Perkuat Kapasitas Pengurus: CSSMoRA UIN Walisongo Gelar Kegiatan Upgrading Pengurus

Sebagai upaya memperkuat kapasitas dan profesionalitas pengurus, CSSMoRA menyelenggarakan kegiatan Upgrading Pengurus 2025 di Gazebo YPMI Al Firdaus, Semarang, pada Sabtu, 19 Oktober 2025. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh pengurus aktif dengan tujuan menumbuhkan semangat kebersamaan sekaligus memperdalam pemahaman terhadap nilai dan arah gerak organisasi.

Kegiatan ini menghadirkan dua pemateri utama yang memberikan bekal penting bagi para pengurus. Materi pertama bertema “Penguatan Tujuan dan Identitas Organisasi” disampaikan oleh Muhammad Irkham Maulana, M.H., yang menekankan pentingnya konsistensi pengurus dalam menjaga marwah dan cita-cita organisasi. Ia juga mengingatkan bahwa setiap anggota memiliki peran strategis dalam mewujudkan visi bersama.

Sementara itu, materi kedua disampaikan oleh Alamul Yaqin, M.H., dengan tema “Manajemen Waktu dan Profesionalitas Pengurus.” Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan mengatur waktu agar setiap program dapat berjalan efektif dan efisien. Menurutnya, profesionalitas bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga tentang sikap dan etika dalam berorganisasi.

Suasana kegiatan berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta terlihat antusias mengikuti setiap sesi, berdiskusi, serta menyampaikan pertanyaan seputar tantangan yang dihadapi dalam menjalankan amanah kepengurusan.

Ketua Umum CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, Asyraf Zofir Wafa, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini menjadi langkah awal bagi pengurus untuk terus tumbuh dan berproses secara bersama.

Upgrading ini bukan sekadar ajang pembekalan, tetapi momentum bagi kita semua untuk menyatukan visi, memperkuat komitmen, dan belajar bagaimana menjadi pengurus yang profesional sekaligus berjiwa pengabdian. Harapannya, setelah kegiatan ini, semangat dan sinergi antar-pengurus bisa semakin kuat,” ujar Asyraf.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh pengurus CSSMoRA semakin solid, berkomitmen tinggi, dan mampu mengelola organisasi dengan lebih baik. Kegiatan ditutup dengan refleksi bersama dan harapan agar semangat pengabdian terus menyala di setiap langkah pengurus.

Loading

Peduli Bumi Lewat Aksi, Kolaborasi Relawan Gesit Semarang dan CSSMoRA UIN Walisongo dalam Aksi Muda Jaga Iklim

Berbekal semangat kolaborasi, CSSMoRA UIN Walisongo bersama Relawan Gesit Semarang dan komunitas-komunitas sosial lainnya melaksanakan program AMJI (Aksi Muda jaga Iklim) pada hari Sabtu, 25 Oktober 2025 di Kampung Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Mas, Semarang Utara.

“Alhamdulillah, pada hari sabtu tanggal 25 oktober 2025 kami dari P3M CSSMoRA UIN Walisongo dan Relawan Gesit berkolaborasi dalam  Aksi Muda Jaga Iklim  (AMJI),  yakni melaksanakan kegiatan bersih bersih di pemukiman warga kampung nelayan dan pesisir pantai. Acara ini bertujuan untuk menyadarkan kalangan anak muda akan pentingnya menjaga kebersihan di Bumi yang kita pijak, serta meminilisir banjir dari sampah sampah yang tersumbat diselokan. Tentunya kegiatan ini sangat seru karena dari kegiatan ini, kami dapat menambah relasi, pengalaman, dan kebersamaan,” ucap Ais Nur Rizqi, koordinator Departemen P3M.

AMJI atau Aksi Muda Jaga Iklim merupakan program kolaboratif yang dilakukan serentak di seluruh Indonesia, yang bertujuan sebagai sarana edukasi terkait krisis iklim dan wadah bagi anak muda dalam memberikan kontribusi nyata. Terdapat 1000 titik penyebaran  di seluruh Indonesia, 50 titik diantaranya berkolaborasi dengan Relawan Gesit, salah satunya di wilayah Semarang. Aksi ini bukan hanya sekedar berkolaborasi dengan komunitas lainnya, tetapi juga berkolaborasi program, yaitu program Pasukan Anti Lapar.

Dalam aksinya, Relawan Gesit Semarang turut menggandeng CSSMoRA UIN Walisongo melalui Depatemen P3M (Pemberdayaan Pesantren dan Pengembangan Masyarakat). 22 orang anggota CSSMoRA UIN Walisongo berkontribusi dalam aksi ini, sehingga keseluruhan relawan yang turun aksi berjumlah sekitar 30 orang.

“Dengan berkolaborasi bersama komunitas-komunitas lain, salah satunya dari CSSMoRA UIN Walisongo, ya kita sama-sama saling berbagi kebermanfaatan, saling jaga iklim, dan jaga kebersamaan,” ujar Rozi, ketua Relawan Gesit Semarang.

Pelaksanaan aksi di mulai dengan bergotong royong bersama warga membersihkan sampah di sekitar Masjid I’tikaf Al-Firdaus, Balai Adat Desa, TPQ Al-Firdaus Tambakrejo, dan  pemukiman warga Kampung Nelayan. Kemudian di lanjut dengan membersihkan sampah plastik yang ada di pesisir mangrove Kampung Nelayan. Aksi yang dilakukan ini adalah bentuk upaya untuk mengantisipasi terjadinya banjir.

“Tujuannya adalah untuk menjaga lingkungan disini. Karna bisa dilihat, disini masih banyak sampah. Walaupun masih belum bisa full merata, setidaknya kami berusaha membantu untuk mengurangi sampah terrsebut, terutama sampah plastik. Ya, supaya mengantisipasi dampak adanya banjir, rob, dan sebagainya,” jelas Rozi.

Setelah melakukan pembersihan sampah di pesisir pantai, kegiatan aksi dilanjutkan dengan program Pasukan Anti Lapar. Program ini bermaksud untuk berbagi manfaat dengan mengajak para warga Kampung Nelayan untuk bercengkrama dan makan bersama. Dengan lauk yang sederhana, para warga dan para relawan melingkar bersama, menyantap makanan yang telah tersedia.

“Kami merasa senang karena kegiatan Relawan Gesit di Tambakrejo ini sangat bermanfaat untuk kami, terutama masalah sampah. Jadi, kalau bisa jangan cuma hari ini saja datang kesini, bantu-bantu kami untuk menjaga lingkungan. Kami warga Tambakrejo mengucapkan terimakasih banyak untuk Relawan Gesit dan tim, karna sudah membuat kampung kami kembali bersih,” ucap salah satu warga kampung Tambakrejo.

Momen  makan bersama tersebut menjadi penutup dari semua rangkaian kegiatan aksi. Aksi kolaboratif ini meninggalkan kesan berharga bagi para relawan dan warga kampung, terutama dalam hal kepedulian terhadap lingkungan sekitar dan terjalinnya kebersamaan untuk menebar kebermanfaatan.

 

 

 

 

 

 

Loading

Jawaban Atas Tuduhan Feodalisme di Pesantren: Menilik Kembali Relasi Kiai dan Santri di Era Modernisasi

Dewasa ini, jagat maya tengah disibukkan dengan isu “feodalisme di pesantren”. Banyak orang dengan entengnya menggunakan term tersebut, seakan-akan mereka memvisualkan dunia pesantren sebagai suatu lembaga yang memasung independensi santri dalam berpikir, mengkultuskan kiai, dan melestarikan ketimpangan hierarki sosial. Narasi ini terus bergulir tanpa disertai filter akademik yang pasti—naasnya, mereka yang awam terhadap tradisi keilmuan di pesantren melahapnya secara mentah-mentah.

Namun tepatkah sebutan “feodalisme” ini dilekatkan dengan pesantren? Ataukah justru ada kekeliruan mendasar dalam cara kita memandang relasi kiai dan santri yang telah terjalin ratusan tahun tersebut?

Pesantren dan Jejak Historisnya

Sebagai lembaga Pendidikan islam tertua di Nusantara, pesantren lahir dari akulturasi tradisi keilmuan islam yang dibawa oleh para ulama dengan budaya lokal masyarakat Jawa dan Nusantara. Zamakhsyari Dhofier dalam karyanya yang berjudul “Tradisi Pesantren” (1982) mengatakan bahwa pendidikan pesantren dibangun di atas fondasi relasi spiritual kiai dan santri—bukan relasi politik atau ekonomi.

Dalam dunia pesantren, kiai bukanlah sosok penguasa dengan santri sebagai rakyatnya. Kiai merupakan figur moral dan spiritual serta mata air keberkahan ilmu, dan santri adalah murid yang berkhidmah dalam proses menuntut ilmu. Relasi ini bersifat ukhrawi (spiritual) dan kultural, bukan material sebagaimana relasi feodal antara bangsawan dan petani di Eropa abad pertengahan.

Dalam sejarahnya, pesantren justru menjadi pusat pembebasan masyarakat dari kebodohan dan kolonialisme. Tokoh-tokoh seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, dan KH. Wahid Hasyim mendirikan gerakan pendidikan yang egaliter dan terbukti membangkitkan kesadaran nasional. Maka, menuduh pesantren sebagai lembaga feodal sama saja dengan menafikan kontribusinya terhadap sejarah kemerdekaan bangsa.

Feodalisme: Konsep yang Salah Alamat

Istilah “feodalisme” merujuk pada sistem sosiopolitik yang berkembang di Eropa Abad Pertengahan. Dalam sistem ini, seluruh tanah secara teoretis dianggap milik raja. Raja kemudian mendelegasikan atau “meminjamkan” sebagian tanah tersebut, yang dikenal sebagai fief atau feodum, kepada kaum bangsawan yang disebut vassal. Sebagai imbalannya, para vassal ini bersumpah untuk memberikan layanan militer dan menunjukkan kesetiaan kepada raja atau tuan (lord) yang lebih tinggi. Dengan demikian, feodalisme pada intinya adalah sebuah struktur pendelegasian kekuasaan dari otoritas pusat kepada elite-elite lokal untuk mengendalikan wilayah yang luas melalui suatu bentuk kemitraan.

Secara ontologis, menjadikan konsep ini sebagai kacamata untuk melihat pesantren jelas suatu kekeliruan dan kecerobohan. Tidak ada relasi kepemilikan tanah atau eksploitasi tenaga kerja antara kiai dan santri. Mengabdi atau berkhidmah bukanlah suatu paksaan bagi santri, melainkan tindakan sukarela yang ia pilih dengan sadar sebagai bagian tradisi dalam pencarian ilmu. Dalam khidmah ini terkandung tiga elemen penting, yaitu ta’dzim (penghormatan), tabarruk (mencari keberkahan), dan tazkiyah (penyucian diri).

Martin van Bruinessen (1995) menegaskan bahwa struktur sosial pesantren memang bersifat karismatik, namun bukan feodal. Karisma kiai tidak bersumber dari kekuasaan duniawi, melainkan dari otoritas moral, ilmu, dan spiritualitas yang diakui oleh masyarakat. Dengan kata lain, relasi ini berlandaskan pengaruh etis, bukan kekuasaan feodal.

Antara Adab dan Subordinasi

Salah satu kesalahpahaman terbesar dalam menilai pesantren adalah kegagalan membedakan antara “adab” dan “subordinasi”. Islam memandang bahwa ilmu tidak akan bermanfaat tanpa dengan disertai adab. KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim menegaskan bahwa adab kepada guru adalah jalan pembuka keberkahan ilmu. Hal ini sejalan dengan ajaran para ulama salaf, seperti Imam Malik yang enggan menjawab pertanyaan di depan makam Rasulullah SAW karena rasa hormatnya.

Maka, ketika santri mencium tangan kiai, berdiri ketika beliau lewat, atau tidak berani memotong pembicaraan, itu bukan tanda feodalisme. Itu ekspresi adab, sebagaimana murid menghormati gurunya di lembaga manapun. Bedanya, pesantren menempatkan nilai spiritual di atas nilai formal.

Tradisi yang demikian ini bukan tanpa dasar. Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dalam kitabnya Mafahim Yajib an Tushahhah telah menuturkan riwayat-riwayat tentang adab dan praktik tabarruk para sahabat kepada nabi. Dengan demikian, menganggap semua bentuk penghormatan sebagai tanda penindasan justru memperlihatkan cara pandang sekuler yang menolak dimensi spiritual dalam bersosial. Pesantren, sebaliknya, mengajarkan keseimbangan antara kebebasan berpikir dan adab kepada Kiai sebagai samudera pengetahuan.

Kritik Tetap Diperlukan

Meski demikian, tak bisa dipungkiri bahwa di sebagian kecil pesantren memang muncul praktik yang menyimpang: penyalahgunaan otoritas, ketertutupan informasi, atau kekerasan yang mengatasnamakan disiplin. Praktik seperti ini patut dikritik secara terbuka karena bertentangan dengan ruh pendidikan Islam.

Meskipun demikian, kita tak mampu mengelak bahwa memang ditemukan praktik-praktik menyimpang di sebagian kecil pesantren. Mulai dari penyalahgunaan otoritas, isolasi informasi, hingga kekerasan yang overstep dengan mengatasnamakan pendisiplinan. Disinilah peran kritik sangat diperlukan sebagai bahan evaluasi sehingga ruh pendidikan islam dapat dihadirkan kembali.

Namun, menyimpulkan seluruh pesantren sebagai lembaga feodal akibat ulah oknum adalah generalisasi yang tidak adil. Sama seperti kita tidak mungkin mengatakan universitas korup hanya karena ada satu dosen yang menyalahgunakan jabatan. Memberikan kritik haruslah proporsional, yaitu dengan membedakan antara kesalahan sistemik dan kesalahan individu.

Justru, banyak pesantren hari ini telah melakukan modernisasi sistem tanpa kehilangan ruh tradisinya. Ada yang mengembangkan pendidikan vokasi, digitalisasi administrasi, hingga integrasi kurikulum sains dan agama. Pesantren juga melahirkan generasi kritis seperti Gus Dur, KH. Sahal Mahfudz, Gus Mus atau para cendekiawan lainnya yang sangat terbuka terhadap dialog intelektual

Sebuah Refleksi

Pesantren bukanlah menara gading yang anti kritik. Namun, dalam menilai pesantren, kita perlu memakai lensa yang adil dan proporsional. Feodalisme adalah sistem penindasan sosial, sedangkan pesantren adalah sistem pendidikan moral dan spiritual. Dua hal ini berdiri di kutub yang berlawanan.

Tuduhan feodalisme terhadap pesantren sering kali muncul dari kegagalan memahami kearifan relasi keilmuan dalam Islam. Adab dianggap sebagai pengekangan, padahal justru disitulah letak kemerdekaan sejati: kemerdekaan dari kesombongan intelektual dan ego pribadi. Dalam dunia yang semakin permisif ini, pesantren mengajarkan bahwa kebebasan berpikir hanya bermakna bila disertai tanggung jawab moral.

Seperti kata KH. Mustofa Bisri (Gus Mus):

“Santri itu bukan orang yang tak boleh berbeda, tapi orang yang tahu cara berbeda dengan hormat.”

Dan mungkin disitulah letak keindahan tradisi pesantren — sebuah ruang di mana ilmu, adab, dan kebebasan mampu berjalan beriringan.

 

Written : Ahmad Misbakhus Surur

Loading

DAPARTEMEN KOMINFO CSSMORA UIN WALISONGO, MELATIH IMAGINASI PARA ANGGOTA.

Dalam rangka meningkatkan kemampuan anggota di bidang desain grafis, Departemen Kominfo CSSMoRA UIN Walisongo Semarang mengadakan pelatihan bertajuk COOKIES (CSSMoRA Open Opportunities for Knowledge in Editing Skills). Kegiatan ini menjadi wadah bagi para anggota untuk belajar dan mengasah keterampilan desain secara praktis dan menyenangkan.

Pelatihan COOKIES kali ini menghadirkan Alfin Khomsah Sabilalhayat, demisioner Kominfo periode 2024, sebagai pemateri. Dalam penyampaiannya, Alfin menegaskan bahwa kemampuan desain bukanlah bakat bawaan, melainkan keterampilan yang dapat diasah melalui latihan dan eksplorasi.

“Desain bukanlah suatu skill yang diperoleh sejak lahir, namun seni dalam mendesain dapat dilatih dengan seringnya kalian bereksperimen,”  Ujar Alfin.

Pada sesi pelatihan ini, Canva menjadi platform utama yang digunakan. Pemateri menjelaskan secara runtut tahapan dalam mendesain, mulai dari konsep awal, pemilihan elemen tulisan, warna, hingga gambar yang cocok.

Salah satu anggota Kominfo menyampaikan bahwa kegiatan COOKIES akan dilaksanakan secara rutin setiap bulan dengan menghadirkan topik dan pengalaman baru di setiap sesinya. Ia juga mengimbau seluruh peserta untuk bergabung dalam grup WhatsApp untuk mendapatkan update, serta monitoring langsung bersama tim Kominfo dan desainer ahli.

“Di setiap sesi pertemuan, kami akan memonitoring hasil dari pelatihan COOKIES. Harapannya agar kegiatan ini menjadi wadah untuk menumbuhkan skill baru pada anggota,” ujar Syarif, salah satu anggota Kominfo.

Sesi perdana pelatihan COOKIES ini dilaksanakan pada 18 Oktober 2025, dan rencananya akan dilanjutkan pada bulan berikutnya, yaitu November 2025. Dengan semangat belajar dan berkreasi, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan desainer-desainer muda yang kreatif di lingkungan CSSMoRA UIN Walisongo Semarang.

 

Loading

Pijakan di Tanah Hijrah Kisah Izun di Al-Muhajirin

Karya : Ahmad Zaki Anshari

Aku Izzuddin, seorang pemuda yang dulu berjalan tanpa kompas, dikendalikan oleh maunya sendiri. Jujur saja, aku bingung atau mungkin tak peduli tentang arah yang benar. Keluargaku? Mereka seperti punya dunia masing-masing. Aku merasa sendirian, sampai akhirnya satu keputusan gila muncul di kepala: Aku harus pergi.

Tekadku bulat: Aku ingin jalan hidup baru, aturan baru. Yang paling penting, aku ingin mulai mencari dan mengenali Sang Pencipta.

Meninggalkan hiruk-pikuk kota, aku tiba di tempat asing, Desa Pamangkih Seberang, Kalimantan Selatan. Di sana berdiri sederhana sebuah kompleks: Pondok Pesantren Al-Muhajirin.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Silakan masuk, untuk mondok ya?” sambut seorang petugas dengan logat Banjar yang hangat.

Sejak saat itu, aku resmi menjadi santri. Pondok non-formal ini didirikan pada 6 Agustus 2014, berdiri di atas tanah wakaf seluas 11 hektar. Pondok ini lahir dari rahim Yayasan Gotong Royong Muhajirin, yang digagas oleh KH. Mukhtar H.S., penerus pengasuh terdahulu, Ibnul Amin. Konon, Al-Muhajirin ini didirikan sebagai solusi karena asrama di pondok induk sudah terlalu tua dan sesak.

Belajar di Bawah Lima Tiang

Sistem di sini disebut Salafiyah Terpadu. Aku belajar bahwa pondok ini punya cita-cita besar: melahirkan generasi Muslim yang bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, mandiri, dan berwawasan luas, semua harus berpijak pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Misinya, yang kulihat dalam rutinitas harian yang super padat, adalah membentuk pribadi sholeh, menyiapkan khairu ummah (umat terbaik), membangun jiwa kepemimpinan, dan yang paling keren, mengajarkan ilmu agama dan umum secara seimbang.

Semboyan pondok “Siap belajar dan siap mengajar, siap dipimpin dan siap memimpin,” benar-benar menampar cara berpikirku yang dulu lurus tanpa tujuan. Di sini, aku dipaksa memegang erat Panca Jiwa: Keikhlasan, Kesederhanaan, Kemandirian, Kebersamaan, dan Keterbukaan. Aku, yang dulunya digerakkan oleh nafsu, kini harus berjalan berpegangan pada lima tiang ini.

Pertemuan di Musholla Sambutan dari ‘Kakak’

Suatu malam setelah Isya, aku duduk merenung sendirian. Tiba-tiba, seorang guru, yang akrab dipanggil Kakak oleh para santri, menghampiriku.

“Kenapa, Nak? Ada keluhan atau ada yang mau ditanyakan, kah?” tanyanya lembut.

“Alhamdulillah, tidak ada, Kak. Cuma rindu saja dengan orang tua,” jawabku jujur.

Aku, si Izzuddin yang dulu cuek pada orang tua, kini harus merasakan perihnya rindu. Izun panggilan lain diriku sosok yang sedang mati-matian melawan gejolak di kepala. Aku lahir di era digital, tetapi koneksi yang nyata baru kudapatkan di sini.

Aku memperhatikan gerak-gerik guru itu, dan mungkin inilah yang akan kucontoh. Ia lantas menjelaskan kenapa mereka dipanggil ‘Kakak’.

“Supaya santri dan guru mengajarnya lebih akrab. Bila ada masalah, baik masalah keluarga atau masalah pelajaran, tidak ada lagi rasa sungkan (canggung) sama guru, karena sudah merasa akrab. Itu di antara alasan guru-guru di sini dipanggil Kakak,” jelasnya.

Aku tertegun. Di sini ada kasih sayang dan perhatian yang tulus.

Guru itu kemudian membahas kepindahanku, dari Ketapang ke Pamangkih.

“Itu termasuk daripada hijrah juga sebenarnya. Nabi kita hijrah dari Mekkah menuju Madinah, itu namanya hijrah. Kalau kita menuntut ilmu, itu maknanya hijrah kita. Makanya kita berbuat baik, jangan lagi berbuat yang tidak baik. Hijrah itu menjauh dari yang tidak baik. Biasanya kita main-main yang tidak baik, kalau kita sudah mondok, jadi hijrah kita daripada main yang tidak baik itu,” ulasnya.

Kontemplasi di Lahan Datar

Aku, yang besar di kota, dulu gampang bosan dengan apa pun yang tidak menggugah jiwa. Di lahan datar seluas 60 hektar ini, yang katanya bebas banjir, kebosanan itu hilang. Aku tidak lagi bermain petak umpet, tapi bersembunyi dari godaan malas. Aku tidak lagi bermain polisi-polisian, tapi sibuk belajar etika Islam yang keren.

Dulu, aku membaca kalimat Pak Tua Pram: “Terpelajar sudah harus bijak, bahkan sejak dalam pikiran.” Aku bingung artinya. Apa itu terpelajar? Apa itu bijak?

Kini, di antara lebih dari 5.500 santri, dengan 120 dewan guru yang membimbing, aku mulai menemukan jawabannya.

Malam itu, di kamar asrama yang padat, sambil membawa kitab untuk muthola’ah (belajar mandiri), sebuah renungan menusuk:

Ternyata masih ada orang yang tidak bisa melihat dan merasakan kasih sayang orang tuanya sejak lahir.

Sedangkan aku? Aku yang melihat, bahkan bisa merasakan kasih sayang orang tua, malah lupa, bahkan tidak bersyukur. Aku tidak ada hentinya mengeluh dan menyalahkan mereka.

Ayah, Ibu, maafkan Izun. Aku sangat merindukan kalian. Jujur, aku ingin memeluk dan mencium kening lembut kalian. Aku rindu suara dan senyum canda kalian.

“Kalau memang rindu, doakan orang tua supaya sehat, panjang umur, rezeki lancar, sehingga kita tamat dan berhasil, orang tua melihat kita sukses,” kata guruku waktu itu.

Kini, aku berdiri di persimpangan. Apakah aku akan teguh pada niat hijrah ini, ataukah akan kalah dengan hawa nafsu yang lama?

Dengan lima pilar jiwa di dada, dan cita-cita mulia pondok sebagai pegangan, aku memilih untuk terus melangkah.

Aku adalah Izun, seorang Muhajirin (orang yang berhijrah), mencari pijakan pasti, yang tidak sedikit pun goyah, di tanah yang telah memilihku.

Pergulatan di Jam Muthola’ah

Kehidupan di Al-Muhajirin memang dinamis, namun ketat aturannya. Pagi disambut salat berjemaah, siang dengan pelajaran formal dan agama. Malam adalah waktu krusial: Jam Muthola’ah.

Inilah medan pertempuranku. Aku, si pemuda yang gampang bosan, kini harus duduk berjam-jam membawa kitab di musholla, merenungi pelajaran agama dan umum yang seimbang. Otakku yang dulu lebih mudah menangkap distorsi musik cadas Kurt Cobain atau lirik The Beatles kini dipaksa berdamai dengan nalar fikih dan logika Nahwu.

Pernah, saat membaca istighfar, rasanya cuma formalitas, tak menyentuh perasaan. Pikiranku berkelana, teringat Izun yang lama sosok yang kumatikan ketika aku memutuskan berhijrah. Aku takut Izun yang sekarang akan kalah dengan nafsu, seperti kakakku yang akhirnya dipenjara. Luka itu, kabar itu, adalah sakit yang paling membekas setelah kepergian Nenek.

“Apakah aku akan bertahan dengan Niatku, atau sebaliknya, aku kalah dengan Hawa Nafsuku?” Bisikan ini selalu datang.

Nasihat di Lapangan

Suatu sore, aku mencoba menikmati kompleks 11 hektar yang terasa melegakan, jauh dari keramaian kota. Sebagian lahan masih kosong, sebagian lagi digunakan untuk perkebunan (49 Ha milik yayasan) dan lapangan olahraga.

Aku melihat seorang Kakak guru, yang dulu menyambutku.

“Lagi apa, Din?” Sapa beliau, memanggilku Udin.

“Lagi merenung, Kak,” jawabku.

“Jangan berlama-lama. Besok kita main bola. Tapi ingat, jangan sampai lupa bangun Subuh dan berjemaah. Bawa kitabnya, ya,” perintahnya ringan.

Gerak-gerik beliau mengingatkanku pada visi pondok: “Mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan umum secara seimbang menuju ulama yang berjiwa besar dan intelektual.” Di sini, guru tidak hanya mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi juga bagaimana menjadi manusia yang dinamis dan seimbang, sesuai motto: Berfikir dinamis, Berakhlakul karimah.

Aku teringat ceramahnya tentang Konjungsi Kausalitas Nur Muhammad, tentang cinta yang melampaui nalar. Di sini, aku mulai mengerti bahwa cinta yang paling hebat adalah yang mendasari Keikhlasan, salah satu dari Panca Jiwa.

Epilog: Memeluk Keterbukaan

Waktu berjalan cepat. Tak terasa, senja pun menyapa. Azan berkumandang.

Setiap hari, aku melihat lebih dari 65 santri berdesakan di empat asrama yang memang padat, tua, dan butuh renovasi. Keterbatasan fisik ini adalah realita yang dihadapi KH. Barmawi sebagai pengasuh, dan seluruh elemen pondok.

Namun, keterbatasan itu diimbangi dengan kekayaan spiritual dan interaksi yang manusiawi.

Di sebuah malam, aku membulatkan tekad untuk mempraktikkan Panca Jiwa terakhir: Keterbukaan. Aku menghampiri seorang Kakak guru dan mencurahkan semua kegelisahanku: rindu orang tua, penyesalan, cerita kakakku di penjara, dan ketakutan akan kegagalan.

Guru itu mendengarkan dengan sabar. “Bilanya kita rindu itu akan orang tua, dan orang tuanya sudah meninggal, kirimkan Fatihah, kita baca Quran, terimakan. Tapi kalau memang masih hidup, doakan orang tua supaya sehat, panjang umur, dan rezeki lancar.”

“Itu diantaranya cara kita berbakti,” tambahnya.

Air mataku menetes. Aku tidak lagi mengeluh dan menyalahkan. Aku mulai fokus pada kewajibanku: berbuat baik dan belajar.

Kini, aku adalah Izun, seorang pemuda yang menemukan arahnya, bukan karena kebetulan, melainkan karena keputusan berhijrah. Aku telah menjadi lebih dinamis, jujur, dan utuh.

Pondok Pesantren Al-Muhajirin bukan sekadar sekolah, melainkan laboratorium spiritual, tempat jiwa-jiwa lelah menemukan pijakan yang kuat, berlandaskan Keikhlasan, Kemandirian, dan Kebersamaan.

Aku, si Muhajirin, akhirnya pulang. Bukan ke rumah fisik, melainkan ke rumah jiwa.

 

 

Loading

Tingkatkan Skill Kepenulisan Anggota, CSSMoRA UIN Walisongo Selenggarakan Pelatihan Jurnalistik di MACC Semarang

 

Mengusung tema “Merawat Tradisi Literasi, Membangun Genarasi dengan Inspirasi”, CSSMoRA UIN Walisongo gelar pelatihan jurnalistik di Mirae Asset Sekuritas Indonesia Semarang, Sabtu 11 Oktober 2025. Diikuti 32 peserta, kegiatan ini bertujuan untuk melatih dan memperkuat ketrampilan menulis, khususnya dalam rangka mempersiapkan penyusunan Majalah Zenith edisi terbaru.

Kegiatan ini terbagi menjadi 3 Sesi, yaitu penyampaian materi, menulis bersama, dan liputan. Sesi pertama diawali dengan penyampaian materi oleh Dr. Muhammad Nurkhanif, M.S.I. yang dipandu oleh saudara Marwan Aldi Pratama. Materi pertama ini mengkaji seputar tanggapan saintifik atas gagasan KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal). Topik ini tentunya sangat penting sebagai landasan informasi dalam penulisan majalah Zenith terbaru yang akan mengangkat topik serupa. Materi kedua disampaikan oleh Muhammad Daviq Nuruzzuhal dan dipandu oleh saudara Ahmad Misbakhus Surur, yang mengupas seluk beluk penulisan majalah. Kajian ini menjadi modal pokok bagi para kru dalam penulisan majalah nantinya.

Sesi selanjutnya adalah menulis bersama, yang mana seluruh peserta diminta menuliskan sebuah cerpen yang nantinya akan dikodifikasi dalam bentuk buku ber-ISBN. Sesi ini berdurasi sekitar 2 jam, namun terasa menyenangkan dan para peserta terlihat sangat antusias menuliskan karya terbaiknya.

Kegiatan ini dipungkasi dengan liputan di 2 tempat, yaitu Kota Lama dan Stasiun Tawang Semarang. Para peserta dibagi dalam beberapa kelompok yang nantinya akan melakukan wawancara seputar tema yang telah ditentukan. Hasil dari wawancara ini ditulis dalam bentuk artikel yang nantinya akan diupload di website CSSMoRA UIN Walisongo. Inilah sesi yang ditunggu-tunggu karena disamping mengerjakan tugas, para peserta juga dapat menikmati suasana malam Kota Semarang yang indah dan syahdu.

Koordinator Divisi Jurnalistik, Muhammad Mahmud Sidiq menyampaikan harapannya;

“Melalui kegiatan ini, semoga kita dapat terus bertumbuh dan membuahkan lebih banyak lagi karya yang dapat bermanfaat bagi semua orang”.

Writter : Ahmad Misbakhus Surur

Loading

ANTUSIAS DAN PENUH CERITA, CSSMoRA UIN WALISONGO SEMARANG GELAR MOMEN KEAKRABAN 2025 DI KAMPOENG DJOWO SEKATUL

Sebagai wujud mempererat tali persaudaraan antaranggota, CSSMoRA UIN Walisongo Semarang kembali menyelenggarakan kegiatan tahunan bertajuk Momen Keakraban (MOKRAB) CSSMoRA 2025. Acara berlangsung pada 4–5 Oktober 2025 di Kampoeng Djowo Sekatul, Kabupaten Semarang, dengan suasana penuh kehangatan, tawa, dan kebersamaan.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo. Hadir pula Asyraf Zofir Wafa selaku Ketua Umum CSSMoRA dan Dhimas Richie Pramono sebagai Ketua Panitia Pelaksana. Selama dua hari pelaksanaan, MOKRAB menjadi ruang interaksi yang menyenangkan bagi para anggota untuk saling mengenal lebih dekat sekaligus melepas penat dari rutinitas perkuliahan dan organisasi.

Rangkaian acara dimulai dengan sesi pembukaan yang meriah, dilanjutkan dengan “Share to Care”, di mana para peserta saling memperkenalkan diri dan berbagi kisah serta pengalaman pribadi yang menginspirasi.
Malam harinya, suasana makin hangat dengan penayangan video perkenalan, video parodi, dan pentas seni dari setiap angkatan. Beragam penampilan kreatif memeriahkan malam itu, mulai dari musik, drama, hingga pertunjukan humor khas mahasiswa.
Puncak keakraban terasa ketika seluruh peserta berkumpul di sekitar api unggun sembari menikmati kegiatan bakar-bakar bersama, menjadi simbol eratnya ikatan kekeluargaan di antara anggota CSSMoRA.

Memasuki hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan serangkaian fun games yang dirancang untuk memperkuat kerja sama, komunikasi, dan kekompakan tim. Gelak tawa dan keceriaan mengiringi setiap permainan, menutup seluruh rangkaian kegiatan dengan kesan mendalam dan penuh semangat positif.

Dalam sambutannya, Bapak Ahmad Munif, M.S.I., selaku Pengelola Beasiswa PBSB UIN Walisongo Semarang, menyampaikan harapannya:

“Melalui kegiatan seperti ini, saya berharap setiap anggota dapat saling mengenal lebih jauh, menumbuhkan kekompakan, serta menyatukan chemistry antaranggota CSSMoRA.”

Sementara itu, Asyraf Zofir Wafa, Ketua Umum CSSMoRA UIN Walisongo, turut menambahkan:

“Semoga MOKRAB 2025 menjadi momentum untuk mempererat keakraban dan memperkuat solidaritas keluarga besar CSSMoRA.”

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar dan penuh antusiasme. MOKRAB CSSMoRA 2025 bukan sekadar ajang rekreasi, tetapi juga momentum berharga untuk menumbuhkan rasa memiliki, memperkokoh kebersamaan, dan memperkuat pondasi organisasi dalam mewujudkan visi serta misi CSSMoRA UIN Walisongo Semarang ke depan.

Writer : Muhammad Mahmud Sidiq

Loading

Perkuat Keilmuan Pesantren Lembaga Falakiyah PWNU Jateng Adakan Digitalisasi Ilmu Falak

Dengan memadukan tradisi keilmuan pesantren dan teknologi modern, Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Tengah menyelenggarakan pelatihan digitalisasi Ilmu Falak berbasis WhatsApp Bot di Pondok Pesantren Al-Hikmah 2 Benda , Brebes, pada Sabtu-Minggu, 27-28 September 2025. Acara ini dihadiri oleh lebih dari 100 orang peserta dari berbagai daerah di Jawa Tengah maupun luar kota.

Acara ini merupakan realisasi dari salah satu program kerja PWNU Jawa Tengah, yaitu Falakiyah Goes to Pesantren. Program ini dimaksudkan sebagai upaya untuk menghidupkan kembali tradisi keilmuan pesantren, khususnya dibidang Ilmu Falak. 

Ilmu Falak basicnya adalah dari pesantren. Sementara saat ini pesantren-pesantren yang mempelajari Ilmu Falak masih belum banyak. Sebagai upaya menghidupkan kembali keilmuan falak di pesantren, maka dibuatlah program Falakiyah Goes to Pesantren,” ungkap H. Muhammad Basthoni, Ketua Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Tengah.

Acara ini secara resmi dibuka oleh K. Ma’rufin Sudibyo selaku wakil sekretaris Lembaga Falakiyah PBNU. Kemudian acara dilanjut dengan seminar mengenai Dinamika Penetapan Awal Bulan Hijriah di Indonesia dan Asia Tenggara oleh Prof. KH. Ahmad Izzuddin, M.Ag. dan diteruskan dengan pelatihan digitalisasi Ilmu Falak.

Materi yang diangkat dalam pelatihan kali ini adalah tentang Artificial Intelligence (AI) dan WhatsApp Bot. Pada materi yang pertama, peserta diperkenalkan tentang apa itu Chat Bot AI dan pemrograman JavaScript, yang disampaikan oleh Fika Afhamul Fuscha. Dan materi kedua, yang menjadi puncak temanya disampaikan oleh Nuril Fathoni Hamas, yaitu mengenai integrasi pemrogramam awal bulan kitab Irsyadul Murid berbasis javaScript dengan WhatsApp Bot. Melalui materi ini, kajian-kajian klasik mengenai hisab awal bulan atau ibadah yang lainnya dapat beriringan dengan teknologi yang semakin berkembang saat ini, terutama bagi generasi muda yang seringkali lebih mengandalkan AI.

Acara berlangsung dengan lancar dan didukung oleh antusiasme peserta yang berpartisipasi dari awal hingga akhir. Banyak dari mereka yang bersemangat untuk belajar dan memperhatikan arahan hingga akhirnya mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang diharapkan.

“Berakhirnya acara ini bukan menjadi akhir dari kita mencari ilmu, tetapi sebagai awal dari kita membuka lembaran ilmu-ilmu yang baru,” tutup Gus Nasyar. 

Acara ditutup dengan sambutan dan doa dari H. Muhammad Basthoni, selaku ketua LF PWNU Jateng dan Gus Nasyar Alamuddin sebagai perwakilan pengasuh PP. Al-Hikmah 2 Benda. Dalam sambutannya, mereka berharap apa yang didapatkan dalam pelatihan ini, dapat memberikan manfaat bagi semua kalangan dan dapat terus dikembangkan.

Writer  : Tsalis Amalia

Loading

LANGKAH BARU CSSMORA UIN WALISONGO, MUSYAWARAH KERJA 2025/2026 LAHIRKAN RANCANGAN INOVATIF

Membuka babak baru perjalanan organisasi di periode 2025/2026, CSSMoRA UIN Walisongo kembali menggelar Musyawarah Kerja tahunan di Gazebo YPMI Al-Firdaus pada hari Sabtu, 20 September 2025. Acara ini menjadi langkah awal penting bagi kepengurusan baru untuk merancang dan merumuskan program kerja yang inovatif demi langkah baru yang lebih visioner.

Musyawarah kerja CSSMoRA UIN Walisongo adalah kegiatan tahunan CSSMoRA UIN Walisongo periode 2025/2026 guna membahas rancangan program kerja dari masing-masing departemen selama satu periode kepengurusan. Musyawarah kerja atau yang biasa disebut  Musyker ini, bukan hanya sekedar membahas rancangan program kerja di setiap tahunnya, tetapi juga wadah untuk menghidupkan semangat kebersamaan sekaligus menyatukan semua gagasan dan ide dari para anggota untuk menghasilkan keputusan yang disepakati dan siap dijalankan selama satu periode kepengurusan.

Acara ini dihadiri oleh seluruh anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo, termasuk anggota baru CSSMoRA dan turut mengundang dua orang delegasi dari CSSMoRA Universitas Wahid Hasyim, Universitas Negeri Semarang, dan Moragister UIN Walisongo.

Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars CSSMoRA, dan dilanjut dengan sambutan-sambutan dari ketua pelaksana, ketua umum CSSMoRA UIN Walisongo, dan ketua umum CSSMoRA Nasional. Kemudian dilanjutkan acara inti, yaitu sidang pleno, sidang pleno II, dan sidang paripurna.

Jumlah departemen di periode ini masih sama dengan tahun kemarin, yaitu sebanyak enam departemen. Setiap departemen maju ke depan untuk memaparkan program kerja masing-masing sesuai dengan urutan yang telah disepakati. Pemaparan pertama oleh Departemen Jurnalistik, dilanjut dengan Departemen Komunikasi dan Informasi (Kominfo), Pengembangan Sumber Daya Ekonomi (PSDE), Pemberdayaan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M), Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM), dan terakhir dari Badan Pengurus Harian (BPH).

Di periode ini, ada beberapa program kerja dan inovasi baru dari periode sebelumnya. Diantaranya, yaitu Narahari, Lomba Poster Nasional, Mangrove Ceria CSSMoRA, dan CSSMoRA HappyNest.

“Di periode ini ada beberapa tambahan program kerja di beberapa departemen dan beberapa perubahan nama dan konsep yang sedikit berbeda dengan periode sebelumya, yang mana itu menjadi salah satu bentuk evaluasi kami, pengurus periode ini dari masukan-masukan di Mubes kemarin,” ujar Asyraf, ketua umum CSSMoRA UIN Walisongo.

Salah satunya adalah CSSMoRA HappyNest, program kerja PSDM yang bertujuan untuk mempererat hubungan antar anggota melalui kegiatan santai, menyenangkan, sekaligus tetap memberi nilai positif. Proker ini juga menjadi salah satu jawaban dari masukan untuk Departemen PSDM di Mubes kemarin, agar mengadakan kegiatan baru yang lebih santai dan rutin.

Acara ini berlangsung hangat, dengan para anggota aktif yang aktif memberikan kritik, saran , dan masukan agar program kerja lebih terarah dan berdampak luas. Selain itu, ada untaian harapan yang disampaikan oleh para anggota dan demisioner pengurus sebelumnya.

“Dengan adanya proker dan inovasi yang telah kita sepakati tadi, harapannya semoga CSSMoRA bisa lebih baik, lebih solid, kekeluargaannya semakin erat, dan CSSMoRA dapat lebih berdampak, baik di internal anggota maupun di masyarakat,” ujar salah satu demosioner pengurus CSSMoRA periode 2024/2025.

Acara ini di akhiri dengan ketuk palu dari presidium, dan menjadi tanda bahwasanya musyawarah program kerja CSSMoRa UIN Walisongo telah disepakati. Dan menjadi pembuka langkah awal yang baik untuk mengemban amanah.

Writer : Tsalis Amalia

Loading

Cahaya Peradaban Pesan Perjalanan dan Harapan untuk Generasi Santri

Tim Kreatif : Ust. Muhammad Bushairi Dewan Asatidz Pondok Pesantren Al Muhajirin Pemangkih Seberang

Penulis / Editor: Ahmad Zaki Anshari. (Awardee PBSB 2023 asal Pondok Pesantren Al Muhajirin Pemangkih Seberang)

Anak-anakku yang saya cintai dan muliakan,

Hidup di pesantren bukanlah perjalanan yang mudah. Tidak semua orang mampu bertahan melewati tahun-tahun panjang di balik dinding-dinding asrama, dalam disiplin waktu yang ketat, dalam keseharian yang penuh dengan ujian kesabaran. Namun, justru di situlah letak kemuliaannya.

Saya teringat betul enam tahun yang lalu, ketika kalian pertama kali melangkahkan kaki ke gerbang pesantren. Ada air mata perpisahan dengan orang tua. Ada keraguan, ada rasa takut akan kesendirian. Ada juga rasa canggung, bahkan gentar, saat membayangkan hidup di dunia baru yang jauh dari kenyamanan rumah. Tetapi hari ini, kalian mampu membuktikan sesuatu yang luar biasa: bahwa kalian sanggup bertahan, meniti setiap tangga ujian, hingga sampai pada titik akhir perjalanan ini.

Jejak Pengorbanan Santri

Saya tahu, anak-anakku, betapa berat perjuangan itu. Ada santri yang dulu saya lihat menangis di pojok masjid, melawan rasa rindu yang begitu dalam kepada orang tuanya. Ada yang tersenyum di depan teman-temannya, padahal hatinya menjerit ingin dipeluk oleh ibu atau ayahnya. Ada juga yang tertatih-tatih memahami pelajaran, menghafal ayat demi ayat, atau menahan kantuk demi menyelesaikan murojaah.

Namun, dari setiap tetes air mata itulah lahir kekuatan. Dari setiap luka batin itu tumbuh kesabaran. Dari setiap keterbatasan lahirlah tekad. Dan hari ini, kalian semua berdiri sebagai saksi nyata bahwa kesabaran selalu berbuah kemenangan.

Sanad Keilmuan: Tali Emas yang Menyambung ke Rasulullah ﷺ

Pesantren bukan sekadar tempat belajar kitab kuning, bukan sekadar ruang untuk menghafal dan mengulang. Pesantren adalah mata rantai keilmuan. Kalian belajar dari para guru, guru kalian belajar dari para kiai, para kiai belajar dari ulama terdahulu, dan begitu seterusnya hingga sampai kepada Rasulullah ﷺ.

Setiap kali kalian berjabat tangan dengan guru, sejatinya tangan itu tersambung dalam barisan panjang ulama salaf, hingga menyentuh tangan Sayyidina Umar bin Khattab, hingga sampai kepada Rasulullah ﷺ. Maka jangan pernah meremehkan satu ayat yang kalian hafalkan, satu doa yang kalian lafalkan, atau satu pelajaran yang kalian terima dari kiai. Semua itu adalah bagian dari sanad emas yang akan menjadi wasilah keselamatan di dunia dan akhirat.

Birrul Walidain: Jalan Terindah Menuju Ridha Allah

Anak-anakku, ilmu setinggi apapun tidak akan bernilai tanpa birrul walidain. Tidak ada wasilah yang lebih ampuh, tidak ada doa yang lebih tajam, tidak ada amal yang lebih mendekatkan kepada Allah selain doa dan ridha kedua orang tua. Jika orang tuamu tersenyum melihatmu, maka senyum itu lebih berharga daripada segala ijazah akademis. Jika orang tuamu bahagia dengan keberadaanmu, maka kebahagiaan itu lebih tinggi nilainya daripada segala harta dunia.

Oleh karena itu, kelak setelah kalian meninggalkan Pondok Pesantren Al Muhajirin Pemangkih Seberang ini, jangan pernah lupa satu hal: hidupmu harus selalu menghadirkan kebahagiaan untuk orang tuamu.

Santri Sebagai Cahaya Umat

Anak-anakku, dunia hari ini membutuhkan santri. Negeri ini membutuhkan generasi pesantren. Bukan hanya untuk menjadi akademisi, guru, dosen, atau pejabat, tapi untuk menjadi pribadi yang membawa cahaya. Santri harus hadir dengan akhlak, bukan hanya dengan ilmu. Santri harus membawa kedamaian, bukan hanya kepandaian.

Kelak ketika orang melihatmu, mereka harus berkata: “Subhanallah, siapa yang mendidik anak ini? Siapa orang tuanya? Siapa gurunya?” Itulah cita-cita yang paling mulia: menjadikan setiap orang yang melihatmu teringat kepada Allah, bersyukur kepada orang tuamu, dan mendoakan guru-gurumu.

Pesan Perpisahan: Jadilah Bendera di Puncak Menara Ilmu

Kalian adalah bendera yang dikibarkan oleh pesantren ini. Guru-guru kalian ibarat pengibar bendera yang dengan penuh hati-hati menaikkannya. Dan kelak, ketika kalian berada di puncak, para guru tidak akan segan-segan memberikan hormat kepada kalian.

Maka jangan pernah mengecewakan doa-doa yang sudah dipanjatkan untukmu. Jangan pernah mengkhianati tetesan air mata ibu dan jerih payah ayah. Jangan pernah mengotori nama baik pesantren yang telah membesarkanmu.

Harapan untuk Santri Pondok Pesantren Al Muhajirin Pemangkih Seberang

Khusus untuk kalian, santri Pondok Pesantren Al Muhajirin Pemangkih Seberang, ketahuilah bahwa kalian adalah bagian dari mata rantai panjang perjuangan ulama di tanah Kalimantan. Pesantren ini lahir dari doa para pendiri, dari keringat para guru, dari pengorbanan para orang tua. Kalian adalah penerus risalah itu.

Kelak, dunia akan berubah, zaman akan berputar. Tetapi selama kalian tetap teguh pada prinsip ilmu, akhlak, dan pengabdian, maka kalian akan menjadi generasi yang mampu memberi cahaya bagi umat, bangsa, dan agama.

Anak-anakku,
Perjalanan kita di pesantren mungkin berakhir di sini, tetapi doa, cinta, dan harapan tidak akan pernah berhenti. Jadilah pribadi yang selalu berjalan dengan ilmu, bernapas dengan akhlak, dan bersujud dengan penuh penghambaan kepada Allah.

Selamat melangkah ke jalan yang lebih panjang. Selamat menjemput masa depan dengan iman, ilmu, dan amal.

Mudah-mudahan kalian semua kelak menjadi generasi Qurrota A’yun bagi orang tua, kebanggaan bagi pesantren, penerus perjuangan para ulama, dan hamba Allah yang diridai dunia dan akhirat.

Copywriter: Tim Media Multimedia Pesantren X CSSMoRA UIN Walisongo
© 2025 Pondok Pesantren Al Muhajirin Pemangkih Seberang

Loading