Menjadi Santri: Apakah Rutinitas atau Identitas?

Menilik kehidupan pesantren melalui Atomic Habbit – James Clear

Berangkat dari sebuah pertanyaan mendasar, apa itu santri? Lalu mereka-reka jawaban dalam benak saya bahwa santri adalah pribadi yang harus terus mencari. Dalam hal ini, mencari pemahaman tentang ilmu agama.

Sedangkan menurut KBBI, santri adalah: 1. orang yg mendalami agama Islam; 2. orang yg beribadat dng sungguh-sungguh; orang yg saleh; pe·san·tri·an n pesantren.

Ada lagi pendapat para ahli yang memberikan definisi. Suharto (2011) menjelaskan kata santri asal mulanya merupakan bahasa India, yaitu shastri, yang berarti orang-orang yang paham tentang buku-buku suci tentang agama Hindu atau seorang sarjana yang dikatakan ahli dalam kitab Hindu.

Dan masih banyak lagi definisi, namun berangkat dari yang semula maka timbul pula perenungan bahwa pada nyatanya menuntut diri untuk paham itu jelas bukan perkara mudah dan menanamkan niat buat memahami jelas bukan hal yang sepele.

Beragam dera dan tantangan menghujam diri seorang santri, entah yang berasal dari luar maupun dari dalam. Ada rasa malas yang menjadi musuh utama dalam setiap kegiatan, ada jenuh yang menemani setiap rutinitas, ada rasa kantuk yang menyerang sewaktu pengajian, atau mumet dan kesal pada diri sendiri berhadapan dengan kitab yang tak kunjung dipahami (based on reality), bahkan barangkali pertanyaan yang terbesit menjadi hasutan keraguan: untuk apa sebenarnya segala hal itu dijalani.

Bagaimana pribadi dapat setia dalam pencariannya? Bagaimana caranya santri menetapkan rasa ingin tahu, seolah semuanya begitu gamblang, namun pada nyatanya jauh dan seolah tak terhingga?

Dalam pergumulan ini, saya teringat pada buku self improvement yang digandrungi muda-mudi akhir-akhir ini, yang penampakannya masih setia mengisi rak-rak terdepan Gramedia: Atomic Habbits karangan James Clear. Buku yang menyoal perilaku.

Clear meninjau bahwa tujuan dapat dicapai melalui langkah-langkah kecil yang dibiasakan. Percaya pada proses. Yakin pada ritme yang senantiasa diberlanjutkan.

Gagasannya menarik untuk dibawa ke lingkungan pesantren, tempat pengulangan bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan juga bagian dari struktur kehidupan bersama yang harus ditaati.

Dalam pembentukan identitasnya (menyoal identitas kental sekali dipaparkan pada bab awal buku Atomic Habbit), santri seharusnya sudah mafhum bahwa di jidatnya terdapat stempel abadi yang menyatakan dirinya santri, terbukti dengan dirinya tinggal di pondok pesantren, mempunyai seorang advisor yang membimbing perjalanan pahamnya, mencecap ajaran ruhani dari sang kyai, lalu tampilannya pun semakin menguatkan identitasnya, mulai dari cara berpakaiannya, bangga dengan sarungan dan peci yang tersandang di kepala, bukan hanya untuk menahan rambut menyentuh dahi sewaktu solat, lebih dari itu sebagai lambang siapa dirinya.

Timbul pula penasaran: benarkah identitas yang diyakininya sejalan dengan tindak-tanduknya itu? Benarkah kita memilih identitas sebagai santri?

Menurut buku Atomic Habbit, identitas berasal dari kebiasaan Anda. Anda tidak dilahirkan dengan keyakinan bawaan. Setiap keyakinan, termasuk tentang diri sendiri, dipelajari dan dikondisikan melalui pengalaman. Kebiasaan Anda tergantung pada bagaimana Anda mewujudkan identitas Anda.

Ketika merapikan tempat tidur setiap hari, Anda mewujudkan identitas orang yang terorganisasi. Ketika menulis tiap hari, Anda mewujudkan identitas orang yang atletis. Makin sering Anda mengulang suatu perilaku, makin sering Anda memperkuat identitas yang terkait dengan perilaku itu.

Dalam kenyataan, kata identitas awalnya diturunkan dari kata Latin essentitas yang berarti ada, dan identidem, yang berarti berulang. Jadi, identitas Anda secara harfiah adalah “ada yang diulang”. Ceramah James Clear dalam buku.

Bahwa diriku adalah apa yang aku lakukan, bukan apa yang aku katakan, itu mungkin sedangkal yang bisa saya tangkap. Maka sejalan dengan kehidupan pondok pesantren, sependek waktu saya mencicipi hidup di pondok, kehidupan pesantren itu dibangun oleh rangkaian kegiatan yang terus diulang.

Jadwal kehidupan dari sebermula terjaga sampai tidur kembali sudah ada. Pengajian pada waktu yang telah ditetapkan, salat berjamaah, pengajian kitab, mengulang hafalan, dan menaati beragam tata tertib yang berlaku. Semua itu menjadi bagian yang melekat dari laku keseharian santri, perlahan-lahan membentuk pola hidup yang diharapkan.

Santri tidak bisa menunggu keinginannya sendiri untuk berangkat mengaji, ada Asatidz atau bagian keamanan yang setia mengarahkan santri ke tempat pengajian. Ada jadwal yang mesti diikuti, dan tata tertib yang mengatur semua kegiatan sehari-harinya.

Lingkungan menyediakan semacam sistem yang memungkinkan kegiatan tertentu terus berlangsung. Dalam pengertian ini, rutinitas pesantren dapat dibaca sebagai ruang pembentukan kebiasaan.

Akan tetapi, apakah pengulangan dengan sendirinya menjadikan seseorang menghayati apa yang dilakukannya? Menjawab pertanyaan sebelumnya di atas, tidak semua memiliki keputusan nan berdaulat untuk menentukan sikapnya.

Boleh jadi si A datang ke pondok awalnya karena paksaan orangtua, sedangkan si B memang bermaksud ke pondok pesantren untuk menimba ilmu. Bayangkanlah si A dan si B telah mondok bersama, lalu pada suatu pengajian mereka duduk di hadapan guru yang sama, mendengarkan kitab yang sama, dan menjalani jadwal pengajian yang sama.

Santri pertama hadir karena takut mendapatkan hukuman apabila terlambat atau tidak mengikuti pengajian. Santri kedua hadir karena merasa bahwa pengajian merupakan bagian dari pencarian ilmu yang ingin ia jalani.

Dari luar, keduanya mungkin tampak serupa. Mereka sama-sama duduk, menyimak, membuka kitab, dan hadir di pengjian hingga selesai. Namun, apakah pengalaman keduanya juga serupa?

Hal ini membawa kita pada salah satu gagasan penting dalam Atomic Habits, yakni pembentukan kebiasaan yang berangkat dari identitas seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. Perubahan tidak hanya berkaitan dengan hasil yang ingin dicapai atau kegiatan yang dilakukan, tetapi juga dengan gambaran tentang diri yang hendak diwujudkan.

Dalam kehidupan santri, kita dapat mengajukan pertanyaan: apakah seseorang sekadar menjalankan kegiatan yang diwajibkan kepada seorang santri, atau perlahan-lahan mulai memahami dirinya sebagai seorang pencari ilmu?

Bertepatan dengan momentum Hari Santri Nasional ini, meminjam istilah Freud, superego saya mengajukan refleksi: sejauh mana engkau tercerabut dari akar pencarianmu?

Lalu saya merasa malu, seperti laku kocar-kacir beridentitas entah. Entah santri, entah siapa, yang pasti saya bagian dari yang merayakan hari ini, bahwa keberlanjutan nilai-nilai di pondok itu semoga melekat senantiasa bahkan setelah tidak tinggal di sana, di pondok, tapi melekat di hati, di perbuatan, di jidat.

Mudah-mudahan. Aamiin.

 

Semarang, 16 Oktober 2026.

Ditulis oleh: Arifin Fatturrohman

 

Loading