Bersolek

Bersolek

oleh : Najwa Nabila

Layaknya orang lain,
Kulihat wajah yang hampir tak kukenal

Mencintai diri sendiri,
Merayakan diri,
Kata mereka

Tapi rasanya seperti perlahan menghilangkan diri sendiri
Halo, aku yang masih di bawah kursi
Masih disanakah kau?
Aku bertanya lama,
Tapi jawaban seakan tak penting dijawab
Mungkin tertumbuk bising,
dari orang lain

Loading

TRANSPARANSI DANA CSSMoRA UIN WALISONGO SEMARANG

Pada hari Selasa, 24 Desember 2025, telah dilaksanakan kegiatan Transparansi Dana CSSMoRA UIN Walisongo Semarang yang diselenggarakan secara daring melalui platform Google Meet. Kegiatan ini diinisiasi oleh Departemen Badan Pengurus Harian (BPH) sebagai bentuk keterbukaan dan pertanggungjawaban pengurus terhadap pengelolaan dana organisasi yang telah digunakan selama setengah periode kepengurusan CSSMoRA UIN Walisongo Semarang berjalan.

Kegiatan diawali dengan pembukaan acara, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Umum CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, Asyraf Zofir Wafa. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan secara langsung bahwa, “kegiatan transparansi dana ini sangat penting sebagai bentuk keterbukaan pengurus kepada seluruh anggota terkait penggunaan dana organisasi. Dana merupakan hal yang cukup sensitif, sehingga perlu disampaikan secara jelas dan terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman. Oleh karena itu, saya berharap seluruh anggota dapat menyimak kegiatan ini dengan baik.”

Setelah sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan rangkaian utama berupa penyampaian laporan transparansi dana per departemen. Masing-masing bendahara departemen memaparkan secara rinci penggunaan dana yang telah dikelola, mulai dari alokasi anggaran, realisasi penggunaan dana, hingga sisa anggaran yang masih tersedia. Penyampaian dilakukan secara sistematis dan bergantian sesuai urutan departemen, sehingga seluruh peserta dapat memahami kondisi keuangan organisasi secara menyeluruh.

Usai seluruh bendahara departemen menyampaikan laporan keuangan, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pada sesi ini, para anggota diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, klarifikasi, maupun tanggapan terkait laporan dana yang telah dipaparkan. Sesi diskusi berlangsung secara terbuka dan interaktif, sebagai upaya membangun kepercayaan serta memperkuat prinsip akuntabilitas dalam organisasi.

Setelah rangkaian transparansi dana selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan Krisantif Form (Kritik dan Saran Aktif). Dalam sesi ini, dibacakan berbagai kritik, saran, dan masukan yang telah disampaikan oleh anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo Semarang kepada jajaran pengurus. Masukan tersebut menjadi bahan evaluasi bersama guna meningkatkan kinerja, komunikasi, serta tata kelola organisasi ke depannya.

Sebagai penutup, pengurus menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota yang telah berpartisipasi dan berkontribusi aktif dalam kegiatan ini. Kegiatan transparansi dana berlangsung dengan tertib, terbuka, dan penuh rasa tanggung jawab, serta diharapkan dapat memperkuat kepercayaan dan kebersamaan antara pengurus dan anggota CSSMoRA UIN Walisongo Semarang.

Loading

Aksi Peduli CSSMoRA UIN Walisongo: Berbagi Kasih Bersama Panti Asuhan dan Pesantren Yatim Tahfidhul Qur’an Al-Yasiroh

Departemen Pengembangan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M) CSSMoRA UIN Walisongo melaksanakan Aksi Peduli di Panti Asuhan dan Pesantren Yatim Tahfidhul Qur’an Al-Yasiroh, Gunungpati, Sabtu (20/12/2025).

Kegiatan ini merupakan kegiatan sosial yang betujuan untuk meningkatkan rasa kepedulian dan solidaritas generasi muda terhadap masyarakat yang membutuhkan, baik dari segi finansial maupun lainnya. Pada kesempatan kali ini, 14 orang anggota CSSMoRA UIN Walisongo hadir untuk membersamai anak-anak di Panti Asuhan dan Pesantren Yatim Al-Yasiroh, serta dihadiri oleh Bapak dan Ibu pengasuh panti.

Kegiatan dibuka dengan pembacaan al-Fatihah, kemudian dilanjut dengan sambutan dari pengasuh, H. Sutrisno dan koordinator departemen P3M, Muhammad Ais Nur Rizqi. Selanjutnya acara dilanjut dengan pembacaan Yasin dan Tahlil, serta doa bersama. Kemudian ditutup dengan pemberian sembako dan makan bersama.

Anggota yang hadir duduk melingkar bersama anak-anak panti. Membagikan sekotak makanan dan segelas minuman secara bergilir, berdoa, dan dilanjut dengan menyantap makanan yang telah tersaji. Tak hanya itu, mereka juga mengobrol dengan anak-anak dan menanyakan keseharian anak-anak, baik ketika di panti maupun di sekolah.

Selanjutnya, H. Sutrisno, selaku pengasuh panti menyampaikan terimakasih serta harapannya sebelum anggota CSSMoRA UIN Walisongo pamit undur diri.

“Terimakasih kepada CSSMoRA UIN Walisongo yang telah datang ke tempat kami. Kami terima semua pemberian untuk anak-anak kami. Semoga silaturahmi ini tidak berheti disini saja, tetapi juga untuk seterusnya. Semoga CSSMoRA UIN Walisongo terus bermanfaat untuk masyarakat dan semoga diperlancar semua urusannya,” ujarnya.

“Terimakasih juga pak, telah mengizinkan dan menerima kami disini. Saya harap, sedikit dari apa yang kami berikan dapat bermanfaatuntuk anak-anak yang ada disini,” balas Ais Nur Rizqi, koordinator P3M CSSMoRA UIN Walisongo.

Dengan senyuman yang indah, anak-anak juga turut mengucapkan terimakasih.

“Anak-anak senang kalian datang kesini. Adanya kalian disini dapat memotivasi mereka untuk terus belajar dan mencari ilmu,” tambah Hj. Rofi’atun, ibu pengasuh.

Satu per satu anggota berpamitan kepada bapak dan ibu pengasuh, serta anak-anak panti.

Dengan adanya kegiatan ini diharapkan agar generasi muda dapat terus menebar kebermanfaatan untuk sesama dan masyarakat sekitar.

Loading

KUNJUNGAN INDUSTRI CSSMoRA UIN WALISONGO SEMARANG PT.Marimas Putra Kencana

Pada hari Jumat, 19 Desember 2025, telah dilaksanakan kegiatan Kunjungan Industri CSSMoRA UIN Walisongo Semarang ke PT. Marimas Putra Kencana. Kegiatan ini diinisiasi oleh Departemen Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo Semarang sebagai agenda edukatif yang bertujuan untuk menambah wawasan anggota mengenai dunia industri, khususnya industri makanan dan minuman, sekaligus sebagai kegiatan rekreatif bersama menjelang masa liburan semester ganjil.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan serta pengenalan perusahaan oleh pihak PT. Marimas Putra Kencana. Dalam sesi ini, peserta mendapatkan penjelasan umum mengenai profil perusahaan, sejarah berdirinya PT. Marimas, visi dan misi perusahaan, serta gambaran proses produksi dan standar mutu yang diterapkan dalam setiap produk yang dihasilkan.

Setelah sesi pengenalan, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan langsung ke area pabrik. Para peserta diajak melihat secara langsung proses produksi berbagai produk PT. Marimas Putra Kencana, mulai dari tahap pengolahan bahan baku, proses produksi, pengemasan, hingga distribusi produk. Peserta juga mendapatkan penjelasan terkait penerapan standar kebersihan, keamanan pangan, serta sistem kerja yang diterapkan di lingkungan pabrik.

Usai kunjungan ke area produksi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi mencicipi (icip-icip) produk baru dari PT. Marimas Putra Kencana. Sesi ini disambut antusias oleh peserta dan menjadi salah satu bagian yang menarik karena memberikan pengalaman langsung dalam mengenal inovasi produk perusahaan. Selanjutnya, kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama sebagai bentuk dokumentasi, serta dilanjutkan dengan kesempatan bagi peserta untuk berbelanja berbagai produk PT. Marimas Putra Kencana di store penjualan yang tersedia.

Secara keseluruhan, kegiatan kunjungan industri ini berlangsung dengan lancar, tertib, dan penuh antusiasme. Kegiatan ini memberikan pengalaman baru yang berharga bagi anggota CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, baik dalam menambah wawasan tentang dunia industri maupun mempererat kebersamaan antaranggota dalam suasana yang edukatif dan rekreatif.

Loading

Divisi Jurnalistik CSSMoRA UIN Walisongo adakan Kunjungan ke Suara Merdeka

Pada hari Selasa, tanggal 16 Desember 2025, bertempat di Kantor Suara Merdeka Semarang, telah dilaksanakan kegiatan kunjungan oleh anggota CSSMoRA UIN Walisongo Semarang yang terdiri dari Kru Majalah Zenith serta anggota CSSMoRA lainnya. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari upaya pengembangan wawasan dan kapasitas anggota, khususnya dalam bidang jurnalistik, kepenulisan, dan pengelolaan media.

Kegiatan kunjungan diawali dengan sambutan dan penerimaan dari pihak Suara Merdeka, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai sejarah berdirinya Suara Merdeka sebagai salah satu media cetak terbesar dan berpengaruh di Jawa Tengah. Dalam pemaparan tersebut dijelaskan pula perjalanan Suara Merdeka dalam menghadapi dinamika dunia pers, mulai dari media cetak hingga adaptasi di era digital.

Selanjutnya, peserta mendapatkan penjelasan mengenai proses penerbitan berita di Suara Merdeka, mulai dari tahapan pencarian isu, peliputan di lapangan, penulisan berita, proses penyuntingan (editing), hingga berita tersebut layak untuk diterbitkan. Tidak hanya itu, peserta juga diberikan edukasi terkait teknik menulis berita yang baik dan benar, penentuan sudut pandang (angle), penyusunan lead, serta perbedaan karakter penulisan antara berita dan majalah.

Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung secara aktif dan interaktif. Para peserta antusias mengajukan pertanyaan seputar dunia jurnalistik, tantangan media massa saat ini, etika pemberitaan, serta tips dan strategi dalam mengembangkan media mahasiswa agar tetap relevan dan berkualitas. Pihak Suara Merdeka memberikan tanggapan dan penjelasan secara terbuka serta komunikatif, sehingga suasana diskusi berjalan hidup dan edukatif.

Secara keseluruhan, kegiatan kunjungan ini berlangsung dengan lancar dan memberikan pengalaman serta wawasan yang berharga bagi anggota CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, khususnya Kru Majalah Zenith, dalam memahami praktik jurnalistik secara langsung di lingkungan media profesional.

 

Loading

Peduli Sesama, Departemen P3M CSSMoRA UIN Walisongo Gelar Penggalangan Dana untuk Korban Erupsi Gunung Semeru dan Bencana Banjir di Sumatera

Semarang, 30 November 2025 – Dalam rangka membantu korban erupsi gunung Semeru di Lumajang dan bencana banjir bandang yang melanda beberapa wilayah Sumatera, Departemen P3M CSSMoRA UIN Walisongo menyelenggarakan kegiatan penggalangan dana pada hari Minggu, 30 November 2025 di beberapa titik keramaian di Kota Semarang yakni sekitar bundaran Kalibanteng.

Kegiatan ini, yang selanjutnya disebut dengan ‘open donasi’ digagas sebagai bentuk nyata kepedulian kami terhadap warga terdampak yang mengalami kesulitan akibat kehilangan tempat tinggal dan bahkan terbatasnya akses terhadap kebutuhan pokok.

Sebelum aksi berlangsung, Kepala Departemen P3M, M. Ais Nur Rizqi memberikan pengarahan kepada semua relawan aksi open donasi mengenai metode dan pembagian tim untuk beberapa titik. “Dari 26 orang, akan kami bagi menjadi 4 titik. Masing masing titik tersebut yakni Jalan Siliwangi, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan MGR Sugiyopranoto, dan Jalan Walisongo,” ujarnya.

Tak hanya itu, Ketua Umum CSSMoRA UIN Walisongo, Asyraf Zofir Wafa yang turut hadir dan membersamai aksi ini menambahkan bahwa keselamatan anggota juga tidak kalah penting mengingat jalan-jalan tersebut merupakan titik keramaian di kota Semarang. Ia menekankan untuk selalu berhati-hati saat melakukan aksi.

Aksi open donasi dimulai pada pukul 14.00 WIB, diawali dengan apel dan koordinasi di Museum Ranggawarsita di sekitaran bundaran Kalibanteng. Kemudian setiap tim bergerak menuju titik pembagian masing masing dengan membawa kotak donasi, poster peduli sesama, dan juga lembaran kode QRIS untuk memfasilitasi warga yang ingin berdonasi secara cassless atau non-tunai.

Upaya penggalangan dana yang dilakukan pada sore hari itu menghasilkan respon posituf dari warga sekitar. Banyak pengendara yang memberikan dukungan dan menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu saudara-saudara yang tertimpa musibah. Hasil aksi turun ke jalan ini berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 5.138.900, ditambah donasi melalui QRIS sebesar Rp 834.614.

Selanjutnya, per hari Rabu, 3 Desember 2025 terdapat beberapa pemasukan tambahan dari teman-teman CSSMoRA MA (Ma’had Aly) Pati dan MAKJ (Ma’had Aly Kebon Jambu) sehingga dana total mencapai Rp 10.050.000. Dengan total akhir tersebut, aksi open donasi resmi ditutup agar dana yang terkumpul dapat segera dimanfaatkan kepada yang membutuhkan.

Seluruh dana yang terkumpul nantinya akan diserahkan kepada Yayasan Dompet Dhuafa untuk wilayah Lumajang, Duta Damai Regional Sumatera Barat, dan Gerakan Peduli Sumatera untuk wilayah Aceh dan Sumatera Utara yang saat ini berada di dekat lokasi bencana untuk memastikan bantuan diterima secara langsung oleh masyarakat terdampak. Tim penyalur tersebut akan mengonfirmasi dan memberikan laporan dokumentasi setelah bantuan disalurkan.

Dengan adanya kegiatan open donasi ini, diharapkan semakin banyak pihak yang tergerak untuk turut membantu sesama dan memperkuat solidaritas kemanusiaan bagi masyarakat terdampak bencana.

Loading

Cetak Kader Berakhlak dan Berkompeten, CSSMoRA UIN Walisongo Sukses Gelar Kaderisasi Tingkat Perguruan Tinggi

Sebagai langkah awal dalam mempersiapkan regenerasi kepengurusan, CSSMoRA UIN Walisongo sukses menyelenggarakan Kaderisasi Tingkat Perguruan Tinggi (KTPT) 2025. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu dan Minggu (15-16 November 2025), di Ponpes Salafy Modern Madinatul Amin Mijen.

Kaderisasi Tingkat Perguruan Tinggi (KTPT) merupakan salah satu program kerja dari Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) CSSMoRA di setiap  perguruan tinggi, yang pelaksanaannya di bawah koordinasi Departemen PSDM CSSMoRA Nasional. Kegiatan kaderisasi ini ditujukan bagi anggota CSSMoRA angkatan 2025 sebagai persiapan untuk menjalankan kepengurusan periode berikutnya. Tujuannya adalah untuk membekali anggota 2025 dengan pemahaman dasar tentang organisasi dan kepemimpinan guna menjaga keberlangsungan CSSMoRA secara berkelanjutan.

Pada pelaksanaan KTPT tahun ini, CSSMoRA UIN Walisongo turut menggandeng CSSMoRA Universitas Negeri Semarang, yang merupakan perguruan tinggi baru dalam Program PBSB. Dengan mengusung tema ‘Kader Berdaya, Berilmu, dan Berakhlak di Tengah Arus Perubahan’, kegiatan ini diikuti oleh 37 peserta dari angkatan 2025.

Rangkaian acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars CSSMoRA, sambutan-sambutan, dan doa penutup.

“Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan kaderisasi kepada anggota baik non-formal maupun formal, seperti pemberian materi yang nantinya akan diterima oleh angkatan 2025. KTPT ini juga menjadi langkah awal bagi angkatan 2025 sebelum benar-benar berproses di CSSMoRA,” ujar Indana Zulfa, Koordinator Departemen PSDM Nasional dalam sambutannya.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan acara inti berupa pemaparan materi. Materi pertama mengenai keorganisasian disampaikan oleh Unggul Suryo Adi. Beliau menyampaikan arti dari organisasi, pentingnya  berorganisasi bagi mahasiswa, serta berbagai hal terkait dengan organisasi.

“Organisasi itu menghidupkan masa kini hingga masa mendatang. Organisasi adalah tempat belajar terbaik di luar kelas, CSSMoRA adalah wadah untuk belajar,” ujar Unggul.

Materi kedua tentang kebangsaan yang disampaikan oleh Muhammad Aksa. Kemudian, acara dilanjutkan dengan materi ketiga mengenai analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats) oleh Nor Ramat Sholichin, materi kepesantrenan oleh Azmil Musthofa, materi persidangan oleh Wahyudi, dan materi terakhir adalah materi ke-CSSMoRA-an yang disampaikan oleh Muhammad Muhaimin Thohri.

Setelah seluruh materi disampaikan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi post-test pada pukul 02.15 dini hari. Dalam sesi ini, para peserta menjawab serangkaian pertanyaan yang menguji pemahaman mereka terhadap seluruh materi yang telah diberikan sebelumnya. Puncak acara dari kaderisasi ini kemudian tiba, yaitu sesi pengukuhan anggota angkatan 2025. Momen khidmat ini ditandai dengan pembacaan Catur Prasetya Santri Berprestasi, yang menjadi simbol peresmian para peserta sebagai anggota aktif CSSMoRA.

Keesokan paginya, KTPT 2025 ditutup dengan nuansa kekeluargaan yang hangat. Sesi tukar kado berlangsung dengan penuh keakraban dan dilanjutkan dengan berbagi kesan dan pesan dari perwakilan peserta, mengakhiri seluruh rangkaian acara KTPT ini dengan penuh makna.

Melalui serangkaian kegiatan ini, diharapkan seluruh anggota 2025 dapat mengaplikasikan ilmu dan pengalaman yang diperoleh untuk berkontribusi aktif dalam mengembangkan CSSMoRA UIN Walisongo serta CSSMoRA UNNES ke depannya.

Loading

Meningkatkan Skill Desain Anggota CSSMoRA melalui Pelatihan Cookies Edisi November 2025

Pada hari Ahad, 9 November 2025, Divisi Komunikasi dan Informasi (Kominfo) CSSMoRA UIN Walisongo Semarang telah melaksanakan kegiatan Pelatihan Cookies, yaitu program pelatihan desain grafis yang diperuntukkan bagi seluruh anggota CSSMoRA. Pelatihan ini berlangsung di Gazebo YPMI Al-Firdaus dan dimulai pada pukul 09.00 WIB hingga selesai. Kegiatan terselenggara dengan lancar dan mendapat partisipasi yang antusias dari para anggota yang hadir.

Pelatihan Cookies merupakan salah satu program unggulan Divisi Kominfo dalam upaya meningkatkan kompetensi digital dan kreativitas anggota CSSMoRA, khususnya dalam bidang desain grafis dan pengelolaan konten visual. Kegiatan ini bukanlah pelatihan pertama, melainkan pelatihan kedua setelah sebelumnya diselenggarakan pada bulan Oktober 2025. Keberlanjutan program ini menunjukkan komitmen Divisi Kominfo dalam memberikan ruang pengembangan diri bagi anggota serta menjawab kebutuhan organisasi terhadap tenaga desain yang terampil dan kreatif.

Pada pelatihan kedua ini, Divisi Kominfo menghadirkan Raihan Zain sebagai narasumber. Beliau dikenal sebagai praktisi desain dan konten kreatif yang aktif berkecimpung dalam berbagai proyek digital. Dalam sesi materi, narasumber memberikan penjelasan mendalam mengenai dasar-dasar desain grafis, teori warna, komposisi visual, tipografi, hingga strategi membuat konten yang menarik dan relevan untuk media sosial organisasi. Selain pemaparan materi, peserta juga diajak untuk praktik langsung membuat desain dengan perangkat lunak desain yang umum digunakan. Hal ini bertujuan agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam karya nyata.

Kegiatan berlangsung secara interaktif. Peserta diberi kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, serta melakukan konsultasi desain secara langsung dengan narasumber. Banyak peserta yang merasa terbantu karena dapat memahami kesalahan umum dalam desain serta memperoleh tips dan trik yang dapat diterapkan dalam pembuatan publikasi kegiatan CSSMoRA ke depannya.

Divisi Kominfo sebagai penyelenggara berharap bahwa melalui pelatihan ini, kemampuan anggota dalam membuat konten visual dapat meningkat signifikan. Desain yang baik dan informatif sangat dibutuhkan, mengingat CSSMoRA memiliki berbagai program dan kegiatan yang perlu dipublikasikan secara efektif untuk meningkatkan citra organisasi. Dengan adanya pelatihan rutin seperti Cookies, diharapkan anggota memiliki skill dasar yang kuat dan mampu berkontribusi secara optimal dalam proses kreatif di tiap divisi.

Selain itu, pelatihan ini juga menjadi ajang silaturahmi dan penguatan relasi antaranggota CSSMoRA. Suasana pelatihan yang hangat dan bersahabat membuat peserta merasa nyaman untuk belajar bersama, bertukar ide, dan saling memberikan masukan.

 

Loading

Permulaan Puncak Tantangan

Mt. Guntur

07 Safar – 09 Safar 1447 H

Sebuah ajakan yang begitu mendadak dari seorang sahabat from Bungbulang Pakidulan Garut.

“Pin! Besok muncak ka Guntur?! Yu!”

“Gas!” jawabku tanpa banyak cingcong. Jika terlalu banyak wacana tanpa aksi, acap kali tidak terealisasi. Maka, perjalanan ini bermula dengan persiapan satu hari namun InsyaAllah safety. Ialah Ragib, seorang kawan dari Priangan Timur yang kutemui di bawah naungan lembaga pendidikan yang sama: Pondok Cipasung dan madrasah aliyah tercinta. Ini adalah perjalanan menuju puncak tantangan yang kedua kalinya bersama Mas Gib—begitu aku akrab menyapanya.

Maka, pada hari Jumat, 07 Safar 1447 H, setelah sidang Jumat yang dimuliakan Allah SWT, aku memulai keberangkatan dari Bandung menuju Kadungora, Garut. Adalah titik kumpul di sebuah rumah kepunyaan Orangtua Ficky, di pinggir jalan provinsi yang menghubungkan Kota Bandung dan Kabupaten Garut. Di luar Nagreg.

Semalam sebelum keberangkatan, kami—aku dan Mas Gib—menghubungi Ficky.

“Sudikah sobat menampung kami? Yang hendak mendaki puncak tantangan, dan kau pun ikut dalam perjalanan, wahai Sahabat.”

Kira-kira begitulah maksudnya, meski jelas bertuturnya tidak seperti demikian, lebih pakai dialek Sunda Priangan Timur.

Ficky yang baik hati mengizinkan, bahkan gembira dengan kedatangan aku dan Mas Gib. Ia yang belum pernah sekalipun mendaki gunung agak ragu dan nyaris tidak ikut, namun kami meyakinkan bahwa ini akan menyenangkan dan aman dengan doa Ibu, aamiin, mudah-mudahan. Maka ikutlah Ficky nantinya.

Aku tiba di kediaman Ficky pada pukul 16.30 senja hari. Disambut oleh Ficky dengan senyum terkembang dan oleh ibunya Ficky yang amat penyayang. Aku segera disuguhi air kopi dan berceritalah kita—aku dan Ficky—hingga sore berpamitan dan malam menghampiri. Mas Gib kabarnya masih dalam perjalanan dari Bungbulang dan sudah tiba di daerah Cisurupan. Setelah cukup banyak berbincang-bincang, Ficky di panggil ibunya dan dimintai menghampirinya ke dapur dan aku meminjam jamban untuk berseka.

Ketika aku bersiap-siap jamaah Magrib, sebuah kabar gembira tiba-tiba, tiba! ponsel ramai berbunyi. Pada sebuah grup WhatsApp orang-orang berkicau mengenai kabar keputusan seleksi Beasiswa PBSB yang sedang aku dan Ficky hadapi. Aku memilih Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam di UIN Walisongo Semarang, sedangkan Ficky memilih Prodi Perbankan Syariah Islam di UIN Raden Fatah Palembang. Setelah kami gagal di penyisihan SBMPTN (Seleksi Besar Menuju Pengangguran Tingkat Negara), Ficky mengambil jalur mandiri di UNPAD dan lolos, sedang aku membulatkan keputusan untuk gap year.

Ficky sedang mengobrol dengan ibunya di dapur, aku menanyai mereka, ke mana arah kiblat? Katanya ke arah jalan. Hatiku berdesir tidak karu-karuan, dan itulah detik-detik aku membuka pengumuman beasiswa—apakah aku lolos dan lanjut studi atau aku kembali mondok dan menunda masa studi.

Keputusanku sudah bulat ketika akan membuka pengumuman. Aku ingin bersujud dan bersyukur atas segala keputusan takdir, segala ketentuan Tuhan. Aku serahkan semuanya, dan kulangitkan kalimat pujian, kumerendah di hadapan Yang Maha Tinggi.

Dan tibalah, aku membuka situs pendaftaran PBSB dari Kemenag. Hasilnya, Kawan, sebuah ucapan robot mengatakan bahwa aku LOLOS dan berhak mendapatkan Beasiswa PBSB, melanjutkan studi di UIN Walisongo Semarang. Betapa hatiku membuncah, bibirku terus merapal tahmid, dan kusungkurkan badanku di haribaan kasih sayang Tuhan, mataku berkaca-kaca. Dan aku mantap berkeyakinan bahwa Tuhan mendengar setiap doa hamba-Nya yang memuji-Nya (سمع الله لمن حمده).

Segera kukabari Ibu dan Bapak di Bandung bahwa anaknya lolos beasiswa dan akan melanjutkan pendidikan tinggi di Semarang. Bukan main bahagia, bukan kepalang, kita bersyukur. Kukabari pula Akang di Pondok Cipasung—guruku yang membimbing dan memotivasi dari awal masa pendaftaran hingga tiba pengumuman kelulusan. Ia menjawab dan menyelamatiku, lalu mendoakanku. Ah, Akang, aku teringat guru-guruku di Pondok.

Setelah itu adzan Magrib berkumandang. Aku bergegas menuju masjid bersama Ficky, sedang kawanku yang begitu berbakti kepada orang tuanya itu belum membuka pengumuman keputusan beasiswa. Di jalan menuju masjid sudah gatal mulutku bercerita, dan tak mungkin kututupi garis mukaku yang amat berbahagia. Kuceritakan mengenai pengumuman dan bukan main ia girang bukan buatan. Ia malah heran kenapa aku tidak sampai menangis. Di sepanjang jalan menuju masjid aku terus bersyukur dan mulutku tak lepas-lepas mengucap kalimat toyyibah.

Selepas rawatib Maghrib, Ficky begitu dahsyat merapal doa, amat khusyuk. Boleh jadi ia memohon sembari matanya berkaca-kaca, entahlah, aku di belakangnya. Kami beranjak pulang ke rumah. Tibalah saatnya kawanku, simpai keramat anak bungsu, menggelar sejadah, membuka handphone, meluncur menuju situs milik Kemenag, berdoa lagi, dan—“Selamat Saudara/i dinyatakan LOLOS dan berhak mendapatkan Beasiswa PBSB.” Bukan main euforia kami! Erat kami berpelukan, lalu Ficky bersujud, bersyukur, melangitkan puji atas pemberian-Nya yang kita pinta.

Padahal di jalan selepas jamaah, aku sudah overthinking duluan—bagaimana jika karibku tidak lolos dan hanya aku?! Mesti aku minta maaf. Namun itu hanyalah purbasangka. Sam’i Allahu liman hamidah.

Menjelang Isya, kawanku Mas Gib tiba. Ia bergaya layaknya seorang backpacker bermotor tua. Sama sepertiku, Mas Gib merupakan penunggang Bebek Jadul Astrea Grand keluaran tahun 90-an. Kami bersalaman. Ficky dan Ragib berpelukan. Aku tidak berpelukan, memang itulah pertalian persahabatan. But, not my style, hahaha.

Mas Gib membawa oleh-oleh keripik singkong khas kadaharan Bungbulang. Mamah Ficky yang baik hati menyuguhi Mas Gib secangkir teh panas. Kami bercakap-cakap, reuni kecil-kecilan, dan tak kuasa membagi bahagia mengenai kabar kelanjutan studiku dan Ficky. Sebagaimana seorang habib: mencintai dan dicintai.

Mas Gib turut bersuka cita dan nampak raut wajah bangga melihat sahabat mendapat kemenangan kecil dari kehidupan. Seorang guru pernah berkata bahwa habib/habaib tidak melulu terkait jalinan nasab para dzurriyah, namun sebutan bagi seseorang yang ikut berbahagia jika melihatku bahagia, ikut sedih melihatku sedih, rela dan ikhlas merogoh harta demi seseorang itu. Dan pertalianku dengan kawan-kawan di asrama bolehlah kukatakan pertalian para habaib. Solidaritas tanpa batas!

Adzan Isya berkumandang. Kami beranjak menuju masjid. Selepas jamaah, tak henti-henti kami berceloteh, “Anjir, asli Co! Mahasiswa nih?!”

Di rumah, Mamah Ficky yang baik hati telah menyiapkan makan malam. Sungguh entah ke sekian kalinya aku disuguhi makan oleh keluarga Ficky. Tidak sungkan kami lahap memakan hidangan, terutama Mas Gib. Ia mengambil nasi porsi kuli, haha memang aneh, perutnya kecil tapi makannya banyak. Itulah orang-orang tertentu yang diberkahi bakat makan.

Selepas makan malam, tentu saja membakar kretek. Tuhan, cabutlah kenikmatan enaknya merokok pada diriku. Aamiin. Tapi masih enak euy, terutama di momen semacam ini. Aku meminjam korek pada A Feri, kakak Ficky, yang dulu juga sempat mondok di pondok Cipasung. Kami sedikit shaering mengenai rencana jalur pendakian. A Fery pernah muncak ke Guntur juga.

Lalu, Aku dan Mas Gib mampir ke toko peralatan outdoor untuk menyewa beberapa peralatan yang belum lengkap. Beranjak pulang dari toko peralatan outdoor, aku dan Mas Gib rada berselisih paham mengenai jalur pendakian. Mas Gib ingin via Cikahuripan, sedangkan aku ingin via Citiis. Aku melihat info bahwa Cikahuripan termasuk wilayah cagar alam yang notabene tidak boleh diinjakkan kaki manusia. Namun, info resmi dan regulasi pemerintah mengenai jalur itu masih simpang siur.

Menurut Mas Gib, banyak kawan yang juga ke Guntur via Cikahuripan dan tidak apa-apa. Okei, aku ikut ke Cikahuripan soalnya Mas Gib leader-nya dan lebih dulu muncak ketimbang aku. Tiba di rumah Ficky, kami bakar rokok lagi, dan mencari info lebih lanjut mengenai jalur pendakian yang resmi di internet. Akhirnya, Mas Gib berkeputusan mengambil jalur Citiis saja. Sebab kita menghormati alam, meski perusak alam.

Ficky bergabung. Kita pun merencanakan perjalanan besok. Ngantuk. Ke WC, dan tidur.

Dini Hari, Sabtu, 08 Safar 1447 H

Sekitar pukul 3-an, Mas Gib lebih dulu terbangun oleh alarm hapeku yang bunyinya kayak tonggeret. Sebetulnya kami bertiga semalam sebelum tidur, setelah mendengar kajian Pak Fahrudin Faiz, kesulitan buat terlelap dan bikin badan jadi deep sleep. Entah oleh nyamuk, atau posisi yang juga tidak menemui titik wenak. Namun, semua berusaha! Merem saja walau badannya guling-gasah tidak mau diam. Aku pun tahu mereka belum tidur. Namun biarlah kita sama-sama berusaha, sebab besok perlu energi terbarukan untuk menaklukkan puncak tantangan.

Beranjak dari ranjang, kami bertiga ke WC umum. Ya! Beneran WC umum, karena rumah Ficky pinggir jalan provinsi, otomatis banyak para musafir yang kebelet, maka dibuatlah WC umum di rumah itu. Ficky lah penunggu WC itu, ia bisa menghasilkan ratusan ribu rupiah jika sedang musim mudik.

Setelah bebersih dan berpakaian tebal, Ficky telah menyeduh susu jahe. Kami sarapan, memanaskan mesin motor: Neng Asti motorku, dan Bruno milik Mas Gib, a.k.a Astrea Grand 90-an. Berpamitan kepada Mamah Ficky yang baik hati, lalu gasskeun!

Basecamp Bang Ucok — Jalur Citiis

Kami tiba di basecamp Bang Ucok jalur pendakian via Citiis sekitar pukul setengah 5-an, walau rada kesasar dan tetap kembali ke jalan yang benar. Begitulah, kawan, untuk menemukan jalan yang benar memang suka tersesat dulu.

Di basecamp, kami bertemu dengan rombongan asal Cikarang. Kami laksanakan perintah Subuh terlebih dulu di mushola sederhana yang terbuat dari bilik rotan. Sungguh Subuhan yang romantis; begitu dingin airnya, begitu asri suasananya, mudah-mudahan khusyuk ibadahnya dan diterima. Aamiin.

Sang leader mengisi registrasi, menyewa headlamp sebab kemarin lupa tidak nyewa, maklum manusia. Bahkan topi adventure lupa kita bawa. Padahal kita bertiga berencana pakai topi itu supaya kece. Mas Gib berencana menyewa di toko outdoor tapi lupa. Ficky sudah menyiapkannya di rumah tapi lupa tidak dibawa. Dan aku! Sudah membawanya hingga parkiran tapi lupa tidak dibawa summit. Aish! Sungguh, padahal belum tua. Kata Aa, ciri-ciri orang tua ada tiga: yang pertama mudah lupa, yang kedua dan ketiga lupa lagi.

Setelah Bang Ucok menjelaskan rute-rute trek pendakian, kami berangkat.

Subuh rebun, sebuah hari mula-mula. Langit mengaburkan awan, nun di ujung sana siluet mega kuning nampak indah. Gunung-gunung menjulang nampak jelas, pagi yang asri. Mas Gib memotret panorama kaki Gunung Guntur dan pegunungan Garut yang hendak disambut sunrise. Ah, untung ada IP.

Lalu sang leader itu memutar playlist The Changcuters. Aroma petualangan merebak mengitari alam raya pikiranku.

Dari pos ke pos

Menuju pos 1, jalurnya masih terbilang landai, penuh pasir putih, vegetasi alam bak hutan sabana kecil-kecilan. Di bawah sini sudah terlihat jelas puncak Guntur yang gagah perkasa itu. Di kejauhan nampak kilatan blitz, mungkin pendaki yang menggelar tenda dan sedang menangkap sunrise.

Beberapa percabangan untuk mencapai pos 1, aku sebagai anak IPS yang tidak serius belajar geografi rada bingung membaca arahan peta dari Bang Ucok. Untung ada Ficky. Meskipun ia follower alias pendaki pemula, otaknya lebih encer dariku dan dari Mas Gib, haha. Jadi, navigatornya siapa saja dah, yang penting yakin dan berada di bawah tanggung jawab leader.

Selanjutnya vegetasi alam mulai padat. Memasuki hutan geledegan, mengitari jalan setapak, dan melewati aliran air semacam curug kecil-kecilan. Tibalah di pos penjagaan. Biasanya setelah beres muncak dan kembali ke basecamp kita menyerahkan simaksi untuk lapor bahwa perjalanan telah selesai, tapi itu nanti.

Kami melanjutkan perjalanan dengan sedikit beristirahat, paling lama lima menit untuk minum dan sedikit mengatur napas. Mas Gib sudah beberapa kali menyundut rokok, aku engap dan tidak rokok-an sambil jalan, Ficky beberapa kali mengemut permen Kiss. Muach.

Track pendakian ini mulai terasa olahraganya, badanku mulai timbul butir keringat. Jaket, glove, dan headlamp kulepas. Sudah mau nanjak dan curam. Fire!

Tiba di pos 1 ficky bertanya di manakah pos nya? Kami menjawab pos di trek pendakian tidak melulu seperti pos ronda, namun hanya penunjuk batas antar jarak yang telah di tempuh. Kita rehat sejenak, melepas dahaga dan makan logistik ringan dulu ye kan, Mas Gib dan aku melahap protein dari sosis dan Ficky memakan roti tape.

Kami melanjutkan perjalanan dan mulai terjal, batuan besar dan jalur yang curam. Kali ini aku sudah mulai tidak berceloteh dan lebih fokus mengelola napas. Kita pun jadi sedikit bercakap-cakap. Trek terbilang sepi, mungkin karena kita nyubuh dan bukan weekend.

Singkat kata kita tiba-tiba saja tiba di pos 2, beberapa kali spot pemandangan ketinggian sudah terasa, beberapa kali diam sejenak untuk sekedar mengucap pujian atas karunia penglihatan dan hamparan bumi dan pasak pegunungan yang begitu megah. Beberapa kali dilanda capek, nyangsang di bawah pohon rindang, peluh mulai mengalir dan matari mulai naik dan terik. Alhamdulillah cerah.

Mas Gib memotret momen-momen kami menemukan spot Subhanallah. Ficky mulai merasakan tubuhnya di olahraga.

Tiba-tiba pula kita tiba di pos 3, entah kenapa tidak terasa. Sebuah pos yang akan menghantarkan kita menuju puncak ketinggian Mt. Guntur. Di pos 3 kita berkepentingan buat laporan kembali kepada Bapak penjaga pos dan diberikan semacam arahan serta instruksi bahwa trek berikutnya merupakan batuan dan pasir yang licin. Pintar-pintar perlu mengambil arah jalan serta pastikan keselamatan.

Selepas itu kita rehat sejenak, minum lagi, makan sikit-sikit, dan Mas Gib bakar rokok dulu ye kan. Ialah licin sehingga membikin beberapa kali tergelincir—hilang tumpuan, hilang pijakan untuk berdiri. Itulah trek Mt. Guntur: dua kali melangkah terasa satu kali melangkah, sebab kerikil semua!

Dan, Kawan, pada perjalanan itulah aku berorasi layaknya seorang aktivis yang rindu perlawanan. Emm, ya karena treknya sepi, ya supaya nggak jenuh aku yapping haha. “Bahwa perjalanan ini tidak ada apa-apanya ketimbang perjalanan menuju puncak tantangan kehidupan! Ayo, Kawan-kawan, bersemangatlah untuk mendaki puncak tantangan yang tidak seberapa ini!” Sekian orasiku ketika Ficky ngos-ngosan di bawah pohon dan Mas Gib sedang rokok-an.

Hampir tiba, ya! Hampir tiba kita di puncak pertama Mt. Guntur, lantas hamparan pasak gunung terlihat jelas di ketinggian ini, nun di ujung berdiri gagah puncak Cikuray. Aku menunggu dulu Ficky mengelola napas dengan baik dan benar, serta Mas Gib yang asyik foto-an. Dan Inilah, Kawan, tiba pula! Kami di puncak pertama Mt. Guntur.

Rada ngaso dulu ye kan, lalu bertemu pendaki lainnya, rada bahas sana-bahas sini, minum lagi, oiya! Fofotoan, ya! Kita kenyangkan hasrat mengabadikan momen ini walau sesungguhnya tidak ada yang abadi di alam yang fana ini. Betapapun fana, kita bersyukur Mas Gib menyandang iPhone. Setelah kenyang semua, sampai penuh galerinya, perjalanan kita lanjutkan menuju tugu Mt. Guntur yang terkenal di FYP TikTok itu.

Bahwa aa-aa tadi yang pas-pasan di jalan menyarankan untuk mengambil jalur dakian ke kanan, sebab kalau ke kiri bukan main licin dan banyak kerikil. Okeh, nuhun a sarannya. Kami naik-naik ke puncak gunung, benar! Tinggi-tinggi sekali, seperti kenaikan pajak negeri ini! (dimulai dari Pati ya, mbak). Maka tibalah tiga orang sahabat itu di salah satu puncak ketinggian Priangan Timur.

Mas Gib sudah duluan sih, lagi asyik ngaso. Kita bertiga langsung diem dulu dan menikmati teriknya matahari yang tidak seberapa dengan matahari di Yaumul Ba’ats, lalu memandang sekeliling 360 derajat, senang sekali sebab telah sampai di puncak tantangan kali ini. Dengan selamat dan anggota tubuh yang masih lengkap.

Tentu saja, ada iPhone, masa! Iya, tidak fofotoan. Mula-mulanya sendiri-sendiri dulu, lalu datanglah rombongan pendaki safety dari Cianjur yang berjaket gopcore dan berkacamata renang. Tentu saja sebagai sesama manusia yang juga beragama Islam kita mesti bersilaturahmi dan saling membantu, maka bergantianlah kita saling memfotokan rombongan masing-masing. Berpamitan, dan kembali pulang.

____________________________________________________________________

Pulang

Kuceritai kau Kawan, mengenai perjalanan pulang. Bahwa kerap kudengar perjalanan hiking bukanlah perjalanan menuju puncak tetapi perjalanan pulang dengan selamat.

Tentu saja, Ketika turun dari tugu Mt. Guntur menuju pos 3 terasa begitu mudah dan ringan kaki. Berbeda Ketika naik tadi. Namun, tetap Ketika turun perlu ketelitian mendaratkan kaki untuk bertumpu dengan baik dan yoi, sebab kalau-kalau gelincir maka terpeleset dan jatuh. Beberapa kami jatuh karena hilang tujuan, eh, hilang tumpuan maksudnya.

Tiba di pos 3 pada sekitar pukul dua belas Tengah hari. Bersiap-siap untuk memasak konsumsi. Menyalakan kompor portable yang Mas Gib sewa di Kadungora, memasak air menggunakan panci butut milik Ficky, lalu menyeduh mi instan. Biar instan kita kenyang semua, tak perlu lah kuceritai bagaimana prosesi memasak mi instan sebab kau sudah pada tahu semua.

Sebagaimana adat kebiasaan perokok senior, maka membakar signature lah Mas Gib dan Aku setelah makan, memesan kopi hitan dan susu putih serta berceloteh kesana-kemari. Sedang Ficky menjadi perokok pasif di pojokan, tapi tetap ikut dalam suatu wacana yang kita perbincangkan. Ya, mengenai isu konservasi, global warming dan lingkungan tanah adat yang digusur kita jadikan mosi diskusi kala itu. Haha, hoaks.

Waktu dzuhur telah tiba. Aku ke mushola dan tidak sengaja tertidur lama di sana. Setelah bangun aku memesan kopi hitam lagi, sedang Ficky dan Mas Gib tidur pula di mushola sehingga rencana turun ke basecamp pukul 1 melebar dan entah kapan. Sehingga aku membaca bukunya Pak Quraish Shihab sembari ngopi item pada suasana alam di siang hari.

Maka, ba’da ashar kami beneran turun ke basecamp. Hampir, kita tersesat Ketika di percabangan Ficky memilih Langkah yang keliru, semakin dalam semakin semakin asing jalur yang kita lalui, sehingga kita putar balik dan memilih jalan yang benar, yang lurus dan tidak dimurkai. Lagi-lagi perlu tersesat untuk menemukan jalan yang benar.

Sungguh perjalanan turun yang menyenangkan, terutama Ketika di vegetasi sabana, Ketika senja dan langit mengaburkan jingga, suasananya macam di movie lion king, kitapun dengan membahana menyanyikan awing mawek sepanjang perjalanan di sabana. Seperti tiga orang gila kurang kerjaan, woi! Orang gila ga punya kerjaan!

Tiba di basecamp kami istirahat cukup lama. Mas Gib ikut ngecas ke mbak-mbak sesame pengguna Iphone. Fofotoan juga dengan tunggangan kita, Bebek Jadul 90an lalu menyapa Zein seorang karib yang beralamat di Cipanas Garut melalui Personal Chat Whatssap, dekat betul dengan Mt. Guntur rumah orangtuanya itu, ya jelasnya dia belum punya rumah. kami berencana mampir untuk menguatkan silaturahmi dan ikut mandi sebab sudah sangat bau tidak karu-karuan. Zen menyambut kabar kami mau mampir selayaknya seorang habib. Ia pun sama sahabat yang kami temukan di bawah naungan pondok cipasung.

Tiba di kediaman Zen, mendengar suaranya menggelegar melalui toa mushola depan rumahnya itu. Ia sedang adzan. Kita tiba bertepatan pada waktu maghrib, sehingga langsung menuju mushola dan bertemu Zen di sana.

Setelah magriban, kita dipersila masuk kedalam rumah orangtuanya itu. Disambut layaknya tamu, menyalami mamah Zein yang baik hati lalu disuguhi martabak manis dan telur, sungguh varian lengkap! Kami makan tanpa sungkan Ketika mamahnya Zen undur diri, kami ke kamarnya Zen lalu makan martabak di sana sambil ngopi item, lengkap masing-masing satu cangkir. Kami berceritalah kepada Zen mengenai apa yang telah terjadi pada diri masing-masing selepas menunaikan sekolah formal di Aliyah dan non-formal di pondok Cipasung, ya meskipun belum lama namun jelas sudah banyak perubahan di sana-sini.

Mas Gib bercerita mengenai kelanjutan studinya yang melanjutkan D3 di Unsil, Aku dan Ficky yang merantau serta Zen yang akan berangkat Ke Jepang tahun depan untuk studinya, serta bagaimana ia kemudian menjalin pertauatan dengan Perempuan, hehe, asmara-asrama remaja, Dewasa! Oiya Mas Gib baru putus dengan pacarnya, tapi silaturahminya tidak putus kok, hehe. aku dan ficky menjadi jomblo syuhada. Aamiin, mudah-mudahan.

Setelah ngalor-ngidul kesana kemari, satu persatu izin mandi meminjam kamar mandi zen, aku sih minta sampo juga ya. Terus deh kita isya’an dan berencana pamit undur diri untuk Kembali ke kediaman mamah Ficky. Tapi ternyata Kawan, mamah Zein yang baik hati telah menyuguhkan makanan yang perlu kita santap, sungguh demikian kita sulit menolak nasi. Maka makanlah kita dengan lahap. Setelah kenyang semua barulah kita pamit undur diri dan memohon maaf kepada mamahnya Zein sebab datang tak di undang pulang sangat cepat. Sudah makan, sudah mandi, sudah ngopi, sudah segalanya, sungguh sangat enak, jadi ingin Kembali bertandang hehe. Sebelum mangkat kami fotoan dulu ye kan, kapan lagi coba kita bakal berjumpa sebab masing-masing telah memilih jalan yang berbeda.

Pulanglah kita menuju rumah mamah Ficky di antara Kota Bandung dan Kabupaten Garut. Aku pegal mengendalikan Asti, maka kuserahkan sementara kepada Ficky, ia yang pengalamannya lebih aktif mengendarai motor metik sungguh amat berhati-hati mengendarai Asti membikin aku gregetan.

Alhamdulillah kita tiba di rumah mamah ficky pada sekitar pukul 10 malam dan badan kami amat lesu, ingin segera merebahkan badan menuju belaian Kasur. Maka tidurlah Kawan, besok petualangan baru mungkin menanti.

Semarang, 16 Agustus 2025

Writer : Arifin Faturohman

 

Loading

Perkuat Kapasitas Pengurus: CSSMoRA UIN Walisongo Gelar Kegiatan Upgrading Pengurus

Sebagai upaya memperkuat kapasitas dan profesionalitas pengurus, CSSMoRA menyelenggarakan kegiatan Upgrading Pengurus 2025 di Gazebo YPMI Al Firdaus, Semarang, pada Sabtu, 19 Oktober 2025. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh pengurus aktif dengan tujuan menumbuhkan semangat kebersamaan sekaligus memperdalam pemahaman terhadap nilai dan arah gerak organisasi.

Kegiatan ini menghadirkan dua pemateri utama yang memberikan bekal penting bagi para pengurus. Materi pertama bertema “Penguatan Tujuan dan Identitas Organisasi” disampaikan oleh Muhammad Irkham Maulana, M.H., yang menekankan pentingnya konsistensi pengurus dalam menjaga marwah dan cita-cita organisasi. Ia juga mengingatkan bahwa setiap anggota memiliki peran strategis dalam mewujudkan visi bersama.

Sementara itu, materi kedua disampaikan oleh Alamul Yaqin, M.H., dengan tema “Manajemen Waktu dan Profesionalitas Pengurus.” Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan mengatur waktu agar setiap program dapat berjalan efektif dan efisien. Menurutnya, profesionalitas bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga tentang sikap dan etika dalam berorganisasi.

Suasana kegiatan berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta terlihat antusias mengikuti setiap sesi, berdiskusi, serta menyampaikan pertanyaan seputar tantangan yang dihadapi dalam menjalankan amanah kepengurusan.

Ketua Umum CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, Asyraf Zofir Wafa, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini menjadi langkah awal bagi pengurus untuk terus tumbuh dan berproses secara bersama.

Upgrading ini bukan sekadar ajang pembekalan, tetapi momentum bagi kita semua untuk menyatukan visi, memperkuat komitmen, dan belajar bagaimana menjadi pengurus yang profesional sekaligus berjiwa pengabdian. Harapannya, setelah kegiatan ini, semangat dan sinergi antar-pengurus bisa semakin kuat,” ujar Asyraf.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh pengurus CSSMoRA semakin solid, berkomitmen tinggi, dan mampu mengelola organisasi dengan lebih baik. Kegiatan ditutup dengan refleksi bersama dan harapan agar semangat pengabdian terus menyala di setiap langkah pengurus.

Loading