Jejak Abadi Fatimah al-Fihri: Perempuan di Balik Peradaban Dunia

Sebuah refleksi dalam semangat International Women’s Day

Ngomongin soal peradaban, pendidikan hampir selalu jadi fondasi utamanya. Dari ruang-ruang belajar sederhana, seringkali lahir gagasan-gagasan besar yang akhirnya mengubah arah dunia.

Karena itu, ketika membahas pusat pendidikan tertua, kebanyakan dari kita langsung kepikiran Eropa. Entah itu Oxford, Bologna, atau mungkin Cambridge. Rasanya wajar. Nama-nama itu memang sudah sering muncul dalam sejarah pendidikan dunia, sampai-sampai kita merasa semuanya bermula dari sana.

Tapi siapa sangka, jauh sebelum itu semua, sudah berdiri sebuah pusat ilmu di Fez, Maroko. Dan yang lebih mengejutkan, yang membangunnya bukan raja, bukan pula ilmuwan laki-laki. Melainkan seorang Muslimah.

Namanya mungkin jarang kita dengar di dunia akademik sekarang, bahkan masih terasa asing bagi sebagian dari kita. Namun jejak yang ia tinggalkan tetap berdiri kokoh melintasi waktu, menembus generasi, dan terus memberi makna bagi dunia.

Dialah, Fatimah al-Fihri.

Awal Perjalanan Seorang Perempuan yang Mempunyai Mimpi Besar

Fatimah binti Muhammad al-Fihriya al-Qurashiyah lahir sekitar tahun 800 M di Kairouan, wilayah yang kini masuk ke dalam Tunisia tengah. Ia berasal dari keluarga kaya, keturunan bangsawan, menjunjung tinggi ilmu, serta memiliki jiwa sosial yang tinggi dan kepedulian terhadap sesama.

Pada masa Raja Idris II di awal abad ke-9 M, bersama keluarganya ia kemudian hijrah ke Fez, Maroko, sebuah kota yang saat itu berkembang pesat sebagai pusat peradaban Islam. Di kota itulah kehidupannya berubah.

Warisan yang Tidak Biasa

Setelah ayah, saudara laki-laki, dan suaminya wafat, Fatimah mewarisi harta yang cukup banyak. Namun alih-alih menggunakannya untuk kepentingan pribadi, ia justru melihat kebutuhan yang lebih besar di sekitarnya, yaitu masyarakat yang haus akan ilmu, tetapi belum memiliki ruang belajar yang memadai.

Dari situlah muncul satu keputusan besar. Fatimah bukan sekadar ingin mendirikan bangunan, tetapi menciptakan ruang yang menumbuhkan cahaya pengetahuan.

Dari Masjid menjadi Pusat Ilmu

Pada tahun 859 M, ia mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Al-Qarawiyyin sebagai bentuk penghormatan pada tanah asal keluarganya, Kairouan.

Awalnya memang hanya masjid, sekaligus pusat pendidikan dengan landasan nilai-nilai Islam. Tapi justru dari sanalah semuanya bermula.

Masjid itu perlahan berkembang. Tidak hanya menjadi tempat ibadah dan tempat belajar ilmu agama, tetapi juga menjadi tempat orang-orang mempelajari ilmu-ilmu rasional seperti matematika, fisika, astronomi hingga filsafat.

Seiring waktu, aktivitas belajar di Al-Qarawiyyin semakin berkembang dan terstruktur. Kurikulum mulai terbentuk, para ulama dan ilmuwan mulai mengajar, dan para pelajar datang dari berbagai penjuru.

Hingga akhirnya Al-Qarawiyyin dikenal luas sebagai pusat pendidikan tinggi yang dalam perkembangan modernnya diakui sebagai universitas.

Bahkan lembaga ini diakui oleh UNESCO dan Guinness World Records sebagai universitas tertua di dunia yang masih beroperasi hingga hari ini.

Bayangkan, sudah lebih dari 1.100 tahun! Berawal dari sebuah bangunan dan dedikasi untuk masyarakat, ia tetap hidup lintas zaman.

Bukan Sekadar Membangun, tetapi Menjaga Proses

Yang membuat kisah ini semakin kuat bukan hanya hasil akhirnya, tetapi juga prosesnya.

Fatimah tidak sekadar “menyumbang dana lalu selesai”.

Saat pembangunan Al-Qarawiyyin dimulai, ia tidak hanya sibuk mengatur atau mengawasi. Ia memilih sesuatu yang lebih dari itu, yaitu berpuasa sepanjang proses pembangunan dari peletakan batu pertama hingga bangunan itu benar-benar selesai.

Kebayang nggak sih?

Di saat orang lain mungkin fokus pada hasil akhir, Fatimah justru menjaga prosesnya, memastikan setiap langkahnya punya makna ibadah.

Para sejarawan seperti al-Nuwairi dan Ibn Abi Zar mencatat sikap Fatimah ini sebagai bukti ketulusan yang luar biasa. Bahwa apa yang ia bangun bukan sekadar bangunan. Tapi sesuatu yang lahir dari iman, niat, dan pengabdian yang sungguh-sungguh.

Dari Fez untuk Dunia

Dari Al-Qarawiyyin tumbuh dan berkembang banyak tokoh besar yang memberi pengaruh luas, bahkan melintasi peradaban.

Di sana pernah belajar atau terhubung dengan tradisi keilmuan tokoh seperti Ibnu Khaldun (1332–1406 M), seorang sejarawan, sosiolog, dan ekonom yang karyanya Muqaddimah menjadi rujukan penting dalam studi sejarah dan sosiologi modern.

Ada juga Al-Idrisi (1100–1165 M), ahli geografi dan kartografer yang peta-petanya digunakan dalam penjelajahan Eropa pada abad pertengahan.

Kemudian Ibnu Rusyd (1126–1198 M), yang dikenal di Barat sebagai Averroes, seorang filsuf dan dokter yang pemikirannya memberi pengaruh besar terhadap kebangkitan intelektual di Eropa.

Nama lain yang tak kalah penting adalah Musa bin Maimun (1135–1204 M), atau Maimonides, seorang filsuf dan dokter Yahudi yang dikenal luas dalam bidang hukum dan etika.

Tak hanya itu, ada pula Ibnu Arabi (1165–1240 M), tokoh sufi besar yang pemikirannya terus dipelajari hingga hari ini.

Bahkan jejak Al-Qarawiyyin juga sampai pada tokoh seperti Leo Africanus (1494–1554 M), seorang penjelajah yang mendokumentasikan Afrika Utara, serta Gerbert dari Aurillac (946–1003 M) yang kemudian dikenal sebagai Paus Sylvester II yang disebut-sebut pernah belajar di sana dan membawa pengetahuan angka Arab ke Eropa.

Tradisi keilmuan yang tumbuh di sana pun memberi pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu di Eropa.

Artinya, apa yang dibangun oleh Fatimah al-Fihri tidak hanya berdampak bagi masyarakat di sekitarnya, tetapi juga bagi dunia.

Ia tidak hanya membangun tempat. Ia membangun peradaban.

Refleksi untuk Hari Ini

Di momen International Women’s Day ini, kita masih sering mendengar tentang empowerment dan kesetaraan.

Namun, jauh sebelum semua itu menjadi wacana yang ramai diperbincangkan, Fatimah al-Fihri telah lebih dulu melakukannya.

Ia membuktikan satu hal yang seharusnya membuka mata kita:

Perempuan bukan sekadar “pengikut” dalam sejarah, melainkan pembentuk peradaban itu sendiri.

Karena itu, pertanyaannya hari ini bukan lagi:

Apakah perempuan bisa?

Sebab jawabannya sudah jelas bisa, dan telah terbukti sejak berabad-abad lalu.

Yang justru perlu kita tanyakan adalah:

Apa yang ingin kita bangun hari ini? Warisan seperti apa yang ingin kita tinggalkan?

Sebab bisa jadi, di antara kita, para Muslimah Gen Z, sedang tumbuh sosok-sosok baru yang akan mengubah dunia, seperti Fatimah al-Fihri pada masanya.

Dan siapa tahu… itu adalah kamu.

Loading

Tragedi Mantra

Oleh Arifin Fathurohman

Jampi-jampi Februari.
Geura gede. Geura lumpat.
Rapal satu, ucap sekian.
Rapal ratu, ratap makian.
Tengok tahap tengah cacian,
Kata sembunyi dalam nyanyian.

Harap.
Harap.
Harap.

Terkembang.
Membusung—
Tengah dada,
Dalam dada,
Belah dada.

Semoga cepat kaya.
Semoga kayamu memberi cepat.
Cepatlah hidupmu.
Lambatkah gerakmu?

Napas satu.
Napas tak jemu.

Hirup lalu tanpa menyeru.

Nyala.
Membusung cinta.
Lembayung kita; Mendesir.

Angin, sampaikan air.
Tinggi, hampiri kami.
Kutukan kami.

Air! Turun?
Mengapa basahi?
Pohon tumbang.
Petir menyambar.
Banjir bandang.

Payungi bumi tandus kami.
Tumbuhi mantra cuaca.

Semarang berhembus.
Ada kalimat punya alamat?

Mantra pesona—anggun dirupa.
Paras pesona—anggun dimuka.
Cuaca feminis; angin menerjang,
Menghantam. Meriak. Suara-suara. Sapa-sapa!

“Sehat?”
“Kumaha, damang?”

“Piye, kabare?”

Bandung melaung:
Mantra salah kirim.
Kurir topi kuning.
Amplop negeri sumbing.

Tertanda kop surat:
Bekar bibirnya. Bekas tintanya.
Nyawa sembilan.
Mati sepuluh.

Tolong—kirim ulang.
Kembali-kan.

Menunggu
Atau ditunggu?

Lebih cerdas bertani,
Menuai pintar kemudian hari.
Larik dari ruang tragedi—
Ruang tunggu milik Pak Mantri.

Berteman?
Pertemanan hilang.
Semenjak usia dini.
MIsiing! Missing! Missing!
Cari, cari, cari..

Beralihlah profesi:
Menjelma pemerhati. Perhatikan
Cuaca seksi berparas mendung.

Wajahmu bingung.
Hatiku sandung.

Mendesir ulu hati,
Menghentak dalam riak.

Menatap apa?
Angin utara.

Curi.
Tahap satu.
Tahap sekian.
Satu-satu hancur seruan.
Seribu lagi.

Seribu kaki—
Langkah hati menuju asyik.

Hadirku.
Hadirmu.
Hadirkan.
Hadirkah kita?
Hadirilah sodara-sodara.
Hadirilah sodara-sodara.

Ada dalam ingatan.
Hilang, lalu lupakan.
Wujudkan bentuk,
Nyatakan kata.

Rapal bibir, gumamkan.
Riuh hati bermacam. Macam. Jangan! Macam-macam.

Pikir tertambat.
Khusyuk.
Ia.

Eksis tubuh.

Ciss.

Ea.

Lima indera:
Telinga—tuli.
Mata—buta.
Mulut—bisu.
Hidung—anosmia.
Kulit—kebas.

Mati rasa.
Mati.
Nirfungsi.

Lentera di bawah langitan.
Karya mereka-reka.

Menjadilah.
Jadilah engkau jadi.
Nyala cahaya lagi.

Biar gelap.
Biar tak fungsi.

Tombol energi di sebelah kiri.
Tuts. Duar.

Sahur…
Sahur…
Sahut…

Dini?
Hari.

Heneng.
Hening.
Henung.

Mulutku.
Seruanku.
Pujianku—
Melengking sunyi,
Melengkung bunyi.

Āmiin.
Āmiin.
Āmiin.

Iman?
Kamu, jualan gorengan?

Semarang, 2026

Loading

Prakiraan muka – kira-kira ria

oleh Arifin Faturohman

Darimana saatnya.
Saatnya saya bersenda ria.
Kuncup mekar merana.
Mekar satu terbang terhingga.

Kita sudah sampai kan usia.
Usia cukup menerka kira.
Apa yang bersembunyi di balik muka.
Mukamu senyum senantiasa.
Adakah nyata.

Garis tulus terkembang tatkala. Kita.
Sendakan ria. Dalam untaian masa.
Inginkan saja terbang.
Lepas.
Menembus langit.
Cakrawala.

Hai, pemilik teguh!
Izinkan memeluk rapuh.
Saya tidak becus.
Tidak kerana tangguh.

Inginkan saja degup suara.
Suara-suara merdu. Terompet hari itu.
Tiap kali saya jauh.
Manis sekali hangat menghampiri.
Mengalir. Merambat. Merangkai suatu.

Suatu kata:
Hari.
Hati.
Kecil.
Teduh.
Teguh.
Haru.
Tangis.
Bisu.

Di
Bulan baru…

Semarang, 15 Februari 2026

Loading

Indahnya Berbagi di Bulan Ramadhan: CSSMoRA Mengadakan Sahur On The Road bagi Pemulung dan Tunawisma

SEMARANG- Ramadhan menjadi bulan yang dinanti-nanti, dimana manusia akan berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan. Tepat 11 Ramadhan 1447 H/1 Maret 2026 CSSMoRA melaksanakan sahur on the road. Acara ini berkoolaborasi dengan beberapa organisasi juga seperti HMJ Falak, IKSI, dan Warmindo 75. Di awali dengan open donasi dibuka sejak awal bulan Ramadhan hingga 9 Ramadhan. Dan terkumpul dana sebenar 2,5 yang nantinya akan dibelanjakan untuk konsumsi sahur on the road.

Sebelum berjalannya sahur on the road, semua panitia dan anggota yang terlibat membantu persiapan konsumsi. Mulai dari mengupas, memotong bumbu-bumbu, menyiapkan kotak untuk nasi, dan survei lokasi mana saja yang nantinya akan menjadi target pembagian sahur on the road agar tidak salah sasaran.

setelah persiapan selesai, dilanjutkan dengan breafing untuk bagaimana tata cara pembagian sahur on the road saat di jalan nanti. Di pimpin oleh bapak budi selaku owner dari warmindo 75 yang memberikan pesan “pada saat dijalan jaga perilaku kita, jangan sampai mengganggu pengguna jalan yang lain, dan hati-hati saat di jalan”. Dan pembagian sahur on the road siap dilaksanakan, mulai dari pasar karang ayu menuju ke arah lawing sewu, dilanjut kearah poncol, kemudian tugu muda dan berakhir di simpang lima.

Dari 170 nasi kotak, alhamdulillah habis dan dapat disalurkan dengan baik kepada tunawisma, pemulung, dan tukang becak yang berada di jalan-jalan.

Acara dilanjut dengan sahur bersama di depan kantor gubernur jateng sambil menikmati jalan dini hari yang masih sepi dan syahdu. Sebelum berakhirya sahur on the road dilanjut dengan penyampaikan kesan dan pesan dari setiap organisasi.

Nayla selaku ketua organisasi IKSI menyampaikan “alhamdulillah acara berjalan dengan lancer dan bisa mengikuti sotr dua kali berturut-turut dan senangnya sotr kali ini banyak organisasi yang ikut sehingga lebih rame, dan seru”.

Dilanjutkan dengan pipit selaku ketua dari HMJ Ilmu Falak “sebelumnya terimakasih kepada pihak-pihak yang telah mau bekerja sama dalam menyiapkan sotr ini sehingga mampu berjalan dengan baik. Terimakasih juga kepada ibu dan bapak yang mau mengawal kita selama dijalan dan membimbing kita, dan mohon maaf jika saya tidak bisa membantu dari awal hingg akhir.”

Dan yang terakhir Ais selaku ketua P3M CSSMoRA UIN Walisongo “sebelumnya terimakasih karena acara sotr pertama yang dilakukan oleh CSSMoRA ini sangat berkesan mengingat ada 3 organisasi yang ikut sehingga bisa saling mengenal dan semoga sahur yang kita bagikan bisa menjadi amal bagi kita semua.”

Dengan berakhirnya penyampaian Kesan pesan berahir pula acara sahur on the road 2026 dan ditutup dengan foto Bersama.

Loading

SURAT DARI ORANG YANG TERLALU MENCINTAI WAKTU

karya M. Arif Nanda Saputra

Aku pertama kali mati pada usia tujuh belas tahun.

Dan orang yang membunuhku adalah gadis yang
kucintai.

Aku tidak tahu itu saat pertama kali melihatnya. Waktu
itu ia hanya seorang gadis di halte bus dengan mata yang
terlihat seperti menyimpan terlalu banyak hujan.

Namanya Sena.

Dan sejak hari itu, hidupku berhenti berjalan lurus.

Aku bertemu Sena di sore yang biasa saja. Hujan baru
berhenti. Kota masih bau tanah basah. Ia duduk di
sampingku tanpa permisi, memegang amplop cokelat.

“Ini milikmu,” katanya.

Aku mengira ia salah orang.

Tapi namaku tertulis jelas di depan amplop itu.

Tanganku dingin saat membukanya.

Undangan pemakaman.

Namaku.
Tanggal tiga hari lagi.

Aku menoleh. Bangku di sampingku kosong.

Sena menghilang.

Aku membaca undangan itu sampai hurufnya terasa
bergerak. Jantungku berdetak terlalu keras untuk
sesuatu yang mungkin hanya lelucon.

Tapi tubuhku tidak percaya ini lelucon.

Tubuh selalu lebih jujur daripada pikiran.

Malam itu aku tidak pulang. Aku duduk di halte sampai
lampu jalan mati satu per satu. Setiap bus yang lewat
terdengar seperti hitungan mundur.

Aku merasa sedang menunggu diriku sendiri mati.

Keesokan harinya aku kembali.
Dan Sena benar-benar ada di sana.
Duduk di posisi yang sama. Baju yang sama. Rambut
basah yang sama.
“Aku menunggumu,” katanya pelan.
“Kemarin kamu menghilang,” kataku.
Ia tersenyum pahit.
“Kemarin sudah selesai. Ini hari pertama lagi.”
Dunia terasa miring.
“Apa maksudmu?”
“Kamu sudah mati,” katanya.
“Dan setiap kali kamu mati, waktu kembali ke halte ini.”
Aku tertawa pendek.
“Aku berharap itu lelucon,” katanya.

“Tapi aku sudah melihatmu mati tiga puluh dua kali.”
Tangannya gemetar saat menyentuh lenganku.
“Aku lelah menguburmu.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari ancaman
kematian.

Aku ingin pergi.
Tapi ada bagian dalam diriku yang percaya pada gadis ini
tanpa alasan.
“Kalau aku mati… kenapa kamu masih di sini?”
“Karena aku menolak dunia di mana kamu tidak ada.”
Cinta sering datang bukan karena kebahagiaan, tapi
karena seseorang melihat luka kita dan memilih tinggal.
Sena tinggal.

Selalu tinggal.
Dan aku jatuh cinta pada seseorang yang sudah
melihatku mati berkali-kali.

Kami menghabiskan hari-hari berikutnya seperti pencuri
waktu.
Naik bus tanpa tujuan.
Makan di warung kecil yang hampir tutup.
Berbaring di atap gedung sambil menghitung lampu
kota.
Setiap tawa terasa seperti perpisahan yang menunda
diri.
Setiap sentuhan terasa seperti janji yang rapuh.
Sena selalu menangis setelah kami tertawa.

Seolah kebahagiaan adalah hutang yang harus segera
dibayar.

Malam sebelum tanggal kematianku, ia bertanya:
“Kalau ada cara menyelamatkanmu… tapi aku yang harus
mati… kamu mau?”
Aku tidak menjawab.
Karena cinta bukan soal siapa yang hidup.
Cinta adalah siapa yang tidak sanggup ditinggal.
Dan aku tidak sanggup kehilangan dia.
“Tidak,” kataku.
Ia tersenyum sedih.

“Aku sudah tahu kamu akan jawab begitu.”

Tanggal 14 datang dengan sunyi.
Kami berdiri di halte tempat semuanya dimulai.
Tangannya dingin di genggamanku.
“Aku capek,” katanya.
“Aku tahu.”
Bus datang dari kejauhan.
Dan di detik itu aku melihat keputusan di matanya.
Sena mendorongku mundur.
Ia melangkah ke jalan.
Aku berlari.
Terlambat.
Bus menghantam tubuhnya.

Suara itu seperti dunia patah.

Ia terbaring di aspal.
Darah di sekitarnya terlihat terlalu merah untuk menjadi
nyata.
Ia tersenyum padaku.
“Akhirnya… kamu hidup…”
Tangannya dingin saat kugenggam.
“Jangan pergi,” kataku.
“Tolong jangan…”
Air matanya jatuh.
“Aku sudah hidup ribuan kali untukmu… biarkan aku
istirahat…”
Dan ia berhenti bernapas.

Aku hidup.

Dan itu terasa seperti hukuman.

Pemakamannya sepi.
Aku berdiri sendirian di depan batu nisan dengan
namanya.
Sena.
Angin terasa seperti bisikan yang menolak berhenti.
Aku membuka amplop cokelat yang kutemukan di
sakuku.
Tulisan tangannya:
“Kalau kamu membaca ini, berarti aku berhasil.
Tapi kamu tidak akan bahagia.

Karena cinta kita tidak pernah selesai dengan adil.”
Di dalam amplop ada foto kami.
Foto yang tidak pernah kami ambil.
Kami berdiri lebih tua. Rambut beruban. Tertawa.
Di belakang foto tertulis:
” Masa depan yang kucuri untukmu.”
Saat itu aku mengerti.
Sena tidak menyelamatkanku.
Ia mencuri hidup dari garis waktu lain.
Dan menggantinya dengan kematiannya.
Untuk selamanya.

Aku tumbuh.
Aku bekerja.

Aku menikah.
Aku punya anak.
Aku tertawa.
Dan setiap kali tertawa… aku mendengar suara bus.
Kebahagiaan terasa seperti mencuri sesuatu yang bukan
milikku.
Aku hidup di atas kematian seseorang yang mencintaiku
terlalu banyak.

Di usia tujuh puluh tiga, aku kembali ke halte itu.
Bangku sudah diganti. Jalan diperlebar.
Tapi angin masih sama.
Aku duduk.
Dan seorang gadis datang.

Basah oleh hujan.
Mata penuh kenangan.
Ia menyodorkan amplop cokelat.
Tanganku gemetar.
Undangan pemakaman.
Namaku.
Tanggal besok.
Aku menatapnya.
“Sena?”
Ia tersenyum.
“Aku tidak pernah benar-benar pergi,” katanya pelan.
“Kamu hanya meminjam hidup dariku.”
Air mataku jatuh.
“Aku siap,” bisikku.

Ia duduk di sampingku.
Kami menunggu bus bersama.
Tanpa takut.

Beberapa orang bilang mereka melihat seorang lelaki tua
tersenyum di halte malam itu sebelum sebuah bus
kehilangan kendali.
Di kursi penumpang, ada gadis yang menggenggam
tangannya.
Keduanya tertawa.
Seperti akhirnya pulang.
Dan di jalan yang kosong setelahnya, tertinggal satu
amplop cokelat tanpa nama.
Kosong.

Siklus selesai.
Cinta menang bukan karena hidup
tapi karena akhirnya berhenti.

Loading

Adakan Rukyatul Hilal Mandiri, CSSMoRA UIN Walisongo Berani Tampil Berbeda

Pada hari Rabu, 18 Februari 2026, CSSMoRA UIN Walisongo Semarang telah melaksanakan kegiatan Rukyatul hilal bulan ramadhan, yaitu diskusi hangat dalam forum yang diperuntukkan bagi seluruh anggota CSSMoRA. Pelatihan ini berlangsung di Pantai Mangunharjo dan Observatorium UIN Walisongo Semarang, Pelatihan ini kemudian dimulai pada pukul 16.00 WIB hingga selesai. Kegiatan terselenggara dengan lancar dan mendapat partisipasi yang antusias dari para anggota yang hadir.

Rukyatul hilal merupakan salah satu kegiatan mengamati hilal dalam upaya menentukan awal bulan serta menambah wawasan anggota CSSMoRA, khususnya dalam masalah menentukan awal bulan hijriyah. Program ini menunjukkan komitmen Divisi P3M dalam memberikan ruang pengembangan diri bagi anggota serta menjawab kebutuhan mahasiswa terhadap wawasan anggota CSSMoRA.

Pada rukyatul hilal kali ini, CSSMoRA menghadirkan A. Munawir Baidhowi sebagai narasumber rukyatul hilal di planetarium observatorium uin walisongo dan Bapak Bastoni sebagai narasumber di pantai mangunharjo mangkang. Beliau-beliau dikenal sebagai praktisi rukyatul hilal. Dalam sesi materi, narasumber memberikan penjelasan mendalam mengenai sejarah rukyat, dasar hukum rukyat, bagaimana cara rukyat dengan benar dan apa saja hal-hal yang memengaruhi proses rukyat. Selain pemaparan materi, peserta juga diajak untuk berdiskusi langsung tentang pembahasan rukyatul hilal. Hal ini bertujuan agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu untuk .

Kegiatan berlangsung secara interaktif. Peserta diberi kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, serta melakukan konsultasi secara langsung dengan narasumber. Banyak peserta yang merasa terbuka dan bertambah wawasannya, karena dapat memahami apa itu rukyatul hilal.

Selain itu, rukyatul hilal  ini juga menjadi ajang silaturahmi dan penguatan relasi antar anggota CSSMoRA. Suasana diskusi yang hangat dan bersahabat membuat peserta merasa nyaman untuk belajar bersama, bertukar ide, dan saling memberikan masukan.

Loading

Meresapi Luka yang Tak Bersuara : Sebuah Renungan atas "Broken Strings" Kepingan Masa Muda yang Patah karya aktris Aurelie Meoremans

Meresapi Luka yang Tak Bersuara : Sebuah Renungan atas“Broken String“Kepingan Masa Muda yang Patah karya aktris Aurelie Meoremans

oleh : Wika Winanta

“Broken Strings” bukanlah sebuah narasi yang ditawarkan dengan kemasan rapi, lengkap dengan awal, tengah, dan akhir yang jelas. Kekuatannya justru terletak pada kesan yang ditimbulkannya: seperti memunguti serpihan-serpihan ingatan—sebagian telah usang, sebagian lagi masih tajam dan enggan dipegang. Di sanalah letak kejujurannya yang paling menyentuh. Buku ini berbicara tentang pengalaman hidup dalam sebuah hubungan yang secara perlahan namun pasti mengikis diri seseorang, tanpa memerlukan drama teriakan atau kekerasan yang kasat mata.

Melalui halaman-halamannya, kita diajak menyelami ruang batin seorang remaja yang tumbuh dalam relasi tidak sehat. Sebuah relasi yang pada mulanya dikira sebagai perhatian, perlindungan, dan cinta, tetapi lambat laun berubah wujud menjadi sangkar kontrol, ketergantungan, dan rasa bersalah yang tak pernah benar-benar henti. “Broken Strings” dengan tajam menunjukkan bahwa kekerasan emosional sering kali tak disadari saat sedang terjadi. Korban tidak serta-merta merasa disakiti; yang lebih dulu datang justru kebingungan yang mencekik, ketakutan akan kehilangan, dan dorongan tanpa henti untuk terus menyenangkan sang lain.

Buku ini banyak berkisah tentang bagaimana seseorang bisa kehilangan suaranya sendiri. Keputusan-keputusan kecil—dari apa yang hendak dikenakan hingga apa yang pantas diimpikan—tidak lagi lahir dari keinginan pribadi, melainkan dari bayangan harapan orang lain. Dalam kondisi demikian, batas antara diri dan dia pun mengabur. “Broken Strings” melukiskan proses pengaburan ini dengan jernih, tanpa pretensi untuk terlihat kuat atau telah beres sejak halaman pertama.

Yang membuatnya terasa begitu dekat adalah penolakannya untuk menjadikan trauma sebagai tontonan dramatis. Tak ada romantisasi penderitaan. Yang ada justru kesunyian dari keseharian yang terasa berat, perasaan terjebak dalam labirin, kebingungan yang tak tahu ujung, dan ketidakmampuan untuk pergi meski hati kecil telah berteriak bahwa sesuatu telah salah.

Buku ini menjadi pengingat yang penting: banyak orang bertahan dalam hubungan yang melukai bukan karena kelemahan, melainkan karena telah terlalu lama diyakinkan bahwa segala kepedihan itu adalah bentuk cinta yang sah.

“Broken Strings” juga merupakan sebuah catatan tentang ingatan—tentang bagaimana masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal, bersemayam dalam masa kini, dan berbicara melalui sudut-sudut pikiran yang paling sunyi. Luka tidak selalu hadir sebagai tangisan yang meledak. Kadang, ia menjelma sebagai keraguan akut pada diri sendiri, perasaan tidak pantas untuk dicintai, atau getar ketakutan setiap kali hendak memulai hal baru. Buku ini tidak berjanji untuk “menyembuhkan”; ia justru mengakui bahwa proses memahami luka itu sendiri sudah merupakan sebuah perjalanan yang melelahkan.

Namun, di sela-sela kesunyian, buku ini juga memberi ruang bagi secercah pencerahan. Proses untuk menyadari dan mengambil kembali kendali atas hidup sendiri digambarkan bukan sebagai lompatan heroik, melainkan sebagai langkah-langkah kecil yang penuh keraguan. Momen ketika seseorang akhirnya mampu memberi nama pada apa yang dialaminya—”ini adalah kekerasan”—menjadi titik balik yang menghancurkan sekaligus membebaskan. Dari sanalah lahir keberanian untuk menatap masa lalu dengan mata yang jujur, betapa pun pedihnya. Dalam konteks ini, menulis atau bercerita menjadi sebuah tindakan merebut kembali narasi hidup: bukan lagi sebagai korban yang bisu, melainkan sebagai manusia yang berhak atas suaranya sendiri.

Judul “Broken Strings” terpilih dengan sangat tepat. Senar yang putus memang tak akan lagi menghasilkan melodi yang sama. Namun, ia bukanlah akhir dari segala bunyi. Ada kehilangan yang nyata, tetapi di baliknya terselip kemungkinan untuk diperbaiki, disambung, atau diganti dengan nada yang baru. Buku ini tidak menjanjikan akhir bahagia atau pemulihan yang sempurna. Ia hanya membisikkan bahwa hidup setelah trauma memang akan terasa berbeda, tetapi ia tetap sebuah hidup yang layak dan patut dijalani.

Pada akhirnya, “Broken Strings” adalah sebuah bisikan tentang hal-hal yang sering kita diamkan: relasi yang perlahan menjadi racun, batasan diri yang terampas tanpa perlawanan fisik, serta luka-luka yang tak meninggalkan jejak biru. Buku ini tidak menggurui dan tak memaksa pembaca untuk berempati secara murahan. Ia hanya membuka sebuah ruang, lalu mengajak kita untuk duduk di dalamnya—menyadari sebuah kebenaran yang getir bahwa tidak semua luka tampak oleh mata, dan tidak semua jeritan terdengar oleh telinga.

 

Loading

A Quarter Century of Jayon

A Quarter Century of Jayon

oleh :Aripin Faturohman

Kuceritai sepersekian mungil fragmen kepala orang bernama Jayon. Jayon adalah manusia berumur 20 tahun ke atas. Sudah cukup lama dia megang KTP. Orang macam apa Jayon? Dia yang bilang, “Orang belajar! Jangan diganggu!”

Orang rumit, ternyata. Berkerut dahi waktu simak ceramah Jayon—walau dia kekeh menamai itu sebagai sharing session. Namun saya lebih merasa macam jamaah tabligh sugro—tidak akbar dong—sebab saya sendirian yang menyimak.

Sebab utama yang dapat saya ambil dari potongan-potongan cerita Jayon ialah yang paling banyak menyoal krisis eksistensial. Katanya ada yang namanya fase Emerging Adulthood. Ini adalah masa yang sangat “bertenaga” karena ente punya kebebasan untuk memilih, namun juga sering kali penuh kecemasan karena banyaknya pilihan. Di usia 20-an, kendali ada di tangan ente.

Mengutip psikolog Dr. Meg Jay, “80% dari momen penentu hidup terjadi pada usia 35 tahun, namun keputusan-keputusan menuju ke sana dibuat di usia 20-an.” Buset, pakai acara ngutip jurnal ilmiah—mau presentasi lu.

Yang keren dari Jayon, ternyata dia orang belajar beneran. Betul-betul kepo sama diri sendiri.

Apa kemudian yang membentuk saudara sehingga ibadah macam orang mau meninggal besok? Wahai Jayon yang terhormat (bertanya dengan nada so-fun).

Karena menyoal krisis eksistensial, maka mesti berkaitan sama krisis spiritual. Pernah elu ngerasa kepengen dilihat? Ada teknologi yang bikin elu punya ruang validatif yang amat terorganisir. Tergerak betul motif macam itu. Dengan embel social branding, pede aja dengan apa yang lu suka—bagikan saja, post aja—yang penting tidak merasa bintang, star, kelabakan star syndrome.

Dalam psikologi, ini disebut dengan Spotlight Effect—seolah ada lampu sorot yang mengikutimu dalam setiap proses itu.

Oiya, sebelum lebih jauh bahas ke sana, perlu gue ceritain daya tarik ritus peribadatan dulu ya. Karena berkenaan eksis, gue mesti lebih dulu spirit gue.

Jadi, awalnya karena merasa bodoh. Dulu, waktu TK nenek gue meninggal, otomatis perlu diperlakukan secara baik dan benar—upacara kematiannya—sesuai agama yang kita anut. Waktu salat jenazah, gue nggak tahu cara baca doanya. Waktu tahlilan juga. Dari sana gue mikir, agama tuh salah satu medium ngedoain orang yang kita sayangi, nggak sih? CMIIW.

Buset, pakai CMIIW segala. Iya, percaya, Yon. Setuju.

Lalu, dapet hidayah nih ceritanya?

Belum. Itu masih jauh dari penyimpulan-penyimpulan kenapa gue harus eksis di atas bumi. Lu pernah mikir nggak, apa tujuan elu mondar-mandir di bumi Priangan? Pastinya bukan cuma buat ngasih makan si Morris, kucing lu doang? Bisa jadi buat nonton One Piece? Buat makan nasi Padang juga? Elu mah random, Yon.

Emang dari kecil cita-cita hidup gue tuh kepengen genrenya comedy. Cuman kita kan bukan arsitek ya, yang bisa ngebangun blueprint kehidupan sesuai yang diidamkan. Ada aja kejadian yang bikin kelanjutan genre hidup gue beralih ke tragedy. Boleh jadi baper aja sih, atau kebanyakan lihat orang yang kelihatannya lebih senang.

Selain di usia 18–25, yang paling krusial juga di usia 0–5. Karena dikit aja punya luka atau kejadian traumatis, susah tuh buat disembuhin waktu dewasa. Bahasa kerennya mah Golden Age. Secara biologis dan neurologis, inilah masa paling krusial.

Elu punya trauma di masa pertumbuhan paling pertama, Yon?

Oke. Bisa dikata orang tua kebanyakan nyari duit. Alasannya ya nyari duit buat gue seorang—nggak ada yang lain. Buat biaya sekolah gue, buat makan gue, buat beli baju baru tiap lebaran, dan lain-lain keuangan. Padahal yang gue mau cuma jalan-jalan ke Ganesha di hari Minggu, naik delman di Dago, atau main ke kebun binatangnya. Sederhana sih.

Tapi kalau elu beneran kepo sama diri sendiri, nggak boleh denial. Cari sumber penyakit. Coba korek akar masalahnya kenapa sekarang elu kebentuk jadi beginian. Boleh jadi elu waktu kecil pernah mengalami peristiwa traumatis, atau mungkin kasih sayangnya tidak terpenuhi dengan baik.

Lanjut lagi. Kenapa elu salat mulu?

Orang rajin. Orang mah tahu kewajiban sama kebutuhan. Cuman namanya perjalanan spiritual, awalnya malah pelampiasan—pelarian mungkin ya. Agak berat ini. Pelan-pelan, Yon. Santai aja. Kalau belum enak, kagak usah dah. Aman-aman.

Jadi, gue shock waktu denger kakak gue masuk bui. Berita itu menjadi headline selama seminggu berturut-turut di rumah gue. Lah buset, temen smackdown gue itu, eh malah bikin gue beneran kena mental. Lu tahu kan sosok adik yang mengidolakan kakaknya, yang ngintilin ke mana pun kakaknya pergi? Figur yang dilihat adek, tetiba kagak ada angin kagak ada ujan ngasih kita kejutan. Yang nyesek mah lihat Ami (sebutan buat nyokap) nangis.

Jadi seolah ada beban peran dalam diri gue: bahwa kakak udah gagal, udah bikin kecewa orang tua. Makanya gue yang harus buktiin kalau orang tua nggak gagal ngedidik anak—buktinya gue salat.

Eh, tapi namanya perjalanan ya. Semakin larut, gue mikir, anjir kok gue kayak pecandu narkoba. Datang ke Tuhan buat cari tenangnya. Orang kan hirup ganja juga nyari tenangnya—biar rileks dan ketawa-ketawa. Niat gue meleset tuh. Enak banget wiridan ratusan kali, yang dicari tenangnya.

Untungnya, Ami ngebuang gue ke pondok pesantren. Beneran! Sakit bener waktu pertama ditinggal orang tua di pondok. Kek jahat bener dah. Gue-nya nangis, Aminya juga nangis. Lah, dia yang ninggalin, dia yang berat ninggalin.

Tapi beneran tuh, di sana perasaan gue lebih terbuka, lebih terasa. Dapet kenang-kenangan dari pondok sama yang namanya “abdi”, “pengabdian”. Di masa SMP, gue terbilang siswa yang seneng baca—dan jadi bikin liar isi kepala. Liar beneran, bertanya yang tidak-tidak. Sampai di pondok, kebebasan itu harus ditundukkan. Jadi bentuk pengabdian. Jadi Din Islam.

Jadi waktu salat tuh harus bersikap macam abid, macam hamba sahaya kepada tuannya. Nah ini, gue waktu salat masih aja ngerasa gede. Mana kepala sulit banget diatur.

So, di pondok gue punya spirit yang dapet ritual, sehingga menjadi spiritual. Ibadahnya bertujuan, nggak kosong. Bukan ada udang di balik batu, tapi emang mesti jadi pengabdian—sarana penghayatan.

Menyoal konsistensi, Yon—sambil juga dijawab perihal eksistensi—namanya orang kan nggak selamanya energinya power full. Ada kalanya naik, sering kalinya turun. Setelah ente merasa sudah tahu apa yang harus dilakukan, ente betulan bisa jaga konsistensi itu, Yon?

Gue juga sering mengalami amnesia berkali-kali. Tak terhitung berapa kali gue lupa sama diri sendiri. Krisis identitas. Banyak tuh jadi anjing yang menggonggong seenak jidat, lalu melipir di tiang listrik kemudian mengangkat kaki belakang dan kencing. Ya, kek hewan lah.

Banyak juga jadi tumbuhan yang tumbuh aja—hidup, tapi diam saja. Nggak ada tuh pergerakan. Seringnya karena malas.

Lu udah belajar kan rupa-rupa penyakit hati? Dan salah satu yang paling mendera hati, yang paling mudah bikin orang macam gue gelincir, ya malas. Enak bener tuh temenan sama setan malas. Udah bestie dari kecil sama si setan! Malas, sampai pernah gue bikin tugas karangan Bahasa Indonesia tokoh utamanya malas.

Satu, dua, tiga—duar! Kalau udah terhitung tiga detik gue belum beranjak buat mengemban kehidupan dan malah lanjut mainan hape buat scroll atau segala macam, fiks gue kalah.

Dan itu sering banget terjadi. Di usia ini, elu harusnya nggak boleh bingung memberikan penilaian bahwa waktu bergulir bermanfaat atau sia-sia belaka tanpa arti. Bernilai ibadah atau malah mudarat.

Kan udah ngerti, udah usia mukallaf. Sedang masa pendidikan usia muda. Kalau selamanya elu nunda-nunda kewajiban, katanya hidup adalah perjalanan—iya! Elunya berjalan di tempat!

Makanya hidup perlu punya advisor.

Ente punya advisor, Yon?

Siapa pun yang bisa ngingetin gue buat kembali hidup, itu guru bagi gue. Itu advisor gue. Penasihat gue. Entah lewat buku, pengajian, video YouTube, waktu ngopi, bahkan FYP Instagram.

Pernah denger waktu kajian, kalau hati bakal mati kalau diantepin mulu—nggak dikasih makanan selama lebih dari tiga hari. Maksudnya nggak dapet ilmu dan hikmah.

Bersyukur pernah mengalami tradisi keilmuan pesantren. Ada doktrin yang terus nempel bahwa ilmu mesti terus dicintai, dihidupkan, bagaimanapun caranya. Sehingga tatkala amnesia, tahu caranya buat ingat.

Caranya? Dari tadi ngomongin hidup, hidup, hidup—emang apa sih hidup?

Ada peribahasa, “Hidup segan, mati tak mau.” Pernah ngerasa kelewat paham bisa bikin elu ngerasa hampa? Oh my God, untuk apa ini semua?!

Untuk apa aku dilahirkan namun dihantui perasaan dan bayangan mencekam kalau kakak tiba-tiba kokang senjata lalu menyerah atas hidupnya? Untuk apa mendera belajar jika tidak dapat apresiasi dari orang yang paling pengen gue banggakan? Untuk apa ibadah rajin kalau nggak sanggup nerima stigma dari orang dengan pandangan gue saleh—padahal lagi ampun-ampunan nutupin aib segede gaban. Kalau kata orang Sunda, tijongkang gue kalau aibnya dibuka.

Buat apa gue hidup jika tidak layak dicintai? Ah buset, kebanyakan dengerin Bhaskara.

Belum lagi pikiran melanglang buana jauh ke depan—tentang masa depan, tentang bayangan kesuksesan atau melarat. Padahal gue adanya di hari ini.

Inilah GTA. Dapet diagnosis dari dai kondang. Kata beliau, gue: GTA = Galau Tiada Akhir. Lebih mengkhawatirkan kalau gue GALFOK = Gagal Fokus. Iya juga ya, fokus gue ke mana sih selama ini? Lah, nggak tahu. Makanya tazkiyyatun nafs berkali-kali.

Kalau ente pergi ke tenaga ahli buat konsul, ujung-ujungnya juga dapet nasihat supaya berani hidup. Ya nggak salah juga. Tapi sedari awal elu punya pegangan iman, kenapa nggak lu pakai pendekatan spiritual supaya lu lebih mengenal penyakit mental—atau penyakit hati—yang mungkin belum juga elu sadari?

Sumber segala penyakit dan kesembuhan kan datang dari stimulus otak lu sendiri. Elu ngerasa capek banget padahal nggak ngangkat beban lebih dari 50 ton. Kejauhan, Yon. Maksudnya, capek karena otak lu penuh mikirin yang nggak perlu. Badan lu ikut letih.

Tahu kan metode afirmatif dalam psikologi? Kalau lu ngucapin beragam kalimat positif yang membangun sehari tiga kali, bakalan bikin dampak amat baik dan berbeda buat diri. Lah, gue wirid tiap pagi–petang, Al-Ma’tsurat. Kalau aja gue renungkan dan paham artinya—lah buset—kalimat support semua itu.

Gue-nya aja yang amnesia. Lupa semua. Kagak mau ngartiin. Males memaknai. Enggan merenungi.

Yon, sukses itu apa? Goals hidup ente apa? Apa yang mau dicapai?

Beneran dah, gue belum siap mati. Tapi berkali-kali dipaksa buat berani hidup. Buktinya gue bangun tidur mulu. Hidup lagi—hidup lagi.

Lantas, kenapa pengalaman adalah guru terbaik? Karena nggak neko-neko. Detik itu terjadi, detik itu sedang mengalami. Balik lagi ke diri sendiri: memaknainya bagaimana? Apakah bisa mengambil pelajaran, atau lewat doang kayak FYP TikTok elu berkali-kali?

Masa lalu kan udahan. Udah kelewat. Udah nggak bisa balik ke sana. Masa depan belum tentu—belum tentu kejadian, belum tentu sampai ke sana, dan sesuai dengan apa yang lu harapkan, lu inginkan.

Tapi—mengalami. Elu sekarang sedang mengalami yang sekarang elu lakukan.

Elu bisa bikin to do list melakukan kelakuan yang keren, yang berisi, yang bernilai, yang berarti, dan jadi bekal ngadepin big boss-nya kehidupan—ya, mati.

Kok ente ngomongin mati sih, Yon?

Oke. Sebelum ke sana, kita setuju ya konsep kehidupan setelah ini. Kita masih seiman ya. Mudah-mudahan terus temenan dalam iman sampai hari-hari berikutnya.

Yang jadi soal: kenapa anak muda nggak aware tentang kematian?

Yang pasti, gue lihat di masjid-masjid jami’ adalah bapak-bapak ubanan yang di rumahnya pakai kaos oblong dan sarungan, terus miara burung. Kenapa anak mudanya jarang, atau sedikit yang kelihatan?

Apa perlu dengerin dulu “O, Tuan” baru aware? Emang waktunya lumrah di usia senja? Iya sih, data statistiknya lansia yang paling banyak. Tapi bukan berarti tebakannya kita nggak bakal koid di usia muda.

Nggak ada bocorannya kapan, di mana, lagi ngapain. Itu kan misteri sekali. Orang kepleset pisang aja bisa koid. Beberapa rock star keselek ludah sendiri koid. Bahkan cerita paling nyeleneh: orang nahan kencing demi menjaga sopan santun sampai mati—mati dalam arti harfiah.

Lantas, pikiran kita masih belum sampai ke sana. Masih enak jalan-jalan di atas bumi, ngirup oksigen, makan Gacoan, nonton anime, dan lain-lain yang menyenangkan.

Yang mesti jadi perhatian itu cara kita memandangnya. Orang yang putus asa—hatinya mati—nggak pantes mati secara harfiah. Orang yang berani hidup sudah sepantasnya takut mati, tapi punya upaya untuk mempersiapkan itu, bagaimanapun keadaannya.

Orang yang nggak segan-segan buat hidup sudah sewajarnya takut mati. Makanya hidupnya penuh ingatan yang terpatri. Kembali lagi—kembali lagi. Kembali kepada asali. Anjai.

Bukan berarti goals hidup gue mati. Buset. Gue cuma pengen tiap detik bergulir terasa bermakna. Punya arti. Tidak mengutuk hari ini. Tidak merasa kurang. Syukuran aja udah—syukuran atas segala pemberian.

Tatkala makan sama si Zen, kok kek ada yang kurang ya? Kerupuk? Bukan. Kecap? Bukan. Oiya—rasa syukur.

Balik lagi ke eksistensi. Elu pernah merasa perlu banget validasi? Perhatian orang? Sama satu lagi: someone to talk?

Gue kan udah mesti menjalankan kewajiban sesuai yang tertera dalam KTP. Kata kartu itu, gue itu harus dikenal sebagai pelajar/mahasiswa. Bahkan kalau pun gue nggak post kehidupan dalam SW/SG, status gue dalam KTP tetap sama sebagai pembelajar.

Ruang media sosial mestinya jadi ruang interaksi menyenangkan buat berbagi. Semuanya sudah serba scroll down dan slide. Kita bisa dikenal sesuai dengan keinginan dan minat kita.

Tapi jangan salah. Syaitonirrojim, musuh kita bersama, bukan berarti tidak melakukan pergerakan di sana. Ini yang mesti jadi perhatian.

Niat gue berkali-kali meleset ngunggah sesuatu di sana. Terfana betul dengan jumlah like dan respons orang—padahal tidak begitu berarti apa-apa buat pertumbuhan gue. Malah buat gue—yang notabene Gen Z—dunia yang kerasa banget duniawinya ya di sana, di dalam sosial media. Yang bikin semakin gue minum, semakin bikin haus.

Pun yang berada dalam hati gue tatkala lihat postingan orang—betapa penuhnya sangkaan dan tatapan gue yang menghinakan dan merendahkan.

Oke, I see. Itu berarti yang berada dalam laman media kaca.

Lalu, pernah punya pacar, Yon? Atau pengen gitu—yang nanya how your day?

Di pondok gue pernah denger, “Aafatul ‘ilmi an-nisaa.” CMIIW kalau gue salah. Cuman ini nih yang berat bener di zaman disrupsi, di zaman post-truth.

Sebagai pribadi yang tidak terpenuhi kasih sayangnya waktu kecil, sering pula hati dan pikiran kosong tidak terisi, serta pergaulan sosial anak muda kita yang sudah melumrahkan ekspresi relationship di muka publik, bikin gue makin ina-inu-ini. Ini apa ya?! Ini gimana ya?!

Banyak gue minta advice ke senior atau ke kawan yang lebih punya pengalaman—yang gue percaya, yang punya argumen kuat bawa nama ajaran.

Yang pada akhirnya pada simpul kebenaran: bahwa perasaan itu fitrah adanya. Dan berkali-kali disampaikan bahwa manusia berpasang-pasangan. Alamiahnya begitu. Dan yang keliru adalah menanggapi gemuruh perasaan itu.

Walaupun semua yang ngerti bicara soal niat—kalau niatnya udah lurus ke atas, hubungannya bakalan dijagain semesta—lah buset, niat gue mengkol mulu. Jangankan asmara, yang lain aja niatnya masih mampir ke sana-kemari.

Gue yang udah kenalan sama diri sendiri punya pengetahuan kalau gue nggak bakalan sanggup jalin relasi istimewa di masa ini. Mainannya hati. Gue dari dulu hidup pakai hati. Mana sanggup ngebimbing perasaan sampai menuju fitrahnya di pelaminan.

Di usia ini, nggak bisa fokus gue diarahin. Ada aja satu prioritas baru—wah, mampus gue ngebaginya. Ngebagi waktu buat studi sama organisasi aja kepayahan. Apalagi cewek. Gila apa.

Bukan berarti gue mati hati. Atau lu anggap gue nggak pernah mencintai. Kelebihan lu anggap gue homo. Kacau. Di umur ini, nggak sampai hati gue pakai diksi sakral bernama cinta.

Emang menurut lo sendiri, apa itu cinta?

Balik lagi ke tradisi kepesantrenan. Waktu dulu bandongan Barzanji, gue ditegor sama ustaz: “Antum kalau suka sama akhwat, mesti ingat berkali-kali. Kesemsem, lihat ini-itu—eh dia mulu. Itu tanda antum mencintai. Adakah ingatannya macam itu terhadap Sang Penghulu, Prophet Muhammad SAW? Atau bahkan melihat ciptaan-Nya, barang tentu mengingat Yang Mencipta?”

Deg. Dari sana gue dapet definisinya cinta: mengingat berkali-kali.

Menyoal someone to talk. Gue masih bisa curhat ke Ami. Bisa minta advice ke murobbi. Kalau yang ngertiin peremajaan gue, masih banyak teman yang sefrekuensi. Kalau ribet banget isi kepala, masih banyak tenaga ahli.

Kertas diary aja masih kosong melompong. Punya laptop ada Word-nya. Hape ada Notes. Diri sendiri aja jarang diajak ngobrol dan dimengerti.

Nggak bisa ngandelin makhluk? Ya curhat aja sama big boss yang punya semesta. Kan yang paling mendengar—bahkan sebelum gue berucap.

Jadi, Yon—lu udah siap menaklukkan dunia?

Gue udah siap bangun dari kasur, berhenti scroll, dan melihat matahari terbit.

Yon, kelihatannya lu kek orang yang sudah paham hidup.

“Buset. Orang mah belajar! Jangan diganggu!”

Loading

Barangkali

Barangkali

oleh : Helza Rahsya

barangkali kita diciptakan
bukan untuk saling memiliki,
melainkan untuk saling menahan
agar tak benar-benar jatuh.
ada hidup yang diselamatkan
oleh hal-hal yang tak pernah disebut pahlawan:
sebuah tulisan yang tak sengaja dibaca,
suara yang datang di malam paling sepi,
atau sikap baik
yang nyaris dilupakan setelah dilakukan.
kita sering merasa tak berarti apa-apa,
padahal bagi seseorang
kita adalah jeda
di antara keinginannya untuk bertahan
atau mengakhiri segalanya.
maka jangan jahat,
sebab bisa jadi hari ini
ia sedang mengumpulkan sisa sisa
dirinya
agar tetap bisa bernapas.
bisa jadi dunia sudah terlalu kejam,
dan tanpa kita sadari
kita adalah satu-satunya tempat
ia menitipkan kepercayaan.
jangan jahat,
karena di antara banyak tangan
yang pernah melukai,
ia memilih tanganmu
sebagai alasan
untuk tetap hidup.
dan bila suatu hari
kau merasa kecil,
ingatlah—
sering kali
yang paling kecil
adalah yang paling menyelamatkan.

 

Loading