Dari Kompetisi hingga Talkshow: Semarak Puncak Dies Natalis ke-18 CSSMoRA UIN Walisongo Bedah Tradisi Pesantren di Era Digital

​SEMARANG – Setelah sukses menggelar rangkaian kompetisi internal maupun eksternal, Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMoRA) UIN Walisongo resmi mencapai puncak perayaan Dies Natalis ke-18 pada Rabu (25/2). Acara yang menghadirkan Gus Rifqil Muslim sebagai pembicara utama ini berlangsung khidmat di Auditorium 2, Kampus 3 UIN Walisongo Semarang.

​Mengusung tema “Narasi Santri di Era Digital: Membaca Ulang Tradisi Pesantren dalam Arus Disrupsi”, Gus Rifqil membedah tantangan santri dalam menjaga nilai luhur pesantren di tengah gempuran teknologi. Ia menekankan pentingnya menjaga hati kita tetap teduh di dunia digital yang gaduh.

​”Setiap story adalah catatan, setiap komentar adalah saksi, dan setiap unggahan akan berdiri di hadapan Allah SWT karena adanya hukum eternity (keabadian digital). Santri bukanlah generasi yang takut teknologi, bukan pula yang mendewakannya. Santri adalah generasi yang memuliakan ilmu dengan menggunakan teknologi sebagai alat kebaikan,” ujar Gus Rifqil di hadapan ratusan peserta.

​Sebelumnya, kemeriahan Dies Natalis telah diawali dengan Festival Dies Natalis CSSMoRA (FDC) pada 4–15 Desember 2025. Agenda rutin tahunan ini berhasil menyedot antusiasme 618 peserta dari seluruh penjuru Nusantara yang berkompetisi dalam empat cabang lomba: Musabaqoh Qiraatil Kutub (MQK), Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ), Musabaqoh Dai Muda (MDM), dan Solo Song.

​Selain skala nasional, aspek kekeluargaan juga diperkuat melalui CSS Competition bagi anggota internal pada 6–7 Desember 2025. Berbagai cabang olahraga seperti badminton, futsal, gobak sodor hingga e-sport digelar di beberapa lokasi, termasuk GOR Prima Mijen dan Pondok Pesantren YPMI Al-Firdaus.

Rangkaian panjang perayaan ini sebenarnya telah dimulai sejak Oktober 2025 melalui sayembara desain logo yang diperuntukkan bagi anggota aktif. Kompetisi identitas visual tersebut menjadi pemantik semangat sebelum berlanjut ke ajang nasional, yakni Festival Dies Natalis CSSMoRA (FDC) pada 4–15 Desember 2025.

​Ketua Panitia, Aufal Wafa, mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran seluruh rangkaian acara. Ia menjelaskan bahwa perpaduan lomba dan talkshow ini adalah upaya menyeimbangkan kreativitas dan pengayaan intelektual.
“Kami ingin Dies Natalis ini menjadi paket lengkap. Kompetisinya mengasah bakat, sementara talkshow bersama Gus Rifqil memberikan arah serta bekal pemikiran bagi kami sebagai santri di era disrupsi,” ungkapnya.

​Puncak acara ditandai dengan prosesi pemotongan tumpeng bersama pengelola Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) UIN Walisongo, serta penampilan syahdu Tari Turi Putih oleh anggota CSSMoRA yang memukau audiens.

Rangkaian acara ditutup dengan sesi foto bersama dan dilanjutkan dengan buka puasa bersama anggota aktif. Dengan berakhirnya perayaan ke-18 ini, CSSMoRA UIN Walisongo berharap dapat terus menjadi wadah transformatif bagi santri untuk tetap relevan dengan zaman tanpa kehilangan jati diri kepesantrenannya.

Loading