Ada satu hal yang sampai hari ini masih membuatku berpikir “Mengapa terkadang kita harus menghabiskan waktu begitu lama untuk menjalani kehidupan yang tidak pernah kita inginkan?”
Aku pernah menghabiskan tujuh tahun hidupku hanya untuk menunggu satu hari, hari ketika aku tidak perlu lagi menjadi santri. Mungkin kalimat itu terdengar aneh, terlebih jika ditulis untuk memperingati Hari Santri Nasional. Ketika banyak orang mengenang kehidupan pesantren dengan penuh kebanggaan dan kerinduan, aku justru memiliki cerita yang berbeda. Bagiku, pesantren pernah menjadi tempat yang paling ingin kutinggalkan.
Semuanya bermula ketika usiaku baru sebelas tahun. Saat itu, orang tuaku memutuskan bahwa aku harus melanjutkan pendidikan di pesantren. Mereka ingin aku mendalami ilmu agama, sementara aku sendiri tidak pernah memiliki keinginan untuk menjadi santri. Aku membantah keputusan tersebut. Aku ingin bersekolah seperti teman-temanku, memiliki kebebasan, dan mempelajari hal-hal yang benar-benar kusukai.
Namun, keinginanku tidak mengubah keputusan mereka. Pada akhirnya, aku tetap mondok. Hari-hari di pesantren tidak selalu mudah. Ada aturan yang harus ditaati, kegiatan yang telah dijadwalkan, dan pelajaran agama yang sebenarnya tidak terlalu kusukai. Sementara itu, aku sering merasa iri melihat teman-temanku di luar pesantren yang tampak lebih bebas menjalani masa remajanya. Hampir setiap tahun aku meminta kepada orang tuaku agar diizinkan pindah sekolah. Namun, permintaan itu tidak pernah terwujud. Bukan berarti kehidupanku di pesantren sepenuhnya buruk. Aku memiliki teman-teman yang akrab dan banyak pengalaman bersama mereka. Akan tetapi, kedekatan dengan teman-teman tidak membuatku mampu menerima kehidupan sebagai santri. Aku tetap merasa bahwa pesantren bukanlah tempat yang kupilih untuk diriku sendiri. Aku menjalani hari-hari dengan satu keyakinan sederhana, semua ini pasti akan berakhir.
Selama tujuh tahun, aku tidak pernah benar-benar belajar mencintai kehidupan pesantren. Aku hanya belajar bertahan sambil menunggu hari ketika aku bisa meninggalkannya.
Di tengah kehidupan itu, aku menyimpan sebuah impian. Aku ingin melanjutkan pendidikan di Universitas Sumatera Utara (USU), tepatnya di jurusan Teknik Elektro. Sejak lama aku menyukai dunia teknologi dan ingin mempelajarinya lebih dalam. Bagiku, Teknik Elektro bukan sekadar jurusan. Ia menjadi simbol kebebasan untuk menentukan masa depan melalui pilihanku sendiri. Setelah bertahun-tahun menjalani pendidikan yang dipilihkan orang tua, aku berharap setidaknya dapat menentukan sendiri arah pendidikan tinggiku.
Namun, kenyataan kembali berkata lain. Orang tuaku memberitahukan bahwa kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk membiayai kuliah. Mereka menyarankanku untuk merantau saja. Aku bahkan belum sempat mendaftarkan diri ke USU. Sebelum perjuangan itu benar-benar dimulai, aku sudah harus menerima bahwa impianku belum dapat diwujudkan. Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika harus merelakan sesuatu bukan karena kita tidak mampu memperjuangkannya, melainkan karena keadaan tidak memberikan kesempatan. Sementara itu, pendidikan di pesantren belum sepenuhnya selesai. Sebelum penamatan, kami diwajibkan menjalani masa pengabdian. Masa tersebut sekaligus menjadi gap year bagiku.
Ketika teman-temanku mulai memasuki dunia perkuliahan, mengenakan almamater, dan menjalani kehidupan baru, aku masih berada di lingkungan pesantren. Sesekali aku bertanya kepada diriku sendiri, “Seharusnya aku juga sudah berada di sana, bukan?” Namun, aku tetap menjalankan pengabdian sebagai tanggung jawab yang harus kuselesaikan. Sama seperti tahuntahun sebelumnya, aku meyakinkan diri bahwa masa ini pun akan berlalu. Hingga akhirnya, hari yang kutunggu selama tujuh tahun benar-benar tiba. Hari penamatan. Aku merasakan kebahagiaan yang sulit dijelaskan. Setelah bertahun-tahun meminta pindah sekolah dan menjalani kehidupan yang tidak pernah kuinginkan, akhirnya aku dapat meninggalkan pesantren.
Kebebasan yang selama ini kunantikan akhirnya tiba.
Bagiku, penamatan bukan sekadar akhir pendidikan, melainkan kesempatan untuk memulai kehidupan yang benar-benar kuinginkan. Bahkan, saat itu aku berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku tidak ingin mondok lagi. Kupikir, kisahku sebagai santri telah selesai. Namun, persoalan pendidikan tinggi masih belum menemukan jawaban. Aku tetap ingin kuliah, sementara kondisi ekonomi keluarga belum memungkinkan. Karena itu, aku mulai mencari informasi beasiswa melalui internet. Sampai akhirnya aku menemukan kesempatan melalui program beasiswa LPDP. Aku mencoba mendaftar dengan memilih bidang agama, pilihan yang sebenarnya cukup jauh dari impianku untuk mempelajari Teknik Elektro. Keputusan itu tidak mudah. Ada kekecewaan yang harus kuterima ketika menyadari bahwa aku mungkin harus merelakan jurusan yang selama ini kuimpikan.
Tetapi aku mulai meyakinkan diri sendiri: “Tidak apa-apa jika bukan. Tidak apa-apa jika harus mengambil jurusan agama. Yang penting aku masih bisa kuliah.” Aku kemudian memilih UIN Walisongo Semarang karena memperkirakan peluang untuk melanjutkan pendidikan di sana cukup besar. Setelah mengikuti proses seleksi beasiswa, akhirnya aku dinyatakan lulus. Aku pun melanjutkan pendidikan di UIN Walisongo Semarang, mengambil jurusan Ilmu Hadis. Tentu ada kebahagiaan karena akhirnya menjadi mahasiswa. Namun, di balik itu masih tersimpan kekecewaan karena harus meninggalkan jurusan impian. Dan ternyata, kehidupan kembali memberiku kejutan. Bahkan setelah menjadi mahasiswa, aku masih harus mondok. Aku sangat kecewa. Dahulu aku membayangkan dunia perkuliahan sebagai awal kehidupan yang lebih bebas. Setelah tujuh tahun menjadi santri, aku berharap tidak perlu lagi menjalani kehidupan pondok.
Namun, kenyataan kembali membawaku pada kehidupan yang sama.
Jika dipikirkan, perjalanan hidupku terasa ironis. Aku tidak pernah ingin menjadi santri, tetapi menghabiskan tujuh tahun di pesantren. Aku ingin mempelajari Teknik Elektro, tetapi justru melanjutkan pendidikan di jurusan Ilmu Hadis. Aku ingin meninggalkan kehidupan pondok, tetapi setelah menjadi mahasiswa pun aku masih harus menjalaninya. Seolah-olah sejauh apa pun aku mencoba berjalan, kehidupan selalu membawaku kembali pada sesuatu yang dahulu ingin kuhindari. Namun, justru di bangku perkuliahan UIN Walisongo Semarang, cara pandangku perlahan mulai berubah. Aku bertemu dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang pendidikan. Dalam proses perkuliahan, aku mulai menyadari bahwa ilmu yang dahulu kupelajari dengan setengah hati ternyata memiliki manfaat yang tidak kecil. Ketika mempelajari Ilmu Hadis, aku tidak sepenuhnya memulai dari nol. Pengetahuan agama dan kebiasaan belajar yang terbentuk selama berada di pesantren ternyata menjadi bekal yang membantuku mengikuti perkuliahan. Interaksi dengan teman-teman dan dosen juga membuatku melihat pengalaman pesantren dari sudut pandang berbeda. Aku mulai menyadari bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan memperoleh dasar pendidikan agama seperti yang pernah kudapatkan.
Untuk pertama kalinya, aku mulai mempertanyakan kembali caraku memandang masa lalu. Selama tujuh tahun, aku hanya melihat pesantren sebagai tempat yang membatasi kebebasanku. Aku terlalu sibuk menunggu kapan semuanya berakhir, hingga hampir tidak pernah memikirkan apa yang sebenarnya telah kudapatkan. Namun, setelah memasuki dunia perkuliahan, aku mulai memahami bahwa pendidikan pesantren telah meninggalkan sesuatu dalam diriku. Bukan kerinduan. Sampai hari ini, aku tidak bisa mengatakan bahwa aku merindukan kehidupan pesantren. Aku juga tidak ingin berpura-pura bahwa tujuh tahun tersebut merupakan masa yang sepenuhnya menyenangkan. Tetapi aku mulai menghargai apa yang telah kudapatkan darinya. Aku juga mulai memahami alasan orang tuaku dahulu menginginkanku mendalami ilmu agama. Pada usia sebelas tahun, aku hanya melihat keputusan mereka sebagai sesuatu yang merampas kebebasanku. Kini, aku mulai mampu memahami harapan yang mereka titipkan melalui keputusan tersebut.
Bukan berarti kekecewaanku dahulu menjadi tidak berarti. Aku tetap percaya bahwa keinginan seorang anak untuk menentukan masa depannya perlu didengar. Namun, aku mulai belajar menerima bahwa pengalaman yang tidak kita inginkan pun dapat memberikan pelajaran berharga. Aku tetap boleh menyukai teknologi. Aku tetap boleh menyimpan keinginan untuk mempelajari Teknik Elektro. Aku juga boleh mengakui bahwa jurusan yang kutempuh sekarang bukanlah pilihan pertamaku. Namun, selama aku berada di sini, aku memiliki kesempatan untuk belajar dan bertumbuh.
Kini, ketika Hari Santri Nasional diperingati, aku memiliki cara pandang yang berbeda tentang makna menjadi santri. Bagiku, Hari Santri bukan hanya tentang mengenang perjuangan pesantren dan para santri dalam sejarah bangsa. Hari ini juga menjadi kesempatan untuk mengenang perjalanan pribadiku sebagai seseorang yang membutuhkan waktu begitu lama untuk menerima identitasnya sendiri. Aku mengingat seorang anak berusia sebelas tahun yang pernah membantah keputusan orang tuanya. Aku mengingat seorang remaja yang hampir setiap tahun meminta pindah sekolah. Aku juga mengingat seseorang yang begitu bahagia ketika akhirnya dapat meninggalkan pesantren. Namun, yang paling penting, aku mengingat bagaimana semua pengalaman itu perlahan membentuk diriku. Dahulu, aku menganggap identitas sebagai santri sebagai sesuatu yang dipaksakan kepadaku. Kini, aku mulai menerimanya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang tidak bisa kuhapus. Aku tidak harus berpura-pura bahwa sejak awal aku mencintai pesantren. Aku juga tidak harus mengubah masa laluku menjadi kisah yang sepenuhnya indah hanya agar terlihat pantas disebut sebagai seorang santri.
Sebab, menerima diri sendiri bukan berarti menyangkal kekecewaan yang pernah kita rasakan, melainkan berdamai dengan kenyataan bahwa semuanya telah menjadi bagian dari siapa diri kita hari ini.
Aku masih belum tahu apakah suatu hari nanti impianku mempelajari Teknik Elektro akan menemukan jalannya kembali. Mungkin ada kesempatan yang belum terlihat, mungkin pula kehidupanku akan terus bergerak ke arah yang berbeda. Namun, aku tidak ingin menganggap perjalanan ini sebagai kegagalan hanya karena tidak berjalan sesuai rencana.
Aku tidak pernah ingin menjadi santri. Selama tujuh tahun, aku bahkan tidak pernah benar-benar menerima diriku sebagai santri. Ketika penamatan tiba, aku merasa telah mendapatkan kebebasan yang selama ini kunantikan.
Namun, justru setelah menjadi mahasiswa di UIN Walisongo Semarang, aku mulai memahami bahwa menjadi santri bukanlah bagian dari diriku yang harus terus kutolak.
Barangkali, menjadi dewasa bukan selalu tentang mendapatkan kehidupan yang kita inginkan, melainkan tentang belajar menerima kehidupan yang telah kita jalani tanpa kehilangan keberanian untuk tetap bermimpi. Aku membutuhkan tujuh tahun untuk meninggalkan pesantren, tetapi justru setelah meninggalkannya, aku mulai belajar menerima identitas yang selama ini ingin kutinggalkan.
Aku tidak pernah memilih untuk menjadi santri. Tetapi hari ini, aku mulai memilih untuk berdamai dengan kenyataan bahwa aku adalah santri.
Selamat Hari Santri Nasional.
Dari seseorang yang dahulu menghitung hari untuk meninggalkan pesantren, tetapi baru memahami arti menjadi santri setelah duduk di bangku perkuliahan.
Aku bangga menjadi santri.
by : Dimas Daulay
![]()