharapkan anggota memiliki skill dasar mengkritisi apapun yang ada di negara kita.

Selain itu, pelatihan ini juga menjadi ajang silaturahmi dan penguatan relasi antaranggota CSSMoRA. Suasana diskusi yang hangat dan bersahabat membuat peserta merasa nyaman untuk belajar bersama, bertukar ide, dan saling memberikan masukan.

Loading

Sendal Ghasab

Selesai menyembah, menunduk dan memelas. Dalam batin berucap harapan. Merintih. Telapak tangan lebih tinggi dari kepala, tetap terbuka walau bergetar. Dari setiap sudut musholla terdengar desisan yakin.

amin, amin, amin”.

Banyak keinginan yang muncul saat hati lupa menconcong justru hilang kala jiwa terjatuh dalam khusu’. Namun kaulah lemah, tidak dapat berbuat apa-apa selain memohon, menuntut, mengembangkan, merusak, dan bergerak tidak konsisten. Rupanya ia sedang dirundung keinginan, sampai-sampai do’a yang ia panjatkan penuh dengan duka dan harapan. Lirih terdengar dari telinga sendiri: aku memohon ampun kepada-Mu, tidak ada kekuatan selain kekuatan-Mu. Pujian-pujian itu jangan pernah kau luput sekalipun dalam do’a. Kaki melipat bertumpuk, tubuh membungkuk, kepala menunduk, roh terpuruk. Semua sama melakukan apa yang kini sedang menimpa, bertingkah serupa, namun bertingkat sesuai taqwa. Hanya kekasih pilihan yang mampu berlama-lama, lupa akan semua hal dunia, terpecah menjadi pemikir sacral, kotor, aneh, menyendiri. Tidak selamanya terbayang seperti itu, ada pula yang hidup seperti manusia pada umumnya. Menyukai harta, kebersihan, dan cinta akan kenyamanan. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang. Harta? Mungkin sedikit rupiah yang diberikan secara malar setiap bulannya yang sedang ia damba-dambakan. Namun jika ia benar-benar menginginkannya, barapa banyak yang ia sebutkan dalam do’anya. Sedangkan untuk makan saja, dua ribu lima ratus sudah mendapatkan mie dan sop tahu. Tak jarang diberi bonus sambal untuk mereka yang menyukai.

Ia sendirian sekarang. Teman-temannya sudah selesai membaca wirid, sholat sunah, bahkan mereka yang mengobrol setelah jama’ah, sudah membubarkan diri. Tejo, santri yang sudah lama mukim dipesantren, masih khusu’ dengan harapan-harapannya. Harapan yang sama dengan teman-temannya, tetapi lebih memaksa, terlihat dari caranya berdo’a dengan tanggannya yang tinggi memohon. “Robbanaatinafiddunya khasanah, wa fiil akhirati khasanah….”, kalimat terakhir yang lumrah penutup do’a sudah keluar dari mulutnya, bertanda ia akan selesai.

Nampak Tejo sudah merasa cukup. Ia berdiri sejenak melihat ke sekeliling musholla lalu berjalan pergi. Tidak terlalu lama ia pasrah, berdiri dan berjalan mendekati pejuang lainnya. Tawa persahabatan seketika tumbuh saat sudah berkumpul. Lelucon-lelucon sederhana terdengar sangat menarik. Timpa-menimpa kekurangan tidak menjadi masalah serius. 

Perut terasa lapar. Tejo beranjak cepat menyusul bau harum yang sudah tercium. Jauh dari kata mewah makanan yang tersedia, tetap nikmat saat dibalut dengan syukur. Rela, menikmati, dan terkadang membantai dengan gerutu yang tidak ada akhirnya, namun tetap saja mereka memakan apa yang disediakan. Keberkahan berkumpul dalam satu wadah, melahap bersama sambil mulut kadang berucap. Sudah menjadi kebiasaan, kondisi bagaimanapun juga menjadi lawakan seketika. Ada yang berdesis pelan, membisik rancangan, diam-diam meraba lauk teman tanpa pengawasan. Risih rupanya mulut si Tejo sampai berkata,

“haduh, kiamat sudah dekat, tanda-tanda yang ada bisa kita lihat sekarang, tinggal siap-siap menyambutnya dengan keimanan.”

Nadanya biasa namun mengandung kejanggalan. Udin, satu lagi pejuang pintar. Alisnya mengernyit, tangannya berhenti memuluk, matanya menatap Tejo tidak biasa, mengundang tanya pada kepala yang semula hanya tenang.

“Kamu siapa?”, tanya Udin.

Bukan sebuah lelucon, namun hentakan keras kepada Tejo.

“Saya naming kawula.”, jawab Tejo.

“Ya sudah, pangkatmu hanya hamba, untuk apa kau mengatur terjadinya kiamat?”  

Tentu saja, kita sebagai hamba tidak sepatutnya berkata tentang hari kiamat, sekalipun tanda-tanda sudah bisa dilihat. Tuhan Maha Kuasa atas segala rancangan-Nya. Tidak akan terlambat sedetikpun, dan tidak bisa ditebak sampai kapanpun. Berangkali Tejo hanya sedang melamun karena sebelumnya ia terbang dalam ambang do’a. Sampai-sampai kalimat itu keluar dengan ringannya.

Belum selesai makan, terhenti pada pulukan terakhir karena mendengar teriakan dari depan.

“Jo…..Tejo! Timbali Mbah Yai!”

Seketika Tejo beranjak lari ke depan tanpa mencuci tangannya. Wajahnya risau, bibirnya bergetar. Ragu. Pikirannya bertanya-tanya ada apa sebenarnya samapai Mbah Yai memangilnya. Sedikit bayangan picik: mungkin aja, Allah telah mengabulkan do’anya lewat Mbah Yai. Mungkin saja, Mbah Yai tahu bahwa dirinya sudah tidak memiliki uang sekarang. Tejo melihat ke arah barisan sandal yang berantakan. Ia mengambil sandal japit hijau untuk kaki kirinya, dan biru untuk kaki kanannya. Ia memakainya tanpa peduli itu milik siapa. Sudah tiga tahun ia hidup di pesantren tanpa memiliki sendal. Korban ghasaban sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Tak segan, sandal milik anak baru yang masih bersih dan bermerek juga ia sikat. Ada dua kemungkinan di sini: ia yang memang tidak memiliki uang, atau rasa kepemilikannya yang sudah melambung tinggi. Dalil lumrah “Semua milik Allah, semua hanya titipan Allah” menjadi pedomannya sampai saat ini. Mungkin jika suatu saat jempol Tejo hilang dimakan tikus, teman-temannya akan berteriak, “jempol itu juga milik Allah, titipan Allah”.

Mbah Yai, siapa yang tidak kenal beliau. Pengasuh pesantren dengan santri ribuan, dan masyarakat yang semuanya menanamkan cinta kepadanya, menumbuhkan bunga-bunga takdzim dan segan. Mbah Yai terlihat rapih dengan jubah dan sorban yang melingkar di kepalanya. 

Sedikit terbirit Langkah Tejo. Sampai keringat masih saja bercucur Ketika sudah sampai di hadapan Mbah Yai. Barangkali keringat itu bukan karena langkahnya yang cepat, tetapi karena sekarang ia sedang berhadapan dengan orang yang paling ia takuti.

“Antar saya ke maqam.”

Kalimat sederhana itu seketika dibalas dengan kepatuhan

Dari kejauhan maqam sudah terlihat ramai. Rupanya ada acara resmi yang dihadiri para Kyai di desa. Tejo berjalan hati-hati di belakang Mbah Yai, tanpa berani sejajar, apalagi mendahului. Semua orang menunduk ketika Mbah Yai melintas. Mereka yang duduk bahkan rela berdiri demi menghormati Mbah Yai.

“Nitip sendal, yo.”

Lagi-lagi kalimat sederhana yang keluar dari mulut Mbah Yai langsung dibalas dengan satu kata 

“Enggih.”

Tahlil dimulai. Kalimat demi kalimat pembawa acara berterbangan dari toa masjid. Para hadirin duduk tenang. Ibu-ibu yang hadir selalu saja begitu, masih saja mengobrol walau sudah diperingatkan sebelumnya. Obrolannya berhenti hanya di saat menjawab salam saja. Bahkan masih ada yang berkeliling mencari jajanan untuk anaknya. Pedagang yang ikut serta tidak berani berani berteriak lantang menawari. Tapi tetap saja ibu-ibu yang menawar harga membuat pedagang itu harus lantang berkata “Tidak”, karena tawaran harga yang diajukan mencapai setengah harga pasar. Tidak tanggung-tanggung memang ibu-ibu jika sudah menyukai barang, terlebih jika yang meminta anaknya. Jangankan menurunkan harga pasar, menurunkan harga diri penjualnya pun bisa saja akan ia lakukan.

Tidak terlalu lama tahlil berlangsung. Masyarakat yang sudah mendapatkan jatah berkat mulai beranjak dari tempatnya. Tejo harus Bersiap-siap. Sebentar lagi, Mbah Yai akan keluar dan pulang ke rumah. Ia merapihkan sandal Mbah Yai yang semula menghadap maqam ia putar siap pakai. Ia harus sabar menunggu, berdiri di sebelah sandal agar tidak tertukar, atau bahkan diambil orang.

Dari dalam, Mbah Yai sudah meninggalkan tempat duduknya. Jama’ah yang sudah lama menunggu berbaris bergantian menunggu kesempatan mencium tangan Mbah Yai. Semakin banyak jama’ah yang berdesakan menunggu giliran. Tejo tersengol dari tempatnya. Ia berusaha kembali ke tempatnya semula, namun jama’ah dengan cepat mengisi jarak demi jarak yang kosong. Sedikit saja Tejo mundur, di depannya sudah ada orang lain yang mengisi. Ia hanya perlu berdo’a agar sandal Mbah Yai tidak hilang. 

Seiring waktu berjalan, jama’ah sudah mulai mengikis. Tejo sudah bisa kembali dan mengecek apakah sandal Mbah Yai masih ada? Ia memasang mata tajam-tajam dari kejauhan. Namun Tejo tidak melihat sandal Mbah Yai di tempat semula. Ia berusaha mencari kemana sandal itu berpindah. Sekali lagi kesialan itu datang, Mbah Yai sudah berdiri memanggil Tejo sebelum sandalnya ketemu. Tejo hanya menunduk sambil sesekali menelan ludah. 

“Sendal saya mana? Ayo pulang.”

Belum ada jawaban di kepala Tejo. Ia tersenyum kaku menatap tanah. Tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia berusaha menjawab dengan terbata-bata,

“Anu, Mbah, eh……sandalnya, anu.”

“Yang saya tanya sandal saya, bukan sandal si Anu.”

“Anu, sandalnya hilang.”

“Heh?” Mbah Yai terkejut mendengar jawaban Tejo. Namun setelah itu, senyuman terlukis di wajah Mbah Yai. Melihat wajah Tejo yang pucat dan keringat yang bercucur deras, Mbah Yai merasa kasihan. Ia memberikan seratus ribu rupiah kepada Tejo untuk dibelikan sandal baru di warung terdekat.

Segera Tejo meluncur ke penjual sandal. Ia memilih sandal yang paling bagus karena memang uang yang diberikan Mbah Yai cukup besar. Tejo memberikan uang itu setelah penjual selesai membungkus sandal. Tanpa mau menerima, penjual itu berkata senang jika dagangannya bisa bermanfaat bagi santri, terlebih untuk Mbah Yai. Tidak mau dimarahi Mbah Yai, Tejo mencoba memberikan lagi uang itu ke penjual dengan sedikit paksaan yang dibalut tawa dan pujian, namun tetap saja penjual itu menolak. Ya sudahlah, Tejo tidak mau membuat Mbah Yai lebih lama menunggu. Ia hanya dapat berterima kasih kepada penjual itu, sembari mendo’akan agar dangangannya laris dan bermanfaat.

Dengan takdzim Tejo Menyusun sandal di depan Mbah Yai, lalu mengembalikan uang yang diberikan kepadanya. Mbah Yai heran, uangnya masih utuh. Tejo menjelaskan kenapa uang yang diberikan Mbah Yai tidak berkurang sedikitpun. Setelah mendengar penjelasan Tejo yang sedikit tidak jelas, Mbah Yai berkata, 

“ya sudah, uang itu untuk kamu saja.”

Writter : Taufiq Ridlo

Loading

BANGKIT DARI REBAH

Karya; siti nurrahmi dwinta

Raga rapuh menahan letih,
sementara jalan membentang tanpa tepi.
Harapan seperti janji semesta,
berbisik lirih agar tak berhenti.

Kadang ingin menyerah,
namun jejak sudah tertanam
di pusaran waktu yang tak bisa diputar.

Tenanglah, wahai raga,
rebahlah bila perlu,
asal jangan hilang arah.

Bangkitlah, seteguh tongkat
yang menancap kokoh di bumi.
Biarkan harapan mekar,
menjelma bunga nyata
dari mimpi yang pernah kita titipkan pada langit.

Loading