Merayakan Kegagalan

Kalian tau gak? Tanggal 13 Oktober itu diperingati sebagai Hari Kegagalan Internasional (International Day for Failure). Hari itu ditemukan oleh sekelompok mahasiswa di Finland untuk menormalisasi kegagalan, mengubah mindset bahwa kegagalan bukanlah sesuatu yang harus ditutupi, melainkan bagian dari kehidupan yang juga perlu diterima, bahkan dirayakan.

Lucunya, setelah aku tau tentang Hari Kegagalan ini, aku malah excited nungguin Oktober untuk berburu perlombaan. Seolah nantangin, berharap semoga nasibku di bulan Oktober justru berbanding terbalik dengan hari peringatan itu. Siapa tau, Oktober malah menjadi bulan perayaan kemenangan untuk diriku sendiri.

Sayangnya, ternyata malah relate sama diriku.  Alih-alih merayakan kemenangan, aku kayaknya malah makin akrab sama kegagalan.

Entah kenapa, rasanya hampir semua yang kuusahakan tidak ada yang berbuah hasil seperti yang kuharapkan. Semua berantakan, banyak hal yang sudah kusanggupi ternyata tidak ada yang maksimal. Padahal, di bayangan otakku, aku bisa kokk handle semuanya. Nanti jam segini sampai segini aku ngerjain ini, terus ngerjain ini, lalu ini. Yahhh, itu hanya skenario otakku semua. Nyatanya?

Kalau dihitung-hitung dari segi waktu, kayaknya sempet aja dehh ngelakuin semuanya. Tapi aku lupa, otakku juga ada limitnyaa walaupun waktuku ada. Gak bisa dipaksain seharian full mengurus macam-macam hal yang bahkan satu sama lain gak ada sangkut pautnya, lalu berharap semuanya tetap berjalan maksimal.

Dan kegagalan ini juga berimbas ke ekspektasi orang-orang. Ketika mereka mengharapkan setinggi-tingginya ke kita, eh malah matahin ekspektasi mereka. Di hati ini pengen banget membayar “harga diri”, membuktikan kalau di next event akan memberikan yang terbaik. Eh, nyatanya gagal lagi.

Salahnya sihh, mungkin tanpa sadar niatku sudah mulai bergeser. Yang awalnya ikut lomba tujuannya untuk belajar dan mencari pengalaman, lama-kelamaan malah jadi ajang buat menuhin ekspektasi orang lain. Aku ingin buktiin bahwa kepercayaan mereka ke aku tidak salah, apalagi kepada orang-orang yang sudah begitu banyak support dan mendoakan.

Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, belum tentu mereka menuntut sebanyak itu. Bisa jadi aku sendiri yang terlalu sibuk membayangkan gimana kecewanya mereka ketika aku gagal.

Akhirnya, setiap ada kesempatan baru, aku bukan cuma membawa harapan untuk menang, tetapi juga beban dari kegagalan sebelumnya. Harus berhasil kali ini, harus bisa membuktikan sesuatu, harus bisa menebus kekalahan yang kemarin. Begitu terus sampai aku capek sendiri.

Jujur, capek cuiii.

Bukan capek ikut macem-macem lomba atau kegiatan, sampai sekarang aku masih senang kokk lakuinnya. Aku cuma capek sama perasaan yang datang setelah gagal. Merasa belum cukup berusaha, merasa seharusnya bisa lebih baik, dan merasa kembali mengecewakan orang-orang. Ternyata, aku sendiri yang paling sulit memaafkan kegagalanku.

Ada satu hal lagi yang cukup mengganggu pikiranku setiap kali gagal, yaitu tentang doa.

Aku rasa hampir setiap orang yang sedang memperjuangkan sesuatu pasti punya doa-doa yang diam-diam terus diulang. Begitu juga denganku. Sebelum perlombaan, saat persiapan, sampai menunggu pengumuman, selalu ada harapan yang kusampaikan kepada Allah. Aku juga minta doa orang tua, keluarga, guru-guru, teman-teman, dan siapa pun yang rasanya bisa kumintai doa.

Tapi nyatanya? Gagal lagi.

Kadang aku berpikir, kenapa yaaa, sudah berusaha, sudah berdoa, tapi hasilnya masih aja kayak gini?

Aku tau, kita diajarin untuk ikhtiar semaksimal mungkin, lalu tawakal kepada Allah. Aku juga tau bahwa tidak semua yang kita inginkan pasti itu yang terbaik untuk kita. Tapi ternyata, sebatas tau dan benar-benar menerima itu dua hal yang berbeda.

Ketika masih ada harapan, mudah bangett mengatakan kalau kita sudah menyerahkan semuanya kepada Allah. Tapi, ketika hasilnya tidak sesuai keinginan, baru terasa betapa sulitnya menerima sesuatu yang sebenarnya dari awal sudah kita serahkan kepada-Nya.

Sampai akhirnya aku mulai sadar bahwa mungkin ada yang perlu kuluruskan dari caraku memandang doa. Selama ini, tanpa kusadari, aku terlalu terpaku pada satu hasil yang kuminta. Seolah-olah setelah semua usaha dan doa itu, sudah semestinya aku mendapatkannya. Padahal, Allah tidak pernah menjanjikan bahwa setiap doa akan dijawab persis seperti skenario yang kita susun sendiri.

Aku jadi ingat QS. Al-Baqarah ayat 216:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Yappp, ayat yang sudah sering banget kudengar, kubaca, dan tau artinya. Tapi semakin ke sini, aku merasa ayat itu bukan cuma untuk dijadikan penghibur setelah kecewa. Dipikir-pikir, ada sesuatu yang jauh lebih sulit untuk dipraktikkan, yaitu mengakui bahwa pengetahuan kita tentang apa yang terbaik untuk diri sendiri memang sangat terbatas. Hanya Allah yang tau.

Aku bisa menganggap kemenangan sebagai hal terbaik karena sudah membayangkan kebahagiaan setelahnya. Sebaliknya, aku menganggap kegagalan sebagai sesuatu yang buruk karena hanya melihat bagian yang mengecewakan. Padahal, bisa jadi ada hal-hal yang belum mampu kulihat, atau hikmah yang belum mampu kupahami sekarang dari kegagalan itu.

Dari situ aku mulai belajar tentang husnuzan kepada Allah. Berprasangka baik bukan berarti harus selalu mencari-cari maksud atau alasan di balik setiap ketetapan-Nya. Kadang kita memang belum tau, tetapi ketidaktahuan itu seharusnya tidak membuat kita kehilangan kepercayaan kepada-Nya.

Karena, kalau aku hanya merasa Allah begitu baik ketika doaku terkabul sesuai keinginan, lalu bagaimana dengan doa-doa yang belum mendapatkan jawaban seperti yang kuharapkan?

Apa aku harus nunggu berhasil dulu untuk bisa bersyukur?

Di sisi lain, aku juga mulai memahami bahwa menerima takdir bukan berarti berhenti mengevaluasi diri. Ada muhasabah, melihat kembali apa yang sudah kita lakukan dan apa yang perlu diperbaiki. Yaaa, mungkin persiapanku memang belum maksimal, aku masih belum pandai manage waktu, atau aku terlalu banyak menyanggupi sesuatu. Itu semua perlu kuakui.

Kita bisa mengakui bahwa strategi kita keliru tanpa harus menganggap seluruh usaha sebelumnya sia-sia. Kita bisa gagal dalam suatu perlombaan tanpa harus merasa menjadi manusia yang gagal.

Sederhana yaaa kalau ditulis? Tapi untuk benar-benar meyakininya setelah berkali-kali kecewa, ternyata gak sesederhana itu.

Aku juga jadi mikir kembali makna sabar, ikhlas, syukur, qanaah, dan tawakal yang selama ini sering sekali kita dengar. Kadang mudah banget bilang ke orang lain, yang sabar yaaa, yang ikhlas, mungkin belum rezekinya. Aku sendiri juga sering bilang itu. Tapi ketika harus mengucapkan kalimat yang sama ke diri sendiri, ternyata rasanya beda.

Aku mulai paham bahwa sabar bukan berarti tidak boleh sedih, dan ikhlas bukan berarti harus langsung merasa baik-baik saja. Ada niat yang perlu diluruskan, ada harapan yang perlu ditata, dan ada hati yang perlu dilatih agar tidak terus-menerus menggantungkan kebahagiaan pada pencapaian. Begitu pula dengan qanaah, bukan berarti berhenti berusaha, tetapi belajar merasa cukup dengan apa yang Allah berikan tanpa kehilangan semangat untuk memperbaiki diri.

Dan tawakal? Mungkin justru di situlah ujian terbesarku. Aku bisa berusaha, aku bisa berdoa, tetapi apakah aku benar-benar bersedia menyerahkan hasilnya kepada Allah ketika hasil itu berbeda dari yang kuinginkan?

Aku rasa, selama ini aku terlalu sibuk belajar bagaimana caranya menang, sampai lupa belajar bagaimana caranya kalah tanpa kehilangan harapan.

Maka perlahan aku mulai mencoba berdamai.

Kembali lagi mengingat bahwa Allah tetap Maha Baik, bukan hanya ketika Dia memberiku apa yang kuminta, tetapi juga ketika Dia menetapkan sesuatu yang belum mampu kupahami.

Fyi, tulisan ini sebenarnya sudah kutulis sebelum pengumuman babak penyisihan OASE. Iya, sebelum pengumuman di tanggal 27 Oktober 2026. Aku bener-bener pesimis, bahkan sudah membayangkan kalau OASE ini akan jadi satu kegagalan lagi yang melengkapi cerita gagalnya Zahwa di Oktober ini. Rasanya pas banget kan? Nulis tentang merayakan kegagalan, lalu sepanjang Oktober benar-benar dihiasi dengan kegagalan demi kegagalan wkwk.

Tapi ternyata, Allah punya cerita lain.

Alhamdulillah, di tengah rasa pesimis itu, tim kami UIN Walisongo Semarang dinyatakan lolos ke babak 12 besar OASE dari 47 PTKI yang mengikuti babak penyisihan. Ya Allahhh, geterrr. Apalagi pencapaian ini sudah dinantikan kampus selama lima tahun terakhir.

Haha, hampir aja OASE ini kucatat di list kegagalanku, eh siapa sangka malah lolos. Tapi aku gak ingin menjadikan kelolosan ini sebagai alasan untuk baru bisa berdamai dengan kegagalan. Sebab, kalaupun hasilnya kemarin berbeda, semua yang sedang kupelajari tentang sabar, ikhlas, dan tawakal seharusnya tetap berlaku.

Tentu perjuangan kami belum selesai. Di babak berikutnya, kami akan berhadapan dengan sebelas regu lain dari berbagai PTKI yang pastinya juga punya persiapan dan ambisi besar untuk membawa pulang medali. Kalau mereka aja punya ambisi sebesar itu, masa kami enggak? Kami juga pengen menang dan membawa pulang kabar gembira untuk UIN Walisongo.

Karena itu, sekalian melalui tulisan ini, aku ingin meminta doa dari siapa pun yang membaca tulisanku ini. Mohon doakan kami bertiga agar Allah memudahkan segala persiapan dan perjuangan kami, memberikan ketenangan serta kelancaran ketika berlomba nanti. Doakan juga semoga kami bisa melangkah lebih jauh dan membawa pulang hasil yang membanggakan.

Kami akan tetap berusaha semaksimal mungkin, lalu bertawakal atas apa pun hasilnya. Semoga kalau berhasil, kami tidak lupa bersyukur. Dan kalau ternyata belum, semoga kami tetap bisa menerima ketetapan Allah dengan lapang dada.

Setelah semua yang terjadi, aku jadi memikirkan kembali Hari Kegagalan Internasional yang awalnya ingin kupatahkan dengan kemenangan.

Ternyata, Oktober memang memberiku cukup banyak kegagalan. Tetapi dari situ aku juga belajar bahwa tidak semua yang kita usahakan harus berakhir sesuai keinginan agar tetap punya arti. Ada kekurangan yang perlu diperbaiki, ekspektasi yang perlu dilepaskan, dan ketetapan Allah yang perlu diterima meskipun belum sepenuhnya kita pahami.

Aku belum bisa mengatakan bahwa sekarang aku sudah pandai menerima kegagalan. Mungkin nanti aku masih akan kecewa, nangis, atau kembali mempertanyakan kemampuanku sendiri. Tapi setidaknya, aku mulai belajar untuk tidak terlalu keras kepada diri sendiri.

Aku masih ingin mengikuti banyak perlombaan, masih ingin punya pencapaian yang membanggakan, dan masih ingin membuat orang-orang yang percaya kepadaku ikut bahagia. Aku masih punya ambisi, dan aku gak ingin kehilangan itu.

Hanya saja, sekarang aku ingin belajar agar ambisi tersebut tidak membuatku lupa bahwa nilai diriku tidak ditentukan oleh menang atau kalah.

Barangkali itulah arti merayakan kegagalan yang akhirnya mulai kupahami. Bukan karena kegagalan itu menyenangkan, bukan pula karena aku sudah menyerah mengejar kemenangan. Tetapi karena setelah berkali-kali gagal, aku akhirnya ingin berhenti memusuhi sesuatu yang memang menjadi bagian dari perjalanan hidup.

Aku masih ingin menang. Tapi aku tidak ingin lagi menunggu kemenangan untuk bisa berdamai dengan kegagalan.

Alhamdulillah untuk semua yang sudah terjadi sepanjang Oktober dan bahkan untuk bulan-bulan serta tahun-tahun sebelumnya, baik yang sesuai harapan maupun yang tidak. Dan bismillah untuk kesempatan yang masih Allah berikan.

Semoga setelah ini aku bisa terus belajar menjadi seseorang yang tidak hanya pandai berharap dan berusaha, tetapi juga semakin lapang dalam menerima apa pun yang Allah tetapkan.

Oleh: Zahwa Kamila

Loading