SEMARANG – Setelah sukses menggelar rangkaian kompetisi internal maupun eksternal, Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMoRA) UIN Walisongo resmi mencapai puncak perayaan Dies Natalis ke-18 pada Rabu (25/2). Acara yang menghadirkan Gus Rifqil Muslim sebagai pembicara utama ini berlangsung khidmat di Auditorium 2, Kampus 3 UIN Walisongo Semarang.
Mengusung tema “Narasi Santri di Era Digital: Membaca Ulang Tradisi Pesantren dalam Arus Disrupsi”, Gus Rifqil membedah tantangan santri dalam menjaga nilai luhur pesantren di tengah gempuran teknologi. Ia menekankan pentingnya menjaga hati kita tetap teduh di dunia digital yang gaduh.
”Setiap story adalah catatan, setiap komentar adalah saksi, dan setiap unggahan akan berdiri di hadapan Allah SWT karena adanya hukum eternity (keabadian digital). Santri bukanlah generasi yang takut teknologi, bukan pula yang mendewakannya. Santri adalah generasi yang memuliakan ilmu dengan menggunakan teknologi sebagai alat kebaikan,” ujar Gus Rifqil di hadapan ratusan peserta.
Sebelumnya, kemeriahan Dies Natalis telah diawali dengan Festival Dies Natalis CSSMoRA (FDC) pada 4–15 Desember 2025. Agenda rutin tahunan ini berhasil menyedot antusiasme 618 peserta dari seluruh penjuru Nusantara yang berkompetisi dalam empat cabang lomba: Musabaqoh Qiraatil Kutub (MQK), Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ), Musabaqoh Dai Muda (MDM), dan Solo Song.
Selain skala nasional, aspek kekeluargaan juga diperkuat melalui CSS Competition bagi anggota internal pada 6–7 Desember 2025. Berbagai cabang olahraga seperti badminton, futsal, gobak sodor hingga e-sport digelar di beberapa lokasi, termasuk GOR Prima Mijen dan Pondok Pesantren YPMI Al-Firdaus.
Rangkaian panjang perayaan ini sebenarnya telah dimulai sejak Oktober 2025 melalui sayembara desain logo yang diperuntukkan bagi anggota aktif. Kompetisi identitas visual tersebut menjadi pemantik semangat sebelum berlanjut ke ajang nasional, yakni Festival Dies Natalis CSSMoRA (FDC) pada 4–15 Desember 2025.
Ketua Panitia, Aufal Wafa, mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran seluruh rangkaian acara. Ia menjelaskan bahwa perpaduan lomba dan talkshow ini adalah upaya menyeimbangkan kreativitas dan pengayaan intelektual.
“Kami ingin Dies Natalis ini menjadi paket lengkap. Kompetisinya mengasah bakat, sementara talkshow bersama Gus Rifqil memberikan arah serta bekal pemikiran bagi kami sebagai santri di era disrupsi,” ungkapnya.
Puncak acara ditandai dengan prosesi pemotongan tumpeng bersama pengelola Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) UIN Walisongo, serta penampilan syahdu Tari Turi Putih oleh anggota CSSMoRA yang memukau audiens.
Rangkaian acara ditutup dengan sesi foto bersama dan dilanjutkan dengan buka puasa bersama anggota aktif. Dengan berakhirnya perayaan ke-18 ini, CSSMoRA UIN Walisongo berharap dapat terus menjadi wadah transformatif bagi santri untuk tetap relevan dengan zaman tanpa kehilangan jati diri kepesantrenannya.
Desir hatiku berkata ada. Apa yang merasa. Kemudian bulu kudukmu terangkat dan merinding dibuatnya. Ialah angin saja; memberi kabar menerpa kulitku dan katakan ada. Meski tak nampak ia kasat mata. Mesti ada terasa melalui mata lainnya yang diam-diam memata-matai. Siapakah, gerangan yang bikin terperanjat perasa tak nampak? Nampaklah ia mengendap-endap di bagian-bagian terlupakan hari-hari. Sudah, ingin merinding saja meski angin tak ada…
Banjir bandang yang hari ini melanda Sumatra bukan hanya menenggelamkan rumah dan jalan, tetapi juga menenggelamkan kesadaran kita. Musibah ini bukan sekadar “air kiriman”, bukan pula takdir yang turun begitu saja tanpa sebab. Di balik arus deras yang menyapu desa, ada arus kelalaian yang sudah lama menggerus akal sehat dan adab umat manusia kepada lingkungan, termasuk umat Islam di negeri ini. Ini sebenarnya teguran keras karena banyak hal yang tidak kita jaga dengan benar. Hari ini kita bisa lihat sendiri bagaimana kesadaran kita terhadap alam sudah hilang, padahal menjaga alam adalah bagian dari tugas kita sebagai manusia.
Segelintir dari kita malah sibuk menyalahkan cuaca ekstrem atau berkata, “Ini adalah ujian dari Allah.” Benar, setiap bencana adalah ujian. Banjir ini memang ujian, tetapi ujian dalam agama selalu membawa peringatan: apa yang telah kalian perbuat, wahai manusia?
Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa kerusakan di darat dan laut muncul “karena ulah tangan manusia”:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Artinya, manusia bukan hanya objek bencana, tetapi juga bisa menjadi penyebabnya.
Di sinilah letak krisis kita: fiqh ekologi yang sekarat dalam praktiknya.
Fiqh Ekologi yang Tidak Lagi Menyentuh Tanah
Kita sebenarnya tahu bahwa Allah memerintahkan makhluk-Nya untuk tidak berbuat kerusakan di muka, لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ. Kita lupa bahwa memelihara bumi juga merupakan amanah bagi kita sebagai khalīfah fil-arḍh. Tanpa lingkungan yang sehat, ibadah dan kehidupan sosial pun akan terancam. Lalu mengapa ayat dan hadis tentang menjaga alam tidak tercermin dalam kebijakan dan keputusan pembangunan masa kini?
Hutan di hulu DAS ditebang tanpa henti, bukit digerus alat berat, sungai dipaksa menelan limbah, dan tanah kehilangan daya serapnya. Ketika akhirnya datang banjir bandang, masyarakat kecil yang tidak pernah menyentuh izin tambang justru menjadi korban pertama.
Pertanyaannya sederhana tetapi menampar kita: Jika syariat memerintahkan manusia menjaga lingkungan, di manakah fiqh ekologi kita ketika izin-izin tambang diteken dan pohon-pohon terakhir di hulu hilang?
Kita tidak menunjuk siapa pun secara khusus, tetapi kita semua tahu bahwa kerusakan ekosistem tidak terjadi dalam satu malam dan tidak mungkin dilakukan oleh masyarakat biasa.
Jadi Sebenarnya Ini Bencana Alam atau Bencana Moral?
Saking seringnya terjadi bencana di negeri ini, kita jadinya menormalisasi tragedi sebagai “bencana alam”, padahal sebagian besar adalah bencana moral hasil pilihan manusia yang lebih mengutamakan keuntungan jangka pendek daripada kelangsungan hidup jangka panjang.
Dalam agama kita, ada konsep amanah dan tanggung jawab bersama. Tapi ketika tambang dibuka seluas-luasnya seolah alam ini tidak pernah lelah, ketika pengawasan sekadar formalitas semata, dan hutan dihitung hanya sebagai angka dalam laporan ekonomi, amanah itu perlahan hilang. Bukan karena kita tidak paham, hanya saja tampaknya kepentingan lain terasa lebih menguntungkan daripada menjaga bumi yang kita pijak sendiri.
Di titik ini, fiqh ekologi bukan sekadar krisis teori, tetapi krisis moral.
Ketika Korban Bukan Pelaku
Tragedi Sumatra memperlihatkan satu kenyataan pahit bahwa mereka yang mengalami kerusakan rumah, keluarga yang hilang, dan bahkan harapan mereka untuk hidup sangat kecil, bukanlah orang-orang yang merusak hutan. Tetapi mereka selalu menjadi pihak yang paling cepat diminta bersabar, paling sering dinasihati, dan tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan.
Di manakah keadilan ekologis yang selama ini kita banggakan dalam ajaran Islam?
Keadilan bukan hanya tentang menghukum pelaku, tetapi juga mencegah segala hal yang menghasilkan kerusakan sejak awal.
Menghidupkan Kembali Fiqh Ekologi yang Pernah Kita Kubur
Fiqh ekologi sebenarnya bukan konsep yang rumit. Ia hanyalah cara pandang yang mengingatkan kita bahwa ketika membangun, membuat kebijakan, atau mengambil sumber daya alam, kita tidak boleh lupa bahwa bumi ini bukan sekadar aset ekonomi, terutama bagi sekelompok manusia yang tidak pernah kenyang mengeruk sumber daya alam di negeri ini. Alam ini adalah amanah dari Allah untuk kita. Tempat kita hidup, tumbuh, dan kembali.
Tragedi Sumatra mestinya membuat kita sebagai umat Islam berhenti sejenak, merenung, dan saling bertanya:
Apakah fiqh ekologi sudah menjadi dasar dalam keputusan-keputusan besar terhadap lingkungan?
Apakah pembangunan yang dibangga-banggakan sekarang ini ikut menjaga ciptaan Allah, atau justru merusaknya?
Dan apakah ajaran ini selama ini hanya kita biarkan jadi tulisan tanpa wujud tindakan?
Fiqh ekologi hanya akan hidup ketika ia dijadikan dasar tindakan, bukan sekadar teks indah yang berulang dibacakan setiap kali bencana telah terjadi.
Saatnya Mendengar Teriakan Alam
Banjir bandang di Sumatra menjadi pengingat yang tidak bisa diabaikan. Jika fiqh ekologi tidak kita hidupkan kembali, kita akan terus mengulang kesalahan yang sama. Islam mengajarkan kita membaca ayat, baik yang tertulis maupun yang hadir dalam peristiwa. Dan mungkin, lewat bencana ini, alam sedang menyampaikan sesuatu kepada mereka yang selama ini menutup mata dan telinga dari jeritan bumi.
Saatnya kita menghidupkan kembali fiqh ekologi yang selama ini dikubur dengan sengaja. Karena menjaga bumi adalah bagian dari ibadah.
Pray for Sumatra
Mari kita sisipkan doa dan sisihkan harta untuk saudara-saudara kita di Sumatra.
Semoga mereka diberi kekuatan menghadapi ujian ini, dan semoga siapa pun yang pernah merusak alam dilembutkan hatinya, dikembalikan menjadi manusia yang lebih baik, lebih peduli, dan lebih amanah terhadap bumi yang Allah titipkan kepada kita.
Banjir bandang dan tanah longsor tengah melanda berbagai wilayah di Sumatera. Air datang tiba-tiba, tanah runtuh tanpa aba-aba, rumah rusak, lahan pertanian hilang, dan aktivitas pendidikan terganggu. Dalam situasi seperti ini, kita sering menyebutnya sebagai bencana alam—sebuah istilah yang terdengar wajar, namun kita jarang merenungkannya lebih dalam.
Padahal, di balik setiap bencana, selalu ada pertanyaan penting:
mengapa bencana ini terus berulang, bahkan semakin parah?
Apakah semata karena hujan yang terlalu deras, atau ada faktor lain yang ikut berperan?
Bukan Sekadar Soal Nama
Dalam aturan negara, bencana alam didefinisikan sebagai peristiwa yang disebabkan oleh faktor-faktor alam, seperti hujan ekstrem, gempa bumi, atau letusan gunung api. Dari definisi ini, banjir dan longsor memang tampak sebagai bagian dari risiko alamiah wilayah Indonesia, termasuk Sumatera.
Namun, perkembangan ilmu lingkungan menunjukkan bahwa alam tidak pernah bekerja sendirian. Cara manusia mengelola hutan, tanah, dan sungai sangat menentukan apakah turunnya hujan merupakan sebuah “rahmat” atau justru sebuah “laknat”.
Di sinilah muncul istilah “bencana ekologi”. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan bencana yang terjadi karena alam kehilangan keseimbangannya akibat aktivitas manusia. Alam tetap berperan sebagaimana mestinya, tetapi manusia telah mengubah kondisi lingkungan sedemikian rupa sehingga bencana menjadi lebih mudah terjadi dan dampaknya jauh lebih besar.
Dengan kata lain, bencana ekologi bukan berarti alam yang “bersalah”, melainkan
alam dipaksa menanggung akibat dari tindakan manusia yang salah.
Sumatera dan Lingkungan yang Kian Rentan
Sumatera sejatinya dianugerahi hutan yang luas dan subur. Selama ratusan tahun, bahkan mungkin ribuan tahun, hutan-hutan ini berfungsi sebagai penjaga air dan tanah. Ketika hujan turun, hutan menyerap air, menahannya, lalu melepaskannya perlahan ke sungai.
Namun, dalam beberapa dekade terakhir, banyak kawasan hutan di Sumatera beralih fungsi. Pembukaan lahan untuk perkebunan, pertambangan, dan permukiman membuat tutupan hutan berkurang drastis. Lereng-lereng yang dahulu hijau kini menjadi terbuka, dan daerah resapan air semakin menyempit.
Para ahli sering menyebut hutan sebagai “spons alami”. Ketika spons ini hilang, air hujan tidak lagi terserap, tetapi langsung mengalir deras di permukaan. Sungai cepat meluap, tanah menjadi rapuh, dan longsor pun mudah terjadi. Dalam kondisi lingkungan seperti ini, hujan yang seharusnya biasa saja (bahkan suatu keberkahan) bisa berubah menjadi ancaman datangnya bencana.
Apa Kata Para Ahli?
Pandangan ini bukan sekadar asumsi. Emil Salim, pakar lingkungan hidup Indonesia, menyebut bahwa banyak bencana di negeri ini sebenarnya adalah bencana akibat ulah manusia. Alam hanya bereaksi atas kerusakan yang diciptakan manusia sendiri.
Hal serupa disampaikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dalam berbagai pernyataannya, BNPB menegaskan bahwa sebagian besar bencana di Indonesia saat ini adalah bencana hidrometeorologi—seperti banjir dan longsor—yang sangat dipengaruhi oleh kerusakan lingkungan, terutama hutan dan daerah aliran sungai.
Prof. Dwikorita Karnawati, pakar geologi dan Kepala BMKG, juga menjelaskan bahwa longsor sangat berkaitan dengan hilangnya vegetasi di lereng. Menurutnya, hujan deras hanyalah pemicu. Tanpa kerusakan lingkungan, hujan tidak melulu menjadi bencana.
Sementara itu, WALHI secara konsisten mengingatkan bahwa banjir bandang dan longsor di Sumatera berkaitan erat dengan deforestasi, tata ruang yang buruk, serta eksploitasi alam yang berlebihan. Banyak wilayah terdampak parah justru berada di kawasan yang sebelumnya mengalami kerusakan hutan besar-besaran.
Semua pandangan ini mengarah pada satu kesimpulan:
bencana tidak datang tiba-tiba, melainkan tumbuh dari proses panjang yang kita abaikan.
Menimbang Status: Alam, Ekologi, dan Tanggung Jawab
Dalam membahas banjir dan longsor, kita perlu jujur bahwa faktor alam memang ada. Sumatera memiliki curah hujan tinggi dan wilayah berbukit. Hujan deras adalah bagian dari siklus alam yang tidak bisa kita kendalikan. Namun, hujan seperti ini sudah ada sejak dulu, dan tidak selalu berujung pada bencana besar.
Masalahnya muncul ketika lingkungan tidak lagi mampu menahan beban alam. Hutan berkurang, sungai rusak, dan tanah kehilangan kekuatannya. Dalam kondisi ini, air hujan kehilangan tempat untuk meresap dan mengalir dengan aman. Ia berubah menjadi aliran deras yang merusak, sementara tanah yang rapuh menjadi mudah runtuh.
Jika kita bandingkan, faktor alam bersifat tetap dan tidak bisa diubah. Sebaliknya, kondisi lingkungan sepenuhnya berada dalam kendali manusia.
Ketika kerusakan lingkungan menjadi penentu utama besarnya dampak bencana, maka menyebutnya sebagai bencana alam semata menjadi kurang tepat.
Lebih adil jika kita menyebut banjir bandang dan longsor di Sumatera sebagai bencana ekologi yang dipicu oleh hujan deras.
Cara kita menyebut bencana ini penting, karena ini akan menentukan cara kita bersikap. Jika semua dianggap sebagai kehendak alam, kita cenderung pasrah. Namun, jika kita sadar bahwa bencana juga lahir dari sikap manusia, maka ada tanggung jawab dalam diri kita untuk berbenah.
Penutup: Amanah Ilmu dan Kesadaran Bersama
Bagi mahasiswa dan santri, bencana bukan sekadar peristiwa alam, tetapi juga peringatan moral. Dalam ajaran Islam, manusia diberi amanah sebagai penjaga bumi (waliyyullah fil ardhli). Merusak lingkungan berarti mengkhianati amanah tersebut.
Kesalehan hari ini tidak cukup hanya ditunjukkan dalam ibadah personal, tetapi juga dalam cara kita memperlakukan alam. Menjaga lingkungan adalah bagian dari menjaga kehidupan, dan menjaga kehidupan adalah inti dari nilai kemanusiaan dan keimanan.
Jika relasi manusia dengan alam tidak segera dibenahi, banjir dan longsor akan terus berulang. Namun, jika kita mulai belajar dari bencana, memperbaiki kebijakan, dan membangun kesadaran bersama,
alam akan kembali menjadi “sahabat”, bukan “alat peringatan darurat”.
Pada hari Sabtu, 29 November 2025, bertempat di Teater FSH UIN Walisongo Semarang, telah dilaksanakan kegiatan CSSMoRA Learning Session sebagai agenda pengenalan dan pelatihan bagi anggota CSSMoRA UIN Walisongo Semarang dalam memahami dasar-dasar pasar modal. Kegiatan ini mengusung tema “Fundamental Pasar Modal: Cara Memulai, Mengelola Risiko, dan Menghindari Kesalahan Umum.”
Acara diawali dengan dengan pembukaan, dan dalam sambutan yang disampaikan oleh Ketua Umum CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, Asyraf Zofir Wafa, yang dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa kegiatan ini penting agar anggota memiliki pemahaman yang tepat mengenai investasi dan pengelolaan risiko. Ia menegaskan bahwa “Di era sekarang, kita selalu berhadapan dengan inflasi. Karena itu, memahami investasi bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Harapannya, kegiatan ini dapat membuka wawasan teman-teman untuk lebih siap dalam mengelola keuangan dan mengambil keputusan yang cerdas di pasar modal.” Ujarnya.
Setelah itu, kegiatan dilanjutkan pada sesi inti yaitu penyampaian materi oleh Viola Wulan Azzahro, anggota CSSMoRA UIN Walisongo Semarang yang berprestasi dalam berbagai kompetisi di bidang pasar modal. Sebagai pembuka, Viola terlebih dahulu menyampaikan contoh nyata mengenai inflasi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari kenaikan harga barang – barang, perubahan nilai tukar, hingga dampaknya terhadap daya beli masyarakat. Dari contoh tersebut, ia menekankan bahwa ketidakstabilan ekonomi menjadikan literasi investasi semakin penting bagi generasi muda.
Kemudian materi dilanjutkan dengan menjelaskan konsep dasar pasar modal, jenis-jenis instrumen investasi, serta langkah-langkah praktis untuk mulai berinvestasi secara aman. Ia juga menguraikan berbagai strategi pengelolaan risiko, seperti diversifikasi portofolio, mengenali profil risiko investor, serta pentingnya berpikir jangka panjang. Selain itu, peserta diberikan pemahaman mengenai kesalahan-kesalahan umum investor pemula seperti ikut-ikutan tren tanpa analisis, hingga keliru membaca pergerakan pasar. Penjelasan tersebut diperkaya dengan contoh studi kasus sederhana agar peserta lebih mudah memahami alur berpikir dalam pengambilan keputusan investasi.
Kegiatan diakhiri dengan penegasan kembali poin-poin penting mengenai literasi keuangan di kalangan mahasiswa dan dorongan agar anggota CSSMoRA lebih bijak serta siap dalam mengambil keputusan investasi di masa mendatang. Secara keseluruhan, acara berlangsung dengan lancar, komunikatif, dan memberikan wawasan baru yang bermanfaat bagi seluruh peserta.
Pada hari Ahad, 23 November 2025, Divisi PSDM (Pengembangan Sumber Daya Manusia) CSSMoRA UIN Walisongo Semarang telah melaksanakan kegiatan Ngopi (Ngobrol Pintar), yaitu program diskusi hangat dalam forum yang diperuntukkan bagi seluruh anggota CSSMoRA. Pelatihan ini berlangsung di Gazebo YPMI Al-Firdaus dan dimulai pada pukul 10.00 WIB hingga selesai. Kegiatan terselenggara dengan lancar dan mendapat partisipasi yang antusias dari para anggota yang hadir.
Ngopi merupakan salah satu program unggulan Divisi PSDM dalam upaya menambah wawasan dan mempertajam pemikiran kritis anggota CSSMoRA, khususnya dalam ranah hukum di dalam KUHAP. Program ini menunjukkan komitmen Divisi PSDM dalam memberikan ruang pengembangan diri bagi anggota serta menjawab kebutuhan mahasiswa terhadap wawasan anggota CSSMoRA dan kemampuan berfikir kritis.
Pada Ngopi kali ini, Divisi PSDM menghadirkan M. Wafi Ahdillah sebagai narasumber. Beliau dikenal sebagai praktisi hukum perdata. Dalam sesi materi, narasumber memberikan penjelasan mendalam mengenai sejarah hukum, dasar-dasar hukum,bagaimana hukum itu terbentuk hingga pembahasan KUHAP terbaru. Selain pemaparan materi, peserta juga diajak untuk berdiskusi langsung tentang pasal-pasal dalam KUHAP yang kontroversial. Hal ini bertujuan agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu untuk mengkritik isi KUHAP yang disahkan.
Kegiatan berlangsung secara interaktif. Peserta diberi kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, serta melakukan konsultasi secara langsung dengan narasumber. Banyak peserta yang merasa terbuka dan bertambah wawasannya, karena dapat memahami dan mengkritisi isi KUHAP terbaru.
Divisi PSDM sebagai penyelenggara berharap bahwa melalui Ngopi ini, kemampuan anggota dalam memahami isu-isu yang beredar dapat meningkat. Dengan adanya Ngopi , diharapkan anggota memiliki skill dasar mengkritisi apapun yang ada di negara kita.
Selain itu, pelatihan ini juga menjadi ajang silaturahmi dan penguatan relasi antaranggota CSSMoRA. Suasana diskusi yang hangat dan bersahabat membuat peserta merasa nyaman untuk belajar bersama, bertukar ide, dan saling memberikan masukan.
Selesai menyembah, menunduk dan memelas. Dalam batin berucap harapan. Merintih. Telapak tangan lebih tinggi dari kepala, tetap terbuka walau bergetar. Dari setiap sudut musholla terdengar desisan yakin.
“amin, amin, amin”.
Banyak keinginan yang muncul saat hati lupa menconcong justru hilang kala jiwa terjatuh dalam khusu’. Namun kaulah lemah, tidak dapat berbuat apa-apa selain memohon, menuntut, mengembangkan, merusak, dan bergerak tidak konsisten. Rupanya ia sedang dirundung keinginan, sampai-sampai do’a yang ia panjatkan penuh dengan duka dan harapan. Lirih terdengar dari telinga sendiri: aku memohon ampun kepada-Mu, tidak ada kekuatan selain kekuatan-Mu. Pujian-pujian itu jangan pernah kau luput sekalipun dalam do’a. Kaki melipat bertumpuk, tubuh membungkuk, kepala menunduk, roh terpuruk. Semua sama melakukan apa yang kini sedang menimpa, bertingkah serupa, namun bertingkat sesuai taqwa. Hanya kekasih pilihan yang mampu berlama-lama, lupa akan semua hal dunia, terpecah menjadi pemikir sacral, kotor, aneh, menyendiri. Tidak selamanya terbayang seperti itu, ada pula yang hidup seperti manusia pada umumnya. Menyukai harta, kebersihan, dan cinta akan kenyamanan. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang. Harta? Mungkin sedikit rupiah yang diberikan secara malar setiap bulannya yang sedang ia damba-dambakan. Namun jika ia benar-benar menginginkannya, barapa banyak yang ia sebutkan dalam do’anya. Sedangkan untuk makan saja, dua ribu lima ratus sudah mendapatkan mie dan sop tahu. Tak jarang diberi bonus sambal untuk mereka yang menyukai.
Ia sendirian sekarang. Teman-temannya sudah selesai membaca wirid, sholat sunah, bahkan mereka yang mengobrol setelah jama’ah, sudah membubarkan diri. Tejo, santri yang sudah lama mukim dipesantren, masih khusu’ dengan harapan-harapannya. Harapan yang sama dengan teman-temannya, tetapi lebih memaksa, terlihat dari caranya berdo’a dengan tanggannya yang tinggi memohon. “Robbanaatinafiddunya khasanah, wa fiil akhirati khasanah….”, kalimat terakhir yang lumrah penutup do’a sudah keluar dari mulutnya, bertanda ia akan selesai.
Nampak Tejo sudah merasa cukup. Ia berdiri sejenak melihat ke sekeliling musholla lalu berjalan pergi. Tidak terlalu lama ia pasrah, berdiri dan berjalan mendekati pejuang lainnya. Tawa persahabatan seketika tumbuh saat sudah berkumpul. Lelucon-lelucon sederhana terdengar sangat menarik. Timpa-menimpa kekurangan tidak menjadi masalah serius.
Perut terasa lapar. Tejo beranjak cepat menyusul bau harum yang sudah tercium. Jauh dari kata mewah makanan yang tersedia, tetap nikmat saat dibalut dengan syukur. Rela, menikmati, dan terkadang membantai dengan gerutu yang tidak ada akhirnya, namun tetap saja mereka memakan apa yang disediakan. Keberkahan berkumpul dalam satu wadah, melahap bersama sambil mulut kadang berucap. Sudah menjadi kebiasaan, kondisi bagaimanapun juga menjadi lawakan seketika. Ada yang berdesis pelan, membisik rancangan, diam-diam meraba lauk teman tanpa pengawasan. Risih rupanya mulut si Tejo sampai berkata,
“haduh, kiamat sudah dekat, tanda-tanda yang ada bisa kita lihat sekarang, tinggal siap-siap menyambutnya dengan keimanan.”
Nadanya biasa namun mengandung kejanggalan. Udin, satu lagi pejuang pintar. Alisnya mengernyit, tangannya berhenti memuluk, matanya menatap Tejo tidak biasa, mengundang tanya pada kepala yang semula hanya tenang.
“Kamu siapa?”, tanya Udin.
Bukan sebuah lelucon, namun hentakan keras kepada Tejo.
“Saya naming kawula.”, jawab Tejo.
“Ya sudah, pangkatmu hanya hamba, untuk apa kau mengatur terjadinya kiamat?”
Tentu saja, kita sebagai hamba tidak sepatutnya berkata tentang hari kiamat, sekalipun tanda-tanda sudah bisa dilihat. Tuhan Maha Kuasa atas segala rancangan-Nya. Tidak akan terlambat sedetikpun, dan tidak bisa ditebak sampai kapanpun. Berangkali Tejo hanya sedang melamun karena sebelumnya ia terbang dalam ambang do’a. Sampai-sampai kalimat itu keluar dengan ringannya.
Belum selesai makan, terhenti pada pulukan terakhir karena mendengar teriakan dari depan.
“Jo…..Tejo! Timbali Mbah Yai!”
Seketika Tejo beranjak lari ke depan tanpa mencuci tangannya. Wajahnya risau, bibirnya bergetar. Ragu. Pikirannya bertanya-tanya ada apa sebenarnya samapai Mbah Yai memangilnya. Sedikit bayangan picik: mungkin aja, Allah telah mengabulkan do’anya lewat Mbah Yai. Mungkin saja, Mbah Yai tahu bahwa dirinya sudah tidak memiliki uang sekarang. Tejo melihat ke arah barisan sandal yang berantakan. Ia mengambil sandal japit hijau untuk kaki kirinya, dan biru untuk kaki kanannya. Ia memakainya tanpa peduli itu milik siapa. Sudah tiga tahun ia hidup di pesantren tanpa memiliki sendal. Korban ghasaban sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Tak segan, sandal milik anak baru yang masih bersih dan bermerek juga ia sikat. Ada dua kemungkinan di sini: ia yang memang tidak memiliki uang, atau rasa kepemilikannya yang sudah melambung tinggi. Dalil lumrah “Semua milik Allah, semua hanya titipan Allah” menjadi pedomannya sampai saat ini. Mungkin jika suatu saat jempol Tejo hilang dimakan tikus, teman-temannya akan berteriak, “jempol itu juga milik Allah, titipan Allah”.
Mbah Yai, siapa yang tidak kenal beliau. Pengasuh pesantren dengan santri ribuan, dan masyarakat yang semuanya menanamkan cinta kepadanya, menumbuhkan bunga-bunga takdzim dan segan. Mbah Yai terlihat rapih dengan jubah dan sorban yang melingkar di kepalanya.
Sedikit terbirit Langkah Tejo. Sampai keringat masih saja bercucur Ketika sudah sampai di hadapan Mbah Yai. Barangkali keringat itu bukan karena langkahnya yang cepat, tetapi karena sekarang ia sedang berhadapan dengan orang yang paling ia takuti.
“Antar saya ke maqam.”
Kalimat sederhana itu seketika dibalas dengan kepatuhan
Dari kejauhan maqam sudah terlihat ramai. Rupanya ada acara resmi yang dihadiri para Kyai di desa. Tejo berjalan hati-hati di belakang Mbah Yai, tanpa berani sejajar, apalagi mendahului. Semua orang menunduk ketika Mbah Yai melintas. Mereka yang duduk bahkan rela berdiri demi menghormati Mbah Yai.
“Nitip sendal, yo.”
Lagi-lagi kalimat sederhana yang keluar dari mulut Mbah Yai langsung dibalas dengan satu kata
“Enggih.”
Tahlil dimulai. Kalimat demi kalimat pembawa acara berterbangan dari toa masjid. Para hadirin duduk tenang. Ibu-ibu yang hadir selalu saja begitu, masih saja mengobrol walau sudah diperingatkan sebelumnya. Obrolannya berhenti hanya di saat menjawab salam saja. Bahkan masih ada yang berkeliling mencari jajanan untuk anaknya. Pedagang yang ikut serta tidak berani berani berteriak lantang menawari. Tapi tetap saja ibu-ibu yang menawar harga membuat pedagang itu harus lantang berkata “Tidak”, karena tawaran harga yang diajukan mencapai setengah harga pasar. Tidak tanggung-tanggung memang ibu-ibu jika sudah menyukai barang, terlebih jika yang meminta anaknya. Jangankan menurunkan harga pasar, menurunkan harga diri penjualnya pun bisa saja akan ia lakukan.
Tidak terlalu lama tahlil berlangsung. Masyarakat yang sudah mendapatkan jatah berkat mulai beranjak dari tempatnya. Tejo harus Bersiap-siap. Sebentar lagi, Mbah Yai akan keluar dan pulang ke rumah. Ia merapihkan sandal Mbah Yai yang semula menghadap maqam ia putar siap pakai. Ia harus sabar menunggu, berdiri di sebelah sandal agar tidak tertukar, atau bahkan diambil orang.
Dari dalam, Mbah Yai sudah meninggalkan tempat duduknya. Jama’ah yang sudah lama menunggu berbaris bergantian menunggu kesempatan mencium tangan Mbah Yai. Semakin banyak jama’ah yang berdesakan menunggu giliran. Tejo tersengol dari tempatnya. Ia berusaha kembali ke tempatnya semula, namun jama’ah dengan cepat mengisi jarak demi jarak yang kosong. Sedikit saja Tejo mundur, di depannya sudah ada orang lain yang mengisi. Ia hanya perlu berdo’a agar sandal Mbah Yai tidak hilang.
Seiring waktu berjalan, jama’ah sudah mulai mengikis. Tejo sudah bisa kembali dan mengecek apakah sandal Mbah Yai masih ada? Ia memasang mata tajam-tajam dari kejauhan. Namun Tejo tidak melihat sandal Mbah Yai di tempat semula. Ia berusaha mencari kemana sandal itu berpindah. Sekali lagi kesialan itu datang, Mbah Yai sudah berdiri memanggil Tejo sebelum sandalnya ketemu. Tejo hanya menunduk sambil sesekali menelan ludah.
“Sendal saya mana? Ayo pulang.”
Belum ada jawaban di kepala Tejo. Ia tersenyum kaku menatap tanah. Tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia berusaha menjawab dengan terbata-bata,
“Anu, Mbah, eh……sandalnya, anu.”
“Yang saya tanya sandal saya, bukan sandal si Anu.”
“Anu, sandalnya hilang.”
“Heh?” Mbah Yai terkejut mendengar jawaban Tejo. Namun setelah itu, senyuman terlukis di wajah Mbah Yai. Melihat wajah Tejo yang pucat dan keringat yang bercucur deras, Mbah Yai merasa kasihan. Ia memberikan seratus ribu rupiah kepada Tejo untuk dibelikan sandal baru di warung terdekat.
Segera Tejo meluncur ke penjual sandal. Ia memilih sandal yang paling bagus karena memang uang yang diberikan Mbah Yai cukup besar. Tejo memberikan uang itu setelah penjual selesai membungkus sandal. Tanpa mau menerima, penjual itu berkata senang jika dagangannya bisa bermanfaat bagi santri, terlebih untuk Mbah Yai. Tidak mau dimarahi Mbah Yai, Tejo mencoba memberikan lagi uang itu ke penjual dengan sedikit paksaan yang dibalut tawa dan pujian, namun tetap saja penjual itu menolak. Ya sudahlah, Tejo tidak mau membuat Mbah Yai lebih lama menunggu. Ia hanya dapat berterima kasih kepada penjual itu, sembari mendo’akan agar dangangannya laris dan bermanfaat.
Dengan takdzim Tejo Menyusun sandal di depan Mbah Yai, lalu mengembalikan uang yang diberikan kepadanya. Mbah Yai heran, uangnya masih utuh. Tejo menjelaskan kenapa uang yang diberikan Mbah Yai tidak berkurang sedikitpun. Setelah mendengar penjelasan Tejo yang sedikit tidak jelas, Mbah Yai berkata,
Pelajar berkepentingan memetik apapun sebagai pembelajaran. Darimana? Dari apapun, di manapun. Menunaikan titah pendidikan kepada para pemeluknya:
“Belajarlah, dimanapun, dengan apa pun, kepada siapapun”.
Sidang pembaca yang budiman, kuceritai mengenai apa yang kurasai terhadap yang satu ini. Ini adalah Film Komang (2025), disutradarai oleh Naya Anindita dan dibintangi oleh Kiesha Alvaro sebagai Raim (Ode) dan Aurora Ribero sebagai Komang (Ade). Sebuah perjalanan spiritual yang dialami Ade Komang—tokoh utama perempuan film itu menuju yang paling romantis. Bercerita tentang perjalanan hubungan meniti perasaan, akankah berujung sejati?
Raim Laode, La pada namanya bermakna “La ilaha illallah”, nampak betul dari namanya saja ia dilahirkan sebagai pemeluk agama yang taat. Dan Komang seorang perempuan Hindu asal Bali yang kemudian menetap di Sulawesi pun besar dan tumbuh kembang di keluarga yang betul-betul menghayati keyakinannya sebagaimana yang telah diajarkan Ibunya. Lalu, pada suatu pertunjukan stand up comedy bertemulah mereka untuk pertama kali.
Mula-mula yang ingin kusampaikan adalah keindahan melalui pluralisme. Yang satu ini bukan melulu mengenai gemasnya romansa anak muda, laki-perempuan dan persoalan receh yang membersamainya. Lebih dari itu adalah pluralisme. Ciamik! Betul Indonesia dengan kemajemukan dan telah ditampilkan dengan indah melalui film, yaitu di Kota BauBau, Sulawesi Tenggara. Perbedaan berdampingan! Sangat dekat dan saling menghargai. Saling mencintai, tidak saling membenci.
Lalu, Cinta adalah Perjalanan Spirituil. Di sana sangat intim dan jenaka, sangat romantis nan mistis. Aku percaya, Bung, percaya betul terhadap perasaan dan kelembutan nurani. Maka saling mencintailah mereka, Ode dan Ade lalu, dijalinlah suatu ikatan tidak pasti yang khalayak menamainya pacaran.
Hubungan mesti berlanjut. Berlanjut senang-senang saja atau kau ikat melalui ikatan sakral bernama pernikahan? Jika sudah cinta jangan melulu ucapnya, buktikan pula melalui sikap. Maka keyakinan cinta diuji di sini.
“Maka jangan kau menjalani keyakinan dengan ragu, jika begitu kau menjalani keraguan bukan keyakinan,” ucap bapaknya Neneng dalam film itu.
Sedang perasaan serumit itu, apalagi manusia! Dengan segala kegamangan dan ikatan yang membersamainya. Ode merantau ke Ibu Kota untuk menjemput rezekinya. Di lain sisi, ada pula laki-laki lain yang mendambakan Ade sebagai partner hidupnya, mapan, tampan, seiman pula. Keyakinan Ode dan Ade diuji di sini. Jarak dan kecurigaan memuncak di antaranya, hingga suatu hari kabar duka datang kepada Ode yang sedang berkarier di Ibu Kota mengenai kepulangan Bapaknya. Remuk redam hatinya. Patah hati seorang perantau adalah kabar kepulangan orangtua di rumah.
Di kampung halaman, di masa berkabung, Ode tentu saja bertemu dengan kasihnya. Ia merasakan penghiburan sejati dan merasai perasaan itu tak mungkin padam. Memuncak!
Perdebatan sengit terjadi antara Ode dan Ade.
“Hanya itu usahamu? Memperjuangkanku?!” ucap Ade.
Mereka berdua akhirnya hanya mampu menangis— suatu ungkapan paling nyata emosional manusia. Ode berkata:
“Satu takdir, tak mungkin bisa ditulis oleh dua pena.”
Keesokan harinya, Ode bertandang ke rumah Ade untuk menyatakan maksud kepada Ibunya Ade, ditolak ia dengan pernyataan yang tak mungkin ia bantah. Sebelum keberangkatan Ode menuju Jakarta untuk kembali berkarier, berpesan sepuhnya:
“Rejeki, Jodoh dan mati di tangan Tuhan. … Dan untuk jodoh, doakanlah ia.”
Kembalilah Ode ke Ibu Kota. Sukseslah ia berkarier sebagai seniman. Dan apa yang terjadi selanjutnya – hidayah itu tiba; keajaiban takdir yang wajib Saudara saksikan sendiri.
Buatku ini bukan hanya sekadar tontonan, ini adalah dakwah yang tiba kepadaku. Kekuatan film ini terletak pada kedalaman emosi yang berhasil disampaikan oleh para aktor, terutama Aurora Ribero (Komang) dan Ayu Laksmi (Meme/Ibu Komang). Momen-momen intim di BauBau dan Bali terasa otentik dan sangat menyentuh.
Namun, sebagai sebuah karya sinema yang membawa nama besar Raim Laode, terdapat beberapa catatan yang perlu diperhatikan:
Aspek Teknis Pemeran: Meskipun chemistry antar tokoh utama terasa, penampilan Kiesha Alvaro (Raim) di beberapa adegan masih terasa kurang matang dalam menyampaikan dialek Buton yang kental dan khas.
Transisi Alur: Penggunaan latar stand-up comedy di awal terasa sedikit terpisah dengan isu besar pluralisme dan perjuangan cinta. Transisi antara segmen komedi Raim di Jakarta dengan drama keluarga di BauBau terkadang kurang mulus.
Visual: Meskipun sinematografi Robert Cauble indah dalam menangkap lanskap Sulawesi Tenggara, beberapa adegan drama di ruang tertutup terasa kurang dinamis dan kurang maksimal secara visual.
Terlepas dari catatan teknis, pesan yang disampaikan film ini—bahwa keberanian, ketulusan, dan doa adalah upaya tertinggi dalam menjemput takdir—sangat menggetarkan. Aku berkeyakinan mengenai dua nama mula-mula di antara yang 99 merebak ia di keseharian, dan indah sekali agama. ⚘️
Selepas menyaksikan film ini di salah satu mall di Tasikmalaya – dalam perjalanan pulang – aku teringat sebuah ucapan dalang edan:
“Menikah adalah nasib, mencintai adalah takdir. Kau bisa berencana menikah dengan siapa, tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa.” ~ Sujiwo Tejo.
Pada hari Jumat, 7 November 2025, bertempat di YPMI Al-Firdaus Semarang, telah dilaksanakan kegiatan Class of CSSMoRA (COC) yang diselenggarakan oleh Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) CSSMoRA UIN Walisongo Semarang. Kegiatan ini merupakan agenda peningkatan kapasitas anggota sekaligus ruang pembelajaran kolektif yang diinisiasi sebagai bentuk komitmen PSDM dalam menghadirkan wadah pengembangan diri melalui pendekatan ilmu sosial dan keagamaan. Pelaksanaan program ini dilakukan secara kolaboratif dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (HMJ PMI) UIN Walisongo Semarang sebagai upaya memperkenalkan sekaligus memperluas pemahaman anggota terkait konsep, metodologi, dan dinamika pengembangan masyarakat, khususnya dalam konteks kehidupan sosial di Indonesia.
Rangkaian acara dimulai dengan pemaparan materi oleh Fadlika Tsabita Dzihni selaku pemateri dari HMJ PMI, yang menjelaskan dasar teoretis pengembangan masyarakat, ruang lingkup praktik pemberdayaan, serta pendekatan-pendekatan strategi yang relevan dalam menganalisis masalah sosial. Dalam penyampaiannya, beliau menyampaikan harapan bahwa kegiatan ini dapat menjadi pintu awal bagi anggota CSSMoRA untuk lebih peka terhadap isu-isu sosial, memahami akar masalah yang terjadi di masyarakat, dan berperan aktif dalam setiap proses penyelesaian masalah dengan sudut pandang yang lebih kritis, aplikatif, serta berlandaskan nilai-nilai keislaman. Setelah sesi penyampaian materi, acara dilanjutkan dengan diskusi kelompok yang membahas berbagai problem masyarakat Indonesia, mulai dari isu pendidikan, ekonomi, sosial budaya, hingga tantangan pembangunan komunitas. Diskusi ini diarahkan untuk melatih pola pikir analitis peserta dalam merumuskan solusi yang tepat berdasarkan pendekatan dan teori pengembangan masyarakat.
Seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar, interaktif, dan memberikan dampak positif bagi peserta dalam memperluas wawasan sekaligus meningkatkan kemampuan berpikir kritis terhadap fenomena sosial yang terjadi. Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan anggota CSSMoRA semakin memiliki kesadaran, kemampuan, serta motivasi untuk turut serta berkontribusi dalam proses pengembangan masyarakat di lingkungan sekitarnya. Demikian berita acara ini dibuat dengan sebenarnya untuk dapat digunakan sebagaimana mestinya.