Karya: Rizqya Ervinabilla (Peserta Lomba Cerpen DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)

Biqodril kaddi tu’tho maa taruumu. Dengan kadar kerja kerasmulah kamu akan diberi apa yang menjadi cita-citamu. Maka, kerahkan usaha semaksimal mungkin untuk hasil yang selaras.

  • ••

“Fia … Fia …,” lirihan seseorang berhasil menarik kesadaran Alifia kembali. Kelopak matanya membuka perlahan. Asap yang berkepul, bau besi terbakar bercampur tanah, serta rasa sakit di sekujur tubuh membuat kepala gadis itu pusing. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali, mencerna keadaan yang sedang merundungnya.

Mulutnya membuka, meski napasnya tersengal. “A–Abang … kita di mana?” Alifia celingak-celinguk melihat sekelilingnya hanya pepohonan. Hal terakhir yang masih diingat, dirinya hendak tidur di dalam mobil, tetapi belum benar-benar terlelap, mobilnya oleng sampai kepalanya terbentuk kaca. Kemudian, pandangannya menjadi hitam dan baru sekarang ini dia tersadar.

“Ya Allah, Fia, kita kecelakaan.”

Alifia menoleh ke sebelah, melihat orang tuanya yang berbaring tidak sadarkan diri. Dengan suara parau, Alifia bertanya lagi kepada Fatir—abangnya—yang sedang menatapnya cemas. “… na?”

Kening Fatir berkerut, tidak mendengar jelas suara Alifia. “Apa, Fi?” Seraya mendekatkan telinga ke mulut adik kecilnya.

“Mo–mobil kita mana—“ 

Duarrrr!!!

Ucapan Alifia terpotong lantaran suara ledakan yang tidak terlalu jauh dari tempatnya duduk menusuk telinga. Manik matanya nyaris membulat sempurna melihat sesuatu dari sesuatu di belakang Fatir mengeluarkan dentuman keras seiring cahaya oranye menebarkan hawa panas. Sejurus kemudian, Fatir menoleh sejenak ke belakangnya, lalu lekas berbalik dan memeluk Alifia yang menangis saking terkejutnya. Liburan tahun ini menyisakan banyak pelajaran berarti bagi keduanya.

  • ••

Semburat jingga mulai tergantikan birunya malam. Senja telah berakhir bersamaan langkah Alifia menjamah jalanan pulang. Bertepatan azan magrib, dia sudah menapakkan kaki di pekarangan rumah setelah hampir lima jam duduk di kendaraan tadi. Binar matanya mencuat, melihat pintu rumah yang sudah beberapa bulan ini ditinggalkan.

“Assalamu’alaikum! Pa, Fia balik, Pa!” serunya seraya melepas sepatu. Koper berukuran sedang yang sejak tadi dibawa dia tinggal di halaman depan, kakinya berlari memasuki rumah. Bahkan, wanita paruh baya yang datang bersamanya pun tidak diacuhkan. “Papa, Fia pulang!” Tanpa ba-bi-bu, Alifia menghamburkan diri ke sofa ruang tamu, memeluk erat Hamdan—ayah kandungnya.

“Waalaikumussalam. Eh, Fia, alhamdulilah kamu datang dengan selamat ….” Hamdan mengelus puncak kepala Alifia lembut, menyambut kepulangan anak gadis semata wayangnya dari pondok pesantren modern yang terletak melintasi provinsi. Punggung Alifia bergetar menahan isak kerinduan.

Dia melepas pelukannya. “Papa udah minum obat? Makan malam?” Dari arah pintu, Delisha—ibu kandung Alifia—baru masuk membawa barang-barang yang ditinggal Alifia di depan.

“Fia! Resik-resik riyin, jeh, kowe tembe balik. Salat magrib dulu,” cerca Delisha yang ditanggapi kekehan oleh Alifia, sedangkan Hamdan hanya mengulum senyum. Alifia bangun, meraih setengah bobot yang dibawa Delisha, lalu beranjak menuju kamarnya.

Tepat sekali. Malam ini, dia pulang setelah kurang lebih lima bulan mengurung diri di penjara suci. Di tahun ketiga menyandang status santriwati belum sepenuhnya menggerakkan hati Alifia untuk beristikamah dalam perintah Allah dan amalan di pesantren. Justru, semasa di pesantren dia tidak begitu sungguh menuntut ilmu. Catatan pelanggarannya juga terhitung banyak.

Jelas saja dia seperti itu, dimasukkan ke pesantren pun dengan perasaan terpaksa. Semenjak kecelakaan enam tahun silam, Hamdan tidak mampu lagi keluar rumah untuk mencari nafkah, kakinya lumpuh, sehingga ekonomi keluarga menurun drastis. Tidak lama setelah kejadian itu berlalu, Delisha mendapat informasi terkait pondok pesantren modern yang berbayar murah. Tentu saja perihal ekonomi yang membuat Desliha memasukkan Fatir dan Alifia ke pesantren itu.

Alifia pernah menolak, belum siap jika harus merantau untuk belajar di pesantren. Namun, apalah dayanya? Membantu Delisha mengais rezeki juga lebih belum punya kesiapan. Bahkan sampai sekarang pun, keinginan terbesarnya hanya ingin cepat-cepat lulus dan keluar dari penjara suci sana.

Setelah bersih-bersih, Delisha mengajak Alifia dan Hamdan berkumpul di ruang tamu, membahas pengalaman Alifia di pesantren. Hal ini sudah dilakukan sejak Fatir dimasukkan ke pesantren. Selain penasaran dengan cerita anaknya, dengan begini Delisha berharap dapat termotivasi juga untuk menuntut ilmu.

“Oh, Abang pulang minggu depan? Fia kira lebih dulu Abang,” ujar Alifia usai menenggak segelas mineral. “Kan, biasanya begitu. Abang duluan yang dipulangkan, baru Fia.” Pantas dia tidak menemukan batang hidung abangnya, ternyata kata Delisha, Fatir masih di sana.

“Abang kan mau pengabdian, Fi, jadi banyak persiapannya.” Alifia mengangguk. “Lanjut ceritanya, Fi. Jadi, belajar apalagi di sana?” Delisha segera mengalihkan topik. Alifia memang melanjutkan ceritanya, tetapi ada sesuatu yang mengganjal di hati. Apa karena biasanya dia pulang sudah ada Fatir? Pun biasanya di rumah ramai kedatangan saudara jauh yang ingin menginap selama bulan ramadhan. Sepeninggal nenek dan kakek Alifia, rumahnya memang sering dijadikan tempat berkumpul saudara dari kota. Namun, hari ini terasa sepi.

  • ••

Hari yang ditunggu-tunggu tiba. Alifia menyambut kedatangan Fatir. Dari depan gerbang rumah, Fatir yang hanya membawa satu tas berjalan memakai payung. Sayang sekali menurut Alifia, dia berniat mengajak abangnya jalan-jalan malam ini, sayangnya hujan. Sangat di luar dugaan.

Usai membersihkan tubuh, Alifia, Fatir, Hamdan dan Delisha berkumpul di ruang tamu. Rutinitas Delisha yang mengajak anak-anaknya menceritakan pengalaman di pesantren untuk menghidupkan suasananya.

“Yah, hujannya masih deres, Bang. Padahal tadi mau ngajak Abang jalan-jalan tau,” keluh Alifia di sela-sela keheningan suasana seraya menatap jendela yang menampilkan derasnya hujan. “Pulangnya Abang hari ini enggak direstui alam, hahaha ….” Sementara Fatir terkekeh dan ikut melihat jendela sejenak.

“Alhamdulillah, Fi, berkah banget.” Eh, kok? “Hujan, kan, salah satu rahmat Allah yang enggak bisa manusia ciptain. Hujan juga jadi waktu mustajab terkabulnya doa, kan?” Alifia langusng bungkam seribu bahasa. Benar juga, ya? Waktu kapan juga ustazah di pesantren selalu bersyukur setiap turun hujan. “Kamu udah baca doa ketika hujan turun belum?”

Lagi-lagi, Alifia tergelak karena belum hapal doa-doa keseharian seperti ini. Dia hanya terkekeh kikuk. “Allahumma shoyyiban naafi’aa.” Akhirnya, Fatir membantu Alifia. Gadis itu ikut membaca doa yang baru dirapal Fatir.

Ah, Abang baru pulang, wajarlah masih ada aura-aura santri. Alifia menyingkirkan kesan kagumnya kepada Fatir. Toh, Cuma perkara hujan. 

Setelahnya, Hamdan mengajak Fatir membicarakan tentang kelanjutan pendidikan dia. “Jadi, Fat, kamu mau melanjutkan ke mana habis kelulusan nanti?”

“Insyaallah, Pa, maunya lanjut kuliah. Tapi, sambil kerja biar ada penghasilan. Syukur-syukur dapat kerja yang gajinya lumayan buat bantu keuangan rumah.” Hamdan menghela napas panjang. Dia menatap Delisha yang juga tengah menatapnya iba, lalu beralih menatap Fatir kembali.

“Kamu tau piro biaya kuliah, Fat?” tanya Hamdan dengan nada datar. Diam-diam, Alifia melirik ekspresi abangnya. Ternyata Fatir tersenyum simpul.

“Sebenarnya, Pa, dari kelas sebelas kemarin saya ….” Fathir menunduk, membuat sekitarnya heran. “Saya ditetapkan sebagai santri pilihan yang dapat beasiswa kuliah—“

Pyurrrr!!!

Alifia menumpahkan teh manis yang baru saja ditenggaknya, dia tersedak bukan main mendengar penuturan Fatir. Matanya membelalak heboh.

“Kenapa, Fi?” tanya Delisha khawatir. Namun, Alifia menggeleng, dia segera mempersilakan Fatir melanjutkan ucapannya. Fatir berdeham, dia menatap Hamdan kembali.

“Salah satu syaratnya itu ketambahan waktu mengabdi di pesantren. Saya belum ambil tawarannya, Pa … masih bimbang, kalau saya ketambahan waktu mengabdi, saya enggak bisa bekerja buat bantu ekonomi rumah.” 

Pembicaraan masih berlanjut. Jantung Alifia berdebar kencang menyaksikan tiap kalimat yang keluar dari mulut Fatir. Dia kagum dengan Fatir, tetapi ada suatu perihal yang seharusnya tidak dia rasakan. Rasa takut tersaingi, padahal tidak sedang berlomba.

  • ••

Dua hari kemudian, rumahnya dipenuhi saudara dari berbagai kota. Alifia merasa sedikit canggung lantaran terbiasa disambut, kini menyambut kedatangan mereka. Sama halnya dengan kedatangan Fatir dulu. Dia yang biasanya disambut, harus menyambut.

“Maju, maju, maju! Ah! Kalah …,” lirih Alifia yang baru saja mengalaminya kekalahan di game-nya. Dia mengusap gusar wajahnya. Di sekelilingnya, Aca, Rana—dua bibi Alifia—, dan Latifa—sepupunya—tengah asyik mengobrol. Di sofa sebelah kiri, Delisha ikut membaur dengan pembahasan mereka. Hanya Alifia seorang yang tidak minat mengikuti arus pembicaraan, sehingga mengeluarkan gadget. Sebelumnya, dia tengah bermain bersama Sabila—sepupunya, tetapi gadis itu pamit mengantuk.

Di tengah keseriusan setiap orang dalam ruang tamu ini, tiba-tiba terdengar suara Fatir dari dalam kamarnya. “Majalul amam? Labbaik, ana ilaa hunaka.” Fatir sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.

“ …. “

Naam, anta aydon, ma’assalam.  Waalaikumussalam warahmatullahi wabaarakatuh.” Tidak lama setelah dia berucap demikian, Fatir membuka pintunya. Dia yang berseragam rapih keluar kamar, pamit hendak pergi bersama temannya.

“Mau ke mana, Fat?” tanya Delisha ketika tangannya diraih untuk dicium Fatir.

“Kumpul di masjid depan, Ma, mau bicarain tabligh akbar bulan depan.”

“Oh, mau ada acara itu, Fat?” Rana ikut menimpali pertanyaan. 

“Bagus itu, Fat, sering-sering adain acara kayak gitu.” Kini, Aca yang menyahut. Fatir hanya tersenyum ramah.

“Iya, Bi, insyaallah kalau diizinkan dan dipermudah,” jelas Fatir seraya bangkit. “Ya udah, saya berangkat, ya. Assalamu’alaikum.” Semua penghuni ruang tamu serentak menjawab salamnya.

Sejurus selanjutnya, Fatir yang sudah tiada di tempat dibanjiri pujian dari Aca dan Rana. Latifa pun tidak sedikit ikut menyahut. Sejenak, Alifia menatap manik mata Delisha yang menyiratkan kebanggaan tiada tara. Entah mengapa, karena kerlingan di mata Delisha itu membuat dadanya terasa sesak.

Pancen pinter, ya, si Fatir. Bahasa Arab-nya juga fasih. Ra muspra kowe ngelairke ndeke, Del,” ujar Aca yang hanya ditanggapi dengan kekehan Delisha. “Kemarin juga dia juara satu lomba pidato Bahasa Arab, ya?”

Bukanne cerdas cermat Nahwu-Shorof, Ca? Iya, kan, Del?”

“Iya, dua-duanya, Ran, Ca. Alhamdulillah, usahanya berbuah manis.” Keempat orang di sana tersenyum sumringah turut bahagia mendengarnya. “Perjuangannya dari minim banget ilmu diniyah sampai alhamdulilah sekarang udah cukup menahami kulit-kulitnya.”

“Kalau udah keluar mau jadi apa, Del? Buka pengajian aja di sini, tambah barokah.” Terus menerus pembahasan berganti dengan sanjungan untuk Fatir. “Omong-omong, Fatir belum ada rencana nikah? Anak tetanggaku yang pesantren di tempat sama anakmu, bilang katanya Fatir banyak dikenal, loh, di sana.” Delisha terkekeh malu.

“Wah, uwis … akeh cah ayu ngenteni,” timpal Rana yang ditanggapi kekehan seisi ruangan. Di sudut ruangan, Alifia merasa, dirinya tidak dilihat di sana. Dia sengaja menambahkan volume sound game di gadget agar mengganggu sekitarnya.

Benar berhasil, Aca dan Rana menyuruh dia mengecilkan suaranya. Begitupun Delisha yang langsung menepuk pelan pundak Alifia. Habisnya dari tadi bicarain Abang mulu. Terus Fia di sini apa? Lumut? 

Sampeyan tuh harusnya mencontoh Fatir, Fi,” sindir Rana.

“Fia beda banget, ya, sama Fatir. Padahal adik-kakak. Jangan-jangan Fia adik pungut,” ledek Latifa menghentikan detak jantung Alifia beberapa detik. Keadaan menjadi hening seiring pasang mata Alifia yang membelalak. Dia bangun, melesat keluar tanpa pamit.

  • ••

Di sinilah dia sekarang. Di pos ronda yang terhitung jauh dari rumahnya. Sejak siang tadi, dirinya berdiam diri di pos ini. Dia hanya beranjak setelah azan untuk salat di musala dekat pos, setelah itu kembali duduk dengan hati yang patah.

Alifia tidak menangis, tetapi matanya berkaca-kaca, dia menahan tangis sedari tadi. Meskipun ada air mata yang berhasil turun di beberapa waktu, dia segera menyekanya. Gadis itu baru sadar, dunia seakan selalu menyorot ke arah Fatir. Semua sinar hanya milik Fatir. Sementara dirinya, seberapa keras berusaha terlihat, tetap menjadi perbandingan paling rendah dengan abangnya itu. Dia mengerti, Fatir memang pintar, cerdas, hapalannya kuat, aktif organisasi, dan memiliki banyak talenta. Seketika dia merasa bahwa sanak keluarganya hanya akan datang jika Fatir ada di rumah.

Padahal, dia pun sudah berusaha keras. Dia berusaha menerima keadaan yang berbeda dengan teman sebayanya. Dia memaksa dirinya menerima kenyataan, mencambuk agar mampu beradaptasi di lingkungan pesantren, jauh dari orang tua dan hidup mandiri. Namun, tidak seorang pun melihat perjuangannya.

Seiring air matanya tidak kuasa dibendung, hujan ikut turun dari langit. Membebaskan dia untuk menangis sejadi-jadinya. Kepalanya dipenuhi ejaan prasangka buruk. Tentang keluarga yang baru akan datang ke rumah jika ada Fatir, tentang Delisha yang lebih bangga terhadap Fatir, tentang seluruh prestasi Fatir yang tidak yakin bisa dia dapatkan.

“Fia?” Suara berat yang tidak asing itu terdengar sangat dekat. Alifia mendongak, menghapus linangan air mata dengan ujung hijabnya. Rupanya Fatir di bawah payung biru tua sedang jalan bersama temannya. Dia menoleh. “Dam, duluan aja. Saya di sini dulu,” ujarnya kepada Adam sebelum duduk di sebelah Alifia. Adam mengangguk dan melanjutkan langkahnya.

“Fia? Kok ada di sini? Jauh banget.” Alifia membuang muka, tidak ingin menatap Fatir. “Fi? Ada yang marahin kamu?” Dia menggeleng. “Terus? Ada masalah apa?”

“Ada masalah sama Abang!” tekan Alifia seraya menoleh, menatap tajam Fatir. “Abang itu bisa enggak, sih, berhenti cari perhatian? Soalnya Abang yang dipuji, Fia yang dihina, dijelek-jelekkin!” Sontak, Fatir membelalak kaget.

“Hah? Astagfirullah. Fi, kamu kenapa?” 

Di sela isak tangisnya, Alifia menarik napas. “Fia juga tau, Abang hebat. Abang jago ini-itu. Abang selalu jadi juara, baik pelajaran umum atau diniyah. Ubudiyah Abang juga istikamah. Tapi, memangnya enggak bisa, Abang enggak pamer-pamer?”

“Ya Allah, maksud kamu gimana, Fi? Abang pamer gimana?” Bukannya menjawab, Alifia justru semakin menderaskan air matanya. “Coba tenangin diri dulu.” Fatir membuka tas selempangnya, mengeluarkan segelas air mineral yang sengaja dibawa dari masjid tadi. “Nih, minum.”

Setelah menenggak air dari Fatir, Alifia berpikir dua kali akan ucapannya. Sejauh ini, dirinya sendiri yang membuat dia resah. Dirinya yang terlalu cepat memasukkan cibiran orang lain ke hati. Pada dasarnya, dia yang memiliki rasa iri terhadap Fatir, sehingga mudah dirasuki suara-suara buruk.

“Fia juga mau kayak Abang,” rintihnya, lalu kembali menangis. “Tapi, Fia enggak tau gimana caranya. Fia udah berusaha semampu Fia. Pura-pura ikhlas jalanin takdir, berharap bisa terbiasa. Enggak taunya Fia malah semakin kosong, enggak berguna. Abang, huwaaaaa ….”

Petang ini, Fatir merangkul adiknya dengan penuh kehangatan. Mengelus pundak Alifia seraya menyalurkan energi positif. Alifia terus bercerita semua yang mengganjal hatinya. Tentang keberhasilan Fatir di segala bidang, tentang rasa iri, dan sebagainya.

“Fia … Abang juga enggak tiba-tiba dan justru masih jauh dari keberhasilan. Belum pantas Abang juga, masih banyak yang harus dilatih lagi. Kamu jangan mengurangi waktu mengembangkan diri dengan merengek, meratapi takdir. Allah enggak tidur, Fia, Dia melihat orang-orang yang berusaha. Enggak ada usaha yang sia-sia, Fi. Lekas berproses untuk berprogres,” jelas Fatir panjang lebar. 

“Tapi, jadi Abang enak! Punya banyak keahlian, punya banyak penghargaan dan prestasi. Lah, Fia?”

Fatir menghela, mencoba menanggapi Alifia dengan tenang. “Man jadda wajada. Ada terlintas di pikiran kamu enggak kalau Abang berusaha selama ini? Bukan maksudnya riya’, Abang takut kamu salah tafsiran takdir. Dan, kalau kamu tanya, apa selama berjuang, Abang menikmatinya? Iya. Abang menikmatinya, tapi bukan berarti enggak ada rintangan. Jelas bukan? Kalau enggak ada rintangan, perjuangan apa yang mau Abang kerahkan supaya pantas mendapat balasan dari Allah?”

“Abang enggak pernah ngeluh.” Alifia masih bersikeras menodong kesempurnaan yang hanya ada pada diri abangnya, tetapi dia tidak.

Fatir menggeleng. “Itu yang Abang usahakan, Fi. Salah kalau kamu nilai begitu, Abang juga manusia biasa yang kalau berdoa enggak lepas dari keluh-kesah kelelahan Abang. Lagian, dunia memang tempat berkeluh-kesah, kok. Tapi, Abang berusaha meminimalkan itu karena udah capek berjuang, walau belum seberapa. Sayang waktunya kalau Abang pakai buat mengeluh. Makanya, Abang bersikeras sibukin diri bukan karena apa, justru karena enggak mau ada kesempatan buat mengeluh berkepanjangan.” Fatir menjeda sejenak ucapannya. 

“Fia tau, kan? Abang anak pertama. Laki-laki pula, jadi sorotan orang-orang, ya, wajar. Bukannya Abang mau punya seisi dunia, Abang cuma mau bantu Mama meringankan beban. Mama udah tua, loh, Fi. Kalau Abang terlambat berkembang, selain jadi perbincangan orang, Mama juga kerepotan, kan?” Alifia tergemap di dada bidang berbalut koko cokelat abangnya. Fatir benar. “Pernah Fia pikirin perasaan Papa kalau keluarganya dipandang rendah? Gini, Fi, rezeki itu nikmat yang bukan sekadar uang, dan bisa aja ada rezeki kita di diri orang lain. Mungkin, begitu juga sama Papa. Allah menitip rezeki Papa lewat Abang.”

“Abang, maafin Fia,” lirih Fia. Be–betul juga, ya. Perlahan, Alifia merutuki kebodohan dirinya yang memilih melahirkan rasa iri dalam konteks penyakit hati daripada iri yang menjadi motivasi diri.

“Enggak apa-apa, Fia. Fia kecewa, enggak apa-apa. Yang penting, jangan terlalu lama dan jangan sampai menyalahkan takdir Allah. Jangan menjelek-jelekkan diri sendiri, sama aja kamu enggak bersyukur dengan apa yang Allah ciptakan, kan?” Alifia mengangguk. “Fia, kamu itu alif, huruf yang paling utama, agung dan mulia. Seluruh huruf terlahir dari alif. Sekarang, kamu harus berusaha lebih keras lagi buat pantas menjadi huruf alif itu. Perbaiki niat, belajar dengan sungguh, banyak orang yang ingin hidup kayak kamu, jadi jangan lupa bersyukur. Ingat, al-waqtu kaa assaifi fa in lam taqto’hu qotho’aka. Waktu itu seperti pedang. Jika kamu enggak memotongnya, maka ia akan memotongmu.”

Alifia mengangguk. Dia berjanji dengan dirinya sendiri, mulai detik ini akan berusaha menjadi lebih baik lagi. Di tahun ajaran baru, dia mulai meluruskan niatnya. Pondok pesantren yang selama ini membuatnya dikabut rasa sesal tidak lagi seburuk itu. Bahkan, dia baru sadar, banyak sekali ilmu yang bersemayam di pesantrennya. Sampai terkadang hatinya bertanya-tanya, apakah Devi dan Miftah tidak diberi kesempatan yang sama dengannya? Memperdalam ilmu agama tanpa mengenyampingkan ilmu pengetahuan. Jiwa sosialisasinya juga terasah semenjak menerima keadaan sekarang. Di mana dia harus paham, ada saat di mana dirinya harus mengalah. Dia juga paham bahwa rendah hati adalah kunci utama membuat orang-orang nyaman dan hati tenang.

Semakin dewasa, Alifia menanamkan kutipan Imam Khalid bin Ahmad dalam-dalam. Suatu keharusan bagi ilmu, barang siapa mengabdi kepada ia, orang akan mengabdi kepadanya. Benar, Alifia bukan ingin pengakuan satu dunia bahwa dirinya berkorban ini-itu untuk ilmu, tetapi dialah yang memang membutuhkan ilmu. Seseorang memiliki derajat yang tinggi jika berilmu. Bismillah … Ya Allah, bantu Fia.

Share this post

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *