Karya: Enggar Yuhana (Peserta Lomba Cerpen DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)

Kriiinggg… Kriiiinggg…. Kriiiinggg…. Kriiiiingg… Kriii—

Tanganku yang lungai mencoba menggapai jam weker yang terus berdering. Aku mencoba mengumpulkan kesadaranku yang masih setengah. Matakupun masih terasa lengket untuk sekadar meninggalkan dunia mimpi.

Tak lama kemudian adzan subuh berkumandang. Akupun bangkit dari tidurku, masih dengan mata tertutup, terkantuk-kantuk. Sekali waktu juga menguap. Hoaaamm, ku tepuk kedua pipiku menggunakan tanganku bersamaan beberapa kali. Akhirnya akupun sepenuhnya terbangun lantas mengambil wudhu dan bergegas sholat qobliyah subuh sebelum menunaikan sholat subuh. Setelah olahraga pagi, akupun sarapan dengan Mama. Papa sudah dari Subuh pamit ada acara.

“Ma, weekend ini kita jadi kesana kan ya?” kataku pada Mama sambil mengambil piring.

“Iya, pasti. Tapi tadi Papamu izin, katanya ada meeting mendadak sama Pak Ilham, yang anaknya seumuranmu itu lho. Siapa namanya, Sean.Iya Sean.” Jawab Mama.

“Tapi, mobilnya udah oke belum? Nanti kalau mogok lagi seperti pekan kemarin kan jadi horror.” Kataku agak khawatir.

Mama hanya tersenyum. Sarapan pagi ini ditemani dengan sayur sop dan tempe goreng. Bagi kami ini sudah lebih dari cukup, karena kami yakin saat ini diluaran sana masih banyak yang berjuang untuk mengais rejeki demi mendapatkan sesuap nasi. Ditemani segelas susu putih hangat, aku jadi teringat kejadian pekan lalu di sekitaran jembatan Kali Wungu, Majegan, Kecamatan Tulung. Kami sekeluarga, mendapatkan pelajaran berharga dari jagoan kembar.

Ceritanya, hari minggu adalah hari jalan-jalan bagi keluarga kecil kami. Biasanya dari rumah sebelum berangkat kami tak lupa membawa satu kresek berisikan sampah-sampah rumah tangga yang sudah menumpuk selama satu pekan. Untuk apa? Ya untuk dibuang secara hemat dan praktis tanpa ribet di sekitaran Kali Wungu bersama para pembuang sampah yang lain. Rutin? Ya, rutin tiap akhir pekan kami berkunjung kesana untuk memberikan sumbangsih sampah rumah tangga dari rumah kami.

Nah, pekan kemarin setelah membuang sampah yang sudah dibungkus trash bag, jarak beberapa meter dari jembatan Kali Wungu tiba-tiba mobil Papa mogok. Kemudian Papa turun untuk mengecek kondisi mobil.

“Waduh… Kayanya dinamo starter nya nih yang kena.” Kata Papa beberapa waktu kemudian. Aku dan Mama hanya bertukar pandangan.

“Papa sudah telpon Pak Ujang, kita istirahat disini dulu nggak papa ya Ma, Nai..” Kata Papa lagi.

Kamipun menunggu Pak Ujang dengan sabar. Kebetulan aku membawa beberapa roti dari rumah. Kubagikan roti itu ke Mama dan Papa yang sedang rebahan di dalam mobil. Aku izin pada mereka untuk sekadar keluar berjalan mengamati area sekitar. Suasana masih lumayan lengang. Krukk.. Krukk.. Cacing-cacing di perutku sudah tak bisa menahan lapar lagi dan harus segera diasup nutrisi. Tadi kami berencana ingin sarapan di luar alias jajan, eh belum jadi sarapan malah mobilnya sudah mogok duluan.

Dari kejauhan, tampak dua orang anak usia 10 tahunan yang mirip identik. ‘Eh? Kembar?’ sahutku dalam hati. Membawa kresek besar yang sepertinya masih kosong, memakai baju yang agak lusuh dengan wajah yang nampaknya jarang dibasuh membuatku berspekulasi bahwa mereka adalah pemulung. Mereka berjalan ke arahku, atau lebih tepatnya ke arah tumpukan sampah-sampah di belakang mobil Papa.

“Raka, duwite wingi isih sisa to? Mengko mampir ning nggone pakdhe Janto nggo tumbas sarapan yo? (Raka, uang kemarin masih sisa kan? Nanti kita mampir ke pakdhe Janto buat beli sarapan ya?)” Kata salah seorang pemulung itu dengan menggunakan Bahasa Jawa.

“Ya…” Jawab anak yang ternyata namanya Raka tadi.

Tiba-tiba anak yang bernama Raka menghela nafas agak sedikit kesal.

Arka, nek ngeneki terus dalane awake dhewe bakal dadi gunung sampah. Urung rampung wingi, iki wis dijejeli sing anyar meneh! (Arka, kalau seperti ini terus jalan kita akan jadi gunung sampah. Belum kelar kemarin, ini dijejali yang baru lagi!)” kata Raka dengan nada sedikit memburu.

Aku tersedak, kaget. Akupun segera menuju mobil untuk mengambil minum. Setelah minum, aku memutuskan untuk berbincang dan berbagi makanan kepada anak kembar tadi. Merasa jadi tersangka, akupun mencoba untuk bersikap sewajarnya.

“Permisi adik-adik, namaku Naila… Kalau boleh, aku minta izin untuk berbagi makanan ini sama kalian. Kalian mau?” Kataku dengan penuh hati-hati menggunakan Bahasa Indonesia.

“Wah boleh mbak, kebetulan tadi dari rumah kami belum sarapan. Hehehe…” Kata anak yang bernama Arka menggunakan Bahasa Indonesia.

Suwun mbak. (Makasih kak)” Kata Raka dan Arka bersamaan. Mereka pun meminta izin untuk mulai makan disitu.

“Aku Arka mba, ini Kakakku beda 5 menit. Namanya Raka.” Kata Arka memperkenalkan dirinya dan kakaknya. Aku hanya mengangguk mengiyakan, walau sebenarnya berkat nguping pembicaraan mereka tadi aku sudah tahu kalau namanya Raka dan Arka.

“Mobile mbake kenapa to? Mogok po?” Tanya Raka.

Mbake sanes tiyang mriki ta? Kok ngomonge nganggo Basa Indonesia? (Mbaknya bukan orang sini kah? Kok ngomongnya pakai Bahasa Indonesia?” Arka menambahi.

“Aku jawab pertanyaanya Raka dulu ya.. Iya nih mobilnya mogok, tapi ini tadi sudah manggil orang untuk memperbaiki kok. Terus ini aku lanjut jawab pertanyaannya Raka.. eh Arka ya? (Kami tertawa cekikikan) Nah iya, sebenernya aku sudah lumayan lama tinggal disini, tapi memang aku bukan asli sini sih. Jadi aku kurang fasih Bahasa Jawanya. Tapi tenang, aku faham apa yang kalian bicarakan kok. Hehe. Oh iya, memangnya kalian sedang ngapain disini?” Tanyaku.

“Sebenarnya kami sedang mengeluh mbak.” Jawab Raka yang membuatku bingung.

“Iya mbak, sekitaran sini iki sering jadi tempat pembuangan sampah. Padahal katane Pak Guruku di sekolah, membuang sampah sembarangan bisa mengundang penyakit karo bencana.” Kata Arka. Pandangannya tiba-tiba melihat ke atas.

“Hm… Banjir, demam berdarah, kebakaran hut-“ Sambung Arka.

“Eh kebakaran hutan ki ora termasuk, bencana laine itu pencemaran lingkungan Arka. Kan wingi Pak Amin bilang ngono. Jalane kotor, air yang harusnya bersih dadi tercemar” Potong Raka meluruskan jawaban Arka yang keliru.

“Oh.. Iya.. Hehe.. lupa.. Iya mbak, itu.. Eh tapi bulan Mei kemarin to TPA Darupono tempat Bapak kita bekerja meledak lho mbak. Emang sampah bisa meledak ya?” Tandasnya kepadaku.

“Itu karena gas temannya di bawah tumpukan sampah. Jadine sampahnya meledak Arka. Kan kemarin pak Amin wis ngajarin. Kowe sing tanya, kowe dhewe sing lali.” Jawab Raka kepada Arka menggunakan bahasa campuran Indo-Jawa.

Aku merasa terpojok malu. Bagaimana mungkin orang sebesar aku bisa sebodoh ini dihadapan anak-anak yang nyatanya lebih bijaksana dariku.

“Tapi mbak, masak kemarin pas kita mau angkut sampah-sampah disini ada yang melempari sampah dari jendela mobil. Hih, rasanya pingin tak tinju itu!” Jawab Arka berapi-api.

“Iya, kami juga nggak ngerti. Orang-orang kaya sing punya mobil bagus itu kan biasane orang pintar-pintar ya mbak, tapi kok buang sampahnya sembarangan ngono. Jadi, sebenere mereka ki pintar ora sih mbak?” Kata Raka.

Hatiku meringis mendengar pernyataan itu. Hah, rasanya sudah tidak punya harga diri lagi aku di depan mereka. Aku coba mengontrol diriku. Ku elus kepala mereka berdua sambil mengatakan, “Sejatinya, kalian lebih pintar dari mereka. Daaan, (aku tersenyum sebentar) tadi namanya bukan gas temannya, tapi gas metana yaa. Hehe.”

“Oooohh….” Jawab Raka dan Arka bersamaan, tersenyum polos sekali.

“Tapi, kalau boleh kak Nai bertanya. Kalian kan sedang mencari nafkah dengan memulung sampah yang bisa didaur ulang. Kalau misalnya besok-besok sampah ini sudah tidak ada, bukannya kalian malah kehilangan pekerjaan?” Tanyaku pada mereka.

“Sebenarnya Ayah kami yang kerja memulung sampah di TPA Darupono. Kami sering bantu Ayah disana. Tapi karena disini ada sampah-sampah baru, Ayah minta Aku karo Arka membersihke sampah bagian sini dulu. Kami ki pingin banget bawa semua sampah ini ke TPA, tapi kami ki belum sekuat Popeye nggo ngangkat sampah-sampahe.” jawab Raka.

”Coba wae ana pintu Doraemon sing isoh mindahne sampah-sampah iki ke dunia lain.” Tambah Arka.

“Kami ki cuma takut kalau terjadi bencana karena sampah-sampah iki. Napa meneh kan rumah kami rumah kecil. Nanti nek banjir, rumah kami tenggelam terus hanyut. Kami ora ngerti lagi mau tinggal dimana. Atau nanti nek banyak nyamuk terus aku kena demam berdarah terus mati, aku dadi nggak isoh sekolah bareng temen-temen meneh.” Sambung Arka dengan wajah polosnya.

Rasanya aku ingin menjawab kalau kena DB nanti tinggal dibawa ke rumah sakit saja, tapi pasti mereka akan mengatakan kalau mereka tak punya cukup uang untuk biaya pengobatan. Makan sehari-hari saja bagi mereka masih harus berjuang, apalagi untuk musibah-musibah dadakan yang membutuhkan dana lumayan, pasti orangtua mereka akan kelabakan untuk menutupi segala kebutuhan yang diperlukan. Akhirnya kuurungkan, takut menyinggung perasaan.

Setelah berbicara lebih jauh dan berdiskusi dengan Papa, Mama, Arka dan Raka kita sepakat akan membantu mereka mengatasi sampah-sampah di sekitar sungai dan rencana tersebut akan dilaksanakan pekan depan. Artinya pelaksanaannya adalah hari ini.

“Ma, yuk! Dah siap nih!” Kataku dengan semangat pada Mama.

“Spanduk dan sepedanya sudah dimasukkan pak Ujang ke dalam mobil. Biar pak Ujang yang nyupir ya Nai..” Kata Mama sambil menuju mobil.

Beberapa saat kemudian mendekati lokasi jembatan Kali Wungu, aku mulai melihat sosok duo kembar bersama dua orang laki-laki paruh baya yang terlihat identik alias kembar. Siapa ya mereka? Selain itu, juga ada mobil pick up disebelah mereka. Setelah kami turun dari mobil, Raka dan Arka langsung menghampiri kami dan mencium Ibu serta tanganku.

”Saya Tomy, ayah Raka dan Arka. Ini Tony saudara saya.” Kata pak Tomy memperkenalkan diri bersama kembarannya.

Setelah berdiskusi pemasangan spanduk, akhirnya kami berjibaku membantu pak Tomy dan pak Tony. Raka dan Arka terlihat mengangkut sampah-sampah ke mobil pick up untuk dibawa ke TPA. Setelah berpamitan, aku memberikan sedikit kado berupa dua sepeda ontel merk Tabibitho Citadel warna hitam untuk Raka dan warna ungu untuk Arka, sesuai dengan warna kesukaan mereka.

Setelah berpamitan, kamipun pulang. Saat perjalanan pulang, kembali ku pandangi spanduk yang kami bawa tadi bertuliskan,

“ORANG BERPENDIDIKAN, TIDAK AKAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN”

-Ya Allah jangan berikan ketentraman hidup bagi orang yang buang sampah sembarangan disini-

Tulisan bagian bawah adalah ide Raka dan Arka. Lucu tapi ngeri-ngeri sedap sih. Langkah selanjutnya aku dan keluarga menjadi lebih bijak dalam memilih limbah sampah. Semoga kita semua dimampukan dalam melindungi bumi dengan menjaga kewarasan berfikir untuk tidak serakah dan merugikan orang lain, terlebih lagi pada lingkungan kita. Bumi juga perlu tetap sehat untuk menampung manusia-manusia di dalamnya. Aku juga berpesan pada diriku agar mulai mengurangi sampah plastik karena walaupun plastik sudah tertata dan terpilah rapi di TPA, namun sampah plastik tidak bisa lenyap begitu saja dari bumi tercinta.

Mungkin saat ini masih ada sisa bungkus permen yang kumakan saat masih SD 15 tahun silam atau mungkin saat ini masih ada sisa bungkus Indomie saat HUT RI ke 55, padahal sekarang sudah terhitung HUT RI ke-76. Bayangkan saja, betapa mengerikannya jika terus berlanjut. Kadang jika berfikir praktis, betul juga kata Raka. Andai saja ada pintu ajaib milik Doraemon untuk memindahkan sampah-sampah plastik itu ke dunia lain lalu lenyap begitu saja. Tapi, mari lupakan karena itu hanya berlaku di dunia khayalan semata. Salam sayang dari Naila untuk kalian Raka dan Arka.

Share this post

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *