Kupas Dampak Karhutla dan Ancaman Pencemaran Udara

SEMARANG — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya persoalan api yang membakar kawasan hutan. Di balik kepulan asapnya, terdapat ancaman yang lebih luas terhadap lingkungan dan kualitas udara. Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam Ngopi CSSMoRA (Ngobrol Pintar) #1 yang digelar pada Sabtu (3/10/2026) di Gazebo YPMI Al-Firdaus.

Mengangkat tema “Di Balik Kabut Asap: Karhutla dan Ancaman Pencemaran Udara”, kegiatan ini menjadi ruang bagi anggota CSSMoRA UIN Walisongo Semarang untuk membicarakan persoalan lingkungan dari berbagai sudut pandang. Sebanyak 42 anggota aktif turut mengikuti kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB tersebut.

Diskusi menghadirkan M. Ridho Purnomo, S.T., fresh graduate Teknik Lingkungan, sebagai narasumber. Ia mengajak peserta memahami kebakaran hutan dan lahan tidak hanya sebagai peristiwa pembakaran, tetapi juga sebagai persoalan lingkungan yang dapat berdampak terhadap kualitas udara dan kehidupan masyarakat.

Penyampaian materi kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Sejumlah peserta turut menyampaikan pertanyaan dan pendapat terkait persoalan karhutla serta dampaknya. Suasana diskusi semakin berkembang ketika peserta dibagi menjadi dua kelompok untuk membahas pertanyaan yang telah diberikan oleh narasumber.

Masing-masing kelompok kemudian mempresentasikan hasil diskusinya. Kelompok lain diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan sehingga terjadi pertukaran gagasan antarpeserta. Meskipun materi yang disampaikan cukup saintis dan sempat membuat beberapa peserta mengalami kesulitan dalam memahami pembahasan, diskusi tetap berlangsung interaktif.

Bagi Khalifatus Saadah, anggota Departemen PSDM sekaligus penanggung jawab Ngopi 1, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga ruang untuk memperluas wawasan dan melihat isu yang sedang terjadi dari perspektif yang lebih beragam.

“Acara Ngopi merupakan salah satu kegiatan yang positif karena bisa menjadi wadah untuk menambah wawasan, bertukar pikiran, dan berdiskusi mengenai isu-isu yang sedang terjadi. Melalui topik yang kami angkat, kita bisa mendapatkan pengetahuan baru mengenai dampak karhutla terhadap lingkungan dan kualitas udara. Tentunya, dalam proses persiapannya masih ada beberapa kekurangan dan kendala, tetapi hal tersebut bisa menjadi bahan evaluasi agar kegiatan Ngopi selanjutnya dapat berjalan lebih baik,” ujar Khalifatus Saadah.

Sementara itu, Ziana Ayu selaku moderator Ngopi #1 menilai diskusi berjalan dalam suasana yang santai, tetapi tetap mampu mempertahankan pembahasan yang berbobot. Menurutnya, keterlibatan peserta menjadi salah satu hal yang membuat diskusi lebih hidup.

“Menurut saya, diskusi NGOPI kali ini berjalan baik. Suasananya santai dan cair, tetapi pembahasannya tetap berbobot. Para peserta aktif bertanya dan berani menyampaikan pendapat, sehingga tema karhutla dengan pendekatan triple bottom line terasa lebih hidup dan mudah dipahami. Begitu juga dengan pematerinya yang sangat antusias untuk menengahi dan membantu mengkritisi berbagai pendapat peserta,” ujar Ziana.

“Yang paling berkesan, semua pihak saling mendengarkan dan menghargai, sehingga banyak gagasan segar yang muncul dari diskusi ini,” lanjutnya.

Kegiatan kemudian ditutup dengan closing statement dan sesi foto bersama. Meski berlangsung dalam waktu yang relatif singkat, Ngopi 1 meninggalkan ruang refleksi bagi peserta mengenai persoalan karhutla dan dampaknya terhadap lingkungan.

Melalui kegiatan ini, Ngopi CSSMoRA diharapkan tidak berhenti sebagai agenda untuk memenuhi program kerja. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bertukar pikiran, berbagi pengalaman, memperluas wawasan, serta membangun keberanian anggota untuk membicarakan berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.

Ngopi CSSMoRA pun diharapkan dapat terus menjadi ruang diskusi yang menghadirkan pembahasan yang dekat dengan kehidupan, tetapi tetap kritis dan berbobot.

 

Loading