Bangun Kebersamaan Ramadan, CSSMoRA UIN Walisongo adakan Buka Bersama

CSSMoRA UIN Walisongo Semarang melaksanakan kegiatan Buka Bersama Ramadhan pada Sabtu, 8 Maret 2025, bertempat di Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Semarang. Kegiatan ini dihadiri oleh anggota aktif CSSMoRA angkatan 2021 hingga 2024.

Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antara sesama anggota CSSMoRA serta membangun semangat kebersamaan di bulan suci Ramadhan. Rangkaian acara dimulai dari pembukaan, kultum singkat, buka puasa bersama, hingga salat magrib berjamaah.

Kegiatan berjalan lancar, namun terdapat kendala pada partisipasi. Beberapa anggota yang telah dibagi dalam kelompok tidak menunjukkan kejelasan kehadiran sehingga panitia perlu mencari pengganti secara mendadak. Koordinasi kehadiran masih menjadi catatan yang perlu dibenahi pada pelaksanaan kegiatan serupa di masa mendatang.

Konfirmasi kehadiran yang lebih disiplin serta pembagian tanggung jawab yang jelas sejak awal diharapkan dapat meningkatkan efektivitas kegiatan serupa di tahun berikutnya.

Demikian berita acara ini dibuat sebagai dokumentasi resmi kegiatan Buka Bersama CSSMoRA UIN Walisongo Semarang periode 2024–2025

Loading

Latih Kader Penulis, CSSMoRA UIN Walisongo Gelar Pelatihan Jurnalistik

Belajar Langsung Teknik Wawancara
CSSMoRA UIN Walisongo Gelar Workshop Jurnalistik Perdana
Dalam rangka memberikan pembekalan jurnalistik kepada anggotanya, Departemen Journalistik CSSMoRA UIN Walisongo menyelenggarakan Workshop Journalism perdana. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, (16/11/2024) bertempat di Pendopo Pondok Pesantren Madinatul Amin, Mijen, Kota Semarang.
Workshop ini merupakan tindak lanjut dari program kerja bertajuk Mora Journalism, yang bertujuan membekali anggota CSSMoRA UIN Walisongo khususnya yang tergabung dalam LPM Zenith dengan pengetahuan dan keterampilan dasar jurnalistik dan kepenulisan.
Materi pertama yang diangkat dalam kegiatan ini adalah teknik wawancara. Bertindak sebagai pemateri yaitu Zainul Fitroh, editor jurnal dari LPM Justisia Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo. Dalam pemaparannya, Zainul menekankan bahwa wawancara bukan sekadar mencari informasi, namun juga sebagai sarana menguatkan asumsi dalam tulisan.
“Wawancara itu bukan hanya sekadar mencari informasi, tetapi juga untuk mendukung asumsi-asumsi yang ada di tulisan kita,” jelasnya.
Adapun beberapa poin penting yang dijelaskan dalam sesi ini mencakup tahapan-tahapan persiapan sebelum melakukan wawancara, seperti mencari latar belakang narasumber, membuat outline, menyusun daftar pertanyaan sesuai unsur 5W+1H, dan mempelajari kosakata terkait topik. Saat wawancara berlangsung, pewarta juga diimbau untuk memperkenalkan diri, menjaga etika dalam berbicara, serta tidak memaksa narasumber.
“Jangan pernah memaksa narasumber untuk mengingat sesuatu ketika ia benar-benar lupa,” tegas Zainul.
Ketika ditanya mengenai teknik khusus agar wawancara berjalan lancar, ia menjawab lugas bahwa kuncinya terletak pada latihan dan belajar secara konsisten. “Sebenarnya tidak ada teknik khusus dalam wawancara. Sering-sering latihan dan belajar itu sudah cukup supaya wawancaramu berjalan baik.”
Antusiasme peserta dalam sesi ini membuat suasana workshop semakin hidup. Di penghujung acara, Zainul menyampaikan rasa syukurnya bisa berbagi ilmu dengan para peserta. Ia berharap bekal wawancara yang telah disampaikan bisa menjadi fondasi kuat dalam praktik jurnalistik anggota CSSMoRA ke depannya.

Loading

Tasyakuran Wisuda CSSMoRA UIN Walisongo Semarang

Semarang, 23 Mei 2025

CSSMoRA UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan kegiatan Tasyakuran Wisuda pada Jumat, 23 Mei 2025, bertempat di Gazebo YPMI Al-Firdaus. Kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi dan rasa syukur atas pencapaian akademik anggota CSSMoRA yang telah menyelesaikan studi di UIN Walisongo.

Acara dimulai pukul 13.30 WIB dan dihadiri oleh wisudawan, anggota aktif CSSMoRA, serta KH. Ali Munir sebagai tamu undangan. Rangkaian kegiatan meliputi sambutan, doa bersama, pemotongan tumpeng, dan ramah tamah antaranggota.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan berjalan lancar namun masih terdapat beberapa catatan. Koordinasi dengan kakak tingkat kurang maksimal sehingga terjadi miskomunikasi terkait pengadaan sertifikat. Beberapa alumni yang diundang tidak hadir, dan sertifikat dari sekretariat nasional tidak sempat dimintakan. Selain itu, pihak pengelola PBSB tidak dapat menghadiri kegiatan ini.

Untuk itu, pada kegiatan berikutnya, koordinasi dengan alumni dan pengelola perlu diperkuat serta permohonan sertifikat sebaiknya diajukan lebih awal kepada sekretariat nasional agar kegiatan serupa dapat berlangsung lebih optimal.

Demikian berita acara ini dibuat sebagai dokumentasi resmi kegiatan Tasyakuran Wisuda CSSMoRA UIN Walisongo Semarang periode 2024–2025.

Loading

MAJALAH ZENITH EDISI 17

Puji syukur kehadirat Allah yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan juga anugerahnya kepada kita semua. Shalawat serta salam tak lupa kami haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad, yang selalu menjadi wasilah kami dalam doa. Setelah sekian lama pengerjaan Zenith terhenti, akhirnya pada periode kepengurusan 2024-2025, divisi jurnalistik kembali dibentuk dalam rangka untuk kembali menerbitkan majalah Zenith edisi ke 17.

Selanjutnya, rasa terima kasih kami sampaikan kepada pihak-pihak yang mendukung dan berkontribusi dalam pengerjaan Majalah Zenith. khususnya, kepada teman-teman divisi jurnalistik, segenap penulis, dan juga teman-teman CSSMoRA yang yang turut berkontribusi dalam tebitnya majalah ini.

Ucapan terima kasih juga kami ucapkan kepada para tokoh yang telah bersedia kami wawancarai khususnya Pak Dr. M. Basthoni, Prof Thomas Djamalludin, Dr Kassim Bahali dan juga para allumni yang senantiasa membimbing dan memberikan sumbangsih pemikirannya dalam rangka terbitnya majalah Zenith.

Sebagai mana edisi-edisi sebelumnya, majalah Zenith senantiasa hadir dengan ciri khas pembahasan ilmu falaknya. Pada edisi ke 17 ini tim redaksi mengusung judul “Dinamika Penentuan Awal Waktu Subuh”. Hal yang melatarbelakangi tema tersebut adalah permasalahan mengenai awal waktu subuh yang ramai sekitar tahun 2010 ternyata belum mencapai kesepakatan kriteria hingga kini.

Perbedaan yang masih terjadi berimplikasi pada perbedaan waktu salat antara pemerintah dan kelompok lain. Meski demikian, belum banyak tulisan yang membahas secara spesifik masalah ini.

Sehingga sebagian masyarakat belum sepenuhnya menyadari bahwa ternyata kriteria waktu subuh yang mereka anut ternyata memiliki perbedaan. Kriteria yang umum dan dipakai oleh pemerintah adalah ketinggian matahari -20°. Sedangkan ormas Muhammadiyah menganut -18° senada dengan negara Malaysia yang telah mengubah dari -20° ke -18°.

Majalah Zenith kali ini akan membahas akar perbedaan dari kriteria tersebut berdasarkan kajian dan wawancara dengan para pakar. Harapannya majalah edisi 17 ini akan memberikan manfaat dan juga pengetahuan baru kepada mahasiswa dan juga masyarakat terkait realita serta dinamika penentuan kriteria waktu subuh yang sempat ramai di Indonesia.

Kami sadar bahwa majalah ini masih banyak kekurangan, maka dari itu kritik dan saran akan sangat membantu demi terciptanya kualitas majalah yang lebih baik lagi ke depannya. Sebaliknya jikalau pembaca mendapatkan manfaat kami sangat berharap teman-teman yang membaca bisa membagikan pengetahuannya kepada siapapun yang membutuhkan.

 

Majalah bisa di download di sini

 

Loading

Divisi PSDE CSSMoRA UIN Walisongo Gelar Pelatihan “Affiliate TikTok dan Trik Marketing Produk Digital”

Semarang — Menyadari pentingnya literasi ekonomi digital di era yang serba online, Divisi Pengembangan Sumber Daya Ekonomi (PSDE) CSSMoRA UIN Walisongo menyelenggarakan pelatihan bertajuk “Affiliate TikTok dan Trik Marketing Produk Digital” pada Kamis, 1 Mei 2025, bertempat di YPMI Al-Firdaus. Acara ini dimulai sejak pukul 09.00 WIB dan berlangsung hingga selesai.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan wawasan dan keterampilan praktis kepada mahasiswa dalam menggali potensi penghasilan melalui dunia digital, khususnya dengan memanfaatkan platform media sosial seperti TikTok. Fokus utama pelatihan ini adalah strategi menjadi afiliator serta kiat menciptakan dan memasarkan produk digital yang relevan dan bernilai.

Hadir sebagai pemateri, Fairjil Humam, seorang praktisi muda yang telah berkiprah dalam dunia digital marketing dan afiliasi membawakan materi dengan gaya interaktif dan komunikatif. Dalam sesi tersebut, Fairjil membahas tiga poin penting, yaitu:

  1. Teknik dasar menjadi afiliator pemula, termasuk pemahaman alur kerja afiliasi dan platform yang bisa dimanfaatkan.

  2. Tips menyusun ide dan membuat produk digital yang memiliki nilai jual serta berkelanjutan.

  3. Trik memasarkan produk digital secara efektif di media sosial, dengan menitikberatkan pada potensi TikTok sebagai platform viral dan berdaya jangkau tinggi.

Peserta yang hadir merupakan mahasiswa dari berbagai jurusan dan latar belakang, namun semuanya memiliki ketertarikan yang sama terhadap dunia wirausaha digital. Antusiasme peserta terasa dalam sesi tanya jawab yang berlangsung hidup, dengan berbagai pertanyaan seputar praktik afiliasi, pengalaman pribadi, hingga kendala lapangan.

Selain menjadi ajang belajar, kegiatan ini juga menjadi ruang inspiratif yang mendorong semangat kewirausahaan mahasiswa. Harapannya, para peserta dapat mulai memanfaatkan aktivitas media sosial tidak sekadar untuk hiburan, melainkan sebagai sarana produktif yang mampu mendatangkan penghasilan nyata.

Kegiatan ini menjadi salah satu langkah nyata PSDE CSSMoRA dalam mencetak generasi muda yang melek teknologi, adaptif terhadap perubahan, dan mandiri secara ekonomi.

Penulis = Lutfi Najib

Loading

CSSMoRA UIN Walisongo Gelar Aksi Peduli Sesama di Panti Asuhan Al-Hikmah

Semarang — Departemen Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) CSSMoRA UIN Walisongo kembali menunjukkan komitmennya dalam menebar kebaikan melalui kegiatan bertajuk Aksi Peduli Sesama yang dilaksanakan pada Minggu, 9 Maret 2025, di Panti Asuhan Al-Hikmah, Bringin, Ngaliyan. Kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 20 anak binaan panti sebagai penerima manfaat.

Acara dimulai pada sore hari dengan rangkaian kegiatan yang dirancang penuh makna dan kehangatan. Setelah pembukaan secara resmi, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Umum CSSMoRA UIN Walisongo, Koordinator Departemen P3M, serta perwakilan pengelola Panti Asuhan Al-Hikmah. Dalam sambutannya, mereka menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini serta harapan agar tali silaturahmi dapat terus terjalin.

Doa pun dipanjatkan bersama, memohon keberkahan atas acara yang digelar dan kebahagiaan bagi seluruh peserta. Suasana kemudian menjadi lebih meriah ketika para anggota Departemen P3M mengajak anak-anak bermain bersama sembari menunggu waktu berbuka. Dipandu oleh Dina dan Nuna, permainan yang menitikberatkan pada kekompakan dan fokus ini disambut dengan antusiasme tinggi oleh anak-anak. Tawa ceria pun mengisi halaman panti, menciptakan momen kebersamaan yang hangat dan penuh keceriaan.

Begitu bedug Maghrib terdengar, seluruh peserta bersama-sama menyantap hidangan berbuka yang telah disiapkan. Suasana penuh kekeluargaan terasa begitu kental dalam momen ini. Sebagai penutup, dilakukan penyerahan bingkisan secara simbolis kepada anak-anak panti, sebagai bentuk kepedulian dan cinta kasih dari keluarga besar CSSMoRA UIN Walisongo.

Kegiatan berjalan dengan lancar dan penuh keakraban. Lebih dari sekadar acara seremonial, aksi ini menjadi wujud nyata dari semangat solidaritas sosial yang dijunjung tinggi oleh CSSMoRA. Harapannya, kegiatan ini dapat menumbuhkan rasa empati, memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, serta mengajarkan arti syukur kepada seluruh pihak yang terlibat.

Dengan semangat Berbagi dan Menginspirasi, CSSMoRA UIN Walisongo berkomitmen untuk terus menebar manfaat dan menjadi bagian dari perubahan sosial yang lebih baik.

Loading

Rangkaian Acara Dies Natalis ke-17 CSSMoRA UIN Walisongo

Sebagai bentuk rasa syukur atas usia ke tujuh belas, Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMoRA) UIN Walisongo sukses menyelenggarakan rangkaian kegiatan Dies Natalis dengan tema “Meniti Jalan Pengabdian, Meraih Keberkahan Bersama CSSMoRA Meraih Masa Depan.” Kegiatan ini memiliki beberapa rangkaian kegiatan yang terlaksana, diantaranya:

1. Sayembara logo harlah ke tujuh belas yang diikuti oleh seluruh anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo.
2. Festival Dies Natalis CSSMoRA (FDC), kegiatan ini diselenggarakan untuk umum dengan ketentuan peserta maksimal berusia 25 tahun. FDC memiliki tida cabang lomba, yakni Musabaqah Qiro’atul Kutub (MQK), Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), dan Musabaqah Da’i Muda (MDM) yang semua dilakukan secara online. Kegiatan FDC ini berhasil menembus tiga ratus lebih peserta dari seluruh Indonesia.
3. CSSMoRA Bersholawat menjadi puncak acara pada perayaan tersebut. Gus Apang (Ashfal Maulana), Abah Budi Harjono, dan tim hadroh JQH UIN Walisongo menjadi bintang tamu yang menyita perhatian khalayak umum. Terbukti dari peserta malam itu bukan hanya dari kalangan mahasiswa, namun juga warga sekitar kampus UIN Walisongo turut hadir meramaikan malam puncak yang diadakan di auditorium II UIN Walisongo.
Sebagai penutup, seluruh anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo mempererat ikatan kebersamaan melalui kegiatan rihlah. Saloka Theme Park merupakan destinasi pilihan seluruh anggota.

 

 

Loading

Etika Bersosmed ala Islam: Tidak Cuma Asik, Tapi Juga Beradab

Di era digital seperti sekarang, media sosial menjadi bagian penting dalam kehidupan kita. Namun, bagaimana Islam memandang penggunaan media sosial? Ada beberapa hal penting yang harus kita perhatikan agar tetap menjaga etika dan akhlak sebagai muslim.

1. Kebebasan Berpendapat dalam Islam

Islam mengajarkan kita untuk menyampaikan pendapat dengan santun dan penuh hikmah. Kebebasan berbicara bukan berarti bebas menyebar ujaran kebencian atau fitnah. Di media sosial, kita harus bijak memilih kata agar tidak menyinggung atau menyakiti orang lain. Dalam Surah An-Nahl: 125 telah disampaikan :

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

       Artinya : “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.” (QS an-Nahl: 125)

2. Larangan Menyebar Hoax dan Fitnah Digital

Menyebarkan berita palsu (hoax) atau fitnah bertentangan dengan prinsip Islam yang mengedepankan kejujuran dan keadilan. Kita harus selalu memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya agar tidak merugikan orang lain. Allah swt. yang berkaitan dengan berita bohong atau hoax yang telah disampaikan dalam Surah al-Hujurat yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

        Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.

3. Tanggung Jawab Akhlak Muslim di Dunia Maya

Seorang Muslim tidak hanya bertanggung jawab atas perilakunya di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya. Ruang digital adalah bagian dari kehidupan yang tak terpisahkan, sehingga akhlak tetap harus dijaga.

Dalam Islam, setiap kata yang diketik dan dibagikan akan dipertanggungjawabkan, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka, akhlak bukan hanya soal adab di dunia fisik, tetapi juga cerminan iman di dunia digital.

4. Dakwah Positif di Media Sosial

Media sosial merupakan sarana strategis untuk menyebarkan nilai-nilai Islam secara positif. Dalam genggaman tangan, seorang Muslim bisa berdakwah melalui konten yang menginspirasi, mengedukasi, dan menyejukkan hati.

Dakwah di era digital tidak harus berupa ceramah panjang, namun bisa melalui kutipan Al-Qur’an, hadis, atau pengalaman spiritual yang menggugah.

Yang terpenting adalah niat dan konsistensi untuk menebarkan kebaikan, menjauhi perdebatan yang tidak bermanfaat, serta tidak terjebak dalam konten viral yang melanggar etika. Dengan begitu, kehadiran Muslim di dunia maya bukan hanya aktif, tapi juga membawa manfaat dan keberkahan bagi sesama

Di era digital yang serba cepat ini, kecanggihan media sosial tak seharusnya menghapus batasan moral yang diajarkan dalam Islam. Justru, platform-platform tersebut dapat menjadi ladang amal yang luas jika digunakan dengan niat yang benar dan sikap yang bertanggung jawab.

Islam tidak menolak teknologi, tetapi hadir untuk membingkai penggunaannya dengan nilai-nilai luhur seperti kejujuran, kesantunan, dan tanggung jawab sosial.

Setiap unggahan, komentar, hingga informasi yang dibagikan bukan hanya cerminan diri, tetapi juga bagian dari amanah dakwah yang harus dijaga. Maka, mari jadikan setiap klik sebagai jalan menuju keberkahan, bukan sekadar eksistensi, tetapi kontribusi nyata untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

 

Penulis = Alfaris Rachmani Rafiansyah

Loading

KEPADA JARAK DAN WAKTU

 

Kepada jarak yang mengubah rasa

Dahulu menggebu akhirnya pilu

Kupendam rindu dikegelapan malam

Rembulan menjadi saksi cinta yang tertahan

 

Kepada waktu yang terus melaju

Keadaan ini semakin mengusik kalbu

Hadirnya hanya terdapat dalam kenangan

Tak kunjung tiba, tak kunjung dekat

 

Pada Tuhan Sang pencipta rasa

Ku sebut namanya dalam setiap doaku

Semoga Kau mendengar, semoga doaku tersampaikan

Rindu ini tak pernah surut, tak pernah meninggalkan

 

Kepada jarak dan waktu yang memisahkan

Sampaikan salam rinduku yang mendalam

Suatu hari kita akan bertemu

Mengurai rindu yang telah lama terpendam

 

Dalam doaku ada namamu

Dalam kalbuku ada rindu untukmu

Kepada jarak dan waktu, aku titipkan

Segala cinta yang belum terucapkan

 

 

Ciamis, 28 Juni 2024    

Loading

Rahasia Kebahagiaan di Balik Kesederhanaan

 

Di sebuah desa yang kecil Bernama Desa Pawindan, terdapat sebuah keluarga yang sederhana. Xaquilla Pratama adalah anak pertama dari pernikahan Diana Aprilia dan Kadit Waluyo, suaminya yang telah meninggal dunia. Sejak Ayahnya tiada, kehidupan mereka menjadi semakin rumit. Diana bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka, tetapi dalam perjalanan mencapai kebutuhan itu membutuhkan perjuangan yang pelik.

Xaviera merupakan gadis yang selalu ceria, namun kondisi hidup yang serba kekurangan membuatnya merasa tertekan. Dia adalah satu-satunya cucu yang miskin dari keturunan ayahnya. Keluarga dari pihak ayahnya berkecukupan. Mereka sering mengunjungi nenek dari pihak ayah, namun setiap kali mereka datang, Xaviera dan ibunya selalu terasingkan karena keluarga dari ayahnya tidak suka dengan kehadiran mereka.

Tante Moli, kakak perempuan ayahnya, adalah yang paling keras dalam memperlakukan mereka. Dia sering berkata kasar kepada Xaviera dan Diana, menyebut mereka sebagai beban dan menyalahkan mereka atas kemiskinan yang mereka alami.

“Kalian hanya datang untuk meminta-minta,” kata Tante Moli dengan nada mengejek.

Perkataan-perkataan seperti itu membuat Xaviera menjadi pribadi yang pemarah. Dia sering melampiaskan kemarahannya kepada ibunya, merasa bahwa kebahagiaan hanya bisa dicapai dengan kekayaan.

Namun, suatu hari, kehidupan mereka mulai berubah. Diana menerima kabar bahwa ia diterima bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pekerjaan ini memberikan harapan baru bagi mereka, meskipun perjalanan menuju kebahagiaan masih panjang.

Hari itu, Diana membawa Xaviera mengunjungi neneknya yang sednag sakit. Sesampainya di rumah nenek, mereka disambut dengan pandangan dingin dari keluarga besarnya. Tante Moli tidak bisa menahan diri untuk memberikan komentar sinis.

“Lihat siapa yang datang, si miskin yang hanya tahu minta-minta,” ujarnya dengan tawa mengejek.

Xaviera merasa hatinya terbakar.

“stop tante, sudah berapa kali tante menghina kami. Apa tante tidak sadar pekerjaan yang Ayahku kasih kepada tante, harusnya ibu yang menggantikannya, bukan tante,” ucapnya dengan nada kesal.

“Apa? Kamu berani berkata seperti itu? memang ya, sudah miskin tak ada akhlak pula,” ujar Moli membalas Xaviera.

Diana berusaha menenangkan Xaviera.

“Sabar, Nak. Kita kesini untuk menjenguk nenek, bukan untuk bertengkar,” bisik Diana sambil memegang tangan Xaviera dengan lembut.

Meskipun keadaanya demikian, Diana berusaha menahan diri. Namun, dalam hatinya dia bersumpah untuk membuktikan bahwa mereka bisa hidup bahagia tanpa harus menjadi kaya raya. Mereka menemui nenek yang terbaring lemah di tempat tidur. Nenek tersenyum melihat kedatangan mereka, meskipun senyuman itu tampak terpaksa.

Waktu berlalu, Diana berusaha keras setiap harinya untuk mencari pekerjaan. Dulu Diana pernah kuliah di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) namun, sempat terhenti karena berpindah tempat. Tiga tahunn yang lalu mereka tinggal di Manado bersama Kadit yang bekerja sebagai kepala sekolah dan Diana sebagai guru honorer. Karena Kadit telah meninggal dunia mereka harus berpindah ke sebuah desa dimana Kadit telah menyiapkan rumah untuk keluarga kecilnya dulu yaitu di desa Pawindan.

Pagi yang sangat cerah, Diana menghampiri setiap sekolah yang ada di desa Pawindan. Dengan semangat yang membara, ia yakin bahwa hari ini adalah hari keberuntungannya. Ia berharap semoga doa dan harapannya tercapai hari ini.

“Ya Tuhan, setiap malam aku berdoa. Aku tahu Engkau Yag Maha Kaya, maka berilah hamba rezeki pekerjaa hari ini,” ucap Diana dengan sepenuh hati. Langkahnya penuh harap, meskipun di balik senyumnya tersimpan kekhawatiran akan masa depan.

Diana selalu mengajarkan Xaviera untuk tidak pernah putus asa dalam menghadapi hidup. Meskipun keadaan sangat sulit, mereka tetap teguh dan saling menguatkan. Hari itu, Diana tidak hanya mencari pekerjaan untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk masa depan Xaviera. Dia ingin memberikan yang terbaik bagi putrinya, berharap suatu hari Xaviera bisa meraih cita-citanya tanpa harus merasakan pahitnya kemiskinan seperti yang dialaminya.

Tidak lama setelah ia berjalan beberapa menit, Diana melihat sebuah pengumuman yang menyatakan bahwa sekolah tersebut sedang membutuhkan guru baru.

“Permisi, Pak. Apakah benar di sini membutuhkan guru baru?” tanya Diana.

“Benar, Bu. Mari saya langsung wawancara,” jawab kepala sekolah yang sedang berdiri di depan gerbang.

Diana disambut dengan hangat di SDN 5 Pawindan. Semua tes yang diberikan oleh kepala sekolah dikerjakan dengan baik, dan akhirnya Diana diterima sebagai guru kelas di sekolah tersebut.

“Terimakasih Tuhan,” Diana berbisik dalam hatinya.

Ketika sore tiba, Diana pulang dengan langkah ringan. Sesampainya di rumah, dia disambut oleh Xaviera yang penuh rasa ingin tahu. Dengan bangga, Diana menceritakan kabar baik itu. Xaviera merasakan kebahagiaan yang tulus dalam kebersamaan mereka. Dalam hati, Xaviera tahu bahwa kebahagiaan mereka tidak hanya datang dari pencapaian materi, tetapi dari cinta, dukungan, dan harapan yang mereka bagi bersama. Hari itu mereka merayakan kemenangan kecil yang menjadi landasan bagi kebahagiaan yang lebih besar di masa depan.

Setiap hari Diana mengajar di sekolah itu hingga ia diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Gaji yang diterima cukup untuk membuat kehidupan mereka lebih stabil. Meskipun masih banyak yang harus mereka lunasi, mereka tidak putus asa dan belajar untuk selalu bersyukur. Mereka tidak lagi merasa kekurangan. Xaviera mulai melihat perubahan dalam hidup mereka. Ibunya terlihat lebih bahagia, dan hal itu membuatnya berpikir ulang tentang makna kebahagiaan.

Suatu sore, saat mereka sedang duduk di ruang tamu, Xaviera berkata kepada ibunya, “Bu, aku merasa ada yang berubah dalam hidup kita. Apa ibu juga merasa begitu? apa ibu merasa lebih Bahagia,”

Diana tersenyum, memandang putrinya dengan kasih sayang.

“Kebahagiaan itu bukan tentang seberapa banyak uang yang kita miliki, Nak. Kebahagiaan itu ada di hati kita, bagaimana kita mensyukuri apa yang kita punya dan menjalani hidup dengan penuh kasih sayang.”

Kata-kata ibunya menggugah hati Xaviera. Dia mulai menyadari bahwa selama ini dia telah salah menilai kebahagiaan. Dia mulai berubah, menjadi lebih sabar dan lebih menghargai hal-hal kecil dalam hidupnya.

Suatu hari, nenek mereka meninggal dunia. Keluarga besar berkumpul untuk pemakaman. Di tengah kesedihan, Xaviera melihat sesuatu yang berbeda. Dia melihat bahwa meskipun mereka tidak memiliki segalanya, dia dan ibunya memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh keluarga besar mereka yaitu cinta dan kebersamaan.

Setelah pemakaman, Tante Moli menghampiri mereka.

“Kalian tetap saja miskin, tapi setidaknya kalian punya pekerjaan sekarang,” katanya dengan nada meremehkan.

Xaviera tidak marah. Dia memandang Tante Moli dengan senyum tenang.

“Kebahagiaan bukan tentang seberapa banyak uang yang kita punya, tante. Menciptakan kebahagiaan bukan dengan hal tersebut, namun kebahagiaan tercipta di dalam hati kita.”

Kehidupan terus berjalan, Xaviera kini tumbuh menjadi seorang yang bijaksana. Dia belajar dari pengalaman hidupnya bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa dibeli dengan uang. Kebahagiaan tidak diciptakan dari uang saja, karena terciptanya kebahagiaan itu dari hati. Bagaimana kita bisa mensyukuri apa yang kita miliki dan berbagai kasih sayang dengan orang-orang di sekitar kita. Meskipun banyak tantangan yang mereka hadapi, Xaviera dan Diana tidak lagi merasa tertekan oleh kemiskinan. Mereka menemukan kebahagiaan dalam kebersamaan, cinta, dan pengharapan. Dan itu yang membuat hidup mereka benar-benar Bahagia.

Loading