Oleh: Umi Latifah

Langit sore bulan Desember hampir selalu gelap. Udara yang tertahan selama menemui waktu untuk bebas dan kembali bermuara di lautan. Bereuni sembari membagi kenangan selama menjelajah langit, bermetamorfosis menjadi sebuah salju yang indah dan luruh kembali menjadi butiran udara yang jatuh ke Bumi. Begitu juga kami yang mengumbar cerita dari banyak topik selama jauh satu sama lain. Daftar cerita yang perlu didengar mengular, kami butuh lebih dari secangkir kopi.

Tempat sakit ini adalah pilihanku. Termasuk mejanya. Aku suka sudut ini, dan tempatku selalu disini. Melihat pemandangan yang sama di tempat ini nyatanya tak membuatku bosan.

Kopi kedua sudah tinggal ampas. Satu cerita persatu menemui ujung. Bersama tenggelamnya cahaya, tenggelam pula kisah pertemuan kami.

Akan ku ulas lagi percakapan kami di sore hari. Di seruputan pertama, dia bercerita tentang bagaimana rasanya berebutan kursi di hari pertama masuk sekolah. Dia bertemu denganmu pagi itu, di kelas 12 A, di bangku paling depan. Kalian ingin duduk di tempat yang sama, namun dia sama batunya denganmu. Dia hanya ingin aku yang duduk dengannya. Pagi itu juga aku memilih untuk duduk di bangku belakang karena jengah dengan kalian. Bel berdentang kalian diam. Duduk berdampingan, walau punggung saling.

Saat itu, aku benci dirimu yang bahkan tak mau mengalah pada makhluk yang bernama Gadis. Kau sungguh jauh dari kriteria lelaki lakilaki yang lembut. Jelas saja, pikiran yang menggelayut di otakku, kau sedang memainkan peran agar mendapat perhatian dari sahabatku. Ya, Gadis sahabatku, kau tahu itu.

Gadis memiliki paras ayu, terlalu lembut untuk bisa diajak berdebat. Namun kau berhasil membuat waajahnya merah padam di pagi yang cerah. Kau pada sama saja.

Seruputaan kedua, dia bercerita tentang kebiasaanmu melirik pekerjaan Gadis di buku tugas, lalu tersenyum sinis tanpa sebab. Lagi-lagi kau mengalihkan perhatiannya. Tak pernah ada orang yang memperlakukan Gadis seperti itu. Aku pernah berpikir jika kau terlampau aneh. Cara yang kau gunakan sedikit berbahaya untuk hanya mendapatkan perhatian.

Ku mulai merasakan perbedaan sikap Gadis pada satu bulan pertama setelah mengenalmu. Dia lebih sensitif dan sering uring-uringan. Menyalahkan banyak nyawa padahal kau biang keladinya. Mungkin hanya sekedar robekan kertas, namun mampu menyulut emosinya, jika itu karenamu. Sungguh, membuat manusia selembut kapas dan memiliki program emosi menjadi sedikit demi sedikit warna. Di bulan selanjutnya, aku mulai kagum dengan caramu.

Semua cerita masa SMA mengalir begitu saja dari bibir Gadis. Memori tentangmu sungguh mengakar dalam otaknya. Jelas ku tahu, terlampau unik hingga berada di posisi itu.

Sempat aku cemburu pada hadirmu dalam otak Gadis. Dia bahkan sering lupa ulang tahunku. Tapi dia ingat hari pertama menghantammu dengan bola kasti. Ini disengaja. Kau tertidur ketika tugas kelompok permeja harus segera diberlakukan. Malam itu, dia mengumpat di grup chat kami karena ia harus begadang semalaman demi meyelesaikan tugas dengan porsi dua kepala dan empat tangan. Pagi harinya, aku menemaninya berdiri di depan gerbang, tanpa tahu apa alasannya. Lima menit kemudian rasa anehku terjawab saat dengan lancarnya Gadis menghantam tubuh kurusmu dengan bola kasti yang ia dapat dari gudang rumah. Sungguh, ku kira dia akan memainkan itu bersama kami di jam istirahat.

Bahkan dia ingat tentang kau yang hadir di promnight. Apa warna dasimu, bajumu, sepatumu, banyak hal yang ia ingat tentangmu. Jelas, Gadis tak lagi sama seperti dulu. Ku sadar, dia mulai menginginkanmu. Ingin bisa berbincang denganmu. Namun aku salah persepsi dari awal tentangmu. Kau memang seperti itu, berbicara seperti itu, bertingkah seperti itu, selalu. Pada itu. Kecuali aku. Naasnya, kau juga menarik perhatianku.

Aku figuran dalam ceritamu dengan Gadis. Hanya tokoh yang ada di samping Gadis dengan seribu kebungkaman.

Sore ini, menyadari banyak hal tentang perasaanku sendiri. Pada posisi, aku pernah ingin ada di posisi Gadis yang bisa kau jahili dengan santai. Kau tatap matanya dengan santai. Segalanya yang biasa saja. Kau bahkan terlampau ramah pada banyak makhluk, termasuk kucing di kantin sekolah yang sering menggelayuti kakiku. Alasanmu diam kepadaku sungguh ingin ku tahu.

Sore ini, aku juga menyadari, bahwa aku juga memiliki kisah yang berbeda denganmu, aku sebagai tokoh utama di cerita itu. Cerita atas kebungkamanmu padaku. Yang hanya saling menatap tanpa mengumbar kata. Bahkan di saat-saat terakhir di promnight itu, kau hanya ada di kejauhan. Bergurau dengan teman-temanmu. Ekor mataku mengikutimu, bahkan kau tahu itu, kau juga membalasku.

Lebih dari apapun, aku megagumimu. Namun sayang, surat ini surat cinta. Rasa kagumku lebih aneh dari yang kau bisa kira. Ku mungkin menginginkan deskripsi yang pasti dari kebungkaman selain kata cinta.

Sampai di seruputan kopi terakhir Gadis, ceritaku tentangmu hanya aku yang tahu. Kebungkamanmu, hanya aku yang memendamnya. Bahkan pertemuan terakhir kita yang hanya berujung dalam diam lalu lalu juga tetap bertengger di daerah tersembunyi. Kau memainkan peran dengan apik. Mengundangku tanpa sapa. Tapi aku dengan suka rela sampai di depanmu.

Seminggu yang lalu itu cukup lucu jika ku ingat sekarang. Kita membiarkan uap kopi habis, meninggalkan kopi tanpa minat. Ku tahu, kau hanya mencari alasan untuk mengembalikanku ke radarmu. Berkelebat di sekelilingmu.

Jika kau mau tahu tentang perasaanku, aku hanya akan tetap berdiam di kebingunganmu. Membiarkan rasamu menguap seperti kopi kita sore itu. Sebuah akhir yang kau ciptakan sendiri. Akhir unik tanpa awalan. Jika orang lain terpesona pada humorismu tingkah, aku akan bertanya sekarang, kenapa kau tak memesonaku dengan cara yanng sama agar aku tak merasa kau berbeda? Kau ingin berbeda.

Mulutku, tetap setia tak mengumbar tentangmu. Gadis yang kau ubah dengan pesonamu itu adalah sahabatku. pesonamu yang tak kau tunjukkan padaku, namun mengikatku. (Semarang)

Loading

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *