Pada Sabtu, (08/10). Saya dan teman-teman CSSMoRA  mengadakan suatu acara di sebuah Pondok di daerah gunung pati semarang.  Disela-sela rundown acara, saya memutuskan untuk salat di mushalla pondok tersebut. Awalnya tiada masalah yang berarti. Tempatnya bersih, suci, airnya juga enak. Tapi, setelah saya cek kiblat untuk salat, ternyata musala tersebut melenceng 43 derajat dari arah kiblat.

Pas pertama kali saya lihat bangunannya, langsung terlintas di pikiran saya bahwa bangunan itu merupakan bangunan peninggalan Belanda. Dinding-dinding tebal dihiasi dengan cat putih yang sudah menguning menandakan bangunan tersebut telah berdiri kokoh sejak lama. Ejaan jadul juga terpampang di atas pintu masuk bertuliskan “Goeboek Pentjeng”. Hal ini menambah alasan saya untuk semakin yakin bahwa bangunan itu telah ada sejak zaman Belanda.

Saat menelusuri komplek pondok tersebut, saya menemukan beberapa hal menarik. Seperti benda-benda unik, ukiran-ukiran kaligrafi kuno dan lain sebagainya. Suasana yang temaram membuat saya berspekulasi lagi bahwa pondok tersebut merupakan pondok Tarikat (Sufi).

Sebagaimana pondok Sufi, pastinya memiliki musala sebagai tempat menyepi. Musala tersebut terletak di sebelah kiri halaman kediaman pengasuh. Tempatnya tak begitu besar, mungkin hanya muat 15 sampe 20 saja. Tetapi saat memasukinya, hawa ketenangan khas-khas sufi begitu terasa.

Awalnya nyaman saja berada di musala. Tapi hal itu seketika berubah ketika saya mengeluarkan aplikasi kompas kiblat dari HP. Saya begitu kaget ketika arah kiblat yang dituju oleh kompas saya melenceng ke kanan. Awalnya saya tidak percaya karena melencengnya begitu jauh. Tapi setelah saya mengecek ulang sembari memincingkan mata, ternyata hal tersebut benar.

Arah kiblat semarang jika kita ukur secara umum, itu mengarah kepada Azimuth 294 derajat UTSB. Sedangkan kompas saya menunjukkan musala menghadap kiblatnya sebesar 251 derajat. Maknanya, kiblat dari musala tersebut melenceng sebanyak 43 derajat. Caranya adalah dengan 294 dikurangi 251 =43. Mengukur kiblat dengan kompas memang terkadang meleset. Akan tetapi kemelencengan piranti konpas paling hanya setitar 1 sampai 2 derajat saja.

Dalam menghadap kiblat kebanyakan Ulama memperbolehkan menghadap Jihhatul kakbah (arah Kakbah) atau lebih mudahnya maksimal kemelencengan 45 derajat. Dalam kita Bughyah al-Mustarsyidin disebutkan:

مَحَلُّ اْلإِكْتِفَاءِ بِالْجِهَّةِ عَلَى الْقَوْلِ بِهِ عِنْدَ عَدَمِ الْعِلْمِ بِأَدِلَّةِ الْعَيْنِ إِذِ الْقَادِرُ عَلَى الْعَيْنِ إِنْ فُرِضَ حُصُوْلُهُ بِاْلإِجْتِهَادِ لاَ يُجْزِيْهِ اسْتِقْبَالُ الْجِهَّةِ قَطْعًا وَمَا حَمَلَ الْقَائِلِيْنَ بِالْجِهَّةِ ذَلِكَ إِلاَّ كَوْنُهُمْ رَأَوْا أَنَّ اسْتِقْبَالَ الْعَيْنِ بِاْلإِجْتِهَادِ مُتَعَذِّرٌ.

“Cukup menghadap arah (Ka’bah ke barat saja, misalnya) adalah saat tidak mengetahui tanda-tanda keberadaan bentuk fisik Ka’bah (a’inul Ka’bah). Orang yang mampu mengetahui Ka’bah bila diandaikan bisa dihasilkan dengan berijtihad, maka ia tidak cukup menghadap arah saja secara pasti (tanpa khilafiyah). Tidak ada yang mendorong ulama yang membolehkan menghadap ke arah Ka’bah melainkan mereka memandang bahwa menghadap Ka’bah dengan berijtihad itu sulit dilakukan.(Abdurrahman Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin [Mesir: Musthafa al-Halabi, 1371 H/1952 M)], h. 39-40)

Tetapi dalam konteks sekarang, mencari posisi kiblat sangat mudah dilakukan. Bertebaran aplikasi kompas kiblat di berbagai perangkat. Sehingga hampir tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak tahu arah kiblat. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, apakah menghadap Jihhatul Kakbah pada masa sekarang masih berlaku seperti yang tertera di kitab tersebut? Lalu bagaimana sikap kita bila mengetahui kenyataan kemelencengan tersebut?

Daviq Nuruzzuhal (CSSMoRA UIN Walisongo 2022)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *