Halo, apa kabar kalian? Huft, sepertinya sudah lama sekali ya tidak bertemu aku lewat kata-kata manis yang kubuat, hahaha. Semoga kalian tidak bosan dengan kata-kata yang banyak diulang ini.
Kali ini, yang kutulis bukanlah cerpen atau kutipan singkat yang biasa aku bagikan di platform media sosialku. Khusus di bulan ini, aku ingin menyampaikan surat kepada orang yang kusayangi sebagai bentuk apresiasi diri dan rasa terima kasih untuk mereka yang berhasil membuatku bertahan hidup sampai saat ini.
Tepat di bulan ini, di usiaku yang genap 20 tahun. Surat pertamaku teruntuk seseorang yang seharusnya ada. Namun naasnya, kita seolah dipaksa berduka seumur hidup oleh seseorang yang jiwanya bahkan masih ada dan berjalan di muka bumi ini. Di kehidupan yang cuma sekali ini, ternyata aku tidak seberuntung itu yaaah.
“Hari ini ingin sekali aku menyampaikan sebuah kalimat yang menjadi isi hatiku selama ini karena aku tidak bisa menyampaikannya secara langsung kepadanya. Aku menuliskan sebuah kata dengan penuh cinta dan dengan penuh harapan yang ditemani air mata.
Ayah, sebuah panggilan dari cinta pertama anak perempuan. Ayah, kini anak kecil yang selalu kau tenangkan hatinya saat ibu sedang memarahinya, anak kecil yang kau ajak mandi sungai bersama, anak kecil yang berlari-lari saat menunggu kau pulang hanya untuk bisa ikut naik motor dan berkeliling sebentar bersamamu, kini sudah dewasa.
Ayah, ada permintaan yang selama ini belum pernah terucapkan. Selama 20 tahun aku hidup, aku tidak pernah merasakan sholat diimami Ayah, aku tak pernah diucapkan ‘Selamat ulang tahun nak’. Aku tidak pernah mendengar Ayah mengucapkan ‘anak Ayah hebat’ hahhaha… ingin sekali aku merasakan itu, Yah.
Aku ingin sekali disayangi, dimanja, dan diberikan perhatian kecil seperti dulu lagi. Ayah, aku ingin sekali sholat berjamaah bersama keluarga kecil kita. Nantinya kita berdoa bersama, memohon kepada pemilik hidup dan mati dalam doa yang sama. Mungkin ini salah satu keinginan terbesarku yang tidak tahu kapan terwujudnya.
Tetapi jika suatu hari nanti Allah yang lebih dulu memanggilku, tolong Ayah ikut menyolatkanku dan melihatku untuk terakhir kalinya. Ayah, aku selalu berdoa semoga Allah memberikan umur yang panjang kepada kita semua agar anak kecil ini bisa melihatmu tersenyum tanpa beban sedikitpun. Mau bagaimanapun luka yang kau torehkan di hatiku, kau akan tetap menjadi Ayahku.”
Untuk Mamah, “maaf Mah, beribu maaf aku katakan padamu. Aku terlalu malu untuk meminta maaf padamu secara langsung. Aku belum bisa jadi anak yang kau inginkan, maaf aku masih jadi anak pembangkang di matamu, maaf kadang nada bicaraku membuat hatimu terluka, ucapanku yang membuatmu kecewa.
Tolong hidup lebih lama lagi ya Mah? Tolong bertahan sampai aku sukses, sampai aku bisa membuat dirimu bahagia. Kalau ga karena Mamah, mungkin aku ga akan semangat untuk terus menggapai apa yang aku impikan, Mah. Tolong doakan aku di setiap sujudmu, i love you malaikat tak bersayapku.”
Mama you are my favorite person.
Aku tumbuh dengan menyaksikan ibuku menangani semua rintangan yang dilemparkan pada hidupnya. Apa pun yang terjadi, dia selalu bangun di pagi hari, memastikan perutku tidak kosong saat beraktivitas, melakukan pekerjaan luar biasa untuk membesarkanku. Itu sebabnya aku tidak pernah lemah dalam hidup ini. Sekalipun kehidupan ini banyak kalahnya, aku selalu bangun untuk satu alasan lagi. Aku belajar dari orang terbaik dari kehidupan ini.
Dan untuk teman-temanku, kuucapkan banyak terima kasih. Tanpa kalian sadari, kehadiran kalian menumbuhkan semangat baru dan alasan untuk tetap hidupku. Semoga semesta tidak pernah lupa bahwa aku selalu ingin melihat teman baik seperti kalian memenangi banyak hal di hidup ini, entah itu mimpi ataupun harapan.
Fatherless is scary. Aku gapunya pembimbing di hidup, kadang aku harus jatuh dulu baru ngerti cara berdiri, harus salah dulu baru tau mana yang benar, harus salah jalan dulu biar sadar kalau jalan itu buntu. Capek? iya. Bingung? sering. Tetapi di situ aku banyak belajar menemukan arah sendiri, belajar bertahan meskipun sendirian. Dan pelan-pelan sadar, ternyata sejauh ini aku sudah lebih kuat dari yang aku kira.
Dan untuk jatuh cinta? hmmm, bukan karena aku tidak percaya pada cinta, tapi karena sejak kecil aku melihat bagaimana seseorang bisa pergi dari tanggung jawab yang seharusnya ia jaga. Kehilangan itu diam-diam mengajarkanku bahwa orang yang seharusnya tinggal pun bisa memilih untuk pergi.
Kadang aku takut menikah, bukan karena tidak ingin dicintai, tapi karena takut salah memilih. Takut suatu hari menemukan diriku berada di cerita yang sama, bersama seseorang yang akhirnya pergi seperti sosok yang dulu meninggalkanku. Aku hanya takut satu hal, anak yang suatu hari mungkin kulahirkan harus merasakan kosong yang sama seperti yang pernah kurasakan. Karena luka seperti itu tidak pernah benar-benar hilang, ia hanya belajar diam dan tinggal lebih dalam di hati.
Semarang, 21 April 2026
![]()