Barangkali

Barangkali

oleh : Helza Rahsya

barangkali kita diciptakan
bukan untuk saling memiliki,
melainkan untuk saling menahan
agar tak benar-benar jatuh.
ada hidup yang diselamatkan
oleh hal-hal yang tak pernah disebut pahlawan:
sebuah tulisan yang tak sengaja dibaca,
suara yang datang di malam paling sepi,
atau sikap baik
yang nyaris dilupakan setelah dilakukan.
kita sering merasa tak berarti apa-apa,
padahal bagi seseorang
kita adalah jeda
di antara keinginannya untuk bertahan
atau mengakhiri segalanya.
maka jangan jahat,
sebab bisa jadi hari ini
ia sedang mengumpulkan sisa sisa
dirinya
agar tetap bisa bernapas.
bisa jadi dunia sudah terlalu kejam,
dan tanpa kita sadari
kita adalah satu-satunya tempat
ia menitipkan kepercayaan.
jangan jahat,
karena di antara banyak tangan
yang pernah melukai,
ia memilih tanganmu
sebagai alasan
untuk tetap hidup.
dan bila suatu hari
kau merasa kecil,
ingatlah—
sering kali
yang paling kecil
adalah yang paling menyelamatkan.

 

Loading

Kabar

Kabar
oleh : Munadia hanifa

Apa aku bisa melakukannya?
Tentu , bahkan yang lebih tinggi dari bukit ini
Bukankah aku terlalu kecil untuk sampai diatas sana ?
Di dewasa mu nanti, kabarkan padaku keberhasilanmu
Tidak ada yang tidak mungkin , kesayanganku…
Tuan , aku berhasil
Aku menaklukan puncak itu, bahkan jauh lebih tinggi
indah nian diatas sana, sebagaimana yang kau ceritakan
Kesayanganmu ini Kembali dengan selamat
Aku membawa kabar yang kau minta
kan ku bawa kemana kabar ini ?
Tanah itu tak menjawab ku tuan
Tanah itu hanya menghancurkan ku
Bangunlah tuan, dekaplah jiwa atma
Sebentar saja..
Sudah lama rupanya , tapi atma tak jua rela
Kesayanganmu tak cukup dewasa untuk menerima perpisahan
Ia masih saja terduduk dibawah sinar purnama
Hingga langit pun ikut menangisi dukanya
Kesayanganmu akan baik-baik saja, percayalah
Ia hanya Lelah dan butuh rehat sejenak
Dunia tak seindah disaat kau masih mendekapnya

Loading

Kemajuan Yang Sunyi

 

Kemajuan Yang Sunyi

oleh : Faridatul Khasanah

Gadis itu tersenyum ketika angin tak segan meniup wajahnya. Berjalan di atas tanah negara yang maju dengan cara nyaris tidak bersuara. Gedung-gedung saling berlomba, namun tertata rapi seperti pikiran yang tak pernah lelah bekerja. Berlapis kaca dan berdekatan, seolah-olah mereka saling percaya bahwa merekalah yang membuat terlihat sebagai kemajuan negara.

Gadis itu terus berjalan di antara gedung-gedung sunyi. Ya, gedung tanpa asap penyebab polusi, tanpa mesin berisik, dan tanpa orang-orang berlumur keringat. Inilah negara saat ini, sunyi dan tak bersuara.

“Selamat datang,” terdengar suara robot ketika pintu terbuka otomatis saat gadis itu mendekat ke apartemennya. Seluruh sudut apartemen itu sudah mengenali pemiliknya. Gadis itu sudah merancang berbagai teknologi untuk ia manfaatkan di kehidupannya. Namanya Feisa. Gadis lulusan teknologi informasi dan sudah menginjak umur seperempat abad, yang punya kebiasaan ambisius dengan banyak teknologi yang diciptakannya.

Feisa segera menuju ke dapur saat rasa haus menghampirinya, mengambil lalu menaruh gelas di dispenser yang secara otomatis mengisinya sampai penuh. Duduk di atas kursi, lalu meneguknya. Air yang sudah masuk ke kerongkongan membuat dahi Feisa mengernyit.

“Sudah kesekian kali aku merasakan rasa aneh di air minum ini,” gumam Feisa.

Awalnya ia kira mesinnya rusak. Namun setelah mengeceknya, semuanya berjalan baik. Begitu pula dengan shower di kamar mandinya, airnya mengalir deras dan suhunya stabil, namun air yang keluar keruh.

Ia menampung air dengan gayung kecil yang tersedia di kamar mandinya. Mengamati, airnya tidak coklat, namun keruh keabuan, seperti awan yang hendak turun hujan. Diendusnya, tidak ada bau, netral, namun janggal.

Sore di hari itu hendak menghilang. Feisa segera menuju jendela dan mengklik tombol penutup otomatis gorden. Sembari menutup sempurna, Feisa memandang keluar dari ketinggian apartemen. Kota ini tampak rapi. Gedung-gedung tidak bercerobong, tidak ada asap hitam, dan tidak ada suara mesin yang dulu biasanya dituduh sebagai biang kerusakan.

Feisa segera membuka panel dinding dan memanggil data laporan pemakaian di apartemennya. Grafiknya muncul, semuanya hijau: energi stabil, penyaring air otomatis berjalan baik, semuanya sempurna.

“Seharusnya tidak begini,” gumamnya lagi.

Keesokan harinya.

Setelah menjadi dewasa, hal yang menjadi kesukaannya adalah kesendirian. Angin yang sama seperti sore kemarin datang lagi menyentuh wajahnya. Namun kini, Feisa duduk di kursi depan kafe tempat ia membeli kopi yang digenggamnya saat ini.

Feisa mengambil ponsel dan membukanya. Notifikasi muncul, terdapat satu pesan dari sahabat dekatnya, Noynoy.

“Fei, ke sini dong, cekin dispenser di rumahku, airnya nggak enak.” Begitulah kira-kira isi pesan dari Noynoy. Feisa hanya membalas pesannya bahwa ia juga merasakan hal yang sama.

Feisa kembali memikirkan hal janggal itu lagi. Otaknya menolak untuk mengabaikannya. Di kepalanya banyak hal muncul secara tersusun, bukan tuduhan, melainkan kemungkinan. Bukankah sesuatu yang rapi itu hal yang paling sulit dicurigai? Sesuatu yang tenang itu memungkinkan banyak kemunculan? Dan sesuatu yang paling sunyi itu sering kali bekerja paling keras?

Angin bertiup menenangkan. Gedung-gedung sunyi berjejeran. Manusia tidak perlu lagi bekerja keras untuk kehidupan. Namun kota ini terlalu sempurna, untuk air yang tak lagi jernih.

Feisa sudah sampai di apartemennya. Sore sudah mulai menghilang. Namun rasa aneh di dalam air belum juga larut. Setelah mengklik penutup gorden otomatis, Feisa kembali membuka panel dindingnya. Bukan lagi membuka grafik hijau yang menenangkan, namun kali ini ia membuka jalur air—jalur dari mana air masuk lalu keluar.

“Air masuk, kemudian dipakai… dan yap! Keluar,” gumam Feisa sambil mengamati jalur air di panel dindingnya.

Feisa tersenyum. Ia tahu apa penyebabnya. Sambil berjalan ke dekat sofa di ruang tamu apartemennya, jari Feisa mengklik tombol di jam tangan yang ia pakai. Sofa itu terbelah karena perintah majikannya, menampakkan tangga sempit yang membawa Feisa ke ruang tersembunyi.

Ruang itu jauh lebih sunyi dari apartemennya. Tidak banyak orang tahu kalau ruangan yang berlapis panel bening itu adalah tempat awal mula semuanya berubah.

Gadis itu berdiri di depan wadah besar yang saat ini terisi penuh oleh air. Warnanya keabuan, sama seperti air yang keluar dari kran. Menit demi menit berlalu. Ia melihat sesuatu di dalam wadah air itu perlahan menurun ke dalam dasar, menghasilkan lapisan tipis yang tertinggal diam.

“Semua ini bukan rusak, namun butuh waktu untuk tenang,” ucapnya.

Misi dimulai, dengan semua pengetahuan dan idenya. Feisa kembali berkarya, bergulat dengan alat kerja yang menjadi teman setianya. Ia membuat lapisan batu alam halus. Mirip seperti konsep sungai, ia gunakan untuk tempat endapan turun dan memperlambat aliran. Teknologi itu bekerja dengan belajar dari alam, bukan menguasainya.

Jam demi jam semakin berlalu. Kini teknologi yang Feisa buat sudah di depan mata. Wadah berlapis kaca tebal, yang disengaja agar pemilik bisa tahu ke mana endapan itu terpisah. Lapisan batu dan serat alami ikut berpartisipasi di dalamnya.

Setelah semuanya terpasang, Feisa kembali melihat wadah utama penampungan air. Butuh waktu lumayan lama, namun ia menciptakannya seperti alam yang bekerja: perlahan dan tidak tergesa-gesa.

Feisa tersenyum. Semuanya berhasil. Airnya kini jernih dan tidak ada lagi drama rasa aneh di dalamnya. Ia segera mengambil ponsel di sakunya, membuat panggilan. Kemudian suara laki-laki terdengar dari balik ponselnya.

“Apa kabar, Bos?” ucap laki-laki itu.

“Kabar baik. Buatkan pertemuan. Ada yang perlu kita kerjakan untuk masalah kota kita akhir-akhir ini,” jawab Feisa.

“Baik, Bos. Laksanakan.”

Feisa segera menutup teleponnya. Air di apartemennya kini kembali normal, namun belum dengan yang lain. Feisa bukan orang yang banyak dikenal. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang. Namun dengan kerja kerasnya di balik layar, ia banyak membuat perubahan.

Besok Feisa akan kembali memulai misinya. Bukan hanya untuk apartemen, namun untuk seluruh kota yang terkena dampak oleh kesunyian dunia ini.

Dunia ini memang sudah berubah. Tidak ada mesin berisik dan asap tebal yang menjadi biang kerusakan. Namun kesunyian teknologi justru paling bekerja keras mengambil dan mengubah sumber daya alam.

Teknologi butuh banyak air untuk pendinginan, sedangkan air yang dikeluarkan lebih panas dari suhu awalnya. Air itu kembali ke sungai, ke tempat di mana warga mengambil air untuk kehidupannya. Air itu tidak salah, namun perlu ruang jeda sebelum akhirnya ia keluar ke pemukiman.

Teknologi yang Feisa buat ia beri nama “Ruang Jeda”, tempat di mana air perlu untuk tenang sebelum akhirnya dikeluarkan.

Lalu bagaimana dengan endapan yang dihasilkan? Endapan bukan kegagalan, namun pertanggungjawaban. Seharusnya manusia tidak hanya menikmati kepraktisan yang dibuat teknologi, namun juga harus merawatnya.

Feisa pikir, hidup hanya sekadar air keruh. Selama ini kita mengira asap tebal dan mesin berisiklah yang paling merugikan. Namun siapa sangka? Yang kita sebut kemajuan justru yang paling banyak mencuri kenyamanan.

Loading

Bersolek

Bersolek

oleh : Najwa Nabila

Layaknya orang lain,
Kulihat wajah yang hampir tak kukenal

Mencintai diri sendiri,
Merayakan diri,
Kata mereka

Tapi rasanya seperti perlahan menghilangkan diri sendiri
Halo, aku yang masih di bawah kursi
Masih disanakah kau?
Aku bertanya lama,
Tapi jawaban seakan tak penting dijawab
Mungkin tertumbuk bising,
dari orang lain

Loading

TRANSPARANSI DANA CSSMoRA UIN WALISONGO SEMARANG

Pada hari Selasa, 24 Desember 2025, telah dilaksanakan kegiatan Transparansi Dana CSSMoRA UIN Walisongo Semarang yang diselenggarakan secara daring melalui platform Google Meet. Kegiatan ini diinisiasi oleh Departemen Badan Pengurus Harian (BPH) sebagai bentuk keterbukaan dan pertanggungjawaban pengurus terhadap pengelolaan dana organisasi yang telah digunakan selama setengah periode kepengurusan CSSMoRA UIN Walisongo Semarang berjalan.

Kegiatan diawali dengan pembukaan acara, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Umum CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, Asyraf Zofir Wafa. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan secara langsung bahwa, “kegiatan transparansi dana ini sangat penting sebagai bentuk keterbukaan pengurus kepada seluruh anggota terkait penggunaan dana organisasi. Dana merupakan hal yang cukup sensitif, sehingga perlu disampaikan secara jelas dan terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman. Oleh karena itu, saya berharap seluruh anggota dapat menyimak kegiatan ini dengan baik.”

Setelah sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan rangkaian utama berupa penyampaian laporan transparansi dana per departemen. Masing-masing bendahara departemen memaparkan secara rinci penggunaan dana yang telah dikelola, mulai dari alokasi anggaran, realisasi penggunaan dana, hingga sisa anggaran yang masih tersedia. Penyampaian dilakukan secara sistematis dan bergantian sesuai urutan departemen, sehingga seluruh peserta dapat memahami kondisi keuangan organisasi secara menyeluruh.

Usai seluruh bendahara departemen menyampaikan laporan keuangan, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pada sesi ini, para anggota diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, klarifikasi, maupun tanggapan terkait laporan dana yang telah dipaparkan. Sesi diskusi berlangsung secara terbuka dan interaktif, sebagai upaya membangun kepercayaan serta memperkuat prinsip akuntabilitas dalam organisasi.

Setelah rangkaian transparansi dana selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan Krisantif Form (Kritik dan Saran Aktif). Dalam sesi ini, dibacakan berbagai kritik, saran, dan masukan yang telah disampaikan oleh anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo Semarang kepada jajaran pengurus. Masukan tersebut menjadi bahan evaluasi bersama guna meningkatkan kinerja, komunikasi, serta tata kelola organisasi ke depannya.

Sebagai penutup, pengurus menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota yang telah berpartisipasi dan berkontribusi aktif dalam kegiatan ini. Kegiatan transparansi dana berlangsung dengan tertib, terbuka, dan penuh rasa tanggung jawab, serta diharapkan dapat memperkuat kepercayaan dan kebersamaan antara pengurus dan anggota CSSMoRA UIN Walisongo Semarang.

Loading

Aksi Peduli CSSMoRA UIN Walisongo: Berbagi Kasih Bersama Panti Asuhan dan Pesantren Yatim Tahfidhul Qur’an Al-Yasiroh

Departemen Pengembangan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M) CSSMoRA UIN Walisongo melaksanakan Aksi Peduli di Panti Asuhan dan Pesantren Yatim Tahfidhul Qur’an Al-Yasiroh, Gunungpati, Sabtu (20/12/2025).

Kegiatan ini merupakan kegiatan sosial yang betujuan untuk meningkatkan rasa kepedulian dan solidaritas generasi muda terhadap masyarakat yang membutuhkan, baik dari segi finansial maupun lainnya. Pada kesempatan kali ini, 14 orang anggota CSSMoRA UIN Walisongo hadir untuk membersamai anak-anak di Panti Asuhan dan Pesantren Yatim Al-Yasiroh, serta dihadiri oleh Bapak dan Ibu pengasuh panti.

Kegiatan dibuka dengan pembacaan al-Fatihah, kemudian dilanjut dengan sambutan dari pengasuh, H. Sutrisno dan koordinator departemen P3M, Muhammad Ais Nur Rizqi. Selanjutnya acara dilanjut dengan pembacaan Yasin dan Tahlil, serta doa bersama. Kemudian ditutup dengan pemberian sembako dan makan bersama.

Anggota yang hadir duduk melingkar bersama anak-anak panti. Membagikan sekotak makanan dan segelas minuman secara bergilir, berdoa, dan dilanjut dengan menyantap makanan yang telah tersaji. Tak hanya itu, mereka juga mengobrol dengan anak-anak dan menanyakan keseharian anak-anak, baik ketika di panti maupun di sekolah.

Selanjutnya, H. Sutrisno, selaku pengasuh panti menyampaikan terimakasih serta harapannya sebelum anggota CSSMoRA UIN Walisongo pamit undur diri.

“Terimakasih kepada CSSMoRA UIN Walisongo yang telah datang ke tempat kami. Kami terima semua pemberian untuk anak-anak kami. Semoga silaturahmi ini tidak berheti disini saja, tetapi juga untuk seterusnya. Semoga CSSMoRA UIN Walisongo terus bermanfaat untuk masyarakat dan semoga diperlancar semua urusannya,” ujarnya.

“Terimakasih juga pak, telah mengizinkan dan menerima kami disini. Saya harap, sedikit dari apa yang kami berikan dapat bermanfaatuntuk anak-anak yang ada disini,” balas Ais Nur Rizqi, koordinator P3M CSSMoRA UIN Walisongo.

Dengan senyuman yang indah, anak-anak juga turut mengucapkan terimakasih.

“Anak-anak senang kalian datang kesini. Adanya kalian disini dapat memotivasi mereka untuk terus belajar dan mencari ilmu,” tambah Hj. Rofi’atun, ibu pengasuh.

Satu per satu anggota berpamitan kepada bapak dan ibu pengasuh, serta anak-anak panti.

Dengan adanya kegiatan ini diharapkan agar generasi muda dapat terus menebar kebermanfaatan untuk sesama dan masyarakat sekitar.

Loading

Ada-Ada Saja

Karya; Arifin Faturohman

Desir hatiku berkata ada. Apa yang merasa. Kemudian bulu kudukmu terangkat dan merinding dibuatnya. Ialah angin saja; memberi kabar menerpa kulitku dan katakan ada. Meski tak nampak ia kasat mata. Mesti ada terasa melalui mata lainnya yang diam-diam memata-matai. Siapakah, gerangan yang bikin terperanjat perasa tak nampak? Nampaklah ia mengendap-endap di bagian-bagian terlupakan hari-hari. Sudah, ingin merinding saja meski angin tak ada…

Semarang, 2025

Loading

Krisis Fiqh Ekologi di Balik Bencana Sumatra

Banjir bandang yang hari ini melanda Sumatra bukan hanya menenggelamkan rumah dan jalan, tetapi juga menenggelamkan kesadaran kita. Musibah ini bukan sekadar “air kiriman”, bukan pula takdir yang turun begitu saja tanpa sebab. Di balik arus deras yang menyapu desa, ada arus kelalaian yang sudah lama menggerus akal sehat dan adab umat manusia kepada lingkungan, termasuk umat Islam di negeri ini. Ini sebenarnya teguran keras karena banyak hal yang tidak kita jaga dengan benar. Hari ini kita bisa lihat sendiri bagaimana kesadaran kita terhadap alam sudah hilang, padahal menjaga alam adalah bagian dari tugas kita sebagai manusia.

Segelintir dari kita malah sibuk menyalahkan cuaca ekstrem atau berkata, “Ini adalah ujian dari Allah.” Benar, setiap bencana adalah ujian. Banjir ini memang ujian, tetapi ujian dalam agama selalu membawa peringatan: apa yang telah kalian perbuat, wahai manusia?

Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa kerusakan di darat dan laut muncul “karena ulah tangan manusia”:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Ar-Rum: 41)

Artinya, manusia bukan hanya objek bencana, tetapi juga bisa menjadi penyebabnya.

Di sinilah letak krisis kita: fiqh ekologi yang sekarat dalam praktiknya.

Fiqh Ekologi yang Tidak Lagi Menyentuh Tanah

Kita sebenarnya tahu bahwa Allah memerintahkan makhluk-Nya untuk tidak berbuat kerusakan di muka, لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ. Kita lupa bahwa memelihara bumi juga merupakan amanah bagi kita sebagai khalīfah fil-arḍh. Tanpa lingkungan yang sehat, ibadah dan kehidupan sosial pun akan terancam. Lalu mengapa ayat dan hadis tentang menjaga alam tidak tercermin dalam kebijakan dan keputusan pembangunan masa kini?

Hutan di hulu DAS ditebang tanpa henti, bukit digerus alat berat, sungai dipaksa menelan limbah, dan tanah kehilangan daya serapnya. Ketika akhirnya datang banjir bandang, masyarakat kecil yang tidak pernah menyentuh izin tambang justru menjadi korban pertama.

Pertanyaannya sederhana tetapi menampar kita:
Jika syariat memerintahkan manusia menjaga lingkungan, di manakah fiqh ekologi kita ketika izin-izin tambang diteken dan pohon-pohon terakhir di hulu hilang?

Kita tidak menunjuk siapa pun secara khusus, tetapi kita semua tahu bahwa kerusakan ekosistem tidak terjadi dalam satu malam dan tidak mungkin dilakukan oleh masyarakat biasa.

Jadi Sebenarnya Ini Bencana Alam atau Bencana Moral?

Saking seringnya terjadi bencana di negeri ini, kita jadinya menormalisasi tragedi sebagai “bencana alam”, padahal sebagian besar adalah bencana moral hasil pilihan manusia yang lebih mengutamakan keuntungan jangka pendek daripada kelangsungan hidup jangka panjang.

Dalam agama kita, ada konsep amanah dan tanggung jawab bersama. Tapi ketika tambang dibuka seluas-luasnya seolah alam ini tidak pernah lelah, ketika pengawasan sekadar formalitas semata, dan hutan dihitung hanya sebagai angka dalam laporan ekonomi, amanah itu perlahan hilang. Bukan karena kita tidak paham, hanya saja tampaknya kepentingan lain terasa lebih menguntungkan daripada menjaga bumi yang kita pijak sendiri.

Di titik ini, fiqh ekologi bukan sekadar krisis teori, tetapi krisis moral.

Ketika Korban Bukan Pelaku

Tragedi Sumatra memperlihatkan satu kenyataan pahit bahwa mereka yang mengalami kerusakan rumah, keluarga yang hilang, dan bahkan harapan mereka untuk hidup sangat kecil, bukanlah orang-orang yang merusak hutan. Tetapi mereka selalu menjadi pihak yang paling cepat diminta bersabar, paling sering dinasihati, dan tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

Di manakah keadilan ekologis yang selama ini kita banggakan dalam ajaran Islam?

Keadilan bukan hanya tentang menghukum pelaku, tetapi juga mencegah segala hal yang menghasilkan kerusakan sejak awal.

Menghidupkan Kembali Fiqh Ekologi yang Pernah Kita Kubur

Fiqh ekologi sebenarnya bukan konsep yang rumit. Ia hanyalah cara pandang yang mengingatkan kita bahwa ketika membangun, membuat kebijakan, atau mengambil sumber daya alam, kita tidak boleh lupa bahwa bumi ini bukan sekadar aset ekonomi, terutama bagi sekelompok manusia yang tidak pernah kenyang mengeruk sumber daya alam di negeri ini. Alam ini adalah amanah dari Allah untuk kita. Tempat kita hidup, tumbuh, dan kembali.

Tragedi Sumatra mestinya membuat kita sebagai umat Islam berhenti sejenak, merenung, dan saling bertanya:

  • Apakah fiqh ekologi sudah menjadi dasar dalam keputusan-keputusan besar terhadap lingkungan?
  • Apakah pembangunan yang dibangga-banggakan sekarang ini ikut menjaga ciptaan Allah, atau justru merusaknya?
  • Dan apakah ajaran ini selama ini hanya kita biarkan jadi tulisan tanpa wujud tindakan?

Fiqh ekologi hanya akan hidup ketika ia dijadikan dasar tindakan, bukan sekadar teks indah yang berulang dibacakan setiap kali bencana telah terjadi.

Saatnya Mendengar Teriakan Alam

Banjir bandang di Sumatra menjadi pengingat yang tidak bisa diabaikan. Jika fiqh ekologi tidak kita hidupkan kembali, kita akan terus mengulang kesalahan yang sama. Islam mengajarkan kita membaca ayat, baik yang tertulis maupun yang hadir dalam peristiwa. Dan mungkin, lewat bencana ini, alam sedang menyampaikan sesuatu kepada mereka yang selama ini menutup mata dan telinga dari jeritan bumi.

Saatnya kita menghidupkan kembali fiqh ekologi yang selama ini dikubur dengan sengaja. Karena menjaga bumi adalah bagian dari ibadah.

Pray for Sumatra

Mari kita sisipkan doa dan sisihkan harta untuk saudara-saudara kita di Sumatra.

Semoga mereka diberi kekuatan menghadapi ujian ini, dan semoga siapa pun yang pernah merusak alam dilembutkan hatinya, dikembalikan menjadi manusia yang lebih baik, lebih peduli, dan lebih amanah terhadap bumi yang Allah titipkan kepada kita.

Writter by : Zahwa Kamila

Loading

KUNJUNGAN INDUSTRI CSSMoRA UIN WALISONGO SEMARANG PT.Marimas Putra Kencana

Pada hari Jumat, 19 Desember 2025, telah dilaksanakan kegiatan Kunjungan Industri CSSMoRA UIN Walisongo Semarang ke PT. Marimas Putra Kencana. Kegiatan ini diinisiasi oleh Departemen Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo Semarang sebagai agenda edukatif yang bertujuan untuk menambah wawasan anggota mengenai dunia industri, khususnya industri makanan dan minuman, sekaligus sebagai kegiatan rekreatif bersama menjelang masa liburan semester ganjil.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan serta pengenalan perusahaan oleh pihak PT. Marimas Putra Kencana. Dalam sesi ini, peserta mendapatkan penjelasan umum mengenai profil perusahaan, sejarah berdirinya PT. Marimas, visi dan misi perusahaan, serta gambaran proses produksi dan standar mutu yang diterapkan dalam setiap produk yang dihasilkan.

Setelah sesi pengenalan, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan langsung ke area pabrik. Para peserta diajak melihat secara langsung proses produksi berbagai produk PT. Marimas Putra Kencana, mulai dari tahap pengolahan bahan baku, proses produksi, pengemasan, hingga distribusi produk. Peserta juga mendapatkan penjelasan terkait penerapan standar kebersihan, keamanan pangan, serta sistem kerja yang diterapkan di lingkungan pabrik.

Usai kunjungan ke area produksi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi mencicipi (icip-icip) produk baru dari PT. Marimas Putra Kencana. Sesi ini disambut antusias oleh peserta dan menjadi salah satu bagian yang menarik karena memberikan pengalaman langsung dalam mengenal inovasi produk perusahaan. Selanjutnya, kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama sebagai bentuk dokumentasi, serta dilanjutkan dengan kesempatan bagi peserta untuk berbelanja berbagai produk PT. Marimas Putra Kencana di store penjualan yang tersedia.

Secara keseluruhan, kegiatan kunjungan industri ini berlangsung dengan lancar, tertib, dan penuh antusiasme. Kegiatan ini memberikan pengalaman baru yang berharga bagi anggota CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, baik dalam menambah wawasan tentang dunia industri maupun mempererat kebersamaan antaranggota dalam suasana yang edukatif dan rekreatif.

Loading

Divisi Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo adakan Kunjungan ke Suara Merdeka

Pada hari Selasa, tanggal 16 Desember 2025, bertempat di Kantor Suara Merdeka Semarang, telah dilaksanakan kegiatan kunjungan oleh anggota CSSMoRA UIN Walisongo Semarang yang terdiri dari Kru Majalah Zenith serta anggota CSSMoRA lainnya. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari upaya pengembangan wawasan dan kapasitas anggota, khususnya dalam bidang jurnalistik, kepenulisan, dan pengelolaan media.

Kegiatan kunjungan diawali dengan sambutan dan penerimaan dari pihak Suara Merdeka, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai sejarah berdirinya Suara Merdeka sebagai salah satu media cetak terbesar dan berpengaruh di Jawa Tengah. Dalam pemaparan tersebut dijelaskan pula perjalanan Suara Merdeka dalam menghadapi dinamika dunia pers, mulai dari media cetak hingga adaptasi di era digital.

Selanjutnya, peserta mendapatkan penjelasan mengenai proses penerbitan berita di Suara Merdeka, mulai dari tahapan pencarian isu, peliputan di lapangan, penulisan berita, proses penyuntingan (editing), hingga berita tersebut layak untuk diterbitkan. Tidak hanya itu, peserta juga diberikan edukasi terkait teknik menulis berita yang baik dan benar, penentuan sudut pandang (angle), penyusunan lead, serta perbedaan karakter penulisan antara berita dan majalah.

Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung secara aktif dan interaktif. Para peserta antusias mengajukan pertanyaan seputar dunia jurnalistik, tantangan media massa saat ini, etika pemberitaan, serta tips dan strategi dalam mengembangkan media mahasiswa agar tetap relevan dan berkualitas. Pihak Suara Merdeka memberikan tanggapan dan penjelasan secara terbuka serta komunikatif, sehingga suasana diskusi berjalan hidup dan edukatif.

Secara keseluruhan, kegiatan kunjungan ini berlangsung dengan lancar dan memberikan pengalaman serta wawasan yang berharga bagi anggota CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, khususnya Kru Majalah Zenith, dalam memahami praktik jurnalistik secara langsung di lingkungan media profesional.

 

Loading