Edukasi Ilmu Falak untuk Pelajar: CSSMoRA Adakan Roadshow Kelas Falak di MA Nurussalam Ngaliyan

Divisi P3M CSSMoRA UIN Walisongo menyelenggarakan Roadshow CSSMoRA Falak Class pada Sabtu, 1 November 2025 di MA Nurussalam Ngaliyan dengan mengusung tema “Eksplorasi Ilmu Falak Astronomi Islam untuk Kebutuhan Ibadah.” Kegiatan ini merupakan upaya memperluas edukasi mengenai ilmu falak bagi pelajar tingkat menengah, khususnya dalam kaitannya dengan praktik ibadah seperti penentuan awal waktu sholat dan arah kiblat. Kegiatan ini diinisiasi melalui open recruitment internal CSSMoRA untuk mengajak para relawan yang berkomitmen dalam kegiatan pengabdian masyarakat. Peserta kegiatan ialah siswa-siswi kelas XI MA Nurussalam yang mengikuti kegiatan dengan antusias.

Acara dimulai dengan sambutan dari Ketua CSSMoRA UIN Walisongo, saudara Asyraf Zafir Wafa, yang menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam menjaga keberlanjutan tradisi keilmuan Islam di tengah perkembangan teknologi modern. Sambutan dilanjutkan oleh Kepala MA Nurussalam Ngaliyan, yang menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran tim CSSMoRA. Beliau menyatakan bahwa :

“Kami sangat bersyukur telah didatangi mahasiswa dari CSSMoRA UIN Walisongo yang ingin membagikan ilmunya terkait keilmuan falak yang kehadirannya tanpa diundang di sekolah ini dan ini menunjukkan keikhlasan yang luar biasa datang di sekolah kami. Serta menjadi motivasi bagi anak-anak didik kami yang ingin melanjutkan pendidikannya setelah lulus dari sekolah ini, syukur-syukur bisa mendapatkan beasiswa seperti kakak-kakak yang berada di sini.”

Sesi materi kemudian terbagi menjadi tiga bagian, yang masing-masing disampaikan oleh para pemateri dari CSSMoRA. Materi pertama, berjudul Pengenalan Ilmu Falak, disampaikan oleh saudari Nurilhani, yang menjelaskan kedudukan ilmu falak dalam tradisi Islam dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Materi kedua, mengenai Awal Waktu Sholat, disampaikan oleh saudari Sabilatun Nazwa, menjabarkan metode penentuan waktu sholat melalui pendekatan perhitungan astronomis. Selanjutnya, materi ketiga, mengenai Arah Kiblat, dibawakan oleh saudara Fathan Hasan Ali, yang menguraikan metode pengukuran arah kiblat baik tradisional maupun modern.

Setelah sesi materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik penggunaan alat-alat falak sebagai wahana pembelajaran langsung. Sesi pertama adalah praktik Mizwala dipandu oleh saudara Awalul Farhan Yestra, diikuti dengan praktik Theodolite yang dipandu oleh saudara Ais Nur Riski. Pada sesi ini, peserta terlihat aktif berdiskusi, mencoba mengoperasikan alat, serta mencatat hasil pengamatan mereka.

Di sisi lain, para panitia yang terlibat juga memperoleh pengalaman berharga. Salah satu panitia, Intan Muthoharoh, menyampaikan kesan bahwa:

“Pastinya senang bisa bermanfaat bagi orang lain. Selain itu, tujuan ikut juga ingin mengukur seberapa jauh kemampuan saya sendiri baik dalam bersosialisasi, public speaking, maupun tentang materi. Tak lupa juga saya ucapkan terima kasih kepada P3M yang telah mengadakan proker ini dan membuka peluang kepada selain P3M untuk bisa berpartisipasi.”

Adapun salah satu peserta, Aristin, menyampaikan bahwa kegiatan ini memberi inspirasi untuk mempelajari lebih dalam hubungan kosmos dengan ajaran Islam. Ia menyampaikan harapannya agar komunikasi antara para siswa dan komunitas atau mahasiswa Ilmu Falak dapat terus terjalin ke depannya.

Dengan demikian, kegiatan Roadshow CSSMoRA Falak Class ini telah terlaksana dengan baik dan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak: mahasiswa sebagai fasilitator ilmu dan para pelajar sebagai penerima pengetahuan yang memiliki rasa ingin tahu tinggi.

 

Writter : Ahmad Misbakhus Surur

 

Loading

“Intersellar” : Menembus Batas Ruang dan Waktu

    • Judul          : Interstellar
    • Sutradara  : Christoper Nolan
    • Produser   : Emma Thomas; Christoper Nolan;  Lynda Obst
    • Durasi       : 169 menit

Interstellar adalah sebuah film fiksi ilmiah yang menceritakan bahwa bumi dimasa depan akan mengalami ketidakseimbangan ekosistem akibat badai debu yang menerjang daratan. Semua makhluk hidup bergantung hanya kepada hasil pertanian—termasuk Cooper,  mantan pilot NASA yang tinggal bersama kedua anak dan ayah mertuanya. Anak perempuannya yang bernama Murph, percaya bahwa dirumah mereka terdapat sosok tak kasat mata yang berusaha berkomunikasi dengan mereka melalui debu-debu yang membentuk sebuah pola. Namun, ternyata pola-pola tersebut menuntun Murph dan ayahnya ke pangkalan rahasia milik NASA.

Disana mereka bertemu dengan Profesor Brand, ia mengungkapkan kepada Cooper bahwa perjuangan manusia bertahan hidup dalam keadaan yang amat mengerikan ini adalah kesia-siaan. Ia mengungkapkan dua rencananya dan menawarkan kerja sama kepada Cooper. Rencana yang pertama, menciptakan penggerak anti gravitasi untuk mendorong permukiman diluar angkasa. Rencana yang kedua, menerbangkan embrio beku untuk menetap di planet baru yang layak huni. Akhirnya Cooper menerima tawaran dari Profesor Brand untuk menjalankan rencana kedua meskipun keputusannya ini sangat mengecewakan Murph. Pada misi ini ia ditemani tiga astronot lainnya, yaitu Dr. Amelia Brand, Dr. Romily dan Dr. Doyle.

Mereka menuju tiga planet yang berpotensi layak huni berdasarkan laporan astronot sebelumnya yang kini tak kunjung kembali ke bumi. Planet pertama yang mereka kunjungi adalah planet air. Waktu di planet ini berjalan amat lambat yang mana satu jam disana setara dengan tujuh jam di bumi. Misi di planet ini berakhir dengan bencana dan mereka kehilangan salah satu anggota timnya. Planet kedua yaitu planet es, pada misi ini mereka mengalami sebuah konflik yang hampir merenggut nyawa mereka akibat astronot sebelumnya tidak jujur dalam menyampaikan kondisi planet tersebut. Dengan persediaan bekal yang semakin menipis, Copper memutuskan untuk menuju ke planet ketiga yang mana untuk menuju kesana mereka harus masuk kedalam sebuah lubang hitam berbahaya.

Akibat perbedaan waktu yang terlampau jauh, Murph dan kakak laki-lakinya kini sudah dewasa. Murph bergabung dengan NASA dan membantu Profesor Brand untuk menyelesaikan persoalan yang bertahun-tahun tak kunjung selesai mengenai bagaimana manusia secara masal dapat keluar dari tarikan gravitasi. Profesor Brand semakin tua dan jatuh sakit, ia hanya berharap rencana keduanya berhasil dan menusia dapat merintis kehidupan baru di planet yang lebih baik dari bumi.

Setelah masuk kedalam lubang hitam tersebut Cooper berada disebuah tempat yang memungkinkan ia berinteraksi dengan berbagai titik di masa lalu. Cooper mengirimkan kode morse untuk bisa berkomunikasi dengan Murph yang akhirnya dapat membantu Murph menyelesaikan persoalan terkait misi penyelamatan manusia. Setelah berhasil membantu menyelesaikan persoalan tersebut, Cooper diselamatkan dan dibawa kembali ke bumi. Ia akhirnya bertemu kembali dengan putrinya yang kini telah lanjut usia. Copeer hanya mengucapkan kata-kata perpisahan sebelum akhirnya kembali ke luar angkasa untuk berusaha membangun sebuah kehidupan baru di planet ketiga.

 

Written : Aisyah Cahya Maharani

Loading

Jawaban Atas Tuduhan Feodalisme di Pesantren: Menilik Kembali Relasi Kiai dan Santri di Era Modernisasi

Dewasa ini, jagat maya tengah disibukkan dengan isu “feodalisme di pesantren”. Banyak orang dengan entengnya menggunakan term tersebut, seakan-akan mereka memvisualkan dunia pesantren sebagai suatu lembaga yang memasung independensi santri dalam berpikir, mengkultuskan kiai, dan melestarikan ketimpangan hierarki sosial. Narasi ini terus bergulir tanpa disertai filter akademik yang pasti—naasnya, mereka yang awam terhadap tradisi keilmuan di pesantren melahapnya secara mentah-mentah.

Namun tepatkah sebutan “feodalisme” ini dilekatkan dengan pesantren? Ataukah justru ada kekeliruan mendasar dalam cara kita memandang relasi kiai dan santri yang telah terjalin ratusan tahun tersebut?

Pesantren dan Jejak Historisnya

Sebagai lembaga Pendidikan islam tertua di Nusantara, pesantren lahir dari akulturasi tradisi keilmuan islam yang dibawa oleh para ulama dengan budaya lokal masyarakat Jawa dan Nusantara. Zamakhsyari Dhofier dalam karyanya yang berjudul “Tradisi Pesantren” (1982) mengatakan bahwa pendidikan pesantren dibangun di atas fondasi relasi spiritual kiai dan santri—bukan relasi politik atau ekonomi.

Dalam dunia pesantren, kiai bukanlah sosok penguasa dengan santri sebagai rakyatnya. Kiai merupakan figur moral dan spiritual serta mata air keberkahan ilmu, dan santri adalah murid yang berkhidmah dalam proses menuntut ilmu. Relasi ini bersifat ukhrawi (spiritual) dan kultural, bukan material sebagaimana relasi feodal antara bangsawan dan petani di Eropa abad pertengahan.

Dalam sejarahnya, pesantren justru menjadi pusat pembebasan masyarakat dari kebodohan dan kolonialisme. Tokoh-tokoh seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, dan KH. Wahid Hasyim mendirikan gerakan pendidikan yang egaliter dan terbukti membangkitkan kesadaran nasional. Maka, menuduh pesantren sebagai lembaga feodal sama saja dengan menafikan kontribusinya terhadap sejarah kemerdekaan bangsa.

Feodalisme: Konsep yang Salah Alamat

Istilah “feodalisme” merujuk pada sistem sosiopolitik yang berkembang di Eropa Abad Pertengahan. Dalam sistem ini, seluruh tanah secara teoretis dianggap milik raja. Raja kemudian mendelegasikan atau “meminjamkan” sebagian tanah tersebut, yang dikenal sebagai fief atau feodum, kepada kaum bangsawan yang disebut vassal. Sebagai imbalannya, para vassal ini bersumpah untuk memberikan layanan militer dan menunjukkan kesetiaan kepada raja atau tuan (lord) yang lebih tinggi. Dengan demikian, feodalisme pada intinya adalah sebuah struktur pendelegasian kekuasaan dari otoritas pusat kepada elite-elite lokal untuk mengendalikan wilayah yang luas melalui suatu bentuk kemitraan.

Secara ontologis, menjadikan konsep ini sebagai kacamata untuk melihat pesantren jelas suatu kekeliruan dan kecerobohan. Tidak ada relasi kepemilikan tanah atau eksploitasi tenaga kerja antara kiai dan santri. Mengabdi atau berkhidmah bukanlah suatu paksaan bagi santri, melainkan tindakan sukarela yang ia pilih dengan sadar sebagai bagian tradisi dalam pencarian ilmu. Dalam khidmah ini terkandung tiga elemen penting, yaitu ta’dzim (penghormatan), tabarruk (mencari keberkahan), dan tazkiyah (penyucian diri).

Martin van Bruinessen (1995) menegaskan bahwa struktur sosial pesantren memang bersifat karismatik, namun bukan feodal. Karisma kiai tidak bersumber dari kekuasaan duniawi, melainkan dari otoritas moral, ilmu, dan spiritualitas yang diakui oleh masyarakat. Dengan kata lain, relasi ini berlandaskan pengaruh etis, bukan kekuasaan feodal.

Antara Adab dan Subordinasi

Salah satu kesalahpahaman terbesar dalam menilai pesantren adalah kegagalan membedakan antara “adab” dan “subordinasi”. Islam memandang bahwa ilmu tidak akan bermanfaat tanpa dengan disertai adab. KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim menegaskan bahwa adab kepada guru adalah jalan pembuka keberkahan ilmu. Hal ini sejalan dengan ajaran para ulama salaf, seperti Imam Malik yang enggan menjawab pertanyaan di depan makam Rasulullah SAW karena rasa hormatnya.

Maka, ketika santri mencium tangan kiai, berdiri ketika beliau lewat, atau tidak berani memotong pembicaraan, itu bukan tanda feodalisme. Itu ekspresi adab, sebagaimana murid menghormati gurunya di lembaga manapun. Bedanya, pesantren menempatkan nilai spiritual di atas nilai formal.

Tradisi yang demikian ini bukan tanpa dasar. Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dalam kitabnya Mafahim Yajib an Tushahhah telah menuturkan riwayat-riwayat tentang adab dan praktik tabarruk para sahabat kepada nabi. Dengan demikian, menganggap semua bentuk penghormatan sebagai tanda penindasan justru memperlihatkan cara pandang sekuler yang menolak dimensi spiritual dalam bersosial. Pesantren, sebaliknya, mengajarkan keseimbangan antara kebebasan berpikir dan adab kepada Kiai sebagai samudera pengetahuan.

Kritik Tetap Diperlukan

Meski demikian, tak bisa dipungkiri bahwa di sebagian kecil pesantren memang muncul praktik yang menyimpang: penyalahgunaan otoritas, ketertutupan informasi, atau kekerasan yang mengatasnamakan disiplin. Praktik seperti ini patut dikritik secara terbuka karena bertentangan dengan ruh pendidikan Islam.

Meskipun demikian, kita tak mampu mengelak bahwa memang ditemukan praktik-praktik menyimpang di sebagian kecil pesantren. Mulai dari penyalahgunaan otoritas, isolasi informasi, hingga kekerasan yang overstep dengan mengatasnamakan pendisiplinan. Disinilah peran kritik sangat diperlukan sebagai bahan evaluasi sehingga ruh pendidikan islam dapat dihadirkan kembali.

Namun, menyimpulkan seluruh pesantren sebagai lembaga feodal akibat ulah oknum adalah generalisasi yang tidak adil. Sama seperti kita tidak mungkin mengatakan universitas korup hanya karena ada satu dosen yang menyalahgunakan jabatan. Memberikan kritik haruslah proporsional, yaitu dengan membedakan antara kesalahan sistemik dan kesalahan individu.

Justru, banyak pesantren hari ini telah melakukan modernisasi sistem tanpa kehilangan ruh tradisinya. Ada yang mengembangkan pendidikan vokasi, digitalisasi administrasi, hingga integrasi kurikulum sains dan agama. Pesantren juga melahirkan generasi kritis seperti Gus Dur, KH. Sahal Mahfudz, Gus Mus atau para cendekiawan lainnya yang sangat terbuka terhadap dialog intelektual

Sebuah Refleksi

Pesantren bukanlah menara gading yang anti kritik. Namun, dalam menilai pesantren, kita perlu memakai lensa yang adil dan proporsional. Feodalisme adalah sistem penindasan sosial, sedangkan pesantren adalah sistem pendidikan moral dan spiritual. Dua hal ini berdiri di kutub yang berlawanan.

Tuduhan feodalisme terhadap pesantren sering kali muncul dari kegagalan memahami kearifan relasi keilmuan dalam Islam. Adab dianggap sebagai pengekangan, padahal justru disitulah letak kemerdekaan sejati: kemerdekaan dari kesombongan intelektual dan ego pribadi. Dalam dunia yang semakin permisif ini, pesantren mengajarkan bahwa kebebasan berpikir hanya bermakna bila disertai tanggung jawab moral.

Seperti kata KH. Mustofa Bisri (Gus Mus):

“Santri itu bukan orang yang tak boleh berbeda, tapi orang yang tahu cara berbeda dengan hormat.”

Dan mungkin disitulah letak keindahan tradisi pesantren — sebuah ruang di mana ilmu, adab, dan kebebasan mampu berjalan beriringan.

 

Written : Ahmad Misbakhus Surur

Loading

Tingkatkan Skill Kepenulisan Anggota, CSSMoRA UIN Walisongo Selenggarakan Pelatihan Jurnalistik di MACC Semarang

 

Mengusung tema “Merawat Tradisi Literasi, Membangun Genarasi dengan Inspirasi”, CSSMoRA UIN Walisongo gelar pelatihan jurnalistik di Mirae Asset Sekuritas Indonesia Semarang, Sabtu 11 Oktober 2025. Diikuti 32 peserta, kegiatan ini bertujuan untuk melatih dan memperkuat ketrampilan menulis, khususnya dalam rangka mempersiapkan penyusunan Majalah Zenith edisi terbaru.

Kegiatan ini terbagi menjadi 3 Sesi, yaitu penyampaian materi, menulis bersama, dan liputan. Sesi pertama diawali dengan penyampaian materi oleh Dr. Muhammad Nurkhanif, M.S.I. yang dipandu oleh saudara Marwan Aldi Pratama. Materi pertama ini mengkaji seputar tanggapan saintifik atas gagasan KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal). Topik ini tentunya sangat penting sebagai landasan informasi dalam penulisan majalah Zenith terbaru yang akan mengangkat topik serupa. Materi kedua disampaikan oleh Muhammad Daviq Nuruzzuhal dan dipandu oleh saudara Ahmad Misbakhus Surur, yang mengupas seluk beluk penulisan majalah. Kajian ini menjadi modal pokok bagi para kru dalam penulisan majalah nantinya.

Sesi selanjutnya adalah menulis bersama, yang mana seluruh peserta diminta menuliskan sebuah cerpen yang nantinya akan dikodifikasi dalam bentuk buku ber-ISBN. Sesi ini berdurasi sekitar 2 jam, namun terasa menyenangkan dan para peserta terlihat sangat antusias menuliskan karya terbaiknya.

Kegiatan ini dipungkasi dengan liputan di 2 tempat, yaitu Kota Lama dan Stasiun Tawang Semarang. Para peserta dibagi dalam beberapa kelompok yang nantinya akan melakukan wawancara seputar tema yang telah ditentukan. Hasil dari wawancara ini ditulis dalam bentuk artikel yang nantinya akan diupload di website CSSMoRA UIN Walisongo. Inilah sesi yang ditunggu-tunggu karena disamping mengerjakan tugas, para peserta juga dapat menikmati suasana malam Kota Semarang yang indah dan syahdu.

Koordinator Divisi Jurnalistik, Muhammad Mahmud Sidiq menyampaikan harapannya;

“Melalui kegiatan ini, semoga kita dapat terus bertumbuh dan membuahkan lebih banyak lagi karya yang dapat bermanfaat bagi semua orang”.

Writter : Ahmad Misbakhus Surur

Loading