Aspek penting Sirah Nabawiyyah yang jarang disentuh: benarkah Rasulullah hidup dalam kemiskinan? Fakta Penelitian Menguak Total Kekayaan Beliau Setara Rp 1,41 Triliun
Ahmad bin Ali al-Maqrizi (w. 845 H) dan Dr. Abdul Fattah Samman mencatat dengan rinci aset kekayaan Rasulullah dalam karya mereka yang berjilid-jilid.
Dari penelitian itu tampak jelas satu pesan besar, Beliau Nabi Muhammad adalah hartawan yang zuhud. Dan zuhud, sebagaimana diajarkan Rasulullah, tidak identik dengan kemiskinan, tetapi kebebasan hati dari ketergantungan pada harta.
Selama ini, kisah hidup Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallamseringkali diceritakan dengan penekanan pada kesederhanaan, bahkan kemiskinan. Namun, sebuah kajian keilmuan mendalam telah menyingkap fakta yang mengejutkan, sekaligus meluruskan pemahaman kita tentang konsep zuhud yang sebenarnya.
Dalam sebuah disertasi yang luar biasa, Dr. Abdul Fattah As-Samman mengangkat sebuah ilmu yang ia sebut al-iqtishad an-nabawi (ekonomi Nabi). Karya ini kemudian dibukukan menjadi Kitab Amwalun Nabi setebal 560 halaman.
Berdasarkan penelitian tersebut, yang menyimpulkan dari berbagai nash, dalil, dan bukti otentik yang dihimpun dari kitab-kitab “kuning” para ulama, terungkap sebuah kesimpulan yang tegas: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah seorang yang kaya raya
Kajian tersebut mengakhiri studinya dengan perhitungan bahwa nilai kekayaan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dari hasil usaha beliau totalnya mencapai angka fantastis: 1217 kg emas.
Sumber penghasilan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam datang dari jalur yang beragam, Penghasilan utama beliau diperoleh melalui jalur bisnis karena beliau adalah seorang pedagang yang ulung, dari warisan yang diterima dari kedua orang tua dan dari Khadijah, dari berbagai hasil rampasan perang, serta berbagai hadiah dari raja-raja maupun dari para sahabat dan lainnya.
Selain itu, harta beliau juga berupa tanah yang tersebar di berbagai tempat, seperti tanah Sab’ah (hadiah dari Mukhairiq), tanah dari Bani Nadhir, benteng Khaibar, separuh dari tanah Fadak, dan sepertiga dari Wadil Qura. Beliau juga memiliki barang-barang pribadi seperti pedang, baju besi, busur, anak panah, dan tameng.
Lantas, mengapa kita sering mendengar beliau hidup sederhana? Jawabannya terletak pada konsep zuhud. Data ekonomi kenabian menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.memang kaya raya, tetapi kekayaan itu tidak berdiam lama di tangannya
Fakta mencengangkan lainnya dari diri nabi muhammad ialah infaq beliau nilainya lebih dari 1251 kg emas. Beliau juga tercatat mewakafkan lima belas lahan tanah yang nilai masing-masingnya lebih dari 25 kg emas.
Penulis kitab Amwalun Nabi menjelaskan kaidah beliau dalam berinfaq yaitu untuk diri sendiri, istri dan keluarga, orang-orang yang menjadi tanggungan, mantan budak, pembantu, sahabat, tamu, hingga para muallaf dan bahkan orang-orang musyrik.
Inilah yang menjadi pesan utama dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bukanlah seorang yang miskin. Beliau adalah hartawan yang zuhud. Kajian ini mampu memberikan materi tambahan nilai berkenaan dengan persoalan-persoalan mendasar, seperti masalah aqidah, sirah nabawiyah, hadits, maupun pemikiran dakwah yang kesemuanya disandarkan kepada dalil-dalil yang shahih dan sirah yang otentik.
Kekayaan yang beliau miliki adalah alat, bukan tujuan, sehingga beliau selalu bebas dari ketergantungan terhadap harta. Inilah definisi sempurna dari zuhud. Kebenaran ini ditegaskan oleh qaul sekian banyak ulama umat, seperti Imam Taqiyuddin As-Subki, Imam Al-Hafizh Tajuddin As-Subki, Imam An-Nasafi, hingga Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaili.
Pada hari Ahad, 23 November 2025, Divisi PSDM (Pengembangan Sumber Daya Manusia) CSSMoRA UIN Walisongo Semarang telah melaksanakan kegiatan Ngopi (Ngobrol Pintar), yaitu program diskusi hangat dalam forum yang diperuntukkan bagi seluruh anggota CSSMoRA. Pelatihan ini berlangsung di Gazebo YPMI Al-Firdaus dan dimulai pada pukul 10.00 WIB hingga selesai. Kegiatan terselenggara dengan lancar dan mendapat partisipasi yang antusias dari para anggota yang hadir.
Ngopi merupakan salah satu program unggulan Divisi PSDM dalam upaya menambah wawasan dan mempertajam pemikiran kritis anggota CSSMoRA, khususnya dalam ranah hukum di dalam KUHAP. Program ini menunjukkan komitmen Divisi PSDM dalam memberikan ruang pengembangan diri bagi anggota serta menjawab kebutuhan mahasiswa terhadap wawasan anggota CSSMoRA dan kemampuan berfikir kritis.
Pada Ngopi kali ini, Divisi PSDM menghadirkan M. Wafi Ahdillah sebagai narasumber. Beliau dikenal sebagai praktisi hukum perdata. Dalam sesi materi, narasumber memberikan penjelasan mendalam mengenai sejarah hukum, dasar-dasar hukum,bagaimana hukum itu terbentuk hingga pembahasan KUHAP terbaru. Selain pemaparan materi, peserta juga diajak untuk berdiskusi langsung tentang pasal-pasal dalam KUHAP yang kontroversial. Hal ini bertujuan agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu untuk mengkritik isi KUHAP yang disahkan.
Kegiatan berlangsung secara interaktif. Peserta diberi kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, serta melakukan konsultasi secara langsung dengan narasumber. Banyak peserta yang merasa terbuka dan bertambah wawasannya, karena dapat memahami dan mengkritisi isi KUHAP terbaru.
Divisi PSDM sebagai penyelenggara berharap bahwa melalui Ngopi ini, kemampuan anggota dalam memahami isu-isu yang beredar dapat meningkat. Dengan adanya Ngopi , diharapkan anggota memiliki skill dasar mengkritisi apapun yang ada di negara kita.
Selain itu, pelatihan ini juga menjadi ajang silaturahmi dan penguatan relasi antaranggota CSSMoRA. Suasana diskusi yang hangat dan bersahabat membuat peserta merasa nyaman untuk belajar bersama, bertukar ide, dan saling memberikan masukan.
Selesai menyembah, menunduk dan memelas. Dalam batin berucap harapan. Merintih. Telapak tangan lebih tinggi dari kepala, tetap terbuka walau bergetar. Dari setiap sudut musholla terdengar desisan yakin.
“amin, amin, amin”.
Banyak keinginan yang muncul saat hati lupa menconcong justru hilang kala jiwa terjatuh dalam khusu’. Namun kaulah lemah, tidak dapat berbuat apa-apa selain memohon, menuntut, mengembangkan, merusak, dan bergerak tidak konsisten. Rupanya ia sedang dirundung keinginan, sampai-sampai do’a yang ia panjatkan penuh dengan duka dan harapan. Lirih terdengar dari telinga sendiri: aku memohon ampun kepada-Mu, tidak ada kekuatan selain kekuatan-Mu. Pujian-pujian itu jangan pernah kau luput sekalipun dalam do’a. Kaki melipat bertumpuk, tubuh membungkuk, kepala menunduk, roh terpuruk. Semua sama melakukan apa yang kini sedang menimpa, bertingkah serupa, namun bertingkat sesuai taqwa. Hanya kekasih pilihan yang mampu berlama-lama, lupa akan semua hal dunia, terpecah menjadi pemikir sacral, kotor, aneh, menyendiri. Tidak selamanya terbayang seperti itu, ada pula yang hidup seperti manusia pada umumnya. Menyukai harta, kebersihan, dan cinta akan kenyamanan. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang. Harta? Mungkin sedikit rupiah yang diberikan secara malar setiap bulannya yang sedang ia damba-dambakan. Namun jika ia benar-benar menginginkannya, barapa banyak yang ia sebutkan dalam do’anya. Sedangkan untuk makan saja, dua ribu lima ratus sudah mendapatkan mie dan sop tahu. Tak jarang diberi bonus sambal untuk mereka yang menyukai.
Ia sendirian sekarang. Teman-temannya sudah selesai membaca wirid, sholat sunah, bahkan mereka yang mengobrol setelah jama’ah, sudah membubarkan diri. Tejo, santri yang sudah lama mukim dipesantren, masih khusu’ dengan harapan-harapannya. Harapan yang sama dengan teman-temannya, tetapi lebih memaksa, terlihat dari caranya berdo’a dengan tanggannya yang tinggi memohon. “Robbanaatinafiddunya khasanah, wa fiil akhirati khasanah….”, kalimat terakhir yang lumrah penutup do’a sudah keluar dari mulutnya, bertanda ia akan selesai.
Nampak Tejo sudah merasa cukup. Ia berdiri sejenak melihat ke sekeliling musholla lalu berjalan pergi. Tidak terlalu lama ia pasrah, berdiri dan berjalan mendekati pejuang lainnya. Tawa persahabatan seketika tumbuh saat sudah berkumpul. Lelucon-lelucon sederhana terdengar sangat menarik. Timpa-menimpa kekurangan tidak menjadi masalah serius.
Perut terasa lapar. Tejo beranjak cepat menyusul bau harum yang sudah tercium. Jauh dari kata mewah makanan yang tersedia, tetap nikmat saat dibalut dengan syukur. Rela, menikmati, dan terkadang membantai dengan gerutu yang tidak ada akhirnya, namun tetap saja mereka memakan apa yang disediakan. Keberkahan berkumpul dalam satu wadah, melahap bersama sambil mulut kadang berucap. Sudah menjadi kebiasaan, kondisi bagaimanapun juga menjadi lawakan seketika. Ada yang berdesis pelan, membisik rancangan, diam-diam meraba lauk teman tanpa pengawasan. Risih rupanya mulut si Tejo sampai berkata,
“haduh, kiamat sudah dekat, tanda-tanda yang ada bisa kita lihat sekarang, tinggal siap-siap menyambutnya dengan keimanan.”
Nadanya biasa namun mengandung kejanggalan. Udin, satu lagi pejuang pintar. Alisnya mengernyit, tangannya berhenti memuluk, matanya menatap Tejo tidak biasa, mengundang tanya pada kepala yang semula hanya tenang.
“Kamu siapa?”, tanya Udin.
Bukan sebuah lelucon, namun hentakan keras kepada Tejo.
“Saya naming kawula.”, jawab Tejo.
“Ya sudah, pangkatmu hanya hamba, untuk apa kau mengatur terjadinya kiamat?”
Tentu saja, kita sebagai hamba tidak sepatutnya berkata tentang hari kiamat, sekalipun tanda-tanda sudah bisa dilihat. Tuhan Maha Kuasa atas segala rancangan-Nya. Tidak akan terlambat sedetikpun, dan tidak bisa ditebak sampai kapanpun. Berangkali Tejo hanya sedang melamun karena sebelumnya ia terbang dalam ambang do’a. Sampai-sampai kalimat itu keluar dengan ringannya.
Belum selesai makan, terhenti pada pulukan terakhir karena mendengar teriakan dari depan.
“Jo…..Tejo! Timbali Mbah Yai!”
Seketika Tejo beranjak lari ke depan tanpa mencuci tangannya. Wajahnya risau, bibirnya bergetar. Ragu. Pikirannya bertanya-tanya ada apa sebenarnya samapai Mbah Yai memangilnya. Sedikit bayangan picik: mungkin aja, Allah telah mengabulkan do’anya lewat Mbah Yai. Mungkin saja, Mbah Yai tahu bahwa dirinya sudah tidak memiliki uang sekarang. Tejo melihat ke arah barisan sandal yang berantakan. Ia mengambil sandal japit hijau untuk kaki kirinya, dan biru untuk kaki kanannya. Ia memakainya tanpa peduli itu milik siapa. Sudah tiga tahun ia hidup di pesantren tanpa memiliki sendal. Korban ghasaban sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Tak segan, sandal milik anak baru yang masih bersih dan bermerek juga ia sikat. Ada dua kemungkinan di sini: ia yang memang tidak memiliki uang, atau rasa kepemilikannya yang sudah melambung tinggi. Dalil lumrah “Semua milik Allah, semua hanya titipan Allah” menjadi pedomannya sampai saat ini. Mungkin jika suatu saat jempol Tejo hilang dimakan tikus, teman-temannya akan berteriak, “jempol itu juga milik Allah, titipan Allah”.
Mbah Yai, siapa yang tidak kenal beliau. Pengasuh pesantren dengan santri ribuan, dan masyarakat yang semuanya menanamkan cinta kepadanya, menumbuhkan bunga-bunga takdzim dan segan. Mbah Yai terlihat rapih dengan jubah dan sorban yang melingkar di kepalanya.
Sedikit terbirit Langkah Tejo. Sampai keringat masih saja bercucur Ketika sudah sampai di hadapan Mbah Yai. Barangkali keringat itu bukan karena langkahnya yang cepat, tetapi karena sekarang ia sedang berhadapan dengan orang yang paling ia takuti.
“Antar saya ke maqam.”
Kalimat sederhana itu seketika dibalas dengan kepatuhan
Dari kejauhan maqam sudah terlihat ramai. Rupanya ada acara resmi yang dihadiri para Kyai di desa. Tejo berjalan hati-hati di belakang Mbah Yai, tanpa berani sejajar, apalagi mendahului. Semua orang menunduk ketika Mbah Yai melintas. Mereka yang duduk bahkan rela berdiri demi menghormati Mbah Yai.
“Nitip sendal, yo.”
Lagi-lagi kalimat sederhana yang keluar dari mulut Mbah Yai langsung dibalas dengan satu kata
“Enggih.”
Tahlil dimulai. Kalimat demi kalimat pembawa acara berterbangan dari toa masjid. Para hadirin duduk tenang. Ibu-ibu yang hadir selalu saja begitu, masih saja mengobrol walau sudah diperingatkan sebelumnya. Obrolannya berhenti hanya di saat menjawab salam saja. Bahkan masih ada yang berkeliling mencari jajanan untuk anaknya. Pedagang yang ikut serta tidak berani berani berteriak lantang menawari. Tapi tetap saja ibu-ibu yang menawar harga membuat pedagang itu harus lantang berkata “Tidak”, karena tawaran harga yang diajukan mencapai setengah harga pasar. Tidak tanggung-tanggung memang ibu-ibu jika sudah menyukai barang, terlebih jika yang meminta anaknya. Jangankan menurunkan harga pasar, menurunkan harga diri penjualnya pun bisa saja akan ia lakukan.
Tidak terlalu lama tahlil berlangsung. Masyarakat yang sudah mendapatkan jatah berkat mulai beranjak dari tempatnya. Tejo harus Bersiap-siap. Sebentar lagi, Mbah Yai akan keluar dan pulang ke rumah. Ia merapihkan sandal Mbah Yai yang semula menghadap maqam ia putar siap pakai. Ia harus sabar menunggu, berdiri di sebelah sandal agar tidak tertukar, atau bahkan diambil orang.
Dari dalam, Mbah Yai sudah meninggalkan tempat duduknya. Jama’ah yang sudah lama menunggu berbaris bergantian menunggu kesempatan mencium tangan Mbah Yai. Semakin banyak jama’ah yang berdesakan menunggu giliran. Tejo tersengol dari tempatnya. Ia berusaha kembali ke tempatnya semula, namun jama’ah dengan cepat mengisi jarak demi jarak yang kosong. Sedikit saja Tejo mundur, di depannya sudah ada orang lain yang mengisi. Ia hanya perlu berdo’a agar sandal Mbah Yai tidak hilang.
Seiring waktu berjalan, jama’ah sudah mulai mengikis. Tejo sudah bisa kembali dan mengecek apakah sandal Mbah Yai masih ada? Ia memasang mata tajam-tajam dari kejauhan. Namun Tejo tidak melihat sandal Mbah Yai di tempat semula. Ia berusaha mencari kemana sandal itu berpindah. Sekali lagi kesialan itu datang, Mbah Yai sudah berdiri memanggil Tejo sebelum sandalnya ketemu. Tejo hanya menunduk sambil sesekali menelan ludah.
“Sendal saya mana? Ayo pulang.”
Belum ada jawaban di kepala Tejo. Ia tersenyum kaku menatap tanah. Tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia berusaha menjawab dengan terbata-bata,
“Anu, Mbah, eh……sandalnya, anu.”
“Yang saya tanya sandal saya, bukan sandal si Anu.”
“Anu, sandalnya hilang.”
“Heh?” Mbah Yai terkejut mendengar jawaban Tejo. Namun setelah itu, senyuman terlukis di wajah Mbah Yai. Melihat wajah Tejo yang pucat dan keringat yang bercucur deras, Mbah Yai merasa kasihan. Ia memberikan seratus ribu rupiah kepada Tejo untuk dibelikan sandal baru di warung terdekat.
Segera Tejo meluncur ke penjual sandal. Ia memilih sandal yang paling bagus karena memang uang yang diberikan Mbah Yai cukup besar. Tejo memberikan uang itu setelah penjual selesai membungkus sandal. Tanpa mau menerima, penjual itu berkata senang jika dagangannya bisa bermanfaat bagi santri, terlebih untuk Mbah Yai. Tidak mau dimarahi Mbah Yai, Tejo mencoba memberikan lagi uang itu ke penjual dengan sedikit paksaan yang dibalut tawa dan pujian, namun tetap saja penjual itu menolak. Ya sudahlah, Tejo tidak mau membuat Mbah Yai lebih lama menunggu. Ia hanya dapat berterima kasih kepada penjual itu, sembari mendo’akan agar dangangannya laris dan bermanfaat.
Dengan takdzim Tejo Menyusun sandal di depan Mbah Yai, lalu mengembalikan uang yang diberikan kepadanya. Mbah Yai heran, uangnya masih utuh. Tejo menjelaskan kenapa uang yang diberikan Mbah Yai tidak berkurang sedikitpun. Setelah mendengar penjelasan Tejo yang sedikit tidak jelas, Mbah Yai berkata,
Pelajar berkepentingan memetik apapun sebagai pembelajaran. Darimana? Dari apapun, di manapun. Menunaikan titah pendidikan kepada para pemeluknya:
“Belajarlah, dimanapun, dengan apa pun, kepada siapapun”.
Sidang pembaca yang budiman, kuceritai mengenai apa yang kurasai terhadap yang satu ini. Ini adalah Film Komang (2025), disutradarai oleh Naya Anindita dan dibintangi oleh Kiesha Alvaro sebagai Raim (Ode) dan Aurora Ribero sebagai Komang (Ade). Sebuah perjalanan spiritual yang dialami Ade Komang—tokoh utama perempuan film itu menuju yang paling romantis. Bercerita tentang perjalanan hubungan meniti perasaan, akankah berujung sejati?
Raim Laode, La pada namanya bermakna “La ilaha illallah”, nampak betul dari namanya saja ia dilahirkan sebagai pemeluk agama yang taat. Dan Komang seorang perempuan Hindu asal Bali yang kemudian menetap di Sulawesi pun besar dan tumbuh kembang di keluarga yang betul-betul menghayati keyakinannya sebagaimana yang telah diajarkan Ibunya. Lalu, pada suatu pertunjukan stand up comedy bertemulah mereka untuk pertama kali.
Mula-mula yang ingin kusampaikan adalah keindahan melalui pluralisme. Yang satu ini bukan melulu mengenai gemasnya romansa anak muda, laki-perempuan dan persoalan receh yang membersamainya. Lebih dari itu adalah pluralisme. Ciamik! Betul Indonesia dengan kemajemukan dan telah ditampilkan dengan indah melalui film, yaitu di Kota BauBau, Sulawesi Tenggara. Perbedaan berdampingan! Sangat dekat dan saling menghargai. Saling mencintai, tidak saling membenci.
Lalu, Cinta adalah Perjalanan Spirituil. Di sana sangat intim dan jenaka, sangat romantis nan mistis. Aku percaya, Bung, percaya betul terhadap perasaan dan kelembutan nurani. Maka saling mencintailah mereka, Ode dan Ade lalu, dijalinlah suatu ikatan tidak pasti yang khalayak menamainya pacaran.
Hubungan mesti berlanjut. Berlanjut senang-senang saja atau kau ikat melalui ikatan sakral bernama pernikahan? Jika sudah cinta jangan melulu ucapnya, buktikan pula melalui sikap. Maka keyakinan cinta diuji di sini.
“Maka jangan kau menjalani keyakinan dengan ragu, jika begitu kau menjalani keraguan bukan keyakinan,” ucap bapaknya Neneng dalam film itu.
Sedang perasaan serumit itu, apalagi manusia! Dengan segala kegamangan dan ikatan yang membersamainya. Ode merantau ke Ibu Kota untuk menjemput rezekinya. Di lain sisi, ada pula laki-laki lain yang mendambakan Ade sebagai partner hidupnya, mapan, tampan, seiman pula. Keyakinan Ode dan Ade diuji di sini. Jarak dan kecurigaan memuncak di antaranya, hingga suatu hari kabar duka datang kepada Ode yang sedang berkarier di Ibu Kota mengenai kepulangan Bapaknya. Remuk redam hatinya. Patah hati seorang perantau adalah kabar kepulangan orangtua di rumah.
Di kampung halaman, di masa berkabung, Ode tentu saja bertemu dengan kasihnya. Ia merasakan penghiburan sejati dan merasai perasaan itu tak mungkin padam. Memuncak!
Perdebatan sengit terjadi antara Ode dan Ade.
“Hanya itu usahamu? Memperjuangkanku?!” ucap Ade.
Mereka berdua akhirnya hanya mampu menangis— suatu ungkapan paling nyata emosional manusia. Ode berkata:
“Satu takdir, tak mungkin bisa ditulis oleh dua pena.”
Keesokan harinya, Ode bertandang ke rumah Ade untuk menyatakan maksud kepada Ibunya Ade, ditolak ia dengan pernyataan yang tak mungkin ia bantah. Sebelum keberangkatan Ode menuju Jakarta untuk kembali berkarier, berpesan sepuhnya:
“Rejeki, Jodoh dan mati di tangan Tuhan. … Dan untuk jodoh, doakanlah ia.”
Kembalilah Ode ke Ibu Kota. Sukseslah ia berkarier sebagai seniman. Dan apa yang terjadi selanjutnya – hidayah itu tiba; keajaiban takdir yang wajib Saudara saksikan sendiri.
Buatku ini bukan hanya sekadar tontonan, ini adalah dakwah yang tiba kepadaku. Kekuatan film ini terletak pada kedalaman emosi yang berhasil disampaikan oleh para aktor, terutama Aurora Ribero (Komang) dan Ayu Laksmi (Meme/Ibu Komang). Momen-momen intim di BauBau dan Bali terasa otentik dan sangat menyentuh.
Namun, sebagai sebuah karya sinema yang membawa nama besar Raim Laode, terdapat beberapa catatan yang perlu diperhatikan:
Aspek Teknis Pemeran: Meskipun chemistry antar tokoh utama terasa, penampilan Kiesha Alvaro (Raim) di beberapa adegan masih terasa kurang matang dalam menyampaikan dialek Buton yang kental dan khas.
Transisi Alur: Penggunaan latar stand-up comedy di awal terasa sedikit terpisah dengan isu besar pluralisme dan perjuangan cinta. Transisi antara segmen komedi Raim di Jakarta dengan drama keluarga di BauBau terkadang kurang mulus.
Visual: Meskipun sinematografi Robert Cauble indah dalam menangkap lanskap Sulawesi Tenggara, beberapa adegan drama di ruang tertutup terasa kurang dinamis dan kurang maksimal secara visual.
Terlepas dari catatan teknis, pesan yang disampaikan film ini—bahwa keberanian, ketulusan, dan doa adalah upaya tertinggi dalam menjemput takdir—sangat menggetarkan. Aku berkeyakinan mengenai dua nama mula-mula di antara yang 99 merebak ia di keseharian, dan indah sekali agama. ⚘️
Selepas menyaksikan film ini di salah satu mall di Tasikmalaya – dalam perjalanan pulang – aku teringat sebuah ucapan dalang edan:
“Menikah adalah nasib, mencintai adalah takdir. Kau bisa berencana menikah dengan siapa, tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa.” ~ Sujiwo Tejo.
Sebagai langkah awal dalam mempersiapkan regenerasi kepengurusan, CSSMoRA UIN Walisongo sukses menyelenggarakan Kaderisasi Tingkat Perguruan Tinggi (KTPT) 2025. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu dan Minggu (15-16 November 2025), di Ponpes Salafy Modern Madinatul Amin Mijen.
Kaderisasi Tingkat Perguruan Tinggi (KTPT) merupakan salah satu program kerja dari Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) CSSMoRA di setiap perguruan tinggi, yang pelaksanaannya di bawah koordinasi Departemen PSDM CSSMoRA Nasional. Kegiatan kaderisasi ini ditujukan bagi anggota CSSMoRA angkatan 2025 sebagai persiapan untuk menjalankan kepengurusan periode berikutnya. Tujuannya adalah untuk membekali anggota 2025 dengan pemahaman dasar tentang organisasi dan kepemimpinan guna menjaga keberlangsungan CSSMoRA secara berkelanjutan.
Pada pelaksanaan KTPT tahun ini, CSSMoRA UIN Walisongo turut menggandeng CSSMoRA Universitas Negeri Semarang, yang merupakan perguruan tinggi baru dalam Program PBSB. Dengan mengusung tema ‘Kader Berdaya, Berilmu, dan Berakhlak di Tengah Arus Perubahan’, kegiatan ini diikuti oleh 37 peserta dari angkatan 2025.
Rangkaian acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars CSSMoRA, sambutan-sambutan, dan doa penutup.
“Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan kaderisasi kepada anggota baik non-formal maupun formal, seperti pemberian materi yang nantinya akan diterima oleh angkatan 2025. KTPT ini juga menjadi langkah awal bagi angkatan 2025 sebelum benar-benar berproses di CSSMoRA,” ujar Indana Zulfa, Koordinator Departemen PSDM Nasional dalam sambutannya.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan acara inti berupa pemaparan materi. Materi pertama mengenai keorganisasian disampaikan oleh Unggul Suryo Adi. Beliau menyampaikan arti dari organisasi, pentingnya berorganisasi bagi mahasiswa, serta berbagai hal terkait dengan organisasi.
“Organisasi itu menghidupkan masa kini hingga masa mendatang. Organisasi adalah tempat belajar terbaik di luar kelas, CSSMoRA adalah wadah untuk belajar,” ujar Unggul.
Materi kedua tentang kebangsaan yang disampaikan oleh Muhammad Aksa. Kemudian, acara dilanjutkan dengan materi ketiga mengenai analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats) oleh Nor Ramat Sholichin, materi kepesantrenan oleh Azmil Musthofa, materi persidangan oleh Wahyudi, dan materi terakhir adalah materi ke-CSSMoRA-an yang disampaikan oleh Muhammad Muhaimin Thohri.
Setelah seluruh materi disampaikan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi post-test pada pukul 02.15 dini hari. Dalam sesi ini, para peserta menjawab serangkaian pertanyaan yang menguji pemahaman mereka terhadap seluruh materi yang telah diberikan sebelumnya. Puncak acara dari kaderisasi ini kemudian tiba, yaitu sesi pengukuhan anggota angkatan 2025. Momen khidmat ini ditandai dengan pembacaan Catur Prasetya Santri Berprestasi, yang menjadi simbol peresmian para peserta sebagai anggota aktif CSSMoRA.
Keesokan paginya, KTPT 2025 ditutup dengan nuansa kekeluargaan yang hangat. Sesi tukar kado berlangsung dengan penuh keakraban dan dilanjutkan dengan berbagi kesan dan pesan dari perwakilan peserta, mengakhiri seluruh rangkaian acara KTPT ini dengan penuh makna.
Melalui serangkaian kegiatan ini, diharapkan seluruh anggota 2025 dapat mengaplikasikan ilmu dan pengalaman yang diperoleh untuk berkontribusi aktif dalam mengembangkan CSSMoRA UIN Walisongo serta CSSMoRA UNNES ke depannya.
Pada hari Jumat, 7 November 2025, bertempat di YPMI Al-Firdaus Semarang, telah dilaksanakan kegiatan Class of CSSMoRA (COC) yang diselenggarakan oleh Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) CSSMoRA UIN Walisongo Semarang. Kegiatan ini merupakan agenda peningkatan kapasitas anggota sekaligus ruang pembelajaran kolektif yang diinisiasi sebagai bentuk komitmen PSDM dalam menghadirkan wadah pengembangan diri melalui pendekatan ilmu sosial dan keagamaan. Pelaksanaan program ini dilakukan secara kolaboratif dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (HMJ PMI) UIN Walisongo Semarang sebagai upaya memperkenalkan sekaligus memperluas pemahaman anggota terkait konsep, metodologi, dan dinamika pengembangan masyarakat, khususnya dalam konteks kehidupan sosial di Indonesia.
Rangkaian acara dimulai dengan pemaparan materi oleh Fadlika Tsabita Dzihni selaku pemateri dari HMJ PMI, yang menjelaskan dasar teoretis pengembangan masyarakat, ruang lingkup praktik pemberdayaan, serta pendekatan-pendekatan strategi yang relevan dalam menganalisis masalah sosial. Dalam penyampaiannya, beliau menyampaikan harapan bahwa kegiatan ini dapat menjadi pintu awal bagi anggota CSSMoRA untuk lebih peka terhadap isu-isu sosial, memahami akar masalah yang terjadi di masyarakat, dan berperan aktif dalam setiap proses penyelesaian masalah dengan sudut pandang yang lebih kritis, aplikatif, serta berlandaskan nilai-nilai keislaman. Setelah sesi penyampaian materi, acara dilanjutkan dengan diskusi kelompok yang membahas berbagai problem masyarakat Indonesia, mulai dari isu pendidikan, ekonomi, sosial budaya, hingga tantangan pembangunan komunitas. Diskusi ini diarahkan untuk melatih pola pikir analitis peserta dalam merumuskan solusi yang tepat berdasarkan pendekatan dan teori pengembangan masyarakat.
Seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar, interaktif, dan memberikan dampak positif bagi peserta dalam memperluas wawasan sekaligus meningkatkan kemampuan berpikir kritis terhadap fenomena sosial yang terjadi. Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan anggota CSSMoRA semakin memiliki kesadaran, kemampuan, serta motivasi untuk turut serta berkontribusi dalam proses pengembangan masyarakat di lingkungan sekitarnya. Demikian berita acara ini dibuat dengan sebenarnya untuk dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Pada hari Ahad, 9 November 2025, Divisi Komunikasi dan Informasi (Kominfo) CSSMoRA UIN Walisongo Semarang telah melaksanakan kegiatan Pelatihan Cookies, yaitu program pelatihan desain grafis yang diperuntukkan bagi seluruh anggota CSSMoRA. Pelatihan ini berlangsung di Gazebo YPMI Al-Firdaus dan dimulai pada pukul 09.00 WIB hingga selesai. Kegiatan terselenggara dengan lancar dan mendapat partisipasi yang antusias dari para anggota yang hadir.
Pelatihan Cookies merupakan salah satu program unggulan Divisi Kominfo dalam upaya meningkatkan kompetensi digital dan kreativitas anggota CSSMoRA, khususnya dalam bidang desain grafis dan pengelolaan konten visual. Kegiatan ini bukanlah pelatihan pertama, melainkan pelatihan kedua setelah sebelumnya diselenggarakan pada bulan Oktober 2025. Keberlanjutan program ini menunjukkan komitmen Divisi Kominfo dalam memberikan ruang pengembangan diri bagi anggota serta menjawab kebutuhan organisasi terhadap tenaga desain yang terampil dan kreatif.
Pada pelatihan kedua ini, Divisi Kominfo menghadirkan Raihan Zain sebagai narasumber. Beliau dikenal sebagai praktisi desain dan konten kreatif yang aktif berkecimpung dalam berbagai proyek digital. Dalam sesi materi, narasumber memberikan penjelasan mendalam mengenai dasar-dasar desain grafis, teori warna, komposisi visual, tipografi, hingga strategi membuat konten yang menarik dan relevan untuk media sosial organisasi. Selain pemaparan materi, peserta juga diajak untuk praktik langsung membuat desain dengan perangkat lunak desain yang umum digunakan. Hal ini bertujuan agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam karya nyata.
Kegiatan berlangsung secara interaktif. Peserta diberi kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, serta melakukan konsultasi desain secara langsung dengan narasumber. Banyak peserta yang merasa terbantu karena dapat memahami kesalahan umum dalam desain serta memperoleh tips dan trik yang dapat diterapkan dalam pembuatan publikasi kegiatan CSSMoRA ke depannya.
Divisi Kominfo sebagai penyelenggara berharap bahwa melalui pelatihan ini, kemampuan anggota dalam membuat konten visual dapat meningkat signifikan. Desain yang baik dan informatif sangat dibutuhkan, mengingat CSSMoRA memiliki berbagai program dan kegiatan yang perlu dipublikasikan secara efektif untuk meningkatkan citra organisasi. Dengan adanya pelatihan rutin seperti Cookies, diharapkan anggota memiliki skill dasar yang kuat dan mampu berkontribusi secara optimal dalam proses kreatif di tiap divisi.
Selain itu, pelatihan ini juga menjadi ajang silaturahmi dan penguatan relasi antaranggota CSSMoRA. Suasana pelatihan yang hangat dan bersahabat membuat peserta merasa nyaman untuk belajar bersama, bertukar ide, dan saling memberikan masukan.
Divisi P3M CSSMoRA UIN Walisongo menyelenggarakan Roadshow CSSMoRA Falak Class pada Sabtu, 1 November 2025 di MA Nurussalam Ngaliyan dengan mengusung tema “Eksplorasi Ilmu Falak Astronomi Islam untuk Kebutuhan Ibadah.” Kegiatan ini merupakan upaya memperluas edukasi mengenai ilmu falak bagi pelajar tingkat menengah, khususnya dalam kaitannya dengan praktik ibadah seperti penentuan awal waktu sholat dan arah kiblat. Kegiatan ini diinisiasi melalui open recruitment internal CSSMoRA untuk mengajak para relawan yang berkomitmen dalam kegiatan pengabdian masyarakat. Peserta kegiatan ialah siswa-siswi kelas XI MA Nurussalam yang mengikuti kegiatan dengan antusias.
Acara dimulai dengan sambutan dari Ketua CSSMoRA UIN Walisongo, saudara Asyraf Zafir Wafa, yang menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam menjaga keberlanjutan tradisi keilmuan Islam di tengah perkembangan teknologi modern. Sambutan dilanjutkan oleh Kepala MA Nurussalam Ngaliyan, yang menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran tim CSSMoRA. Beliau menyatakan bahwa :
“Kami sangat bersyukur telah didatangi mahasiswa dari CSSMoRA UIN Walisongo yang ingin membagikan ilmunya terkait keilmuan falak yang kehadirannya tanpa diundang di sekolah ini dan ini menunjukkan keikhlasan yang luar biasa datang di sekolah kami. Serta menjadi motivasi bagi anak-anak didik kami yang ingin melanjutkan pendidikannya setelah lulus dari sekolah ini, syukur-syukur bisa mendapatkan beasiswa seperti kakak-kakak yang berada di sini.”
Sesi materi kemudian terbagi menjadi tiga bagian, yang masing-masing disampaikan oleh para pemateri dari CSSMoRA. Materi pertama, berjudul Pengenalan Ilmu Falak, disampaikan oleh saudari Nurilhani, yang menjelaskan kedudukan ilmu falak dalam tradisi Islam dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Materi kedua, mengenai Awal Waktu Sholat, disampaikan oleh saudari Sabilatun Nazwa, menjabarkan metode penentuan waktu sholat melalui pendekatan perhitungan astronomis. Selanjutnya, materi ketiga, mengenai Arah Kiblat, dibawakan oleh saudara Fathan Hasan Ali, yang menguraikan metode pengukuran arah kiblat baik tradisional maupun modern.
Setelah sesi materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik penggunaan alat-alat falak sebagai wahana pembelajaran langsung. Sesi pertama adalah praktik Mizwala dipandu oleh saudara Awalul Farhan Yestra, diikuti dengan praktik Theodolite yang dipandu oleh saudara Ais Nur Riski. Pada sesi ini, peserta terlihat aktif berdiskusi, mencoba mengoperasikan alat, serta mencatat hasil pengamatan mereka.
Di sisi lain, para panitia yang terlibat juga memperoleh pengalaman berharga. Salah satu panitia, Intan Muthoharoh, menyampaikan kesan bahwa:
“Pastinya senang bisa bermanfaat bagi orang lain. Selain itu, tujuan ikut juga ingin mengukur seberapa jauh kemampuan saya sendiri baik dalam bersosialisasi, public speaking, maupun tentang materi. Tak lupa juga saya ucapkan terima kasih kepada P3M yang telah mengadakan proker ini dan membuka peluang kepada selain P3M untuk bisa berpartisipasi.”
Adapun salah satu peserta, Aristin, menyampaikan bahwa kegiatan ini memberi inspirasi untuk mempelajari lebih dalam hubungan kosmos dengan ajaran Islam. Ia menyampaikan harapannya agar komunikasi antara para siswa dan komunitas atau mahasiswa Ilmu Falak dapat terus terjalin ke depannya.
Dengan demikian, kegiatan Roadshow CSSMoRA Falak Class ini telah terlaksana dengan baik dan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak: mahasiswa sebagai fasilitator ilmu dan para pelajar sebagai penerima pengetahuan yang memiliki rasa ingin tahu tinggi.
Membedah Ilmu Falak dalam “Class of CSSMORA” Kabinet Navantar
Semarang – CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, di bawah naungan Kabinet Navantara. sukses menggelar edisi perdana “Class of CSSMoRA” (CoC) dengan fokus mendalam pada “Perhitungan Awal Waktu Salat”. Acara yang berlangsung hangat dan komunikatif ini dilaksanakan pada Jumat, 31 Oktober 2025, bertempat di YPMI Al-Firdaus, tepat Ba’da Ngaji hingga selesai, menghadirkan Pemantik ahli, Dhimas Richie Pramono.
Kegiatan ini merupakan jawaban atas kebutuhan nyata para anggota baru, khususnya angkatan 2025, dalam menghadapi tantangan keilmuan di bangku perkuliahan.
Mengurai Benang Kusut Perhitungan Salat
Nurziah Rahman, salah satu panitia pelaksana, menjelaskan bahwa CoC Falak ini lahir dari inisiatif untuk menjawab kebingungan anggota baru. “Berangkat dari pertanyaan Kami Kakak Kakak Senior ke Adek Tingkatnya, apa yang sekarang dihadapi, apa yang berat di perkuliahan, apa yang belum dipahami. Makanya dari situ kami mengambil tema ini,” ujar Nurziah.
Meskipun tema ilmu falak umumnya terkesan rumit, namun fokus pada perhitungan awal waktu salat dipilih karena topik inilah yang dirasakan paling sulit oleh anggota 2025.
“Melihat dari pernyataan teman-teman Angatan 2025 itu, ya mereka sampai saat ini tuh yang belum terlalu dipahami itu tentang perhitungan awal-awal waktu salat ini. Karena ya itu ribetnya itu beda ya sama arah kiblat,” kata Nurziah, menjelaskan alasan pemilihan tema yang spesifik tersebut.
Tujuan utama CoC ini adalah menjadi fondasi bagi anggota untuk memperdalam keilmuan di kejuruannya masing-masing. Nurziah juga menegaskan bahwa ke depannya, CoC akan berlanjut dan mencakup keempat jurusan yang ada di CSSMoRA, tidak hanya Ilmu Falak.
Menariknya, CoC ini tidak hanya diikuti oleh mahasiswa Ilmu Falak, tetapi juga oleh peserta dari program studi lain. Kehadiran lintas jurusan ini dipandang sebagai kesempatan emas untuk memperluas manfaat ilmu falak ke ranah yang lebih luas.
Asyraf Zafir Wafa, Ketua Umum CSSMoRA UIN Walisongo, mengungkapkan motivasinya sebagai pemimpin: “Kadang mereka butuh suasana yang lebih enjoy, teman yang lebih bisa menggunakan bahasa-bahasa yang sederhana, agar ilmu itu bisa masuk ke dalam pikiran mereka sendiri.”
Mengenai manfaat bagi peserta non-Falak, Ketua Umum menaruh harapan besar:
“Minimal dia mendapatkan manfaat itu berupa apa? Mungkin dari pembelajaran malam hari ini mungkin teman-teman misal dari Jurusan teknologi informasi mereka akan lebih banyak bertanya oh kira-kira bisa enggak nih ilmu falak ini disandingkan dengan teknologi atau misalkan nanti buat aplikasi,” jelas Asyraf.
Menurutnya, manfaat yang didapat bukan sekadar pengenalan, tetapi juga pemicu ide untuk mengembangkan ilmu falak ke ranah teknologi, sosial, dan filsafat. Ketua Umum pun menilai kegiatan ini “Sangat membantu” karena terbukti mampu menyampaikan materi perhitungan salat yang rumit dengan bahasa sederhana dan mudah diterima oleh anggota.
Catatan Evaluasi: Peka dan Berkelanjutan
Menutup wawancara, Ketua Umum Asyraf Zafir Wafa menyampaikan harapannya untuk panitia agar terus meningkatkan sensitivitas terhadap kebutuhan anggota. “Harapannya kepada semua panitia mungkin mereka bisa lebih membaca lagi apa yang dibutuhkan oleh teman-teman anggota dari CSSMoRA,” pesannya.
Meskipun CoC ini adalah yang pertama, Nurziah Rahman mengonfirmasi bahwa kegiatan serupa akan terus berlanjut. Tidak menutup kemungkinan akan ada review ulang materi falak atau tema lain dari mata kuliah yang dirasa sulit, sesuai dengan permintaan dan kebutuhan anggota CSSMoRA.